DENGARLAH SUARA KEMATIAN

DENGARLAH SUARA KEMATIAN

Aku melihat awan senja, suatu hari dahulu aku juga memandangi langit yang sama. Bahwa aku dahulu bebas, seperti awan terapung-apung. Hidup dengan bebas, bertempur dengan bebas. Hati yang sulit ditebak bagaikan awan yang tak terjangkau. Karena itulah aku menyukai masa lalu. Setiap tahun yang berlalu, terus bertambah dalam catatanku. Dengarlah suara kematian, bunyinya seperti pedang yang tajam. Tipis mengiris.

Mungkin benar kata mereka bahwa aku lebih cocok menjadi pendekar dibanding seorang pengembara. Tapi bukankah keduanya sama saja? Sama-sama menunggang kuda membelah padang tandus yang hanya ditumbuhi kaktus.

Tapi mereka membantah perkataanku. Pengembara membawa bekal dan buku sedang pendekar bertumpu pada senjata. Tapi bagiku sama saja. Baik pendekar maupun pengembara adalah orang yang bebas berkelana, bebas dari ikatan suruh menyuruh dan melepaskan ikatan dengan lingkup kekuasaan.

Aku (pernah) melihat kematian, dalam mata manusia ada pancaran cahaya yang tidak terlihat. Itulah cahaya jiwa. Saat ini cahaya jiwamu mulai memudar.

Bara api menjilati langkahku, dunia membutuhkan keteraturan. Aku setuju. Tapi setiap individu butuh kebebasan. Butuh perjalanan panjang untuk menguji ilmu yang telah ia resap. Tidak hanya menjadi raja kandang, mengaum dalam sangkar kecil. Menjadi raja dalam tempurung. Bukan itu yang kumau. Kemarin tak sama dengan hari ini itu pasti.

Aku tak paham, bahkan apa yang seumur hidup kupelajari dan kucari aku tak kunjung mengerti. Mungkin aku seorang pelajar yang lalai. Atau seorang dengan intelektual dibawah rata-rata. Bahasaku tak pernah teratur, pikiranku bagai lompatan kodok, kesana kemari. Tidak rasional apalagi sistematis. Hanya jangan melarang aku menuliskannya, tak ada maksud meracun pikiran kalian. Meski pandir aku bukan murahan. Bahkan tak terjual dengan harga berapapun. Aku adalah orang bebas yang kemerdekaannya tak terbeli, dengan Rupiah, Yen, US Dolar, Ringgit, Rupee atau apapun itu namanya.

Aku (pernah) melihat kematian, dalam mata manusia ada pancaran cahaya yang tidak terlihat. Itulah cahaya jiwa. Saat ini cahaya jiwamu mulai memudar. Mungkin waktu terus berjalan, sampai kapankah tiba waktuku?

Mungkin sekarang aku tersenyum, malah tertawa membaca kembali tulisan-tulisanku. Bodoh tapi ini adalah sebuah kepuasan yang nyata. Sudahlah sekarang aku mengantuk. Tidur ya adalah separuh dari kematian, Dan dengarlah suara kematian itu.

Bait al-Hikmah, Ahad, 3 Zulqaidah 1439 H (Bertepatan 15 Juli 2018)

Puisi-puisi pilihan:

  1. Tafsir Sang Penafsir; 19 September 2008
  2. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  3. Selamanya; 14 Desember 2008;
  4. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  5. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  6. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  7. Kenangan Akan Gerimis; 11 Februari 2012;
  8. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  9. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  10. Surga; 17 Juni 2013;
  11. Untukku; 17 November 2013;
  12. Setitik Noktah Di Dalam Noktah; 25 Februari 2015;
  13. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  14. Aku Mencintaimu Dengan Sederhana; 15 Mei 2017;
  15. Renungan Malam; 19 November 2017;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Kolom, Pengembangan diri, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.