HIKAYAT SANG PENGEMBARA

Hikayat Sang Pengembara

HIKAYAT SANG PENGEMBARA

Aku yang telah mengembara sepanjang pesisir barat dan timur
Di tepi pantai yang sunyi ini, aku menyendiri dan bersaksi.
Aku cinta hidup ini, saat aku menangis ketika separuh negeri menjadi lautan.
Dan sampai hari ini, mendapati yang kukasihi sudah tiada lagi.
Kini aku hanya insan pengembara.
Aku tlah lelah berkelana terus.
Kuingin beristrirahat bersama para sahabat yang telah mendahuluiku.

Tempatku pulang, Banda Aceh lima Oktober dua ribu delapan

“Takdir bahkan telah mengejutkan seorang pria, dalam bilangan tahun yang singkat. Betapa kampung halaman yang sama terlihat begitu asing jika memandang dalam waktu berbeda, apalagi orang-orangnya.”

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

15 Balasan ke HIKAYAT SANG PENGEMBARA

  1. Sawali Tuhusetya berkata:

    Mas Tengku, liriknya puitis, tapi sendu dan ada nada tragis. saya yakin Tuhan sudah memiliki skenario terbaik buat hamba-Nya. semoga mas tengku tetep semangat!

  2. tengkuputeh berkata:

    Terima kasih Bang Sawali, mengingatkan saya
    “jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT”

  3. Bangpay berkata:

    Hmm… Jgnkan kampung halaman.. Tiap kali ngunjungi WC jg sering mikir ada yg beda. Konon segala yyg terikat waktu tentu didera perubahan di tiap detiknya…

    (omongan laki2 yg terlalu banyak di toilet)

  4. genthokelir berkata:

    rasa haru pun jadi mengenyakkan aku menjadi teringat ketika datang ke kotamu dan kuangkat beserak jenasah para saudara se umat itu
    masih jelas teringat dalam kedatanganku kenapa datangku dalam bencana itu
    mengingatkan ku kah
    salam dari gunungkelir

  5. tengkuputeh berkata:

    balas
    bangpay ==> Orang dinamis tdk terikat waktu, seperti abang sudah lebih jauh lagi pengembaraannya….
    gunungkelir ==> Kapan main lagi kemari bang, kali ini ya beda dgn dulu…

  6. Neo Agustina berkata:

    TOP..renungan yang oke.. abru pulang kampung bang..? sedih nya ampe kerasa melalui kata2 tadi…udah jangan sedih lagi…abang kan masih punya teman dari pantai barat dan timur…kalo jadi pindah malah dapat pengalaman baru di pantai selatan…tapi boleh dong pustaka nya dititipin ke neo..neo dengan senang hati ngurusin pustaka mini abang…hehehe (^O^)
    omongan orang yang ada mau nya…hahaha

  7. Ozan berkata:

    Layak di bukukan.

  8. tengkuputeh berkata:

    balas
    Neo ==> Inikah hanya sebuah perenungan dalam perjalanan pulang dalam bus pelangi, hehehe…. Iya pengembaraan ini telah membuat abang menjumpai banyak pengalaman baru…
    Ozan ==> Terima kasih, iya saat ini kira2 gmn ya prosedurnya?

  9. Ping balik: RENUNGAN MALAM | Tengkuputeh

  10. Ping balik: SEMINGGU SETELAH TSUNAMI ACEH | Tengkuputeh

  11. Ping balik: MUSIM HUJAN - TengkuputehTengkuputeh

  12. Ping balik: JANGAN MENCINTAI LAUTAN | Tengkuputeh

  13. Ping balik: DENGARLAH SUARA KEMATIAN | Tengkuputeh

  14. Ping balik: BARA API IDEALISME | Tengkuputeh

  15. Ping balik: INIKAH CINTA | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.