PADAMU PEREMPUANKU

Menikam hasrat yang kasmaran, perempuanku.

PADAMU PEREMPUANKU

Senyum merekah bibir merah
Bagai mawar ditengah sepi
Menanti cinta musafir lalu
Luruh dan lusuh terenggut paksa

Lirikan mata yang sayu
Biru seperti pelangi
Menebar pesona merenda dosa
Menikam hasrat yang kasmaran

Dibawah cahaya bulan dan bayang-bayang
Seribu angan pun melayang
Bersama pikiran nakal bersemi
Mengundang senyum penuh arti

Banda Aceh, Jumat 27 Juli 2001

Tentang Asmara:

  1. Maksud Hatiku Padamu; 1 Agustus 2008;
  2. Dinda Dimanakah Engkau Berada; 1 Agustus 2008;
  3. Surat Kepada Sepotong Masa Lalu; 3 Agustus 2008;
  4. Tahukah Engkau Cinta; 4 Agustus 2008;
  5. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
  8. Selamanya; 14 Desember 2008;
  9. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  10. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Direbut Kabut Kelam; 10 Agustus 2013;
  13. Menikahi Putri Anda; 14 Mei 2014;
  14. Yang Tercinta Malahayati; 2 Oktober 2014;
  15. Aku Mencintaimu Dengan Sederhana; 15 Mei 2017;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to PADAMU PEREMPUANKU

  1. Bunda Lanang says:

    Nah ini baru puisi.. Punyaku mah puisi jadi-jadian 😀

    ehm.. Dalem…

    Siapa ya “perempuan” yang dimaksud? (ptanyaan gak mutu)

  2. tengkuputeh says:

    Bolehkan saya berahasia, hehehe…..

  3. liriknya puitis banget dan terhindar dari kesan cengeng dan sentimentil. jadi ingat waktu muda, haks. selamat menyambut hari kemenangan, mas tengku, mohon maaf lahir dan batin.

  4. genthokelir says:

    satu puisi yang bagus dan menjadi pengembang imaginasi ,salam kenal dan terima kasih
    mohon maaf lahir batin

  5. tengkuputeh says:

    Sawali Tuhusetya ==> Saya juga mohon maaf lahir dan batin. Salam kenal bang Sawali
    Genthokelir ==> Salam kenal juga mas genthokelir, sama2 juga.

  6. Neo Agustina says:

    udah di borong coment nya…dalam banget abiz nya… pa lagi kalo cewek yang di maksud tau ab buat puisi ini…hehehe

    omongan orang yang mulai ngorek2 rahasia terdalam si penuls…mohon jangan di layani (^O^)

  7. Ozan says:

    Oya… puisi-puisinya dikirim jugs ke redaksi Harian Aceh lewat budaya@harian-aceh.com
    Biar di baca oleh orang-orang Aceh yang tidak ada blognya.

  8. tengkuputeh says:

    jawab
    Neo ==> Hehehe… Kali ini ndak jawab ya, soalnya malu.
    Ozan ==> Akan saya pertimbangkan, eh akan dipikir2 dulu soalnya masih malu, hehehe….

  9. Aulia says:

    Indahnya kata-kata Tengku Puteh… 😉

  10. tengkuputeh says:

    Jawab…
    Saya hanya terinspirasi oleh seorang perempuan…

  11. Pingback: RENUNGAN MALAM | Tengkuputeh

  12. Pingback: SEMINGGU SETELAH TSUNAMI ACEH | Tengkuputeh

  13. Pingback: MALAM INI BIARKAN AKU MENYENDIRI | Tengkuputeh

  14. Pingback: BUAH AMARAH - TengkuputehTengkuputeh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.