Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Elegi Pagi. Ketika terbangun pagi ini, ku sadari hidup trus berlanjut.

ELEGI PAGI HARI, SEBUAH PUISI

Ketika terbangun pagi ini
Ku sadari hidup trus berlanjut
Memandang lurus ke depan
Dengan kepala terdonggak

Dalam setiap tarikan nafas
Ku sadari hidup ini terlalu berharga
Tuk sekedar tertawa
Atau hanya memejamkan mata

Mana cita-cita yang dulu membara
Haruskah pupus berjalan waktu
Betapa misteri diri
Tak terpahami oleh jiwa

Kemana semua tanya kubawa
Ketika tubuh merenta
Tulang-tulang merapuh sudah
Dan matahari trus meninggi

Lhokseumawe, 1 April 2008

Syair:

  1. Dipersimpang Jalan; 3 Agustus 2008;
  2. Anak-Anak Bermain Bola; 26 Februari 2009;
  3. Cerita Sebuah Gudang; 14 Januari 2010;
  4. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  5. Musim Hujan; 11 September 2013;
  6. Nun; 3 Desember 2014;
  7. Senang Bagi Mereka Yang Berpunya; 30 November 2016;
  8. Yang Menggelandang; 27 Agustus 2017;
  9. Untuk Sebuah Senyuman; 12 September 2017;
  10. Harap Damai; 14 September 2017;
  11. Hidup; 16 September 2017;
  12. Menantikan Bayang-Bayang; 26 Oktober 2017;
  13. Diatas Puing-Puing; 6 November 2017;
  14. Penantian; 21 Februari 2018;
  15. Di Tepian Pantai Pulau Bunta; 6 Maret 2018;
Advertisements
Advertisements

1 thought on “ELEGI PAGI HARI, SEBUAH PUISI

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: