Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Menjauhlah dariku karena aku tak akan pernah akan membiarkan engkau menyentuhku.

BENCI DI ATAS CINTA

Yah, nona akhirnya engkau menemukanku disini. Dipersembunyian yang amat kurahasiakan darimu, sebagai liang pencurahan hati dan pikiran bebas lepas. Engkau yang berkata menitikkan air mata membacanya. Maka ketahuilah bahwa aku tak percaya pada kata-katamu lagi meski engkau mengatakan siang itu terang, dan malam itu gelap.

Wahai nona yang berkata tak berani mendengarkan suara dan menatap wajahku, ketahuilah bahwa aku telah mengubur masa lalu bersamaan rambut yang kucukur habis. Engkau pasti tahu bagaimana aku mencintai mahkotaku, bagiku dia sudah tak ada sama denganmu. Segera sejak hari itu, aku berusaha melepaskan diri dari jerat harapan perempuan yang kuberi julukan wanita laba-laba.

Dan bila engkau ingin kembali ke masa lalu, itu bukan bagianku untuk memikirkannya. Seperti halnya gerak majuku ke masa depan bukanlah pertanggungan bagimu. Aku dan kamu adalah insan merdeka yang bebas berkehendak dan bertindak bagi kemaslahatan diri sendiri.

Nona, jangan berkata masih menyimpan cinta untukku apalagi berjanji akan menjaga selamanya. Karena bagianmu di hati telah kubuang ke laut lepas, bersama desiran ombak selat Malaka. Nona jangan bermain licik dengan memilih satu hati dan tetap memperhatikan hati yang satunya lagi. Engkau telah memilih dia dan menyingkirkanku, teguhlah pada keputusanmu. Sifat ambigumu hanya akan menyakiti kami berdua.

Mungkin aku pernah berlaku terlalu lembut, sehingga engkau menganggap diriku sebagai pecundang. Janganlah mengucapkan kata maaf berkali-kali, engkau merendahkan kemampuanku akan bahasa. Aku bukan orang dungu yang tak paham, hakku tiada menjawab. Mengapa engkau selalu memaksakan keinginanmu padaku? Denganku kamu terlalu percaya diri, selalu hanya denganku.

Padahal kemarin aku sudah melupakanmu, mengapa engkau datang dengan sebuah pesan? Cinta, harapan, janji jika ia pernah ada maka anggaplah ia sekarang tiada. Menjauhlah dariku karena aku tak akan pernah akan membiarkan engkau menyentuhku. Aku sudah membuang semua gambarmu, bahkan ingatanku sudah tak mengingat wajahmu lagi. Ketika menulis aku hanya membayangkan wajah seekor laba-laba betina. Pergilah atau jika tidak aku lebih akan sangat membencimu.

“Seumur hidup tiada pernah berada disebuah titik kebencian, jijik, muak dan marah seperti ketika membaca pesanmu lewat tengah malam itu. Sebegitu hebatnya sehingga merasa malu pada diri sendiri, mengapa memiliki amarah kepada seseorang dengan tingkat seperti itu. Tuhan, ampuni hamba”

Advertisements
Advertisements

8 thoughts on “BENCI DI ATAS CINTA

  1. eh…keren bang.. tapi abang dah punya apa yang lelaki lain gak punya…nikmat yang Allah SWT kasi jauh lebih banyak…dari pada yang abang harapkan…cuma kadang kita ja yang gak sadar…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: