Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Kuburan Massal para korban Tsunami Aceh di Ulee Lheu, Banda Aceh (2007)

SEMINGGU SETELAH TSUNAMI ACEH

(KAMI YANG BERTAHAN)

 

Malam-malam tak bisa lelapkan jiwa

Lelah ditempa panasnya matahari membakar

Dan gelombang yang menghempas itu telah berlalu

Tinggalkan puing-puing berserakan di seluruh penjuru

 

Biarlah waktu yang menjawab

Perginya asa bersama tangisan kehilangan

Caruk-maruk hati dihantam badai

Siratkan luka membekas selamanya

Seminggu Setelah Tsunami kami masih mencari sahabat Nino Priyanka yang menghilang pada bencana tersebut (Foto berlatar belakang Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Ulee Lheu di Banda Aceh yang hancur akibat bencana Tsunami Aceh 2004)

Bersama orang-orang tegar bersimbah air mata

Bersama kelemahan kami mencoba menguatkan diri

Menatap hari yang akan berlalu terus berganti

Karena kami tidak lemah, kami orang-orang perkasa

 

Banda Aceh, Minggu, 2 Januari 2005

XXX

Puisi:

  1. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  2. Padamu Perempuanku; 25 September 2008;
  3. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  4. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  5. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  6. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  7. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  8. Selamat Ulang Tahun Mama; 1 Februari 2010;
  9. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  10. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  11. Surga; 17 Juni 2013;
  12. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  13. Buah Amarah; 18 Desember 2016;
  14. Harap Damai; 14 September 2017;
  15. Diatas Puing-Puing; 6 November 2017;

 

Advertisements
Advertisements

1 thought on “SEMINGGU SETELAH TSUNAMI ACEH

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: