Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Di atas puing-puing dan didalam mata-mata yang lelah menangis

DIATAS PUING-PUING

Aceh Lon Sayang

 

Adakah yang tersisa dilangkah kita

Sekian lama terlempar jauh dalam keangkuhan

Menyaksikan puing-puing harapan terkubur

Siratkan dasyatnya taufan badai menjelma

 

Roman lalu masih membekas

Tinggalkan bait-bait elegi berwarna kebencian

Nista amarah menjadi satu dengan kepedihan

Rangkaian makna bertemakan duka

 

Didalam mata-mata yang lelah menangis

Di tangga penantian rapuh termakan usia

Mengharapkan kembalinya keberanian kita

Untuk mengakhiri ini semua

 

Banda Aceh, Senin 25 Februari 2002

Puisi-puisi tentang luka:

  1. Catatan Seorang Pecundang; 1 Agustus 2008;
  2. Elegi Puisi Kematian Cinta; 3 Agustus 2008;
  3. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
  4. Benci diatas Cinta; 13 September 2008;
  5. Kalah Perang; 5 November 2008;
  6. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  7. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  8. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  9. Mencumbui Kematian Sebuah Elegi; 16 Mei 2009;
  10. Direbut Kabut Kelam; 10 Agustus 2013;
  11. Senang Bagi Mereka Yang Berpunya; 30 November 2016;
  12. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  13. Buah Amarah; 18 Desember 2016;
  14. Yang Menggelandang; 27 Agustus 2017;
  15. Seminggu Setelah Tsunami Aceh; 13 Desember 2017;
Advertisements
Advertisements

1 thought on “DIATAS PUING-PUING

Leave a Reply

%d bloggers like this: