JEJAK LANGKAH

Jejak langkah manusia di dunia ini ibarat tapak-tapak kaki di pasir pantai, kelak akan dihantam gelombang dan menghilang.

Jejak langkah manusia di dunia ini ibarat tapak-tapak kaki di pasir pantai, kelak akan dihantam gelombang dan menghilang.

JEJAK LANGKAH

Tak perlu puisi mengiriskan hati untuk setiap kepergian, bukankan jejak langkah manusia di dunia ini ibarat tapak-tapak kaki di pasir pantai, kelak akan dihantam gelombang dan menghilang.

Kesunyian mengambang di atas daratan menyembunyikan gemuruh di balik kerak-kerak bumi di bawah lapisan pasir. Sementara itu, bayangan sang maut melayang-layang di langit dalam sekawanan burung pemakan bangkai.

Hidup ini adalah perjalanan yang berliku, kita tahu keburukan adalah serupa buih kotor yang meninggalkan jejaknya di atas pasir atau batu-batu di tepi pantai, serupa dengan ampas kopi yang tertinggal di dasar gelas. Pada akhirnya mereka pun akan dihantam gelombang dan menghilang jua. Maka tiadalah apapun yang fana menjadi abadi, kecuali dalam cerita fantasi.

Hidup adalah kemisteriusan yang tak kita duga-duga kedalamannya. Salah satu misteri adalah pertemuan. Beberapa orang pergi, dan beberapa menjadi bagian dari hidup. Beberapa orang bertahan selamanya, dan lainnya berlalu dengan cepat. Tidak setiap pertemuan dimaksudkan untuk bertahan seumur hidup.

Maka ingatlah bahwa hidup ini adalah (hanya) menunda perpisahan.

Banda Aceh, 26 Desember 2020

Kita manusia di bumi ini, pada satu titik dari hidup (pasti) memiliki hal-hal yang besar yang berhubungan dengan perasaan. Ada hari di mana hati menjadi terlalu kecil untuk menangani besarnya perasaan. Hari ini salah satunya, ketika aku memikirkan perasaan sendiri sebentuk emosi sebagai sebuah fenomena yang unik dan bersifat pribadi, di mana orang lain tak merasakan apa yang aku rasakan.

KATALOG PUISI

  1. Diatas Puing-Puing; 6 November 2017;
  2. Renungan Malam; 19 November 2017;
  3. Seminggu Setelah Tsunami Aceh; 13 Desember 2017;
  4. Penantian; 21 Februari 2018;
  5. Di Tepian Pantai Pulau Bunta; 6 Maret 2018;
  6. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  7. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  8. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  9. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  10. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  11. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  12. Peucut Kherkof Suatu Masa; 24 September 2019;
  13. Mengunci Malam; 1 April 2020;
  14. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  15. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Pengembangan diri, Puisiku dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.