Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Di tepian pantai Pulau Bunta. Laut yang kian merahkan warna-warna tengelam – Pulau Bunta

DI TEPIAN PANTAI PULAU BUNTA

 

Bersama langit merah mega-mega tenggelam

Sembilu menghentak kemudian membatu

Digugusan pulau jauh ini

Asing, terasing dan semakin asing

 

Debur-debur ombak -Pantai Pulau Bunta

Debur-debur ombak sejenak menyapu kegundahan

Sejenak kulupakan rasa rinduku

Sepoi-sepoi angin mengalun lembut dipipiku

Sebentar merampas kegalauan

 

Digugusan pulau jauh ini – Pulau Bunta

Tapi kemudian, rindu kian menghujam

Duduk termenung menghayati hidup

Jiwa yang haus nan sepi ini

Tak sanggup menahan lebih dari satu hari lagi

 

Pulau Bunta, 4 Maret 2018

Puisi-puisi:

  1. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  2. Dipersimpang Jalan; 3 Agustus 2008;
  3. Elegi Pagi Hari, Sebuah Puisi; 7 Agustus 2008;
  4. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  5. Indah Bunga; 20 September 2008;
  6. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  7. Kalah Perang; 5 November 2008;
  8. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  9. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  10. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  11. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  12. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  13. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  14. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  15. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  16. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  17. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  18. Surga; 17 Juni 2013;
  19. Hujan; 12 November 2015;
  20. Oda Sebatang Pohon; 29 Maret 2016;
  21. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  22. Buah Amarah; 18 Desember 2016;
  23. Yang Menggelandang; 27 Agustus 2017;
  24. Harap Damai; 14 September 2017;
  25. Seminggu Setelah Tsunami Aceh; 13 Desember 2017;
Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

%d bloggers like this: