SATU DUNIA BERBAGAI DIMENSI

Kita hidup di satu dunia yang sama, tapi pernahkah terpikir persepsi kita terhadap dunia ini dengan semua orang kadang kala memiliki perbedaan.

SATU DUNIA BERBAGAI DIMENSI

Menurut ilmu matematika dunia yang kita kenal memiliki tiga dimensi ruang yaitu: Panjang, lebar dan tinggi. Bila ditambahkan dengan dimensi waktu akan muncul dimensi keempat yaitu waktu kosong. Kita semua pasti memiliki kenangan indah masa kecil, itu adalah pengalaman yang menyenangkan. Apakah mengenangnya adalah merupakan kesia-siaan? Seharusnya tidak karena dalam tiap detiknya perjalanan hidup adalah pelajaran.

XXX

Ayah Abu adalah anak dari seorang ulama di Aceh Besar, kakek mendidik ayah dengan cukup keras sehingga beliau memiliki pemahaman ilmu fiqh (hukum islam) yang baik. Meski (pada) akhirnya ayah tidak memilih mengikuti jejak kakek untuk menjadi seorang ulama dan menjadi seorang PNS, ayah tidak menyukai musik, filem dan bacaan-bacaan populer (fiksi). Ayah hanya menonton berita atau membaca buku-buku agama saja. Bisa dibilang beliau tidak menyukai berbagai jenis hiburan. Segala sesuatu memiliki pengecualian, ayah Abu menyukai humor-humor sufi dan hal-hal yang membuat tertawa bersama dengan agama.

Dinding Madrasah yang telah kehilangan bintang

Sebelum Abu diserahkan untuk mengaji ke tengku meunasah (guru mengaji Al-quran), ayah menjadi guru mengaji pertama Abu sampai berusia 9 tahun (sekitar tahun 1993). Biasanya sebelum mengaji bersama ayah dimulai kami shalat Maghrib berjamaah dahulu di rumah bersama ibu dan 3 orang adik Abu. Kerap kali setelah selesai shalat Maghrib dan setelah membaca doa tiba-tiba ayah kentut dengan suara menggelegar, biasanya ibu Abu menimpali dengan mengatakan ayah “menduduki” kodok, lalu beramai-ramai kami sekeluarga tertawa. Kentut adalah sesuatu hal yang membatalkan wudhu, jika kentut selesai shalat maka ibarat selamat pas ketika waktunya.

Kejadian tersebut adalah momen yang sangat lucu bagi kami sekeluarga, sewaktu Abu sudah mengaji dengan tengku meunasah pun kejadian dan kelucuan itu masih terbayang-bayang di kepala Abu. Suatu hari Abu ditunjuk oleh tengku meunasah untuk menjadi imam shalat Isya di tempat pengajian, tengku meunasah memantau sebagai supervisor. Dengan tenang Abu mengimami shalat Isya murid-murid lainnya. Selesai shalat dan membaca doa, Abu merasa perut berangin, berpikir ini adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan humor ala keluarga ke tempat pengajian, maka Abu lepaskan kentut sekencang-kencangnya. Suara menggelegar dan dari shaf pertama Abu menunggu suara tawa teman-teman, tapi tidak ada suara hanya hening. Abu membalikkan wajah ternyata tengku meunasah sudah berdiri berkacak pinggang di belakang.  “Abu berdiri kamu!” Perintahnya.

Abu berdiri sambil senyum-senyum, kemudian bertanya. “Ada lucu tengku?”

“Lucu jidatmu!” Plaak sebuah tamparan mendarat di pipi. Abu terkejut tak menyangka tengku meunasah seserius itu, kemudian terdiam dan tak membantah ketika beliau menceramahi Abu tentang adab.

Pulang Abu bercerita langsung kepada ayah, beliau tertawa terbahak-bahak sampai batuk-batuk di bangku kesayangannya. Ayah mematikan rokok Dji Sam Soe di asbak lalu beliau bilang. “Ayah juga salah karena lupa bilang pada kamu, dunia ini boleh satu tapi cara memandangnya bagi tiap-tiap orang berbeda-beda. Sesuatu yang kita anggap lucu bisa dianggap oleh orang lain menghina. Lain kali pelajari lingkungan dan lihat-lihat ketika bercanda.”

Kalau diingat-ingat lagi sekarang, sebenarnya kisah mencerminkan hidup Abu, kerap kali di kemudian hari mengulang kesalahan yang sama. Seorang teman Abu bergurau dan berkata, “penyebab ayah Abu tidak mau menjadi seorang ulama adalah karena memiliki anak seperti kamu, senantiasa berbuat salah dan sering tak sadar ketika berbuat salah.”

XXX

Berbanding terbalik dengan sifat ayah, ibu memiliki sifat mencintai seni yang luar biasa serta gemar menonton segala jenis pertunjukan. Selain pembawaan yang senantiasa ceria, ibu menyukai cerita fiksi, film dan memiliki suara yang sangat bagus ketika bernyanyi, sayangnya kemampuan musikalitas itu adalah hal yang sama sekali tidak turun ke diri Abu. Perbedaan pola pandang antara ayah dan ibu Abu ini, bisa jadi dikarenakan perbedaan latar belakang keluarga. Ibu Abu berasal dari keluarga petani, yang terpaksa bertani karena kedatangan Belanda. Sebelum Belanda berkuasa menurut cerita kakek Abu dari sebelah ibu dulunya mereka adalah bajak laut (Bahasa mereka ke Abu adalah saudagar) yang merompak negeri dan kapal-kapal kafir di sepanjang pantai Barat Aceh sampai ke Selatan wilayah Aceh. Mereka memiliki selera humor yang tinggi, suka tertawa dan imajinatif, cenderung tidak menganggap segala sesuatu serius, keras kepala dan sifat terbaik adalah selalu ingin tahu tentang berbagai hal terutama yang di luar dirinya.

Ketika Abu masih kecil sangat dekat dengan Nekmi (Nenek Abu dari sebelah ibu). Beliau sering mengajak Abu menemani belanja ke pasar, selain dibelikan lupis kadang-kadang dengan sisa-sisa uang belanja Abu juga dibelikan berbagai majalah bekas seperti bobo dan buku-buku bekas. Sebelum Abu bisa membaca Nekmi biasanya membacakan buku-buku tersebut sebelum tidur oleh beliau. Kadang-kadang Abu merasa curiga ketika cerita tiba-tiba meloncat, sebenarnya Nekmi sudah mengantuk dan ingin tidur sementara hasrat mendengar Abu masih menyala-nyala. Atas dasar itu dengan penuh tekad Abu berusaha untuk belajar membaca sesegera mungkin. Pada tahun 1989 sewaktu Abu bersekolah di Taman Kanak-Kanak sudah bisa membaca, cukup cepat untuk orang-orang yang hidup di masa itu.

Setiap jagoan perlu ironi. Tiap kali seorang tokoh ditampilkan demikian perkasa, penting untuk ambil jarak. Jarak untuk berpikir lagi, dengan sedikit lelucon. Jarak untuk lebih arif. Ironi membuka pintu ke kearifan itu. Ironi

Sebagai kanak-kanak entah mengapa Abu sangat menyukai kisah Mahabharata. Di antara semua Pandawa Abu menyukai Yudhistira, seorang ksatria yang ganjil, menganggap diri pendosa. Ia juga sangat naif sehingga dijebak oleh Sengkuni di meja judi sehingga kehilangan segalanya, ia dengan bodohnya mempertaruhkan tahta, harta, saudara bahkan istrinya. Kelak dia akan menyadari bahwa jalan kekuasaan dan dharma akan selalu bertentangan. Setelah dipenuhi luka dan kesalahan dia sadar bahwa harus memilih, dimana setiap pilihan akan membuka pilihan berikut, dan dia tak pernag berlari dari pilihan tersebut, lagi. 

“Nek, Yudhistira itu siapanya Nabi Muhammad?” Tanya Abu kepada Nekmi.

Nekmi terkejut, dia tidak pernah membaca epos Mahabharata. Apa hubungannya dengan Nabi Muhammad? Tapi Nenek Abu adalah seseorang dengan segala kemungkinannya tidak segera mematikan hasrat ingin tahu Abu. Malah bertanya kembali, “siapa Yudhistira itu? Mungkin nenek belum kenal tapi mungkin nenek bisa mencari hubungannya dengan Nabi Muhammad.”

“Yudhistira itu adalah orang bijak yang hidup di masa lampau, mungkin jauh sebelum Nabi Muhammad.” Kemudian Abu mencoba menjelaskan riwayat hidup Yudhistira kepada Nekmi semampu Abu.

Nekmi tersenyum mendengarkan cerita Abu, kemudian dia menjawab. “Nenek baru pertama kali mendengar kisah ini, sebenarnya nenek tidak tahu hubungan dia dengan Nabi Muhammad. Ilmu nenek tidak sampai kesitu.”

Abu merengut. “Apakah ini hanya cerita khalayan nek?”

Nekmi memasang wajah serius. “Setiap legenda biasanya ada nilai kebenarannya Abu. Apalagi jika seperti Abu bilang cerita ini hidup di banyak Negara. Mengingat dia hidup jauh sebelum Nabi Muhammad, bisa jadi dia adalah seorang Nabi yang diturunkan Allah kepada suatu kaum dahulu kala. Jangan lupa sebelum Nabi Muhammad ada 125.000 orang Nabi yang pernah diutus Allah di bumi.”

Abu tersenyum, menemukan hubungan antara Mahabharata dengan Nabi Muhammad. Tidak akan ada orang seberuntung Abu memiliki seorang nenek yang penuh imajinasi ketika menjelaskan sesuatu. Kemampuan menyusun uraian dan imajinasi ternyata berpengaruh kepada kehidupan Abu nantinya, Abu lebih terampil dalam ujian berbentuk essay dan wawancara, tapi cenderung mati kutu ketika menghadapi ujian pilihan berganda (choise) di mana Abu kesulitan menentukan satu jawaban paling tepat dan menyalahkan pilihan yang lain.

XXX

Kita hidup di satu dunia yang sama, tapi pernahkah terpikir persepsi kita terhadap dunia ini dengan semua orang kadang kala memiliki perbedaan.

Pada suatu malam di hari pertama Abu bertugas di Langsa untuk mengenali kota Abu berputar-putar dengan mengendarai Shogun 125 masuk ke dalam lorong-lorong pasar. Abu memasuki ke dalam-dalam sampai masuk ke dalam sebuah gang di mana ada beberapa penjual jeruk. Anehnya kesemua jeruk yang dijual di gang itu terlihat tidak begitu baik kualitasnya, di situ Abu heran bagaimana bisa mereka menjual jeruk dengan sebegitu buruknya, di gang yang jauh dalam pelosok pasar beramai-ramai tapi percaya akan ada pelanggan yang membelinya. Tiba-tiba Abu teringat untuk membeli sedikit untuk konsumsi di kosan dan membelinya. Dalam perjalanan pulang Abu tersadar bahwa rezeki Allah lebih luas daripada dugaan manusia.

Manusia perlu diuji dengan berbagai kehilangan. Untuk menyadari bahwa hal yang terasa biasa saat dia sisi kita namun sangat berarti jika ia tak lagi dalam jangkauan.

Mungkin kita bisa jadi salah karena mengkaitkan sebab dengan akibat. Segala sesuatu sebab akan menimbulkan akibat, padahal mungkin tidak. Allah mungkin sering mengkaitkan sebab dengan akibat, tapi rezeki-Nya bisa melebihi itu semua tanpa perlu hukum sebab akibat.

Mungkin sebenarnya banyaknya buku yang dibaca, atau tingginya tingkat pendidikan, atau jauh dan banyaknya negeri yang dikunjungi tidak akan membuat kita menjadi pribadi yang bijak jika memiliki hati yang busuk. Lamat-lamat kenangan Abu ke masa kecil melintas kembali, mengingat sayup-sayup Nekmi mengaji.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Surat Al-Alaq ayat 1-5).

Abu terhenyak teringat hadist riwayat Bukhari dan Muslim. “Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (hati).”

Pikiran atau dimensi cara pandang seseorang ditentukan oleh hatinya. Orang tua ataupun guru dan siapapun hanya bisa mengajarkan, tapi kita yang memilih menjadi apa dan siapa. Itulah mengapa ada orang yang berpikir dunia adalah tentang dirinya saja, dan kebenaran hanyalah monopolinya saja, tanpa mau tahu bagaimana sudut pandang orang lain. Semoga kita terlindungi dari sikap seperti itu, karena apapun itu kehebatan kita saat ini, pada akhirnya setiap kejadian dan pertemuan (kelak) akan (hanya) menjadi sejarah.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.