RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DELAPAN

Kenegerian Idi secara resmi adalah wilayah Aceh yang pertama “berkhianat” hal ini ditandai dengan naiknya bendera Belanda di benteng Idi pada 7 Mei 1873.

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DELAPAN

Menjelang akhir abad XIX, Perairan Selat Malaka.

Matahari turun pelan-pelan, semburat merahnya berganti kuning keemasan. Lalu kelabu menyusup dan gelap menjelajah.

“Matahari segera tenggelam segera pakai penutup kepala kalian!” Perintah nahkoda kepada seluruh awak dan penumpang. Melalui senja tanpa menutup kepala adalah sebuah pantangan bagi setiap orang Aceh yang berada di dalam kapal. Aku tidak tahu sejak kapan tradisi ini dimulai? Apakah sejak masa Sultan Iskandar Muda ataukah telah lebih awal ada. Sejak menjelang senja kapal yang kutumpangi diterpa gelombang keras dari sisi kanan dan kiri. Aku memandang sekeliling, orang-orang Aceh yang telah melaut sejak dahulu kala. Ketabahan mereka menghadapi ombak lautan pernah membuat kesultanan ini menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka. Sayang zaman itu sudah berlalu berpuluh tahun yang lalu, kupikir aku cukup beruntung melihat sisa-sisa kejayaan yang masih tampak.

“Tuan yakin turun di Kuala Idi?” Nahkoda bertanya kepadaku, kemudian melanjutkan. “Raja Idi telah berkhianat memihak kompeni sejak awal. Kesultanan Langkat, Deli, Serdang dan Asahan juga sudah takluk. Keadaan semakin sulit sejak pulau kampai jatuh.”

Aku menarik nafas panjang, misi sang nahkoda ke pulau pinang untuk membeli senjata dari para saudagar cina di sana juga belum tentu mulus. Pihak Belanda pasti meminta tolong Inggris yang menguasai Semenanjung Melayu untuk menghambat penambahan pasokan arsenal pasukan Aceh.

“Beta ditugaskan untuk membantu panglima Mudabbirusyarqiah1) oleh sultan sendiri.” Hatiku bergejolak ketika mengatakan itu, jika boleh memilih medan juang maka aku lebih memilih tetap berada di Aceh Besar tempat pertempuran sedang berlangsung gencar-gencarnya, tapi sultan justru mengirim aku kesini, medan laga yang tak aku kenali.

“Baik nanti di Kuala Idi akan ada sekoci mengantar. Menurut kabar Panglima Nyak Makam ada di pedalaman Peurelak saat ini.” Kata sang nahkoda.

“Terima kasih tuan.” Ucapku pelan. Suara angin di buritan, desir-desir ombak memenuhi semesta pikanku yang mengawang-awang.

XXX

Pedalaman Peurelak, seminggu kemudian.

Apalah artinya sebuah batas negeri? Tak lebih seperti sebuah garis di atas pasir. Setelah seminggu berada disini kudapati ternyata sebagian pasukan Aceh di pesisir Timur berasal dari Aceh Besar. Hanya perlu mendengarkan mereka mengatakan kata “breuh2) saja kita sudah tahu. Orang-orang di Aceh Besar memiliki dialek yang agak berbeda dengan orang-orang Aceh lainya, terutama ketika mengucapkan huruf “r” dimana ketika diucapkan lidah digulung ke dalam, berbeda dengan ketentuan umum (berbahasa) di mana ketika huruf “r” diucapkan ujung lidah ditempelkan di langit mulut. Rasa mengenali ini membuat ketidaknyamananku berkurang sedikit.

Panglima Nyak Makam masih melakukan misi penyusupan ke wilayah Seuruway yang dikuasai Belanda dan belum juga kembali. Pimpinan pasukan di wilayah Peureulak sementara dipegang oleh wakilnya Nyak Mamad yang juga berasal dari wilayah Peureulak.

“Durjana nanti siang kita akan masak kuah beulangong3) Aceh Rayeuk (Besar). Makan yang banyak!” Kata Nyak Mamad tersenyum bahagia.

“Alamak kenduri rupanya Pang4), ada hajatan apa?” Tanya aku.

Nyak Mamad hanya tersenyum simpul. Dugaanku sepertinya Panglima Nyak Makam akan segera kembali.

Sejak pagi hari semua orang berkumpul menyiapkan masakan, ada yang merajang buah nangka, pisang dan bawang. Ada pula yang memotong daging sapi kecil-kecil dan yang paling penting adalah menyiapkan bumbu masak. Suasana riuh penuh dengan semangat.

Menjelang siang dari arah sungai muncul belasan perahu, para penghuni markas bersorak menyambut sementara dari arah perahu terlihat wajah yang sangat tegang. Suasana menjadi keruh seperti aliran sungai menuju kuala.

Berpakaian kuning seperti menantang sinar matahari pimpinan pasukan turun dari perahu dengan penuh kharisma, Nyak Mamad selaku wakil panglima menyambut. Dari jauh aku melihat panglima berbisik dan ketengangan menyebar. Apakah Belanda sudah mengetahui lokasi markas ini? Aku hanya menduga-duga.

Kabar pun menyebar, Jenderal Mata Satu (Karel van der Heijden) telah menerobos pedalaman Aceh Besar sampai dengan 30 kilometer yang belum pernah dicapai Jenderal Belanda manapun sampai tahun 1879, sebanyak 500 kampung telah dibumihanguskan, pohon-pohon ditebang, sawah ladang dibakar. Hatiku berdegup kencang bagaimana kabar anak istriku disana? Aku merasa was-was dan menenangkan diri berharap keluargaku melarikan diri ke pegunungan, istriku pasti selamat.

Persiapan Pasukan dalam rangka Operasi Militer Belanda di Aceh

Persiapan Pasukan dalam rangka Operasi Militer Belanda di Aceh

Selepas Isya aku dipanggil ke tenda panglima, ketika aku datang dia sedang membaca surat pengantar yang dibuat oleh Tuanku Hasyim Banta Muda. Dia menatapku dengan tajam seolah-olah kami tidak pernah bertemu sebelumnya, memandang dari ujung kaki ke ujung rambut. Aku lihat pasukan rungkhom5) berjaga.

Sambil menarik asap tembakau dari pipanya Nyak Makam bertanya, “sudah berapa lama kamu ada di pesisir timur?”

“Sebulan kurang dua hari.” Aku tersenyum.

Sketsa Wajah Panglima Teuku Nyak Makam

Sketsa Wajah Panglima Teuku Nyak Makam

Kemudian dia menyerahkan pipa tembakaunya untuk aku hisap. Kode etik dalam pertempuran (pasukan Aceh) ketika kau diberikan air atau tembakau artinya kau telah dijamin dalam perlindungan dari yang memberikan. Aku mengambil pipa tembakau dan menarik asapnya kuat-kuat.

Baca: Teuku Nyak Makam, Pahlawan Aceh Tanpa Kepala

“Aku punya kabar buruk untukmu.” Katanya. Aku diam menanti kelanjutan ceritanya.

“Jenderal mata satu menyerang kampungmu sekitar dua minggu lalu.” Sambungnya. ternyata desas-desus tadi siang benar. Dia menatap mataku dalam-dalam.

“Telah jatuh banyak korban, ketika pasukan Belanda telah pergi. Orang-orang yang kembali ke kampung dan melihat jumlah korban. Ternyata ada banyak penduduk yang dibantai, perempuan dan anak-anak.” Perasaanku menjadi tidak enak.

“Aku mendapat kabar langsung dari orang terpercaya, bahwa istrimu telah tewas dengan memegang tombak di tangan kanannya, serta anakmu di tangan kirinya.” Suasana menjadi hening. Suara jangkrik yang sedari tadi berbunyi hilang.

Rasa-rasanya ini tidak mungkin, istriku adalah petarung yang tangguh. Aku tidak dapat berpikir sama sekali. Aku mundur perlahan-lahan, seluruh mata diruangan menatap aku, keluar dari tenda panglima rasanya ketika aku berjalan di atas tanah, dan secara tak sadar kakiku tak lagi kukuh, bergetar kencang serasa hampir jatuh. Aku bersandar di pohon kelapa, menghidu bau perdu dan pohon-pohon di sekelilingku. Aku memandangi langit yang dipenuhi bintang, dan di mataku bintang nun jauh berubah menjadi lambang-lambang samidin. Aku merasa telah direnggutkan dari bumi ini, terbang melayang jauh. Sebuah rongga yang melompong muncul di dadaku, kesitulah seluruh rasa amarah dan rasa sakitku mengalir masuk. Aku menangis.

XXX

Surat Letnan Colijn (Kelak Perdana Menteri Belanda) kepada istrinya.

Hendrikus “Hendrik” Colijn (1869-1944) menjabat Perdana Menteri Kerajaan Belanda selama 2 periode; 4 Agustus 1925 sampai 8 Maret 1926 dan 26 Mei 1933 sampai 10 Agustus 1939 dari Anti Revolutionary Party (ARP) sekarang menjadi Christian Democratic Appeal (CDA) terlibat Perang Aceh sebagai Letnan Dua.

Hendrikus “Hendrik” Colijn (1869-1944) menjabat Perdana Menteri Kerajaan Belanda selama 2 periode; 4 Agustus 1925 sampai 8 Maret 1926 dan 26 Mei 1933 sampai 10 Agustus 1939 dari Anti Revolutionary Party (ARP) sekarang menjadi Christian Democratic Appeal (CDA) terlibat Perang Aceh sebagai Letnan Dua.

“Aku melihat seorang ibu yang menggendong anaknya yang berusia sekitar 6 bulan di tangan kirinya, dan membawa tombak panjang di tangan kanannya, berlari ke arah kami. Salah satu peluru kami menewaskan si ibu maupun anaknya. Sejak itu, kami berhenti menunjukkan belas kasihan. Aku mengumpulkan sebuah kelompok yang terdiri atas 9 orang wanita dan 3 anak yang meminta ampun dan mereka semua di tembak. Ini bukan pekerjaan yang menyenangkan, tetapi mustahil melakukan hal lainnya. Para prajurit kami menusuki mereka dengan bayonetnya, ini mengerikan. Aku akan berhenti melapor sekarang.”

Istri Colijn menulis di pinggir surat itu: “Betapa mengerikannya!”

Kebiasaan banyak orang Aceh bertempur sampai mati membuat pasukan Belanda beranggapan bahwa: “orang Aceh yang baik adalah orang Aceh yang mati.” Belanda tidak segan memusnahkan kampung yang dianggap bermusuhan. Sawah, ternak berserta seluruh penduduknya.

XXX

Berhari-hari kemudian semangatku belum juga tumbuh, aku menghabiskan waktu dengan merenung. Terbersit dalam pikiranku untuk mendatangi tangsi pasukan Belanda terdekat dan melemparkan diri dalam peluru-peluru mereka. Jika aku mati maka aku akan berusaha menghabisi sekurang-kurangnya sepuluh orang pasukan mereka. Apakah itu sebuah kegilaan yang telah merasuki pikiranku?

Apakah ada hak menyerang bangsa lain? Sebelum Belanda datang kami hidup aman sentosa. Tiba-tiba Belanda mengerahkan serdadu-serdadu mereka untuk merampas harta benda kami, membakar sawah-sawah dan membunuh ternak-ternak kami. Apa hak mereka? Mengepung kami dengan ketidakadilan, dengan bedil, meriam serta kapal besi mereka? Aku membenci Belanda namun bersamaan dengan itu, aku juga membenci diriku, karena aku tak bisa berbuat apa-apa.

XXX

[Bersambung]

Berbagai istilah:

Mudabbirusyarqiah1): Panglima penegak kedaulatan Aceh di pesisir Timur sekaligus panglima mandala Kerajaan Aceh di Sumatera Timur, gelar resmi Teuku Nyak Makam;

breuh2: Beras (Bahasa Aceh);

kuah beulangong3): Kuah Belanga (Bahasa Aceh); Merupakan bumbu kari daging sapi (terkadang kambing) khas Aceh Besar terkenal dengan kelezatannya, bahkan pasukan marsose dan Belanda kerap menyerang kampung yang sedang kenduri masakan ini untuk merampoknya untuk dimakan;

Pang4): Panglima;

Rungkhom5): Sergap (Bahasa Aceh); Pasukan gerak cepat untuk melumpuhkan;

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN;
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.