RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SATU

aku sekejamnya membalas dendam,
karena akulah sang durjana

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SATU

Lamreh, Aceh Besar, Akhir November 1873

Melalui tabung teropong aku terhenyak menyaksikan tidak kurang dari pada 60 kapal membuang jangkar. Merah-Putih-Biru bendera Belanda berkibar disana, tampaknya armada Belanda ingin mengunci Selat Malaka, menjauhkan Aceh dari bantuan manapun. Selain daripada bendera-bendera kerajaan tersebut Nampak pula berkibar bendera kuning, sebagai mantan bajak laut aku cukup paham bahwa itu adalah bendera karantina, sebuah pertanda kapal sedang dilanda penyakit.

Ketika aku menyerahkan teropong kepada bang Baka, ia tersenyum riang. “Pertolongan Allah telah datang, pasukan Belanda dilanda penyakit.” Perutku mendecit, ada yang tidak beres. Ini bisa jadi jebakan kafir Belanda yang terkenal licik. Aku merasakan ada bahaya yang tak dapat kusarikan darimana datangnya.

Keadaan pasukan Aceh sendiri dalam keadaan sangat baik. Pertama Belanda telah dipukul mundur sebelumnya pada penyerangan Maret lalu. Kedua, pasukan bantuan dari Raja Pidie telah tiba, 1000 tentara terlatih dari pesisir timur Aceh tentu sangat membantu. Pasukan Aceh telah siap menanti musuh kembali, parit-parit dan tempat-tempat pertahanan telah diisi oleh laskar Aceh, berbekal bedil, kelewang dan beberapa meriam berkarat hasil rampasan dari orang-orang Portugis di masa lampau.

Tak lama hujan turun dengan deras, saat ini menjelang Desember yang pada galibnya musim hujan telah lewat, tapi hujan turun tak terhingga. Ini berlanjut sampai delapan hari, matahari tertutup awan. Pasukan Aceh berteduh, keyakinan mereka begitu berapi-api yang tak padam meski didera badai. Tapi sadarkah mereka? Dengan peralatan perang seadanya, dan dikuasainya laut oleh armada perang Belanda maka kemenangan adalah mimpi semata. Aku berharap meski ini hanyalah mimpi, maka mimpi kami ini bukanlah sekedar bayangan semu, dan ketika terjaga, tak akan merasakan kesedihan, kami harus memenangkan peperangan ini lagi, mimpi ini haruslah tercapai dan bukanlah sesuatu yang kekosongan belaka.

Aku menggigil kedinginan, setia kepada mimpi? Bukankah itu yang menyebabkan hidup kita, manusa menjadi berarti.

Perairan Selat Malaka, Kapal Maddaloni Akhir 1873.

“Anjing!” Maki Nino Bixio. Akhir-akhir ini ia mudah gelisah dan sering marah kepada awak kapal. Ia mengutuk dalam hati, seharusnya ia menikmati masa pensiun di Italia sana pikirnya. Atau seharusnya dia tidak menjual kapal ini ketika mendapat tawaran tinggi dari Belanda, atau dia cukup menjual saja kapal ini kepada pemerintah Hindia Belanda, tak perlu harus tergiur lagi menjadi nahkoda dalam ekspedisi sialan seperti ini.

“Bhuaaaah!” Ia muntah darah, denyut jantung dan nadinya semakin cepat. Kulitnya semakin kusam dan ia menjadi lebih haus dan haus lagi. Seharusnya dia curiga ketika dokter Belanda menyuntikkan serum seminggu lalu. Katanya antibiotic sebelum perjalanan, jangan-jangan ini adalah virus.

Ia mendelik, “Babi!” Teriaknya seraya mendelik, kemudian ia mati. Tak lama kemudian, seorang dokter Belanda meniup peluit. Beberapa sampan datang dari kapal-kapal yang lain membawa selimut tebal menyelimuti jenazah Nino. Senyum licik tergaris dimulut dokter Van der Mayde, saatnya telah tiba.

Di tengah hujan deras, dokter Van Der Mayde memimpin sampan-sampan itu ke daratan. Mereka melemparkan mayat Nino ke dekat perkampungan. “Sebelum hujan reda kita harus kembali, cepat kayuh yang cepat perintahnya.” Dengan segera mereka kembali menuju kapal pusat komando melaporkan kepada pimpinan tertinggi bahwa misi telah berhasil.

Jenderal Van Swieten tersenyum puas dengan laporan dokter Van der Mayde, “kita tunggu beberapa hari lagi untuk melaksanakan pendaratan, kita tunggu virus menyebar terlebih dahulu.” Ia sangat riang hari itu. Meski wajahnya cerah tapi sesungguhnya hati Van Swieten membeku, layaknya pualam, ia bergaya dengan anggun seolah agung, sebuah kebrutalan dengan gaya yang anggun, sebuah keyakinan yang berapi-api yang justru membekukan hati, sebuah penampilan rasa cinta yang menakutkan.

Terbesir perasaan menyesal sekilas di hati dokter Van der Mayde, kemudian teringat olehnya bukankah dahulu Spanyol menaklukkan Inca, Aztec dan Maya dengan menyebarkan benih penyakit. Demi kejayaan Ratu Belanda ini sama sekali bukan kesalahan, ini adalah pengabdian kepada tanah air.

Pesisir Aceh, Akhir 1873.

Akhirnya matahari menunjukkan wajahnya kembali setelah delapan hari tak menampakkan rupa. Pasukan Aceh seperti terjaga dari tidurnya yang lumayan panjang. Setengah hari berlalu dengan cepat, sampai menjelang Dhuhur terompet pasukan dibunyikan. Apakah Belanda sudah menyerang?

Seorang kurir berlari ke pos kami. Ia berteriak parau, “Durjana, durjana diminta menghadap Komandan Ibrahim Lamnga.” Ia berteriak-teriak dari jauh, alamat pesan yang sangat penting. Bang Baka menyenggol aku, dia memberi kode. “Aku ikut kemanapun kau pergi adinda.” Pelan, ia berbisik.

Masih terengah-engah ia menyampaikan pesan ketika melihat aku keluar dari semak belukar. “Pergilah 10 Mil ke Barat disana ada hal penting, maaf aku tak bisa mengiringimu.” Ia bersandar pada pokok kayu kelapa.

Segera aku berlari, bang Baka mengikuti dibelakang. Kami berpacu dengan waktu, aku curiga jangan-jangan Belanda, kutepiskan pikiran burukku dan terus berlari. Sesampainya disana, sekompi pasukan dan sejumlah penduduk sedang menggerubungi sesuatu.

Sebuah mayat dilapisi sehelai selimut teronggok disana. “Apa ini Ahmad? Katanya kau mantan pelaut tentu paham apa ini!” Tanya Ibrahim Lamnga. Aku mendapati seorang Eropah dengan kulit kusam. “Celaka!” Kataku. “Ada apa Durjana?”

“Kolera! Bibit penyakit kolera.” Seorang awak kapal Bintang Hitam dahulu pernah terjangkit di India, kami terpaksa membuang mayatnya di lautan ketika itu, ini penyakit sangat berbahaya.

“Berapa hari mayat ini sudah ada disini?” Tanyaku. “Menurut pengakuan penduduk sudah 4 atau 5 hari.” Kata Komandan Ibrahim Lamga.

“Bajingan!” Aku menjerit, sungguh licik Belanda. “Mayat ini sengaja diantar ke darat untuk menyebarkan kolera yang ada ditubuhnya.” Wajah pasukan Aceh dan penduduk menjadi pucat. “Segera bawa ke pegunungan dan tanam sebelum menyebar!” Ibrahim Lamnga memilih 8 orang untuk membawa mayat kepedalaman, atau ke puncak Seulawah. Yang aku takutkan terjadi, Belanda menggunakan senjata biologis, ini hanya satu kasus mungkin ada banyak yang mereka sebar ditepi pantai. Jika dugaanku benar maka kami pasukan Aceh tidak hanya menghadapi pasukan yang terlatih dan bersenjata lengkap dengan armada laut yang kuat saja, melainkan juga wabah penyakit. Sungguh tidak memiliki harga diri Belanda itu, mereka adalah bangsa penakut yang terkutuk. Mereka takut akan kekuatan kami yang tak seberapa, rasa takut ini membuat mereka menjadi lemah dan menggunakan cara licik, menyebarkan benih penyakit, hanya untuk memenangkan perang ini, kebanggaan dan kehormatan mereka sebagai manusia sudah tidak ada lagi.

“Tuanku, begitu Belanda merasa bahwa penyakit telah menyebar maka mereka akan segera menyerang, Beta pamit kembali ke pos.”

“Durjana, satu permintaanku padamu.” Ibrahim Lamnga menahan aku sebentar, “tolong kamu, sampai aku bertemu lagi denganmu, setidaknya untuk mengucapkan terima kasih. Hati-hati jangan sampai terbunuh.”

Bang Baka ternyata tiba menyusul aku, dia terlambat dan kebingungan apa yang telah terjadi. Aku hanya mengangguk kepada Ibrahim Lamnga. Tentu aku ingin hidup, tapi kematian adalah takdir setiap manusia. Entah berapa lama aku bisa menantang takdir, sebelum berakhir.

Aku berlari kembali menuju posku, diikuti Bang Baka yang sebenarnya berharap penjelasan segera. Dalam lariku yang semakin letih, aku bersumpah akan memenggal setiap kepala Belanda yang kutemui, entah itu Eropa atau Belanda Hitam, entah itu pria atau wanita, entah itu dewasa atau kanak-kanak. Benih-benih setan itu tak boleh hidup jika bertemu denganku.

Halilintar menggelegar meski cuaca panas, menyambut sumpahku. Sumpah Sang Durjana. Perasaanku kacau. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak menemukan jawabannya. Apakah sumpahku tadi melanggar agama? Aku tak menemukan jawabannya. Tapi aku harus bertarung, jawabannya mungkin datang sesudah itu. Daripada memikirkan itu lebih baik aku menyiapkan diri menghadapi kenyataan yang ada di depan mata.

XXX

di atas bumi, tanah kami ini

jika terlihat paras wajahmu yang putih itu

ingin rasanya kucungkil keluar

bola mata sampai berdarah

lalu busuk dan bernanah

 

melihat rintih kesakitanmu

siksa tiada henti terus kuhujam

dengan begitu aku tertawa terbahak

aku sekejamnya membalas dendam

karena akulah sang durjana

XXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

20 Responses to RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SATU

  1. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA | Tengkuputeh

  2. Pingback: RISALAH SANG DURJANA | Tengkuputeh

  3. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA | Tengkuputeh

  4. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN EMPAT | Tengkuputeh

  5. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN LIMA | Tengkuputeh

  6. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM | Tengkuputeh

  7. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH | Tengkuputeh

  8. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DELAPAN | Tengkuputeh

  9. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEMBILAN | Tengkuputeh

  10. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEBELAS | Tengkuputeh

  11. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEPULUH | Tengkuputeh

  12. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA BELAS | Tengkuputeh

  13. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA BELAS | Tengkuputeh

  14. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH BELAS | Tengkuputeh

  15. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH | Tengkuputeh

  16. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN LIMA BELAS | Tengkuputeh

  17. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM BELAS | Tengkuputeh

  18. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEMBILAN BELAS | Tengkuputeh

  19. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DUA | Tengkuputeh

  20. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN EMPAT BELAS | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s