RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH TIGA

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH TIGA

Gunong Hulumasen, 1894.

Aku terkesima, kehilangan kata-kata, terpana. Bagaimana bisa? Wajahnya, senyumnya, lenggak-lenggoknya serupa. Perempuan itu, sebaris alis hitam, dengan hidung mancung mengembang, bibir merah tebal dibawah, dan dagu itu, tidak mungkin terulang. Ketika ia tersenyum mengembangkan dua lesung pipi di kiri dan kanan, baru aku menyadari mereka berbeda, perempuan itu memang tak terulang.

Aku menghitung tahun-tahun yang sudah terlewati, bodohnya aku memikirkan mereka adalah orang yang sama, begitu banyak hari-hari berlalu, jikalah ia masih hidup tak mungkin memang ia masih semuda ini.

Ia bersenandung dalam bahasa yang aku kenali sepotong-sepotong. Merdu, indah, syahdu, dan menggetarkan semangat. Aku terpesona oleh bait-bait syair yang tak aku kenali sepenuhnya.

Aku telah berhari-hari meninggalkan pemukiman penduduk, terakhir di Pante Kuyun bertemu manusia, saat ini dalam hutan rimba, ini semua gara-gara Umar membawa pasukan Belanda mendarat di Rigaih dan mengejarku. Tak kusangka, dalam perjalananku menuju Aceh Besar aku harus bertemu dengan seorang perempuan bernyanyi syair yang tak kumengerti, aku rasa dia bukan manusia. Bulu kudukku berdiri.

Rimueng Aulia

“Wahai lelaki yang berbau garam, jangan takut!” Ia tersenyum menatapku geli.Gerimis jatuh tepat dihidungku, aku tidak sedang dalam mimpi. Aku juga merasakan angin menampar-nampar pipiku, bahkan aku merasakan gemericik air ditepian telaga. Di pegunungan ini, apa maksudnya dia menyebutkan aku berbau garam. Keningku berkerut, aku waspada.

Dia melenting dari batu besar di telaga menuju kearahku.

“Kalian semua datang dari laut, bukan?”

“Maksud Puan?”

“Kalian Aceh, rumah kalian bentuknya seperti perahu yang dibalik. Bukankah itu menandakan awalnya rumah kalian adalah perahu yang dijadikan tempat berteduh?”

“Apakah Puan seorang Dewi dari Gayo?”

Matanya berbinar, “Aku suka Gayo, mereka lebih lembut dari kalian Aceh. Tapi Aku pikir mereka juga datang dari laut. Mereka membawa bunga yang sangat indah, bunga Champa.”

Cempaka, atau dalam bahasa Aceh disebut Bungong Jeumpa. Siapa perempuan ini?

“Tidakkah kau perhatikan warna pakaian mereka? Bukankah serupa dengan warna pakaian orang-orang Champa. Waktu sudah mengubah bahasa mereka, adat mereka, tapi warna tidak pernah luntur.”

“Sayang sekali Puan, beta tidak tahu. Negeri Champa1) sudah musnah, seratus atau dua ratus tahun lalu dikalahkan dan dihancurkan. Apakah Puan seorang Dewi Mante?”

Ia menggeleng, “Mante atau Mantinia, aku pikir mereka juga datang dari laut sebelah Barat. Kami lebih tua dari itu.”

Antara tertarik dan takut aku terdiam, “Jika Puan tak berkeberatan Beta memiliki banyak waktu luang untuk mendengarkan.”

“Kau menarik, aku pernah bertemu seorang Aceh yang menarik lainnya di masa lalu.Ali Moghayat Syah2) pangeran Meurehom Daya3), dimana dia sekarang?”

Ali Moghayat Syah adalah pendiri Kesultanan Aceh Darussalam di abad ke-16, tiga ratus tahun yang lalu, sepertinya aku kesambat, bertemu dengan jin yang sudah sangat tua.

“Beliau sudah meninggal lama Puan, dan dikuburkan secara sederhana di Aceh inti4).”

“Sudah kuduga, dia pernah berkata padaku, siapa yang mencintai lautan tak akan pernah membangun monumen.”

“Siapakah Puan?”

Ia tersenyum. “Sebelum kalian datang ke tanah ini, yang sekarang kalian sebut dengan nama Aceh. Ada tiga suku yang selamat dari letusan gunung besar. Suku Badak, Gajah dan Harimau. Kita kesampingkan suku Badak yang lebih tua, jumlah mereka terlalu sedikit, kami suku harimau dan suku lainnya gajah yang jumlahnya lebih banyak selalu dalam keadaan berperang. Sampai akhirnya kami sama-sama menyadari jumlah kami menyusut dan membuat perdamaian. Setelah itu kalian semua datang dari lautan, dan suku gajah akhirnya melebur dengan kalian.”

“Jadi suku harimau masih di hutan rimba? Tanyaku.

“Tidak juga, banyak juga yang telah turun dan kawin dengan bangsa kalian. Sebenarnya bangsa kami menjelang akhir perang dengan suku gajah telah berada di ambang kepunahan. Selain aku, masih ada beberapa yang hidup di rimba, tapi kami lebih menyendiri.”

Aku sedikit tidak percaya, bukankah tidak ada bangsa yang sangat ahli dalam kebohongan melebihi bangsa jin.

Ia tersenyum, “aku menyerupakan diri dengan seseorang yang pernah engkau cintai, itu keahlian bangsa kami.”

Dan itu pula keahlian bangsa jin, pikirku.

Aku pikir, aku menyukaimu, ia mulai bernyanyi, bukan seperti merapalkan mantra.

He tujan lahe
Hidhieng alah hala hai dieng
wa jala e hala e hala

Kutidhieng laha dhieng bet
Kutidhieng laha dhieng bet lah hem bet
bet la tidhieng la hem bet bet la tidhieng

Lam puteh kahyangan lam puteh kahyangan. Aulia
Rimueng Aulia Aulia. Rimueng Aulia
Hai yang bule jagad Hai yang bule jagad. Aulia
Rimueng Aulia. Aulia. Rimueng Aulia.

Saksikan Video dibawa ini yang menjelaskan Arti dan Makna Kutindhieng

“Itu adalah mantra Kutindhieng, hafalkan!” Perintahnya.

Ada beberapa kata yang aku kenali dalam bahasa Aceh, tapi bukan sejenis bahasa yang aku mengerti. “Beta pikir sulit Puan, apa makna Kutindhieng sendiri? Dan dari bahasa apa ini?”

Kutindhieng artinya menimang, senimang seorang anak dan mengajarkannya seorang jantan sejati, Kutindhieng adalah tembang, syair sekaligus mantra.”

“Mungkinkah ini adalah bahasa purba?”

Ia tertawa terbahak, memegang perutnya tergelak, “Tentu ini adalah bahasa asli kami, lebih kuno dari bahasa Aceh, bahasa Gayo, bahkan bahasa Mantinia, sedikit lebih muda dari bahasa Arab. Syair Kutindhieng ini disebut juga mantra harimau putih, jika kau bertemu harimau bacalah niscaya dia akan menghindar, dan ketika kau membaca mantra ini maka engkau akan dimasuki roh nenek harimau putih.”

“Untuk apa? Untuk apa beta membiarkan membiarkan diri dimasuki harimau putih dan untuk apa pula Puan mengajarkan itu kepada beta?”

“Pertama aku menyukaimu, kedua aku mencium kedatangan orang-orang berbau susu basi, aku tidak menyukai mereka, terlebih aku tidak menyukai agama mereka, agama mereka adalah keserakahan. Kalian Aceh memang serakah juga, tapi kalian tak peduli, dan tak pernah memburu kami. Setidaknya kita saling menghormati. Tapi, mereka tidak.”

Apa keuntungan mantra ini?

“Aku telah mengajarkan ini langsung kepada kau, jadi kau telah menjadi muridku langsung, oleh karena itu kau telah aku angkat sebagai bangsaku. Apa keuntungannya? Kami berumur panjang, dan sejak hari ini umurmu boleh bertambah, akan tetapi secara fisik akan melambat 4 kali dari orang kebanyakan. Kau mungkin tidak bisa kebal, tapi luka-lukamu akan lebih cepat sembuh dibandingkan orang kebanyakan. Bukankah kalian saat ini sedang berperang?”

“Iya melawan Belanda, akankah kami menang Puan?”

“Aku tidak tahu, kami bukan bangsa jin yang mampu dan suka mencuri rahasia langit. Dalam sejarah tanah ini, selalu datang bangsa-bangsa dari lautan, menaklukkan untuk kemudian ditaklukkan. Ini semua salah kalian sendiri, ketika kalian meninggalkan tradisi dan kekuatan kalian sendiri, kalian melupakan lautan, tidak membangun kapal-kapal sebagai rumah kalian dan hidup nyaman di daratan.”

Aku terdiam, selama seratus tahun terakhir, Kesultanan Aceh Darussalam telah memindahkan pusat-pusat kekuatan di darat, membangun negeri-negeri di bawah pimpinan Uleebalang dengan ambisi teritorial dan melupakan pembangunan armada laut, tapi bukankah ini terjadi secara alamiah. Siapa yang bisa menahan kuasa bangsa putih di lautan? Negara Melayu mana yang mampu?

“Himalaya. Hi adalah gunung dan Malaya adalah Melayu. Leluhur kalian, eh, aku pikir bangsa Mantia pernah bercerita tentang keindahan gunung tersebut. Mereka terusir dari sana? Apakah kalian Aceh juga akan terusir?” Ia angkat bahu.

“Apa maksudnya terusir Puan?”

“ketika anak cucu melupakan kalian, ketika mereka beragama keserakahan seperti bangsa susu basi. Mereka menjadi orang-orang baru yang telah terputus dari kalian, hanya membawa nama kalian dalam hal kebanggaan semata, tapi tidak dalam hal akhlak dan kebaikan. Aku menyukai bangsa kalian saat ini, kalian menghormati kami, akankah anak cucu kalian seperti ini juga? Aku rasa jika bangsa susu basi memperoleh kemenangan, maka mereka akan membasmi kalian semua, dan menyisakan yang terburuk dari kalian di muka bumi ini?”

“Jadi karena itu Puan memilih beta menjadi murid? Untuk memenangkan peperangan.”

Ia menggeleng. “Aku memilihmu karena tidak ada orang lain, tidak ada Aceh lain yang menjelajahi gunung ini selama lima puluh tahun terakhir. Jikalah aku bisa memilih, tentu aku akan memilih seorang Sultan atau seorang panglima perang yang kuat, bukan seorang pengembara yang pikirannya penuh kecamuk seperti kau.”

Pertama kalinya setelah berminggu-minggu aku tersenyum.

“Jadi kau setuju menjadi muridku?”

Aku mengangguk.

“Baiklah, sekarang kau masuk ke gunung itu, dibalik telaga ada sebuah gua. Berdiamlah sampai aku minta keluar!”

Aku masuk ke dalam gua dan duduk disitu diatas batu pualam. Sejujurnya aku tidak tahu harus berbuat apa, aku mengantuk dan merebahkan diri tertidur.

Aku tak tahu telah tertidur berapa lama ketika Puan tersebut memanggilku keluar. Ia menyerahkan sebuah belati, menekan lekukan vertikal di bagian tengah bibir atas, Filtrum milikku seraya berkomat-kamit merapalkan mantra Kutindhieng.

Secercah cahaya putih masuk, kaki-kakiku melemas, tapi penciumanku semakin tajam. Jangan-jangan ini adalah ilmu hitam. Sial, kali ini aku tak punya pilihan lain selain menurutinya.

Belati Siwaih Aceh, Senjata Para Sultan dari Kesultanan Aceh Darussalam

“Ambillah Siwah ini, dan jangan lupakan hafalan mantra Kutindhieng. Sekarang ”

Aku merapalkan mantra yang ia ajarkan dengan enggan. Ia tersenyum dan berkata, “berangkatlah!”

Aku bergegas pergi, tapi aku sempat berbalik dan berteriak bertanya, “Siapakah nama Puan?”

“Rimueng Aulia!” Ia balas berteriak.

Jangan-jangan aku sudah bertemu dengan roh nenek harimau putih sendiri. Akh, sudahlah tak perlu dipikirkan terlalu. Aku pun berbalik pergi dan tak menoleh lagi.

“Dalam imajinasi kita, kita memiliki kekuasaan akan waktu”

XXX

Catatan Kaki :

  1. Negeri Champa, Kerajaan Islam yang menguasai yang sekarang menguasai Vietnam Tengah dan Selatan, ditaklukkan bangsa Vietnam pada tahun 1695 dan dibubarkan 1832;
  2. Ali Moghayat Syah, Pendiri Kesultanan Aceh Darussalam;
  3. Meureuhom Daya, Kecamatan Jaya dan Indra Jaya di Kabupaten Aceh Jaya (Sekarang);
  4. Aceh Inti atau Groot Aceh (Bahasa Belanda), wilayah yang meliputi ibu Kota Kesultanan Aceh Darussalam dan Federasi Tiga Sagi meliputi Mukim XXII, XXV dan XXVI (Banda Aceh dan Aceh Besar sekarang);

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH TIGA

  1. Pingback: RISALAH SANG DURJANA | Tengkuputeh

  2. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA | Tengkuputeh

  3. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA | Tengkuputeh

  4. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN LIMA | Tengkuputeh

  5. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM | Tengkuputeh

  6. Pingback: RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DUA | Tengkuputeh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.