Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Seorang pahlawan tidak langsung dilahirkan dimuka bumi. Seorang pahlawan dibentuk oleh alam, karena seseorang dapat dikatakan sebagai pahlawan jika ia melebihi dirinya. Risalah Sang Durjana

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH

Bandar Aceh Darussalam, Pebruari 1873

Seorang pahlawan tidak langsung dilahirkan dimuka bumi. Seorang pahlawan dibentuk oleh alam, karena seseorang dapat dikatakan sebagai pahlawan jika ia melebihi dirinya. Memberikan manfaat yang secara alur pikiran awam tak dapat ia lakukan. Pada saat itulah seseorang membuktikan kapasitasnya sebagai seorang pahlawan.

Terus terang aku mengagumi anak muda ini, sekaligus membencinya. Umar anak Meulaboh, sudah beberapa minggu belakangan ini ia ada di Bandar Aceh Darussalam. Pergerakannya sangat cepat, baru sesaat dipelabuhan sekejap berikutnya ia membuat keributan di Peukan Aceh. Satu hal yang luar biasa dari anak berumur sembilan belas tahun ini, ia selalu mampu mempengaruhi orang yang lebih tua tunduk pada pengaruhnya. Satu sisi jelek dari anak muda ini yang paling tidak kusukai adalah gayanya yang sangat feodal dan gemar berbelanja. Keonaran adalah cara untuk menunjukan siapa dirinya, cucu Raja Meulaboh. Belum lagi kegemarannya menghisap candu yang menyebabkan giginya kuning seperti aliran krueng Aceh.

“Tukang jahit, sekali-kali bergaullah sedikit!” Diikuti beberapa orang yang lebih tua, Umar berkacak pinggang didepan lapakku. Aku tidak berminat mengurusi keturunan Ulee balang manja ini, lebih baik meneruskan pekerjaanku. Tidak dipedulikan tidak membuat orang ini jenggah, malah ia mengambil tempat duduk disampingku. “Abu, aku tahu siapa kamu? Tidak semestinya kamu mengenakan topeng seperti ini. Tidakkah kamu tertarik untul berpolitik? Dan bila kamu memilih Umar sebagai tuan maka aku jamin pilihanmu itu tidak akan mengecewakan.” Tawarnya manis, manis semanis madu.

Aku tak tahu apakah dia, si Umar ini memiliki kualitas untuk menjadi seorang pahlawan atau seorang pecundang. Karena batas antara dua hal ini sangat tipis, lebih tipis dari sutra Tiongkok terbaik. Umar mendekatkan wajahnya dan memainkan alisnya, dia mahir mempengaruhi orang lain. Tak heran diusia muda pengikutnya lumayan banyak disini, apalagi di Meulaboh sana kampungnya.

“Politik itu adalah cerita tentang menang dan kalah, dan aku tidak tertarik sama sekali.” Kutatap matanya.

Ia menunduk, “Abu, aku mendengar cerita nabi Khaidir dan nabi Musa. Aku tahu bahwa di dunia ini lebih banyak orang yang lebih pintar dariku. Apalagi aku mendengar bahwa Abu pernah bertualang dinegara atas angin, meski belum ke Mekkah aku tahu Abu pernah ke negeri Rum. Jangan terkejut Abu, selain mangkubumi Habib Abdurrahman yang merasa paling pintar di dunia itu. Abu satu-satunya orang yang pernah kesana.”

Aku tersenyum, tersanjung sedikit. “Aku tidak tertarik berpolitik, kamu tahu itu.”

Umar menarik nafas panjang, “Abu, negeri pesisir timur membajak kapal Kaphe lagi. Aku tidak tahu apa yang ada diotak mereka, apakah mereka memang terlahir sebagai bangsa perompak?”

Dengan satu kalimat ia menceritakan keadaan sosial budaya sekaligus menyindir masa laluku, Sang Durjana. Tanpa disadari ku membela, “jangan salahkan mereka, salahkan blockade Inggris dan Belanda di Selat Malaka!”

Umar tertawa terbahak, “Lalu apakah kaphe Belanda yang sangat pelit itu akan diam saja! Tidak, mereka bangsa dagang. Tak ada guna Tuan Tibang berunding ke Singapura, perang pasti akan terjadi. Mereka akan mencari pasal.”

Umurnya baru sembilan belas tahun, tapi punya pandangan jauh kedepan. Sama dengan apa yang ku perkirakan selama ini, hanya saja terlihat ia belum terlalu yakin dengan apa yang ia renungkan. “Iya, bulan depan Belanda pasti akan menyerang.” Jawabku.

Umar tersentak. “Sudah kuduga, mereka di Timur tak pernah berperang di laut namun merompak dan membawa negeri ini dalam kehancuran, berbeda dengan kami yang dari Barat. Berjaya sedari dulu menaklukkan Samudera Hindia.” Dan kata-katanya berubah menjadi kegeraman yang amat sangat.

Aku menggeleng, “Saat ini Umar. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Tapi ini adalah saat yang tepat untuk bersatu.” Umar memandang antara gairah dan takut akan perang, bagaimanapun bocah ini baru berumur sembilan belas tahun.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanyanya.

“Umar, tak usah kau urusi konflik Timur-Barat. Sekarang kamu pulang ke Barat. Damaikan Meulaboh dengan Teunom, perang dua mukim bersisian itu sia-sia. Siapkan pasukan sebanyak mungkin untuk kembali ke Bandar Aceh ketika perang terjadi.” Anak ini harus diperjelas dimana posisinya dalam perang, jelas ia ingin menjadi orang yang berarti ketika pertempuran pecah.

“Apa mungkin Meulaboh dan Teunom berdamai?”

Langsung kupotong, “pasti bisa! Meulaboh dan Teunom adalah negeri terkaya di Barat Selatan. Kali ini kita melawan raksasa, dan raksasa ini gemar mengadu domba.”

Umar mencabut rencongnya, kemudian memandangi ujungnya.

“Apalagi yang kau tunggu, cepat pulang ke Meulaboh!” Tak pernah kubayangkan ia menurut, memberi tabik dan berbalik. Pengikutnya mengikuti dibelakang seperti anak bebek.

Salah seorang pengikutnya sebelum berbalik menyalamiku, “Tuan sangat hebat, mampu membuat junjunganku kembali ke Barat, padahal kakeknya sudah beberapa kali mengirimkan utusan supaya dia pulang. Oh ya, perkenalkan aku Dokarem, pujangga wilayah Barat.” Ia pun pergi mengikuti pemimpinnya, syukurlah paling tidak untuk beberapa minggu ibu kota aman dari sang pembuat onar.

Sebagaimana kekagumanku pada orang muda yang memiliki kualitas dalam diri orang tua, sedemikian pula hormatku pada orang tua yang memiliki kualitas orang muda. Mereka yang mengikuti aturan ini bisa menjadi tua tubuhnya, tapi tidak pernah tua secara pikiran.”

XXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
Advertisements
Advertisements

34 thoughts on “RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: