AKHIR RIWAYAT SANG DURJANA

Detasemen KNIL menangkap seorang Aceh di dekat Kota Meulaboh tahun 1925; sumber KITLV.nl

AKHIR RIWAYAT SANG DURJANA

Dekat kota Meulaboh, circa 1925.

Sudah berapa lama aku tidak makan nasi? Aku sudah lupa harumnya uap nasi ketika matang, rasa pedas cabai yang mengigit lidah, serta manisnya air tebu. Entah berbulan-bulan atau mungkin tahunan aku berada dalam rimba. Makan batang pisang sehingga perutku tak mampu lagi mencerna, terlalu lama aku telah berkelana dalam rimba sehingga sudah dianggap bagian daripadanya. Nyamuk sudah lama tak mengigit tubuhku, harimau hutan pun tak peduli jika berpapasan denganku.

Kawan-kawanku telah syahid semuanya! Tinggal aku seorang. Umar yang nakal sudah tidak ada lagi, Saman yang soleh telah tewas diracun. Hanya aku yang masih bertahan tapi sampai kapan aku bisa bertahan?

Aku merasakan lapar yang sangat hebat, rasa-rasanya aku akan mati sebentar lagi. Kecamuk perasaan marah, sedih, berbagai pertanyaan yang tak kunjung ada jawab, bimbang, rasa tidak percaya dan putus asa, semua emosi berbaur di hati. Saat ini aku tenggelam dalam kebimbangan. Aku harus mampu meloloskan diri sebelum semakin dalam terperangkap dalam rasa ini. Jiwa yang rentan sewaktu-waktu akan hancur.

Aku memejamkan mata seraya menggucapkan syahadat, “Ashaduala ilaaha illallah Wa ashadu anna muhammadar rasulullah.” Malam kelam dalam rimba yang gulita.

Ketika pagi datang aku masih hidup, namun tak mampu lagi menggerakkan tubuhku, lamat-lamat aku mendengar suara peluit.

XXX

Pagi hari Tanggal 29 pasukan bergerak di sepanjang alur sungai Teunom ke hulu, dari situ menebang beberapa pohon yang menghalangi jalan kecil menuju sebuah lereng yang lebat hutannya. Di sana mereka menjumpai bekas tapak kaki. Tanpa bersuara, pasukan mengikuti tapak kaki itu, tak jauh tampak sebatang pohon bekas ditebang, mungkin untuk kayu api, sedang dari belukar-belukarnya telah dipotong daun-daunnya untuk atap. Jelaslah bahwa tempat persembunyian lawan terletak di dekat sini. Renjan seorang Pasukan Marsose bergerak terus ke depan melalui semak-semak sehingga dapat melihat sebuah pondok. Ia segera merebahkan dirinya ke tanah bersama teman-teman yang lain.

Sebagai komandan, aku memberikan isyarat dan semua anggota pasukan meletakkan ransel ke tanah, sebagian mereka mendekati bukit dengan hati-hati sekali untuk memperhatikan dengan jelas tempat persembunyian tanpa dapat dilihat oleh lawan.

Aku membunyikan peluit tiga kali, pendek-pendek untuk memperingatkan anggota pasukan bergerak. Mereka pun maju dan melihat di atas pondok itu ada seorang yang sedang tertidur, seorang beruban yang mengenggam sebilah rencong di tangan kanannya, sedang di tangan kirinya sebuah kelewang. Ia telah dikejutkan oleh bunyi peluit, namun ia tidak melarikan diri. Ia bangun dan berpikir sejenak dan pada saat-saat itu ia dapat mengukur jangka kehidupannya. Pilihannya adalah gugur sebagai seorang syahid.

Dengan kepalanya yang beruban orang tua itu berdiri sementara matanya  terus memperhatikan sikap anggota kompeni yang bermunculan dari semak-semak. Ia tidak memperlihatkan sikap bimbangnya. Dan ketika marsose-marsose menembakkan butir-butir peluru kearahnya. Ia menunjukkan ketabahan yang luar biasa, seolah pelor-pelor yang ditembakkan kearahnya seolah dusta belaka. Adegan pertempuran itu segera berakhir, walaupun ia telah bertempur dengan gagah berani.

Demikianlah sang durjana gugur, demikianlah akhir riwayat sang durjana, seorang keramat yang memiliki kharisma yang luar biasa. Tamat pulalah satu babak buku peperangan yang sangat menarik.

Laporan tertulis Kapten (KNIL) Veltman kepada atasannya tentang operasi di dekat Meulaboh tahun 1925.

XXX

Aku telah terkepung oleh pasukan marsose, iya inilah akhirnya. Ketika belasan moncong senjata diarahkan kepadaku. Rasa takutku menyublim, aku telah mati berkali-kali sebelum hari ini. Demi orang-orang yang ingin aku lindungi, aku akan berusaha mati-matian, jika harus kehilangan nyawa itu sesuai harapanku.

Ketika butiran peluru menghambur ke arahku, aku merasa diriku telah lenyap, aku tak mengenali lagi diriku ketika timah panas menghantam tubuhku. Aku telah kembali kepada yang SATU.

XXX

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)

XXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  2. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  3. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  4. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  5. Selamanya; 14 Desember 2008;
  6. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  7. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  8. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  9. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  10. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  11. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  12. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  13. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  14. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  15. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  16. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  17. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  18. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  19. Ada Banyak Cinta; 15 Maret 2011;
  20. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  21. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  22. Ode Seekor Harimau; 19 Agustus 2012;
  23. Ashura; 13 Februari 2013;
  24. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  25. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  26. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  27. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  28. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  29. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  30. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  31. Perjalanan; 29 November 2013;
  32. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  33. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  34. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  35. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  36. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  37. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  38. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  39. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  40. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  41. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  42. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  43. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  44. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  45. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  46. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  47. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  48. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  49. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
  50. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to AKHIR RIWAYAT SANG DURJANA

  1. Pingback: HIKAYAT MEURAH SILU | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.