WAWANCARA DENGAN SANG IBLIS

Konon setan membenci akhirat, itu sebabnya mereka sangat gembira mencelakakan manusia disini.

WAWANCARA DENGAN SANG IBLIS

Alam raya ini, tempat kita hidup selayaknya gelanggang perjuangan yang tak putus-putus. Sekuat apapun aku berusaha, diriku sering mengalami kegagalan. Padahal aku hanya ingin sedikit saja kesenangan di dunia, sedikit kenikmatan ekonomi, dan bisa bersama orang yang kucintai. Tidak harus berlebih, hanya cukup. Huff, padahal aku tak meminta apa-apa yang berlebihan tapi mengapa semua seolah dijauhkan dari aku.

Alkisah aku sudah berusaha semampuku, bekerja siang dan malam namun apa dikata aku kurang berhasil melakukan apa yang seharusnya bisa aku lalukan, aku merasa lelah menggapai apa yang tidak bisa aku gapai. Bimbang, galau aku terpekur dalam diam.

Malam ini, hening tanpa angin, selepas Isya akhirnya aku menuruti petuah seorang teman, sungguh tersiksa aku menaiki lereng Gunung Mata Air, melewati Kampung Elang sudah satu jam lebih.  Entah apa yang aku pikirkan sehingga sejauh ini berjalan, kulitku gatal-gatal digigiti nyamuk, bangke pikirku. Aku mencoba mengusir rasa kantuk yang menyerang.

Dua belas jam sebelumnya.

“Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan rahasia kesuksesanku ini kepada orang lain, tapi karena aku lihat kau masih saja begini-begini saja, maka aku akan membaginya kepadamu, sebuah tips yang akan mengubah hidupmu sahabatku. Di Gunung Mata Air, jalan terus melewati Kampung Elang menuju puncak disana kau akan bertemu Sang Katalis.” Kawanku menggosok cincin bermata batu bacan. Ia tersenyum. “Dia adalah penasehat spiritual bagiku, boleh dikata. Aku yang sekarang ini adalah berkat bantuannya, berkat nasehat-nasehat mujarab darinya.”

Aku terdiam memandangi kawanku itu, lihatlah sekarang dia begitu sukses. Mengenakan setelah jas abu-abu dengan dasi berwarna khaki. Sepatunya import dari Swiss. Sungguh hebat dia bisa sesukses ini. Apa rahasianya? Padahal dulu sewaktu sekolah menengah kerap kali ia nyaris tinggal kelas karena tidak mampu menyerap pelajaran. Hari-hari itu sudah lama berlalu, sekarang dia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sedang lihatlah nasibku seorang bintang kelas malah menjadi penjaga pintu pasar. Takdir macam apa ini!

Dia tersenyum ketika melihat aku berpikir keras. Kepala Pasar mengetuk pintu, permisi untuk masuk. Temanku bilang, “Mohon tunggu sebentar pak, saya sedang berbincang sebentar dengan sahabat saya zaman sekolah.”

Kepala Pasar membungkuk takzim lalu kemudian menutup pintu. Hari ini kawanku memimpin delegasi parlemen ke pasar, bahkan Kepala Pasar yang biasa garang pun memble di depan Dewan yang terhormat.

“Terus terang aku kasihan padamu Ahmad, kau orang baik dan saleh. Dulu sewaktu kita sekolah kau sering menolong aku. Coba kau pikirkan nasehatku ini, pergilah ke Sang Katalis, niscaya kau akan merasakan perubahan nasibmu.”

Aku masih terdiam. Kemudian ia berkata, “baiklah aku sekarang akan memimpin rapat dengan para pejabat pengelola pasar. Kembalilah bekerja, nanti kalau kau perlu apa-apa jumpai aku saja ya, jangan segan-segan.” Ia tersenyum seraya mengedipkan mata.

Aku beranjak keluar, di luar ternyata para pejabat pengelola pasar sedang menunggu masuk. Orang-orang masuk, tapi Kepala Pasar menarik tanganku lalu mengajakku ke sudut, ia berbisik. “Mulai sekarang, aku sepertinya harus memanggilmu bang Ahmad. Ternyata Bang Ahmad ini berkawan dengan orang besar, oh ya tolong bilang sama kawan abang, dinas kita ini jangan dipersulit ya.” Belum pernah Kepala Pasar berbicara selembut ini denganku, hidungku kembang-kempis karena bangga. Tak lama kemudian aku mengangguk.

XXX

Kata-kata bijak lebih langka adanya dari batu zamrud, namun orang mendengarnya dari mulut hamba perempuan miskin pemutar batu giling, begitulah sebuah pepatah Mesir yang pernah aku baca, tidak ada salahnya mencoba nasehat kawanku itu. Dan disinilah aku berjalan menelusuri malam melaksanakan nasehat kawanku itu. Disaat kaki-kakiku mulai lelah, dan ingin menyerah, tiba-tiba sayup-sayup dari kejauhan aku melihat sebuah bangunan putih di dalam kabut. Mungkinkah ini kediaman Sang Katalis? Aku maju dengan bersemangat. Ternyata bangunan itu sangat besar, menyerupai sebuah puri abad pertengahan. Agak aneh, mengapa mendekati puncak gunung ada sebuah bangunan sebesar ini? Tapi tidak terlalu diketahui orang. Ada perasaan aneh menyelimuti batinku, tapi aku sudah sejauh ini, masa harus menyerah sekarang? Maka kutepiskan rasa gentar itu untuk terus melangkah mendekati kastil itu.

Bertemu Sang Iblis

“Silakan masuk Kisanak!” Sebuah seruan datang dari dalam, aku pun mendorong pintu kastil tersebut dan mendapati selasar megah dengan kolam-kolam air mancur. Aku menuju kearah cahaya temaram. Seorang tua dengan wajah bercahaya duduk seraya membaca buku diatas sofa seraya menyilangkan kaki, ia menutup buku, matanya bercahaya gembira.

“Kebetulan sekali, malam ini aku sedang disini, tak menyangka akan kedatangan tamu.” Ia berdiri menyalami aku, kemudian mempersilahkan duduk. “Siapakah Kisanak? Dan gerangan apa yang membuat Kisanak mendatangi aku disini?” Tanyanya antusias. Tapi aku hanya terdiam.

Kemudian ia mencoba mengingat-ingat, “Oh ya seorang sahabat saya. Latif baru-baru ini memberitahukan bahwa sahabatnya Ahmad akan datang kemari, kaukah itu Kisanak?”

Aku mengangguk.

“Dia mengatakan temannya, yaitu Ahmad yang mana adalah kamu memiliki banyak masalah terutama ekonomi sehingga membutuhkan nasehatku, benarkah begitu?” Ia menyelidik.

Aku mengangguk lagi. Ia tersenyum ramah. “Selama ribuan, eh maksudku puluhan tahun baru kali ini aku menemukan seseorang yang hanya mengangguk ketika ditanya. Ayolah ceritakan maksud hatimu datang kepadaku, niscaya aku akan membantu.” Ia menghirup nafas panjang, seolah ingin menciumi aroma tubuhku. Matanya sedikit kecewa, ada kebijaksanaan dalam tatapan yang teduh itu, tapi entah kenapa aku ketakutan.

Malu-malu aku menciumi ketiak kanan dan kiri tapi memang perjalanan yang panjang membuat aku berkeringat, berbau asem. Aku hendak berbicara, tapi lidahku menjadi kelu dan tak bisa berkata-kata. Aku pikir aku terlalu kelelahan sehingga kram.

Ia menawarkan aku secangkir air, baunya seperti madu muda. Setelah perjalanan panjang aku pikir tak baik meminum madu, lebih baik air putih. Aku menggeleng, dan sekilas wajahnya terlihat tidak senang. Ia pun kehilangan kata-kata sesaat.

“Bagaimana aku bisa memberimu nasehat Ahmad jika kamu tidak mengatakan apa-apa?” Apakah kamu bisu?”

Aku menggelengkan kepala. Ia terlihat sangat heran. Sesungguhnya aku lebih heran lagi kenapa aku tidak bisa berkata-kata. Hubungan antara otak dan lidah macet, tapi bukan sebenarnya aku memang tidak tahu harus berkata apa. Kepalaku dipenuhi rumus-rumus Kimia dan Fisika yang telah lama aku tinggalkan pelajarannya. Sedang hatiku merasa gentar amat sangat.

“Mungkin kamu perlu menghangatkan diri, atau sejenis minuman yang akan menstabilkan aliran darah?” Aku sangat senang jika ada minuman jahe hangat, tapi mana ada di tengah gunung seperti ini.

Ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah botol. “Tidak ada obat yang haram, maka minumlah anggur ini. Niscaya kamu akan lebih segar.” Katanya ramah, aku memandangi wajah bijaksana itu, lalu menggelengkan kepala.

Ia terlihat sangat kecewa, “maka tidak ada yang bisa kita bicarakan. Pulanglah dulu Ahmad, nanti ketika kau sudah mengatasi ketidakmampuanmu berbicara ini, datanglah kembali kemari.”

Aku mengangguk pelan, dan menyalaminya mohon izin. Rasa takut yang luar biasa membuatku melangkah bergegas meninggalkan kastil itu. Ketika aku diluar ku rasakan embun sudah mulai turun, aku menggigil. Disepanjang perjalanan karena dicengkram kalut, mencoba menenangkan diri, aku melafalkan dalam hati Al-Qur’an surat Al-Ikhlas, An-Nas dan Al-Alaq. Jalanan yang menurun membuat hatiku menjadi lapang.

Sang Katalis! Sedari tadi unsur-unsur kimia berkelebatan dikepalaku. Katalis adalah nama proses kimia. Katalis, suatu reaksi kimia yang keberhasilannya tergantung pada suatu jenis zat tertentu, di mana zat itu tidak mengalami perubahan. Zat yang tidak mengalami perubahan itu disebut Katalisator.

Sepanjang sejarah umat manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab suci. Makhluk yang senantiasa mempengaruhi manusia tanpa merubah sifat, karakter dan wujudnya sendiri hanya ada satu. Ia adalah Sang Iblis, yang tak pernah berbuat apa-apa, ia hanya membisikkan godaan kepada dalam hati para manusia. Aku adalah manusia yang lemah, kakiku semakin gemetaran ketakutan. Ia yang begitu berkuasa, nyaris mencengkram aku dalam wajahnya yang penuh kebijaksanaan. Semakin aku pikirkan semakin aku takut, bahwa baru saja aku berjumpa dengan Sang Iblis sendiri.

Udara semakin dingin, akupun semakin mencekam. Didorong naluri ketakutan akupun berlari menuruni Gunung Mata Air, tak peduli ilalang, ranting yang menusuk aku sekuat tenaga berlari. Ya Allah lindungilah hamba.

Seketika aku mendengar suara azan menggema. Shubuh sudah datang, dan aku sudah dekat ternyata dengan Kampung Elang. Terbirit-birit aku berlari mencari perkampungan terdekat, suara azan ini menuntun aku dalam kegelapan.

Ketika jalanan telah datar, aku berhenti dan menarik nafas sejenak. Tiba-tiba punggungku ditepuk seseorang dan aku hampir kena serangan jantung akibat ketakutanku. Aku menoleh dengan suasana horor. Dibelakangku ada seorang kakek, mengenakan kupiah dan kain sarung tersenyum, dalam cahaya bulan terlihat gigi seri bagian atas sudah tanggal ketika ia tersenyum.

“Nak, ayuk kita shalat Shubuh di langgar,” ajaknya. Aku mengangguk kencang sekali. Kami berjalan kearah langgar kampung, tanganku dituntun oleh kakek itu. Perasaanku bagai bertemu dengan malaikat penyelamat, bahkan dapat diumpamakan bertemu malaikat Jibril yang menarikku dari kegelapan.  Shubuh itu adalah shubuh berjamaah paling khuyu’ yang pernah aku lakukan. Setelah Shalat selesai kakek tersebut naik ke mimbar.

“Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon kekekalan (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Surga menyediakan apapun, buah-buahan melimpah dan semuanya boleh dimakan tanpa kekenyangan, dan keinginan buang hajat. Namun ada sebuah pantangan, Allah S.W.T memberi pengecualian kepada Adam dan Hawa untuk mendekati sebuah pohon, apalagi memakannya.

Adam sebagai manusia dilengkapi akal dan nafsu. Iblis mengetahui hal tersebut, maka dia mempengaruhi Adam melalui hawa nafsunya. Hawa nafsu tersebut dipengaruhi terus-menerus oleh Iblis agar Adam keluar dari fitrahnya, yaitu melanggar batas.  Akhirnya tergelincirlah Adam beserta istrinya Hawa memakan buah kekekalan (khuldi) yang terlarang itu, dan mereka menjadi manusia pertama “melanggar perintah Allah.”

Adam menyesali perbuatannya dan mengakui kesalahan yang dilakukan, disitulah perbedaan Adam dengan Iblis. Iblis tidak menurut perintah Allah, dengan sadar dan tahu serta tidak mengakui perbuatannya. Karena itu dia tidak meminta ampun dan taubat, sedang Adam bersedia kembali berbakti dan taat kepada Allah S.W.T.

Setelah itu Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi dan kemudian berketurunan, maka Allah memberikan hidayah atau petunjuk jalan yang benar, supaya manusia dalam ketentraman dan aman.

Seluruh manusia yang hidup di muka bumi hari ini meski bukanlah cetakan murni dari Nabi Adam a.s tapi tetap merupakan keturunannya, tak pelak kita juga menghadapi godaan pohon khuldi juga. Jikalah sebelumnya khuldi itu adalah kekekalan, maka kita manusia akan menghadapi cobaan yang berbagai macam jenisnya.

Godaan Iblis kepada manusia berbagai macam bentuknya, pada dasarnya manusia mengejar pohon kekekalan (khuldi) tersebut dengan bentuk yang berbeda pada tiap individu. Ada yang dianjurkan kikir dan ada yang dianjurkan boros. Ada yang dirayu untuk mengutamakan dunia, tapi ada juga yang dibujuk untuk mengutamakan akhirat saja. Ada yang bisikkan agar riya. Ada yang diuji dengan belum memiliki anak, jodoh, harta serta ada juga yang diuji dengan memiliki anak, harta dan rezeki lain. Paling berbahaya adalah orang-orang yang tidak sadar jika dia sedang diuji oleh bujuk rayu Iblis.

Jika rezeki bisa menjadi cobaan, maka apa rezeki yang paling berharga di dunia ini. Rezeki yang peling berharga bagi manusia adalah pemahaman agama yang benar, jika manusia memahami hal ini maka ia niscaya tidak keluar dari fitrahnya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w

Matahari sudah muncul malu-malu, aku berpamitan dengan jama’ah Shubuh di langgar Kampung Elang, terutama kakek itu sebelum berpisah aku memeluknya dengan kencang, ia terlihat heran sebentar, tapi kemudian ia tersenyum lagi kepadaku.

XXX

Di dunia yang sedih dan tak sempurna, tak semua orang bisa menjadi pemenang. Sebagian akan menderita kekalahan. Tapi mengapa manusia harus memburu-buru kejayaan itu, dan memperebutkannya dengan habis-habisan? Mungkin karena manusia menjadi semakin jelek dan berdosa, jika ia tak mampu mengatasi kecenderungan keji dirinya sendiri.

Seorang yang tafakur yang selalu zikir tahu bersyukur melihat dirinya sendiri. Tapi ia juga seseorang yang harus tahu kerendahan hati bisa pergi. Setiap kita harus memahami hidup adalah teka-teki, dengan jawaban yang berubah-ubah.

Maka pagi itu aku pulang dengan perasaan lapang, Hatiku terasa terang meskipun dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan ini, aku akan berusaha untuk tidak merasa kekurangan lagi. Yang aku inginkan adalah menjalani hidup sesuai dengan fitrahku, tanpa cemburu, iri dan dengki ataupun keserakahan.

Apakah bisa? Semoga Allah S.W.T membimbing aku dan keluargaku, serta kita semua dengan kasih sayang-Nya berupa Taufik dan Hidayah. Amin Ya Rabbal Alamin. Hidup tidak hanya tentang nilai yang bagus, meskipun aku sebenarnya tidak begitu buruk, syukur pada Allah S.W.T.

XXX

Konon setan membenci akhirat, itu sebabnya mereka sangat gembira mencelakakan manusia disini, didunia yang fana ini.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  47. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  48. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to WAWANCARA DENGAN SANG IBLIS

  1. Pingback: SEBENTUK HARTA | Tengkuputeh

  2. Pingback: ELEGI PAGI HARI, SEBUAH CERPEN | Tengkuputeh

  3. Pingback: KEINDAHAN SANG REMBULAN | Tengkuputeh

  4. Pingback: KETIDAKAGUNGAN CINTA | Tengkuputeh

  5. Pingback: TEMPAT TIADA KEMBALI | Tengkuputeh

  6. Pingback: PADA PANDANGAN PERTAMA | Tengkuputeh

  7. Pingback: AKU TAK MENGERTI KAMU | Tengkuputeh

  8. Pingback: INTERVIEW WITH THE DEVIL | Tengkuputeh

  9. Pingback: MENGENANG SEBUAH PERJALANAN CINTA | Tengkuputeh

  10. Pingback: YANG TAK AKAN KEMBALI | Tengkuputeh

  11. Pingback: LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH | Tengkuputeh

  12. Pingback: SANTIAGO SANG PELAUT | Tengkuputeh

  13. Pingback: KISAH SEBELUM SANG PANGERAN SELESAI | Tengkuputeh

  14. Pingback: GENDERANG PULANG SANG RAJAWALI | Tengkuputeh

  15. Pingback: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

  16. Pingback: PERMUFAKATAN PARA BURUNG - TengkuputehTengkuputeh

  17. Pingback: INTERVIEW WITH THE DEVIL - TengkuputehTengkuputeh

Leave a Reply