TEMPAT TIADA KEMBALI

Her face was as calm as the lake of unexpected depth for anyone.

TEMPAT TIADA KEMBALI

Wajah itu memandangiku tersenyum, muka itu masih basah belum sepenuhnya bersih dari butiran air sehabis mandi tadi. Selendang yang ia kenakan masih belum rapi, sepertinya ia terburu-buru mempersiapkan diri sekarang. Padahal sudah empat puluh menit yang lalu aku menelpon dan berjanji akan datang ke rumah orang tuanya. Dasar perempuan! Selalu ingin tampil perfeksionis dan mengenakan topeng. Tak bisakah kau tampil apa adanya, rutukku dalam hati.

Inikah perempuan yang bertahun lalu mencuri hatiku. Memang senyumnya masih sama, tapi garis waktu telah menenggelamkan kemudaan darinya. Wajahnya sudah tertarik seperti lapangan bola, tubuh itu seolah tak kuasa menopang gumpalan lemak yang menggunung, kucuri pandang menembus selendang dan baju gamisnya dan maaf payudaranya telah jauh melebar. Dalam hati aku berkata, mampuslah kau! Hari ini aku menertawakan keangkuhanmu dulu. Waktu masih bersamaku namun tidak untukmu perempuan. Dendam sekaligus rindu menyelimutiku.

“Silahkan duduk bang, mau minum apa?” Tawarnya kepadaku dan sahabatku. Keadaan kalut tidak membuat ia menghilangkan keramahan merupakan sisa kebangsawanan kuno yang masih melekat didirinya. Sekuat mungkin aku membantah tapi hanya dalam hati akan pesonanya, ia perempuan yang mengaku tak pernah memahami apalagi mengerti keinginanku. Aku benci dia! Aku datang kemari hanya untuk meminta maaf bukan memaafkan, tak akan pernah! Dia tak harus tahu bagaimana kelicikan seorang lelaki.

Kami berbicara santai, seolah semuanya telah berlalu. Sejujurnya ia lebih banyak berbicara dengan sahabatku sedang aku masih tenggelam dalam lamunan, sesekali ikut berbicara namun selebihnya kuhabiskan waktu singkat ini dengan memandangi wajahnya. Aku yang berusaha menata hati ternyata kerap menunduk jika ia melihatku. Bagaimana ini? Mengapa aku masih lemah dihadapannya seolah seorang bocah yang takluk oleh guru. Karena kesal kutertawakan ia sewaktu salah bicara, wajahnya malu tapi kepuasan amat sangat menjalari tubuhku. Seorang lelaki dilahirkan sebagai penakluk hiburku bukan pencundang apalagi pesakitan.

Dialah yang harus bertanggungjawab atas hidupku yang penuh kontradiksi. Menjalani kesedihan walau selalu sukses dalam keduniawian. Mengapa aku harus harus mempunyai perasaan yang sebegitu kuat dan mendalam pada seorang yang telah menjadi nenek-nenek sebelum waktunya padahal seluruh dunia mengenalku sebagai laki-laki yang berkemauan keras, individulis dan selalu tampak dingin.

Lagi-lagi ia tersenyum padaku, hampir saja gletser dihatiku meleleh. Tolonglah jangan tersenyum lagi rintihku. Ini dia kelemahanku, senyumnya yang telah sekuat tenaga kuhapuskan dari seluruh memori diotakku. Sekali lagi waktu bersamaku, sejam sudah berlalu waktu. Walau sebagian kecil, oh tidak! Tapi bagian yang amat sangat kecil hatiku tak ingin beranjak pergi dari rumah orang tuanya yang selalu angker dimataku ini. Aku harus pergi, sehancur apapun hati seorang lelaki sangatlah tidak pantas ia menampakkannya apalagi didepan seorang perempuan yang dibenci walau sekaligus dicintainya.

Aku pergi tanpa kata rujuk, bersama sahabatku. Ketika ia mengantarkan ke gerbang, dalam sejam ini untuk pertama kali aku jujur dengan berkata bahwa kehadiranku hari ini hanya untuk melihat ia tersenyum. Ketika pipinya bersemu dadu, secepat itu aku sadar harus segera pergi. Mengambang, dan aku tak tahu perasaannya namun hatiku sakit teramat sangat ketika harus meninggalkannya saat itu tanpa kepastian akan masa depan. Aku harus kuat dan berjanji ini adalah kali terakhir aku menemuinya, cukuplah ini tak akan pernah lagi walau nanti ia meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Pergi bagai angin dan menghilang dari muka bumi khusus untuknya, itulah tugasku yang terakhir untuknya sebagai seorang laki-laki yang pernah ditaklukkan olehnya. Dia yang pertama dan terakhir, selanjutnya tak akan pernah ada.

Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  7. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  8. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  9. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  10. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  11. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  12. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  13. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  14. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  15. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  16. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  17. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  18. Ashura; 13 Februari 2013;
  19. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  20. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  21. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  22. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  23. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  24. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  25. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  26. Perjalanan; 29 November 2013;
  27. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  28. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  29. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  30. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  31. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  32. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  33. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  34. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  35. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  36. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017
  37. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to TEMPAT TIADA KEMBALI

  1. begitulah dinamika sebuah kehidupan, mas tengku, ada yang datang dan ada juga yang pergi. kehidupan masa kini juga akan dipengaruhi oleh kehidupan masa lalu. masa lalu dan masa kini akan menentukan jejak kehidupan pada masa yang akan datang. selebihnya, tugas kita untuk me-manage-nya agar segenap pengalaman hidup memberikan “tuah” kebijakan dan kearifan. *lagi2 saya kok jadi sok tahu, nih, haks*

  2. tengkuputeh says:

    Hehehe. Masa lalu adalah masa lalu, kadang menjadi bijak kadang tidak…

  3. Pingback: SEBENTUK HARTA | Tengkuputeh

  4. Pingback: ELEGI PAGI HARI, SEBUAH CERPEN | Tengkuputeh

  5. Pingback: KEINDAHAN SANG REMBULAN | Tengkuputeh

  6. Pingback: KETIDAKAGUNGAN CINTA | Tengkuputeh

  7. Pingback: SEPUCUK SURAT UNTUK LISA | Tengkuputeh

  8. Pingback: RENUNGAN MAJNUN SEORANG PENARIK CUKAI | Tengkuputeh

  9. Pingback: SELAMAT TINGGAL ANDALUSIA | Tengkuputeh

  10. Pingback: NARSIS YANG BERBEDA | Tengkuputeh

  11. Pingback: ISTANA KOSONG | Tengkuputeh

  12. Pingback: SENJA DI MALAKA | Tengkuputeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s