SYAIR PERAHU OLEH HAMZAH FANSURI

Wahai muda kenali dirimu, ialah perahu tamsil tubuhmu, tiadalah berapa lama hidupmu, ke akhirat jua kekal diammu.

Syair Perahu

Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.

Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba’id.

Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.

Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.

La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.

Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.

Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.

Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.

Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu ‘azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.

Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na’am, siang dan malam.

Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.

Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.

Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.

Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
“yakin akan Allah” nama pawangnya.

“Taharat dan istinja’” nama lantainya,
“kufur dan masiat” air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.

Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
“Allahu Akbar” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.

“Wallahu a’lam” nama rantaunya,
“iradat Allah” nama bandarnya,
“kudrat Allah” nama labuhannya,
“surga jannat an naim nama negerinya.

Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam’ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.

Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.

Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.

Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,
(baris ini tidak terbaca)

Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.

Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?

La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.

La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma’rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.

La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da’im dan ka’im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.

La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.

La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.

La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma’rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.

La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.

La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah.

~ Hamzah Fansuri

Advertisements
Posted in Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

JANGAN MENCINTAI LAUTAN

 Laut adalah unsur yang sama sekali tanpa kesetiaan. Jangan percaya padanya atau ia akan menghabisimu dengan merendammu.

Laut adalah unsur yang sama sekali tanpa kesetiaan. Jangan percaya padanya atau ia akan menghabisimu dengan merendammu.

Jangan mencintai lautan, banyak telah tertelan binasa di tubirnya yang dalam. Laut adalah unsur yang sama sekali tanpa kesetiaan. Jangan percaya padanya atau ia akan menghabisimu dengan merendammu. Laut itu gelisah karena cinta.

Oh, bagi yang mencintai lautan, tidakkah kau tahu bahwa laut penuh dengan makhluk berbahaya? Kadang airnya pahit, kadang asin, kadang air laut itu tenang, kadang bergelora, senantiasa berubah, kadang pasang, kadang surut tak pernah tetap.

Kadang ia menggulungkan gelombang-gelombang besar, kadang ia berderau. Ia tak mendapatkan apa yang diinginkannya, bagaimana kau akan menemukan di sana tempat istirahat bagi hatimu? Lautan ialah anak sungai yang pasang di jalan menuju kekasihnya, kalau demikian, mengapa pula kau akan puas tinggal di sini, dan tak berusaha melihat wajah-NYA.

Belasan tahun yang lalu, merenungkan makna segala sesuatu, aku pergi ke lautan dan bertanya mengapa lautan memakai pakaian biru, karena warna itu adalah warna kesedihan, dan mengapa laut mendidih tanpa api?

Seolah ia berkata, aku risau karena terpisah dari kekasih. Karena kekuranganku, aku tak layak baginya, maka aku kenakan pakaian biru ini sebagai tanda sesal yang kurasakan. Dalam kesedihanku, bibir pantai-pantaiku menjadi kering, dan disebabkan cintaku, aku berada dalam galau ini.

Akh, kalau dapat kuperoleh setitik saja air telaga al-kausar, maka dapat kurengguk gerbang kehidupan kekal. Tanpa setetes aku akan mati karena gairah-damba bersama yang lain, binasa dalam perjalanan.

Banda Aceh, 3 April 2019.

KATALOG PUISI

  1. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  2. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  3. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  4. Kalah Perang; 5 November 2008;
  5. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  6. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  7. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  8. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  9. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  10. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  11. Surga; 17 Juni 2013;
  12. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  13. Renungan Malam; 19 November 2017;
  14. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  15. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
Posted in Kisah-Kisah, Literature, Poetry, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR

Memahami hadih maja membuat mengerti pola pikir orang Aceh. Menjadi tahu mengapa orang-orang Aceh dalam keadaan tersulit mampu menertawakan apa yang terjadi, dengan kebijaksanaan kuno yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Defenisi dan asal-usul Hadih Maja

Hadih maja adalah nasehat yang menampilkan sejarah masa lampau Aceh, memadukan pengajaran serta hiburan. Dari sisi sejarah juga dapat dimasukkan dalam kategori hadih maja yakni cerita atau tradisi para nenek. Menurut Snouck Hurgronje dalam buku Aceh di Mata Kolonialis jilid II pada bagian kesusastraan menyebutkan bahwa hadih maja dipertahankan oleh orang tua-tua, khususnya kaum perempuan sebagai penuturnya kepada anak-anak mereka sebagai sarana pendidikan.

Hadih maja dapat didefinisikan sebagai perkataan atau peribahasa dalam kehidupan masyarakat Aceh yang mengandung unsur filosofis yang dipergunakan sebagai nasehat, peringatan, penjelasan, perumpamaan, bahkan sindiran halus yang diguanakan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat di Aceh.

Di masa lalu, barang siapa yang menguasai dan atau memiliki banyak perbendaharaan hadih maja akan menjadi tokoh yang populer dalam pergaulan, sebagaimana masyarakat belahan dunia lain juga mengakui jika ada dalam satu kumpulan menguasai banyak kosa kata maka orang tersebut akan lebih dihormati dan didengar.

Dewasa ini, penggunaan bahasa daerah telah mulai surut, ini adalah fenomena yang berlaku umum sebenarnya di seluruh Indonesia di mana tercatat pada abad 21 ini ada 11 bahasa daerah yang punah. Hal ini juga menyebabkan penggunaan hadih maja sudah semakin jarang digunakan di Aceh.

Maka berikut penulis merangkum hadih maja (beserta terjemahan dalam bahasa Indonesia) sebagai pengingat agar kita tak sepenuhnya lupa akan kebijaksanan para leluhur di Aceh.

Hadih Maja beserta terjemahannya

  1. Adat bak Po Teumeruhom, qanun bak Putro Phang, hukom bak Syiah Kuala, Reusam bak Laksamana; (Adat pada sultan, Undang-undang pada parlemen, hukum pada orang berilmu, Kekuatan pada militer);
  2. Aneuk donya jinoe, tuha jih ngon geutanyoe; (Seperti anak dunia saat ini, tua dia kembali pada kita);
  3. Alee tob beulacan, barangkapeu ta kheun malee tan, nyang malee urueng jak sajan; (Seperti penumbuk padi digunakan untuk terasi, apapun yang dikatakan padanya dia tidak malu, yang malu adalah kawan-kawan bersamanya);
  4. Aneuk sithon tangkeh, ta pugah meunoe ji kheun meudeh; (Seperti anak berusia setahun, kita bilang begini dia bilang begitu);
  5. Asai cabok nibak kude, asai pake nibak seunda; (Borok berasal dari kudis, pertengkaran berasal dari senda gurau);
  6. Asee blang nyang pajoh jagong, asee gampong nyang keunong geulawa; (Anjing ladang yang makan jagung, anjing kampung yang dilempari)
  7. Ata han jeut ta meunari, ta peugah tika hana get; (Ketika dia tidak bisa menari, tikar yang disalahkan);
  8. Awai buet dudoe pike, teulah oh akhe keupeu lom guna; (Jika duluan berbuat dibanding berpikir, sesal kemudian tiada guna)
  9. Awai ji duek deungon ji tinggong, awai ji yue deungon ji duek; (Duluan duduk baru jongkok, duluan disuruh daripada duduk);
  10. Awai geulurong dudoe geu larang, pane ek leukang gaseh ka meusra; (Awalnya dikurung kemudian dilarang, tapi tak mungkin hilang cinta yang telah mesra);
  11. Awuek sabee lam meusanthok deungon beulangong; (Seperti centong yang akan berantuk dengan kuali);
  12. Bak gob mupakee bek gata pawang, bak gob muprang bek gata panglima; (Ketika orang bertikai kamu pemandu, ketika orang berperang kamu panglima);
  13. Bak ie laot peu taboh sira; (Untuk apa menggarami lautan)
  14. Bak nyang gatai, sinan tagaro. Bek gatai bak jaroe, tagaro bak aki; (Dimana yang gatal disitu digaruk. Jangan gatal tangan yang digaruk kaki);
  15. Bak si buta ta yue beut kitab, bak si bangsat ta yue meu doa; (Kenapa kepada si buta disuruh baca buku, kenapa kepada bajingan disuruh pimpin doa);
  16. Bak ta tunyok bek meu iseuk, bak ta peuduek beu meulabang; (Apa yang ditetapkan jangan bergeser, dimana diletakkan disitu dipaku);
  17. Bak ta mumat ka patah, bak ta meugantong ka putoh; (Ketika dipegang patah, ketika digantungkan putus);
  18. Bak kareng pane na gapah; (Pada teri tidak ada lemak);
  19. Baranggadum raya ie krueng, nyang ge bileung ie kuala; (Sebagaimanapun banyak air sungai tetap dianggap air kuala);
  20. Baranggadum buet rakyat, nyang ge bileung buet raja; (Sehebat apapun pekerjaan rakyat akan dianggap keberhasilan raja);
  21. Bek lagee boh trueng laum jeue, ho nyang singet keunan meuron; (Seperti buah terong dalam keranjang, kemana miring kesitu menumpuk);
  22. Bek leupah haba, bah leupah buet; (Jangan banyak bicara, yang perlu banyak kerja);
  23. Bek taharap ke teuga gob; (Jangan berharap pada orang lain);
  24. Bek ta peurunoe bue meu ayon, bek ta peurunoe rimueng pajoh sie; (Tak perlu mengajarkan monyet berayun, tak perlu ajari harimau makan daging);
  25. Bit pih phui bak ta kalon, geuthon bak ta tidjik; (Betapa ringan dilihat, tapi bertahun dikerjakan);
  26. Bit pih takalon misee me kuwet, umu lon goh trep, aneuk goh lom na; (Ketika dilihat kumis sudah berlipat, tapi ternyata usia masih muda, anakpun belum ada);
  27. Boh ru pirak geu sawak bak luengke leumo, sinoe geujak, sideh pih geujak, oh meureumpok sabee pungo; (Buah perak disangkut pada tanduk lembu, kesini pergi, kesana pun pergi, ketika bertemu selalu gila);
  28. Boh seureuba rasa, peunajoh urueng duson, yoh goh, ta lakee rasa, oh ka, ta lakee ampon; (Buah aneka rasa, makanan orang dusun, sebelum ada, minta rasa, ketika sudah rasa minta ampun);
  29. Bubee lam ie, ie lam bubee, hana ta thee, cuco ka na; (Bubu dalam air, air dalam bubu, waktu tak terasa sudah punya cucu);
  30. Bubee dua jab, keudeh to, keunan rap; (Bubu dua mata, kesana dekat, kesini rapat);
  31. Buet walanca-walance, awai pu buet dudoe pike; (Bekerja walanca-walanci, lebih dulu perbuat baru berpikir);
  32. Buet ka keumah, keureuja ka jadeh; (Kerjaan sudah selesai, kerjaan sudah jadi);
  33. Buya krueng teu dong-dong, buya tamong meuraseuki; (Buaya setempat gigit jari, buaya datang ada reseki);
  34. Buet ka dilee jinoe baroe keumah; (Perbuatan lama sekarang hancur);
  35. Campli han lee keueng, sira han lee masen; (Cabe tak lagi pedas, garam tak lagi asin);
  36. Digob geu criek ija di keude, digeutanyoe ta criek ija di keuieng; (Orang lain mengunting kain di pasar, kita kain sarung di pinggang sobek);
  37. Digob nyang na karam di laot, digeutanyoe karam di darat; (Orang lain kalau pun sial karam di laut, kita karam di darat);
  38. Djada wa djadi, meunan ta pinta meunan jadi; (Begitu niat langsung jadi, apa yang diinginkan terjadi segera);
  39. Duek di gampong wet-wet pureh, dilikot inong maguen; (Suami santai-santai, istri memasak);
  40. Engkot di laot, asam di darat, meusapat lam beulangong; (Ikan di laut, asam di darat, bertemu dalam belanga);
  41. Gaseh, menyoe hana peu ta bri, hana leumah; (CInta itu ketika tidak memberikan apa-apa kepadanya, tidak terlihat);
  42. Get su nibak buet; (Bagus bicara, buat tidak);
  43. Geumade urueng kaya; (Seolah-olah orang kaya);
  44. Geutanyoe grob, patah pha-pha, laba tan dipade; (Kita berusaha sampai melompat, patah kaki, tiada laba barang sepadi);
  45. Geutanyoe meung ka tuha, sakri han keumah le; (Ketika kita tua, semuanya susah);
  46. Geutanyoe nyoe syedara, toe bek, jarak pih bek; (Kita ini dengan saudara jangan terlalu dekat dan jangan terlalu jauh);
  47. Geutak sapat, dua pat lhut; (Satu tebasan, dua tempat copot);
  48. Gob kab campli geutanyoe nyang keu-eung, gob meuanek geutanyoe madeung; (Orang makan cabe kita yang kepedasan, orang yang melahirkan kita yang diasapi).
  49. Gob seumeusie, geutanyoe tak tulueng; (Orang lain makan daging, kita potong tulang);
  50. Gob pajoh boh panah, tanyoe nyang meuligan geutah; (Orang lain makan nangka, kita kena getahnya);
  51. Goh lom woe pangkai, ka takira laba; (Belum balik modal, sudah menghitung keuntungan);
  52. Hana buet mita buet, badan payah, keumiroe teuseuet; (Mencari masalah, badan sakit, anak pelir mengkisut);
  53. Hana brat urueng nyang me, brat urueng kalon; (Yang mengalami biasa saja, orang lain melihat berat sekali);
  54. Hana meugruk-gruk, beuna meugrek-grek; (Tidak ada uang bergulung, setidaknya recehan ada);
  55. Hana meukab, beuna meukib, hana nyang le, beuna nyang dit; (Tiada yang digigit (banyak), harus ada yang digigit (sedikit), tiada yang banyak, harus ada sedikit);
  56. Hana nyang mee ie meu sidroe, bandum meu apui; (Tidak ada yang membawa air, semua berapi-api);
  57. Hana saket geutob ngon rincong, leubeh saket geungieng ngon iku mata; (Tidak sakit ditikam rencong, lebih sakit diremehkan);
  58. Hana ta tuoh maguen, sikai han seb, sicupak han abeh; (Tidak tahu cara masak, satu takaran tak cukup, satu cupak tak habis);
  59. Hana ubat; (Tidak ada obat);
  60. Harap keu pageu, pageu pajoh padee. Harap keu jantong, jantong jithok hate; (berharap pagar, pagar makan padi. Harap ke jantung, jantung cotok hati);
  61. Hina bak donya hareuta tan, hina bak tuhan eleemee hana; (Terhina di dunia tiada harta, terhina di mata Tuhan tidak ada ilmu);
  62. Ho taba geulinyueng gob boh; (Kemana bercerita orang tak mau mendengar);
  63. Hu muka; (Muka menyala);
  64. Ija pinggang ija ingot, uroe tapinggang malam ta limbot; (Kain di pinggang, kain dipikul, malam dipakai di pinggang malam menjadi selimbut);
  65. Ikat leumo lam lampoh gob; (mengikat lembu di kebun orang);
  66. Intan saban-saban, hareuga meulaen-laen; (Intan mirip-mirip, harganya beda-beda);
  67. Jak teu bungkok-bungkok, bak deuk teu leumiek-leumiek; (Ketika berjalan dibungkuk-bungkukkan, ketika duduk dilemas-lemaskan);
  68. Jampok pujoe droe; (Burung hantu memuja diri sendiri);
  69. Jarak ta jak le peu ta eu, trep udep le peu ta rasa; (Jauh perjalanan banyak yang dilihat, panjang usia banyak yang telah dirasakan);
  70. Jaroe unuen tak, jaroe wie tarek; (Tangan kanan menebas, tangan kiri menarik);
  71. Ji rhom geutanyoe deungon ek leumo, ta rhom jih ngon ek guda; (Jika dia melempar kita dengan tahi kuda, kita balas lempas dengan tahi kuda);
  72. Ka gadoh lam mata bek gadoh lam hate; (Sudah tak terlihat oleh mata, jangan sampai hilang dihati);
  73. Kayem tajak geu tiek situek, jareung ta jak taduek geu bri tika; (Sering bertamu dilempar pelepah kelapa, jarang bertamu dilentangkan tikar);
  74. Kareng tho bileh leubot, peunyaket sot meu ulang teuma; (Teri kering ikan bilis berisi, penyakit serupa datang lagi);
  75. Ka roh ta meukat sira lam ujuen; (Terlanjur menjual garam dalam hujan);
  76. Kapai di hoe le jaloe; (Kapal ditarik sampan);
  77. Keupeu guna ie padee ka layee, yoh ku tem kee han tatem gata; (Untuk apa air jika padi sudah layu, sewaktu saya suruh dulu tak mau kamu);
  78. Keureuleng nggang cit ke abeuk, keureuleng kuek cit keu paya. Meung hana lintah ngon cangguk, pu buet kuek dalam paya; (Kerlingan bangau kelabu mencari anak kodok, kerlingan bangau putih mencari ikan air tawar. Jika bukan lintah dengan kodok, untuk apa bersemayam dalam rawa-rawa);
  79. Kullu nafsin geubeut di ulee, nyan baro ta thee ta tinggai donya; (Kullu nafsin dirapalkan dalam kepala, baru kita sadari hidup di dunia);
  80. Ku ‘o-‘o ku deungo han, ji anggok kuanggok, ku putrok han; (Ku iyakan tapi tak ku dengar, disuruh mengangguk ku angguk, ku sampaikan tidak);
  81. Laba beuna, pangkai beu that bek; (Laba harus ada, modal tak mau keluar);
  82. Laba laboh, meukri jiba meukri taboh; (Mencari laba, bagaimana dibawa segitu diletakkan);
  83. Lagak lagee udeung teb, sileweu puntong kupiah pheb; (Elok seperti udang punting, celena pendek kupiah hancur);
  84. Lagee aneuk dara meutumee subang; (Seperti anak gadis mendapat kerabu);
  85. Lagee aneuk buya teungoh cabak; (Seperti anak buaya sedang lasak-lasaknya);
  86. Lagee asee pungo; (Seperti anjing gila);
  87. Lagee asee lob pageu; (Seperti anjing masuk pagar bawah);
  88. Lagee awuek ngon beulangong; (Seperti centong dan belanga);
  89. Lagee bak jok lam uteun, maseng-maseng peuglah pucok droe; (Seperti pohon enau di hutan, masing-masing memikirkan pucuk sendiri);
  90. Lagee bieng pho; (Seperti kepiting terbang);
  91. Lagee boh mamplam di wie, sikin di unuen; (Seperti buah mangga di tangan kiri, pisau di tangan kanan);
  92. Lagee jalo ikat bak jalo; (Seperti menambatkan sampan pada sampan);
  93. Lagee ji reuboh ngon ie leupie; (Seperti terebus dengan air dingin);
  94. Lagee engkot tho paya; (Seperti ikan di paya kering);
  95. Lagee kajak meunan kawoe; (Seperti pergi begitu pula kau pulang);
  96. Lagee kameng jak ateuh bate; (Seperti kambing berjalan di atas batu);
  97. Lagee kameng kab situek; (seperti kambing mengigit pelepah kelapa);
  98. Lagee kameng jip pe ayeum ngon kulet pisang; (Seperti kambing dilalaikan/ditipu dengan kulit pisang);
  99. Lagee kameng eh lam broh; (Seperti kambing tidur dalam sampah);
  100. Lagee manok keumarom; (Seperti ayam menetas);
  101. Lagee mie su bee eek; (Seperti kucing suara bau tahi);
  102. Lagee mirahpati seuiet; (Seperti merpati lemas);
  103. Lagee rimueng ek bak kayee, jeut di ek han jeut ji tron; (Seperti harimau manjat pohon, bisa naik tak bisa turun);
  104. Lagee si buta ka teu bleut; (Seperti si buta sudah bisa melihat);
  105. Lagee ta ngieng boh mamplam masak; (Seperti kita lihat buah mangga masak);
  106. Lagee ta peurakan rimueng ngon kameng; (Seperti kita pertemankan harimau dengan kambing);
  107. Lagee ta peutupat kayee ceukok; (Seperti kita luruskan batang pohong yang bengkok);
  108. Lagee ta cok leumo rhet lam mon, oh lheuh ta peu teungoh, ji peu eek geutanyoe; (Seperti kita selamatkan lembu yang jatuh ke sumur, ketika sudah selamat diberakinya kita);
  109. Lagee tikoh lheuh lam eumpang breuh; (Seperti tikus lepas dalam karung beras);
  110. Lagee urueng matee peurumoh; (Seperti orang ditinggal mati istri);
  111. Lagee urueng peh tem; (Seperti orang memukul tong kosong);
  112. Lagee utoh meunasah, gob peubuet gobnyan peugah; (Seperti tukang di surau, orang yang berbuat dia yang mengakui);
  113. Lam ta khem-khem ji ceukak; (Sedang ketawa-ketawa dicekik);
  114. Langkah, raseuki, peu tumon, maot, hana kuasa geutanyoe hamba; (langkah, rezeki, pertemuan, maut, sebagai hamba kita tak berkuasa);
  115. Leumo ka ek ta bloe, taloe han ek ta peuna; (Membeli lembu mampu, tali tak bisa);
  116. Lheuh bak buya, meu kumat bak rimueng; (Lepas dari buaya, tersangkut harimau)
  117. Mameh bek bagah ta ueut, phet bek bagah ta ulak; (Manis jangan cepat ditelan, pahit jangan cepat dimuntahkan);
  118. Mangat asoe; (Enak badan);
  119. Mata uroe sigo saho, ija baro sigo sapo; (Matahari kesana kemari, kain baru seorang satu);
  120. Meukrob-krob lagee seungko lam eumpueng; (Menggelepar seperti gabus dalam kandang);
  121. Meulisan cae, ho cihet inan ilee; (Manisan cair, kemana miring kesitu mengalir);
  122. Meunaseu meh-moh meukawen dua; (Kalau mau susah, kawinlah dua);
  123. Menyoe hana angen, pane mumet on kayee; (Jika tak ada angin, mana bisa daun bergoyang);
  124. Meunyoe hana peng lam jaroe, seupot lam nanggroe peungeuh lam rimba; (Kalau tiada uang, di kota gelap, di hutan terang);
  125. Menyoe ka ta keubah, ka mangat bak tacok; (Jika ada disimpan, enak diambil);
  126. Menyoe galak ta meusenda, bek ta kira luka asoe; (Jika senang bercanda, jangan mudah tersinggung);
  127. Menyoe hana sie kameng, ulee kareeng pih mumada; (Jika tiada daging kambing, kelapa teri pun memadai);
  128. Meunyoe utoh peulaku, boh labu jeut keu asoe kaya; (Jika ahli yang mengerjakan, buah labu menjadi srikaya);
  129. Menyoe ta beunci cit le peu daleh, menyoe ta gaseh salah pih na; (Jika benci ada saja alasan, jika cinta pun ada salah);
  130. Muka lagee mie pajoh aneuk; (Wajah seperti kucing makan anak);
  131. Mumet on kayee lon teupue cicem, teusinyom teukhem lon teupue bahsa; (Bergerak daun karena burung, tersenyum tertawa saya tahu berkata);
  132. Nabsu ke putik, ta cuko misee; (Nafsu mentah, cukur kumis);
  133. Nibak pageu kong jeunerop, nibak syedara kong gob; (Daripada pagar kuat jenerop, daripada saudara kuat orang lain);
  134. Nibak sihet bah rho; (Daripada miring biarlah tumpah);
  135. Nibak ta asek get ta anggok, beuthat brok-brok asai ka na; (daripada geleng baiknya angguk, biarpun jelek asal ada);
  136. Nit pih seb, le pih habeh; (Sedikit cukup, banyak pun habis);
  137. Nyang na ek ta peutan, nyang tan bek ta peuna; (Yang ada jangan ditiadakan, yang tiada jangan diadakan);
  138. Nyawong saboh, barangkapat pih matee; (Nyawa Cuma satu, kapan pun bisa meninggal);
  139. Oh lheuh lhok kon dheu; (Setelah dalam bukan dangkal);
  140. Pane meusu jaroe ta teupok siblah; (Tiada bersuara tepuk sebelah tangan);
  141. Peng abeh gaseh pih kureung, peu lom ta tueng kamoe ka hina; (Uang tiada kasih pun kurang, untuk apa diterima kami telah hina);
  142. Peu meunoe peu meudeh, bu han let pade abeh; (Untuk apa berdalih, katanya tak mau nasi tapi padi habis);
  143. Peu payah meung ta pet, pula cit ka gob; (Apa susahnya memetik, yang menanam orang);
  144. Peuleupie hate; (Mendinginkan hati);
  145. Penyoeket tabloe, utang ta peuna; (Penyakit dibeli, hutang diada-adakan);
  146. Peuroh-roh droe lagee eungkot lam cawan; (Gabungkan diri seperti ikan dalam cawan);
  147. Prang goh jeut kuta ka reuloh, musoh goh troh geutanyo ka cidra; (Perang belum kota sudah hancur, musuh belum datang kita sudah cedera);
  148. Reudok na ujuen tan; (Mendung ada hujan tiada);
  149. Sabab lham bak jok, teuboh lham beusoe. Sabab sidroe ureng brok, busok ban saboh nanggroe; (Sebab sekop kayu terbuanglah sekop besi, sebab seorang jelek buruklah nama satu negeri);
  150. Sang gobnyan brat geukhoek watee masa konflik; (Sepertinya beliau berat dipukul waktu masa konflik);
  151. Salah awuek taplah beulangong, salah inong aneuk tatampa; (Salah centong belah belanga, salah istri anak tertampar);
  152. Seupot buluen lhee ploh; (Gelap seperti malam bulan tanggal tiga puluh);
  153. Sia payah lon limeuh leuhob, bacee ulon drop kuah gob rasa; (Sia-sia berpeluh lumpur, ikan gabus kutangkap kuahnya dimakan orang);
  154. Sigitu irang, ubee blang irot; (Salah sedikit besar akibatnya);
  155. Silap mata, putoh takue; (Silap mata putus leher);
  156. Sipeh bajoe dong sidroe sama rata; (Satu kawanan biasanya sama sifatnya);
  157. Siuro tujoh go leuho; (Sehari tujuh kali dhuhur);
  158. Som kaya, peuleumah gasien; (Sembunyikan kekayaan perlihatkan kemiskinan);
  159. Sulet meupalet, teupat seulamat; (Licik terpalit, lurus selamat);
  160. Su ube reudok; (Suara sebesar petir);
  161. Tabri pih kutueng, tatueng pih kubri. Ta peugah kri bek ta iem droe; (Kau beri kuterima, kau mau pun kuberi. Bilang bagaimana jangan diam);
  162. Ta yue jak di likue, jitoh geuntot. Ta yue di likot dijtrom tumet; (Suruh jalan di depan dikentuti, suruh jalan di belakang disepaknya tumit);
  163. Ta bloe han ek, ta bayeu ek; (Beli tak bisa, ganti bisa);
  164. Tahue leumo deungon taloe, tahue manusia deungon akai; (Tuntun lembu dengan tali, tuntun manusia dengan akal);
  165. Ta keumeung po hana sayeup; (Kepingin terbang tapi tiada sayap);
  166. Ta kira keu ia mata gob si titek, rho ie mata droeteuh meubram-bram; (mengingat air mata orang setitik, luruh air mata banyak-banyak);
  167. Ta meuen ngon apui tutong, ta meuen ngon ie basah, ta meuen ngon sikin teusie; (Main api terbakar, main air basah, main pisau teriris);
  168. Ta meungon ngon aneuk miet, ta manoe dijipeukaco ie, ta pajoh bu dijiseungeu engkot; (Berkawan dengan anak-anak, kita mandi dikacaukan air, kita makan nasi ikan dihabiskan);
  169. Ta meurakan deungon urueng malem, trep-trep jeut keu tengku; (Berkawan dengan orang pintar agama, lama-lama menjadi ustad);
  170. Tangah ateuh sabee; (Lihat ke atas selalu);
  171. Ta cok khan troh, ta cunthok rho kuah; (Kita ambil tak sampai, kita rengkuh tumpah kuah);
  172. Ta peugah hana utak, tangkurak ubee raya; (Kita bilang tiada akal, kepala besar);
  173. Tikoh saboh urueng poh sireutoh; (Tikus seekor dipukul seratus orang);
  174. Top ulee deuh punggong; (Tutup kepala Nampak pantat);
  175. Udep peuleumah tempat, matee peuleumah jirat; (Jika hidup tunjukkan alamat, jika meninggal tunjukkan kubur);
  176. Ulee kurueng si ons; (Kepala/otak kurang satu ons);
  177. Ta seut ie laot deungon paleut jaroe; (Menggeser laut dengan jemari tangan);
  178. Khem gob khem geutanyoe, ata jipeukhem cit geu tanyoe; (Orang tertawa kita tertawa, padahal yang ditertawakan itu kita);
  179. Pantang peudeung meubalek sarong, pantang rincong meubalek mata, pantang urueng diteuoh kawom. (Pantang pedang berbalik sarung, pantang rencong berbalik mata, pantang orang dicemooh kaumnya);
  180. Yoh masa reubong han tatem ngieng, oh jeut keu trieng han ek le ta puta; (Waktu masih rebung tak sanggup lihat, sudah menjadi bambu tak sanggup putar);

Kebijaksanaan menertawakan keadaan itu bernama Hadih Maja

Bak gob mupakee bek gata pawang, bak gob muprang bek gata panglima; Jak ubee let tapak, duek ubee let punggong;

Bak gob mupakee bek gata pawang, bak gob muprang bek gata panglima;
Jak ubee let tapak, duek ubee let punggong;

Terdapat kesulitan untuk menterjemahkan sekian banyak hadih maja dalam bahasa Aceh secara langsung ke dalam bahasa Indonesia, ada beberapa kata dalam bahasa Aceh tidak terdapat padanannya (secara tepat). Sehingga mungkin dalam membaca terjemahan ini, para pembaca akan kebingungan. Cara paling mujarab untuk menikmatinya adalah dengan mengerti bahasa Aceh. Setelah mengerti bahasa Aceh, memahami hadih maja membuat mengerti pola pikir orang Aceh. Menjadi tahu mengapa orang-orang Aceh dalam keadaan tersulit mampu menertawakan apa yang terjadi, dengan kebijaksanaan kuno yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  2. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  3. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  4. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  5. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  6. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  7. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  8. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  9. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  10. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  11. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  12. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  13. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  14. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  15. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  16. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  17. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  18. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  19. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  20. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  21. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  22. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  23. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  24. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  25. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  26. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  27. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  28. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  29. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  30. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  31. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  32. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  33. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  34. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  35. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  36. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  37. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  38. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  39. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  40. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  41. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  42. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  43. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  44. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  45. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  46. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  47. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  48. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  49. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  50. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  51. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  52. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  53. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  54. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  55. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  56. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  57. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  58. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  59. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

LANSKAP MASA DEPAN

Menjelang maghrib, mega-mega merah telah bermunculan di angkasa.

Menjelang maghrib, mega-mega merah telah bermunculan di angkasa.

Kain jendela masih bergoyang

Dan gubuk tua ini

Seakan menjadi saksi

Waktu yang berjalan

Senja datang membara

Tapi tidak membelah

Mungkinkah malam membawa damai

Aku masih disini menanti dan terus menanti

Banda Aceh, 16 Juni 2001

XXX

Hidup bukan putaran roulette. Setiap keputusan kita punya arti. Ketika kita membuat keputusan, disitulah kita mengubah dunia. Tiap tahun adalah ruang terbuka, kita akan mengisinya, dan kelak, mempertanggungjawabkan segala laku kita.

Suatu sore tahun 2001, diliputi rasa cemas karena tak mampu memperkirakan masa depan dengan agak akurat, karena ia bukan ilmu pasti. Abu sebagaimana orang yang kesulitan memahami trigonometri dan segala turunannya (Logaritma, Integral, diffrensial), serta membenci bedebah kembar bernama persamaan kuadrat dan pertidaksamaan kuadrat. Aritmatika saja sulit dipahami apalagi yang tak pasti yaitu bagaimana besok? Tapi Tuhan sore itu tersenyum, Abu mencorat-coret buku latihan matematika dan lahirlah sebuah puisi (diatas).

Akh, betapa waktu itu betapa mudahnya Abu membuat puisi, bahkan sempat diterbitkan sekitar lima puisi oleh koran lokal. Syukurlah di tahun 2007 Abu sempat mengetik kembali puisi-puisi zaman itu pada laptop Acer Aspire yang (baru) dibeli. Ketika millennium baru datang, Abu (seperti) kehilangan kemampuan membuat hal-hal sederhana menjadi syair lagi, sangat disayangkan oleh Abu sendiri. Puisi bagaimanapun adalah sarana melembutkan hati.

Tahun 2001 adalah tahun yang tidak jelas arahnya kemana. Terutama warga sipil yang tinggal di Aceh. Saat itu, dalam perang, kami selaku sipil (harus) memperlihatkan keberanian untuk menanggung penderitaan lebih berat daripada pihak-pihak yang bertikai langsung. Berjuang dan berusaha bertahan hidup, orang-orang yang mengalami trauma, kehilangan dan berduka, terjepit di antara dua kekuatan yang saling membenci. Masa-masa itu, ketika berada di jalan dan pasar ramai, Abu (sebagai pelajar) tak akan banyak tahu, siapa yang meninggal dan siapa yang masih hidup sampai besok.

Perang tidak (pernah) terlalu buruk bagi pemerintah, karena mereka tidak terluka atau terbunuh seperti orang biasa. Sinis? Memang ini sebuah konsep sejarah yang rumit, manusia saling terhubung, cerita orang yang diseret dengan motor di malam hari, meraung-raung minta ampun. Atau mayat di lemparkan dijalan, seperti kotoran, setelah dimutilasi untuk ditemukan pelajar ketika hendak ke sekolah besoknya. Bagi orang yang tak mendapatkan pelatihan militer, atau tak ingin menjadi tentara kejadian seperti itu membuat otak menjadi syok, mengunci trauma di tempat yang memproses emosi, dan itu tidak baik bagi siapapun.

Abu sedang tak ingin menceritakan kisah tragis yang menggugah, apa lagi membuat merenung. Pada suatu sore kami kami sekumpulan pemuda kampung bermain di lapangan sepakbola, tiba-tiba terdengar rentetan senjata, tembak menembak. Teet..Teet..Teet suara senapan AK 47 milik GAM bersambut Tuum..Tuum..Tuum suara magazine M16 milik TNI. Di lapangan itu, kami semua kaku, mendingin, timah-timah panas bisa saja menembus tubuh kami, sungguh kami pernah menyaksikan betapa rapuhnya tubuh manusia jika diterjang peluru. Satu kawan Abu terkencing di celana, tiada yang tertawa akibat suasana mencekam. Sempat Abu pikir, disitulah ajal akan menjemput. Kami semua pasrah.

Tiba-tiba seorang kawan Abu yang lain, seorang dengan kemampuan bahasa Indonesia sangat terbatas menjerit keras. “Teman-teman semua jangan bodoh, meratap semuanya!” Serentak kami (semua) tiarap di tanah. Setengah jam kemudian kontak senjata mereda, kami bergegas pulang ke rumah tapi dengan suasana ceria. Banyolan macam apa ini? Ketika seseorang tak tahu perbedaan kata antara meratap dan tiarap. Tapi disitulah kami semua memahami bahwa hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang dinamakan manusia. Kelak di kemudian hari lapangan tempat kami bermain itu dijadikan perumahan. Anehnya, nama jalannya tetap bernama jalan lapangan.

Sebuah sore di tahun 2019. Abu berjogging sepulang kantor, melewati lapangan itu. Abu terdiam, teringat dan mengenang, bukan hendak menegakkan kembali masa lampau, kami pernah hanya bermain, menjalankan ritus. Lanskap sebuah lapangan yang hidup dan hiruk, bahkan semasa perang. Saat-saat itu bukan secuil suatu zaman, atau mungkin sebuah periode, saat itu sejarah luruh. Mungkin itulah yang membuat Abu mencintai sepakbola, ketika buramnya keadaan tak membuat gelak tawa hilang dari wajah-wajah belia kami, itu semua karena sepakbola.

Menjelang maghrib, mega-mega merah telah bermunculan di angkasa. Abu melihat pemandangan disebelah rumah Abu, dari lantai dua, belum berubah dari tiga puluh tahun yang lalu. Seberapakah tangguh ia menghadapi masa depan?

Disitulah Abu menyambut kesendirian, kedamaian yang dialami sekarang. Ketidakhadiran suara-suara, termasuk suara sendiri. Hanya burung-burung pulang menuju Barat. Semua menjadi alunan nina bobo yang selama sementara (bisa) menghapus rasa takut menghadapi masa depan.

Matahari sedang terbenam di belakang lengan panjang sisi barat pengunungan bukit barisan. Matahari masih bersinar di langit, tapi ada bayang-bayang panjang yang menjulur, puing-puing kelabu mulai jatuh dalam kegelapan. Yah, menghadapi masa depan, Abu (sebenarnya) takut. Lanskap masa depan yang (sungguh) berkabut. Azan Maghrib belum juga datang, Abu merasa sangat sendirian.

Baca juga :KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MENAFSIR ALAM MEMBACA MASA DEPAN

Manusia senantiasa was-was dengan masa depan. Nenek moyang kita mengamati gerak-gerik benda langit dengan mata untuk mencoba meramalkan musim, cuaca dan iklim.

Manusia senantiasa was-was dengan masa depan. Nenek moyang kita mengamati gerak-gerik benda langit dengan mata untuk mencoba meramalkan musim, cuaca dan iklim.

Ilmu Membaca Masa Depan

Ilmu apa yang paling mahal di dunia saat ini? Para pengiat dunia maya mungkin akan mengatakan ilmu SEO, atau sebagai bagian dari komunitas Negara berkembang bisa saja kita berkata tekhnologi. Atau masing-masing ahli boleh mengemukakan pendapat ini dan itu. Tapi sebenarnya pengetahuan yang paling berharga adalah memprediksi masa depan. Kenapa kemampuan membaca, memperkirakan masa depan menjadi sangat berharga?

Tahun 1995 AltaVista (kelak dialihkan menjadi Yahoo!) masih sebagai mesin pencari web terbaik, tahun 1998 Google lahir dan merekalah penguasa dunia maya saat ini. Atau siapa sangka sistem operasi canggih Symbian milik Nokia diawal 2000-an bisa hancur oleh android? Apa itu android? Bukannya istrinya Kuririn? Android No.18.

Milenium ketiga datang, generasi alpha pun hadir. Mereka kelahiran millennium ini (mungkin) hanya mengenal smartphone. Tidak telepon umum, tidak kartu telepon, tidak pula wartel. Harus diakui merekalah pemilik zaman ini, sedang kami generasi Lupus ini hanyalah penyintas. Makhluk asing sebagaimana kami sebagai pecinta musik aliran Peterpan melihat orang-orang tua penggemar Pance atau Broery dulunya. Masih ada mereka? Tak kira sudah punah semua.

Membaca zaman, membaca masa depan adalah sebuah ilmu memahami manusia. Mengerti  orang lain (atau sekumpulan orang) adalah kemampuan menafsir alam. Manusia sebagai makhluk tentunya adalah bagian dari alam semesta yang maha besar ini.

Ketika berbicara masa depan, mengapa harus mendengarkan kisah masa lalu?

Manusia senantiasa was-was dengan masa depan. Nenek moyang kita mengamati gerak-gerik benda langit dengan mata untuk mencoba meramalkan musim, cuaca dan iklim. Sesuatu yang penting pada zaman itu untuk diketahui apabila ingin bercocok tanam, berlayar atau memahami panjang tahun. Ilmu Falak (Astronomi) berkembang karena hal-hal itu.

Pada zaman pasar modal atau pasar uang sekarang berbagai alat diciptakan, rumus dirumuskan untuk mengetahui kapan harga saham naik/turun, kapan harus membeli/menjual komoditi atau valas. Ramalan atau prediksi bergulir terus menerus untuk hal apapun, bahkan untuk skor akhir sebuah pertandingan sepakbola. Mengetahui sesuatu kejadian terlebih dulu adalah hasrat terdalam kita, mencuri rahasia langit adalah kepuasan tak terpermanai.

Maka manusia mencari. Ada percaya dengan hal-hal mistis, primbon, membaca garis tangan, mediasi. Atau membaca kecenderungan sejarah yang katanya selalu berulang.  Memang sejarah kerap berulang, tapi ingat hanya polanya saja sama. Tidak ada peristiwa berulang persis dua kali. Kecenderungan memang ada, tapi sepenuhnya masa depan adalah lorong yang berkabut.

Bisakah kita membaca masa depan?

Prediksi atau ramalan adalah hal yang bisa benar bisa meleset. Tapi jika dipikir hidup ini bukanlah usaha untuk mencari “kebahagiaan tanpa akhir” tapi hidup adalah perjalanan yang dimana kita (selalu) berbuat benar sekaligus menyenangkan. Menyimpan cerita-cerita memilukan, memalukan sekaligus membahagiakan, membanggakan dalam hati (saja). Hidup tak cuma kata-kata dalam bahasa, di tiap saat, yang diam, yang bisu, selalu menunggu (mati).

Beberapa opini:

  1. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  2. Membeli Kebijaksanaan; 22 Juli 2017;
  3. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  4. Asal Muasal Budaya Kopi Di Aceh; 1 Agustus 2017;
  5. Melukis Sejarah; 10 Agustus 2017;
  6. Sepak Terjang Partai Komunis Indonesia Di Aceh; 21 September 2017;
  7. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  8. Dimanakah Makam Para Ratu Yang Pernah Memerintah Aceh Selama 59 Tahun; 6 Oktober 2017;
  9. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  10. Eksploitasi Sumber Daya Alam Apakah Bagus Untuk Aceh; 15 Oktober 2017;
  11. Perlukah Kita Menjaga Makam-Makam Warisan Penjajah Kolonial Belanda di Kherkoff Peucut Banda Aceh; 11 November 2017;
  12. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  13. Peranan Lembaga Tuha Peuet Dalam Lembaga Masyarakat Aceh Pada Masa Lampau; 5 Mei 2018;
  14. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  15. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

ROMAN LEBURNJA KERATON ATJEH

LEBURJA KERATON ATJEH; oleh A. MIALA (nama samaran dari A.G. MUTYARA); Cetakan Pertama; Penerbit Toko Buku Syarkawi; Kota Medan; Tahun 1949.

LEBURJA KERATON ATJEH; oleh A. MIALA (nama samaran dari A.G. MUTYARA); Cetakan Pertama; Penerbit Toko Buku Syarkawi; Kota Medan; Tahun 1949.

Catatan Sejarah Runtuhnya Istana Kesultanan Aceh Darussalam

Hari itu, Kamis pukul 12 siang, 24 Januari 1874. Belanda menyerbu ke dalam. Belanda memperoleh kemenangan atas Keraton Aceh setelah rakyat dan tentara Aceh bertahan 10 hari dalam padang peperangan yang sempit, untuk melindungi jarak antara pangkalan musuh dengan keraton yang hanya berjarak 100 meter saja. Hari itu adalah hari leburnya keraton Aceh.

LEBURJA KERATON ATJEH; oleh A. MIALA (nama samaran dari A.G. MUTYARA); Cetakan Pertama; Penerbit Toko Buku Syarkawi; Kota Medan; Tahun 1949.

Free Download Roman LEBURNYA KERATON ACEH

Dapat diunduh disini : Leburnja Keraton Atjeh -A.Miala-1949

Sinopsis Roman LEBURNYA KERATON ACEH

“Darahnya berhamburan, melaut dilantai.

Sekejap itu jua, dua letusan senapan berbunyi, peluru menembus dada srikandi muda itu. Badannya lemah lunglai, ia jatuh keatas dada kekasihnya, tempat ia mencurahkan suara jiwanya selama ini. Sesaat kemudian, menderum pula letusan untuk menamatkan pahlawan Panglima Muda Ali dari sejarah hidupnya. Dua tubuh yang berlumur darah terkapar dilantai istana.

Melihat peristiwa yang mengandung pilu itu berlalulah Teuku Amat dari ruangan tersebut keluar keraton sambil membawa hati yang remuk redam. Ia berjalan dengan langkah gontai, di bawah cahaya bulan sabit 5 Zulhijjah 1290 Hijriah dipimpin oleh jiwa yang remuk terharu, arah ke selatan, makin lama makin jauh hingga hilang dalam pandangan orang. Setelah ia jauh sayup-sayup sampai, dilenggongkan matanya lagi ke belakang, seakan-akan mencurahkan isi hatinya yang penghabisan, tetapi wajauhnya tidak terang lagi karena cahaya samar-samar kabur, bulan sabit hampir tenggelam.

Bulan sabit menceritakan, setengah abad rakyat Aceh memberikan perlawanannya.”

Sekapur Sirih Roman LEBURNYA KERATON ACEH

Sebelum diterbitkan untuk pertama kali Roman Leburja Keraton Atjeh dicetak pertama kali pada tahun 1942 dan kedua pada tahun 1946 dalam Mingguan Pahlawan. Ditulis oleh A. Miala (Nama samaran dari A.G. Mutyara). Roman ini ditulis pada tahun 1940-an, ketika pengarang berusia 20 tahun pada masa zaman penjajahan Jepang, karena banyak menyebutkan nama-nama pengkhianat Aceh pada masa peperangan dengan Belanda, cerita bersambung ini yang awalnya dimuat pada Harian Atjeh Sinbun mendapat banyak protes sehingga oleh Tyokan (Penguasa Militer Jepang) Aceh disuruh berhentikan penerbitannya. Pengarangnya kemudian berurusan dengan Kampentai.

Setelah Indonesia merdeka, buku ini sempat diterbitkan beberapa kali. Namun untuk saat ini roman ini adalah salah satu yang paling langka ditemukan, edisi cetak sangat sedikit yang masih tersedia. Padahal roman ini menceritakan kisah-kisah paling menentukan pada saat awal peperangan antara Aceh dengan Belanda.

Alhamdulillah, akhirnya kami mendapatkan buku ini. Kami bagikan kembali kepada saudara-saudara dalam bentuk e-book agar dapat menjadikan pelajaran sekaligus menikmati seringai wajah sang masa lalu dari Kesultanan Aceh Darussalam.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  2. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  3. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  4. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  5. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  6. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  7. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  8. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  9. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  10. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  11. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  12. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  13. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  14. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  15. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  16. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  17. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  18. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  19. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  20. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  21. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  22. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  23. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  24. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  25. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  26. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  27. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  28. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  29. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  30. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  31. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  32. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  33. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  34. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  35. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  36. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  37. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  38. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  39. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  40. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  41. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  42. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  43. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  44. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  45. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  46. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  47. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  48. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  49. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  50. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  51. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  52. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  53. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  54. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  55. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  56. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  57. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  58. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  59. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
Posted in Buku, Cerita, Download, E-Book, Fiction, Kisah-Kisah, Kolom, Literature | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

BERBAGI INGATAN

Hidup seumpama cakrawala, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menantikan di depan sana.

Hidup seumpama cakrawala, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menantikan di depan sana.

Berbagi Ingat.

Sebuah kenangan bisa menjadi surga yang tak ingin kita tinggalkan, tetapi ia juga mungkin neraka yang tak mampu kita hindari. Kenangan, ingatan masa lalu bisa jadi tak sama persis dengan keadaan yang sebenarnya. Tapi sesungguhnya memang begitulah wujud kenangan, yang sebenarnya adalah penafsiran seorang manusia tentang apa yang dia alami.

Tiga puluh lima tahun hidup Abu adalah waktu yang panjang, tiba-tiba Abu tersentak ketika istri Abu bertanya, “dari mana abang mendapatkan rasa percaya diri yang sangat besar seperti ini?”

Ketika itu Abu menjawab santai, “istriku, hidup ini adalah seumpama sebuah filem dimana kita masing-masing adalah pemeran utama dari pertunjukan ini.”

“Tapi ada orang yang hidupnya berhasil, ada yang gagal, ada yang biasa-biasa saja, tentunya bukanlah sebuah filem.” Bantah istri Abu.

“Sayangku, skenarionya telah disusun oleh Allah S.W.T di Lauhul Mahfudz tentunya, tapi kita sebagai pemain (aktor) bisa mengarahkan kecenderungan filem ini kearah mana, apakah romantis, drama, komedi, action sampai dokumenter sekalipun!” Kata Abu sambil tertawa.

“Jika hidup kita adalah pilem, abang memilih yang bagaimana?” Tanyanya.

“Komedi sayangku, yang terbaik adalah komedi.” Kata Abu.

“Pantas abang lucu, dan gemesin.” Ia tertawa.

“Absolutely honey!” Abu mengkedipkan mata, kami terbahak bersama.

Jika hidup adalah sebuah filem yang bisa diputar-putar kembali, adakah kita mampu mengingat semua kejadian? Mungkin tidak, memori kita terbatas.

XXX

Ini adalah kisah sewaktu Abu berusia 15 tahun, masih kecil (tentunya), dan belum memiliki pengalaman sebagaimana hari ini, bisa jadi sebenarnya hanya umur Abu yang bertambah, dan sedikit lebih berpengalaman, tapi sebenarnya (mungkin) Abu masih merupakan anak kecil itu yang serba tak berdaya mengelola kata, laku dan sikap dalam berhadapan dengan orang lain.

Seorang teman SMA (20 tahun yang lalu) baru-baru ini berkata, “dulu ketika minggu-minggu awal masuk SMA aku sangat benci dengan kamu!” Kening Abu berkerut dan bertanya mengapa. “Karena kamu berkata pada teman-teman yang berasal satu SMP denganmu, bahwa di kelas kamu orangnya jelek-jelek, dan aku yang paling jelek.”

“Apa betul?” Abu melihat wajahnya dan coba mengingat lagi, tapi memang kejadian itu tak tercatat di otak Abu.

“Betul, aku masih mengingat jelas! Ketika itu aku baru kembali dari kantin. Aku benci kamu, dan kawan-kawanmu itu.” Wajah kawan Abu itu sangat serius, dia bukan tipe yang pembohong, sangat jujur malah, itulah sebabnya Abu sangat suka berteman dengannya. Jadi Abu yakin itu adalah kejadian sebenarnya.

Abu melihat dia, gurat-gurat kekesalan yang telah terpendam selama 20 tahun ini membuncah keluar, rasa simpati mengalir deras dalam batin lalu Abu berkata, “Aku mohon maaf atas segala perkataan yang pernah aku ucapkan di masa itu, sungguh apa yang aku katakan pada saat itu tidak sepantasnya keluar dariku apapun sebabnya.” Abu menyesali. Terima kasih sahabat telah mengingatkan.

Ia memalingkan muka, lalu berkata, “akh, sudahlah lagian saat itu kamu masih berusia 15 tahun. Masih labil!” Ia pun tersenyum. Dan memang selama 20 tahun setelah kejadian hari itu kami bersahabat baik, mungkin tidak setiap saat kami saling mengkabari satu sama lain. Tapi setidaknya kami saling memahami masalah masing-masing, dan ketika dimintai pendapat kami berusaha saling memberikan saran-saran yang dirasa paling bijak.

Ternyata ingatan, memori yang tersimpan di dalam otak tak mampu merekam semua kejadian, semua peristiwa atau bahkan kesalahan yang pernah dibuat. Meski itu terkadang menyinggung, melecehkan atau menghinakan orang lain. Di situ Abu sadar bahwa kurun waktu yang telah beranjak sekian tahun lamanya tak pelak mungkin telah menyakiti orang lain, baik sengaja atau pun tidak.

Tapi juga ingatan bisa menjadi kuat, mencengkram dan tak akan hilang akan hal-hal dianggap penting oleh otak, seperti hal-hal yang membuat kita tersakiti, terluka. Aku menyambungkan dengan kata-kata Ibu kepada Abu, “sebenarnya kamu itu pelupa, terutama terhadap kesalahan sendiri. Tapi entah mengapa segala kekurangan, kesalahan orang kamu ingat.” Ada-ada saja.

XXX

Sepuluh tahun lalu, Abu berpikir kehidupan itu paradoks, penuh dengan pertentangan antara teori dan praktek. Waktu berjalan, pemikiran Abu bergeser sekarang. Hidup itu anomali, tidak ada teori yang berjalan secara penuh dalam hidup, semua ada pengecualiannya. Sebastiano Rossi dengan gampang menghabiskan berliter-liter bensin serta dibayar menggunakannya. Sementara saudara-saudara kita di pedalaman Papua sana harus membayar beratus-ratus ribu rupiah untuk bensin. Solusinya apa? Jalani saja jangan terlalu kecewa, terutama jika kena musibah, belum tentu itu azab Tuhan bisa jadi ada yang indah menunggu disana.

Seperti tsunami yang menghancurkan dan merenggut 200.000 jiwa itu memang menyedihkan, tapi perang RI-GAM yang telah berlangsung di Aceh selama nyaris 30 tahun berakhir, kedukaan tidak selamanya buruk, dalam kesedihan kata sepakat lebih mudah terjadi sehingga damai pun hadir.

XXX

Dua puluh tahun lalu, masih kelas 1 SMA, Abu ditunjuk oleh mewakili kampung untuk mengikuti lomba baca puisi tingkat kecamatan. Pemilihannya cukup unik, Abu ditemukan oleh tim pencari bakat di TPA (Tempat Pengajian Al-Qur’an) Surau Dusun kami, Abu dipilih karena memiliki pelafalan bahasa Indonesia paling baik. Suara Abu dianggap jelas, tegas dan mampu memisahkan antara kata-kata berbahasa Aceh dan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. begitu menurut pengakuan anggota tim pencari bakat bertahun kemudian kepada Abu, tapi menurut Abu saat itu, semua karena keberanian Abu berbicara di muka umum.

Biasanya kampung kami tidak serius kalau mengikuti lomba apapun, setiap pelatihan dalam lomba-lomba tingkat kecamatan baik itu Azan, MTQ selalu dalam keadaan bercanda, senda gurau yang diperbanyak. Tapi hari itu kampung kami serius, Abu dilatih selama 2 minggu, dibelikan kostum. Sehabis mengaji Abu tak boleh pulang, terus dilatih oleh para Ustad dan Ustadzah. Mendekati hari H, Abu semakin mantap dan para mentor mengacungkan jempol. Kali ini kampung kita akan menang kata mereka, dan Abu pun sangat yakin dengan kemampuan diri sendiri. (Emang kapan Abu tak optimis?) Bahkan Abu merasa W.S Rendra dapat dikalahkan hari itu.

Pada saat perlombaan kampung kami mendapat urutan terakhir. Takdir seolah mendukung Abu, dengan begitu Abu dapat memantau para lawan. Mengukur kekuatan mereka, meniru teknik yang Abu anggap bagus dan tak lupa menciptakan beberapa inovasi dan taktik dalam membaca puisi. Ketika nama Abu dipanggil ke panggung, Abu sangat siap.

Tapi ternyata pada hari itu PLN telah menggagalkan Abu. Ketika microphone sudah Abu pegang, matilah lampu itu! Bedebah! Abu tak mau kalah! Abu keraskan suara sekeras-kerasnya tapi suara Abu ternyata tak menjangkau para juri yang nun jauh disana, diantara hiruk pikuk penonton se-kecamatan suara Abu tenggelam. Segala usaha Abu menjadi luruh. Tragisnya, ketika pengumuman pemenang dilakukan PLN menghidupkan listrik, suara gelegar pemenang dan sorak sorai kemenangan kampung lain sungguh menyakitkan bagi Abu hari itu.

Abu pulang dalam keadaan hancur, remuk redam. Pulang ke rumah Abu bercerita kepada ayah dan ibu serta adik-adik dengan perasaan dongkol. Ibu dan adik-adik sepakat pertandingan seharusnya diulang, tak selayaknya Abu dikalahkan dengan cara seperti ini. Abu cinta keluarga ini, selalu mendukung disaat terburuk, tersakiti dan terhancurkan harga diri.

Akan tetapi almarhum ayah berkata. “Nak, itulah nilai kehidupan, setiap ketidakadilan adalah bukti bahwa sebenarnya hidup ini sangat adil. Tak semua jerih payah kita langsung mendapatkan hasil, kita boleh merasakan sakit, kecewa ataupun sedih tapi jangan sampai trauma, teruslah mencoba.”

Mata Abu berkaca-kaca, sedih sekali rasanya dikalahkan. Ayah Abu berkata dalam bahasa Aceh. “Bagaimana pun dikeluarga kita, tetap abang juara satu membaca puisi kok.” Abu melihat ke kiri dan ke kanan, semua adik mengangguk-angguk seperti ayam makan beras dan saat itu Abu tertawa, bahagia sekali rasanya.

Kelak di kemudian hari, mungkin sampai hari ini, sering Abu mendapatkan atau mengusahakan sesuatu yang belum Abu tahu solusi atau jalan keluarnya, Abu terus mencoba sampai mampu mengatasinya. Abu sebut itu dalam sebuah teori acak kadut yang dinamai “The Power of Trying” Kekuatan dari mencoba, berusaha dulu hasil (pasti) menyusul kemudian. Lucunya, teori yang lahir dari pengalaman hidup, besar kemungkinan akibat kejadian hari itu, seringnya berhasil dalam hidup Abu.

XXX

Masih ditahun yang sama 6 bulan kemudian. Kali ini kampung kami mendapat undangan lomba berpidato antar desa, karena kesalahan administrasi suratnya baru tiba 2 hari sebelum lomba. Entah mungkin karena tidak ada pilihan lain, para Ustad dan Ustadzah lagi-lagi mengirimkan Abu sebagai perwakilan. Sebagaimana yang kalian tahu, Abu tidak pernah menolak panggilan tugas, untuk membela marwah kampung apapun Abu siap. Maka dua hari Abu bersepi-sepi diri menyiapkan konsep pidato, terus terang Abu tak terlalu siap.

Entah Maulid, entah Isra’ Mi’raj, detilnya Abu lupa momen lomba itu karena apa. Lomba dilakukan setelah shalat Ashar, tapi Abu memilih shalat Dhuhur di masjid tempat perlombaan dengan datang sendiri mengayuh sepeda sekitar 10 kilomater dari kampung Abu. Belajar dari kekalahan Abu di lomba baca puisi yang diakibatkan faktor alam (PLN itu alam?) maka Abu mendatangi lingkungan perlombaan jauh sebelum acara dimulai. Selesai Dhuhur Abu duduk di masjid tersebut mengenali lingkungan, memegang tiang-tiang masjidnya, memandangi kipas-kipas angin putih yang bertuliskan KKN Unsyiah 1991 sampai berbicara dengan microphone, “tolonglah sobat kali ini saja, saya mohon kamu jangan mati.” Masjid itu sendiri sudah ramai dengan panitia kampung tersebut, instuisi Abu berkata mereka geleng-geleng kepala di balik punggung Abu melihat kelakuan seorang anak muda yang mereka pikir mungkin sudah sawan.

Cuaca awalnya sangat panas, sekejap menjadi mendung, kemudian langit menjadi sangat hitam, dan akhirnya terjadilah sebuah hujan besar yang disertai angin kencang. Limpahan berton-ton kubik air seorang mencabik hari itu. Azan Ashar berkumandang dan shalat berjamaah dilakukan, waktu lomba pun sudah seharusnya di mulai. Akibat hujan lebat di hari itu, Abu merupakan satu-satunya peserta yang hadir. Abu sudah pasrah jika lomba diundur, yah berarti besok harus bersepeda lagi 10 Kilometer.

Tetapi ternyata panitia memutuskan lomba harus tetap dilaksanakan, karena pak camat akan hadir pada saat Maghrib nanti, maklum jadwal pembesar pastinya padat. Maka diperintahkan kepada Abu untuk naik podium, diberi waktu 15 menit untuk berpidato. Abu lupa isi detil pidato Abu hari tersebut, tapi masih ingat judulnya, “ISLAM DAN KEMAJUAN SAINS” yang Abu rangkum dari buku-buku warisan kakek yang ada dirumah. Alhamdulillah, hari itu PLN bersahabat dengan Abu, listriknya hidup meskipun hujan besar. Maka dengan segenap kepercayaan diri Abu berpidato, sangat lancar bahkan sampai lebih 15 menit.

Rupanya sementara Abu berpidato ada dua peserta yang hadir, mereka basah kuyup diterjang badai. Yang naik podium kedua seorang laki-laki, suaranya bergetar kedinginan diserai geraman menahan sejuk ia bersin-bersin, Abu merasa kasihan kepada lawan tersebut, ia tampak seperti ayam jago yang kebasahan, andai pertandingan lebih adil pikir Abu. Sedang yang naik podium ketiga seorang perempuan, jilbab dan bajunya basah. Ia mampu mengatasi kesejukan dengan tenang dan Abu merasa dia adalah lawan sebanding Abu, awalnya. Tapi ternyata suaranya sangat-sangat rendah volumenya, meskipun menggunakan microphone suaranya lebih menyerupai zikir dibandingkan pidato. Ia terlihat nervous sehingga mengakhiri pidato lebih awal dari waktu yang ditentukan. Abu merasa akan menang, tapi kemenangan macam ini bukanlah sesuatu yang Abu inginkan.

Menjelang Maghrib pak camat dan rombongan tiba menggunakan mobil Suzuki Carry, setelah shalat selesai dan pembukaan acara maka pengumuman juara dilaksanakan. Benar saja, Abu menjadi juara pertama, laki-laki basah menjadi juara dua dan perempuan suara kecil juara ketiga. Abu menyalami pesaing-pesaing tersebut, wajah mereka terlihat sangat bahagia, justru Abu yang terlihat kecewa. Abu suka kemenangan, tapi sebuah kemenangan dari sebuah perjuangan yang tangguh, bukan kemenangan yang dibantu oleh alam seperti ini. Selesai Isya, Abu pulang mengayuh sepeda, membawa piala dengan hati penuh kecamuk.

Sesampainya di rumah, Abu meletakkan piala di bufet TV, tanpa bicara langsung memilih tidur. Adik-adik Abu yang ingin mendengarkan cerita heroik kemenangan abang mereka pada pertandingan harus menunggu besok hari untuk mendengarkan cerita kekecewaan Abu terhadap kemenangan yang Abu rasa tidak adil itu. Abu tidak menganggap piala itu berarti dan membiarkannya terletak di atas bufet TV sampai suatu malam Abu sesak kencing dan bangun menuju kamar mandi, di depan TV Abu melihat almarhum ayah memandangi piala kemenangan Abu tersebut dengan penuh kebanggaan.

Foto Piala Lomba pidato tahun 1999

Foto Piala Lomba pidato tahun 1999

Suasana malam itu sangat hening, sekilas perasaan Abu ketika melihat sorot mata ayah seolah berbicara, “ANAKKU HEBAT.” Ini adalah momen yang tak ternilai, bila Abu mengingat kembali, tak ada sesuatu apapun di dunia yang ingin Abu miliki melebihi saat-saat, detik-detik itu. Kelak, 5 tahun kemudian ayah meninggal dunia, sebelum Abu menyelesaikan kuliah, sebelum Abu bekerja dan mampu memberikan sesuatu untuk beliau. Oh, betapa Abu sangat ingin sekali lagi melihat hari itu. Kenangan itu.

XXX

Kita semua manusia dibentuk oleh pengalaman. Sepahit, sesulit apapun pengalaman yang pernah kita punyai, yakinlah pasti itu akan menjadi pedoman hidup yang terbaik jika kita berbaik sangka kepada SANG PENCIPTA. Hidup seumpama cakrawala, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menantikan di depan sana. Hidup itu mengalir saja, karena TUHAN selalu memberikan yang terbaik.

Simak cerita lain dalam: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

JIKA HARI INI ADALAH KEMARIN

Hari ini adalah kemarin

Setiap manusia memiliki hal penting dalam batinnya, itu berupa: Kebaikan, kebenaran, rasa hormat, kebijaksanaan dan keyakinan. Kebijaksanaan bertambah seiring dengan waktu, seiring bertambahnya usia kita bertambah dewasa. Benarkah begitu? Mungkin bisa salah karena ruang dan waktu menyimpan tipu daya bagi mereka yang matanya belum terbuka. Seperti halnya ada kemungkinan bahwa hari ini adalah kemarin, dan ternyata besok (telah) datang tapi kita masih terpaku pada hari ini.

11 Year Anniversary Achievement

11 Year Anniversary Achievement

18 Februari 2008, sebelas tahun lalu dari sekarang. Ada kesulitan mengingat apa yang mendasari menulis disini, dan ternyata hari itu (telah) terlewat lama, kemudian ingatan dan waktu meninggalkannya meskipun semua ini lahir dari sejarah, bukan dari ketiadaan, ternyata kenyataan masa lalu itu sudah tak terjangkau lagi.

Bilangan tahun berjalan dengan cepat. Akh, sudah tak ingat lagi hitungan hari-hari yang berlalu, entah mengapa kita cenderung mudah melupakan hal-hal bahagia dan tertawa, lebih mengingat hal-hal yang membawa luka, tapi cedera seperti ini pun bisa disembuhkan, tak harus membuat hati dirundung kegelapan, justru seharusnya mengajarkan kebijaksanaan.

Seorang tua pernah berkata kepada. “Terkadang usia panjang (bisa) menjadi kutukan, ketika orang-orang yang kita kenali wataknya, perangainya, tawa dan tangisnya telah meninggalkan kita. Sedang orang-orang baru terus bermunculan tapi ternyata (Kita) tak siap menghadapai polah perangai yang serba baru itu.”

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan usia tua. Ketika rambut telah kehilangan pigmen, ketika gigi-gigi mulai rapuh dan keriput muncul disana-sini. Mungkin batin belum siap tentang ingatan yang masih tertinggal di sana. Tak semua orang berdaya mengelola masa lalu dan berkata “Aku adalah wajah masa lalu. Aku tak berani menghadapi perubahan.”

Ranting-ranting yang patah

Perjalanan hidup mentakdirkan kita mengalami berbagai kejadian-kejadian, termasuk ujian untuk bertemu kembali dengan ingatan diri sendiri di masa lalu. Mengenang wajah-wajah mereka yang terluka dengan teruk, kecewa sangat akan laku dahulunya. Dan ternyata tak ada yang bisa kita perbuat pada apa yang terjadi di masa lalu. Kita tahu dan paham bahwa sejarah tak mengenal kata, “seandainya.” Tiada dan tak akan pernah.

Maka sungguh seharusnya tiada yang patut terlalu dirayakan ketika usia bertambah. Sesungguhnya neraca usia telah berkurang di Lauhul Mahfudz. Bahkan sejak semula harus sudah pasrah akan nasib yang menanti sehubungan dosa-dosa di masa lalu.

Manusia-manusia berbeda, beberapa orang dilahirkan di dekat sungai, sebagian lainnya tersambar tsunami, sebagian menjual minyak tanah, sebagian mendengarkan radio, sebagian seniman, sebagian berenang, sebagian lagi menjual pulsa, sebagian tahu tentang Shakespeare, sebagian menjadi ibu, dan sebagian orang menari.

Entah esok, besok belum pasti. Hari ini adalah kemarin, hanya itu waktu yang kita miliki. Keanggunan masa lalu itu pun perlahan-lahan meruluh menjadi lusuh. Jendela-jendela kamar ini berembun dan udaranya berat karena asap rokok.

Bait al-Hikmah. Dini hari 20 Februari 2018.

Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

REVOLUSI DESEMBER 45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR

Prelude Revolusi Sosial dan Pembasmian Kaum Uleebalang

Revolusi Desember 1945 adalah perang saudara yang terjadi di Aceh antara pihak Uleebalang dan pendukungnnya dengan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) dan pendukungnya. Dalam sejarah Aceh inilah kali pertama orang Aceh membunuh orang Aceh. Sebuah catatan sejarah kelam yang seolah hapus dari ingatan orang-orang Aceh masa kini.

Baca juga tulisan terkait: Perang Cumbok Sebuah Revolusi Sosial Di Aceh (1946-1947);

Tentu ada kisah-kisah menyakitkan disini, yang teramat pedih. Pemerintah Republik Indonesia Daerah Aceh pada tahun 1948 (atau sesudahnya) merasa perlu mengeluarkan sebuah buku/buklet yang menceritakan kejadian tersebut dengan judul “REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ATJEH atau Pembasmian Pengchianat Tanah Air) yang dapat diunduh di REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ATJEH

Berikut resensi buku tersebut yang disusun oleh penulis.

Sebelum Belanda menyerang Kesultanan Aceh terlebih dahulu membuat perhubungan rahasia dengan Uleebalang dan menjanjikan kepada mereka akan diakui sebagai raja turun-terumurun di daerahnya. Ketika Sultan bersama Panglima Polem, Tengku Chik di Tiro mati-matian bertempur melawan Belanda, kaum pengkhianat menandatangani “Korte Verklaring” yang berisi pengakuan kedaulatan Belanda atas Aceh yang terdiri dari 6 Pasal, pengakuan terhadap bendera Belanda dan tidak membantu pejuang Aceh. Pada tahun 1898 diperbaharui dengan “Korte Atjeh Verklaring” dengan tambahan musuh Belanda adalah musuh Uleebalang. Lalu diperbaharui lagi dengan nama “Uniform Model Korte Verklaring” yang dalam perjanjian tersebut Belanda mengakui para pengkhianat sebagai raja “vorst” dalam daerahnya dan pada tahun 1915 dan seterusnya ditukar dengan kalimat “Zelfbestuurder”. Ketika Belanda memenangkan perang para pengkhianat ini semakin merajalela dan dibenci rakyat sebab mereka berbuat sekehendaknya dengan tiada mengindahkan hukum.

Buku REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ATJEH atau Pembasmian Pengchianat Tanah Air: Dikeluarkan oleh PEMERINTAH R.I DAERAH ATJEH Tahun 1948.

Ketika Perang Pasifik pecah rakyat memberontak kepada Belanda sampai saat paling akhir mereka tetap berdiri dipihak Belanda. Ketika Jepang masuk dan berkuasa rakyat awalnya menyangka akan terlepas dari kekuasaan mereka tapi ternyata Jepang berpendapat dan berpendirian mereka sudah “par excellence” buat dipergunakan sebagai alat penjajahan. Ketika Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu pada tahun 1945 dan sampai berita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke Aceh terjadi pertentangan antara rakyat dan pemimpin rakyat yang menyambut gembira dan menyusun barisan untuk mempertahankan kemerdekaan tetapi pihak Uleebalang menyusun tenaganya buat menyambut kembali penjajah Belanda.

Pertentangan politik ini akhirnya pecah dan pada bukan Desember  1945 terjadilah Revolusi Sosial yang awalnya terjadi di daerah Pidie kemudian menyebar keseluruh Aceh antara lain Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Besar dan Aceh Barat sehingga dengan demikian Ancien Regime telah ditumbangkan seluruhnya.

Epilog: Sejarah Perang Saudara di Aceh Sebagai Bahan Renungan

Ini adalah Perang Saudara yang sangat menggetarkan, tragedi penuh amarah dan melukiskan kebencian yang mungkin tidak dapat dirangkum secara utuh oleh buku kecil ini. Sebuah sejarah kelam di Aceh yang sampai hari ini masih terasa dalam sakitnya, mungkin buku ini tidak mampu memberikan jawaban yang akhir tentang kejadian di hari-hari itu. Tapi dari buku ini kita dapat belajar bahwa sejarah harus memiliki benih yang baik dan berkualitas sehingga dapat berfungsi sebagai pelajaran bagi kita generasi yang hadir belakangan agar dapat belajar dari kesalahan-kesalahan maupun kebaikan-kebaikan para pendahulu kita, orang tua kita agar menjadi orang-orang yang lebih bijaksana.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  2. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  3. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  4. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  5. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  6. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  7. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  8. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  9. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  10. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  11. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  12. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  13. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  14. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  15. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  16. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  17. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  18. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  19. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  20. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  21. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  22. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  23. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  24. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  25. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  26. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  27. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  28. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  29. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  30. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  31. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  32. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  33. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  34. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  35. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  36. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  37. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  38. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  39. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  40. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  41. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  42. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  43. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  44. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  45. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  46. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  47. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  48. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  49. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  50. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  51. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  52. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  53. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  54. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  55. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  56. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  57. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  58. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  59. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Download, E-Book, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments

LAUT DAN SENJA

Laut dan senja

Matahari akan tenggelam di lautan Hindia yang lebar itu, cahaya yang silau, menyilaukan mata berpendar di muka air biru yang maha luas itu. Akh, permukaaan laut yang disinari matahari pikirku, apa indahnya? Tapi tubuh bisa membuat getar sekaligus gentar seperti lautan, ketika matahari hampir masuk ke dalam peraduannya, dengan amat perlahan, ia berangsur turun, turun ke dasar lautan yang tak kelihatan ranah tepinya ketika cahaya merah telah mulai membentang di ufuk barat, dan bayangannya tampak mengindahkan lautan yang tenang dan tak berombak.

laut yang tenang ketika senja datang

Melihat laut dari dekat, jutaan gelembung air kecil berkilauan putih, yang muncul dan menghilang seiring ombak. Selalu ada gelembung baru yang muncul dan menghilang dalam irama teratur setelah terbawa oleh aliran air selama sekejap.

Akh, mungkin kita, masing-masing tak lebih dari sekedar buih, setetes renik dalam gelombang waktu yang bergerak menuju masa depan yang tak jelas, berkabut. Kita muncul di dunia hanyalah sebentar untuk kemudian hilang. Mungkin sejarah tak mencatatkan masing-masing nama kita, tak tampak oleh arus besar itu. Selalu ada orang baru dan lebih baru lagi.

Mungkin apa yang dinamakan nasib, tak lebih adalah perjuangan kita dalam kerumunan tetes naik dan turun bersama gelombang. Sepatutnya, kemunculan sesaat ini kita manfaatkan, agar hadirnya kita tak sia-sia, tak pernah.

Laut dan senja, kekosongan dan kehampaan mengundang misteri dalam putih sempurna yang sungguh luas, membuat kita merenung, apakah kehidupan di samudera hampa itu dalam waktu yang terus bergulir. Akh, betapa waktu memang tak terbatas, tapi memang waktu kita yang terbatas.

Banda Aceh, 10 Januari 2019

Posted in Cerita, Kolom, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments