MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA

Pameran bertajuk “Batu Nisan Aceh sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara” di Museum Aceh.

MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA

Bukan karena pertanda ajal semakin dekat, bukan pertanda mencari berkat. Tim Tengkuputeh, sabtu pada tanggal 13 Mei 2017 mengunjungi beberapa nisan kuno. Ini semua karena cinta pada sejarah, cinta kepada ilmu pengetahuan.

Pada tanggal 9-16 Mei 2017 Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerjasama dengan Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) menggelar pameran bertajuk “Batu Nisan Aceh sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara”  di Museum Aceh. Pameran batu nisan tersebut memamerkan koleksi asli 18 batu nisan, empat dari Kesultanan Samudera Pasai, tiga dari Kesultanan Lamuri serta 11 koleksi batu nisan dari zaman Kesultanan Aceh Darussalam.

Museum Aceh adalah sebuah museum etnografi dari suku bangsa-suku bangsa asli yang mendiami Aceh. Alamat: Jl. Sultan Alaiddin Mahmudsyah No.10, Peuniti, Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh 23116

Disambut Muhajir Asyie, seorang anggota Mapesa yang menjadi pemandu hari itu, tim tengkuputeh berkeliling. Menurutnya sendiri, pameran ini baru masuk tahap pengenalan batu nisan Aceh, masih dalam proses sederhana belum mencakup seluruh tipe dan model nisan. Untuk tahap pengenalan pameran ini sendiri dapat dikatakan sukses, namun ke depan diharapkan lebih banyak yang dapat ditampilkan, serta memiliki museum nisan tersendiri.

Pameran sendiri dalam beberapa hari berlangsung lebih banyak didatangi oleh siswa SD, SMP dan SMA serta mahasiswa yang berada di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar khususnya dan Aceh pada umumnya. Menurut Muhajir Asyie ini sesuai dengan target yang diinginkan, karena pameran ini ingin mengajarkan sejarah terutama generasi muda.

Mendengarkan penjelasan tentang sejarah batu nisan Aceh dari pemandu pameran

Bahan-bahan pameran sendiri kebanyakan dari Mapesa. Muhajir Asyie menambahkan, pameran batu nisan Aceh ini adalah pertama setelah beberapa dekade, dengan harapan dengan adanya pameran ini maka masyarakat umum lebih menjaga batu nisan Aceh sebagai aset kebudayaan, jangan dijadikan alat asah parang atau dijadikan alat pengikat lembu.

Ketika tim Tengkuputeh berkeliling area pameran, dari ketiga kesultanan yang jenis batu nisannya dipamerkan, terlihat perbedaan antara batu nisan dari Kesultanan Lamuri yang terbuat dari batu sungai (andesit) yang sangat keras dan kasar. Sedangkan batu nisan dari Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam terbuat dari batu halus yang berasal dari pegunungan. Dalam hal ini menurut Muhajir mangatakan bahwa batu nisan dari Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam ini beberapa ditemukan dijadikan sebagai alat pengasah parang atau pisau. Hal ini sangat disayangkan karena batu nisan Aceh merupakan warisan yang harus diselamatkan. Sebab, batu nisan tersebut merupakan bukti sejarah bahwa Aceh memiliki kebudayaan tinggi di masa lalu.

Bagaimana generasi muda sebaiknya memahami sejarah Aceh? Menurut Muhajir Asyie, generasi muda sebaiknya memahami bahwa batu nisan adalah “Seni Islam” merupakan kebudayaan yang timbul dari proses Islamisasi Nusantara, merupakan proses yang panjang dimulai dari Kesultanan Samudera Pasai beriringan dengan Kesultanan Lamuri dan dilanjutkan oleh Kesultanan Aceh Darussalam. Sejarah tersebut harus diwariskan agar generasi muda tidak menganggap batu nisan sebagai alat klenik, “batu dewa”, serta pemikiran-pemikiran mistis lainnya. Kenapa? Karena pemikiran yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah pula.

Tim tengkuputeh berpose di Musem Aceh

Tim Tengkuputeh dalam hal ini sepakat, sejarah jika tidak diceritakan dengan benar hanya akan menjadi mitos dan legenda semata. Ada banyak cerita sejarah yang hanya menjadi hikayat yang seolah tidak pernah terjadi, mari kita bersama-sama meluruskannya. Buat apa? Sedang kita tidak memperoleh kekayaan atau harta dengan mempelajari sejarah. Menurut tim Tengkuputeh sederhana saja, untuk memperkaya batin dan memperkuat ingatan kita.

Simak kunjungan tim Tengkuputeh ke museum Aceh dalam rangka pameran Batu Nisan Aceh sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara dalam video berikut :

Simak juga reportase lainnya

MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA

Advertisements
Posted in Asal Usil, Cuplikan Sejarah, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

AKU MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA

Happy 3rd Anniversary, and still counting

AKU MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA

Aku mencintaimu dengan sederhana, layaknya kasih sayang yang dibawa oleh titik-titik hujan. Yang akan ku bawa kemanapun jua kakiku melangkah. mengingatkan ada hal-hal sederhana yang luar biasa. Indah kehidupan adalah ketika memperjumpakan kita dengan berbagai peristiwa. Lakon itu membuat kita tertawa, bersedih atau berpikir. Hitam dan putih bercampur aduk dalam emosi. Sungguh banyak pengetahuan, sebagai manusia sering kali aku salah melangkah, kecewa dan gagal. Meskipun begitu aku selalu bisa tersenyum mengingat engkau disisiku.

Hari ini, jam ini, detik ini. Tak perlu kau tanyakan lagi, itu semua untukmu adanya. Bahwa aku mengakui, Disaat hujan turun, Aku rindu padamu. Aku mencintaimu bahkan sangat mencintaimu. Cintaku yang sederhana, sangat sederhana dan tanpa kata-kata lagi.

Untuk cintaku yang sederhana, selamat ulang tahun pernikahan ke-3

Posted in Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

THE FALL OF ICARUS, WHEN A MAN TRIES TO REACH THE SUN

Indonesian Translation

We remember the wings of Icarus trying to reach the sun. He will not (will) arrive.

THE FALL OF ICARUS, WHEN A MAN TRIES TO REACH THE SUN

One day, Icarus, who was imprisoned on the island of Crete, wanted to escape by air, flying. His father Daedalus, an inventor, made him wings. The eagle’s feathers were collected and arranged, and finally, a pair of wings became, glued with candles to the child’s body. He flies, but he flies too high, approaching the sun. The wax was melted by the solar heat, and the wings were dated. Icarus fell to earth, into the Aegean. He drowned and died.

Greek mythology does not describe a sad accident or a dramatic event. Quite the opposite, comedy. A normal life does not seem to be shaken by the fate of someone who is being and taken away by death. That what happened was not a tragedy, but something funny, like slipping a banana skin? No sense of the child’s soul, what’s his fault? The question is disturbing. A tragedy that is left passing meaningless.

Is there any defeat? No, hope not.

Perhaps the unfortunate fate of Icarus, the story of a flying and inaccessible young man, is part of everyday life, there are working farmers and vessels on the trade, but there are also people who seek out but the guards. Or perhaps Icarus is an example of the vanity of humanity who is arrogant and forget to be careful. So if he fell and died let it be. Perhaps, life is better served by receiving the enjoyment that exists, such as a pastor who is grateful for a clear season. Or better to live in an honest way, by plowing the earth through the sea. Why not emulate Icarus diligent farmers, herders are patient, and the prosperous merchant on the ship? Why should he violate the established human nature, that he is not a bird?

If it is so easy that we determine the meaning of nature, we will be fooled by formulating “nature” or “essence”, we will never suspect a time when humans will be able to penetrate that formula. Icarus has failed, but if nobody dares to fly, liberate and become “bizarre” the world will remain as medieval. There were no Wright brothers, two Americans who in 1903 with a machine can fly for 10 minutes in a field in North Carolina and thereby pave the way for people to roam the air, like birds, even beyond the birds, until the sky is not scary anymore.

When we fail. Like, when we as students are faced with teachers who are increasingly satisfied with more and more make the students stay class. We are grateful, we are not Icarus. We live, he dies. Life is amazing because we, on a sad day, can actually pick a ripe orange fruit, and taste it, and share it.

Is there any defeat? No, hope not.

We will always get warm and light, we always try to get there. But is it possible to reach that sky, with salvation, blood, prayer, and iron though? Probably not, but life means not because it reaches. Life means by searching.

We remember Icarus’s wings trying to reach the sun. He will not (will) arrive.

Terjemahan Bahasa Indonesia

Posted in International, Literature, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

THE NOBLE VEIL, ODA NOBUNAGA

THE NOBLE VEIL, ODA NOBUNAGA

Indonesian Version

Why does he think he needs to hide from everyone who knows and loves him? What was he afraid of? What he protected. Someone who does not trust anyone, Oda Nobunaga. What if a bird does not want to sing? Nobunaga replied, “Kill it!”

XXX

ODA NOBUNAGA

Nobunaga is now nineteen years old. Three years after his death since his father’s death. Public opinion says he is stupid and quickly angry. For three years, this young, careless, empty-headed heir, with no talent or intelligence, was not only able to defend his position but also managed to control the situation all the way through the provinces. How can he do this? Some say it is not Nobunaga’s blessing, but because of the faithful services of his followers – Hirate Nakatsukasa, Hayashi Sado, Aoyama Yosaemon, and Naito Kaysusuke. As long as the servants of the former ruling credentials are alive, things will work out, but if one or two of them die, and the pillars of collapse, The destruction of the Oda clan is only a matter of time. Among those who looked forward to it were Saito Dosan from Mino and Imagawa Yoshimoto from Suruga. Nobody disagrees with this view. Surrounded by large and powerful provinces, the Oda clan’s territory appears small and poor, for it is necessary for essential strengths for survival. Public opinion is wrong. Nobunaga is considered to be weak-hearted, but if anyone asks for proof, it will be revealed that no one ever determines whether the assumption is right or wrong. Everyone saw Nobunaga leave his castle in the spring and fall, and it all came to the conclusion that he was about to fish or swim. But if you look at it yourself, they will realize that what they see is an all-out military exercise. When he was thirteen, Nobunaga first took part in a battle. At the age of fifteen, he had lost his father. As he grew older, his attitude became more arrogant. At his father’s funeral ceremony, Nobunaga wore an inappropriate dress for such an official occasion. Under the unbelieving sight of the guests, Nobunaga approached the altar, grabbed a handful of incense ash, and threw it into the clay container of his father’s ashes. Then he surprised everyone by returning to the fort. “Very embarrassing. Was he heir to this province? Stupid youth that can not be expected. “Who would have thought he was so sassy?” That’s the view of those who rate Nobunaga based on outward appearances. But those who pondered the situation more deeply shed tears of sadness for the Oda clan. “His younger brother, Kanjuro, is very polite, and behaves respectfully from beginning to end,” one of the mourners said. They regretted that it was not him who was appointed the heir.

XXX

Some time before his death at the age of forty-six, Nobuhide had arranged Nobunaga’s engagement with Saito Dosan’s daughter from Mino, by Nakatsukasa. It’s been years since Mino and Owari have been hostile to each other, so marriage is political. Such tactics are almost a necessity in a war-torn country. Dosan soon realized the veiled intent behind the plan. Nevertheless, he gave his beloved daughter, Nouhime to the heir of Oda clan leadership, from neighboring provinces to the capital has been known as a moron. Dosan approves the marriage, but secretly intends to seize Owari. Saito Dosan wanted to meet his son-in-law, he proposed holding their first meeting at Shotokuji Shrine in Tonda, the border of the two provinces. The temple is a shrine of Ikko Buddhist sect and is located somewhat apart from the seven hundred houses in the village. Despite the large entourage, Nobunaga left Nagoya’s fortress crossing the Kiso and Hida rivers, then advanced all the way to Tonda. The dry season is at the door. Wheat in pale yellow fields. The breeze from the Hida river was refreshing. The houses in Tonda look sturdy and have lots of barns. “That’s them. The convoy has arrived. Soon they will pass here. “Two samurais from the Saito clan were placed in the village reporting, the two samurais kneeling in the face of a small hut. The cottage is dark, dirty and ground floor. “Well, you two hid behind the back bushes.” Many stories about Nobunaga circulated. What was he like? Dosan wonders. What kind of person is he? Before the official meeting, I wanted to see him first. This way of thinking is typical of Dosan, that’s why he’s here, peering out from the cottage by the side of the road. Owari’s troops kept closer. With a stifled breath, Dosan observed the walking style of the soldiers as well as their ranks. The sound of the troop steps followed by the pace of the pace. Dosan can not get his eyes out of sight before him. In the midst of the horsemen is a very gallant horse, with a gleaming muzzle. In a sumptuous saddle decorated with pearls, Nobunaga sits, his hands in purple and white bridles. He was chatting with his followers. “What is this?” Are words that come out of Dosan’s mouth. He looked astonished. Nobunaga’s appearance was unusual. Dosan had been told that the ruler of Owari used to be in strange clothes, but this was more than any story he had ever heard. Nobunaga swayed above the saddle. Her hair was in a condo and tied with a pale green ribbon. He was wearing a bright patterned cotton mantle with only one arm. Both the short sword and the long sword are decorated with sea shells and wrapped with holy rice straw. Seven or eight objects hung from his belt: a pouch, a small pumpkin, a medicine box, a fan, a horse carving, and some gems. Under a short cloak made of tiger skin and leopard, he wore a sparkling gold brocade. After Nobunaga had passed, Dosan’s followers had to force themselves not to laugh. Their faces showed how much they struggled to keep from laughing as they watched the ludicrous scene. “It’s finished?” Dosan asked. Then, “is that the end of the procession?” “Yes, that’s it.” “Have you noticed it?” “From afar.” “Hmmm, his appearance did not contradict the rumors circulating. His face is handsome and physical too, but here is something that is lacking. “Dosan said. Smiling smugly, he raised his finger to his head. Immediately, they went out the back door, then down a hidden shortcut to the temple. Just as the front row of Owari’s troops arrived at the front gate of the Shotokoji shrine, Saito Dosan and his followers sneaked through the back gate, acting as if nothing had happened. They changed clothes and headed for the main road. The gate of the temple has been filled with people, because all Mino people are gathered for official welcome, the main temple, the big hall, as well as the reception room are left empty.

XXX

Saito Dosan dismissed Nobunaga. “There is no reason for me to go to greet him.” He considers Nobunaga to be merely a son-in-law. There would be no problem if that was the only consideration. But Nobunaga is the ruler of a province, as well as Dosan, and his followers must assume that the meeting will be held between two equals. Even though Dosan is also Nobunaga’s father-in-law, would it not be more appropriate if their first meeting was held as a meeting between two provincial rulers? That is what comes to mind in the mind of Kasuga Tango, one of Dosan’s senior followers, and he asks it carefully. Dosan replied that it was not necessary. “You will join the meeting later. Make sure the seventeen hundred people in the corridor leading here march well. I think they’re ready there. Hide the experienced soldiers, and have them clear their throats as my son-in-law passes by. Prepare army bows and rifles in the yard. And tell him to put on an authoritative look.” There will be no better chance to show off the power of Mino and grab the ruler of Owari and his men, today.

Oda Clan Coat

Nobunaga was climbing the stairs at the main entrance. Around him were more than a hundred of Saito’s followers, ranging from elders to young samurai still in probation. They kneel side by side, bowing to the newly arrived guest. Her hair had been rearranged, instead of a leather tiger shirt and a leopard, she was dressed in a white silk robe emblazoned with gold thread embroidered in her margarine, beneath a purple unlined armor. His short sword was tucked behind his waist, while a long sword he carried in his right hand. His entire appearance resembles the man from the palace.

With no hesitation Nobunaga walked down the corridor, he looked left and right, then said aloud, “I feel awkward when I’m being escorted like this. I prefer to meet father-in-law alone. ”

Kasuga Tango greeted, while he was busy making small talk, Nobunaga hurried down the corridor, past people marching along the wall. He treated the soldiers as if they were just grass on the side of the road. After arriving at the welcoming room, he asked Tango, “Is this the place?”

“Yes, my lord.” He was still panting because he had to chase after Nobunaga.

Meeting between Saito Dosan and Nobunaga at Shotokuji Temple

Nobunaga nodded, then stepped inside. He calmly sat down, propped his back on a pole on the side of the room. He looked up as if admiring the paintings on the ceiling. In one corner of the room came a rustling sound as a man stood up. Dosan stepped out. He then sat in a higher position than Nobunaga. Nobunaga pretended not to notice, or rather, he pretended to be indifferent as he toyed with his fan. Dosan glances sideways. There is no provision on the ordinance of father-in-laws to speak with his son-in-law. He held herself silent. Tense atmosphere. Dosan’s eyebrows pierced the needle. Tango who could not resist the tension longer, close himself to Nobunaga and bend over until he reached the tatami. “The master who sits over there is Lord Saito Dosan. Will Lord Nobunaga address him?”

Nobunaga said, “Is that so?” Then pulled his back off the pillar and sat up straight. He bowed once and said, “We are Oda Nobunaga. We are happy to meet you.”Along with the change of attitude and greeting Nobunaga, Dosan’s attitude was softened. “We’ve been expecting this encounter. We are happy that long-delayed desires can come true.”

“We are happy to have a father-in-law who can be a place to learn. After all, today is a blessed day. We hope at the next meeting I can show the face of a grandchild.”

“With pleasure.” Dosan looked satisfied. He sighed with relief. The father-in-law and son-in-law raised the glass while praising each other. The rigid atmosphere at the beginning of the meeting now turned into a suave.

XXX

“Ah, I remember again!” Nobunaga suddenly said, as if something new had crossed his mind. “My lord Dosan, father-in-law. On the way here, I met a really strange man.”

“Strange how?”

“Hmm, he’s also an old man, and he’s peeking at the convoy from the window of the commoners’ shack. Although this is the first time I met my father-in-law, when I looked at father-in-law, hm .. Father-in-law very similar to that person. Is not this so strange?” Laughing, Nobunaga hid his mouth under a half-open fan.

Dosan paused, as if just swallowing a bitter drink. The guards of Dosan are immediately bathed in sweat. After the meal, Nobunaga said, “Ah, I’ve been too much trouble for my father-in-law. I wanted to cross the Hida and reach the place before the night. I excused myself.”

“Are you leaving now?” Dosan stood up. “I am reluctant to see you go, but I can not hold you either.” He himself must return to the fort before dark. The six-meter-long spear forest turned its back on the afternoon sun and headed eastward. Compared to them, Mino’s spear troops looked lethargic and lacking in enthusiasm.

“Ah, I do not want to live any longer. Someday my sons will beg to save lives in front of that moron! But there’s nothing to be done, “Dosan lamented to his followers, rocking in the stretcher.

XXX

The wise man will be drowned in ignorance if he considers his policy high, for the truth is not the wisdom of success but is tested by failures. Pain and soreness, above all that no one can match the value of sacrifice. No knowledge, no experience.

Baca juga Terjemahan Bahasa Indonesia

Posted in Fiction, History, International | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MEMAHAMI MAKNA PENISTA

Ketika 1918, Kasus Penistaan Agama, Umat Muslim Nusantara berdemo menuntut kasus penistaan agama di zaman Kolonial Belanda.

MEMAHAMI MAKNA PENISTA

Apakah nista dan dusta itu sebuah kata yang bersaudara? Mungkin masih kerabat dalam arti kata negatif. Sebab keduanya menunjukkan suatu perbuatan negatif serta melawan nilai-nilai positif. Tetapi keduanya tidaklah sama, sebab dusta dan nista bukanlah berasal dari bapak dan ibu yang sama secara bahasa.

Kita lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) seperti yang dirilis http://kbbi.web.id/nista sebagaimana berikut :

nista/nis·ta/a 1 hina; rendah: perbuatan itu sangat –; 2 tidak enak didengar: kata-kata –; 3 cak aib; cela; noda: — yang tidak terhapuskan lagi;

menista/me·nis·ta/ v menganggap nista; mencela;

menistakan/me·nis·ta·kan/ v menjadikan (menganggap) nista; menghinakan; merendahkan (derajat dan sebagainya): janganlah suka ~ orang lain karena bagi Tuhan manusia itu semuanya sama;

ternista/ter·nis·ta/ a dalam keadaan direndahkan, dihina, atau dicela: banyak tenaga kerja Indonesia ~ di negeri orang;

nistaan/nis·ta·an/ n cercaan; makian; perbuatan (perkataan dan sebagainya) untuk menista: ia lahir dan besar melalui ~ dan celaan;

penista/pe·nis·ta/ n orang yang menista(kan);

kenistaan/ke·nis·ta·an/ n hal nista.

Penistaan berasal dari kata dasar nista. Penistaan disusun dari kata dasar “nista” dan imbuhan peN- -an. PenN- disebut PeNasal- atau sebagian ahli bahasa menyebutnya imbuhan peng-.

Jika kata dasar “nista” merupakan adverbia, kata bentukan “penistaan” merupakan nomina. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia penistaan adalah proses, cara, perbuatan menistakan.

Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwa kata nista bersinonim dengan kata aib, cela, noda, dan hina. Dalam Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia Pusat Bahasa sinonim nista adalah hina. Dan jika kita rujuk kata hina maka yang menjadi sinonim adalah : aib, asfal, buruk, cacat, candal, cela, celaka, cemar, ceroboh, daif, dina, jelata, keji, kotor, lahay, lata, leceh, lemah, leta, lucah, mala, marhaen, murba, nista, rendah, roda, rucah, safil, terkutuk.

Semua kata di atas memiliki makna negatif, hanya saja penggunaannya berbeda-beda dalam konteks kalimat. Hanya saja penggunaannya berbeda-beda dalam konteks kalimat.

Kata “leceh” misalnya identik dengan kehormatan wanita. Contoh : Pelecehan terhadap wanita, jangan melecehkan perempuan, jangan melecehkan orang lain. Sedangkan kata “cemar” lebih sering digunakan dalam rangkaian dengan nama baik dan lingkungan. Misalnya : Dia dituduh melakukan pencemaran nama baik, telah terjadi pencemaran lingkungan di sekitar pantai. Sementara kata “nista” selalu identik dengan agama dan kepercayaan. Contoh : Pasal penistaan agama, Orang berdemo karena Ahok dianggap melakukan penistaan agama. Dalam kalimat tersebut tidak digunakan istilah “pencemaran agama”, “penghinaan agama”, “pencelaan agama” dan sebagainya. Penggunaan frase “penistaan agama” dalam kalimat tersebut sudah tepat.

Dalam Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia kata dasar nista yang menjadi kata dasar penistaan memiliki antonim : Mulia. Maka dari itu daripada saling menistakan, lebih baik mari saling memuliakan.

Posted in Asal Usil, Data dan Fakta | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MENCARI JURUS PENANGKAL FITNAH, SEBUAH JURNAL ILMIAH

Lingkar Kepala Orangutan secara umum lebih besar daripada manusia kebanyakan? Apakah itu yang menyebabkan mereka tak pernah menyebarkan fitnah?

MENCARI JURUS PENANGKAL FITNAH, SEBUAH JURNAL ILMIAH

Latar Belakang

Orang-orang mengatakan bentuk kepala seseorang berpengaruh pada kepintaran. Apakah itu benar? Banyak yang mengira memiliki kepala besar memiliki otak pintar, dan kepala kecil memiliki otak yang kurang pintar. Kepala yang besar memiliki kapasitas besar untuk penyimpanan otak, sebaliknya otak yang kecil memiliki kapasitas yang kecil untuk tempat otak. Ketika otak memiliki banyak ruang maka daya kerjanya akan meningkat dan lebih mudah mencerna informasi yang didapat. Benarkah?

Sejatinya otak hanyalah sebuah alat, seperti halnya sebatang pensil. Ya, sebatang pensil bisa menjadi apa saja, ia bisa menjadi alat penyuluh kebaikan. Namun ia pula bisa menjadi alat propaganda, ataupun membunuh sekalipun. Itu semua tergantung si pengguna. Ada lebih dari 32 cara membunuh menggunakan pensil. Di urutan pertama bukanlah menusuk lawan pada mata, kuping atau dubur. Melainkan fitnah.

Sebatang pensil juga bisa menuliskan kebaikan yang dibaliknya adalah kebohongan. Sesuatu hal palsu ditinggi-tinggikan. Tentu ada alasan mengapa seseorang/sekelompok membela perampokan. Pemutarbalikkan fakta itu perlu intergritas, untuk menolak mengakuinya.

Permainan opini adalah hal yang lumrah, seperti halnya kita semua (pencinta sepakbola) menerima kenyataan bahwa offside adalah ilmu pasti. Sedangkan pelanggaran dan penalti adalah interpretasi. Tidak semua orang setuju. Tapi orang bisa “diarahkan” untuk setuju atau tidak.

Perumusan Masalah

Pernah zaman ini mengharap Internet akan membawa pencerahan. Informasi makin sulit dimonopoli. Ketertutupan akan bocor. Dialog akan berlangsung seru. Yang salah diperhitungkan ialah bahwa media sosial yang hiruk-pikuk kini akhirnya hanya mempertemukan opini-opini yang saling mendukung. Yang salah diperkirakan ialah bahwa dalam banjir bandang informasi kini orang mudah bingung dan dengan cemas cenderung berpegang pada yang sudah siap: dogma, purbasangka yang menetap, dan takhayul modern, yaitu “teori” tentang adanya komplotan di balik semua kejadian.

Kini dusta dan manipulasi dilakukan tanpa peduli itu. Faktor yang baru dalam komunikasi politik yang sarat dusta kini adalah kecepatan. Teknologi, dengan Internet, membuat informasi dan disinformasi bertabrakan dengan langsung, dalam jumlah yang nyaris tak terhitung, menjangkau pendengar dan pembaca di ruang dan waktu yang nyaris tak terbatas. Bagaimana untuk membantah? Bagaimana memverifikasi?

Tak ada lagi Hakim dan Juri yang memutuskan dengan berwibawa mana yang benar dan yang tidak, mana yang fakta dan mana yang fantasi. Media, komunitas ilmu, peradilan: semua ikut kehilangan otoritas, semua layak diduga terlibat dalam orkestrasi dusta yang luas kini.

Ironisnya, berbondong-bondonglah orang menjadi corong kebohongan, para penyebar kebohongan ini, sayangnya adalah mereka yang berpendidikan. Tanpa pikir panjang, langsung berbagi. Ada banyak kasus lain, mereka membagikan dengan bangga. Oleh yang mengetahui, mereka ditertawakan, direndahkan. Namun mereka tak peduli, merasa ada di jalan kebenaran.

Tujuan

Otak manusia, secara fungsi sesederhana sebatang pensil. Sebuah alat paling sederhana, mungkin sedikit muluk ketika kita mengharapkan ia melahirkan sesuatu yang besar. Namun tak ada salahnya mencoba, mungkin diluar dugaan kita, mungkin dia bisa melahirkan jurus-jurus yang mampu meredam fitnah.

Baca. lihat dan rasakan. Asahlah logikamu sebaik mungkin.

Tinjauan

Oke baik, kita study kasus.

Dalam bukunya, Alam Pikiran Yunani jilid dua.  Dr. Mohammad Hatta mengatakan tentang aliran Sofisme. Sofisme asalnya dari kata “sophos” yang artinya cerdik pandai. Mulanya gelaran Sofis ditujukan kepada segala orang pandai sebagai ahli bahasa, ahli filsafat, ahli politik dan lain-lainnya. Orang tersebut karena pengetahuan dan kebijaksanaannya digelari Sofis. Tetapi lama kelamaan kata itu berubah artinya. Sofis menjadi gelaran bagi tiap-tiap orang yang pandai memutar lidah, pandai bermain dan bersilat dengan kata-kata.

Pada umumnya filsafat mengarahkan pembahasan serta penyelidikan ilmiahnya kepada alam jagat raya atau kosmos, dengan lahirnya aliran sofisme maka filsafat dibelokkan pengarahannya kepada alam manusiawi, kepada kemauan, kepada cita-cita, kepada perasaan, dan kepada pengetahuan yang semestinya dimiliki tiap-tiap manusia. Dengan demikian maka dalam dunia filsafat lahir aliran tentang ethic kesusilaan.

Mohammad Hatta menilai secara kritis aliran sofisme, sungguh pun kaum Sofis selalu mempersoalkan sikap hidup namun mereka tak sanggup menetapkan dasar apa yang harus menjadi pegangan hidup. Mereka tidak dapat menemukan dasar umum yang harus berlaku bagi setiap orang, disebabkan karena tiap-tiap guru sofisme mengajarkan ukuran atau normanya sendiri-sendiri. Masing-masing mengemukakan pahamnya sendiri dengan tiada mau menimbang paham orang lain. Kecuali kalau tidak hendak membantah. Pahamnya sendiri tidak pula tetap, berubah-ubah dari waktu ke waktu. Tak ada yang tetap, kata mereka, semuanya senantiasa dalam perubahan. Sebab itu sikap manusia perlu pula berubah-ubah. Dengan pendirian semacam itu tiap-tiap perubahan pikiran tentang sesuatunya dapat dipertahankan dengan mengatakan bahwa keadaan telah berubah. Semua berubah, dan kita mengikuti.

Kaum Sofis tidak ada yang sama pendiriannya tentang sesuatu masalah. Mereka hanya sependirian dalam hal meniadakan, dalam pendirian yang negatif. Pokok ajarannya ialah bahwa “kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai”. Tiap-tiap guru Sofis mengemukakan ini sebagai pokok pendirian. Oleh karena kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai, maka tiap-tiap pendirian boleh benar dan boleh salah menurut pandangan manusia. Tiap guru Sofis mengajar orang menaruh syak akan buah pikiran orang lain. Sebaliknya pula ia mengajar orang mempertahankan tiap-tiap pendirian. Apa yang dipertahankan kemarin, sekarang boleh dibatalkan. Kebenaran hanya sementara. Oleh sebab “kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai”, maka tiap-tiap pendirian boleh dibenarkan. Buat sementara ia benar. Sebab itu pula tidak ada ukuran yang tetap tentang benar dan tidak benar, tentang baik dan buruk. Sebagai kelanjutan pendapat ini, hilanglah perbedaan antara benar dan salah, antara baik dan jahat.

Pemuda-pemuda Athena pada masa ini dipimpin oleh doktrin relatifisme dari kaum sophis Maka munculah Socrates. Seorang penganut moral yang absolut dan meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yang berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan.

Socrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari pengalaman sehari-hari akan tetapi, ada perbedaan yang sangat penting antara sophis dan Socrates. Socrates tidak menyetujui relafisme kaum sophis.

Menurut pendapat Socrates ada kebenaran obyektif yang tidak bergantung pada diri kita sendiri untuk membuktikan adanya kebenaran yang obyektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan dan menganalisis pendapat-pendapat

Bagi Socrates prinsip politik juga mendasarkan pada etika yang ia simpulkan kebijakan adalah pengetahuan.

Mengenai kontribusinya yang lain, Socrates mengajarkan bahwa terdapat prinsip-prinsip moralitas yang tidak berubah dan universal yang terdapat pada hukum-hukum dan tradisi-tradisi yang beragam di berbagai belahan dunia. Dia menegaskan bahwa norma-norma kebenaran itu bebas dari dan penting untuk opini individu. Ketika para Shopis menyatakan bahwa hukum tidak lain kecuali konvensi yang muncul demi kemaslahatan dan bahwa kebenaran adalah apa yang dianggap benar individu. Socrates menjawab bahwa terdapat kerajaan alam yang supra_manusiawi yang peraturannya mengikat seluruh rakyatnya. Socrates mendasarkan pada hukum tersebut pada akal, konsepsi ini secara formal menjadi bagian dari pemikiran filosofis

Doktrin politik Socrates bahwa “kebijakan adalah pengetahuan” merupakan dasar bagi pemikiran politiknya mengenai Negara. Inilah salah satu pandangan politik Socrates dan amat penting dan belakangan berpengaruh terhadap pandangan politik muridnya, Plato.

Meskipun Socrates tidak menuliskan banyak hal tentang yang berkaitan dengan pandangan-pandangan politiknya, tetapi kita dapat mendapatkan informasinya dari para muridnya dan lawan diskusinya.

Kita tahu bahwa dalam cerita ini Socrates adalah sang medioker (dipaksa minum racun), sedang kaum Sophis (yang memungut bayaran) adalah pemenang. Sejarah berhenti, dan opini dapat dibentuk, ketika itu. Akan tetapi, sejarah membuktikan bahwa Socrates adalah yang benar, bahwa sebatang pensil yang rapuh itu tetap menjadi suluh meskipun peradaban Yunani kuno sudah lama berakhir.

Pertanyaan kenapa? Mungkin karena Socrates menyuarakan suara kebenaran, yang meski kalah tapi tak sia-sia. Ia tak dapat dibeli.

Di zaman modern, tempat berita hoax terbesar adalah di Facebook. Tak hanya di Indonesia, di Negara lain, seperti halnya Amerika Serikat dan Inggris. Bahkan di Inggris, Facebook sampai harus menghapus sepuluh ribuan akun karena ditenggarai terlibat dalam kampanye penyebaran berita Hoax (Selasa, 9 Mei 2017). Menurut rilis yang dikeluarkan, Facebook tak tinggal diam melihatnya maraknya peredaran berita palsu. Raksasa media sosial ini pun mengambil langkah tegas. Belajar dari pengalaman, munculnya referendum “British Exit” dikatakan tak lepas dari kencangnya berita palsu ketika itu.

Mark Zuckerberg, CEO Facebook, bahkan telah mengumumkan kalau layanannya merekrut setidaknya 3 ribu orang yang akan khusus ditugaskan untuk menangani “sisi gelap” dari platform besutannya.

Apakah pabrikasi berita hoax diciptakan oleh orang bodoh? Tentu tidak itu semua diciptakan dan dikelola para jenius, namun disebarkan oleh mereka yang terperangkap dalam kebodohan. Hoax dikembangkan dan didistribusikan untuk meraih kekuatan Force Power (Kekuatan) yang di dalamnya terkait dengan upaya meraih Man Power (Pengikut Setia), Media Handling (Penguasaan Media) dan tentunya Money (Kemampuan Uang).

Secara umum Force Power (kekuatan) adalah penjumlahan dari Man Power (Pengikut Setia) + Media Handling (Penguasaan Media) + Money (Kemampuan Uang). Untuk menyederhanakan kita susun sebuah rumus sederhana : FP = MP+MH+M

Setiap penambahan variabel independen (MM, MH, M) maka akan memperkuat variabel dependen (FP). Ditinjau dari variabel independen lagi maka, semakin ke kiri adalah semakin kuat. Sebagai contoh Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama selalu mampu bertahan dalam setiap perkembangan zaman. Akan tetapi, variabel kanan lebih memiliki kemampuan untuk menarik variabel kiri. Uang mampu membangun media (secara instan), kemudian mempengaruhi orang banyak untuk menjadi pengikutnya. Tidak percaya? Lihatlah Harry Tanoe dan Surya Paloh yang membangun partai untuk meraih massa. Sebuah usaha yang bagus bukan?

Ternyata FP sendiri tidak benar-benar merupakan variabel dependen. Ia mampu menginjeksi MP, MH dan M. Tidak percaya? Coba bandingkan kekayaan Soeharto, Megawati dan SBY sebelum dan sesudah berkuasa, disitu ada peningkatan besar-besaran di bidang M. Soekarno menikmati peningkatan MP. Tapi dalam kasus Gus Dur dan Habibie tidak ada peningkatan signifikan apa-apa. Menarik, sangat menarik dikaji.

Kenapa menarik? Coba perhatikan ada satu variabel yang ternyata hanya menjadi katalisator yaitu MH. Dia tidak menjadi tujuan, melainkan hanyalah alat. Sebatang pensil, disitulah penelitian ini akan berfokus. “Kekuatan sebatang pensil” dimana pertempuran intelektual sebenar-benarnya terjadi.

Sebatang pensil itu adalah kita. Sepanjang hidup kita di atas bumi ini, kita semua mempunyai pilihan. Melakukan berbagai cara secara medioker, atau dengan cara yang diajarkan oleh Machiavelli.

Sulit menjadi seorang Machiavelli, tentu kita harus menjadi seorang politikus kawakan. Abaikan, pilihan 99% pembaca termasuk penulis adalah menjadi medioker. Kenapa? Gampang saja kita membiarkan dorongan-dorongan manusiawi membimbing kita. Secara garis besar kita malu pada kekuasaan dan kekuatan serta manipulasi. Jadilah kita sebagai pengikut saja.

Saya tidak berharap kita-kita menjadi martir seperti Socrates, seorang pahlawan. Malanglah sebuah bangsa yang membutuhkan pahlawan, bangsa besar digerakkan oleh orang-orang sederhana dan bersahaja, dengan langkah biasa-biasa saja.

Tapi bagaimana caranya? Baiklah, menurut ilmu yang terbatas yang dimiliki mencoba membagi jurus penangkal fitnah.

  1. Ketika menerima satu kabar, periksa dengan logika terlebih dahulu. Pastikan kebenarannya, jangan langsung dikabarkan. Tentu yang menyebarkan sesuatu yang ia dengar bukanlah pembohong. Ia berkata benar, mengatakan apa yang di dengarkan. Tapi ia hanya menjadi sejenis microphone, atau corong fitnah semata. Inilah kaum yang paling mudah diperalat tim think thank hoax;
  2. Ketika menerima kabar, setelah dipastikan kebenarannya. Jangan keburu disebarkan, bisa jadi itu adalah aib seseorang. Menyangkut pribadi dan memalukan. Anda akan menjadi penyebar kebenaran tapi dengan reputasi pemakan bangkai, menyebarkan aib orang lain;
  3. Metode paling kuno, reputasi. Ketika menerima pandapat dari dua sumber berbeda pastikan reputasi yang memberi kabar (Kalau bisa). Baru-baru ini seorang teman mengeluh dia telah berinvestasi bisnis dengan uang kepada sesorang sebesar 50 juta tapi tak dikembalikan. Walau telah 2 tahun lamanya. Ia merasa menyesal telah mengabaikan kata-kata seorang teman bereputasi baik yang telah mengingatkannya, alih-alih dia malas percaya rayuan pulau kelapa seorang yang tak jelas reputasinya. Jangan abaikan saran orang-orang baik.

Allah SWT melalui Al-Quran memberi kita manual book yang jelas, Al Hujarat : 6.  “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar desas-desus yang tidak jelas asal-usulnya. Kadang dari suatu peristiwa kecil, tetapi dalam pemberitaannya, peristiwa itu begitu besar atau sebaliknya. Terkadang juga berita itu menyangkut kehormatan seorang muslim. Bahkan tidak jarang, sebuah rumah tangga menjadi retak, hanya karena sebuah berita yang belum tentu benar. Bagaimanakah sikap kita terhadap berita yang bersumber dari orang yang belum kita ketahui kejujurannya?

Ingat dalam ayat tersebut tidak menyalahkan kefasikan lawan bicara, bukan. Tapi lebih daripada berita yang disampaikan. Itulah yang dinamakan Tabayyun. Memastikan kebenaran itu sendiri, dengan apa?

Sebenarnya apa alat mental paling penting apa yang bisa dimiliki seseorang? Apakah kebulatan tekad? Mungkin kebulatan tekad akan terbukti berguna dalam hidup manusia, tapi bukan. Tapi yang dimaksud alat apa yang diperlukan untuk memilih tindakan terbaik dalam situasi apapun. Kebulatan tekad umum dimiliki di antara orang-orang bodoh dan lambat, juga di antara mereka yang cerdas dan cemerlang. Jadi, bukan, kebulatan tekad bukanlah yang kita cari.

Apakah kebijaksanaan? Bukankah kebijaksanaan alat yang sangat berguna bila dimiliki seseorang. Kebijaksanaan cukup bagus, tapi bukan. Jawabannya adalah logika. Atau, dengan kata lain, kemampuan berpendapat secara analisis. Kalau diterapkan dengan benar, logika bisa mengatasi kurangnya kebijakan, yang hanya bisa diperoleh melalui usia dan pengalaman.

Tapi bukankah memiliki hati yang baik lebih penting daripada logika? Logika murni bisa menyebabkan saya bisa mendapatkan kesimpulan yang secara moral salah, sedang jika saya bermoral jujur, dipastikan saya tidak mengambil tindakan memalukan.

Jika kau memilih hati yang baik maka kau salah memahami permasalahannya. Yang ingin kita ketahui adalah alat yang paling berguna yang bisa dimiliki seseorang, terlepas dia baik atau jahat. Kita semua setuju memiliki sifat baik sangat penting, tapi penulis yakin jika kau harus memilih antara memberi penawaran mulia pada seseorang atau mengajari berpikir jernih. Maka kau akan lebih memilih mengajarinya berpikir jernih. Terlalu banyak masalah di dunia ini disebabkan orang-orang yang memiliki tujuan baik tapi dari benak yang salah.

Sejarah memberi kita puluhan contoh orang-orang yakin mereka benar dan melakukan kejahatan mengerikan karenanya. Ingatlah, muridku, bahwa tidak ada yang menganggap dirinya penjahat, dan hanya yang sedikit orang yang mengambil keputusan yang menurut mereka salah. Seseorang mungkin tidak menyukai pilihannya, tapi ia akan mempertahankannya karena, bahkan dalam kondisi terburuk, ia percaya itulah pilihan terbaik yang tersedia baginya waktu itu.

Kalau dianalisis secara terpisah, menjadi orang yang lebih baik bukanlah jaminan kau akan bertindak dengan baik, yang mengembalikan kita pada perlindungan yang kita miliki terhadap para penipu, siasat licik bahkan kesintingan orang banyak, dan pembimbing kita menjalani kehidupan yang tidak pasti, pikiran jelas dan beralasan. Logika tidak pernah mengecewakan dirimu, kecuali kau tidak menyadari, atau sengaja mengabaikan konsekuensi tindakanmu.

Tapi bukankah ketika semua orang logis, maka semua manusia pasti akan sepaham tentang tindakan yang harus diambil? Itu jarang, kenapa? Seperti setiap kelompok orang, kami mengikuti banyak sekali aturan yang bermacam-macam dan, akibatnya, kami sering mencapai kesimpulan yang bertentangan, bahkan dalam situasi yang sama. Kesimpulan, kalau boleh penulis tambahkan, yang masuk akal dari sudut pandang semua orang. Dan sekalipun penulis menginginkan yang sebaliknya, tidak semua guru melatih pikirannya dengan benar.

Maka bagaimana cara belajar logika yang terbaik? Jika banyak orang salah? Dengan metode paling tua dan efektif, bertanya. Bertanya disini tidak hanya pada manusia, tapi kepada buku, alam, dan mengamati. Observasi dan pembuktian ilmiah. Seperti ketika para atronom awal membuktikan bahwa bumi itu bulat kepada mereka yang percaya bahwa bumi itu datar.

Kesimpulan

  1. Meskipun tidak ada hubungannya antara lingkar otak dengan Asahlah logika dalam keadaan apa saja, tingkatkan pengetahuan dan pelajari sejarah. Lihat, dengar dan rasakan sebagai pengalaman sehingga menjadi pribadi yang lebih baik;
  2. Kritislah terhadap berita yang kita baca. Berita hoax biasanya diberi judul mentereng, dalam banyak kasus berita yang dibagi telah dipelintir sehingga berbeda maksud. Ingatlah, berita karangan biasanya dibuat untuk keuntungan pribadi seseorang atau golongan tertentu;
  3. Agama mengajarkan kita untuk bersikap adil, meskipun dalam keadaan marah. Asahlah ketenangan jiwa sehingga tidak teradu domba oleh mereka yang ingin mengambil keuntungan semata-mata.

Saran

  1. Ketika sekolah kita diajarkan hukum Newton, simak hukum ketiga : Untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang besar dan berlawanan arah, atau gaya dari dua benda pada satu sama besar dan berlawanan arah. Di media sosial, aksi itu bahkan menjadi berlipat ganda dengan reaksi “berlebihan” Tahan diri sampai menemukan kebenaran;
  2. Jadilah pensil yang menyuarakan kebenaran, suluh dunia. Dengan beradab tentunya, dengan santun sekaligus Meski itu hanya lilin kecil yang rentan ditiup angin. Lupakan sejenak FP = MP+MH+M. Dan jadilah manusia merdeka namun bertanggungjawab.

Daftar Pustaka

Alam Pikiran Yunani; Mohammad Hatta; Penerbit Tinta Mas Jakarta; Cetakan pertama 1959.

Dragon Dialog; tengkuputeh.com

Para Penyebar Kebohongan; tengkuputeh.com

What Would Machiavelli Do? Tujuan Menghalalkan Segala Cara; Stanley Bing; PT Gramedia Penerbit Utama Jakarta; Cetakan kedua Desember 2004

Posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RADIKALISME YANG TAK AKAN PERNAH MATI

Kemurnian niat, ketika membantu orang. Itu adalah harta berharga bagi Indonesia. Itulah Radikalisme yang sesungguhnya, membantu tanpa mengharapkan materi.

RADIKALISME YANG TAK AKAN PERNAH MATI

“Sebutkan 32 cara membunuh menggunakan pensil?”

Abu tersentak, waktu itu lewat jam 2 pagi ketika mentor bertanya. Di antara kantuk dan kesal Abu menjawab sekenanya, seraya mencoba melucu. “Tusuk duburnya!” Abu tertawa, teman-teman lain tertawa juga. Suasana mengantuk berubah menjadi ceria.

“Breet…” Tiba-tiba muka Abu dipenuhi bubur kacang hijau. Sang Mentor marah dan kesal. Materi dihentikan. Kami dibubarkan dan disuruh tidur, 2 jam lagi sahur.

Seminggu sebelumnya.

Banda Aceh tahun 2000. Adalah tahun yang indah dikenang, namun pahit untuk diulang. Saat itu Abu masih kelas 2 SMU (Sekarang SMA). Aceh sedang bergolak panas, setiap anak muda Aceh yang menghabiskan masa remaja di tahun-tahun itu pasti paham, cukup sulit menjadi remaja waktu itu. Baru dua tahun, Paduka Yang Mulia Soeharto turun tahta setelah berkuasa 32 tahun lamanya. Setahun sebelumnya, 1999 Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia. Gus Dur naik menjadi presiden, ada secercah harapan, namun harapan tinggal harapan belaka. Aceh tak kunjung damai.

Bulan Ramadhan tahun 2000 diawali dengan datangnya banjir besar. PLN seperti biasa memadamkan listrik total sekota. Disela-sela menguras lumpur dari rumah, Abu mendapat telepon (untung Telkom tidak mematikan jaringan) dari teman sebangku, Aulia Black.

“Abu, bagaimana kalau kamu mengikuti LBT (Leadership Basic Training) PII (Pelajar Islam Indonesia.” Tanyanya.

Abu tidak tertarik, apa pula PII? Abu pikir sejenis pesantren kilat yang kerap dibuat sekolah untuk mengisi waktu libur Ramadhan. Apa menariknya?

“Ayolah Abu, PII itu terkenal dengan anggota perempuannya yang cantik-cantik, tambahnya.”

Abu terkesiap, daripada menguras lumpur terus di rumah, dan PLN yang baik hati mematikan listrik terus, tak kunjung tampak hilalnya kapan menyalakan. Atau disuruh memetik cabe di kebun Sibreh, atau disuruh menjual kacang panjang di Pasar Inspres Ketapang (Yang mana Abu memakai caping besar, supaya tidak terlihat oleh teman-teman sekolah, malu coy). Lebih baik Abu kabur dari rumah dengan alasan mengikuti PII. Apalagi kata si Black, anggotanya cantik-cantik. Tolong Tuan dan Nyonya, mohon jangan salahkan libido masa muda Abu.

Maka bergabunglah Abu bersama 30-an peserta LBT PII lainnya, di MTsN 1 (Sekarang MTsN Model) Banda Aceh. Benar saja, siangnya dipenuhi dengan kajian Tauhid, Fiqh, Quran Hadist. Daripada menguras lumpur di rumah, disini lebih baik. Dan ternyata si Black benar, anggota perempuan yang mengikuti cantik-cantik.

Abu pikir setelah shalat Tarawih berjamaah, saatnya untuk tidur. Rupanya tidak, ada materi yang lebih dalam lagi, ideologi. Belajar disambung sampai menjelang sahur, waktu tidur yang diberikan hanya sebentar. Kampret kutuk Abu.

Setelah mengikuti acara PII tersebut Abu baru sadar, ini bukan sekedar pesantren kilat.  Dari sisi kelompok Islam, tahun 2000 adalah tahun penuh kewaspadaan. Wacana Gus Dur menghapus pelarangan Komunisme menimbulkan kecurigaan besar kepada beliau. Belum lagi PII waktu itu memiliki lawan yang secara ideologis kiri, PRD dan Forkot.

PII sendiri adalah organisasi yang dibubarkan oleh Paduka Yang Mulia Soeharto tahun 1984, dengan alasan menolak azas tunggal Pancasila. PII bertahan di bawah tanah, menyuarakan diskriminasi rezim tersebut terhadap umat islam. Terutama pelarangan menggunakan jilbab di sekolah, sehubungan saat itu Aceh masih bernama Daerah Istimewa Aceh yang mana pelarangan itu tidak berlaku, wajar kami tidak tahu.

Menurut Abu, terlalu lama berada di gerakan bawah tanah membuat organisasi ini waspada. Sekaligus mudah disusupi oleh mereka yang bermuka manis. HMI adalah yang paling kentara, beberapa mentornya secara transparan menyarankan bergabung dengan HMI kelak dikemudian hari, yang “katanya” lebih halus.

“Bang Akbar Tanjung kirim salam” beberapa kali terdengar.

Atau yang paling sering adalah, “dari Yordania Bapak Prabowo kirim salam, beliau prihatin dengan kondisi umat Islam Indonesia.” Jujur Abu katakan, apa yang diteriakkan oleh tim sukses Prabowo di pemilu presiden tahun 2014 lalu, adalah sama dengan yang Abu dengar tahun 2000.

Logika Abu tumpang tindih, bukannya Akbar Tanjung itu ketua Golkar (waktu itu) yang bukannya mesin politik Soeharto. Atau Prabowo adalah menantunya. Ada yang bermain dibelakang smiling Jenderal, tapi apa urusan. Abu malas ribut.

Tapi tak selamanya Abu hanya diam. Ketika idola Abu, Muhammad Hatta disalahkan atas tidak berlakunya Piagam Jakarta, Abu protes keras. Itulah pertama kali Abu bentrok argument dengan mentor. Kedepan Abu memolakan, bahwa mentor yang membawa nama organisasi lain, atau golongan pemuda lainnya adalah bangsat! Tapi Abu respek kepada mentor yang murni lahir dan berakar dari PII sendiri. Lha, organisasi ini tidak punya pilihan, digencet Soeharto bagaikan tikus got. Setiap uluran tangan sangat berharga. Abu beri kode, setiap tokoh masyarakat atau pemuda yang mengaku anggota PII ketika ada perlunya, dan lebih mempopuler baju yang dikenakannya (organisasi lain) adalah penipu. Contohnya, seperti…, akh sudahlah tak usah disebut.

Karena tidak bisa menjaga mulut, maka terkenallah Abu sebagai pemimpin pemberontak. Di hari-hari awal waktu berbuka puasa kami hanya di beri nasi dengan kuah bening. Mungkin sahur lebih baik pikir Abu awalnya, ternyata sama juga. Tidurpun dibatasi, diatas meja sekolah. Beberapa kawan berencana memesan makanan sahur yang lebih baik. Dengan memesan mie pada ibu kantin yang selama Ramadhan berjualan panganan untuk berbuka. Abu diajak juga, tabiat Abu yang sedikit nakal, cekikikan, dan mengatakan, “aku ikut!” Malangnya kami ketahuan! Dan Abu didakwa sebagai pimpinan, maka  sial, Abu disidang paling keras. Lebih tolol lagi, Abu tidak tahu siapa pimpinannya (Lha, siapa), sikap Abu yang sepele malah membuat Abu menjadi pesakitan disitu.

Allah Maha bijaksana dalam menentukan takdir. Karena Abu “dianggap” sebagai pimpinan pemberontakan, kemudian Abu lebih dihormati mentor. Dan oleh kawan-kawan seperjuangan “pesan mie” Abu dianggap sebagai seorang gentleman yang menjaga rahasia teman-teman, dan rela menanggung semuanya, maka Abu dianggap bagai saudara dekat. Padahal itu semua lahir dari ketololan Abu!

Setelah LBT PII selesai. Dalam sebuah rapat PII, Abu diminta bicara untuk merencanakan LBT berikutnya. Bermaksud melucu, Abu berbicara dengan gaya mengejek panitia sebelumnya. Maksud Abu bercanda, tapi candaan Abu berbuah kursi pimpinan panitia LBT PII. Ya Allah, dalam kondisi apapun, betapa berbahayanya ketika Abu berbicara di forum. Kejadian ini berulang ketika pemilihan ketua ITSAR (Ikatan Alumni STAN) di Lhokseumawe. Lagi-lagi Abu menjadi ketua. Huff.

Mungkin Allah SWT menganugerahkan kepercayaan diri yang berlebihan kepada Abu, ketika akhirnya Abu berkata, “kita buat LBT yang lebih baik!” Ternyata ketika Abu menjabat baru sadar betapa sulit menjadi Ketua. Apalagi di sebuah organisasi yang tidak menganut struktur baku seperti aparat Negara. Kita tidak menggaji orang, jadi dalam menyuruh orang tidak boleh sekeras bos kantor. Acara LBT PII berikut sukses, tapi Abu kecapekan, seminggu bergadang di bulan puasa. Ternyata memang mengkritik lebih mudah daripada melaksanakan.

Akhir-akhir ini, pihak Islam diserang, terutama media asing sebagai sarang radikalisme. Sebenarnya menurut Abu sebagai orang yang pernah hidup di alam tersebut itu tidak memiliki alasan yang cukup logis. Ingat terorisme masuk Indonesia melalui dokter Azahari, yang notabene warga Malaysia.

Tahun 2001, terjadi demonstrasi besar di SMUN 3 (sekarang SMAN 3) Banda Aceh, menolak kenaikan SPP (Uang sekolah) dari Rp. 6.000,- menjadi Rp. 12.000,- perbulan. Waktu awal mula inisiasi demo Abu diundang, dan secara tegas menolak. Abu adalah seorang anak guru, tahu betapa sulitnya anggaran pendidikan tahun-tahun itu. Kenaikan uang sekolah itu ditujukan bagi kesejahteraan guru, uang makan dan les. Bagi Abu yang waktu itu berjajan Rp. 3.000,- perhari kenaikan itu tidak masalah. Ada kutuk sebagai pendukung rezim zalim, atau pengecut pada Abu, tapi Abu tak bergeming. Allah yang berhak menilai niat Abu, apalah dia manusia.

Dan demo terjadi, beberapa kader PII terlibat, bahkan pentolan. Guru-guru merasa terhina, dan membalas balik, itu wajar. Abu tidak tahu kenapa dipanggil ke ruang wakil kepala sekolah untuk mempertanggungjawabkan tindakan demo tersebut, secara organisasi Abu bukan pemimpin PK (Pengurus Komisariat) tingkat sekolah, mungkin karena organisasi ini bersifat underground maka tidak diketahui pasti siapa ketuanya.

Abu kembali di sidang. Bodohnya Abu, tidak ingat siapa Ketua PK PII waktu itu. Menjelang UAN dan SPMB Abu sibuk sendiri, atau diwaktu senggang main ludo. Jadi tidak bisa menunjuk nama ketua sebenarnya, yang kemudian Abu ketahui juga sebenarnya tidak terlibat dalam demo tersebut.

Maka Abu pasrah ketika diminta menandatangani beberapa lembar dokumen, apa jadinya kalau dikeluarkan dari sekolah dengan UAN yang hitungan minggu. Abu terlalu takut untuk membaca langsung tanda tangan. Jadi Abu tidak pernah tahu apa yang telah ditandatangani. Tapi Abu selamat, tidak dikeluarkan dari sekolah. Pimpinan demo telah diketahui oleh guru, dia yang dikeluarkan.

Beberapa teman sekelas Abu yang juga anggota PII menganggu Abu, mereka bilang dokumen yang Abu tandatangani adalah pembubaran PII PK SMUN 3 Banda Aceh, karena terlalu malu sampai hari ini Abu tidak pernah mengeceknya. Setelah itu Abu menarik diri dan lebih memilih berkiprah di tingkat kampung. Dengan melibatkan diri dengan remaja masjid, atau TPA saja.

Abu berterima kasih kepada PII, karena pelatihan LBT PII selama seminggu telah mengajarkan banyak hal, terutama public speaking. Kemampuan menguasai podium serta tidak merasa inferior jika berhadapan dengan siapapun. Itu adalah hal-hal yang Abu bawa sepanjang hidup hasil dari pembelajaran bersama PII. Ada banyak hal baik jika bergabung dengan organisasi Islam, paling utama adalah kami-kami diajarkan kemurnian niat, ketika membantu orang. Itu adalah harta berharga bagi Indonesia. Itulah Radikalisme yang sesungguhnya, membantu tanpa mengharapkan materi.

Mungkin organisasi Islam terlihat bengal, terutama bagi yang tak mengenal. Tapi perlu diselami pola pikir dasar kami. Selama masa penjajahan Belanda, tidak ada organisasi yang lebih digencet selain Islam. Snouck Hurgronye menyarankan dalam Islamie Politie kepada pemerintah Hindia Belanda, matikan Islam sebagai politik. Sayangnya, disadari (atau tidak) Orde Lama dan Orde Baru juga melakukan hal yang sama.

Abu penah berbicara dengan seorang petinggi Hizbut Tahrir Indonesia di Aceh, dimana kami berbicara dari hati ke hati. Meskipun Abu tidak setuju dengan sikap mereka menolak demokrasi, Abu menghargai pilihan mereka. Tidak ada niat untuk makar, tidak ada niat untuk meninggalkan Indonesia, dan tidak ada niat untuk menjadikan Indonesia menjadi Arab Saudi. Mereka adalah orang-orang yang mencintai negeri ini dengan cara berbeda, dengan pandangan berbeda. Mereka adalah orang-orang baik teman-teman Abu lainnya.

Abu menyesalkan pembubaran HTI, selaku teman dalam Islam. Terlepas segala rewel dan nyinyirnya mereka, perlu kita sadari mereka adalah bagian dari bangsa yang besar ini, Indonesia. Saya mohon kepada pemerintah di era reformasi, tinggalkan cara berpikir pemerintah kolonial Belanda, atau turunannya Orde Lama dan Orde Baru. Rangkul mereka, selaku kaum yang termarjinal. Selaku pribadi Abu dalam banyak hal tidak sepaham dengan HTI, bukan membela mereka. Tapi selaku bagian dari komunitas besar umat Islam Indonesia, ketika sebuah organisasi Islam dibubarkan, ada perasaan sakit. Perasaannya sama seperti melihat teman yang bandel sewaktu sekolah, dikeluarkan. Ada simpati mendalam disana.

Islam sendiri adalah rumah yang ramah, yang hijau. Ketika ketika memiliki masalah yang tak terselesaikan, kemanakah kita hendak mengadu? Kemanakah kita menuntut keadilan yang mungkin sulit dicapai di dunia ini. Hanya kepada Allah S.W.T semata.

Posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

AGAINST TRADITION IS ACTUALLY VERY OLD TRADITION

War is a Papuan tradition

AGAINST TRADITION IS ACTUALLY VERY OLD TRADITION

People often say that tradition hinders progress. Actually, the human is wrong. No one can escape the past. If young people oppose it, it is also part of the tradition.

People who are firm in tradition are called conservatives, reactionaries or rightists. Tradition is “ancient”. Traditional discomfort, according to the sociologist Edward Shils (United States), is caused by the opinions of people trapped in the rules, and the pattern of roles prescribed by society, can not develop. In other words, everyone must break free of tradition and find oneself. Sounds good but it’s not possible. No one can break free from tradition, which is a hereditary, including norms, attitudes and language, knowledge, music, fashion and even monuments, buildings and landscapes, machines and so on. Tradition does not need to be old, although in general young traditions, for example, appear in school.

The difference between developed and developing countries is that in certain tribes, tradition is part of the world. People who do not live according to tradition will disrupt society. Others are the case with developed countries. Most people there regard tradition as a brake for progress. This opinion is often true.

That is what happened until the 16th century. The writings in the holy book and the work of Greek and Roman scientists are regarded as absolute truth. No one is trying to research it. Perhaps it is due to the teachings of Aristotle (384-322 BC). According to Aristotle, people will not get smarter by doing experiments. One can know the secrets of nature by philosophizing.

In the field of medicine, the most famous Greek scholar is Hippocrates (4th century BC). His theory was developed by another Greek philosopher, Galenus (2nd century AD) who lived in Rome. According to Hippocrates, in a healthy body, there is a balance between four body fluids namely black and white bile, mucus and blood. People get sick if the fluid balance is disturbed. That’s where the habit of shedding the blood of sick people.

Tradition and progress

Ignaz Semmelweis (1818-1865) had to fight hard to end the unsterile state of medicine in the 19th century

Tradition hampers progress. This is evident, among other things, when the obstetrician, Semmelweis, was opposed all out. Ignaz Semmelweis (1818-1865) worked the Vienna hospital. He is very worried about the women who died after giving birth. The amount is quite a lot. He understands that the cause is cleanliness. Because the doctors who just check the corpse, immediately work in the midwifery without washing hands. Semmelweis ordered that everyone who worked in the previous section should disinfect his hands. The regulation decreased the presentation of his clinical death from 12.24 to 1.27. The idea of Semmelweis is opposed. Probably because it is envy or against tradition. The regulation was generally accepted twenty-five years after Semmelweis died.

The struggle in the field of astronomy was even more difficult. In Europe, people once clung to the scriptures. People who dare to say that the Earth around the Sun will be punished as infidels. According to tradition, Earth is the center of the universe.

The art of sculpture in Egypt was made in the same form for at least ten centuries.

The culmination of attachment to ancient traditions is ancient Egypt. For thousands of years, Egypt has not changed. The basis of Egyptian culture has been laid down since the time of the pre-postal period ie before the pharaohs. (3200 BC). Household goods, sculptures, swords, buildings, and paintings show style equations, making them easily recognizable.

Nazi image art (Germany) mimics a folklore symbol characterized by well-built and blond people, typical of ancient times.

There is also a culture that looks back, in Roman times, people wanted to return to the violence and purity of the Republic. While the Italian humanists of the 15th century consider the ancient Greeks as the ideal society.

In the science-fiction films depicts the state far ahead. Generally, there are always elements of Roman, Greek or Egyptian. For example clothing. Movie stores generally wear Roman toga and helmets like Tutankamon’s headgear.

The first car made by Karl Benz resembles a horse-drawn carriage

We can be anti-traditions, even laugh at the traditional ones. But in fact, the 19th-century car is similar to a horse-drawn carriage, because its maker is a carriage maker who can not break away from tradition. Even the most revolutionary developments in engineering can not escape from tradition, that is, knowledge and research gained before.

But if we stick to tradition and do not make changes, then our progress will be too late. It is not the fault of tradition, but our own stiffness. Sticking to tradition or mocking traditions, as well as very old traditions.

Terjemahan Bahasa Indonesia

Posted in History, International, Opinion | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA

Lukisan Cut Mutia, Desa Beuringen Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara.

OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA

Boleh tidak kita melupakan sejenak kontroversi penerbitan uang pecahan Rp. 1.000,- dengan gambar Pahlawan Nasional Cut Meutia berhijab atau tidak? Patut diingat bahwa kita tidak memiliki foto otentik Cut Meutia, bahkan lukisan beliau yang ada di (replikasi) rumah beliau di jalan Desa Beuringen Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, adalah berdasarkan ingatan keluarga. Mungkin para pembaca perlu tahu, bahwa pada masa penjajahan Belanda hampir semua perempuan Aceh menolak di foto. Adapun beberapa foto perempuan yang berhasil diabadikan oleh Belanda adalah mereka yang dalam keadaan tertangkap atau tertawan. Dan Cut Meutia lebih dahulu wafat dalam perjuangannya sebelum sempat difoto oleh Belanda.

Penjelasan BI gambar Cut Meutia di uang pecahan Rp.1000,-

Kepahlawanan Cut Meutia diperoleh dengan harga yang mahal, nyawa beliau. Ada kisah tragis yang mungkin kita belum lihat kembali, sebuah kisah dimana selaku anak bangsa ini, meneteskan air mata ketika membacanya. Kisah terbunuhnya Cut Meutia di tangan Belanda pada 25 Oktober 1910 di Pucok Krueng Keureuto, Aceh Utara.

Rute pengejaran pasukan Belanda terhadap Cut Meutia

Berikut laporan Sersan Mosselman, seorang pemimpin brigade terkenal dalam perang gerilya, sejak tanggal 22 Oktober 1910 ditugaskan membuntuti jejak sebuah pasukan kawanan yang disinyalir di Lhok Reuhat dan pada hari ketiga ia menemukan sebuah jejak yang masih baru di anak sungai Krueng Peutoe, sungguh pihak lawan telah berusaha melenyapkannya.

“… Semakin jauh ke hulu, dasar sungai semakin melebar, keadaannya semakin berat dan agung. Gundukan batu-batu gunung semakin bertambah-tambah dan lebih banyak dijumpai air-air terjunkecil setinggi beberapa meter, batu-batu selicin kaca tempat air mengalir terus dinaiki dengan menyandang karaben dan peralatan-peralatan lainnya. Sesudah mendaki sejurus lamanya dan sambil menunggu teman-teman sepasukan dengan mengamati seluruh keadaan disekitarnya, maka kira-kira jam 4 sore, tidak jauh di depan saya, terlihatlah oleh saya kepulan asap bergulung-gulung di udara di antara pohon-pohon kayu. Lagi-lagi bulu kudukku berdiri, suatu tanda yang dialami manusia, jika ia sedang mengalami bahaya.

Saya berusaha mempertahankan semangat anak-anak buahku dan maju terus ke muka. Apa yang tertinggal padaku adalah anggota-anggota pilihan. Akan tetapi sunggu sukar untuk memperoleh suatu prestasi kekuatan seperti demikian. Hanya marsose Manado Mahamit, nrp 68750 dan marsose Jawa Tarmin, nrp 71065, seorang anak buahku dari Malang yang sangat gesit sajalah yang bersembunyi di balik batu besar, lalu memutar badanku dan setiap anggota marsose yang mendaki dapat melihat isyarat yang kuberikan.

Mereka yang berbahaya, pasukan Marsose. Kebanggaan Belanda, mereka adalah bawahan yang mumpuni.

Setelah kami berkumpul saya perintahkan anggota-anggota pasukan untuk melepaskan ransel mereka. Ketika saya hendak merayap ke dalam hutan untuk dapat melihat medan denga lebih jelas sehingga dapat mengambil jalan terbaik jika hendak melakukan pengintaian atau penyergapan, tiba-tiba seorang anggota pasukanku berseeru: “Di situ!” Pada arah yang disebut kira-kira 200 meter dari kami terlihat orang Aceh sedang berlari-lari ke sebuah alur. Kami tidak mungkin untuk melakukan penyergapan dan hanya kecepatan sajalah yang dapat memberikan suaru sukses. “Serbu…!” Dalam waktu secepat kilat berlarilah ke tujuh kami ke depan, ke sebuah alur tempat orang tadi melarikan diri. Walaupun jatuh bangun di atas batu-batu namun kami terus juga maju ke muka dan baru berhenti pada sebuah anak alur. Pada jarak lebih kurang 150 meter dari muara sebuah alur kami temui sebuah pondok yang sedang diperbuat dalam keadaaan ditinggalkan beserta perbekalan-perbekalannya. Saya meraung-raung, namun tidak diperoleh yang mampu mengikuti aku. Sama-sama kami tiba di pondok dan bertiga menyerbu ke dalamnya. Sesudah berlari sejauh 200 meter sampailah kami pada sebuah pengkolaj alur yang tajam dan berhadapan dengan beberapa orang lawan, kira-kira 30 meter yang sedang berusahan menyeberangi alur. Mamahit yang berada di depan sesekali menunjuk kepada seorang tua yang dipapah oleh tiga orang hendak melarikan diri ke dalam hutan. Ia melepaskan tembakan kearah orang tua itu yang tepat mengenai sasaranya lalu roboh.

Segera berkecamuk tembak-menembak. Kami bertiga ditembaki dengan gencar dari arah yang dekat sekali, dari tepi alur, dari hutan, dari segenap penjuru. Seketika pandangan kami bertiga bertemu, sungguh gila, bahwa pada saat-saat seperti itu kami sama-sama perlu memandang satu sama lain. Aku berpikir, (kemudian berkata juga Tarmin dan Mamahit apa yang mereka pikirkan itu), bahwa saat terakhir sudah tiba bagi kami. Ternyata betul-betul kami memperoleh sukses besar. Aku melompat ke dalam air di pengkolan alur, sedang di belakang kami terbentang dinding bukit yang curam. Kami berdiri di dalam air sampai ke perut atau secara harfiah, dengan punggung kami bersandar pada dinding.

Kami betul-betul sudah kepayahan dan melepaskan tembakan seperti semburan air ikan paus. Hampir-hampir kami tidak dapat menembak. Peluru lawan bertaburan di depan kami dalam air yang menciut-ciut mengenai dinding bukit di belakang kami, semuanya meleset, tetapi tembakan kami pun demikian juga. Dalam keadaan terengah-engah tidaklah mungkin untuk melepaskan tembakan yang tepat. Pendeknya kami harus tenang dulu, untuk melakukan penyerbuan pun tidak mungkin karena saya tahu benar, bahwa kami kini berada ditengah-tengah pasukan lawan. Karenanya kami harus berusaha di tempat ini, jika kami terkena peluru lawan, untuk menjual nyawa kami dengan harga semahal-mahalnya.

Pihak lawan tampaknya masih panik. Kami merasa beruntung karena sudah dapat menenangkan diri sebelum mereka sempat menyerbu kami.

Isyarat menyerbu diberikan oleh seorang wanita bertubuh ramping, berwajah putih kuning dengan rambut terurai mengayunkan kelewangnya seraya berteriak-teriak yang secara tiba-tiba menyerbu dari hutan. Ia tersungkur ke bawah seperti halnya beberapa orang pemuda lainnya yang mengikuti jejaknya akibat tembakan yang mengenai kepalanya ketika ia menyerbu sampai beberapa meter di depan kami.

Bunyi tembakan bergemuruh lagi, bahkan lebih dasyat dari semula. Aku merasakan, bahwa pihak lawan bertambah dekat dengan kami. Sungguh suatu hal yang kritis sama sekali sedang aku masih belum melihat salah satu anggota pasukan kami. Kemudian mereka menyangsikan tempat kejadian yang sebenarnya, walaupun terdengar bunyi tembakan dengan begitu riuhnya! Ketika mula-mula terdengar bunyi tembakan yang dasyat ke punggung penembak-penembak lawan. Itu adalah taktik! Dan sungguh, sekiranya mereka muncul seperti tetesan air, satu-satu di alur, tentulah kurang menarik perhatian, maka sudah dapat dipastikan kejadiaannya, bahwa kami semua tinggal nama saja.

Kami bertiga memaki-maki dalam tiga bahasa. Mahamit merepet-repet dengan logat Manadonya. Dari mulut Tarmin di antara bahasa Jawa yang “medok” itu berkali-kali saya mendengar perkataan “asu” dan “celeng” pada setiap meletus tembakan. Bunyi tembakan menyerupai musik gemuruh di telinga kami dan tiba-tiba, agak serong di depan kami, di celah-celah letusan tembakan itu, terdengarlah terikan orang : “Maju, hantam marsose!” Pihak lawan menyangka, bahwa mereka telah dikepung. Bukankah tidak masuk akal, bahwa kumpeni mengirimkan tiga orang marsose jauh ke pedalaman.

Letusan tembakan agak terhenti kedengarannya. Zikir “Allah il Allah” lambat-lambat terdengar lesu dan tiba-tiba kami berlima bersama Wakary dan Sinkey yang melompat dari tepi alur yang ditumbuhi semak belukar ke dasar alur, menyerbu ke dalam hutan di depan kami yang saya duga tempat lawan bersembunyi.

Di hadapan kami terbaring seorang laki-laki tua yang tadinya dipapah teman-temannya terkena peluru kami. Dari balik batu-batu besar melompatlah dua orang pemuda gesit ke depan. Masing-masing mereka melindungi tubuh laki-laki tua itu dengan badan mereka sambil menghunus kelewang dan rencong di tangan. Kedua mereka terpaksa di bacok dengan kelewang. Ketika saya melangkahinya saya melihat, bahwa lelaki tua itu telah meninggal. Ia terbaring di tanah dalam keadaan tak bergerak tanpa memperdulikan hal-hal yang yang terjadi terhadap dirinya. Sesaat saya melihat senjatanya yang disalut emas, senjata “bawar” yang seterkenal itu dan tiba-tiba terlintas di kepalaku, bahwa tentulah ia seorang keramat. Hal ini dibuktikan oleh pengorbanan kedua orang pemuda itu yang benar-benar menghadapi maut secara pahlawan.

Kami belum waktunya untuk beristirahat dan terus melakukan penyerbuan ke dalam hutan. Penembak-penembak lawan pasti tidak akan menunggu kami. Hanya seseorang telah merekam kami dengan kelewang dari balik batang kayu. Saya melihat sebuah tahi lalat besar dekat hidungnya, perasaan ngeri timbul padaku ketika kelewang saya melayang ke lehernya.

W.J Mosselman

Selagi saya menceritakan kejadian ini sekarang saya merasakan seolah-olah itu baru kemarin saya alami kendatipun sudah berlalu 27 tahun yang lampau. Saya masih melihat rupa wanita putih kuning itu dengan wajahnya yang cerdas, didorong oleh perasaannya yang menyala-nyala untuk tewas sebagai seorang syahid. Dengan mata yang liar dan rambut terurai di kepalanya, yang mengayunkan kelewang menyerbu kami. Apakah ia sudah jemu dari pelariannya? Apakah tindakannya itu, demikian terpikir oleh saya kemudian ketika mengetahui siapa dia, demi membela puteranya? Kami sama sekali tidak melihat puteranya, pemuda-pemuda yang mengusung orang tua keramat tadi dengan matanya yang tidak bersinar lagi (Ulama tersebut kemudian teridentifikasi sebagai Tengku Seupot Mata) adalah anggota-anggota lawan termuda.

Untuk seseorang mungkin sesekali tidak ada batas penderitaan yang dapat ditanggungnya, tetapi ada penderitaan yang mau ditanggungnya. Suaminya yang kedua telah dihukum mati, yang ketiga (Pang Nanggroe) tertembak pula, pengejaran yang tak henti-hentinya ditujukan kepadanya, suatu penderitaan yang dasyat sekali dalam kehidupannya, terus menerus melarikan diri, mungkin sekali oleh karena nasibnya membuntutinya, terlintas dalam pikirannya : “Sudah ditakdirkan Allah” Segala puja dan puji bagiNya, yang telah menentukan masaNya dan dengan izinNya pula telah menjadikan saya sebagai penyebab syahidnya itu.

Oleh karena itu bukanlah suatu kepastian, bahwa wanita itu membeli matinya dengan keyakinan akan bertemu dengan mereka yang telah mendahuluinya? Baik dia maupun Pang Nanggroe adalah orang-orang yang tidak kenal, apa yang dikatakan kemudiam, “mel” (=Melapor)! Mereka yang muda-muda akan bercerita kemudian di meunasah-meunasah, bahwa mereka telah syahid tahun 1910…”

Laporan W.J Mosselman ini (tahun 1937) tercatat pada buku Aceh (1938), H.C Zentgraff yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Aboe Bakar (1983) Halaman 227-231.

Gugurnya Cut Meutia dan ulama Tengku Seupot Mata hanya merupakan sebuah masa istirahat dalam babak peperangan. Pihak pemerintah kolonial Belanda menyadari akan tetap ada perlawanan dari masyarakat Aceh terhadap pemerintah kolonial, walaupun setelah Cut Meutia perlawanan Aceh hanyalah bersifat sporadis dan kecil. Belanda tidak pernah tenang berkuasa di Aceh bahkan sampai mereka angkat kaki selama-lamanya dari bumi Serambi Mekkah di tahun 1942.

XXX

Tulisan terkait MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA

Saksikan kedatangan tim tengkuputeh traveler ke rumah Cut Meutia pada video ini

Posted in Cuplikan Sejarah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN

Papan nama jalan Pocut Baren dari arah Peunayong

MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN

Di kota Banda Aceh, ada sebuah jalan yang menghubungkan Peunayong dengan Jambotape. Terkenal sebagai pusat perdagangan komputer / elektronik. Jalan Pocut Baren. Siapakah dia? Mungkin kita tidak menemukan namanya dalam daftar pahlawan nasional Republik Indonesia, sehingga sedikit merasa asing. Mengapa namanya ditabalkan menjadi nama sebuah jalan?

Peta Google Jalan Pocut Baren di Kota Banda Aceh

Sejarah Aceh sendiri mengenal “wanita-wanita agung” yang telah memainkan peranan besar dalam politik dan peperangan, kadangkala seorang ratu ataupun istri uleebalang yang berpengaruh. Salah satunya adalah Pocut Baren yang sangat terkenal (pengakuan Belanda). Berikut kesaksian H.C. Zentgraaff seorang pelaku pentas perang kolonial Belanda di Aceh dan pensiun selaku juru tulis. Ia mengalami perang tersebut, kelak ia menjadi redaktur beberapa surat kabar.

Pocut Baren.

Di pantai Barat Aceh terdapat tidak banyak wanita yang telah memainkan peranan istimewa seperti yang telah dilakukan oleh Pocut Baren. Dewasa ini (Sekitar tahun 1930-an) yang memberi kemungkinan orang pergi kemana-mana menggunakan mobil, letak daerah itu tidak seberapa jauh, akan tetapi tiga puluh tahun lalu, letak Tungkop itu benar-benar jauh di pedalaman, di daerah Woyla hulu. Ia merupakan sebagian dari Federasi Kawai XII yang didalamnya termasuk juga Pameu, Geumpang, Tangse, Anoe dan Ara dari nama-namanya orang segera dapat mengetahui, bahwa tempat-tempat itu terletak di pusat pegunungan.

Foto Pocut Baren
Sumber : Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.

Pocut Baren adalah puteri Teuku Cut Amat, keluarganya sudah sekian lama turun-temurun menjadi uleebalang di Tungkop dan sudah meninggal suaminya yang diikutinya dalam peperangan (melawan Belanda), maka dialah yang berhak menjadi Uleebalang Keujreun Gume.

Demikianlah ia hidup bertahun-tahun lamanya dalam peperangan, silih berganti dengan masa-masa damai yang tak pernah lama di daerah pedalaman yang pada waktu itu belum lagi didatangi Kumpeni. Baginya permainan perang-perangan itu tetap merupakan hal yang menyenangkan yang sewaktu-waktu dapat dihentikannya jika ia merasa jemu karenanya.

Masa baik itu berakhir ketika marsose memulai pembersihan di pantai Barat Aceh yang merupakan pekerjaan yang sungguh-sungguh tidak menyenangkan dengan penjatuhan hukuman-hukuman serta penyerbuan-penyerbuan. Namun Pocut Baren menerima resikonya dan ia melakukan perlawanan sebagaimana mestinya, selayaknya seorang pria yang kuat.

Ia seorang wanita yang selalu diiringi oleh pengawal, terdiri dari lebih kurang tiga puluh orang. Ia selalu memakai peudeng tajam (=pedang tajam), sejenis kelewang bengkok, mirip pedang Turki yang sangat terkenal di pantai Barat Aceh.

Pada suatu hari sebuah patroli di Kuala Bhee yang pimpin oleh Letnan Hoogers mengetahui tempat persembunyiaannya di gunung, pada kesempatan itu Pocut memperoleh tembakan pada bahagian kakinya. Ia masih hidup, tetapi disebabkan kurangnya perawatan, kakinya lambat laut membusuk sehingga mematahkan semangat tempurnya, akhirnya ia berdamai. Dengan segera ia diberikan perawatan medis, tapi infeksinya sudah parah sehingga harus dilakukan amputasi yang untungnya berhasil dengan baik.

Pada masa itulah berubah semangatnya, dendamnya terhadap Kompeni berubah menjadi terima kasih yang diperlihatkannya secara terang-terangan. Sebagai seorang wanita “jantan” ia tak ingin menyembunyikan perasaannya itu. Kepada Veltman ia berkata : “Kalaulah saya mengenal tuan lebih dahulu, tentulah saya tidak kehilangan kakiku”

Veltman menghormati wataknya yang bijaksana itu, ia berhasil mengadakan usaha-usaha sehingga wanita itu dapat diangkat sebagai Uleebalang Tungkop. Ia bukanlah wanita pertama yang memerintah di Aceh, sebelumnya berabad-abad lalu telah ada ratu-ratu yang mengendalikan pemerintahan, dan tak kalah hebatnya dengan pria dan Pocut Baren merupakan pengganti pria.

Veltman menyediakan lagi sebuah hadiah yang amat menggembirakan wanita itu. Pada suatu hari tibalah di Meulaboh sebuah kiriman barang dari negeri Belanda yang berisikan kaki kayu untuk Pocut. Ia dibalut dengan kulit untuk “mencegah gangguan cacing” seperti yang dikatakan oleh para perwira. Para pembaca tentulah dapat membayangkan betapa senangnya hatinya ketika pertama kali ia memakainya. Kadang-kadang ia memakai pada upacara-upacara resmi, Pocut menganggap sebagai suatu kewajiban pula Kompeni yang telah menembak kaki seseorang untuk menggantikannya kaki yang lain.

Ia tak selalu memakain kaki kayunya itu, karena agak menyakiti lututnya. Sebab itu ia didukung oleh salah satu pegawainya. Pemakaian kaki kayunya yang setepat-tepatnya mungkin sekali pada saat ia memukul seorang laki-laki di kampungnya yang berlaku tidak pantas kepadanya. Begitulah Pocut Baren menampakkan dirinya di kampung-kampung. Ia memperhatikan setiap rakyatnya yang malas dan para pencuri takut kepadanya.

Kehadirannya dalam suatu kampung secara tidak disangka-sangka oleh penduduknya, kadang-kadang merupakan bom yang berbahaya. Ia memerintahkan rakyatnya supaya mengerjakan sawah-sawah mereka dengan baik, tetapi di samping itu ia memarahi setiap orang malas dan setiap laki-laki menaruh hormat kepadanya tak kurang dari kepada seorang uleebalang pria.

Sewaktu Scheurleer, memegang komando dan menjalankan pemerintahan sipil di bivak Tanoh Merah, Pocut telah melaksanakan segala daya upayanya untuk menciptakan ketentraman di dalam wilayahnya. Karena Woyla Hulu termasuk salah satu wilayah yang masih sulit keadaannya.

Jika ia berada di rumahnya dan memikirkan hal-hal pada masa-masa lalu dan masa sekarang dalam penghidupannya yang lincah itu, maka kadang-kadang mengalirlah darah pujangganya lebih cepat dari pada arus sungai Woyla, pantun-pantunya yang popular dan mengesankan belum dilupakan orang.

 

“Ie Krueng Woya ceukot likat

Engkot jilumpat jisangka ie tuba

Seungap di yub, sengap di rambat

Meuruboh Barat buka suara

 

Bukon sayang itek di kapai

Jitimoh bulee ka sion sapeue

Bukon sayang biliek kutinggai

Teumpat kutido siang dan malam”

 

Yang berarti kira-kira :

 

“Air sungai Woyla keruh pekat

Ikan melompat sangkanya air tuba

Di luar senyap, di bilik pun senyap

Dapatlah kita berkata-kata

 

Sungguh sayang itik di kapal

Aneka ragam warna bulunya

Sungguh sayang kutinggalkan bilikku

Tempat kutidur siang dan malam”

 

Bertahun-tahun lamanya ia hidup secara satria, dengan atau tanpa kaki kayunya. Akhirnya ia kawin lagi dengan seorang laki-laki biasa dalam daerahnya. Laki-laki itu masih hidup sampai sekarang (1938) dengan gelar Teuku Muda Rasyib (sebelum kawin dengan Pocut ia bernama Rasyib saja). Saya (H.C Zentgraff) pernah melihatnya sebentar di Pantai Barat Aceh, akan tetapi tidak memiliki waktu untuk menanyakan tentang kaki kayu istrinya itu.

Lelaki itu tampaknya tak berarti sama sekali dengan sikapnya yang tunduk dan bungkuk serta tertawa hormat, seolah-olah isyarat pernyataan maaf yang hendak diberikannya atas kehadirannya itu. Saya dapat membayangkan bagaimana kira-kira keadaannya jika Pocut marah bila suaminya itu sempat melihat kearah kaki kayunya.

Wanita itu meninggal tahun 1933 (Menurut laporan politik Gubernur Aceh O.M Goedhart selama pertengahan 1928. Pocut Baren meninggal tanggal 12 Maret 1928. Zentgraff keliru mencatat tahun 1933) Nama wanita itu meninggalkan kenangan bagi seorang wanita di pantai Barat Aceh yang paling cakap dan penuh vitalitas dari semua wanita yang ada di daerah itu.

Referensi :

Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.

Posted in Cuplikan Sejarah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment