LANSKAP MASA DEPAN

Menjelang maghrib, mega-mega merah telah bermunculan di angkasa.

Menjelang maghrib, mega-mega merah telah bermunculan di angkasa.

Kain jendela masih bergoyang

Dan gubuk tua ini

Seakan menjadi saksi

Waktu yang berjalan

Senja datang membara

Tapi tidak membelah

Mungkinkah malam membawa damai

Aku masih disini menanti dan terus menanti

Banda Aceh, 16 Juni 2001

XXX

Hidup bukan putaran roulette. Setiap keputusan kita punya arti. Ketika kita membuat keputusan, disitulah kita mengubah dunia. Tiap tahun adalah ruang terbuka, kita akan mengisinya, dan kelak, mempertanggungjawabkan segala laku kita.

Suatu sore tahun 2001, diliputi rasa cemas karena tak mampu memperkirakan masa depan dengan agak akurat, karena ia bukan ilmu pasti. Abu sebagaimana orang yang kesulitan memahami trigonometri dan segala turunannya (Logaritma, Integral, diffrensial), serta membenci bedebah kembar bernama persamaan kuadrat dan pertidaksamaan kuadrat. Aritmatika saja sulit dipahami apalagi yang tak pasti yaitu bagaimana besok? Tapi Tuhan sore itu tersenyum, Abu mencorat-coret buku latihan matematika dan lahirlah sebuah puisi (diatas).

Akh, betapa waktu itu betapa mudahnya Abu membuat puisi, bahkan sempat diterbitkan sekitar lima puisi oleh koran lokal. Syukurlah di tahun 2007 Abu sempat mengetik kembali puisi-puisi zaman itu pada laptop Acer Aspire yang (baru) dibeli. Ketika millennium baru datang, Abu (seperti) kehilangan kemampuan membuat hal-hal sederhana menjadi syair lagi, sangat disayangkan oleh Abu sendiri. Puisi bagaimanapun adalah sarana melembutkan hati.

Tahun 2001 adalah tahun yang tidak jelas arahnya kemana. Terutama warga sipil yang tinggal di Aceh. Saat itu, dalam perang, kami selaku sipil (harus) memperlihatkan keberanian untuk menanggung penderitaan lebih berat daripada pihak-pihak yang bertikai langsung. Berjuang dan berusaha bertahan hidup, orang-orang yang mengalami trauma, kehilangan dan berduka, terjepit di antara dua kekuatan yang saling membenci. Masa-masa itu, ketika berada di jalan dan pasar ramai, Abu (sebagai pelajar) tak akan banyak tahu, siapa yang meninggal dan siapa yang masih hidup sampai besok.

Perang tidak (pernah) terlalu buruk bagi pemerintah, karena mereka tidak terluka atau terbunuh seperti orang biasa. Sinis? Memang ini sebuah konsep sejarah yang rumit, manusia saling terhubung, cerita orang yang diseret dengan motor di malam hari, meraung-raung minta ampun. Atau mayat di lemparkan dijalan, seperti kotoran, setelah dimutilasi untuk ditemukan pelajar ketika hendak ke sekolah besoknya. Bagi orang yang tak mendapatkan pelatihan militer, atau tak ingin menjadi tentara kejadian seperti itu membuat otak menjadi syok, mengunci trauma di tempat yang memproses emosi, dan itu tidak baik bagi siapapun.

Abu sedang tak ingin menceritakan kisah tragis yang menggugah, apa lagi membuat merenung. Pada suatu sore kami kami sekumpulan pemuda kampung bermain di lapangan sepakbola, tiba-tiba terdengar rentetan senjata, tembak menembak. Teet..Teet..Teet suara senapan AK 47 milik GAM bersambut Tuum..Tuum..Tuum suara magazine M16 milik TNI. Di lapangan itu, kami semua kaku, mendingin, timah-timah panas bisa saja menembus tubuh kami, sungguh kami pernah menyaksikan betapa rapuhnya tubuh manusia jika diterjang peluru. Satu kawan Abu terkencing di celana, tiada yang tertawa akibat suasana mencekam. Sempat Abu pikir, disitulah ajal akan menjemput. Kami semua pasrah.

Tiba-tiba seorang kawan Abu yang lain, seorang dengan kemampuan bahasa Indonesia sangat terbatas menjerit keras. “Teman-teman semua jangan bodoh, meratap semuanya!” Serentak kami (semua) tiarap di tanah. Setengah jam kemudian kontak senjata mereda, kami bergegas pulang ke rumah tapi dengan suasana ceria. Banyolan macam apa ini? Ketika seseorang tak tahu perbedaan kata antara meratap dan tiarap. Tapi disitulah kami semua memahami bahwa hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang dinamakan manusia. Kelak di kemudian hari lapangan tempat kami bermain itu dijadikan perumahan. Anehnya, nama jalannya tetap bernama jalan lapangan.

Sebuah sore di tahun 2019. Abu berjogging sepulang kantor, melewati lapangan itu. Abu terdiam, teringat dan mengenang, bukan hendak menegakkan kembali masa lampau, kami pernah hanya bermain, menjalankan ritus. Lanskap sebuah lapangan yang hidup dan hiruk, bahkan semasa perang. Saat-saat itu bukan secuil suatu zaman, atau mungkin sebuah periode, saat itu sejarah luruh. Mungkin itulah yang membuat Abu mencintai sepakbola, ketika buramnya keadaan tak membuat gelak tawa hilang dari wajah-wajah belia kami, itu semua karena sepakbola.

Menjelang maghrib, mega-mega merah telah bermunculan di angkasa. Abu melihat pemandangan disebelah rumah Abu, dari lantai dua, belum berubah dari tiga puluh tahun yang lalu. Seberapakah tangguh ia menghadapi masa depan?

Disitulah Abu menyambut kesendirian, kedamaian yang dialami sekarang. Ketidakhadiran suara-suara, termasuk suara sendiri. Hanya burung-burung pulang menuju Barat. Semua menjadi alunan nina bobo yang selama sementara (bisa) menghapus rasa takut menghadapi masa depan.

Matahari sedang terbenam di belakang lengan panjang sisi barat pengunungan bukit barisan. Matahari masih bersinar di langit, tapi ada bayang-bayang panjang yang menjulur, puing-puing kelabu mulai jatuh dalam kegelapan. Yah, menghadapi masa depan, Abu (sebenarnya) takut. Lanskap masa depan yang (sungguh) berkabut. Azan Maghrib belum juga datang, Abu merasa sangat sendirian.

Baca juga :KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Advertisements
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MENAFSIR ALAM MEMBACA MASA DEPAN

Manusia senantiasa was-was dengan masa depan. Nenek moyang kita mengamati gerak-gerik benda langit dengan mata untuk mencoba meramalkan musim, cuaca dan iklim.

Manusia senantiasa was-was dengan masa depan. Nenek moyang kita mengamati gerak-gerik benda langit dengan mata untuk mencoba meramalkan musim, cuaca dan iklim.

Ilmu Membaca Masa Depan

Ilmu apa yang paling mahal di dunia saat ini? Para pengiat dunia maya mungkin akan mengatakan ilmu SEO, atau sebagai bagian dari komunitas Negara berkembang bisa saja kita berkata tekhnologi. Atau masing-masing ahli boleh mengemukakan pendapat ini dan itu. Tapi sebenarnya pengetahuan yang paling berharga adalah memprediksi masa depan. Kenapa kemampuan membaca, memperkirakan masa depan menjadi sangat berharga?

Tahun 1995 AltaVista (kelak dialihkan menjadi Yahoo!) masih sebagai mesin pencari web terbaik, tahun 1998 Google lahir dan merekalah penguasa dunia maya saat ini. Atau siapa sangka sistem operasi canggih Symbian milik Nokia diawal 2000-an bisa hancur oleh android? Apa itu android? Bukannya istrinya Kuririn? Android No.18.

Milenium ketiga datang, generasi alpha pun hadir. Mereka kelahiran millennium ini (mungkin) hanya mengenal smartphone. Tidak telepon umum, tidak kartu telepon, tidak pula wartel. Harus diakui merekalah pemilik zaman ini, sedang kami generasi Lupus ini hanyalah penyintas. Makhluk asing sebagaimana kami sebagai pecinta musik aliran Peterpan melihat orang-orang tua penggemar Pance atau Broery dulunya. Masih ada mereka? Tak kira sudah punah semua.

Membaca zaman, membaca masa depan adalah sebuah ilmu memahami manusia. Mengerti  orang lain (atau sekumpulan orang) adalah kemampuan menafsir alam. Manusia sebagai makhluk tentunya adalah bagian dari alam semesta yang maha besar ini.

Ketika berbicara masa depan, mengapa harus mendengarkan kisah masa lalu?

Manusia senantiasa was-was dengan masa depan. Nenek moyang kita mengamati gerak-gerik benda langit dengan mata untuk mencoba meramalkan musim, cuaca dan iklim. Sesuatu yang penting pada zaman itu untuk diketahui apabila ingin bercocok tanam, berlayar atau memahami panjang tahun. Ilmu Falak (Astronomi) berkembang karena hal-hal itu.

Pada zaman pasar modal atau pasar uang sekarang berbagai alat diciptakan, rumus dirumuskan untuk mengetahui kapan harga saham naik/turun, kapan harus membeli/menjual komoditi atau valas. Ramalan atau prediksi bergulir terus menerus untuk hal apapun, bahkan untuk skor akhir sebuah pertandingan sepakbola. Mengetahui sesuatu kejadian terlebih dulu adalah hasrat terdalam kita, mencuri rahasia langit adalah kepuasan tak terpermanai.

Maka manusia mencari. Ada percaya dengan hal-hal mistis, primbon, membaca garis tangan, mediasi. Atau membaca kecenderungan sejarah yang katanya selalu berulang.  Memang sejarah kerap berulang, tapi ingat hanya polanya saja sama. Tidak ada peristiwa berulang persis dua kali. Kecenderungan memang ada, tapi sepenuhnya masa depan adalah lorong yang berkabut.

Bisakah kita membaca masa depan?

Prediksi atau ramalan adalah hal yang bisa benar bisa meleset. Tapi jika dipikir hidup ini bukanlah usaha untuk mencari “kebahagiaan tanpa akhir” tapi hidup adalah perjalanan yang dimana kita (selalu) berbuat benar sekaligus menyenangkan. Menyimpan cerita-cerita memilukan, memalukan sekaligus membahagiakan, membanggakan dalam hati (saja). Hidup tak cuma kata-kata dalam bahasa, di tiap saat, yang diam, yang bisu, selalu menunggu (mati).

Beberapa opini:

  1. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  2. Membeli Kebijaksanaan; 22 Juli 2017;
  3. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  4. Asal Muasal Budaya Kopi Di Aceh; 1 Agustus 2017;
  5. Melukis Sejarah; 10 Agustus 2017;
  6. Sepak Terjang Partai Komunis Indonesia Di Aceh; 21 September 2017;
  7. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  8. Dimanakah Makam Para Ratu Yang Pernah Memerintah Aceh Selama 59 Tahun; 6 Oktober 2017;
  9. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  10. Eksploitasi Sumber Daya Alam Apakah Bagus Untuk Aceh; 15 Oktober 2017;
  11. Perlukah Kita Menjaga Makam-Makam Warisan Penjajah Kolonial Belanda di Kherkoff Peucut Banda Aceh; 11 November 2017;
  12. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  13. Peranan Lembaga Tuha Peuet Dalam Lembaga Masyarakat Aceh Pada Masa Lampau; 5 Mei 2018;
  14. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  15. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

ROMAN LEBURNJA KERATON ATJEH

LEBURJA KERATON ATJEH; oleh A. MIALA (nama samaran dari A.G. MUTYARA); Cetakan Pertama; Penerbit Toko Buku Syarkawi; Kota Medan; Tahun 1949.

LEBURJA KERATON ATJEH; oleh A. MIALA (nama samaran dari A.G. MUTYARA); Cetakan Pertama; Penerbit Toko Buku Syarkawi; Kota Medan; Tahun 1949.

Catatan Sejarah Runtuhnya Istana Kesultanan Aceh Darussalam

Hari itu, Kamis pukul 12 siang, 24 Januari 1874. Belanda menyerbu ke dalam. Belanda memperoleh kemenangan atas Keraton Aceh setelah rakyat dan tentara Aceh bertahan 10 hari dalam padang peperangan yang sempit, untuk melindungi jarak antara pangkalan musuh dengan keraton yang hanya berjarak 100 meter saja. Hari itu adalah hari leburnya keraton Aceh.

LEBURJA KERATON ATJEH; oleh A. MIALA (nama samaran dari A.G. MUTYARA); Cetakan Pertama; Penerbit Toko Buku Syarkawi; Kota Medan; Tahun 1949.

Free Download Roman LEBURNYA KERATON ACEH

Dapat diunduh disini : Leburnja Keraton Atjeh -A.Miala-1949

Sinopsis Roman LEBURNYA KERATON ACEH

“Darahnya berhamburan, melaut dilantai.

Sekejap itu jua, dua letusan senapan berbunyi, peluru menembus dada srikandi muda itu. Badannya lemah lunglai, ia jatuh keatas dada kekasihnya, tempat ia mencurahkan suara jiwanya selama ini. Sesaat kemudian, menderum pula letusan untuk menamatkan pahlawan Panglima Muda Ali dari sejarah hidupnya. Dua tubuh yang berlumur darah terkapar dilantai istana.

Melihat peristiwa yang mengandung pilu itu berlalulah Teuku Amat dari ruangan tersebut keluar keraton sambil membawa hati yang remuk redam. Ia berjalan dengan langkah gontai, di bawah cahaya bulan sabit 5 Zulhijjah 1290 Hijriah dipimpin oleh jiwa yang remuk terharu, arah ke selatan, makin lama makin jauh hingga hilang dalam pandangan orang. Setelah ia jauh sayup-sayup sampai, dilenggongkan matanya lagi ke belakang, seakan-akan mencurahkan isi hatinya yang penghabisan, tetapi wajauhnya tidak terang lagi karena cahaya samar-samar kabur, bulan sabit hampir tenggelam.

Bulan sabit menceritakan, setengah abad rakyat Aceh memberikan perlawanannya.”

Sekapur Sirih Roman LEBURNYA KERATON ACEH

Sebelum diterbitkan untuk pertama kali Roman Leburja Keraton Atjeh dicetak pertama kali pada tahun 1942 dan kedua pada tahun 1946 dalam Mingguan Pahlawan. Ditulis oleh A. Miala (Nama samaran dari A.G. Mutyara). Roman ini ditulis pada tahun 1940-an, ketika pengarang berusia 20 tahun pada masa zaman penjajahan Jepang, karena banyak menyebutkan nama-nama pengkhianat Aceh pada masa peperangan dengan Belanda, cerita bersambung ini yang awalnya dimuat pada Harian Atjeh Sinbun mendapat banyak protes sehingga oleh Tyokan (Penguasa Militer Jepang) Aceh disuruh berhentikan penerbitannya. Pengarangnya kemudian berurusan dengan Kampentai.

Setelah Indonesia merdeka, buku ini sempat diterbitkan beberapa kali. Namun untuk saat ini roman ini adalah salah satu yang paling langka ditemukan, edisi cetak sangat sedikit yang masih tersedia. Padahal roman ini menceritakan kisah-kisah paling menentukan pada saat awal peperangan antara Aceh dengan Belanda.

Alhamdulillah, akhirnya kami mendapatkan buku ini. Kami bagikan kembali kepada saudara-saudara dalam bentuk e-book agar dapat menjadikan pelajaran sekaligus menikmati seringai wajah sang masa lalu dari Kesultanan Aceh Darussalam.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  2. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  3. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  4. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  5. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  6. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  7. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  8. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  9. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  10. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  11. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  12. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  13. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  14. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  15. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  16. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  17. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  18. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  19. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  20. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  21. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  22. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  23. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  24. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  25. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  26. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  27. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  28. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  29. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  30. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  31. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  32. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  33. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  34. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  35. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  36. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  37. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  38. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  39. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  40. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  41. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  42. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  43. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  44. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  45. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  46. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  47. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  48. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  49. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  50. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  51. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  52. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  53. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  54. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  55. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  56. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  57. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  58. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  59. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
Posted in Buku, Cerita, Download, E-Book, Fiction, Kisah-Kisah, Kolom, Literature | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

BERBAGI INGATAN

Hidup seumpama cakrawala, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menantikan di depan sana.

Hidup seumpama cakrawala, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menantikan di depan sana.

Berbagi Ingat.

Sebuah kenangan bisa menjadi surga yang tak ingin kita tinggalkan, tetapi ia juga mungkin neraka yang tak mampu kita hindari. Kenangan, ingatan masa lalu bisa jadi tak sama persis dengan keadaan yang sebenarnya. Tapi sesungguhnya memang begitulah wujud kenangan, yang sebenarnya adalah penafsiran seorang manusia tentang apa yang dia alami.

Tiga puluh lima tahun hidup Abu adalah waktu yang panjang, tiba-tiba Abu tersentak ketika istri Abu bertanya, “dari mana abang mendapatkan rasa percaya diri yang sangat besar seperti ini?”

Ketika itu Abu menjawab santai, “istriku, hidup ini adalah seumpama sebuah filem dimana kita masing-masing adalah pemeran utama dari pertunjukan ini.”

“Tapi ada orang yang hidupnya berhasil, ada yang gagal, ada yang biasa-biasa saja, tentunya bukanlah sebuah filem.” Bantah istri Abu.

“Sayangku, skenarionya telah disusun oleh Allah S.W.T di Lauhul Mahfudz tentunya, tapi kita sebagai pemain (aktor) bisa mengarahkan kecenderungan filem ini kearah mana, apakah romantis, drama, komedi, action sampai dokumenter sekalipun!” Kata Abu sambil tertawa.

“Jika hidup kita adalah pilem, abang memilih yang bagaimana?” Tanyanya.

“Komedi sayangku, yang terbaik adalah komedi.” Kata Abu.

“Pantas abang lucu, dan gemesin.” Ia tertawa.

“Absolutely honey!” Abu mengkedipkan mata, kami terbahak bersama.

Jika hidup adalah sebuah filem yang bisa diputar-putar kembali, adakah kita mampu mengingat semua kejadian? Mungkin tidak, memori kita terbatas.

XXX

Ini adalah kisah sewaktu Abu berusia 15 tahun, masih kecil (tentunya), dan belum memiliki pengalaman sebagaimana hari ini, bisa jadi sebenarnya hanya umur Abu yang bertambah, dan sedikit lebih berpengalaman, tapi sebenarnya (mungkin) Abu masih merupakan anak kecil itu yang serba tak berdaya mengelola kata, laku dan sikap dalam berhadapan dengan orang lain.

Seorang teman SMA (20 tahun yang lalu) baru-baru ini berkata, “dulu ketika minggu-minggu awal masuk SMA aku sangat benci dengan kamu!” Kening Abu berkerut dan bertanya mengapa. “Karena kamu berkata pada teman-teman yang berasal satu SMP denganmu, bahwa di kelas kamu orangnya jelek-jelek, dan aku yang paling jelek.”

“Apa betul?” Abu melihat wajahnya dan coba mengingat lagi, tapi memang kejadian itu tak tercatat di otak Abu.

“Betul, aku masih mengingat jelas! Ketika itu aku baru kembali dari kantin. Aku benci kamu, dan kawan-kawanmu itu.” Wajah kawan Abu itu sangat serius, dia bukan tipe yang pembohong, sangat jujur malah, itulah sebabnya Abu sangat suka berteman dengannya. Jadi Abu yakin itu adalah kejadian sebenarnya.

Abu melihat dia, gurat-gurat kekesalan yang telah terpendam selama 20 tahun ini membuncah keluar, rasa simpati mengalir deras dalam batin lalu Abu berkata, “Aku mohon maaf atas segala perkataan yang pernah aku ucapkan di masa itu, sungguh apa yang aku katakan pada saat itu tidak sepantasnya keluar dariku apapun sebabnya.” Abu menyesali. Terima kasih sahabat telah mengingatkan.

Ia memalingkan muka, lalu berkata, “akh, sudahlah lagian saat itu kamu masih berusia 15 tahun. Masih labil!” Ia pun tersenyum. Dan memang selama 20 tahun setelah kejadian hari itu kami bersahabat baik, mungkin tidak setiap saat kami saling mengkabari satu sama lain. Tapi setidaknya kami saling memahami masalah masing-masing, dan ketika dimintai pendapat kami berusaha saling memberikan saran-saran yang dirasa paling bijak.

Ternyata ingatan, memori yang tersimpan di dalam otak tak mampu merekam semua kejadian, semua peristiwa atau bahkan kesalahan yang pernah dibuat. Meski itu terkadang menyinggung, melecehkan atau menghinakan orang lain. Di situ Abu sadar bahwa kurun waktu yang telah beranjak sekian tahun lamanya tak pelak mungkin telah menyakiti orang lain, baik sengaja atau pun tidak.

Tapi juga ingatan bisa menjadi kuat, mencengkram dan tak akan hilang akan hal-hal dianggap penting oleh otak, seperti hal-hal yang membuat kita tersakiti, terluka. Aku menyambungkan dengan kata-kata Ibu kepada Abu, “sebenarnya kamu itu pelupa, terutama terhadap kesalahan sendiri. Tapi entah mengapa segala kekurangan, kesalahan orang kamu ingat.” Ada-ada saja.

XXX

Sepuluh tahun lalu, Abu berpikir kehidupan itu paradoks, penuh dengan pertentangan antara teori dan praktek. Waktu berjalan, pemikiran Abu bergeser sekarang. Hidup itu anomali, tidak ada teori yang berjalan secara penuh dalam hidup, semua ada pengecualiannya. Sebastiano Rossi dengan gampang menghabiskan berliter-liter bensin serta dibayar menggunakannya. Sementara saudara-saudara kita di pedalaman Papua sana harus membayar beratus-ratus ribu rupiah untuk bensin. Solusinya apa? Jalani saja jangan terlalu kecewa, terutama jika kena musibah, belum tentu itu azab Tuhan bisa jadi ada yang indah menunggu disana.

Seperti tsunami yang menghancurkan dan merenggut 200.000 jiwa itu memang menyedihkan, tapi perang RI-GAM yang telah berlangsung di Aceh selama nyaris 30 tahun berakhir, kedukaan tidak selamanya buruk, dalam kesedihan kata sepakat lebih mudah terjadi sehingga damai pun hadir.

XXX

Dua puluh tahun lalu, masih kelas 1 SMA, Abu ditunjuk oleh mewakili kampung untuk mengikuti lomba baca puisi tingkat kecamatan. Pemilihannya cukup unik, Abu ditemukan oleh tim pencari bakat di TPA (Tempat Pengajian Al-Qur’an) Surau Dusun kami, Abu dipilih karena memiliki pelafalan bahasa Indonesia paling baik. Suara Abu dianggap jelas, tegas dan mampu memisahkan antara kata-kata berbahasa Aceh dan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. begitu menurut pengakuan anggota tim pencari bakat bertahun kemudian kepada Abu, tapi menurut Abu saat itu, semua karena keberanian Abu berbicara di muka umum.

Biasanya kampung kami tidak serius kalau mengikuti lomba apapun, setiap pelatihan dalam lomba-lomba tingkat kecamatan baik itu Azan, MTQ selalu dalam keadaan bercanda, senda gurau yang diperbanyak. Tapi hari itu kampung kami serius, Abu dilatih selama 2 minggu, dibelikan kostum. Sehabis mengaji Abu tak boleh pulang, terus dilatih oleh para Ustad dan Ustadzah. Mendekati hari H, Abu semakin mantap dan para mentor mengacungkan jempol. Kali ini kampung kita akan menang kata mereka, dan Abu pun sangat yakin dengan kemampuan diri sendiri. (Emang kapan Abu tak optimis?) Bahkan Abu merasa W.S Rendra dapat dikalahkan hari itu.

Pada saat perlombaan kampung kami mendapat urutan terakhir. Takdir seolah mendukung Abu, dengan begitu Abu dapat memantau para lawan. Mengukur kekuatan mereka, meniru teknik yang Abu anggap bagus dan tak lupa menciptakan beberapa inovasi dan taktik dalam membaca puisi. Ketika nama Abu dipanggil ke panggung, Abu sangat siap.

Tapi ternyata pada hari itu PLN telah menggagalkan Abu. Ketika microphone sudah Abu pegang, matilah lampu itu! Bedebah! Abu tak mau kalah! Abu keraskan suara sekeras-kerasnya tapi suara Abu ternyata tak menjangkau para juri yang nun jauh disana, diantara hiruk pikuk penonton se-kecamatan suara Abu tenggelam. Segala usaha Abu menjadi luruh. Tragisnya, ketika pengumuman pemenang dilakukan PLN menghidupkan listrik, suara gelegar pemenang dan sorak sorai kemenangan kampung lain sungguh menyakitkan bagi Abu hari itu.

Abu pulang dalam keadaan hancur, remuk redam. Pulang ke rumah Abu bercerita kepada ayah dan ibu serta adik-adik dengan perasaan dongkol. Ibu dan adik-adik sepakat pertandingan seharusnya diulang, tak selayaknya Abu dikalahkan dengan cara seperti ini. Abu cinta keluarga ini, selalu mendukung disaat terburuk, tersakiti dan terhancurkan harga diri.

Akan tetapi almarhum ayah berkata. “Nak, itulah nilai kehidupan, setiap ketidakadilan adalah bukti bahwa sebenarnya hidup ini sangat adil. Tak semua jerih payah kita langsung mendapatkan hasil, kita boleh merasakan sakit, kecewa ataupun sedih tapi jangan sampai trauma, teruslah mencoba.”

Mata Abu berkaca-kaca, sedih sekali rasanya dikalahkan. Ayah Abu berkata dalam bahasa Aceh. “Bagaimana pun dikeluarga kita, tetap abang juara satu membaca puisi kok.” Abu melihat ke kiri dan ke kanan, semua adik mengangguk-angguk seperti ayam makan beras dan saat itu Abu tertawa, bahagia sekali rasanya.

Kelak di kemudian hari, mungkin sampai hari ini, sering Abu mendapatkan atau mengusahakan sesuatu yang belum Abu tahu solusi atau jalan keluarnya, Abu terus mencoba sampai mampu mengatasinya. Abu sebut itu dalam sebuah teori acak kadut yang dinamai “The Power of Trying” Kekuatan dari mencoba, berusaha dulu hasil (pasti) menyusul kemudian. Lucunya, teori yang lahir dari pengalaman hidup, besar kemungkinan akibat kejadian hari itu, seringnya berhasil dalam hidup Abu.

XXX

Masih ditahun yang sama 6 bulan kemudian. Kali ini kampung kami mendapat undangan lomba berpidato antar desa, karena kesalahan administrasi suratnya baru tiba 2 hari sebelum lomba. Entah mungkin karena tidak ada pilihan lain, para Ustad dan Ustadzah lagi-lagi mengirimkan Abu sebagai perwakilan. Sebagaimana yang kalian tahu, Abu tidak pernah menolak panggilan tugas, untuk membela marwah kampung apapun Abu siap. Maka dua hari Abu bersepi-sepi diri menyiapkan konsep pidato, terus terang Abu tak terlalu siap.

Entah Maulid, entah Isra’ Mi’raj, detilnya Abu lupa momen lomba itu karena apa. Lomba dilakukan setelah shalat Ashar, tapi Abu memilih shalat Dhuhur di masjid tempat perlombaan dengan datang sendiri mengayuh sepeda sekitar 10 kilomater dari kampung Abu. Belajar dari kekalahan Abu di lomba baca puisi yang diakibatkan faktor alam (PLN itu alam?) maka Abu mendatangi lingkungan perlombaan jauh sebelum acara dimulai. Selesai Dhuhur Abu duduk di masjid tersebut mengenali lingkungan, memegang tiang-tiang masjidnya, memandangi kipas-kipas angin putih yang bertuliskan KKN Unsyiah 1991 sampai berbicara dengan microphone, “tolonglah sobat kali ini saja, saya mohon kamu jangan mati.” Masjid itu sendiri sudah ramai dengan panitia kampung tersebut, instuisi Abu berkata mereka geleng-geleng kepala di balik punggung Abu melihat kelakuan seorang anak muda yang mereka pikir mungkin sudah sawan.

Cuaca awalnya sangat panas, sekejap menjadi mendung, kemudian langit menjadi sangat hitam, dan akhirnya terjadilah sebuah hujan besar yang disertai angin kencang. Limpahan berton-ton kubik air seorang mencabik hari itu. Azan Ashar berkumandang dan shalat berjamaah dilakukan, waktu lomba pun sudah seharusnya di mulai. Akibat hujan lebat di hari itu, Abu merupakan satu-satunya peserta yang hadir. Abu sudah pasrah jika lomba diundur, yah berarti besok harus bersepeda lagi 10 Kilometer.

Tetapi ternyata panitia memutuskan lomba harus tetap dilaksanakan, karena pak camat akan hadir pada saat Maghrib nanti, maklum jadwal pembesar pastinya padat. Maka diperintahkan kepada Abu untuk naik podium, diberi waktu 15 menit untuk berpidato. Abu lupa isi detil pidato Abu hari tersebut, tapi masih ingat judulnya, “ISLAM DAN KEMAJUAN SAINS” yang Abu rangkum dari buku-buku warisan kakek yang ada dirumah. Alhamdulillah, hari itu PLN bersahabat dengan Abu, listriknya hidup meskipun hujan besar. Maka dengan segenap kepercayaan diri Abu berpidato, sangat lancar bahkan sampai lebih 15 menit.

Rupanya sementara Abu berpidato ada dua peserta yang hadir, mereka basah kuyup diterjang badai. Yang naik podium kedua seorang laki-laki, suaranya bergetar kedinginan diserai geraman menahan sejuk ia bersin-bersin, Abu merasa kasihan kepada lawan tersebut, ia tampak seperti ayam jago yang kebasahan, andai pertandingan lebih adil pikir Abu. Sedang yang naik podium ketiga seorang perempuan, jilbab dan bajunya basah. Ia mampu mengatasi kesejukan dengan tenang dan Abu merasa dia adalah lawan sebanding Abu, awalnya. Tapi ternyata suaranya sangat-sangat rendah volumenya, meskipun menggunakan microphone suaranya lebih menyerupai zikir dibandingkan pidato. Ia terlihat nervous sehingga mengakhiri pidato lebih awal dari waktu yang ditentukan. Abu merasa akan menang, tapi kemenangan macam ini bukanlah sesuatu yang Abu inginkan.

Menjelang Maghrib pak camat dan rombongan tiba menggunakan mobil Suzuki Carry, setelah shalat selesai dan pembukaan acara maka pengumuman juara dilaksanakan. Benar saja, Abu menjadi juara pertama, laki-laki basah menjadi juara dua dan perempuan suara kecil juara ketiga. Abu menyalami pesaing-pesaing tersebut, wajah mereka terlihat sangat bahagia, justru Abu yang terlihat kecewa. Abu suka kemenangan, tapi sebuah kemenangan dari sebuah perjuangan yang tangguh, bukan kemenangan yang dibantu oleh alam seperti ini. Selesai Isya, Abu pulang mengayuh sepeda, membawa piala dengan hati penuh kecamuk.

Sesampainya di rumah, Abu meletakkan piala di bufet TV, tanpa bicara langsung memilih tidur. Adik-adik Abu yang ingin mendengarkan cerita heroik kemenangan abang mereka pada pertandingan harus menunggu besok hari untuk mendengarkan cerita kekecewaan Abu terhadap kemenangan yang Abu rasa tidak adil itu. Abu tidak menganggap piala itu berarti dan membiarkannya terletak di atas bufet TV sampai suatu malam Abu sesak kencing dan bangun menuju kamar mandi, di depan TV Abu melihat almarhum ayah memandangi piala kemenangan Abu tersebut dengan penuh kebanggaan.

Foto Piala Lomba pidato tahun 1999

Foto Piala Lomba pidato tahun 1999

Suasana malam itu sangat hening, sekilas perasaan Abu ketika melihat sorot mata ayah seolah berbicara, “ANAKKU HEBAT.” Ini adalah momen yang tak ternilai, bila Abu mengingat kembali, tak ada sesuatu apapun di dunia yang ingin Abu miliki melebihi saat-saat, detik-detik itu. Kelak, 5 tahun kemudian ayah meninggal dunia, sebelum Abu menyelesaikan kuliah, sebelum Abu bekerja dan mampu memberikan sesuatu untuk beliau. Oh, betapa Abu sangat ingin sekali lagi melihat hari itu. Kenangan itu.

XXX

Kita semua manusia dibentuk oleh pengalaman. Sepahit, sesulit apapun pengalaman yang pernah kita punyai, yakinlah pasti itu akan menjadi pedoman hidup yang terbaik jika kita berbaik sangka kepada SANG PENCIPTA. Hidup seumpama cakrawala, kita tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menantikan di depan sana. Hidup itu mengalir saja, karena TUHAN selalu memberikan yang terbaik.

Simak cerita lain dalam: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

JIKA HARI INI ADALAH KEMARIN

Hari ini adalah kemarin

Setiap manusia memiliki hal penting dalam batinnya, itu berupa: Kebaikan, kebenaran, rasa hormat, kebijaksanaan dan keyakinan. Kebijaksanaan bertambah seiring dengan waktu, seiring bertambahnya usia kita bertambah dewasa. Benarkah begitu? Mungkin bisa salah karena ruang dan waktu menyimpan tipu daya bagi mereka yang matanya belum terbuka. Seperti halnya ada kemungkinan bahwa hari ini adalah kemarin, dan ternyata besok (telah) datang tapi kita masih terpaku pada hari ini.

11 Year Anniversary Achievement

11 Year Anniversary Achievement

18 Februari 2008, sebelas tahun lalu dari sekarang. Ada kesulitan mengingat apa yang mendasari menulis disini, dan ternyata hari itu (telah) terlewat lama, kemudian ingatan dan waktu meninggalkannya meskipun semua ini lahir dari sejarah, bukan dari ketiadaan, ternyata kenyataan masa lalu itu sudah tak terjangkau lagi.

Bilangan tahun berjalan dengan cepat. Akh, sudah tak ingat lagi hitungan hari-hari yang berlalu, entah mengapa kita cenderung mudah melupakan hal-hal bahagia dan tertawa, lebih mengingat hal-hal yang membawa luka, tapi cedera seperti ini pun bisa disembuhkan, tak harus membuat hati dirundung kegelapan, justru seharusnya mengajarkan kebijaksanaan.

Seorang tua pernah berkata kepada. “Terkadang usia panjang (bisa) menjadi kutukan, ketika orang-orang yang kita kenali wataknya, perangainya, tawa dan tangisnya telah meninggalkan kita. Sedang orang-orang baru terus bermunculan tapi ternyata (Kita) tak siap menghadapai polah perangai yang serba baru itu.”

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan usia tua. Ketika rambut telah kehilangan pigmen, ketika gigi-gigi mulai rapuh dan keriput muncul disana-sini. Mungkin batin belum siap tentang ingatan yang masih tertinggal di sana. Tak semua orang berdaya mengelola masa lalu dan berkata “Aku adalah wajah masa lalu. Aku tak berani menghadapi perubahan.”

Ranting-ranting yang patah

Perjalanan hidup mentakdirkan kita mengalami berbagai kejadian-kejadian, termasuk ujian untuk bertemu kembali dengan ingatan diri sendiri di masa lalu. Mengenang wajah-wajah mereka yang terluka dengan teruk, kecewa sangat akan laku dahulunya. Dan ternyata tak ada yang bisa kita perbuat pada apa yang terjadi di masa lalu. Kita tahu dan paham bahwa sejarah tak mengenal kata, “seandainya.” Tiada dan tak akan pernah.

Maka sungguh seharusnya tiada yang patut terlalu dirayakan ketika usia bertambah. Sesungguhnya neraca usia telah berkurang di Lauhul Mahfudz. Bahkan sejak semula harus sudah pasrah akan nasib yang menanti sehubungan dosa-dosa di masa lalu.

Manusia-manusia berbeda, beberapa orang dilahirkan di dekat sungai, sebagian lainnya tersambar tsunami, sebagian menjual minyak tanah, sebagian mendengarkan radio, sebagian seniman, sebagian berenang, sebagian lagi menjual pulsa, sebagian tahu tentang Shakespeare, sebagian menjadi ibu, dan sebagian orang menari.

Entah esok, besok belum pasti. Hari ini adalah kemarin, hanya itu waktu yang kita miliki. Keanggunan masa lalu itu pun perlahan-lahan meruluh menjadi lusuh. Jendela-jendela kamar ini berembun dan udaranya berat karena asap rokok.

Bait al-Hikmah. Dini hari 20 Februari 2018.

Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

REVOLUSI DESEMBER 45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR

Prelude Revolusi Sosial dan Pembasmian Kaum Uleebalang

Revolusi Desember 1945 adalah perang saudara yang terjadi di Aceh antara pihak Uleebalang dan pendukungnnya dengan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) dan pendukungnya. Dalam sejarah Aceh inilah kali pertama orang Aceh membunuh orang Aceh. Sebuah catatan sejarah kelam yang seolah hapus dari ingatan orang-orang Aceh masa kini.

Baca juga tulisan terkait: Perang Cumbok Sebuah Revolusi Sosial Di Aceh (1946-1947);

Tentu ada kisah-kisah menyakitkan disini, yang teramat pedih. Pemerintah Republik Indonesia Daerah Aceh pada tahun 1948 (atau sesudahnya) merasa perlu mengeluarkan sebuah buku/buklet yang menceritakan kejadian tersebut dengan judul “REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ATJEH atau Pembasmian Pengchianat Tanah Air) yang dapat diunduh di REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ATJEH

Berikut resensi buku tersebut yang disusun oleh penulis.

Sebelum Belanda menyerang Kesultanan Aceh terlebih dahulu membuat perhubungan rahasia dengan Uleebalang dan menjanjikan kepada mereka akan diakui sebagai raja turun-terumurun di daerahnya. Ketika Sultan bersama Panglima Polem, Tengku Chik di Tiro mati-matian bertempur melawan Belanda, kaum pengkhianat menandatangani “Korte Verklaring” yang berisi pengakuan kedaulatan Belanda atas Aceh yang terdiri dari 6 Pasal, pengakuan terhadap bendera Belanda dan tidak membantu pejuang Aceh. Pada tahun 1898 diperbaharui dengan “Korte Atjeh Verklaring” dengan tambahan musuh Belanda adalah musuh Uleebalang. Lalu diperbaharui lagi dengan nama “Uniform Model Korte Verklaring” yang dalam perjanjian tersebut Belanda mengakui para pengkhianat sebagai raja “vorst” dalam daerahnya dan pada tahun 1915 dan seterusnya ditukar dengan kalimat “Zelfbestuurder”. Ketika Belanda memenangkan perang para pengkhianat ini semakin merajalela dan dibenci rakyat sebab mereka berbuat sekehendaknya dengan tiada mengindahkan hukum.

Buku REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ATJEH atau Pembasmian Pengchianat Tanah Air: Dikeluarkan oleh PEMERINTAH R.I DAERAH ATJEH Tahun 1948.

Ketika Perang Pasifik pecah rakyat memberontak kepada Belanda sampai saat paling akhir mereka tetap berdiri dipihak Belanda. Ketika Jepang masuk dan berkuasa rakyat awalnya menyangka akan terlepas dari kekuasaan mereka tapi ternyata Jepang berpendapat dan berpendirian mereka sudah “par excellence” buat dipergunakan sebagai alat penjajahan. Ketika Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu pada tahun 1945 dan sampai berita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke Aceh terjadi pertentangan antara rakyat dan pemimpin rakyat yang menyambut gembira dan menyusun barisan untuk mempertahankan kemerdekaan tetapi pihak Uleebalang menyusun tenaganya buat menyambut kembali penjajah Belanda.

Pertentangan politik ini akhirnya pecah dan pada bukan Desember  1945 terjadilah Revolusi Sosial yang awalnya terjadi di daerah Pidie kemudian menyebar keseluruh Aceh antara lain Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Besar dan Aceh Barat sehingga dengan demikian Ancien Regime telah ditumbangkan seluruhnya.

Epilog: Sejarah Perang Saudara di Aceh Sebagai Bahan Renungan

Ini adalah Perang Saudara yang sangat menggetarkan, tragedi penuh amarah dan melukiskan kebencian yang mungkin tidak dapat dirangkum secara utuh oleh buku kecil ini. Sebuah sejarah kelam di Aceh yang sampai hari ini masih terasa dalam sakitnya, mungkin buku ini tidak mampu memberikan jawaban yang akhir tentang kejadian di hari-hari itu. Tapi dari buku ini kita dapat belajar bahwa sejarah harus memiliki benih yang baik dan berkualitas sehingga dapat berfungsi sebagai pelajaran bagi kita generasi yang hadir belakangan agar dapat belajar dari kesalahan-kesalahan maupun kebaikan-kebaikan para pendahulu kita, orang tua kita agar menjadi orang-orang yang lebih bijaksana.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  2. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  3. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  4. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  5. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  6. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  7. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  8. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  9. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  10. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  11. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  12. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  13. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  14. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  15. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  16. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  17. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  18. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  19. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  20. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  21. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  22. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  23. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  24. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  25. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  26. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  27. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  28. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  29. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  30. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  31. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  32. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  33. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  34. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  35. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  36. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  37. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  38. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  39. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  40. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  41. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  42. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  43. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  44. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  45. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  46. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  47. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  48. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  49. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  50. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  51. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  52. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  53. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  54. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  55. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  56. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  57. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  58. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  59. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Download, E-Book, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

LAUT DAN SENJA

Laut dan senja

Matahari akan tenggelam di lautan Hindia yang lebar itu, cahaya yang silau, menyilaukan mata berpendar di muka air biru yang maha luas itu. Akh, permukaaan laut yang disinari matahari pikirku, apa indahnya? Tapi tubuh bisa membuat getar sekaligus gentar seperti lautan, ketika matahari hampir masuk ke dalam peraduannya, dengan amat perlahan, ia berangsur turun, turun ke dasar lautan yang tak kelihatan ranah tepinya ketika cahaya merah telah mulai membentang di ufuk barat, dan bayangannya tampak mengindahkan lautan yang tenang dan tak berombak.

laut yang tenang ketika senja datang

Melihat laut dari dekat, jutaan gelembung air kecil berkilauan putih, yang muncul dan menghilang seiring ombak. Selalu ada gelembung baru yang muncul dan menghilang dalam irama teratur setelah terbawa oleh aliran air selama sekejap.

Akh, mungkin kita, masing-masing tak lebih dari sekedar buih, setetes renik dalam gelombang waktu yang bergerak menuju masa depan yang tak jelas, berkabut. Kita muncul di dunia hanyalah sebentar untuk kemudian hilang. Mungkin sejarah tak mencatatkan masing-masing nama kita, tak tampak oleh arus besar itu. Selalu ada orang baru dan lebih baru lagi.

Mungkin apa yang dinamakan nasib, tak lebih adalah perjuangan kita dalam kerumunan tetes naik dan turun bersama gelombang. Sepatutnya, kemunculan sesaat ini kita manfaatkan, agar hadirnya kita tak sia-sia, tak pernah.

Laut dan senja, kekosongan dan kehampaan mengundang misteri dalam putih sempurna yang sungguh luas, membuat kita merenung, apakah kehidupan di samudera hampa itu dalam waktu yang terus bergulir. Akh, betapa waktu memang tak terbatas, tapi memang waktu kita yang terbatas.

Banda Aceh, 10 Januari 2019

Posted in Cerita, Kolom, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

COBALAH MENGURANGI KEBENCIAN SEDIKIT KAWAN

Kebencian ibarat PACMAN, melahap segalanya.

COBALAH MENGURANGI KEBENCIAN SEDIKIT KAWAN

Jika kebencian telah menguasai diri maka apapun yang dilakukan oleh yang dibenci akan terasa salah. Demi memuaskan hasrat, sejarah dan kitab suci dikutik dan dikutip lagi, supaya kebencian menjadi lebih sah, agar dendam menjadi suci. Kebohongan direproduksi berulang kali dengan tema yang sama. Kebencian membuat manusia membuat masa lalu (yang telah diolah) sebagai pembenaran masa kini, termasuk membenarkan ketidak-adilnya.

XXX

Akhir-akhir ini Abu merasa bingung diantara 2 pilihan yang belum jatuh tempo pemilihannya. Abu merasa pilihan 1 ada baiknya, juga ada buruknya begitupun dengan pilihan 2, masing-masing ada plus-minus. Dalam keadaan masyarakat yang menghadapi dilema yang sama dengan Abu ini kebanyakan telah menjatuhkan pilihan sehingga menjadi terpecah. Yang memilih 1 memujanya terlalu dan melihat lawannya 2 sebagai lawan, begitupun pihak 2 sama saja. Pemujaan mereka sudah menjurus kepada pemberhalaan pilihan mereka, akibatnya orang-orang peragu seperti Abu ini dianggap cemen atau pihak lawan. Dalam kondisi yang terbelah ini, dinding-dinding dipenuhi oleh coretan kedua belah pihak yang “sangat-sangat” menganggu pemandangan. Demi membela sang pujaan maka hoaxs pun bertebaran dikedua belah pihak, beberapa kali Abu berusaha mengkoreksi tapi malah tidak terlalu baik hasilnya, bahkan runyam. Akhirnya Abu jarang memberikan pendapat lagi, sesekali ada, namanya juga Abu ya pasti usil.

Fenomena ini sudah Abu lihat dan pikir lama, ilmu mantiq, a.k.a dialeksis yang pas-pasan milik Abu tak mampu menjangkau. Abu mengingat Albert Einstein pernah berkata, “adalah sebuah kebodohan untuk melakukan hal yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda.” Maka tentang hal ini tidak Abu pikirkan lagi, jenius kan Abu. Mungkin pada level ini Abu merasa menyamai Einstein.

Tapi fenomena ini semakin menganggu, ketika batas waktu pemilihan menjadi semakin dekat. Brutal pokoknya dah. Kemudian Abu ingat, ketika nalar rasional tidak mampu menjangkau maka harus ada pendekatan lain. Tapi apa itu? Jika abang Albert Einstein saja teorinya seolah menentang Abu?

Meski sama tingkat kejeniusan Abu dan Einstein ada satu perbedaan personal antara kami berdua. Betul, dia beragama Yahudi dan Abu beragama Islam. No hard feeling bro, ini bukan masalah SARA ya, apalagi SARA AZHARI. Ada satu pendekatan lagi dalam pemahaman Abu sebagai muslim, pendekatan sufisme, itu abang Einsten pasti tidak tahu. Dan Abu punya orang yang tepat untuk ditanyai masalah ini. Tengku Salek Pungo, pasti dia tahu jawabannya. Kenapa baru terpikirkan sekarang. Maka bergegaslah Abu menuju ke rumah beliau, sepulang kantor.

Ketika Abu datang si doi sedang leyeh-leyeh membaca koran menggunakan singlet legendaris cap Swan Brand, tanpa ba-bi-bu. Langsung Abu beri salam dan dijawab sopan sekali.

Sesaat kemudian ia langsung menyentil, “kemana  saja? Dinas ke Jakarta? Sudah lama tidak kelihatan batang hidungmu?”

“Batang hidung? Macam cerita Siti Nurbaya saja Tengku? Kebetulan saya selama ini di kantor kelelahan, banyak kerjaan jadi jarang bergaul.” Alibi Abu, padahal sebenarnya lupa.

“Iya tidak perlu bergaul terlalu, nanti jadi begajul. Tapi main-mainlah kemari sekali-kali, jangan tidak sama sekali. Untung saya tahu bagaimana logika pikirmu, kalau orang lain nanti dipikirnya kamu kurang-kurangi kawan.” TSP angguk percaya, sambil minta “agak sering” dikunjungi.

“Siap Tengku!”

“Jadi apa yang bisa saya bantu Abu?” Langsung menembak.

“Jadi begini Tengku, saya sedang bingung antara dua pilihan. Memang memilih antara dua itu sulit, jika dibandingkan pilihan itu banyak.”

“Memilih 2, atau banyak itu sama. Kalau mau dibawa sulit ya sulit, tapi dibawa mudah ya mudahlah.” TSP tertawa sampai gusinya kelihatan. “Coba ceritakan bagaimana kondisinya?” Wajahnya serius.

Abu berpikir lama, mengingat perumpamaan yang telah disusun sebelumnya. “Jadi begini Tengku. Ada dua orang manusia, yang pertama rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci.”

Abu diam sebentar, “lalu yang kedua sangat jarang ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta dgn sesama. Jadi saya ingin bertanya kepada Tengku, yang manakah yang lebih baik?”

Lalu TSP menjawab, “keduanya baik!”

Kali ini Abu kebingungan, TSP tersenyum, menjelaskan. “Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yang sombong menemukan kesadaran tentang akhlaknya yang buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yg baik lahir dan batinnya. Dan yang kedua bisa jadi sebab kebaikan hatinya, Allah S.W.T akan menurunkan hidayah lalu ia menjadi ahli ibadah yang juga memiliki kebaikan lahir dan batin.”

“Lalu siapa yang tidak baik kalau begitu?” Protes Abu.

“Kamu!” Wajah TSP serius, kemudian ia tertawa senang. “Yang tidak baik adalah kita, orang ketiga yang selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri”.

Abu diam dan angguk-angguk, “tapi jika harus memilih yang mana cocok Tengku?”

“Itu keputusan kamu, saya bukan juru kampanye. Kalau menurut saya siapapun yang terpilih pasti baik.” Kata TSP.

“Oooo.” Tidak menjawab seluruh pertanyaan Abu tapi membuat lega. Khas TSP sangat sufistik.

“Abu” Panggil TSP. Abu antara dengar atau tidak sedang melamun nampaknya. “Abu!” Panggil TSP keras.

“Iya Tengku.” Jawab Abu gagap.

“Kamu selama ini terlalu asik dengan sejarah, sesekali update-lah cerita-cerita pada petualangan Abu!”

Kali ini Abu terkejut kuadrat, menunjuk ke TSP dengan wajah heran. “Tengku baca?”

“Sepele kamu, saya baca dengan ini.” TSP mengambil dari dari balik sarungnya sebuah smartphone. Saudara-saudara sedunia dan alam Barzakh. TSP punya smartphone? Tapi tunggu dulu bentuknya agak aneh, Nokia Lumia tampaknya saudara-saudara, entah seri berapa. Dengan OS Microsoft 8.1 cuma bisa browsing dengan Internet Explorer dan mesin pencari yang lemah syahwat bernama BING, tidak kompetible dengan Facebook dan Twitter serta tidak mampu Instagram. Cocoklah untuk TSP, Abu tersenyum.

“Zaman sudah canggih, masak saya tidak mengikuti. Kita tidak bisa menutup diri dari adanya perkembangan pengetahuan.” Ceramah Sore TSP.

“Yayaya, mantap Tengku.”

“Saya suka baca cerita-cerita pada Petualangan Abu, jadi saya tahu perkembangan kamu dan dunia dari kacamata kamu yang sok bijak itu. Saya rasa bagian ini juga banyak penggemarnya, disamping artikel-artikel membosankan sejarah yang kamu tulis itu.” Ia tertawa. “Saya paling suka bagian Petualangan si Abu itu daripada tulisan-tulisan yang lain, yang sok serius itu.”

“Siap Tengku!” Jawab Abu, “Kalau begitu saya pamit dulu ya.”

“Cepatnya, Maghrib saja dulu disini.” Ajak TSP.

“Saya mau mengantar cucian dulu ke binatu, maklum Long distante dengan istri”

“Ya ok lah.” Katanya memberi tangan, segera Abu salam dan cium tangan beliau.

“Bukan itu, ngapain cium tangan segala? Kamu pikir saya feodal! Ini, saya mau kasih lihat jam tangan, jangan sampai kamu terlambat keburu Maghrib.”

Owalah guru saya yang satu ini, kena kerjain Abu! Tapi Abu meninggalkan rumah beliau dengan hati yang sangat ringan, senang dan bahagia. Terima kasih TSP.

XXX

Jika seseorang secara teguh dan berani mengatasi kebencian, atau mengurangi kebencian maka ia telah memiliki potensi sebagai khalifah di muka bumi, ketika seorang manusia memuliakan manusia lainnya, bahwa ternyata ciptaan Tuhan yang amat jelek itu sebenarnya tak ada, semua ada baiknya. Itu memberikan harapan yang berarti untuk menerima hidup dan memeliharanya.

Mampukah kita mengurangi kebencian? Mungkin sulit secara penuh dan seluruh, tapi setidaknya sudah sepatutnya kita mencoba, hasilnya? Kita berharap sifat Rahman dan Rahim dari yang MAHA KUASA menjadi penuntun kita, sebagai pelita di tengah kegelapan. Amin ya Rabbal Alamin.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KISAH MENTERI JARINGAN MELAWAN KAPITALISME AMERIKA

Amerika Serikat sebagai sebuah Negara tetap saja adalah pedagang yang menjual produk-produk korperasi mereka sendiri. Tidak meskipun kami adalah Negara kecil yang entah berantah tapi kami harus melawan kapitalisme mereka, dengan lembut tentunya.

Amerika Serikat sebagai sebuah Negara tetap saja adalah pedagang yang menjual produk-produk korperasi mereka sendiri. Tidak meskipun kami adalah Negara kecil yang entah berantah tapi kami harus melawan kapitalisme mereka, dengan lembut tentunya.

KISAH MENTERI JARINGAN MELAWAN KAPITALISME AMERIKA

Ketika uang (berbentuk logam emas) pertama sekali diciptakan, Iblis datang dan menghampiri. Ia mencium uang tersebut dan bersumpah: “Sesungguhnya aku telah ridha jika engkau disembah oleh manusia melebihi aku, mulai hari ini kita adalah sekutu sekufu seiring sejalan untuk melawan Tuhan yang sesungguhnya.” (Riwayat Israiliyat)

XXX

Pagi yang menyenangkan, burung-burung bernyanyi, cuaca sejuk, mungkin 27 pada derajat celcisus. Aku bersiul kecil menyambut hari memasuki kantor yang selama 35 tahun ini menjadi tempatku bekerja. Memasuki ruangan suasana hatiku masih ceria, sampai mendapati ternyata seseorang duduk di kursiku. Marshall Green, duta besar Amerika Serikat untuk negeri-negeri di Kepulauan Perca telah duduk disana sambil bersungut-sungut melihat jam.

“Bapak Menteri yang terhormat, ini sudah pukul Sembilan! Tak heran negeri kalian seperti ini, terbelakang! Jangankan rakyat, menterinya saja tak tepat waktu!” Kritik sang Duta Besar.

Aku tersenyum, duduk di kursi tamu di depan mejaku sendiri. Berhadapan dengan Duta Besar Amerika Serikat memang membuat tersiksa batin, goresan-goresannya akan menambah luka, selalu makan hati bagi para pejabat negeri-negeri kecil, tapi tentunya tidak bagi menteri senior berpengalaman telah menjabat selama 35 tahun. Oh tidak, mungkin kekhususan ini cuma aku yang miliki. Tersenyum nakal, Aku mengeluarkan notes dari saku, memakai kacamata dan pura-pura membaca coretan-coretan puisi yang aku buat kemarin. Seolah-olah jadwal kerja.

“Yang Mulia, saya melihat jadwal hari ini, disini tidak tertulis kita memiliki janji pertemuan.” Mimik muka ku setting nakal.

Semilir angin tiada, ibarat dua samurai yang sedang akan naik tanding. Kami berdua ibarat sedang memasang kuda-kuda bertempur. Duta besar pun membuka smartphone, satu firasat menusukku, ia sedang marah besar. Meskipun pandanganku tak selalu benar, faktanya selama 35 tahun menjabat menteri aku sudah berhadapan dengan belasan duta besar Amerika Serikat, dan mereka selalu merasa punya kuasa untuk mendamprat siapapun di negeri-negeri kecil. Entah pejabat, menteri sampai Sultan. Sebenarnya cemen, coba dengan para kamerad Rusia kalau memang pemberani.

“Apa yang membuat Yang Mulia marah di pagi yang indah ini?” Bagaimanapun dalam pergaulan sesama orang maupun Negara, yang lemah harus tetap mengalah.

Dia bangkit dari tempat duduk berpindah kesampingku, kemarahannya ditingkat apokaliptik. “Siapa yang berhak dimarahi?” ia berbisik pelan, menekan.

Aku menunjuk diri sendiri, sambil tersenyum paling manis yang bisa aku ciptakan dalam kepura-puraan.

“Siapa yang berhak memarahi?” Tanyanya lagi.

Dengan jempol, sangat sopan bagai hamba Majapahit, aku menunjuk dirinya.

“Tapi saya tak mengerti penyebab kemarahan Yang Mulia, Kerajaan Sungai Keadilan selalu tunduk pada hukum Internasional (yang sesuai dengan selera Amerika tentunya), kami membayar pajak ekspor sebagaimana mestinya, dan yang paling penting tidak ada dan belum pernah warga Negara Amerika Serikat celaka ketika bepergian di negeri kami. Atas nama rakyat kami, saya mohon diberitahu apa perangai kami yang mencederai hati Yang Mulia?” Tanyaku pelan.

Motherfucker!!! Politisi, anggota Parlemen, para menteri sampai Sultan kalian selalu berbicara atas nama rakyat. Tahukah kalian? Kalau kalian berbicara atas nama rakyat kalian, maka aku berbicara atas nama rakyat Amerika Serikat yang dilecehkan oleh kalian!” Ia mengemeretakkan gigi, kembali marah.

Saatnya tarik ulur, diplomatik itu melelahkan, kita harus berbicara berputar-putar sebelum sampai tujuan. Tapi diplomatik juga menyenangkan, ketika seorang perwakilan Negara sekutu yang besar, maha besar malah, hanya dengan kekuatan 500 marinir saja mampu menginvasi negeri kami yang hanya memiliki 40.000 penduduk dengan mudah, harus patah-patah berbicara dengan seorang negeri entah berantah ini.

“Tentunya tidak ada orang yang cukup gila di negeri ini yang berani menganggu penduduk Amerika apalagi pemerintahnya, sekutu sekaligus mitra dagang kami yang terbesar.” Sebuah pujian, tapi aku menganggapnya hinaan terselubung. Bagaimanapun kami adalah satu-satunya Negara di dunia yang surplus neraca perdagangan dengan Amerika Serikat, selama 50 tahun berturut-turut. Negeri ini berhasil mengirimkan lada, kelapa, kopi ke Amerika dengan damai, sedangkan  produk-produk Amerika yang masuk kemari kurang diminati. Siapa yang mau membeli kopi Starbuck seharga 50 ribu segelas, jika kopi pancung kami lebih enak, dan hanya berharga 3 ribu secangkirnya?

Dipuji seperti itu, anak kecil pun tersipu. Wajah Duta Besar berubah melembut, yang tadinya jahat menjadi setengah jahat, aku masih waspada. Kapitalisme Amerika memiliki satu kelemahan yaitu ketika bangsamu unik, tidak melawan dan tidak memiliki bahan tambang maka kalian hampir tidak mungkin dijajah.

Lihatlah bangsa Papua, mereka unik, tidak melawan tapi punya tambang emas. Maka dijajahlah mereka oleh Amerika untuk diambil emasnya. Jika ada Sultan yang paling kaya, tentu adalah Sultan Papua. Dalam setiap shalat aku berdoa agar Tuhan tidak memberikan emas di tanah negeri kami, cukuplah bangsa Papua yang menahan azab sengsara itu, kami jelas tidak mampu.

“Sebagai Menteri Informasi dan Komunikasi apakah kamu tidak tahu?” Pandangannya menyelidik.

Aku angkat bahu, “maaf tuan, eh maksud saya Yang Mulia. Saya bukan Menteri Informasi dan Komunikasi.”

Ini mulai ngeri, apa Amerika sudah mirip dengan Republik Rakyat Cina? Sedikit-sedikit sensor informasi, dan jika kau berbeda (taat agama) langsung masuk kamp seperti bangsa Uighur. Tentu Amerika tidak begitu, mereka lebih kalem daripada komunis China, dugaanku.

Fuck Man!!! Sultan bilang kau Menteri Informasi dan Telekomunikasi, segala tentang urusan internet menjadi urusanmu katanya! Apa kamu tidak tahu tukang sunat?”

Menjadi menteri di negeri Sungai Keadilan bergaji dua karung beras sebulan, tentu kurang sekali. Untungnya aku memiliki pekerjaan sampingan, pekerjaan sampinganku adalah seorang mantri khitan alias tukang sunat. Sepanjang karir sebagai mantri telah ribuan kulup yang telah aku pangkas, reparasi, salah satunya adalah milik Sultan kami sekarang, Sultan Malik Saleh Perkasa Alam.

Di negeri-negeri Melayu, kamu sangat hormat kepada tiga jenis orang: Pertama, Orangtuamu; Kedua, Guru Mengajimu; dan Ketiga; yang menjadi bagianku, yaitu orang menservis “perkakasmu” menjadi rudal patriot. Si Saleh (Paduka Yang Mulia Sultan Malik Saleh Perkasa Alam) pasti telah kelabakan berurusan dengan si Duta Besar dan mengirimnya untuk ditangani ahli yang dianggap lebih bijak (lebih pandai silat lidah) yaitu aku.

“Saya adalah Menteri Jaringan Kesultanan Sungai Keadilan Yang Mulia. Tapi ya, jaringan itu meliputi listrik, air dan mungkin masuk juga ke internet?” Aku memegang jangutku, seraya memutar-mutar mata pura-pura bodoh, semoga amarahnya reda.

Yang Mulia Duta Besar Amerika Serikat, Marshall Green menepuk jidat. “Kita hidup di abad ke-21, internet adalah hal yang penting! Bagaimana bisa kalian bangsa yang mengaku beradab menafikan hal itu dan berperilaku seperti jaman batu dengan mengabungkannya dengan listrik dan air?

“Maaf ralat Yang Mulia, bukankah di zaman batu. Kita semua belum mengenal listrik.” Mataku naik keatas dengan kocak.

Yayaya, aku tahu itu. Betapa kalian orang-orang negeri ini pintar berbicara, pantas tidak ada bangsa putih yang berhasil menjajah kalian!” Hinaannya perih boy.

“Maaf ralat Yang Mulia, bukan tidak ada yang berhasil, tapi tidak ada yang mau. Jika Amerika Serikat mengirimkan pasukan untuk menjajah kami, tentu kami tak akan melawan. Malah saya pikir, kami bisa mengirimkan barang-barang kami kesana tanpa pajak ekspor. Atau akan menguras devisa Amerika dengan membuka warung kopi di depan pangkalan militer Amerika.” Seorang diplomat harus mampu merendahkan diri agar negerinya tidak diinvasi oleh Negara besar, tapi sialnya aku seorang menteri juga kadang-kadang harus menjadi diplomat. Kesalku ke ubun-ubun, sampai-sampai jika hari ini aku diberi kuasa oleh Allah kembali ke masa lalu, maka akan kupangkas habis rudal si Sultan.

“Baiklah, aku lelah berbicara dengan kau!” Ia membuka kancing diatas dan mengendorkan dasinya, menyelonjorkan badannya di kursi seperti orang kurang vitamin D, tulang rapuh.

Syukurlah pujiku dalam hati. Aku diam menunggu dia pergi, mungkin aku harus makan mie rebus untuk mengusir aura buruk si Duta Besar. Tapi dia masih diam, belum pergi.

“Kamu masih ingat 6 bulan lalu ketika aku berkunjung ke negeri ini dan mengatakan kunci kemajuan adalah keterbukaan.”

Duta Besar Amerika Serikat untuk negeri-negeri Pulau Perca tidak hanya berurusan dengan negeri kami saja, kurang lebih ada puluhan Negara. Dia adalah Duta Besar Keliling, Tukang obat keliling ejekanku untuknya, Sultan Malik Saleh Perkasa Alam ketika kubilang begitu tertawa senang sampai berguling-guling di lantai sangking bahagianya, hampir aku sepak Sultan karena ia terlihat kekanak-kanakan waktu itu. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat?

“Enam bulan itu sudah lama, saya sudah tua dan melupakan remeh temeh. Belum lagi tugas-tugas saya cukup banyak.”

Duta Besar Amerika Serikat tahu, disamping Menteri aku adalah mantri khitan, satu-satunya orang di dunia yang merangkap jabatan Menteri sekaligus mantri, tatapannya sering meremehkan dan menganggap sepele aku. Jika kau adalah Menteri Negeri Korea Utara pasti akan marah besar sambil memamerkan remote nuklir. Tapi bagi menteri Kesultanan Sungai keadilan dianggap sepele oleh Duta Besar Amerika adalah prestasi besar, tetap merunduk dan jangan sampai menjadi ancaman bagi mereka.

“Untuk mengetahui peradaban kalian harus menonton filem terutama produksi Hollywood, masih ingat kau waktu aku bicara itu pada pertemuan di Balai Penghadapan?”

Balai Penghadapan adalah tempat Sultan menerima tamu-tamu asing, biasanya si Saleh ketika berhadapan dengan kuasa-kuasa besar selalu mengajak aku. Waktu itu adalah perkenalan si Marshall Green sebagai duta besar baru mengantikan si Herbert Faith yang dipromosikan jadi Duta Besar dan berkuasa penuh untuk Republik Federasi Russia. Promosi? Ya iya lah, dari Duta Besar negeri-negeri entah berantah langsung menjadi Duta Besar untuk salah satu saingan Amerika Serikat.

“Bioskop? Itu tidak mungkin Yang Mulia. Para Ulama di negeri Sungai Keadilan tidak akan mengizinkan hal itu. Para kaum muda Negeri ini punya birahi berlebihan menurut mereka, jadi tidak bisa dibiarkan berlama-lama dengan lawan jenis dalam kegelapan.”

“Benarkah begitu?” Ia menaikkan alis.

“Belum tentu Yang Mulia, akan tetapi jika pemerintah tidak mendengar kata-kata ulama akan dikudeta oleh komunis. Apakah yang mulia senang jika kami menjadi Negara komunis? Bayangkan sebuah negeri sekutu terpercaya Amerika Serikat menjadi sebuah Kuba baru hanya gara-gara bioskop?” Tanyaku menghiba.

“Wawasan sejarah, ideologi negeri ini agak pandir. Ulama itu kanan, konservatif! Kiri baru komunis. Mana bisa bertemu? Belajarlah pak menteri, jangan hanya buku tahun 1920-an saja! Ini zaman 2020, HOS Cokroaminoto dan Tan Malaka sudah lama mati, ideologi dan orangnya.”

“Bukan begitu Yang Mulia, bukanlah jika tidak ada jalan ke kanan berarti harus belok kiri yakan?”  Tanyaku.

“Kadang-kadang aku heran, bagaimana Sultan Saleh Perkasa Alam bisa mempercayai orang sebodoh kamu untuk terus menjadi menteri.” Ia mengejekku.

Dasar kapitalis biadab! Tentu kami tidak mengizinkan bioskop di negeri kami bukan karena mesum. Aku yang mengusulkannya, memberi pengertian kepada si Saleh bahwa ada dua produk Amerika yang harus kita hindari agar kami tidak defisit neraca perdagangan dengan Amerika: Pertama, senjata dan kedua, royalti pilem Hollywood.

“Aku mendapatkan laporan, di negeri ini ada sebuah situs yang dengan jahat mengandakan filem Hollywood dan membagikan secara cuma-cuma melalui streaming. Tindakan itu secara politik dan ekonomi menganggu kepentingan Amerika Serikat.” Katanya geram.

Menganggu ekonomi Amerika? Lebay sekali bapak duta besar ini, hanya mengurangi sedikit saja pendapatan Warner Bros, Paramount atau Marvel pun. Tapi aku tetap harus berakting.

“Oh, jahat sekali. Kalau ulama-ulama kami tahu tentu mereka mengecamnya. Saya akan memberangus situs tersebut, tidak hanya untuk kepentingan Amerika Serikat tapi lebih untuk moral bangsa kami.” Aku memukul meja karena kesal.

“Maksudmu pilem Amerika memberi pengaruh moral yang buruk?”

“Oh bukan, bukan itu maksud saya Paduka Yang Mulia. Itu bukan pendapat saya, tapi ulama-ulama kami yang terkenal konservatif.”

“Negeri ini seharusnya tidak tunduk pada mereka para idiot yang hidup di abad ke-15, untuk kemajuan negeri Ulama-ulama harus dikerasi sedikit. Sudah saatnya Kesultanan kalian menjadi progresif.” Wajahnya serius, tapi santai.

Aku tersenyum pengertian, “itu tidak mungkin Yang Mulia, pemimpin kami tidak mungkin keras pada ulama, bukan karena takut ya. Kami tidak mungkin menindas mereka yang dalam setiap shalat dan khutbahnya mendoakan kebaikan bagi pemimpin dan negeri ini.”

“Logikamu bengkok! Stupid!” Ia menunjukku geram.

“Setidaknya bengkok lebih baik daripada patah Yang Mulia.” Aku tersenyum manis, caci maki terus aku dalam bahasa Inggris, emang aku mengerti, tapi tidak sesakit kalau dimaki dalam bahasa daerah.

Hahaha, dalam hati aku tertawa. Karena kami, kenegerian Sungai Keadilan tidak akan pernah mengikuti kebudayaan Barat dengan serta merta, lebih baik dibilang pandir oleh si kafir ini, daripada nanti di akhirat tidak masuk golongan Nabi Muhammad. Aku balas menghina, cuma dalam hati saja.

“Kalian kekurangan teknologi, kami bisa membantu melacak situs itu dengan peralatan dan konsultan-konsultan yang ahli.”

Aku diam, selain senjata dan royalti pilem Hollywood sebagai pendapatan Amerika Serikat. Ada satu lagi yang berbahaya, jasa konsultasi. Negara-negara kecil akan dipaksa meminjam dana, untuk kemudian membeli peratalan-peralatan mereka dan menggaji tinggi konsultan mereka. Tapi tenang, kata mereka biayanya bisa dicicil, akan ringan meski bunganya mencekik. Hanya pejabat yang tolol yang besedia, ditambah pejabat yang disuap fee oleh Amerika. Itulah sebab aku membenci kapitalisme, itulah sebab aku melawan kapitalisme mereka.

“Dengan biaya terjangkau tentunya.” Ia tersenyum, bagaimanapun Amerika Serikat hebatnya sebagai sebuah Negara adidaya, tetap saja mereka adalah pedagang yang menjual produk-produk korperasi mereka sendiri. Meskipun kami adalah Negara kecil yang entah berantah tapi kami harus melawan kapitalisme mereka, dengan lembut tentunya.

“Saya pikir kami mampu menangani masalah ini sendiri Yang Mulia, Insya Allah, kami bisa!” Kali ini aku tegas.

Ia mengangguk, kesal dan marah. “Aku beri waktu tiga bulan! Kalian tentu tahu apa akibatnya jika Amerika marah tentunya. Jika kalian lupa, ingatlah Irak, ingatlah Afganistan dan ingatlah Libia.” Matanya berkilat mengancam.

Aku membungkuk pada anjing buduk kudisan ini, dan mengantarkannya ke depan kantor dengan basa-basi kecil. Selepas mobil Duta Besar Amerika Serikat itu pergi aku memanggil Syamaun dan menyuruh mempersiapkan mobil untuk melaporkan ini kepada Sultan.

XXX

“Jadi dia berkata begitu?” Sultan merebahkan diri dikursi, begitu aku selesai melaporkan secara pribadi di ruang tertutup, rupanya sedari tadi dia cemas dan mengharapkan aku segera datang dan menceritakan duduk perkaranya.

“Paman, rakyat kita butuh hiburan, sedang ancaman Amerika Serikat terasa sangat nyata. Apa yang harus kita lakukan?” Ia bimbang karena kecintaannya kepada rakyat yang membutuhkan hiburan gratis, dan aku tahu juga dia juga adalah salah satu penikmat domain illegal itu. Tapi disisi lain, Amerika Serikat adalah Negara terkuat di dunia sekaligus mitra dagang yang paling menguntungkan bagi kami. Sentilan embargo, atau bahkan invasi bisa terjadi.

“Ada solusi paman?” Dalam ruang tertutup Sultan lebih suka dipanggil ananda olehku, mungkin karena aku satu-satunya sahabat ayahnya yang masih hidup.

“Selalu ada solusi ananda, saya punya jalan keluar.” Aku tersenyum nakal, sangat nakal untuk orang yang sudah berumur enam puluhan.

Ia tersenyum, “kenapa paman tidak bilang dari tadi? Apa solusinya?”

Aku mendekat berbisik, ia tertawa terbahak-bahak sampai lemas. Selesai tertawa ia bertanya, “paman kenapa harus berbisik di ruang tertutup?”

“Ada pepatah kuno yang berkata dalam istana dinding pun punya telinga.”

Ekspresi Sultan Malik Saleh Perkasa Alam terkejut, ia menatapku dengan penuh kekaguman. Sama persis ketika waktu dia kecil, waktu selesai dikhitan dengan rasa sakit yang minimal.

XXX

Dalam perjalanan pulang kembali dari istana, Syamaun menyetir dengan tenang. Aku memandangi negeri yang aku cintai ini, jalan-jalannya, sungai-sungainya yang keruh, masyarakatnya yang keras tapi tulus. Aku mencintai negeri ini, semuanya dan aku bersyukur dilahirkan di negeri ini.

“Syamaun dalam waktu tiga bulan bisakah kau membangun sebuah domain baru dan telah memindahkan data-datanya?” Tanyaku.

“Jangankan tiga bulan, seminggu pun bisa.” Ia tersenyum.

“Baik tolong siapkan segera, dalam dua bulan matikan domain lama, tunggu dua hari dan hidupkan yang baru.”

“Baik dan Terima kasih pak menteri.”

“Justru aku yang berterima kasih karena kamu mengerjakan domain itu untukku.” Aku tertawa merasa tersindir.

“Terima kasih telah memberikan hiburan pada rakyat maksud saya” Katanya.

“Kalian melihat pemimpin seharusnya sama seperti manusia lain, mereka ingin bahagia, ingin rakyatnya bahagia juga tentunya, tapi kita tidak bisa dengan begitu saja mengalirkan uang dengan mudah pada negeri asing.”

Syamaun diam, dia melihat kebelakang melalui kaca dengan penuh hormat, segera detik itu aku mengambil pelajaran moral bahwa kadang Menteri Jaringan bisa lebih tinggi dari Sultan sendiri. Untuk memahami lawan, engkau harus hidup dan berpikir dengan cara mereka. Salah satu cara memahami kebudayaan mereka yang besar adalah dengan menonton filem mereka, seperti Starwars, Avengers, dan sebagainya. Tapi kami melakukan itu dengan tanpa membayar. Disitulah aku tersenyum puas dan betapa hari ini sangat indah.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  47. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  48. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

TELATAH YANG PATAH-PATAH

TELATAH YANG PATAH-PATAH

Masihkah engkau mengingat ketika pertama kali paru-paru isi oleh udara, ketika rahman1) dan rahim2) mengantarkan kau menuju gharib3), dari perantah sampai telatah yang patah-patah, sudahkah engkau kenali jalan yang membetuli insan4) wahai arif budiman?

Selalu hidup adalah hasrat, atau ia menghimbau selayaknya fajar, tiap kali didatangi, ia fana, namun disanalah waktu ditetapkan. Shubuh datang, maghrib menjelang kemudian shubuh lagi, tapi repetisi itu tak terasa rutin, tiap menit, tiap jam, dan tiap hari. Harapan akan dunia ini selalu berisi ketegangan, antara amarah atau cita-cita, kemungkinan dan kematian, kekalahan atau kemenangan, nostagia bahkan sulitnya keinginan.

Langkah-langkah hidup penuh onak menuju makrifat

Langkah-langkah hidup penuh onak menuju makrifat

Pada tubir ini, diantara hutan ataupun pantai. Beta berjalan mendaki, dan tak sadar menikmati sentuhan tenah yang keras di telapak kaki, menghirup bau perdu dan pohon-pohon disekeliling. Beta tak sengaja memandangi sepucuk sajaratun5), di depan mata, ia seakan-akan berubah menjadi lambang aljabar6), perjuangan kami, kehilangan kami telah terhitung laba ruginya. Akh, pada saat itu jua, Beta merasa direnggutkan dari sajaratun itu, dan sebagai penganti tampak sebuah lobang melompong kemana rasa marah dan sakit mengalir, masuk.

Bisakah si fakir mengharap makrifat7)? Bila hati dipenuhi maksiat. Harap cemas ibadah digantikan nikmat dunia. Oh, Beta bepergian selayaknya orang-orang, tapi pulang ke sebuah tempat yang tiada. Ibarat hati terombang-ambing, antara kekasih dan nikmat duniawi. Kebimbangan, ketakutan mengungkapkan rasa sedih mengiris. Di tempat ini yang justru tak berarti, tempat yang tak hadir tapi Beta bentangkan setiap hari, mungkinkah Beta menjumpai engkau kekasih sebagai muhlisin?

Beta telah kehilangan segalanya, segalanya pada pusaran mahbub9), perjalanan malam menggunakan suluh cahaya, penuh seluruh harap markab10) ini berlabuh ke Bandar tauhid menuju makrifat, agar supaya dapat bertemu sang kekasih.

Bait al-Hikmah, 4 Rabbiul Akhir 1440 Hijriah (Bertepatan 11 Desember 2018)

Daftar Istilah:

  1. Rahman = Maha Pengasih;
  2. Rahim = Maha Penyayang;
  3. Gharib = Asing/Dagang (Dunia adalah tempat yang asing bagi manusia);
  4. Insan = Manusia;
  5. Sajaratun = Sejarah/Pohon;
  6. Aljabar = Matematika Arab (Cikal bakal Aritmatika);
  7. Makrifat = Pengetahuan yang diperoleh mengetahui akal;
  8. Muhlisin = Orang yang ikhlas;
  9. Mahbub = Lautan dan gelombang;
  10. Markab = Perahu

Posted in Kolom, Literature, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment