KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA

KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA

Latar Belakang Kebijakan Politik Islam oleh Snouck Hurgronje

Pada akhir abad ke-19 Belanda yang telah menancapkan kekuasaannya di Nusantara dihadapkan kepada masalah perlawanan terus menerus dari umat Islam, meskipun berulang kali mampu mengalahkan perjuangan tersebut mereka sangat khawatir dengan dinamika yang terjadi saat itu. Untuk itu dirasa penting merancang kebijakan politik Islam untuk mempertahankan kekuasaan Belanda selama-lamanya di Indonesia.

Perang Diponegoro (1825-1830) di Pulau Jawa

Perang Paderi 1821-1837 di Minangkabau

Armada kapal perang Belanda mengepung pantai Aceh tahun 1873

Sementara itu ditempat lain pada tahun 1880 Perang Aceh masih berkecamuk dengan hebat, meskipun Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan pada 26 Januari 1874 akan tetapi Kesultanan Aceh masih berjalan dibawah Sultan Tuanku Muhammad Daudsyah, meskipun ibu kota Negara Aceh berpindah-pindah dari Pagar Aye, Indrapuri, Keumala dan tempat-tempat lain. Sampai dengan 6 tahun peperangan Belanda telah kehilangan 17.000 serdadu di Aceh.

Pemerintah Belanda merasa perlu merekrut seorang ahli untuk menghadapi persoalan tersebut maka direkrutlah Prof. DR. C. Snouck Hurgronye seorang pakar Islamologi yang pada tahun 1880 mempertahankan disertasinya yang berjudul “Het Makkasehe Fest” (Perayaan Besar Mekkah).

Penugasan Snouck Hurgronje ke Mekkah.

Maka pada tahun 1884 Snouck Hurgronje dikirim Kementerian Urusan Jajahan untuk belajar bahasa Melayu ke Arab, hal ini dikarenakan saat itu Belanda kesulitan mengirimkan agen-agennya ke Indonesia. Karena Snouck belum menguasai bahasa Melayu, maka ia harus mempelajari terlebih dahulu bahasa Melayu ke Arab pada orang-orang Nusantara yang ada di Arab.

Snouck Hurgronje sebagai Abdul Ghaffar di Arab, kelak diberi julukan Tengku Puteh oleh orang-orang Aceh.

Di Arab selama enam bulan pertama Snouck tinggal di Jeddah berhasil bergaul dengan ulama-ulama asal Nusantara (Indonesia) sambil belajar bahasa Melayu, ia berhubungan paling dekat adalah Raden Aboe Bakar Djajadiningrat dan mengajak Snouck Hurgronje masuk agama Islam pada 4 Januari 1885 dan berganti nama menjadi Abdul Ghafar. Tentunya ia tidak bersungguh-sungguh masuk Islam, baginnya Islam adalah suatu hal yang harus dipelajari secara sungguh-sungguh dan harus diperlakukan bijaksana oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Selama di Arab mempelajari semua kitab tafsir antara lain Tafsir al-Baidhawi, al-Bajuri, al-Ikna’ dan Tuhfah. Kemudian ia pindah ke Mekkah. Ia bergaul dengan ulama-ulama setepat sampai kembali ke Belanda pada tahun 1885. Tiga tahun setelah Snouck kembali ke negerinya, ia menerbitkan dua jilid buku dengan judul Mekkah. Ketika buku itu diedarkan nama Snouck Hurgronje tersohor ke seluruh dunia, dianggap sebagai buku yang sangat penting bagi tujuan politik kolonial di dunia.

Penugasan Snouck Hurgronje ke Hindia Belanda.

Selama di Mekkah, Snouck menjalin hubungan akrab dengan seorang ulama asal Aceh bernama Habib Abdurrahman Az-Zahir. Ulama ini adalah bekas penasehat utama Sultan Aceh, Alaiddin Mahmudsyah (1870-1874 M). Namun ia kehilangan kepercayaan oleh pihak Aceh sehingga menyerah kepada pemerintah Belanda dan diberikan pensiun kepada Habib Abdurrahman untuk hidup dan tinggal di Mekkah.

Berdasarkan pemahamannya terhadap Aceh di Mekkah, ia menawarkan diri pada Kementerian Urusan Jajahan agar dapat ditugaskan ke Aceh. Pada 1889 ia mendarat di Batavia. Segera Gubernur Jenderal C. Picnaeker Hordijk mengangkat dirinya menjadi penasehat resmi Bahasa Timur dan Hukum Islam bagi pemerintah Hindia Belanda di Nusantara. Sebenarnya sebelum kedatangan Snouck Hurgronje ke Indonesia, Belanda telah mendirikan “priesterraden” (1882) yang bertugas mengawasi pertumbuhan pesantren di Indonesia, tapi usaha ini gagal.

Setelah dia diangkat sebagai penasehat Pemerintah Hindia Belanda melalui kantor Van Inlandschen Arabiche Zaken, dia memberikan 8 saran antara lain:

  1. Pemerintah Hindia Belanda tidak perlu takut terhadap pengaruh para haji Indonesia apabila pemerintah mengadakan pendekatan terhadap ulama Mekkah yang menjadi guru haji Indonesia dengan menjadikan mereka kawan, maka pengaruh haji Indonesia yang mengancam stabilitas akan berakhir;
  2. Pemerintah Hindia Belanda tidak perlu takut dengan Pan-Islamisme. Islam berbeda dengan Katholik yang memiliki organisasi kepausan. Khalifah Ustmani sendiri saat itu telah mengendapkan program Pan-Islamisme;
  3. Yang harus ditakuti oleh Pemerintah Hindia Belanda “bukan Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik”. Biasanya dipimpin oleh minoritas kecil ulama yang fanatik. Yakni mereka yang membaktikan diri kepada cita-cita Pan-Islamisme, jika pengaruhnya menyebar ke desa-desa akan sangat berbahaya. Karena itu disarankan supaya pemerintah “bertindak netral terhadap Islam sebagai agama dan tegas kepada doktrin politiknya.”;
  4. Pemerintah Hindia Belanda harus mencegah para ulama masuk pemerintahan (eksekutif). Karena tidak mungkin menjalin hubungan penguasa Kristen (Belanda) dengan pemerintahan yang diduduki mayoritas Islam;
  5. Pemerintah Hindia Belanda harus mempersempit ruang gerak dan pengaruh Islam. Hal ini dapat dicapai melalui kerjasama kebudayaan Indonesia dan Belanda. Ini dapat dimulai dengan memperalat golongan priyayi sebagai pamong praja. Untuk itu golongan priyayi harus dididik dengan pendidikan Barat;
  6. Pemerintah Hindia Belanda harus menghidupkan golongan pemangku adat, dan mereka harus diperalat menentang Islam. Pertentangan ini dapat dicapai dengan membentuk lembaga adat berdasarkan tradisi lokal, berbeda dengan Islam yang universal;
  7. Khusus untuk Perang Aceh, Snouck Hurgronje menasehatkan agar menjalankan operasi militer ke daerah pedalaman dan “menindak secara tegas ulama-ulama yang di kampung-kampung serta jangan memberikan kesempatan para ulama menyusun kekuatan dengan santrinya sebagai pasukan sukarela”, terhadap orang Islam yang awam pemerintah harus meyakinkan, bahwa “pemerintah melindung agama Islam.” Usaha ini dapat dijalankan dengan bantuan kepala-kepala Adat/Bangsawan;
  8. Pemerintah harus selalu memisahkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai doktrin politik. Makin renggang jarak antara keduanya maka makin mempercepat kehancuran Islam.

Penugasan Snouck Hurgronje ke Aceh.

Pada tahun 1893 Snouck ditugaskan ke Aceh dengan tugas utamanya untuk menyusun saran-sarannya terhadap penyelesaian perang Aceh dengan Belanda. Pertama sekali Snouck tinggal di Aceh adalah di Ulee Lheue sebagai tempat yang menjadi markas utama militer Belanda. Di Ulee Lheue inilah Snouck berhasil menyususun sebuah laporan pertamanya tentang Aceh, yaitu Atjeh Verslag sebagal laporan yang menjadi dasar kebijakan polilik dan militer Belanda dalam menghadapi Aceh.

Menurut van Koningsveld, bagian pertama laporan Snouck tentang Aceh berupa uraian antropologi masyarakat Aceh, pengaruh Islam sebagai dasar keyakinan orang Aceh, serta peranan ulama dan Uleebalang dalam masyarakat Aceh. Dalam laporan itu Snouck juga menguraikan bahwa perang Aceh dikobarkan oleh para ulama, Sedangkan Uleebalang menurut Snouck bisa diajak menjadi calon sekutu Belanda, karena kepentingannya adalah keuntungan duniawi.

Syair Hikayat Perang Sabi (Hikayat Perang Sabil) Koleksi Museum Aceh sebagai penyemangat pejuang Aceh dalam melawan agresi Belanda.

Snouck juga menulis bahwa Islam bagi masyarakat Aceh juga harus dinilai negatif, karena Islam bisa membangkitkan fanatisme anti Belanda di kalangan rakyat Aceh. Karenanya, para pemuka agama dalam masyarakat Aceh hendaknya dapat ditumpas agar pengaruh Islam menjadi tipis di Aceh. Dengan demikian para Uleebalang menurut Snouck akan mudah diajak bersekutu dengan Belanda.

Satu kegagalan pemerintah Belanda di Aceh, menurut Snouck adalah akibat tidak adanya pengetahuan Belanda terhadap Aceh sebagai wilayah Islam. Itu sebabnya, ketika Snouck bertugas di Aceh, di samping mempelajari karakter masyarakatnya secara antropologis (adat dan budaya Aceh), ia juga mengkaji kitab-kitab para ulama Aceh. Di antaranya kitab Umdatu al-Muhtajin karangan Syekh Abdul Rauf Syiah Kuala, sebagai kitab yang dianggap Snouck sangat berpengaruh bagi pengembangan Tarekat Syatariyah di Aceh. Selama penugasannya ia menghasilkan Buku De Atjehers (dua jilid: 1893-1894) yang ditulis Snouck tentang Aceh.

Politik Islam oleh Snouck Hurgronje.

Hasil Pemikiran Snouck Hurgronje disarikan menjadi Politik Islam Pemerintah Kolonial Belanda

SNOUCK Hurgronje (1857-1936) adalah seorang ilmuan Belanda yang kontroversial. Di satu sisi bagaimana pun Snouck Hurgronje harus diakui sebagai pelaku dan pencatat sejarah yang telah memberikan sumbangan paling berharga dalam memahami lika-liku politik pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. Di lain sisi, Snouck telah mempermainkan agama Islam untuk kepentingan politik Kolonial Belanda di Indonesia termasuk di Aceh.

Tak salah jika Snouck Hurgronje dianggap sebagai biang dari munculnya konflik-konflik pemahaman Islam di Indonesia. Dia sebagai pengabdi politik kepentingan Belanda pada zamannya, maupun sebagai agamawan atas nama Syeh Abdoel Ghafar. Ataupun sebagai ilmuan yang ahli tentang Islam (Islamologi) dalam perspektif Islam dan sebagai ilmuan dalam perspektif akademik, ataupun sebagai sejarawan dan peranannya ketika ia bertugas di Indonesia maupun di Aceh.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  57. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  58. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Advertisements
Advertisements
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments

NOVEL KURA KURA BERJANGGUT APA BAGUSNYA

NOVEL KURA KURA BERJANGGUT APA BAGUSNYA

Membaca Novel Kura Kura Berjanggut kita “sebaiknya” menjadi seorang anak-anak yang polos menunggu kejutan-kejutan cerita yang muncul ditiap helai halamannya. Nusantara berhutang kepada Azhari Aiyub atas terbitnya novel ini sebagaimana Indonesia beruntung bahwa seorang Andrea Hirata pernah menciptakan “Laskar Pelangi.” Jikalah dapat diumpamakan Laskar Pelangi diibaratkan sebuah filem Hollywood yang penuh dengan ungkapan-ungkapan indah dan menyenangkan serta memanjakan selayaknya besutan Marvel, maka Kura-Kura Berjanggut ini pekat, kelam seperti filem yang dikeluarkan oleh DC. Novel ini meninggalkan banyak pertanyaan yang tak kunjung selesai.

Kura-Kura Berjanggut membawa kita ke dalam berbagai petualangan yang membawa imaji kita kepada sebuah negeri Lamuri, untuk kemudian mengembara melintasi berbagai negeri sepanjang Istanbul (Turki) sampai Teluk Samboaga (Filipina). Pembaca terpaksa hadir tempat-tempat yang dikutuk, menyaksikan perilaku tercela yang dikecam oleh segala kitab suci. Imajinasi sang pengarang akan sangat menganggu siapapun yang pernah mempelajari Fiqh dengan tekun, atau siapapun yang meyakini prinsip-prinsip moral harus dibawa teguh dalam sebuah karya sastra selayaknya novel Ayat-Ayat Cinta.

Cerita ini adalah sebuah kitab yang tersendiri, tiada sudi mendengarkan. Halaman-halaman yang penuh tragedi ini ternyata diakhir baru kita sadari bahwa semua itu ternyata komedi semua, ironi sebagaimana komplotan pembunuh yang mengancam Sultan Nuruddin dari Lamuri ternyata dipimpin oleh Raja Pelawak.

Azhari Aiyub menyusun sebuah memoar fiktif yang penuh dengan kenakalan imajinasi yang mengejutkan kita dengan memasukkan berbagai intrik seksualitas termasuk homoseksualitas dan praktek menyimpang di seputar para tokoh yang memiliki kebiasaan aneh.

Sekitar tahun 2006, saya pernah membaca buku dengan level kekurangajaran sejenis, Tariq Ali dengan bukunya Kitab Saladin. Waktu itu saya masih terlalu muda dan rigid sehingga bersumpah tidak akan membaca bukunya lagi dikarenakan bertentangan dengan pengetahuan umum tentang diri Salahuddin bin Ayyub sebagaimana diajarkan para guru dan sejarawan. Tapi untunglah Ustad Abdul Somad telah memberitahukan solusi membatalkan sumpah, yaitu berpuasa sunat selama tiga hari berturut.

Tahun 2000, saya pernah bertemu dengan Azhari Aiyub muda (mungkin masih 19 tahun), ketika itu dia diundang sebagai pemateri pada acara Bengkel Sastra di Taman Budaya Banda Aceh untuk siswa Menengah Atas mendampingi seniman senior Aceh, Mas Kirbi. Sebagai pemateri berulang dia ucapkan, “Adik-adik ketahuilah bahwa imajinasi lebih kuat daripada inspirasi, dengan imajinasi kita bisa menciptakan apa saja dan kapan saja secara aktif, berbeda dengan inspirasi yang harus kita tunggu kapan datangnya.” Sebagai pemateri mungkin dia sudah melupakan kata-katanya, tapi sebagai seorang peserta (waktu itu saya masih 16 tahun), saya masih mengingat kata-katanya.

Imajinasilah yang membuat Lamuri hidup kembali, sebuah kerajaan yang terletak di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar sekarang, adalah cikal bakal Kesultanan Aceh menjadi tertenggok kembali, saya menduga mungkin karena Azhari Aiyub (sama seperti saya) berasal dari Aceh Besar, dimana Aceh Besar disebut Belanda dengan nama Aceh Groot (Akar Aceh/Aceh Inti). Berbicara inti ia juga menyebut Zeeland untuk Belanda, dan Castilla untuk Spanyol. Perancis dan Turki menggunakan nama asli dalam bahasa Indonesia, sedang Portugis sebagai musuh kerajaan Aceh di masa lalu disebut Peranggi.

(BACA JUGA : SEJARAH KERAJAAN LAMURI)

Kisah dimulai pada abad ke-16 ketika kekuasaan bangsa putih belum begitu mencengkram Samudera Illahi, Turki masih menjadi jagoan umat Islam dan para Sultan dipenjang pesisir Laut Merah sampai Nusantara masih merdeka dalam menjual rempah-rempah, kemudian meloncat keawal abad 20 dimana bangsa Eropah telah menguasai setiap negeri di Timur (Khususnya Asia Tenggara), dan akhirnya meloncat ke masa sekarang.

Novel Kura Kura Berjanggut oleh Azhari Aiyub. Cetakan I; Penerbit Banana (2018).

Novel Kura Kura Berjanggut adalah kisah tentang mereka yang kalah, tidak ada satu orang pun yang menang. Si Ujud, Sultan Nurruddin, Si Buduk, Kamaria, Tobias, Tajul Muluk sampai Abdoel Ghaffar dan Van Heutz sekalipun semuanya kalah.

Tiap tokoh, tiap kejadian adalah tragedi. Perlu waktu dan energi yang maha besar bagi saya untuk menyelesaikan membaca novel dengan 960 halaman ini, untuk akhirnya mengambil kesimpulan bahwa buku ini ketika dilihat secara menyeluruh ternyata sebuah karya yang penuh dengan humor, yang hitam, pekat dan sedikit menyakitkan hati. Terutama jika yang membaca adalah seorang Aceh, memahami makna-makna Darul Kamal, Istana Daruddonya, Medan Khayali, Kuta Reh dan lain-lain. Istilah-istilah itu membangkitkan kenangan tentang masa lalu penuh kejayaan yang tak terjangkau lagi, ketika Bandar Aceh (pernah) sejajar kota-kota kosmpolitan dunia seperti London, Amsterdam, New York, Dubai sekarang. Kini teronggok dan tak tertenggok di sudut Indonesia, sebuah lorong buntu diujung.

Biasanya ketika saya membaca sebuah buku maka sedikit banyak berusaha mencari roh sang penulis, kepada karakter mana sang pencipta tiupkan. Sebagaimana J.K Rowling mengakui dia memasukkan karakternya ke Hermione dalam serial Harry Potter. Saya menduga Azhari Aiyub memasukkan jiwanya ke tokoh Marabunta sang penasehat yang memuja kerang. Si usil yang menentang segala aturan, memberi nasehat-nasehat kebaikan untuk Anak Haram kemudian menghilang tanpa jejak tiba-tiba.

Saya tidak akan banyak bercerita tentang detil untuk menjadi spoiler bagi Novel Kura Kura Berjanggut ini. Novel ini menganggu pikiran dan menganggu perasaan, sebagaimana sebuah karya sastra yang baik memang untuk diciptakan untuk menganggu. Kata orang sebuah karya sastra adalah anak panah yang ditembakkan oleh si penulis, pembaca yang menentukan bagaimana persepsi terhadap karya sastra tersebut. Tapi bagi saya, Azhari Aiyub adalah seorang teroris, karyanya ibarat bom panci, penuh dengan paku dan beling yang menancap di otak saya. Maka untuk menyembuhkan luka batin saya akibat membaca buku ini, maka kita harus menjadi kanak-kanak yang polos ketika membaca Novel Kura Kura Berjanggut. Seorang anak berkali bisa jatuh dan terluka, tapi mereka selalu bisa bangkit dan tertawa kembali.

Kembali ke judul, Novel Kura Kura Berjanggut Apa Bagusnya? Tentu bagus, karena bagi saya sebuah karya sastra yang bagus adalah yang selesai! Ketika sebuah karya tidak selesai, maka ia tak akan pernah ada.

Selamat membaca Novel Kura Kura Berjanggut, dan selamat sakit kepala!

Posted in Buku, Cerita, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

SEJARAH KERAJAAN LAMURI

Situs Cagar Budaya Benteng Indrapatra di Krueng Raya, Aceh dipercaya sebagai peninggalan dari Kerajaan Lamuri.

SEJARAH KERAJAAN LAMURI

Catatan Sejarah Kerajaan Lamuri

Secara umum, data tentang kesultanan ini didasarkan pada berita-berita dari luar, seperti yang dikemukakan oleh pedagang-pedagang dan pelaut-pelaut asing (Arab, India, dan Cina) sebelum tahun 1500 M. Di samping itu, ada beberapa sumber lokal, seperti Hikayat Melayu dan Hikayat Atjeh, yang dapat dijadikan rujukan tentang keberadaan kesultanan ini.

Data tentang lokasi kesultanan ini juga masih menjadi perdebatan. W. P. Groeneveldt, seorang ahli sejarah Belanda, menyebut bahwa kesultanan ini terletak di sudut sebelah barat laut Pulau Sumatera, kini tepatnya berada di Kabupaten Aceh Besar. Ahli sejarah lainnya, H. Ylue menyebut bahwa Lambri atau Lamuri merupakan suatu tempat yang pernah disinggahi pertama kali oleh para pedagang dan pelaut dari Arab dan India. Menurut pandangan seorang pengembara dan penulis asing, Tome Pires, letak Kesultanan Lamuri adalah di antara Kesultanan Aceh Darusalam dan wilayah Biheue. Artinya, wilayah Kesultanan Lamuri meluas dari pantai hingga ke daerah pedalaman.

Menurut T. Iskandar dalam disertasinya De Hikayat Atjeh (1958), diperkirakan bahwa kesultanan ini berada di tepi laut (pantai), tepatnya berada di dekat Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. H. M. Zainuddin, salah seorang peminat sejarah Aceh, menyebutkan bahwa kesultanan ini terletak di Aceh Besar dekat dengan Indrapatra, yang kini berada di Kampung Lamnga. Peminat sejarah Aceh lainnya, M. Junus Jamil, menyebutkan bahwa kesultanan ini terletak di dekat Kampung Lam Krak di Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Berdasarkan sejumlah data di atas, sejarah berdirinya dan letak kesultanan ini masih menjadi perdebatan di kalangan pakar dan pemerhati sejarah Aceh. Namun demikian, dapat diprediksikan bahwa letak Kesultanan Lamuri berdekatan dengan laut atau pantai dan kemudian meluas ke daerah pedalaman. Persisnya, letak kesultanan ini berada di sebuah teluk di sekitar daerah Krueng Raya. Teluk itu bernama Bandar Lamuri. Kata “Lamuri” sebenarnya merujuk pada “Lamreh” di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya). Istana Lamuri sendiri berada di tepi Kuala Naga (kemudian menjadi Krueng Aceh) di Kampung Pande sekarang ini dengan nama Kandang Aceh.

Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kerajaan Lamuri telah ada sejak pertengahan abad ke-IX M. Artinya, kesultanan ini telah berdiri sejak sekitar tahun 900-an Masehi. Pada awal abad ini, Kerajaan Sriwijaya telah menjadi sebuah kerajaan yang menguasai dan memiliki banyak daerah taklukan. Pada tahun 943 M, Kesultanan Lamuri tunduk di bawah kekuasaan Sriwijaya. Meski di bawah kekuasaan Sriwijaya, Kesultanan Lamuri tetap mendapatkan haknya sebagai kerajaan Islam yang berdaulat. Hanya saja, kesultanan ini memiliki kewajiban untuk mempersembahkan upeti, memberikan bantuan jika diperlukan, dan juga datang melapor ke Sriwijaya jika memang diperlukan.

Menurut Prasasti Tanjore di India, pada tahun 1030 M, Kesultanan Lamuri pernah diserang oleh Kerajaan Chola di bawah kepemimpinan Raja Rayendracoladewa I. Pada akhirnya, Kesultanan Lamuri dapat dikalahkan oleh Kerajaan Chola, meskipun telah memberikan perlawanan yang sangat hebat. Bukti perlawanan tersebut mengindikasikan bahwa Kesultanan Lamuri bukan kerajaan kecil karena terbukti sanggup memberikan perlawanan yang tangguh terhadap kerajaan besar, seperti Kerajaan Chola.

Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kesultanan Lamuri merupakan tempat pertama kali yang disinggahi oleh oleh pedagang-pedagang dan pelaut-pelaut yang datang dari India dan Arab. Ajaran Islam telah dibawa sekaligus oleh para pendatang tersebut. Berdasarkan analisis W. P. Groeneveldt, pada tahun 1416 M semua rakyat di Kesultanan Lamuri telah memeluk Islam. Menurut sebuah historiografi Hikayat Melayu, Kesultanan Lamiri (maksudnya adalah Lamuri) merupakan daerah kedua di Pulau Sumatera yang diislamkan oleh Syaikh Ismail sebelum ia mengislamkan Kesultanan Samudera Pasai. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Kesultanan Lamiri jelas merupakan salah satu kerajaan Islam di Aceh.

Menurut Hikayat Atjeh, salah seorang sultan yang cukup terkenal di Kesultanan Lamuri adalah Sultan Munawwar Syah. Konon, ia adalah moyang dari salah seorang sultan di Aceh yang sangat terkenal, yaitu Sultan Iskandar Muda. Pada akhir abad ke-15, pusat pemerintahan Kesultanan Lamuri dipindahkan ke Makota Alam (kini dinamakan Kuta Alam, Banda Aceh) yang terletak di sisi utara Krueng Aceh. Pemindahan tersebut dikarenakan adanya serangan dari Kerajaan Pidie dan adanya pendangkalan muara sungai. Sejak saat itu, nama Kesultanan Lamuri dikenal dengan nama Kesultanan Makota Alam.

Dalam perkembangan selanjutnya, tepatnya pada tahun 1513 M, Kesultanan Lamuri beserta dengan Kerajaan Pase, Daya, Lingga, Pedir (Pidie), Perlak, Benua Tamiang, dan Samudera Pasai bersatu menjadi Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M). Jadi, bisa dikatakan bahwa Kesultanan Lamuri merupakan bagian dari cikal bakal berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam. Nama kesultanan ini berasal dari salah satu desa di Kabupaten Aceh Besar, yang pusat pemerintahannya berada di Kampung Lamreh.

Kerajaan Lamuri sebagai cikal-bakal (inti) pembentukan Kesultanan Aceh Darussalam

H.M Zainuddin dalam buku Tarikh Aceh dan Nusantara menyebutkan kurang lebih pada 400 Masehi, Sumatera Bagian Utara dinamai orang Arab dengan nama Rami (Ramni = terletak di kampung Pande sekarang), orang Tionghoa menyebut LamLi, Lan-wu-li, dan Nan-Poli. Yang sebenarnya adalah sebutan Aceh Lam Muri, dan dalam sejarah Melayu disebut Lambri (Lamiri). Sesudah kedatangan bangsa Portugis dan Italia biasanya mengatakan Achem, Achen, Acen. Sementara orang Arab menyebutkan Asyi, atau juga Dachem, Dagin, Dacin. Penulis-penulis Perancis mengatakan : Atcheen, Acheen, Achin. Akhirnya orang Belanda menyebutkan: Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh sampai akhirnya menjadi Aceh. Orang Aceh sendiri mengatakan Atjeh. Begitupula nama daerah ini disebut dalam tarikh Melayu, undang-undang Melayu, di dalam surat Aceh lama (sarakata) dan pada mata uang Aceh.

Benteng Indrapatra

Menurut Gerini, nama Lambri (Rami, Ramni) adalah penganti Rambri (Negeri Rama) yang terdapat di Arakan (Birma), yang merupakan perubahan Rama-Bar atau Rama-bari, seperti yang terdapat di dalam bahasa-bahasa India Selatan. Kata ini diduga terbawa dari Pesisir India Selatan (Koromandel) ke Sumatera Utara.

Menurut Rouffaer, asal kata dari al Ramni, atau al Rami adalah pengejaan yang salah dari kata Ramana = Arakan yang digunakan oleh orang Singhala (Sri Langka). Hubungan Aceh dengan Birma berdekatan erat, hal ini ditinjau dari berbagai nama kota di Aceh banyak yang menyerupai nama-nama kota di Birma.

Perubahan nama dari Lamuri menjadi Aceh belum dapat dipastikan bagaimana proses terjadinya. Dalam Tarikh Kedah (Marong Mahawangsa) tahun 1220 M (517 H), nama Aceh sudah disebutkan sebagai satu negeri di pesisir pulau Perca (Pulau Sumatera). Orang Portugis Barbosa (1516 M / 922 H) sebagai orang Eropa pertama yang menyebut nama Achem dan buku-buku Tionghoa (1618 M) menyebutkan Aceh dengan nama A-Tse.

Periode Pemerintahan Kerajaan Lamuri

Prasasti pada Benteng Indrapatra yang menjelaskan bahwa benteng ini telah ada jauh sebelum munculnya Kesultanan Aceh Darussalam (Pada Masa Kerajaan Lamuri), akibat perubahan garis pantai benteng ini tidak berada pada lokasi strategis ketika Belanda menyerang Aceh pada tahun 1873 M.

Kesultanan Lamuri berumur sekitar lebih dari 6 abad karena terhitung sejak tahun 900-an hingga tahun 1513. Kesultanan ini berakhir setelah menyatu bersama dengan beberapa kerajaan lain di Aceh ke dalam Kesultanan Aceh Darussalam.

Wilayah Kekuasaan Kerajaan Lamuri

Wilayah kekuasaan Kesultanan Lamuri mencakup daerah yang kini dikenal sebagai wilayah administratif Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Indonesia.

Struktur Pemerintahan Kerajaan Lamuri

Struktur pemerintahan Kesultanan Lamuri tidak jauh berbeda dengan struktur pemerintahan yang berlaku di Kesultanan Samudera Pasai karena kedua kesultanan ini memiliki pola pemerintahan yang berdasarkan pada konsep Islam dan konsep maritim (kelautan). Dalam struktur pemerintahan Kesultanan Lamuri, sultan merupakan penguasa yang tertinggi. Ia dibantu oleh sejumlah pejabat lainnya, yaitu seorang perdana menteri, seorang bendahara, seorang komandan militer Angkatan Laut (dengan gelar laksamana), seorang sekretaris, seorang kepala Mahkamah Agama (atau disebut sebagai qadhi), dan beberapa orang syahbandar yang bertanggung jawab pada urusan pelabuhan (biasanya juga berperan sebagai penghubung komunikasi antara sultan dan pedagang-pedagang dari luar).

Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Lamuri

Kesultanan Lamuri merupakan kerajaan laut agraris. Artinya, dasar kehidupan masyarakat di kesultanan ini di samping mengandalkan hasil pertanian juga mengandalkan hasil perdagangan yang dilakukan masyarakat sekitar dengan pedagang-pedagang dari luar, seperti dari Arab, India, dan Cina. Hasil perdagangan yang dimaksud berupa lada dan jenis rempah-rempah lain, emas, beras, dan hewan ternak. Hasil-hasil perdagangan tersebut memang telah mengundang perhatian banyak perdagangan dari luar untuk datang ke Lamuri dan wilayah Aceh secara keseluruhan.

Daftar Pustaka

  1. Sejarah Melayu oleh Abdullah Munshi;
  2. Hikayat Aceh;
  3. Hikayat Merong Mahawangsa (Negeri Kedah);
  4. De Hikajat Aceh oleh T. Iskandar;
  5. Tarikh Aceh dan Nusantara oleh H.M. Zainuddin;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  57. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Opini, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

TO READ THE HUMAN HEART

TO READ THE HUMAN HEART

Sometimes a poet raises his mind too much, just like a starling’s anxiety is like a king’s dream. But it is necessary, whatever consolation for the holder of power for words other than poetry, simple for the layman but extraordinary for the understood. When he’s involved in what’s happening in the world but does not want to get involved in the cunning around him. It is not the mind of a proud, but no man, who is not disgusted with false humbleness, forced to exalt himself, disgusting.

This year is not a year of fun, in a moment’s existence. When all that is in the mind is destroyed everything, when everything becomes so difficult, he has no more reason to be arrogant, has no reason to hate his fall. Then, memory and time leave it. Is this a coincidence? The random and cruel, or there is a goal of the pattern of all events, is beyond comprehension. An anger (maybe) has its place, but it does not help here. Absolutely not.

His mind

A calm, betrayed anger, defeating other emotions. How can, someone who has sadness wringing chest. Asked, counseled to persuade to keep fighting, even when he no longer saw the light. Indeed, fate has a cold humor. Perhaps he has a flat face, but there are wiser, more experienced people, more entitled to the call, a call he never wanted, never searching for it, but fate thrusts all this to him.

He who asks for nothing, nor does he give anything. Must say, do not lose your guts now, we’ve walked this far. What does it feel to him? Must encourage the goal, but swear, cruelly, to himself, in the heart. He who believes what he says, but realizes that his words (probably) are not an absolute truth.

It is impossible to live unharmed life, or refuse to be hurt. Collected wounds mark both error and success. He (may) realize, that in a different name for the same thing, (probably) because of it, he endures. The question is how to stop a person who intends to survive no matter what obstacles in front of him, a determination always beats fear, determination best begins with resignation. Because the best of a decision, starting from the mind, the loving mind.

Sometimes a poet raises his mind too much, just like a starling’s anxiety is like a king’s dream.

Though nature is full of small details, and the mind of a human being can’t accommodate everything, although the mind is stronger than the weak body. Indeed, if examined in fact, the true test of self is whether to remain calm in a situation full of trials. Not everyone is given the opportunity to taste it, then enjoy it. And when he speaks, I’ll face him, even if I have to do it myself. Remind him that someone in the past, whom he knows may never meet again, once said, be careful of lying whispers, so that your minds do not press them. Do not listen to the dark shadows, so you will not be hunted during sleep.

Since the past, though everything can’t be as it used to be. It is a person with a conscience who is tired and wants to be alone, is the most dangerous man in the world.

Translate from Bahasa: BENAK

More literature:

  1. THE POET; 17 August 2017;
  2. CHILDREN OF HEAVEN; 30 August 2017;
  3. SELF EVALUATION; 5 September 2017;
  4. WHEN GREED IS GOOD; 1 October 2017;
  5. THE FATE OF THE PAWNS; 4 October 2017;
  6. THE MEANING OF NOSTALGIA; 12 October 2017;
  7. IS THIS LOVE; 25 October 2017;
  8. HARLEQUIN AND THE TREE OF HOPE; 13 November 2017;
  9. LOOKING FOR THE PATH TO THE LIGHT; 21 November 2017;
  10. LIFE IS A JOURNEY; 3 January 2018;
  11. WE ARE PHYSICIAN OF OUR SOUL; 4 January 2018;
  12. THE BEAUTY OF THE MOON; 21 January 2018;
  13. MISSION LOOKING FOR ABU NAWAS; 25 January 2018;
  14. PHILOSOPHICAL SHOCK; 6 May 2018;
  15. MORTAL; 21 May 2018;
Posted in International, Literature, Poetry | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

MORTAL

MORTAL

All human beings are mortal.

Words are just words, we fall in love because of words, we believe because of words, fate is trapped in the word. Maybe the world we see is not the real world, actually, the different color gradient in the eyes of others is different. The only perception that wraps it up, presents differently. (Maybe) every day we see the same thing, but time makes it different. All life will end (mortal), all hearts will break. So let us use the best time possible.

Truly the past, present and future do not exist. All is just motion.

All mortals because he changes, he moves. A 29-year-old man, when he noticed his portrait when he was 12 years old, as a child. Different at all apparently, to say in every facet. Similarly, the behavior, words, and deeds. And we can estimate if he reaches the age of 80 years, then the different likes and temperaments. Then the question arises, whether he is a different person? So the dialectic replied, the third is the same person. Different appearance and nature due to the role of time.

This nature is always in charge, nothing is fixed, God alone is fixed-all. In addition, each of them always changes. Thus man changes, mind changes, appreciation changes, culture changes, views change, mentality changes. Truly the past, present and future do not exist. All is just motion.

Changes are marked events, in the event, there are some circumstances that come in a row in time. And time is a condition for events. Without time there is no event. Time travel allows for the first state, followed by a second event. Without travel time the first state remains, the motion becomes there, because there is time. Heaven is described as a place without change because their time stops.

But that’s not enough! To make something happen there must be a connection between the two states, the so-called causal relationship – The Law of Causality. The event consists of two consecutive states in time and one that corresponds to the other. In heaven, where there is the only eternity, time does not present also deeds.

Chaos accompanies every major change. Change is not absolutely good or bad, but knowledge is always useful. Because of remorse, belongs only to someone who is capable of doing something, but does not do anything.

In this world, human beings are human, though this world is nothing but beautiful. This mortal world, something touching, surprising, and fascinating there. And in history, outside of heaven, human beings must be prepared to be disappointed, but (also) to be grateful for what is mortal.

Translate from Bahasa: FANA

XXX

Similar articles:

  1. ROTTEN; 21 February 2012;
  2. COSMOLOGY UNIVERSE; 2 April 2014;
  3. FATE; 15 April 2014;
  4. MESSAGE FROM THE MIRROR; 26 April 2017;
  5. POOR OLD MAN BALLADS; 27 April 2017;
  6. THE CLOAK OF FATE; 16 May 2017;
  7. GLUTTONY; 29 May 2017;
  8. SOLEMN; 19 June 2017;
  9. SADNESS; 21 July 2017;
  10. THE LIVING MEMOIRS; 29 July 2017;
  11. SELF EVALUATION; 5 September 2017;
  12. WHEN GREED IS GOOD; 1 October 2017;
  13. LIFE IS A JOURNEY; 3 January 2018;
  14. WE ARE PHYSICIAN OF OUR SOUL; 4 January 2018;
  15. PHILOSOPHICAL SHOCK; 6 May 2018;
Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO

MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO

Syair kutindhieng terdengar begitu etnik dan misterius ketika dinyanyikan dalam bentuk lagu, pengucapan sudah tidak dikenali lagi oleh orang Aceh zaman sekarang. Ada yang mengatakan mantra kutindhieng adalah salah satu mantra penjinak harimau. Jadi sebenarnya apakah makna syair Kutindhieng?

Lirik Kutindhieng sendiri dipercaya berasal dari bahasa Aceh kuno, beberapa kata telah punah dan tidak diketahui lagi maknanya. Konon kabarnya berisikan mantra untuk memanggil rimueng aulia (harimau aulia). Generasi sekarang hanya mengetahui bahwa jika dinyanyikan lirik tersebut sangat enak didengarkan saja.

Secara etimologis (asal kata) Kutindhieng berarti menimang. Menimang sendiri layaknya ibu yang menggendong bayinya dan membuai dengan pelan seraya menyanyikan lagu pengantar tidur.

Menurut para orang tua, syair Kutindhieng yang asli tidak seperti sebagaimana kita dengarkan saat ini, mantra ini sama sekali berbeda. Penulisnya menyarikan kembali dari catatan purba, ia mengartikan sendiri beberapa kata yang ia kenal dalam bahasa sekarang serta menuliskan kembali beberapa kata yang tidak ia pahami.

Syair ini sendiri dipercaya sudah ada di Aceh masa pra-Islam, sehingga dianggap sebagai mantra hitam. Sebuah mantra dari kepercayaan lama sebelum agama-agama besar datang ke Aceh.

Berdasarkan bentuk dan cirinya bahkan mantra Kutindhieng ini berasal dari masa pra-animisme ketika manusia mempercayai bahwa adanya sebuah kekuatan sakti didalam sebuah gejala peristiwa, seperti Guntur. Atau bahwa binatang-binatang luar biasa seperti harimau dianggap memiliki kesaktian, dianggap memiliki kekuatan yang dapat membawa kabaikan ataupun keburukan.

Kepercayaan terhadap kekuatan baik ini secara umum ada diberbagai bangsa Melanesia di sebut mana (Tuah dalam bahasa Melayu), sarana untuk menyampaikannya adalah syair dalam bentuk mantra.

Anagram Syair Mantra Kutindhieng

Mantra adalah bunyi, suku kata, kata-kata, atau sekumpulan kata-kata yang dianggap mampu “menciptakan perubahan”. Mantra adalah sebuah puisi kuno, keberadaannya pada masyarakat Melayu kuno secara fungsi bukanlah sebagai karya sastra, melainkan berkaitan dengan adat dan kepercayaan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.

Mantra Kutindhieng:

He tujan lahe
Hidhieng alah hala hai dieng
wa jala e hala e hala

Kutidhieng laha dhieng bet
Kutidhieng laha dhieng bet lah hem bet
bet la tidhieng la hem bet bet la tidhieng

Lam puteh kahyangan lam puteh kahyangan. Aulia
Rimueng Aulia Aulia. Rimueng Aulia
Hai yang bule jagad Hai yang bule jagad. Aulia
Rimueng Aulia. Aulia. Rimueng Aulia.

Makna dari syair Kutindhieng:

Wahai kekuatan bangkitlah (lahirlah)
Kekuatan yang suci bersemayamlah (masuklah)
Dan jadilah perkasa, jadilah perkasa

Dalam timang-timang kekuatan bersemayam (menyatu)
Dalam timang-timang kekuatan bersemayam (menyatu) bangunlah
Bangkitlah kekuatan bersemayam bangkitlah bersemayam (menyatulah)

Dalam putih (restu) khayangan (langit). Aulia (Orang Suci)
Harimau sakti, orang suci (perwujudan) harimau sakti
Wahai (Harimau) putih, wahai (Harimau) putih. (Jadilah) orang sakti
Harimau sakti, orang suci (perwujudan) harimau sakti

Orang Aceh (atau cikal-bakal) pada masa pra-Islam, pra-animisme menciptakan mantra sihir (hitam), tentu sangat menyenangkan jika itu benar-benar terjadi dengan lancar. Sayangnya, tidak demikian dan sejarah berjalan.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Literature, Opini, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH TIGA

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH TIGA

Gunong Hulumasen, 1894.

Aku terkesima, kehilangan kata-kata, terpana. Bagaimana bisa? Wajahnya, senyumnya, lenggak-lenggoknya serupa. Perempuan itu, sebaris alis hitam, dengan hidung mancung mengembang, bibir merah tebal dibawah, dan dagu itu, tidak mungkin terulang. Ketika ia tersenyum mengembangkan dua lesung pipi di kiri dan kanan, baru aku menyadari mereka berbeda, perempuan itu memang tak terulang.

Aku menghitung tahun-tahun yang sudah terlewati, bodohnya aku memikirkan mereka adalah orang yang sama, begitu banyak hari-hari berlalu, jikalah ia masih hidup tak mungkin memang ia masih semuda ini.

Ia bersenandung dalam bahasa yang aku kenali sepotong-sepotong. Merdu, indah, syahdu, dan menggetarkan semangat. Aku terpesona oleh bait-bait syair yang tak aku kenali sepenuhnya.

Aku telah berhari-hari meninggalkan pemukiman penduduk, terakhir di Pante Kuyun bertemu manusia, saat ini dalam hutan rimba, ini semua gara-gara Umar membawa pasukan Belanda mendarat di Rigaih dan mengejarku. Tak kusangka, dalam perjalananku menuju Aceh Besar aku harus bertemu dengan seorang perempuan bernyanyi syair yang tak kumengerti, aku rasa dia bukan manusia. Bulu kudukku berdiri.

Rimueng Aulia

“Wahai lelaki yang berbau garam, jangan takut!” Ia tersenyum menatapku geli.Gerimis jatuh tepat dihidungku, aku tidak sedang dalam mimpi. Aku juga merasakan angin menampar-nampar pipiku, bahkan aku merasakan gemericik air ditepian telaga. Di pegunungan ini, apa maksudnya dia menyebutkan aku berbau garam. Keningku berkerut, aku waspada.

Dia melenting dari batu besar di telaga menuju kearahku.

“Kalian semua datang dari laut, bukan?”

“Maksud Puan?”

“Kalian Aceh, rumah kalian bentuknya seperti perahu yang dibalik. Bukankah itu menandakan awalnya rumah kalian adalah perahu yang dijadikan tempat berteduh?”

“Apakah Puan seorang Dewi dari Gayo?”

Matanya berbinar, “Aku suka Gayo, mereka lebih lembut dari kalian Aceh. Tapi Aku pikir mereka juga datang dari laut. Mereka membawa bunga yang sangat indah, bunga Champa.”

Cempaka, atau dalam bahasa Aceh disebut Bungong Jeumpa. Siapa perempuan ini?

“Tidakkah kau perhatikan warna pakaian mereka? Bukankah serupa dengan warna pakaian orang-orang Champa. Waktu sudah mengubah bahasa mereka, adat mereka, tapi warna tidak pernah luntur.”

“Sayang sekali Puan, beta tidak tahu. Negeri Champa1) sudah musnah, seratus atau dua ratus tahun lalu dikalahkan dan dihancurkan. Apakah Puan seorang Dewi Mante?”

Ia menggeleng, “Mante atau Mantinia, aku pikir mereka juga datang dari laut sebelah Barat. Kami lebih tua dari itu.”

Antara tertarik dan takut aku terdiam, “Jika Puan tak berkeberatan Beta memiliki banyak waktu luang untuk mendengarkan.”

“Kau menarik, aku pernah bertemu seorang Aceh yang menarik lainnya di masa lalu.Ali Moghayat Syah2) pangeran Meurehom Daya3), dimana dia sekarang?”

Ali Moghayat Syah adalah pendiri Kesultanan Aceh Darussalam di abad ke-16, tiga ratus tahun yang lalu, sepertinya aku kesambat, bertemu dengan jin yang sudah sangat tua.

“Beliau sudah meninggal lama Puan, dan dikuburkan secara sederhana di Aceh inti4).”

“Sudah kuduga, dia pernah berkata padaku, siapa yang mencintai lautan tak akan pernah membangun monumen.”

“Siapakah Puan?”

Ia tersenyum. “Sebelum kalian datang ke tanah ini, yang sekarang kalian sebut dengan nama Aceh. Ada tiga suku yang selamat dari letusan gunung besar. Suku Badak, Gajah dan Harimau. Kita kesampingkan suku Badak yang lebih tua, jumlah mereka terlalu sedikit, kami suku harimau dan suku lainnya gajah yang jumlahnya lebih banyak selalu dalam keadaan berperang. Sampai akhirnya kami sama-sama menyadari jumlah kami menyusut dan membuat perdamaian. Setelah itu kalian semua datang dari lautan, dan suku gajah akhirnya melebur dengan kalian.”

“Jadi suku harimau masih di hutan rimba? Tanyaku.

“Tidak juga, banyak juga yang telah turun dan kawin dengan bangsa kalian. Sebenarnya bangsa kami menjelang akhir perang dengan suku gajah telah berada di ambang kepunahan. Selain aku, masih ada beberapa yang hidup di rimba, tapi kami lebih menyendiri.”

Aku sedikit tidak percaya, bukankah tidak ada bangsa yang sangat ahli dalam kebohongan melebihi bangsa jin.

Ia tersenyum, “aku menyerupakan diri dengan seseorang yang pernah engkau cintai, itu keahlian bangsa kami.”

Dan itu pula keahlian bangsa jin, pikirku.

Aku pikir, aku menyukaimu, ia mulai bernyanyi, bukan seperti merapalkan mantra.

He tujan lahe
Hidhieng alah hala hai dieng
wa jala e hala e hala

Kutidhieng laha dhieng bet
Kutidhieng laha dhieng bet lah hem bet
bet la tidhieng la hem bet bet la tidhieng

Lam puteh kahyangan lam puteh kahyangan. Aulia
Rimueng Aulia Aulia. Rimueng Aulia
Hai yang bule jagad Hai yang bule jagad. Aulia
Rimueng Aulia. Aulia. Rimueng Aulia.

Saksikan Video dibawa ini yang menjelaskan Arti dan Makna Kutindhieng

“Itu adalah mantra Kutindhieng, hafalkan!” Perintahnya.

Ada beberapa kata yang aku kenali dalam bahasa Aceh, tapi bukan sejenis bahasa yang aku mengerti. “Beta pikir sulit Puan, apa makna Kutindhieng sendiri? Dan dari bahasa apa ini?”

Kutindhieng artinya menimang, senimang seorang anak dan mengajarkannya seorang jantan sejati, Kutindhieng adalah tembang, syair sekaligus mantra.”

“Mungkinkah ini adalah bahasa purba?”

Ia tertawa terbahak, memegang perutnya tergelak, “Tentu ini adalah bahasa asli kami, lebih kuno dari bahasa Aceh, bahasa Gayo, bahkan bahasa Mantinia, sedikit lebih muda dari bahasa Arab. Syair Kutindhieng ini disebut juga mantra harimau putih, jika kau bertemu harimau bacalah niscaya dia akan menghindar, dan ketika kau membaca mantra ini maka engkau akan dimasuki roh nenek harimau putih.”

“Untuk apa? Untuk apa beta membiarkan membiarkan diri dimasuki harimau putih dan untuk apa pula Puan mengajarkan itu kepada beta?”

“Pertama aku menyukaimu, kedua aku mencium kedatangan orang-orang berbau susu basi, aku tidak menyukai mereka, terlebih aku tidak menyukai agama mereka, agama mereka adalah keserakahan. Kalian Aceh memang serakah juga, tapi kalian tak peduli, dan tak pernah memburu kami. Setidaknya kita saling menghormati. Tapi, mereka tidak.”

Apa keuntungan mantra ini?

“Aku telah mengajarkan ini langsung kepada kau, jadi kau telah menjadi muridku langsung, oleh karena itu kau telah aku angkat sebagai bangsaku. Apa keuntungannya? Kami berumur panjang, dan sejak hari ini umurmu boleh bertambah, akan tetapi secara fisik akan melambat 4 kali dari orang kebanyakan. Kau mungkin tidak bisa kebal, tapi luka-lukamu akan lebih cepat sembuh dibandingkan orang kebanyakan. Bukankah kalian saat ini sedang berperang?”

“Iya melawan Belanda, akankah kami menang Puan?”

“Aku tidak tahu, kami bukan bangsa jin yang mampu dan suka mencuri rahasia langit. Dalam sejarah tanah ini, selalu datang bangsa-bangsa dari lautan, menaklukkan untuk kemudian ditaklukkan. Ini semua salah kalian sendiri, ketika kalian meninggalkan tradisi dan kekuatan kalian sendiri, kalian melupakan lautan, tidak membangun kapal-kapal sebagai rumah kalian dan hidup nyaman di daratan.”

Aku terdiam, selama seratus tahun terakhir, Kesultanan Aceh Darussalam telah memindahkan pusat-pusat kekuatan di darat, membangun negeri-negeri di bawah pimpinan Uleebalang dengan ambisi teritorial dan melupakan pembangunan armada laut, tapi bukankah ini terjadi secara alamiah. Siapa yang bisa menahan kuasa bangsa putih di lautan? Negara Melayu mana yang mampu?

“Himalaya. Hi adalah gunung dan Malaya adalah Melayu. Leluhur kalian, eh, aku pikir bangsa Mantia pernah bercerita tentang keindahan gunung tersebut. Mereka terusir dari sana? Apakah kalian Aceh juga akan terusir?” Ia angkat bahu.

“Apa maksudnya terusir Puan?”

“ketika anak cucu melupakan kalian, ketika mereka beragama keserakahan seperti bangsa susu basi. Mereka menjadi orang-orang baru yang telah terputus dari kalian, hanya membawa nama kalian dalam hal kebanggaan semata, tapi tidak dalam hal akhlak dan kebaikan. Aku menyukai bangsa kalian saat ini, kalian menghormati kami, akankah anak cucu kalian seperti ini juga? Aku rasa jika bangsa susu basi memperoleh kemenangan, maka mereka akan membasmi kalian semua, dan menyisakan yang terburuk dari kalian di muka bumi ini?”

“Jadi karena itu Puan memilih beta menjadi murid? Untuk memenangkan peperangan.”

Ia menggeleng. “Aku memilihmu karena tidak ada orang lain, tidak ada Aceh lain yang menjelajahi gunung ini selama lima puluh tahun terakhir. Jikalah aku bisa memilih, tentu aku akan memilih seorang Sultan atau seorang panglima perang yang kuat, bukan seorang pengembara yang pikirannya penuh kecamuk seperti kau.”

Pertama kalinya setelah berminggu-minggu aku tersenyum.

“Jadi kau setuju menjadi muridku?”

Aku mengangguk.

“Baiklah, sekarang kau masuk ke gunung itu, dibalik telaga ada sebuah gua. Berdiamlah sampai aku minta keluar!”

Aku masuk ke dalam gua dan duduk disitu diatas batu pualam. Sejujurnya aku tidak tahu harus berbuat apa, aku mengantuk dan merebahkan diri tertidur.

Aku tak tahu telah tertidur berapa lama ketika Puan tersebut memanggilku keluar. Ia menyerahkan sebuah belati, menekan lekukan vertikal di bagian tengah bibir atas, Filtrum milikku seraya berkomat-kamit merapalkan mantra Kutindhieng.

Secercah cahaya putih masuk, kaki-kakiku melemas, tapi penciumanku semakin tajam. Jangan-jangan ini adalah ilmu hitam. Sial, kali ini aku tak punya pilihan lain selain menurutinya.

Belati Siwaih Aceh, Senjata Para Sultan dari Kesultanan Aceh Darussalam

“Ambillah Siwah ini, dan jangan lupakan hafalan mantra Kutindhieng. Sekarang ”

Aku merapalkan mantra yang ia ajarkan dengan enggan. Ia tersenyum dan berkata, “berangkatlah!”

Aku bergegas pergi, tapi aku sempat berbalik dan berteriak bertanya, “Siapakah nama Puan?”

“Rimueng Aulia!” Ia balas berteriak.

Jangan-jangan aku sudah bertemu dengan roh nenek harimau putih sendiri. Akh, sudahlah tak perlu dipikirkan terlalu. Aku pun berbalik pergi dan tak menoleh lagi.

“Dalam imajinasi kita, kita memiliki kekuasaan akan waktu”

XXX

Catatan Kaki :

  1. Negeri Champa, Kerajaan Islam yang menguasai yang sekarang menguasai Vietnam Tengah dan Selatan, ditaklukkan bangsa Vietnam pada tahun 1695 dan dibubarkan 1832;
  2. Ali Moghayat Syah, Pendiri Kesultanan Aceh Darussalam;
  3. Meureuhom Daya, Kecamatan Jaya dan Indra Jaya di Kabupaten Aceh Jaya (Sekarang);
  4. Aceh Inti atau Groot Aceh (Bahasa Belanda), wilayah yang meliputi ibu Kota Kesultanan Aceh Darussalam dan Federasi Tiga Sagi meliputi Mukim XXII, XXV dan XXVI (Banda Aceh dan Aceh Besar sekarang);

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

PHILOSOPHICAL SHOCK

PHILOSOPHICAL SHOCK

In history, outside of heaven, the human must be prepared to be disappointed, but to be grateful for what is mortal. Life is not a beautiful fairy tale, wherein a liberation the leaders of the Protagonists are not always the pure heart and have a noble character, sometimes we have to see with the eyes of the opportunistic figures worshiped as heroes after the revolution is over.

“The world is nothing but very beautiful.”

There are humans who are not ready to see the dynamic motion of the world. There are many questions arise over the matter, for causality. Every event that gives rise to feelings, the mind rages to the emptiness. Truth becomes a fear, as well as the fear of falsehood, nihilism.

“The night sky, but it is as dark as this. What am I looking for? Can I find it? Where?”

Everyone has to choose between good and evil all his life, but life is not black and white which sometimes forces us to choose paths that are not always white or black. Life is a condition, where the environment sometimes puts good people on the evil side and bad people in good positions.

The shock shakes when those who show sanctity continue to gossip. While they are barbarians are getting stronger, polite and educated. As well as detailed and good rules are increasingly showing depravity. While the ancient robbers are now starting to give their gold coins donations everywhere.

It would be nice if the incident happened upside down, but that’s the reality. What is wrong? When those who boast about the goodness of doing the biggest rottenness ever. As for those who are silent, doing good with hiding has diminished more and more. The intention is the beginning, do we all forget about good intentions, the desire to do good.

“He is powerless to manage the past.”

Every hero needs irony. Each time a character is performed so mightily, it is important to distance themselves. Distance to think again, with a bit of a joke. Distance for more wisdom. Irony opens the door to that wisdom. Irony.

The wise man says, the life of a person is like a book. If you want to know everything we will not be able to read only one page. And like a book has its end, and human is not like other beings living on earth. Every human being must realize that one day will meet a phase called death.

This world is not in books and maps. It’s out there. You yourself will have many stories, when you come home. No, and if you do, you will not (ever) be the same again.

All of us, do not be afraid of the dark. But I’m worried about the darkness. Dark is part of life. Darkness is despair that views life as an absolute darkness. Darkness is a deterrent, darkness is bitter, darkness is surrender.

Translate From: Keguncangan Filosofis (in Bahasa)

XXX

Other notes:

  1. COSMOLOGY UNIVERSE; 2 April 2014;
  2. FATE; 15 April 2014;
  3. MESSAGE FROM THE MIRROR; 26 April 2017;
  4. POOR OLD MAN BALLADS; 27 April 2017;
  5. THE FALL OF ICARUS, WHEN A MAN TRIES TO REACH THE SUN; 14 May 2017;
  6. THE CLOAK OF FATE; 16 May 2017;
  7. THE MOMENT OF HAPPINESS; 23 June 2017;
  8. THE MOVEMENT OF UNIVERSE; 1 July 2017;
  9. REQUIEM OF UNFINISHED STRUGGLE; 12 July 2017;
  10. SADNESS; 21 July 2017;
  11. THE LIVING MEMOIRS; 29 July 2017;
  12. AN UNCLE’S STORY ABOUT THE BUTTERFLY EFFECT; 11 August 2017;
  13. SELF EVALUATION; 5 September 2017;
  14. WHEN GREED IS GOOD; 1 October 2017;
  15. THE FATE OF THE PAWNS; 4 October 2017;
  16. THE MEANING OF NOSTALGIA; 12 October 2017;
  17. HARLEQUIN AND THE TREE OF HOPE; 13 November 2017;
  18. LOOKING FOR THE PATH TO THE LIGHT; 21 November 2017;
  19. LIFE IS A JOURNEY; 3 January 2018;
  20. WE ARE PHYSICIAN OF OUR SOUL; 4 January 2018;
Posted in Fiction, Literature, Opinion | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU

PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU

Tuha Peuet berasal dari perkataan Tuha dan Peuet. Tuha secara etimologis (asal kata) artinya tua atau yang dituakan, sedangkan Peuet artinya empat. Secara morfologis (maksud) yang dimaksud dengan Tuha Peuet adalah orang tua atau yang dituakan sebanyak empat orang. Istilah ini berbeda-beda penyebutannya di seluruh Aceh, misalkan di wilayah Gayo disebut dengan Sara Opat, namun fungsi dan peranannya sama.

Lembaga ini, tidak hanya ditemukan di Aceh saja, tapi juga di daerah-daerah lain di kepulauan Nusantara. Dewan empat ini pada masa lampau, para anggotanya, baik individu maupun bersama memiliki tanggungjawab mendampingi seorang Uleebalang (Hulubalang) selaku penguasa sebuah wilayah dalam melaksanakan tugasnya, sebagai perdana menteri sekaligus penasehat.

Darimana asal lembaga Tuha Peuet ini? Asal muasal dan sebab timbul lembaga ini belum diketahui dengan jelas, namun konsep Tuha Peuet ini sangat cocok dalam masyarakat Aceh, sesuai dengan sifat dan watak orang Aceh di masa lalu yang sangat suka bermusyawarah. Hal ini adalah pengaruh dari ajaran Islam sebagaimana difirmankan oleh Allah S.W.T : “Wal amru hum syuraa bainahum.” Yang berarti: “Sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah diantara mereka.” Lembaga Tuha Peuet ini sangat penting untuk menyampaikan perasaan orang banyak, sebagai sebuah alat pemerintahan yang kadang-kadang menentukan jalan atau tidaknya suatu urusan dalam masyarakat.

Lembaga Tuha Peuet ini sangat penting maka syarat utama menjadi anggotanya adalah integritas pribadi yang didasarkan kepada pengalamannya, yang biasanya disimbolkan dengan istilah ketuaanya (tuha), bukanlah semata-mata dalam artian usia tua semata-mata (Tuha puteh ok = Tua karena berambut putih), melainkan ketuaan dalam hal kebijaksanaan (Tuha Ilmee = Tua karena ilmu).

Bagaimana mengukur tua dalam kebijaksanaan? Itu semua terlukis dalam empat karakter utama:

  1. Mengerti adat dan agama (Tuha-Tuho);
  2. Matang dalam kepribadian dan mengerti batas-batas antara yang baik dan buruk dalam bertindak (Tuha-Turi Droe);
  3. Mempunyai kecakapan untuk mendamaikan masalah atau menjadi juru damai (Tuha-Bako);
  4. Mencintai agama dan negeri (Tuha-Gaseh keu agama ngon keu nanggroe).

Konsep kepribadian dan kepemimpinan ini adalah peninggalan masa lampau, terlihat statis, namun pengaruhnya terasa sampai sekarang dalam masyarakat Aceh sampai sekarang. Mungkin sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, keuangan, politik dan pendidikan konsep kepribadian dan kepemimpinan ini sudah bergeser dinamis mengikuti perkembangan zaman.


Teuku Umar berfoto bersama para Uleebalang (duduk) dan sejumlah pengikut (berdiri). Sumber: Koleksi Troppen Museum, Belanda.

Pada masa lampau, menurut adat, Tuha Peuet mempunyai peranan yang amat penting dalam suatu kenegerian, bersama Uleebalang, lembaga ini merupakan sejenis dewan yang mempertimbangkan dan mengurus kepentingan-kepentingan dalam suatu kenegerian. Baik yang menyangkut pemerintahan, peradilan, kemiliteran, atau hal-hal vital, pimpinan perlu dibicarakan dengan dewan ini, sebelum mengambil keputusan. Oleh karena itu Uleebalang tidak bisa menjalankan keputusan yang bertentangan dengan pendapat Tuha Peuet, semua harus melalui musyawarah dan mufakat, bukan keinginan/kehendak pribadinya. Tuha Peuet dirancang oleh para leluhur di Aceh untuk mencegah kesewenang-wenangan penguasa.

Salah satu fungsi dewan Tuha Peuet yang paling penting adalah peradilan, dalam hal ini Uleebalang bertindak selaku hakim, sedangkan Tuha Peuet sebagai penasehat. Dalam hal mengambil keputusan hakim bagaimanapun tetap meminta pertimbangan penasehat-penasehatnya.

Selain itu, Tuha Peuet memiliki tugas lain, yaitu apabila seorang Uleebalang meninggal dunia atau karena satu sebab lain ia tidak mampu melaksanakan tugasnya, maka tugas Tuha Peuet untuk bermusyawarah menunjuk pemimpin baru untuk menjalankan pemerintahannya.

Meskipun dewan ini mandiri, tapi dalam memberikan pendapat atau masukan mereka harus selalu mempertimbangkan aspirasi dari masyarakat dan hal-hal yang timbul dalam masyarakat. Karena jika tidak, maka keputusan itu tidak memiliki arti sama sekali, apabila tidak mendapat dukungan masyarakat. Seorang Uleebalang jika berhasil membawa aspirasi masyarakat maka kecenderungan akan berhasil, karena kebijaksanaannya mendapat sokongan dari masyarakat.

Bagaimana peranan Tuha Peuet sekarang? Telah terjadi perubahan-perubahan yang menyebabkan fungsi dan kedudukan Tuha Peuet bergeser dari keadaan semula. Pada masa kolonial Belanda disebabkan kepentingan keuangan, Tuha Peuet ditunjuk untuk memungut pajak dari satu atau beberapa kampung, yang secara adat diterima oleh Uleebalang. Dalam hal ini, mereka memperoleh upah sedangkan hak dalam peradilan dan pemerintahan telah hilang sama sekali.

Akibat hak mengutip pajak tersebut, para Tuha Peuet akan tinggal dikampung dengan penghasilan terbesar saja, disatu pihak hubungan antara Uleebalang dan penduduk kampung menjadi renggang, sehingga masyarakat hanya mengenal Tuha Peuet sebagai kepala mereka. Tuha Peuet ini dikenal dan dianggap sebagai wakil Uleebalang dan sering disebut Uleebalang Cut (Hulubalang Kecil).

Dalam hal itu, bersamaan dengan proses perkembangannya “Dewan Penasehat” telah berubah menjadi “Penguasa Wilayah”, meskipun bentuk dewan Tuha Peuet masih ada , tapi fungsinya telah bergeser. Bahkan setelah Kolonial Belanda berhasil memantapkan kekuasaannya di Aceh tahun 1904, fungsi Tuha Peuet ini telah hilang sama sekali, terabaikan. Para Tuha Peuet zaman lama, zaman kesultanan, malah telah menjadi Uleebalang baru dengan wilayah yang lebih kecil.

Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Tuha Peuet merupakan pembantu Keuchik (Kepala Kampung) yang berfungsi sebagai dewan yang memberikan nasehat dan pertimbangan. Namun ketika pemerintah Soeharto mengeluarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1979 tentang Undang-Undang Pemerintahan Desa, Tuha Peuet sebagai kekhasan provinsi Aceh kembali lenyap akibat penyeragaman yang dilakukan oleh rezim Orde Baru.

Pada tahun 2006, terbitlah Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006, Undang-Undang Pemerintahan Aceh  yang mengatur pemerintahan provinsi Aceh, Indonesia sebagai pengganti Undang-Undang Otonomi Khusus dan hasil kesepakatan damai antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, yang dikenal dengan MoU Helsinki. Peranan Tuha Peuet adalah salah satu lembaga yang dicoba untuk dihidupkan kembali, sebagai cerminan jiwa dari masyarakat Aceh yang sangat suka bermusyawarah.

Apakah Lembaga Tuha Peuet dapat menghadapi tuntutan zaman yang dinamis? Kita belum tahu pasti, karena telah ada banyak rentetan sejarah yang terputus di masa lampau, tapi kita semua patut berharap agar kebijaksanaan masa lampau tersebut tidak serta merta sirna ditelan arus zaman.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI

Laksamana Malahayati (1560-1607) dari Kesultanan Aceh Darussalam sebagai perempuan pertama di dunia yang memegang jabatan militer tertinggi pada sebuah negera berdaulat. Ia, inspirasi kepada kaum perempuan, bahwa mereka bisa mencapai apapun yang diinginkan. Berbahagialah kita karena memiliki Malahayati.

KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI

Masa kecil Laksamana Malahayati

Malahayati adalah putri Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Muhammad Said Syah, seorang laksamana pula pada Angkatan Laut Kerajaan Aceh. Malahayati lahir tahun 1560, pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahar memerintah Kerajaan Aceh. Masa pemerintahan Sultan Alauddin berlangsung mulai tahun 1537 hingga 1568.

Sejak dahulu kala, orang Aceh dikenal sebagai penganut agama yang taat. Begitu pula halnya dengan keluarga Laksamana Mahmud Syah. Oleh karena itulah, sejak kecil Malahayati telah dididik agar selalu patuh menjalankan perintah agama. Sejak usia enam tahun, Malayahati telah mulai belajar baca tulis Al Qur’an dengan bantuan kedua orang tuanya. Menginjak usia delapan tahun, Malahayati kemudian belajar ilmu agama dengan berguru kepada Tengku Jamaludin Lam Kra, seorang ulama dan sekaligus pemimpin pesantren putri di Banda Aceh. Dua tahun kemudian diteruskannya dengan belajar di Dayah Inong (Madrasatul Banat) dan mulailah ia memperdalam ilmu figih, akidah, akhlak dan bahasa Arab. Selain itu, di rumah pun Malahayati masih menyempatkan diri belajar bahasa asing yang lain dari guru yang khusus didatangkan oleh orang tuanya. Sehingga tak heran apabila kelak kemudian hari setelah ia dewasa, bukan saja pandai berbahasa Arab tetapi juga mahir berbahasa Inggris, Perancis, Spanyol di samping bahasa Melayu dan Aceh sebagai bahasa ibunya.

Ayahnya, sering mengajaknya ke pelabuhan melihat-lihat kapal dagang dan kapal perang milik kerajaan Aceh. Malahayati sendiri menyukai hal itu. Bahkan tak jarang pula ia diajak menyaksikan latihan perang-perangan di laut yang dilakukan oleh kapal-kapal perang Aceh. Bermula dari situlah kemudian tertanam jiwa cinta lautan yang kelak kemudian hari mengantarkan Malahayati menjadi laksamana kerajaan Aceh yang disegani kawan maupun lawan.

Pada masa itu, sebagian wilayah semenanjung Malaka telah jatuh ke tangan Portugis. Bangsa Eropa itu banyak memungut keuntungan dari hasil bumi atas wilayah yang didudukinya. Bagi Aceh sendiri, kekuasaan Portugis di Malaka itu secara langsung atau tidak merupakan ancaman. Tidak menutup kemungkinan apabila Aceh lengah, Portugis akan menyerang Aceh. Kekhawatiran itu bukan saja dirasakan oleh kerajaan Aceh, tetapi juga oleh Banten.

Maka pada tahun 1575, armada perang kerajaan Aceh yang dikomando oleh Laksamana Mahmud Syah dan armada Banten yang dipimpin Pangeran Arya bin Maulana Hasanuddin menyusun kekuatan bersama dan melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka.

Dalam pertempuran dekat pangkalan La Formosa, armada Aceh dan Banten mendapat perlawanan sengit. Laksamana Mahmud Syah gugur di atas kapal komandonya Seulawah Agam. Sebagai akibatnya, pertempuran tak dapat dilanjutkan lagi. Armada Banten menarik diri hingga sampai ke Jepara, sementara itu armada Aceh mundur sampai ke Pulau Bengkalis.

Hati Malahayati sangat terpukul dengan kepergian ayahandanya untuk selama-lamanya itu. Ia sering murung dan mengeluh. “Ah, mengapa aku lahir sebagai wanita. Andai saja aku pria, tentu aku dengan mudah menjadi laksamana dan menuntut balas kepergian ayah,” begitu Malahayati sering mengeluh. Keluh-kesahnya itu sering diutarakannya kepada gurunya, Tengku Ismail Indrapuri. Gurunya itulah yang dengan sabar dan membesarkan hatinya, memberinya nasihat-nasihat yang menggugah.

Malahayati, di hadapan Allah, manusia laki-laki dan perempuan itu sama saja karena kedua-duanya memikul amanah-Nya di bumi ini,” kata guru yang arif itu menasihati.

Kata-kata nasihat yang menggugah itulah yang akhirnya mendorong semangat Malahayati untuk bersumpah bahwa kelak apabila dewasa akan berjuang melawan penjajah.

Laksamana Malahayati Menjadi Panglima Armada Perang Aceh.

Laksamana Muda Ibrahim adalah salah seorang bawahan mendiang Laksamana Mahmud Syah. Ia ikut pula memperkuat barisan armada Aceh ketika melakukan penyerbuan terhadap Portugis di Malaka. Dengan Laksamana Muda Ibrahim itulah Malahayati dikawinkan. Ketika itu, usia Malahayati 17 tahun. Laksamana Muda Ibrahim kemudian diangkat sebagai Panglima Armada V Kerajaan Aceh oleh Sultan Mansur Syah. Sebagai seorang istri, Malahayati mengikuti suaminya pula ketika Laksamana Ibrahim harus bertugas dan berpangkalan di Pulau Rupat.

Pada suatu hari, kapal perang Aceh tengah mengadakan patroli. Ketika melayari perairan Pulau Alang Besar, patroli itu berpapasan dengan dua kapal kecil yang terapung-apung terbawa ombak tak tentu arah. Kapal kecil itu adalah pengangkut rempah-rempah dari Banten. Tetapi secara tiba-tiba kapal kecil itu dihadang oleh perahu Portugis. Mereka dipaksa menyerahkan rempah-rempah yang dibawanya sebelum sampai di tempat tujuan. Pedagang-pedagang dari Banten itu bukan tidak melawan begitu saja. Mereka melakukan perlawanan, meski harus ditebus dengan korban jiwa dan menderita luka-luka. Dua kapal kecil itulah yang berhasil selamat dan meloloskan diri. Sedang kapal-kapal yang penuh muatan rempah-rempah lainnya berhasil dirampas dan kapalnya ditenggelamkan.

Pedagang Banten itu segera ditolong. Yang luka-luka segera dirawat, sedang yang telah meninggal dimakamkan dekat pantai Pulau Alang Besar. Sementara itu pula, setelah mendapatkan laporan tentang peristiwa itu segera mengadakan pengejaran. Laksamana Muda Ibrahim memimpin pengejaran itu di atas kapal komandonya yang bernama Kuta Alam.

Enam kapal Portugis yang diduga melakukan perampasan rempah-rempah pedagang Banten itu berhasil dikejar ketika sedang melayari perairan Tanjung Parit. Orang-orang di kapal Portugis memberi isyarat menolak ketika kapal patroli Aceh mengisyaratkan untuk melakukan penggeledahan.

Maka terjadilah pertempuran laut. Laksamana Muda Ibrahim dengan dibantu istrinya, Malahayati, mengatur serta memberi aba-aba pada kapal patroli Aceh lainnya untuk bergerak dan melumpuhkan perlawanan kapal-kapal Portugis yang berjumlah 6 buah kapal itu. Di atas geladak kapal Kuta Alam, Laksamana Muda Ibrahim mengatur siasat pertempuran.

Pada saat itulah, sebuah peluru meriam kapal Portugis meledak. Laksamana Muda itu tak sempat lagi menghindar. ia terkena tembakan meriam itu dan gugur. Malahayati menghadapi kepergian selama-lamanya Laksamana Muda Ibrahim dengan hati tabah. Gugurnya Laksamana Muda Aceh itu sama sekali tak diperbolehkannya diberitahukan kepada awak kapal di kapal yang lain.

Ia tidak ingin berita gugurnya Laksamana Muda Ibrahim mengendorkan semangat juang armada Aceh. Malahayati kemudian secara diam-diam mengenakan pakaian almarhum suaminya. Ia dengan tangkas langsung mengambil alih kendali memimpin pertempuran. Hasilnya sungguh di luar dugaan! Tiga kapal Portugis berhasil ditenggelamkan. Dua kapal lainnya ditawan dan satu kapal lagi berhasil meloloskan diri dari kepungan kapal patroli Aceh.

Di pihak Aceh, satu kapal ditenggelamkan lawan, dua kapalmmengalami kerusakan ringan. Rempah-rempah yang berhasil diselamatkan kemudian diserahkan kembali kepada pedagang dari Banten.

Keberhasilan Malahayati dalam pertempuran melawan Portugis itu segera tersiar ke seluruh wilayah Aceh dan bahkan ke Banten. Sultan Maulana Yusuf dari Banten mengirim ucapan selamat atas kemenangan armada Aceh dan menyatakan pula kekagumannya kepada Malahayati. Di samping itu juga menyampaikan rasa terima kasih karena armada Aceh telah memberikan pertolongan yang begitu tulus kepada pedagang rempah-rempah Banten.

Tak kurang pula Sultan Mansur Syah atas nama rakyat Aceh menghaturkan penghargaan setinggi-tingginya atas keberhasilan Malahayati, di samping menyatakan rasa belasungkawa atas gugurnya Laksamana Muda Ibrahim.

Dua bulan kemudian, Malahayati diangkat menjadi Wakil Panglima Armada V . Panglima Armada V Aceh, ketika itu dipegang oleh Laksamana Muda Mahaja Lela. pada tahun 1581, Sultan Mansur Syah menugaskan Malahayati memimpin penyerangan ke benteng La Formosa di Malaka. Penyerangan ini melibatkan 40 buah kapal perang dengan kekuatan 10.000 orang prajurit Aceh. Dalam penyerangan ini, Malaka memang belum berhasil dikuasai oleh Aceh. Tetapi armada laut Aceh telah berhasil memporak-porandakan kekuatan kapal-kapal perang Portugis. Perairan Riau yang sebelumnya merupakan daerah rawan karena kapal-kapal Portugis sering melakukan perampasan barang-barang terhadap kapal dagang yang lewat.

Sultan Alaudin Mansur Syah menilai bahwa penyerangan armada Aceh di bawah pimpinan Malahayati itu berhasil. Itulah sebabnya maka pada tahun 1582 Sultan mengangkat Malahayati menjadi Panglima Armada V kerajaan Aceh dengan pangkat Laksamana Muda. Ketika itu, Malahayati telah menginjak usia 22 tahun.

Intrik politik di Istana Aceh Darussalam

Masa pemerintahan Sultan Alaudin Mansur Syah yang memerintah dari tahun 1577-1585 adalah masa gemilang bagi Kerajaan Aceh Darussalam. Hampir seluruh wilayah Sumatra telah menjadi wilayah kekuasaannya, di samping’Semenanjung Malaya. Hanya wilayah Malaka yang masih menjadi daerah kekuasaan Portugis. Meskipun demikian Portugis selalu merasa tidak aman dan terancam. Betapa tidak, sebab mereka selalu dihantui jangan-jangan armada Aceh menyerangnya sewaktu-waktu.

Pada masa lalu Aceh merupakan produsen lada terbesar dunia.

Hasil perkebunan lada Aceh, menempati urutan pertama di kepulauan Nusantara ketika itu. Disusul Banten dan Palembang. Maka tidak heran bila kapal-kapal dari Eropa banyak menyinggahi pelabuhan Aceh untuk membeli lada yang banyak dibutuhkan orang di daratan benua Eropa. Di samping sebagai penghasil lada yang utama, angkatan laut Aceh juga sangat disegani. Angkatan Laut inilah yang banyak berperan dalam mengamankan jalur perdagangan di Selat Malaka.

Meskipun Sultan Alauddin Mansur Syah dinilai berhasil memakmurkan rakyatnya, namun di pihak kerajaan masih ada saja orang yang tidak puas dan tidak menyukainya. Mereka adalah dari keturunan Sultan Ali Mughayat Syah yang tidak menginginkan orang dari keturunan di luar kerajaan memegang tampuk pemerintahan. Dan memang sebenarnyalah, Sultan Alauddin Mansur Syah yang tengah berkuasa saat itu, bukan keturunan dari garis Sultan Ali Mughayat Syah, melainkan putra Sultan Perak. Kisahnya bermula ketika pada tahun 1551 Sultan Alauddin Riayat Syah al Qahar mengerahkan angkatan lautnya untuk menghantam Portugis di Malaka. Ketika itu angkatan laut berkekuatan 20.000 orang.

Ketika benteng La Formosa berhasil dikepung rapat oleh Armada Laut Aceh dan menghuninya mulai kehabisan bahan makanan, Sultan Akhmad dari Kesultanan Perak menjual beras secara diam-diam kepada Portugis. Tak hanya itu, sebab apa yang dilakukan Sultan Perak itu diikuti pula Kerajaan Johor. Tentu saja sikap mereka amat menggusarkan pasukan Aceh. Maka komandan pasukan Aceh, Laksamana Abdul Jalil memerintahkan pasukannya untuk menyerang Perak dan Johor. Kedua kerajaan itu terpaksa menyerah dan berjanji tak akan melakukan hal itu terhadap Portugis. Untuk memperkuat perjanjian itu, Sultan Mansur Syah, putra Sultan Perak dibawa ke Aceh dan tinggal di Istana al Qahar.

Putra Sultan Perak itu, selama berada di Aceh memperlihatkan sikap yang baik dan juga cakap. Oleh karena itu Sultan Aceh kemudian mengawinkannya dengan putri Sultan sendiri yang bernama Ratna Indra Wangsa. Dari perkawinan itu lahirlah seorang putra yang diberi nama Perkasa Alam Syah yang kemudian bergelar Iskandar Muda Makhota Alam. Oleh karena itulah, orang Aceh yang masih mempunyai garis keturunan dari Sultan Ali Mughayat Syah tidak menyukai Sultan Mansur Syah yang dianggapnya berada di luar garis keturunan Aceh.

Kemudian timbullah gerakan-gerakan untuk menggulingkan Sultan. Gerakan ini dipimpin oleh Panglima Raja Buyung, putra Gubernur Inderapura yang bernama Munawar Syah. Waktu itu, Panglima Raja Buyung menjabat sebagai Komandan Garnizun Ibukota. Panglima. Raja Buyung kemudian mengupayakan agar Malahayati mendukung gerakannya. Maka diutusnyalah Teuku Imum Mukim Cadek, Bupati pulau Weh, menemui Laksamana Muda Malahayati dan menyampaikan hal itu.

Tapi rencana gerakan yang dipimpin Panglima Raja Buyung itu ditentang habis-habisan oleh Malahayati. Ketidaksetujuan Malahayati itu didasarkan pada kenyataan bahwa meskipun Sultan Mansur Syah keturunan Kesultanan Perak tetapi ia telah berjuang untuk memakmurkan rakyat Aceh dan apabila ia disingkirkan secara paksa, maka dapat dipastikan Kerajaan Perak dan Johor akan memisahkan diri dari Kesultanan Aceh. Karena upaya untuk mendapatkan dukungan itu gagal, maka Teuku Imum Mukim Cadek kembali ke ibukota dengan tangan hampa.

Tujuh hari setelah itu, Laksamana Muda Malahayati menyusul ke Banda Aceh untuk menyampaikan laporan perihal gerakan yang dipimpin Panglima Raja Buyung kepada Sultan Mansur Syah. Tetapi ketika Malahayati belum lagi sempat menemui Sultan Mansur Syah, Panglima Raja Buyung telah bergerak lebih dahulu. Sultan Mansur Syah yang berada di Kuala Aceh beserta pengikutnya ditangkap dan dibunuh. Pasukan Panglima Raja Buyung berhasil merebut istana dan ibukota. Tak luput pula. Malahayati beserta pengawalnya ditangkap dan dilucuti senjatanya. Malahayati dikenakan sebagai tahanan rumah selama 3 tahun.

Pada bulan Januari 1588, Malahayati yang dijuluki Singa Betina dari Aceh itu berhasil meloloskan diri. Ia kemudian menuju Jambo Aye tempat armada yang dipimpinnya berada. Kedatangannya disambut gembira oleh para anggota armada. Sementara itu, Laksamana Maharaja Lela yang ditunjuk Panglima Raja Buyung untuk menggantikan kedudukannya berhasil ditawan. Tiga hari setelah berhasil meloloskan diri itu, Malahayati bersama 24 kapal Armada yang dipimpinnya menuju Banda Aceh. Kekuatan armada itu bertambah lagi ketika di perairan Biereun, armada III yang dipimpin oleh Laksamana Muda Zainal Abidin Anjong bergabung pula. Laksamana Husin memimpin Armada VII yang berpangkalan di Ulee Lheu bergabung pula dengan Malahayati.

Pada bulan Maret 1588, Malahayati memberikan ultimatum agar Panglima Raja Buyung menyerah. Jika tidak, maka jalan kekerasan akan dilakukan. Ultimatum itu membuat Panglima Raja Buyung tak berkutik. Ia menyerah.

Malahayati kemudian mengambil alih kekuasaan. Seminggu kemudian, Majelis Kerajaan yang sebelumnya telah dibekukan oleh Panglima Raja Buyung, mengadakan sidang dan menetapkan Pangeran Zainal Abidin menjadi Sultan Aceh dengan gelar Sultan Alauddin Riayat Syah.

Laksamana Malahayati Vs. Kapitein Cornelis de Houtman

Empat buah kapal berbendera Belanda mendarat di pelabuhan Banten. Itu terjadi pada tahun 1596. Mereka datang untuk membeli rempah-rempah. Keempat kapal Belanda itu berada di bawah komando Cornelis de Houtman. Ia seorang veteran perang Belanda. Di Banten, orang-orang Belanda itu bersikap tidak bersahabat sehingga menimbulkan rasa benci bagi penduduk pribumi.

Terhadap pedagang rempah-rempah mereka memaksa membeli dengan harga rendah, sehingga menimbulkan kemarahan. Akibatnya, perkelahian tidak dapat dihindarkan lagi. Awak kapal Belanda banyak yang menemui ajal. Yang selamat segera menuju kapal dan Cornelis de Houtman akhirnya memutuskan meninggalkan pelabuhan Banten dengan tangan hampa.

Laksamana Malahayati memenangkan duel satu lawan satu menghadapi Kapitein Cornelis de Houtman.

Pada tahun 1598, Cornelis de Houtman datang lagi ke Indonesia. Tujuannya kali ini bukan Banten, melainkan Aceh. Cornelis de Houtman memimpin 225 awak kapal Belanda yang bernama De Leewen dan De Leewin. Mereka ke Aceh hendak membeli lada Aceh yang cukup dikenal oleh orang-orang Eropa.

Kedatangan orang-orang Belanda diterima dengan baik. Bahkan Sultan Aceh, mengundang mereka keistana dengan acara jamuan resmi. Dalam jamuan itulah Sultan Aceh memberikan izin kepada orang-orang Belanda itu untuk membeli lada dari Aceh.

Beberapa hari setelah acara jamuan itu, Laksamana Malahayati menuju pelabuhan untuk meninjau kapal-kapal Belanda. Tetapi kejadian yang pernah dilakukan orang-orang Belanda dua tahun sebelumnya terhadap orang-orang Banten terulang lagi. Mereka tidak menunjukkan sikap bersahabat. Terjadilah perang mulut dan akhirnya saling baku hantam. Pada saat itulah Cornelis de Houtman tiba-tiba mencabut pedangnya dan diarahkan ke tubuh syahbandar pelabuhan Aceh. Dalam waktu yang bersamaan, Malahayati secepat kilat mencabut rencongnya, dan tak ayal lagi senjata itu menembus dada Belanda yang congkak itu. Perkelahian terbuka segera saja meletus. Namun karena kekuatan tidak seimbang, Malahayati bersama pengikutnya terpaksa menyeiamatkan diri dengan menceburkan diri ke laut. Belanda semakin menunjukkan kecongkakannya dengan memberondongkan peluru-peluru meriamnya. Setelah berhasil selamat, Laksamana Malahayati segera melakukan pengepungan terhadap kapal-kapal Belanda itu. Kapal De Leewin yang berhasil ke luar dari pelabuhan segera dihujani peluru meriam. Kapal itu terbakar dan tenggelam. Sementara itu kapal De Leeuwen yang mencoba menyeiamatkan diri menuju laut lepas dapat ditangkap dan diseret kembali ke pelabuhan Aceh.

Dalam peristiwa itu, sebanyak 30 awak kapal Belanda ditawan. Salah seorang di antaranya bernama Frederick de Houtman, orang kedua pada rombongan kapal Belanda itu sebagai wakil Cornelis de Houtman yang telah terbunuh.

Awak kapal Belanda itu, akhirnya dihadapkan ke pangadilan. Sebagai pembela ditunjuk Teuku Lam Gugbb dan Teuku Imuem Ateuk. Yang menarik, ternyata Malahayati memohon izin Sultan Aceh untuk diizinkan menjadi pembela pula. Permohonan Malahayati dikabulkan. Jadilah ia pembela orang-orang Belanda itu di pengadilan.

Setelah melalui beberapa kali sidang, akhirnya hakim menjatuhkan hukuman mati terhadap 30 awak kapal Belanda yang diadili. Menurut hakim, mereka terbukti melakukan kekacauan di negeri orang dan tidak menghormati kedaulatan suatu negeri.

Terhadap hukuman mati itu, Malahayati mengadakan pembelaan yang gigih. Dikatakannya, bahwa tindakan orang-orang Belanda itu merupakan hal yang tidak direncanakan. Bila hukuman mati terpaksa dilakukan, maka Aceh akan menerima akibatnya. Sebab saat itu Aceh sendiri sedang mengadakan dan menjalin hubungan dengan beberapa negara di Eropa. Hukuman mati akan merenggangkan hubungan Aceh dengan negara Eropa. Dalam pembelaannya, Malahayati mengusulkan agar hukuman mati itu diubah menjadi hukuman seumur hidup.

Ternyata pembelaan Malahayati itu disetujui oleh sidang. Maka hukuman mati itupun diubah menjadi hukuman seumur hidup.

Laksamana Malahayati sebagai seorang negarawan

Laksamana Malahayati selain ahli mengatur siasat dalam bertempur juga seorang ahli kenegaraan. Ia menguasai bahasa Inggris, Perancis, Belanda dan juga bahasa Spanyol. Oleh karena itulah Sultan Aceh mengangkatnya pula sebagai pejabat yang mengurus perutusan-perutusan baik di dalam negeri maupun yang keluar negeri. Berkenaan dengan tugas itulah, maka jika ada utusan dari negeri lain yang datang ke Aceh, maka sebelum menghadap Sultan Aceh utusan itu harus terlebih dahulu menemui Malahayati. Sultan Aceh bahkan sering meminta pendapat Malahayati sebelum mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan hubungan negeri lain.

Kejadian yang menimpa Cornelis de Houtman beserta anak buahnya di Aceh, amat menggemparkan kerajaan Belanda. Prins Mauris, raja kerajaan Belanda ketika itu langsung mengadakan sidang kerajaan untuk membicarakan kejadian itu. Dalam sidang kerajaan itu sedikit terjadi silang pendapat. Ada pihak yang mengusulkan agar kerajaan mengirimkan prajurit dan armadanya untuk menggempur Aceh. Namun di pihak lain, menyatakan ketidaksetujuannya. Alasannya, jika Belanda menyerang Aceh, pastilah pihak Aceh akan menutup perairan Selat Malaka bagi pelayaran kapal-kapal Belanda. Jika hal itu terjadi, kerajaan Belanda akan menanggung kerugian yang besar.

Akhirnya diputuskan, bahwa satu-satunya jalan yang terbaik ialah meminta maaf kepada kerajaan Aceh di samping memohon agar para tawanan yang telah dihukum di Aceh dapat dibebaskan dari hukuman.

Prins Mauris segera mengutus Laksamana Laurens Bicker ke Aceh. Utusan itu membawa surat khusus dari raja Belanda untuk Sultan Aceh. Di samping itu utusan itu juga membawa hadiah-hadiah untuk kerajaan Aceh sebagai tanda persahabatan.

Ketika utusan Belanda yang terdiri dari empat kapal itu sampai di perairan Aceh, kapal-kapal itu segera saja dikepung oleh armada Aceh. Armada Aceh tidak menginginkan kejadian yang menimpa Cornelis de Houtman terulang lagi. Oleh karena itu setiap kapal Belanda yang datang, perlu dicurigai. Laksamana Lauren Bicker beserta lima pembantunya terpaksa turun ke darat dengan pengawalan yang ketat. Mereka dibawa menghadap Laksamana Malahayati. Tamu asing itu diterima dengan senang hati oleh Malahayati. Apalagi ketika tamu asing itu menyatakan maksud damai dan melupakan kejadian yang dialami Cornelis de Houtman.

Atas saran Laksamana Malahayati, Sultan Aceh bersedia menerima ajakan damai kerajaan Belanda. Di samping itu, kapal-kapal Belanda diperbolehkan pula berdagang dengan orang-orang Aceh. Pengikut Cornelis de Houtman yang dihukum di Aceh juga diberikan keringanan dengan membebaskan mereka dari hukuman. Dengan demikian, mereka dapat ikut kembali ke negeri Belanda bersama Laksamana Lauren Bicker. Ketika itu, di samping menjalin kerjasama dan persahabatan dengan kerajaan Belanda, Aceh juga menjalin hal yang sama dengan negara lain seperti Inggris yang ketika itu diperintah oleh ratu Elizabeth I. Demikian pula halnya dengan negeri Cina, Burma, Siam, Jepang, India serta Turki, kerajaan Aceh menjalin persahabatan yang saling menguntungkan.

Dalam hal-hal seperti itulah, peranan Laksamana Malahayati amat besar dan menentukan.

Laksamana Malahayati selaku penjaga Undang-Undang Meukuta Alam Al-Asyi

Ketika usia Sultan Aceh yang juga bergelar Sultan Saidil Mukamil telah menginjak 100 tahun lebih, maka Laksamana Malahayati diberi wewenang untuk mengurusi segala kegiatan pemerintahan. Baik yang berkaitan dengan urusan dalam kerajaan maupun hubungan dengan negeri mancanegara. Karena memerintah atas nama Sultan, maka seluruh jajaran angkatan perang menjadi tunduk atas perintah Laksamana Malahayati. Seandainya saja Laksamana Malahayati memiliki niat buruk, maka bisa saja ia mengangkat dirinya sebagai sultan sebab dengan kekuasaannya itu ia tentu amat mudah menyingkirkan Sultan Aceh yang telah tua. Namun hal itu sama sekali tak terlintas di benak Laksamana Malahayati. Ia sangat menghargai dan menghormati undang-undang yang telah diputuskan oleh Majelis Kerajaan.

Niat baik Laksamana Malahayati itu, ternyata mendapat ujian pada saat Sultan Aceh berada pada tahumtahun terakhir masa pemerintahannya. Ujian itu datang dari Pangeran Mahmud Syah, yang menginginkan agar kelak tampuk pemerintahan Aceh jatuh ke tangannya. Memang benar, Pangeran Mahmud Syah adalah putra Sultan Saidil Mukamil. Tetapi ketika pada tahun 1588 Majelis Kerajaan melantik Sultan Sidi Mukamil menjadi sultan maka bersamaan dengan itu ditetapkan pula bahwa putra mahkota yang berhak menggantikannya kelak adalah Iskandar Muda, putra Sultan Mahmud Syah.

Maka ketika Sultan Mahmud Syah mendekati Laksamana Malahayati untuk memperoleh dukungan tentang usahanya itu, laksamana Aceh yang perkasa itu malah menolaknya. Dikatakannya bahwa undangundang harus tetap ditegakkan di Aceh, dan oleh sebab itu semua usaha yang melanggar undang-undang harus ditumpas. Gagal memperoleh dukungan dari Laksamana Malahayati, Sultan Mahmud Syah mendekati Majelis Kerajaan. Namun Majelis Kerajaan pun menolak usaha yang akan dilakukan Sultan Mahmud Syah itu.

Tekad Sultan Mahmud Syah agaknya tak dapat ditawar-tawar lagi. Ia akan merebut kekuasaan Aceh sebelum Sultan Saidil Mukamil wafat dan juga sebelum Pangeran Iskandar Muda dinobatkan oleh Majelis Kerajaan untuk menduduki tahta Aceh.

Begitulah, ketika pada bulan Juli 1604 Sultan Sidi Mukamil merayakan hari ulang tahunnya Sultan Mahmud Syah melaksanakan rencananya itu. Pada saat pembesar Aceh berdatangan menghadiri pesta ulang tahun itu, maka meneroboslah pengikut-pengikut Sultan Mahmud Syah melucuti mereka. Orang-orang yang dianggap menjadi penghalang ditangkap oleh para pengikut Sultan Mahmud Syah. Serta merta pula Sultan Mahmud Syah mengangkat dirinya menjadi Sultan Aceh. Laksamana Malahayati bersama perwira angkatan perang Aceh, ditawan dan dipenjarakan di Merduwati. Begitu pula Pangeran Iskandar Muda, putra mahkota itu dipenjarakan bersama Laksamana Malahayati. Sedangkan Sultan Saidil Mukamil ditawan di suatu ruangan dalam istana Aceh. Setahun kemudian, Sultan Aceh yang telah berusia sangat lanjut itu wafat dalam keputusasaan akibat ulah putranya sendiri.

Sementara itu, Laksamana Malahayati bersama Pangeran Iskandar Muda dapat meloloskan diri berkat pertolongan pengikut- pengikutnya yang setia. Mereka berdua meloloskan diri ke Pidie. Wali negeri Pidie, yaitu adik Sultan Mahmud Syah sangat tidak setuju dengan tindakan kakaknya itu. Ia malah memberikan dukungan agar Laksamana Malahayati dan Pangeran Iskandar Muda dapat merebut kembali kekuasaan Aceh dari tangan Sultan Mahmud Syah.

Para pengikut Laksamana Malahayati yang sangat tidak menyukai tindakan Sultan Mahmud Syah banyak yang menyarankan agar laksamana perkasa itu melakukan serangan terbuka terhadap Sultan Mahmud Syah. Namun Laksamana Malahayati dengan penuh kesabaran memberi penjelasan kepada mereka bahwa jika ia melakukan serangan terbuka itu, maka di Aceh akan terjadi perang saudara. Dan hal itu sama sekali tidak diinginkannya.

Laksamana Malahayati sampai tiga tahun bertahan di istana Wali Negeri Pidie, dengan kesehatan dirinya yang semakin menurun. Untuk sementara ia memang mengamati perkembangan kerajaan Aceh dari jauh.

Serbuan Portugis ke Aceh

Melihat keadaan Aceh yang agak melemah saat itu, Portugis ingin memanfaatkan keadaan itu. Mula-mula, datanglah utusan ke Pidie di bawah pimpinan Don Gonzales. Mereka menemui Laksamana Malahayati. Mereka berpura-pura bermaksud baik dengan menawarkan bantuan tentara untuk merebut kembali ibukota dan sekaligus kekuasaan Aceh dari tangan Sultan Mahmud Syah. Namun Laksamana Malahayati menolak tawaran itu dengan tegas bahwa apapun yang terjadi di Aceh adalah urusan orang Aceh sendiri dan bangsa lain tidak berhak untuk turut campur. Menyadari akal bulusnya tak berhasil, maka utusan Portugis yang dipimpin Don Gonzales itupun kembali dengan tangan hampa.

Tetapi rupanya Portugis tak puas dengan tolakan tawaran itu. Oleh karena itu, pada bulan Juni 1607, sebanyak 17 kapal perang Portugis telah berada di perairan Banda Aceh. Rupanya Portugis ingin secara langsung merebut wilayah Aceh. Mereka memperkirakan bahwa Laksamana Malahayati tidak akan mau membantu Sultan Mahmud Syah yang sedang berkuasa. Maka pada awal Juli 1607, mendaratlah pasukan Portugis di beberapa wilayah kerajaan Aceh.

Laksamana Malahayati yang ketika itu sebenarnya sedang sakit di istana negeri Pidie, ketika mendengar Portugis telah mendaratkan pasukannya di wilayah Aceh mendadak menjadi geram. Seolah-olah, penyakitnya hilang dan muncul semangat untuk bangkit mengusir musuh.

Dengan cepat wanita perkasa itu mengenakan seragam laksamananya dan menggerakkan pasukan yang setia padanya. “Bangsa penjajah harus kita usir dari bumi Aceh dan melupakan pertikaian pribadi di antara kita”. Dengan serangan Portugis itulah, mungkin Sultan Mahmud Syah akan tersingkir dengan sendirinya dari tahta Aceh” kata Laksamana Malahayati di hadapan pasukan dan para perwira yang siap berjuang kembali.

Pasukan yang dipimpin oleh perwira-perwira kepercayaan Laksamana Malahayati, langsung melakukan serangan ke wilayah Aceh yang telah direbut Portugis. Laksamana Malahayati sendiri, dengan semangat membara memimpin armada Aceh dari kapal perang komandonya, yakni Kuta Alam.

Tak lebih dari waktu seminggu, seluruh kekuatan Portugis di Aceh berhasil dipukul mundur dan dikalahkan. Portugis tidak menyangka bahwa serangan pasukan yang dipimpin Laksamana Malahayati benar-benar hebat dan membuat mereka mengundurkan diri dari kancah pertempuran. Yang lebih hebat lagi, ketika memimpin pasukan di darat, Laksamana Malahayati memberikan petunjuk dari atas tandu karena sakitnya.

Menyerahnya Portugis dari Aceh, disusul pula oleh wafatnya Sultan Mahmud Syah secara mendadak. Diduga, Sultan itu wafat karena serangan jantung akibat kekhawatirannya sendiri. Sebab Sultan beranggapan jika Portugis telah dikalahkan oleh pasukan Malahayati, maka tidak urung pula ia akan disingkirkan pula dari singgasana kerajaan Aceh.

Dengan wafatnya Sultan Mahmud Syah, maka tahta kerajaan Aceh menjadi kosong. Majelis Kerajaan yang pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah dibekukan, akhirnya bekerja kembali dan melakukan sidang untuk menentukan sultan yang baru. Maka dengan suara bulat, Majelis Kerajaan memilih Pangeran Iskandar Muda sebagai Sultan Aceh yang kedua puluh. Pada saat pelantikannya, Laksamana Malahayati terpaksa datang dengan dipapah untuk menyaksikan pelantikan itu.

Sultan Iskandar Muda kelak menjadi Sultan terbesar dalam sejarah Aceh dan Nusantara.

Laksamana Malahayati meninggal dunia

Makam Laksamana Malahayati yang terdapat di Krueng Raya.

Seusai pelantikan Sultan Aceh yang baru, Laksamana Malahayati meminta agar ia dibawa ke kapal komandonya, Kuta Alam, yang sedang berpangkalan di pelabuhan Ulee Lheu. Laksamana Malahayati menikmati hari-hari tuanya di atas kapal Kuta Alam, sampai akhir hayatnya.

Infografis kehidupan Laksamana Malahayati

Infografis Riwayat Laksamana Malahayati

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments