PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG

PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG

Tengku Kamaliah adalah seorang putri yang berasal dari Kesultanan Pahang di Semanjung Melayu (Negara Malaysia sekarang) yang menjadi permaisuri Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam dari Kesultanan Aceh Darussalam, kemudian di Aceh dikenal dengan sebutan Putroe Phang. Setelah Putri Sendi Ratna Istana sebagai pemaisuri meninggal dunia, Sultan Iskandar Muda mempersunting putri jelita dari keluarga diraja Pahang.

Baca : Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda

Latar Belakang Keadaan Politik Negeri-Negeri Melayu dalam Persaingan Pengaruh Antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kekuasaan Portugis di Malaka pada Abad ke-17

Kekuasaan Imperialisme Eropa yang pertama datang ke Asia Tenggara adalah Portugis, pada tahun 1511 menaklukkan Malaka. Portugis kemudian menaklukkan Samudera Pasai (1521) dan memperluas pengaruhnya di Selat Malaka. Akan tetapi dari Utara Sumatera muncul lawan sepadan Aceh Darussalam, konflik berlangsung ratusan tahun dan akhirnya Sultan Aceh terbesar Iskandar Muda lahir dan pertarungan kian dahsyat. Sebagaimana diceritakan dalam Sejarah Pahang1)

“Dalam bulan Juli 1613, Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, Raja Aceh yang masyhur gagah perkasanya itu, telah menghantar suatu angkatan perang laut yang besar datang menyerang dan mengalahkan Negeri Johor, Batu Sawar dan Kota Seberang. Bandar-bandar utama di Negeri Johor masa itu telah diduduki oleh orang-orang Aceh. Mengikut setengah sumber, Iskandar Muda sendiri mengepalakan Angkatan Perang Aceh yang menyerang Negeri Johor itu. Sultan Alauddin Riayat Syah III, adinda baginda Raja Abdullah serta Bendahara (Perdana Menteri) Johor Tun Sri Lanang dan beberapa ramai pengiring-pengiring Sultan Johor telah ditawan dan dibawa ke Negeri Aceh…”

Setelah beberapa tahun di Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah III berjanji tidak akan lagi membantu Portugis yang telah menduduki Malaka, maka Sultan Iskandar Muda membebaskan Sultan Alauddin dan diantar kembali serta ditabalkan kembali sebagai Sultan Johor. Akan tetapi ternyata Sultan Alauddin Riayatsyah III ternyata berkhianat dan bekerjasama dengan Portugis untuk memperluas jajahan mereka di Semenanjung Melayu. Alauddin membantu Portugis untuk mengangkat Raja Bujang menjadi Raja Pahang. Raja Bujang sebelumnya adalah seorang pangeran Pahang yang telah bersumpah setia kepada Portugis.

Baca : Pengepungan Malaka oleh Aceh Darussalam

Maka, September 1615. Sultan Iskandar Muda menyerang Johor kembali dengan angkatan perang yang besar, Sultan Alauddin ditangkap dan dibawa (lagi) ke Aceh sampai meninggal. Serangan armada Aceh Darussalam dilanjutkan ke Pahang  sebagaimana yang dituliskan oleh Haji Buyong Adil:

“Oleh sebab orang Portugis telah menolong Sultan Johor menaikkan Raja Bujang menduduki Kerajaan Negeri Pahang, pada tahun 1617 Sultan Aceh telah mengeluarkan Angkatan Perang Aceh menyerang Negeri Pahang dan laskar-laskar Aceh yang datang itu telah membinasakan daerah di Negeri Pahang. Raja Bujang melarikan diri, sementara ayah mertuanya, Raja Ahmad, dan putranya yang bermana Raja Mughal serta 10.000 rakyat negeri Pahang ditawan ditahan dan dibawa ke Negeri Aceh. Seorang pitri dari keluarga diraja Pahang, yang bernama Putri Kamaliah, juga turut dibawa ke Aceh, yang kemudian diperistri oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam, dan Putri Pahang itu termasyur dalam sejarah Aceh karena kebijaksanaannya dan disebut oleh orang-orang Aceh Putroe Phang…”

Peran Putroe Phang dalam Pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam

Tengku Kamaliah adalah seorang putri yang berasal dari Kesultanan Pahang di Semanjung Melayu (Negara Malaysia sekarang) yang menjadi permaisuri Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam dari Kesultanan Aceh Darussalam, kemudian di Aceh dikenal dengan sebutan Putroe Phang.

Putri Pahang dalam istana Darud Dunia tidak hanya sebagai Permaisuri, juga menjadi penasehat bagi suaminya Sultan Iskandar Muda. Salah satunya nasehatnya adalah pembentukan Majelis Syura (Parlemen) yang beranggotakan 73 orang sebagai perwakilan penduduk dalam kerajaan Aceh2). Sebagai penghormatan kepada Putroe Phang sebuah Hadih Maja (Kata-kata berhikmat) yang berbunyi:

Adat bak Poteu Meureuhom,

Hukom bak Syiah Kuala,

Kanun bak Putroe Phang,

Reusam bak Laksamana,

Hukom ngon adat lagee zat ngon sifuet,

Hadih Maja ini adalah ajaran tentang pembagian kekuasaan dalam kerajaan Aceh Darussalam3), yang bermakna:

  1. Kekuasaan eksekutif berupa kekuasaan politik/adat berada di tangan Sultan sebagai Kepala Pemerintahan. Sultan Iskandar Muda menciptakan sistem ini, maka dibangsakan kepadanya (Poteu Meureuhom);
  2. Kekuasaan yudikatif atau pelaksanaan hukum berada di tangan ulama. Syekh Abdurrauf Syiah Kuala merupakan seorang ahli hukum dan Kadi Malikul Adil yang paling menonjol, maka pelaksanaan yudikatif ini dibangsakan kepadanya;
  3. Kekuasaan legislatif atau pembuatan undang-undang dibangsakan kepada Putroe Phang karena ia yang memberi nasehat untuk membentuk Majelis Syura (Parlemen);
  4. Peraturan keprotokolan atau reusam berada di tangan Laksamana sebagai Panglima Angkatan Perang Aceh dibangsakan kepada Laksamana Malahayati;
  5. Baris kelima adalah sintesis dari silogisme empat baris sebelumnya, yaitu: Dalam keadaan bagaimanapun, adat, kanun, dan reusam tidak boleh dipisahlan dari hukum/ajaran Islam sebagai penuntun jalan setiap orang yang memegang kekuasaan di Kesultanan Aceh Darussalam.

Hadih Maja ini menjadi falsafah hidup orang Aceh. Sultan Iskandar Muda, Syekh Abdurrauf Syiah Kuala, Putri Pahang dan Laksamana Malahayati adalah teladan bagi orang-orang Aceh. Kita melihat dalam Hadih Maja ini menyebutkan empat nama, dua laki-laki dan dua perempuan menunjukkan bahwa Islam sebagai dasar kerajaaan, Al-Quran dan Hadist menjadi sumber hukum memberikan hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk memegang jabatan apa saja dalam kerajaan, diakui sepenuhnya.

Sejarah Aceh mencatat nama-nama perempuan yang memainkan peranan penting di tanah Aceh, banyak tokoh besar perempuan, baik sebagai pemimpin pemerintahan maupun sebagai pahlawan dalam peperangan.  Itu karena berdasarkan dalil-dalil Al-Quran dan Hadist-hadist nabawi di Kesultanan Aceh Darussalam memberikan hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Daftar Pustaka :

  1. Haji Buyong Adil; Sejarah Pahang; Kuala Lumpur; Dewan Bahasa dan Pustaka; 1972;
  2. Die Meulek; Kanun Al Asyi; Koleksi Naskah Tua Perpustakaan A. Hasjmy;
  3. Hasjmy; Wanita Aceh Sebagai Negarawan dan Panglima Perang; Jakarta; Penerbit Bulan Bintang; 1996:

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  2. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  3. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  4. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  5. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  6. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  7. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  8. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  9. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  10. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  11. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  12. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  13. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  14. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  15. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  16. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  17. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  18. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  19. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  20. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  21. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  22. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  23. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  24. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  25. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  26. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  28. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  30. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  31. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  32. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  33. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  34. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  35. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  36. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  37. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  38. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  39. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  40. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  41. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  42. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  43. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  44. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  45. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  46. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  47. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  48. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  49. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  50. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  51. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  52. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  53. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  54. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  55. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  56. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  57. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  58. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  59. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
Advertisements
Advertisements
Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

MEMOAR PANGLIMA POLEM CATATAN SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN INDONESIA

MEMOAR PANGLIMA POLEM CATATAN SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN INDONESIA

Memoar Panglima Polem berjumlah 60 halaman Teuku Muhammad Ali Panglima Polem menceritakan catatan pengalaman perjuangannya dalam menegakkan perjuangan rakyat Aceh melawan kolonial Belanda. Catatan yang diberi judul “Memoir” ditulis sendiri oleh Panglima Polem berdasarkan pengalaman “Yang saya kerjakan, yang saya lihat, yang saya dengar ataupun berdasarkan laporan-laporan di masa-masa yang lampau.” Diselesaikan di Kutaradja (Banda Aceh Sekarang) pada 17 Agustus 1972 dan diterbitkan dalam bentuk stensil oleh penerbit Alhambra.

Memoir (Tjatatan) T.M.A Panglima Polim disusun oleh: T.M.A Panglima Polim diterbitkan oleh ALHAMBRA. Sebagai persembahan untuk diketahui oleh generasi muda sekarang dan yang akan datang.

Free download e-book MEMOAR PANGLIMA POLEM

Memoir (Tjatatan) T.M.A Panglima Polim disusun oleh: T.M.A Panglima Polim diterbitkan oleh ALHAMBRA.

Siapa Panglima Polem?

Dalam sistem pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam, Panglima Polem merupakan jabatan Panglima Sagoe XXII Mukim (Aceh Besar bagian pengunungan) dengan gelar tambahan Sri Muda Setia Perkasa. Inti Kesultanan Aceh adalah Aceh Besar yang terdiri dari 3 Mukim besar (daerah otonom). Sagoe Mukim XXVI bergelar Sri Imam Muda terletak sebelah kanan ibu kota, dan sebelah kiri Sagoe Mukim XXV bergelar Setia Ulama. Sagoe XXII sendiri memiliki wilayah Selatan ibu kota sampai lembah Seulawah. Masing-masing Panglima Sagoe tersebut membawahi para Uleebalang, Imeum Mukin dan keuchik hanya Sagoe Mukim XXII saja yang berhak memiliki gelar Panglima Polem.

Sebutan Panglima Polem bukanlah nama asli dari tokoh yang bersangkutan, tetap merupakan gelar kehormatan yang dinobatkan karena kebangsawanan sekaligus karena jabatan seseorang. Dalam sejarah Aceh, gelar Panglima Polem selalu diikuti oleh nama lain sebagai nama asli dari tokoh yang bersangkutan.

Panglima Polem pertama adalah anak kandung dari Sultan Aceh terbesar, Sultan Iskandar Muda dari seorang selir dari Abbysinia. Sesuai wasiat Sultan Iskandar Muda, Panglima Polem tidak diizinkan naik tahta Kesultanan Aceh Darussalam namun diminta menjadi pejabat yang melantik Sultan Aceh yang akan menjabat.

Silsilah Teuku Muhammad Ali Panglima Polem

Ayah kandung dari penulis Memoir, Teuku Muhammad Ali Panglima Polim. Panglima Polim IX atau bernama lengkap Teuku Panglima Polim Sri Muda Perkasa Muhammad Daud adalah seorang panglima Aceh. Setelah pengangkatannya sebagai Panglima dia kemudian mewarisi gelar Teuku Panglima Polim Sri Muda Perkasa Wazirul Azmi adalah seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Teuku Muhammad Ali adalah Panglima Polem X. Ayahnya adalah Teuku Panglima Polem Muhammad Daud (Panglima Polem IX) yang juga dikenal sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dengan ibu salah satu puteri Tuanku Hasyim Bangtamuda, Wali Sultan Aceh terakhir Tuanku Muhammad Daudsyah. Kakeknya adalah Raja Kuala (Panglima Polem VIII) yang wafat tahun 1891. Buyutnya adalah Cut Banta (Panglima Polem VII hidup 1845-1879), bahkan jika ditarik garis lurus maka silsilahnya akan sampai kepada Sultan Iskandar Muda.

Peranan T.M.A Panglima Polem dalam kemerdekaan Indonesia

T.M.A Panglima Polem adalah sosok pelaku sejarah yang terlibat ketika Aceh menyelamatkan kemerdekaan Indonesia pada awal proklamasi. Tidak hanya setelah Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Tapi jauh sebelum itu TMA Panglima Polem pernah berikrar seperti tertulis dalam catatan Memoirnya.

Pada suatu hari saya (T.M.A Panglima Polem) bersama T. Nyak Arif, Tjut Hasan, T. Ahmad Djeunieb, T. Djohan Meuraksa dan Tgk. Ali Keurukon dalam suatu permufakatan mengucapkan ikrar bersama dengan sumpah, kami berjanji jika ada kesempatan akan melawan penjajahan Belanda. Ternyata, kesempatan itu datang pada tahun 1942.  Keadaan kekuasaan Belanda saat itu semakin genting akibat Perang Dunia II, termasuk di Aceh. Maka tanggal 24 Pebruari 1942, T.M.A Panglima Polem memimpin sebuah gerakan melawan Belanda di Seulimum, Aceh Besar.

Sebelum penyerangan dilakukan, T.M.A Panglima Polem sempat memberikan pidato singkat kepada rakyat Seulimum yang akan ikut dalam gerakan pemberontakan terhadap Belanda. “Pemberotakan ini adalah pemberontakan perang mengusir Belanda musuh kita, dan ini adalah perang suci. Oleh sebab itu dalam perang ini perlu dijaga norma-norma kesopanan menurut petunjuk agama, jangan melewati batas, jangan membunuh wanita, anak-anak dan orang tua,” kata T.M.A Panglima Polem dalam pidatonya ketika itu.

Maka tepatnya tengah malam 24 Pebruari 1942 penyerangan dilakukan, Belanda kalang kabut, seorang Controleur Belanda bernama Tigelman yang bertugas di Seulimum terbunuh dalam pemberontakan itu. Keesokan harinya langsung tersiar berita keseluruh Aceh bahwa T.M.A Panglima Polem sudah melakukan pemberontakan terhadap Belanda di Seulimum, Aceh Besar. Maka berontaklah seluruh Mukim XXII termasuk Padangtiji disusul oleh Mukim XXV dibawah pimpinan T. Nyak Arief (Kelak Residen pertama Aceh) lalu disusul oleh Uleebalang Lageun (Calang) T. Sabi. Seluruh rakyat menjadi turut sehingga Belanda panik.

Berita itu sekaligus membuat Belanda marah di Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Saat itu Belanda langsung mengirimkan seorang pimpinannya Mayor Palmer Van de Broek ke Seulimum untuk memburu Panglima Polem. Semua Uleebalang XXII Mukim dikumpulkan Mayor Palmer di Seulimum. Di hadapan semua Uleebalang XXII Mukim itu Mayor Palmer Van de Broek berkata: “Kalau T.M.A Panglima Polem dapat ditangkap tidak akan ditembak, tetapi bawa ia ke Seulimum untuk disalib dan dipertontonkan kepada seluruh ahli familinya dan semua rakyat dalam XXII Mukim.

Saat itu Van de Broek juga mengatakan, bagi siapa yang dapat menangkap Tjut Nyak Bunsu (istri T.M.A Panglima Polem) akan diberi hadiah Fl. 25.000,-. “Saya di sini pengganti Tuhan, pengganti Nabi Muhammad, Controleur dan panglima sagi,” kata Mayor Palman Van de Broek dengan penuh kemarahan akibat pemberontakan yang dilakukan TMA Panglima Polem di Seulimum ketika itu.

Sebagai putra bangsa yang setia pada perjuangan kemerdekaan T.M.A Panglima Polem juga tak tinggal diam pada masa pendudukan Jepang di Aceh. Meskipun posisinya sebagai Kosai Kyokutyo (Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat) Pemerintahan Jepang waktu itu, T.M.A Panglima Polem tatap saja berjuang memonitor perkembangan perjuangan kemerdekaan.

Teuku Panglima Polem Muhammad Ali (XX), Teuku Nyak Arief (X) bersama beberapa tokoh Aceh di pantai Lhok Nga.

Sampai suatu hari tepatnya 23 Agustus 1945, T.M.A Panglima Polem bersama T. Nyak Arief dan Tgk. Muhammad Daud Beureueh dipanggil Tyokang (Kepala Pemerintahan Sipil Jepang untuk Aceh) memberi tahu bahwa Jepang sedang berdamai dengan sekutu, karena dijatuhkannya bom atom di Hirosima. Dari pemberitahuan itu T.M.A Panglima Polem, T. Nyak Arif dan Tgk. Daud Beureueh tahu bahwa Jepang sudah kalah perang.

Berita membuat Panglima Polem dan T. Nyak Arif panik. Apalagi saat itu berkembang desas-desus ada kelompok yang telah membentuk Comite van Ontvangst untuk menyambut kedatangan Belanda kembali di Aceh. Untung segera tersiar kabar bahwa Indonesia telah diproklamirkan kemerdekaannya oleh Sukarno-Hatta di Jakarta. Berita proklamasi itu semula diterima oleh seorang pegawai Indonesia pada Jawatan Perhubungan Tentara Jepang, Radjalis yang kemudian diteruskan kepada saudara Haji Djamin pegawai Pos Kutaraja untuk disampaikan kepada T. Nyak Arief.

Sumpah Setia T.M.A Panglima Polem dan para pembesar Aceh Kepada Republik Indonesia

Saat itu, T. Nyak Arief besama TMA Panglima Polem langsung mengambil inisiatif memanggil orang-orang penting di Aceh untuk bersumpah setia kepada Negera Republik Indonesia.

T.M.A Panglima Polem dalam buku Memoirnya menceritakan, sumpah setia terhadap negera Republik Indonesia ini mula-mula diucapkan T. Nyak Arief, setelah itu saya T.M.A Panglima Polem yang kemudian diteruskan oleh semua yang hadir termasuk Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Sedangkan yang menjadi juru sumpah saat itu adalah Tgk. Syeh Saman Siron.

Setelah itu, berdasarkan hasil mufakat T. Nyak Arief diangkat menjadi Residen dan T.M.A Panglima Polem sebagai asisten Residen untuk menaikan Bendera Merah Putih di depan kantornya. Setelah itu penaikan Bendera Merah Putih ini dilanjutkan ke kantor pusat pemerintahan Tyokang yang bermarkas di komplek (baperis sekarang).

Namun penaikan bendera Merah Putih di depan kantor Tyokang, setelah dinaikkan bendera Indonesia ini diturunkan kembali oleh Jepang. T. Nyak Arief bersama T.M.A Panglima Polem sangat marah. T. Nyak Arief dengan memegang pistol bersama rombongannya kembali ke kantor pusat pemerintahan untuk menaikkan bendera Indonesia kembali halaman kantor itu. T. Nyak Arief mengancam dengan memerintahkan kepada Polisi Istimewa, siapa yang berani menurunkan lagi bendera Merah Putih ini tembak mati mereka, perintah T. Nyak Arief.

Maka berkibarlah Sang Merah Putih untuk pertama kalinya di Aceh dari siang hingga malam hari sebagai lambang cinta dan kesetiaan Aceh terhadap Republik Indonesia.

Peranan T.M.A Panglima Polem dan rakyat Aceh pada masa-masa genting Republik Indonesia

Kesetiaan Aceh yang diberikan untuk Indonesia ternyata tidak hanya sebatas ikrar tokoh-tokoh perjuangan yang bersumpah akan menyelamatkan Indonesia dari musuh-musuh penjajahan. Setelah Indonesia memproklamirkan diri sebagai sebuah nagara yang merdeka, Indonesia tidak segan-segan menyampaikan kesulitannya kepada Aceh. Seperti seorang anak yang tidak segan segan meminta bantuan kepada orang tuanya.

Ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Aceh bulan Juni 1948, Sukarno atas nama rakyat Indonesia dalam sebuah pidato jamuan malam di Hotel Aceh dengan sejumlah pengusaha Aceh, waktu itu GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh), Presiden Sukarno tidak segan-segan meminta rakyar Aceh untuk dapat membelikan sebuah pesawat udara untuk kepentingan pemerintahan Indonesia yang baru merdeka. “Saya belum mau makan malam sebelum ada jawaban pasti ‘ya’ atau ‘tidak’ dari saudara-saudara,” kata Presiden Sukarno diakhir pidatonya malam itu. Maksudnya, Sukarno ingin sebuah jawaban yang jelas dari rakyat Aceh untuk menyanggupi memberikan sebuah pesawat udara untuk kepentingan perjuangan Indonesia yang baru merdeka.

Dalam hal ini lagi-lagi T.M.A Panglima Polem diuji kesetiannya kepada Republik Indonesia. Tanpa basa-basi atas nama GASIDA T.M.A Panglima Polem mengabulkan permintaan Presiden Sukarno untuk menyumbangkan sebuah pesawat terbang kepada pemerintah Republik Indonesia.

Harga sebuah kapal terbang jenis Dakota (bekas pakai) waktu itu sekitar 120.000 Dolar Malaysia. Kalau dengan harga emas sebanyak 25 Kg emas. Lalu dibentuklah panitia pembelian pesawat terbang itu oleh GASIDA, T.M.A Panglima Polem dipercayakan untuk mengetuai panitia pembelian pesawat tersebut.

Pesawat “Seulawah 02″ sumbangan rakyat Aceh, sekarang rangkanya dijadikan monumen di lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Beberapa hari setelah itu T.M.A Panglima Polem menemui Residen Aceh untuk membicarakan teknis penyerahan pesawat itu secara simbolis kepada pemerintah Republik Indonesia. Karena setianya rakyat Aceh kepada Republik, pesawat yang diminta Sukarno tidak hanya satu yang disumbangkan, tapi dua pesawat sekaligus. Yang satu pesawat sumbangan dari GASIDA, yang satu lagi sumbangan dari seluruh rakyat Aceh. Dua pesawat hasil sumbangan Aceh kepada Republik Indonesia ini kemudian diberinama “Seulawah 01″ dan “Seulawah 02″. Dua pesawat inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.

Fitnah Keji Jenderal A.H Nasution kepada T.M.A Panglima Polem

Meskipun T.M.A Panglima Polem salah seorang putra bangsa Indonesia terbaik di Aceh yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau difitnah terlibat pemberontakan D.I/T.I.I dan kemudian dijebloskan ke dalam penjara Republik tercinta, penjara negara yang ia perjuangkan kemerdekaannya. T.M.A Panglima Polem diringkus dalam tahanan Cipinang, Jakarta, atas Surat Perintah Penguasa Perang A.H. Nasution tahun 1958. Padahal T.M.A Panglima Polem saat itu masih menjabat sebagai penasehat khusus Dr. Idham Khalid, Wakil Perdana Menteri II Bidang Keamanan Republik Indonesia.

Penghinaan oleh seorang pegawai Kepala Seksi pada Biro Kepegawaian pada Kementerian Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bernama Suparko kepada T.M.A Panglima Polem.

Ketika D.I/T.I.I dan Permesta di Aceh berakhir pemerintah Republik Indonesia memberikan amnesti umum kepada para pegawai yang dianggap memberontak dapat kembali kepada kedudukan terakhir sebelum pemberontakan.

Kepada T.M.A Panglima Polem memberikan keterangan “tidak pernah memberontak kepada Pemerintah R.I.” Suparko lantas bertanya: “Jadi Saudara tidak turut memberontak?” Dengan tegas dan bangga T.M.A Panglima Polem menjawab “tidak.” Kemudian Suparko mengatakan karena T.M.A Panglima Polem tidak dapat diangkat kembali karena “Tidak turut memberontak” dan tidak berhak atas pensiun. Penjelasan dan penghinaan yang memanaskan hati ini tidak membuat T.M.A Panglima Polem kehilangan ketenangan, ia meninggalkan ruang Kepala Seksi Sumatera/Nusa Tenggara itu dengan kepala dingin.

Akhir hidup dari T.M.A Panglima Polem Menurut Para Sahabat dan Kesaksian Pelaku Sejarah

Memang bak kata pepatah, untung tak dapat diraih, nasib tak dapat ditolak. Hari tua T.M.A Panglima Polem sangat memilukan. la jatuh dalam kemiskinan setelah hampir seluruh hartanya dihabiskan untuk kepentingan perjuangan dalam mewujudkan impiannya menuju Indonesia merdeka.

Di tengah duka nestapa itulah T.M.A Panglima Polem menghembuskan nafas terakhir, kembali kehadhirat Ilahi Rabbi, 6 Januari 1974. Sungguh sebuah kesetiaan pengabdian yang diberikan kepada negara, tapi kesetiaan T.M.A Panglima Polem terhadap negara yang ia perjuangkan kemerdekaannya, dinafikan oleh negaranya sendiri.

Penutup Memoir oleh T.M.A Panglima Polem

“Saya senantiasa bersyukur disamping telah ikut berjuang dengan teman-teman-teman sejak puluhan tahun dalam berbagai bidang masih diberi kesempatan oleh Allah S.W.T dalam alam merdeka ini untuk mengisi kemerdekaan yang tercapai itu.

Mudah-mudahan dengan adanya kesibukan masing-masing kita dapat melupakan pengalaman-pengalaman yang pahit, menghilangkan sentimen-sentimen pribadi dan golongan, permusuhan-permusuhan, fitnah dan sebaliknya mari kita pupuk rasa persaudaraan, persatuan yang menjadi syarat mutlak bagi pembangunan dan kesejahteraan.” T.M.A Panglima Polem, Kutaradja, 17 Agustus 1972.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  2. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  3. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  4. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  5. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  6. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  7. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  8. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  9. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  10. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  11. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  12. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  13. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  14. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  15. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  16. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  17. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  18. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  19. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  20. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  21. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  22. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  23. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  24. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  25. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  26. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  27. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  28. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  29. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  31. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  32. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  33. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  34. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  35. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  36. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  37. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  38. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  39. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  40. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  41. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  42. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  43. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  44. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  45. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  46. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  47. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  48. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  49. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  50. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  51. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  52. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  53. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  54. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  55. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  56. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  57. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  58. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  59. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, E-Book, Kisah-Kisah, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

WATAK BERPERANG BANGSA INDONESIA BERBAGAI-BAGAI DAERAH (SUATU PERBANDINGAN)

WATAK BERPERANG BANGSA INDONESIA BERBAGAI-BAGAI DAERAH (SUATU PERBANDINGAN)

Watak Berperang Bangsa Indonesia berbagai-bagai daerah (suatu Perbandingan) merupakan terjemahan dari buku K. Van Der Maateen yang berjudul De Indische Oologen (1896) dialih bahasakan oleh Aboe Bakar dan diterbitkan oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh di Banda Aceh tahun 1978.

COVER WATAK BERPERANG BANGSA INDONESIA BERBAGAI DAERAH Terjemahan dari De Indische Oologen oleh K. Van Der Maaten ALIH BAHASA Aboe Bakar Aceh

Free download Watak Berperang Bangsa Indonesia berbagai-bagai daerah (suatu Perbandingan)

WATAK BERPERANG BANGSA INDONESIA BERBAGAI DAERAH Terjemahan dari De Indische Oologen oleh K. Van Der Maaten ALIH BAHASA Aboe Bakar Aceh

Dimana ada penjajahan atau penindasan disana pula ada perjuangan melawan penjajahan dan penindasaran itu. Perjuangan yang dilakukan dapat terwujud dalam berbagai bentuk. Ada perjuangan yang berlangsung singkat dan ada pula yang berlangsung sampai berpuluh tahun lamanya. Perjuangan yang dilakukan berbagai daerah untuk menentang kolonial Belanda mempunyai kesamaan tujuan tapi mempunyai perbedaaan dalam watak perang itu sendiri.

Van Der Maateen menulis bahwa perang di Nusantara ada yang berakhir dengan tewas atau tertangkapnya kepala jiwa pemberontakan itu seperti yang terjadi berakhir peperangan tersebut sebagaimana terjadi di Jawa, Palembang, Sulawesi Selatan sehingga tidak dapat disebut sebagai peperangan rakyat.

Perang Diponegoro (1825-1830)

Perang Paderi 1821-1837

Perang Diponegoro awalnya merupakan peperangan rakyat, tapi menjelang babak akhir telah kehilangan wataknya sebagai “peperangan rakyat” sehingga banyak rakyat Jawa yang memihak kepada Belanda. Begitupun dengan Perang Paderi dimana watak peperangan rakyat hanya berpusat di Bonjol dan wilayah yang berdekatan letaknya. Sedang peperangan di Kalimantan disebut oleh K. Van Der Maateen sebagai peperangan gerombolan semata.

Peperangan rakyat yang menjadi contoh adalah peperangan di Aceh. Dalam peperangan itu Belanda harus berhadapan dengan seluruh rakyat Aceh Besar kecuali Meuraksa (berpihak kepada belanda) dan sebahagian negeri-negeri pesisir Timur dan Barat (yang segera takluk kepada Belanda).

Pada awal perang Aceh, Aceh Besar merupakan daerah yang dimana setiap lelaki, wanita, anak-anak menjadi musuh Belanda, semua karena keyakinan agama dan benci kepada kafir. Perlawanan kepada Jenderal Pel, kemudian menurun pada masa Jenderal Van Der Heijden tapi kemudian peperangan Aceh kembali kepada wataknya sebagai peperangan rakyat.’

Sebaliknya K. Van Der Maateen menyatakan bahwa pemimpin perang orang Aceh seperti Nyak Hasan, Teuku Umar, Teuku Husen, Teuku Ali Pagar Ayer telah menjalankan perang bergerombolan.

Buku ini merupakan buku baku yang harus dipahami oleh para calon perwira angkatan perang Belanda yang akan bertugas di Indonesia (Hindia Belanda waktu itu). Buku ini adalaha hasil karangan penulis Belanda yang dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, maka sangat mungkin ada uraian yang tidak dapat diterima dalam buku ini selaku bangsa yang telah merdeka.

Teuku Umar dan gerombolannya adalah watak pejuang yang paling dibenci oleh Belanda. Belum pernah dalam sejarah penjajahan Belanda ditipu oleh seorang pribumi sebagaimana dilakukan oleh Teuku Umar.

Meskipun begitu buku ini dapat menambah sumber pengetahuan kita dalam mempelajari dan mendalami sejarah perjuangan Nasional Indonesia dalam menentang penjajahan Belanda.

Katalog free download e-Books :

  1. PERANG ACEH Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje; Penulis Paul Van ‘t Veer; Cetakan Pertama 1985; Percetakan PT Temprint; Penerbit PT. Grafiti Pers; Jakarta.
  2. ACEH DI MATA KOLONIALIS; Penulis Dr. C. Snouck Hurgronje; Cetakan Pertama 1985; Penerbit Yayasan Soko Guru; Jakarta.
  3. Nasihat-nasihat C. Souck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936; Dirangkum oleh E. Gobee dan C. Adriaanse; Penerjemah Sukarsi; Seri Khusus INIS Jilid I-XI; Jakarta: INIS, 1990.
  4. ACEH SEPANJANG ABAD Jilid Pertama dan Kedua Direvisi dan Diperlengkap; Penulis H. Mohammad Said; Diterbitkan oleh P.T. Percetakan dan Penerbitan Waspada; Medan; 1981.
  5. PERANG DI JALAN ALLAH Perang Aceh 1873-1912; oleh Ibrahim Alfian; Cetakan Pertama 1987; Penerbit PT New Aqua Press; Jakarta.
  6. ACEH DAERAH MODAL Long March Ke Medan Area; Oleh Tgk. A.K. Jakobi; Diterbitkan oleh Yayasan “Seulawah RI-001” Jalan Bunga Rampai VII/252 Malaka Jaya, Jakarta Timur 13460; Dicetak oleh P.T. Yudha Gama Corporation; Cetakan Pertama; Jakarta 09.09.1992.
  7. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU; oleh A. Hasjmy; Penerbit Bulan Bintang, Jakarta; Cetakan Pertama, 1977.
  8. KERAJAAN ACEH Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636); oleh Denys Lombard; Diterjemahkan oleh Winarsih Arifin; Penerbit Balai Pustaka; Jakarta; 1991.
  9. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH; oleh Abdullah Hussain; Penerbit Balai Pustaka; Jakarta; Cetakan Pertama; 1990.
  10. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16; Oleh Muhammad Gade Ismail; Penyunting Susanto Zuhdi; Koreksi Sejarah Soejanto; Diterbitkan oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional; Jakarta; 1993; Dicetak oleh CV. Manggala Bhakti.
  11. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH; Oleh T. Ibrahim Alfian; Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh; 1979.
  12. ATJEH MENDAKWA (Pidato pembelaan yang diucapkan didepan Pengadilan Negeri Sigli, 12 September 1963) oleh Thaib Adamy; Penerbit Comite PKI Atjeh; tahun 1964.
  13. TARICH ATJEH DAN NUSANTARA; oleh H.M. Zainuddin; Jilid 1; Cetakan Pertama; Penerbit Pustaka ISKANDAR MUDA Medan Jalan Amaliun nomor 14 A; Tahun 1961.
  14. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK : KASUS DARUL ISLAM ACEH; oleh Nazaruddin Sjamsuddin; Penerbit Pustaka Utama Grafiti; Cetakan pertama; 1990; Percetakan PT. Temprint; Jakarta.
  15. THE PRICE OF FREEDOM: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro; Published by; National Liberation Front of Acheh Sumatra; 1984.
  16. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH; Pengantar dan link download sejumlah 31 filehikayat berbentuk e-book.
  17. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; oleh Tengku Hasan Muhammad Tiro; Cetakan ketiga; 1984.
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Download, E-Book, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

ACEHNESE IN SUMATRAN HISTORY

History of Sumatra written by William Marsden, F.R.S published by T. Payne & Son in 1811.

ACEHNESE IN SUMATRAN HISTORY

A British researcher and explorer William Marsden began observing the island of Sumatra in 1771. He succeeded in revealing things that had not been revealed before, his book, The History of Sumatra was a major work in the 18th century which was written based on research and observation that was classified as sophisticated at that time.

William Marsden wrote his impression when opening chapter 21 about Aceh, “Aceh is the only kingdom in Sumatra that has ever achieved political influence for the western nation so that the historical record becomes a general subject. However, the current conditions are very different from the conditions when they succeeded in preventing Portuguese forces from setting foot in Sumatra and their princes received ambassadors from all major nations in Europe.”

Teuku Imuem Lueng Bata (sitting to the right) and Teuku Kali Malikon Ade (sitting to the left) as the representative of the representative of the Aceh Darussalam Sultanate in an effort to explore the possibility of obtaining weapons assistance in Penang. This photo was taken in 1858 before the Aceh War broke out in 1873.

Marsden, on the one hand, recognizes the glory of Aceh’s past history, but on the one hand also observes that at the end of the 18th century, the Aceh Darussalam Sultanate experienced a decrease in strength, influence, and its light had dimmed.

Typical Acehnese (men) in the late 19th century AD.

Typical Acehnese (Women) in the late 19th century AD.

Regarding the Acehnese population, Marsden wrote; “The physical characteristics of Acehnese are very different from other Sumatran people. They are usually taller, more muscular, and their skin is darker. This does not mean that they represent the physical characteristics of the indigenous people, but based on various reasons, it can be assumed that it is a mixture of Batak people and Malays with Chulia people, people who they call the people of western India (present-day Pakistan) who have often visited the ports of Aceh.

In terms of their character, they are more active than some other indigenous people. They are wiser, have knowledge of other countries, and as traders, they transact on broader and liberal principles. However, observations of these principles are mostly carried out on traders who are far from the capital city and to their writings rather than observations made in Aceh based on character and examples of the actions of the ruling king is often narrow-minded, blackmailed, and oppressive.

Two Acehnese, rhinoceros tamer (left) and tiger tamer (right).

Their language is one of the dialects commonly used in the eastern islands and its similarity to the Batak language can be seen in the comparison table. However, they still use Malay characters.

Since childhood, the people of Aceh have been given religious lessons. As the picture at the end of the 19th century AD shows a group of children with the teacher reciting the Qur’an.

In terms of religion, they embrace Islam and have many scholars. They interact a lot with foreigners who are also Muslims. The forms of worship and ceremonies are carried out quite strictly on the rules.

Apart from some good descriptions of the Aceh Sultanate, like other European explorers, Marsden draws the same conclusion, that Aceh is one of the most dishonest and most terrible countries in the eastern region especially when dealing with European powers in Southeast Asia: Britain, Dutch, Portuguese, Spanish and even French.

Translate From: ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA

About Aceh

  1. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  2. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  3. VISITING THE EXHIBITION ACEH TOMBSTONE AS AN ISLAMIC CULTURAL HERITAGE IN SOUTH-EAST ASIA; 16 May 2017;
  4. DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910); 20 May 2017;
  5. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  6. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  7. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  8. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  9. GOLD, INFIDELS, AND DEATH; 10 July 2017;
  10. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  11. HOW TO TELL HISTORY; 14 August 2017;
  12. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  13. THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE; 28 September 2017;
  14. WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN; 14 October 2017;
  15. EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH; 5 November 2017;
  16. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  17. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  18. ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO; 25 February 2018;
  19. MARSOSE CORPS, THE DUTCH SPECIAL ARMY DURING ACEH WAR; 19 March 2018;
  20. ISLAMIC POLITICS BY SNOUCK HURGRONJE AS ADVICE TO DUTCH INDIES GOVERNMENT TO REDUCE ISLAM POWER IN INDONESIA; 9 July 2018;
Posted in History, International, Literature, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

BUKU KESAYANGAN KAKEK DAN HAL-HAL YANG TIDAK DICATAT OLEH SEJARAH

BUKU KESAYANGAN KAKEK DAN HAL-HAL YANG TIDAK DICATAT OLEH SEJARAH

Setiap kejadian dalam hidup ini ternyata sangat berharga. Kita bisa kehilangan uang dan mendapatkan kembali, kita bisa kehilangan apapun dan mendapatkannya kembali. Tapi jika kita kehilangan waktu, kita tak dapat mendapatkan waktu tersebut lagi. Orang bilang, ketuaan adalah sumber kebijaksanaan. Bisa jadi benar karena dia telah menjalani banyak kejadian dalam hidup. Setiap pilihan yang kita lakukan dalam hidup, membuat kita tak hanya lebih berpengalaman tapi juga menguji tujuan hidup kita. Ini adalah cerita ketika Abu masih muda, tentang bagaimana kejadian tersebut mempengaruhi hidup. Seiring kita bertambah dewasa maka tanpa disadari semakin banyak hal dilupakan, namun sesekali muncul pemantik yang memanggil masa-masa yang terlupakan itu seperti halnya mozaik-mozaik yang terangkai kembali dalam dimensi waktu yang berbeda. Itulah yang dirasakan ketika menemukan buku kesayangan kakek disebuah toko buku daring.

Akhir tahun delapan puluhan petani cengkeh sedang menikmati harga yang sangat baik, harga mencapai Rp. 7.000/perkilogram tapi kemudian nikmat itu dicabut. Paduka Yang Mulia H.M Soeharto demi puteranya yang tercinta Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, pada Desember 1990, Presiden Soeharto mendirikan BPPC (Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh) melalui Inpres (Instruksi Presiden) untuk menjalankan ekonomi monopoli. BPPC ini merupakan lembaga Negara yang memasarkan cengkeh produksi petani ke industri pengguna cengkeh, meskipun lembaga Negara, ajaibnya Tommy Soeharto berkuasa disana. Sebelum BPPC berdiri petani cengkeh bebas menjual langsung melalui KUD (Koperasi Unit Desa). Kebijakan monopoli ini segera merugikan petani, harga cengkeh yang dijual petani ke BPPC turun drastis menjadi Rp. 25/perkilogram. Tommy memaksa petani menjual cengkeh dengan harga sangat murah, lalu menjualnya ke pabrik rokok dengan harga sangat mahal. Banyak petani cengkeh bangkrut, termasuk keluarga kami. Tommy meraup keuntungan besar dan keluarga Cendana semakin kaya-raya diatas penderitaan orang lain.

Disaat ekonomi terjepit, kami pun tak memiliki ruang untuk membantah. Tahun 1989 pemerintah melaksanakan Operasi Jaring Merah (OJM) dan menjadikan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Setiap protes adalah pembangkangan, setiap keluhan adalah pengkhianatan, pada saat itu tidak ada tempat mengadu kecuali Allah S.W.T. Siapa yang mengatakan bahwa orde baru adalah masa-masa yang menyenangkan? Jika saat ini kita mendengar beredarnya slogan-slogan : Enak zamanku toh? Piye kabare enak zamanku to? Atau tentang bagaimana enaknya zaman orde baru itu aman dan gampang cari makan! Abu punya satu pertanyaan, apa yang diwariskan rezim itu kepada rakyat Indonesia? Tidak ada! Selain budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Saat ini Indonesia semakin baik, meski tersendat dan terhambat, kita semua Abu yakini menuju kebaikan.

Buku kesayangan kakek berjudul RANGKAIAN Cerita Dalam ALQUR’AN oleh Bey Arifin; Penerbit: AL MA’ARIF.

Dalam kesusahan tentu ada nostalgia, sewaktu kecil, Abu paling suka dengan kisah para Nabi, dalam cerita-cerita tersebut terdapat banyak hikmah kehidupan. Disana terdapat jalan kebaikan, tergantung dengan keinginan kita untuk mengikutinya atau tidak. Kisah Nabi Sulaiman A.S adalah yang paling Abu sukai, tentang seseorang yang memenangkan segalanya di dunia dan akhirat, tapi Abu waktu itu (berumur 6-7 tahun) tidak sanggup jika harus membaca (atau belum lancar membaca). Maka ketika kecil, setiap pulang kampung Abu selalu mencari kakek untuk mendengarkan kisah para nabi.

Kampung ayah Abu, di Anuek Galong Baro adalah basis PPP (Partai Persatuan Pembangunan), orang-orang yang dianggap mbalelo oleh Paduka Yang Mulia Soeharto, sehingga jangankan jalan, listrik pun tak sampai menjelang 1992. Satu-satunya hiburan bagi kami disana adalah mendengarkan radio berbaterai. Kakek bercerita sebelum monopoli cengkeh diberlakukan oleh Orde Baru kami adalah keluarga yang lumayan, memiliki dua radio, sayang masa itu sudah berlalu.

Sepanjang hidup, kita belajar membedakan benar dan salah. Mempelajari adat agar menjadi pribadi beradab, agar tak menjadi manusia biadab. Kita mempelajarinya dari orang-orang di sekeliling kita. Dari kisah para Nabi tersimpul di dalamnya semua ajaran agama yang benar, menjadi suatu kekal abadi, agama Islam. Disitu kita mempelajari tindakan apa yang dilakukan para Nabi dalam menghadapi berbagai kondisi, baik itu susah maupun senang.

Ekonomi Aceh pada awal 1990-an tidak begitu baik, status pelabuhan bebas Sabang baru saja dicabut oleh Orde Baru. Ekonomi macet. Seorang sahabat kakek, juga Walikota Sabang saat itu, Husein Main hilang, desas-desus dibunuh oleh Orde Baru karena menolak keras pencabutan pelabuhan bebas Sabang. Kakek bercerita, waktu itu sedang di Sabang ketika Husein Main dijemput oleh sepasukan tentara dan dibawa dengan heli. Kakek menyusul dengan kapal laut ke Banda Aceh, sesampainya di Banda Aceh Husein Main sudah tidak ada. Kakek menduga sahabatnya itu dibuang di laut. Abu terlalu kecil untuk paham, tapi saat itu Abu juga merasakan betapa orde baru mencekam.

Karena itu Abu sangat tertarik dengan kisah-kisah para Nabi maka Abu berkata kepada kakek. “Kek, tolong ceritakan kisah Nabi Muhammad S.A.W dari beliau lahir sampai beliau meninggal, dan jangan ada yang terlewat.

Kakek tertawa. “Tidak bisa. Karena kakek akan menghabiskan waktu 63 tahun (Sesuai dengan usia Nabi Muhammad S.A.W) untuk menceritakan. Umur kakek saat ini saja sudah 63 tahun.” Tapi kemudian kakek memberikan sebuah hadiah berupa sebuah buku. Abu tidak tahu judulnya karena sampulnya telah koyak, yang Abu kenali hanya gambar onta dan pohon kurma yang ada pada sisa sampul. Buku ini sangat disayangi oleh kakek, Abu tahu ketika ia menyerahkan kepada Abu ia berkata, “Buku ini entah mengapa menjadi penghiburan disaat-saat terburuk sekalipun, mungkin kakek tidak punya apa-apa untuk diwariskan kepadamu. Buku ini menceritakan tentang kisah-kisah para nabi, orang-orang teladan yang tentunya lebih baik dari kakek, jadikan mereka suluh hidupmu.”

Waktu itu Abu hanya mengangguk senang, hari ini ketika mengenang kejadian itu, mata Abu berkaca-kaca. Ini adalah salah satu momen berharga di hidup Abu, semoga Abu tidak pernah melupakannya.

Masa liburan puasa dan lebaran panjang, Abu pulang ke kampung ibu ke wilayah barat. Waktu itu komunikasi masih susah, telepon saja kami tak punya. Dan ketika kembali ke Banda Aceh, betapa kami terkejut ternyata kakek telah meninggal dunia, saat beliau sedang berpuasa sunnah Syawwal. Ketika itu Abu baru sampai dengan ibu, sedang ayah tidak ikut ke Barat. Mendengar kabar itu Ia menatap dinding dengan tajam. Tampangnya mengingatkan Abu setiap kali mendengar kabar buruk, seakan dia berusaha membatalkan kebenaranya dengan kekuatan tekad.

Pemilu tahun 1992 adalah pemilu pertama Golkar menang di kampung kami, listrik pun masuk desa. Jalan-jalan diaspal, kecuali jalan-jalan rumah penduduk yang diketahui dengan pasti memilih PPP, termasuk rumah kami. Mungkin itu bukan perintah Paduka Yang Mulia Soeharto sendiri, dan apa yang Abu saksikan bahwa tirani itu brutal, angkuh dan menyendiri. Terutama buat mereka yang melayaninya.

Tahun demi tahun berlalu, buku yang Abu punyai itu hilang. Entah dipinjam siapa, Abu lupa. Mungkin akibat kehilangan buku berharga kenangan kakek kelak Abu menjadi orang yang terkenal sulit untuk meminjamkan buku, bahkan siapapun yang meminjam buku selalu Abu catat dan tagih. Orde Baru runtuh, Milenium pun berganti, zaman digital pun tiba. Tiba-tiba Abu melihat kembali buku ini disebuah situs online. Dalam kontak yang sekejap itu, danau ingatan yang tersembunyi, seketika meledak, meluber dalam pikiran mereka dan membanjiri mereka berdua dalam bayangan, sebuah impressi. Abu memutuskan membeli buku tersebut tanpa pikir panjang.

Benar, saat ini waktu Abu telah tiba, berusia 34 tahun, menjadi dewasa, memiliki sebuah keluarga. Abu juga telah belajar untuk membuat pemikiran ataupun pilihan sendiri tentang segala sesuatu untuk menjalani hidup sendiri. Pilihan yang pernah Abu buat dalam hidup, sifatnya sering rumit, kadang-kadang Abu pikir bisa jadi salah. Tapi bagaimana melakukan dan memilih yang benar? Kadang harus melakukan sesuatu meski yang Abu ragu. Hidup sering bukanlah syair yang indah, variasinya sedikit, dan justru hal-hal tidak menyenangkan berulang terus menerus.

Tahun 1998 ketika Soeharto jatuh, Abu termasuk orang yang senang. Liburan sekolah tahun 1999 (Masuk SMA) Abu pergi ke Jakarta dengan nenek dengan bus. 3 hari 3 malam lamanya dari Banda Aceh ke Batavia, di satu pos polisi, bus kami diberhentikan oleh seorang oknum polisi, lalu kernet memberikan uang lima ribuan, Abu melihatnya. Disitulah Abu merasa bahwa reformasi di Indonesia belum bisa mengubah mental kita. Orde Baru tidak memberikan kita warisan apa-apa kecuali budaya korupsi dan chauvinisme akut yang menjangkiti. Bus melaju di jalan berlubang, mengoncang-goncang penumpang dan juga perasaan Abu.

Dunia terdiri dari miliaran tenunan kehidupan, tiap tenunan melintasi tenunan lainnya. Abu pun membaca kembali buku ini tidak sekedar untuk mengenang masa lalu, juga untuk mengingat bahwa disetiap keadaan yang buruk sekalipun kita masih bisa tertawa, mengambil hikmah dan mensyukuri apa yang kita miliki.

Simak (juga) kisah-kisah Petualangan Si Abu lainnya.

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN

Ada dua perangko bernominal Rp 1.500 yang diterbitkan. Masing-masing bergambar Cut Nyak Dhien, dan rumah Cut Nyak Dhien. Selain perangko, diterbitkan pula sampul hari pertama seharga Rp 5.000.

EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN

Edisi khusus seri pahlawan nasional prangko 100 tahun Cut Nyak Dhien diterbitkan dalam rangka mengenang meninggalnya pejuang wanita Aceh yang gagah berani tersebut pada tahun 1908. Pahlawan wanita ini meninggal dalam pengasingan di Sumedang, Jawa Barat sebagai ibu Perbu yang berarti Ratu karena identitas yang sebenarnya dirahasiakan oleh pemerintah colonial Belanda. Warga setempat mengenal Ibu Perbu sebagai seorang guru mengaji yang santun dan telah berusia lanjut di kalangan kaum ibu dan anak-anak. Jati diri Ibu Perbu baru terungkap pada tahun 1960. Informasi berasal dari surat resmi Hindia Belanda tulisan Kolonial Verslag yang menyatakan bahwa Cut Nyak Dhien, pemimpin pejuang Aceh telah diaingkan ke Sumedang.

Edisi Perangko 100 Tahun Cut Nyak Dhien Wafat (2008).

Prangko 100 Tahun Cut Nyak Dhien emisi tahun 2008; 1 Set (20 lembar).

Sebelumnya pemerintah Republik Indonesia pernah mengeluarkan Prangko Cut Nyak Dhoen dalam ejaan lama Tjoet Nja Dhien tahun 1969

Cut Nyak Dhien dilahirkan pada tahun 1848 di kampong Lam Padang Peukan Bada, wilayah VI mukim, Aceh Besar sebagai sebagai putri bangsawan yang berdarah pahlawan, Tuanku Nanta Setia. Sebagaimana lazimnya putri Aceh, Cut Nyak Dhien sejak kecil memperoleh pendidikan, khususnya agama yang diberikan baik oleh orang tua maupun guru agama. Pada usia 12 tahun, dia dijodohkan dengan anak saudara laki-laki dari pihak ibunya yang bernama Teuku Ibrahim Lamnga.

Baca juga : PEREMPUAN ACEH FULL POWER

Agresi Belanda pada tahun 1897 telah menggerakan seluruh rakyat Aceh termasuk Teuku Ibrahim Lamnga untuk berjuang mengusur kaum kolonial. Dalam suatu pertempuran di lembah Beurandeun Glee Tarom pada 1878. Teuku Ibrahim Lamga dan beberapa pengikutnya gugur. Kematian sang suami semakin mendorong semangat juang Cut Nyak Dhien untuk turun langsung ke medan perang. Setelah dua tahun menjanda, ia menikah kembali dengan Teuku Umar yang merupakan sepupunya dari pihak ayah. Pasangan suami istru ini kemudia melanjutkan perjuangan melawan penguasa Belanda. Pada tahun 1899 Teuku Umar gugur dalam pertempuran di daerah Suak Ribee, Ujong Kalak Meulaboh. Cut Nyak Dhien meneruskan perlawanan bersama para pengikutnya dengan bergerilya dari hutan ke hutan. Kerentaan serta penyakit encok dan rabun yang melemahkan tubuhnya tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang dengan kondisi pasukan yang semakin lemah serta perbekalan yang kurang. Karena pengkhianatan Pang Laot, Cut Nyak Dhien akhirnya ditangkap oleh Belanda pada tahun 1905 kemudian diasingkan ke Sumedang pada tahun 1907. Cut Nyak Dhien tutup usia pada 1908.

Foto Cut Nyak Dhien ditangkap bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

Makam Cut Nyak Dhien di Sumedang.

PT. Pos Indonesia dalam rangka mengenang 100 tahun meninggalnya seorang pahlawan, pejuang wanita yang gagah berani berasal dari Aceh pada tahun 1908. Pejuang wanita ini meninggal dalam pengasingannya, sebuah akhir di tanah sepi di Sumedang, Jawa Barat. Jauh dari tanah kelahirannya, jauh dari keluarganya, renta, tua, rabun dan menderita encok, sendiri dan jauh dari orang-orang yang mencintai dan dicintai dirinya. Prangko ini diterbitkan sebagai penghormatan kepada seorang wanita agung, atas penderitaan dan ketabahannya menjalani hari-hari akhir yang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi.

Leaflet penjelasan prangko 100 tahun Cut Nyak Dhien oleh PT. Pos Indonesia

Artikel lain tentang Aceh:

  1. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  2. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  3. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  4. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  5. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  6. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  7. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  8. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  9. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  10. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  11. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  12. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  13. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  14. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  17. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  37. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH LIMA

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH LIMA

“…Orang-orang Aceh dalam kehidupan sehari-hari tidak berbeda dengan orang-orang biasa. Mereka tidak meninggikan diri, atau sengaja memperlihatkan lagak, bahwa mereka orang-orang berani. Mereka tetap rendah hati, tidak takabur seperti pahlawan-pahlawan tiruan di Sumatera Timur. Tetapi bila saatnya berkelahi, maka mereka dalam sekejap mata menjadi harimau galak yang menerkam mangsanya. Dalam detik-detik pertempuranlah keluar keperwiraan Aceh yang sejati…”

Pejuang Aceh bila saatnya bertempur, maka mereka dalam sekejap mata menjadi harimau galak yang menerkam mangsanya. Dalam detik-detik pertempuranlah keluar keperwiraan Aceh yang sejati

“…Bahwa orang-orang Aceh tidak lekas gembira menyambut sesuatu, atau lekas ramah menerima orang lain, seakan-akan tawar hatinya. Malahan kata-kata yang agak lucu, yang membuat orang-orang di daerah lainnya terbahak-bahak. Sedikit orang Aceh yang tertawa. Mungkin juga mereka kurang mengerti bahasa Indonesia, dan mungkin mereka pula kurang mengerti senda gurau daerah lain. Saya disini merasa, bahwa saya memasuki alam pikiran Aceh, yang berbeda dengan daerah-daerah lain. Tetapi, bila perhatian mereka sudah bangun, dan timbul kepercayaan kepada kejujuran orang yang datang, maka salju yang membungkus keramahan mereka pun lumar berangsur-angsur, dan mulai hangat penerimaannya. Dan bila kepercayaan timbul, mereka mulai mengakui kita sebagai penganjurnya, dan selanjutnya akan dipatuhinya…”

Muhammad Radjab dalam “Tjatatan di Sumatera” tahun 1947.

Mulai 14 Juni 1947 Kementerian Penerangan Pemerintah Republik Indonesia di Jogjakarta mengirimkan serombongan wartawan ke Sumatera untuk meninjau keadaan dan perkembangan disana mulai dari Kutaraja (Banda Aceh sekarang) sampai ke Teluk Betung semenjak Republik Indonesia berdiri. Catatan ini diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1958.

XXX

Aceh Besar, Pertengahan Mei 1873.

Angin laut sepoi-sepoi membelai, malam itu di ngalau Beraden memang indah. Langit bersih, dihiasi bintang-bintang. Sebulan yang lalu, pasukan Belanda telah dipukul mundur dari ibu kota. Aku menyesalkan ketika mereka mundur tidak ada gangguan dari pasukan Aceh, seharusnya disitulah mereka harus ditumpas. Pasukan musuh yang mundur itu membawa pulang pengetahuan tentang Aceh, itu sangat berbahaya jika serangan itu datang.

Mungkin orang Aceh berkeyakinan bahwa Belanda yang pontang-panting itu telah mendapatkan pengalaman pahit, dan pastilah tidak berani menginjak tanah Aceh lagi. Itu salah, dalam penaklukkan Nusantara mereka pernah kalah, dan mereka akan kembali, selalu.

Umar termasuk yang percaya Belanda tidak akan datang lagi, dia mengajak aku ke Lampadang, VI Mukim. Beberapa bulan di ibu kota, belanja si Umar habis. Dia perlu menghadap pamannya Tuanku Nanta Seutia meminta belanja. Dia segan dengan pamannya, dan mengajak aku ikut serta.

“Durjana kau tahu artinya?”

“Itu pendusta,” aku tersenyum.

“Kadang-kadang ambo pikir sebenarnya seorang pendusta. Masa lalumu sebagai bajak laut sebenarnya tidak ada. Tidak pernah ada bukti, bahkan ambo lihat kau kesulitan dalam setiap pertempuran.”

“Masa lalu itu sebenarnya tidak ada.”

“Sudah ambo duga.”

“Juga masa depan, yang ada hanyalah masa sekarang.”

Umar terdiam.

“Untuk apa mengetahui masa lalu beta? Adakah yang penting Umar? Mengungkit-ungkit masa lalu adalah perbuatan seorang kekasih, kita adalah dua orang sahabat yang tak bertaut di masa lalu, jadi tak perlu membicarakannya terlalu.”

“Iya memang tidak perlu.” Ia tertawa.

XXX

Setelah menempuh jalan kecil, kami mencari jalan masuk ke kampung yang berpagar duri. Masa-masa itu perjalanan di Aceh melalui laut sehingga jalan-jalan darat begitu simpang siur diperbuat, jika orang tak tahu jalan maka terpaksalah berkeliling sampai terpasah kesesuatu tempat yang jauh dari kampung. Segala sesuatunya diperbuat untuk melindungi kampung dari penyerbuan musuh ke dalam kampung, atau kedatangan orang asing yang mungkin datang dengan maksud jahat.

Perangko serial pahlawan Republik Indonesia; Teuku Umar keluaran 1961-1962

Umar tahu jalan, Uleebalang Lampadang adalah pamannya dari pihak ibu, Tuanku Nanta Setia. Pintu masuk telah didapatkan, sampailah kami ke pintu gerbang yang dijaga beberapa pengawal bersenjata, mereka meminta kami menyerahkan senjata. Lalu mereka tersenyum simpul, “silahkan masuk! Dengan kelewang ini kami akan menjaga tuan.” Begitulah adat Aceh dahulu, sebelum Belanda datang dengan usaha membawa peradaban orang-orang Aceh yang dianggap biadab, dengan paksaan senjata, dan mengajarkan memberi salam dan jabat tangan.

Tuanku Nanta Seutia sedang tidak ada di rumah, sedang ada urusan di ibukota. Menantunya Ibrahim Lamnga sedang berkunjung, melihat ada tamu. Umar mengajak aku duduk di bale1) terlebih dahulu. Dari kejauhan kami melihat Ibrahim sedang bercakap serius dengan temannya.

Lelaki itu bertubuh kecil, tersenyum jahil. Berbeda dengan Ibrahim Lamnga yang tenang dan berwibawa, teman sekampungnya itu grasa-grusu. Tapi Umar memandang lelaki itu dengan rasa suka, sebagaimana ketertarikan alamiah antara dua bayi yang baru bertemu. Mimik, gerak mereka seolah kembar.

“Kau tahu siapa dia?”

“Dia adalah Nyak Makam, murid kesayangan Tuanku Hasyim, wali Negara Aceh di Sumatera Timur yang berpangkalan di Pulau Kampai. Dia adalah bajak laut sejati, tidak sepertimu.”

Aku tertawa.

“Aku dengar Nyak Makam adalah keturunan bangsawan yang menguasai Ie Meulee di Sabang. Jelas dia tidak sama seperti beta.”

“Ambo penasaran, ada apa dia datang ke Mukim VI.”

“Mungkin mengunjungi sahabatnya, Ibrahim. Bukankah mereka sama-sama berasal dari Lamnga.”

“Suami kakak sepupu memang berasal dari Lamnga. Tapi, bukankah Nyak Makam seharusnya berada di posnya di Sumatera Timur.”

Tak lama kemudian, kami dipanggil naik ke rumah tinggi.

“Dengan siapa kau datang Umar?” Tanya Ibrahim.

“Perkenalkan ini Ahmad, si durjana itu.” Jawab Umar sekenanya.

Nyak Makam terlihat antusias, ia mengulurkan tangan kepada kami berdua.

“Si bajak laut pensiun ya.” Katanya terkekeh kepadaku.

“kebetulan aku harus menghukum raja Idi, mereka telah berkhianat dengan bersekutu dengan Belanda. Ayo ikut dengan aku ke Timur.” Ajaknya.

Kenegerian Idi secara resmi adalah wilayah Aceh yang pertama “berkhianat” hal ini ditandai dengan penaikan bendera Belanda di benteng Idi pada 7 Mei 1873.

“Apa!” Umar emosi, orang-orang di Aceh bagian Timur memang pengecut, padahal Belanda baru kita halau dari ibukota, belum apa-apa mereka sudah berkhianat!” Umar dilahirkan di Barat, dia tidak menyukai orang-orang Timur. Dalam perang bantuan mereka sangat sedikit, apalagi negera-negara bawahan Aceh seperti Deli, Asahan, Langkat, ia menganggap mereka banci semua. “Seharusnya kemaluan mereka diberikan kepada anjing!”

Nyak Makam tertawa terbahak, “kita semua punya kecenderungan membenci apa yang tidak kita kenali. Mereka tidak seperti itu semuanya, hanya raja-rajanya saja. Aku pikir kau juga berseteru dengan Raja Teunom. Bukankah sama saja di Timur dan Barat?”

“Oh, si Imuem Muda. Dia itu adalah kualitas orang Barat yang paling buruk. Makannya banyak sekali, coba kalian pikir! Semua rakyatnya kurus, sedang dia gemuk sendiri. Badannya jika tidak seperti kerbau, mungkin seperti babi.” Umar tertawa terbahak.

“Aku pikir kita disini berkumpul bukan untuk saling menghujat.” Potong Ibrahim Lamnga. Umar menunduk ditegur suami kakak sepupunya, sedang Nyak Makam masih tersenyum usil. Ibrahim lamnga tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.

“Bagaimana durjana? Ikut aku ke Timur?” Ajak Nyak Makam.

“Jangan, kau ikut aku saja mempertahankan ibu kota. Desas-desusnya Belanda sudah menyiapkan pasukan untuk menyerang kedua. Kali ini mereka mungkin tidak mendarat di Ulee Lheu, gerbang Selat Malaka adalah Lamnga, kemungkinan kampung kita Nyak Makam, akan menjadi medan pertempuran berikutnya.” Kata Ibrahim Lamnga.

“Tapi dia itu teman ambo, dia harus ke Seunagan mempersiapkan pasukan laut Meulaboh. Tenang kanda, kali berikut Meulaboh akan membantu dengan armada laut.” Kata Umar.

Aku hanya diam, pilihan yang sulit, dua-duanya baik.

“Umar dan Nyak Makam kalian seperti anak-anak saja, biarkan si Durjana ikut Cut Bang.” Tiba-tiba Cut Nyak Dhien muncul dari balik daun pintu.

“Terserah Cut Kak saja.” Kata Umar, dia tahu kakaknya mencemaskan sang suami. “Tapi dia harus menemani ambo belanja terlebih dahulu.” Seraya mengulurkan tangan meminta belanja.

Cut Nyak Dhien mendelikkan mata, “harusnya aku menyurati etek dan mengadukan kelakuanmu yang boros!”

Umar tersenyum jahil, ia melirik Nyak Makam yang tersenyum juga kepadanya. Aku melihat Ibrahim Lamnga membuka kupiah dan menggaruk kepala.

XXX

“Beta pikir mereka sangat serasi.”

“Siapa?” Tanya Umar melambung-lambungkan pundi uang yang baru dia dapatkan.

“Ibrahim Lamnga dan Cut Nyak Dhien.”

Tak heran, karena antara mereka terdapat kesamaan paham. Keduanya bersifat tangkas dan berani. Mereka cinta kepada bangsa dan tanah air, istimewa kepada agama. Pendapat mereka tentang Belanda yang menganggu kehidupan Aceh, mengancam kemerdekaan dan agama adalah sama. Kebencian mereka kepada Belanda, telah menjadi dendam yang sedalam-dalamnya telah membentuk mereka menjadi sehidup semati. Kedua-duanya yakin bahwa pertemuan mereka menjadi suami istri adalah suatu takdir Tuhan supaya bersama-sama, bahu membahu, siap memerangi kaphe.

“Tidak, aku pikir mereka sebagai pasangan sangat sempurna. Tapi sebagaimana pengalaman hidupku, kesempurnaan itu tidak baik. Tidak ada lagi yang dapat dicapai, hanya menunggu kehancuran.”

Aku menatap anak muda itu dengan wajah keheranan, “pengalaman hidup apa? Kau masih Sembilan belas tahun Umar.”

“Dasar kau pak tua! Bukankah kemarin kau bilang masa lalu itu tak ada.”

Cukup pandai anak Meulaboh ini membalik-balik kata.

“Umar, untuk satu hal beta akui kau. Untuk tipu daya dan silat lidah, anak Meulaboh tiada lawan.”

Ia tertawa dan mengatakan, “masak iya.”

“Iya nomor satu di Aceh! Bukan, nomor satu di Nusantara. Bahkan Belanda pun bisa kau tipu kalau mau.”

“Tapi kalau masalah menilai orang, berbicara bual dan mengarang cerita, ambo pikir kalian orang Aceh Besar tiada banding diseluruh dunia. Apalagi kau! Nurrudin ar-Raniry2) saja kalah!” Balas Umar.

Kami tertawa, masa-masa itu sangat indah. Kesultanan Aceh Darussalam masih merdeka.

XXX

Kemampuan membunuh, itulah yang ditakuti oleh musuh. Tidak mudah membunuh lawan meskipun dalam peperangan, walaupun saat nyawa diujung tanduk kita semua wajib mempertahankan diri. Apalagi kemampuan membunuh di waktu perang tiada, hanya dimiliki oleh orang-orang gila, tidak semua lawan Belanda di Nusantara memilikinya. Aceh adalah sekumpulan orang-orang gila, dan itulah yang ditakuti Belanda.

|Bersambung|

Index:

  1. Bale = Pondok kecil di depan atau belakang rumah, lazim ada pada rumah Aceh masa lalu;
  2. Syech Nurrudin ar-Raniry = Ulama sekaligus pujangga, terkenal dengan kitab “Bustanussalatin” Taman Para Raja. Namanya kelak diabadikan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry di Banda Aceh;

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH EMPAT

Pertempuran di Gunung Aceh (Pertempuran Glee Tarom) siaran Propaganda Belanda berjudul Atchin Driemaal Begraven

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH EMPAT

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, setiap orang juga pasti memiliki penyesalan, sekurang-kurangnya satu. Begitu pula aku memiliki satu, yang bila aku mengingat-ingat maka jatuh air mataku, mengenang kegagalanku sebagai seorang prajurit. Hari dimana dimana aku kehilangan orang yang sangat kuhormati, Sang Singa Aceh, Ibrahim Lamnga wafat pada 29 Juni 1878.

Glee Tarom, akhir Juni 1878.

“Adinda, aku tak bisa tidur sekarang. Tadi aku memimpikan terbang diatas buraq1). Apakah itu pertanda buruk?” Tanya Panglima Ibrahim.

Aku duduk diatas urat kayu, tertawa. “Gunung ini adalah tempat burung cempala kuneng2) berkumpul, mungkin Tuanku hanya terbawa suasana. Belanda tidak memahami kita, cara hidup kita, senda gurau kita, mereka tak mungkin tahu tipu daya kita.”

Lukisan Buraq milik kerajaan Aceh, dari gambar terlihat pengaruh Persia yang kuat. Sumber dokumen Belanda berjudul : Atjeh Gajo en Alaslanden

“Perasaanku was-was adinda, bukankah juga Habib seharusnya sudah datang. Kemana dia? Apakah dia berbalik kepada Belanda?”

Habib Abdurrahman Az-Zahir, pernah diangkat menjadi wali Sultan dan mantan duta besar Aceh untuk Utsmani. Baru-baru ini gagal mempertahankan benteng Krueng Raba, dia dengan mudah melepaskan posisi yang pernah direbut dengan berdarah-darah oleh pejuang muslimin. Seorang ulama keturunan Rasulullah, lelaki Malabar3) bercelak yang bergaya kearab-araban, terus terang aku tak suka dia, tapi, “mungkin dia terhambat, bukankah kita menjulukinya si Habib terlambat!” Kami tertawa, tak lama kemudian kami tidur nyenyak.

Malam itu aku salah membaca suasana, ternyata Jenderal van der Heyden telah bergerak secara kilat. Selagi kami tidur, pegunungan telah dikepung KNIL, kemudian meletuslah senapan pertama dan disusul meriam Belanda, kami kocar-kacir. Segala penjuru dihujani mortir dan meriam bersimpang siur di udara.

Kami berjumlah seratus orang, teman-teman seperjuangan telah berkalang satu persatu menjadi mayat-mayat, paya-paya telah bersimbah darah. Seraya mencari musuh yang tak ketahui disekeliling, mencari-cari dan berserulah aku kepada Tuanku Ibrahim Lamnga. “Larilah Tuanku! Berlindunglah, jika Tuan lalai kita akan binasa! Beta akan melindungi Tuan membuka jalan ke Timur, kembalikah ke Montasik segera!”

Tapi Tuanku Ibrahim Lamnga sudah pasrah, syahid di depan mata. “Tak mungkin lagi bagiku untuk pergi Ahmad! Tampak jelas bagiku arti mimpi tadi, sekarang telah menjadi kenyataan. Kita terkepung! Dengan kain sarung ini aku akan menemui Allah S.W.T.”

Selagi Tuanku Ibrahim Lamnga berkata, senapan serdadu Belanda menembus kepala saudaranya yang lebih tua, Teuku Ajat. Ia memeluk, kemudian berteriak, “Allahu Akbar!” Seketika kepalanya ditembak, dengan gerakan lambat aku melihat kepala yang agung itu pecah. Tak ada waktu bersedih, wakil panglima Nyak Man rubuh diterjang peluru. Semua seolah tidak nyata, para orang-orang hebat yang ku hormati itu rubuh satu demi satu, sungguh nasib buruk aku menjadi orang yang menyaksikan petaka ini, seandainya aku mati lebih dulu, mungkin lebih baik itu bagiku.

Aku menyaksikan berhamburan serdadu Belanda datang mendekat, aku terus menembaki mereka dengan sisa peluru yang kumiliki, jika aku harus mati hari ini maka matilah! Tapi kematianku harus dihargai mahal, harus lebih banyak serdadu kafir mati ditanganku. Dengan pergerakan mundur, aku terus menembak.

Dari sudut-sudut pepepohonan aku menyaksikan mereka bermaksud membawa ketiga jenazah pahlawan Aceh itu, tak akan kubiarkan! Peluru-peluru Belanda terus berdesing kearahku, sungguh keajaiban sampai saat ini aku masih hidup.

Mereka sudah berhasil mendekati ketiga jenazah itu, ketika tiba-tiba petir menggelegar, hujan turun deras sederasnya. Amukan hujan, ditambah sisa-sisa perlawanan yang masih ada membuat mereka mundur. Halilintar masih melantak, Aku bersandar di pohon menangis sejadi-jadinya, ini semua salahku! Tuhan mengapa bukan aku saja yang kau ambil? Mengapa harus Tuanku. Aku berteriak sekuatnya dalam angin kencang itu.

Ketika Subuh datang hujan telah rintik-rintik, aku mendekati mayat para pahlawan itu. Aku memeluk, memangku lalu mengalangkan kepala syahid itu satu persatu, tiba-tiba lenganku ditepuk. Lima orang prajurit hidup masih berdiri dengan luka-luka. Dari seratus orang pasukan tinggal kami berenam, sungguh kekalahan yang sangat telak!

“Wahai teman-teman yang masih hidup, berdukalah kita, ia telah syahid. Ibrahim Lamnga!” Mereka terdiam, lalu memandangku dengan tatapan nanar dan kosong.

“Tak ada waktu menguburkan mereka yang syahid semua, Belanda pasti akan kembali segera, dan kita tak ada tenaga membawa semua saudara kita. Melalui gunung Mundam, kita bawa jenazah Tuanku Ibrahim Lamnga ke Montasik.”

Kami bermufakat mengangkat jenazah Tuanku Ibrahim Lamnga kepegunungan, disana kami membuat tandu. Perjalanan menuju Montasik itu, tiga hari tiga malam lamanya. Maha suci Allah S.W.T yang tidak membiarkan kafir menodai jenazah pahlawan Sabil.

29 Juni 1878, Ibrahim Lamnga telah gugur.

XXX

Montasik, tiga hari kemudian.

Menyambut usungan itu, seisi kampung berhamburan. Tak lama kemudian nampaklah Cut Nyak Dien, matanya nanar karena menangis menanti kabar. Aku mengangguk dan menunjuk usungan, “beliau telah syahid!”

Ia menatap aku dengan tajam, aku menunduk. Plaaak, ia menampar aku. “Bukankah sudah kukatakan kau jaga dia! Berani-beraninya kau pulang dalam keadaan hidup sedang kekasihku dalam keranda!” Terima kasih Cut Nyak, tamparanmu sedikit mengobati hatiku, sungguh aku tak layak menjadi orang kepercayaanmu menjaga suamimu.

Maka datanglah ayah Cut Nyak Dhien, “Sabarkanlah hatimu anakku! Teguhkan iman! Ia telah syahid memenuhi panggilan tugas!” Ia mengenggam tangan, menanggung rasa pedih.

Cut Nyak Dhien adalah seorang pejuang yang keras hati, tapi dia juga adalah seorang istri, seorang kekasih yang hari ini menyaksikan orang yang paling dicintai olehnya, Ibrahim Lamnga menjadi gugur. Dunianya runtuh, tangisnya makin menjadi-jadi, lalu ia bersimpuh ditanah. Dipangku kepala suaminya, ia ciumi dengan penuh kasih sayang.

Cut Nyak Dhien menciumi dengan kasih sayang kepala suaminya, Ibrahim Lamnga telah wafat. 29 Juni 1878. Illustrasi gambar oleh Tengkuputeh

Dengan sedu sedan ia berkata, “setelah dia tiada, setelah suamiku pulang ke rahmatullah, tunjukkan kepadaku ayah! Kemanakah aku menyanggakan diri? Kemanakah aku akan bergantung? Dan jika aku terpaksa memilih suami lagi, diantara sekian orang laki-laki Aceh, tak akan ada yang akan pernah kucintai sebagaimana aku mencintainya! Dia adalah cintaku yang pertama dan terakhir, dan jika aku akan dapat memilih diantara seratus orang lelaki, yang layak menjadi suamiku, tapi ia tak akan dapat diganti! Tidak mungkin! Hanya kepada bang Ibrahim yang ini cintaku akan melekat, suamiku oh kekasihku!” Kami semua terdiam, kebencian kepada Belanda di kampung menyala-nyala hari itu.

Maka bermufakatlah sekalian petinggi negeri dan keluarlah keputusan, “segera kita makamkan jenazah Tuanku Ibrahim Lamnga!” Maka berhimpunlah seluruh kampung, menyertai pemakaman pahlawan itu. Tidak ada seorangpun yang tinggal dirumah. Makam Ibrahim Lamnga di dekat Masjid Montasik, dianggap suci, demikianlah pendapat masyarakat saat itu.

Keesokan harinya, aku dipanggil oleh Cut Nyak Dhien. Ia mengeluarkan dua pucuk surat, “Satu surat kepada Umar, dan satu surat untuk Nyak Makam, sampaikan!” Perintahnya.

Dengan takzim aku menerimanya.

“Durjana, kau telah mengecewakan aku!” Dia menatapku entah dengan kebencian atau kesedihan, aku tak paham, aku pasrah. “Beta tak layak memohon maaf, dan beta akan terus menyesali kejadian malam itu sepanjang hidup.”

“Pergilah! Aku tak mau melihat mukamu dalam masa berkabung. Jangan sampai kebencianku pada kafir Belanda berpindah padamu!”

Aku beranjak pergi dengan cepat, Umar di Barat dan Nyak Makam di Timur. Darimana aku harus mulai?

|Bersambung|

XXX

Sakit sungguh sakit hatiku patah

Tertindih karena cinta

Sedih sungguh sedih harapan sirna

Aku hancur hati kecewa

Kemanakah akan kucari obat luka

Segala harapan telah karam

Kupikir kita bisa bersama

Sayang segala harapan tak sampai

(Syair yang dinyanyikan oleh Cut Nyak Dhien untuk mengenang suami pertamanya Ibrahim Lamnga, ditulis kembali sebagaimana didengar langsung oleh Sang Durjana)

Index Catatan Kaki:

  1. Buraq = Sebuah burung mistis berkepala manusia, dipercayai ditunggangi oleh Rasullullah S.A.W dalam perjalanan Isra’ Mi’raj;
  2. Cempala Kuneng = Burung Kucica Ekor Kuning (Trichixos Pyrropygus); Bagi orang-orang Aceh pada masa lampau sebagai tamsil kecerdikan, kelihaian dan kebaikan;
  3. Malabar = Sebuah kepulauan wilayah India sekarang;

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

UMAT ISLAM TAK LAGI MEMILIKI PERIMBANGAN ANTARA ILMU DAN IMAN

Ilmuwan Islam Mempelajari Ilmu Bumi

UMAT ISLAM TAK LAGI MEMILIKI PERIMBANGAN ANTARA ILMU DAN IMAN

Islam pernah menjadi barometer dunia, kejayaannya dalam berbagai cabang kebudayaan. Tapi keadaan itu kini telah surut, dan perlu digali kembali. Ilmu dan iman seolah bertolak belakang, benarkah?

Bagaimana mencari kemajuan seperti pernah diperoleh Islam di masa lalu, baik di Barat dan Timur?

Keindahan Alhambra karya arsitek muslim masa lalu.

Kebudayaan meliputi ilmu pengetahuan, kesenian dan teknologi. Sebagai upaya manusia bagi kesejahteraan di dunia. Sekitar 500 tahun lamanya, Islam mengalami kegemilangannya di Barat, antara 700-1500 Masehi. Bekas-bekasnya masih bisa kita lihat, Istana Granada masih berdiri megah sampai sekarang. Tempat peneropongan bintang di Samarkhand, Tashkent, Damaskus, Baghdad, Cordoba dan Sevilla. Buktinya masih sekarang ada. Karya-karya sarjana muslim masa itu jumlahnya tidak kurang dari 6 juta kitab. Sayangnya, karya-karya cemerlang tersebut sebanyak itu sebagian besar musnah ketika Perang Salib, dibakar. Sisa-sisanya yang masih dijumpai hanya sebanyak 30.000. Hal ini sungguh disayangkan, bukan hanya para sarjana muslim tapi juga sarjana Barat. Pada masa kegemilangan Islam sepanjang 5 abad itu, Barat sendiri justru tenggelam dalam abad kegelapan.

Ilmuwan Islam sedang mempelajari geometri

Islam telah mendorong lahirnya kebudayaan, terutama ilmu pengetahuan. Islam memberikan jalan keluar, memberikan kesempatan pada manusia meneliti, orang Islam yang memulai dan mengembangkan angka 1,2,3 dan seterusnya. Angka nol sendiri diperkenalkan oleh orang-orang India, kemudian diambil dan digabungkan menjadi susunan yang kita kenal sekarang dan dipakai oleh seluruh dunia.

Dibidang lain, Islam mengembangkan dan memperkenalkan ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi, fisika, kedokteran, pertanian dan lain-lain. Misalnya alat kompas ditemukan orang Islam sehingga berani mengarungi samudera. Orang-orang Barat sendiri mengakui penemuan dan kehebatan orang-orang Islam masa itu.

Apa sebab orang-orang Islam bisa mencapai kesuksesan yang demikian? Apa yang mendorongnya?

Pada masa itu orang-orang Islam memiliki perimbangan yang mantap antara ilmu dan iman. Itulah yang dilupakan oleh orang-orang Islam saat ini, secara perlahan sejak tahun 1500 umat islam pudar. Kekurangan kita (umat islam) saat ini adalah kurang menyambut secara positif terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan. Sebenarnya Al-Quran menjelaskan bahwa begitu banyak masalah ilmu pengetahuan untuk dikembangkan. Disisi lain, para ulama kita belum banyak berbicara/menjelaskan tentang Islam dalam aspek ilmu dan teknologi, dampaknya umat Islam tetap terbelakang, sementara orang-orang Barat sudah bisa mencapai bulan. Inilah kekurangan umat Islam saat ini, sebaliknya telah memajukan kebudayaan Barat sekarang.

Walaupun Barat telah mencapai kemajuan mereka tetap gelisah karena tidak memiliki pegangan untuk memberikan perimbangan. Berbeda dengan Islam pada masa jayanya, telah mempunyai perimbangan ilmu pengetahuan yang dicapai dengan iman dan Islam yang dianutnya. Islam telah mengatur perimbangan ini. Orang-orang Eropa, saat ini tidak lagi mempercayai agamanya. Pernah mereka berpaling kepada komunisme, dan banyak yang atheis atau agnostic. Mereka mungkin maju secara teknologi tapi agama nihil.

Usaha apa yang bisa kita lakukan mengembalikan kebesaran umat Islam pada masa lalu?

Salah satunya adalah sistem pendidikan, harus memiliki perimbangan. Tidak hanya membahas teknologi saja, atau iman semata. Harus memiliki perimbangan antara dunia dan akhirat. Unsur-unsur seperti itulah yang perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan Islam kita. Baik ilmu dan iman sama-sama penting. Ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan dalil-dalil ilmu pengetahuan marilah kita kaji bersama. Sehingga kita menemukan misalnya disebutkan anjing dan babi najis dan diharamkan dan sebagainya.

Kita umat Islam perlu mempelajari bahasa Arab secara sungguh-sungguh sebagai sumber ajaran Islam. Disamping mempelajari bahasa Latin sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan di masa lalu, dan bahasa-bahasa asing lainnya, contohnya bahasa Inggris sebagai bahasa ilmiah saat ini.

Beberapa opini terdahulu:

  1. Lughat; 28 November 2008;
  2. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  3. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  4. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  5. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  6. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  7. Makna Puisi Yang Hilang; 5 Januari 2011
  8. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  9. Orang Sakit Dari Timur; 26 Mei 2013;
  10. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  11. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  12. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  13. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  14. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  15. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU

MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU

MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; oleh Tengku Hasan Muhammad Tiro; Cetakan ketiga; 1984.

Free download e-book MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU

MASA DEPAN POLITIK MELAYU OLEH TENGKU HASAN MUHAMMAD TIRO

XXX

Hasan Tiro in the 70’s decade

Buku MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU sudah dikeluarkan pertama kali pada tahun 1965, dalam bahasa Inggris, dalam bahasa mana buku ini pertama kali ditulis oleh pengarangnya dengan nama THE POLITICAL FUTURE OF THE MALAY ARCHIPELAGO. Buku ini telah banyak mendapat perhatian dunia dan isinya telah mendjadi pedoman bagi banyak negara-negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa dalam menentukan sikap mereka terhadap Asia Tenggara dimana Dunia Melayu merupakan bagiannya yang terbesar. Walaupun buku ini sudah ditulis puluhan silam isinya masih tetap hangat dan mengandung ramalan-ramalan politik yang sudah kejadian dan karena itu telah merupakan satu karangan klasik yang membuka tabir pertarungan dan perjuangan politik yang sesungguhnya di Dunia Melayu. Isinya sudah masuk dalam Verbatim Records dari perdebatan antara negara dalam sidang-sidang Komite Keempat (Decolonization Commission) dari Perserikatan Bangsa.

XXX

Rumah Gubernur Jenderal Belanda Aceh di Koetaradja (Sekarang Pendopo Gubernur Aceh) kondisi tahun 1890.

Pada tahun 1933, ‘kedamaian dan ketertiban’ di Aceh telah terganggu untuk waktu yang singkat lagi, sehingga bertahun-tahun kemudian, orang-orang berpatroli ‘dengan klewang dan karabin’ secara intensif. Lebih lanjut, tahun 30-an bukanlah saat yang buruk bagi Aceh, meskipun ada depresi ekonomi global. Justru untuk memperdalam ‘pengamanan’ wilayah tersebut, pemerintah kolonial mendorong pembentukan perusahaan-perusahaan Barat di Aceh. Dengan demikian kawasan ini membentuk pucuk utara dari areal perkebunan pantai timur Sumatra. Minyak juga dibor. Namun, sebagian besar pertumbuhan ekonomi berasal dari tanaman komersial petani kecil, seperti lada, karet dan kopra. Inspektur, yang sekarang tur dengan mobil, tampaknya tidak lagi menemukan bantuan militer yang diperlukan. (P. Boomgaard, 2001). Seorang inspektur Eropa dengan mobilnya dalam tur di Aceh. Inspektur dalam tur, Aceh, Sumatra Utara, sekitar tahun 1935

Sebuah rakit melintasi sungai Teunom di Aceh 1935.

Masa lalu tak hanya berisi kemegahan, masa silam juga sarat kepedihan. Bukan cuma tentang perjuangan yang membebaskan tapi juga berbagai konflik yang mengerikan. Segala yang agung dan kelam dari masa lalu, jangan membuat kita tak mempunyai pandangan atas waktu. Bahwa zaman tak hanya silam dan sekarang, melainan masa yang akan segera datang. Kita perlu mengingat masa lalu dan menandai para pelaku agar masa depan tak ditawan orang-orang dulu. Kita dan generasi berikutnya bukan tawanan sejarah, tak ada gunanya mengelap-lap rezim yang sudah punah. Tentunya sejarah tetaplah penting untuk dipelajari, terutama agar tak terjerembab lagi ke dalam tragedi. Kita bisa memaafkan segala macam kejadian, tanpa melupakan, apalagi tanpa keadilan. Itulah cara adil menyikapi segala yang telah terjadi. Sambil memikirkan segala hal baru yang mesti dimulai.

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  57. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  58. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  59. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Download, E-Book, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments