SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO)

Cut Meuligou atau Nyak Mahligai dari Rigaih Salah satu istri Teuku Umar yang ditangkap, dalam penahanan kolonial Belanda di sisi timur Pulau Raya pada tahun 1894, di pantai barat Aceh; Sumber KITLV.

Cut Meuligou atau Nyak Mahligai dari Rigaih Salah satu istri Teuku Umar yang ditangkap, dalam penahanan kolonial Belanda di sisi timur Pulau Raya pada tahun 1894, di pantai barat Aceh; Sumber KITLV.

SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO)

Penduduk asli negeri Daya

Dahulu kala di hulu Krueng Daya (Sungai Daya) ada sebuah dusun bernama Lhan Na sekarang disebut Lamno, ketika dusun itu dihuni orang-orang liar belum beragama. Mereka diduga berasal dari bangsa Lanun, orang Aceh menyebut “lhan”, atau bangsa Samang yang datang dari Semenanjung Malaka atau Hindia Belakang, Burma dan Champa, diduga memiliki hubungan dengan bangsa Mongolia yang datang dari kaki bukit Himalaya.

Penduduk penghuni di hulu sungai Daya itu bercampur dengan orang-orang baru yang datang, karena percampuran peradaban mereka bertambah maju. Sejak kedatangan orang-orang Aceh Besar (Lamuri) dan Pasai orang-orang di pesisir negeri Daya berangsur-angsur masuk agama Islam.

Asal nama Negeri Daya

Pada pertengahan abad ke-15 Masehi terjadi perang antara Raja Pidie melawan Raja Pasai, terjadi pemberontakan oleh Raja Nagor bekas pahlawan Pasai yang dihukum. Dalam pertempuran itu Raja Pasai kalah, Sultan Haidar Bahiyan Syah tewas, singgasana Pasai dirampas oleh Raja Nagor Pidie pada tahun 1417. Sejak saat itu Raja Nagor memerintah negeri Pasai, terdapat banyak pertentangan dengan keturunan keluarga Sultan Pasai sehingga banyak yang dibunuh. Beberapa keturunan keluarga Pasai menghindarkan diri pergi mencari dan membuka negeri baru, salah seorang sampai ke Daya. Negeri ini dinamakan berdasarkan kejadian ini, Daya itu bermakna tidak berdaya lagi, telah habis dan cukup banyak usahanya.

Pantai di Daya, dilihat dari Lamno di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 1926; Sumber KITLV.

Pantai di Daya, dilihat dari Lamno di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 1926; Sumber KITLV.

Pantai di Daya, dilihat dari gunung Geurutee di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 2020.

Pantai di Daya, dilihat dari gunung Geurutee di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 2020.

Menurut cerita oral bahwa pada zaman itu (dahulu) ketika turunan Raja Pasai atau orang yang (akan) menjadi raja sampai di Kuala Daya, perahunya kandas. Semua isi perahu dikeluarkan dan semua orang turun untuk menarik perahu namun tetap kandas. Maka pemimpin mereka menyebut sudah cukup usaha tenaga dan daya upaya, tetapi tidak berhasil. Mereka merasa “Tidak Berdaya” dan mereka mendirikan pemukimam di Kuala Daya, kemudian negeri itu dinamakan “Tidak Berdaya”. Lama-lama menyebut nama “Tidak Berdaya” itu dengan “Daya” saja. Menurut cerita lain bahwa Raja Daya pertama adalah keturunan Raja Aceh yang mengasingkan diri kemudian membuka negeri karena berselisih dengan saudaranya.

Asal nama Negeri Lamno

Ketika Raja Daya melakukan ekspedisi ke hulu Sungai Daya untuk memeriksa penduduk negeri dan sampai ke tempat yang sekarang terletak di Peukan Lamno (Pasar Lamno). Disana didapati penghuni kampung yang mirip orang Lanun dari Malaya atau Hindia Belakang. Orang lanun disebut orang Aceh disebut orang Lhan. Orang Lhan masih liar, belum berpakaian kain, pakaiannya dari kulit kayu dan kulit binatang yang tipis. Orang Lhan adalah penduduk yang sudah ada di situ, maka disebut “Lhan Kana” atau “Lhan Na” artinya orang Lhan sudah ada di situ. Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam disebut dengan “Lam Na” dan ketika Belanda datang ucapan berubah menjadi “Lam No” dalam sebutan serdadu-serdadu marsose dari suku Jawa yang menyebut Lanno.

Salah satu negeri kerajaan Daya adalah Negeri Keuluang, pemimpinnya disebut Raja Keuluang terdiri dari empat daerah:

  1. Keuluang;
  2. Lam Beusoe;
  3. Kuala Daya;
  4. Kuala Unga.

Adapun Kuala Lam Beuso asalnya karena dahulu pada suatu waktu ada perahu yang berisi besi muatannya sedang didayung terbenam di kuala, sebab itulah nama Kuala Lam Beuso, kemudian berubah menjadi Lam Beuso saja.

Sejarah Sultan Meureuhom Daya

Menurut pemeriksaan Hussein Djajadiningrat Sultan Meuruhom Daya meninggal tahun 1508 Masehi. Sultan Meureuhom Daya aslinya bernama Uzir anak Sultan Inayat Syah bin Abdullah al-Malikul Mubin yang bersaudara dengan Sultan Muzaffar Syah raja di Aceh Besar, dan bersaudara juga dengan Munawar Syah raja di Pidie. Diyakini bahwa negeri Keuluang Daya didirikan pada akhir abad ke-15 Masehi oleh Meureuhom Daya atau Meureuhom Unga.

Negeri Daya menjadi maju dibawah pemerintahan Sultan Meureuhom Daya bertambah maju dengan pertanian merica atau lada, banyak didatangi oleh para saudagar Arab, Tiongkok dan Pegu. Pada abad ke-16 Masehi datanglah orang Belanda, Inggris, Perancis dan lain.

Asal Keturunan Portugis atau Dara Portugis di Lamno

Menurut sahibul hikayat ketika armada Portugis dibawah pimpinan Alfonso Alberqueque hendak menaklukkan kota Malaka tahun 1511 Masehi, Raja Portugis mengirimkan pasukan bantuan tapi pasukan tersebut tidak pernah sampai karena terdampat di pesisir Barat Aceh tepatnya kota Lamno, Aceh dan kehilangan kontak dengan pasukan induknya di Goa (India) pusat koloni Portugis di Timur Jauh maupun dengan pasukan Portugis di Malaka, Mereka segera ditawan oleh Sultan Meureuhom Daya untuk mengembangkan armada. Riwayat menerangkan di hulu Kuala Lam Beusoe dahulu banyak ahli teknik membuat kapal-kapal besar seperti Top, Sekuna, Jong, dan Ghali (kapal perang model kapal perang Spanyol/Portugis), pembuatan meriam dan mesiu untuk keperluan perang dan pengkutan bahan-bahan perang.

Dara Portugis yang melegenda kecantikannya.

Daerah Daya ini paling banyak tinggal peranakan dari bangsa Portugis di Aceh sampai sekarang. Perawakan mereka kulitnya putih (jagat), badannya tegap dan matanya biru seperti kebanyakan bangsa Eropa. Masyarakat Aceh menyebut mereka suku mata biru, setelah tsunami Aceh tahun 2004 jumlah mereka menjadi semakin sedikit. Para perempuan dari keturunan Portugis disebut dengan julukan kondang “Dara Portugis” bahkan banyak para pemuda dari Aceh maupun luar Aceh mencari jodoh ke pesisir Barat, siapa tahu dapat mempersunting “Dara Portugis” tersebut.

Legenda Harimau Daya atau Rimueng Daya

Ada sebuah dongeng lama, kisah ini diwarisi dari waktu pra-Islam menceritakan, di bagian Kerajaan Daya (Kabupaten Aceh Jaya sekarang) ada sebuah wilayah bernama Lhok Kruet. Di wilayah ini ada orang kampung biasa yang malam harinya menjadi harimau. Atau disebut dengan julukan Rimueng Daya (Harimau Daya)

Menurut legenda orang-orang yang mampu berubah ini tidak memiliki filtrum atau bahasa latinnya philtrum, atau oreng. Yaitu lekukan vertikal di bagian tengah bibir atas. Pada umumnya setiap mamalia memilikinya, yang memanjang dari bawah hidung sampai ke bibir atas.

XXX

Video Ziarah ke Makam Sultan Meureuhom Daya

DAFTAR PUSTAKA

  1. Zainuddin; Tarikh Aceh dan Nusantara; Lembaga Studi Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat; Cetakan kedua; Banda Aceh tahun 2012;
  2. A. Dr. Hussain Djajadiningrat; Atjehsch Nederland Woordenboek; Landsdrukkerij; Batavia; 1934;
  3. Cerita yang didapat dari Teuku Raja Adian bekas Uleebalang (Zelfbestuurder) Kerajaan Daya yang terakhir tahun 1945;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  2. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  3. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  4. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  5. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  6. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  7. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  8. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  9. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  10. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  11. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  12. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  13. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  14. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  15. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  16. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  17. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  18. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  19. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  20. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  21. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  22. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  23. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  24. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  25. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  26. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  27. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  28. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  29. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  30. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  31. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  32. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  33. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  34. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  35. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  36. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  37. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  38. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  39. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  40. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  41. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  42. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  43. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  44. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  45. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  46. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  47. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  48. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  49. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  50. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  51. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  52. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  53. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  54. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  55. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  56. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  57. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  58. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  59. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Komentar

SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE

Peta Negeri Pidie oleh Belanda sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

Peta Negeri Pidie oleh Belanda sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE

Sejarah Purba Negeri Pidie

Kerajaan Pedir atau negeri Pidie pada zaman purba memiliki perbatasan dari Kuala Batee sampai Kuala Ulim meliputi Meureudu. Nama Pidie sendiri tidak diketahui dari mana asalnya. Bangsa Portugis menyebut dengan Pidir (Pedir) kemudian bangsa Cina menyebut negeri ini dengan Poli.

Menurut ahli sejarah, di Sumatera Utara pada zaman purbakala terdapat beberapa kerajaan antara lain:

  1. Kerajaan Aru (Haru) yang luasnya dari Tamiang sampai Rokan;
  2. Kerajaan Peureulak dari Bayeun sampai ke Kuala Idi;
  3. Kerajaan Samudera-Pasai dari Kuala Jambo Aye sampai Kuala Ulim;
  4. Kerajaan Pedir (Pidie) yang kita sebut diatas dari Kuala Ulim sampai Kuala Batee;
  5. Kerajaan Aceh (Lamuri) dari Kuala Batee sampai Kuala Keuluang;
  6. Dan terakhir pada abad ke-15 Masehi berdiri kerajaan Daya.

Kerajaan Poli (Pedir/Pidie) menurut berita Tiongkok

Pada masa dinasti Liang berkuasa di kerajaaan Lamuri pada abad ke-5 tepatnya tahun 413 Masehi, seorang musafir bernama Fa Hin (Fa Hian) melawat ke Jeep Po Ti singgah di Sumatera bagian Utara, diantaranya dia singgah di Poli (Pidie). Disebutkan negeri Poli luasnya 100×200 mil, dengan 50 hari perjalanan dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan 20 hari perjalanan, terdiri dari 136 desa (gampong) yang makmur dan orang pribumi menanam padi dua kali setahun.

Fa Hin menulis dalam laporannya bahwa cara pertanian negeri Poli sama dengan Persia (Iran) dan India di sekitar lembah sungai Indus dan sungai Gangga. Negeri Poli juga memelihara ulat sutera dan kain buatannya ditenun sendiri seperti negeri Syam (Damsyik) atau Suria (orang Aceh menyebutnya dengan Surien). Raja memakai kain sutera, orang-orang peukan (pesisir) telah memakai kain, sedangkan orang udik masih memakai kulit kayu (cawat), pelita atau ketaja pada damar. Mereka telah tahu cara berternak kambing dan dilihatnya nelayan. Raja Poli ketika itu beragama Budha. Raja Poli pada tahun 518 Masehi mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk perkenalan dan hubungan diplomatik dengan Kaisar Cina.

Fa Hin menceritakan negeri Poli adalah sangat makmur, rajanya mengendarai gajah bermahkota emas dan berpakaian kain sutera. Pelabuhan Poli terletak dalam satu teluk yang genting di Kuala Batee.

Pada tahun 671 Masehi seorang Tiongkok lain I Tsing mengunjungi pesisir Aceh antara lain Samudera, Poli, Lamuri dan lain-lain. Dia tinggal 5 bulan lamanya disini. Pada masa kunjungannya I Tsing menceritakan bahwa para anak negeri (penduduk pedalaman) di kerajaan Peureulak, Samudera-Pasai, Poli, Lamuri dan Dagroian masih liar.

Kerajaan Pedir (Pidie) menurut berita Arab/Persia

Pada abad pertama Islam (tahun 82 H atau 717 M) sebuah ekspedisi dikepalai Zahid melakukan pelayaran ke Tiongkok. Kafilah berangkat dari Teluk Ajam-Parsi berkumpul di Kandi (Ceylan/Sri Langka), kemudian membagi armada menuju Canton (Tiongkok), ada pula yang ke Malaya, Kedah, Siam, Champa (Kamboja/Vietnam), Annam (India belakang), Jawa, Brunai, Makassar, Maluku dan lain-lain untuk mencari rempah-rempah. Ada beberapa kapal yang singgah di Aceh sebelum bertolak ke Canton.

Ekspedisi bangsa Arab/Persia kedua terjadi pada tahun 724 Masehi, kapal-kapal itu ke pesisir Aceh untuk membeli emas, perak, kapur barus, kemenyan, cendana. Pada masa itu mereka membawa bibit lada dari Madagaskar untuk dikembangkan di tanah Aceh.

Benteng Pidie terletak di Timur Ibu kota Aceh sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

Benteng Pidie terletak di Timur Ibu kota Aceh sumber situs De Nederlandse Krijgsmacht

Dalam Tarikh Arab lain disebut bahwa pada tahun 322 H / 950 M, orang Arab telah singgah di Rami (Lamuri) yang tak jauh dengan pelabuhan Poli (Pidie), dan sejak itu orang Arab dan Persia semakin ramai mengunjungi Sumatera (Nusantara). Hal itu karena tanah Pidie sangat subur untuk padi, dan merica (lada) paling baik kualitasnya. Lada Pidie bahkan disebut dengan “berat lada Pidie” maksudnya dari semua jenis lada yang diperdagangkan orang Arab, tidak terlawani kualitas jenis lada yang asalnya dari negeri Pidie.

Negeri Pedir (Pidie) berdasarkan Laporan Bangsa Portugis

Dalam riwayar Portugis diterangkan, sebelum mereka datang pada tahun 1509 Masehi. Kerajaan Aceh (Aceh Besar) takluk kepada Raja Pidie, tapi waktu itu mereka dalam keadaan perang. Mula-mula Pidie dikalahkan oleh raja Aceh (Besar) yaitu sultan Salahaddin ibnu Mussafar Syah dan didudukkan Wali Negara (Gubernur) di Pidie Raja Ali dan adiknya Ibrahim.

Raja Ibrahim atas perintah abangnya kemudian menyerbu benteng-benteng Portugis di Kuala Gigieng. Kemudian dari persenjataan yang dirampas ia menyerang raja Aceh Besar pada tahun 1514 Masehi, dan sultan Salahaddin diturunkan dari tahta. Raja Ali naik tahta dengan gelar Sultan Ali Mughayat Syah dan adiknya Raja Ibrahim menjadi laksamana.

Setelah Aceh (Besar) ditaklukkan, Kerajaan Daya pun menyusul, kemudian kerajaan Pasai dibebaskan dari Portugis dan kerajaan Peureulak dan kerajaan Aru pun taklukkan. Setelah itu Sultan Ali Mughayat Syah memproklamirkan Kesultanan Aceh Darussalam sebagai kesatuan dari kerajaan-kerajaan: Daya, Aceh (Besar), Pidie, Pasai, Peureulak, dan Aru. Kerajaan ini beribukota di Kuta Alam (Banda Aceh). Bangsa Portugis mengirimkan laporan ke Lisabon bahwa kejadian ini terjadi pada rentang waktu 913-928 H atau 1514-1528 M.

Kerajaan Pidie setelah menjadi bagian Kesultanan Aceh Darussalam

Seorang pelawat Portugal, Ludovico di Varthema, yang pernah singgah di Pidie pada akhir abad 15. Ia mencatat pada abad tersebut Pedir, yang masih disebut sebagai negeri Pedir merupakan sebuah negeri maju yang setiap tahunnya disinggahi sekurang-kurangnya 18 sampai 20 kapal asing, untuk memuat lada yang selanjutnya diangkut ke Tiongkok, Cina.

Dari pelabuhan Pedir juga diekspor kemenyan dan sutra produksi masyarakat Pidie dalam jumlah besar. Karena itu pula, banyak pendatang dari bangsa asing yang berdagang ke pelabuhan Pedir. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi warga pelabuhan waktu itu meningkat. Bahkan vartheme menggambarkan, disebuah jalan dekat pelabuhan Pedir, terdapat sekitar 500 orang penukar mata uang asing.

Selanjutnya kerajaan Pidie menjadi sebagai kerajaan otonom di bawah Kerajaan Aceh Darussalam, meskipun begitu peranan raja negeri Pidie tetap diperhitungkan. Bahkan, setiap keputusan Majelis Mahkamah Rakyat Kerajaan Aceh Darussalam, sultan tidak memberi cap geulanteu (stempel halilintar) sebelum mendapat persetujuan dari Laksamana Raja Maharaja Pidie. Maha Raja Pidie beserta uleebalang syik dalam Kerajaan Aceh Darussalam berhak mengatur daerah kekuasaannya menurut putusan balai rakyat negeri masing-masing. Dalam beberapa keadaan raja Pidie atau keturunannya menjadi Sultan Aceh Darussalam.

Berikut silsilah dan daftar raja-raja Pidie:

  1. Maharaja Sulaiman Noer: Anak Sultan Husein Syah;
  2. Maharaha Sjamsu Syah: Kemudian menjadi Sultan Aceh;
  3. Maharaja Malik Ma’roef Syah: Putra dari Maharaja Sulaiman Noer. Mangkat pada tahun 1511 M, dikuburkan di Klibeut di sisi kuburan ayahnya;
  4. Maharaja Ahmad Sjah: Putra Maharaja Ma’roef Syah. Pernah berperang melawan Sulthan Ali Mughayat Syah, tapi kalah. Mangkat pada tahun 1520 M, dikuburkan di Klibeut di sisi kuburan ayahnya;
  5. Maharaja Husain Syah: Putra Sultan Riayat Syah II (Meureuhom Khaa), kemuian menggantikan ayahnya menjadi Sulthan Aceh;
  6. Maharaja Saidil Mukamil: Putra dari Maharaja Firman Syah, kemudian menjadi Sulthan Aceh dari 1589 sampai 1604 M. Ayah dari ibu Sultan Iskandar Muda.
  7. Maharaja  Husain Syah: Putra dari Sulthan Saidil Mukamil
  8. Maharaja Meurah Poli: Meurah Poli Negeri Keumangan dikenal sebagai Laksamana Panglima Pidie yang terkenal dalam perang Malaka (Hikayat Prang Raja Siujud).
  9. Maharaja Po Meurah: Syahir Poli, Bentara IX Mukim Keumangan yang bergelar Pang Ulee Peunaroe. Pengatur negeri Pidie;
  10. Meurah Po Itam : Bentara Kumangan bergelar Pang Ulee Peunaroe;
  11. Meurah Po Puan : Bentara keumangan bergelar Pang Ulee peunaroe;
  12. Meurah Po Thahir : Bentara Keumangan yang terkenal dalam perang Pocut Muhammad (Hikayat Pocut Muhammad) dengan Potue Djemaloy (Sultan Djamalul Alam Badrul Munir) pada tahun 1740 M. Ia mempunyai dua orang saudara: Meurah Po Doom dan Meurah Po Djoho;
  13. Meurah Po Seuman: Pang Ulee Peunaroe dengan nama asli Usman;
  14. Meurah Po Lateh: Pang Ule Peunaroe dengan nama asli Abdul Latif, terkenal dengan sebutan Keumangan Teungeut;
  15. Teuku Keumangan Yusuf: Sudah masuk masa perang Aceh dengan Belanda;
  16. Teuku Keumangan Umar: Uleebalang IX Mukim, Pidie.

Negeri-negeri dibawah Kerajaan Pidie

T.R. Suliman bin T. Sjahbudin Pantee Raja (1903)

T.R. Suliman bin T. Sjahbudin Pantee Raja (1903)

Menurut riwayat, dalam kerajaan Pidie terdapat beberapa negeri (lanschap) yang diperintah oleh Uleebalang yaitu: Mentroe Banggalang, Mentroe Garot, Bentra Ribee, Imum Peutawo Andeu, Mentroe Gampong Aree, Bentara Po Puteh Mukim VIII, Imum Lhok Kaju, Mentroe Meutareum, Mentroe Krueng Seumideun, Bentara Pineung, Bentara Gigieng, Bentara Blang Ratna Wangsa, Panglima Meugoe, Bentara Keumangan, Mentroe Adan, Bentara Seumasat Glumpang Payong, Bentara Blang Gapu (Ie Leubeu), Bentara Gampong Asan, Bentara Nyong, Bentara Putu, Bentara Alue, Keujruen Aron, Keujreun Pecalang Rimba Truseb, Bentara Cumbok, Bentara Titeu, Bentara Keumala, Keujreun Pante Raja, Keujruen Perambat Pangwa dan Keujruen Chik Meureudu. Para Uleebalang ini memerintah negerinya langsung dibawah raja atau Sultan.

Daftar Pustaka

  1. M. Zainuddin; Tarikh Aceh dan Nusantara; Lembaga Studi Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat; Cetakan kedua; Banda Aceh tahun 2012;
  2. Mohammad Said; Aceh Sepanjang Abad Jilid Pertama; P.T. Percetakan dan Penerbitan Waspada; Medan tahun 1981;
  3. Junaidi Ahmad; Pidie Negeri 34 Uleebalang; Bandar Publishing; Cetakan Pertama; Banda Aceh tahun 2020;
  4. William Marsden, F.R.S; Sejarah Sumatera; Penerbit Indoliterasi; Cetakan I; Yogyakarta tahun 2016;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  2. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  3. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  5. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  6. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  7. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  8. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  9. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  10. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  11. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  12. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  13. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  14. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  15. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  16. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  17. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  18. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  19. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  20. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  21. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  22. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  23. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  24. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  25. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  26. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  27. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  28. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  29. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  30. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  31. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  32. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  33. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  34. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  35. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  36. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  37. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  38. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  39. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  40. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  41. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  42. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  43. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  44. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  45. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  46. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  47. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  48. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  49. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  50. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  51. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  52. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  53. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  54. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  55. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  56. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  57. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  58. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  59. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 7 Komentar

SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

SISTEM PERPAJAKAN DAN KEUANGAN KERAJAAN ACEH DARUSSALAM

Pendapatan Kerajaan Aceh Darussalam Pada Masa Puncak Kejayaan

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaan jika diukur dari kemakmuran. Menjadi sebuah kekuatan ekonomi, politik dan pertahanan di kawasan Asia Tenggara. Kemajuan ini tak terlepas dari sumber daya keuangan yang melimpah, dan salah satunya adalah pajak. Pajak diperoleh dari dalam kerajaan antara lain hasil pertanian, peternakan, hasil hutan dan bentuk lainnya sesuai dengan pekerjaan penduduk. Bagi daerah taklukan kerajaan Aceh, pajak diserahkan dalam bentuk upeti yang terdiri dari hasil-hasil pertanian, peternakan, hasil hutan, emas, perak, intan, tembaga dan lain-lain sesuai dengan kekayaan negeri-negeri tersebut.

MATA UANG EMAS KERAJAAN ACEH DARUSSALAM

Pada masa puncak kejayaan kerajaan Aceh menguasai perdagangan di Selat Malaka, salah satu pendapatan yang mendukung kas kerajaan adalah pajak perdagangan ketika kapal-kapal dagang melintasi perairan Aceh dan biaya “charge” berupa pajak yang harus disetorkan kepada Sultan Aceh untuk mendapatkan izin mendarat di Bandar Aceh Darussalam. Untuk pajak perairan dilakukan oleh Orang Kaya Maharaja Lela (Panglima Angkatan Perang), sedangkan pajak di pelabuhan dilakukan oleh Syahbandar sebagai kepala Balai Furdah (Kepala Pelabuhan).

Sumber Keuangan Kerajaan Aceh Darussalam

Seorang petualang kebangsaaan Perancis, Augustin de Beualieu yang berkunjung pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda membagi kepada dua jenis pendapatan kerajaan Aceh yaitu:

  1. Pajak darat yang dibebankan kepada setiap orang yang melakukan usaha di daerah terutama pertanian, peternakan dan penjualan barang dagangan;
  2. Pajak laut antara lain pajak merapat kapal, izin masuk, bongkar muat, cukai melintasi perairan dan perdagangan laut;

Sumber keuangan kerajaan Aceh Darussalam selain pajak adalah surplus neraca perdagangan luar negeri terutama lada dan emas. Hasilnya melimpah karena sultan menguasai tidak hanya komoditi, juga jalur perdagangan. Jika melewati tanpa izin dan terbukti maka kapal-kapal dagang tersebut akan disita dan kekayaannya menjadi milik kerajaan Aceh Darussalam dan akan disimpan pada Baitul Mal (Perbendaharaan Kerajaan).

Aceh merupakan produsen lada terbesar dunia pada abad ke-19

Hasil hutan dan barang tambang yang dikuasai Aceh berupa kayu cendana, kapang, damar, sari wangi-wangian, kemenyan putih, kemenyan hitam, kulit kayu manis, campli buta (cabai hutan), gading, kapur barus dan rotan. Sedangkan hasil-hasil tambang berupa emas, perak, tembaga, minyak tanah dan lain-lain. Berbagai komoditi tersebut umumnya diekspor sehingga menghasilkan devisa yang cukup besar bagi kerajaan Aceh.

Kerajaan Aceh juga mengimpor beberapa barang dagangan untuk keperluan dalam negeri atau diolah untuk diekspor kambali. Barang-barang impor tersebut antara lain: beras, gula pasir, anggur, kurma, logam, timah putih, timah hitam, tekstil, kapas, guci, sabung, kipas, kertas dan lain-lain.

Sumber dana lain juga diperoleh dari harta rampasan perang dan upeti dari negeri-negeri taklukan yang berkewajiban menyediakan upeti berupa hasil pertanian, hasil laut, hasil tambang maupun pajak tanah (kharaj).

Pajak laut sendiri salah satunya adalah biaya cap, dari setiap kapal yang masuk dan mendarat di pelabuhan Aceh sebesar 50-60 real (Spanyol) yang sebagian disetor ketika masuk dan sebagian lagi ketika meninggalkan pelabuhan.

Sistem Pemungutan Pajak Kerajaan Aceh Darussalam

Sultan Iskandar Muda menunjuk Orang Kaya Sri Maharaja Lela sebagai pejabat kepala Baitul Mal (kas kerajaan). Untuk wilayah pantai Timur kerajaan Aceh dipercayakan kepada Maharaja Mangkubumi sedang wilayah pantai Barat dipercayakan kepada Maharaja Mangkubesi.

Pungutan pajak di kota pelabuhan Bandar Aceh dilakukan oleh Syahbandar sebagai kepala Balai Furdah (kepala pelabuhan) dibantu sederetan karkun (juru tulis) dan dibantu penghulu kawal (polisi kota). Seluruh pegawai Balai Furdah memungut cukai di pelabuhan Aceh. Dalam Bustanussalatin bea cap disebut adat cap atau adat lapik cap umumnya dibayar dengan bahan mentah atau uang. Kepada pedagang non muslim dikenakan pajak tambahan yang dalam disebut jizyah.

Manuskrip memuat susunan Pemerintahan Kerajaan Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda. Manuskrip ini milik University Kebangsaan Malaysia yang belum dikatalogkan.

Selain pelabuhan tempat pemungutan pajak lainnya adalah pasar, yang ketika itu terdapat dua lapangan besar yang dijadikan pasar di tengah kota dan yang lain di ujung atas hulu sungai. Menurut kesaksian Peter Mundy seorang petualang Inggris yang berkunjung pada masa sultan Iskandar Muda menyebutkan warung penjual penyu rebus ketika itu dipungut pajak sekeping emas sebulan oleh Orang Kaya Sri Maharaja Lela.

Untuk wilayah pedalaman umumnya dikutip pajak hasil bumi dan tambang sebesar 10-20%, sedangkan untuk negeri taklukan pajak atau upeti diserahkan kepada sultan sekitar 15-20% setiap tahun.

Pajak Sumber Pembiayaan Pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam

Keuntungan dibidang perdagangan, terutama penjualan lada dan pungutan pajak digunakan untuk membiayai pembangunan fisik dan non fisik, untuk kemakmuran rakyat. Sultan Iskandar Muda membangun dan merehabilitasi pelabuhan-pelabuhan dagang di berbagai daerah. Bandar Aceh Darussalam, sebagai pelabuhan utama di ibu kota, dibuka luas menjadi pelabuhan internasional dengan jaminan keamanan dari gangguan armada Portugis. Dibangun pula gudang-gudang dan loji-loji bangsa asing yang telah mendapatkan izin dari sultan.

Sebagai kerajaan maritim, pertahanan laut menjadi prioritas. Pada masa Sultan Iskandar Muda kerajaan Aceh memiliki 600 kapal yang terdiri atas 500 kapal layar dan 100 galley yang dapat mengangkut 600-800 prajurit.

Penyerangan Malaka (Portugis) oleh Kesultanan Aceh Darussalam di tahun 1629

Beualieu mencatat pasukan Sultan Aceh ketika itu mencapai 40-50 ribu orang, 100-200 perahu dengan meriam, dan sekitar 1000 gajah siap tempur. Persenjataan meliputi 2000 pucuk meriam, terdiri dari 800 meriam besar dan 1200 meriam biasa. Setiap saat kerajaan dapat mengerahkan bala tentara yang direkrut dari Pidie atau tempat lain. Sultan sendiri memiliki pasukan kavaleri pengawal istana sebanyak 200 orang untuk mengadakan patrol rutin di sekeliling istana dan ibu kota.

Di bidang pertanian Sultan Iskandar Muda menggunakan anggaran untuk irigasi dan mengambangkan persawahan. Sultan menunjuk pejabat khusus dengan gelar Keujruen Blang, Bentara Blang, Raja Blang atau Petua Blang menurut wilayah masing-masing. Tak heran panen melimpah dan digudangkan untuk di simpan. Beualieu menceritakan, “jika panen melimpah dan diketahui ada kekurangan di wilayah lain, maka tempat itu akan dikirimkan beras untuk dijual.” Pada masa itu kerajaan Perak mengalami paceklik dan Sultan mengirimkan 40 kapal penuh muatan.

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Kebijakan keuangan, politik dan ekonomi Sultan Iskandar Muda inilah yang mengantarkan Aceh menuju “zaman keemasan” yang sampai sekarang melekat dalam kenangan Kerajaan Aceh Darussalam.

DAFTAR PUSTAKA

  1. PAJAK dalam Perspektif Islam; Antara Teks Normatif dan Realitas Sosial; Diterbitkan atas Kerjasama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Aceh dan Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry; Banda Aceh; 2010;
  2. Denys Lombard; Kerajaan Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636); Balai Pustaka; Jakarta; 1991;
  3. F.H. Van Langen; Susunan Pemerintah Aceh Semasa Kesultanan; alih bahasa Aboe Bakar, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh; Banda Aceh; 2002;
  4. Said Mohammad; Aceh Sepanjang Abad; Percetakan Waspada; Medan; 1981;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  2. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  3. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  4. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  5. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  6. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  7. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  8. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  9. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  10. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  11. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  12. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  13. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  14. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  15. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  16. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  17. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  18. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  19. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  20. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  21. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  22. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  23. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  24. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  25. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  26. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  27. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  28. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  29. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  30. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  31. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  32. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  33. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  34. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  35. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  36. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  37. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  38. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  39. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  40. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  41. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  42. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  43. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  44. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  45. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  46. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  47. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  48. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  49. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  50. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  51. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  52. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  53. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  54. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  55. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  56. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  57. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  58. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  59. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Komentar

PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR


Teuku Umar berfoto bersama sejumlah pengikut. (Sumber: Koleksi Troppen Museum)

PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR

Teuku Umar dan gerombolannya adalah watak pejuang yang paling dibenci oleh Belanda. Belum pernah dalam sejarah penjajahan Belanda ditipu oleh seorang pribumi sebagaimana dilakukan oleh Teuku Umar.

Pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar Johan Pahlawan meninggal dunia, gugur sebagai seorang jantan pahlawan yang patut dikenang. Ia yang lazim disebut dengan Teuku Uma atau Teuku Meulaboh tewas di medan jihad 2 kilometer dari Meulaboh (waktu itu) pada jam 8 malam. Gugurnya beliau disebabkan tembakan-tembakan tepat dari brigade marsose Belanda yang sengaja dikirimkan ke Suak Ujong Kalak untuk melakukan pengintaian (verkenning) akan adanya informasi sebuah pasukan Aceh akan menyerang Meulaboh yang pada saat itu hanya berkekuatan dua kompi.

Dalam keadaan yang kalut, pasukan kecil Belanda yang mengobservasi informasi rahasia yang mereka peroleh bahwa benar adanya sebuah pasukan besar langsung dipimpin Teuku Umar sendiri berada di tempat itu. Sebelum mundur pasukan Belanda melepaskan tembakan salvo dua kali yang “kebetulan” mengenai sasatan sekitar api rokok dari penghisapnya, Teuku Umar sendiri.

Teuku Umar dan gerombolannya adalah watak pejuang yang paling dibenci oleh Belanda. Belum pernah dalam sejarah penjajahan Belanda ditipu oleh seorang pribumi sebagaimana dilakukan oleh Teuku Umar.

Sebutir dari dua peluru tersebut mengenai dada kiri Teuku Umar dan tembus ke belakang dengan luka ternganga berdiameter 10 centimeter dengan luka dimuka hanya kecil saja. Menurut cerita orang-orang tua, tembakan itu dilepaskan dengan peluru emas dikarenakan Teuku Umar memiliki ilmu kebal.

Suasana Meulaboh setelah Teuku Umar Tewas

Jenazah Teuku Umar yang terluka sedemikian parah digotong keluar pasukan dan menghilang dalam suasana kacau dan menghilang sehingga tidak semua pasukan Aceh mengetahui kejadian yang sangat merugikan tersebut. Orang-orang di Meulaboh menduga Teuku Umar telah tewas karena tidak jadi dilangsungkan penyerangan ke tangsi Belanda malam itu, hal ini disebabkan pasukan yang telah menyusup ke Meulaboh hanya menunggu komando terakhir untuk melakukan penyerbuan. Pasukan Aceh dan masyarakat yang mendukung perjuangan Teuku Umar  menjadi panik sehingga mereka memutuskan untuk bergerilya dengan pasukan-pasukan kecil di sekitar Meulaboh.

Siapa pengkhianat sehingga Teuku Umar gugur?

Jalan pengkhianatan terhadap terbunuhnya Teuku Umar cukup berliku. Pada tahun 1970 seorang penulis sejarah Aceh bernama Tjoetje berdasarkan cerita ayahnya yang turut dalam pasukan Teuku Umar menceritakan bahwa ada seorang anak yang bernama Njak Oesoeh berada di kota Meulaboh, ayahnya bernama Njak Daoed adalah seorang pengikut Teuku Umar. Njak Daoed meminta izin kepada Teuku Umar untuk mengirimkan surat kepada anaknya supaya keluar dari Meulaboh sebab pasukan Aceh akan menyerang kota pada malam itu. Teuku Umar tidak keberatan dengan pengiriman surat tersebut.

Surat yang disampaikan Njak Daoed kepada anaknya Njak Oesoeh disampaikan melalui perantaraan Raja Ameh, entah bagaimana surat ini jatuh ke tangan Toke Dolah dan sampai kepada komandan marsose Jenderal Van Heutsz yang kebetulan pada saat itu berada di Meulaboh. Dasar surat tersebut membuat keluar perintah harian komandan marsose itu mengadakan pengintaian ke Suak Ujing Kalak.

Cut Nyak Dien mendengar kabar gugurnya Teuku Umar

Cut Nyak Dhien ketika itu berada di Pucok Woyla (35 kilometer dari Meulaboh) mengetahui kematian suaminya dari salah seorang panglima Teuku Umar, ia meneteskan air mata karena suami keduanya Teuku Umar (1899) harus gugur di tangan Belanda sebagaimana suami pertamanya Teuku Ibrahim Lam Nga juga tewas pada ujung peluru Belanda (1878). Cut Nyak Dien yang oleh Belanda dikatakan oleh Belanda “manly” (kelelakian) dan “kranig” (tangkas), segera turun gunung bukan untuk mencari pusara suaminya melainkan membentuk pasukan kembali guna meneruskan perjuangan.

Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.

Cut Nyak Dien memimpin secara gerilya di setiap pelosok Aceh Barat seperti Woyla, Seunagan, Tripa, Blang Pidie sampai Bakongan. Tak henti dan tak menyerah sampai Cut Nyak Dien ditangkap Belanda pada tahun 1904.

Dimana Pusara Teuku Umar?

Menurut sumber-sumber Aceh, jenazah Teuku Umar pernah dikuburkan pada beberapa tempat dengan cara bongkar kuburan. Hal ini dilakukan karena Belanda sangat benci kepada Teuku Umar dan tersiar kabar mereka bersumpah akan mencincang-cintang tubuhnya. Belum pernah selama konflik peperangan antara Belanda dan bangsa-bangsa di Nusantara sampai tertipu ketika membuat penjanjian sebagaimana dengan Teuku Umar. Biasanya Belanda mengakali para pahlawan Nusantara seperti pernah dilakukan pada Imam Bonjol atau Pangeran Diponegoro. Tak pelak para pejuang Aceh yang tersisa mencoba menyelamatkan jenazah Teuku Umar dari penistaan Belanda.

Berziarah ke makam Teuku Umar

Mula-mula jenazah Teuku Umar dikuburkan di kampung Suak Raja (6 kilometer dari Meulaboh), kemudian dipindahkan ke pedalaman Mugo Raya, Kaway XVI. Jenazah Teuku Umar sendiri menurut cerita tidak pernah busuk, baru paginya dikuburkan besoknya disekitar kubur telah tumbuh rumput sehingga tidak mudah diketahui letaknya.

Setelah kematian Teuku Umar

Pasukan Belanda ketika itu tidak mengetahui bahwa Teuku Umar telah gugur malam itu awalnya, pasukan Aceh lain-lain juga tidak mengetahui bahwa malam itu Teuku Umar tertembak malam itu. Belanda hanya mengetahui mereka melepaskan tembakan dua kali kearah api rokok saja. Baru beberapa hari kemudian mereka tahu musuhnya yang paling ulung telah tewas.

Pelajaran yang dipetik dari gugurnya Teuku Umar

  1. Pasukan Aceh tidak melakukan pengawalan secara pribadi dan pengawalan kepada induk pasukan yang akan menyerang sehingga musuh dapat melakukan pengintaian;
  2. Ketika Teuku Umar gugur pada malam itu tidak ada yang mampu mengambil alih kepemimpinan penyerangan ke Meulaboh malam itu;
  3. Teuku Umar terlalu percaya kepada pasukannya sehingga membiarkan sebuah Njak Daoed mengirimkan surat ketika hendak melakukan penyerangan.

Malam 11 Pebruari 1899, tubuh Teuku Umar rubuh diterjang peluru emas serdadu Marsose dan darah sang pejuang tumpah dibumi akibat “pengkhianatan” teman seperjuangan yang memberitahu posisi dan kelemahannya kepada Kaphe Belanda di pantai Ujong Kalak, Meulaboh. 11 Pebruari 1899, cucu Raja Meulaboh tersebut wafat diusia 45 tahun. (Baca: Teuku Umar Pahlawan)

Sajak untuk gugurnya Teuku Umar

// Ada lagi yang sangat kusesalkan pahlawan / Walau kami berkabung duro / Masih ado yang bersorak menepuk dado / Mereka adalah penjilat yang bermuka duo / Yang Cuma mendambakan sebungkus keju dari Kaphe Belanda / Mereka adalah kawan seiring menggunting dalam lipatan / Mereka adalah musang berbulu ayam //

Diambil dari (Bait 5 Puisi Teuku Umar Pahlawan tahun 1980)

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  2. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  3. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  4. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  5. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  6. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  7. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  8. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  9. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  10. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  11. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  12. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  13. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  14. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  15. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  16. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  17. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  18. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  19. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  20. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  21. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  22. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  23. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  24. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  25. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  26. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  27. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  28. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  29. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  30. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  31. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  32. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  33. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  34. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  35. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  36. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  37. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  38. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  39. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  40. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  41. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  42. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  43. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  44. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  45. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  46. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  47. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  48. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  49. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  50. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  51. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  52. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  53. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  54. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  55. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  56. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  57. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  58. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  59. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 9 Komentar

GEREJA PERTAMA DI ACEH

Gereja pertama di Aceh 1874

Gereja pertama di Aceh 1874

GEREJA PERTAMA DI ACEH

Gereja pertama di Aceh dibangun tahun 1874, di Pantee Pirak Belanda membangun sebuah jembatan yang menghubungkan dengan Peuniti, di sana pula, pada bekas tanah Sultan Aceh itu mereka membangun sebuah gereja.

Pembangunan gereja ini sebagai tindak lanjut proklamasi kemenangan dari pemimpin ekspedisi kedua perang Aceh, Jenderal Van Swieten pada 28 Januari 1874. Maklumat ini karena Belanda telah merebut istana kerajaan Aceh dan dengan hak perang seluruh Aceh di bawah kedaulatan Belanda. Seluruh harta benda Sultan dan para kerabatnya menjadi milik Belanda (tentara KNIL). Hal itulah sebabnya jika kita melihat asrama tentara (sekarang) di Koetaradja (Banda Aceh) awalnya adalah milik Sultan/kerabatnya dulu.

Proklamasi Kemenangan Belanda oleh Van Swieten pada 28 Januari 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Pengkabaran Injil pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam

Sepanjang sejarah, gereja ini adalah yang pertama dibangun di Aceh, persaingan dengan Portugis sejak abad ke-16 serta berita-berita dari dunia Islam tentang pengusiran muslim di Andalusia (Spanyol) membuat Kesultanan Aceh menutup diri dari pengkabaran Injil.

Manuskrip memuat susunan Pemerintahan Kerajaan Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda. Manuskrip ini milik University Kebangsaan Malaysia yang belum dikatalogkan.

Kanun Meukuta Alam sebagai peraturan undang-undang Kesultanan Aceh Darussalam tertulis sekitar 3 (tiga) Pasal dalam hubungan dengan antara muslim dengan agama lain yang tidak menguntungkan bagi orang di luar Islam, antara lain:

  1. Jikalau orang luaran yang lain agama dari pada agama Islam yang lain pada orang hindi tiada boleh di terima oleh orang negeri tinggal duduk di dalam kampungnya melainkan di suruh balik ke laut kedalam tempatnya (Pasal 21);
  2. Jikalau orang lain agama itu hendak tinggal juga duduk di darat kedalam kampung orang islam kalau dapat celaka mati atau luka atau kena rampas hartanya dalam kampung itu tempat dia bermalam sama ada orang dalam kampung itu yang buat aniaya atau lain orang jahat kalau mati saja luka luka saja kalau dirampas hartanya habis saja tiada diterima pengaduannya oleh Raja atau Hulubalang sebab dari pada taksirnya sendiri punya salah (Pasal 22);
  3. Adapun orang yang menerima pada orang yang lain agama itu tinggal duduk bermalam pada kampungnya contoh kesalahan kepada ulama kena kafarat denda kenduri memberi makan sidang jumat (Pasal 23);

(Baca: Rincian isi Kanun Meukuta Alam)

Pendeta Pattiseno, perawat rohani serdadu-serdadu Belanda yang beragama Protestan di Aceh di tengah-tengah penggembalaannya.

Pendeta Pattiseno, perawat rohani serdadu-serdadu Belanda yang beragama Protestan di Aceh di tengah-tengah penggembalaannya.

Meskipun ketika Belanda telah berkuasa di Aceh, hubungan antara itu masih tegang di pedalaman. Terutama di wilayah-wilayah yang masih jauh dari jangkauan kekuatan militer Belanda. Seperti pembunuhan dua orang Perancis di Teunom yang bermaksud berbisnis emas akibat perbenturan nilai dimungkinkan oleh keadaan.

(Baca: Kerajaan Teunom Suatu Masa)

Peran Misionaris dalam Perang Aceh

Pendeta Izaak Thenu, orang Ambon, sejak tahun 1894 sampai akhir hayatnya tahun 1937 merupakan seorang legendaris perang. Seorang imam militan legendaris lain adalah Pastor Verbraak, selama tiga puluh tahun bertugas di Aceh memperoleh empat kali dianugerahi jasa ksatria.

Izzat Thenu, pendeta Maluku yang sangat berjasa bagi Pemerintah Belanda di Aceh, menggantikan pendeta Pattiselano. Dalam penyerbuan ke kubu pertahanan Batee Illiek di Samalanga pada tanggal 3 Februari 1901 ia memainkan peranan penting dalam memelihara semangat anggota-anggota pasukan Belanda.

Izzat Thenu, pendeta Maluku yang sangat berjasa bagi Pemerintah Belanda di Aceh, menggantikan pendeta Pattiselano. Dalam penyerbuan ke kubu pertahanan Batee Illiek di Samalanga pada tanggal 3 Februari 1901 ia memainkan peranan penting dalam memelihara semangat anggota-anggota pasukan Belanda.

Pada tahun 1901 Belanda menyerang benteng Batee Illiek, sebuah kubu pertahanan Aceh yang telah diserang berulang sejak tahun 1880 tapi tidak bisa dipatahkan oleh Belanda. Untuk penyerangan ini Izzak Thenu menggubah sebuah lagu perang khusus. Dengan memanfaatkan secara baik-baik kata-kata bersajak “berani” dengan “serani” (orang Kristen), “saudara” dan “bersuara” menjadi lagu Samalanga.

Mari sobat, mari saudara!

Pergi perang di Samalanga;

Mari koempoel dan bersoeara,

Laloe menjanji bersama-sama.

Satoe njanjian jang amat merdoe

Menghiboer hati jang amat doeka,

Hari ini kita di Merdoe,

Esok loesa djalan kemoeka.

Dari Merdoe djalan di sawah

Itoe djalan jang amat soesah.

Tempo-tempolah liwat rawa

Asal bisa dapat kemoeka.

Kalau djalan haroes berdiam

Karena moesoeh berdjaga-djaga;

Kala dengar boenji meriam

Itoe tandalah moesoeh ada.

Soenggoeh moesoeh banjak sekali,

Ada berdiri didalam benteng.

Haroes berlari-lari.

Waktoe kommandolah “Atacqueren”.

Djangan tinggal berdiri lama,

Kalau kommandolah “Atacqueren”.

Lari lekas datang kesana,

Masoek pertama kedalam benteng.

Siapa masoek nommer satoe

Itoelah tanda amat berani.

Nanti dapatlah bintang satoe

Tanda setia lagi berani.

Meski dengarlah hoejan pelor,

Dari moesoehmoe orang Atjeh,

Djangan sekali bersoesah keloeh

Tetapi peranglah hidoep mati.

Mari kamoe hai orang Ambon!

Lagi Menado lagi Ternate!

Lawan moesoeh bertamboen-tamboen,

Sampe gagahnya djadi berhenti.

Anak Ambon gagah berani,

Tidak takoet mati atau loeka,

Toeroet hati orang serani,

Anak Ambon berani dimoeka.

Kamoe lagi hai orang Djawa!

Angkat kerdjalah ramai-ramai.

Agar kami bisa tertawa

Kalau moesoeh soedah berdamai.

Kalau moesoeh soedah berdamai

Kami boleh doedoek senang.

Boleh berdansa, boleh berramai

Kalau soedah habis perang.

Berapa hari, berapa boelan

Kami haroes tinggal disini?

Habis peranglah boleh poelang

Bertemoe anaklah dengan bini.

Mari kami koentji menjanji,

Laloe poelang tidoer lelap.

Djangan loepa itoe pesani

Hanya mengikoet peri tetap.

Januari 1901 Izzak Thenu. Korps Marechaussee van A Doup.

Izzak Thenu ingin mengajak marsose-marsose segera bertempur. Pertempuran Batee Illiek menewaskan lima orang dan 27 orang di pihak marsose dan 71 pihak Aceh tewas. Kemenangan Belanda berhasil mematahkan perlawanan besar kubu Aceh.

Pendeta Thenu menunggang kuda jika ia melaksanakan tugasnya, Dalam hal itu ia dikawal oleh anggota-anggota korps marsose.

Pendeta Thenu menunggang kuda jika ia melaksanakan tugasnya, Dalam hal itu ia dikawal oleh anggota-anggota korps marsose.

Kekristenan di Aceh

Saat ini merupakan agama minoritas kedua terbesar di Aceh yang dianut 50.309 jiwa umat Kristen Protestan dan 3.315 jiwa Kristen Katolik. Total jumlah penduduk Aceh yang menganut Protestan dan Katolik sebanyak 53.624 jiwa atau 1,19% dari 4.494.410 jiwa jumlah penduduk Aceh (Sensus BPS tahun 2010). Sedang jumlah gereja tercatat sebanyak 154 gereja berdiri di seluruh Aceh.

Terdapat hubungan penuh luka antara Aceh dan kekristenan yang ditambah akibat luka kolonialisme. Akan tetapi sebagaimana hidup mustahil menjalani hidup tanpa terluka, atau menolak terluka. Luka-luka yang kita kumpulkan menandai kesalahan sekaligus keberhasilan kita. Jangan lupa, luka separah apapun dapat disembuhkan.

Muslim, Kristen baik Protestan maupun Katolik, Budha, Hindu serta Konghufu berhak hidup di Aceh sebagaimana defenisi orang Aceh menurut Pasal 211 ayat 1 berbunyi: Orang Aceh adalah setiap individu yang lahir di Aceh atau memiliki garis keturunan Aceh, baik yang ada di Aceh maupun di luar Aceh dan mengakui dirinya sebagai orang Aceh.

DAFTAR PUSTAKA

  1. H Van Langen; “De Inrichting van het Atjehsche Staatsbestuur onder het Sultanaat”; BKI; 1988:
  2. Paul Van’T Veer; Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje; Percetakan PT Temprint; Jakarta; Cetakan Pertama; 1985;
  3. Rusdi Sufi; Pahlawan Nasional Sultan Iskandar Muda; Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional; 1995;
  4. Naskah “Kanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda”; Tulisan Tengku di Meulek, milik Teuku Muhammad Junus Jamil Kampung Alui, pada tahun 1995 disimpan di Museum Ali Hasjmy;
  5. Sensus BPS tahun 2010;
  6. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  2. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  3. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  4. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  5. PENAKLUKKAN GAYO (1904) 10 AGUSTUS 2017;
  6. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  7. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  8. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  9. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  10. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  11. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  12. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  13. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  14. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  15. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  16. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  17. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  18. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  19. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  20. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  21. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  22. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  23. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  24. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  25. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  26. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  27. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  28. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  29. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  30. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  31. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  32. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  33. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  34. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  35. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  36. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  37. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  38. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  39. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  40. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  41. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  42. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  43. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  44. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  45. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  46. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  47. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  48. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  49. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  50. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  51. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  52. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  53. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  54. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  55. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  56. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  57. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  58. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  59. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Komentar

APA ARTI MASA DEPAN

Ingatan seperti sebuah samudera, di balik badai dan gelombang, ada kenangan yang memilih berdamai

Ingatan seperti sebuah samudera, di balik badai dan gelombang, ada kenangan yang memilih berdamai

APA ARTI MASA DEPAN

“Apalah artinya diri kita ini?” Ujarku pada petang hari duduk di bawah pohon pinus yang rindang beralaskan pasir memandang pasir pantai dan lautan membiru di mana ombak kecilnya sedang bergelut dengan sinar matahari yang hendak turun mandi.

“Apa maknanya?” Tanyaku sambil menunjuk sebuah biduk nelayan memasuki teluk, sebuah pemandangan yang nikmat menikmati keindahan pantai yang amat mempesona.

“Diri kita tidak ada.” Aku berfilsafat, “yang ada hanyalah Zat Yang Maha Suci, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa. Kita ini hanyalah pancaran dari kekuasaannya, yang sewaktu-waktu bisa fana kembali ke asalnya.

Aku berhenti sejenak melihat biduk nelayan yang semakin mendekati pantai, di mana dalam saat membisu itu, aku memahami bahwa manusia telah datang dan berganti selama ribuan tahun, pantai ini tetap sama. Pasir putihnya telah lama ada, lautan telah dahulu ada disini. Pergantian perbatasan, kekuasaan telah berubah berkali-kali.

Semakin tidak terasa ketidakhadiran diri kita. Apalah artinya diri kita yang sekecil ini dibandingkan dengan para pahlawan yang pernah hidup, atau bahkan di tahun-tahun dan abad-abad mendatang, manusia-manusia baru yang nanti akan mengarungi samudera luas itu ke segala pulau-pulau di kawasan rantau.

“Kita adalah jari-jari dari roda besar yang berputar itu.” Aku berdiri memandangi, merenungi ombak kecil memecah di pantai, sendu dalam pancaran sinar matahari yang akan dipeluk senja.

“Apakah di tahun-tahun mendatang Allah akan memberikan kesempatan untuk menyaksikan pemandangan seperti ini lagi?” Tanyaku, dengan pertanyaan sebuah percakapan tak terlarai tumbuh, tafsir tak akan berakhir.

“Insya Allah.” Aku tidak melanjutkan lagi, andai aku bisa mengetahui masa depan, tapi sayangnya aku tidak pernah tahu. Akan ada masa aku berhenti, dan semua yang ada akan hilang.

Ingatan seperti sebuah samudera, di balik badai dan gelombang, ada kenangan yang memilih berdamai. Aku menyambut kesendirianku, ketidakhadiran suara-suara, termasuk suara sendiri. Alunan suara desir-desir air di tepi pantai yang untuk sementara bisa menghapuskan rasa takutku menghadapi masa depan.

Banda Aceh, 10 Juli 2020

KATALOG OASE

  1. Meniti Jalan Yang Lurus; 22 Maret 2017;
  2. Nasib Para Pion; 23 September 2017;
  3. Pohon Kekekalan; 4 November 2017;
  4. Renungan Malam; 19 November 2017;
  5. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  6. Sebuah Kotak Hitam; 21 November 2017;
  7. Secangkir Kopi Dari Aceh; 22 Januari 2018;
  8. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  9. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  10. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  11. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  12. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  13. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  14. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  15. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  16. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  17. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  18. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  19. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  20. Sunyi; 19 Maret 2020;
Dipublikasi di Kolom, Pengembangan diri, Puisiku | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU

Lembaran Syair Perahu Karya Hamzah Fansuri koleksi British Library

Lembaran Syair Perahu Karya Hamzah Fansuri koleksi British Library

HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU

Siapa Hamzah Fansuri?

Hamzah Fansuri dilahirkan di Barus pada akhir abad ke-16. Saat itu Barus merupakan bagian dari Kerajaan Aceh Darussalam. Semasa hidupnya Hamzah Fansuri di Aceh sendiri, ia kurang dikenali bahkan cenderung dimusuhi karena dianggap ajarannya sesat. Ia justru dikenal setelah wafat. Para pengikutnya (yang tersebar di seluruh Nusantara) berhasil menyelamatkan salinan karyanya dari pemusnahan yang dilakukan atas anjuran Nurruddin Ar-Raniri sehingga sampai ke tangan kita hari ini.

Baca: Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri sebagai Penyair Sufi

Hamzah Fansuri adalah pujangga Melayu terbesar di abad ke-17 Masehi, terkemuka pada zaman itu. Disebut juga sebagai “Jalaluddin Rumi” kepulauan Nusantara, dikenal sebagai penemu / pencipta bentuk pantun pertama dalam bahasa Melayu. Keberadaan beliau selaku pujangga dan penyair sufi dapat dibuktikan oleh fakta-fakta sejarah.

Hamzah Fansuri menguasai bahasa Arab, Urdu dan Persia membuatnya mempelajari dan menghayati filsafat Ibnu Arabi, Al Hallaj, Al Bistami, Maghribi, Syech Nikmatullah, Dalmi, Abdullah Jilli, Jalaluddin Rumi, Abdurqadir al-Jailani dan banyak ulama terkemuka.

Dalam filsafat ketuhanan, Hamzah Fansuri menganut aliran “Wahdatul Wujud,” dan sebagai seorang penyair sufi ia menjadi pengikut Thariqat Qadiriyah. Pengembaraannya yang jauh ke negeri-negeri Semenanjung Melayu, Pulau Jawa, India, Persia, Arabia dan sebagainya telah membuatnya memiliki cakrawala sejauh ufuk langit, sehingga ketika menjadi seorang sastrawan karya tulisnya berisi padat dengan butir-butir filsafat sekaligus enak dibaca.

Nelayan menarik pukat di pantai Lhok Nga Aceh Besar

Nelayan menarik pukat di pantai Lhok Nga Aceh Besar

Lazimnya “Penyair Sufi”, sajak-sajak Hamzah Fansuri penuh dengan rindu dendam, rindu pada Mahbubnya, kekasihnya, Sang-Khaliq, Allah S.W.T. Sedemikian rindunya sehingga dia merasa bersatu atau menjadi satu dengan kekasihnya. Sebab itulah karya Hamzah Fansuri sulit dipahami oleh orang yang tidak membaca dan mendalami pikiran dan filsafat tasauwuf.

Kitab atau karya tulis Hamzah Fansuri

Sepanjang pengetahuan penulis ada lima kitab karya Hamzah Fansuri, sedang yang tidak diketahui penulis kemungkinan besar lebih dari sepuluh. Kelima kitab tersebut antara lain:

  1. Asraarul Arifiin Fi Bayani Ilmis Suluk wat-Tauhid, membahas ilmu tauhid dan ilmu tariqat. Dalam kitab ini terdapat ajaran-ajaran beliau;
  2. Syaabul Asyiqin, membicarakan tariqat, syariat, hakikar dan makrifat;
  3. Al Muntahi, membicarakan masalah tasawuf;
  4. Ruba’i Hamzah Fansuri, berisi syair sufi yang penuh butir-butir filsafat;
  5. Syair Burung Unggas, sajak sufi yang menceritakan ketika manusia menjadi Insan Kamil maka tidak ada lagi pembatas antara dirinya dan mahbubnya karena ia telah memfanakan dirinya ke dalam kekasih yang dirindukannya.

Kekasihmu dhahir terlalu terang,

Pada kedua alam nyata terbentang,

Ahlul Makrifar terlalu menang,

Wasilnya daim tiada berselang.

 

Hempas akal dan rasamu,

Lenyap badan dan nyawamu,

Pejamkan hendak kedua matamu,

Di sana lihat peri rupamu.

Syair Burung Unggas karya Hamzah Fansuri

Naskah syair burung unggas belum pernah diterbitkan, naskahnya tidak terlalu panjang namun memberikan arti yang sangat penting. Berikut rangkumannya yang dituliskan kembali dalam huruf latin, sebagaimana dituliskan oleh A. Hasjmy dari puing-puing naskah tua sisa dari perpustakaan Tengku Chik Kuta Karang.

Unggas itu yang amat burhana,

Daimnya nantiasa di dalam astana,

Tempatnya bermain di Bukit Tursina,

Majnun dan Laila adalah di sana.

 

Unggas itu bukannya nuri,

Berbunyi ia syadda kala hari,

Bermain tamasya pada segala negeri,

Demikianlah murad insan sirri.

 

Unggas itu bukanlah balam,

Nantiasa berbunyi siang dan malam,

Tempaynya bermain pada segala alam,

Di sanalah tamasya melihat ragam.

 

Unggas itu terlalu indah,

Olehnya banyak ragam dan ulah,

Tempatnya bermain di dalam Ka’bah,

Pada Bukit Arafah kesudahan musyahadah

………………………………………………………………………………………………………

Unggasnya itu terlalu pingai,

Warnanya terlalu bisai,

Rumahnya tiada berbidai,

Duduknya daim di balik tirai.

 

Putihnya terlalu suci,

Daulahnya itu bernama ruhi,

Milatnya terlalu sufi,

Mushafnya bersurat kufi,

 

Arasy Allah akan pangkalnya,

Janibullah akan tolannya,

Baitullah akan sangkarnya,

Menghadap Tuhan dengan sopannya.

 

Sufi bukannya kain,

Fi Mekkah daim bermain,

Ilmunya lahir dan batin,

Menyembah Allah terlalu rajin.

 

Zikrullah kiri kanannya,

Fikrullah rupa bunyinya,

Syurbah tauhid akan minumnya,

Daim bertemu dengan tuhannya.

Pada akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Hamzah Fansuri meninggal dunia pada 29 Rajab 1046 H / 27 Desember 1636. Beliau memiliki dua makam; pertama di Kampung Oboh Simpang Kiri Rundeng di Hulu Sungai Singkel dan yang kedua di Ujong Pancu di Aceh Besar di mana penulis pernah berziarah ke sana.

Ketenaran dan Pengaruh Hamzah Fansuri di dunia Melayu

Melalui Hamzah Fansuri, perkembangan bahasa Melayu menjadi pesat. Memberikan pengaruh yang luar biasa di kalangan cendikiawan Melayu. Karya-karyanya mampu memperkaya perbendaharaan kata-kata Melayu. Ia juga membawa pembaharuan di bidang logika atau ilmu mantiq, karena bahasa erat kaitannya dengan logika dan mantiq (pemikiran).

Sebelumnya dalam kesusastraan Melayu belum pernah muncul gaya penulisan sebagaimana Hamzah Fansuri, di zamannya tidak ada yang mampu menandinginya. Karya-karyanya telah berpengaruh besar dalam gaya dan tema terhadap sastra Melayu baik pada zamannya maupun setelahnya.

Selain menulis dalam bahasa Melayu Hamzah Fansuri juga melahirkan karya dalam ilmu Tasawuf dan keagamaan dalam bahasa Arab, disebutkan dalam sejarah Melayu seperti Durrul Manzum (Benang Mutiara) dan Al-Sayful Qati (Pedang Tajam).

Kerja keras Hamzah Fansuri membuatnya dijuluki sebagai Bapak perintis sejarah, bahasa dan sastra Melayu.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Abdul Hadi W.M dkk; Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh; Penerbit Lotkala; Jakarta.
  2. Edwar Djamaris dkk; Hamzah Fansuri dan Nurrudin Ar-Raniri; Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan; Jakarta; tahun 1995/1996;
  3. Muliadi Kurdi; Hamzah Fansuri Ulama Aceh Terkenal dalam Kealiman dan Kesufiaan; Penerbit Lembaga Naskah Aceh (NASA); Banda Aceh; Cetakan Pertama; tahun 2013;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  2. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  3. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  4. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  5. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  6. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  7. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  8. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  9. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  10. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  11. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  12. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  13. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  14. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  15. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  16. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  17. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  18. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  19. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  20. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  21. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  22. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  23. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  24. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  25. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  26. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  27. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  28. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  29. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  30. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  31. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  32. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  33. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  34. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  35. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  36. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  37. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  38. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  39. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  40. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  41. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  42. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  43. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  44. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  45. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  46. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  47. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  48. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  49. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  50. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  51. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  52. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  53. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  54. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  55. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  56. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  57. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  58. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  59. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Reportase | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Komentar

MENJELANG PARUH BAYA

Kelas 2-8 Smuntig Banda Aceh tahun 2001 di Pantai Babah Dua Lampuuk

Kelas 2-8 Smuntig Banda Aceh tahun 2001 di Pantai Babah Dua Lampuuk.

MENJELANG PARUH BAYA

Berapa usia manusia sudah hidup di muka bumi ini? Katakanlah sudah 10.000 tahun, dalam rangka waktu tersebut belumlah ada tulang jenis baru tumbuh pada badan manusia. Begitu juga kodrat dasar manusia secara umum selalu sama; Dilahirkan, lelah dan kemudian meninggal. Sebuah tema lama, tentu dengan berbagai variasi baru. Selalu berulang.

(Baca: Pengulangan Sejarah)

Beberapa tahun lagi dari sekarang Abu akan memasuki usia 40, usia paruh baya sebuah tahapan yang harus dilalui sebelum menjadi tua. Berat badan tak lagi ramping, meski berusaha untuk tetap berolahraga akan tetapi jarum timbangan (tetap) menuju ke kanan. Pada sisi lain pekerjaan semakin hari semakin menyita waktu, jarang ada waktu luang untuk berpikir secara filosofis. Melukis, berpuisi telah lama terhenti.

Pada sisi lain buku-buku di perpustakaan semakin hari semakin bertambah, kemampuan dan waktu membaca semakin menurun. Padahal masa muda belum begitu jauh, semangat yang menyala belum padam seutuhnya. Lalu Abu menyadari telah menjelang paruh baya.

Betapa membosankan percakapan orang-orang (menjelang) paruh baya. Ada yang membikin tegang seperti kemungkinan penyakit yang timbul pada usia segitu, membicarakan kenalan yang sakit atau meninggal. Ketika para bapak-bapak berkumpul bersama pada umumnya Abu mengantuk mendengarkan percakapan mereka. Akh, tidak menyenangkan lagi pembicaraan ini.

Mungkin Abu yang telah jauh berubah atau orang-orang yang berubah. Tiada lagi omong kosong yang mengasyikkan yang dalam keadaan sulit memberikan harapan yang menyenangkan. Pada akhirnya hanya membicarakan ekonomi mikro sebuah ilmu yang muram.

Ketika humor garing khas bapak-bapak dilontarkan, Abu tertawa sekaligus bersedih, mengantuk tapi tetap ingin terjaga. Akh, mungkin memang dunia seperti itu adanya. Perasaan rindu yang kerap hadir ketika mengenang masa kecil. Ada banyak perasaan senang dan tawanya, sekaligus sedih. Sayangnya mengingat adalah menafsirkan masa lalu, sudah tentu kita tak akan bisa (lagi) kembali ke masa lalu untuk mencocokkan tafsir kita dengan masa lalu itu sendiri.

(Baca: Makna Nostagia)

Teman-teman dulu, sewaktu kecil sekarang menjadi berbagai macam orang. Ada yang luar biasa, sukses makmur dan bahagia, ada juga yang kesusahan. Ada yang sehat, awet muda dan ada pula yang kegemukan, sakit-sakitan. Ada pula yang telah pergi selamanya. Karena berbagai penyebab bisa timbul. Hidup bisa sangat rapuh dan waktu betapa singkatnya.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Dipublikasi di Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

ABU NAWAS MENASEHATI RAJA

Kedermawanan dan kemegahan keluarga al-Barmaki pada masa puncak kejayaan

Kedermawanan dan kemegahan keluarga al-Barmaki pada masa puncak kejayaan.

ABU NAWAS MENASEHATI RAJA

Tatkala sayap-sayap elang terpangkas, sebilah belati ditikamkan ke jantungnya.

Sejarah dan berbagai legenda menceritakan bahwa zaman keemasan Baghdad terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dengan menjadi pusat dunia dengan tingkat kemakmuran luar biasa. Saat itu Baghdad menjadi “kota yang tiada bandingannya di seluruh dunia”. Ini adalah masa-masa ketika khalifah belum teracuni oleh kebudayaan Persia, semakin tenggelam di tengah harem-haremnya. Begitulah hikayat bercerita.

Abu Nawas menjadi teman setia ar-Rasyid, dan pengawalnya dalam berbagai petualangan di malam hari. Apakah menjadi teman dekat raja itu menyenangkan? Belum tentu! Kadang kala ketika merasa sangat dekat kita merasa raja itu adalah seorang teman biasa, dan melupakan bahwa dia adalah raja. Seorang raja dengan kekuasaannya bisa sangat kejam, ada pepatah yang mengatakan, “Tuhan jauh, raja dekat.” Sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun dan menerima taubat, sedang raja tidak. Maka berhati-hatilah, jika tidak tragedi keluarga Barmaki akan berulang.

Tragedi keluarga Barmaki

Tragedi keluarga Barmaki merupakan catatan hitam dalam sejarah khalifah Harun ar-Rayid. Bermula sejak Khalid bin Barmak diangkat menjadi wazir (perdana menteri), pengaruh keluarga ini semakin bertambah besar dalam pemerintah dinasti Abbasiyah. Putranya Yahya bin Khalid al-Barmaki menjabat sebagai wazir pada masa khalifah al-Mahdi dan al-Hadi. Cucunya Jafar bin Yahya al-Barmaki menjabat wazir pada masa khalifah Harun ar-Rasyid, saudara Yahya yaitu Fadhl bin Yahya menjabat sebagai wali (gubernur) Azerbaijan. Kedudukan tersebut membuat kekayaan keluarga Barmaki melimpah dengan kemegahan dan kekayaan yang nyaris menandingi khalifah. Keluarga Barmaki, terutama Jafar memiliki hubungan dekat dengan khalifah ar-Rasyid, mereka membantu dan menjalankan pemerintahan secara baik. Sejarawan menyebut mereka sebagai bunga bagi seluruh dinasti Abbasiyah dengan memimpin pasukan, menaklukkan musuh-musuh dan mempertahankan kedaulatan dinasti.

Keluarga Barmaki membangun istana di sebelah timur Baghdad. Istana Jafar, “al-Ja’fari” menjadi kediaman utama dari sejumlah istana yang dibangun. Berbagai bangunan berdiri di tepi sungai Tigris. Mereka terkenal dengan kedermawanannya, di negeri-negeri Arab, kata barmaki menjadi sinonim kata dermawan dan ungkapan “sedermawan Jafar” menjadi peribahasa yang dikenal luas. Jafar sendiri bersahabat dekat dengan Harun ar-Rasyid.

Sampai pada suatu hari khalifah Harun ar-Rasyid memerintahkan pembunuhan atas Jafar bin Yahya selaku kepala keluarga itu dan yang lainnya dimasukkan ke dalam penjara. Istana mereka di hancurkan dan seluruh harta disita. Kejadian pemusnahan keluarga Barmaki pada tahun 802 Masehi itu terjadi dengan sebab-sebab yang tidak jelas.

Eksekusi Jafar bin Yahya al-Barmaki atas suruhan Khalifah Harun ar-Rasyid

Eksekusi Jafar bin Yahya al-Barmaki atas suruhan Khalifah Harun ar-Rasyid.

Salah satu dugaan penyebab tragedi keluarga Barmaki adalah karena Jafar telah menyinggung khalifah. Kepala Jafar dibawa kehadapan khalifah kemudian jasadnya dipotong tiga kemudian kepala dan tiga potongan kepalanya digantung di jembatan sungai Tigris. Selain jangan pernah menyingung raja, kejadian ini memberikan kita pelajaran lain yang sangat penting mengapa tradisi hukum islam dibentuk oleh ulama dan ahli hukum fiqih. Kita tidak bisa membayangkan jika para raja menciptakan hukum yang menjadi tradisi yang harus kita ikuti.

Pengaruh Filsafat Yunani

Dahulu kala bangsa Yunani memahami nilai dari waktu senggang, mereka mengurangi tugas sampai sekecil mungkin dengan hidup dalam lingkungan yang luar biasa sederhana. Mereka terbiasa berdiskusi tidak hanya untuk urusan sehari-hari, seperti perlu tidaknya menaikkan pajak dalam rapat umum. Mereka bahkan mempelajari hal-ikhwal alam semesta. Orang-orang Yunani lebih dahulu suka memikirkan persoalan, dari bahan apa dunia ini tersusun, dan apa yang menjadi penyebab segala kejadian dan peristiwa. Kegiatan berpikir seperti itu dinamakan filsafat.

Pada masa dinasti Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani belum terlihat karena penguasa Ummayyah lebih tertuju kepada kebudayaan Arab. Pengaruh ini mulai masuk pada dinasti Abbasiyah melalui orang-orang Persia yang memiliki jabatan dan peranan penting dalam struktur pemerintahan. Para khalifah pada mulanya hanya tertarik pada ilmu kedokteran dan pengobatan, tapi kemudian tertarik pada filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Itu semua tidak terlepas dari adanya usaha penerjemahan buku-buku Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Kelak ini akan melahirkan ilmu filsafat Islam.

Pertanyaan sang khalifah

Cerita diatas adalah fakta sejarah, selanjutnya adalah sahibul hikayat.

Pemikiran bisa jadi sangat bebas, melayang di angkasa. Pada suatu hari khalifah Harun ar-Rasyid ketika merenung, berpikir kemudian bertanya-tanya kepada dirinya. “Sedang apakah Allah saat ini?” Segera dia bertanya kepada pada ulama istana.  Para ulama istana terdiam, tidak berani menjawab. Meskipun ulama istana mereka tidak berani menjawab sesuatu yang dilarang oleh ilmu tauhid.

Khalifah kemudian bertanya, “jika kalian tidak sanggup menjawab maka siapakah yang bisa menjawabnya?”

Para ulama istana lagi-lagi terdiam, tidak mungkin mereka mengorbankan seorang ulama non-istana untuk menjawabnya. Meskipun mereka bergaji dari khalifah tapi hati nurani masih ada. Jika mereka memberikan jawaban yang salah bisa berbahaya, seperti Haman yang menasehati Firaun.

Tidak semua pertanyaan harus dijawab, tidak semua komentar perlu ditanggapi. Tapi raja tidak bisa diabaikan, jika diabaikan maka raja marah. “Aku beri waktu tiga hari kepada kalian untuk menjawab! Atau carikan orang yang bisa menjawabnya! Jika tidak kalian semua akan aku hukum!”

Abu Nawas adalah solusi

Kemudian mereka berembuk siapa yang bisa menjawabnya. Seseorang dengan kualitas ilmu mumpuni, mampu menyusun kata yang tidak menyinggung hati khalifah sekaligus tidak melanggar kaidah ilmu tauhid. Kalau diserahkan kepada seorang yang tidak diplomatis maka akan mengundang bencana. Sulit memang mencari jawaban tengah untuk pertanyaan khalifah, karena dalam Islam dilarang untuk memikirkan zat Allah melainkan diperintahkan merenungi ciptaan-Nya. Disitulah ditemukan keimanan.

Sampai pada suatu saat seseorang di antara mereka berkata, “bagaimana jika kita suruh Abu Nawas yang menjawabnya?”

Abu Nawas mampu membawa humor, celah yang menyela diantara kedapnya keyakinan dan angkuhnya sebuah kekuasaan besar. Kepandirannya boleh diharapkan untuk menangkis fantasi yang menyimpang.

“Benar sekali kita jemput Abu Nawas tapi jangan sampai pertanyaan ini bocor kepadanya. Kalau sampai dia tahu pertanyaan khalifah ini, dia akan melarikan diri ke Damaskus sesegera mungkin.” Dan mereka sepakat.

Abu Nawas menjawab rahasia Ketuhanan

Segera Abu Nawas dihadapkan kepada khalifah Harun ar-Rasyid. Sang raja terkejut yang dihadapkan kepadanya adalah seorang badut untuk ditertawakan. Ia memandanginya dengan tak serius. “Jadi kamu yang bisa menjawab pertanyaanku?”

Abu Nawas memandangi ke kiri kanan, pertanyaan apa? Pikirnya, sialan aku dikerjai. Tapi dasar Abu Nawas tak memandangi resiko ia malah berkata, “tidak ada teka-teki sukar yang tidak dapat hamba pecahkan paduka!”

Teka-teki apa? Tapi hasrat Harun ar-Rasyid sedang membuncah untuk mengetahui jawaban pertanyaannya. “Baiklah kalau begitu jawab pertanyaannya! Sedang apakah Allah saat ini?”

Abu Nawas terdiam sesaat. Apa-apaan pertanyaan ini? Lagi-lagi dia melihat ke kiri-kanan seraya menunjuk para ulama istana. “Mereka tidak menjawabnya paduka?”

Raja menggeleng dan para ulama istana pucat pasi.

Abu Nawas menarik nafas, dan membuka topinya kemudian menggaruk-garuk kepalanya, berpikir. “Ini adalah rahasia Ketuhanan paduka.”

“Kalaupun rahasia beritahukan kepadaku!”

“Begini tuanku, sebenarnya mereka sudah tahu jawabannya. Tapi syarat mengetahui rahasia Ketuhanan ini sangat berat. Mungkin mereka takut kepada paduka sehingga tidak berani mengutarakannya.”

Kening raja berkerut. “Katakan padaku apa syaratnya!”

“Hamba takut paduka marah.”

“Aku janji tidak akan marah.”

“Syaratnya berat paduka. Sangat berat.”

“Kamu pikir aku tidak mampu?”

“Mampu paduka, tapi berat paduka sebaiknya jangan.”

“Katakan kepadaku.”

“Janji paduka tidak marah?”

“Janji!”

“Syaratnya kita harus bertukar tempat paduka. Baru bisa hamba katakan jawabannya.”

“Maksudmu?”

“Hamba duduk di singgasana, paduka berdiri ditempat hamba sekarang.”

Harun ar-Rasyid terdiam, tapi rasa ingin tahunya malah semakin menggelegak. “Baiklah!” Ia turun dari singgasananya dan mendorong Abu Nawas duduk disana.

Abu Nawas duduk dengan canggung, celingak celingguk, “Benar paduka ingin tahu Allah sedang apa saat ini?”

Harun ar-Rasyid mengangguk.

Maka Abu Nawas menjawab. “Allah dengan kekuasaan-Nya saat ini menjadikan Abu Nawas sebagai seorang raja dan Harun ar-Rasyid sebagai rakyat biasa.”

Suasana balairung istana sunyi, seolah malaikat lewat. Suasana mencekam.

Tiba-tiba Harun ar-Rasyid tertawa terpingkal-pingkal. “Kamu lucu Abu Nawas, tapi kamu benar. Pengawal ambilkan sekantong emas dari bendahara berikan kepada Abu Nawas.” Segera seorang pengawal pergi dari ruangan itu melaksanakan perintah raja.

Abu Nawas pun turun dari singgasana dan Harun ar-Rasyid naik kembali ke atas tahta. Menerima hadiah Abu Nawas pun pulang dengan riang gembira.

Abu Nawas menasehati sang raja

“Kami pikir kamu tidak lucu tadi Abu Nawas, kenapa raja tertawa?” Tanya seorang teman yang menyaksikan kejadian tersebut.

“Kamu tidak tahu pikiran sang raja. Lebih baik kata-kata yang tadi dianggap lucu daripada sebagai ancaman. Keluarga Barmaki selalu menasehati kebaikan tapi dimusnahkan oleh raja, nasehatku tadi dianggap lucu karena itu aku selamat.” Kata Abu Nawas.

“Memang itu tadi nasehat?”

Abu Nawas memandangi temannya. “Tentu itu tadi nasehat kawan. Allah dengan segala kekuasaan-Nya bebas berkehendak. IA berhak mencabut kerajaan siapapun, seketika dan tanpa ampun. Atau membiarkan seseorang berkuasa!”

Kawan Abu Nawas kemudian bergumam, “untung juga nasehatmu tadi dianggap lucu ya.”

“Untuk itu bersyukur kepada Allah S.W.T. Sedari tadi.” Mereka pun tertawa.

Abu Nawas menghadirkan politik lelucon, humor yang terasa dekat, bahagia secara akrab disaat waktu terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Hadir menampilkan ironi, membuka pintu arif tak heran ia menjangkau siapa saja.

XXX

Berbagai opini :

  1. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  2. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  3. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  4. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
  5. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  6. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  7. Filosofi Gob; 10 Oktober 2011;
  8. Makna Puisi Yang Hilang; 5 Januari 2011
  9. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  10. Kebenaran Yang Samar; 28 Februari 2013;
  11. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013;
  12. Misi Mencari Abu Nawas; 7 Maret 2016;
  13. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  14. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  15. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

LEGENDA ASAL MULA GUNUNG GEURUTEE

Segelas Kopi di puncak gunung Geurutee (Pesisir Barat Aceh)

LEGENDA ASAL MULA GUNUNG GEURUTEE

Gunung Geurutee sebagai tempat wisata

Gunung Geurutee menjadi lintasan nasional menuju kawasan barat selatan Aceh, kaki gunungnya merupakan perbatasan alami kabupaten Aceh Jaya dan kabupaten Aceh Besar sekitar 60 kilometer dari arah kota Banda Aceh atau sekitar satu setengah jam dari kota Banda Aceh. Gunung ini memiliki jurang yang sangat dalam dan langsung berbatasan dengan bibir pantai Samudera Hindia.

Ciri khas gunung Geurutee adalah memiliki komposisi batu yang lebih besar dibandingkan gunung-gunung lain yang sebelumnya dilewati dari arah Banda Aceh, yaitu gunung Paro dan gunung Kulu. Ada sebuah monument berbentuk runcing sebagai tanda pengunjung berada pada posisi pendakian tertinggi gunung tersebut. Kerap ditemukan berbagai fosil biota laut di puncak gunung Geurutee seperti kulit kerang sehingga diperkirakan gunung ini awalnya adalah lautan.

Gunung ini pun tidak bisa dilewati melalui bagian atasnya sehingga harus dilalui melalui sampingnya. Dahulu kala orang-orang Aceh merupakan bangsa bahari sehingga perjalanan lebih menggunakan kapal laut. Gunung Geurutee tidak bisa ditembus melalui perjalanan darat sampai pemerintah kolonial Belanda membuat jalan pada sisinya. Akibat luasnya gunung Geurutee dan mahalnya biaya menghancurkan batu-batu gunung ini, masyarakat pesisir barat Aceh mengatakan bahwa Belanda sempat kehabisan uang untuk membangun jalan tersebut.

Panorama dari gunung Geurutee terlihat sangat indah, dari tempat ini wisatawan dapat melihat hamparan lautan yang membiru serta gugusan pulau-pulau kecil yang tampak kehijauan dari kejauhan. Terlihat barisan pantai dengan pasir putih jernih yang mengelilingi pulau-pulau eksotis tersebut. Ada banyak warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman, udara sejuk berasal dari angin lautan terasa nikmat seraya minimum segelas kopi robusta Aceh atau kelapa muda. Apalagi sering terlihat monyet-monyet yang berkeliaran menunggu pemberian makanan oleh wisatawan. Tidak perlu khawatir karena monyet-monyet tersebut terbiasa berinteraksi dengan manusia. Terdapat pula masjid kecil bagi muslim untuk beribadah.

Legenda gunung Geurutee

Di masa penulis kecil, bilamana orang-orang tua duduk di balai dan meunasah (langgar), atau pada satu pertemuan yang patut pada masa itu. Penulis mendengarkan riwayat kuno. Ada banyak legenda yang penulis dengar dari orang-orang tua yang pandai meriwayatkan cerita kuno (mitos) tesebut salah satunya yang masih penulis ingat adalah legenda gunung Geurutee.

Dahulu kala di hulu Krueng Daya (sungai Daya) ada sebuah dusun yang bernama Lhan Na yang sekarang disebut dengan Lamno. Awalnya dusun ini didiami oleh orang-orang liar belum beragama. Mereka itu diduga berasal dari bangsa lanun, orang Aceh menyebut “lhan”, atau bangsa Samang yang datang dari semenanjung Malaka atau dari Hindia Belakang, negeri Burma dan Champa, yang mungkin ada hubungan dengan bangsa Mongolia yang datang melalui kaki gunung Himalaya.

Kemudian penghuni di hulu sungai Daya itu bercampur dengan orang-orang yang baru datang ke situ, karena percampuran ini peradabannya bertambah maju. Setelah itu datang orang-orang dari Aceh dan Pasai sehingga Raja masuk islam, dan kemudian berangsur-angsur orang-orang liar itu semua masuk Islam. Sejak itulah orang-orang di pesisir negeri Daya menganut agama Islam.

Kisah ini konon terjadi pada masa peralihan. Pada masa itu hiduplah sepasang suami istri di negeri Daya, penghidupan mereka biasa-biasa saja sebagai nelayan. Sampai pada suatu hari si suami merasa harus mencari penghidupan yang lebih baik, ia meminta izin dari istrinya untuk merantau ke Aceh (Banda Aceh sekarang).

Sang Istri merasa keberatan dan mengemukakan alasan, “bukankah kehidupan kita di sini tidak kekurangan satu apapun, mengapa harus merantau?”

Akan tetapi si suami bersikeras dan berjanji akan segera kembali ketika perantauannya telah mendapatkan hasil. Istrinya akhirnya melunak dan mengizinkan suaminya merantau ke Aceh yang berada di utara negeri Daya, waktu itu gunung Geurutee belum ada sehingga perjalanan darat dapat ditempuh.

Orang-orang tua yang meriwayatkan tidak menjelaskan berapa lama si suami merantau. Pastinya telah cukup lama sehingga istrinya merasa kesal dan menggerutu. Setiap hari dia menggerutu menunggu sang suami pulang sampai pada suatu hari pada puncak kekesalannya dia berkata. “Jika dia tidak pulang segera maka biarlah dia tidak bisa pulang sekalian!” Kata-katanya didengarkan oleh orang banyak.

Tak lama kemudian bumi bergoncang keras, dari laut muncullah batu besar yang semakin besar dan menutupi jalan antara kerajaan Daya dengan kerajaan Aceh, hal ini mengakibatkan sang suami ketika pulang tidak bisa lagi pulang melalui jalan tersebut.

Oleh karena itu orang-orang Daya menyebut nama gunung tersebut dengan Geureutee yang artinya gerutu. Meskipun berada satu kawasan dengan gunung Hulumasen yang berada pada gugusan pengunungan Bukit Barisan akan tetapi gunung Geurutee benar-benar terpisah dan tersendiri. Gunung Geurutee sendiri memiliki kontur alam yang benar-benar berbeda dengan seluruh gunung di Aceh dan Sumatera.

Ternyata di balik keberadaan gunung Geurutee yang gagah, pemandangan lanskap yang sempurna. Ada sebuah legenda, kisah cinta yang terpisah jarak, rasa putus asa, tentang rindu yang tak tersampaikan, sampai perasaan dianiaya. Memberikan kita pelajaran yang berharga, selama kau percaya ada pemandangan indah yang menantimu di atas, maka kau akan sanggup melewati tanjakan. Bahwa ada alasan bagi kita menelusuri tanjakan itu, karena ada kebahagiaan yang menanti di sana.

*DISCLAIMER Legenda atau pun mitos ini diterima oleh penulis secara lisan dan dituliskan kembali. Apabila di masyarakat terdapat perbedaan tentang detil ceritanya penulis menyatakan bisa jadi apa yang anda dengar lebih benar dari cerita ini, begitupun sebaliknya.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  2. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  3. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  4. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  5. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  6. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  7. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  8. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  9. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  10. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  11. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  12. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  13. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  14. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  15. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  16. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  17. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  18. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  19. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  20. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  21. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  22. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  23. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  24. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  25. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  26. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  27. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  28. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  29. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  30. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  31. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  32. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  33. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  34. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  35. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  36. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  37. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  38. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  39. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  40. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  41. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  42. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  43. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  44. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  45. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  46. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  47. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  48. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  49. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  50. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  51. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  52. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  53. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  54. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  55. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  56. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  57. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  58. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  59. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Reportase | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 30 Komentar