LEGENDA ASAL MULA GUNUNG GEURUTEE

Segelas Kopi di puncak gunung Geurutee (Pesisir Barat Aceh)

LEGENDA ASAL MULA GUNUNG GEURUTEE

Gunung Geurutee sebagai tempat wisata

Gunung Geurutee menjadi lintasan nasional menuju kawasan barat selatan Aceh, kaki gunungnya merupakan perbatasan alami kabupaten Aceh Jaya dan kabupaten Aceh Besar sekitar 60 kilometer dari arah kota Banda Aceh atau sekitar satu setengah jam dari kota Banda Aceh. Gunung ini memiliki jurang yang sangat dalam dan langsung berbatasan dengan bibir pantai Samudera Hindia.

Ciri khas gunung Geurutee adalah memiliki komposisi batu yang lebih besar dibandingkan gunung-gunung lain yang sebelumnya dilewati dari arah Banda Aceh, yaitu gunung Paro dan gunung Kulu. Ada sebuah monument berbentuk runcing sebagai tanda pengunjung berada pada posisi pendakian tertinggi gunung tersebut. Kerap ditemukan berbagai fosil biota laut di puncak gunung Geurutee seperti kulit kerang sehingga diperkirakan gunung ini awalnya adalah lautan.

Gunung ini pun tidak bisa dilewati melalui bagian atasnya sehingga harus dilalui melalui sampingnya. Dahulu kala orang-orang Aceh merupakan bangsa bahari sehingga perjalanan lebih menggunakan kapal laut. Gunung Geurutee tidak bisa ditembus melalui perjalanan darat sampai pemerintah kolonial Belanda membuat jalan pada sisinya. Akibat luasnya gunung Geurutee dan mahalnya biaya menghancurkan batu-batu gunung ini, masyarakat pesisir barat Aceh mengatakan bahwa Belanda sempat kehabisan uang untuk membangun jalan tersebut.

Panorama dari gunung Geurutee terlihat sangat indah, dari tempat ini wisatawan dapat melihat hamparan lautan yang membiru serta gugusan pulau-pulau kecil yang tampak kehijauan dari kejauhan. Terlihat barisan pantai dengan pasir putih jernih yang mengelilingi pulau-pulau eksotis tersebut. Ada banyak warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman, udara sejuk berasal dari angin lautan terasa nikmat seraya minimum segelas kopi robusta Aceh atau kelapa muda. Apalagi sering terlihat monyet-monyet yang berkeliaran menunggu pemberian makanan oleh wisatawan. Tidak perlu khawatir karena monyet-monyet tersebut terbiasa berinteraksi dengan manusia. Terdapat pula masjid kecil bagi muslim untuk beribadah.

Legenda gunung Geurutee

Di masa penulis kecil, bilamana orang-orang tua duduk di balai dan meunasah (langgar), atau pada satu pertemuan yang patut pada masa itu. Penulis mendengarkan riwayat kuno. Ada banyak legenda yang penulis dengar dari orang-orang tua yang pandai meriwayatkan cerita kuno (mitos) tesebut salah satunya yang masih penulis ingat adalah legenda gunung Geurutee.

Dahulu kala di hulu Krueng Daya (sungai Daya) ada sebuah dusun yang bernama Lhan Na yang sekarang disebut dengan Lamno. Awalnya dusun ini didiami oleh orang-orang liar belum beragama. Mereka itu diduga berasal dari bangsa lanun, orang Aceh menyebut “lhan”, atau bangsa Samang yang datang dari semenanjung Malaka atau dari Hindia Belakang, negeri Burma dan Champa, yang mungkin ada hubungan dengan bangsa Mongolia yang datang melalui kaki gunung Himalaya.

Kemudian penghuni di hulu sungai Daya itu bercampur dengan orang-orang yang baru datang ke situ, karena percampuran ini peradabannya bertambah maju. Setelah itu datang orang-orang dari Aceh dan Pasai sehingga Raja masuk islam, dan kemudian berangsur-angsur orang-orang liar itu semua masuk Islam. Sejak itulah orang-orang di pesisir negeri Daya menganut agama Islam.

Kisah ini konon terjadi pada masa peralihan. Pada masa itu hiduplah sepasang suami istri di negeri Daya, penghidupan mereka biasa-biasa saja sebagai nelayan. Sampai pada suatu hari si suami merasa harus mencari penghidupan yang lebih baik, ia meminta izin dari istrinya untuk merantau ke Aceh (Banda Aceh sekarang).

Sang Istri merasa keberatan dan mengemukakan alasan, “bukankah kehidupan kita di sini tidak kekurangan satu apapun, mengapa harus merantau?”

Akan tetapi si suami bersikeras dan berjanji akan segera kembali ketika perantauannya telah mendapatkan hasil. Istrinya akhirnya melunak dan mengizinkan suaminya merantau ke Aceh yang berada di utara negeri Daya, waktu itu gunung Geurutee belum ada sehingga perjalanan darat dapat ditempuh.

Orang-orang tua yang meriwayatkan tidak menjelaskan berapa lama si suami merantau. Pastinya telah cukup lama sehingga istrinya merasa kesal dan menggerutu. Setiap hari dia menggerutu menunggu sang suami pulang sampai pada suatu hari pada puncak kekesalannya dia berkata. “Jika dia tidak pulang segera maka biarlah dia tidak bisa pulang sekalian!” Kata-katanya didengarkan oleh orang banyak.

Tak lama kemudian bumi bergoncang keras, dari laut muncullah batu besar yang semakin besar dan menutupi jalan antara kerajaan Daya dengan kerajaan Aceh, hal ini mengakibatkan sang suami ketika pulang tidak bisa lagi pulang melalui jalan tersebut.

Oleh karena itu orang-orang Daya menyebut nama gunung tersebut dengan Geureutee yang artinya gerutu. Meskipun berada satu kawasan dengan gunung Hulumasen yang berada pada gugusan pengunungan Bukit Barisan akan tetapi gunung Geurutee benar-benar terpisah dan tersendiri. Gunung Geurutee sendiri memiliki kontur alam yang benar-benar berbeda dengan seluruh gunung di Aceh dan Sumatera.

Ternyata di balik keberadaan gunung Geurutee yang gagah, pemandangan lanskap yang sempurna. Ada sebuah legenda, kisah cinta yang terpisah jarak, rasa putus asa, tentang rindu yang tak tersampaikan, sampai perasaan dianiaya. Memberikan kita pelajaran yang berharga, selama kau percaya ada pemandangan indah yang menantimu di atas, maka kau akan sanggup melewati tanjakan. Bahwa ada alasan bagi kita menelusuri tanjakan itu, karena ada kebahagiaan yang menanti di sana.

*DISCLAIMER Legenda atau pun mitos ini diterima oleh penulis secara lisan dan dituliskan kembali. Apabila di masyarakat terdapat perbedaan tentang detil ceritanya penulis menyatakan bisa jadi apa yang anda dengar lebih benar dari cerita ini, begitupun sebaliknya.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  2. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  3. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  4. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  5. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  6. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  7. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  8. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  9. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  10. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  11. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  12. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  13. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  14. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  15. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  16. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  17. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  18. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  19. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  20. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  21. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  22. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  23. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  24. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  25. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  26. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  27. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  28. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  29. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  30. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  31. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  32. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  33. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  34. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  35. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  36. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  37. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  38. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  39. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  40. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  41. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  42. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  43. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  44. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  45. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  46. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  47. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  48. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  49. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  50. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  51. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  52. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  53. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  54. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  55. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  56. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  57. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  58. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  59. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Reportase | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 31 Komentar

LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU

Kawasan pantai Alue Naga

Kawasan pantai Alue Naga

LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU

Kota Banda Aceh dan sekitarnya ada beberapa tempat memiliki nama unik seperti kota Sabang, gunung Seulawah, kawasan Alue Naga dan pelabuhan Ulee Lheu. Segala sesuatu pasti memiliki asal mula dari sesuatu yang lebih tua ataupun kuno.

Sebelum tulisan ada masyarakat mengingat melalui cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi. Seiring dengan banyaknya generasi yang dilalui oleh cerita tersebut maka berkembanglah cerita tersebut sehingga menjadi legenda dan mitos. Ketika manusia akhirnya menemukan tulisan, tradisi oral tetap hidup selama berabad-abad kemudian.

Dahulu kala pulau Sumatera dikenal dengan nama Andalas namun sebelum itu juga memiliki nama yang lebih kuno yaitu pulau Perca. Di ujung paling utara pulau Perca tersebut terdapat sebuah kerajaan bernama kerajaan Alam, rajanya disebut dengan Mahkota Alam (Meukuta Alam) sedang ibu kotanya bernama Kota Alam (Kuta Alam). Ratusan atau ribuan tahun yang lalu bentang geografis belum seperti sekarang namun diperkirakan kerajaan Alam terletak diwilayah Banda Aceh dan Aceh Besar sekarang. Karena berada di ujung selat yang ramai maka kerajaan ini memperoleh kemakmuran dari perdagangan selain juga ditopang dengan pertanian.

Di sebelah timur kerajaan Alam dipisahkan oleh sebuah sungai terdapat sebuah kerajaan lain yang bernama kerajaan Pedir yang merupakan saingan kerajaan Alam diperkirakan letak kerajaan ini berada di kabupaten  Pidie sekarang. Persaingan dagang diantara kerajaan Alam dengan kerajaan Pedir membuat hubungan antara keduanya memanas terutama antara kapal-kapal perang mereka di laut maupun sungai yang memisahkan antara kedua kerajaan tersebut. Armada kapal kedua kerajaan ini seimbang, sama kuat.

Akan tetapi di daratan pasukan Alam lebih unggul dengan beberapa kali menyintas perbatasan kerajaan Pedir untuk melakukan gangguan. Pasukan kerajaan Pedir sendiri tidak bisa memasuki wilayah kerajaan Alam karena disisi sungai yang memisahkan kedua kerajaan tersebut hidup seorang naga sakti yang bernama Sabang. Naga tersebut juga merupakan sahabat dari Meukuta Alam, sehingga apabila ada pasukan Pedir yang mencoba melintasi sungai tersebut akan dihalau olehnya.

Raja Pedir merasa sangat kesal dengan keadaan tersebut sehingga memanggil penasehatnya. “Tuha apakah di negeri kita tidak ada jawara yang mampu mengalahkan naga Sabang?”

Penasehat raja Pedir terdiam. “Paduka yang mulia, naga Sabang adalah penjaga sungai besar yang memisahkan antara kerajaan kita. Kalau dia mati maka sungai menyatu yang mengakibatkan gelombang besar di selat, ada kemungkinan akan muncul ie beuna (tsunami). Naga itu adalah penjaga kesimbangan alam tuanku, sebaiknya tidak diganggu.”

“Aku tidak peduli, aku ingin menyerang kerajaan Alam!”

“Daulat tuanku, Kerajaan kita memiliki dua orang jagoan yang mampu menghadapi naga Sabang. Mereka adalah dua raksasa sangat sakti yang bernama Seulawah Agam (laki-laki) dan Seulawah Inong (perempuan).” Kata sang penasehat.

“Panggil mereka dan terbitkan SK supaya mereka mau bertempur demi bangsa dan tanah air!” Perintah raja Pedir. Tak lama kemudian urusan segera dibuat, kedua jagoan negeri Pedir itu pun menyatakan kesanggupannya menghadapi naga Sabang. Surat tantangan pun dikirimkan.

Mendapati surat tantangan tersebut naga Sabang merasa sedih. Kedua jagoan itu sangat sakti, Seulawah Inong merupakan raksasa perempuan yang sangat kuat dan memiliki tubuh lebih besar daripada pasangannya. Akan tetapi Seulawah Agam tak kalah sakti karena memiliki pedang geulanteu (petir). Ia menjumpai sahabatnya raja Alam dan berkata. “Mereka sangat kuat, aku khawatir akan kalah. Jika aku terbunuh maka sungai akan menyatu, bumi akan berguncang keras dan air laut akan surut, maka serulah rakyatmu berlari ke tempat yang tinggi karena akan datang ie beuna (tsunami), itu adalah gelombang sangat besar yang akan menyapu daratan.” Pesan sang naga.

Pada saat yang ditentukan, terjadilah pertarungan di perbatasan antara kerajaan Alam dan Kerajaan Pedir disaksikan oleh rakyat kedua kerajaan tersebut. Pertarungan 2 lawan 1 itu berjalan seimbang, naga Sabang beberapa kali menyakiti lawan-lawannya sedang ia juga terluka juga. Sampai pada satu kesempatan Seulawah Agam berhasil menebas pedangnya ke leher naga.

Kemudian Seulawah Inong mengangkat tubuh naga dan melemparkan tubuh naga itu sejauh-jauhnya ke arah utara melewati wilayah kerajaan Alam sampai ke tengah laut. Sejenak semua orang terdiam, kemudian raja Alam berteriak melambaikan tangan ke tubuh naga yang terbang melewati mereka. “Sabaaaaaang! Sabaaaang!” Kelak tubuh Sabang menjadi Pulau Weh atau dikenal juga dengan nama Pulau Sabang, titik nol Republik Indonesia pada bagian barat.

Foto Sabang terlihat dari udara. Guratan-guratan di punggungnya menyerupai tubuh sang Naga.

Foto Sabang terlihat dari udara. Guratan-guratan di punggungnya menyerupai tubuh sang Naga.

Kemudian Seulawah Agam melemparkan kepala naga Sabang kearah utara. Karena Seulawah Agam memiliki tubuh lebih kecil dibandingkan Seulawah Inong maka lemparannya tidak terlalu jauh dan jatuh di darat kerajaan Alam namun terus berguling membentuk sebuah alur dan berhenti di tepi pantai Utara kerajaan Alam. Lokasi alur bergulingnya kepala naga Sabang menjadi sungai yang pada muaranya itu kelak dikenal dengan nama Alue Naga (Alur naga). Kepala naga mencapai bibir pantai dan terbawa arus dan gelombang ke arah barat sampai akhirnya tersangkut pada wilayah daratan beberapa kilometer dari Alue Naga.

Pelabuhan Ulee Lheu yang menjadi tempat berlabuh kapal-kapal dari Sabang ke Banda Aceh tampak dari udara

Pelabuhan Ulee Lheu yang menjadi tempat berlabuh kapal-kapal dari Sabang ke Banda Aceh tampak dari udara

Raja Alam menangis dan memanggil-manggil sahabatnya. Maka berkatalah raja Pedir. “Wahai Meukuta Alam tidak usah kau panggil-panggil lagi naga itu! Dia sudah mati, kepalanya sudah terlepas!” Lokasi kepala naga tersebut kelak akan dinamai Ulee Lheut (Kepala terputus/copot). Dalam perjalanan waktu berubah menjadi Ulee Lheu, pada masa penjajahan Belanda karena mereka kesulitan menyebutkan kata (lidah bangsa Eropa) tersebut sehingga disebut dan ditulis menjadi Ulele dalam dokumen-dokumen kolonial.

Tak lama kemudian daratan antara kerajaan Alam dan kerajaan Pedir bergerak saling mendekat dan berbenturan sehingga terjadi gempa yang sangat keras, tanah bergoyang kesana kemari, tak ada yang mampu berdiri. Kedua raksasa Seulawah Agam dan Seulawah Inong pun terjatuh. Setelah gempa berhenti, air laut surut jauh sekali sehingga ikan-ikan bergelaparan di pantai. Rakyat kerajaan Pedir dan kerajaan Alam segera memungut ikan-ikan tersebut. Raja Alam teringat pesan sahabatnya mencoba memperingatkan orang-orang agar mencari dataran tinggi.

Gunung Seulawah Agam dan Seulawah Inong terlihat berdampingan tampak dari sisi Aceh Besar.

Gunung Seulawah Agam dan Seulawah Inong terlihat berdampingan tampak dari sisi Aceh Besar.

Tak lama kemudian datanglah gelombang yang sangat besar menyapu utara dari pulau Perca. Kedua raksasa sakti adalah yang pertama dihempas oleh gelombang besar tersebut, akibat hantaman tersebut ditambah luka-luka setelah pertarungan dengan naga Sabang, keduanya mati. Rumah-rumah hancur, hewan ternak mati bergelimpangan, sawah-sawah musnah dan kota hancur berantakan. Rakyat kedua kerajaan akhirnya berlari ke atas tubuh dua raksasa tersebut yang telah tewas untuk menyelamatkan diri. Tubuh kedua raksasa tersebut kelak menjadi gunung Seulawah Inong dan Seulawah Agam yang menjadi perbatasan alami antara kerajaan Alam dengan kerajaan Pedir. Di masa sekarang gunung-gunung tersebut menjadi perbatasan antara kabupaten Aceh Besar dan Pidie.

Akibat bencana besar yang terjadi pada kedua kerajaan tersebut, akhirnya kedua belah pihak menjadi sadar tidak ada gunanya berperang. Mungkin dalam kesengsaraan manusia bisa melihat segala sesuatu lebih jernih. Sejak hari itu terciptalah kedamaian antara kedua kerajaan tersebut, untuk melanggengkan keadaan tersebut diadakan perkawinan antara anggota kerajaan tersebut.  Kejadian tersebut meninggalkan bekas-bekasnya baik berupa laku, sikap sampai tempat-tempat yang masih dinamakan atas kejadian tersebut antara lain:

  1. Naga Sabang menjadi nama sebuah pulau/kota;
  2. Alue Naga (Alur Naga) adalah muara sungai dinama kepala Sabang berguling;
  3. Ulee Lheu (Kepala jatuh/copot) adalah lokasi dimana kepala naga Sabang berhenti;
  4. Seulawah Agam dan Seulawah Inong menjadi nama dua gunung utama di provinsi Aceh.

Nama-nama diatas ternyata memiliki riwayat yang panjang. Hikayat atau mitos ini kemudian menjadi warisan kebudayaan.  Hal ini berlangsung sampai kerajaan Aceh kelak berdiri dan sampai masa sekarang kerap terjadi pernikahan antara orang-orang di kabupaten Aceh Besar dengan kabupaten Pidie. Jika ada saling sindir atau senda antara orang-orang di kedua kabupaten tersebut sebenarnya adalah warisan ribuan tahun dari masa kerajaan Alam dengan kerajaan Pedir.

Apa yang kita lihat dimasa kini sebenarnya tertambat dengan masa lalu, itu sebabnya sebuah wiracarita tentang kegagahberanian masa lalu disusun dalam bentuk legenda. Ia berlebihan, agaknya ia punya hak untuk berlebihan. Apalagi pada hari-hari ini, hidup rutin sekarang ini tak bisa menampilkan hal-hal yang menakjubkan lagi.

*DISCLAIMER Legenda atau pun mitos ini diterima oleh penulis secara lisan dan dituliskan kembali. Apabila di masyarakat terdapat perbedaan tentang detil ceritanya penulis menyatakan bisa jadi apa yang anda dengar lebih benar dari cerita ini, begitupun sebaliknya.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  2. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  3. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  4. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  5. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  6. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  7. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  8. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  9. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  10. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  11. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  12. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  13. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  14. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  15. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  16. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  17. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  18. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  19. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  20. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  21. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  22. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  23. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  24. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  25. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  26. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  27. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  28. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  29. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  30. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  31. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  32. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  33. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  34. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  35. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  36. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  37. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  38. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  39. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  40. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  41. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  42. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  43. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  44. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  45. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  46. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  47. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  48. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  49. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  50. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  51. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  52. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  53. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  54. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  55. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  56. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  57. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  58. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  59. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Opini | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 30 Komentar

HAK ATAS WAKTU

Mega jingga di angkasa senja

HAK ATAS WAKTU

Pilihan baik itu dua, sabar atau syukur.

Tahun-tahun belakangan kita mengalami hal-hal yang tak terbayangkan, banyak hal baru bermunculan dan membatalkan teori yang berlaku umum sejak bergenerasi lalu telah hidup. Betapa hari ini menjadi sangat dinamis, sehebat apapun persiapan yang dilakukan, ada kalanya situasi berubah secara tiba-tiba. Dibutuhkan kecerdasan untuk menghadapi perubahan yang mendadak, bersamaan dibutuhkan keahlian yang mampu mengatasinya, kehidupan bersamaan dengan kematian.

Wahai Abu ceritakan tentang tsunami?

Tiga orang pemuda datang kepada Abu menanyakan kisah tsunami. Perasaaan kejadian itu baru terjadi kemarin, tapi kejadian itu terjadi tahun 2004 Facebook belum lahir, apalagi Intagram atau yang terbaru tiktok. Yahoo masih dominan, Youtube masih embrio. Konflik Aceh berdetak kencang. Perang adalah hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidup Abu. Merasakan penghinaan demi penghinaan sebagai orang sipil di tengah perang itu menyakitkan.

Konflik Aceh 1999-2004. Perang adalah hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidup.

Abu memandangi tiga pemuda itu, tahun ini (2020) akan masuk SMA, usia anak-anak yang akan masuk SMA tahun ini bahkan lebih muda dari pada motor Abu (Suzuki Shogun 125 tahun produksi 2005). 4 atau 5 tahun lagi mereka (mungkin) menjadi kritis, progresif dan membawa pikiran-pikiran baru yang tak dipikirkan oleh generasi Abu, kami yang  mungkin akan segera menjadi debu, itulah hak atas waktu.

Karena itulah Abu bercerita sedikit tentang kejadian Tsunami itu, sebagaimana kita tahu kejadian itu dicatat oleh sejarah, terdokumentasi dengan lumayan baik di media maupun digital. Abu bercerita sebagai penyintas yang membawa perasaan, pikiran (kenangan) yang tidak mungkin dirasakan oleh yang tidak mengalami.

Mendengar cerita Abu mereka tersenyum bahagia, senang kemudian pulang untuk kembali beraktivitas dengan android-nya. Aku terdiam, merenungi rintik-tintik hujan yang mengguyur Banda Aceh Mei 2020 (Ramadhan 1441 H) ini. Sebagai manusia yang lebih dahulu hidup dibanding mereka yang muda sudah seharusnya kita bercerita, usia mereka bukanlah minta nasehat, mereka sudah kenyang dengan nasehat dan motivasi.

Sejatinya mereka akan selalu menghadapi hal yang baru sebagaimana kita juga dalam hidup. Seperti COVID 19 atau Virus Corona adalah sesuatu yang tidak pernah kita jumpai atau rasakan sebelumnya. Ketika gerbang-gerbang perbatasan ditutup dan kontak fisik dibatasi, ternyata internet (bisa) menjadi solusi. Kerja dari rumah kini bukan lagi wacana. Selepas COVID 19, manusia tidak akan menjadi sama lagi dengan keadaan sebelumnya.

Manusia akil baliq perlu diajak berpikir tentang siapa mereka, dan keadaan masa lalu. Jika tidak mereka akan diinjeksi oleh pemikiran baru yang dibawa oleh penguasa zaman ini. Ketika generasi sebelumnya abai, pernah terjadi dalam sejarah negeri ini (dulu), sehingga tak mengherankan ada banyak orang dulu beralih ke agama kaum penjajah. Berpuluh-puluh tahun sebelum Abu lahir.

Generasi muda yang hidup hari ini dibanjiri oleh beragam informasi yang tidak terverifikasi. Dahulu ketika Abu berumur belasan tahun untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu harus ke perpustakaan atau menjumpai seorang ahli. Sekarang tinggal klik google akan mencarikan, ada yang benar tapi banyak pula yang salah. Media sosial dipenuhi iklan tentang pemikiran-pemikiran baru yang sayangnya banyak merusak, menggiring dan memecah belah. Ada kebaikan di dalamnya sebagaimana keburukan juga. Biarlah, itulah pertanda zaman ini, hak atas waktu (yang ini). Manusia-manusia (muda) ini juga bukan lembu yang mudah digiring ke kandang oleh gembala. Selayaknya mereka merdeka, sebagaimana sebaik-baiknya manusia.

Beberapa ekor lembu pulang dituntun oleh sang gembala.

Waktu berjalan perlahan dalam lintasan yang lurus, pasti dan terukur. Bersama itu ada catatan yang telah tertulis, ingatan yang membawa kenangan atas kebenaran dan kesalahan yang telah terjadi.

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu atas segala keburukan yang (pernah) aku perbuat.

XXX

Simak cerita lainnya di KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH TUJUH

Sampul permainan catur Toekoe Oemar, sebagai bentuk olok-olok Kolonial Belanda kepada (kelak) Pahlawan Nasional Teuku Umar

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH TUJUH

Ada juga setan berwajah tanpa dosa, yang tak sungkan memilih berbagai cara untuk menggapai tujuan hasratnya.

XXX

Keumala, akhir 1879.

Sehabis Isya aku meninggalkan istana Keumala.

Pantengong!1) Kemari!” Belum malam sekali, ketika dari balik pohon bambu seseorang dengan suara khas, sepertinya ku kenal memanggil. Benar saja, Umar anak Meulaboh. Untuk apa dia jauh-jauh main ke Keumala? Ia memberi isyarat agar aku mengikutinya, kami berjalan melalui tanah kuning naik ke atas bukit, kemudian di sana ada sebuah balai yang ditunggui pengikutnya, mereka membakar daging, dari aromanya mungkin rusa. Umar tersenyum dan mengajakku naik ke atas balai, aku mencuci kaki terlebih dahulu dengan mengambil air dari guci di dekat tangga.

Ia duduk kemudian mengeluarkan kaleng tembakaunya, melinting dengan daun nipah. Sekapur sirih dihidangkan oleh pengikutnya, ia terlihat sangat bahagia, sekaligus jahil. Ia memberikan lintingan tembakau kepadaku, lalu alisnya dinaikkan, terlihat jelas dari pelita. Senyumnya jahat.

Aku menampik, ada hukum tak tertulis di antara kaum kami, para lelaki dari barat. Jangan pernah mempercayakan lintingan tembakaumu kepada sejawat, sedekat apapun dengannya. Bisa saja sang kawan mencampurkan ganja agar teler sedikit (sial sedikit), atau rumput gajah agar mual-mual (sial menengah) atau paling tragis di selipkan, maaf bulu kemaluan barang 2-3 helai agar sang korban muntah-muntah (sial sesial-sialnya).

“Beta bisa melinting sendiri.” Aku duduk berhadapan dengannya, menarik kaleng tembakau, memastikan isinya, dan membalut sendiri. Dia tertawa nakal, menarik bokor sirih menyusunnya kemudian mengunyah. Dia membuang ke belakang lintingan tembakau yang awalnya akan diberikan kepadaku tanpa rasa bersalah, sambil mengunyah sirih dia melinting kembali untuk rokok untuknya sendiri. Sudah kuduga, paleh2) sekali si paleh ini.

Dia mengeluarkan rencong dari balik bajunya, meletakkan di lantai (sebuah pertanda bahwa menjumpai sahabat karib di Aceh masa itu), kemudian duduk bersandar di dinding balai kemudian menikmati tarikan tembakaunya. “Ambo sudah lama ingin bertemu beta.” Ia melemparkan pinang kepadaku sambil tertawa girang.

Aku menunjukkan wajah marah, sesungguhnya aku senang bertemu lagi dengannya, bahkan menikmati tindak tanduknya yang usil itu. Perangainya otentik, tidak bisa ditiru orang lain. Jika pun ada yang bermaksud meniru malah akan menjadi kobong. Bahasa bisa dibolak-balik olehnya, malahan sering ia sengaja untuk berkata salah-salah. Entah apa maksudnya.

“Umar sopan sedikit, beta lebih tua darimu.”

“Oh, maafkan silap serta khilaf ambo kakanda durjana.” Ia memberikan sikap tabik yang penuh kepura-puraan. “Tapi cobalah kakanda pikir, di Pasai dan di Samalanga ada orang yang mengaku-aku menjadi kakanda. Katanya panglima peranglah, katanya menjadi kapten perompak bukanlah pilihanku. Macam apa itu? Bahkan yang dari Pasai mengaku telah membunuh 57 orang kaphe!3) Padahal ambo saja sebagai salah satu orang yang telah berperang sejak awal baru mengirimkan 5 atau 7 kaphe ke neraka.” Tangan kanannya menunjuk jari 2 dan kiri jari 5.

“Andai ada 2 atau 3 orang kita Aceh yang mampu membunuh  sampai 57 orang kaphe. Mungkin kita sudah menangi perang.” Aku tertawa cekikan mendengar ceritanya.

Prasasti pada pintu menuju kompleks pemakaman Teuku Umar.

Akh, orang pesisir utara dan timur. Terlalu banyak cakapnya, lagaknya pejuanglah! Ambo tak suka mereka. Jika berbicara agama seolah wakil tuhan mereka, tembakaulah haram. Untuk orang lain, jika punya kesempatan candu ditekan olehnya. Katanya anti kaphe, begitu Belanda datang buru-buru bersujud dikaki mereka.” Umar merepet.

“Sepertinya ada yang sakit hati? Tapi kebencianmu kepada mereka tidak lebih besar daripada kepada Raja Teunomkan?” Aku tersenyum menggodanya, membandingkan dengan saingannya di wilayah barat, Imuem Muda.

Teuku Imum Muda, Raja Teunom (Tengah)

Cih, bahkan si gemuk raja Teunom itu. Yang merupakan satu-satunya orang gemuk di wilayah barat selatan sekalipun lebih aku hargai dibandingkan mereka. Raja Samalanga, Maharaja Lhokseumawe, Raja Idi, Raja Peureulak itu taik semua! Ambo tak habis pikir semudah itu mereka menyerah dan teken takluk. Cinta dunia dan takut mati. Terus mereka tidak khas, maunya meniru orang lain. Malu jadi diri sendiri, kakanda pula yang ditirunya? Tersinggung ambo.”

Akh, sudahlah tak penting sekali itu.” Ini Umar ada maunya, aku kenal dia. Hidupnya seperti sebuah lakon teatrikal, ada kala ia berucap a tapi maunya b, aku kenal tipu daya seperti ini. Akal Meulaboh kalau kata orang Aceh.

“Tapikan benteng Batee Iliek kan bagus. Belanda tidak bisa masuk ke Pidie selama benteng sebelah timur itu berdiri tegak, sementara kita aman disini.” Tambahku.

“Iya, tapi mereka terkunci di sana bertahan, 2 atau 3 kali serangan dengan bantuan meriam dari kapal-kapal besi di laut habis mereka, berani saja tidak cukup harus punya otak. Harusnya Pocut Meuligo menyerang, jangan bertahan saja. Hancur nanti. Harusnya seperti ambo, menyerang dari kiri kanan, ada kesempatan sergap kaphe di semak belukar. Bunuh terus si putih pada kesempatan pertama, belah dua kalau bisa karena kalau tak mati, 2 atau 3 bulan lagi dia sembuh, lalu lebih ganas.”

“Tiap-tiap orang memiliki jalan perjuangan masing-masing, tiada bisa kita perbandingkan si fulan dengan si fulanah, sesuka hati kita Umar.” Salah satu dari sekian banyak kehebatan Umar adalah mampu menjadikan kita lebih bijak ketika berbicara dengannya, ya sebenarnya itu adalah alur percakapan yang sudah dirancang oleh batinnya, secara alami bukan buatan. Sulit dicari tanding anak Meulaboh ini.

“Payah membunuh kaphe itu, kalau tak dicincang pasti sembuh. Tabib mereka luar biasa, entah darimana obatnya. Oh, memang kakanda sudah membunuh berapa kaphe?” Ia tersenyum nakal dan menaikkan alis.

Sesungguhnya membunuh bukan perkara mudah, tak semua orang siap batin untuk membunuh. Bahkan aku pun ketika membunuh merasa jiwaku terkoyak-koyak setiap kalinya. Tidak ada kenikmatan disitu, bahkan tidak ada kebanggaan membunuh. Meskipun dalam perang, meskipun terhadap musuh paling keji sekalipun. Aku sendiri terbawa mimpi buruk membayangkan keluarga musuh yang aku bunuh, istri dan anak yang kehilangan penyokong hidup. Meskipun bapak atau suami mereka datang ke negeri kami membawa senjata untuk menjajah.

“Ada sekitar 27 orang.” Jika aku menghitung berarti aku mendoakan mereka, meskipun ketika aku membunuh mereka ada kebencian yang menyala-nyala sekalipun.

Umar tertawa dan memukul-mukul lantai, “dasar pengaku-aku. Jadi tak benar kata kapitan arabasta atau yang mengaku menjadi kapten merompak bukan pilihanku yang mengaku telah membunuh 57 kaphe. Kapan Belanda sudah kesana? Medan perang disini. (Lokasi sebagian pertempuran Perang Aceh sampai 1879 mencakup kota Banda Aceh dan kabupaten Aceh Besar sekarang). Ambo saja jauh-jauh datang dari Meulaboh ingin perang disini.”

“Oh ya Umar buat apa datang jauh-jauh ke Keumala?” Tanyaku penasaran.

“Ambo datang memberikan hadiah kepada sultan, ada senapan, ada arloji, ada kotak yang dibuka keluar orang bernyanyi, ada koin-koin emas Belanda.” Ia tersenyum nakal dan menambahkan. “Sultan senang sekali barang-barang Belanda, ia hanya membenci orangnya, tapi tidak barangnya.”

“Dari mana kau dapat barang-barang itu? Dari hasil menjual lada atau menjual diri?” Umar punya banyak kebun lada di pesisir barat, tapi barang-barang itu sulit di dapat. Dari Inggris di Penang bisa didapatkan kalau dia berhasil menembus blokade Belanda tapi sangat sulit, orang-orang Portugis berani menyeludup ke Aceh tapi bukan barang mewah, biasanya senjata. Atau dari Belanda sendiri?

“Kakanda ini berkata sedikit, tapi menyakitkan. Jadi ketika seluruh pasukan Belanda bersiaga di masjid raya ketika peresmian kemarin, aku dan beberapa kawan-kawan yang sedang makan-makan itu.” Dia menunjuk para pengikutnya yang sedang menikmati makanan.

“Ambo dan kawan-kawan masuk ke Neusu, asrama petinggi sipil dan militer Belanda. Apa namanya sekarang Kohleran ya. Kami curi barang-barang mereka.” Ia tertawa terbahak-bahak, puas dan bahagia.

Alamak, apa yang kau perbuat itu? Kalau kau tertangkap betapa terhinanya kita orang Aceh. Umar pejuang Aceh ulung ternyata tak lebih tak kurang pencuri, dengan senang hati Belanda mengumumkan ke seluruh dunia. Dan betapa hinanya kita.”

“Tenang kakanda. Pertama ambo tidak tertangkap. Kedua mereka bukan pencuri? Ketika mereka menduduki istana mereka jarah semua yang ada di dalamnya, tidak puas mereka jarah kampung-kampung yang mereka duduki. Kita semua tahu, pada tahun pertama mereka berkuasa tiap malam kapal-kapal pengangkut Belanda berlayar dari Kampung Pande membawa hasil jarahan. Kemana itu semua? Ambo hanya mengambil sedikit saja, dan bukan untuk ambo semata, ambo bagi-bagi!” Jenius dalam berkata, tangguh dalam berperang, piawai dalam berdiplomasi. Aku makin kagum dengan Umar.

“Untuk beta, ambo berikan sebuah buah tangan.” Ia berdiri kemudian memanggil seorang pengikutnya memberikan perintah. Pengikutnya mengangguk kemudian pergi sebentar dan kembali. Kemudian ia mendapati sebuah barang dibungkus kain. Umar duduk lagi dan membuka sebuah keris yang indah berhulu gading, bertatahkan emas dan batu-batu mulia.

“Untuk kakanda tercinta.” Katanya.

Ingin aku menolak tapi sungguh keris yang sangat indah. Batinku bertarung, untuk apa keris seindah ini bagiku? Setiap harta apalagi terlalu berharga akan mengikatku dalam berjuang. Aku belum seperti Umar mampu mengelola apapun itu, baik harta, wanita atau pengikut. Aku lebih suka sendirian, sejak kejadian itu.

“Beta mungkin akan terlibat dalam satu misi lagi, tak mampu menjaga barang ini. Kampung beta sudah di duduki Belanda, jadi tiada tempat menyimpan. Alangkah baiknya jika barang ini diserahkan kembali kepadamu, untuk engkau serahkan kepada orang lain yang kau rasa patut. Beta tak berjodoh dengan keris ini.”

Umar cemberut sekali, ia mencoba tersenyum dan menyakinkan, “ayolah kakanda keris ini sangat indah, tak akan ambo serahkan kepada orang lain selain kakanda, bahkan tidak sultan sekalipun.”

Keris Teuku Umar (Dirampas Belanda) Lokasi: Pameran Objek Etnografi dari Atjèh. Leiden: SC Van Doesburgh, 1907. No. 310 (Museum Etnologi Universitas Leiden belanda)

Keris Teuku Umar (Dirampas Belanda) Lokasi: Pameran Objek Etnografi dari Atjèh. Leiden: SC Van Doesburgh, 1907. No. 310 (Museum Etnologi Universitas Leiden belanda)

Inilah keahliannya yang lain, mengoda membujuk merayu, pesona luar biasa. Aku terpukau dengannya, tidak ada Aceh lain yang sepertinya. Oh bahkan tidak ada orang lain di dunia sepertinya. Dulu, sekarang dan nanti. Sekali lagi harus kukatakan dengan berat hati. “Aku tak berjodoh dengan keris ini, ingin beta memiliki tapi tak mampu menjaganya.” Aku jujur saja, tokh tak bisa bermuslihat padanya.

Ia menarik nafas kecewa, kemudian berkata. “Bicara jodoh mungkin ambo berencana akan menikah. Mohon restu kakanda.”

“Menikah? Menikah lagi maksudnya? Di Geumpang sudah, di Rigaih sudah juga. Apa tidak terlalu sulit punya istri banyak Umar?”

“Kali ini beda, tujuannya perjuangan. Murni sekali dan ambo butuh restu kakanda.” Matanya berkaca-kaca.

Ada apa ini? “Butuh restu apa? Beta bukan bapakmu?” Bantahku kesal.

“Ambo ingin menikahi Cut kak (Cut Nyak Dhien adalah kakak sepupu Teuku Umar), Mukim IV Lampisang tidak ada pemimpin (yang kuat) setelah bang Ibrahim gugur pada pertempuran Glee Tarom. Paman ambo (Tuanku Nanta Setia, ayah Cut Nyak Dhien) sudah tua, mungkin juga sudah saatnya ambo memiliki wilayah kekuasaan, untuk membantu perjuangan Aceh melawan kaphe.”

Seperti ada sembilu yang mengiris di hati, menyayat tapi tak bisa dikatakan ketika Umar berkata. Aku terdiam, hening tanpa kata.

“Paman ambo yang mendesak menikahi Cut Kak, tapi perasaan ambo tak enak, ambo lihat Cut Kak ada menaruh simpati kepada kakanda. Tapi dalamnya hati kakanda ambo tak tahu. Mungkinkah kakanda ada perasaan kepada Cut Kak?” Bahasa Umar halus, sangat halus sehingga berputar-putar.

Siapa sang durjana dan siapa Cut Nyak Dhien? Terlalu jauh jarak antara kami berdua. Jujur terbersit benih-benih asmara aku padanya. Tapi dalam mimpipun aku tak berani untuk jatuh cinta kepada perempuan luar biasa itu. Akh, Umar terlalu perasa, dia terlalu naif untuk merasa memahami segalanya.

“Beta dan kau Teuku Umar adalah pejuang yang telah bertempur bersama-sama lama, sejak awal perang. Kita tahu tujuan hidup kita adalah mengusir kaphe dari bumi Aceh. Tak perlu restu dariku, jika kau merasa itu yang terbaik maka pilihannya adalah laksanakan!” Aku kacau, batinku meledak-ledak, dan kata-kata tadi adalah yang terburuk keluar dari mulutku sepanjang hidup yang ku ingat.

“Baiklah kakanda, dimana bumi dipijak disitu langit Aceh dijunjung.” Dengan suara yang getir dan parau matanya berkaca-kaca. Aku memeluknya, sahabatku yang sangat kucintai.

“Cukup pantengong, jangan peluk-pelukan seperti ini.” Ia menepis, aku tertawa kemudian ia pun tertawa.

“Kemarin sebelum kemari ambo bertemu dengan Raja Keluwang di Muara Daya, beliau sudah sangat tua. Dia bercerita bahwa kakekmu dari ibu dulu orang hebat. Pelaut ganas yang menjarah dan merampok pulau-pulau Nieh4) serta membawa pulang perempuan-perempuan budak yang cantik-cantik, putih-putih. Kalau sudah bosan dijualnya ke pasar Lamno atau ke Gayo. Apa benar?” Tanyanya dengan usil lagi-lagi.

Salah satu alasan Belanda menyerbu Aceh adalah untuk memberantas perbudakan, waktu zaman kakek lazim merampok dan menjarah negeri-negeri pagan. Sebuah kebiasaan yang tidak baik, dan tak perlu dibanggakan. Mungkin kakek salah, tapi dia ya kakekku.

“Tak usah jawab! Wajah sudah berkata apa adanya.” Dia tertawa. “Sebelum di bawa ayahmu yang zuhud ke Aceh Besar, kakanda dibesarkan oleh kakek itu kan? Sempat belajar ilmu melaut darinya. Raja Keluwang yang bilang. Bajak laut Pante Kuyun katanya.”

“Ada sedikit belajar dari beliau.” Aku mengiyakan.

“Lain waktu, jika keadaan memungkinkan, cerita ya.” Ia tertawa, aku tertawa, kami tertawa, kita tertawa. Sesuatu yang mahal dalam keadaan perang.

XXX

Lampisang, Mukim IV, Aceh Besar sepekan kemudian.

Umar tiba di depan rumah Tuanku Nanta Setia dengan keadaan sangat letih. Ia masuk ke serambi dengan tertatih-tatih, wajahnya suram. Tuanku Nanta Setia dan puterinya Cut Nyak Dhien menyambut dan menyajikan makanan. Umar makan dengan lahap seolah-olah sudah tidak makan selama 3 hari. Mereka memperhatikan ia makan dengan seksama.

Selesai makan, Umar masih mencuci tangan ketika Nanta Setia bertanya dengan sangat halus. “Apakah dia bersedia?”

Dengan sedih Umar menggeleng.

“Apa katanya?” Cut Nyak Dhien bertanya sekali lagi.

“Dia bilang dengan berat hati menolak menikahi Cut Kak. Hidupnya telah sepenuhnya untuk mengusir Kaphe, asmara tidak berjodoh dengannya. Bahkan ia mengembalikan keris pemberian paman.” Umar menunduk dan sangat menyesali kegagalannya. “Mungkin ambo salah dalam berkata, sehingga dia berucap seperti itu. Maafkan ambo.”

Suasana hening, segenap penyesalan tak berucap menghinggapi ruangan itu. Cut Nyak Dhien menatap nanar bumbungan rumah. Sebegitukah angkuhkan dia? Sehingga ia tak butuh senjata yang piawai, tak butuh juga cinta menaungi dan kekuasaan yang memadai? Mungkin bukan angkuh, tapi sebuah sikap yang melepaskan diri dan mengambil jarak batin dari pamrih, ambisi, kekuasaan dan dunia benda. Suatu sikap yang diharapkan pada seseorang, tapi tidak pada orang yang dicintai. Tidak pada lelaki itu.

XXX

(Bersambung)

XXX

Kata dan Arti Bahasa Aceh

  1. Pantengong = Seseorang yang bodoh dalam satu atau dua hal saja (Bahasa Aceh);
  2. Paleh = Sejenis licik yang usil (Bahasa Aceh);
  3. Kaphe = Berarti kafir, kata ini ditujukan untuk Belanda pada masa itu (Bahasa Aceh);
  4. Nieh = Gugusan Pulau di Selatan pantai Barat Aceh (Bahasa Aceh);

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 15 Komentar

MENGUNCI MALAM

Matahari tenggelam di Barat dan terbit di Timur.

Matahari tenggelam di Barat dan terbit di Timur.

MENGUNCI MALAM

Gelap, hitam dan malam bagi kebanyakan orang merupakan hal yang sama. Sebelum Thomas Alva Edison memasarkan lampu pijar, malam merupakan penjara bagi sebagian orang, banyak di antara mereka saat itu berada di tempat tidurnya masing-masing, belum tidur masih melek. Terkunci di rumah masing-masing.

Malam menjadi sarang kejahatan, dimana perampokan dan pencurian kerap terjadi. Dahulu, ada banyak dogma lain tentang malam yang membuatnya semakin angker.  Maka gelap, hitam dan malam merupakan asumsi dari jahat atau setan yang masih berlaku hingga saat ini. Orang-orang takut berpikir ada hantu dan siluman, dari situ berkembanglah legenda hantu menurut imajinasi masing-masing orang.

Akhirnya lampu-lampu menyala dari kota sampai ke desa, malam pun dinaungi cahaya selain bulan. Lampu-lampu jalan di pasang di sudut-sudut kota, kedai-kedai kopi di buka dan manusia bertebaran di malam hari, kejahatan menurun, malam menjadi gemerlap. Hiburan malam menjamur, pelacuran berkembang, binatang dihalau, jin diusir, manusia (pun) menguasai malam.

Kemudian ketika dirasakan kehadiran sesuatu yang tak diketahui wujudnya, untuk membunuh ketakutan itu, lebih baik memberi nama padanya, malam menjadi tertuduh, mengunci malam. Kemudian tempat-tempat sekali lagi diliputi kekelaman, ketika matahari terbenam dan jalanan menjadi gelap, manusia menyingkir (lagi), masing-masing (kembali) berada di tempat tidurnya masing-masing, belum tidur dan (lagi-lagi) masih melek. Semakin mengharap pagi semakin lama waktu berjalan, dan malam berasa sangat panjang.

Malam, kita tahu tak pernah hilang seluruhnya dari muka bumi yang satu. Siang dan terang bisa hadir di suatu tempat sekarang. Tapi di belahan bumi yang lain? Gelap bisa berlangsung di saat yang sama. Kegelapan tidak selalu mengerikan, tidak ada terang tanpa gelap. Keduanya harus berkolaborasi supaya kehidupan ini terus berjalan.

Kegelapan yang harus ditakutkan adalah yang lahir dari ilmu pengetahuan yang salah, terus mengendap tanpa pengetahuan siapapun. Rasanya sungguh salah bahwa begitu banyak orang yang sudah menderita demi tujuan yang tak akan tercapai. Kesedihan yang meremas-remas dada ketika penawar yang diberikan ternyata racun. Ternyata masih sedikit yang kita ketahui, semoga kita telah mencapai titik tertentu untuk dapat mengira-ngira banyak hal dengan cukup akurat.

Bait al-Hikmah, menjelang Fajar 1 April 2020

*Malam merupakan satu suku kata yang khusus dalam bahasa Indonesia dimana dia walaupun dibalik tetap menjadi malam.

KATALOG PUISI

  1. Harap Damai; 14 September 2017;
  2. Hidup; 16 September 2017;
  3. Bulan Dan Bintang; 29 September 2017;
  4. Menantikan Bayang-Bayang; 26 Oktober 2017;
  5. Diatas Puing-Puing; 6 November 2017;
  6. Renungan Malam; 19 November 2017;
  7. Seminggu Setelah Tsunami Aceh; 13 Desember 2017;
  8. Penantian; 21 Februari 2018;
  9. Di Tepian Pantai Pulau Bunta; 6 Maret 2018;
  10. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  11. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  12. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  13. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  14. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  15. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
Dipublikasi di Opini, Puisiku | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH ENAM

Risalah Sang Durjana tampak samping

Risalah Sang Durjana tampak samping

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH ENAM

Tiap-tiap manusia bertanggungjawab atas segala lakunya, adapun tentang hal di luar dirinya sungguh dia tak punya kuasa apa-apa, semua terkena hukum perubahan. Kisah ini bukan hendak menegakkan kembali masa lampau yang jauh. Sebuah kisah galibnya hanyalah permainan kata-kata, menjalankan ritus. Sebuah lanskap telah berubah dan tak mungkin kembali, menjadi hanya sebuah periode, secuil pada suatu zaman. Ini adalah masa-masa dimana sejarah (belum) sepenuhnya luruh.

XXX

Koetaradja, 1879 Masehi.

Dahulu, buat mencari jalan masuk kampung-kampung, yang sulit adalah mencari pintu masuk ke kampung, berpagarkan bambu berduri, banyak jalan yang bersimpang siur diperbuat, guna menyesatkan orang asing. Jika tidak tahu jalan terpaksalah ia berkeliling sampai terpasah ke tempat yang jauh dari kampung. Diperbuat untuk melindungi kampung dari penyerbuan musuh yang hendak memasuki dengan tujuan jahat. Bila pintu kampung telah didapatkan, maka orang yang hendak masuk kesitu sampai ke depan sebuah gerbang kayu, yang dijaga oleh pengawal bersenjata, dan dipancangkan tonggak berpalang dimaksud jangan sampai musuh masuk dengan mudah dari luar dan ternak tidak lari keluar.

Sekalian orang yang dipandang sebagai sahabat atau keluarga, akan diberi jalan oleh para pengawal, masuk kampung dengan leluasa, sambil membawa senjatanya dengan aman menuju rumah yang hendak didatanginya. Bagi orang kemalangan dan tersesat di jalan serta tidak dikenal, jika ia meminta bermalam di sana, asal beragama islam diizinkan. Tapi segala senjatanya wajib diserahkan di pintu gerbang, sesudah itu dia diantarkan ke meunasah, di sana ia tidur bersama sekalian pemuda kampung.

Si tamu tidak usah khawatir, nyawa dan harta bendanya akan diperlindung, setiap orang islam yang menumpang disambut dengan segala keikhlasan dan ramah tamah, adat berkata tak layak seorang muslim tidur bermalam di luar rumah, di tengah padang ataupun rimba, yang galib diperlakukan kepada diri orang kafir. Dan apabila musuh yang datang ke pintu gerbang, maka kepala kampung akan menyongsongnya, sambil membawa kelewang terhunus di tangan kanannya, dan membawa sekalian anak-anaknya di sebelah kiri. Lalu ia berkata dengan senyum simpul kepada musuh atau bekas musuhnya; “Silahkan masuk! Dengan kelewang ini saya akan melindungi tuan!” Demikianlah adat istiadat orang Aceh sebelum Belanda datang yang katanya hendak mengadabkan orang-orang Aceh yang liar dengan paksa kekuatan mereka, dan mengajarkan mereka memberi tabik dan bersalaman. Ini adalah masa-masa sebelum Istana Daroddonya jatuh ke tangan Belanda.

Peta Banda Aceh dan sekitarnya 1873-1896

Peta Banda Aceh dan sekitarnya 1873-1896

Gereja pertama di Aceh 1874

Gereja pertama di Aceh 1874

Aku menyusup masuk ke Koetaradja, sebuah kota bikinan Belanda setelah istana sultan Aceh di duduki. Kota ini dikelilingi oleh jalur-jalur besi yang dilalui kereta api yang berputar siang dan malam. Ular besar kata orang-orang Aceh, jalurnya dimulai dari Lamjamee (Barat) sampai Lamnyong (Timur), ditengahnya Lambaro (Selatan) dengan percabangan di Lamreung dan Ketapang Dua, kemudian menuju ke Pantee Pirak sampai ke Ulee Lheu (Utara). Di Pantee Pirak Belanda membangun sebuah jembatan yang menghubungkan dengan Peuniti, di sana pula, pada bekas tanah sultan mereka membangun sebuah gereja. Tidak seperti jaman kesultanan di mana jalan-jalan sempit, Belanda membangun jalan lebar-lebar. Orang-orang Aceh yang biasa bepergian dengan perahu dipaksa menjadi manusia daratan, sementara kapal-kapal besi menjaga setiap muara agar tidak ada kapal yang keluar masuk.

Daerah Neusu yang merupakan pangkalan pasukan darat sultan diubah menjadi lapangan dan asrama tentara Belanda, Pante Pirak yang merupakan pelabuhan armada kapal sultan diubah menjadi pangkalan marinir. Masjid Raya sudah akan dibangun kembali oleh Belanda, dengan rencana gaya yang sangat tidak Aceh berkubah seperti masjid-masjid di Turki, pada umumnya masjid di Aceh memiliki atap segi empat sebagaimana Masjid Indrapuri, sebagaimana Masjid Tengku dianjong.

Tanggal 9 Oktober 1789, Gubernur Militer Belanda untuk Aceh, Jenderal Van Der Hayden, si mata satu, si anak dajjal. Meletakkan batu pertama pembangunan masjid raya yang baru, Baiturrahman. Diadakan sebuah perjamuan yang besar, berduyun-duyun orang Aceh datang dari semua tempat, termasuk aku. Masing-masing kepala mukim memakai pakaian kebesarannya, segala macam emas berkilau-kilau disulamkan kepada pakaian mereka. Rencong berhulu dan bersarung emas, kunci emas juga tergantung pada kampil sirihnya. Orang-orang kebanyakan juga mengenakan pakaian seindah-indahnya, semahal-mahalnya yang masih dapat dilindungi dari perampasan tentara Belanda ketika lari mengungsi. Semua berbondong-bondong ke Koetaradja.

Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda

Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda

Jenderal Van Der Heyden menerima kedatangan mereka, dikawal satu poleton tentara Belanda lengkap dengan senjatanya. Teuku Kadli, kepala kehakiman membuka pidato, pesan yang disampaikan kepada khalayak bahwa kedatangan Belanda semata-mata untuk membawa kemakmuran serta perdamaian. Di samping itu pemerintah Belanda memberikan kemerdekaan kepada semua orang buat menganut agamanya masing-masing. Sesudah selesai pidatonya Teuku Kadli itu, maka diletakkan batu pertamanya untuk bangunan Baiturrahman baru. Bahwa di Aceh saat itu telah terjadi sebuah upacara yang tak pernah diselenggarakan oleh Belanda di mana pun. Ini semua dengan tujuan sebagai penciptaan tali persahabatan yang menghubungkan kedua belah pihak. Peperangan telah berakhir kata Belanda.

Tahun 1878 Masjid Montasik telah jatuh ketangan Belanda, beserta kampung di sekitarnya. Masjid Agung Indrapuri yang dipandang suci dan terletak jauh di pusat pemerintahan sagi XXII pemerintahan Panglima Polim, dan juga dipertahankan oleh Imeum Luengbata beserta pasukan Aceh akhirnya telah jatuh juga ke tangan Belanda meskipun terjadi pertempuran sengit. Panglima Tibang telah meninggalkan Aceh tunduk kepada Belanda. Telah banyak orang-orang Aceh terkemuka yang telah tunduk. Tinggal Panglima Polim, anaknya Raja Kuala, Imuem Lueng Bata, saudaranya Husin Lueng Bata, Nanta Setia, Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar yang masih membawa panji-panji perlawanan, mereka pantang tunduk lalu berpindah ke Pidie, tempat kediaman Tengku di Tiro, dan juga di daerah Tuanku Hasyim beserta Sultan Daudsyah yang berdiam di Keumala. Mungkin ditambahkan oleh orang-orang pantai barat, daerah-daerah Muara Woyla dan Meulaboh yang masih berjuang. Meskipun begitu sementara waktu Aceh dapat dikatakan aman, senjata-senjata disimpan oleh kedua belah pihak, sunyi senyap di seantero wilayah, sebagian rakyat yang mengungsi telah kembali ke kampungnya, menanami sawah, pasar-pasar pun ramai.

Butuh waktu sekitar dua pekan untuk mencapai Keumala dan melaporkan hasil amatan kepada Sultan, ketika aku melaporkan kepada Sultan Muda itu bahwa wilayah kraton dan tiga sagi telah ditaklukkan dia terlihat kecewa.

Dia terlalu belia untuk mengingat masa-masa sebelum Belanda datang, sungguh aku kasihan dengannya yang terserabut dari akarnya. Sultan kami masih sangat muda, semoga kelak pengalaman demi pengalaman mengajari dirinya banyak hal. Memimpin Kesultanan Aceh Darussalam dari pengasingan, Ada begitu banyak tali sejarah yang mengikatnya dengan sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang lebih dahulu hadir. Ia beruntung memiliki seorang wali yang bijaksana, Tuanku Hasyim Banta Muda.

Tuanku Hasyim sebagai walinya, duduk di sebelahnya, memandangku dengan mata berapi-api. Menusukku dan berkata; “Jangankan damai, tapi rasa dendam bertambah meluap-luap. Jika kita mendapatkan giliran, akan kusorakkan dan tancapkan rencongku pada Belanda terkutuk itu!’

Aku tak hendak membantah, tapi aku harus berkata jujur kepada sultan dan walinya; “Belanda sangat kuat, mereka tak berkira-kira untuk menjatuhkan pukulan cemeti yang bertubi-tubi atas kulit kita. Tuanku, baik Belanda maupun kita, keduanya sama-sama manusia, sama-sama berperasaan dan berpikiran, sebelum terlanjur kalah total apakah salahnya kita berdamai?”

Menilik pada kenyataannya, telah terlihat pada awal perang sekalipun, meskipun pertempuran silih berganti terjadi, secara akal pikiran dapat diperkirakan kemenangan terakhir ada pada pihak Belanda.

“Damai? Jika mayat-mayat sekalian orang Aceh yang gugur tidak akan berbalik dari dalam kuburnya, dan tidak dapat mengeluarkan suara protes yang terdengar dari dalam kubur, tapi kita masih hidup, setiap kita berziarah mustahil akan tinggal diam dan hina memohon damai kepada penjajah yang datang memijak tanah airnya dengan segala kekerasan, dan mengalirkan darah di seluruh Aceh. Engkau bersama kami atau menjadi manusia hina Durjana?” Pekik Tuanku Hasyim.

Aku menatap Tuanku Hasyim, memandang Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah. Api yang membara bagi mereka dan bagi anak cucunya, tak akan ada damai dengan Belanda sampai kiamat dunia. Aku menjawab pelan; “Jika itu merupakan kehendak paduka, maka sampai berputih tulang hamba akan setia.”

Aku menangis, air mataku jatuh bertali-tali. Mereka tersenyum, senyuman mereka terbungkus kenangan dan kerinduan ironis yang tak terucapkan. Keyakinan mengalahkan sulitnya harapan, titik dimana lupa menyiapkan kekosongan.

XXX

Akan ada banyak rintangan menghadang di tahun-tahun ke depan, dan karakter seseorang tidak ditentukan dari cara mereka menikmati kemenangan, tapi dari cara mereka menghadapi kekalahan, tidak ada yang dapat membantu melewati masa kelam selain iman di dada. Kita manusia hanya hidup sementara, di antara kerlip bintang kemudian hilang. Hidup mulia atau mati syahid.

(Bersambung)

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 16 Komentar

WABAH MANUSIA

Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak

WABAH MANUSIA

Ketika wabah muncul datanglah penyakit, kemudian diikuti hal-hal buruk lainnya.

Pasukan Spanyol berbaris memasuki lembah Meksiko tanpa gangguan berarti dibawah pimpinan Hernan Cortes.  Sejak awal 1519, kapal-kapal Cortes mendarat di negeri bangsa Maya dan merangsek masuk ke wilayah Aztec. Menghadapi pasukan Aztec yang sangat besar pasukan Spanyol membawa sebuah penyakit bernama cacar. Orang Asia, Afrika dan Eropa lebih tahan penyakit karena terbiasa hidup (berternak) bersama binatang yang menulari mereka. Bangsa Aztec tidak mengenal binatang ternak, mereka mendapatkan makanan dengan meningkatkan kualitas tumbuhan pangan liar dan belajar bertani kentang. Cabe, tomat, jagung dan coklat yang merupakan tumbuhan asli Amerika. Pertanian mereka surplus karena apa yang dihasilkan adalah tanaman pangan paling produktif di dunia.

Pada 1528, Francesco Pizarro sepupu Cortes memimpin sebuah armada dari Panama (koloni Spanyol) mengarungi pasifik, tujuannya Amerika Selatan. Pizarro mempelajari bahwa pada pengunungan yang panjang dan sempit adalah tempat bercokolnya sebuah kekaisaran. Kekaisaran yang tak mengenal tulisan, namun membuat catatan berbentuk tali disebut Quipu. Kekaisaran Andes atau yang disebut Inca Agung tidak mengenal roda, binatang ternak. Umumnya mereka makan kentang untuk memperoleh kalori. Dengan penyakit yang mereka bawa ditambah persenjataan yang lebih unggul, bangsa Eropa memusnahkan nyaris semua penduduk asli di Amerika Tengah dan Selatan dan kolonisasi Spanyol berhasil.

Sementara itu di Amerika Utara, bangsa Inggris yang terlihat terhormat dalam perang menghadapi bangsa Indian antara tahun 1754-1760 sangat dermawan dengan memberikan pakaian dan selimut kepada musuhnya, ternyata bekas dari rumah sakit yang merawat penderita cacar. Inggris menang perang tanpa banyak kehilangan sumber daya dan bangsa Indian yang menjadi lawan mereka musnah.

Pengepungan Baghdad oleh tentara Mongol tahun 1528.

Malapetaka yang paling besar adalah ketika gerombolan berkuda bangsa Mongol meneror (1205-1368), mereka merebut Cina, jazirah Arab dan Persia dan menjarah habis-habisan, kengerian yang sama dialami Hongaria dan Polandia sampai perbatasan Jerman dekat kota Breslau. Setiap kota yang mereka datangi, semua penduduk dibantai. Untuk bisa menaklukkan kota-kota besar mereka melemparkan mayat-mayat yang terjangkit pes atau sampar dengan katapel besar. Gunung-gunung mayat dibiarkan membusuk dan tidak dikuburkan. Akibatnya wabah hitam melanda dunia abad pertengahan. Hal ini menyebabkan Separuh penduduk Cina binasa, Sembilan puluh persen penduduk jazirah Arab dan Persia tewas, Eropa sendiri kehilangan sepertiga jumlah penduduk. Diperkirakan total jumlah korban mencapai 200 juta orang, butuh waktu 200 tahun dari wilayah yang terkena pandemik ini untuk bisa pulih. Betapa luas wilayah dan korban penaklukan Mongol dalam masa kerajaan mereka yang tidak berlangsung lama.

Wabah kolera juga dibawa oleh Tentara Belanda ketika menyerang Kesultanan Aceh pada tahun 1873. Setelah ekspedisi pertama di bulan Maret 1873 berhasil dipukul mundur oleh para pejuang Aceh, Belanda menyerang kembali pada bulan November 1873. Menurut sumber Belanda sendiri, sebelum pasukan KNIL mendarat mereka hanya menguburkan satu mayat di pantai Aceh Besar, kenyataannya wabah kolera masuk ke dalam Istana Sultan Aceh. Menurut pengakuan Panglima Tibang seorang pejabat kesultanan yang kelak membelot ke pihak Belanda, ketika Belanda menyerbu ke istana terdapat dua serangan yang harus ditangkis oleh pihak Aceh yaitu aksi ofensif pihak Belanda dan serangan kolera yang mendarat bersama mereka. Setiap harinya selama 18 hari pengepungan di dalam pekarangan istana dikebumikan sekitar 150 orang yang terkena penyakit itu. Pada tanggal 24 Januari 1874 istana dapat diduduki oleh Belanda setelah pejuang Aceh meninggalkannya dalam keadaan kosong. Sultan Alauddin Mahmud Syah terserang kolera dan dalam perjalanan di daerah Pagar Ayer (sekitar 4 kilometer dari istana) meninggal dunia akibat kolera tersebut. Perang Aceh berlanjut sampai 1904, namun jika ditilik dari sudut peperangan wabah kolera yang dibawa Belanda memberikan andil yang sangat besar bagi kemenangan kaum kolonial terutama di masa awal.

Detasemen KNIL menangkap seorang Aceh di dekat Kota Meulaboh tahun 1925; sumber KITLV.nl

Perang Aceh sendiri terjadi pada abad ke-19, saat itu sudah dikenal hukum internasional yang melarang penggunaan benih penyakit seperti kolera sebagai senjata perang. Meski pihak Belanda menyangkal telah menggunakan senjata biologis, sangat cukup alasan untuk menuduh Belanda sengaja merencanakan penyebaran penyakit tersebut di Aceh, sewaktu diketahui orang di kapal terkena penyakit kolera dengan lekas kapal buru-buru diberangkatkan. Disamping itu menurut laporan pihak Inggris, ketika melewati perairan selat Malaka segenap armada Belanda menaikkan bendera kuning sebuah tanda internasional bahwa kapal tersebut diserang penyakit menular, kapal-kapal tersebut berangkat menuju perairan Aceh tanpa singgah di pulau manapun atau tempat yang tidak ada manusia.

Dalam catatan sejarah, penyebaran penyakit kerap dilakukan oleh negara-negara kolonial untuk menaklukkan wilayah-wilayah yang melakukan perlawanan hebat, ini terletak dari nafsu imperialisme untuk merampas kedaulatan negeri-negeri yang dianggap belum beradab. Penyakit ataupun wabah yang tersebar dalam sebuah negeri tidak mengenal apakah seseorang biasa atau sultan sekalipun, bahkan tidak membedakan apakah orang itu perkasa atau lemah. Ketika wabah menyerang maka pilihan yang terbaik adalah menyingkir. Dalam peperangan jika sebuah pasukan memilih keluar dari suatu wilayah maka dengan segera wilayah itu diduduki oleh musuh, sebagaimana Belanda menduduki Istana Sultan Aceh. Pihak aggressor biasanya telah memiliki persiapan menghadapi wabah dengan obat-obatan dan perlengkapan yang memadai.

Jika hari ini bangsa-bangsa kolonial dan imperialisme menjadi Negara-negara maju, beradab, dan hebat. Ternyata penindasan mereka punya jejak yang panjang, dan kita sering tidak tahu. Ketika wabah menyerang, tidak ada jabatan atau kelas sosial yang kebal, tidak membedakan anak-anak, kaum perempuan ataupun satria perkasa. Semua bisa terkena.

Akhirnya wabah berakhir, tak ada nyanyian malam itu. Banyaknya kematian melampaui semua kesedihan. Di bumi ini sudah membekas luka lama sekali akibat perbuatan manusia.

SEJARAH DUNIA

  1. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  2. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  3. Perjalanan Ini; 18 Agustus 2009;
  4. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  5. Manifesto Politik; 27 Maret 2012;
  6. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  7. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  8. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  9. Mereka Yang Bangkit (Kembali); 18 Desember 2013;
  10. Bajak Laut Pemberontak Atau Perompak; 17 Maret 2016;
  11. Membakar Buku Membunuh Intelektual; 6 Juni 2016;
  12. Menentang Tradisi Memang Tradisi; 5 April 2017;
  13. Kopi Dalam Lintasan Sejarah Dunia; 1 Mei 2017;
  14. Gula Dan Sejarah Penindasan; 4 Mei 2017;
  15. Pengulangan Sejarah; 23 Mei 2017;
  16. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  17. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  18. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  19. Kopi, Legenda dan Mitos; 20 Februari 2018;
  20. Ketika Ibnu Battuta Melawat Samudera Pasai; 16 April 2018;
Dipublikasi di Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

SUNYI

Seorang tahanan Aceh oleh Belanda (1900) sumber: KITLV.nl

Seorang tahanan Aceh oleh Belanda (1900) sumber: KITLV.nl

SUNYI

Tidak harus mengetahui istilah Zoon Politicon yang dirumuskan oleh filsuf Yunani Aristoteles yang menyebutkan manusia adalah makhluk sosial. Dalam pendapat ini Aristoteles menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Memang, dalam ribuan tahun sejarah manusia yang sempat tercatat telah memberikan pemandangan bahwa sebagai individu, manusia telah belajar menukar “ke-aku-an” menjadi “ke-kami-an” sampai akhirnya mewujudkan rasa “ke-kita-an”, sebagai makhluk komunal, pada umumnya manusia tak sanggup hidup sendirian.

Ternyata pengucilan (ekskomunikasi) adalah hukuman terberat yang dijatuhkan Gereja (katolik) kepada umatnya yang dianggap melakukan pelanggaran berat, anggota yang dikenai ekskomunikasi dilarang mengikuti perjamuan kudus dan (komuni) sampai dia bersedia menunjukkan penyesalan dengan cara bertobat. Tujuannya untuk menyembuhkan, pelanggar diharapkan memeriksa diri, instropeksi dan bertobat melalui sakramen rekonsiliasi yang dilayankan oleh otoritas gereja yang berwenang.

Kesendirian membuat kita berpikir, dan berpikir adalah proses menuju keimanan. Sebagaimana Allah S.W.T berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, maka dengan air itu Dia hidupkan sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Surat Al-Baqarah ayat 164).

Dalam keterasingan manusia melihat angin di langit bergolak, hujan mulai jatuh satu-satu memukuli hati. Sepi, sepi sekali menyaksikan matahari turun pelan-pelan. Semburat merahnya menyebar berganti kuning keemasan, lalu kelabu menyusup dan gelap menjelajah. Di langit barat keindahan dan keajaiban tentang perubahan warna tadi bisa kita nikmati, meski hanya sekejap. Apa yang kita lihat, perubahan siang dan malam, sungguh diluar kemampuan kita selaku manusia.

Nalar dan pikiran diuji menjadi lebih terang, ternyata kita tak harus kagum semata pada hal-hal yang dahsyat yang tidak mampu kita jangkau, dan ternyata kita juga tak harus malu untuk kagum pada hal-hal keseharian, yang terlewatkan selama ini. Dan ternyata mukjizat itu bukan hanyalah menyaksikan laut terbelah oleh tongkat Nabi Musa saja, bahwa sebenarnya bumi ini sebagai ciptaan Allah S.W.T adalah sesuatu yang maha ajaib. Bahwa keseharian kita selaku makhluk, seperti bernafas, detik demi detiknya adalah bukti kekuasaan Allah S.W.T.

Adakalanya kita harus menarik diri dari keramaian, menjaga jarak sosial. Untuk sekejap merehatkan rohani, untuk tidak takabur, menciptakan harapan untuk diri sendiri di hadapan ketidakpastian, bagaikan sahara kelam yang panjang menyembunyikan gemuruh. Sementara bayangan sang maut melayang-layang di langit bagaikan sekawanan burung pemakan bangkai.

Kesepian itu menyakitkan, kesunyian masing-masing seakan berdiri sendiri, tak bersentuhan tangan, yang kini tak bertaut dengan yang dulu bahkan nyaris asing. Sebuah malam yang sunyi tanpa suara kita memanggil tuhan dalam sentuhan rindu, dan berharap tangan-Nya merangkul, mengharap yang suci hadir, sebagaimana Nabi Muhammad di gua Hira’.

Malam kelam kian menikam

Naungi makhluk dari lelah yang menekan

Nyanyian hati menggema di jiwa mengalun syahdu

Terseret langkah semu tertatih

Dalam keheningan lukisan terindah

Mencari hakikat yang terbelenggu

Akan gelap dan keterasingan

Temukan sunyi dalam malam

Banda Aceh, Senin 14 Januari 2002

Beberapa tulisan lain:

  1. Pohon Kekekalan; 4 November 2017;
  2. Renungan Malam; 19 November 2017;
  3. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  4. Sebuah Kotak Hitam; 21 November 2017;
  5. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  6. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  7. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  8. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  9. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  10. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  11. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  12. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  13. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  14. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  15. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
Dipublikasi di Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Komentar

DIMANA LETAK ISTANA KERAJAAN ACEH DARUD DONYA

Peta Kraton Aceh versi Belanda 1874

Peta Kraton Aceh versi Belanda tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA KERAJAAN ACEH DARUDDONYA

Pada tanggal 24 Januari 1874, Setelah pertempuran besar-besaran antara 12.000 serdadu KNIL dengan persenjataan yang unggul menghadapi asykar Aceh (jumlah tidak tercatat) di depan istana kesultanan Aceh, Belanda melakukan gerakan mengitari lewat belakang atas nasihat Teuku Nek Meraksa (Uleebalang Meraxa) dan akhirnya menduduki istana, yang oleh orang Aceh disebut dengan nama “Dalam”. Ternyata dengan jatuhnya Istana tidak menyebabkan perlawanan rakyat Aceh runtuh dan menyebabkan Belanda sangat murka. Istana Daruddonya sejak hari itu mulai dihancurkan untuk menghapuskan sejarah kesultanan Aceh yang panjang.

Baca juga: Lokasi Istana Kerajaan Aceh Dulu dan Sekarang;

Sebelum dihancurkan Belanda sempat mengabadikan beberapa foto sebagaimana berikut:

Dalam Sultan Aceh (1874) Sisi Depan Barat; arsip KITLV;

Dalam Sultan Aceh (1876) Sisi Depan Utara; arsip KITLV;

Medan depan Dalam Sultan Aceh; arsip KITLV;

Meriam Besar dekat gerbang “Dalam” Sultan Aceh (1874); arsip KITLV;

Pemakaman dekat “Dalam” Sultan Aceh (1874); arsip KITLV;

Pemandangan di gerbang utama Dalam Sultan Aceh (1874); arsip KITLV;

Puing Tembok Istana Sultan Aceh 24 Januari 1874; arsip KITLV;

Tempat kediaman Gubernur Belanda di Kutaraja (1874); arsip KITLV;

Tentara Belanda pada ekspedisi II di Dalam “Kraton” Sultan Aceh. Jenderal Van Swieten (kiri di atas meriam) dan Jenderal G.M. Verspijck (Kanan di atas meriam); arsip KITLV;

Sebenarnya sebelum diluluhlantak oleh pasukan Belanda Istana Daruddonya telah mengalami kemerosotan baik dari segi bentuk dan kemewahan dibandingkan pada masa puncak kejayaan pada abad ke-17 Masehi sebagaimana dicatat oleh para petualang asing. Ketika itu armada laut Aceh memiliki kekuatan dan kewibawaan, perniagaan berkembang dan akhirnya membuat kebudayaan sangat agung, istana Daruddonya menjadi pusat perayaan, pusat segala kebudayaan.

Meriam Besar Milik Kesultanan Aceh yang dirampas Belanda saat Perang Aceh sekarang ada di Bronbeek Museum Arnhem Belanda.

Melalui penghancuran Istana Daruddonya Belanda ingin menghapus identitas orang Aceh, menjadi manusia baru yang tidak kenal siapa nenek moyangnya, tidak kenal asal usulnya dan merasa rendah diri dihadapan mereka. Salah satunya adalah penghancuran makam Sultan Iskandar Muda (Sultan terbesar Aceh) dan mendirikan sebuah bangunan yang kokoh diatasnya sehingga seolah-oleh Sultan Iskandar Muda hanyalah legenda semata, sebagaimana yang mereka lakukan juga kepada Panembahan Senopati (Pendiri Mataram Islam). Tapi Belanda bukanlah satu-satunya bangsa asing yang pernah berhubungan dengan kesultanan Aceh ada banyak bangsa lain yang mencatat kegemilangan kerajaan Aceh.

Sebagai bangsa yang jumawa, Belanda sempat mengabadikan beberapa foto. Bahkan untuk keperluan perang mereka sempat membuat peta, tanpa mereka sadari ini membantu ketika kita ingin merekonstruksi kembali letak istana Daroddonya.

Perbandingan peta Belanda (1874) yang diletakkan di atas peta Google (2020)

Berdasarkan peta yang dibuat oleh Belanda dengan membandingkan dengan peta Google (tahun 2020), kawasan istana Daroddonya diperkirakan memiliki batas berikut:

  • Sebelah Utara bahagian kanan merupakan pertemuan antara Krueng Daroy dan Krueng Aceh;
  • Sebelah Utara bahagian kiri adalah Taman Bustanussalatin (Taman Sari) atau sudut bangunan Bharata sekarang;
  • Sebelah Barat dibatasi dinding melintasi museum Aceh sampai Kandang Meuh dulunya, sekarang kompleks Baperis;
  • Sebelah Timur diperkirakan halaman Gunongan dan Pinto Khob sampai taman Bustanussalatin (Taman Sari) mendekati pintu Masjid Raya Baiturrahman sekarang;
  • Sebelah Selatan adalah meliputi lapangan Neusu sampai pada bahagian ini yang juga terdapat pendopo gubernur Aceh saat ini;

Rekonstruksi kembali letak istana Daroddonya mungkin tidak akan selesai dengan penelitian sederhana ini, dibutuhkan penggalian arkeologis yang lebih mendalam oleh para ahli. Penulis hanya berusaha memberi kunci untuk membukanya. Karena bagaimana pun sejarah adalah sebuah menara pengalaman yang hebat, yang mana waktu ditempatkan di tengah-tengah lahan yang tak berujung dari zaman-zaman yang telah berlalu. Bukan tugas mudah untuk menggapai puncak menara tersebut, dibutuhkan kaki-kaki muda yang kuat sehingga ini dapat dilakukan.

Peta Istana atau Kraton Aceh tahun 1873 arsip Universitas Leiden

Peta Istana atau Kraton Aceh tahun 1873 arsip Universitas Leiden

Satu generasi mungkin telah dan akan berakhir. Ketika kalian nantinya dapat merekonstruksi kembali dengan tepat, maka kalian akan mengerti dan memahami alasan penulis untuk antusias. Daroddonya adalah salah satu mahakarya leluhur kita, jangan lupakan itu, jangan pernah!

Index/Daftar Keputakaan :

  1. Sir R.O. Winstedt; History of Malaya;Singgapura; 1962.
  2. Denys Lombard; Le sultanat d’Atjeh au temps d’Iskandar Muda (1607-1636); Paris; 1967.
  3. Davis (Jhon); A biefe Relation of Master Jhon Davis, chiefe pilot to the Zelanders in their East India Voyage, departing from Middleborough the fifteenth of March, Anno 1598; London; 1625.
  4. Beaulieu (Augustin de); Relation de I’estat present du commerce des Hollandais at des Portugais dans les Indes Orientales; memoires du voyage aux Indes Orientales du General de Beaulieu; Paris; 1664-1666.
  5. Zhang Xie, Dong xi yang kao; Taiwan; 1962.
  6. Mundy (Peter); The Travels of Peter Mundy in England, Western India, Achen, Macao, and The Canton Province, 1634-1637; London; 1919.
  7. Best (Thomas); The Voyage of Best to the East Indies 1612-1614; London; 1934.
  8. Lancaster (Sir James); The Voyage of Sir James Lancaster to Brazil and the East Indies, 1591-1603; London; 1940.
  9. Paul Van ‘T Veer; De Atjeh-Oorlog; Amsterdam; 1979.
  10. Muhammad Said; Aceh Sepanjang Abad; Medan; 1961.
  11. Foto bersumber dari situs kitlv.nl dan nederlandsekrijgsnacht.nl

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  2. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  3. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  4. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  5. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  6. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  7. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  8. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  9. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  10. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  11. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  12. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  13. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  14. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  15. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  16. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  17. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  18. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  19. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  20. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  21. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  22. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  23. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  24. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  25. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  26. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  27. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  28. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  29. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  30. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  31. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  32. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  33. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  34. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  35. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  36. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  37. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  38. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  39. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  40. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  41. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  42. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  43. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  44. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  45. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  46. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  47. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  48. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  49. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  50. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  51. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  52. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  53. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  54. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  55. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  56. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  57. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  58. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  59. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, History, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Komentar

LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG

Lokasi Istana Kerajaan Aceh Dulu dan Sekarang; Peta yang dibuat Belanda tahun 1874 (kiri) dan kondisi peta Google tahun 2020 (kanan); yang dilingkari merah pada peta Google adalah perkiraan lokasi Istana Kerajaan Aceh Dulunya.

LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG

Hari ini adalah lanjutan dari kemarin, ungkapan ini memberi pengertian antara lain bahwa sejarah masa lalu tidak berdiri sendiri, merupakan mata rantai peristiwa yang bersambung terus menerus yang akan bersambung terus.

Sejarah membuat kita mengembara ke masa lampau, ke hari-hari, tahun-tahun yang telah berlalu, mempunyai kegunaan yang sangat bermanfaat karena di satu pihak memperkenalkan manusia di zamannya, dan di pihak lain ia memberi arah kepada manusia yang hidup hari ini.

Salah satu yang mendorong penulis membuat penelitian sederhana ini karena setiap kali melangkah pada wilayah yang pernah memiliki kerajaan-kerajaan kuno pasti memiliki petilasan. Terutama adanya istana di mana kerajaan itu pernah berdiri.

Menurut catatan-catatan asing Kesultanan Aceh Darussalam dahulu memiliki istana yang sangat gemilang, Daruddonya yang kemasyhurannya tercatat dalam tinta emas. Namun sekarang istana tersebut seolah tidak memiliki jejak sama sekali hari ini. Dimanakah Istana itu dahulu pernah berdiri?

ISTANA KESULTANAN ACEH MENURUT CATATAN PETUALANG SEBELUM ABAD KE-19

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

Dahulu kala kita mengetahui betapa Kesultanan Aceh Darussalam memiliki kekuatan dan kewibawaan di mata bangsa-bangsa asing. Ekspedisi armada lautnya diatur dengan kebijaksanaan terpadu, perniagaan berkembang. Pada paruh pertama abad ke-17 perkembangan budaya sangat besar.

Istana diperindah, kemewahan pengiring raja besar jumlahnya, kesusastraan berkembang pesat1). Istana yang dalam Hikayat Aceh disebut dengan nama “Dalam Daruddonya” adalah pusat perayaan, pusat segala kebudayaan.

Bagian dari tembok di sisi selatan kraton kondisi tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Kota Goenoengan dilihat dari Kraton; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Kita baru menyadari betapa hebatnya dan betapa mewahnya Dalam itu jika membaca kisah-kisah abad ke-17. Saat ini sudah tidak ada apa-apa lagi. Pada akhir abad ke-19 pun, sebelum kehancuran akibat Perang Aceh, istana sudah banyak kehilangan kebesarannya dahulu. Sesudah kemenangan Belanda, istana dihancurkan, habislah riwayatnya. Bangunan-bangunan yang tersisa ditempatkan pasukan militer dan Dalam lama dijadikan tangsi KNIL. Nama Dalam itu pun nama sebenarnya yang digunakan oleh orang-orang Aceh diganti pada peta-peta dan dokumen-dokumen resmi dengan nama “Kraton” kata yang sebelumnya tak dikenal di bagian utara Sumatera.

Peta Kraton Aceh versi Belanda 1874

Peta Kraton Aceh versi Belanda tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Salah satu peta yang dibuat oleh orang Belanda untuk kepentingan ekspedisi mereka hanya memungkinkan kita melihat bahwa Dalam itu letaknya di sebelah barat daya tempat pemukiman sekarang, dan bahwa arahnya kira-kira utara-selatan2). Dari bangunan-bangunan dahulu hanya Gunongan dan pinto Khob yang masih ada, ditambah makam-makam raja untuk sebagian masih asli.

Pada zaman Snouck Hurgronje, Dalam itu tempatnya di tengah-tengah kota, menjadi inti daerah yang dikenal dengan nama “Banda Aceh”, yang dikelilingi gampong-gampong lainnya. Pada awal abad ke-17, Dalam itu letaknya masih jauh dari tempat pemukiman yang sedikit demi sedikit meluas ke selatan dan pada akhirnya mengelilinginya. Davis pada tahun 1599 menulis : “His court is from the citie halfe a mile upon the river.” Satu setengah abad kemudian ditemukan petunjuk bahwa Dalam raja terletak di tengah-tengahnya benar.3)

Petualang Perancis, Beaulieu memiliki peluang untuk mengunjungi bagian Dalam yang boleh didatangi umum memberikan gambaran dari tempat-tempat masuk ke Dalam dan pertahanannya sebagai berikut: “Kelilingnya lebih dari setengah mil, bentuknya hampir bulat bujur, dan sekelilingnya ada parit yang dalamnya 25 sampai 30 kaki (10 Meter) dan sama lebarnya, agar sukar dilalui karena terjal dan penuh semak. Tanah galiannya dibuang kearah istana sehingga merupakan tembol, diatasnya ditanami bambu, buluh besar yang tumbuh setinggi pohon frene dan tegak dan tebalnya sedemikian rupa sehingga tak tertembus pemandangan, bambu itu selalu hijau dan tak termakan api.”4)

Dilarang keras mengintip dari benteng itu atau menerobosinya. Barang siapa berani “memangkas sebagian dari dalam atau dari luar” dihukum mati, Beaulieu menceritakan kesialan salah seorang utusan dari Aceh ke negeri Belanda pada tahun 1602 dan yang karena lupa kebiasaan negerinya, mematahkan sebuah batang dari bambu itu, raja seketika itu menyuruh menggoroknya.

Tanah berbenteng itu bisa dimasuki dari sejumlah pintu, enam buah menurut Dong xi yang kao5), empat menurut Beaulieu. Pintu utama yang menurut peta sekarang mestinya pintu utara yang menghadap ke kota, di atasnya ada “tembok kecil dari batu setinggi 10 sampai 12 kaki (sekitar 3,5 meter) untuk menyangga serambi dengan dua pucuk meriam perunggu pada kedua belah pintu yang diarahkan kepada orang yang hendak masuk.” Pintu-pintu tersebut tidak terbuat dari papan, tetapi dari balok susun setinggi temboknya, terbuat dari kayu yang cukup kuat dan ditutup dari dalam selain dengan gerendel juga dengan dua palang melintang besar yang masuk ke dalam tembok dan ditutup dari dengan menggunakan kunci.

Setiap pagi dan malam, waktu-waktu tertentu pintu istana dibuka, raja menyuruh bunyikan meriam. Itulah hak istimewa yang dianggapnya haknya seorang raja, masih dapat dipertahankan sampai akhir abad ke-19. Ketika Peter Mundy singgah di Aceh pada tahun 1637, dilihatnya bahwa salah satu dari meriam yang ditempatkan di pintu masuk itu adalah hadiah “Raja James” dahulu.6)

Melalui pintu masuk yang besar inilah orang asing masuk ke dalam istana, apabila mereka diundang ke Dalam, suatu hal yang tidak selalu terjadi. Di bagian dalam, pelataran-pelataran dan bagunan-bangunan diatur pada kedua tepi sungai kecil yang “turun dari pengunungan” dan yang airnya “yang dingin dan jernih sekali” memeriahkan berbagai bagian Dalam itu. Di atas peta kota sekarag pun masih mudah dapat dilihat lintasang Krueng Daroy itu yang datang dari selatan, membelah keluasam Dalam menurut panjangnya lalu bermuara ke Sungai Aceh. Dahulu sungai kecil yang bergulung-gulung itu mengalir lebih ke sebelah barat. Sultan Iskandar Muda yang memerintahkan membendung airnya, memindahkan aliran ke hulu sehingga melintasi Dalam yang pada waktu itu sedang diperbaiki. Kejadian itu terjadi pada tahun 1613 karena menurut Best pekerjaannya berlangsung selama 20 hari sewaktu ia tinggal di Aceh. Tepi-tepinya atas perintah raja dipasang baik-baik: “dan dibuat berundak-undak sehingga orang dapat turun sampai ke bawah untuk mandi.”7)

Peta Aceh untuk keperluan militer; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Selain catatan petualang Eropa, kisah pengerukan sungai sehingga membentengi istana (Dalam) juga masih diingat oleh orang Aceh melalui tradisi oral, kawasan yang dikeruk tersebut dicoret di peta oleh Sultan Iskandar Muda. Daerah-daerah yang dicoret tersebut dikenal dengan kawasan “Geuceu” yang dalam bahasa melayu berarti “dicoret”.

Hanya sedikit keterangan yang diberikan oleh para petualang Eropa mengenai ruang-ruang yang dimaksudkan untuk kehidupan umum dan yang letaknya pada ujung-ujung pelataran ketiga tadi. Mereka mengatakan ada “pintu yang berlapis bilah-bilah perak”, “ruang besar” pertama “tempat mereka meninggalkan sepatu mereka”, akhirnya balai penghadapan besar “yang jauh lebih tinggi” dan “yang dinding-dindingnya dilapis kain emas, beludru dan kain damas”8) Di tempat itulah Sultan menerima pemberian-pemberian mereka, lalu menjamu mereka dengan hidangan makan yang mewah, disambung dengan tontonan tarian.

Taman Putroe Phang tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Kediaman-kediaman pribadi tidak bisa diketahui kembali letak sebenarnya. Di situ terdapat balai larangan kediaman putri-putri, di sana pula barangkali terdapat harta karun yang diceritakan oleh Beaulieu tapi tanpa memberikan lokasinya yang tepat, ruang-ruang tersebut banyak sekali yang kalau dikunjungi dengan teliti, akan makan “enam hari berturut-turut” isinya senjata yang halus pekerjaannya, baju bersulam emas, peniti dari emas juga batu-batu permata yang nilainya tiga intan yang boleh jadi masing-masing 15 sampai 20 karat, dua batu delima besar sekali dan sebuah zamrud yang batu-batu ini diperoleh sewaktu penaklukkan Perak, salah satu batu yang paling indah yang saya (Beaulieu) kira dapat ditemukan di dunia.4)

LEBURNYA ISTANA KERAJAAN ACEH

Sejak 7 Januari 1874, Belanda mengepung Dalam. Tak bisa dibayangkan bagaimana kesanggupan orang Aceh menghadapi 12.000 serdadu dengan perlengkapan senjata yang unggul sampai akhirnya 24 Januari 1874, Belanda mengepung dan menyerang habis-habisan sebelum merebut Istana.

Atas nasihat Teuku Nek Meraksa dilakukan gerakan mengitari, dan akhirnya menduduki istana. Panglima tertinggi Van Swieten memerintahkan musik staf memainkan Wien Neerlands Bloed (Siapa berdarah Belanda). Perintah harian kepada pasukannya disusun dalam gaya militer terbaik, “Kraton telah kita kuasai, dan rakyat Aceh yang angkuh terpaksa menyerah kalah terhadap kegagah beranian dan keahlian perang kita.”9)

Peta Banda Aceh dan sekitar zaman Belanda; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Tentara Belanda (KNIL) di gudang mesiu dan rumah sultan di dalam Kraton; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Belanda menyangka sukses merebut Dalam merupakan kemenangan gemilang, setelah sedemikian banyak jatuh korban. Segera ia mengirim telegram ke Batavia “24 Januari Kraton is ons stop koning en vaderland gelukgewenscht met onze overwinning.” (24 Januari keraton adalah milik kita titik raja dan tanah air diucapkan selamat kepada kemenangan).

Proklamasi Kemenangan Belanda oleh pemimpin ekspedisi Perang Aceh Letnan Jenderal Van Swieten pada 28 Januari 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Pada tanggal 28 Januari 1874, Van Swieten membuat proklamasi. Maklumat ini antara lain menyatakan bahwa Belanda telah berhasil merebut Dalam dan karena itu dengan hak menang perang, seluruh Aceh dibawah kedaulatan Belanda. Seluruh harta benda Sultan dan para kerabatnya menjadi milik Belanda (tentara KNIL). Itulah sebabnya jika kita melihat asrama tentara (sekarang) di Koetaradja (Banda Aceh) awalnya adalah tanah milik Sultan/kerabatnya dulu.

Waktu itu para pejuang Aceh telah mengosongkan Dalam secara besar-besaran, pertama karena wabah kolera dan kedua dengan tujuan mengepung guna segera menyerang balik musuh dari semua jurusan.10)

Ketika menyadari perlawanan Aceh belum padam, Van Swieten melaporkan kembali ke Batavia melalui telegram: “Panglima Polim en Sultan schijnen den strijd te willen voortzetten” (Panglima Polim dan sultan nampaknya berniat meneruskan perlawanan).

Perang Aceh pun berlanjut puluhan tahun ke depan, dan sejak saat jatuhnya Dalam ke tangan Belanda proses penghancuran istana telah dilaksanakan, sehingga saat ini sulit ditemukan jejaknya lagi oleh kita.

Peta Istana atau Kraton Aceh tahun 1873 arsip Universitas Leiden

Peta Istana atau Kraton Aceh tahun 1873 arsip Universitas Leiden

Index/Daftar Keputakaan :

  1. Sir R.O. Winstedt; History of Malaya;Singgapura; 1962.
  2. Denys Lombard; Le sultanat d’Atjeh au temps d’Iskandar Muda (1607-1636); Paris; 1967.
  3. Davis (Jhon); A biefe Relation of Master Jhon Davis, chiefe pilot to the Zelanders in their East India Voyage, departing from Middleborough the fifteenth of March, Anno 1598; London; 1625.
  4. Beaulieu (Augustin de); Relation de I’estat present du commerce des Hollandais at des Portugais dans les Indes Orientales; memoires du voyage aux Indes Orientales du General de Beaulieu; Paris; 1664-1666.
  5. Zhang Xie, Dong xi yang kao; Taiwan; 1962.
  6. Mundy (Peter); The Travels of Peter Mundy in England, Western India, Achen, Macao, and The Canton Province, 1634-1637; London; 1919.
  7. Best (Thomas); The Voyage of Best to the East Indies 1612-1614; London; 1934.
  8. Lancaster (Sir James); The Voyage of Sir James Lancaster to Brazil and the East Indies, 1591-1603; London; 1940.
  9. Paul Van ‘T Veer; De Atjeh-Oorlog; Amsterdam; 1979.
  10. Muhammad Said; Aceh Sepanjang Abad; Medan; 1961.
  11. Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  2. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  3. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  4. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  5. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  6. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  7. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  8. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  9. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  10. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  11. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  12. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  13. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  14. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  15. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  16. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  17. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  18. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  19. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  20. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  21. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  22. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  23. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  24. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  25. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  26. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  27. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  28. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  29. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  30. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  31. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  32. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  33. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  34. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  35. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  36. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  37. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  38. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  39. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  40. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  41. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  42. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  43. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  44. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  45. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  46. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  47. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  48. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  49. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  50. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  51. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  52. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  53. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  54. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  55. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  56. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  57. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  58. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  59. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
Dipublikasi di Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 16 Komentar