LEUMOH HUKOM DIATOE LEE PANGKAT LEUMOH TANOH KEUBUE MEUKUBANG

Leumoh hukom diatoe lee pangkat Leumoh tanoh keubue meukubang.

LEUMOH HUKOM DIATOE LEE PANGKAT LEUMOH TANOH KEUBUE MEUKUBANG

Hadis Maja: “Leumoh hukom diatoe lee pangkat Leumoh tanoh keubue meukubang.”

Ingat na keuh tempat phon ta  jak aleuh jih hana le. Cuba neubayang-bayang ngan mandum crita hana mandum sigohlom gata na bak donya. Indatu gata lam seujarah mandum nyang neutuleh ka apoh ka gadoh. Gata jeut bansa nyang mudah dipeulangu dipeulamit duek bangai tahe gante.

Sebenar jih hana yang trep lam seujarah. Nyang na cuma teingat ato pih tuwo. Seujarah neumat baro na keuh uro nyoe, gata musti meurasa mantong wujud disinan.

Bansa Aceh kon urueng nyang hana ilme baten, kon lagee aneuk manok jeut diparoh le meuruwa. Urueng Chik tanyoe jiteupu pajan raja zalim ek ateuh singgasana, indatu tanyoe tem suet nyawong keu ridha Allah.

Neukalon nanggroe tanyoe ka lage kueh boy dibagi-bagi. Uteun-uteun tanyo ka hana le, pedeh hate ta kalon buya krueng teudong-dong. Gadoh meurangak meupake sabe-sabe dro.

Rafli neusurah bak lagu Rawa Tripa: “Rawa Tripa raya that uyok, jinoe jineuk cok sawet jipula. Ie ka habeh thoo tanoh leupah kra, dum meulatang han tatuho ka. Hana le ie unoe hai aneuk nanggroe nyang jeut keu ubat, ka habeh limbat peunajoh raja. Hana le seungkoe rukan ngon bacee, habeh dum reule atra nyang ka na. Sayang gampong lon sayang nanggroe lon. Ureung di gampong abeh nafakah, sabee reu ah lam uroe kha, dak na ujuen hana pat keubah. Kayee katacah boh bhah preh teuka, ka keuhendak Po rawa geu keubah. Si Jumoh jak cah di Rawa Tripa, geupuga gampong yoh phon geupeugah, oh ta eu sosah urueng ubee na. Buya krueng teudong-dong buya tamong meuraseuki.”

Beuneuingat lagee disurah bak kitab gohlom Islam sigohlom neupaham lhee ilme: Tauhid, syariah ngon tassawuf. Peukah jinoe Raja meunan? Hukom ka diatoe le pangkat, leumoh lage tanoh keubeu meukubang. Tanyoe bek tuwo bansa nyoe jameun geu mat ngon urueng-urueng saleh.

Peudeh hatee, ie mata tijoh. Tanyoe ureung na iman musti bahagia karna meuphom Allah lam tip-tip takeudi gaseh ngon sayang keutanyoe hantom putoh. Mandum lam kuasa Po, mandum pujoe keu Allah, neu peusalamat nanggoe kamoe, jameun na keuh dilakap nanggroe aulia. Hom uro nyoe!

XXXXX

Posted in Mari Berpikir | Tagged , , , , , | Leave a comment

SEJARAH BENTUK DAN FILOSOFI RUMAH ACEH

Rumah Adat Aceh

SEJARAH BENTUK DAN FILOSOFI RUMAH ACEH

Remang-remang dalam kekaburan masa yang telah lama berlalu coba kita terangi dengan pelita yang berasal dari catatan-catatan peninggalan yang masih ada, dan dari penyelidikan-penyelidikan yang masih dapat dilakukan. Rumah Adat Aceh merupakan hasil budaya ribuan tahun, meski saat ini masa gemilang itu telah mengalami kemunduran tapi tak ada salahnya untuk dikaji kembali sebagai bahan pelajaran kepada generasi penerus.

Menurut hikayat Rumah Aceh dahulunya adalah perahu yang dibalik untuk dijadikan rumah yaitu ketika tibanya dinasti Mante ke Aceh. Kerajaan Mante adalah kerajaan tertua yang diketahui pernah ada di Aceh. Dinasti ini berpusat di Seumileuk, pedalaman Selimum antara Jantho, masuk wilayah Sagi XXII Mukim.

Sejarah Rumah Aceh

Menurut Dada Meuraksa, Kata-kata Mante berasal dari Mantenia atau Mantinea, sebuah kota di Yunani, dimana penduduknya disebut Mantinea. Penduduk Mantinea memiliki leluhur yang dari lembah pegunungan Alpen, termasuk dalam rumpun suku bangsa Indo-Jerman (Ras Arya). Dalam rentang waktu abad ke 14 sampai dengan 12 S.M. Mereka melakukan perpindahan penduduk ke daerah hangat di selatan dan tiba di Yunani. Semula mereka mendiami pulau Kreta bagian Selatan, kota Thessalia dan dinamakan dengan suku Achaia atau Achaea. Ada empat suku Yunani Purba yaitu: Achaia, Aiolia, Ionia dan Doris. Kesemuanya berasal dari Pulau Kreta. Pada abad ke 12 S.M. mereka di usir oleh bangsa Doris, mereka berpindah, sebagiannya kedaerah Peloponnesus Utara, sebagiannya ke Asia Kecil (Turki), dan sebagian yang lain ke Asia Tengah (lembah Kaukasus).  Dari mereka yang pindah ke lembah Kaukasus ada yang mengetahui berita tentang Nabi Sulaiman mengirimkan bangsa Phoeni untuk mengambil emas ke Asia Tenggara. Maka suku Achaean mengembara ke arah ke Timur untuk mencarinya. Melalui Chaibar Pas (jurang antara dua gunung diperbatasan Afghanistan dengan India) hingga mereka sampai ke India Utara dan berasimilasi dengan penduduk asli.  Mereka meneruskan pengembaraan mereka ke arah Timur sampai ke Tennosering diperbatasan Burma dengan Siam (Thailand), mereka berassimilasi lagi dengan bangsa Mon Khemer, leluhur bangsa Kamboja dan Campa.

Dalam rangka mencari pulau emas mereka meneruskan pengembaraan ke selatan dengan menyeberangi Selat Malaka dengan menggunakan perahu-perahu. Mereka sampai kepulau Perca (Andalas/Sumatera) dan memutuskan untuk menetap perahu-perahu yang tadi dijadikan alat transportasi dibalik dan dijadikan rumah. Mereka mendirikan kerajaan Mante dengan berpusat di Seumileuk, yaitu suatu tempat yang strategis yang terhubung dengan sumber emas di kaki gunungemas (Seulawah) yang terletak pada suatu pucuk sungai yang bercabang tiga (di Tangse) yaitu: Kruëng Aceh, Krueng Woyla (Tutut) dan Krueng Keumala. Seumileuk termasuk lembah Krueng Aceh, dan kemungkinan nama lembah Aceh, Krueng Aceh dan bangsa Aceh berasal dari nama suku mereka yaitu: Achaia.1

Deskripsi Bentuk Rumah Aceh

Rumah Aceh dibuat tinggi dari tanah, bangunannya ditopang oleh oleh sejumlah tiang-tiang besar yang tegak dan beraturan. Bentuk rumah segi empat, jarak antara lantai rumah dari tanah antara empat sampai Sembilan hasta.  Tulang atas yang disebut “tampong” (blandar) menjurus lurus dan arata dari timur ke barat, bukan dari utara ke selatan dengan maksud agar rumah menghadap kiblat.

Rumah Aceh memiliki 16 tiang, berbaris empat-empat. Ditambah tangga 1 dianggap sebagai tiang memiliki makna 17 rakaat dalam sehari shalat, sesuai dengan filosofi, “Shalat adalah tiang agama”. 2 tiang dinamakan raja dan permaisuri (putro), 2 tiang ini melambangkan shalat Shubuh. Seluruh tiang besar dan bulat.

Panjang rumah dari timur ke barat, dihitung pada bagian luar tiang adalah 11, 13, 15, 17, atau 19 hasta. Bagian dari utara ke selatan lebih panjang dari itu dengan jarak yang jumlahnya ganjil. Biasanya yang dipakai hasta wanita.

Lukisan sebuah gampong di Meureudu pada rumah makan Asia Utama di kota Langsa

Lukisan sebuah gampong di Meureudu pada rumah makan Asia Utama Simpang Remi di kota Langsa

Rumah Aceh terbagi kepada 3 ruang panjang. Ruang tengah lebih tinggi dari pada kanan dan kiri. Bagian Barat dinamakan “rumoh inong” (ruang perempuan) atau “ruang induk” sedangkan bagian timur dinamakan “rambat”. Rumoh Inong adalah bagian termulia dari yang lain, jikalau tuan dan nyonya rumah memiliki menantu di ruang inilah dua sejoli diberikan tempat. Adat Aceh pengantin tinggal di rumah perempuan sampai mampu mendirikan rumah sendiri.

Ruang di selatan dan utara dinamakan “ramo” atau “seramo”, yakni serambi. Di ujung timur serambi utara didirikan rumah dapur yang disebut “anjong”. Tetapi bisa juga dibuat dapur di sebelah utara atau di tempat terasing. Di sebelah timur rumah dibuat “jerambah” yaitu titi lalu lintas yang lebarnya kira-kira 1.5 meter dari serambi utara ke serambi selatan atau daro rumah dapur (jika terpisah) ke tangga. Tangga biasanya di sudut tenggara, di ujung selatan “jerambah” dan ada juga yang membuat tangga rumahnya di bawah lantai yang dilubangi dan diberi tutup pintu.2

Filosofi Pintu Rumah Aceh

Untuk mengenal Aceh ada baiknya kita memahami filosofi dari pintu rumah Aceh. Biasanya tinggi pintu tersebut sekitar 120-150 cm, terlihat kecil dan membuat siapapun yang ingin masuk ke dalam rumah harus sedikit menunduk, menurut orang-orang tua ini bermakna sebuah penghormatan kepada tuan rumah saat memasuki rumahnya, siapapun dia tanpa peduli derajat dan kedudukannya. Ini memiliki filosofi sebagai hatinya orang Aceh. Sebuah perwujudan dari rasa hormat/cinta yang tak pernah dapat terdefinisikan secara tepat dengan kata. Tak dapat terlihat secara kasat mata, siapa yang menjadi menyayangi dan siapa pula yang disayangi. Hal ini terlihat dari bentuk fisik pintu tersebut yang memang sulit memasukinya, namun ketika kita masuk akan mendapati tiada sekat dan terasa lapang. Sebuah kearifan lokal yang telah tertanam menjadi budaya jalan tentang waktu lebih dari seribu tahun.

Referensi:

  1. Dada Meuraxa, Ungkapan Sejarah Aceh, (Medan: Tanpa Penerbit, 1976) halaman 21
  2. Dada Meuraxa, Sejarah Kebudayaan Sumatera, (Medan: Hasmar, 1978) halaman 182

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  2. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  3. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  4. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  5. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  6. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  7. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  8. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  9. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  10. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  11. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  12. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  13. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  14. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  15. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  16. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  17. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  18. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  19. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  20. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  21. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  22. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  23. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  24. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  25. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  26. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  27. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  28. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  29. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  30. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  31. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  32. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  33. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  34. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  35. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  36. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  37. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  38. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  39. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  40. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  41. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  42. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  43. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  44. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  45. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  46. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
  47. KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA; 9 APRIL 2021;
  48. HIKAYAT MEURAH SILU; 8 JUNI 2021;
  49. SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR; 29 JUNI 2021;
  50. RAJA DEKAT TUHAN JAUH; 3 AGUSTUS 2021;
  51. BERZIARAH KE MESJID ASAL PENAMPAAN DI BLANGKEJEREN GAYO LUES; 17 AGUSTUS 2021;
  52. KISAH-KISAH DI BLANG; 22 NOVEMBER 2021;
  53. ORIDA (OEANG REPUBLIK INDONESIA) ACEH 1947-1949; 14 JANUARI 2022;
  54. ACEH YANG DILUPAKAN; 29 MARET 2022;
  55. PROSA ALAM GAYO LUES; 8 AGUSTUS 2022;
  56. ADAT PELANTIKAN PEMAHKOTAAN PENABALAN SULTAN ACEH DARUSSALAM; 10 JANUARI 2023;
  57. SUSUNAN PEMERINTAHAN ACEH SEMASA KESULTANAN; 14 APRIL 2023;
  58. HIKAYAT SEJARAH ASAL MULA RENCONG; 22 JUNI 2023;
  59. MASIHKAH ORANG ACEH BERJIWA PENYAIR; 25 JUNI 2023;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

CONTOH PUISI CINTA BAHASA FINLANDIA (RAKASTAMAALLE)

Oi tuuli, tervehdin häntä, toivottavasti hänellä on kaikki hyvin siellä.

RAKASTAMAALLE

Maailma on täynnä erilaisia ​​värejä. Vuodenajat vaihtuvat. Sama jokivesi virtaa edelleen. Joskus rauhallinen, joskus kupliva vihainen. Joskus ammeen leveys on rajoittamaton, joskus se kutistuu talven kylmänä. Mutta se virtaa jatkuvasti. Yhdessä sen kanssa rakkaus kasvaa, kehittyy, kukkii ja tuoksuu hyvältä. Rakkaus on kaikkivaltias tässä universumissa, mutta emme voi ilmaista sitä.

Ehkä enemmän tai vähemmän ymmärrän, kun kuvittelen valtameren aallot erottavan meidät. Kun kohtalo kietoo meidät siteeksi, kuin magneetin, jonka voimaa koetellaan kaukana toisistaan. Siellä on pelkoa, huolta ja huolta.

Rakkaus on integroitu kaiken kauneuden huipulle. Liikkuu aina sydämessä, mutta tunsi sen jälkiä maailmankaikkeudessa. Rakkaudellani olen poistanut aiemman rakkauden instrumentin. Minusta tuntuu, että olet kaukana, mutta olet lähellä. Mitä pidempi etäisyys meren erottamana, sitä lähempänä olet. Kunnes meidän välillämme ei ole enää välittäjää.

Todellakin, kohtaamme monia vaikeuksia elämässä. Se on ehdotonta kauneutta, kaiken elämän huippua, hyväksyn koko sydämestäni. Etsiessään ja kohti tuota rakkautta, kunnes yhtenäisyyden tunne saavutetaan. Se ei ole tiedettä, ei filosofiaa, vaan tunteesta tunteen yläpuolella.

Siinä piilee rakkauden mysteeri, eikö niin? Kun sydän voi tavoittaa ominaisuuksia, joita silmä ei saa kiinni. Me, minä ja sinä olemme kuolevaisia. Myöhemmin he kuolevat, yhdessä tai yksitellen. Jos niin on tapahtunut, siellä, kaikista enkeleistä riippumatta, sinä riität minulle. Rakkain rakkaani.

Käännetty kielestä: Yang Tercinta Malahayati

Posted in Asal Usil, Literature, Poetry | Tagged , , , , | Leave a comment

MASIHKAH ORANG ACEH BERJIWA PENYAIR

Syair Hikayat Perang Sabi (Hikayat Perang Sabil) Koleksi Museum Aceh sebagai penyemangat pejuang Aceh dalam melawan agresi Belanda.

Syair Hikayat Perang Sabi Koleksi Museum Aceh

MASIHKAH ORANG ACEH BERJIWA PENYAIR

Pada masa lalu orang Aceh sebagaimana orang Arab adalah suatu bangsa penyair, memiliki pembawaan, lebih dapat merasakan kata-kata bersajak, dalam ucapan maupun kalimat biasa. Bangsa Arab pada masa jahiliyah maupun bangsa Aceh sebelum Islam, sudah terdapat karangan-karangan sastra sejak zaman purbakala.

Orang-orang Aceh dahulu sebelum Islam pernah memakai aksara nenek moyang yang berasal dari Campa atau India, tetapi ketika agama Islam masuk ke Aceh hanya mengenal huruf Arab. Hal ini membuat hikyat-hikayat Aceh yang masih tersimpan dalam bentuk syair tertulis dengan aksara Arab. Para penyair menghafal hikayat-hikayat digemarinya, kemudian diucapkan kembali. Banyak pula yang membuat karangan dalam pikirannya kemudian  dinyanyikan dalam bentuk hikayat bersajak, sehingga terjadilah banyak keadaan ketika sebuah hikayat diceritakan oleh orang berbeda maka agak berlainan syair-syairnya. Seperti cerita wayang yang memiliki perbedaan cerita ketika berbeda dalang.

Naskah tulisan Gayo-Linge. Diduga masuk kategori Melayu Tua.

Mengenai sastra Aceh, Snouck Hurgronye dalam karyanya The Atjehers menyebutkan yang kami dimaksudkan dengan kesusasteraan disini adalah suatu karya yang menarik, berisi pelajaran dan pembangunan budi orang Aceh, disusun dalam bahasanya sendiri. Sengaja saya gunakan kata-kata “disusun” dan bukan “ditulis”, karena ada hal-hal yang tidak dapat dituliskan.

Hikayat Malem Dagang dan Hikayat Pocut Muhammad, dua syair tentang pahlawan bangsa Aceh di masa lampau. Disampaikan secara tertulis sambung menyambung antar generasi. Sementara ada juga Hikayat Prang Kumpeni, sebuah syair dikarang untuk membakar semangat rakyat Aceh melawan Belanda dikarang oleh Dokarim seseorang yang tidak tahu bagaimana membaca dan menulis, semua diucapkan berdasarkan. Kemudian Snouck meminta Belanda agar syair-syair Aceh tersebut untuk dituliskan.

Maka hikayat-hikayat dan syair-syair barulah ditulis dengan huruf latin (sebelumnya huruf Arab) setelah sebelumnya Snouck Hurgronye menciptakan transkripsi dalam huruf latin dengan mengambil ejaan bahasa Perancis, dikarenakan huruf hidup bahasa Perancis banyak ditemukan kesamaan dengan huruf hidup bahasa Aceh. Tidak diambil dari bahasa lain seperti Melayu ataupun Inggris dikarenakan tidak cukup memberikan kesamaan bentuk-bentuk suara dalam bahasa Aceh.

Berdasarkan hasil observasi penulis kesusasteraan Aceh dibagi dalam dua bagian. Pertama bersifat prosa atau haba, kedua bersifat puisi atau sajak seperti hikayat atau narit. Kedua jenis ini ada yang bersifat ilmu pengetahuan, sejarah atau roman. Ada juga yang bersifat nasehat agama, bacaan anak-anak atau bacaan umum. Sampai dengan saat ini Aceh merupakan daerah yang memiliki banyak kepustakaan sastra dalam berbagai bentuk dan jenis penggolongan. Ketika seorang anak Aceh lahir sampai tahun 1990-an maka diayunan dia akan dilantunkan syair-syair oleh ibunya, maka seharusnya setiap orang Aceh adalah seorang penulis dan penyair bahkan sebelum dia bisa berdiri.

Foto illustrasi pernikahan Aceh diambil tahun 1988, salah satu modelnya adalah Cut Keke.

Foto illustrasi pernikahan Aceh diambil tahun 1988, salah satu modelnya adalah Cut Keke (kanan).

Mengapa hari ini hampir tidak ditemukan hasil sastra saat ini? Sejak Jepang menduduki Aceh di tahun 1942 tidak pernah ada lagi kegiatan dari pemimpin yang memerintah mendukung kegiatan kesusasteraan Aceh, tidak ada dukungan agar muncul penyair-penyair yang gemilang di zaman ini. Jika sesudah masa itu muncul orang-orang Aceh yang menonjol adalah mereka yang tumbuh sendiri, yang tidak mempelajari struktur bahasa dan sejarah Aceh, hanya mempelajari bahasa Aceh dari sekitar lingkungannya secara otodidak, dan tidak mengenal susunan-susunan syair Aceh dari hikayat-hikayat dan syair-syair Aceh di masa lampau yang terkenal baik mutu bahasanya.

Syair Dodaidi yang sejak zaman Sultan Iskandar Muda (abad 16) biasa dinyanyikan seorang Ibu Aceh kepada anaknya dalam ayunan, sebuah lagu dengan kualitas tinggi dari masa lampau bahkan sudah hampir tidak terdengar lagi di setiap rumah tangga Aceh sejak tahun 2000-an. Hal ini adalah sebuah gejala yang akan bermuara kepada jiwa-jiwa syair orang Aceh semakin hari semakin menurun. Bukan tidak mungkin suatu hari nanti, kita akan menangisi kepunahannya.

Beberapa artikel terdahulu:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER; 4 AGUSTUS 2008;
  2. FILOSOFI GOB; 10 OKTOBER 2011;
  3. GAM CANTOI TIADA; 30 MARET 2013;
  4. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT; 6 JUNI 2017;
  5. HIKAYAT SUKU MANTE; 5 JULI 2017;
  6. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH: 1 AGUSTUS 2017;
  7. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH; 19 SEPTEMBER 2017;
  8. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  9. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAMPERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  10. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUIDALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  11. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARASEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  12. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  13. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  14. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  15. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  16. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 20 AGUSTUS 2020;
  17. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  18. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
  19. BERZIARAH KE MESJID ASAL PENAMPAAN DI BLANGKEJEREN GAYO LUES; 17 AGUSTUS 2021;
  20. HIKAYAT SEJARAH ASAL MULA RENCONG; 22 JUNI 2023
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

HIKAYAT SEJARAH ASAL MULA RENCONG

Rencong Hulu Puntong. Gagang terbuat dari tanduk rusa. Diukir secara handmade oleh pengrajin lokal. Rencong jenis ini merupakan bentuk yang paling unik dari jenis-jenis rencong lain.

Rencong Hulu Puntong. Gagang terbuat dari tanduk rusa. Diukir secara handmade oleh pengrajin lokal. Rencong jenis ini merupakan bentuk yang paling unik dari jenis-jenis rencong lain. (Koleksi pribadi penulis).

HIKAYAT SEJARAH ASAL MULA RENCONG

Peradaban berjalan dalam garis waktu yang lurus, merupakan sebuah proses yang mengubah rencong yang dahulu merupakan senjata perkasa sekarang seolah menjadi cinderamata atau oleh-oleh. Meskipun begitu rencong adalah lambang samidin akan perjuangan dan kehilangan dari orang-orang Aceh. Mengingatnya seperti ada rasa direnggut dari asal, meninggalkan sebuah rongga dimana rasa marah dan sakit mengalir masuk.

Rencong adalah buah hasil budaya dari suatu bangsa Aceh. Mengabaikannya berarti menghilangkan ketinggian dari bangsa itu sendiri. Karena itu rencong tak boleh mati, rencong tak akan dibiarkan mati. Tiap kali dia dimakamkan, ia dipanggil lagi, digosok kembali, dan berubah, dan berkali-kali berubah. Mungkin sampai ia tak perlu punya raut wajah yang asli.

Menurut mitos sebagaimana disampaikan oleh Dada Meuraksa pada masa Kerajaan Mante pernah diserang oleh ribuan kelelawar besar sehingga mengakibatkan banyak rakyat yang meninggal. Pada suatu hari seorang pandai besi membuat sebilah sikin (pisau) yang dinamakan rencong runcing bergagang. Lalu dengan dengan alat-alat itulah ketika keluang-keluang (kelelawar besar) menyerang maka akan ditikam oleh rakyat.1 Sejak itulah lahir tradisi orang-orang Aceh memakai rencong sampai masa penjajahan Belanda. Rencong menjadi salah satu peralatan tempur dalam mempertahankan kemerdekaan melawan penjajahan. Bentuk rencong diciptakan berdasarkan Alif dan Mim. Ini menunjukkan pada masa kerajaan Mante/Lamuri agama Islam sudah masuk ke Aceh sekitar tahun 1000 Masehi.

Cerita oral yang ditemukan penulis juga hampir mirip, kisah yang bercerita pada zaman dahulu kala di tanah Aceh ada kerajaan bernama Manto. Ibu kota kerajaan berada di dekat gunung Seulawah sekarang, ketika itu penduduk negeri ini mendapat serangan dari binatang bersayap yang disebut “keluang besar”  yang mengincar penduduk daerah itu. Mereka menghisap darah manusia sehingga banyak berjatuhan korban menyebabkan kerajaan Manto menjadi sepi.

Pada masa itu seorang petani dari pantai barat Aceh mendapatkan akal dengan menganjurkan setiap orang menyelipkan sebilah besi di pinggang depan yang ditempa berbentuk pisau bergagang agak bengkok disebut dengan “rincong” atau runcing dalam bahasa Indonesia. Kelak terkenal dengan nama rencong. Seruan tersebut dilaksanakan oleh rakyat Manto, masing-masing membakar besi lalu membentuk rencong tersebut. Sejak itu setiap saat penduduk Manto selalu menyandang rencong. Bila datang serangan dari keluang-keluang besar maka akan ditangkis dengan rencong sehingga seluruh binatang itu pun habis mati. Sebagai penghargaan atas usulan petani tersebut tempat dia berasal di namakan Pulau Keluang (terletak di Kabupaten Aceh Jaya).

Setiap lelaki Aceh bahkan diwajibkan membawa rencong menurut Kanun Meukuta Alam sebuah konstitusi Kesultanan Aceh Darussalam dan mendarah daging dalam sanubari orang Aceh. Pemerintahan kolonial Belanda ketika berkuasa selalu merazia setiap orang Aceh yang masuk ke wilayah yang diduduki agar tidak membawa rencong dan berusaha keras menghapuskan tradisi ini.

Referensi: 

  1. Dada Meuraksa; Sejarah Kebudayaan Sumatera; Penerbit Hasmar; Medan; 1974 hal 18

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  2. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  3. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  4. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  5. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  6. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  7. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  8. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  9. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  10. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  11. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  12. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  13. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  14. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  15. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  16. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  17. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  18. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  19. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  20. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  21. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  22. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  23. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  24. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  25. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  26. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  27. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  28. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  29. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  30. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  31. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  32. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  33. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  34. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  35. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  36. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  37. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  38. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  39. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  40. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  41. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  42. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  43. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  44. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  45. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  46. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  47. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  48. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
  49. KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA; 9 APRIL 2021;
  50. HIKAYAT MEURAH SILU; 8 JUNI 2021;
  51. SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR; 29 JUNI 2021;
  52. RAJA DEKAT TUHAN JAUH; 3 AGUSTUS 2021;
  53. BERZIARAH KE MESJID ASAL PENAMPAAN DI BLANGKEJEREN GAYO LUES; 17 AGUSTUS 2021;
  54. KISAH-KISAH DI BLANG; 22 NOVEMBER 2021;
  55. ORIDA (OEANG REPUBLIK INDONESIA) ACEH 1947-1949; 14 JANUARI 2022;
  56. ACEH YANG DILUPAKAN; 29 MARET 2022;
  57. PROSA ALAM GAYO LUES; 8 AGUSTUS 2022;
  58. ADAT PELANTIKAN PEMAHKOTAAN PENABALAN SULTAN ACEH DARUSSALAM; 10 JANUARI 2023;
  59. SUSUNAN PEMERINTAHAN ACEH SEMASA KESULTANAN; 14 APRIL 2023;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

KEMBALI PADA KEKASIH

Suatu malam di kota Langsa

Suatu malam di kota Langsa

KEMBALI PADA KEKASIH

Buih buih di lautan akan kupintal menjadi tambang pengikat

Bersama anyaman gelombang menjadi hamparan peraduanmu

Awan-awan kan kutenun menjadi selendang memayungi rambutmu

 

Desir-desir angin di pegunungan akan kujahit menjadi pakaian tidurmu

Bahwa bintang kejora akan kupetik menjadi mutiara di dadamu

Akan kutarik bulan purnama menjadi pelita menyuluhi rindu

 

Maka rebahlah matahari menerangi malam-malammu

Agar bersemi madu jiwamu

 

Kekasih hitunglah hari sejak perpisahan kita

Maka sempurnalah perjumpaan kita nantinya

 

Di dalam surga dua alam di pertemuan

Kembali pada asal sebenar-benarnya asal

 

Langsa, 8 Zulqaidah 1444 Hijriah bertepatan 28 Mei 2023

Katalog puisi terdahulu:

  1. Di Tepian Pantai Pulau Bunta; 6 Maret 2018;
  2. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  3. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  4. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  5. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  6. Jangan Mencintai Lautan; 4 April 2019;
  7. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  8. Peucut Kherkof Suatu Masa; 24 September 2019;
  9. Mengunci Malam; 1 April 2020;
  10. Apa Arti Masa Depan; 10 Juli 2020;
  11. Perahu Baa Mencapai Alif; 23 September 2020;
  12. Jejak Langkah; 26 Desember 2020;
  13. Hati Resah Berkisah; 1 April 2021;
  14. Kopi Pahit Semalam; 11 Agustus 2021;
  15. Mimpi Mimpi Pion; 30 November 2022;
Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | 2 Comments

SUSUNAN PEMERINTAHAN ACEH SEMASA KESULTANAN

Cap Sikureng atau 'Segel Sembilan Lipat' Aceh dibuat pada pertengahan abad ke-17, kemungkinan besar pada masa milik Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah (m. 1641-1675).  Selama 250 tahun stempel besar Aceh selalu mencantumkan nama penguasa yang sedang berkuasa di lingkaran tengah, dikelilingi oleh delapan lingkaran kecil berisi nama-nama para leluhur yang termasyhur.

Cap Sikureng atau ‘Segel Sembilan Lipat’ Aceh dibuat pada pertengahan abad ke-17, kemungkinan besar pada masa milik Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah (m. 1641-1675). Selama 250 tahun stempel besar Aceh selalu mencantumkan nama penguasa yang sedang berkuasa di lingkaran tengah, dikelilingi oleh delapan lingkaran kecil berisi nama-nama para leluhur yang termasyhur.

SUSUNAN PEMERINTAHAN ACEH SEMASA KESULTANAN

Judul Asli: De Inrichting van het Atjehsche Staatbestuur onder het Sultanaat dalam Majalah Berkala Bijdreagen tot de Taal-en Volkenkunde van Nederland Indie 5, III Deel, 1888. Ditulis oleh Karel Frederik Hendrik van Langen. Alih Bahasa Aboe Bakar dengan judul Susunan Pemerintahan Aceh Semasa Kesultanan, Cetakan keempat, 2022, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Banda Aceh.

Download e-book (format pdf): STRUKTUR PEMERINTAHAN ACEH SEMASA KESULTANAN

Review Buku Susunan Pemerintahan Aceh Semasa kesultanan Aceh

Judul Asli: De Inrichting van het Atjehsche Staatbestuur onder het Sultanaat dalam Majalah Berkala Bijdreagen tot de Taal-en Volkenkunde van Nederland Indie 5, III Deel, 1888. Ditulis oleh Karel Frederik Hendrik van Langen. Alih Bahasa Aboe Bakar dengan judul Susunan Pemerintahan Aceh Semasa Kesultanan, Cetakan keempat, 2022, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Banda Aceh.


Jauh sebelum Snouck Hurgronje menulis tentang orang Aceh dalam buku De Atjehers, 1893-1894. Van Langen telah menulis berbagai buku tentang Aceh sebagai pegawai pemerintah kolonial Belanda ia memiliki konstribusi besar dalam meneliti Aceh pada masa itu.

Karel Frederik Hendrik van Langen lahir 28 Maret 1848 di Willem I, dekat Ambarawa, Jawa Tengah. Riwayat orang tuanya tidak pernah disebutkan pada berbagai catatan, besar dugaan ia merupakan anak “kompeni” mengingat kota Ambarawa dan Magelang merupakan kota-kota tentara Belanda, walahpun Van Langen sendiri tidak mengikuti jejak militer orang tuanya.

Di usia 20 dia memasuki dinas Pemerintah Kolonial Belanda, setahun kemudian mendapat jabatan “ambtenaar terbeschikking” (Pegawai diperbantukan) di Borneo (Kalimantan) dan tahun 1870 menjadi “Controleur 3e.kl” di Sumatera Barat. Kemudian promosi menjadi “Controleur 2e.kl” dan “Controleur 1e.kl” masih di Sumatera Barat.

Tahun 1879 dia diperbantukan untuk sementara di Aceh dibawah Gubernur K. van der Heijden (1877-1881). Tahun 1881 dia diangkat untuk sementara sebagai Asisten Residen Aceh Barat, dan 2 tahun kemudian defenitif.

Tahun 1884 van Langen menjadi Asisten Residen Aceh Besar, selama itu dia bertemu dengan Teuku Umar dari Meulaboh yang berniat bekerja sama dengan Belanda. Teuku Umar jauh lebih cerdik dari Van Langen dan berkali-kali Van Langen kalah ilmu dan tertipu oleh Teuku Meulaboh tersebut.

(Baca: Teuku Umar Pahlawan)

(Baca: Surat Tengku Chik di Tiro)

Tahun 1886 ia mendapat cuti luar negeri ke Eropa, Ketika Kembali tahun 1888 diangkat sebagai Asisten Residen di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara), tahun 1889 di Bengkulu dan tahun 1892 kembali ke Aceh untuk urusan-urusan Aceh dalam hal melaksanankan apa yang disebut peraturan pelayaran.

Nyonya van Langen dan teman-temannya. Marry van Zoest, Nyonya Gosenson van Langen dan Nyonya van Zijl Gosenson kemungkinan di sebuah pasanggrahan di Berastagi dekat Kabanhjahe tahun 1937. (van Langen sendiri telah meninggal tahun 1915). Sumber KITLV.

Sejak tahun 1895 Van Langen empat kali menjabat Pejabat Sementara Gubernur Aceh walaupun tidak lama. Selain melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pejabat pemerintah, van Langen menulis beberapa karangan tentang Aceh baik ilmu bumi maupun antroplogi. Antara lain:

  1. Atjehsche Taalstudien (dalam Tijdschr. Bataviaasch Genootschap, XXVII), 1883.
  2. Atjeh Westkust (dalam Tijdschr. Aardr Genootschap, seri II,VI,VI), 1888, Leiden.
  3. De Inrichting van het Atjehsche Staatbestuur onder het Sultanaat dalam Bijdreagen tot de Taal-en Volkenkunde van Nederland Indie 5, III Deel, 1888.
  4. Bijdreagen tot de Kennis der gajoe Landen (dalam Tijdschr. Bataviaasch Genootschap, V).
  5. Beknopt Alfab Informatieboekje beteffende Groot Atjehsche Personen en Aangelegenheden, 1897, s-Gravenhage.
  6. Handleiding voor der beoefening der Atjegsche taal, s-Gravenhage. 1889.
  7. Woordenboek der Atjehschee taal, s-Gravenhage. 1889.

Pada tanggal 9 April 1898 van Langen atas permintaan sendiri diberikan pensiun. Dia meninggal tahun 18 April 1915 di kota Ede, provinsi Gelderland, Belanda.

Artikel-artikel tentang Aceh:
  1. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  2. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  3. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  4. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  5. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  6. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  7. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  8. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  9. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  10. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  11. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  12. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  13. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  14. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  15. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  16. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  17. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  18. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  19. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  20. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  21. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  22. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  23. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  24. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  25. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  26. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  27. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  28. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  29. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  30. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  31. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  32. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  33. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  34. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  35. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  36. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  37. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  38. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  39. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  40. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  41. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  42. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  43. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  44. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  45. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  46. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  47. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  48. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  49. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
  50. KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA; 9 APRIL 2021;
  51. HIKAYAT MEURAH SILU; 8 JUNI 2021;
  52. SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR; 29 JUNI 2021;
  53. RAJA DEKAT TUHAN JAUH; 3 AGUSTUS 2021;
  54. BERZIARAH KE MESJID ASAL PENAMPAAN DI BLANGKEJEREN GAYO LUES; 17 AGUSTUS 2021;
  55. KISAH-KISAH DI BLANG; 22 NOVEMBER 2021;
  56. ORIDA (OEANG REPUBLIK INDONESIA) ACEH 1947-1949; 14 JANUARI 2022;
  57. ACEH YANG DILUPAKAN; 29 MARET 2022;
  58. PROSA ALAM GAYO LUES; 8 AGUSTUS 2022;
  59. ADAT PELANTIKAN PEMAHKOTAAN PENABALAN SULTAN ACEH DARUSSALAM; 10 JANUARI 2023;

Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

CONTOH PUISI CINTA BAHASA JERMAN (SEI JEMAND)

Können Sie sich vorstellen, wie groß das Herz ist, das die ganze Liebe in diesem Universum enthält?

SEI JEMAND

Wenn du liebst und bereit bist, nicht geliebt zu werden, zu geben, ohne eine Gegenleistung für deine Taten zu erwarten, dann bist du tatsächlich ein erwachsener Mensch geworden.

Wenn Sie einem anderen Menschen vergeben haben, obwohl er Sie immer noch verletzt, dann sind Sie tatsächlich ein echter Mann geworden.

Wenn andere Menschen jemanden aufgrund seines Ruhms vergöttern, während Sie jemanden aufgrund seiner Persönlichkeit vergöttern, dann sind Sie jemand mit Charakter.

Wenn Sie diejenigen, die Ihren Charakter prägen und Ihr Wissen erweitern, nicht vergessen und dennoch respektieren, dann sind Sie tatsächlich ein tugendhafter Mensch geworden.

Wenn Sie sich von anderen Menschen unterscheiden und der Beste sein möchten, haben Sie tatsächlich Ihre eigenen Ziele.

Wenn andere Menschen nur über ihre Niederlage weinen können, während du sie akzeptierst und dich stärker machst, dann bist du der wahre Gewinner.

Wenn andere Menschen über Probleme meckern, während Sie standhaft darin leben, haben Sie tatsächlich Ihre eigenen Probleme überwunden.

Wenn Menschen lügen, um sich selbst zu retten, während Sie noch auf dem Weg der Ehrlichkeit sind, obwohl andere Menschen Sie lächerlich machen und auslachen, haben Sie ihnen tatsächlich Respekt vor Ihnen eingeflößt.

Wenn andere Menschen ihre Gegner beschimpfen und demütigen, während Sie sie dennoch respektieren, stellen Sie sicher, dass die Niederlage Sie nicht im Geringsten berührt.

Wenn andere Menschen sich vor der Realität verstecken, während Sie der Realität standhaft gegenüberstehen, auch wenn sie Ihnen wehtut, dann haben Sie tatsächlich Ihren größten Feind besiegt.

Als niemand die Wahrheit sagte, sagten Sie, dass Sie sie alle gerettet hätten, obwohl Sie ignoriert wurden.

Wenn Sie immer noch stolz auf Ihre Grenzen sind, auch wenn es anderen Menschen peinlich ist, wenn Sie in Ihrer Lage sind, wenn dies tatsächlich Ihr wahrer Zustand ist, ohne ihn zu vertuschen, und Sie dafür dankbar sind, dann sind Sie in den Augen anderer stolz deine Eltern.

Wenn Sie weiterhin das Beste geben, was Sie geben können, auch wenn es nicht ausreicht, um andere zufriedenzustellen, dann sind Sie wirklich der beste Mensch.

Wenn du alles Glück der Welt hast und all das zu deiner Liebe und Dankbarkeit gegenüber dem Schöpfer beiträgt, dann bist du wirklich eine Perle des Wissens von Lehrern, Eltern und jedem, der dich erzieht.

Wenn der Tag kommt, an dem du diese Welt für immer verlässt. Viele Menschen, die Ihren Leichnam überbrachten, um Sie trauerten und einen großen Verlust für Sie empfanden, dann haben Sie als Mensch in der Welt tatsächlich Erfolg gehabt und Ihre Aufgaben in dieser Welt sind erfüllt.

Medan, 31. Juli 2004

Ich erinnere mich an meinen Vater und all seine Ratschläge

Übersetzt aus: Menjadi Seseorang

Posted in Literature, Poetry | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

SEPAK TERJANG SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI PENASIHAT PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA

Snouck Hurgronje sebagai Abdul Ghaffar di Arab, kelak diberi julukan Tengku Puteh oleh orang-orang Aceh.

Snouck Hurgronje sebagai Abdul Ghaffar di Arab, kelak diberi julukan Tengku Puteh oleh orang-orang Aceh.

SEPAK TERJANG SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI PENASIHAT PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA

Christiaan Snouck Hurgronje dilahirkan pada tanggal 8 Februari 1857 di Oosterhout. Setelah tamat Hogere Burgerschool (Sekolah Menengah Lima Tahun, penerjemah) di Breda dan setelah menempuh ujian negara, ia kuliah di Universitas Leiden. Di sana ia menempuh ujian kandidat dalam mata kuliah teologi, setelah itu ia menempuh ujian dalam ilmu sastra Samiyah. Pada tanggal 24 November 1880 studinya di universitas itu berakhir dengan promosi – cum laude – menjadi doktor dalam ilmu sastra tersebut, berdasarkan sebuah disertasi tentang perjalanan haji ke Mekah berjudul Het Mekkaansche Feest (Perayaan di Mekah).

Dari tahun 1881 sampai 1887 Dr. Snouck Hurgronje menjadi lektor pada Lembaga Kota Praja untuk Pegawai Hindia Timur di Leiden dari tahun 1887 sampai 1889 di universitas tersebut. Kurun waktu pertama – 1884/85 – disela oleh waktu bermukimnya di tanah Arab. Pemukimannya di sana memberikan kesempatan yang langka kepada Dr. Snouck Hurgronje untuk dapat ikut menghayati kehidupan penduduk Mekah di pusat akidah kaum muslimin.

Masih terdapat banyak salah paham tentang cara ia berhasil masuk ke Mekah. Sekarang pun masih banyak orang yang menyangka bahwa ia bergerak di sana dengan menyamar dan akhirnya terpaksa meninggalkan Mekah dengan tergesa-gesa, karena ia ketahuan sebagai seorang asing, seorang Belanda yang telah masuk menyelonong ke Mekah secara sembunyi-sembunyi. Dugaan-dugaan seperti ini sering disertai cerita-cerita yang sangat berupa omong-kosong. Bahkan seorang pengarang biografi yang ternama seperti Henriette L.T. de Beaufort pun rupanya percaya kepada penyamaran yang gaib itu. Ia menulis dalam riwayat hidup Cornells van Vollenhoven (halaman 26)” … Ia mengunjungi arsip kota dan arsip mesjid. Sebagaimana pantasnya bagi seorang calon haji yang saleh ia ikut serta dalam semua peribadatan; ia bercakap-cakap dengan rakyat dan bersoal jawab dengan para ulama. Tak seorang pun yang ragu-ragu bahwa bahasa Arab merupakan bahasa asalnya. Seolah-olah dengan lahap ia minum dari sumber-sumber rohani orang-orang yang beriman dalam agama Islam. Kemudian secara mendadak rupanya timbul kebocoran dalam rahasia penyamarannya, sebab surat kabar berbahasa Perancis Le Temps bertanggal 5 Juli ’85 salah ucap berlebih-lebihan dan membuka sedikit-sedikit tabirnya: Abd al-Gaffar sebenarnya seorang sarjana dari Leiden, yaitu Dr. Snouck Hurgronje.”

Sebab kejadian sebenarnya, meskipun tidak seromantis itu, telah digambarkan oleh Snouck Hurgronje sendiri dalam sebuah karangan “Aus Arabien” (Dari Negeri Arab) dalam Münchener Allgemeine Zeitung tanggal 16 November 1885 (dimuat dalam Verspreide Geschriften, jilid III, halaman 1-13) dan dalam sebuah karangan yang terbit dalam Meuwe Rotterdamsche Courant tanggal 26 dan 27 November 1885 yang lebih kurang sama isinya (“Mijne reis naar Arabie”, Perjalanan saya ke negara Arab). Dalam karangan tersebut dilukiskan dengan panjang lebar keberangkatannya yang mendadak dari Mekah tak lama sebelum permulaan ibadah haji yang sangat diharapkannya agar dapat diikutinya. Bersama dengan itu juga diberikan alasan-alasan mengapa ia diperintahkan agar segera pergi.

Bagaimana Snouck Hurgronje dapat masuk ke Mekah? Dengan menyamar? Tidak, kecuali jika pakaian ribuan calon haji lain sebelum dia mau disebut pakaian samaran. Sebab untuk orang yang tahu, yaitu Gubernur Kerajaan Turki dan para pegawainya, Syarif Besar yang berbangsa Arab serta lingkungannya, dan yang lebih penting lagi: bagi banyak alim ulama, ia adalah seorang muslim terpelajar berbangsa Belanda yang telah datang ke Mekah untuk melakukan telaah dan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Bagaimana hal itu mungkin terjadi di Mekah, suatu tempat di mana orang asing dari Eropa ditolak dan tempat apabila ada orang yang masuk dengan sembunyi-sembunyi dan kemudian ketahuan, tidak terjamin lagi jiwanya? Sesudah tiba di Jedah, pelabuhan untuk Mekah, Snouck Hurgonje yang telah diundang untuk keperluan tersebut di atas oleh konsul yang disertainya dalam perjalanan ke sana, dapat menumpang di Konsulat Belanda. Hubungan-hubungan yang telah diadakan oleh konsul serta agen perkapalan Belanda dengan para syekh (penunjuk jalan calon haji) di Mekah dapat dimanfaatkan untuk mengundang para alim ulama di Mekah untuk mengirim beberapa di antara mereka ke Jedah. Alasannya ialah karena seorang sarjana berbangsa Belanda yang muda yang sedang menelaah agama Islam, ingin berjumpa dengan mereka. Pertemuan itu terjadilah dan setelah diadakan perbincangan tentang pokok agama – Snouck Hurgronje diminta berbicara mengenai itu – dan mengenai beberapa kitab pedoman tertentu yang oleh Snouck Hurgronje sendiri mulai dibicarakannya, maka para tamu dari Mekah menerangkan bahwa sikap Snouck Hurgronje terhadap agama Islam sudah jelas bagi mereka. Kata mereka, “Kami merasa bahwa Anda seorang di antara kami.” Dengan jalan ini terbukalah baginya jalan ke Mekah.

Sarjana yang muda itu telah sempat antara lain berlatih menuturkan bahasa Arab karena di negeri Belanda ia telah tinggal selama tiga bulan dengan seorang Arab yang terpelajar. Setelah lebih kurang pada tahun 1919,  seorang kenalan berbangsa Arab  ia seorang anggota tua perhimpunan para penunjuk jalan yang telah menghadiri perbincangan tersebut di atas. Ketika ditanyakan apakah ternyata Snouck Hurgronje yang ketika itu ditanya oleh para alim ulama, memang fasih lidahnya, maka kenalan saya itu menjawab, “Tidak, ia bukan hanya fasih, tetapi apa pun yang dikatakannya pantas dipikirkan.”

Jadi, bagi orang Mekah yang terpelajar, Snouck Hurgronje bukan sembarang orang asing, juga bukan orang asing bagi seorang dua bangsa Indonesia di antara mereka (lihatlah “Vergeten Jubile’s”, Hari-hari Kenangan yang Terlupakan), Verspreide Geschriften IV, II, halaman 417 dan seterusnya). Bagi khalayak ramai ia hanya salah seorang di antara banyak orang asing yang menonjol, meskipun tampaknya seperti orang Eropa, sebab banyak orang Turki dan Suriah pun berambut pirang dan bermata biru. Adapun para pejabat menganggap dia seorang tamu terpandang.

Wali (gubernur) Turki di Mekah menyatakan penyesalannya karena harus mengusirnya, karena andaikata Snouck Hurgronje lebih lama tinggal di sana, hal itu akan membahayakan hidupnya. Karena berangkat dengan tergesa-gesa, semua catatan dan bahan fotografinya terpaksa ditinggalkannya di Mekah. Tetapi berkat pengurusan dan perantaraan yang baik sekali oleh agen perkapalan di Jedah, semua itu dapat disusulkan kepadanya.

Lebih kurang tiga bulan sesudah keberangkatannya, Snouck Hurgronje menerima surat dari wali tersebut. Dalam surat itu ia diberitahukan bahwa kesalahpahaman telah dijelaskan dan ia akan disambut lagi dengan baik sekali. Snouck Hurgronje menjawab bahwa tujuan perjalanannya telah tercapai dan bahwa ia tidak sempat lagi kembali ke Mekah. Bertahun-tahun kemudian, lebih kurang tahun 1920, kemungkinan ini memang dipikirkannya juga. Akan tetapi, karena ketika itu tidak ada jaminan bahwa ia akan disambut baik, disebabkan oleh sikap Raja Syarif Husein yang berubah-ubah, ia tidak jadi melakukan kunjungan ke sana, meskipun didesak oleh seorang teman lama di Mekah yang tetap melakukan surat-menyurat dengan dia sejak tahun 1883.

Sepucuk surat permohonan yang disampaikannya kepada Pemerintah Belanda pada tahun 1887, agar diperbantukan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda guna lebih lanjut menelaah agama Islam dan hal-hal yang bersangkutan dengan itu selama dua tahun, telah dikabulkan pada tahun 1889. Untuk mencapai hasil ini, masih perlu juga diberikan uraian lisan kepada Menteri Jajahan. Menteri tersebut yakin juga bahwa tugas yang dimohonkan itu akan membuat orang yang bersangkutan mampu memperkaya pengetahuannya, tetapi ia tidak segera memahami faedah yang timbul dari tugas tersebut bagi Pemerintah Hindia Belanda.

Setelah dua tahun yang diperkenankan itu berakhir, Snouck Hurgronje, dalam sepucuk surat pada bulan Mei, 1890 (I-3), menyatakan harapan agar Pemerintah Hindia Belanda hendaknya mendesak agar ia secara tegas diberi ikatan dinas di Hindia Belanda. Arti penting baginya yang terkandung dalam lingkungan kegiatan yang menjadi pilihannya, terbukti oleh kutipan yang berikut dari surat tersebut, “Sebaliknya ikatan dinas pada Pemerintah Hindia Belanda secara tetap, sekarang pun bagi saya masih tetap merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan jabatan guru besar. Sebagaimana telah saya ketengahkan sebelumnya, karena di sini saya menemukan lingkungan kegiatan yang, dengan bersambungnya secara paling sempurna telaah-telaah saya sebelum ini, memberikan kesempatan yang tak ada taranya agar – mudah-mudahan – saya dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat untuk kepentingan Pemerintah dan ilmu pengetahuan.”

Selama ia tinggal di negara Arab, maka percakapan-percakapannya dengan beberapa orang Aceh telah meyakinkan Snouck Hurgronje bahwa tindakan-tindakan yang telah diambil oleh Pemerintah terhadap Aceh telah gagal. Sebabnya ialah karena tidak terdapat pengetahuan tentang negeri dan suku Aceh yang semestinya menjadi dasar tindakan tersebut. Di samping itu, agar dapat memperkuat keyakinan itu dengan bukti-bukti dan agar dapat orang lain menerimanya, perlulah diadakan penelitian di tempat itu juga. Dengan demikian timbullah rencananya – dalam hal ini ia percaya kepada pengalamannya di negara Arab – untuk memasuki daerah pedalaman Aceh mulai dari Penang. Di sana ia hendak menghimpun data yang dapat membantu dalam memecahkan masalah Aceh. Izin Pemerintah Hindia Belanda yang perlu untuk hal itu mula-mula memang diberikan kepadanya, tetapi setibanya di Penang, ternyata terdapat keberatankeberatan sedemikian rupa di pihak Pemerintah di Kutaraja hingga ia terpaksa membatalkan perjalanan penelitian di pedalaman yang hendak dilangsungkannya atas risikonya sendiri.

Bulan Mei 1889, setelah di Betawi, mulailah Snouck Hurgronje menjalankan jabatan pegawai yang diperbantukan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Dua tahun berikutnya digunakan untuk penelitian di Jawa Barat dan Jawa Tengah tentang keadaan pengajaran agama Islam dan tentang keadaan apa yang pada zaman itu dirangkum di bawah nama – yang kekeliruannya setiap kali ditunjukkan oleh Snouck Hurgronje -“para rohaniwan Mohammadan” (demikianlah Pemerintah Kolonial Belanda sebagaimana bangsa Eropa lain menyebut agama Islam).

Penelitian-penelitian yang luas tersebut belum sampai pada bagian Pulau Jawa dan Madura selebihnya, ketika Pemerintah menganggap penyelidikan tentang, keadaan religius-politik di Aceh lebih mendesak dibandingkan dengan melanjutkan pekerjaan di Jawa.

Perintah untuk penyelidikan baru dari pihak Pemerintah diberikan bulan Februari 1891. Penyelidikan-penyelidikan yang diadakan secara setempat-setempat guna keperluan itu berlangsung dari bulan Juli 1891 sampai awal bulan Februari 1892. Pada tanggal 23 Mei 1892 Snouck Hurgronje menyampaikan sebuah laporan yang kini tersohor tentang keadaan religius politik di Aceh, yang selanjutnya dalam surat-menyurat mengenai hal itu, selalu dikutip sebagai “Laporan Aceh”. Dengan bermusyawarah dengan pihak Pemerintah diolahnyalah dua bab awal (A dan B) laporan tersebut, yang membahas “pernyataan kehidupan orang Aceh yang di dalamnya pengaruh agama Islam berturut-turut agak berada di belakang dan tegas-tegas terkemuka”. Setelah diolahnya, dimasukkannyalah hasilnya ke dalam bukunya yang berjudul De Atjehers yang terbit pada tahun 1893/1894 (pada tahun 1906 terbitlah sadurannya dalam bahasa Inggris). Kedua bab lainnya (C dan D) dalam laporan itu yang berkenaan dengan “saat-saat utama dalam perang bertalian dengan penggambaran kami tentang watak suku bangsa dan beberapa kesimpulan”, bersama dengan lampiran-lampiran laporan tersebut, telah dimuat dalam karya itu di dalam bab III-I.

Setelah kembali ke Jawa, Snouck Hurgronje, melalui surat-menyurat yang teratur dengan para pengirim beritanya di Aceh (III-20), tetap mengetahui sepenuhnya jalannya hal-ihwal di sana, juga jika ditinjau dari segi orang pribumi. Pada tahun 1898, dua tahun setelah Teuku Umar membelot dan Jenderal Deyckerhoff dipecat, dan ketika Kolonel Van Heutsz diangkat menjadi Gubernur Sipil dan Militer daerah Aceh dan bawahannya, maka Pemerintah memberikan kepada Snouck Hurgronje sebuah tugas yang maksudnya memberikan kepadanya pengaruh yang tetap atas urusan pemerintahan sipil di sana (III-35). Disebabkan perbedaan pandangan, maka berakhirlah kerja samanya dengan Van Heutsz pada tahun 1903. Sesudah itu Snouck Hurgronje tidak kembali lagi ke Aceh, namun ia tetap bekerja untuk daerah itu, biarpun tanpa mengunjunginya.

Di antaranya, untuk mengetahui hubungan antara pemerintahan swatantra pribumi dengan perangkat pegawai, dalam bulan-bulan awal tahun 1901 Snouck Hurgronje sering berada di Jambi dan Palembang. Pada akhir tahun itu pun ia tinggal beberapa pekan di Jambi. Tahun 1903, setelah kepergiannya dari Aceh, dan setelah ia tinggal selama dua bulan di daerah itu dalam rangka pemukiman yang diperpanjang, maka ia berusaha mengadakan perjalanan ke Kerinci, di perbatasan daerah pegunungan Padang (sekarang Sumatra Barat, penerjemah). Setelah ia menumpang perahu ke Bangka, pada pertemuan Sungai Mesuma dengan Sungai Marangin, maka ia berjalan kaki lewat medan yang sangat sulit yang akan makan waktu sepuluh hari untuk sampai ke tempat tujuannya. Tetapi ia terpaksa memutuskan perjalanannya, akibat serangan penyakit malaria, serta kembali lagi.

Juga berdasarkan data yang dikumpulkan selama perjalanan-perjalanan tersebut, maka menjadi mungkinlah bagi Snouck Hurgronje untuk memberikan pandangannya pada tahun 1916 tentang sebab-sebab yang menimbulkan pemberontakan di Jambi dan Palembang.

Data-data yang dikumpulkannya sampai akhir tahun 1902 tentang Tanah Gayo dan penduduknya telah terbit pada tahun 1904 dalam bentuk buku.

Pekerjaan sebagai penasihat Pemerintah bagi urusan di luar Aceh yang juga selama ia tinggal di sana sudah bertambah, meskipun dalam ukuran yang lebih terbatas, dilanjutkan dengan dasar semula setelah kembalinya ke Betawi pada bulan Maret atau April 1903. Hanya saja, jumlah nasihat mengenai pokok-pokok yang aktual dan memerlukan telaah, bertambah sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi waktu yang dapat digunakannya untuk melengkapi penelitian yang terdahulu dilakukannya di Jawa Barat dan Jawa Tengah di bidang agama Islam, dengan penelitian serupa di bagian lain Pulau Jawa.

Pada tanggal 12 Maret 1906 berangkatlah Snouck Hurgronje untuk cuti setahun ke negeri Belanda, hampir tujuh belas tahun sesudah tanggal ia memulai kegiatannya di Betawi (11 Mei 1889).

Kenang-kenangan akan kurun waktu terakhir dalam kegiatannya di Betawi, selama masa jabatan Gubernur Jenderal Van Heutsz, kurang menggembirakan baginya. Dalam sepucuk surat bertanggal 11 Oktober 1907 kepada Kolonel Van der Maaten – yang dimuat sebagai lampiran XLVIII dalam jilid II karyanya, Snouck Hurgronje en de Atjeh Oorlog (Snouck Hurgronje dan Perang Aceh), terbaca, “Lama-kelamaan bagi saya soal bekerja di Hindia Belanda terasa dibuat pahit-getir karena dengan sengaja ditunjukkan kurangnya penghargaan dan bantuan dari kedudukan yang tertinggi, dan barangkali rasa mudah tersinggung yang telah bertambah pada saya karena sudah lama tinggal di sini, telah menyebabkan saya lebih merasakan kekecewaan tersebut daripada dulu. Namun, hal ini menjadi ‘terlalu berat’ bagi saya.”

Nomor-nomor agenda sejumlah nasihat yang diberikannya sesudah tiba di negeri Belanda masih tetap bertanda V (verlof atau cuti) sampai pada akhir bulan Juli 1906, sesudah itu tidak ada lagi. Dalam bulan berikutnya Snouck Hurgronje telah memberikan jawaban “tidak” ketika ditanya apakah ia akan kembali ke Hindia Belanda. Ini pun sesudah ia berpikir lama. Tentang hal ini harap membaca surat-menyuratnya dengan Kolonel Van der Maaten. Masih juga dalam sepucuk surat tertanggal September 1907 tercantum, “Namun, andaikata kepada saya ditawarkan kesempatan untuk bekerja di sana dengan menghasilkan sesuatu, maka biarpun hal itu akan dilakukan dengan dasar yang dahulu, saya tidak akan berkeberatan.”

Namun, cuti tersebut berubah menjadi pemukiman yang tetap di negeri Belanda. Meskipun begitu, ikatannya dengan Hindia Belanda tidak diputuskannya. Jelasnya, mimbar pengajaran bahasa Arab yang ditawarkan kepadanya, oleh Snouck Hurgronje baru diterima baik setelah Pemerintah mengabulkan syarat yang dikemukakannya. Syaratnya ialah agar hendaknya ia tetap boleh menjalankan jabatan sebagai penasihat dalam urusan-urusan yang menyangkut kepentingan golongan pribumi dan golongan Arab.

Jabatan penasihat mendapat sifat yang lain sama sekali setelah ia bermukim di negeri Belanda. Akibat tuntutan-tuntutan jabatan guru besar, kegiatannya sebagai penasihat Pemerintah seakan-akan mundur ke belakang, sekurang-kurangnya bagi dunia luar. Akan tetapi dalam kenyataannya, sifat ulasan-ulasan serta nada nasihat-nasihat menjadi jauh lebih tajam, khususnya yang mengenai hal-hal yang selama bertahun-tahun menyebabkan dia menunjukkan dengan tegas tindakan-tindakan yang salah atau peraturan yang tidak adil. Juga mengenai soal-soal yang tak kunjung dibuatkan peraturan padahal dianggapnya perlu dan berkali-kali dibelinya demi kepentingan serta kewibawaan Pemerintah.

Didalamnya ia menyalahkan anjuran Pemerintah agar jangan naik haji dengan alasan penyakit atau kerusuhan di Tanah Suci, sebab nasihat semacam itu sia-sia dan oleh penduduk dikira nasihat itu telah didorong oleh hal-hal lain. Yang disebutnya tidak adil, lagi pula sangat tidak bijaksana terhadap mancanegara yang beragama Islam, ialah pembatasan kebebasan gerak bagi orang Arab dari Hadramaut setelah mereka diperkenankan masuk ke Hindia Belanda dan telah menerima izin bermukim. Pers Pan-Islam di negeri-negeri Arab dan Turki, telah berhasil memanfaatkan keluhan keluhan mengenai hal itu, yang sebagian benar dan sebagian dilebihlebihkan atau dikarang-karang; ini sangat merugikan citra Pemerintah Belanda di dunia Islam. Sebagai imbangan terhadap kebiasaan Pemerintah: memperkenankan mereka masuk dengan agak terbatas, sedangkan mereka yang telah telanjur masuk, diberi kebebasan sesedikit mungkin, maka Snouck Hurgronje menyarankan: dengan mengecualikan mereka yang sedikit banyak dapat mengukuhkan haknya karena berkerabat erat dengan orang-orang yang sudah bermukim di Indonesia, seorang pun jangan dibolehkan masuk ke sini mengingat pengaruh orang Arab yang tidak diinginkan dibidang agama. Sebaliknya, mereka yang sudah telanjur masuk, hendaknya diberi kebebasan yang menjadi haknya. Ketika Pemerintah mendapat pengertian lain pada tahun 1921, ternyata telah lewatlah waktu yang tepat untuk mengadakan perubahan peraturan, yang agaknya akan dihargai.

Mengenai pengangkatan penerjemah-penerjemah untuk bahasa-bahasa Turki dan bahasa Arab oleh Departemen Luar Negeri – pengangkatannya sangat perlu demi citra Pemerintah – sehingga Kedutaan Belanda di Konstantinopel tidak lagi perlu menggunakan penerangan dan bantuan para sarjana yang bekerja pada Kedutaan Jerman di kota itu, hal ini ditunggu bertahun-tahun dengan sia-sia. Padahal, penasihat (Snouck Hurgronje) telah mengulas hal ini berkali-kali kepada Pemerintah dengan nada yang tajam.

Adapun larangan naik haji tahun 1915 dan 1916 selama Perang Dunia I yang dipandang mutlak perlu oleh Snouck Hurgronje, untuk melawan Pemerintah Turki sehubungan dengan aksi Pan-Islamnya, tidak diberlakukan oleh Pemerintah. Alasannya ialah menurut anggapan Pemerintah, pada waktu itu bagaimanapun kapal-kapal haji tak dapat berlayar, jadi hasilnya sama juga. Perbedaan paham yang mendalam timbul pula antara Snouck Hurgronje dengan para pegawai pimpinan di Departemen Pemerintah Dalam Negeri di Betawi mengenai pemberian lebih banyak otonomi (kemandirian) kepada pihak Pangreh Praja Pribumi, supaya pemerintahan ganda – Belanda dan Pribumi – berangsur-angsur akan beralih menjadi pemerintahan tunggal dan seluruh tugas dapat diembankan kepada para pejabat pribumi. Yang menjadi syarat’ bagi pewujudan hal ini ialah: meninggalkan pendapat tentang kerendahan budi dan kerendahan kecendekiaan (intelektual) para pejabat pribumi. Suatu pendapat yang dilawannya dengan kekuatan alasannya. Tentang pemberian lebih banyak kemandirian kepada para bupati. Pemberian lebih banyak kewenangan kepada semua bupati secara berangsur-angsur yang diusulkannya di sini dalam ulasan yang tajam, menurut kecakapan dan andal diri mereka sebagai pemimpin mandiri atas dewan-dewan kabupaten, tanpa pengawasan pihak Eropa sedikit pun, tidak diambil alih oleh Pemerintah. Di Jawa dan Madura, kabupaten-kabupaten dibentuk antara tahun 1923 dan 1928 dalam rangka perubahan pangreh praja secara umum. Namun, pengawasan pihak Eropa dipertahankan juga dalam dewan-dewan tersebut.

Perbedaan-perbedaan pendapat seperti yang disebutkan tadi terkadang menimbulkan hubungan yang tegang sekali dengan pihak Departemen Tanah Jajahan. Hal ini tidak akan saya bicarakan secara lebih rinci dan lebih lanjut. Dalam surat bulan Mei 1931 kepada Jenderal Van der Maaten. Baris-baris yang berikut mengesankan – sesudah dijawab permintaannya untuk mendapat keterangan tentang satu peristiwa khusus selama ekspedisi Pidir yang terjadi 33 tahun yang lalu (1898), “Sekaligus karena menulis surat kepada Anda, saya ingin mempermaklumkan kepada Anda bahwa saya baru-baru ini secara agak mendadak, telah menjadi penasihat kehormatan (honoris causa) bagi Pemerintah Perancis untuk politiknya terhadap Maroko… Saya terpaksa mengakui bahwa sukses kecil ini membantu mengatasi beberapa salah penilaian terhadap saya yang telah saya alami di tanah air.” Beberapa sarjana dan pejabat, di antaranya Prof. B.J.O. Schrieke dan Prof. Mr. Dr. F.M. baron van Asbeck yang karena jabatannya mengetahui nasihat-nasihat Snouck Hurgronje yang berharga dan yang tersimpan di dalam arsip Hindia Belanda, menyadari betapa sangat penting artinya untuk mengumpulkan dan menerbitkannya. Dr. R.W. van Diftelen-lah, yang ketika itu menjadi Kepala Kabinet Sekretariat Umum di Bogor, yang membicarakan hal itu selama cutinya, kira-kira tahun 1933, dengan Dr. Snouck Hurgronje. Yang tersebut terakhir ini dapat menyetujui pikiran tersebut, tetapi mengemukakan bahwa untuk hal itu perlu ada izin dari Menteri Tanah Jajahan dan perlulah diperhitungkan bahwa mengenai satu hal yang sama sering telah diberikannya nasihat. Maka, agar jangan membuat bacaannya membosankan karena sering terjadi pengulangan, perlu diadakan suatu pembatasan dan pemilihan. Setelah kembali dari cutinya, Van Diflelen segera mulai menghimpun dan menyuruh menyalin nasihat tersebut. Pada tahun 1940 semua nasihat Snouck Hurgronje yang terdapat di Sekretariat Umum telah dibuatkan salinannya. Salinan ini dengan sekumpulan yang cukup banyak, berupa catatan Van Diflelen dan dua rekan penelaahnya tentang tiga kuliah Snouck Hurgronje  disimpan di dalam lemari-lemari baja. Selama pendudukan Jepang kabarnya lemari-lemari itu telah dibawa oleh orang Jepang dan isinya bertebaran di pekarangan. Surat dan kartu tetap tergeletak di situ dalam segala cuaca. Apa yang masih tersisa katanya telah dihancurkan oleh sejumlah gerombolan yang berkeliaran dan dibakar oleh mereka. Sepanjang yang diketahui, tidak ada sedikit pun yang masih tersimpan.

Sejarah Indonesia:

  1. Teuku Nyak Arief Seorang yang Tulen Berani dan Lurus sebagai Rencong Aceh di Volksraad; 17 Oktober 2018;
  2. Catatan Sejarah Rantai Babi atau Rante Bui dalam Tulisan yang Disusun Kolonial Belanda; 26 Oktober 2018;
  3. Pasukan Meriam Nukum Sanany Sebuah Pasak dari Rumah Gadang Indonesia Merdeka; 4 November 2018;
  4. Penemuan Arca Kepala Alalokiteswara Sebagai Jejak Keberadaaan Peradaban Agama Budha di Aceh; 18 November 2018;
  5. Revolusi Desember 1945 di Aceh atau Pembasmian Pengkhianat Tanah Air; 6 Februari 2019;
  6. Singa Atjeh Biographi Seri Sultan Iskandar Muda; 6 Agustus 2019;
  7. Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda; 17 Oktober 2019;
  8. Lokasi Istana Kerajaan Aceh Dulu dan Sekarang; 27 Februari 2020;
  9. Hamzah Fansuri Perintis Sastra Melayu; 4 Juli 2020;
  10. Gereja Pertama di Aceh; 12 Juli 2020;
  11. Peristiwa Terbunuhnya Teuku Umar; 1 Agustus 2020;
  12. Sejarah Kerajaan Pedir (Poli) atau Negeri Pidie; 18 Agustus 2020;
  13. Sejarah Kerajaan Daya (Lamno); 21 Agustus 2020;
  14. Para Uleebalang Raja Kecil di Aceh Dari Masa Kesultanan Sampai Revolusi Sosial (1512-1946); 25 Oktober 2020;
  15. Kenapa Sultan Aceh Menyerah Pada Belanda; 9 April 2021;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

MELIHAT MENDENGAR DAN MERASAKAN

Adalah sebuah anugerah untuk menikmati tiap suapan rasa, merasakan sensasi melihat mendengar dan merasakan. Sebuah rasa syukur untuk dapat menghirup nafas sampai hari ini adalah sebuah keajaiban.

Adalah sebuah anugerah untuk menikmati tiap suapan rasa, merasakan sensasi melihat mendengar dan merasakan. Sebuah rasa syukur untuk dapat menghirup nafas sampai hari ini adalah sebuah keajaiban.

MELIHAT MENDENGAR DAN MERASAKAN

Kita hidup di dunia tenaga, energi. Secara fisika energi tetap jumlahnya, kekal, tidak bisa diciptakan dan dibinasakan. Semua benda di jagat raya ini menyimpan potensi energi. Energi aneka bentuk yang bisa berubah dari satu format ke bentuk lain.

Langsa, 15 Februari 2023. Berlari di sore hari di lapangan tengah kota tidak semata-mata untuk sehat atau bugar belaka. Namun juga membangun sebuah kesadaran bahwa “aku” adalah sebuah makhluk sosial yang hidup dalam sebuah dunia yang beragam rupa. Abu tak hanya sekedar berlari tapi juga memperhatikan suara burung yang berkicau di sore hari, anak-anak yang bermain ceria di taman, para remaja bersenda bersama temannya, atau kerja keras seorang kakek yang bersemangat menjajakan makanan kecil.

Hanya merasakan desir-desir udara yang menerpa wajah. Abu hadir disitu sekaligus tidak hadir di kehidupan mereka. Hanya sebagai pengamat yang berjarak oleh sekat-sekat ruang. Beginilah mungkin esensi hidup bersosial, kita berbagi ruang yang sama, tanpa harus mengambil resiko untuk terlibat. Hanya cukup menyadari apa yang sedang terjadi saat peristiwa terjadi tanpa harus menghakimi dan tidak terambil alih oleh harapan. Tindakan ini mungkin tidak akan membuat meraih tingkat kebahagiaan yang tinggi seperti ketika memenangkan perlombaan. Bisa jadi adalah salah satu cara bersyukur dalam hidup untuk tidak dikuasai oleh hasrat yang tak pernah habis.

Menurut Abu cara ini tidak hanya mengajarkan untuk beradaptasi tentang kenyataan yang tersaji dihadapan muka kita. Entah kegagalan, kekalahan atau bahkan kemenangan kita. Mungkin itulah yang membawa sedikit ketenangan ketika hanya sedikit hal yang membuat kita khawatir. Karena jangankan esok, hari ini saja kita semua tidak tahu bagaimana mengakhirinya.

Tiba-tiba ingatan Abu melompat jauh ke belakang.

Aneuk Galong Baro, Aceh Besar, circa tahun 1991. Pada bulan Ramadhan Abu kerap pulang kampung Ayah. Betapa kagum, takjub seorang Abu yang masih berumur 7 tahun tentang keajaiban buah kelapa. Bagaimana bisa dalam buah sekeras itu bisa ada air yang sangat lezat, daging gurih serta acapkali terdapat kentos, yaitu tunas kepala yang ditemukan dalam buah kelapa yang sudah terbelah, rasanya agak sedikit berminyak dan lemak. Disitulah terbersit, hidup yang baik adalah hidup yang bermanfaat sebagaimana buah kelapa, sebagaimana pohon kelapa. Jika seseorang tak ingin meraih kemuliaan di masa mudanya, tak akan mulia hidupnya sampai tua.

Lhokseumawe, tepatnya 15 Februari 2008 Abu memulai menulis di blog tengkuputeh.wordpress.com (kelak ditingkatkan  menjadi tengkuputeh.com pada 1 April 2017). Sejak awal tahun 2000-an fenomena blogger mulai merambah di Indonesia, orang-orang berbagi cerita melalui website pribadi. Saat itu media sosial belum terlalu populer, Friendster sudah lahir tapi budaya bersosial media belum kuat. Dahulu blog bersifat sangat personal dibuat oleh blogger berdasarkan topik-topik yang disenanginya. Pada awalnya blog menjadi wadah bagi para pengguna untuk mengekspresikan pendapat atau perasaan pribadi. Saling berkunjung serta memberikan komentar antara sesama blogger menjadi ladang silaturahmi ketika itu. Lahir dan maraknya media sosial seperti Facebook dan twitter (kemudian disusul Intagram dan kawan-kawan) menjadi sejenis microblogging membuat blog perlahan-lahan berkurang. Teman-teman awal Abu yang saling berkunjung dan berkomentar semasa dunia blogger nyaris semuanya sudah tidak ada lagi. Pada akhirnya para blogger berguguran satu demi satu.

Pada akhirnya semua hanyalah pilihan pribadi dengan kerumitan pikiran dan latar belakang seseorang. Ketika menjalani sesuatu yang sama secara terus menerus akan muncul kebosanan dan itu bukanlah sesuatu hal yang buruk. Kebosanan adalah lonceng pemanggil bahwa kita harus berubah. Kehidupan terlalu rumit, kita tidak bisa memprediksi semua sebab dan akibat. Hasilnya tergantung kemampuan kita berdansa dengannya.

Pada usia 15 tahun usia tengkuputeh.com sekaligus menjelang usia penulis menuju ke-39 ini Abu berpikir dan menarik kesimpulan bahwa. Tiap generasi memang memiliki masa hura-huranya, nikmatilah sebelum generasi tersebut menjadi generasi tua yang julid ke generasi muda hura-hura berikutnya.

Adalah sebuah anugerah untuk menikmati tiap suapan rasa, merasakan sensasi melihat mendengar dan merasakan. Sebuah rasa syukur untuk dapat menghirup nafas sampai hari ini adalah sebuah keajaiban.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment