KEMATIAN BHISMA

Bhisma yang terpanah, paham dia tidak akan sembuh. Hutang kematian Dewi Amba telah terbalaskan oleh Srikandi dan Arjuna.

KEMATIAN BHISMA

Sepanjang berjalan waktu, tahun demi tahun. Sekarang, perbatasan telah berubah dalam abad ini, tapi nostagia ini betapa bertentangan dengan kenyataan, itu semua karena sejarah. Segala sesuatu memiliki asal mula, perjalanannya dinamakan sejarah dalam bahasa awam disebut masa lalu. Manusia sebagai individu pelaku sebenarnya adalah sejarah itu sendiri, manusia menyerap (osmosis) apa yang ia lalui di perjalanan hidup. Baik itu rasa, ruang maupun waktu. Dan ciri-ciri orang hebat bisa diketahui melalui tiga pertanda: kedermawanan dalam bentuk, kemanusiaan dalam pelaksanaan, tidak berlebihan dalam keberhasilan.

Kurukhetra. Bharatarayudha, perselisihan antara keluarga Pandawa yang pimpin oleh Puntadewa (Yudhistira) melawan sepupu mereka, yaitu para korawa yang dipimpin Duryadana. Hari kesepuluh, Bhisma panglima perang Hastinapura maju dengan gagah berani. Resi Bhisma disebut juga Dewabrata adalah penjaga wangsa Bharata adalah seorang terhormat terakhir di kubu Korawa pantang menyerang wanita, tidak melawan ketika Srikandi menyerang. Dan serangan Srikandi tidak mempan terhadap Dewabrata. Akan tetapi tanpa disadari Dewabrata, di belakang Srikandi, Arjuna menembakkan panah-panahnya yang dasyat dan melumpuhkan Bhisma. Panah-panah tersebut menancap dan menembus baju zirahnya, kemudian ia terjatuh dari kereta, tubuh sang resi tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panah.

X

Bhisma

Nama Bhisma dalam bahasa Sanskerta berarti “Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat)”

Nama Bhisma dalam bahasa Sanskerta berarti “Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat)”, karena ia bersumpah akan hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi tahta kerajaannya. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bhisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya.

Kegelapan malam menyelebunginya. Diatas, bintang-bintang yang rapat terus memancarkan cahaya mereka yang bergemerlapan. Di bawah tak ada makhluk yang bergerak, dan Bhisma juga tidak bisa mendengar apa-apa kecuali angin lembut mengeser bilah-bilah rumput. Ia mengingat ketika ia bukanlah Bhisma yang sekarang, seorang gadis dari kerajaan Kasi menemuinya, dan bertanya. “Apa itu cinta Bhisma?”

BHISMA - AMBA

Amba berkata. “Bhisma, aku berdoa agar kau diberi umur panjang dan juga kesehatan. Tapi, aku juga mengutukmu. Kau! Akan melihat melihat apa yang kau perjuangkan, yang demi dharma rela membuang cinta melihat jalan itu hancur berkeping-keping. Kematianmu, akan dipenuhi kehormatan bagi orang lain, tapi tak lebih kesedihan berganda bagi jiwamu!”

Ia meracau. “Aku telah bersepakat dengan diriku sendiri bahwa akan mengubur apa yang dinamakan cinta. Aku tak membenci akan adanya cinta, namun cinta telah melukai diriku sehingga cinta yang membuatku menjauhinya. Cinta itu sendiri yang membimbingku untuk menghindarinya. Cinta telah menodai keyakinanku pada cinta itu sendiri. Apakah salah jika aku menolak cinta? Munafikkah jika aku menafikan adanya cinta dalam hatiku? Cinta hanya menjadikan manusia sebagai budak belaka. Cinta telah membuatku dewasa untuk mengerti, sekaligus memaafkan kelakuanku. Butuh waktu untuk memahami bahwa cinta adalah keindahan memerlukan penafsiran yang utuh dan menyeluruh, saat ini cinta bagiku hanyalah luka yang membawa pada sebuah pilihan, membentengi diri dari pesonanya sekuat mungkin, sekukuh yang kubisa. Cinta, jasad, jiwa dan segala sesuatu di diri ini maafkan aku yang belum siap menerimamu kembali.”

“Coba kamu pikir, apakah orang yang punya tekad setengah hati mau datang ke Hastinapura hanya untuk menemui satu orang saja. Untuk ditolak demi sebuah tidak masuk akal?” Balas Amba.

Jalanku adalah Dharma bukan cinta!” Jawab Bhisma.

“Kamu yang selalu ingin menyandang seluruh tanggungjawab sendirian, aku betul-betul tak mengerti kamu.” Amba memandang penuh kebencian pada Bhisma.

“Pergilah.” Usir Bhisma.

XX

Dengan kebencian terhadap Bhisma, Amba melakukan tapa dengan keras. Dalam pikirannya hanya ada keinginan untuk melihat Bhisma mati. Karena ketekunannya, Dewa Sangkara muncul dan berkata bahwa Amba akan bereinkarnasi, dan turut andil pada pembunuhan Bhisma. Sang dewa juga berkata bahwa kebencian Amba terhadap Bisma tidak akan hilang setelah bereinkarnasi. Setelah mendengar pemberitahuan dari sang dewa, Amba berkata. “Bhisma, aku berdoa agar kau diberi umur panjang dan juga kesehatan. Tapi, aku juga mengutukmu. Kau! Akan melihat melihat apa yang kau perjuangkan, yang demi dharma rela membuang cinta melihat jalan itu hancur berkeping-keping. Kematianmu, akan dipenuhi kehormatan bagi orang lain, tapi tak lebih kesedihan berganda bagi jiwamu!” Ia membuat sebuah api unggun, lalu membakar dirinya sendiri.

XXX

Bhisma yang terpanah, paham dia tidak akan sembuh. Hutang kematian Dewi Amba telah terbalaskan oleh Srikandi dan Arjuna. Akan tetapi dia sadar, bahwa setiap keluhan, kekecewaan yang terbersit menjelang kematian adalah akibat apa yang ia lakukan di masa lalu. Ia lelaki tepi zaman, melihat Bhatarayudha perang antar saudara, Pandawa dan Korawa memperebutkan tahta Hastinapura. Sesuatu hal yang demi kelangsungan keluarga Bharata, ia rela membuang cinta.

Bhisma di Kuruseta. Panah-panah tersebut menancap dan menembus baju zirahnya, kemudian ia terjatuh dari kereta, tubuh sang resi tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panah.

Sebetulnya aku orang yang kalah, karena tidak punya sesuatu untuk dibanggakan. Memang semua yang kulakukan ini demi keluarga, demi rumahku agar tetap tegak. Aku harus merendahkan diri. Karena itulah  aku ingin kalian, Pandawa kuat. Terutama Yudhistira. Aku ingin dia menjadi laki-laki tangguh yang percaya dengan keyakinannya, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tidak kalah oleh apapun, tidak ketinggalan zaman. Sebagai pengganti generasiku.  Terima kasih untuk semuanya, selamat tinggal. Aku seorang pengembara, aku akan melanjutan perjalananku.

Ketika Bhatarayudha selesai, Bhisma moksa.

XXXX

Edisi Internasional: BHISHMA’S DEATH

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 55 Comments

ODA NOBUNAGA BANGSAWAN PANDIR

Seseorang yang tidak mempercayai siapapun, Oda Nobunaga. Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau? Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”

ODA NOBUNAGA BANGSAWAN PANDIR

Kenapa menurutnya ia perlu menyembunyikan diri dari semua orang yang mengenal dan menyayanginya? Apa yang ditakutkannya? Apa yang dilindunginya. Seseorang yang tidak mempercayai siapapun, Oda Nobunaga. Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau? Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”

X

Nobunaga kini berusia sembilan belas tahun. Tiga tahun setelah berlalu sejak ayahnya wafat. Pendapat umum mengatakan ia bodoh dan cepat naik darah. Selama tiga tahun, pewaris kekuasaan yang berusia muda, sembarangan, dan berkepala kosong ini, tanpa bakat maupun kecerdasan, bukan saja sanggup mempertahankan kedudukannya, tapi juga berhasil mengendalikan keadaan sampai ke pelosok-pelosok provinsi.

Bagaimana ia bisa melakukan ini? Beberapa orang mengatakan bahwa ini bukan berkat Nobunaga, melainkan karena jasa-jasa pengikutnya yang setia: Hirate Nakatsukasa, Hayashi Sado, Aoyama Yosaemon, dan Naito Kaysusuke. Selama para pembantu kepercayaan penguasa sebelumnya masih hidup, semuanya akan berjalan baik, namun jika satu atau dua dari mereka meninggal, dan tiang penopang runtuh, kehancuran marga Oda hanya soal waktu saja.

Di antara mereka yang menanti-nanti saat itu terdapat Saito Dosan dari Mino dan Imagawa Yoshimoto dari Suruga. Tak seorang pun yang tidak sependapat dengan pandangan ini. Dikelilingi oleh provinsi-provinsi besar dan kuat, wilayah kekuasaan marga Oda tampak kecil dan miskin, untuk itu diperlukan kekuatan yang penting bagi kelangsungan hidup. Pendapat umum ternyata keliru. Nobunaga dianggap berhati lemah, namun seandainya ada yang minta bukti, akan terungkap bahwa tak seorang pun pernah memastikan apakah anggapan itu benar atau salah.

Setiap orang melihat Nobunaga meninggalkan bentengnya pada musim semi dan gugur, dan semuanya langsung menyimpulkan bahwa ia hendak memancing atau berenang. Tapi jika melihatnya sendiri, mereka akan menyadari bahwa yang dilihat adalah latihan militer habis-habisan. Ketika berusia tiga belas tahun, Nobunaga pertama kali ambil bagian dalam sebuah pertempuran. Pada usia lima belas, ia telah kehilangan ayahnya. Dengan bertambahnya usia, sikapnya semakin congkak. Pada upacara perabuan ayahnya, Nobunaga mengenakan pakaian yang tak pantas untuk kesempatan begitu resmi. Di bawah tatapan para tamu yang seakan tak percaya pada penglihatan mereka, Nobunaga menghampiri altar, meraih segengam abu dupa, lalu melemparkannya ke wadah liat berisi abu mendiang ayahnya.

Kemudian ia mengejutkan semua orang dengan segera kembali ke benteng. “Memalukan sekali. Betulkah ia pewaris provinsi ini?” “Pemuda berkepala kosong yang tak dapat diharapkan.” “Siapa menyangka ia begitu lancang?” Itulah pandangan mereka yang menilai sesuatu berdasarkan kulitnya saja. Tetapi orang-orang yang merenungkan situasi itu secara lebih mendalam segera mencucurkan air mata kesedihan untuk marga Oda. “Adiknya, Kanjuro, teramat santun, dan bersikap penuh hormat dari awal sampai akhir,” salah satu pelayat mengemukakan. Mereka menyesalkan bahwa bukan dia yang diangkat sebagai pewaris.

XX

Beberapa waktu sebelum wafat pada usia empat puluh enam, Nobuhide telah mengatur pertunangan Nobunaga dengan anak perempuan Saito Dosan dari Mino, dengan perantaraan Nakatsukasa. Sudah bertahun-tahun Mino dan Owari saling bermusuhan, jadi pernikahan itu adalah bersifat politik. Taktik-taktik semacam itu hampir merupakan keharusan di sebuah negeri yang tengah dilanda perang. Dosan pun segera menyadari maksud terselubung di balik rencana itu. Meski demikian, ia memberikan putri kesayangannya, Nouhime kepada sang pewaris kepemimpinan marga Oda, yang dari provinsi-provinsi tetangga sampai ibu kota telah dikenal sebagai orang pandir. Dosan menyetujui pernikahan itu, namun diam-diam berniat menguasai Owari. Saito Dosan ingin berjumpa menantunya, ia mengusulkan mengadakan pertemuan pertama mereka di Kuil Shotokuji di Tonda, perbatasan kedua provinsi. Kuil itu merupakan kuil aliran Budha Ikko, dan terletak agak terpisah dari ketujuh ratus rumah di desa itu. Diringi rombongan besar, Nobunaga meninggalkan benteng Nagoya menyeberangi sungai Kiso dan Hida, lalu maju terus sampai ke Tonda.

Musim kemarau sudah di depan pintu. Gandum di ladang-ladang berwarna kuning pucat. Hembusan angin dari arah sungai Hida terasa menyegarkan. Rumah-rumah di Tonda tampak kokoh dan memiliki banyak lumbung.

“Itu mereka. Iring-iringan telah tiba. Tak lama lagi mereka akan lewat disini.” Dua samurai dari marga Saito ditempatkan dibatas desa memberikan laporan, kedua samurai tadi berlutut di muka sebuah pondok kecil. Pondok yang gelap, kotor dan berlantai tanah.

“Baik, Kalian berdua sembunyi dibalik semak-semak belakang.” Banyak cerita tentang Nobunaga beredar di masyarakat. Seperti apa dia sebenarnya? Dosan bertanya-tanya. Orang macam apa dia? Sebelum pertemuan resmi, aku ingin melihatnya dulu. Cara berpikir seperti ini memang khas Dosan, itu sebabnya ia berada di sini, mengintai dari pondok di tepi jalan.

Pasukan Owari terus mendekat. Dengan nafas tertahan Dosan mengamati gaya berjalan para prajurit serta susunan pangkat mereka. Suara langkah pasukan diikuti oleh derap langkah kuda. Dosan tak dapat melepaskan mata dari pandangan dihadapannya. Di tengah-tengah para penunggang kuda terdapat seekor kuda yang teramat gagah, dengan berangus berkilauan. Di pelana mewah yang dihiasi indung mutiara, duduk Nobunaga, tangannya mengengam tali kekang berwarna ungu dan putih. Ia sedang berbincang-bincang dengan para pengikutnya.

“Apa ini?” Adalah kata-kata yang keluar dari mulut Dosan. Ia tampak terheran-heran. Penampilan Nobunaga teramat tidak lazim. Dosan telah diberitahu bahwa sang penguasa Owari biasa berpakaian aneh, tapi ini melebihi segala cerita yang pernah didengarnya. Nobunaga terayun-ayun diatas pelana. Rambutnya di konde dan diikat dengan jalinan pita berwarna hijau pucat. Ia mengenakan mantel katun berpola cerah yang lengannya hanya satu. Baik pedang pendek maupun pedang panjangnya dihiasi kerang laut dan dibalut dengan jerami padi suci. Tujuh atau delapan benda bergantungan pada ikat pinggangnya: sebuah kantong rabuk, sebuah labu kecil, sebuah kotak obat, sebuah kipas, sebuah ukiran kuda, dan beberapa permata. Di bawah jubah pendek yang terbuat dari kulit harimau dan macan tutul, ia mengenakan baju brokat emas berkilauan.

Setelah Nobunaga berlalu, para pengikut Dosan harus memaksakan diri untuk tidak tertawa berderai-derai. Wajah-wajah mereka memperlihatkan betapa mereka berjuang untuk menahan tawa pada saat menyaksikan adegan menggelikan tadi. “Sudah habis?” Tanya Dosan.

Lalu, “itukah akhir iring-iringannya?”Ya, hanya itu.” “Kalian sempat memperhatikannya?” “Dari jauh.” “Hmmm, penampilannya ternyata tidak bertentangan dengan kabar burung yang beredar. Wajahnya tampan dan fisiknya pun bolehlah, tapi di sini ada sesuatu yang kurang.” Kata Dosan. Sambil tersenyum puas, ia mengangkat jarinya ke kepala. Segera, mereka keluar lewat pintu belakang, lalu menyusuri jalan pintas yang tersembunyi menuju kuil. Tepat pada waktu barisan terdepan pasukan Owari tiba di gerbang depan kuil Shotokoji, Saito Dosan dan para pengikutnya menyelinap lewat gerbang belakang, bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mereka berganti pakaian dan menuju jalan utama. Gerbang kuil telah dipenuhi orang, karena semua orang Mino dikumpulkan untuk penyambutan resmi, kuil utama, hall besar, serta ruang penyambutan tamu dibiarkan kosong

XXX

Saito Dosan menganggap remeh Nobunaga. “Tak ada alasan bagiku untuk pergi menyambutnya.” Ia menganggap Nobunaga semata-mata sebagai menantu. Takkan ada masalah jika itu satu-satunya pertimbangan. Namun Nobunaga merupakan penguasa sebuah provinsi, sama halnya dengan Dosan, dan para pengikutnya tentu berasumsi bahwa pertemuan itu akan diadakan antara dua orang sederajat. Meskipun Dosan juga mertua Nobunaga, bukankah lebih pantas jika pertemuan pertama mereka diselenggarakan sebagai pertemuan antara dua penguasa provinsi? Itulah yang terbayang dalam benak Kasuga Tango, salah seorang pengikut senior Dosan, dan ia menanyakannya secara hati-hati. Dosan menjawab bahwa itu tidak perlu. “Kau akan ikut dalam pertemuan nanti. Pastikan ketujuh ratus orang di koridor yang menuju ke sini berbaris dengan baik.”

“Hamba pikir mereka sudah siap disana.”

“Sembunyikan para prajurit berpengalaman, dan suruh mereka berdeham pada waktu menantuku lewat. Siapkan pasukan busur dan senapan di halaman. Dan perintahkan untuk memasang tampang berwibawa.” Tak akan ada kesempatan yang lebih baik untuk memamerkan kekuatan Mino dan mengertak penguasa Owari beserta anak buahnya, hari ini.

Lambang Marga Oda

Lambang Marga Oda

Nobunaga sedang menaiki tangga di pintu masuk utama. Disekelilingnya ada lebih dari seratus pengikut Saito, mulai dari sesepuh sampai samurai muda yang masih dalam masa percobaan. Mereka berlutut berdampingan, bersujud menghormati tamu agung yang baru tiba. Rambutnya telah ditata ulang, sebagai ganti baju kulit harimau dan macan tutul, ia mengenakan jubah sutra putih yang dihiasi sulaman benang emas berupa lambing marganya, di bawah baju resmi tak berlengan berwarna ungu tua. Pedang pendeknya diselipkan ke balik pinggang, sedang pedang panjang dibawanya di tangan kanan. Seluruh penampilannya menyerupai orang istana. Tanpa ragu-ragu Nobunaga menyusuri koridor, ia menatap kiri dan kanan, lalu berkata dengan lantang, “Aku merasa rikuh kalau dikawal seperti ini. Aku lebih senang menemui mertuaku seorang diri.”

Kasuga Tango menyambut, sementara ia sibuk berbasa-basi, Nobunaga bergegas menyusuri koridor, melewati orang-orang yang berbaris di sepanjang dinding. Ia memperlakukan para prajurit seakan-akan mereka hanya rerumputan di tepi jalan. Setelah sampai diruang penyambutan, ia bertanya kepada Tango, “Inikah tempatnya?”

“Ya, tuanku.” Ia masih tersengal-sengal karena terpaksa mengejar Nobunaga

Pertemuan Saito Dosan dan Nobunaga di Kuil Shotokuji

Pertemuan Saito Dosan dan Nobunaga di Kuil Shotokuji

Nobunaga mengangguk, lalu melangkah masuk. Dengan tenang ia duduk, menyandarkan punggung pada sebuah tiang dipinggir ruangan. Ia menatap ke atas, seakan-akan mengagumi lukisan-lukisan di langit-langit. Di salah satu sudut ruangan terdengar suara bunyi berdesir ketika seorang laki-laki berdiri . Dosan melangkah keluar. Ia lalu duduk pada posisi lebih tinggi dari Nobunaga. Nobunaga pura-pura tidak memperhatikannya, atau lebih tepat, ia berlagak tak peduli sambil mempermainkan kipasnya. Dosan melirik ke samping. Tak ada ketentuan mengenai tata cara mertua berbicara dengan menantunya. Ia menahan diri membisu. Suasana tegang. Alis Dosan serasa ditusuk-tusuk jarum. Tango yang tak sanggup menahan ketegangan itu lebih lama, medekatkan diri pada Nobunaga dan membungkuk terus sampai mencapai tatami. “Tuan yang duduk di sebelah sana adalah Tuan Saito Dosan. Berkenankah Tuanku menyapa beliau?”

Nobunaga berkata, “begitukah?” Lalu menjauhkan punggungnya dari pilar dan duduk tegak. Ia membungkuk satu kali dan berkata, “kami Oda Nobunaga. Kami merasa gembira karena bisa bertemu Tuan.”

Seiring dengan perubahan sikap serta sapaan Nobunaga, sikap Dosan pun melunak. “Sudah lama kami mengharapkan perjumpaan ini. Kami bahagia bahwa keinginan yang telah tertunda-tunda sekian lama dapat terwujud.”

“Kami bahagia memiliki ayah mertua yang dapat dijadikan tempat bersandar.”

“Bagaimanapun, hari ini hari yang diberkahi. Kami berharap pada pertemuan berikut Ananda bisa memperlihatkan wajah seorang cucu.”

“Dengan senang hati.”

Dosan tampak puas. Ia mendesah lega. Mertua dan menantu mengangkat gelas sambil saling memuji. Suasana kaku pada awal pertemuan, kini berubah menjadi ramah tamah.

XXXX

“Ah, aku ingat lagi!” Nobunaga tiba-tiba berkata, seakan-akan ada sesuatu yang baru terlintas di benaknya. “Tuanku Dosan, ayah mertua. Dalam perjalanan ke sini, aku bertemu seseorang yang sungguh aneh.”

“Aneh bagaimana?”

“Hmm, dia juga orang tua, dan dia mengintip iring-iringan dari jendela gubuk rakyat jelata. Meskipun baru kali ini aku bertemu dengan ayah mertuaku, waktu aku menatap ayah mertua, ehm.. Ayah mertua mirip sekali dengan orang itu. Bukankah ini aneh sekali?” Sambil tertawa, Nobunaga menyembunyikan mulut di balik kipas yang setengah terbuka.

Dosan terdiam, seolah-olah baru menelan minuman pahit. Para pengawal Dosan langsung bermandikan keringat.

Seusai acara makan, Nobunaga berkata, “Ah, sudah terlalu lama aku merepotkan ayah mertua. Aku ingin menyebrangi sungai Hida dan mencapai tempat menginap sebelum malam tiba. Aku mohon diri.”

“Kau berangkat sekarang?” Dosan ikut berdiri.

“Aku enggan melihatmu pergi, tapi aku pun tak dapat menahanmu.” Ia sendiri sudah harus kembali ke benteng sebelum gelap. Hutan tombak sepanjang enam meter membelakangi matahari sore, dan beranjak kearah timur. Dibandingkan mereka, pasukan tombak Mino tampak lesu dan kurang semangat.

“Ah, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi. Suatu hari nanti anak-anakku akan mengemis-emis untuk menyelamatkan nyawa di depan si pandir itu! Tapi tak ada yang bisa dilakukan,” Dosan berkeluh kesah kepada para pengikut, sambil berayun-ayun di dalam tandu.

XXXXX

Orang bijak akan tenggelam dalam kebodohan jika menganggap tinggi kebijakannya, karena sejatinya kebijaksanaan tidak dihasilkan oleh keberhasilan semata, melainkan teruji oleh berbagai kegagalan. Sakit dan perih, di atas semua itu tidak ada yang mampu menandingi nilai pengorbanan. Tidak pengetahuan, tidak pula pengalaman.

XXXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 48 Comments

TAKTIK ISTANA KOSONG IEYASU TOKUGAWA

Istana Kosong

Kastil Jepang Abad ke-16

TAKTIK ISTANA KOSONG IEYASU TOKUGAWA

Menjelang pertengahan abad keenam belas, ketika keshogunan Ashikaga ambruk, Jepang menyerupai medan pertempuran raksasa. Panglima-panglima perang memperebutkan kekuasaan, tapi dari tengah-tengah mereka tiga sosok besar muncul, seperti meteor melintas di langit malam. Ketiga laki-laki itu sama-sama bercita-cita untuk menguasai dan mempersatukan Jepang, namun sifat mereka mencolok satu sama lain : Nobunaga, gegabah, tegas, brutal ; Hideyoshi, sederhana, halus, cerdik, kompleks ; Ieyasu, tenang, sabar penuh perhitungan. Falsafah-falsafah mereka yang berlainan itu sejak dulu diabadikan oleh orang Jepang dalam sebuah sajak.

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”

Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ingin berkicau.”

Ieyasu menjawab, “Tunggu.”

Kisah ini merupakan kisah tentang laki-laki yang “menunggu” burung berkicau.

X

Tokugawa Ieyasu

Tokugawa Ieyasu

Ieyasu Tokugawa (Mikawa) vs Takeda Shingen (Kai)

Ieyasu kini berusia tiga puluh tahun dan sedang pada masa kejayaannya. Provinsinya dipenuhi harapan akan kemakmuran serta keinginan untuk memperluas wilayah, demikian hebatnya, sehingga para pengikut, baik tua maupun muda, para petani, para penduduk kota amat bersemangat. Mikawa (Provinsi Ieyasu Tokugawa) mungkin bukan tandingan Kai (Provinsi Takeda Shingen) dalam hal kekayaan namun dalam hal tekad, provinsi itu tak kalah sedikit pun.

Shingen “Si Kaki Panjang” kemarin masih bertempur melawan marga Uesugi penguasa Provinsi Echigo di perbatasan utara Kai, hari ini ia mengancam Mikawa. Ketika perbatasan Kai dan Echigo tertutup salju, pasukannya yang berkekuatan 30.000 didesak untuk segera mewujudkan cita-citanya memasuki ibu kota. Jalan paling mudah adalah menggilas Mikawa.

Ketika ancaman kian mendekat. Sekutu keluarga Tokugawa, kepala keluarga Oda mengirimkan surat kepada Ieyasu :

“Rasanya lebih baik jika Tuan tidak melakukan konfrontasi frontal dengan pasukan Kai. Aku berharap Tuan tetap tabah jika situasi menjadi genting dan Tuan terpaksa mundur dari Hamamatsu ke Okazaki. Kalaupun kita harus menunggu hari lain, aku yakin hari itu tak lama lagi.”

Ieyasu menjawab, “sebelum meninggalkan benteng Hamamatsu, lebih baik kita patahkan busur kita dan keluar dari golongan samurai!” Menerima balasan kurir Oda Nobunaga dan sang penasehat Toyotomi Hideyoshi bergumam mengenai kekeraskepalaan Ieyasu. Satu di antara tiga sekawan yang tidak terpahami. Dalam pandangan Nobunaga maupun Hideyoshi, provinsi Ieyasu adalah merupakan wilayah garis pertahanan. Ia dapat direbut kembali dikemudian hari, atau bertualang mencoba meraih wilayah baru. Tapi bagi Ieyasu, Mikawa adalah rumah. Perkara rumah adalah masalah hati, dan hati itu, terutama hati Ieyasu tidak bisa diubah semudah mewarnai ulang kain. Ieyasu menantang! Meski aliansi tak sepaham, Ieyasu tidak mengharapkan bantuan, tak perlu belas kasihan bahkan oleh sahabat sekalipun!

Ieyasu meneruskan persiapan dan berangkat menuju medan pertempuran, tanpa sokongan garis belakang. “Kadang-kadang aku merasa terlalu keras pada diriku, untuk menghilangkan perasaan bersalah atas apa yang aku lakukan. Dan ini adalah yang paling menyedihkan dari kisah ini.” Pikir Ieyasu.

Satu per satu, seperti sisir dipatahkan, laporan tentang kekalahan berdatangan. Shingen telah menyerang Totomi, saat bersamaan benteng-benteng di Tadaki dan Lida tidak mempunyai pilihan selain menyerah, di garis depan pertempuran, tak ada sejengkal tanah yang tidak diinjak-injak oleh pasukan Kai. Keadaan menjadi lebih buruk, ketika pasukan bantuan Ieyasu dibawah pimpinan Heihachiro Honda dipergoki oleh pihak musuh di sekitar sungai Sernyu, pasukan Tokugawa mengalami kekalahan total dan di paksa mundur ke Hamamatsu. Laporan yang membuat pucat semua orang di benteng, namun tidak Tokugawa. Di dera kemalangan dan penderitaan di usia muda, ia menjadi laki-laki yang tak membesar-besarkan kekalahan sepele, (bahkan) menganggap hal itu tidak ada apa-apanya.

Ieyasu memimpin pasukan keluar benteng Hamamatsu, maju sampai ke desa Kanmashi di tepi sungai Ternyu, dan menemukan perkemahan pasukan Kai. Setiap posisi berhubungan dengan markas besar Shingen, seperti jari-jari mengelilingi naf. Ieyasu pun berdiri di bukit dengan tangan terlipat dan melepaskan desahan kagum.Biarpun dari kejauhan, panji-panji di perkemahan utama Shingen terlihat jelas, kata-kata ucapan Sun Tzu yang tersohor, dikenal kawan maupun lawan.

“Cepat bagaikan angin, hening bagaikan hutan, bergairah seperti api, diam seperti gunung”

Diam seperti gunung, baik Shingen maupun Ieyasu tidak mengambil tindakan selama beberapa hari. Dengan sungai Ternyu di antara kedua perkemahan, musim dingin bulan dua belas semakin dingin.

XX

Ieyasu bukan lawan yang ringan, meski ia bermaksud memperlihatkan begitu. Tapi dalam pertempuran berikut, segenap kekuatan marga Takeda akan berhadapan dengan segenap kekuatan marga Tokugawa, mereka saling menggempur dalam satu pertempuran yang menentukan seluruh perang. Bayangan mengenai pertempuran itu justru memacu semangat tempur orang-orang Kai, begitulah watak mereka. Shingen memerintahkan putranya, Katsuyori menggerakkan pasukan mereka melawan Benteng Futamata (seberang sungai Ternyu) dengan perintah tegas tidak membuang-buang waktu. Ieyasu sendiri membawahi barisan belakang, tapi pasukan Takeda yang selalu berubah formasi kembali membentuk susunan baru dan mulai mendesak dari segala sisi. Sepertinya, sekali saja Ieyasu mengambil langkah keliru, ia terputus dari markas besarnya di Hamamatsu.

Salah satu prajurit Takeda mengibarkan cercaan, pasukan Tokugawa dikalahkan dan kocar-kacir. Benteng Futasama jatuh, pasukan Tokugawa dipimpin Honda Haihachiro mundur. Setelah itu pasukan utama Shingen melintasi dataran Lidani dan mulai memasuki bagian timur Mikawa.

“Ke Lidani!” Demikian bunyi perintah yang menimbulkan perbedaan pendapat di antara

Takeda Shingen

Takeda Shingen

jenderal-jenderal Shingen. Beberapa merasa was-was karena pasukan Oda telah tiba di Hamamatsu, dan tidak ada seorang pun mengetahui jumlah mereka. Shingen duduk di tengah para Jenderal. Matanya terpejam, ia mengangguk-angguk ketika mendengar pendapat anak buahnya, lalu berkata hati-hati, “semua ucapan kalian masuk akal. Tapi aku yakin bala bantuan marga Oda tak akan lebih besar dari empat ribu orang. Kalaupun sebagian besar pasukan Oda menuju Hamamatsu, orang-orang Asai dan Asakura yang telah aku hubungi sebelumnya akan menyerang Nobunaga dari belakang. Selain itu, sang Shogun di Kyoto mengirimkan pesan kepada biksu-prajurit, mendesak mereka untuk segera angkat senjata. Orang-orang Oda bukan ancaman bagi kita.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan tenang, “Sejak semula keinginanku adalah memasuki Kyoto. Tapi kalau aku melewati Ieyasu begitu saja sekarang, pada waktu kita berpaling ke Gifu, Ieyasu akan membantu orang-orang Oda dengan menghadang kita di belakang kita. Bukankah paling baik kalau Ieyasu dihancurkan di benteng Hamamatsu, sebelum orang-orang Oda sempat mengirimkan bala bantuan memadai?”

Pada malam hari, laporan mengenai pergantian arah pasukan Kai sampai di benteng Hamamatsu. Tepat seperti perkiraan Shingen, hanya ada tiga ribu orang di bawah Takigawa Kazumasu dan Sakuma Nobumori bala bantuan dari Nobunaga.

“Jumlah yang tak ada artinya,” komentar kecewa para Jenderal Tokugawa, Ieyasu tidak memperlihatkan kegembiraan maupun ketidakpuasan, ketika laporan demi laporan berdatangan, sebuah rapat perang dimulai. Tidak sedikit Jenderal Ieyasu yang manganjurkan untuk mundur sementara ke Okazaki, dan mereka mendapat dukungan para komandan Oda.

Hanya Ieyasu yang tak tergerak, tetap keras untuk bertempur. “Apakah kita mundur tanpa melepaskan satu anak panah pun, sementara musuh menghina provinsiku?” Ieyasu cukup paham bahwa ia tidak mungkin mengantungkan diri selalu pada sekutu, ia hanya boleh mempertaruhkan segala nasib pada kekuatan sendiri, bukan orang lain.

XXX

Di daerah Hamamatsu ada sebuah daratan yang lebih tinggi daripada daerah sekitarnya, lebarnya lebih dari dua mil, sedang panjangnya tiga mil-Mitagahara. Menjelang fajar pasukan Ieyasu meninggalkan Hamamatsu dan mengambil posisi di sebelah Utara, sebuah tebing terjal. Disanalah mereka menanti pasukan Takeda.

Pasukan Tokugawa membentuk formasi sayap bangau, sepintas mereka tampak seperti pasukan besar, tapi sesungguhnya garis kedua dan ketiga tidak memiliki kekuatan. Ieyasu dikawal oleh segelintir prajurit yang nyaris tak berarti apa-apa. Resimen mereka terlihat kacau balau, ditambah terlihat jelas bala bantuan Oda tak ingin bertempur. Lawan mengatahui hal itu! Suara Shingen menggemuruh, tak terperdaya oleh gertakan Tokugawa ia membentuk formasi seperti ikan, dan bergerak maju kearah pasukan Tokugawa, diiringi genderang perang.

Ieyasu terpesona menyaksikan gerakan pasukan Shingen, dan bagaimana pasukan itu bereaksi atas setiap perkataan yang diberikan, dikondisi terjepit ia berujar, “jika aku sempat mencapai usia setua Shingen, aku berharap mampu menggerakkan pasukan besar setrampil dia biarpun hanya sekali. Setelah melihat bakatnya sebagai pemimpin pasukan, aku enggan melihatnya terbunuh, walaupun ada yang menawarkan untuk meracun dia.”

Sekigahara Battle

Debu yang diterbangkan oleh musuh dan orang-orang mereka mencapai langit. Hanya pantulan matahari pada ujung-ujung tombak yang terlihat.

Debu yang diterbangkan oleh musuh dan orang-orang mereka mencapai langit. Hanya pantulan matahari pada ujung-ujung tombak yang terlihat. Pasukan Mikawa dan Kai telah saling maju, berhadapan. Pertempuran pecah dan suasana kacau balau. Dalam menit saja garis pertahanan Sakai Tadatsugu musnah ditangan pasukan Kai. Dengan bangga pasukan Kai melepaskan teriakan-teriakan kemenangan. Ieyasu berdiri di atas bukit, mengamati pasukannya. Kita kalah, ia menyadari kekalahan yang telak.

“Sakuma Nobumori dari marga Oda digulung habis. Takigawa Kazumazu terpaksa mundur sambil kocar-kacir, dan Hirate Kazumasa terluka. Tinggal Sakai Tadatsugu yang masih bertempur gagah berani. Takeda Katsuyori menggabungkan pasukannya dengan korps Yamagata dan mengepung sayap kiri kita. Ishikawa Kazumasa terluka dan Nakane Masateru serta Aoki Hirotsugu tewas. Matsudaira Yasuzumi memacu kudanya ke tengah-tengah musuh dan menemui ajal disana. Pasukan Honda Tadamasa dan Naruse Masayoshi mengincar pengikut Shingen dan berhasil menembus jauh ke dalam barisan musuh. Tapi kemudian mereka dikepung oleh beberapa ribu prajurit, dan tak seorang dari mereka kembali dalam keadaan hidup.”

Tiba-tiba Tadaihiro meraih lengan Ieyasu, dan dengan bantuan jenderal-jenderal lain, menaikkannya ke atas kuda. “Pergi dari sini,” setelah Ieyasu duduk di pelana dan kuda berlari menjauh, Tadahiro dan para pengikut lain menaiki kuda masing-masing, lalu mengikuti junjungan mereka. Hujan salju mulai turun mempersulit gerak mundur pasukan. Pasukan Kai membidik prajurit-prajurit musuh yang melarikan diri, melepaskan tembakan ditengah-tengah salju yang jatuh. Bagaikan gelombang pasang, pasukan Tokugawa mundur ke Utara. Tapi karena kehilangan arah, korban pihak mereka kembali berjatuhan. Akhirnya semua orang mulai mendesak ke satu arah, ke Selatan.

Ieyasu, yang baru lolos dari mara bahaya menoleh ke belakang, dan tiba-tiba menghentikan kuda. “Kibarkan panji-panji. Kibarkan panji-panji dan kumpulkan orang-orang,” ia memerintahkan. Malam mulai dekat, dan hujan salju semakin lebat. Para pengikut Ieyasu berkerumun di sekelilingnya , dan membunyikan sangkakala. Sambil melambai-lambai, perlahan para prajurit kalah itu mulai berkumpul.

Namun korps di bawah Baba Nobufusa dan Obata Kazusa dari Kai mengetahui pasukan utama musuh berada disana, lalu mendesak dengan panah disatu sisi dan senapan disisi lain. Mereka hendak memotong jalur mundur Ieyasu.

“Tempat ini berbahaya, tuanku. Sebaiknya tuan segera mundur,” Mizuno Sakon mendesak Ieyasu, kemudian berpaling kepada orang-orang, ia memerintahkan, “lindungi yang mulia, Aku akan menyerang musuh. Siapa saja yang ingin mengorbankan nyawa bagi yang mulia, ikuti aku.”

Sakon langsung menerjang kearah musuh, tanpa menoleh. Sekitar tiga puluh orang prajurit menyusul, memacu kuda masing-masing untuk menantang maut. Hampir seketika ratapan, teriakan, benturan pedang dan tombak bercampur dengan deru angin yang menerbangkan salju, membentuk pusaran raksasa.

“Sakon tidak boleh mati!” Teriak Ieyasu. Sikapnya tak seperti biasanya. Para pengikut berusaha mencegahnya dan meraih kekang kudanya, tapi ia menepiskan mereka dan waktu mereka bangkit, Ieyasu telah terjun ke tengah pusaran. Penampilannya menyerupai setan.

XXXX

Sambil memikul beban kekalahan, pasukan Ieyasu berbaris dan kembali ke kota benteng yang diselimuti salju. Satu penunggang kuda masuk, di susul satu lagi, kemudian berikut dan orang kedelapan Ieyasu sendiri. Ketika junjungan mereka terlihat pasukan di dalam benteng melompat-lompat kegirangan lupa diri.

Ieyasu  darah menempel di pipinya, dan rambutnya acak-acakan. Ia memerintahkan dayang menyiapkan makanan, setelah makanan tersaji ia segera meraih sumpit, tapi tidak segera makan malah berkata, “Bukalah semua pintu ke serambi.” Setelah ruangan dibuka, samar-samar terlihat sosok-sosok prajurit yang sedang melepas lelah diserambi, begitu Ieyasu selesai ia memerintahkan Amano Yasukage dan Uemura Masakatsu untuk bersiap-siap menghadapi serangan musuh. Komandan-komandan lain mulai gerbang utama sampai pintu utama ke ruang duduk, pikiran Ieyasu bercabang. Ia kurang pengalaman menghadapi Shingen, juga kekuatan. Biasanya ia mengatasi keterbatasannya dengan membuat konspirasi. Dan Shingen, adalah jenderal matang, tidak akan mempan.

Bendera Tokugawa

Bendera Tokugawa

Diambang kematian Ieyasu mengingat sejak berusia lima tahun, Ieyasu tinggal bersama marga Oda, lalu dengan orang-orang Imagawa, berpindah-pindah dalam pengasingan di provinsi-provinsi musuh. Sebagai sandera, saat itu ia tak pernah mengenal kebebasan. Mata, telinga, dan jiwa sandera tertutup, dan jika ia tidak berusaha sendiri, tak ada yang menegur maupun memberi semangat padanya. Walaupun demikian, atau justru karena terkungkung sejak kanak-kanak, Ieyasu menjadi sangat ambisius. Ia tak memahami perasaan kasih sayang yang sering dibicarakan orang lain. Ia mencoba mencari perasaan dihatinya, dan hanya mendapati perasaan itu bukan hanya sedikit, melainkan benar-benar tipis. Ketika Oda Nobunaga mengalahkan Yoshimoto Imagawa, ia merasa saat itu telah datang. Melepaskan diri dari Imagawa dan bersekutu dengan Oda, ternyata hari ini Takeda Shingen datang, ia tak sanggup mengungsi lagi, tak ingin ia mengulangi perjalanan hidup yang getir dan mengalami kesengsaraan seperti dahulu. Tapi bagaimana? “Jika aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan, maka lebih baik aku tidak memiliki apapun.”

Ieyasu keluar, para komandan walaupun dengan suara bernada tegang berusaha menenangkan Ieyasu dan membesarkan hatinya. Ia memahami dan mengangguk-anguk penuh semangat. Tapi ketika hendak bergegas kembali ke pos masing-masing, ia memanggil mereka, “biarlah semua pintu mulai dari gerbang utama sampai ruang duduk dalam keadaan terbuka.”

Strategi nekat macam apa ini? Perintah itu bertentangan dengan prinsip-prinsip pertahanan paling mendasar, pintu-pintu besi di semua gerbang telah di tutup rapat. Pasukan musuh telah mendekati kota benteng, mendesak maju untuk menghancurkan mereka. Ieyasu menambahkan seraya tertawa, “dan aku tidak sekedar ingin pintu gerbang benteng dibuka. Aku ingin lima atau enam api ungun dinyalakan di depan gerbang. Selain itu, api unggun juga harus berkobar di dalam tembok. Tapi pastikan kita tetap siaga sepenuhnya. Jangan bersuara dan amati gerak maju musuh.”

Mereka menjalankan perintah itu sesuai keinginan Ieyasu. Setelah mengamati pemandangan itu, Ieyasu kembali kedalam.

XXXXX

Tak lama kemudian, pasukan Kai dibawah pimpinan Baba Nobufusa dan Yamagata Masakage tiba di dekat selokan pertahanan, siap melancarkan serangan malam. Yamagata tampak terheran-heran. Baba pun merasa curiga dan menatap kearah gerbang musuh. Di sana, di kejauhan, ia melihat nyala api unggun, baik di dalam maupun di luar. Dan semua gerbang terbuka lebar. Mereka menghadapi gerbang tanpa gerbang. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengusik.

Yamagata berkata. “Sebaiknya kita habisi saja mereka. Musuh begitu bingung, sehingga mereka tidak sempat menutup gerbang.”

“Jangan, tunggu,” Baba memotong. “Ieyasu adalah seorang penuh siasat, tentunya ia menunggu kita menyerang dengan tergesa-gesa. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada benteng ini, dan dia yakin akan kemenangannya. Ia memang masih muda, kurang pengalaman, tapi dia Tokugawa Ieyasu. Lebih baik kita jangan bertindak gegabah, agar tidak membawa aib bagi marga Takeda dan malah menjadi bahan tertawaan di kemudian hari.”

Mereka telah mendesak sedemikian jauh, tapi akhirnya kedua jenderal itu menarik mundur pasukan mereka.

Di dalam benteng, mimpi Ieyasu dibuyarkan oleh salah seorang pembantunya. Ia segera berdiri. “Aku tidak mati!” Ia berseru dan melompat gembira. Seketika ia mengirimkan pasukan untuk mengejar musuh. Tapi, sesuai dengan reputasi mereka, Yamagata dan Baba tetap menguasai diri di tengah kekacauan. Mereka mengadakan perlawanan, menyulut kebakaran di sekitar Naguri, dan menjalankan sejumlah maneuver brilian.

Orang-orang Tokugawa mengalami kekalahan besar, tapi tidak salah kalau dikatakan bahwa mereka telah memperlihatkan keberanian. Bukan itu saja, mereka berhasil menggagalkan rencana Shingen maju ke ibu kota, dan memaksanya mundur ke Kai. Banyak yang menjadi korban. Dibandingkan keempat ratus korban jiwa di pihak Takeda, pasukan Tokugawa kehilangan jauh lebih banyak prajurit. Korban di pihak mereka berjumlah seribu seratus delapan puluh jiwa.

Orang bijak yang memupuk kebijaksanaan dapat tenggelam di dalamnya. Memiliki banyak jejak (akan) lebih mudah diserang dibanding yang memiliki banyak kelemahan, jejak berserak akan terpetakan, dirunut ulang. Padahal si pembuat jejak besar kemungkinan telah melupakan apa yang ditinggalkan. Mendesak sedemikian jauh, tapi pada akhirnya (terpaksa) menarik mundur segalanya. Gerbang tanpa gerbang.

XXXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 52 Comments

MEMORI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok, Pada Masa Puncak Kejayaan Organisasi.

MEMORI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Satu masa telah terlewati, benci dan rindu (pernah) merasuk di kalbu. Apa yang terjadi di masa lalu? Pasti ada banyak cerita, bukankah setiap orang memiliki satu dua cerita yang tak akan di bagi dengan orang lain.

Ada Apa Dengan Cinta Tembang legendaris

Ada Apa Dengan Cinta
Tembang legendaris

Ketika lagu-lagu popular di masa sekolah (dulu) menjadi tembang lawas (sekarang) dapat dipastikan perjalanan waktu seperti singa. Dulu (kita) merasa waktu adalah musuh orang muda, sekarang (kita) juga merasa tak terlalu dekat padanya. Selalu hidup merupakan repetisi, berjalan pelan dari hari ke hari. Manusia ditakdirkan untuk hidup, termasuk menjumpai diri dimasa lalu. mengingat setiap langkah dan keputusan yang pernah dilakukan dimasa lalu. Terkenang akan segala kebodohan yang pernah dilakukan, sesuatu yang membuat menangis sepuluh lalu, (akan) membuat tertawa di hari ini.

Ini adalah cerita ketika mereka bukanlah mereka yang sekarang, Assosiasi Budjang Lapok (mereka) lebih dari satu dekade lalu. Para pemuda tanggung yang duduk di bangku sekolah, belum saling akrab satu sama lain sebagai kesatuan. Salah! Jika membayangkan mereka tercipta dengan karakter sekarang, benih-benih (mungkin) ada, tetapi itu masih merupakan jalan panjang ke depan. Misteri yang para pelaku sendiri tidak tahu.

KOMPLOTAN

Pemeran :

Barbarossa

Amish (Khan)

(Tabib) Pong

Bertahun-tahun lalu (satu dekade plus satu), menjelang jam istirahat sekolah. Matahari bersinar terang, debu naik ke angkasa, siang yang gerah. Disebuah lorong sekolah yang membatasi perpustakaan dengan kakus. Tiga sosok anak manusia mengendap-endap melihat kiri kanan, situasi aman lalu berselonjoran di lantai, asal. Aljabar selalu membosankan bagi mereka, daripada menghabiskan waktu di kelas lebih baik menyegarkan pikiran sejenak. Begitulah kelakuan Amish, Barbarossa dan Pong (belum menjadi tabib).

Reza Rahardian sebagai Barbarossa

Reza Rahardian sebagai Barbarossa

“Aku selalu kesal melihat si abang Gahul dari kelas inti itu!” Barbarossa memainkan jarinya.

“Mengapa begitu bos?” Tanya Pong.

“Wajahnya yang sok, rambut panjang yang disisir rapi. Dan kalau berjalan, seolah-olah sekolah ini miliknya.” jawab Barbarossa.

“Lalu hubungannya dengan kita apa best?” Amish bingung dengan jalan pikiran teman sekomplotan, tidak ada yang salah dengan abang Gahul itu, asal tidak melaporkan ke guru tindakan mereka cabut pelajaran, maka tidak menjadi masalah bagi mereka.

Ksatria Baja Hitam Tontonan wajib belia sembilan puluhan

Ksatria Baja Hitam
Tontonan wajib belia sembilan puluhan

Sontoloyo kalian!” Maki Barbarossa. “Venus teman-teman! bukankah itu yang sangat aku inginkan! Aku merasakan bahwa pesona palsu abang Gahul telah menarik dia, menjauhkan Venus melihat ketampanan sejati milikku. Apakah kalian ingin melihat teman kalian ini menderita dengan sebuah cinta tak berbalas? Aku tidak menyangka kalian setega itu.” Tubuh Barbarossa bergetar ketika menyebutkan kata Venus.

Pong dan Amish saling memandang, sejatinya diantara mereka tidak ada bos. Jika Barbarossa dipanggil “bos” karena ia senang dipanggil begitu, jika saja mereka telah sedikit dewasa maka mereka akan menertawai betapa “hiperbola” teman mereka tersebut. Tapi tunggu dulu, saat ini mereka masih remaja tanggung, kepala mereka masih disesaki ide-ide tentang kesetiakawanan, entah itu baik atau buruk.

MTV Selalu diikuti Barbarossa

MTV
Selalu diikuti Barbarossa

“Abang Gahul masih sangat hijau dan tolol, hahaha.” Barbarossa tertawa. “Yang kita butuhkan hanya ancaman. Amish!” Panggil Barbarossa dengan gaya.

“Siap bos!” Jawab Amish tapi lidahnya dijulurkan, mengejek.

“Tolong sampaikan pada pesanku pada abang Gahul.”

“Kenapa harus aku? Kenapa bukan si Pong?”

“Goblok, diantara kita bertiga kamu yang paling preman! Ancamlah dia supaya jangan melirik-lirik Venus.”

“Kalau aku preman, pasti kepalamu yang aku pecahkan pertama. Karena mengatai aku goblok, dasar goblok!” Balas Amish.

“Lebih goblok lagi kamu! Prinsip nomor satu yaitu jangan pernah sekalipun meninggalkan teman, apalagi berniat memecahkan kepala teman.” Barbarossa mengaruk-garuk kepala karena kesal.” Barbarossa kesal. “Tolonglah Amish” Kemudian suara Barbarossa melembut.

“Selalu aku, selalu aku. Iya aku lakukan.” Roman Amish kesal, tapi menuruti.

Tora Sudiro sebagai Tabib Pong

Tora Sudiro sebagai Tabib Pong

“Aduh kalian, tak bisakah kita sedikit beradab? Mengancam itu tindakan barbar!” Tanya Pong.

Lonceng tanda istirahat berbunyi.

“Pong, Amish kalian tidak tahu betapa berartinya Venus untukku, “tolong laksanakan saja!” Barbarossa menatap halus menyuruh Amish pergi.

Amish beranjak pergi, tinggallah Barbarossa dan Pong.

“Tunggu saja Pong sesaat lagi kita akan berjaya, begitu aku mendapatkan cinta Venus. Kalian akan berkenalan dengan teman-temannya yang cantik. Dan kau Pong bisa melepaskan diri dari Hera yang possesif, cari pacar baru.” Barbarossa menarik nafas panjang. Ayo kita ke kantin Pong!” Ajak Barbarossa tiba-tiba.

“Kenapa tidak menunggu Amish dulu?”

“Memang kamu sanggup berlama-lama disini?” Ares balik bertanya. “Bulu hidungku sudah keriting disini mencium bau tak sedap.”

“Kau sendiri mengajak rapat rahasia di dekat kakus sekolah, ya pasti bau.” Pong tertawa.

Barbarossa pun tertawa ngakak, mereka berangkat ke kantin meninggalkan Amish yang melaksanakan permohonannya. Pong pun mengangguk, mereka pergi. Dan lupa dengan prinsip-prinsip kesetiakawanan yang tadi indah dibicarakan.

XI

Fauzi Baadila sebagai Amish Khan

Fauzi Baadila sebagai Amish Khan

Sebuah penyakit dari pikiran, Amish pikir dia seorang pemberani. Dan dimana penyakit muncul, dikuti hal-hal buruk. Catatan hidupnya penuh dengan tindakan-tindakan berani dalam anggapannya, demi kesetiakawanan. Ia rela menerjang siapa saja, siapa saja. Kali ini tugasnya adalah “melenyapkan” abang Gahul. Namun, ia beruntung hari itu. Abang Gahul tidak ada di kelas, keluar kata teman-temannya, segera bergegas ia kembali ke lorong tadi. Ia tidak menemukan dua sahabatnya, pasti ke kantin pikirnya. Dan benar saja, dua sahabatnya sedang makan mie, amboy enaknya. Baru hendak duduk dan melaporkan kepada Barbarossa, Pong bangun dan mengajak pergi. “Best Friend, aku belum makan.” Keluhnya.

“Ayo cepat kita bergegas, sebelum Hera menemukanku disini.” Pong buru-buru. Ia takut ditemukan oleh pacarnya yang possesif. Jika ia sudah “ditemukan” maka dapat dipastikan ia akan dikuasai dan terpisahkan dari komplotan ini.

Tamiya (Mobil) Mainan (Tabib) Pong dari waktu ke waktu

Tamiya (Mobil)
Mainan (Tabib) Pong dari waktu ke waktu

Pikiran Barbarossa terbelah, ia ingin mendengarkan hasil “pekerjaan” Amish. Tapi ia iba dengan Pong. Kasihan pikirnya, tidak ada yang lebih malang dari Pong diantara mereka, memiliki kekasih yang selalu ingin menempel padanya, untung mereka tidak sekelas. Pacar teman mereka yang satu ini tidak memiliki rupa yang elok, bahkan menurutnya Pong bisa mendapatkan yang jauh lebih baik, celakanya itu disadari juga oleh Hera. Kecemburuan dan rasa takut kehilangan membuatnya selalu mengawasi kemana pun sang “kumbang” pergi, dan itu mengesalkan! Hera memiliki kelakuan ratu, mampu mengusir semua lalat penganggu dari Pangeran Pong. Itu tidak masalah, tapi jika dipisahkan juga dengan teman se-partai Pong malas. Grup ini terlalu asyik. Ia selalu berlari setiap memiliki kesempatan, padahal Amish dan Barbarossa berulang kali menyarankan Pong untuk memutuskan Hera, tapi dasar Pong berhati lembut. Ia tak sanggup. Saran-saran beracun dari Amish dan Barbarossa juga yang membuat Hera membenci mereka berdua.

Akhirnya Barbarossa memilih Pong, dan berbisik. “Amish selesai makan kami tunggu di tempat biasa ya.”

“Sama nenek sihir takut. Itu ngaku preman? Oh ya, abang Gahul tidak ada dikelas tadi.” Amish kesal dan mengejek.

“Besok kan bisa.” Timpa Pong sementara wajah Barbarossa kecewa.

“Tidak ada besok kalau kalian tidak menemaniku makan sekarang.” Amish menunjuk dengan garpu.

Barbarossa gamang, tapi Pong menarik tangannya, mereka bergegas. Amish Khan meracau sendirian, tapi tak lama kemudian Hera datang. Matanya mencari-cari Pong, ia melihat Amish menundukkan wajah, pura-pura khusyuk makan, sampai Hera beranjak pergi. Ia menarik nafas panjang, mengusir kesal ia mengeluarkan kaleng tembakau. Melinting dan menghisap dalam-dalam di kantin sekolah, hanya Amish Khan yang berani.

PREMANISME

Pemeran :

(Mas) Jaim

Amish (Khan)

Geng Hitam dan Figuran lainnya

Aku laki-laki yang memiliki banyak kelemahan, pikirnya. Telinganya tak mendengarkan suaranya sendiri. Ia agaknya mendengarkan suara ribut orang-orang di kantin. Memesan ini dan itu, ia merasakan suaranya terlalu kecil sehingga diabaikan. Biasanya ia tak mengindahkan jangkauan suaranya serta tak ambil pusing dengan notasi. Hanya kali ini ia merasa mengkhianati harmoni. Namun kala kesialan menimpa ia merasa terhibur melihat seorang dengan kancing atas terbuka, memperlihatkan singlet cap bangau. Menghirup dalam lintingan tembakau di tengah kantin. Benar-benar seorang yang tak bermasa depan, berpotensi menjadi seorang tukang nasi bebek kelak. Tak peduli apapun. Orang tersebut merasa terperhatikan, tersenyum kemudian datang padanya.

“Amish.” Katanya seraya mengulurkan tangan.

Idris Sardi sebagai Mas Jaim

Idris Sardi sebagai Mas Jaim

Dengan terbata ia menjawab, “teman-teman memanggilku, Jaim.” Baru kemudian ia sadar belum memberikan tangan, mereka bersalaman. Amish memperhatikan Jaim sebentar, merasa tak menarik ia kembali ke sudut kantin melanjutkan sebatang tembakau lagi.

Ketika mengalihkan pandangan, saat itu ia merasa jarum detik seluruh jam yang ada di dunia berhenti berdetak. Ia melihat geng hitam, kelompok yang ia benci. Memeras dan memukuli siapa yang mereka anggap layak. Aliran darah disekujur tubuh menjadi dingin, jantung terasa berhenti berdetak ketika sang ketua tersenyum melihatnya, dan menuju ke arahnya.

Hallo Jaim, sudahkah kamu membayar upeti hari ini?” Seringai jahat dari ketua geng hitam diikuti tawa enam orang pengiringnya.

“Ah. Aku tidak punya uang.” Keluh Jaim.

Sepuluh tahun lalu, nilai Rp.500 lima kali dari nilai sekarang.

Sepuluh tahun lalu, nilai Rp.500 lima kali dari nilai sekarang.

Sang ketua menendang Jaim hingga tersungkur, suasana kantin mendadak sepi. Ia merangkak mencoba untuk bangkit. Sang ketua menarik rambut Jaim yang harga dirinya berserakan di lantai. Orang-orang hanya diam saja menyaksikan kejadian tersebut, dalam hati Jaim merasa terluka amat sangat.

“Haiyaaaaa… Haiyaaaa…” Sang ketua menikmati menindas Jaim.

“Tidak ada kebahagian yang dijaga dengan menginjak-injak kehormatan orang lain.” Tiba-tiba Amis sudah di depan mereka, menendangi enam penjaga ketua. Meludahi mereka satu persatu dan telah berhadapan dengan ketua geng hitam. Mata mereka bersiborok. Amish tak pernah berpikir panjang, maka segera ia menjotos muka ketua geng hitam, tak ayal ia tersungkur. Segera Amish meludahinya, memberikan tanda keramat di wajah orang tersebut.

Terhina, ketua geng hitam bangkit. Ketika seolah akan membalas, ia berbalik melarikan diri. Gerombolannya mengikuti di belakang. “Kelak segala penghinaan ini akan kami balas berlipat.” Mereka masih sempat melontarkan ancaman.

“Banyak orang hanya bisa berbicara, tanpa pernah berbuat.” Amish tertawa terkekeh sambil memegangi perut.

“Terima kasih.” Suara Jaim pelan.

“Santai best. Kita teman.” Amish memukul bahu Jaim.

Jaim tersenyum. Dalam pukulan keras itu ia merasakan uluran tangan yang di sodorkan dengan tulus, yang tak pernah ia rasakan sampai saat itu. Sebuah persahabatan, sebuah kepercayaan kerap tak terduga menyelesaikan hal yang tak terduga.

PERPUSTAKAAN

Pemeran :

(Tuan) Takur

Penyair

(Profesor) Gahul

Beberapa orang menyebutnya orang bijak, pujangga, kakek, dan ada juga yang menambahkan kakek-segala-tahu. Seorang anak muda dengan kualitas orang tua, namun sekuat tenaga menyembunyikan itu semua agar tak menjadi olok-olok. Namun sayangnya bakat muncul seperti alergi, ia otomatis timbul  seperti jerawat di wajah orang tersebut. Di siang yang menggelegak ini, di salah satu sudut paling sepi sekolah ini, perpustakaan. Takur (belum bergelar “Tuan”) mencari orang tersebut, pikirannya  dipenuhi dengan ketidakmampuan mengatasi masalah. Ia perlu pendapat seorang ahli, dan reputasi orang tersebut telah mendahului sehingga tidak dapat tidak (pasti) mampu memberi solusi padanya. Masuk ke dalam perpustakaan ia melihat hanya ada satu orang, ia terlihat membaca kitab, membolak-balik seolah memperlakukan harta. Pipi tirus dan wajah dipenuhi jerawat, tidak salah lagi. Ini adalah orang kondang yang sering menjadi puja dan puji para guru. Takur mendekat, namun orang tersebut berpaling, mengisyaratkan penolakan. Ia tidak suka diganggu ketika di dalam dunianya. Sungguh lucu bila Takur bersikap defensive dan menyerah, itu bukan tipe karakternya.

“Apakah kamu orang bijak yang memiliki banyak nama?” Ia menantang khas, sebuah sikap yang kelak masih ditemui ketika ia sudah dewasa.

Nicholas Saputra sebagai Penyair

Nicholas Saputra sebagai Penyair

Tanpa memalingkan wajah dari kitab yang ditekuni ia menjawab, “beta menyukai syair. Dan bercita-cita menjadi Penyair, karena kata adalah doa. Engkau boleh menyebut beta dengan sebutan Penyair.”

“Takur.” Ia menarik tangan kanan Penyair dan menjabatnya. Suasana tegang, jantung Takur berdegub kencang dan Penyair diam misterius. Dan inilah detik-detik kebenaran.

“Aku memiliki masalah. Menurut teman-teman yang lain kamu adalah orang bijak, dan mungkin kamu bisa menjadi menemukan solusi untukku.” Langsung pada tujuan, khas Takur. Penyair tersentak kaget karena sebuah cerita mendadak. Ia menutup kitab, mendengarkan.

Okan Cornelius sebagai Tuan Takur

Okan Cornelius sebagai Tuan Takur

“Beberapa hari lalu, Venus meminta aku menemuinya di belakang sekolah ketika pelajaran usai. Aku menemuinya, di sana ia menyatakan cinta kepadaku. Aku diam, persis kamu sekarang.” Takur memegang kepala menunduk. “Aku pikir, aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa. Lihatlah dia! Dia adalah yang tercantik di sekolah kita! Rasanya aku tidak percaya, tentu ada banyak lelaki lain yang menyukainya. Tiba-tiba, aku merasa tidak sepadan dengannya. Kemudian aku menolaknya.” Kata-kata Takur seperti bel meraung-raung kemudian diam.

“Terus.”

“Aku menyesal. Aku terburu-buru mengambil pilihan. Siapa yang tidak menyukai Venus? Bahkan kamu sendiri pasti tidak akan menolak perempuan secantik dia.”

“Dia bukan tipe beta,” Penyair menyiratkan wajah tersinggung. “Lalu apa urusan beta dengan masalah engkau?”

“Aku ingin kamu memberi saran, agar aku bisa merebut hatinya kembali. Harga dirinya terluka, dalam beberapa hari ini aku berusaha menemuinya untuk meminta maaf. Ia menghindariku. Bantu aku.” Pada hari yang paling frustasi Takur menjumpai, dan berkenalan dengan Penyair.

“Beta tidak mengerti perempuan. Tidak paham tentang cinta.” Bahkan Penyair membuang wajah kearah jendela.

“Tapi orang-orang bilang kamu tahu segalanya, bahkan kamu sampai dijuluki kakek-segala-tahu. Kenapa masalah seperti ini tidak tahu!” Takur terperanjat, emosinya mengelegak dan memukul meja.

Bahasa Indonesia Kitab (Pertama) dari Penyair

Bahasa Indonesia
Kitab (Pertama) dari Penyair

Sekali lagi Penyair miris mendengar penjelasan itu, jika saja masalah cinta semudah itu maka Takur tentu tidak susah payah untuk menemuinya, ingin ia membalas keras. Namun keibaan menahan kuat keinginannya. “Julukan adalah sekedar julukan teman, beta tidak mengetahui segalanya.”

Suasana hening, ternyata ada yang memperhatikan percakapan mereka berdua sedari tadi dari pintu perpustakaan. Ketika ia mendekat terdengar suara langkah yang bergema dalam kesepian ruangan. Ia tersenyum, wajahnya tenang, bersisir rapi. Ia memperkenalkan diri santun, nama terkenalnya adalah abang Gahul.

“Ini adalah kasus cinta yang ekstrem.” Abang Gahul dengan suara berat, itu seakan ikut merasakan penderitaan Takur, sekaligus bersimpati pada Penyair. “Tiga tahun aku mendalami masalah cinta, baru kali ini aku menjumpai hal semacam ini.”

Takur dan Penyair saling berpandangan. Satu bingung sedang satu lagi dongkol dilibatkan dalam masalah orang lain.

“Tapi jangan khawatir. Besok, sepulang sekolah aku mengadakan kursus cinta. Mungkin tidak sepenuhnya bisa mengatasi masalah kalian, namun bisa sedikit memberikan pencerahan.” Ia merogoh kantung, mengeluarkan dua lembar kertas diberikan kepada mereka.

Undangan Kursus Cinta oleh abang Gahul ; Demi kebaikan dan kebesaran sekolah. Aku, abang Gahul mengadakan kursus cinta. Merupakan kelas terbuka bagi mereka yang berkromosom XY. (Kelas kromosom XX menyusul). Tertanda abang Gahul.

Penyair terperangah seperti penonton awam tersesat dalam teori relativitas, sedang Takur girang bukan kepalang, rasanya ia ingin meloncat dari tempat duduk dan berdiri di atas meja mahoni kuno berusia puluhan tahun milik perpustakaan sekolah dan berteriak kencang, “Ini dia solusi yang aku cari!” Ia menyalami abang Gahul, menepuk-nepuk punggungnya. Dan hari itu adalah awal persahabatan antara Tuan Takur dan Profesor Gahul di kemudian hari.

KURSUS CINTA

Pemeran :

(Profesor) Gahul

(Tuan) Takur

Penyair

Barbarossa

Amish (Khan)

(Tabib) Pong

Ketua Osis dan Figuran lain

Pada waktu yang ditentukan, selepas pulang sekolah. Tampak Ketua OSIS,  Takur, Komplotan Barbarossa, Amish, Pong yang entah dari mana mendapat kabar tentang kursus cinta. Penyair juga hadir! Dan sekelompok anak kelas lain. Mungkin mereka penasaran dengan kursusnya abang Gahul, atau mungkin mereka menganggap cinta itu merupakan hal penting untuk diikuti kursusnya. Satu hal yang pasti aku semakin menyukai kelompok ini, menjadi sangat cinta karena mau menampung ide-ide gila seperti ini pikir abang Gahul. Sebagai Event Organizer, Takur adalah orang yang dipercaya mengelola acara. Setelah perkenalan mengesankan kemarin, mereka langsung akrab. Ya promosi (tambahan), ya mengatur set bangku termasuk menjadi moderator bahkan merangkap notulen.

Rizky Hanggono sebagai Professor Gahul

Rizky Hanggono sebagai Professor Gahul

Kelas dimulai ketika abang Gahul memasuki ruangan dengan langkah anggun, kemudian ia berkata, “Tidak boleh ada peserta tambahan setelah aku memulai materi, dan aku tidak menerima interupsi!” Katanya tegas. Dengan mengeluarkan sejumlah catatan abang Gahul mulai memasang aksi, ia mulai bereaksi didepan sedang Takur sebagai notulen disampingnya.

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh, terima kasih saya ucapkan atas kesedian teman-teman mengikuti kursus yang mungkin hanya sekali ini. Maaf membuang waktu kalian yang amat berharga tapi yakinlah ini semua akan berharga bagi kalian,” seperti semua acara formal pasti harus diawali basa-basi yang membosankan.

“Apa itu ilmu Cinta?” Abang Gahul memandang peserta dengan gayanya yang khas sambil memandang kearah para peserta.

“Ilmu untuk bercinta,” seperti biasa Barbarossa sok tahu.

“Cinta ya cinta,” Amish menerka.

“Ssttt!” Menarik telunjuk kebibirnya, “sudah kukatakan sebelumnya, tanpa interupsi!” Abang Gahul mengingatkan.

“Tapi itukan berbentuk pertanyaan Don?” Protes Pong.

“Pertanyaan yang hanya aku yang boleh menjawabnya, mulai sekarang kunci mulut kalian semua!” Perintah pak dosen mata kuliah ilmu cinta.

“Kalau ada yang keberatan silahkan tinggalkan ruangan ini, atau aku yang pergi!” Tegas abang Gahul, ia ternyata tidak main-main.

Ketua OSIS mengeleng-gelengkan kepala tanda tunduk pada peraturannya, sedang yang lain tersenyum tanda setuju.

Album Bintang Lima Dewa. Lagu Terbaik, Risalah Hati.

Album Bintang Lima Dewa.
Lagu Terbaik, Risalah Hati.

“Ilmu cinta adalah cara untuk melupakan seseorang yang kita sukai apabila ia memang bukan jodoh kita.” Hadirin termasuk Takur kecewa dengan pernyataan abang Gahul, katanya kursus cinta mengapa sekarang disuruh melupakan? Aneh bin Ajaib. Penyair mulai bosan, diam-diam mengeluarkan kitab dari dalam tas, dan mulai membaca sejarah negeri-negeri di atas angin sejak zaman kegelapan sampai kebangkitan.

“Sedang untuk menarik perhatian lawan jenis yang diperlukan adalah pengalaman bercinta,” demi menjaga ritme abang Gahul terpaksa mengendurkan tekanan.

“Yaitu bagaimana melihat tingkah laku seseorang perempuan akibat tindakan dan usaha yang telah kita lakukan!” Wajah peserta kembali antusias.

“Perempuan adalah makhluk pemalu mereka tidak akan mengatakan terus terang menyukai kita, untuk itu kita sebagai laki-laki harus membaca tanda-tanda tersebut.”  Katanya memandang ke depan.

Kali ini dahi Takur yang berkerut, sepertinya teori abang Gahul tidak cocok dengan kondisinya. Barbarossa dan Amish tertawa terbahak dan menunjuk-nunjuk Pong, mengingat kasusnya (dengan Hera).

“Itu semua ada ilmunya, itu semua ada prosesnya.” Tambahnya, sekaligus memprotes hadirin yang riuh.

“Itu semua adalah inti orang bercinta dan atau dimabuk cinta,” abang Gahul tersenyum girang, hadirin fokus kembali.

“Menurut pengalaman bercinta orang-orang yang aku teliti, selama perempuan tidak pernah melanggar janjinya berarti bagi kita laki-laki selalu masih ada harapan,” semangat abang Gahul berkobar-kobar!

“Walaupun ia berkata ketus, walaupun seolah ia tidak memperhatikan kita. Tataplah matanya teman karena perempuan menilai laki-laki dari kekuatan  matanya,” abang Gahul membuat tanda V diwajahnya.

“Dan apabila kita sudah berusaha maksimal, tapi gagal juga maka yakinkan diri kalian bahwa dunia ini tidak selebar piring atau selebar kertas buku segi empat,” benar-benar perumpamaan terburuk yang pernah didengar, bahkan Amish yang paling barbar sekalipun merasa aneh.

“Paling tidak disaat kita tua, kita tidak menyesal karena pernah berusaha mendapatkan perempuan yang kita harapkan berada disisi kita saat itu.” Abang Gahul menutup materinya dengan bangga dan melirik kearah Takur, gilirannya menjadi moderator.

“Baiklah teman-teman sekarang waktunya sesi tanya jawab. Karena waktu sudah terlalu siang dan saya sudah mulai lapar. Maka pertanyaan dibatasi hanya satu saja, kepada panelis silahkan menujuk tangan!”

Beberapa orang menunjuk tangan, mata abang Gahul tertuju kepada Pong, seorang bangsawan seperti dirinya, pasti memiliki pendapat brilyan.

“Silahkan saudara!”

“Jadi apa maksud kursus cinta ini?” Wajah Pong memendam kejengkelan terhadap kursus cinta yang dianggap sudah membuang waktunya.

Maka bukan abang Gahul, kalau tidak bisa menguasai keadaan.

“Pertanyaan yang bagus saudara,” ia tersenyum. “Untuk menjawabnya saya akan menggunakan perumpamaan pohon pisang.” Seperti lagu Nia Lavenia saja, lihatlah pohon pisang jika berbuah hanya sekali.

“Kumohon abang Gahul jangan memakai perumpaan jadul itu. Itu sudah sangat zaman dulu, bahkan pada satu dekade sebelum hari ini.” Pikir Pong, ia terjangkit kemalasan kembali. Tak ingin menimpali (lagi).

“Pohon pisang bila ditebas dengan parang tumpul maka ia akan roboh, luarnya sehat tapi didalamnya hancur,” ia menarik nafas.

“Itulah yang dinamakan kematian roh!” Kata-kata abang Gahul menggelegar seperti filem horor.

Nokia Seri Awal Gadget mutakhir milik Profesor Gahul (Pada zaman dahulu)

Nokia Seri Awal
Gadget mutakhir milik Profesor Gahul (Pada zaman dahulu)

“Karena ia tidak akan bisa bangkit kembali, bandingkan apabila ia tertebas habis?” abang Gahul kembali mengajukan pertanyaan yang hanya boleh ia jawab. “Mungkin ia akan buntung, tapi disisa tubuhnya akan muncul tunas baru yang akan besar kembali.” Suara abang Gahul begitu syahdu.

“Maksud kursus cinta adalah sebagai laki-laki kita harus mengejar perempuan yang kita cintai dengan sekuat tenaga namun bila gagal jangan layu seperti pohon pisang mati roh. Bangkitlah!” Hari ini abang Gahul adalah bintang podium.

Wajah Pong tersenyum mengejek, para panelis terlihat tidak puas. Semua, kecuali Takur. Dilihat dari track record adalah suatu keberanian bagi abang Gahul untuk membuka kursus cinta. Walau ini hanya sekali dan tidak mungkin terulang untuk kedua kalinya, sungguh beruntung aku hari ini bisa mengikuti petuah empu Gahul. Pikiran Takur menari-nari dalam kursus singkat ini.

“Sudah kau catat semua ini sahabatku?” Tanya sang superstar kepada notula.

Celaka! Aku lupa! Keasyikan mengikuti materi membuat aku lupa menunaikan kewajibanku yang utama, dengan berat hati Takur menggelengkan kepala.

Alien Workshop Kostum resmi Tuan Takur

Alien Workshop
Kostum resmi Tuan Takur

“Tak mengapa sahabat,” abang Gahul memegang bahu sahabatnya tersebut.

“Sudah kuduga kursus ini terlalu istimewa sehingga semua orang terpana, besok berikan laporan tertulis padaku dan tolong wawancarai peserta tentang hasil materi hari ini. Kelas bubar!” Perintahnya.

Satu persatu peserta keluar, sembari keluar Barbarossa berbisik kepada Amish. “Bro, lupakan permintaanku untuk mengancam orang ini. Ternyata ia cacat mental.” Amish cekikikan, sedang Pong hanya bersenandung, “lalalala.”

Keesokan harinya, Takur mencoba mewawancarai seluruh peserta. Tidak ada yang mau berkomentar, kecuali penyair yang menulis pada secarik kertas. “Sejarah selalu berulang.” Nah lo, bahkan sampai satu dekade berikut. Baik (Profesor) Gahul maupun (Tuan) Takur tak kunjung paham maksud Penyair.

EKSTRA

Pemeran :

(Laksamana) Chen

(Mas) Jaim

(Mister) Big

Keharuman pasir dan laut lebih menyegarkan daripada tidur panjang. Tapi, angin Barat, angin paling ganas, berhembus dengan kecepatan maksimum. Bila ia mengamuk menjadi monster puting beliung. Permukaan air laut naik, dan suhu menjadi panas. Itulah kira-kira isi kepala pemimpi yang hampir gila karena frustasi. Seharusnya aku tidak terlalu cepat lulus sekolah, dan terjebak di sini tanpa arah yang jelas. Tahun lalu ia lulus, dan celakanya tidak lulus dalam ujian sekolah tinggi kerajaan. Menghabiskan banyak waktu di tempat tidur, ia bangun terlalu siang. Si bungsu merasa menjadi sasaran uji coba nasehat semua sanak keluarga. Ia bosan, dan memutuskan untuk mengikuti les ujian kerajaan. Bersama mereka yang juga tidak lulus ujian kerajaan tahun sebelumnya, dan juga mereka yang masih bersekolah namun sudah  mempersiapkan diri mengikuti ujian sekolah tinggi kerajaan.

Daniel Mananta sebagai Laksamana Chen

Daniel Mananta sebagai Laksamana Chen

“Untuk apa terlalu cepat menamatkan bangku sekolah, jika selepas itu kita tidak tahu hendak kemana.” Dalam hal ini Barbarossa kampret, tetangganya benar. Namun menjadi tidak benar ketika ia termakan bujuk rayu Barbarossa, “tenang Chen. Nanti sepulang sekolah kita bersama-sama ikut les, tokh aku tahun ini aku juga akan lulus.” Pada awal kesempatan memang mereka berdua mengikuti les, tapi cepat dan tepat Barbarossa mulai mangkir, meninggalkan dirinya sendiri dalam ruang empat kali empat ini. Sialan! Disinilah ia sekarang, mengikuti jam pertama les. Mata pelajaran Aljabar, dan merasakan ahli pada bidang ini. Setidaknya itu adalah penghiburan sedikit bagi jiwa yang sedang kusam ini. Tapi tak dinyana, dalam berjalannya waktu berlalu, rupanya kepala kalengnya cepat juga menangkap ilmu.

Spica (Nintendo) mainan wajib (Laksamana) Chen

Spica (Nintendo)
mainan wajib (Laksamana) Chen

Justru pria beraut manis manja yang duduk di depannya dan berpenampilan layaknya orang pintar serta selalu mengangguk-angguk kalau menerima pelajaran, ternyata lemot bukan main, namanya Jaim. Dia masih sekolah, mereka sudah berkenalan beberapa hari yang lalu. Jaim muncul ketika Barbarossa sudah tidak mengikuti les lagi, setidaknya ia memiliki teman baru. Jaim ini sangat naïf dan tak peduli seperti jalak kerbau. Jika kita menipu dan mengatakan kiamat besok, ia pasti akan bergegas pulang untuk menjual satu-satunya ayam yang ia miliki, bahkan meskipun sang ayam sedang mengeram. Dunia baginya hitam dan putih adalah sekeping jembatan papan lurus yang harus diteliti. Namun meskipun begitu, hatinya baik luar biasa. Ia penolong yang ramah. Pernah seorang ibu menangis kehilangan anaknya, Jaim menemani membantu mencari dan meninggalkan kegiatan yang sedang ia lakukan, segera tanpa pikir panjang.

“Aku mau pulang, kepala aku pusing. Aku mengantuk dan ingin tidur.” Ketika tentor Aljabar keluar, menjelang Ashar. Waktu istirahat, ia mempersiapkan diri pulang.

“Masih ada mata pelajaran bahasa asing. Jangan pulang dulu Jaim.” Chen merasa bosan jika Jaim terlalu cepat pulang, tapi Jaim bergegas. Mengucapkan salam, mengulang kata capek, pusing dan tidur lalu pergi. Bimbang, Chen memutuskan  tidak mengikuti pelajaran bahasa asing. Ia tidak ingin pulang dulu, tiba-tiba ia mengingat laut. Apa salahnya melihat matahari tenggelam, dan disitulah Chen menghabiskan hari, menatap bayang-bayang merah di angkasa sembari bernyanyi kecil.

Kejadian itu bertahun-tahun lalu (satu dekade plus satu).

Cristian Sugiono sebagai Mister Big

Cristian Sugiono sebagai Mister Big

Pada hari yang sama sebuah kapal berlabuh di pelabuhan Bandar. Seorang pemuda tanggung turun dari geladak, ia tersenyum. Seolah-olah ada sumur yang dalam di balik matanya, terisi berabad-abad ingatan dan pikiran yang lambat, panjang dan tenang. Tapi permukaannya bersinar-sinar dengan masa kini, seperti matahari yang bercahaya di atas daun-daun paling luar sebuah pohon besar, atau riak-riak telaga yang sangat dalam. Entah ya, tapi rasanya seakan-akan sesuatu tumbuh di tanah. Bisa dikatakan tertidur, atau merasakan dirinya sendiri, sebagai sesuatu di antara ujung akar dan ujung daun, di antara ada dan tiada. Hari ini Big pulang ke Bandar, setahun lalu ia menyelesaikan sekolah di negeri Tulang Bawang. Ia berencana mendapatkan penghidupan yang lebih baik disini, kepingan terakhir telah hadir.

Sejak hari itu, perlahan dan pasti masing-masing individu yang memiliki latar belakang berbeda berkumpul membentuk pola teratur yang berantakan, kelak dinamakan Assosiasi Budjang Lapok.

MEMORI

Pemeran :

Assosiasi Budjang Lapok (ABL)

Sekarang, di lepau nasi kota Bandar. Setiap hari ada pemandangan yang sama, ABL hadir dan berkelakar namun waktu yang menjadikannya berbeda. Ketika mereka berkumpul bersama-sama tanpa memikirkan kejadian buruk yang (mungkin) bisa saja menimpa, seolah itu akan meracuni kebahagian yang sudah ada ditangan mereka. Namun ada sesuatu yang menggusarkan mereka, baru-baru ini kekhalifahan mengumumkan bahwa tingkat kelulusan di Kerajaan Bandar adalah yang paling rendah di antara 33 Federasi Kerajaan, itu adalah tamparan keras bagi mereka yang pernah mengecap nikmat bangku sekolah di Bandar. Kerajaan Bandar, juara satu tapi dari bawah.

“Tahun ini adalah sepuluh tahun kita menyelesaikan sekolah, sepertinya asyik jika kita mengingat kejadian lalu. Sedang apa kita saat itu.” Kata Penyair.

“Setuju.” Mister Big tersenyum.

“Sebelas tahun bukan? Tahun kemarin iya sepuluh tahun.” Barbarossa masih acuh.

“Aduh.” Tabib Pong memegang kepala. “Sudah sebelas tahun ya.”

“Iya sudah sebelas tahun. Waktu itu kita semua belum terlalu saling kenal. Kira-kira dulu siapa yang paling di gilai wanita ya.” Penyair bersemangat sekali, mengingat ia tak terlalu mengenal para anggota ABL saat-saat itu.

“Barbarossa.” Tabib Pong. “Pertanyaan selanjutnya.”

“Siapa yang paling gigih mengejar wanita?” Penyair nyengir.

“Itu aku.” Jawab Pong tenang.

“Yang paling digilai wanita itu Pong, aku mana ada.” Barbarossa membantah.

“Aku sendirian kalau begitu, siapa kenal aku nun jauh disana.” Mister Big.

“Aku polos dan cupu yang kerjanya sekolah dan belajar.” Barbarossa.

Laksamana Chen menguap.

“Ya, kan benar Laksamana. Aku paling rajin sekolah.” Barbarossa.

“Iyalah lain apa mau bilang.” Laksamana Chen mendelik nakal.

“Aku baik, polos, penurut dan disiplin.” Barbarossa semakin tidak tahu diri.

“Barbarossa hanya berbicara tentang diri sendiri. Yang sudah jelas kita semua tahu bagaimana dia waktu sekolah.” Bantah Tuan Takur.

“Amish Khan yang paling preman. Di eranya, ia paling ganas, tanya Professsor Gahul kalau tidak percaya, dia saksinya.” Mas Jaim buka suara.

“Bukannya Mas Jaim yang pernah menjadi saksi keberingasan Amish?” Profesor Gahul membalikkan pertanyaan Mas Jaim.

Mereka tertawa terbahak bersama.

“Apa banyak tertawa semua. Pong kamu ingat Hera? Sekarang dia sudah punya dua orang anak.” Amish Khan membuka cerita lama.

Barbarossa merasa dia yang tahu kejadian di masa lalu memegang perut seraya menunjuk wajah Tabib Pong yang masam. “Kamu masih ingat Amish, dulu dia selalu lari melihat Hera. Untunglah sekarang ia selamat.” Tambahnya.

“Apa banyak omong best? Venus sekarang sudah punya anak satu. Ingat itu!” Amish menjulurkan lidah kepada Barbarossa.

Sekejap wajah Barbarossa memerah, Tabib Pong tertawa girang. Diam-diam Penyair melirik Tuan Takur yang hanya diam, hanya saja wajahnya menghijau.

“Sebuah generasi sudah berlalu, dan tidak lama lagi giliran kami yang mengirimkan anak-anak kami ke sekolah untuk sekolah. Barbarossa, Penyair dan Tabib Pong apa lagi?” Laksamana Chen kumat sifat bijaknya.

“Apa memangnya?” Tanya Penyair.

“Ya kawinlah! Bodoh kok dipelihara?” Amish Khan diatas angin.

“Kenapa cuma kami bertiga? Kenapa Profesor Gahul dan Mas Jaim tidak disebut?” Bantah Barbarossa.

“Kalau Profesor sudah punya calon. Tidak lama lagi.” Laksamana Chen mengkode Profesor Gahul yang tersenyum senang. “Kalau Mas Jaim, maafkan saya lupa.” Ia mememegangi mulut tertawa, kemudian menyalami Mas Jaim.

“Permohonan maaf diterima.” Jawab Mas Jaim diplomatis.

Sekali lagi, mereka tertawa bersama, hari yang gembira.

Sudah sebelas tahun, keadaan kota ini berubah sedikit. Jadi ini tempatnya. Sudah sebelas tahun berlalu, dan disini suasananya sama sekali tidak berubah.  Padahal banyak sekali yang kita alami kalau kita menenggok ke belakang

XI

Mungkin manusia menjadi dewasa ketika mampu mengatasi dirinya sendiri. Bahwa hidup adalah sebuah jawaban yang akan menimbulkan pertanyaan baru, seolah tidak akan pernah habis. Bahwa selalu ia memiliki hasrat, namun membendung dengan akal sehat. Ketika memilih, tak tahu apa yang akan terjadi disisa hidup. Mungkin dihinggapi gentar dan bimbang, namun siap. Sebuah pengakuan bahwa dalam hidup berkecamuk betul ketidak-betulan yang tak jelas arahnya, absurd.

Hormatilah masa lalu, kau tidak pernah mengetahui bagaimana masa lalu mempengaruhi dirimu.

XI

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 30 Comments

PENYEBAB KEMUNDURAN PERADABAN ISLAM

Ilmuwan Islam sedang mempelajari geometri

PENYEBAB KEMUNDURAN PERADABAN ISLAM

Apakah penyebab kemunduran peradaban Islam? Pelajaran moral selalu ditemukan dalam akibat dan hasil akhir. Namun, dalam masalah pembaruan, apa yang ditegaskan oleh sejarah adalah awal suatu dinasti, pembaruan itu berlangsung singkat, tertatih-tatih, dan segera di sapu bersih oleh angin tirani dan keinginan-keinginan pribadi.

Apa yang dikukuhkan oleh sejarah tentang era perang dan kekuasaan adalah setiap perluasan kekuasaan itu biasanya diikuti dengan pembantaian yang terkadang bisa menimbulkan keretakan dalam kekuasaan itu sendiri.

“Kamu mencari solusi? Padahal solusi itu lebih dekat dari urat nadimu sendiri.” Apa yang dimaksud solusi adalah kembali ke zaman dulu dan al-Khulafa ar-Rasyidun. Disini kita harus mempelajari dengan cukup hati-hati kemudian mengambil pelajaran memadai. Pengambilan sejarah sebagai model menuntut kita membuat perbedaan yang jelas antara bentuk Islam murni atau Islam sektarian yang sekarang tersebar luas. Islam pertama merupakan angin puyuh sejarah yang sebenarnya, yang menyalahi hukum-hukum alam dan aturan-aturan sejarah empiris. Kekuatan Islam awal pada dasarnya diambil dari doktrin kebenaran dan kemukjizatan Al-Quran. Hanya saja, Islam awal ini hanya bertahan satu dekade, Setelah itu Dinasti Umayyah berdiri.

Perpecahan umat Islam

Faktor pengendali agama pun menghilang, dan muncullah Islam lain dengan karakteristiknya tersendiri, terpecah-pecah, dan didominasi oleh berbagai kepentingan mahzab, golongan, dan kepentingan berbeda. Islam memasuki fase sejarah. “kerajaaan menggigit.”

Ketika menemukan perbedaan yang menyedihkan tersebut dalam kehidupan Islam, baiknya kita menahan diri melemparkan kesalahan terhadap orang-orang yang bertangungjawab (Dinasti Umayyah) maupun penerusnya belakangan. Memimpikan kembalinya bentuk Islam awal yang murni, dan kemudian menyadari amat mustahil diraih. Kita harus berusaha keras untuk memahami realita yang sulit diabaikan dan memahami perubahan terjadi dengan logika sejarah. Karena itu, ketika menghadapi persoalan khilafah yang rumit dan sensitif, lebih baik mengantungkan penilaian dengan memperhatikan setiap pilihan dari sudut pandang kebenaran yang dimilikinya. Itu didasari atas penglihatan terhadap perasaan dan keinginan sebagai dua kekuatan vital yang menyebabkan benturan dalam politik dan sejarah.

Pendek kata, sebagaimana yang tercatat, ketika periode agama awal menghilang dengan menghilangnya kemukjizatan-kemukjizatannya dan dengan meninggalnya para sahabat yang menyaksikan kemukjizatan tersebut, maka kualitas yang dimiliki oleh agama awal itu sedikit demi sedikit akan berubah, kemukjizatan lenyap, dan sistem pemerintahan akan biasa seperti sebelumnya (Pra-Islam).

Pernyataan di atas berdasarkan pada kenyataan. Untuk menghilangkan semua bentuk semua bentuk ketidakjelasan dan kerancuan, saya menegaskan bahwa dalam masalah ibadah, agama umat ini masih tetap Islam yang benar. Dalam masalah-masalah perdata, waris, dan wakaf, hukum tetap saja bersumber dari agama dan ajaran agama. Hanya saja, dalam cabang-cabang ini dan cabang-cabang yang lain, ijtihad yang mengontrol proses pengambilan keputusan, seraya memperhatikan kebutuhan dan kepentingan pada saat itu dan melaksanakan pendapat tokoh penting dalam hukum Islam dan Imam mahzab. Ini adalah fenomena hebat dan bijak, dan alangkah hebat dan bermakna.

Berbagai rezim mengatasnamakan Islam

Namun ketika muncul para ahli yang ingin menggabungkan antara Islam dan kekuasaan maka kita patut curiga. Pertama, seluruh dinasti Islam, baik Arab, Persia, Turki, Barbar, Mamluk, maupun Mongol (dimasa lalu) berlomba-lomba mengklaim mempertahankan esensi Islam dan mengikuti petunjuk-petunjuknya dengan benar. Meskipun demikian, klaim-klaim tersebut tidak menghindarkan dinasti-dinasti tersebut dari menimbulkan berbagai kesusahan dan menumpuk kesalahan dan kesulitan (Berbeda dengan era Rasulullah). Kedua, Islam yang benar hanya mendapatkan kesulitan bila dijalankan dalam koridor kekuasaan dan sebagai bagian dari politik professional. Di sanalah ditemukan benturan keinginan, harapan, dan nafsu, yang semuanya saling bertentangan. Dalam benturan seperti inilah al-Khulafa ar-Rasyidun terbunuh, kecuali khalifah yang pertama, Abu Bakar, yang meninggal secara alami. Ketiga, api Islam murni hanya dapat terus menyala di kalangan masyarakat. Kita menjadikannya argumen menghadapi para pemegang otoritas keputusan dan pengontrol pena, senjata dan harta. Kita menjadikannya sebagai dasar dalam menyadarkan nurani dan memperkuat kesadaran manusia atas nilai dan hak-haknya.

Politik adalah masalah amanat dan mandat. Wilayahnya terbatas antara permintaan tanggung jawab dan penjelasan. Orang tidak berhak menggunakan basis-basis politik untuk menjadi seorang penguasa dengan mengatasnamakan penunjukan tuhan atau sejenisnya. Jika itu terjadi, maka buku-buku sejarah akan terbuka bagi kisah-kisah rezim-rezim otoriter, yang sangat bertentangan dengan hukum-hukum nalar dan nash. Lihatlah zaman ini! Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan. Ini adalah gambaran yang jelas dan detil, sebuah topik sensitif. Jika dipahami dengan seksama.

Sejarah harus memiliki benih yang lebih baik dan berkualitas agar dapat mengubah kulit dan arah perkembangannya. Bila tidak, maka tidak ada fungsinya mengambil pelajaran dari sejarah. Kemajuan juga tidak bisa diharapkan dari pergantian sejarah. Kelemahan fundamental sebuah rezim pun terlihat sejelas siang, sehingga ia pun dihancurkan oleh kelompok baru, yang kemudian mendirikan rezim baru yang hanya memiliki peran mengulang kembali lingkaran bencana dan fase yang sama meskipun jangka waktu dan bentuknya berbeda.

Kitab Mukkadimah Ibnu Khaldun

Mengingat semua ini, kita hanya mengulang kata-kata Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah, “bahwa ketika kegeniusan berhenti, ambisi tidak ada, dan keingintahuan berkurang, maka cahaya akan pudar, harapan sirna, dan orang-orang mati memerintah yang hidup.”

Islam adalah solusi?

Kita tentu harus bersandar pada Allah untuk menghilangkan kesusahan ini, semoga umat yang bercirikan musyawarah ini, suatu hari memiliki pemerintahan yang didasarkan pada neraca keadilan yang tepat, dan dikontrol akhlak dalam semua aspek perilaku dan interaksi (bukan politik munafik). Semua ini adalah konsep-konsep  yang dibangun secara kuat (dari keluarga), memberikan bimbingan yang tepat tanpa harus dipaksa dengan prinsip-prinsip kesewenang-wenangan, dan (apalagi) kerakusan nafsu angkara yang (hanya) sekedar berkedok agama. Bukankah sebaik-baiknya pemegang pedang (kekuasaan) adalah mereka yang penyayang.

XXXXX

Beberapa opini lain:

  1. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  2. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  3. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  4. Sejarah Syahdu Sebuah Negeri; 16 Agustus 2011;
  5. Filosofi Gob; 10 Oktober 2011;
  6. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  7. Mencoba Menafsir Makna Mimpi Buruk; 30 September 2016;
  8. Para Penyebar Kebohongan; 13 November 2016;
  9. Pengulangan Sejarah; 23 Mei 2017;
  10. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  11. Syariat Islam Siapa Takut; 9 Juni 2017;
  12. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  13. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  14. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  15. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

MASA-MASA KEMUNDURAN ISLAM

Pertempuran Yarmuk (Arab: معركة اليرموك) pada Agustus tahun 636 menandakan gelombang besar pertama penaklukan muslim ke luar Arab

ORANG SAKIT DARI TIMUR

Pelajaran moral selalu ditemukan dalam akibat dan hasil akhir. Namun, dalam masalah pembaruan, apa yang ditegaskan oleh sejarah adalah awal suatu dinasti, pembaruan itu berlangsung singkat, tertatih-tatih, dan segera di sapu bersih oleh angin tirani dan keinginan-keinginan pribadi.

Apa yang dikukuhkan oleh sejarah tentang era perang dan kekuasaan adalah setiap perluasan kekuasaan itu biasanya diikuti dengan pembantaian yang terkadang bisa menimbulkan keretakan dalam kekuasaan itu sendiri.

“Kamu mencari solusi? Padahal solusi itu lebih dekat dari urat nadimu sendiri.” Apa yang dimaksud solusi adalah kembali ke zaman dulu dan al-Khulafa ar-Rasyidun. Disini kita harus mempelajari dengan cukup hati-hati kemudian mengambil pelajaran memadai. Pengambilan sejarah sebagai model menuntut kita membuat perbedaan yang jelas antara bentuk Islam murni atau Islam sektarian yang sekarang tersebar luas. Islam pertama merupakan angin puyuh sejarah yang sebenarnya, yang menyalahi hukum-hukum alam dan aturan-aturan sejarah empiris. Kekuatan Islam awal pada dasarnya diambil dari doktrin kebenaran dan kemukjizatan Al-Quran. Hanya saja, Islam awal ini hanya bertahan satu dekade, Setelah itu Dinasti Umayyah berdiri.

Masa-Masa Kemunduran Islam

Faktor pengendali agama pun menghilang, dan muncullah Islam lain dengan karakteristiknya tersendiri, terpecah-pecah, dan didominasi oleh berbagai kepentingan mahzab, golongan, dan kepentingan berbeda. Islam memasuki fase sejarah. “kerajaaan menggigit.”

Ketika menemukan perbedaan yang menyedihkan tersebut dalam kehidupan Islam, baiknya kita menahan diri melemparkan kesalahan terhadap orang-orang yang bertangungjawab (Dinasti Umayyah) maupun penerusnya belakangan. Memimpikan kembalinya bentuk Islam awal yang murni, dan kemudian menyadari amat mustahil diraih. Kita harus berusaha keras untuk memahami realita yang sulit diabaikan dan memahami perubahan terjadi dengan logika sejarah. Karena itu, ketika menghadapi persoalan khilafah yang rumit dan sensitif, lebih baik mengantungkan penilaian dengan memperhatikan setiap pilihan dari sudut pandang kebenaran yang dimilikinya. Itu didasari atas penglihatan terhadap perasaan dan keinginan sebagai dua kekuatan vital yang menyebabkan benturan dalam politik dan sejarah.

Pendek kata, sebagaimana yang tercatat, ketika periode agama awal menghilang dengan menghilangnya kemukjizatan-kemukjizatannya dan dengan meninggalnya para sahabat yang menyaksikan kemukjizatan tersebut, maka kualitas yang dimiliki oleh agama awal itu sedikit demi sedikit akan berubah, kemukjizatan lenyap, dan sistem pemerintahan akan biasa seperti sebelumnya (Pra-Islam).

Pernyataan di atas berdasarkan pada kenyataan. Untuk menghilangkan semua bentuk semua bentuk ketidakjelasan dan kerancuan, saya menegaskan bahwa dalam masalah ibadah, agama umat ini masih tetap Islam yang benar. Dalam masalah-masalah perdata, waris, dan wakaf, hukum tetap saja bersumber dari agama dan ajaran agama. Hanya saja, dalam cabang-cabang ini dan cabang-cabang yang lain, ijtihad yang mengontrol proses pengambilan keputusan, seraya memperhatikan kebutuhan dan kepentingan pada saat itu dan melaksanakan pendapat tokoh penting dalam hukum Islam dan Imam mahzab. Ini adalah fenomena hebat dan bijak, dan alangkah hebat dan bermakna.

Perang Shiffin (Arab وقعة صفين ) (Mei-Juli 657 Masehi) Menandai berakhirnya era al-Khulafa ar-Rasyidun

Perang Shiffin (Arab وقعة صفين ) (Mei-Juli 657 Masehi) Menandai berakhirnya era al-Khulafa ar-Rasyidun

Namun ketika muncul para ahli yang ingin menggabungkan antara Islam dan kekuasaan maka kita patut curiga. Pertama, seluruh dinasti Islam, baik Arab, Persia, Turki, Barbar, Mamluk, maupun Mongol (dimasa lalu) berlomba-lomba mengklaim mempertahankan esensi Islam dan mengikuti petunjuk-petunjuknya dengan benar. Meskipun demikian, klaim-klaim tersebut tidak menghindarkan dinasti-dinasti tersebut dari menimbulkan berbagai kesusahan dan menumpuk kesalahan dan kesulitan (Berbeda dengan era Rasulullah). Kedua, Islam yang benar hanya mendapatkan kesulitan bila dijalankan dalam koridor kekuasaan dan sebagai bagian dari politik professional. Di sanalah ditemukan benturan keinginan, harapan, dan nafsu, yang semuanya saling bertentangan. Dalam benturan seperti inilah al-Khulafa ar-Rasyidun terbunuh, kecuali khalifah yang pertama, Abu Bakar, yang meninggal secara alami. Ketiga, api Islam murni hanya dapat terus menyala di kalangan masyarakat. Kita menjadikannya argumen menghadapi para pemegang otoritas keputusan dan pengontrol pena, senjata dan harta. Kita menjadikannya sebagai dasar dalam menyadarkan nurani dan memperkuat kesadaran manusia atas nilai dan hak-haknya.

Politik adalah masalah amanat dan mandat. Wilayahnya terbatas antara permintaan tanggung jawab dan penjelasan. Orang tidak berhak menggunakan basis-basis politik untuk menjadi seorang penguasa dengan mengatasnamakan penunjukan tuhan atau sejenisnya. Jika itu terjadi, maka buku-buku sejarah akan terbuka bagi kisah-kisah rezim-rezim otoriter, yang sangat bertentangan dengan hukum-hukum nalar dan nash. Lihatlah zaman ini! Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan. Ini adalah gambaran yang jelas dan detil, sebuah topik sensitif. Jika dipahami dengan seksama.

Perang Saudara Suriah 15 Maret 2011 - sedang berlangsung sebuah konflik kekerasan internal yang sedang berlangsung di Suriah

Perang Saudara Suriah 15 Maret 2011 – sedang berlangsung sebuah konflik kekerasan internal yang sedang berlangsung di Suriah

Sejarah harus memiliki benih yang lebih baik dan berkualitas agar dapat mengubah kulit dan arah perkembangannya. Bila tidak, maka tidak ada fungsinya mengambil pelajaran dari sejarah. Kemajuan juga tidak bisa diharapkan dari pergantian sejarah. Kelemahan fundamental sebuah rezim pun terlihat sejelas siang, sehingga ia pun dihancurkan oleh kelompok baru, yang kemudian mendirikan rezim baru yang hanya memiliki peran mengulang kembali lingkaran bencana dan fase yang sama meskipun jangka waktu dan bentuknya berbeda.

Mengingat semua ini, kita hanya mengulang kata-kata Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah, “bahwa ketika kegeniusan berhenti, ambisi tidak ada, dan keingintahuan berkurang, maka cahaya akan pudar, harapan sirna, dan orang-orang mati memerintah yang hidup.”

Dilarang Ngangkang di Lhokseumawe, Aceh, Indonesia

Dilarang Ngangkang di Lhokseumawe, Aceh, Indonesia

Kita tentu harus bersandar pada Allah untuk menghilangkan kesusahan ini, semoga umat yang bercirikan musyawarah ini, suatu hari memiliki pemerintahan yang didasarkan pada neraca keadilan yang tepat, dan dikontrol akhlak dalam semua aspek perilaku dan interaksi (bukan politik munafik). Semua ini adalah konsep-konsep  yang dibangun secara kuat (dari keluarga), memberikan bimbingan yang tepat tanpa harus dipaksa dengan prinsip-prinsip kesewenang-wenangan, dan (apalagi) kerakusan nafsu angkara yang (hanya) sekedar berkedok agama. Bukankah sebaik-baiknya pemegang pedang (kekuasaan) adalah mereka yang penyayang.

XXXXX

Katalog Sejarah Islam:

  1. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 20 Desember 2008;
  2. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  3. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  4. Menelusuri Sejarah Salib; 30 April 2010;
  5. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  6. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  7. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  8. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  9. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013:
  10. Misi Mencari Abu Nawas; 7 Maret 2016;
  11. Tragedi Barbastro; 3 April 2017;
  12. Ketika Ibnu Battuta Melawat Samudera Pasai; 16 April 2018;
  13. Kebijakan Politik Islam Oleh Snouck Hurgronje Sebagai Saran Kepada Pemerintah Hindia Belanda Untuk Menghancurkan Kekuatan Islam Di Indonesia; 25 Juni 2018;
  14. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  15. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

AL-MUWASYSYAH

Kau memilih pagi, tapi cintaku kuberikan kepada malam. Dan firasatku mengatakan bahwa tak lama lagi malam akan pergi untuk selamanya.

Kau memilih pagi, tapi cintaku kuberikan kepada malam. Dan firasatku mengatakan bahwa tak lama lagi malam akan pergi untuk selamanya.

AL-MUWASYSYAH

di malam-malam yang membungkus rahasia cinta dalam kegelapan

jika bukan karena matahari-matahari yang menyilaukan

bintang gelas anggur condong, lalu tenggelam,

dengan jalannya yang lurus dan jejaknya yang tepat

saat tidur membuat kita senang atau seperti sinar pagi serang kita

laiknya serangan penjaga malam, meteor-meteor membawa kita turun

atau barangkali mata-mata bunga bakung membekas pada kita

 

catatlah pada suatu hari aku bermimpi melihat firdaus di tepi pegunungan hijau

aku masuk ke dalam kota melalui salah satu dindingnya

aku tidak berteriak dari atas atau menjatuhkan diri agar tak lenyap di dalam kota selamanya

sebaliknya aku menyebut zat yang memiliki nama terbaik (al-asma al-husna),

dan berunding dengan penjaganya yang gagah berani agar membolehkanku berkeliling

mereka menerima dengan syarat bahwa setelah aku meninggalkan kota itu,

mereka akan membuatku melupakan yang telah kusaksikan di dalam sana

 

demikianlah yang terjadi

aku melihat kota itu penuh dengan keajaiban dan hal-hal mengagumkan, yang tak terhitung.

aku melihat keindahan dan keadilan yang tak terlintas oleh mata,

tak terdengar oleh telinga, dan terlintas di hati manusia

jangan bertanya kepadaku detil apa yang kusaksikan

semua terhapus dari ingatanku

yang tersisa hanyalah kenangan aromanya yang semerbak dan murni

 

Bait Al Hikmah, 14 Rajab 1434 H (bersamaan 23 Mei 2013)

 

Secara etimologis, Al-Muwasysyah merupakan derivasi dari kata al-wusyah yang berarti kalung dari permata dan mutiara yang masing-masing dirangkai dan dihubungkan sedemikian rupa serta dipakai oleh wanita.

Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

ALIANSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok, Pada Masa Puncak Kejayaan Organisasi.

ALIANSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Kesialan akan mendatangi orang-orang yang menunggunya. Cara mengatasinya adalah menemukan kebahagiaan di sela-sela sempit antara bencana

Everybody changing, but old friends still same

Everybody changing, but old friends still same

Belum jalan sampai pertengahan tahun, Assosiasi telah kehilangan sebahagian besar anggota di lepau nasi. Mau-tidak-mau itu semua adalah hukum alam. Tepat disaat ketika ABL sedang menanjak ke puncak. Kemasyuran organisasi ini berdampak adalah dampak dari beredarnya selebaran tentang mereka, itu tidak bisa dikatakan baik seluruhnya. Dan untuk itu yang menanggungnya adalah mereka tersisa.

Nicholas Saputra sebagai Penyair

Nicholas Saputra sebagai Penyair

Mereka tersisa mau-tidak-mau semakin mengkerucut. Yang pertama adalah Penyair, dalam setiap organisasi sasaran tembak adalah pemegang pena. Seorang seniman kerap memiliki pemikiran aneh, tampilan lembut. Kata kata dari dekade terdahulu, memiliki reputasi baik. Jangan tertipu oleh penampilannya, dia memiliki kelebihan (atau kekejaman) yang tak disadari dan ia sendiri tak (mau) menyadarinya. Banyak mereka telah salah menilai bebatuan disini dan itu menjerumuskan dalam pikiran picik dan secara tidak sadar terjerumus dalam malapetaka. Seorang Penyair ber-mantra lebih berbahaya daripada seribu penyihir. Pemilik pertahanan terkuat.

Tora Sudiro sebagai Tabib Pong

Tora Sudiro sebagai Tabib Pong

Kedua, adalah seorang terlahir sebagai pangeran. Menolak mengakuinya namun diam-diam menikmati privilege tersebut. Seorang yang penuh rahasia, seorang cerdik pandai yang (kerap) mengaku pandir, ahli tipu-tipu. Dia memiliki jiwa yang lembut, dan itu adalah hal yang baik, seperti semua kejahatan memiliki pijakan. Ia yang tampan namun berwajah tak bersahabat, tipe seseorang yang telah mengalami pergulatan pikiran berat dan telah mengambil keputusan. Penyerang terbaik dari Assosiasi.

Reza Rahardian sebagai Barbarossa

Reza Rahardian sebagai Barbarossa

Ketiga, sang masterplan. Perancang skenario Assosiasi, pemilik wajah kebaikan dan kejahatan sekaligus. Seseorang yang tak memiliki satu karakter menonjol pada satu bidang, kecuali berbicara namun mengetahui secara umum (general) hampir keseluruhan ilmu. Seseorang yang memiliki tawa menyebalkan dengan gelombang longitudinal. Jangan tertipu gaya berbicara, terkadang pervert terkadang patriarch, ini orang tidak ragu mengorbankan siapapun demi kepentingannya. Licin sekaligus filosofis. Kapten dari Assosiasi.

Idris Sardi sebagai Mas Jaim

Idris Sardi sebagai Mas Jaim

Keempat, Mas Jaim. Memiliki senyum menawan, tak terduga dan humor aneh. Adalah seseorang yang tidak terukur kedalaman pikiran. Tidak pernah ingin menjadi pejuang, tidak pernah memimpikan darah dan perkelahian brutal. Baginya apa yang dilakukan untuk memperoleh rezeki itu yang dianggap penting, dan juga (tentu) keluarga. Dan demi itu semua, Mas Jaim adalah seorang pejuang, dan telah berkali-kali berjuang.

Rizky Hanggono sebagai Professor Gahul

Rizky Hanggono sebagai Professor Gahul

Kelima, seseorang yang paling banyak menghirup ilmu pengetahuan, namun selalu menahan diri mengungkapkannya. Seorang petualang dari Barat yang telah pulang, membawa cerita-cerita mencengangkan dari negeri nun jauh disana, dibalik kata-kata serampangan yang ia letupkan ada sesuatu yang dalam antara kebenaran, keyakinan dan cita-cita. Ditambah lagi, merupakan anggota ABL yang paling cerewet. Dialah, sang Professor Gahul.

Urutan satu sampai tiga tersisa adalah yang paling berbahaya, semakin berbahaya disetiap saatnya ketika mereka bersama. Mungkin karena usia, atau mungkin karena jumlah semakin susut. Belakangan ini percakapan semakin padat berisi, secara sadar ataupun tidak mereka melakukan tindakan illegal, re-group ABL menjadi Aliansi, dan itu adalah tindakan berbahaya!

X

Matahari petang memetakan bayang-bayang panjang dan sempit pada perbukitan rendah dan jauh di Barat menerangi permukaan bumi sehingga cakrawala seperti bayangan emas bergelombang.

“Dunia tak akan pernah lagi sama!” Keluh Professor Gahul mendapati hanya ada Barbarossa, Mas Jaim, Penyair dan Tabib Pong berhadir di lepau nasi menyambut kepulangannya dari Barat. Padahal ada banyak kerinduan kepada seluruh anggota ABL. Akan tetapi itu tidak menghalanginya bercerita banyak kisah dalam perjalanan panjang selama lima bulan, yang mendengar hanya menatap kagum cerita Professor Gahul, seperti ingin meninggalkan Bandar dan segera mengarungi dunia dibawah langit.

Kemudian Mister Big hadir selesai menyelesaikan menghitung karung beras dari gudang kerajaan, matanya mendelik kepada Barbarossa yang kabur dari tugas. Ia duduk, ia sangat letih telah bekerja sepanjang hari. Tak lama kemudian Tuan Takur juga datang, kali ini dengan wajah segar. Tuan Takur adalah yang paling dekat dengan Professor Gahul terus bertanya tanpa henti tentang petualangan Professor Gahul.

Sayang pertemuan itu tidak lama, ketika keremangan senja kian menggelap Mister Big dan Tuan Takur mohon diri, mereka telah (dan baru) menikah, tak baik pagi pengantin baru di Bandar menghabiskan Maghrib di luar rumah. Tentu saja beberapa anggota ABL terutama Grup Aliansi merasa kecewa,  ada ejekan disini.

Mendapat serangan bertubi, sebelum pergi Mister Big sempat melengguh, “Aliansi memiliki mulut yang tajam dan lancip ya.” Ia mendelik kepada Barbarossa, Penyair dan Tabib Pong. Kritik langsung pada ketidaknyamanan yang ia alami selama ini. Tuan Takur sendiri yang tak paham masalah berlalu riang.

Selepas Maghrib, Professor Gahul dan Mas Jaim juga ingin menyelesaikan beberapa urusan. Akhirnya yang tersisa adalah aliansi, Barbarossa, Penyair dan Tabib Pong. Disinilah inti cerita di mulai.

XX

“Tidakkah kalian merasa bahwa kita terlalu kejam terhadap mereka?” Tanya Tabib Pong. “Dan ini gila!”

“Apanya yang kejam?” Balas Barbarossa.

“Dasar tidak berperasaan! Tidakkah kamu merasa segala ejekan kita kepada anggota ABL yang telah menikah itu menyakitkan hati. Setiap bertemu Amish Khan, Tuan Takur dan Mister Big kita selalu mengejek. Syukur Laksamana Chen semakin jarang bergabung, kalau tidak dia akan kena juga.” Tabib Pong terlepas dari segala kelakuan adalah yang memiliki hati terlembut diantara kedua lawan bicara di depan.

Penyair tak ingin terlalu disalahkan sediri tadi hanya menyimak, kemudian bersuara. “mungkin kita merindukan mereka.”

“Memang!” Kata Tabib Pong. “Mungkin. Mister Big contohnya. Setelah menikah dia sudah lebih matang, atau semacamnya. Dia bisa lebih ramah, tapi juga mengagetkan, lebih bergembira, tapi juga lebih serius daripada dulu. Dia telah berubah, tapi kita belum punya kesempatan banyak untuk melihatnya.”

Agak terkejut dengan apa yang dikeluarkan oleh teman-temannya. “Well, kalau ada perubahan dalam diri mereka, perubahan itu semakin kentara karena kita jarang berbual bersama di lepau nasi seperti dahulu. Itu saja.” Sebuah semi-bantahan dari Barbarossa.

Mereka hening sementara dunia menggelinding berlalu di bawah kaki dengan hembusan angin semilir.

Mencoba mengusir gusar, Penyair berseloroh. “Inilah kita,  orang-orang akan berkata, ayo dengarkan kisah Barbarossa dan Assosiasi Budjang Lapok. Orang lainnya berkata, ia itu adalah salah satu dongeng favoritku. Barbarossa gagah berani, bukan begitu? Dibalas lagi oleh orang pertama bicara tadi, dia paling termasyur, dan itu artinya besar sekali.” Penyair berkata kemudian tertawa terbahak.

“Itu berlebihan,” Tabib Pong tertawa, tawa jernih panjang dari dalam hatinya. Suara semacam itu belum pernah terdengar lagi sejak lama. Seluruh lepau nasi sekonyong-konyong memperhatikan mereka bertiga.

Barbarossa menghiraukan seluruh pandangan, ia juga tertawa dan menambahkan. “Wah Penyair.” Katanya, “mendengar omonganmu entah kenapa membuatku gembira, seolah cerita itu sudah ditulis. Tapi kau melupakan salah satu tokoh utama : Penyair yang berhati teguh. Orang-orang akan berkata, aku ingin mendengarkan lebih banyak tentang Penyair. Mengapa mereka tidak memuat lebih banyak tentang omongannya yang sedikit kuno? Itu justru yang kusukai membuatku tertawa. Dan ABL tak mungkin lengkap tanpa dirinya.

“Nah, Barbarossa,” Kata Tabib Pong, “seharusnya kau tidak membalas kelakar Penyair, situasi kita serius!”

“Begitu juga aku melihatnya Tabib Pong,” Kata Barbarossa, “dan memang begitu. Kita bergerak terlalu lamban. Kau, aku dan Penyair masih terjebak di salah satu bagian terburuk di dalam cerita ini, dan sangat mungkin seseorang akan berkata pada titik ini, hentikan ceritanya. Aku tidak ingin membaca atau mendengarnya lagi.”

“Mungkin,” Kata Penyair, “tapi bukan beta yang akan bicara begitu. Peristiwa yang sudah berlalu dan dijadikan bagian dari cerita memang berbeda.”

Wajah kelakar hilang pada mereka bertiga, “kita mengenal teman-teman kita dengan cukup baik.” Seloroh Barbarossa.

“Cukup baik, sehingga kita merindukan mereka.” Tambah Penyair.

“Jika digabungkan kekuatan kita bersepuluh, tidak ada yang mampu mengalahkan kita, bahkan Warlords sekalipun.” Tabib Pong tersenyum sendiri setelah berbicara kemudian melanjutkan, “Kadang-kadang aku berharap tidak pernah dipertemukan dengan kalian, aku mengalami banyak hal yang belum pernah aku rasakan, aku banyak tertawa dan bertengkar dengan kalian. Dan keparatnya, aku merasa senang sekali. Padahal apa yang aku alami bersama kalian biasa-biasa saja, tapi aku tidak bisa menemukan kelompok yang lebih baik dibandingkan kalian. Dan lepau nasi sialan ini! Aku benci jika harus memasukinya tanpa kalian! Seandainya aku tidak pernah bertemu kalian semua, pasti hidupku lebih baik.” Tabib Pong berkata seolah-olah membenci yang ia katakan.

“Kalau Tuan Tabib mau mendengarkan saran beta,” kata Penyair setengah berbisik, “Tuan Tabib sudah saatnya mencari pendamping yang layak.”

“Bagaimana bisa! Sedang aku harus melanjutkan pendidikan Tabib yang lebih tinggi dahulu, dan itu makan waktu! Kamu sendiri Penyair?” Tabib Pong balik bertanya.

“Perjalanan beta menuju kearah itu masih panjang, masih ada cita-cita tertinggal.” Jawab Penyair lugas. “Bagaimana dengan dirimu?” Ia melirik Barbarossa. “Apakah jalanan pernah berujung bagimu?”

Tawa hambar terlontar dari sela bibir Barbarossa, “Aku melihatnya datang, tapi tidak dalam waktu dekat.” Ia memadamkan pipa, “Tabib Pong jangan resah, kau bisa mempercayai kami untuk mendampingi semua kesulitan sampai akhir yang pahit. Dan bisa mempercayai kami untuk menyimpan rahasia manapun, lebih rapat daripada engkau menyimpannya. Tapi kau tak bisa menyuruh kami membiarkanmu menghadapi masalahmu sendirian, dan pergi tanpa kabar. Kami adalah sahabat-sahabatmu. Bagaimanapun, begitulah. Kami sudah tahu sebagian besar dari apa yang kau khawatirkan. Kami juga sangat takut, tapi kami akan mendampingimu atau mengikutimu seperti anjing pemburu.”

“Hati-hatilah memilih pendamping! Dan hati-hatilah dengan ucapanmu, meski pada sahabat-sahabat terdekat! Musuh memiliki banyak mata-mata dan banyak cara menguping.” Penyair membenarkan sekaligus membantah pernyataan Barbarossa.

“Kalian berdua adalah bajingan penipu!” Kata Tabib Pong pada yang lain. “Tapi terpujilah kalian!” Ia bangkit dan mengibaskan tangan, memasang wajah gusar kemudian tertawa.

XXX

Tiap orang sebenarnya sadar, meski sedang bermimpi karena mimpi mereka bukan sekedar bayangan semu dan ketika terjaga mereka tak akan merasakan kesedihan karena tak ada lagi yang mereka ingat. Jadi mimpi itu bukanlah sesuatu yang kosong

XXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 30 Comments

BUSUK

Syair bukanlah hanya kata-kata akan tapi kedisiplinan hidup

Syair bukanlah hanya kata-kata akan tapi kedisiplinan hidup

BUSUK

Seorang busuk dari sekumpulan terbusuk tak akan pernah bicara tentang kemurnian ide, dimana ia bagaikan emas. Seorang busuk hanyalah pencuri yang hati-hati dan mengenakan topeng senyuman penuh kasih. Dan jika memang kata-kataku manis percayalah ini semua adalah topeng angkara yang kukenakan.

Apa yang kuberikan tak akan pernah menjadi kenyataan semua bualan semata yang kan membuatmu terpedaya, dan percayalah jika kau masih bisa untuk percaya bahwa ku ahli padanya. Jika seolah kebaikan dalam kata-kataku maka dibaliknya kebusukan semata.

Jika engkau mengenalku sebaik-baiknya maka engkau menemukan seseorang hina yang ahli berkata-kata, sayangnya tak ada orang di dunia yang mengenalku sebaik diriku. Dan amanlahku mengacaukan segalanya, meniupkan segala tipu daya kepada siapa saja.

Dan bila kuberbicara bukan karena kerendahan hati melainkan kebanggaan amat sangat pada diriku sendiri, akan nafas khayali yang kutiupkan pada mata dan telingamu. Itu akan membutakan matamu dan mengacuhkan kata-kataku, yakin akan kelicikanku. Dan ku sungguh angkuh akan kelicinanku.

Jika engkau bersikeras membantah kata-kataku ini maka terpuaskanlah hasratku. Dengannya jerat yang terpasang berdayaguna. Dan bila engkau tak paham maksud kata-kataku ini maka tertawalahku akan keahlianku memperdaya. Aku!!! Adalah yang terbusuk diantara yang paling busuk.

XXXXXXXXXXXXX

Beberapa Artikel Lain:

  1. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
  2. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  3. Batas; 22 Februari 2010;
  4. Manusia; 18 Maret 2010;
  5. Teori Kemungkinan; 14 Februari 2011;
  6. Generasi Yang Hilang; 17 April 2011;
  7. Sejarah Syahdu Sebuah Negeri; 16 Agustus 2011;
  8. Filosofi Gob; 10 Oktober 2011;
  9. Makna Puisi Yang Hilang; 5 Januari 2011
  10. Heil Ceasar; 15 Maret 2012;
  11. Manifesto Politik; 27 Maret 2012;
  12. Ketika Sekolah Usai; 6 Mei 2012;
  13. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  14. Gugatan Kami; 23 September 2012;
  15. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

CONTOH PUISI CINTA BAHASA BELANDA (MIJN HART BETEKENT VOOR JOU)

Dag en nacht stel je altijd voor
Stel je je gezicht voor

MIJN HART BETEKENT VOOR JOU

ik wil vragen
Omdat bloemen een lust voor het oog zijn
Beantwoord mijn vraag a.u.b.
Heeft de bloem een ​​eigenaar?

Omdat liefde in het hart verscheen
Omdat de waarheid niet altijd opduikt
Zodat de bloemen niet vervagen
Mag ik om een ​​takje vragen?

Wat maakt mijn hart zich zorgen
Je zult, oh droom
Ik zie een charmant gezicht
Zo word ik gevangen gehouden

Als u akkoord gaat
Laten we naar het hoofd stijgen
Om al het verlangen te genezen
Dag en nacht kunnen samen zijn

Ik zie een hemel vol sterren
Het licht is ver weg
Dag en nacht stel je altijd voor
Stel je je gezicht voor

Glimlach schat
Glimlach diamant
Om dit hart gelukkig te houden
Als ik je gezicht zie

Lokseumave, 29 maart 2007

vertaald uit poëzie “Maksud Hatiku Padamu”

Posted in Poetry | Tagged , , , | 38 Comments