Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Ia yang meminta musuh menangis dan menghiba, jatuh ketika mengetahui sang terpercaya Brutus ikut serta. The 1798 painting The Assassination of Julius Caesar is by Vincenzo Camuccini

TRAGEDI JULIUS CEASAR

Sering ia yang dicinta dengan terlalu, sering salah langkah. Sering ia yang dicinta dengan terlalu, tak paham akan kebusukan dunia sekeliling sehingga jatuh mempercayai orang yang salah. Maka, berhati-hatilah berjalan di dunia yang penuh onak dan darah.

Dan ketika ia menyeberangi sungai Rubicon, disebuah zaman yang gemilang, namun dipikul oleh orang-orang kerdil. Bahwa masa itu politik tak lagi mengesankan, penuh intrik dan kepentingan sesaat.

Ia melawan tradisi, membantah pertanda takdir. Dialah Julius, penakluk Gaul. Jagoan bangsa Roma, penakluk barbar. Maka ia, seorang Tiran yang dicinta sekaligus aib bagi segala musuh.

Shakespiere mengabadikan adegan itu, pembunuhan oleh orang-orang terhormat. Senat yang mulia. Dua puluh tiga tusukan, diakhiri oleh Brutus. Sang terpercaya, sejarah kerap menampikan ironi ketika yang terpercaya justru berkhianat. Bahkan sejarah butuh drama.

Dalam hidup yang tak selamanya putih, tak selamanya hitam. Julius dari Ceasar adalah seorang pemimpin yang tak terkalahkan dalam perang, yakin dan percaya akan kekuatan diri. 44 SM dibunuh di kourum senat.

Terkadang ia pemaaf, terkadang ia kejam. Zaman, itu adalah zaman pilih-pilih. Mungkin bagi mereka pencinta demokrasi, wajahnya adalah seorang Tiran. Mungkin bagi pencinta kejayaan, wajahnya adalah seorang bapak. Sebuah karakter multi-kompleks. Ia yang meminta musuh menangis dan menghiba, jatuh ketika mengetahui sang terpercaya Brutus ikut serta. Dimana tiada lagi harapan, ketika yang terpercaya “juga” berkhianat. Tak termaafkan.

Tragedi Julius. Adalah  cerita tentang pengkhianatan. Bahwa siapapun ia, memiliki batas. Siapkah kita?

XXX

Advertisements
Advertisements

1 thought on “TRAGEDI JULIUS CEASAR

Leave a Reply

%d bloggers like this: