PERJALANAN

Hidup adalah perjalanan sejati, dan aku adalah orang yang mudah tersesat.

PERJALANAN

Hidup adalah perjalanan sejati, dan aku adalah orang yang mudah tersesat. Kuakui, kerap kali aku harus mengulangi jalan sama berulang kali. Pengalaman itu tidak menyenangkan untuk dituturkan, menjalani jalan neraka berulang kali, sendirian. Namun, sungguh hidup harus terus berjalan dalam setiap tarikan nafas, bahkan di wilayah yang lindap dan basah, penuh tikus dan tikungan. Reptil busuk, dan rawa payau. Mungkin, tak perlu seseorang luar biasa pemberani. Ketika seseorang diuji oleh berbagai kejadian, petualangan, penyesalan bahkan kejatuhan. Itu sudah sewajarnya dalam hidup.

Monsieur d'Artagnan

Monsieur d’Artagnan

Sebuah cerita pengembangan bebas dari Trio Musketri Karya Alexandre Dumas

Paris, 1628 M. Kegelapan malam menyelebunginya. Diatas, bintang-bintang yang rapat terus memancarkan cahaya mereka yang bergemerlapan. Di bawah tak ada makhluk yang bergerak, dan d’Artagnan tidak bisa mendengar apa-apa kecuali angin lembut mengeser bilah-bilah rumput.

D’Artagnan berjalan perlahan, anak muda yang gagah. Ia memakai jaket wol pendek berwarna biru yang lusuh dan sudah menipis, celana berkuda selutut berwarna cokelat serta sepatu bot tinggi senada. Ia mengenakan topi baret merah khas Gascon yang berhiaskan bulu-bulu meriah. Sebagai salah satu musketri, pengawal Raja Perancis, cara berjalannya angkuh dan menantang.

“Sampai kapan kamu akan terus berlari?” Sebuah suara menyeruak dari pinggir hutan, suara yang amat dikenal, wajah d’Artagnan memucat. Clarice de Winter muncul dari balik pepohonan, meski menggunakan jubah hitam panjang untuk menyembunyikan diri namun ia tidak mungkin salah mengenali suara perempuan itu. Suara dingin seperti kucing, dan semua kucing berwarna abu-abu pada malam hari. Mereka ahli menyembunyikan diri, karena itu d’Artagnan sangat membenci kucing.

“Pertanyaan anda sungguh menusuk hati saya, Lady de Winter. Anda tahu bahwa sejak pertama kali kita bertemu, saya adalah seorang gentleman. A gentlemant will walk, not run.” Langit malam tak mampu menutupi wajah kebohongan d’Artagnan, kaki-kakinya sebenarnya siap melarikan diri. Clarice de Winter alias Lady Milady adalah seorang dimana d’Artagnan lebih memilih bertempur melawan seratus orang daripada berhadapan dengannya. Lady Milady adalah seorang penuh konspirasi dan selalu berhasil menjebak d’Artagnan.

Lady Milady membuka kerudung, ia terlihat begitu pucat dan matanya lelah, mungkin karena menangis atau kurang tidur. Milady menebarkan pesonanya untuk menyenangkan pemuda itu dan memikatnya dengan kepintarannya. Api amarah yang ada di dalam dirinya menambah kilatan di mata dan semburat pipinya. D’Artagnan merasa dirinya jatuh ke dalam jampi-jampinya. Lalu Milady tersenyum dan pemuda itu tahu ia akan terkena kutukan senyuman itu. Lady Milady mulai merasa senang karena telah mempermainkannya.

Dari hal-hal yang remeh temeh, pembicaraan beralih ke topik serius. Milady bertanya kepada d’Artagnan apakah ia sedang jatuh cinta. D’Artagnan menghela nafas panjang. “Ya.”

Milady tersenyum janggal.

“Jadi, benarkah anda telah jatuh cinta kepada wanita selain saya?”

“Perlukah saya menjawabnya? Anda pasti sudah mengetahuinya.”

“Ya,” jawabnya. “Tapi seperti yang aku tahu, anda memiliki hati yang teguh sulit ditaklukkan.”

“Itu semua terjadi, berkat anda Lady.”

“Tidak adakah sedikit pemaafaan untukku Monsieur d’Artagnan. Bukan demi apa-apa, hanya untuk masa lalu.”

“Oh para dewa,” pikir d’Artagnan. Apa yang menyebabkan makhluk yang tidak bisa ditebak ini datang kepadaku, ia butuh waktu memikirkan persoalan itu dan jika mungkin, menebak isi benak Milady. Ia selalu berusaha untuk itu, dan selalu saja gagal.

“Apa maksud anda Lady menemui saya?” D’Artagnan memutuskan bertanya langsung.

“Aku hanya merindukan seseorang yang tak pernah bisa aku sentuh, kamu d’Artagnan.”

XX

D’Artagnan langsung teringat adegan di sebuah teras di Saint-Germain. Orang itu, Comte de Wardes, saingannya memperebutkan hati Lady Milady, dulu. Pesta dansa Madame de Guise, saat itu d’Artagnan sedang mencari semak-semak untuk pipis ketika melihat hal itu. Di taman rumah Madame de Guise.

“Ini aku, de Wardes!” Suara laki-laki dengan rendah.

“Ya?” ujar Milady, suaranya bergetar karena suka cita. “Mengapa tidak masuk?”

Lalu ia berseru, “Comte, comte kau tahu aku menunggumu!”

D’Artagnan menunggu lama, kemudian menyelinap kemudian mengintip dari lubang kunci lemari. Ia melihat, Milady mengerang dengan suaranya yang paling halus, mengengam tangan de Wardes dengan erat.

“Oh, Comte,” ujarnya, “tatapan penuh cinta dan segala hal yang indah yang kau katakan setiap kali bertemu membuatku sungguh bahagia! Aku pun mencintaimu. Buktikanlah cintamu kepadaku dan akan kuberikan cincin ini supaya tidak melupakanku.”

Tidak ada luka yang lebih dalam bagi seorang laki-laki selain mendengarkan kekasihnya menyatakan perasaan kepada pria lain. D’Artagnan tanpa sangka ia merasa tertekan, ia diliputi cemburu dan menderita. Ia menangis di kamar sebelah.

Lady Milady melepaskan cincin berlian dan batu safir dan memasangnya di jari Comte De Wardes, ia langsung mengembalikannya pada perempuan itu, tapi Milady mencegahnya.

“Jangan. Simpanlah sebagai tanda cintaku.” Kata Milady.

Perlu waktu untuk d’Artagnan melepaskan diri dari konflik batinnya, sehingga ia memutuskan segera pergi dari tempat itu.

XXX

D’Artagnan pagi-pagi sekali esok harinya sudah berada di rumah Athos, ia telah terperosok ke dalam sebuah intrik fantastik sampai harus meminta nasihat sahabat sekaligus musketri pertama Kerajaan Perancis itu. Ia menceritakan semuanya kepada Athos.

Athos mengerutkan dahi beberapa kali mendengar ceritanya.

Kedaannya sungguh sulit, sungguh sulit.”

“Kau selalu mengatakan hal itu, Athos,” ujar d’artagnan. “Bagaimana kau bisa berpendapat seperti itu? Kau tidak pernah jatuh cinta!”

Mata Athos yang sayu bersinar beberapa saat. Tapi hanya sesaat. Matanya kemudian berubah menjadi datar dan tidak bercahaya lagi.

“Kau benar,” desahnya. “Aku tidak pernah jatuh cinta.”

“Orang berhati batu macam kau tidak berhak berlaku keras pada orang-orang bodoh berhati lembut seperti kami,” ujar d’Artagnan.

“Hati yang lembut, hati yang patah,” gumam Athos

“Apa yang kau katakan?”

“Menurutku cinta adalah sebuah perjudian dan hadiahnya adalah kematian. Kau beruntung kalah, percayalah. Jika kau pintar, kau akan berusaha untuk kalah.”

“Dan aku pikir ia mencintaiku!”

“Kau pikir!”

“Aku tahu ia mencintaiku!”

“Begitu mudah percaya! Setiap lelaki mengira kekasihnya mencintainya dan setiap kekasih lelaki itu tidak setia padanya.” Athos memberikan perumpamaan yang membingungkan.

“Kamu seperti orang yang sudah berpengalaman akan cinta?”

“Tidak,” jawab Athos setelah diam beberapa saat. “Aku tidak pernah memilikinya. Ayo, mari kita minum.”

“Ayo, Socrates,” Kata d’Artagnan. “Ajari aku falsafahmu. Biarkan aku minum dari air pengetahuan. Aku butuh pengetahuan dan penghiburan.”

“Penghiburan untuk apa?”

“Kesedihanku.”

“Kesedihanmu tak ada artinya sama sekali, yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari perempuan lain.” jawab Athos.

XXXX

Siangnya, d’Artagnan telah bertekad untuk bertemu Lady de Winter apa pun yang harus terjadi dan meminta penjelasan atas semua peristiwa yang telah terjadi. Jadi ia pun pergi ke Louvre, berharap seragam pengawalnya dapat membukakan jalan. Ia berniat menemui Milady langsung.

Ketika tiba di rumah Lady de Winter, pahlawan kita menahan diri untuk tidak menimbulkan kecurigaan dan mulai menghentakkan kakinya ke lantai sebagai tanda protes. Para pelayan yang bertugas di ruang tunggu langsung berlari dan mengumumkan kedatangannya padahal ia belum sempat bertanya apakah majikannya ada dirumah.

“Persilakan dia masuk,” ujar Milady dengan tegas dan keras sampai d’Artagnan dapat mendengar suaranya dari ruang tamu. “Aku tidak mau menerima tamu lain,” tambahnya. “Kau mengerti? Tidak menerima tamu.”

Pelayan itu keluar dan mendampingi pemuda itu masuk. Saat d’Artagnan memasuki ruangan kerja Milady. Ia langsung dan berkata terus, tanpa sempat menutup pintu.

“Hari ini, de Wardes memamerkan sebuah cincin yang katanya hadiah dari anda.”

Milady pura-pura terkejut.

“Beberapa orang mengatakan anda memiliki hubungan khusus dengannya. Bahkan semalam anda terlihat berduaan dengannya.” Anak muda itu kali ini berbicara serius.

Milady terhenyak dan mundur.

“Dari mana anda tahu?” Tanyanya sambil memandang d’Artagnan seolah bisa membaca pikirannya.

D’Artagnan menyadari ia telah hanyut dalam kecemburuan sehingga membuat kesalahan.

“Katakan dari mana anda tahu?” Milady bersikeras.

“Bagaimana saya tahu?”

“Ya.”

“Tadi pagi seorang tamu pesta dansa Madame de Guise memberitahu kepada saya.”

“Jangan bicara lagi tentang hal-hal yang mustahil, anda terlalu obsesif Monsieur d’Artagnan. Terlalu percaya pada para penggosip, ingat kita tidak bisa membangun sebuah hubungan jika tidak saling percaya.”

Andai d’Artagnan tidak melihat sendiri kejadian tersebut, maka akan percaya dengan Milady. Ia memandang ke dalam mata Lady de Winter, adakah pandangan penuh cinta seperti yang ia tujukan kepada Comte de Wardes, meski Milady tersenyum mencoba meyakinkan, ia tidak melihat bahkan setengah dari semalam. Tiba-tiba d’Artagnan merasa kalah, ia bagaikan seorang musketri yang kalah perang dengan harga diri tercabik-cabik.

“Aku melihatnya sendiri.”

“Bangsat! Penguntit!”

Kata-kata Milady mempengaruhi d’Artagnan begitu cepat.

“Untuk apa kamu melakukan ini Lady?” Di dasar hati d’Artagnan masih mengharapkan pembelaan dari Clarice de Winter, ia (masih) ingin berpura-pura bahwa dunia ini indah.

Milady memanfaatkan kesempatan baik itu. “Anda mengatakan bahwa anda mencintai saya, Monsieur d’Artagnan,” lanjut Milady. “Apa yang telah anda lakukan untuk membuktikannya?”

“Apa saja!” seru d’Artagnan.

Milady tersenyum penuh kemenangan, “saya tidak merasa anda menunjukkan rasa cinta anda dengan benar Monsieur, menyentuhku pun saja tidak.”

“Aku memberimu kata-kata yang baik.”

“Sejujurnya d’Artagnan kamu itu membosankan! Hanya menunggu waktu sebelum kamu aku tendang.”

Keburukan apa yang telah ia dengar? Makhluk yang ia puja, yang ia kira baik hati, ternyata menyumpahinya dengan suara kasar yang tak ia kenali, dan marah karena kegagalannya menunjukkan ketidaksantunan. Kebenarannya adalah, malaikat itu seorang iblis, dan seorang anak tanpa dosa itu adalah seorang pencuri.

D’Artagnan berbalik, ia berjalan gontai, tanpa semangat dan hampir jatuh terpeleset pada sebuah undakan, di belakang Milady tertawa keras penuh kemenangan.

“Teruslah berlari d’Artagnan! Disaat kamu merasa tidak nyaman dan terancam!”

XXXXX

Paris, 1628 M. Sinar rembulan telah keluar ketika d’Artagnan terdiam mengingat rentetan peristiwa di masa lalu, udara lembab berangsur-angsur menghangat. Sambil menunduk di bawah cemara-cemara yang tumbuh di sana-sini, d’Artagnan menegadah, menatap ke sela jarum, melihat gugus bintang pertama yang menghiasi langit bagai beluduru.

Clarice de Winter

Clarice de Winter

Kemudian ia memandang Lady Milady lekat-lekat, rambutnya yang bergelombang seperti riak-riak samudera, bibirnya seperti apel yang ranum, matanya laksana biji coklat pekat dan pipinya mulus seperti porselen, sayang orang secantik itu harus memiliki kejahatan sejahat itu. D’Artagnan memiliki kelemahan terhadap kecantikan, karena itu dia selalu menahan diri dalam melemparkan pandangan. Ia merasa memiliki jiwa yang murni sampai Milady merusaknya, pernah ia jatuh dalam perasaan terdalam, terhipnotis sehingga menyerahkan jiwa dan raga untuk perempuan itu.

“Untuk apa mengingat masa lalu Lady?” D’Artagnan mengingat beberapa peristiwa di masa lalu, tanpa mengingat lagi perasaan apa yang ia rasakan, tiba-tiba ia merasa kuat untuk menghadapi Lady Milady.

“Untuk sebuah nostagia.” Clarice de Winter tersenyum menggoda, ia berpikir masih berhadapan dengan orang yang sama dengan beberapa tahun lalu. “Tanpa resiko tentunya.” Inilah alasan mengapa para pencinta menjadi pencemburu? Nostagia akan mudah memicu kenangan cinta terdalam sekaligus sakit tak tertanggungkan, yang sejatinya tidak akan pernah di bagi kepada siapapun juga.

“Aku tidak mengingat perasaan apa-apamu Lady.”

“Apa ini semua gara-gara Madame Bonacieux!”

D’Artagnan tersenyum, “mungkin karena dia, tapi bukankah anda sudah memiliki Comte De Wardes, untuk apa merisaukan kebahagiaan saya Lady?”

“Karena aku tidak tahan melihat anda bahagia Monsieur d’Artagnan!”

Sungguh menderita orang yang kebahagiaannya terfokus kepada orang lain, tidak pada dasar dirinya. D’Artagnan merasa kasihan, betapapun ia pernah membenci Lady Milady.

“Aku kalah,” kata Milady. “Andai saja dulu, andai dulu anda lebih gigih berjuang. Mungkin hari ini akan berbeda.” Tambah Milady.

“Aku tidak hidup dalam penyesalan Lady. Aku memaafkanmu,” ujar d’Artagnan, “atas kesalahan yang telah kau lakukan padaku, karena telah membuatku malu, karena merusak cintaku kepadamu, dan bahkan aku telah memaafkan atas kedengkianmu padaku sekarang.”

D’Artagnan melihatnya dan tersenyum sedih. Diam-diam ia berharap tidak bertemu lagi dengan perempuan ini lagi. Walaupun mengaku kalah, Lady Milady sangat pintar memancing perasaan bersalah di dalam hati d’Artagnan. Dan karena Clarice de Winter merupakan salah satu dari sedikit orang di dunia yang mengetahui bahwa d’Artagnan memiliki hati yang lembut, sesuatu yang disembunyikan terlalu dalam dibalik penampilannya yang keras dan brutal.

Dan pemuda Gascon tersebut, d’Artagnan berlari dalam keheningan malam.

XXXXXX

Kenangan bisa menjadi surga yang tak ingin kita tinggalkan, tetapi ia juga mungkin neraka yang tak mampu kita hindari

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 54 Comments

UNTUKKU

Aku yakin, kelak tangan-tangan gaib memancarkan cahaya kemilau, menyingkap selimut malam, menembus kegelapan yang mengantung serupa kabut. Di bibirnya terkembang senyum ramah, ramah menyapa semesta.

Aku yakin, kelak tangan-tangan gaib memancarkan cahaya kemilau, menyingkap selimut malam, menembus kegelapan yang mengantung serupa kabut. Di bibirnya terkembang senyum ramah, ramah menyapa semesta.

UNTUKKU

Adakah kekuatan lain yang mampu menandingi kekuatan cinta? Adakah sentuhan lain yang lebih lembut dari elusan jari-jemari tulus yang melahirkan mukjizat dari balik sayap-sayapnya yang terkembang? Serupa bunga-bunga mekar di tengah padang tandus. Seperti air bening jernih yang tak hentinya mengalir dari dalam pecahan batu. Itulah mukjizat yang menyelamatkan hidup.

Sebagaimana hasrat bermain di dalam pikiran, mempermainkan jiwa manusia yang lemah dan lesu? Sementara hidup serupa bayang-bayang mimpi yang kabur dan tiada berketentuan. Kemana diri hendak menemu kesejatian nurani? Ke mana diri hendak meraih hakekat kebenaran? Jiwa yang lungkrah telungkup pasrah, menjadi bulan-bulanan tangan sang takdir yang menghumbalangkan segala harap di hati.

Layaknya jiwa yang rindu dendam dapat menemukan kembali cahaya dalam dirinya. Adakah kebenaran akan hadir di dalam jiwa yang merindukan kehangatan cinta sang api suci? Kemanakah diri mesti mencari, sementara kerinduan ini tiada bertepi?

Aku yang pernah merasakan, berpikir bahwa dunia ini jahat dan kejam, demikian penuh dengan rangkaian tipu muslihat licik, yang tersembunyi di balik kilau mata seorang penyihir yang tak mengenal cinta. Akhirnya memahami kembali arti benih bunga-bunga yang tumbuh di dalam hati kanak-kanak? Apakah arti segenap tembang keindahan yang terbit dari bibir mereka, yang terdengar begitu merdu, lugu dan polos? Nyanyian itu serupa deru suara hujan, gemericik aliran sungai, dan hembusan angin yang menyentuh ranting-ranting pepohonan. Begitulah, ucapan kanak-kanak mengekal dalam ingatan

Aku menyadari kepandiranku, seperti apa dilihat oleh seorang buta ketika matanya telah dicelikkan. Sebagaimana perasaan orang buta saat menantap cahaya untuk pertama kali. Dan serupa itukah makna kerinduan di dalam hati seorang pencinta, saat bertemu dengan kekasih hati, setelah melewati sebuah penantian yang begitu melelahkan. Siapakah yang sanggup menafsirkan kegalauan dalam hati seorang kekasih, bila ia tidak pernah mengalami sendiri kebesaran arti cinta yang tulus dan murni itu?

Begitu banyak nama, beratus-ratus, bahkan beribu-ribu nama dapat aku ingat di dalam benak.  Aku tak mampu menepiskan namamu dari dalam hati. Namamu, serupa kelopak seroja yang terkembang ditengah kolam. Keelokan bunga itu begitu melambungkan seluruh hasrat dalam jiwaku untuk meraih dan memiliki.

Serupa buah-buah delima yang matang di pucuk ranting-ranting memberat, berkilau menggoda, memukau hati yang rindu dendam terpanggang oleh api cinta. Jiwa-jiwa kehausan merindukan kesegaran oase untuk melepaskan segenap dahaga yang menjerat tenggorokan. Dan buah-buah ranum yang merah merekah itu telah menerbitkan kekuatan hasrat di dalam diri untuk segera memetik dan memilikinya.

Adakah duka yang lebih perih dari buah-buah zaitun yang rontok sebelum musimnya? Adakah luka yang lebih nestapa daripada cinta sang putik yang tak menemukan benang sari tambatan hatinya? Aku merasa sesak oleh seribu beban yang seolah tak sanggup tertanggungkan.

Aku yakin, kelak tangan-tangan gaib memancarkan cahaya kemilau, menyingkap selimut malam, menembus kegelapan yang mengantung serupa kabut. Di bibirnya terkembang senyum ramah, ramah menyapa semesta.

Itu semua karena engkau sangat berarti, untukku.

Bait Al Hikmah, suatu pagi di 13 Muharram 1435 H (Bertepatan 17 November 2013)

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

PENYAKIT PEMBAWA KEMATIAN

Manusia tidak punya pengalaman menghadapi masa depan, terkait dengan keberhasilan dan kegagalan sekalipun, ia hanya bisa melihat kejadian apa yang terjadi dibelakang. Itu menjengkelkan.

PENYAKIT PEMBAWA KEMATIAN

Kehidupan manusia di dunia hanyalah sementara, ibarat perjalanan musafir saat ini kita hanya berteduh sejenak di bawah pohon rindang. Meskipun sejenak, persinggahan sementara ini menjadi kunci bagi perjalanan selanjutnya. Menentukan kearah surga atau neraka kelak, ditengah beban yang berat ini manusia harus menghindari penyakit mematikan yang bernama putus asa. Setiap manusia pasti akan mengalami penyakit putus asa ini. Untuk itu, manusia harus mengobati dirinya sendiri.

Manusia itu, tidak bisa tidak, memikirkan berbagai hubungan yang ada kaitan dengan dirinya. Orang tua, kekasih, teman, pekerjaan, masa depan dan lain-lain. Itulah yang disebut diri! Dan itu terkait dengan diri. Ada kebimbangan dalam mengatur setiap hubungan-hubungan yang terkait dalam kehidupan tersebut. Kebingungan untuk melakukan ini dan itu, kalau ini dan itu. Kebimbangan itu membuat manusia ragu, sedang waktu terus maju ke depan.

Manusia tidak punya pengalaman menghadapi masa depan, terkait dengan keberhasilan dan kegagalan sekalipun, ia hanya bisa melihat kejadian apa yang terjadi dibelakang. Itu menjengkelkan.

Bagi seorang pemikir (setiap manusia adalah pemikir), banyaknya melalui kesulitan akan membuat mengerti ditambah lagi dengan melihat berbagai kehidupan manusia. Dapat kita bagi manusia memiliki dua jenis kehidupan.

  1. Cara hidup yang sensitif, cara hidup yang hanya mementingkan perasaan, ingin memenuhi hidupnya dengan rangsangan dari luar, biasanya hidup yang menyedihkan. Atau yang penting kesenangan sesaat, tidak berpikir panjang tapi merasa perlu hubungan yang dalam;
  2. Cara hidup yang tergantung pada apa yang ada diluar diri sendiri seperti harta, barang bermerek, nama besar, penghargaan, jabatan. Selalu membutuhkan rangsangan dari luar. Cara hidup ini membuat kemandirian diri hilang, dan tidak bisa mengontrol diri sendiri. Tidak ada kedamaian dan ketenangan hati, terbawa-bawa oleh rangsangan dari luar.

Sebetulnya, kehilangan diri itu sama saja dengan putus asa. Tapi perasaan putus asa ini tidak bisa dirasakan asal tenggelam kedalam rangsangan (merasa menang, padahal kalah). Dan siapapun bisa hidup sehari-hari seperti biasa, sambil terbawa ketempat dangkal secara kejiwaan.

Sebenarnya, masalah hidup yang utama dari cara hidup ini adalah tidak bertanggungjawab pada diri sendiri. Orang yang berpikir semua tindakannya merupakan efek dari luar akan melakukan apapun yang tak bertanggungjawab, dan membuang tanggung jawabnya sendiri.

Sebagian orang (termasuk penulis) juga pernah melakukan itu, di saat dia ingin melupakan semua kesulitan karena ingin menghindar sehingga melarikan diri. Dan kehilangan diri, membuang tanggung jawab bagi diri sendiri. Tetapi, untungnya aku bisa kembali ke diriku sendiri, berkat orang-orang yang kucintai.

Tapi memang betul, dunia ini bersifat kebetulan, tapi konsekuen dan realistis. Karena itu manusia mudah menjalani cara hidup sensitif yang dikuasai pengaruh dari luar, tetapi pasti ada cara hidup yang berakar pada kehidupan sendiri sehingga kita menemukan cara hidup alternatif. Yaitu cara hidup etis.

Etis itu bagaimana seorangnya layaknya hidup. Jelasnya, cara etis itu cara hidup yang mengandalkan diri sendiri. Dan cara hidup ini bertujuan melepaskan diri dari putus asa yang bersifat sensitif melalui tekad yang kuat. Cara hidup etis itu menerima segala tanggung jawab yang berkaitan dengan diri sendiri, memilih yang paling pantas untuk diri sendiri. Menyadari bahwa bukan orang lain yang membuat aku begini, tapi aku sendiri, yang kupilih sendiri melalui berbagai kemungkinan (rel kehidupan). Diantara kemungkinan-kemungkinan yang ada di diri terdapat tekad kuat menghadapi dunia, tentunya dengan usaha sendiri.

Memilih diri sendiri dengan tanggung jawab sendiri (kerap keputusan kecil yang mengubah jalan hidup) dan menerima resikonya. Karena untuk menjadi diri yang kita inginkan, kita harus maju terus dengan kekuatan diri sendiri (juga memaafkan diri sendiri atas kesalahan dimasa lalu). Berusaha memilih diri sendiri menuju masa depan yang tidak jelas, tanpa menyalahkan orang lain.

Tapi, tidak semua orang bisa melakukan cara hidup ini dengan sempurna. Karena dunia ini serba kebetulan (Misalnya ingin menjadi penyair namun tiba-tiba karena keadaan harus bekerja sebagai akuntan). Masing-masing orang memiliki kondisi kehidupan sendiri-sendiri. Yang penting itu bisa diterima atau tidak, seperti dialektika.

Karena masa depan tak pasti, memang semuanya akan takut, kalau disuruh menjadi diri sendiri atau ditunjukkan orang lain jalan hidupnya. Tentu kau (dan aku) juga tak bisa menerima kalau “aku yang kuharapkan bukan yang kuharapkan” bukan? Jika ada, perasaan itu harus dihentikan.

Manusia tidak boleh putus asa karena kehilangan diri sendiri. Apakah kau (aku) menyadari? Seseorang itu saat sendirian, mulai berbicara pada diri sendiri dan mendekati eksistensi diri. Ada masa-masa menghindari substansi yaitu kondisi membenci diri sendiri dan berpikir putus asa pada diri sendiri. Mungkin masa sekarang dianggap putus asa, dan mulai memandangi substansi dirinya termasuk membenci dirimu sendiri, bahkan di masa depan. Sebenarnya kondisi itu bukan putus asa melainkan kecewa.

Putus asa sebenarnya adalah kehilangan substansi diri, atau kehilangan diri sendiri. Penyakit mematikan itu adalah ketika diri tidak mau bertanggung jawab pada diri sendiri, atau sama dengan putus asa. Putus asa yang dimaksud adalah tidak memilih diri sendiri, atau menjadi jati diri yang tidak diinginkan. Kemudian saat manusia betul-betul putus asa yang mendatangi dia adalah kematian! Jati diri mengalami kematian.

Kematian tubuh bukanlah kematian yang sebenarnya, tapi kematian jiwa adalah kematian yang sebenarnya. Kehilangan substansi, substansi adalah kebebasan keinginan jiwa dari jati diri. Oleh karena itu, saat diri sendiri ingin memilih diri sendiri dengan penuh tanggung jawab, pasti ada rasa khawatir supaya tidak salah memilih jati diri. Semua itu disebabkan rasa khawatir saat diri sendiri menghadapi substansi diri.

Manusia itu putus asa karena ingin melarikan diri dari rasa khawatir. Manusia (aku) berpikir, yang tidak ingin aku hadapi bukan diri sendiri yang lemah, tapi aku takut, dan tak ingin menghadapi substansi diri yang sejati. Segala ketakutan terhadap masa depan serta tanggung jawab dan kebebasan mengubah diri menjadi diri yang baru.

Tema manusia yang hidup di masa kini, adalah tema tentang melewati rasa khawatir dan mendekati substansi diri. Memang benar, selama manusia hidup, dia tidak bisa menghindari rasa putus asa. Karena putus asa itu sendiri itu ada bersama substansi bernama manusia.

Ada berbagai putus asa yang ada bersama substansi manusia. Dan supaya manusia bisa lebih menyadari dirinya, pada akhirnya ada tiga jenis putus asa yang dapat membuat kematian jati diri.

  1. Putus asa permukaan yaitu putus asa yang dari cara hidup sensitif. Keadaan di mana manusia tidak sadar akan rasa putus asa karena melupakan kebebasan diri sendiri untuk menjadi manusia baru. Putus asa karena diri sendiri tidak mau menemukan jati diri dan hanya hidup bersenang-senang. Manusia itu bisa tetap hidup walau sudah putus asa, namun manusia tersebut tidak bisa terlepas dari rasa hampa yang muncul tanpa disadari. Walaupun begitu, untuk memenuhi kekosongan ini, ia mencari nilai luar tapi khayalan, itu tidak akan memuaskan diri dan tidak akan membebaskan dari keputusasan. Dan jiwa manusia akan terbawa ke arus yang lebih rendah dan mencari orang yang lebih buruk/kedudukannya dibawah dirinya sendiri, dan menertawakan;
  2. Putus asa karena mengetahui substansi diri.  Keputusasaan ini adalah bentuk putus asa manusia yang ingin berhadapan dengan substansi diri. Bentuk putus asa yang sejati dibanding yang sebelumnya disebut di atas. Putus asa karena tidak ingin menjadi jati diri sejati, karena ingin menghindari kenyataan, rasa khawatir karena kebebasan dan tanggung jawab memilih jati diri. Putus asa bagi pengecut, karena takut berubah pura-pura melupakan diri sendiri. Dia mengurung diri dan menutup hati, tidak tahu tentang kebebasan dan tanggung jawab dan tidak bisa mendengar suara dari luar. Tapi walaupun bisa menghindari substansi diri, kenyataan bahwa diri sendiri belum menjadi sosok yang diinginkan terus menghantui, justru suara yang menginginkan sosok baru terus membesar dan penderitaan terus berlangsung. Suatu saat dia membayangkan kematian secara fisik. Walaupun dia sadar itu tak akan menyelesaikan apapun. Putus asa karena tidak ingin menjadi jati diri sendiri, itu memang putus asa yang bersifat pelarian dan pengasingan diri;
  3. Putus asa karena ingin menjadi jati diri yang tidak sejati. Putus asa karena berusaha menentang tanggung jawab dan kebebasan dalam memilih jati diri. Putus asa para pemarah. Sekarang ini semakin banyak orang memiliki putus asa jenis ini. Dia menolak substansi dan merasa tidak bertanggungjawab dalam mencari jati diri sejati. Seperti menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada masyarakat. Dia merasa dirinya saat ini menjadi begitu karena semua yang ada diluar dirinya. Dia berpikir kondisi saat marah adalah hak dia yang sebenarnya, dia merasa diri sendiri yang tak bisa berubah menjadi lebih baik karena orang lain, dan justru penderitaan itu tak mau lepas. Karena, dengan merasa dirinya sebagai korban, dia bisa menyerang orang lain dan tetap dianggap benar. Dengan menganggap semua orang musuh, dia membuang jati diri dan tidak lepas dari penderitaan. Ia merasa dirinya terluka maka ia boleh melukai orang lain, selalu berada di dalam pikiran jahat, dan menyerang semua orang selain dirinya sendiri. Putus asa jenis ini bersifat perlawanan, mereka mengkhayal sebagai korban.

Putus asa adalah kelemahan manusia, tiga contoh diatas adalah kondisi dimana manusia betul mengalami putus asa.

Manusia itu walaupun semuanya bebas, sulit untuk hidup lurus dan etis. Putus asa bagi manusia tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Kita harus sadar bahwa penderitaan dari putus asa manusia akan terus berlanjut, kita harus menyadarkan diri kita tentang putus asa dan menolong paling kurang diri sendiri.

Manusia itu harus berjalan terus ke depan, walaupun berhadapan dengan arus zaman yang kuat yang bisa menghilangkan diri sendiri. Manusia juga membawa luka masa lalu, namun untuk maju terus ia harus berani walaupun itu berarti harus dengan mempertaruhkan seluruh eksistensi diri. Untuk menciptakan diri sendiri yang lebih baik, kita harus bertarung dengan kehidupan.

Manusia (aku) sebagai individu supaya bisa berhadapan dengan substansi diri, dan mewujudkan eksistensi diri harus mengetahui jalan etis, jalan etis yang sulit agar menjadi sosok yang diinginkan. Dan sekaligus memahami kelemahan diri sendiri, kelemahan berbentuk rasa khawatir terhadap kebebasan, tanggungjawab dan masa depan.

Aku harus hidup secara etis, secara etis menuju masa depan. Seterusnya aku harus hidup bagaimana? Apakah aku bisa mengatakan bahwa selama ini pilihanku tak salah? Sebenarnya selama hidup, rasa khawatir itu pasti ada. Dan apakah setelah manusia mengetahui substansi diri, maka rasa khawatir itu akan hilang? Tentu tidak!

Manusia berkembang seiring waktu, begitu pula masalah hidup. Cara manusia menghindari dari keputusasaan adalah harus hidup dengan tingkatan jiwa yang lebih tinggi. Dan itu sulit untuk bergerak menjadi lebih baik setiap waktu.

Maka jalan keluar dari putus asa adalah agama. Dengan keyakinan pada agama. Islam mengajarkan ikhlas. Ikhlas adalah ilmu tertinggi menghadapi takdir, yang sulit sekalipun. Ikhlas adalah kesucian hati dalam beribadah kepada Allah S.W.T sekaligus berhubungan kepada sesama manusia. Membersihkan hati dan memurnikan niat tanpa syak dan praduga berlebih kepada siapapun. Memaafkan orang lain, dan memaafkan diri sendiri terhadap segala kesalahan di masa lalu. Karena sebuah kesalahan menganjal di masa lalu akan menjadi ganjalan terhadap perbaikan ke masa depan, apa lagi jika ia menjadi trauma. Ikhlas itu murni, tanpa konspirasi. Dengan hati yang bersih maka Insya Allah pikiran akan menjadi bersih pula.

Dengan menjadi pribadi yang ikhlas, manusia bebas memilih diri secara etis dan dialektik dan membangun nilai diri, karena dunia ini di bangun dari banyak diri. Setiap orang harus menemukan nilai membangun diri sendiri. Dengan tekad kuat mencari apa yang menjadi ketidakpuasan dalam diri sendiri, dan menemukan nilai yang menjadi pegangan hidup.

Diantara hidup sehari-hari pasti banyak keraguan tentang apa yang telah diperbuat. Namun jika kamu memiliki nilai (agama), saat kau merasa kalah terhadap pelemahan diri, nilai tersebut akan menolongmu.

Manusia itu harus berjalan terus ke depan, walaupun berhadapan dengan arus zaman yang kuat yang bisa menghilangkan diri sendiri. Manusia juga membawa luka masa lalu, namun untuk maju terus, ia harus berani! Walaupun itu berarti harus mempertaruhkan seluruh eksistensi diri. Untuk menciptakan diri sendiri yang lebih baik, kita harus bertarung dengan kehidupan.

Setiap manusia (termasuk aku dan kamu) adalah pemeran utama hidupmu sendiri. Pilih dan tentukan pilihanmu dengan percaya diri. Setiap hari kita memilih diri sendiri tanpa bosan dengan harapan menuju kebahagiaan hari esok. Jangan takut gagal! Dan melangkahlah dengan berani!

Literatur rujukan : The Sickness Unto Death karya Soren Kierkegaard.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

SEORANG PANGERAN

Seorang Pangeran harus memiliki penglihatan Elang

SEORANG PANGERAN

Pertama, apa yang harus dilakukan pemimpin? Yaitu melindungi organisasi. Cara untuk melindungi organisasi adalah menjadi pemimpin yang ditakuti (kami tidak bisa menyerang karena takut), sekaligus tidak dibenci orang. Ditakuti orang itu berpengaruh bagus, ke dalam atau keluar organisasi. Dan tidak dibenci orang, tidak membuat musuh baru. Organisasi akan tenang dan damai (kami tidak bisa menandingi orang ini).

Tapi, masalahnya adalah, apakah bisa ditakuti orang tapi tidak dibenci? Jawabannya bisa. Cara supaya tidak dibenci orang adalah tidak merebut hak orang lain. Pemimpin harus menghindari perbuatan merebut nama baik dan harta orang lain. Atau pun pasangan atau prestasi orang lain. (Semua ini milikku!)

Seorang pemimpin tidak bisa dibenci kalau tidak mengambil hak orang lain. Walaupun ditakuti orang, asalkan tidak melenceng “jauh” dari kebenaran. Pemimpin itu selalu memiliki kebenaran dan kekuatan. Kebenaran dan kekuatan ini baru di dapat setelah pemimpin itu ditakuti orang lain.

Walau pemimpin itu benar, kalau tidak memiliki kekuatan, tidak bisa melindungi siapapun. (Pemimpin mana? Pemimpin melarikan diri). Pemimpin harus ingat. Para bawahan tak akan setia kepada atasan yang tidak melindungi mereka. Kepada lawan ia harus bersikap sangat keras, dan kepada kawan dan diri sendiri harus tegas, juga memberikan kebenaran, ketertiban dan keamanan kepada kawan-kawannya. Itulah pelindung organisasi. (Terima kasih pemimpin).

Dan satu hal lagi yang harus selalu diingat pemimpin yaitu menghindari diremehkan orang lain. Karena pemimpin itu harus selalu dianggap hebat oleh orang-orang. (Pemimpin kita hebat). Terus bagaimana caranya supaya tidak diremehkan orang lain? Pemimpin harus tidak memperlihatkan kekurangan dalam mengambil keputusan, karena ingin menghindar dari pertengkaran atau urusan merepotkan pemimpin kadang mengambil posisi netral (tidak berbuat apa-apa) serta berpura-pura tidak melihat bahaya dan mengambil sikap diam. (Pemimpin, ada musuh yang hendak menyerang istana, kita susun siasat untuk menghadapinya – Aah mereka merepotkan. Sekarang biarkan saja dulu, kan belum terjadi). Itu bukan keputusan yang tepat, keputusan itu sama dengan bunuh diri. Bahaya terus mendekat dan pertempuran tidak bisa dihindari. (Pemimpin, istana sudah dikepung musuh! Kita kalah! – Apa?!) Waktu tidak menyelesaikan apa-apa.

Ragu-ragu terhadap usul orang lain juga bisa jadi alasan diremehkan orang lain. (Begini saja pemimpin, atau begitu? – Aku tidak bisa memutuskan!) Kalau pemimpin mudah berubah pikiran, ragu-ragu dan penakut, tidak akan bisa menghindar dari diremehkan orang lain. (Atau melarikan diri saja? Ini atau itu ya? – Wah, pemimpin payah dan ragu-ragu). Supaya terhindar dari diremehkan orang lain, pemimpin harus senantiasa mengasah kemampuannya.

Ada cara lain supaya pemimpin terhindarkan dari diremehkan orang lain. Yaitu memiliki anak buah yang cakap. Kalau pemimpin memiliki anak buah yang cakap, orang itu akan diakui sebagai orang yang dihormati anak buah yang cakap. Karena itu, jika ingin menilai karakter dari seorang pemimpin bisa dilihat dari anak buahnya saja. Karena di tempat yang buruk, akan berkumpul orang-orang buruk juga. (Kita tidak usah kerja, main golf saja – Payah pemimpin kita, bolos saja!) Ini agak sulit, tapi pemimpin harus bisa melihat karakter orang yang menjadi bawahannya. Sumber daya manusia adalah kekuatan organiasasi. Pemimpin harus berhati-hati memilih orang yang mendukung dia.

Ada 3 tipe pemimpin.

  1. Pertama adalah pemimpin yang bisa bertindak dan memutuskan sendiri. (Ayo bertindak, ikuti aku!);
  2. Kedua adalah pemimpin yang tak bisa berpikir sendiri tapi memanfaatkan ide orang lain dan memilih di antara ide-ide itu. (Baik, kita pakai idemu);
  3. Ketiga adalah pemimpin yang tidak bisa bertindak sendiri dan tidak bisa memanfaatkan ide orang lain. (Jangan bicara! Aku ini memang bodoh).

Pemimpin tipe pertama itu paling unggul dan ketiga paling parah dan gagal. Biasanya pemimpin tipe kedua saja sudah cukup menjalankan organisasi.

Karena itu pemimpin harus memilih anak buah yang handal dan bisa mengeluarkan pendapat dan membuat mereka selalu berkata jujur. (Pemimpin, sebaiknya kita jangan melakukan itu dan pakai cara lain – Hmm, begitu ya?) Menerima usulan orang lain dan menyampaikan idenya sendiri. Memutuskan yang mana diantara ide-ide itu merupakan tugas pemimpin.

Pemimpin harus memiliki sifat menghargai pendapat orang lain. Jika pemimpin menciptakan suasana tidak menghargai pendapat orang lain maka pada akhirnya yang mengikuti tinggal para penjilat. (Kenapa kalian tak menyetujui ideku? Kalian hanya perlu mengikuti aku saja). Pemimpin juga harus menghindari penyakit jahat seperti itu memenuhi organisasi. Para penjilat itu musuh pemimpin, merupakan kuman yang bersarang dalam organisasi. (Hanya orang bodoh yang tak setuju pemikiran pak pemimpin. Pak pemimpin kan paling pintar disini).

Semua orang pasti lebih senang dipuji daripada dihina tapi anak buah yang buruk dibiarkan karena termakan pujian. (Kami suka anda). Para anak buah yang handal akan meninggalkan pemimpin seperti itu dan organisasi bisa hancur. (Di sini bukan tempatku).

Karena itu pemimpin harus menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan bagi anak buah yang handal dan memberikan penghargaan kepada yang sudah berjasa bagi organisasi. (Terima kasih atas prestasimu, ini ada bonus untuku). Bagi orang yang belum berjasa pun harus menunjukkan sikap bahwa orang itu masih dibutuhkan. (Kamu sudah berusaha, terimalah gajimu). Beri penghargaan sedikit demi sedikit supaya mereka bersyukur atas keberadaan pemimpin. Tugas pemimpin juga untuk memberikan tugas yang tepat bagi anak buahnya. Walaupun misalnya orangnya agak sulit, pemimpin harus bisa memanfaatkan orang itu. Pemimpin adalah orang yang menarik anak buah dan organisasi. (Maju! Huppla!) Itu merupakan tugas penting.

Anak buah itu istilahnya selalu berjalan di tanah, sehingga tak bisa melihat jauh ke depan. Karena itu, pemimpin harus selalu di atas dan melihat jauh ke depan. Melihat apa saja yang ada di depan kemudian mempersiapkan organisasi. Di saat hari cerah (aman) pemimpin harus mempersiapkan diri menghadapi badai serta senantiasa menyempurnakan diri. Dan membentuk organisasi yang kuat, mengumpulkan anak buah yang handal. (Ada badai pun tak apa, kami siap!)

Karena itu camkan ini baik-baik! Kalau pemimpin lemah dalam melihat masa depan, organisasi bisa terancam. Kemudian pemimpin tidak boleh seperti burung kecil, memperhatikan hal remeh-temeh. (Sepertinya bulu hidung kamu ada yang keluar). Kalau kita tak paham kondisi sekitar, kita akan dimangsa elang di atas. Yang kuat memangsa yang lemah, itu sudah hukum alam. Dan sejarah selalu terulang.

Kemudian supaya pemimpin bisa melihat masa depan, pelajarilah sejarah. Tidak ada ilmu selain sejarah, yang bisa memberi banyak ide kepada manusia. Manusia itu di zaman apapun, selalu memikirkan dan menginginkan hal yang sama. Walaupun zaman berganti, siapa yang berkuasa dan dikuasai relatif tetap sama saja. (Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin). Dan yang menentang aturan ini selalu kembali kepada asal yang sama. (Hirarki kekuasaan tetap sama – Maafkan kami). Semua cara menghadapi masa depan itu ada dalam sejarah dan manusia bisa belajar banyak dari sejarah.

Pemimpin harus menguasai masa lalu, melihat aliran (trend) masa kini dan memanfaatkan aliran itu untuk terbang tinggi. Kemudian supaya bisa terbang tinggi lagi, selalu membuat sasaran yang lebih besar. Memberi impian kepada anak buah, dan membimbing orang-orang ke masa depan cerah.

Terakhir, pemimpin yang selalu berusaha keras akan mengikuti keberuntungan daripada orang yang berhati-hati. (Oooh! Ayo bersemangat – Kita lakukan sesuai rencana.) Orang yang bersemangat dalam mencapai tujuan lebih disenangi Dewi Fortuna / Keberuntungan. Mengapa? Karena keberuntungan sama dengan dewi, maksudnya keberuntungan mirip dengan sifat wanita yang lebih menyukai laki-laki bersemangat muda dan meledak-ledak. (Adek suka semangat abang). Karena itu pemimpin harus aktif dalam meraih keberuntungan, supaya Dewi Fortuna mau mendatangkan keberuntungan.

Terkadang, pemimpin itu harus memakai cara apapun untuk mencapai tujuan, kadang harus sendirian karena orang lain tidak mengerti. (Pemimpin kita terlalu keras!) Tapi, hasil kerja keras pemimpin itu pasti dihargai orang lain. (Pemimpin kita brilyan). Dan orang-orang akan tahu, berkat pemimpin akan datang masa depan yang cerah.

Risalah ini semoga berguna bagi para pemimpin negeri ini.

Literatur rujukan : Il Principle karya Niccolo Machiavelli

Posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , | 2 Comments

SULTAN ABU NAWAS

Bagaimana kita bisa mengetahui “sesuatu” dibalik kepala yang lucu.

SULTAN ABU NAWAS

Kita semestinya tahu diri, ketika mengkritik kerajaan (Pemerintah) karena di sana lebih banyak orang yang lebih pintar dari kita. Kerajaan (Pemerintah) tidak memiliki masalah dengan kepintaran. Mereka memiliki masalah (hanya) dengan kejujuran. Jika mereka pun tidak jujur, apa yang bisa kita lakukan? Kita hanya bisa mengutuki diri sendiri. Namun apabila mereka melampaui batas, kumpulkan orang-orang segera! Kita bentuk kerajaan (Pemerintah) baru. Namun jika mereka tidak terlalu. Bangunlah di pagi hari, tersenyumlah untuk kemudian melanjutkan hari, berpura-pura bahagia. Ongkos pilihan ini lebih murah, jauh.

Bayangkan jika seorang Abu Nawas bertukar posisi dengan seorang Harun Al-Rasyid, kira-kira apa yang terjadi? Dalam sejarah, Abu Nawas merupakan seorang pengkritik handal namun mampukah dirinya memegang kendali secakap Khalifah Harun Al-Rasyid? Yang dalam sejarah juga terkenal sebagai seorang pemimpin yang dihormati dan disegani. Artinya dudukkan seseorang pada proporsinya, artinya tempatkan seseorang pada bagian yang ia kuasai.

“King born or made?” Seorang raja dilahirkan atau dibentuk? Begitulah pertanyaan yang terdengar menjelang awal abad ke-20. Artinya mungkinkah seseorang yang memiliki potensi memimpin lahir diluar lingkungan istana, ataukah seorang pemimpin “bisa” dibentuk dengan pendidikan dilingkungan istana.

Dua Perang Dunia membuat masyarakat Eropa tidak lagi mempercayai keputusan raja, mereka secara bersuka rela beralih menjadi negara berkonstitusi, artinya sosok raja hanya sebagai lambang pemersatu sedang yang memegang pemerintahan adalah Perdana Menteri, konsep yang kemudian ditiru oleh negara Jepang Modern. Namun uniknya setelah kekuasaan Raja maupun Ratu tersebut “digembosi” namun sistem Monarki tersebut terus langgeng hingga saat ini.

“Raja adil disembah, raja lalim disanggah” Konsep di hampir seluruh kerajaan di Indonesia sebelum bersentuhan dengan kaum Imperialis-Kolonialis. Artinya para Sultan di Nusantara waktu itu dituntut untuk mensejahterakan rakyatnya, meski ada kalanya bergejolak namun situasi tetap terkendali, hal ini dapat dibuktikan dengan bertahannya sistem adat istiadat diseluruh pelosok Indonesia. Feodalisme sebagai sistem melahirkan despotisme, terkadang bahkan memacu revolusi sosial.

Sistem kerajaan maupun kesultanan saat ini tak lagi berjaya, terbukti tidak ada lagi kerajaan yang terbentuk semenjak awal abad ke-20. Kecuali kerajaan yang telah berdiri lama, praktis tak ada kerajaan baru yang terbentuk

Sistem pemerintahan Republik berdasarkan Demokrasi dianggap sebagai bentuk ideal pemerintahan diseluruh dunia saat ini, semboyan “Vox Populi, Vox Dei” seolah terdengar dimana-mana. “Suara Rakyat, Suara Tuhan” begitulah artinya kira-kira namun yang menjadi pertanyaan suara rakyat yang bagaimanakah yang mencerminkan suara tuhan? Bagaimana kalau rakyat yang dimaksud itu pencuri semua?

Dalam demokrasi seorang Abu Nawas mungkin saja mampu mengalahkan seorang Harun Al-Rasyid dalam sebuah pemilihan. Sekali lagi yang menjadi pertanyaan, patutkah orang yang dipilih mengemban tanggung jawab yang diberikan kepadanya? Segalanya kembali kepada kita untuk berpikir rasional.

Selamat berdemokrasi, selamat ber-Republik.

Berbagai Opini:

  1. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  2. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  3. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  4. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  5. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  6. Kebenaran Yang Samar; 28 Februari 2013;
  7. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013;
  8. Peradaban Tanpa Tulisan; 25 Februari 2016;
  9. Misi Mencari Abu Nawas; 7 Maret 2016;
  10. Tragedi Barbastro; 3 April 2017;
  11. Gula Dan Sejarah Penindasan; 4 Mei 2017;
  12. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  13. Syariat Islam Siapa Takut; 9 Juni 2017;
  14. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  15. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 14 Comments

1998

Semoga angin di bawah sayapmu membawamu ke tempat matahari berlayar dan rembulan berjalan.

1998

Dunia ini adalah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi lucu. Dunia yang kotor tapi indah. Dan mungkin karena itulah aku jatuh cinta dengan kehidupan. Dan aku mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah dan membius diri dengan segala-galanya. Semua dengan kesadaran. Setelah itu rasanya menjadi lega.

Rasa bosan dan rasa sepi dari kehidupan seorang pemikir. Orang-orang tak mau mengerti perasaan-perasaan, kekecewaan-kecewaan. Mereka lupa di balik itu semua terdapat hati manusia yang penuh dengan kegelisahan, kemesraan dan kelemahan.

Dan memang kami sedang menipu diri sendiri masing-masing. Kami tidak dari kenyataan-kenyataan yang ada. Kami hidup dari harapan-harapan yang kami inginkan. Kami berpikir tentang mimpi-mimpi kami yang indah. Kalau kami gagal maka kami mulai menaksir-menaksir dengan kesibukan dan kesulitan emosional. Semua orang punya alasan-alasan sendiri. Tapi semuanya penipuan. Dan kami kami harus hidup dan menghadapinya.

Hari-hari itu, bahkan pada malam-malam. Mengatakan kebenaran, mengatakan kepada semua. Mendapatkan keduanya, atau tidak sama sekali. Berdiri tegak, atau gagal. Semua cita-cita akan hancur jika ia tergelincir dari tanganmu. Ini adalah saat-saat dimana tiada waktu untuk bercanda. Bisa jadi ada lubang dalam rencana. Tidak, bukan maksud apa-apa untuk menghindar meski hari ini aku bisa mengatakan aku tidak gagal dan jatuh. Namun aku juga tidak bisa mengatakan mencintai cahaya dalam kegelapan.

(Mungkin) mereka semua telah menjadi serigala-serigala tua yang lelah, mereka ingin ketenangan. Sedang aku adalah serigala yang gelisah. Yang masih ingin mengembara di hutan-hutan yang jauh, tapi juga merasa usia menahan di tiap hari. Sebuah dunia yang lain, dunia yang manis dan tak serius.

(Tapi) dunia ini lucu dan menyakitkan.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | 2 Comments

MENGAPA MENULIS

Namun, kawan seandainya kita bisa tahu dengan siapa kita akan berjumpa lalu jatuh cinta seperti tak ada lagi hari esok.

MENGAPA MENULIS

“Setiap manusia memiliki luka, saya sendiri mempunyainya. Ia hidup terus, ia disana, luka yang lama ini, ia disitu, dalam coretan-coretan kertas. Yang masih terlibat air mata dalam darah”.

“Mengapa harus menulis?” Seorang teman bertanya sekilas. Tanpa sengaja ia membaca tulisan-tulisan yang terangkum, meski ia mengaku tidak mengerti sebagian besar yang tertulis, ia  menemukan perubahan pola-pola yang ia katakan berkembang. Namun di sisi lain ia menertawakan beberapa tulisan, yang menurut ia konyol.

Setiap penulis yang menulis dalam jangka waktu yang panjang, kemudian membaca ulang tulisannya kembali akan menemukan masalah sebenarnya, yaitu yang tersimpan dalam ingatan hanya rasa jengkel menemukan betapa manusiawinya kamu, dan fakta bahwa kamu ingat bukan pula sebagai manusia sesungguhnya karena itulah memang kenangan, yaitu penafsiran kita atas apa yang kita alami. Satu-satunya perbedaan di sini adalah sebagian besar orang tidak menuliskannya kemudian mempublikasikannya.

Kadang-kadang saya juga bertanya kepada diri sendiri, mengapa terus menulis? Untuk apa?

Saya tidak memahami orang-orang. Apa yang membuat mereka tertawa atau bersedih. Tidak tahu bukan berarti tidak menghargai. Sebagaimana seseorang yang berhati dingin, saya kebingungan membangun hubungan emosional dengan orang-orang sekitar, mungkin karena sedari kecil saya lebih memilih menghabiskan waktu luang dengan membaca, seseorang yang terbiasa membaca segalanya terkadang merasa mengetahui segalanya. Karena itu saya menulis.

Sepanjang masa kanak-kanak, remaja, dan akhirnya dewasa, saya selalu terdorong untuk menulis. Ini adalah kegiatan batin yang nyaris selalu berlangsung secara otomatis, seperti peredaran darah atau pencernaan, yang terjadi semata-mata sebagai bagian diri saya yang alamiah. Saya menulis bentuk apa saja, catatan harian, anekdot dan cerita. Saya menulis untuk memahami orang lain, untuk memberikan kesempatan pada diri saya masuk ke dalam batin mereka sejenak dan mengetahui seperti apa dunia itu dari sudut pandang lain. Saya menulis untuk memahami emosi dan pengalaman yang sudah atau belum pernah saya alami. Dan saya menulis untuk memahami diri saya sendiri.

Saat itu saya, ingat jelas, rasa dingin, bahkan kecemasan samar-samar bahwa seharusnya berada dalam perjalanan pulang. Akan tetapi lembaran kertas membuat saya terpesona. Semuanya tertulis disitu, petualangan, perasaan gembira yang selalu timbul dalam diri saat membaca pengalaman seperti itu. Kaget menyadari hal ini, saya menurunkan kertas yang itu dan memandang dari atas, dan terlanda oleh perasaaan yang begitu hebat, suatu inspirasi. Wow! Saya senang menulis karena menganggap menulis itu seperti berpura-pura. Suatu kesempatan untuk mengubah diri menjadi orang lain pada saat melakukannya dan menjadi orang itu, merasakan apa yang dirasakannya dan mengalami petualangan-petualangannya, saya merasakan mukjizat.

Sebenarnya tidak ada kerangka tunggal yang dapat dijadikan pegangan bagi seluruh penafsiran atas perilku manusia. Disisi lain ini adalah sebuah tokoh dalam cerita. Manusia terlalu kompleks untuk digambarkan secara keseluruhan di atas kertas, Dan sebagiannya, terlalu membosankan. Kehidupan nyata jarang yang berakhir dengan cara memuaskan seperti yang ditulis dalam fiksi, rasanya kehidupan hampir selalu akan menghasilkan akhir yang terlalu suram untuk cerita yang menggetarkan.

Saya menulis untuk mengingat diri sendiri, untuk menertawakannya kelak.

Sesungguh ketika jiwa raga terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri asing. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan kaisar Romawi, menunggangi kuda di stepa Mongolia, membelah rimba raksasa Afrika, dan seraya memandangi selat Bophorus, atau bercengkrama ditaman kota Sevilla.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , | 5 Comments

LAPORKAN KAWANMU

Bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu dibalik kepala yang lucu

Bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu dibalik kepala yang lucu

LAPORKAN KAWANMU

Do not trust anyone, except your armies ~ Kepercayaan adalah sesuatu yang paling bernilai di dunia ini, melebihi uang, kekuasaan atau apapun yang membuat orang-orang dunia saling bunuh sekalipun. Dalam percaya, kita tidak tahu apa yang berharga atau tidak, kita membuangnya. Ia adalah moral dan nilai etis yang tidak mudah dipahami intelektual, akal, atau rasio sekalipun. Jika percaya, ketenangan akan terbawa emosi, tubuh pun mengkhianati. Menarik ya, emosi.

Pada minggu kemarin, tepatnya hari Sabtu. Akhirnya, sesudah sekian lama tidak bertemu, Abu kedatangan nenek dari pihak ibu. Datang dari kampung, Krueng Sabee ke Aceh (Banda Aceh ~ Penulis) untuk melihat PKA (Pekan Kebudayaan Aceh) IV, sekaligus mengunjungi Imam (13 Tahun) anak paman Abu yang baru mondok di salah satu pesantren di Banda Aceh awal tahun ajaran ini. Sore-sore sembari duduk membaca buku, Abu mendengar Imam curhat kepada nenek tentang kehidupannya di pesantren, berbeda dengan di kampung. Makanan di Pesantren kurang sedap baginya, terlalu banyak menghafal Al-Qur’an sehingga ia tidak sempat belajar mata pelajaran lain, dan di antara semua matematika yang paling sulit ia pahami. Ia mengatakan, seperti dalam penjara. Nenek adalah nenek yang dulu, menasehati agar dia bersabar, tekun sehingga dapat pulang kelak menjadi orang yang berilmu. Abu sesekali mencuri dengar, tokh Abu juga dibesarkan dengan cara yang sama. Semua berlangsung datar.

Sampai, Imam bercerita ia masuk ke mahkamah, Abu tidak pernah mengenyam sekolah di Pesantren, sekolah berasrama pun tidak. Sebuah tempat tanpa opsi melarikan diri itu membosankan. Jadi mahkamah ini adalah sistem yang diciptakan Uztad dan Uztadzah menghukum kesalahan santri dengan akhi (Kakak Kelas) sebagai perangkat. Sudah setengah menarik, Abu sampai kehilangan kosentrasi membaca. Mutakhirnya sistem mahkamah ini menggunakan sistem telik sandi dalam mencari kesalahan, santri wajib melaporkan apabila temannya berbuat kesalahan. Wajar, pikir Abu. Kesalahan Imam yang menyebabkan ia masuk mahkamah karena ia tanpa sengaja berbicara beberapa kata bahasa Aceh. Dahi Abu berkerut, Imam berasal dari komunitas ber-lingua Franca Aceh. Abu menduga ia kesulitan menemukan beberapa kata padanan dalam Bahasa Indonesia. Ya, sudahlah kita hidup di NKRI, jadi mau tidak mau Imam harus menyesuaikan diri, ibarat katak ia harus keluar dari tempurung.

Tiba-tiba! Abu melirik Imam yang duduk bersila matanya terfokus, mata bundar-bundar itu menangis, tersedan-sedan. Ia kecewa karena yang melaporkannya adalah teman satu bangsal, dan dekat dengannya. Touche! Pengkhianat, kita membenci mereka dengan selama-lamanya benci. Dan betapa tidak pentingnya kesalahan Imam tersebut, sehingga ia harus dirotan oleh para Akhi. Nenek terdiam, ketika Imam berkata akan membalas, nanti ia akan melaporkan kesalahan-kesalahan temannya yang lain, meski tak penting untuk menyusulnya masuk mahkamah. LAPORKAN KAWANMU!!! Abu berpikir sejak kapan sistem Devide at Impera ini telah berlangsung. Nenek kembali berceramah tentang Etika dan Moral kepada Imam, ia terlihat tidak tertarik. Mau tak mau sebagai kepala Klan Abu menasehati Imam agar tidak terpengaruh pada lingkungan dan fokus pada pendidikannya saja. Ia mengiyakan, tak lama nenek ke dapur.

Abu melanjutkan membaca buku, Imam masih memandangi Abu. Bosan ia bertanya, “Berapa umur abang?”

“29.”

“Uztad kami ada yang berumur lebih muda, tapi sudah S3. Abang sendiri?”

“Masih S1.”

“Oh, harusnya abang sudah Professor.”

Touche! Kadang-kadang anak-anak memiliki ketidaksengajaan dalam mengusik, rasa ingin tahu mereka adalah semangat yang bernilai emas. Abu melipat buku, dan balik bertanya, “kenapa Imam bilang begitu?”

“Karena abang tidak pernah mempermasalahkan sesuatu yang kecil. Bukankah semakin tinggi ilmu semakin luas pula capaian pikirannya?”

Abu tertawa mendengar kata-kata sepupu saya itu.

“Tidak seperti itu juga Imam. Semua orang memiliki,” suara Abu terputus memikirkan padanan yang tepat. “Aha, keunikan tersendiri yang tidak terikat pada tingkatan pendidikan mereka.”

Kemudian Imam mendekat, dan berbisik. “Ini di antara dua laki-laki bang, rahasiakan dari nenek. Apa yang abang lakukan jika pada keadaan Imam?”

Sontoloyo. Hati kecil Abu tertawa cekikan. Akan tetapi berubah serius, ini adalah tantangan yang di lemparkan seorang laki-laki, tak peduli usia, tak peduli tingkatan pendidikan. Seorang laki-laki meminta saran dari laki-laki lain yang dianggap berpengalaman, ini wajib di seriusi. Abu berpikir keras.

“Pertama, bebaskan pikiranmu. Kamu tidak perlu mengikat dirimu dengan apa yang di percaya oleh orang-orang di sekelilingmu, jika hatimu menolaknya. Kedua, jaga jarak. Dalam keadaan seperti belantara seperti Imam alami sekarang. Jangan terlalu dekat dan jangan terlalu jauh dengan siapapun sampai mereka membuktikan mereka layak. Ketiga, yang paling penting adalah jangan percaya siapapun!”

Abu tidak berharap Imam mengerti, tetapi Imam membalas, “kenapa Imam harus percaya kata-kata abang? Bukankah abang mengatakan jangan percaya siapapun?”

Abu tertawa, senang dengan antusias ini. “Tentu kamu harus percaya, karena kita keluarga. Dan keluarga itu akan membela disaat menang atau kalah, dan bahkan keluarga tak peduli bahwa Imam benar atau salah sekalipun. Apapun masalahmu, kami tetap mengirimkan bantuan.”

“Jika Imam yang berpaling?”

“Maka Imam bukanlah bagian rumah bernama keluarga.”

Ia menghapus air matanya, tersenyum senang. Kemudian bergumam, “keras kepala” seraya memukul-mukul kepalanya.

“Percayalah Imam, Tuhan menyukai mereka yang keras kepala.”

“Kenapa?”

“IA jarang mengubah mereka.”

Imam menyalami Abu, seringai lebar dimulutnya. “Keluarga” Abu menebak itu yang muncul di kepalanya, seseorang sebaiknya memiliki sandaran yang menerimanya di saat sulit sekalipun. Itulah sifat dan makna dari kata keluarga sesungguhnya. Abu masuk ke kamar, untuk melanjutkan membaca. Cedera seperti ini bisa disembuhkan, dia akan memiliki semangat kuat dan hati yang ceria lagi. Dia tidak akan melupakan kesedihannya, tapi itu tidak menjadikan hatinya dirundung kegelapan, justru akan mengajarkan dirinya kebijaksanaan.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

MUSIM HUJAN

MUSIM HUJAN

Telah datang lagi musim hujan, dari langit kelabu berjatuhan butiran-butiran air

MUSIM HUJAN

telah datang lagi musim hujan

dari langit kelabu berjatuhan butiran-butiran air

lalu merambat di bumi kesayangan

musim kemarau telah usai

 

bumi hijau terhampar sejauh mata memandang

lalu angin bertiup kencang

menerjang pepohonan merunduk laju

menampar-nampar dipipi beku

 

tetes air berjatuhan satu demi satu

hidup terlalu asing di bumi

membuat hati tidak betah

tanah azali menghimbau selalu biru

 

tahun ini, telah datang kembali musim penghujan

dari langit kelabu

bertambah satu berkurang satu

yang berkurang hanyalah waktu

 

Bait Al Hikmah, 5 Dzulqaidah 1434 H (bersamaan 11 September 2013)

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , | 5 Comments

MENCARI BELERANG MERAH

Semesta

Semesta

MENCARI BELERANG MERAH

Pernahkah kita menyadari ketika menatap bintang-bintang di angkasa. Bahwa sebenarnya mereka telah meledak jutaan tahun yang lalu. Cahaya mereka masih tetap ada.

Kapan? Bagaimana? Mengapa? Itulah sederetan pertanyaan yang kerap ditanyakan orang kepada dirinya, setiap kali dihadapkan pada sebuah keadaan. Kejadian dalam waktu berbeda-beda penjelmaannya, bergantung pada tempat kejadian berlaku. Di dunia luar kejadian itu berupa perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain. Perpindahan tempat dalam ruang itu tak harus terputus. Berbeda dengan dunia dalam. Kejadian dalam jiwa, yang merupakan pengalaman batin, tidak bisa serbaterus. Ia bisa melompat-lompat, seperti dalam mimpi. Pemikiran pun dapat melompat. Syarat untuk peristiwa adalah urutan waktu, tapi itu belum cukup, untuk menjadikan peristiwa itu. Karena apabila tapi tidak terjalin hubungan dan penjalin tersebut adalah sebab-akibat. Hukum Kausalitas.

Peristiwa mengubah satu kejadian menjadi kejadian yang lain. Perubahan mengemukakan yang berubah. Dengan sendirinya dibaliknya tersembunyi sesuatu yang dalam perubahan itu tetap keadaannya, yang dapat menjelma dalam berbagai rupa, inilah yang dinamakan hakikat.

Datangnya peristiwa ada beberapa keadaan yang datangnya berturut-turut dalam waktu. Waktu adalah syarat bagi peristiwa. Tanpa adanya waktu tidak ada peristiwa. Perjalanan waktu memungkinkan adanya keadaan pertama, disusul keadaan yang kedua. Tanpa perjalanan waktu keadaan pertama tetap adanya. Gerak menjadi ada karena waktu. Surga digambarkan sebagai tempat tanpa peristiwa (tetap) karena disitu waktu berhenti.

“Mengapa aku selalu kalah?”

“Karena engkau memilih diam!”

Setiap pilihan, gerakan, nafas sekecil apapun yang manusia ciptakan, dimana andil-Nya hadir mempengaruhi alam semesta. Dan janganlah heran apabila sebuah keputusan kecil yang engkau lakukan sekejap mempengaruhi kelak, keseluruhan hidupmu.

“Diam itu tak terkalahkan!”

“Kata siapa? Seseorang dinilai bukan dari kekalahannya di masa lalu. Melainkan dari keberhasilannya sekarang atas kehancurannya di masa yang lalu?”

Akan tetapi neraka? Aku berusaha memahami bahwa ALLAH, terlepas dari segala keagungan-Nya, tidak merasa hina untuk menciptakan hal semacam itu. Sehingga aku, bagaimana mungkin merasa hina melihatnya. Bukankah, tidak ada substansi sekecil apapun di alam raya ini tercipta tanpa andil-Nya.

“Maka katakanlah padaku, diriku sendiri. Kemanakah kau ingin kuantar.”

“Aku ingin pergi ke kota Rasul, demi mencari maqam cahaya dan belerang Merah.”

(Mungkin) Benar! Aku harus bergerak, dalam langkah yang sedikit lebih panjang. Karena aku yakin, dan harus meyakini! Gerakkan aku ini, akan menguncangkan alam semesta. Sahabat, aku telah memutuskan untuk menempuh jalan untuk mencapai tujuan, sebuah bukit terjal yang menjadi penghalang (nanti) biarlah menjadi renungan dalam mencapai tujuan.

Bait Al Hikmah, 18 Syawwal 1434 H (bersamaan 25 Agustus 2013)

Artikel lain:

  1. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  2. Ketika Iblis Membunuh Sejarah; 10 Maret 2012;
  3. Yang Memukau Tak Selamanya Memukau; 30 Agutus 2012;
  4. Sang Penyair; 1 April 2013;
  5. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  6. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  7. Gaya Abadi; 23 Mei 2015;
  8. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  9. Momentum; 18 Mei 2015;
  10. Ramadhan Dan Relativitas; 27 Juni 2015;
  11. Khusyuk; 14 Juli 2015;
  12. Dimana Ada Cinta Disana Tuhan Ada; 7 September 2016
  13. Muhasabah; 5 Februari 2017;
  14. Idul Fitri Dan Hukum Tekanan Pascal; 25 Juni 2017;
  15. Pohon Kekekalan; 4 November 2017;
Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments