YANG MEMUKAU TAK SELAMANYA MEMUKAU

Disuatu senja ketika Matahari dan Bulan bertemu, menjaga jarak dan malu-malu.

YANG MEMUKAU TAK SELAMANYA MEMUKAU

Disuatu senja ketika Matahari dan Bulan bertemu, menjaga jarak dan malu-malu. Ini semua mengingatkan bahwa sebuah tubuh bisa gentar, ketika ia ditinggalkan segala kembang pemuas dahaga rohani. Segala seolah menjadi pahit, ironis dan kehilangan gairah di dunia yang tak mau mengalah.

Ingin mengatakan bahwa sekarang tak ingin lebih buruk dari masa lalu, karena masa lalu yang sangat buruk. Ketika masa lalu mengelak, ketika (kita) tak merasa terkait dengan petilasan tua, disitulah harapan hadir. Harapan atas keyakinan berjuang untuk setia pada mimpi, adalah kegilaan yang memberi harga pada manusia.

Dan (terkadang) kita harus pasrah menerima nasib buruk ini sebagai takdir. Ketika terhenyak merasakan perasaaan, perasaan yang sudah lama tak pernah datang. Dan (mungkin) tak ada tafsir kata yang akan tepat berbicara, ketika lidah seolah menolak berkata-kata padahal banyak yang ingin diungkapkan. Dan (ternyata) derita jiwa tak menumpul seiring bertambah usia. Perasaan terkalahkan ini, padahal kita sudah bertemu di sejarah yang lain. Tapi (memang) hidup manusia dilecut waktu. Yang memukau tak selamanya memukau.

Dan (mungkin) hanya dalam sengsara dan mengenal kesengsaraan kebesaran jiwa bukan sebuah kesombongan. Dan (selalu) sebuah pagi setelah hujan akan sangat menyegarkan.

XXXXXXXXXX

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Puisiku dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke YANG MEMUKAU TAK SELAMANYA MEMUKAU

  1. gold account berkata:

    Saya hanya membayangkan saat saya masih menginjak usia-usia remaja dan pemuda, meski sekarangpun masih merasa muda.. Saya ingin sekali ada seseorang yang usianya sudah melewati masa-masa itu dan sudah menikah menceritakan ‘perjalanan’ yang sudah dilewatinya dan meninggalkan jejak-jejak yang jelas yang berguna untuk saya jadikan tanda atau semacam petunjuk perjalanan di masa remaja-pemuda saya. Sehingga saya tahu rambu-rambu itu dengan jelas, tahu apa yang harus saya lakukan, jalan mana yang harus dilalui, mana yang tidak boleh dilalui dan ‘perlengkapan’ apa yang harus ‘dibawa’.

  2. Ping balik: ANNUAL REPORT 2012 | FROM KOETARADJA WITH LOVE

  3. Ping balik: MENCARI BELERANG MERAH | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.