Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Kenanglah saat-saat dimana kaki-kaki kecilmu berlari dipematang sawah.

SANG MAHA DURJANA

Dan kenanglah saat-saat dimana kaki-kaki kecilmu berlari dipematang sawah mengembala kambing, dan tersenyumlah mengingat kesedihan ketika kesayanganmu menghilang. Kamu bukanlah seorang gembala baik, namun bagaimanapun sejarahmu tetap membanggakanku. Dan ingatlah ketika tangan-tangan kecilmu menjamah kuburan Cina tanpa rasa takut, ya tanpa rasa takut demi sekerat apel busuk. Sesaji borjuis adalah makanan Proletar, sisa begitu nikmat bersama peluh, ya peluh dan kegembiraan.

Sang Maha Durjana, kamu bukanlah sosok itu lagi. Kamu adalah kamu, namun waktu telah menjebakmu. Sejarahmu tak membentukmu menjadi bijak, entah angkara apa yang merasukimu. Ya, waktu telah mengubah segalanya. Ketika kamu menjadikan dirimu orang yang paling kamu benci, dahulu. Tak sangka itu dirimu sendiri.

Ya, kamu bukanlah anak bertubuh ceking itu. Yang bergetar membaca buku Godaan Iblis di perpustakaan sekolah ketika Iblis menciumi keping uang logam pertama, dan ketika Iblis bersumpah bahwa sang Raja Syaitan Ridha dan ikhlas jika keping uang logam itu lebih di tuhankan dibandingkan dirinya demi menyesatkan manusia.

Kamu adalah kamu yang sekarang, yang manipulatif. Kulitmu melembut bersama wajahmu yang semakin berisi. Materi betapa kamu berkata itu tiada guna, namun betapa dengan culasnya kamu menggunakan kuasanya untuk membuatmu digjaya.

Ya, Sang Maha Durjana. Bahkan kamu belum sekaya Karun. Namun ternyata dirimu memiliki keangkuhan yang sana. Kitab-kitab Fiqih yang kau baca dahulu mempermanis bibirmu namun bukan hatimu. Ahli sufi cita-citamu dulu, sekarang terlalu naïf untukmu yang sekarang.

Kesombongan itu dari mana? Ketika engkau berkata terlambat untuk berubah. Layaknya Iblis yang menolak datang pada pintu taubat walau itu selamanya ada hingga kiamat. Ketahuilah itu semua tak akan meninggikan derajatmu, hanya kamuflase dimana sebenarnya kamu adalah manusia hina dina.

Ingin kukatakan padamu, semuanya belum terlambat. Mengingat hidungmu menghirup debu seraya mengepakkan sayap. Belum terlambat untuk melahirkan dirimu yang baru, yang putih bersih dan polos seperti dahalu. Tersenyum aku mengingat kamu memiliki kuasa atas dirimu tak terikat benda, menjadi manusia merdeka. Belum terlambat kawan, sahabat, teman seperjuangan dan juga diriku sendiri. Belum terlambat, sama sekali belum bahkan ketika mendapati dirimu terhina, bukan oleh orang lain tapi oleh kelakuanmu sendiri.

Takdir telah mengejutkan seseorang lelaki, betapa banyak perubahan dalam waktu singkat. Tempat yang sama bahkan terlihat berbeda jika memandang dalam waktu singkat. Namun garis takdir akan lebih mengejutkan seorang lelaki ketika mendapati dirinya berubah menjadi sosok yang sangat dibenci olehnya dahulu dalam waktu yang singkat.

Advertisements
Advertisements

11 thoughts on “SANG MAHA DURJANA

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: