PASRAH

Sebab dalam cermin, manusia seperti melihat sosok lain yang memiliki posisi sebaliknya

PASRAH

Ketika Aku meyakini telah melakukan apa pun yang bisa aku lakukan, dan ketika telah merasa tidak bisa melakukan apa-apa lagi, aku telah berdamai dengan takdirku, dan aku tidak melawannya lagi tanpa guna. Itulah yang aku namakan kebijaksanaan, meski (mungkin) beberapa orang akan mengatakan ini sebuah kelemahan.

Mereka yang tidak tahu berapa lama aku mampu menantang takdir, untuk kemudian berakhir. Menjadi abu atau debu. Padahal dalam keberadaan yang sejenak, aku berusaha memilih dengan bijak, melangkah perlahan. Mencoba, untuk berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, berkali. Dan jika engkau berkata, aku tak berusaha dengan sungguh. Mungkin, kau harus belajar menyadari, bahwa aku tidak setangguh itu.

Seseorang yang lebih berani, lebih tangguh dariku. Akan menyerang, dalam kondisi yang membuatku pasrah. Aku mengakui hari ini, mungkin karena aku sudah mengerti diriku sedikit lebih dari sebelumnya, bahwa di dunia yang luas ini, ada orang lebih bijaksana, lebih berpengalaman dibandingkan aku.

Aku, ketika aku menatap kecermin. Adalah seseorang yang pernah merasakan situasi antara hidup dan mati, pernah ketika aku mengucapkan syahadat pasrah, diberi kesempatan untuk menjalani hidup untuk kedua kali. Di malam ini, aku teringat bahwa sungguh segala kesenangan dunia adalah fana dan senantiasa berganti-ganti.

Semua kesenangan dan kebaikan yang dapat diperoleh oleh seorang anak manusia kuperoleh dari-Nya, kata-kata ini akan lebih bermakna bagi mereka, yang pernah diberikan kesempatan hidup lebih dari sekali, untuk itu, akan kutelan segala caci, kutuk sekaligus benci dalam benak pasrah.

Aku mundur dari medan pertempuran, untuk alasan-alasan yang sekarang pun tak mampu kusarikan dalam kata-kata, aku mendapati diriku menangis, tetapi mungkin karena aku terlalu lelah. Kalau aku tidak ingin menjadi sesuatu yang kubenci, maka lebih baik aku pergi. Aku merasa letih dan ingin sendiri.

XXXXX-XXXXXXX-XXXXX

Katalog Oase:

  1. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  2. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  3. Cerita Tentang Masa Lalu; 1 Juli 2009;
  4. Salam Rindu Selalu; 9 Juli 2009;
  5. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  6. Angin; 19 Februari 2010;
  7. Manusia; 18 Maret 2010;
  8. Kekuatan Hati; 27 Maret 2010;
  9. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  10. Memoar Romantik; 15 Juni 2010;
  11. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  12. Bermain Dengan Waktu; 21 Mei 2011;
  13. Mengapa Harus Berkata; 3 Februari 2012;
  14. Tentang Aku, Kamu Dan Kita; 10 Februari 2012;
  15. Pada Akhirnya Kita (Juga) Tak Paham; 19 Februari 2012;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Cerita, Kolom, Puisiku dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke PASRAH

  1. Ping balik: MANUSIA | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.