Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Guru, aku mengenalmu dalam banyak perwujudan. Yang bernama buku. Gudang ilmu.

KEKUATAN HATI

Guru, sudah lama kita tak bertemu dalam pertemuan mesra. Entah mengapa malam ini aku rindu padamu. Bau apak khas buku, keharuman yang hanya bisa ku mengerti. Ketika indera penciuman mengenalinya dan menyampaikan stimulusnya ke otak. Bulu romaku berdiri. Sudah lama ya guru.

Guru, engkau menyampaikan Decartes berkata, “Aku berpikir karena itu aku ada.” Engkau menjelaskan Newton tentang aksi dan reaksi dengan sederhana. Einstein, tanpamu aku tak mengerti relativitas, bahkan mungkin juga aku sampai saat ini aku tak kunjung menguasai. Setidaknya dengan bantuanmu aku sedikit memahami.

Kubuka kembali lemari buku ini, tempatmu bersemayam. Naifnya aku menamakan tempat ini perpustakaan pribadi. Sudah hampir lima tahun di kota ini, aku membangun impian lama ini. Belum sehebat yang pertama, di Banda Aceh sana dalam rentang waktu yang hampir sama aku pernah membangun idealisme yang sama dengan hasil tiga kali lebih baik.

Guru, kehidupan itu bukanlah suatu hal yang harus disesali. Bukan begitu guru? Meski dulu aku tidak memiliki kekuatan. Meski dulu garis takdir tak pernah mengantarkan kakiku melangkah keberbagai kota untuk mengejarmu. Saat dimana aku belum terikat hukum harta dan benda. Mungkin ada yang hilang didiriku guru, aku menamakannya kekuatan hati.

Guru, aku mengenalmu dalam banyak perwujudan. Yang bernama buku. Gudang ilmu. Ada masa dahulu dimana aku tak bisa makan lahap tanpamu, ada masa-masa dimana aku terlelap dengan dirimu dipelukanku. Tujuh tahun itu belum terlalu lama guru, ketika pertama kali aku pergi melangkah keluar dari kampung itu. Pertama kali keluar dari kepompong dalam proses metamorfosa. Belum selesai guru.

Guru, aku bersedih mengingatmu. Mengingat perpustakaan yang pertama. Yang berakhir dalam kardus-kardus yang tak segan direnggut tikus. Terlantar disana dikotaku. Yang kutinggalkan disana tidak memiliki militansi yang sama untukmu. Aku tidak marah, hanya sedih. Tuhan memberi kekuatan. Dan juga ia menganugerahkan kelemahan. Semangat yang kuat terhalang oleh hidungku guru, ia tak mampu memfilter debu dengan sempurna. Dalam setiap kepulanganku, aku tak mampu mengadministrasikan dirimu dengan baik.

Guru mungkin aku adalah orang yang angkuh. Padahal dulu sekali ketika aku masih sangat kecil. Kakek pernah menganjurkanku bergaul dengan karib padamu. “Bacalah buku sebanyak mungkin niscaya kamu akan menjadi bijaksana.” Belum dilevel itu guru, masih jauh. Namun setidaknya aku masih memiliki impian kesana. Tanpa maksud dan niat memberhalakanmu. Terima kasih guru, untuk segala ilmumu. Untuk semua yang kau ajarkan padaku selama ini.

“Sesungguh ketika raga terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri asing. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan para kaisar, menunggangi kuda dipadang stepa Mongol, membelah rimba Afrika, dan memandangi selat Bophorus, atau bercengkrama ditaman kota Sevilla”

XXXXX

Advertisements
Advertisements

3 thoughts on “KEKUATAN HATI

  1. “Sesungguh ketika raga terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri asing. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan para kaisar, menunggangi kuda dipadang stepa Mongol, membelah rimba Afrika, dan memandangi selat Bophorus, atau bercengkrama ditaman kota Sevilla”

    XXXXX

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: