To make people laugh at the truth, to make the truth laugh.
MISSION LOOKING FOR ABU NAWAS
SEARCHING FOR !!! Abu Nuwas or often called Abu Nawas, Born 747 AD in the Abbasid Caliphate. His work Poet. Last seen Baghdad century IX. Civilization yearns with a simple figure, making us believe that nothing is more beautiful than the streets on a clear day.
Who is Abu Nawas? In our childhood, we know him as a funny person, or a clever person who breaks away from a difficult puzzle. We take it less seriously, the clowns needed to be laughed at, or laughed at during the reign of Caliph Harun Al-Rashid.
Somehow, the fame of Abu Nawas, the poet of Baghdad, crossed a very long space and time. He was born in Ahaz, Iran, in the VIII century and died in Baghdad, the IX century. At that time, even the Pasai Sultanate, the first Islamic empire in Southeast Asia was not even established yet. Our ancestors still adhered to animism, and or dynamism.
Maybe we miss with impressive experiences, stories of wisdom in fresh humor, attached to the community. Because a cheerful life without humor will be exhausting, and as sweet as a joke is coming from below, from the oppressed and the ignorant. The most humorous humor is laughing at those who are weak, defective and helpless.
Funny? Moron? Wise? Can be. In the structure of our society here, a poet like Abu Nawas if it is possible to ridicule may be ridiculous. Abu Nawas can display the impression like that, for those who think life is just order, obedience, harmony. Abu Nawas opened a new path, with wine-drunk poems with his language freedom, irony, and humor, with his mocking insights.
There is a lack of it. Maybe he wanted to shake what seemed to be neat and orderly. Saying things to those who look polite and pious. Probably not a coincidence, if one mentions that Abu Nawas is a Sufi poet. Those who sing the favors of “wine” in “lovesickness” with God.
Drunkenness, whether literal or figurative, is against the law. Abu Nawas digress there, maybe that’s why Abu Nawas in our country far away often associated with funny figures, something “weird”.
Abu Nawas brings irony, humor, gaps that interrupt amid the impermanence of confidence and the arrogance of a great agenda. With his clothing, he infiltrated into society, living, parrying and singing their way. That is why Abu Nawas is attached to us, everyone who feels himself is nobody.
Fantasy, the story did change with the times. But in spite of it all, people prefer smart people who are humble, morally and seek with them. That is probably why the recording of lectures of the famous preacher Zainuddin MZ, still feels good to be heard even while jogging in the afternoon, now.
Which is worth thinking about, if indeed Abu Nawas really deviate, why he is not silenced? Though he lived in Baghdad century IX, the period of the Abbasid caliphate, the peak of the glory of Islam. It could be that Baghdad was a city full of confidence, open to almost every thought and experiment, to new questions and quests. Abu Nawas probably reflects the current ruler Harun Al-Rashid, dared to open. Mocking and laughing at yourself.
Abu Nawas and Harun Al Rashid are anomalies. The seat of power is usually, will change a person. Could be a comedian will turn 180 degrees to be capable when holding the power, or could be a scholar cleric to be greedy after sitting down, could be smart people become dumb.
Those who are accustomed to power and rule are generally difficult to understand the poetry and the magic of magical objects born unexpectedly from the heart. Abu Nawas may be mirrored by a brave Caliph Harun Al Rashid. Dare to open, laugh and wrestle with the commoners.
And today we know how fortunate it can be to discover the beauty of a work and the wisdom of the past, which is not recurrent in the present, after the triumphs have passed.
Secangkir Kopi di puncak gunung Geuruete (Pesisir Barat Aceh) Foto: Nanda Rizaldi Lubis
SECANGKIR KOPI DARI ACEH
Malam itu, 11 Februari 1899, di pinggiran Kota Meulaboh, sebelum melakukan penyerangan ke markas Belanda, ia berkata kepada para pengikut setia. “Besok pagi kita akan minum kopi di kota Meulaboh atau aku akan syahid!” Lidah orang tersebut, ternyata pahit, layaknya kopi tanpa gula. Dari semak belukar pergerakannya udah dinantikan oleh barisan pasukan marsose. Ia rubuh diterjang peluru di pantai Ujong Kalak.
Prasasti pada pintu menuju kompleks pemakaman Teuku Umar.
Teuku Umar, dan kisah perjuangan tak sampai menjadi sebuah kisah yang menjangkau kemana-mana. Pada sepanjang hembusan angin kita tak mesti mempertanyakan mengapa kisah tercuri dari sejarah, beberapa bertambah. Terpujilah dia yang dilahirkan di Barat, ia yang bermulut manis, yang culas namun tak kuasa menampik panggilan batin yang menggelegak. Teuku Umar adalah sejarah yang tak berulang, ia dianggap pengkhianat sekaligus pahlawan, dicaci dan juga dipuja. Kisah hidupnya adalah legenda yang dipenuhi ketegangan, antara amarah dan cita-cita, kemungkinan dan juga tipu data, ketergusuran, nostagia dan akhirnya kematian.
Secangkir kopi dari Aceh mengingatkan kita akan dirinya, sebagai wasiat terakhir yang dia ucapkan. Kopi misterius dan juga memikat, ia pelan-pelan menjadi sesuatu hal yang menjangkau khalayak ramai. Di kota-kota yang sedang tumbuh, perdagangan menyeruak, kehidupan masyarakat kian terbuka. Kopi menjadikan pergaulan lebih egaliter, dan menghabiskan waktu senggang bersama berkembang menjadi popular.
Saat ini dunia sangat menggemari kopi, bagaikan irama kopi membuktikan kekuatannya dalam suasana asyik, bebas, tak harus bertujuan, dan dengan kopi tanpa harus mabuk, membuat jiwa lepas dari hal-hal yang mencemaskan, ekonomi atau politik yang tak karuan. Kopi adalah simfoni tentang kebebasan, dengan kopi, ada sesuatu terjadi.
Secangkir kopi Aceh layak dinikmati, dengan waktu berlalu terus, warung kopi bukan hanya tempat orang bisa asyik berdebat, berembuk, minum-minum, main catur, kalah dengan sebal, atau menang dengan riang, asal membayar.
Illustrasi Teuku Uma pada tahun 1896.
Secangkir kopi Aceh harusnya mengingatkan kita tentang kisah seseorang yang tak pernah lelah untuk bangkit kembali, sampai dengan akhir. Ya, hidup memang tak pernah mudah, terlalu banyak kondisi, terlalu banyak kepentingan.
Rasa dan aroma kopi Aceh yang kuat, membangunkan alam sadar kita bahwa sejarah tak banyak mengkisahkan kemenangan, ada banyak kepergian dan kehilangan, bahwa yang paling penting itu bukanlah kemenangan atau kekalahan, melainkan perjuangan.
Dalam renungan secangkir kopi dari Aceh, demikianlah lupa dan ingatan bisa dibongkar untuk diteriakkan kembali, oleh si pemalu bersuara lirih itu. Sungguh dalam imajinasi kita, kita memiliki kekuasaan akan waktu.
“Do you think the moon is beautiful? Please tell me the beauty of the moon until you look at it while lying down.”
THE BEAUTY OF THE MOON
“Do you think the moon is beautiful? Please tell me the beauty of the moon until you look at it while lying down.” Artemis asked Apollo.
“The moon in its solitude, withstand the onslaught of all meteoroids hit just to reflect sunlight to the earth. Makes me feel alone when I am lonely.” Apollo’s eyes still staring at the dim moon sky in the sky.
“I do not understand the meaning of loneliness, sadness and want to belong to who I am. Especially I just want to live for my own sake in this world.” Doubt is a sucker who pierces anyone, including Apollo.
Artemis is the goddess of hunting, wild, virgin, and hills.
“Should I swear on behalf of the moon to convince you, my brother? That I will never leave you.” Artemis asked the twin.
“Do not swear on behalf of the moon, my sister. Because the moon relies on the sun upon, it is often lost in the weather. Although he is able to control the tides of the ocean it is only temporary and never forever.” Apollo’s head bowed.
Artemis smiled, really not expecting his mighty twin. Too blinding from afar, is a manifestation of perfection for him so soft, like a shell that protects itself with its shell. “What should I do?”
“Be thankful that you are blessed with tears in which you are immersed in it but are able to withstand the weight of the highest mountain in the world, it is capable of stemming suffering over the ocean.” Apollo took a deep breath, his nose was watery.
Artemis was silent. Intelligence overcame the wishes of the moon princess to talk a lot.
Oase.
“My sister, the moon and the sun are destined to a great distance. As your departure will be from our side, but rest assured that as far as the sun from the moon he will still send a form of light that will make the moon stay glowing. And when I feel lonely with your departure, your brother will look at the moon and talk to her.”
Apollo ended the conversation, got up and left. Is there something more viscous than blood? Give me the answer.
Risalah Sang Durjana. Episode: Apa artinya lelaki.
RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DUA
Harta yang paling berharga
Istana yang paling indah
Puisi yang paling bermakna
Mutiara tiada tara adalah Keluarga
(Keluarga Cemara)
XXX
Bandar Aceh Darussalam, circa 1873
Apakah artinya lelaki?
Lumpur menempel di sepatuku setiap kali melangkahkan kaki, kaki ini terasa letih dan pegal sekali. Rasanya tanah sudah mencabut sepatu dari kaki ini. Tadi aku tergelincir di saat-saat yang tidak menguntungkan ke dalam timbunan yang dalam. Manusia, binatang dan gerobak lewat terus menerus membuat tanah setebal lima belas senti menjadi tanah rawa yang nyaris tak bisa dilalui. Sambil tersaruk-saruk maju, aku memikirkan ibu kota, takut kalau pertempuran sampai kesana. Kuharap idiot-idiot itu berhasil melewatkan malam tanpa terbunuh. Tubuh bagian kiri masih berdenyut-denyut, pengecut sialan.
Kini aku sudah mendekati rumah, setelah berminggu-minggu bersiaga di pesisir mungkin aku butuh istirahat selama 1-2 hari. Aku masuk lewat belakang, aku melihat istriku berdiri di atas ember berisi air panas bersabun, sedang menggosok pakaian di atas papan pengilasan. Lengan bajunya digulung sampai ke atas siku, dan pipinya memerah karena memeras tenaga, ia tidak pernah tampak lebih cantik lagi di mataku. Istriku adalah penghiburanku, penghibur dan tempat berlindung. Dengan menatapnya saja sudah membantu meringankan rasa kebas yang mencengkram.
Melihatku, ia segera meninggalkan cuciannya untuk berlari menghampiri, menggunakan bagian depan roknya untuk mengeringkan tangannya yang memerah. Aku sedikit mengambil ancang-ancang ketika ia melontarkan diri kepadaku, melingkarkan lengan di dadaku. Sisi tubuhku terasa nyeri, dan mendengus kecil.
Ia melonggarkan pelukannya dan mencondongkan tubuhnya menjauh, mengerutkan kening. “Oh! Apakah aku menyakitimu?”
“Tidak. Aku hanya sedikit pegal.”
Ia tidak bertanya lagi tapi kembali memeluk, lebih lembut, dan menegadah menatapku, matanya berkaca-kaca. Ia memelukku di pinggang, aku membungkuk dan menciumnya, aku sangat bersyukur akan kehadirannya.
Istriku melingkarkan lengan kiriku pada bahunya sendiri, dan aku membiarkan ia menopang setengah badan selagi kami menaiki tangga rumah. Sambil mendesah, aku bersandar diselasar, ia mendekatkan diri ke api kecil di dapur yang dinyalakannya memanaskan air, tempat sekuali sie reuboh1) sedang bergolak.
Ia menuangkan sie reuboh pada mangkuk dan menyerahkannya kepadaku. Kemudian ia kembali ke dapur, membawa segelas air dan sepiring nasi. “Ada lagi yang kau butuhkan?” Ia bertanya, suaranya kedengarannya serak, tidak seperti biasanya.
Aku tidak menjawab, hanya menangkupkan tangan pada wajah istriku dan mengelusnya dua kali dengan ibu jari. Ia tersenyum gemetar dan meletakkan tangannya pada tanganku, kemudian ia turun ke bawah mengambil cuciannya.
Aku menatap makanan lama sekali sebelum menyuap, merasa tegang, merasa ragu bisa mencerna makanan ini. Namun setelah beberapa suapan nasi, seleraku kembali dan mulai menyantap sie reuboh dengan lahap. Setelah selesai, aku meletakkan piring dan mangkuk di atas meja kemudian mencuci tangan dan meminum sisa air.
“Kami mendengarkan suara keras tembakan dari arah laut,” katanya, sambil memeras kain sampai kering. “Apakah kaphe2) akan segera datang kemari?”
“Tidak, kami akan mengusir mereka di pantai, mereka tidak akan pernah sampai kemari.”
Aku menatap perut istriku ketika ia menyampirkan kain pada jemuran darurat yang dibentangkan di serambi rumah. Kapan saja aku memikirkan anak yang sedang dikandungnya, ia merasakan kebanggaan luar biasa, tapi disertai kecemasan, karena tidak tahu bagaimana cara menyediakan rumah yang aman bagi bayi kami nanti. Juga, jika perang belum selesai pada saat ia melahirkan, ia berencana meninggalkan garis depan dan pergi ke Pidie, tempat yang jauh dari medan pertempuran, tempat kami bisa membesarkan anak dalam suasana yang cukup aman.
Aku tidak bisa kehilangan mereka, tidak pernah.
“Bagaimana keadaan di pantai?” Ia bertanya. “Bagaimana?”
“Kami harus berjuang untuk mempertahankan setiap jengkal tanah.”
“Orang-orang membicarakan betapa banyak kapal-kapal hitam musuh di laut, kadang-kadang mereka menembak, bahkan ke pemukiman di pesisir.”
“Iya.” Aku membasahi lidah dengan air, kemudian aku mendeskripsikan bagaimana Belanda telah mengepung lautan. Betapa kekuatan laut armada Kesultanan Aceh Darussalam hanya tinggal kenangan, tidak ada kapal-kapal perang kami yang menyambut mereka. Halangan-halangan yang dihadapi Belanda nantinya hanya terfokus di darat saja. Kaum Uleebalang3) meski aku tak membenci mereka seluruhnya, tapi sedikit banyak ini terjadi karena nafsu teritorial mereka, sehingga membuat kekuatan Kesultanan Aceh Darussalam saat ini hanya terfokus di darat.
“Tapi rencana kaphe tak akan berhasil, orang-orang kita akan bertarung dengan berani. Ku dengar kau pun bertarung dengan berani.”
Aku tertawa. “Ha! Sebenarnya tidak istriku. Aku beritahu, sebenarnya tidak sampai dari sepuluh lelaki yang sebenarnya ingin berperang. Sebagian besar mereka ragu untuk bergerak dan tidak ingin bertarung kecuali terpojok. Atau mereka hanya berisik tapi tidak melakukan apa-apa.”
Istriku terperangah. “Bagaimana bisa begitu? Apakah mereka pengecut?”
“Aku tidak tahu. Kurasa, kurasa pertama pasukan kita sebenarnya bukan tentara, kebanyakan hanyalah pedagang, petani dan orang-orang biasa. Tentu beda dengan musuh yang seluruhnya adalah tentara terlatih. Kedua, mereka belum pernah membunuh sekalipun seumur hidup, jadi mereka tidak mampu menatap seseorang secara langsung dan membunuh lawan nantinya. Maka mereka selalu mengharapkan ada orang lain yang tidak mampu mereka selesaikan. Mereka menunggu orang seperti aku.”
“Apakah pasukan Belanda sama enggannya?”
Aku mengangkat bahu. “Mungkin saja, tapi mereka adapah pihak yang datang menyerang. Mereka tidak punya pilihan lain. Mereka datang untuk berperang, maka mereka pasti bertempur.”
Ia meninggalkan cuciannya dan mencium dahiku. “Aku senang kau bisa melakukan apa yang perlu kau lakukan suamiku.” Ia berbisik, “tadi aku merasakan sesuatu, aku merasakan sesuatu terjadi padamu.”
“Aku sedang berada di depan medan pertempuran. Tidak mengejutkan jika kau merasakan kecemasan setiap menit.”
Ia berhenti menggosok dengan tangan penuh air, “sebelumnya aku tidak pernah merasakan begitu.”
Aku mencari alasan untuk menunda hal yang tak terhindarkan. Aku berharap bisa menyembunyikan detail kemalangan yang menimpanya di garis depan, tapi jelas sekali ia tidak akan berhenti mendesak sebelum mengetahui kebenarannya. Berusaha meyakinkan istriku bahwa tidak terjadi apa-apa malah akan membuat ia membayangkan kejadian yang jauh lebih parah daripada yang sebenarnya. Lagi pula, tidak ada gunanya aku menahan informasi ketika kabar kejadian itu akan menyebar juga di kalangan orang-orang Aceh.
Maka aku memberitahu, aku bercerita singkat dan berusaha menjabarkan runtuhnya pertahanan kami akibat dimeriam oleh kapal hitam Belanda hanya sebagai sesuatu yang menjengkelkan semata, bukan hal yang nyaris membuatku terbunuh. Tapi aku kesulitan untuk menjelaskan pengalaman itu, dan berbicara tersendat-sendat, mencari kata yang tepat. Ketika selesai, aku terdiam, gelisah mengingat kejadian itu.
“Setidaknya kau tidak terluka?” Katanya.
Aku mencongkel lantai dengan kuku, ‘tidak.” Suara air tidak berkecipak lagi, aku merasa ia menatapku.
“Kau pernah menghadapi bahaya yang jauh lebih besar.”
“Ya, kurasa begitu.”
Suaranya melembut. “Kalau begitu, apa masalahnya?” Ketika aku tidak menjawab, ia berkata. “Tidak ada hal begitu mengerikan sampai kau tidak bisa memberitahuku, suamiku. Kau tahu itu.”
Ujung kuku ibu jari kananku tertusuk ketika aku mencungkil lantai lagi. Aku menggosok-gosok ujung kuku yang jadi tajam beberapa kali dengan telunjuk. “Aku mengira akan tewas ketika tembok itu runtuh.”
“Semua orang bakal berpikir begitu.”
“Ya, tapi masalahnya, aku tidak keberatan.” Dengan penuh kecemasan aku menatap istriku. “Tidakkah kau mengerti? Aku menyerah. Ketika aku sadar tidak bisa mengelak, aku menerimanya begitu saja seperti kambing yang hendak disembelih, dan aku.” Aku menutup wajah dengan tangan. Leherku tercekat dan membuatku sulit bernafas. Kemudian aku merasakan jemarinya lembut dibahuku. “Aku menyerah,” aku menggeram, marah dan jijik pada diri sendiri. “Aku berhenti berjuang, untukmu, untuk anak kita.” Aku tercekat.
“Sst, sst,” Ia bergumam.
“Aku belum pernah menyerah. Tidak satu kali pun. Bahkan ketika tahu kaphe telah mengeluarkan maklumat perang.”
“Aku tahu.”
“Perang ini harus berakhir. Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa. Aku.” Aku menegadah dan dengan ngeri melihat ia pun hendak menangis. Aku berdiri, melingkarkan lengan pada tubuhnya dan memeluk erat. “Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Tidak akan terjadi lagi. Aku berjanji.”
“Aku tidak memedulikan itu.” Katanya, suaranya membekap dibahuku.
Jawaban istriku membuat aku merasa ditampar. “Aku tahu aku memang lemah, tapi setidaknya kata-kataku seharusnya berarti untukmu.”
“Bukan itu maksudku!” serunya, dan menarik diri menatapku dengan sorot menuduh. “Kadang-kadang kau memang bodoh suamiku.”
Aku tersenyum samar. “Aku tahu.”
Ia mengaitkan tangan ke belakang leherku. “Pandanganku padamu tidak akan berkurang, apa pun yang kaupikirkan ketika tembok runtuh. Yang terpenting adalah kau masih hidup. Tidak ada yang bisa kau lakukan ketika benteng itu runtuh, bukan?”
Aku menggeleng.
“Maka kau tidak perlu merasa malu. Kalau kau tidak bisa menghentikannya, atau jika kau bisa meloloskan diri tapi tidak melakukannya, maka kau akan kehilangan rasa hormatku. Tapi kau sudah melakukan apa pun yang bisa kau lakukan, dan ketika kau tidak bisa melakukan apa-apa lagi, kau berdamai dengan takdirmu, dan kau tidak melawannya tanpa guna. Itu adalah kebijakan, bukan kelemahan.”
Aku membungkuk dan mencium dahinya. “Terima kasih.”
“Bagiku, kau adalah lelaki paling berani, paling kuat dan paling baik di seluruh Aceh.”
Kali ini aku mencium pipinya. Setelah itu ia tertawa, singkat dan lepas dari ketegangan, kami berdiri dan berayun-ayun berdua, seakan-akan menari mengikuti melodi yang hanya bisa kami dengar berdua.
Kemudian ia mendorongku sambil bercanda lalu melanjutkan mencuci, aku kembali duduk pada serambi rumah, merasa nyaman untuk pertama kalinya sejak perang, meski tubuh ini nyeri dan pegal-pegal.
Dari atas rumah aku mengamati istriku di sumur, dan aku melihat, selagi istriku bekerja, bagaimana suasana hatinya yang ceria berangsur-angsur berubah menjadi jengkel. Ia terus menggosok dan menggosok noda lumpur, tapi tanpa hasil yang nyata. Kerutan menguasai wajahnya, dan ia mulai mendengus karena frustasi. Akhirnya, setelah ia melemparkan gumpalan kain ke papan penggilas, memercikkan air berbusa beberapa meter keatas, dan bersandar pada ember, bibirnya dikatup rapat-rapat. Aku turun dari rumah panggung dan mendatanginya, mencoba menolongnya.
“Sini, biar aku saja,” katanya. “Itu tidak pantas.”
“Omong kosong. Duduklah, aku akan menyelesaikan.”
Ia menggeleng. “Tidak, seharusnya kau yang beristirahat, bukan aku. Lagi pula, ini bukan pekerjaan laki-laki.”
Aku mendengus. “Siapa yang bilang? Pekerjaan laki-laki, atau pekerjaan perempuan, ini adalah pekerjaan yang harus diselesaikan. Sekarang duduklah. Kau akan merasa lebih baik begitu kakimu diistirahatkan.”
“Aku baik-baik saja.”
“Jangan konyol.” Dengan lembut aku mendorongnya menjauh dari ember, ia bergeming.
“Ini tidak benar,” ia memprotes. “Apa yang dipikirkan orang?” Ia menunjukkan kepada rumah tetangga.
“Mereka boleh memikirkan apa saja. Aku menikah denganmu, bukan mereka. Kalau mereka menganggapku bukan laki-laki sejati karena membantumu, maka mereka orang yang tolol.”
“Tapi.”
“Tidak ada tapi-tapi. Ayo. Sana.”
“Tapi.”
“Aku tidak akan berdebat. Kalau kau tidak mau duduk, aku akan mengendongmu ke sana dan mengikatmu ke tiang rumah.”
Eskpresi geli mengantikan kerutan di wajahnya. “Oh, begitu ya.”
“Ya, sekarang pergilah!” Ia masih enggan meninggalkan, aku mendesah tidak sabar. “Kau keras kepala ya?”
“Tidak, aku tidak keras kepala. Kau mau teh?” Ia bertanya. “Mak Biyah memberiku segengam pucuk teh segar tadi pagi. Aku bisa membuat sepoci untuk kita berdua.”
“Aku mau.”
Keheningan nyaman berlangsung di antara kami ketika aku melanjutkan mencuci. Kegiatan itu membuat perasaanku terasa damai. Aku senang melakukan pekerjaan dengan tanganku selain mengayunkan kelewang, dan berada dekat dengan istriku membuatku merasa nyaman.
Aku sedang memeras kain terakhir, dan tehnya baru dituang menungguku disebelah istriku, ketika seseorang meneriakkan namaku dari seberang jalan. Butuh beberapa lama sebelum aku menyadari Baka-lah yang berlari kearah mereka melintasi lumpur. Seorang sahabat yang dikenalnya tepat sebelum perang dimulai, awalnya dia adalah seorang saudagar beras yang menjual hasil bumi sampai ke pulau Jawa, perang telah membuatnya menjadi pendekar yang andal. Aku tahu, bahwa aku bisa mempercayakan sahabatku itu dalam situasi yang paling gawat sekalipun.
Aku meletakkan cucian dan mengeringkan tangan, bertanya-tanya apa yang terjadi. Ketika Baka tiba, kami harus menunggu beberapa detik sampai nafasnya normal kembali. Kemudian, buru-buru, ia berkata. “Ahmad, Panglima Tuanku Nanta Setia memanggilmu ke garis depan, ada pergerakan dari kapal Belanda.”
Aku menatap istriku, ia mengangguk.
“Suamiku akan segera kembali kesana secepat mungkin.” Dengan paras berterima kasih Baka berbalik dan berlari pergi. Sementara istriku masuk kerumah mengambil perkakas miliku, aku membereskan ember dan cucian. Rasa takut dan semangat membuat gerakanku semakin cepat, kuharap aku tidak terlambat.
“Kau sudah siap?” Istriku mengalungkan kain dileherku. Ia mengenakan selendang biru pada kepala dan lehernya.
Aku mengangguk, menciumi dahinya. Perang sudah akan dimulai, aku tidak tahu apakah takdir masih akan memperjumpakan kami. Aku berbalik pergi, sayup-sayup aku mendengar suara tangis yang ditahan. Aku ingin berbalik, sungguh ingin berbalik, tapi aku tak bisa berbalik. Menciumi kain yang diberikan istriku, aku berlari menuju pantai.
XXX
“Ketahuilah, dunia hanyalah ibarat tempat persinggahan musafir melepas penat pada waktu malam dan ketika pagi ia pun pergi meninggalkan.” – Inskripsi pada sebuah makam pada Kerajaan Samudera Pasai abad ke-10 Hijriah.
XXX
Sie reuboh = Makanan Aceh berupa daging lembu atau kerbau yang diberi cuka dan bumbu, selain jenis makanan juga merupakan sistem pengawetan daging yang membuatnya mampu membuat makanan disimpan dalam waktu lama. Ketika hendak dimakan hanya perlu dipanaskan kembali;
Kaphe = Bahasa Aceh untuk kafir, sebuah terminologi yang digunakan orang-orang Aceh pada masa itu untuk kolonialis Eropa baik itu Belanda maupun Portugis;
Uleebalang = Raja-raja kecil di bawah Sultan Aceh, sejenis “landlord” yang memiliki pasukan dan wilayah teritorial.
He is the Devil, who never does anything, he just whispers the temptation into the hearts of the human beings. I am a weak man, my legs are getting trembling with fear. He who was so powerful almost gripped me in his wisdom face. The more I think the more I fear, that I have just met the Devil himself.
INTERVIEW WITH THE DEVIL
This universe, where we live in an uninterrupted struggle. As hard as I try, I often fails. And I just want a little fun in the world, a little economic pleasure, and can be with people I love. It does not have to be excessive, just enough. Huff and I are not asking for anything excessive but why it all seems away from me.
Once I’ve tried my best, working day and night but what I say is less successful doing what I should be able to do, I feel tired of reaching what I can’t reach. Doubtful, I’m nervous I stare in silence.
Tonight, the silence without the wind, after Isha1) I finally follow the advice of a friend, really tormented me up the mountain slope Mata Air, past Elang Village is an hour more. I do not know what I think so far so far, my skin itched from mosquitoes, unfortunately, I thought. I tried to ward off the drowsiness that came.
Twelve hours before.
“Actually I do not want to talk about the secret of my success to others, but because I see you’re still like this, I will share it with you, a tip that will change your life my best friend. In the Mata Air mountains, the road passes through Elang Village to the summit where you will meet the Catalyst.” My friend rubs a jewel-eyed ring on his finger. She smiled. “He is a spiritual advisor to me, to say, I am now thanks to his help, thanks to his good advice.”
I stared at my friend, look at him now so successful. Wearing a gray suit with a khaki tie. His shoes are a famous brand imported from Switzerland. It’s great he can be as successful as this. What’s the secret? Whereas once when high school often he almost did not pass because not able to learn well. Those days are long gone, now he’s a member of the House of Representatives, and look at my fate of a class star instead of being a market gatekeeper. What fate is this!
He smiled when he saw me thinking hard. Head of Market knocked on the door, excused to enter. My friend said, “Please wait for a while, sir, I’m having a chat with my best friend during school first.”
Head Market bowed and then closed the door. Today my friend led a parliamentary delegation to the market, even the fierce Market Head was subservient to an honorable Council member.
“Frankly I pity you, Ahmad, you’re a good and pious person. Back when we went to school you often helped me. Think about this advice, go to the catalyst, you will feel the change of your fate.”
I’m still silent. Then he said, “Okay I will now chair the meeting with the officials of the market manager. Come back to work, later if you need anything just meet me yes, do not hesitate.” He smiled as he winked.
I went outside, the market officials were waiting to get in. People came in, but the Head of Market pulled my hand and led me to a corner, he whispered. “From now on, it seems like I should call you with respect. You are friends with great people, please tell your friends, our office needs a good recommendation from him.” Never before has the Head of Market spoken so gently with me before today, my nose fluttered with pride. Soon I nodded.
Now, still in the mountain Mata Air
Words of wisdom are rarer than emeralds, but people hear them from the mouths of poor female maiden millers, that’s an Egyptian proverb I’ve read, there is no harm in trying my friend’s advice. And this is where I walk through the night doing my friend’s advice. As my legs began to tire and wanted to surrender, suddenly faintly from a distance I saw a white building in the mist. Could this be the catalyst’s residence? I went forward excitedly. It turned out that the building was very large, resembling a medieval castle. Somewhat strange, why near the top of a mountain there is a building of this size? But not too well known. There was a strange feeling blanketing my inner, but I’ve been so far, the time to give up now? So I wiped away the trepidation to keep moving toward the castle.
Meet the catalyst
“Please come in sir!” A call came from within, I pushed the castle door and found a magnificent hallway with fountain pools. I headed toward the dim light. An elderly man with a glowing face sat reading the book on the couch as he crossed his legs, he closed the book, his eyes glowing joyfully.
“Incidentally, tonight I’m here, not expecting the arrival of guests.” He stood up to greet me, then invited me to sit down. “Who are you, sir? And what made you come to me here?” He asked enthusiastically. But I just kept quiet.
Then he tried to remember, “Oh yes a friend of mine named Latif recently told me that his friend Ahmad will come here, is that you?”
I nodded.
“He said to his friend, Ahmad which is you have a lot of problems especially the economy so it needs my advice, is that right?” He probed.
I nodded again. He smiled pleasantly. “For thousands, eh I mean decades, this is the first time I’ve found someone who just nods when asked. Come on tell me the intentions of your heart come to me, surely I will help.” He took a deep breath as if to kiss my scent. His eyes were a bit disappointed, there was wisdom in that shady gaze, but somehow I was frightened.
Shyly I kissed my right armpit and left but it was a long journey that made me sweat, smelling sour. I was about to speak, but my tongue became faint and speechless. I thought I was too tired so cramped.
He offered me a cup of water, it smelled like young honey. After a long journey, I thought it was bad to drink honey, better water. I shook my head, and at first glance, his face looked unhappy. He also lost words for a moment.
“How can I give you advice if you do not say anything?” Are you mute?”
I shook my head. He looked very surprised. In fact, I am even more astonished why I can’t speak. The connection between the brain and the tongue is jammed, but not really I don’t know what to say. My head is filled with chemistry and physics formulas that I have long left behind. My heart feels very trembling.
“Maybe you need to warm up, or some kind of drink that will stabilize the bloodstream?” I’m very happy if there’s a warm ginger drink, but it’s in the middle of a mountain like this.
He opened the cupboard and pulled out a bottle. “There is no medicine forbidden, then drink this wine. You will be fresher.” He said kindly, I looked at the wise face, then shook my head.
He looked very disappointed, “then there is nothing we can talk about. Go home first, when you have overcome your inability to speak this, come back here.”
I nod slowly and greet her please permission. A great fear made me walk away from the castle. When I am outside I feel the dew is starting to fall, and I shiver. Along the way because of the frantic grip, trying to calm down, I recite in the hearts of Al-Qur’an surah Al-Ikhlas, An-Nash, and Al-‘Alaq2). The descending streets made my heart grateful.
The Catalyst! The chemical elements had flashed through my head. The catalyst is the name of the chemical process. A catalyst is a chemical reaction whose success depends on a particular type of substance, which does not change. The unchanged substance is called the Catalyst.
Throughout the history of mankind, as described in the scriptures. Beings that constantly affect human beings without changing their own nature, character, and form are only one. He is the Devil, who never does anything, he just whispers the temptation into the hearts of the human beings. I am a weak man, my legs are getting trembling with fear. He who was so powerful almost gripped me in his wisdom face. The more I think the more I fear, that I have just met the Devil himself.
The air is getting cold, I’m getting tense. Driven by fearful instincts I would run down the mountainside, no matter the weeds, the branches that pierced me as hard as I could. O Allah, please protect me.
Immediately I heard the azan’s3)voice echoing. Shubuh4) has come, and I was near it with Village Elang. I ran for the nearest village, the sound of this call leading me into the dark.
When the street was flat, I stopped and took a breath. Suddenly my back was patted by someone and I almost had a heart attack from my fears. I turned in horror. Behind me there is an old man, wearing kupiah5) and sarong6) smiley cloth, in the moonlight, looks the upper incisors are gone when he smiles.
“Son, let’s pray Shubuh in langgar7),” he said. I nodded very hard. We walked towards the village langar, my hands guided by the old man. My feelings were like meeting a rescue angel, even to be compared to an angel Gabriel who pulled me out of the darkness. Shubuh it is the most solemn shubuh congregation I ever did. After the Prayer finished the grandfather climbed to the pulpit.
“O Adam, will I show you the tree of eternity (khuldi)8) and the imperishable kingdom?”
Heaven provides anything, abundant fruits, and everything can be eaten without satiety, and the desire to defecate. But there is a taboo, God gives an exception to Adam and Eve to approach a tree, let alone eat it.
Adam as human beings equipped with reason and lust. The devil knows that, so he influences Adam through his passions. The lust is influenced constantly by the Devil to get Adam out of his nature, by breaking the prohibition. Finally slipping Adam and his wife Eve ate the forbidden fruit of immortality (khuldi), and they became the first man to “break God’s command.”
Adam regrets his actions and acknowledges the wrongdoing, which is the difference between Adam and the Devil. The Devil does not obey God’s command, consciously and knowingly and does not acknowledge his deeds. Therefore he does not ask forgiveness and repentance, while Adam is willing to return to worship and obedience to God.
After that Adam and Eve descended from heaven to earth and then descended, so God gave guidance or guidance the right way, so that man in peace and safety.
All human beings who live on earth today even though they are not pure prints of Adam but still their descendants, we undoubtedly also face the temptation of the Khuldi tree as well. If the previous khuldi is the eternity, then we humans will face trials of various kinds.
Satan’s temptation to human beings of various forms, basically humans pursue the tree of eternity (khuldi) with different forms on each individual. There are recommended miser and there is a wasteful recommended. Some are seduced to give priority to the world, but some are persuaded to give priority to the hereafter. There is a whisper for riya9). Some are tested by not having children, soul mate, property and some are tested by having children, property, and other sustenance. The most dangerous are the people who are not aware if he is being tested by the Devil’s seduction.
If sustenance can be a trial, then what is the most precious sustenance in this world. The most precious sustenance for human beings is the correct understanding of religion, if the man understands this then he is inevitably not out of his nature. As explained by the Prophet Muhammad.
The sun had appeared shy, I said goodbye to Shubuh worshipers in the langar, especially the old man before parting I hugged him hard, he looked surprised for a moment, but then he smiled again at me.
XXX
In a sad and imperfect world, not everyone can be a winner. Some will suffer defeat. But why do humans have to rush the glory, and fight it all out? Probably because man becomes more ugly and sinful if he is unable to overcome his own cruel tendencies. One who always thinks be grateful to see himself. But he is also someone who should know that humility can go. Every one of us must understand life is a puzzle, with a fickle answer.
So that morning I came home with a feeling of roomy, My heart was bright even in these mediocre economic circumstances, I will try not to feel short of anymore. All I want is to live my life according to my nature, without jealousy, envy, or greed.
Can it? May Allah guides me and my family, and all of us with His compassion in the form of taufik10) and hidayah11). Amin Ya Rabbal Alamin. Life is not just about good grades, even though I’m actually not so bad, thank God.
XXX
It is said that the devil hates the afterlife, which is why they are so happy to be tempting people here, in this mortal world.
aku sekejamnya membalas dendam, karena akulah sang durjana
RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SATU
Lamreh, Aceh Besar, Akhir November 1873
Melalui tabung teropong aku terhenyak menyaksikan tidak kurang dari pada 60 kapal membuang jangkar. Merah-Putih-Biru bendera Belanda berkibar disana, tampaknya armada Belanda ingin mengunci Selat Malaka, menjauhkan Aceh dari bantuan manapun. Selain daripada bendera-bendera kerajaan tersebut Nampak pula berkibar bendera kuning, sebagai mantan bajak laut aku cukup paham bahwa itu adalah bendera karantina, sebuah pertanda kapal sedang dilanda penyakit.
Ketika aku menyerahkan teropong kepada bang Baka, ia tersenyum riang. “Pertolongan Allah telah datang, pasukan Belanda dilanda penyakit.” Perutku mendecit, ada yang tidak beres. Ini bisa jadi jebakan kafir Belanda yang terkenal licik. Aku merasakan ada bahaya yang tak dapat kusarikan darimana datangnya.
Keadaan pasukan Aceh sendiri dalam keadaan sangat baik. Pertama Belanda telah dipukul mundur sebelumnya pada penyerangan Maret lalu. Kedua, pasukan bantuan dari Raja Pidie telah tiba, 1000 tentara terlatih dari pesisir timur Aceh tentu sangat membantu. Pasukan Aceh telah siap menanti musuh kembali, parit-parit dan tempat-tempat pertahanan telah diisi oleh laskar Aceh, berbekal bedil, kelewang dan beberapa meriam berkarat hasil rampasan dari orang-orang Portugis di masa lampau.
Tak lama hujan turun dengan deras, saat ini menjelang Desember yang pada galibnya musim hujan telah lewat, tapi hujan turun tak terhingga. Ini berlanjut sampai delapan hari, matahari tertutup awan. Pasukan Aceh berteduh, keyakinan mereka begitu berapi-api yang tak padam meski didera badai. Tapi sadarkah mereka? Dengan peralatan perang seadanya, dan dikuasainya laut oleh armada perang Belanda maka kemenangan adalah mimpi semata. Aku berharap meski ini hanyalah mimpi, maka mimpi kami ini bukanlah sekedar bayangan semu, dan ketika terjaga, tak akan merasakan kesedihan, kami harus memenangkan peperangan ini lagi, mimpi ini haruslah tercapai dan bukanlah sesuatu yang kekosongan belaka.
Aku menggigil kedinginan, setia kepada mimpi? Bukankah itu yang menyebabkan hidup kita, manusa menjadi berarti.
Perairan Selat Malaka, Kapal Maddaloni Akhir 1873.
“Anjing!” Maki Nino Bixio. Akhir-akhir ini ia mudah gelisah dan sering marah kepada awak kapal. Ia mengutuk dalam hati, seharusnya ia menikmati masa pensiun di Italia sana pikirnya. Atau seharusnya dia tidak menjual kapal ini ketika mendapat tawaran tinggi dari Belanda, atau dia cukup menjual saja kapal ini kepada pemerintah Hindia Belanda, tak perlu harus tergiur lagi menjadi nahkoda dalam ekspedisi sialan seperti ini.
“Bhuaaaah!” Ia muntah darah, denyut jantung dan nadinya semakin cepat. Kulitnya semakin kusam dan ia menjadi lebih haus dan haus lagi. Seharusnya dia curiga ketika dokter Belanda menyuntikkan serum seminggu lalu. Katanya antibiotic sebelum perjalanan, jangan-jangan ini adalah virus.
Ia mendelik, “Babi!” Teriaknya seraya mendelik, kemudian ia mati. Tak lama kemudian, seorang dokter Belanda meniup peluit. Beberapa sampan datang dari kapal-kapal yang lain membawa selimut tebal menyelimuti jenazah Nino. Senyum licik tergaris dimulut dokter Van der Mayde, saatnya telah tiba.
Di tengah hujan deras, dokter Van Der Mayde memimpin sampan-sampan itu ke daratan. Mereka melemparkan mayat Nino ke dekat perkampungan. “Sebelum hujan reda kita harus kembali, cepat kayuh yang cepat perintahnya.” Dengan segera mereka kembali menuju kapal pusat komando melaporkan kepada pimpinan tertinggi bahwa misi telah berhasil.
Jenderal Van Swieten tersenyum puas dengan laporan dokter Van der Mayde, “kita tunggu beberapa hari lagi untuk melaksanakan pendaratan, kita tunggu virus menyebar terlebih dahulu.” Ia sangat riang hari itu. Meski wajahnya cerah tapi sesungguhnya hati Van Swieten membeku, layaknya pualam, ia bergaya dengan anggun seolah agung, sebuah kebrutalan dengan gaya yang anggun, sebuah keyakinan yang berapi-api yang justru membekukan hati, sebuah penampilan rasa cinta yang menakutkan.
Terbesir perasaan menyesal sekilas di hati dokter Van der Mayde, kemudian teringat olehnya bukankah dahulu Spanyol menaklukkan Inca, Aztec dan Maya dengan menyebarkan benih penyakit. Demi kejayaan Ratu Belanda ini sama sekali bukan kesalahan, ini adalah pengabdian kepada tanah air.
Pesisir Aceh, Akhir 1873.
Akhirnya matahari menunjukkan wajahnya kembali setelah delapan hari tak menampakkan rupa. Pasukan Aceh seperti terjaga dari tidurnya yang lumayan panjang. Setengah hari berlalu dengan cepat, sampai menjelang Dhuhur terompet pasukan dibunyikan. Apakah Belanda sudah menyerang?
Seorang kurir berlari ke pos kami. Ia berteriak parau, “Durjana, durjana diminta menghadap Komandan Ibrahim Lamnga.” Ia berteriak-teriak dari jauh, alamat pesan yang sangat penting. Bang Baka menyenggol aku, dia memberi kode. “Aku ikut kemanapun kau pergi adinda.” Pelan, ia berbisik.
Masih terengah-engah ia menyampaikan pesan ketika melihat aku keluar dari semak belukar. “Pergilah 10 Mil ke Barat disana ada hal penting, maaf aku tak bisa mengiringimu.” Ia bersandar pada pokok kayu kelapa.
Segera aku berlari, bang Baka mengikuti dibelakang. Kami berpacu dengan waktu, aku curiga jangan-jangan Belanda, kutepiskan pikiran burukku dan terus berlari. Sesampainya disana, sekompi pasukan dan sejumlah penduduk sedang menggerubungi sesuatu.
Sebuah mayat dilapisi sehelai selimut teronggok disana. “Apa ini Ahmad? Katanya kau mantan pelaut tentu paham apa ini!” Tanya Ibrahim Lamnga. Aku mendapati seorang Eropah dengan kulit kusam. “Celaka!” Kataku. “Ada apa Durjana?”
“Kolera! Bibit penyakit kolera.” Seorang awak kapal Bintang Hitam dahulu pernah terjangkit di India, kami terpaksa membuang mayatnya di lautan ketika itu, ini penyakit sangat berbahaya.
“Berapa hari mayat ini sudah ada disini?” Tanyaku. “Menurut pengakuan penduduk sudah 4 atau 5 hari.” Kata Komandan Ibrahim Lamga.
“Bajingan!” Aku menjerit, sungguh licik Belanda. “Mayat ini sengaja diantar ke darat untuk menyebarkan kolera yang ada ditubuhnya.” Wajah pasukan Aceh dan penduduk menjadi pucat. “Segera bawa ke pegunungan dan tanam sebelum menyebar!” Ibrahim Lamnga memilih 8 orang untuk membawa mayat kepedalaman, atau ke puncak Seulawah. Yang aku takutkan terjadi, Belanda menggunakan senjata biologis, ini hanya satu kasus mungkin ada banyak yang mereka sebar ditepi pantai. Jika dugaanku benar maka kami pasukan Aceh tidak hanya menghadapi pasukan yang terlatih dan bersenjata lengkap dengan armada laut yang kuat saja, melainkan juga wabah penyakit. Sungguh tidak memiliki harga diri Belanda itu, mereka adalah bangsa penakut yang terkutuk. Mereka takut akan kekuatan kami yang tak seberapa, rasa takut ini membuat mereka menjadi lemah dan menggunakan cara licik, menyebarkan benih penyakit, hanya untuk memenangkan perang ini, kebanggaan dan kehormatan mereka sebagai manusia sudah tidak ada lagi.
“Tuanku, begitu Belanda merasa bahwa penyakit telah menyebar maka mereka akan segera menyerang, Beta pamit kembali ke pos.”
“Durjana, satu permintaanku padamu.” Ibrahim Lamnga menahan aku sebentar, “tolong kamu, sampai aku bertemu lagi denganmu, setidaknya untuk mengucapkan terima kasih. Hati-hati jangan sampai terbunuh.”
Bang Baka ternyata tiba menyusul aku, dia terlambat dan kebingungan apa yang telah terjadi. Aku hanya mengangguk kepada Ibrahim Lamnga. Tentu aku ingin hidup, tapi kematian adalah takdir setiap manusia. Entah berapa lama aku bisa menantang takdir, sebelum berakhir.
Aku berlari kembali menuju posku, diikuti Bang Baka yang sebenarnya berharap penjelasan segera. Dalam lariku yang semakin letih, aku bersumpah akan memenggal setiap kepala Belanda yang kutemui, entah itu Eropa atau Belanda Hitam, entah itu pria atau wanita, entah itu dewasa atau kanak-kanak. Benih-benih setan itu tak boleh hidup jika bertemu denganku.
Halilintar menggelegar meski cuaca panas, menyambut sumpahku. Sumpah Sang Durjana. Perasaanku kacau. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak menemukan jawabannya. Apakah sumpahku tadi melanggar agama? Aku tak menemukan jawabannya. Tapi aku harus bertarung, jawabannya mungkin datang sesudah itu. Daripada memikirkan itu lebih baik aku menyiapkan diri menghadapi kenyataan yang ada di depan mata.
Di hutan belantara Bener Meriah bertapa. Ia meminta dirinya diubah menjadi gajah putih.
LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH
Dahulu kala di negeri Antara hiduplah seorang pemuda tampan bernama Sengeda. Dia adalah putra dari Raja Linge. Sengeda adalah seorang pemuda yang santun, cerdas dan rendah hati. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya dan dihormati oleh putra-putra raja lainnya.
Sebenarnya Sangeda memiliki seorang abang yang bernama Bener Meriah. Ia melarikan diri ke hutan karena difitnah hendak menentang raja. Ia merasa sedih jauh dari sanak keluarga. Di hutan belantara ia bertapa. Ia meminta dirinya diubah menjadi gajah putih. Ia melakukan hal itu agar dapat diterima kembali oleh keluarga besarnya.
Sementara itu, pada suatu malam, Sengeda bermimpi tentang seekor gajah putih. Gajah tersebut mengamuk dan mengobrak-abrik kerajaan Linge. Dalam mimpinya juga ia bermimpi bertemu dengen Reje, gurunya. Sangeda yakin, gajah putih itu adalah jelmaan abang kandungnya. Oleh karena itu, sang guru mengajarkan bagaimana cara menjinakkan gajah tanpa membunuhnya.
Sangeda segera terbangun dari tidurnya, ia menghapalkan gerakan-gerakan yang diajarkan oleh gurunya di dalam mimpi. Awalnya memang seperti gerakan bela diri, mirip apa yang pernah ia pelajari di Bukit Gelang Gele. Tetapi semakin lama ia bergerak, ia terlihat seperti menari. Tarian inilah kelak disebut dengan “Tari Guel”.
Keesokan harinya, kehebohan terjadi Kerajaan Linge. Seekor gajah putih mengamuk di alun-alun kerajaan. Para penduduk melempari dan menyoraki gajah itu sejak masuk pintu gerbang kerajaan, sampai ke alun-alun. Raja memerintahkan kepada para prajurit kerajaan agar memanggil semua pawang dan orang sakti untuk menjinakkan si gajah. Namun, seluruh benda tajam dan ilmu kesaktian yang digunakan tak mampu membuat gajah putih itu bergeming.
Sangeda merasa sedih. Ia tahu bahwa gajah putih tersebut adalah jelmaan dari abang kandungnya, lalu ia menghadap ayah kandungnya. “Ayahanda, izinkan ananda menjinakkan si gajah putih,” kata Sengeda. “Benarkah?” Kata raja ragu. “Dengan izin Allah, dan restu ayahanda,” Sengeda meyakinkan.
Sengeda berangkat ke alun-alun diiringi teman-teman seperguruannya. Ia menaiki gajah hitam dengan diikuti Reje, gurunya. Sengeda memerintahkan para penduduk kerajaan Linge untuk tidak menyerang gajah putih. Ia meminta rakyat menabuh bunyi-bunyian. Tambur (dalam bahasa Gayo: tamur), canag (gamelan), gegedem (rapa’i atau rebana), sampai gong, semua ditabuh. Para ibu diminta memukul lesung padi atau jingki. Bunyi-bunyian itu akhirnya dapat menenangkan si gajah putih. Lalu, tiga puluh pemuda yang berasal dari berbagai desa diperintahkan untuk membentuk setengah lingkaran mengelilingi gajah putih sambil bertepuk tangan dengan irama yang beraturan dan memuji kebaikan-kebaikan Bener Meriah.
Gajah Putih menari Tarian Puel dengan gerakan maju mundur, gerakan ini di kemudian hari dikenal sebagai gerakan tari Redep.
Perlahan-lahan Sengeda bergerak menari dengan irama yang agak perlahan. Gajah putih itu mulai bangkiy dan bergerak maju mundur di tempat. Lambat-laun gerak tari terasa berirama gembira. Gerakan ini di kemudian hari dikenal sebagai gerakan tari Redep. Gajah putih mulai berjalan, mengikuti Sangeda. Lalu, irama musik semakin riang gembira dan kencang dyang disebut Cicang Nangka.
Berjalanlah gajah putih ke istana. Raja Linge telah berdiri di pintu (umah pitu ruang) untuk menyembut si gajah putih. Ine atau ibu dari Sengeda dan Bener Meriah bersebuka atau menatap dengan keharuan menyambut anaknya. Di depan Raja Linge, gajah putih menunduk dan menghormat layaknya seorang anak sujud pada orang tua. Air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Sengeda menceritakan siapa sesungguhnya gajah putih ini. “Ayah, Bunda, sebenarnya gajah putih ini adalah kakanda Bener Meriah. Dia meminta dirinya diubah menjadi gajah putih karena malu atas fitnah, kini ia ingin kembali ke tengah keluarga,” maka terharulah Raja Linge dan permaisurinya.
Kabar keberadaan gajah putih yang sakti tersebar sampai ke ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan Aceh sangat tertarik, maka beliau meminta Kerajaan Linge agar memberikan gajah putih itu kepada Sultan Aceh.
Gajah putih dipelihara sebagai kesayangan dan dijadikan simbol oleh Kesultanan Aceh Darussalam.
Dengan berat hati, akhirnya Raja Linge menyerahkan si gajah putih kepada Sultan Aceh. Sejak itu, gajah putih dipelihara sebagai kesayangan Kesultanan Aceh Darussalam. Saat ini nama Bener Meriah dijadikan sebagai nama sebuah Kabupaten di Aceh, pemekaran dari Aceh Tengah. Gajah Putih (Gajah Puteh) dijadikan simbol ksatria Kodam I Iskandar Muda di Provinsi Aceh. Sikap Bener Meriah dalam menjaga kehormatan diri dan keluarga dilambangkan dengan rencong (badik) yang terselip di pinggang mempelai pria ketika melaksanakan resepsi pernikahan.
Fantasy must change with time, perhaps because time brings new problems.
WE ARE PHYSICIAN OF OUR SOUL
At the end of suffering in the long history of humans, numbers that can be obtained only one.
XXX
To you whoever became the person I loved the most. Know, everyone has been hurt. It is impossible for us, or anyone to live unharmed life.
I always imagine this, the white curtains blown by the wind looking at the shoots outside the window. I lay in a hospital unable to move and just feel the energy of the foliage out there with difficulty. My whole body hurt, but soon the surgery that will end this suffering will begin.
The surgical time finally arrived. The doctor who will dissect me appears. The doctor is me. Do not worry! You are me. I am the one who performed the operation.
Like an annoying doctor, I can’t protest because he is myself.
You say humans are tempted to do evil by the influence of society. If you keep thinking like that, someday there will be a doctor who thinks this is all because of the society. Darkness will remain.
Collecting the money is the most important or working for life or even if it is stupid, as long as working wholeheartedly does not matter. Imagine that in the midst of a society that embraces such values doctors come up with the same principle.
But it would be nice if you could survive so as not to be dragged into it.
Why? We are doctors. The most trusted scientist of god is the mathematician, while the doctor is not. I’m not a romantic person like them. Rather people who hold the principle of reality. You understand the difference?
Said the wise men, mathematicians are romantic people. Creating an axiom of proof that does not require explanation. Mathematics exists because it stands on a stack of axioms.
Mathematicians always start from an axiom proof, after which they create a proposition that will prove the veracity of the proof. The axioms of today’s mathematicians are the collective theory. You know what the conditions are?
The empty set of phi or zero.
True, the zeros do not require proof or paradox. A doctor should know the theory of the zero number, which is also the end, death. Human will die it is a fact.
In reality, there is a so-called death. Death is something that does not require explanation and does not require any paradox. The one who thinks of such things is infinite. Is a romantic person.
I’m not a romantic person, I’m not them. Though a bright day like this. But they say the moon is still visible. You just see what’s on your mind. Sorry, but the sight you see is totally invisible to me.
It would be better if someone like me who aspires to be a doctor understands the existence of the phi number. And humans should know the fact of death (zero).
But look! Human perspective is influenced by human subjectivity itself. Let me give you one advice. I convey something I should say. Later, you will find reality.
Moon! Later you will find the moon. More beautiful than you ever see! Take a look! I can even reach it. Although we must break, we must split up, even though we return to the zero in our respective lives.
Right now, I just want to once again see you, my memories of the past.
XXX
Believe at a certain age, at some stage, an unmarried man can get worse.
Every birth if thought carefully is just a coincidence. With hundreds of millions of sperm swimming blindly in the dark, it is very unlikely that a person can become what they are. Of all the crowded in the universe, how much is planned? He wonders, feeling floundering because he is exhausted to find himself pondering the coincidences that have made them exist.
Likewise life, perhaps life is a tiring journey, a vast desert, worrying, as the storm came, the sand dunes moved, and wide open in front. In a vast journey, often attacked by thirst and imagine mirage, this could be all fantasy is thirst empty and gone.
And when it comes to the oasis, it is thought that heaven. To enjoy and satisfy in heaven. But it turns out that it is too mortal, and is just a place to stop alone while humans are just a drain, then set off again through the desert, looking for another. No purpose and direction.
Always bedouin or nomadic. It is played by the natural surroundings, by the never-ending fancies in unattainable colors. Sluggish and weary, according to the wings of wishful thinking. Among the world’s seduction, he had to keep his honor. Not just slaves, slaves of all flowers withered quickly. Blessed are those who are not fascinated with the colors of the clouds of clouds, which the wind wanders over the vast sky.
Life is self-control. Those who are erect with two legs, those who see all that surrounds it with The Divine and creates as His vicegerent on earth. Those who built the flower gardens, in the service of The God. Wandering, soul rays with The Divine, obedient, heart-warming, fostering devotion and soul-tranquilizing.
Bait Al-Hikmah, 20 Rabbiul Awwal 1436 H (January 11, 2015)
Konon setan membenci akhirat, itu sebabnya mereka sangat gembira mencelakakan manusia disini.
WAWANCARA DENGAN SANG IBLIS
Alam raya ini, tempat kita hidup selayaknya gelanggang perjuangan yang tak putus-putus. Sekuat apapun aku berusaha, diriku sering mengalami kegagalan. Padahal aku hanya ingin sedikit saja kesenangan di dunia, sedikit kenikmatan ekonomi, dan bisa bersama orang yang kucintai. Tidak harus berlebih, hanya cukup. Huff, padahal aku tak meminta apa-apa yang berlebihan tapi mengapa semua seolah dijauhkan dari aku.
Alkisah aku sudah berusaha semampuku, bekerja siang dan malam namun apa dikata aku kurang berhasil melakukan apa yang seharusnya bisa aku lalukan, aku merasa lelah menggapai apa yang tidak bisa aku gapai. Bimbang, galau aku terpekur dalam diam.
Malam ini, hening tanpa angin, selepas Isya akhirnya aku menuruti petuah seorang teman, sungguh tersiksa aku menaiki lereng Gunung Mata Air, melewati Kampung Elang sudah satu jam lebih. Entah apa yang aku pikirkan sehingga sejauh ini berjalan, kulitku gatal-gatal digigiti nyamuk, bangke pikirku. Aku mencoba mengusir rasa kantuk yang menyerang.
Dua belas jam sebelumnya.
“Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan rahasia kesuksesanku ini kepada orang lain, tapi karena aku lihat kau masih saja begini-begini saja, maka aku akan membaginya kepadamu, sebuah tips yang akan mengubah hidupmu sahabatku. Di Gunung Mata Air, jalan terus melewati Kampung Elang menuju puncak disana kau akan bertemu Sang Katalis.” Kawanku menggosok cincin bermata batu bacan. Ia tersenyum. “Dia adalah penasehat spiritual bagiku, boleh dikata. Aku yang sekarang ini adalah berkat bantuannya, berkat nasehat-nasehat mujarab darinya.”
Aku terdiam memandangi kawanku itu, lihatlah sekarang dia begitu sukses. Mengenakan setelah jas abu-abu dengan dasi berwarna khaki. Sepatunya import dari Swiss. Sungguh hebat dia bisa sesukses ini. Apa rahasianya? Padahal dulu sewaktu sekolah menengah kerap kali ia nyaris tinggal kelas karena tidak mampu menyerap pelajaran. Hari-hari itu sudah lama berlalu, sekarang dia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sedang lihatlah nasibku seorang bintang kelas malah menjadi penjaga pintu pasar. Takdir macam apa ini!
Dia tersenyum ketika melihat aku berpikir keras. Kepala Pasar mengetuk pintu, permisi untuk masuk. Temanku bilang, “Mohon tunggu sebentar pak, saya sedang berbincang sebentar dengan sahabat saya zaman sekolah.”
Kepala Pasar membungkuk takzim lalu kemudian menutup pintu. Hari ini kawanku memimpin delegasi parlemen ke pasar, bahkan Kepala Pasar yang biasa garang pun memble di depan Dewan yang terhormat.
“Terus terang aku kasihan padamu Ahmad, kau orang baik dan saleh. Dulu sewaktu kita sekolah kau sering menolong aku. Coba kau pikirkan nasehatku ini, pergilah ke Sang Katalis, niscaya kau akan merasakan perubahan nasibmu.”
Aku masih terdiam. Kemudian ia berkata, “baiklah aku sekarang akan memimpin rapat dengan para pejabat pengelola pasar. Kembalilah bekerja, nanti kalau kau perlu apa-apa jumpai aku saja ya, jangan segan-segan.” Ia tersenyum seraya mengedipkan mata.
Aku beranjak keluar, di luar ternyata para pejabat pengelola pasar sedang menunggu masuk. Orang-orang masuk, tapi Kepala Pasar menarik tanganku lalu mengajakku ke sudut, ia berbisik. “Mulai sekarang, aku sepertinya harus memanggilmu bang Ahmad. Ternyata Bang Ahmad ini berkawan dengan orang besar, oh ya tolong bilang sama kawan abang, dinas kita ini jangan dipersulit ya.” Belum pernah Kepala Pasar berbicara selembut ini denganku, hidungku kembang-kempis karena bangga. Tak lama kemudian aku mengangguk.
XXX
Kata-kata bijak lebih langka adanya dari batu zamrud, namun orang mendengarnya dari mulut hamba perempuan miskin pemutar batu giling, begitulah sebuah pepatah Mesir yang pernah aku baca, tidak ada salahnya mencoba nasehat kawanku itu. Dan disinilah aku berjalan menelusuri malam melaksanakan nasehat kawanku itu. Disaat kaki-kakiku mulai lelah, dan ingin menyerah, tiba-tiba sayup-sayup dari kejauhan aku melihat sebuah bangunan putih di dalam kabut. Mungkinkah ini kediaman Sang Katalis? Aku maju dengan bersemangat. Ternyata bangunan itu sangat besar, menyerupai sebuah puri abad pertengahan. Agak aneh, mengapa mendekati puncak gunung ada sebuah bangunan sebesar ini? Tapi tidak terlalu diketahui orang. Ada perasaan aneh menyelimuti batinku, tapi aku sudah sejauh ini, masa harus menyerah sekarang? Maka kutepiskan rasa gentar itu untuk terus melangkah mendekati kastil itu.
Bertemu Sang Iblis
“Silakan masuk Kisanak!” Sebuah seruan datang dari dalam, aku pun mendorong pintu kastil tersebut dan mendapati selasar megah dengan kolam-kolam air mancur. Aku menuju kearah cahaya temaram. Seorang tua dengan wajah bercahaya duduk seraya membaca buku diatas sofa seraya menyilangkan kaki, ia menutup buku, matanya bercahaya gembira.
“Kebetulan sekali, malam ini aku sedang disini, tak menyangka akan kedatangan tamu.” Ia berdiri menyalami aku, kemudian mempersilahkan duduk. “Siapakah Kisanak? Dan gerangan apa yang membuat Kisanak mendatangi aku disini?” Tanyanya antusias. Tapi aku hanya terdiam.
Kemudian ia mencoba mengingat-ingat, “Oh ya seorang sahabat saya. Latif baru-baru ini memberitahukan bahwa sahabatnya Ahmad akan datang kemari, kaukah itu Kisanak?”
Aku mengangguk.
“Dia mengatakan temannya, yaitu Ahmad yang mana adalah kamu memiliki banyak masalah terutama ekonomi sehingga membutuhkan nasehatku, benarkah begitu?” Ia menyelidik.
Aku mengangguk lagi. Ia tersenyum ramah. “Selama ribuan, eh maksudku puluhan tahun baru kali ini aku menemukan seseorang yang hanya mengangguk ketika ditanya. Ayolah ceritakan maksud hatimu datang kepadaku, niscaya aku akan membantu.” Ia menghirup nafas panjang, seolah ingin menciumi aroma tubuhku. Matanya sedikit kecewa, ada kebijaksanaan dalam tatapan yang teduh itu, tapi entah kenapa aku ketakutan.
Malu-malu aku menciumi ketiak kanan dan kiri tapi memang perjalanan yang panjang membuat aku berkeringat, berbau asem. Aku hendak berbicara, tapi lidahku menjadi kelu dan tak bisa berkata-kata. Aku pikir aku terlalu kelelahan sehingga kram.
Ia menawarkan aku secangkir air, baunya seperti madu muda. Setelah perjalanan panjang aku pikir tak baik meminum madu, lebih baik air putih. Aku menggeleng, dan sekilas wajahnya terlihat tidak senang. Ia pun kehilangan kata-kata sesaat.
“Bagaimana aku bisa memberimu nasehat Ahmad jika kamu tidak mengatakan apa-apa?” Apakah kamu bisu?”
Aku menggelengkan kepala. Ia terlihat sangat heran. Sesungguhnya aku lebih heran lagi kenapa aku tidak bisa berkata-kata. Hubungan antara otak dan lidah macet, tapi bukan sebenarnya aku memang tidak tahu harus berkata apa. Kepalaku dipenuhi rumus-rumus Kimia dan Fisika yang telah lama aku tinggalkan pelajarannya. Sedang hatiku merasa gentar amat sangat.
“Mungkin kamu perlu menghangatkan diri, atau sejenis minuman yang akan menstabilkan aliran darah?” Aku sangat senang jika ada minuman jahe hangat, tapi mana ada di tengah gunung seperti ini.
Ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah botol. “Tidak ada obat yang haram, maka minumlah anggur ini. Niscaya kamu akan lebih segar.” Katanya ramah, aku memandangi wajah bijaksana itu, lalu menggelengkan kepala.
Ia terlihat sangat kecewa, “maka tidak ada yang bisa kita bicarakan. Pulanglah dulu Ahmad, nanti ketika kau sudah mengatasi ketidakmampuanmu berbicara ini, datanglah kembali kemari.”
Aku mengangguk pelan, dan menyalaminya mohon izin. Rasa takut yang luar biasa membuatku melangkah bergegas meninggalkan kastil itu. Ketika aku diluar ku rasakan embun sudah mulai turun, aku menggigil. Disepanjang perjalanan karena dicengkram kalut, mencoba menenangkan diri, aku melafalkan dalam hati Al-Qur’an surat Al-Ikhlas, An-Nas dan Al-Alaq. Jalanan yang menurun membuat hatiku menjadi lapang.
Sang Katalis! Sedari tadi unsur-unsur kimia berkelebatan dikepalaku. Katalis adalah nama proses kimia. Katalis, suatu reaksi kimia yang keberhasilannya tergantung pada suatu jenis zat tertentu, di mana zat itu tidak mengalami perubahan. Zat yang tidak mengalami perubahan itu disebut Katalisator.
Sepanjang sejarah umat manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab suci. Makhluk yang senantiasa mempengaruhi manusia tanpa merubah sifat, karakter dan wujudnya sendiri hanya ada satu. Ia adalah Sang Iblis, yang tak pernah berbuat apa-apa, ia hanya membisikkan godaan kepada dalam hati para manusia. Aku adalah manusia yang lemah, kakiku semakin gemetaran ketakutan. Ia yang begitu berkuasa, nyaris mencengkram aku dalam wajahnya yang penuh kebijaksanaan. Semakin aku pikirkan semakin aku takut, bahwa baru saja aku berjumpa dengan Sang Iblis sendiri.
Udara semakin dingin, akupun semakin mencekam. Didorong naluri ketakutan akupun berlari menuruni Gunung Mata Air, tak peduli ilalang, ranting yang menusuk aku sekuat tenaga berlari. Ya Allah lindungilah hamba.
Seketika aku mendengar suara azan menggema. Shubuh sudah datang, dan aku sudah dekat ternyata dengan Kampung Elang. Terbirit-birit aku berlari mencari perkampungan terdekat, suara azan ini menuntun aku dalam kegelapan.
Keangkuhan Iblis
Ketika jalanan telah datar, aku berhenti dan menarik nafas sejenak. Tiba-tiba punggungku ditepuk seseorang dan aku hampir kena serangan jantung akibat ketakutanku. Aku menoleh dengan suasana horor. Dibelakangku ada seorang kakek, mengenakan kupiah dan kain sarung tersenyum, dalam cahaya bulan terlihat gigi seri bagian atas sudah tanggal ketika ia tersenyum.
“Nak, ayuk kita shalat Shubuh di langgar,” ajaknya. Aku mengangguk kencang sekali. Kami berjalan kearah langgar kampung, tanganku dituntun oleh kakek itu. Perasaanku bagai bertemu dengan malaikat penyelamat, bahkan dapat diumpamakan bertemu malaikat Jibril yang menarikku dari kegelapan. Shubuh itu adalah shubuh berjamaah paling khuyu’ yang pernah aku lakukan. Setelah Shalat selesai kakek tersebut naik ke mimbar.
“Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon kekekalan (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Surga menyediakan apapun, buah-buahan melimpah dan semuanya boleh dimakan tanpa kekenyangan, dan keinginan buang hajat. Namun ada sebuah pantangan, Allah S.W.T memberi pengecualian kepada Adam dan Hawa untuk mendekati sebuah pohon, apalagi memakannya.
Adam sebagai manusia dilengkapi akal dan nafsu. Iblis mengetahui hal tersebut, maka dia mempengaruhi Adam melalui hawa nafsunya. Hawa nafsu tersebut dipengaruhi terus-menerus oleh Iblis agar Adam keluar dari fitrahnya, yaitu melanggar batas. Akhirnya tergelincirlah Adam beserta istrinya Hawa memakan buah kekekalan (khuldi) yang terlarang itu, dan mereka menjadi manusia pertama “melanggar perintah Allah.”
Adam menyesali perbuatannya dan mengakui kesalahan yang dilakukan, disitulah perbedaan Adam dengan Iblis. Iblis tidak menurut perintah Allah, dengan sadar dan tahu serta tidak mengakui perbuatannya. Karena itu dia tidak meminta ampun dan taubat, sedang Adam bersedia kembali berbakti dan taat kepada Allah S.W.T.
Setelah itu Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi dan kemudian berketurunan, maka Allah memberikan hidayah atau petunjuk jalan yang benar, supaya manusia dalam ketentraman dan aman.
Seluruh manusia yang hidup di muka bumi hari ini meski bukanlah cetakan murni dari Nabi Adam a.s tapi tetap merupakan keturunannya, tak pelak kita juga menghadapi godaan pohon khuldi juga. Jikalah sebelumnya khuldi itu adalah kekekalan, maka kita manusia akan menghadapi cobaan yang berbagai macam jenisnya.
Godaan Iblis kepada manusia berbagai macam bentuknya, pada dasarnya manusia mengejar pohon kekekalan (khuldi) tersebut dengan bentuk yang berbeda pada tiap individu. Ada yang dianjurkan kikir dan ada yang dianjurkan boros. Ada yang dirayu untuk mengutamakan dunia, tapi ada juga yang dibujuk untuk mengutamakan akhirat saja. Ada yang bisikkan agar riya. Ada yang diuji dengan belum memiliki anak, jodoh, harta serta ada juga yang diuji dengan memiliki anak, harta dan rezeki lain. Paling berbahaya adalah orang-orang yang tidak sadar jika dia sedang diuji oleh bujuk rayu Iblis.
Jika rezeki bisa menjadi cobaan, maka apa rezeki yang paling berharga di dunia ini. Rezeki yang peling berharga bagi manusia adalah pemahaman agama yang benar, jika manusia memahami hal ini maka ia niscaya tidak keluar dari fitrahnya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w
Matahari sudah muncul malu-malu, aku berpamitan dengan jama’ah Shubuh di langgar Kampung Elang, terutama kakek itu sebelum berpisah aku memeluknya dengan kencang, ia terlihat heran sebentar, tapi kemudian ia tersenyum lagi kepadaku.
XXX
Di dunia yang sedih dan tak sempurna, tak semua orang bisa menjadi pemenang. Sebagian akan menderita kekalahan. Tapi mengapa manusia harus memburu-buru kejayaan itu, dan memperebutkannya dengan habis-habisan? Mungkin karena manusia menjadi semakin jelek dan berdosa, jika ia tak mampu mengatasi kecenderungan keji dirinya sendiri.
Seorang yang tafakur yang selalu zikir tahu bersyukur melihat dirinya sendiri. Tapi ia juga seseorang yang harus tahu kerendahan hati bisa pergi. Setiap kita harus memahami hidup adalah teka-teki, dengan jawaban yang berubah-ubah.
Maka pagi itu aku pulang dengan perasaan lapang, Hatiku terasa terang meskipun dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan ini, aku akan berusaha untuk tidak merasa kekurangan lagi. Yang aku inginkan adalah menjalani hidup sesuai dengan fitrahku, tanpa cemburu, iri dan dengki ataupun keserakahan.
Apakah bisa? Semoga Allah S.W.T membimbing aku dan keluargaku, serta kita semua dengan kasih sayang-Nya berupa Taufik dan Hidayah. Amin Ya Rabbal Alamin. Hidup tidak hanya tentang nilai yang bagus, meskipun aku sebenarnya tidak begitu buruk, syukur pada Allah S.W.T.
XXX
Konon setan membenci akhirat, itu sebabnya mereka sangat gembira mencelakakan manusia disini, didunia yang fana ini.