RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DUA

Risalah Sang Durjana. Episode: Apa artinya lelaki.

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DUA

Harta yang paling berharga

Istana yang paling indah

Puisi yang paling bermakna

Mutiara tiada tara adalah Keluarga

(Keluarga Cemara)

XXX

Bandar Aceh Darussalam, circa 1873

Apakah artinya lelaki?

Lumpur menempel di sepatuku setiap kali melangkahkan kaki, kaki ini terasa letih dan pegal sekali. Rasanya tanah sudah mencabut sepatu dari kaki ini. Tadi aku tergelincir di saat-saat yang tidak menguntungkan ke dalam timbunan yang dalam. Manusia, binatang dan gerobak lewat terus menerus membuat tanah setebal lima belas senti menjadi tanah rawa yang nyaris tak bisa dilalui. Sambil tersaruk-saruk maju, aku memikirkan ibu kota, takut kalau pertempuran sampai kesana. Kuharap idiot-idiot itu berhasil melewatkan malam tanpa terbunuh. Tubuh bagian kiri masih berdenyut-denyut, pengecut sialan.

Kini aku sudah mendekati rumah, setelah berminggu-minggu bersiaga di pesisir mungkin aku butuh istirahat selama 1-2 hari. Aku masuk lewat belakang, aku melihat istriku berdiri di atas ember berisi air panas bersabun, sedang menggosok pakaian di atas papan pengilasan. Lengan bajunya digulung sampai ke atas siku, dan pipinya memerah karena memeras tenaga, ia tidak pernah tampak lebih cantik lagi di mataku. Istriku adalah penghiburanku, penghibur dan tempat berlindung. Dengan menatapnya saja sudah membantu meringankan rasa kebas yang mencengkram.

Melihatku, ia segera meninggalkan cuciannya untuk berlari menghampiri, menggunakan bagian depan roknya untuk mengeringkan tangannya yang memerah. Aku sedikit mengambil ancang-ancang ketika ia melontarkan diri kepadaku, melingkarkan lengan di dadaku. Sisi tubuhku terasa nyeri, dan mendengus kecil.

Ia melonggarkan pelukannya dan mencondongkan tubuhnya menjauh, mengerutkan kening. “Oh! Apakah aku menyakitimu?”

“Tidak. Aku hanya sedikit pegal.”

Ia tidak bertanya lagi tapi kembali memeluk, lebih lembut, dan menegadah menatapku, matanya berkaca-kaca. Ia memelukku di pinggang, aku membungkuk dan menciumnya, aku sangat bersyukur akan kehadirannya.

Istriku melingkarkan lengan kiriku pada bahunya sendiri, dan aku membiarkan ia menopang setengah badan selagi kami menaiki tangga rumah. Sambil mendesah, aku bersandar diselasar, ia mendekatkan diri ke api kecil di dapur yang dinyalakannya memanaskan air, tempat sekuali sie reuboh1) sedang bergolak.

Ia menuangkan sie reuboh pada mangkuk dan menyerahkannya kepadaku. Kemudian ia kembali ke dapur, membawa segelas air dan sepiring nasi. “Ada lagi yang kau butuhkan?” Ia bertanya, suaranya kedengarannya serak, tidak seperti biasanya.

Aku tidak menjawab, hanya menangkupkan tangan pada wajah istriku dan mengelusnya dua kali dengan ibu jari. Ia tersenyum gemetar dan meletakkan tangannya pada tanganku, kemudian ia turun ke bawah mengambil cuciannya.

Aku menatap makanan lama sekali sebelum menyuap, merasa tegang, merasa ragu bisa mencerna makanan ini. Namun setelah beberapa suapan nasi, seleraku kembali dan mulai menyantap sie reuboh dengan lahap. Setelah selesai, aku meletakkan piring dan mangkuk di atas meja kemudian mencuci tangan dan meminum sisa air.

“Kami mendengarkan suara keras tembakan dari arah laut,” katanya, sambil memeras kain sampai kering. “Apakah kaphe2) akan segera datang kemari?”

“Tidak, kami akan mengusir mereka di pantai, mereka tidak akan pernah sampai kemari.”

Aku menatap perut istriku ketika ia menyampirkan kain pada jemuran darurat yang dibentangkan di serambi rumah. Kapan saja aku memikirkan anak yang sedang dikandungnya, ia merasakan kebanggaan luar biasa, tapi disertai kecemasan, karena tidak tahu bagaimana cara menyediakan rumah yang aman bagi bayi kami nanti. Juga, jika perang belum selesai pada saat ia melahirkan, ia berencana meninggalkan garis depan dan pergi ke Pidie, tempat yang jauh dari medan pertempuran, tempat kami bisa membesarkan anak dalam suasana yang cukup aman.

Aku tidak bisa kehilangan mereka, tidak pernah.

“Bagaimana keadaan di pantai?” Ia bertanya. “Bagaimana?”

“Kami harus berjuang untuk mempertahankan setiap jengkal tanah.”

“Orang-orang membicarakan betapa banyak kapal-kapal hitam musuh di laut, kadang-kadang mereka menembak, bahkan ke pemukiman di pesisir.”

“Iya.” Aku membasahi lidah dengan air, kemudian aku mendeskripsikan bagaimana Belanda telah mengepung lautan. Betapa kekuatan laut armada Kesultanan Aceh Darussalam hanya tinggal kenangan, tidak ada kapal-kapal perang kami yang menyambut mereka. Halangan-halangan yang dihadapi Belanda nantinya hanya terfokus di darat saja. Kaum Uleebalang3) meski aku tak membenci mereka seluruhnya, tapi sedikit banyak ini terjadi karena nafsu teritorial mereka, sehingga membuat kekuatan Kesultanan Aceh Darussalam saat ini hanya terfokus di darat.

“Tapi rencana kaphe tak akan berhasil, orang-orang kita akan bertarung dengan berani. Ku dengar kau pun bertarung dengan berani.”

Aku tertawa. “Ha! Sebenarnya tidak istriku. Aku beritahu, sebenarnya tidak sampai dari sepuluh lelaki yang sebenarnya ingin berperang. Sebagian besar mereka ragu untuk bergerak dan tidak ingin bertarung kecuali terpojok. Atau mereka hanya berisik tapi tidak melakukan apa-apa.”

Istriku terperangah. “Bagaimana bisa begitu? Apakah mereka pengecut?”

“Aku tidak tahu. Kurasa, kurasa pertama pasukan kita sebenarnya bukan tentara, kebanyakan hanyalah pedagang, petani dan orang-orang biasa. Tentu beda dengan musuh yang seluruhnya adalah tentara terlatih. Kedua, mereka belum pernah membunuh sekalipun seumur hidup, jadi mereka tidak mampu menatap seseorang secara langsung dan membunuh lawan nantinya. Maka mereka selalu mengharapkan ada orang lain yang tidak mampu mereka selesaikan. Mereka menunggu orang seperti aku.”

“Apakah pasukan Belanda sama enggannya?”

Aku mengangkat bahu. “Mungkin saja, tapi mereka adapah pihak yang datang menyerang. Mereka tidak punya pilihan lain. Mereka datang untuk berperang, maka mereka pasti bertempur.”

Ia meninggalkan cuciannya dan mencium dahiku. “Aku senang kau bisa melakukan apa yang perlu kau lakukan suamiku.” Ia berbisik, “tadi aku merasakan sesuatu, aku merasakan sesuatu terjadi padamu.”

“Aku sedang berada di depan medan pertempuran. Tidak mengejutkan jika kau merasakan kecemasan setiap menit.”

Ia berhenti menggosok dengan tangan penuh air, “sebelumnya aku tidak pernah merasakan begitu.”

Aku mencari alasan untuk menunda hal yang tak terhindarkan. Aku berharap bisa menyembunyikan detail kemalangan yang menimpanya di garis depan, tapi jelas sekali ia tidak akan berhenti mendesak sebelum mengetahui kebenarannya. Berusaha meyakinkan istriku bahwa tidak terjadi apa-apa malah akan membuat ia membayangkan kejadian yang jauh lebih parah daripada yang sebenarnya. Lagi pula, tidak ada gunanya aku menahan informasi ketika kabar kejadian itu akan menyebar juga di kalangan orang-orang Aceh.

Maka aku memberitahu, aku bercerita singkat dan berusaha menjabarkan runtuhnya pertahanan kami akibat dimeriam oleh kapal hitam Belanda hanya sebagai sesuatu yang menjengkelkan semata, bukan hal yang nyaris membuatku terbunuh. Tapi aku kesulitan untuk menjelaskan pengalaman itu, dan berbicara tersendat-sendat, mencari kata yang tepat. Ketika selesai, aku terdiam, gelisah mengingat kejadian itu.

“Setidaknya kau tidak terluka?” Katanya.

Aku mencongkel lantai dengan kuku, ‘tidak.” Suara air tidak berkecipak lagi, aku merasa ia menatapku.

“Kau pernah menghadapi bahaya yang jauh lebih besar.”

“Ya, kurasa begitu.”

Suaranya melembut. “Kalau begitu, apa masalahnya?” Ketika aku tidak menjawab, ia berkata. “Tidak ada hal begitu mengerikan sampai kau tidak bisa memberitahuku, suamiku. Kau tahu itu.”

Ujung kuku ibu jari kananku tertusuk ketika aku mencungkil lantai lagi. Aku menggosok-gosok ujung kuku yang jadi tajam beberapa kali dengan telunjuk. “Aku mengira akan tewas ketika tembok itu runtuh.”

“Semua orang bakal berpikir begitu.”

“Ya, tapi masalahnya, aku tidak keberatan.” Dengan penuh kecemasan aku menatap istriku. “Tidakkah kau mengerti? Aku menyerah. Ketika aku sadar tidak bisa mengelak, aku menerimanya begitu saja seperti kambing yang hendak disembelih, dan aku.” Aku menutup wajah dengan tangan. Leherku tercekat dan membuatku sulit bernafas. Kemudian aku merasakan jemarinya lembut dibahuku. “Aku menyerah,” aku menggeram, marah dan jijik pada diri sendiri. “Aku berhenti berjuang, untukmu, untuk anak kita.” Aku tercekat.

“Sst, sst,” Ia bergumam.

“Aku belum pernah menyerah. Tidak satu kali pun. Bahkan ketika tahu kaphe telah mengeluarkan maklumat perang.”

“Aku tahu.”

“Perang ini harus berakhir. Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa. Aku.” Aku menegadah dan dengan ngeri melihat ia pun hendak menangis. Aku berdiri, melingkarkan lengan pada tubuhnya dan memeluk erat. “Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Tidak akan terjadi lagi. Aku berjanji.”

“Aku tidak memedulikan itu.” Katanya, suaranya membekap dibahuku.

Jawaban istriku membuat aku merasa ditampar. “Aku tahu aku memang lemah, tapi setidaknya kata-kataku seharusnya berarti untukmu.”

“Bukan itu maksudku!” serunya, dan menarik diri menatapku dengan sorot menuduh. “Kadang-kadang kau memang bodoh suamiku.”

Aku tersenyum samar. “Aku tahu.”

Ia mengaitkan tangan ke belakang leherku. “Pandanganku padamu tidak akan berkurang, apa pun yang kaupikirkan ketika tembok runtuh. Yang terpenting adalah kau masih hidup. Tidak ada yang bisa kau lakukan ketika benteng itu runtuh, bukan?”

Aku menggeleng.

“Maka kau tidak perlu merasa malu. Kalau kau tidak bisa menghentikannya, atau jika kau bisa meloloskan diri tapi tidak melakukannya, maka kau akan kehilangan rasa hormatku. Tapi kau sudah melakukan apa pun yang bisa kau lakukan, dan ketika kau tidak bisa melakukan apa-apa lagi, kau berdamai dengan takdirmu, dan kau tidak melawannya tanpa guna. Itu adalah kebijakan, bukan kelemahan.”

Aku membungkuk dan mencium dahinya. “Terima kasih.”

“Bagiku, kau adalah lelaki paling berani, paling kuat dan paling baik di seluruh Aceh.”

Kali ini aku mencium pipinya. Setelah itu ia tertawa, singkat dan lepas dari ketegangan, kami berdiri dan berayun-ayun berdua, seakan-akan menari mengikuti melodi yang hanya bisa kami dengar berdua.

Kemudian ia mendorongku sambil bercanda lalu melanjutkan mencuci, aku kembali duduk pada serambi rumah, merasa nyaman untuk pertama kalinya sejak perang, meski tubuh ini nyeri dan pegal-pegal.

Dari atas rumah aku mengamati istriku di sumur, dan aku melihat, selagi istriku bekerja, bagaimana suasana hatinya yang ceria berangsur-angsur berubah menjadi jengkel. Ia terus menggosok dan menggosok noda lumpur, tapi tanpa hasil yang nyata. Kerutan menguasai wajahnya, dan ia mulai mendengus karena frustasi. Akhirnya, setelah ia melemparkan gumpalan kain ke papan penggilas, memercikkan air berbusa beberapa meter keatas, dan bersandar pada ember, bibirnya dikatup rapat-rapat. Aku turun dari rumah panggung dan mendatanginya, mencoba menolongnya.

“Sini, biar aku saja,” katanya. “Itu tidak pantas.”

“Omong kosong. Duduklah, aku akan menyelesaikan.”

Ia menggeleng. “Tidak, seharusnya kau yang beristirahat, bukan aku. Lagi pula, ini bukan pekerjaan laki-laki.”

Aku mendengus. “Siapa yang bilang? Pekerjaan laki-laki, atau pekerjaan perempuan, ini adalah pekerjaan yang harus diselesaikan. Sekarang duduklah. Kau akan merasa lebih baik begitu kakimu diistirahatkan.”

“Aku baik-baik saja.”

“Jangan konyol.” Dengan lembut aku mendorongnya menjauh dari ember, ia bergeming.

“Ini tidak benar,” ia memprotes. “Apa yang dipikirkan orang?” Ia menunjukkan kepada rumah tetangga.

“Mereka boleh memikirkan apa saja. Aku menikah denganmu, bukan mereka. Kalau mereka menganggapku bukan laki-laki sejati karena membantumu, maka mereka orang yang tolol.”

“Tapi.”

“Tidak ada tapi-tapi. Ayo. Sana.”

“Tapi.”

“Aku tidak akan berdebat. Kalau kau tidak mau duduk, aku akan mengendongmu ke sana dan mengikatmu ke tiang rumah.”

Eskpresi geli mengantikan kerutan di wajahnya. “Oh, begitu ya.”

“Ya, sekarang pergilah!” Ia masih enggan meninggalkan, aku mendesah tidak sabar. “Kau keras kepala ya?”

“Tidak, aku tidak keras kepala. Kau mau teh?” Ia bertanya. “Mak Biyah memberiku segengam pucuk teh segar tadi pagi. Aku bisa membuat sepoci untuk kita berdua.”

“Aku mau.”

Keheningan nyaman berlangsung di antara kami ketika aku melanjutkan mencuci. Kegiatan itu membuat perasaanku terasa damai. Aku senang melakukan pekerjaan dengan tanganku selain mengayunkan kelewang, dan berada dekat dengan istriku membuatku merasa nyaman.

Aku sedang memeras kain terakhir, dan tehnya baru dituang menungguku disebelah istriku, ketika seseorang meneriakkan namaku dari seberang jalan. Butuh beberapa lama sebelum aku menyadari Baka-lah yang berlari kearah mereka melintasi lumpur. Seorang sahabat yang dikenalnya tepat sebelum perang dimulai, awalnya dia adalah seorang saudagar beras yang menjual hasil bumi sampai ke pulau Jawa, perang telah membuatnya menjadi pendekar yang andal. Aku tahu, bahwa aku bisa mempercayakan sahabatku itu dalam situasi yang paling gawat sekalipun.

Aku meletakkan cucian dan mengeringkan  tangan, bertanya-tanya apa yang terjadi. Ketika Baka tiba, kami harus menunggu beberapa detik sampai nafasnya normal kembali. Kemudian, buru-buru, ia berkata. “Ahmad, Panglima Tuanku Nanta Setia memanggilmu ke garis depan, ada pergerakan dari kapal Belanda.”

Aku menatap istriku, ia mengangguk.

“Suamiku akan segera kembali kesana secepat mungkin.” Dengan paras berterima kasih Baka berbalik dan berlari pergi. Sementara istriku masuk kerumah mengambil perkakas miliku, aku membereskan ember dan cucian. Rasa takut dan semangat membuat gerakanku semakin cepat, kuharap aku tidak terlambat.

“Kau sudah siap?” Istriku mengalungkan kain dileherku. Ia mengenakan selendang biru pada kepala dan lehernya.

Aku mengangguk, menciumi dahinya. Perang sudah akan dimulai, aku tidak tahu apakah takdir masih akan memperjumpakan kami. Aku berbalik pergi, sayup-sayup aku mendengar suara tangis yang ditahan. Aku ingin berbalik, sungguh ingin berbalik, tapi aku tak bisa berbalik. Menciumi kain yang diberikan istriku, aku berlari menuju pantai.

XXX

“Ketahuilah, dunia hanyalah ibarat tempat persinggahan musafir melepas penat pada waktu malam dan ketika pagi ia pun pergi meninggalkan.” – Inskripsi pada sebuah makam pada Kerajaan Samudera Pasai abad ke-10 Hijriah.

XXX

  1. Sie reuboh = Makanan Aceh berupa daging lembu atau kerbau yang diberi cuka dan bumbu, selain jenis makanan juga merupakan sistem pengawetan daging yang membuatnya mampu membuat makanan disimpan dalam waktu lama. Ketika hendak dimakan hanya perlu dipanaskan kembali;
  2. Kaphe = Bahasa Aceh untuk kafir, sebuah terminologi yang digunakan orang-orang Aceh pada masa itu untuk kolonialis Eropa baik itu Belanda maupun Portugis;
  3. Uleebalang = Raja-raja kecil di bawah Sultan Aceh, sejenis “landlord” yang memiliki pasukan dan wilayah teritorial.

XXX

(Bersambung)

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 28 Comments

INTERVIEW WITH THE DEVIL

He is the Devil, who never does anything, he just whispers the temptation into the hearts of the human beings. I am a weak man, my legs are getting trembling with fear. He who was so powerful almost gripped me in his wisdom face. The more I think the more I fear, that I have just met the Devil himself.

INTERVIEW WITH THE DEVIL

This universe, where we live in an uninterrupted struggle. As hard as I try, I often fails. And I just want a little fun in the world, a little economic pleasure, and can be with people I love. It does not have to be excessive, just enough. Huff and I are not asking for anything excessive but why it all seems away from me.

Once I’ve tried my best, working day and night but what I say is less successful doing what I should be able to do, I feel tired of reaching what I can’t reach. Doubtful, I’m nervous I stare in silence.

Tonight, the silence without the wind, after Isha1) I finally follow the advice of a friend, really tormented me up the mountain slope Mata Air, past Elang Village is an hour more. I do not know what I think so far so far, my skin itched from mosquitoes, unfortunately, I thought. I tried to ward off the drowsiness that came.

Twelve hours before.

“Actually I do not want to talk about the secret of my success to others, but because I see you’re still like this, I will share it with you, a tip that will change your life my best friend. In the Mata Air mountains, the road passes through Elang Village to the summit where you will meet the Catalyst.” My friend rubs a jewel-eyed ring on his finger. She smiled. “He is a spiritual advisor to me, to say, I am now thanks to his help, thanks to his good advice.”

I stared at my friend, look at him now so successful. Wearing a gray suit with a khaki tie. His shoes are a famous brand imported from Switzerland. It’s great he can be as successful as this. What’s the secret? Whereas once when high school often he almost did not pass because not able to learn well. Those days are long gone, now he’s a member of the House of Representatives, and look at my fate of a class star instead of being a market gatekeeper. What fate is this!

He smiled when he saw me thinking hard. Head of Market knocked on the door, excused to enter. My friend said, “Please wait for a while, sir, I’m having a chat with my best friend during school first.”

Head Market bowed and then closed the door. Today my friend led a parliamentary delegation to the market, even the fierce Market Head was subservient to an honorable Council member.

“Frankly I pity you, Ahmad, you’re a good and pious person. Back when we went to school you often helped me. Think about this advice, go to the catalyst, you will feel the change of your fate.”

I’m still silent. Then he said, “Okay I will now chair the meeting with the officials of the market manager. Come back to work, later if you need anything just meet me yes, do not hesitate.” He smiled as he winked.

I went outside, the market officials were waiting to get in. People came in, but the Head of Market pulled my hand and led me to a corner, he whispered. “From now on, it seems like I should call you with respect. You are friends with great people, please tell your friends, our office needs a good recommendation from him.” Never before has the Head of Market spoken so gently with me before today, my nose fluttered with pride. Soon I nodded.

Now, still in the mountain Mata Air

Words of wisdom are rarer than emeralds, but people hear them from the mouths of poor female maiden millers, that’s an Egyptian proverb I’ve read, there is no harm in trying my friend’s advice. And this is where I walk through the night doing my friend’s advice. As my legs began to tire and wanted to surrender, suddenly faintly from a distance I saw a white building in the mist. Could this be the catalyst’s residence? I went forward excitedly. It turned out that the building was very large, resembling a medieval castle. Somewhat strange, why near the top of a mountain there is a building of this size? But not too well known. There was a strange feeling blanketing my inner, but I’ve been so far, the time to give up now? So I wiped away the trepidation to keep moving toward the castle.

Meet the catalyst

“Please come in sir!” A call came from within, I pushed the castle door and found a magnificent hallway with fountain pools. I headed toward the dim light. An elderly man with a glowing face sat reading the book on the couch as he crossed his legs, he closed the book, his eyes glowing joyfully.

“Incidentally, tonight I’m here, not expecting the arrival of guests.” He stood up to greet me, then invited me to sit down. “Who are you, sir? And what made you come to me here?” He asked enthusiastically. But I just kept quiet.

Then he tried to remember, “Oh yes a friend of mine named Latif recently told me that his friend Ahmad will come here, is that you?”

I nodded.

“He said to his friend, Ahmad which is you have a lot of problems especially the economy so it needs my advice, is that right?” He probed.

I nodded again. He smiled pleasantly. “For thousands, eh I mean decades, this is the first time I’ve found someone who just nods when asked. Come on tell me the intentions of your heart come to me, surely I will help.” He took a deep breath as if to kiss my scent. His eyes were a bit disappointed, there was wisdom in that shady gaze, but somehow I was frightened.

Shyly I kissed my right armpit and left but it was a long journey that made me sweat, smelling sour. I was about to speak, but my tongue became faint and speechless. I thought I was too tired so cramped.

He offered me a cup of water, it smelled like young honey. After a long journey, I thought it was bad to drink honey, better water. I shook my head, and at first glance, his face looked unhappy. He also lost words for a moment.

“How can I give you advice if you do not say anything?” Are you mute?”

I shook my head. He looked very surprised. In fact, I am even more astonished why I can’t speak. The connection between the brain and the tongue is jammed, but not really I don’t know what to say. My head is filled with chemistry and physics formulas that I have long left behind. My heart feels very trembling.

“Maybe you need to warm up, or some kind of drink that will stabilize the bloodstream?” I’m very happy if there’s a warm ginger drink, but it’s in the middle of a mountain like this.

He opened the cupboard and pulled out a bottle. “There is no medicine forbidden, then drink this wine. You will be fresher.” He said kindly, I looked at the wise face, then shook my head.

He looked very disappointed, “then there is nothing we can talk about. Go home first, when you have overcome your inability to speak this, come back here.”

I nod slowly and greet her please permission. A great fear made me walk away from the castle. When I am outside I feel the dew is starting to fall, and I shiver. Along the way because of the frantic grip, trying to calm down, I recite in the hearts of Al-Qur’an surah Al-Ikhlas, An-Nash, and Al-‘Alaq2). The descending streets made my heart grateful.

The Catalyst! The chemical elements had flashed through my head. The catalyst is the name of the chemical process. A catalyst is a chemical reaction whose success depends on a particular type of substance, which does not change. The unchanged substance is called the Catalyst.

Throughout the history of mankind, as described in the scriptures. Beings that constantly affect human beings without changing their own nature, character, and form are only one. He is the Devil, who never does anything, he just whispers the temptation into the hearts of the human beings. I am a weak man, my legs are getting trembling with fear. He who was so powerful almost gripped me in his wisdom face. The more I think the more I fear, that I have just met the Devil himself.

The air is getting cold, I’m getting tense. Driven by fearful instincts I would run down the mountainside, no matter the weeds, the branches that pierced me as hard as I could. O Allah, please protect me.

Immediately I heard the azan’s3) voice echoing. Shubuh4) has come, and I was near it with Village Elang. I ran for the nearest village, the sound of this call leading me into the dark.

When the street was flat, I stopped and took a breath. Suddenly my back was patted by someone and I almost had a heart attack from my fears. I turned in horror. Behind me there is an old man, wearing kupiah5) and sarong 6) smiley cloth, in the moonlight, looks the upper incisors are gone when he smiles.

“Son, let’s pray Shubuh in langgar7),” he said. I nodded very hard. We walked towards the village langar, my hands guided by the old man. My feelings were like meeting a rescue angel, even to be compared to an angel Gabriel who pulled me out of the darkness. Shubuh it is the most solemn shubuh congregation I ever did. After the Prayer finished the grandfather climbed to the pulpit.

“O Adam, will I show you the tree of eternity (khuldi)8) and the imperishable kingdom?”

Heaven provides anything, abundant fruits, and everything can be eaten without satiety, and the desire to defecate. But there is a taboo, God gives an exception to Adam and Eve to approach a tree, let alone eat it.

Adam as human beings equipped with reason and lust. The devil knows that, so he influences Adam through his passions. The lust is influenced constantly by the Devil to get Adam out of his nature, by breaking the prohibition. Finally slipping Adam and his wife Eve ate the forbidden fruit of immortality (khuldi), and they became the first man to “break God’s command.”

Adam regrets his actions and acknowledges the wrongdoing, which is the difference between Adam and the Devil. The Devil does not obey God’s command, consciously and knowingly and does not acknowledge his deeds. Therefore he does not ask forgiveness and repentance, while Adam is willing to return to worship and obedience to God.

After that Adam and Eve descended from heaven to earth and then descended, so God gave guidance or guidance the right way, so that man in peace and safety.

All human beings who live on earth today even though they are not pure prints of Adam but still their descendants, we undoubtedly also face the temptation of the Khuldi tree as well. If the previous khuldi is the eternity, then we humans will face trials of various kinds.

Satan’s temptation to human beings of various forms, basically humans pursue the tree of eternity (khuldi) with different forms on each individual. There are recommended miser and there is a wasteful recommended. Some are seduced to give priority to the world, but some are persuaded to give priority to the hereafter. There is a whisper for riya9). Some are tested by not having children, soul mate, property and some are tested by having children, property, and other sustenance. The most dangerous are the people who are not aware if he is being tested by the Devil’s seduction.

If sustenance can be a trial, then what is the most precious sustenance in this world. The most precious sustenance for human beings is the correct understanding of religion, if the man understands this then he is inevitably not out of his nature. As explained by the Prophet Muhammad.

The sun had appeared shy, I said goodbye to Shubuh worshipers in the langar, especially the old man before parting I hugged him hard, he looked surprised for a moment, but then he smiled again at me.

XXX

In a sad and imperfect world, not everyone can be a winner. Some will suffer defeat. But why do humans have to rush the glory, and fight it all out? Probably because man becomes more ugly and sinful if he is unable to overcome his own cruel tendencies. One who always thinks be grateful to see himself. But he is also someone who should know that humility can go. Every one of us must understand life is a puzzle, with a fickle answer.

So that morning I came home with a feeling of roomy, My heart was bright even in these mediocre economic circumstances, I will try not to feel short of anymore. All I want is to live my life according to my nature, without jealousy, envy, or greed.

Can it? May Allah guides me and my family, and all of us with His compassion in the form of taufik10) and hidayah11). Amin Ya Rabbal Alamin. Life is not just about good grades, even though I’m actually not so bad, thank God.

XXX

It is said that the devil hates the afterlife, which is why they are so happy to be tempting people here, in this mortal world.

XXX

Translate From: Wawancara Dengan Iblis

Index:

  1. Isha : Pray at night, around eight o’clock;
  2. Al-Qur’an surah Al-Ikhlas, An-Nash and Al-‘Alaq: The verses of Al-Quran commonly memorized by the Malays (Indonesia and Malaysia);
  3. Azan = A prayer call for Muslims;
  4. Shubuh = Pray before sunrise;
  5. Kupiah = hats commonly used by Malays for prayer;
  6. Sarong = Slipcover used as pants by Malays:
  7. Langgar = Small mosque in the village;
  8. Khuldi = Adam’s apple in Arabic;
  9. Riya = The term that exhibits false piety in Islam;
  10. Taufik = God’s guidance is gained from the learning process;
  11. Hidayah = The power of the heart to practice the religion.

More stories:

  1. THE LAST WITCH; 10 April 2017;
  2. ALI AND MALENA, A LOVE STORY; 11 April 2017;
  3. TOKUGAWA IEYASU, THE ASURA; 19 April 2017;
  4. BHISHMA’S DEATH; 21 April 2017;
  5. BEHIND THE SCENES MACHIAVELLI WROTE THE PRINCE; 23 April 2017;
  6. SPEECH OF THE BIRDS; 25 April 2017;
  7. THE NOBLE VEIL, ODA NOBUNAGA; 13 May 2017;
  8. LETTER TO LISA; 9 June 2017;
  9. GATE WITHOUT GATE, THE MILITARY STRATEGY OF IEYASU TOKUGAWA; 10 JUNE 2017;
  10. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  11. THE RIVERMAN; 18 July 2017;
  12. OH MAN, I COMPLETELY DON’T KNOW YOU; 23 July 2017;
  13. AFTER THE REVOLUTION ENDED; 28 July 2017;
  14. AN UNCLE’S STORY ABOUT THE BUTTERFLY EFFECT; 11 August 2017;
  15. FRIENDSHIP BETWEEN GOATS AND WOLVES; 29 October 2017;
  16. A NOTE FROM A LOSER; 10 November 2017;
  17. HARLEQUIN AND THE TREE OF HOPE; 13 November 2017;
  18. NOTHING; 18 November 2017;
  19. TESTAMENT FROM HANG TUAH; 25 November 2017;
  20. FOR ONE WEEK IN LOVE; 27 November 2017;
Posted in Fiction, International, Story | Tagged , , , , , , , , , | 7 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SATU

aku sekejamnya membalas dendam,
karena akulah sang durjana

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SATU

Lamreh, Aceh Besar, Akhir November 1873

Melalui tabung teropong aku terhenyak menyaksikan tidak kurang dari pada 60 kapal membuang jangkar. Merah-Putih-Biru bendera Belanda berkibar disana, tampaknya armada Belanda ingin mengunci Selat Malaka, menjauhkan Aceh dari bantuan manapun. Selain daripada bendera-bendera kerajaan tersebut Nampak pula berkibar bendera kuning, sebagai mantan bajak laut aku cukup paham bahwa itu adalah bendera karantina, sebuah pertanda kapal sedang dilanda penyakit.

Ketika aku menyerahkan teropong kepada bang Baka, ia tersenyum riang. “Pertolongan Allah telah datang, pasukan Belanda dilanda penyakit.” Perutku mendecit, ada yang tidak beres. Ini bisa jadi jebakan kafir Belanda yang terkenal licik. Aku merasakan ada bahaya yang tak dapat kusarikan darimana datangnya.

Keadaan pasukan Aceh sendiri dalam keadaan sangat baik. Pertama Belanda telah dipukul mundur sebelumnya pada penyerangan Maret lalu. Kedua, pasukan bantuan dari Raja Pidie telah tiba, 1000 tentara terlatih dari pesisir timur Aceh tentu sangat membantu. Pasukan Aceh telah siap menanti musuh kembali, parit-parit dan tempat-tempat pertahanan telah diisi oleh laskar Aceh, berbekal bedil, kelewang dan beberapa meriam berkarat hasil rampasan dari orang-orang Portugis di masa lampau.

Tak lama hujan turun dengan deras, saat ini menjelang Desember yang pada galibnya musim hujan telah lewat, tapi hujan turun tak terhingga. Ini berlanjut sampai delapan hari, matahari tertutup awan. Pasukan Aceh berteduh, keyakinan mereka begitu berapi-api yang tak padam meski didera badai. Tapi sadarkah mereka? Dengan peralatan perang seadanya, dan dikuasainya laut oleh armada perang Belanda maka kemenangan adalah mimpi semata. Aku berharap meski ini hanyalah mimpi, maka mimpi kami ini bukanlah sekedar bayangan semu, dan ketika terjaga, tak akan merasakan kesedihan, kami harus memenangkan peperangan ini lagi, mimpi ini haruslah tercapai dan bukanlah sesuatu yang kekosongan belaka.

Aku menggigil kedinginan, setia kepada mimpi? Bukankah itu yang menyebabkan hidup kita, manusa menjadi berarti.

Perairan Selat Malaka, Kapal Maddaloni Akhir 1873.

“Anjing!” Maki Nino Bixio. Akhir-akhir ini ia mudah gelisah dan sering marah kepada awak kapal. Ia mengutuk dalam hati, seharusnya ia menikmati masa pensiun di Italia sana pikirnya. Atau seharusnya dia tidak menjual kapal ini ketika mendapat tawaran tinggi dari Belanda, atau dia cukup menjual saja kapal ini kepada pemerintah Hindia Belanda, tak perlu harus tergiur lagi menjadi nahkoda dalam ekspedisi sialan seperti ini.

“Bhuaaaah!” Ia muntah darah, denyut jantung dan nadinya semakin cepat. Kulitnya semakin kusam dan ia menjadi lebih haus dan haus lagi. Seharusnya dia curiga ketika dokter Belanda menyuntikkan serum seminggu lalu. Katanya antibiotic sebelum perjalanan, jangan-jangan ini adalah virus.

Ia mendelik, “Babi!” Teriaknya seraya mendelik, kemudian ia mati. Tak lama kemudian, seorang dokter Belanda meniup peluit. Beberapa sampan datang dari kapal-kapal yang lain membawa selimut tebal menyelimuti jenazah Nino. Senyum licik tergaris dimulut dokter Van der Mayde, saatnya telah tiba.

Di tengah hujan deras, dokter Van Der Mayde memimpin sampan-sampan itu ke daratan. Mereka melemparkan mayat Nino ke dekat perkampungan. “Sebelum hujan reda kita harus kembali, cepat kayuh yang cepat perintahnya.” Dengan segera mereka kembali menuju kapal pusat komando melaporkan kepada pimpinan tertinggi bahwa misi telah berhasil.

Jenderal Van Swieten tersenyum puas dengan laporan dokter Van der Mayde, “kita tunggu beberapa hari lagi untuk melaksanakan pendaratan, kita tunggu virus menyebar terlebih dahulu.” Ia sangat riang hari itu. Meski wajahnya cerah tapi sesungguhnya hati Van Swieten membeku, layaknya pualam, ia bergaya dengan anggun seolah agung, sebuah kebrutalan dengan gaya yang anggun, sebuah keyakinan yang berapi-api yang justru membekukan hati, sebuah penampilan rasa cinta yang menakutkan.

Terbesir perasaan menyesal sekilas di hati dokter Van der Mayde, kemudian teringat olehnya bukankah dahulu Spanyol menaklukkan Inca, Aztec dan Maya dengan menyebarkan benih penyakit. Demi kejayaan Ratu Belanda ini sama sekali bukan kesalahan, ini adalah pengabdian kepada tanah air.

Pesisir Aceh, Akhir 1873.

Akhirnya matahari menunjukkan wajahnya kembali setelah delapan hari tak menampakkan rupa. Pasukan Aceh seperti terjaga dari tidurnya yang lumayan panjang. Setengah hari berlalu dengan cepat, sampai menjelang Dhuhur terompet pasukan dibunyikan. Apakah Belanda sudah menyerang?

Seorang kurir berlari ke pos kami. Ia berteriak parau, “Durjana, durjana diminta menghadap Komandan Ibrahim Lamnga.” Ia berteriak-teriak dari jauh, alamat pesan yang sangat penting. Bang Baka menyenggol aku, dia memberi kode. “Aku ikut kemanapun kau pergi adinda.” Pelan, ia berbisik.

Masih terengah-engah ia menyampaikan pesan ketika melihat aku keluar dari semak belukar. “Pergilah 10 Mil ke Barat disana ada hal penting, maaf aku tak bisa mengiringimu.” Ia bersandar pada pokok kayu kelapa.

Segera aku berlari, bang Baka mengikuti dibelakang. Kami berpacu dengan waktu, aku curiga jangan-jangan Belanda, kutepiskan pikiran burukku dan terus berlari. Sesampainya disana, sekompi pasukan dan sejumlah penduduk sedang menggerubungi sesuatu.

Sebuah mayat dilapisi sehelai selimut teronggok disana. “Apa ini Ahmad? Katanya kau mantan pelaut tentu paham apa ini!” Tanya Ibrahim Lamnga. Aku mendapati seorang Eropah dengan kulit kusam. “Celaka!” Kataku. “Ada apa Durjana?”

“Kolera! Bibit penyakit kolera.” Seorang awak kapal Bintang Hitam dahulu pernah terjangkit di India, kami terpaksa membuang mayatnya di lautan ketika itu, ini penyakit sangat berbahaya.

“Berapa hari mayat ini sudah ada disini?” Tanyaku. “Menurut pengakuan penduduk sudah 4 atau 5 hari.” Kata Komandan Ibrahim Lamga.

“Bajingan!” Aku menjerit, sungguh licik Belanda. “Mayat ini sengaja diantar ke darat untuk menyebarkan kolera yang ada ditubuhnya.” Wajah pasukan Aceh dan penduduk menjadi pucat. “Segera bawa ke pegunungan dan tanam sebelum menyebar!” Ibrahim Lamnga memilih 8 orang untuk membawa mayat kepedalaman, atau ke puncak Seulawah. Yang aku takutkan terjadi, Belanda menggunakan senjata biologis, ini hanya satu kasus mungkin ada banyak yang mereka sebar ditepi pantai. Jika dugaanku benar maka kami pasukan Aceh tidak hanya menghadapi pasukan yang terlatih dan bersenjata lengkap dengan armada laut yang kuat saja, melainkan juga wabah penyakit. Sungguh tidak memiliki harga diri Belanda itu, mereka adalah bangsa penakut yang terkutuk. Mereka takut akan kekuatan kami yang tak seberapa, rasa takut ini membuat mereka menjadi lemah dan menggunakan cara licik, menyebarkan benih penyakit, hanya untuk memenangkan perang ini, kebanggaan dan kehormatan mereka sebagai manusia sudah tidak ada lagi.

“Tuanku, begitu Belanda merasa bahwa penyakit telah menyebar maka mereka akan segera menyerang, Beta pamit kembali ke pos.”

“Durjana, satu permintaanku padamu.” Ibrahim Lamnga menahan aku sebentar, “tolong kamu, sampai aku bertemu lagi denganmu, setidaknya untuk mengucapkan terima kasih. Hati-hati jangan sampai terbunuh.”

Bang Baka ternyata tiba menyusul aku, dia terlambat dan kebingungan apa yang telah terjadi. Aku hanya mengangguk kepada Ibrahim Lamnga. Tentu aku ingin hidup, tapi kematian adalah takdir setiap manusia. Entah berapa lama aku bisa menantang takdir, sebelum berakhir.

Aku berlari kembali menuju posku, diikuti Bang Baka yang sebenarnya berharap penjelasan segera. Dalam lariku yang semakin letih, aku bersumpah akan memenggal setiap kepala Belanda yang kutemui, entah itu Eropa atau Belanda Hitam, entah itu pria atau wanita, entah itu dewasa atau kanak-kanak. Benih-benih setan itu tak boleh hidup jika bertemu denganku.

Halilintar menggelegar meski cuaca panas, menyambut sumpahku. Sumpah Sang Durjana. Perasaanku kacau. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak menemukan jawabannya. Apakah sumpahku tadi melanggar agama? Aku tak menemukan jawabannya. Tapi aku harus bertarung, jawabannya mungkin datang sesudah itu. Daripada memikirkan itu lebih baik aku menyiapkan diri menghadapi kenyataan yang ada di depan mata.

XXX

di atas bumi, tanah kami ini

jika terlihat paras wajahmu yang putih itu

ingin rasanya kucungkil keluar

bola mata sampai berdarah

lalu busuk dan bernanah

 

melihat rintih kesakitanmu

siksa tiada henti terus kuhujam

dengan begitu aku tertawa terbahak

aku sekejamnya membalas dendam

karena akulah sang durjana

XXX

(Bersambung)

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 27 Comments

LEGENDA GAJAH PUTIH BENER MERIAH

Di hutan belantara Bener Meriah bertapa. Ia meminta dirinya diubah menjadi gajah putih.

LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH

Dahulu kala di negeri Antara hiduplah seorang pemuda tampan bernama Sengeda. Dia adalah putra dari Raja Linge. Sengeda adalah seorang pemuda yang santun, cerdas dan rendah hati. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya dan dihormati oleh putra-putra raja lainnya.

Sebenarnya Sangeda memiliki seorang abang yang bernama Bener Meriah. Ia melarikan diri ke hutan karena difitnah hendak menentang raja. Ia merasa sedih jauh dari sanak keluarga. Di hutan belantara ia bertapa. Ia meminta dirinya diubah menjadi gajah putih. Ia melakukan hal itu agar dapat diterima kembali oleh keluarga besarnya.

Sementara itu, pada suatu malam, Sengeda bermimpi tentang seekor gajah putih. Gajah tersebut mengamuk dan mengobrak-abrik kerajaan Linge. Dalam mimpinya juga ia bermimpi bertemu dengen Reje, gurunya. Sangeda yakin, gajah putih itu adalah jelmaan abang kandungnya. Oleh karena itu, sang guru mengajarkan bagaimana cara menjinakkan gajah tanpa membunuhnya.

Sangeda segera terbangun dari tidurnya, ia menghapalkan gerakan-gerakan yang diajarkan oleh gurunya di dalam mimpi. Awalnya memang seperti gerakan bela diri, mirip apa yang pernah ia pelajari di Bukit Gelang Gele. Tetapi semakin lama ia bergerak, ia terlihat seperti menari. Tarian inilah kelak disebut dengan “Tari Guel”.

Keesokan harinya, kehebohan terjadi Kerajaan Linge. Seekor gajah putih mengamuk di alun-alun kerajaan. Para penduduk melempari dan menyoraki gajah itu sejak masuk pintu gerbang kerajaan, sampai ke alun-alun. Raja memerintahkan kepada para prajurit kerajaan agar memanggil semua pawang dan orang sakti untuk menjinakkan si gajah. Namun, seluruh benda tajam dan ilmu kesaktian yang digunakan tak mampu membuat gajah putih itu bergeming.

Sangeda merasa sedih. Ia tahu bahwa gajah putih tersebut adalah jelmaan dari abang kandungnya, lalu ia menghadap ayah kandungnya. “Ayahanda, izinkan ananda menjinakkan si gajah putih,” kata Sengeda. “Benarkah?” Kata raja ragu. “Dengan izin Allah, dan restu ayahanda,” Sengeda meyakinkan.

Sengeda berangkat ke alun-alun diiringi teman-teman seperguruannya. Ia menaiki gajah hitam dengan diikuti Reje, gurunya. Sengeda memerintahkan para penduduk kerajaan Linge untuk tidak menyerang gajah putih. Ia meminta rakyat menabuh bunyi-bunyian. Tambur (dalam bahasa Gayo: tamur), canag (gamelan), gegedem (rapa’i atau rebana), sampai gong, semua ditabuh. Para ibu diminta memukul lesung padi atau jingki. Bunyi-bunyian itu akhirnya dapat menenangkan si gajah putih. Lalu, tiga puluh pemuda yang berasal dari berbagai desa diperintahkan untuk membentuk setengah lingkaran mengelilingi gajah putih sambil bertepuk tangan dengan irama yang beraturan dan memuji kebaikan-kebaikan Bener Meriah.

Gajah Putih menari Tarian Puel dengan gerakan maju mundur, gerakan ini di kemudian hari dikenal sebagai gerakan tari Redep.

Perlahan-lahan Sengeda bergerak menari dengan irama yang agak perlahan. Gajah putih itu mulai bangkiy dan bergerak maju mundur di tempat. Lambat-laun gerak tari terasa berirama gembira. Gerakan ini di kemudian hari dikenal sebagai gerakan tari Redep. Gajah putih mulai berjalan, mengikuti Sangeda. Lalu, irama musik semakin riang gembira dan kencang dyang disebut Cicang Nangka.

Berjalanlah gajah putih ke istana. Raja Linge telah berdiri di pintu (umah pitu ruang) untuk menyembut si gajah putih. Ine atau ibu dari Sengeda dan Bener Meriah bersebuka atau menatap dengan keharuan menyambut anaknya. Di depan Raja Linge, gajah putih menunduk dan menghormat layaknya seorang anak sujud pada orang tua. Air mata mengalir dari kedua belah matanya.

Sengeda menceritakan siapa sesungguhnya gajah putih ini. “Ayah, Bunda, sebenarnya gajah putih ini adalah kakanda Bener Meriah. Dia meminta dirinya diubah menjadi gajah putih karena malu atas fitnah, kini ia ingin kembali ke tengah keluarga,” maka terharulah Raja Linge dan permaisurinya.

Kabar keberadaan gajah putih yang sakti tersebar sampai ke ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan Aceh sangat tertarik, maka beliau meminta Kerajaan Linge agar memberikan gajah putih itu kepada Sultan Aceh.

Gajah putih dipelihara sebagai kesayangan dan dijadikan simbol oleh Kesultanan Aceh Darussalam.

Dengan berat hati, akhirnya Raja Linge menyerahkan si gajah putih kepada Sultan Aceh. Sejak itu, gajah putih dipelihara sebagai kesayangan Kesultanan Aceh Darussalam. Saat ini nama Bener Meriah dijadikan sebagai nama sebuah Kabupaten di Aceh, pemekaran dari Aceh Tengah. Gajah Putih (Gajah Puteh) dijadikan simbol ksatria Kodam I Iskandar Muda di Provinsi Aceh. Sikap Bener Meriah dalam menjaga kehormatan diri dan keluarga dilambangkan dengan rencong (badik) yang terselip di pinggang mempelai pria ketika melaksanakan resepsi pernikahan.

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;

XXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Literature | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 90 Comments

WE ARE PHYSICIAN OF OUR SOUL

Fantasy must change with time, perhaps because time brings new problems.

WE ARE PHYSICIAN OF OUR SOUL

At the end of suffering in the long history of humans, numbers that can be obtained only one.

XXX

To you whoever became the person I loved the most. Know, everyone has been hurt. It is impossible for us, or anyone to live unharmed life.

I always imagine this, the white curtains blown by the wind looking at the shoots outside the window. I lay in a hospital unable to move and just feel the energy of the foliage out there with difficulty. My whole body hurt, but soon the surgery that will end this suffering will begin.

The surgical time finally arrived. The doctor who will dissect me appears. The doctor is me. Do not worry! You are me. I am the one who performed the operation.

Like an annoying doctor, I can’t protest because he is myself.

You say humans are tempted to do evil by the influence of society. If you keep thinking like that, someday there will be a doctor who thinks this is all because of the society. Darkness will remain.

Collecting the money is the most important or working for life or even if it is stupid, as long as working wholeheartedly does not matter. Imagine that in the midst of a society that embraces such values doctors come up with the same principle.

But it would be nice if you could survive so as not to be dragged into it.

Why? We are doctors. The most trusted scientist of god is the mathematician, while the doctor is not. I’m not a romantic person like them. Rather people who hold the principle of reality. You understand the difference?

Said the wise men, mathematicians are romantic people. Creating an axiom of proof that does not require explanation. Mathematics exists because it stands on a stack of axioms.

Mathematicians always start from an axiom proof, after which they create a proposition that will prove the veracity of the proof. The axioms of today’s mathematicians are the collective theory. You know what the conditions are?

The empty set of phi or zero.

True, the zeros do not require proof or paradox. A doctor should know the theory of the zero number, which is also the end, death. Human will die it is a fact.

In reality, there is a so-called death. Death is something that does not require explanation and does not require any paradox. The one who thinks of such things is infinite. Is a romantic person.

I’m not a romantic person, I’m not them. Though a bright day like this. But they say the moon is still visible. You just see what’s on your mind. Sorry, but the sight you see is totally invisible to me.

It would be better if someone like me who aspires to be a doctor understands the existence of the phi number. And humans should know the fact of death (zero).

But look! Human perspective is influenced by human subjectivity itself. Let me give you one advice. I convey something I should say. Later, you will find reality.

Moon! Later you will find the moon. More beautiful than you ever see! Take a look! I can even reach it. Although we must break, we must split up, even though we return to the zero in our respective lives.

Right now, I just want to once again see you, my memories of the past.

XXX

Believe at a certain age, at some stage, an unmarried man can get worse.

Translate From: Zarah

English serials:

  1. THE ODE OF A BACHELOR; 1 August 2008;
  2. LOVE AT FIRST SIGHT; 3 August 2008;
  3. FOREVER, I KNOW THERE IS NO LOVE FOR ME; 22 August 2008;
  4. CURSE OF HATRED; 25 November 2012;
  5. JUST FOR YOU; 14 December 2013;
  6. FATE; 15 April 2014;
  7. SPEECH OF THE BIRDS; 25 April 2017;
  8. POOR OLD MAN BALLADS; 27 April 2017;
  9. PLEASE, DO NOT LET ME LOVE HER; 2 May 2017;
  10. THE FALL OF ICARUS, WHEN A MAN TRIES TO REACH THE SUN; 14 May 2017;
  11. THE MEANING OF NOSTALGIA; 12 October 2017;
  12. IS THIS LOVE; 25 October 2017;
  13. HARLEQUIN AND THE TREE OF HOPE; 13 November 2017;
  14. FOR ONE WEEK IN LOVE; 27 November 2017;
  15. LIFE IS A JOURNEY; 3 January 2018;
Posted in Fiction, International, Literature, Poetry | Tagged , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

LIFE IS A JOURNEY

The Life is a journey of self-control.

LIFE IS A JOURNEY

Is life a journey?

Every birth if thought carefully is just a coincidence. With hundreds of millions of sperm swimming blindly in the dark, it is very unlikely that a person can become what they are. Of all the crowded in the universe, how much is planned? He wonders, feeling floundering because he is exhausted to find himself pondering the coincidences that have made them exist.

Likewise life, perhaps life is a tiring journey, a vast desert, worrying, as the storm came, the sand dunes moved, and wide open in front. In a vast journey, often attacked by thirst and imagine mirage, this could be all fantasy is thirst empty and gone.

And when it comes to the oasis, it is thought that heaven. To enjoy and satisfy in heaven. But it turns out that it is too mortal, and is just a place to stop alone while humans are just a drain, then set off again through the desert, looking for another. No purpose and direction.

Always bedouin or nomadic. It is played by the natural surroundings, by the never-ending fancies in unattainable colors. Sluggish and weary, according to the wings of wishful thinking. Among the world’s seduction, he had to keep his honor. Not just slaves, slaves of all flowers withered quickly. Blessed are those who are not fascinated with the colors of the clouds of clouds, which the wind wanders over the vast sky.

Life is self-control. Those who are erect with two legs, those who see all that surrounds it with The Divine and creates as His vicegerent on earth. Those who built the flower gardens, in the service of The God. Wandering, soul rays with The Divine, obedient, heart-warming, fostering devotion and soul-tranquilizing.

Bait Al-Hikmah, 20 Rabbiul Awwal 1436 H (January 11, 2015)

Translate From: Pengembaraan

Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , | 6 Comments

WAWANCARA DENGAN SANG IBLIS

Konon setan membenci akhirat, itu sebabnya mereka sangat gembira mencelakakan manusia disini.

WAWANCARA DENGAN SANG IBLIS

Alam raya ini, tempat kita hidup selayaknya gelanggang perjuangan yang tak putus-putus. Sekuat apapun aku berusaha, diriku sering mengalami kegagalan. Padahal aku hanya ingin sedikit saja kesenangan di dunia, sedikit kenikmatan ekonomi, dan bisa bersama orang yang kucintai. Tidak harus berlebih, hanya cukup. Huff, padahal aku tak meminta apa-apa yang berlebihan tapi mengapa semua seolah dijauhkan dari aku.

Alkisah aku sudah berusaha semampuku, bekerja siang dan malam namun apa dikata aku kurang berhasil melakukan apa yang seharusnya bisa aku lalukan, aku merasa lelah menggapai apa yang tidak bisa aku gapai. Bimbang, galau aku terpekur dalam diam.

Malam ini, hening tanpa angin, selepas Isya akhirnya aku menuruti petuah seorang teman, sungguh tersiksa aku menaiki lereng Gunung Mata Air, melewati Kampung Elang sudah satu jam lebih.  Entah apa yang aku pikirkan sehingga sejauh ini berjalan, kulitku gatal-gatal digigiti nyamuk, bangke pikirku. Aku mencoba mengusir rasa kantuk yang menyerang.

Dua belas jam sebelumnya.

“Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan rahasia kesuksesanku ini kepada orang lain, tapi karena aku lihat kau masih saja begini-begini saja, maka aku akan membaginya kepadamu, sebuah tips yang akan mengubah hidupmu sahabatku. Di Gunung Mata Air, jalan terus melewati Kampung Elang menuju puncak disana kau akan bertemu Sang Katalis.” Kawanku menggosok cincin bermata batu bacan. Ia tersenyum. “Dia adalah penasehat spiritual bagiku, boleh dikata. Aku yang sekarang ini adalah berkat bantuannya, berkat nasehat-nasehat mujarab darinya.”

Aku terdiam memandangi kawanku itu, lihatlah sekarang dia begitu sukses. Mengenakan setelah jas abu-abu dengan dasi berwarna khaki. Sepatunya import dari Swiss. Sungguh hebat dia bisa sesukses ini. Apa rahasianya? Padahal dulu sewaktu sekolah menengah kerap kali ia nyaris tinggal kelas karena tidak mampu menyerap pelajaran. Hari-hari itu sudah lama berlalu, sekarang dia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sedang lihatlah nasibku seorang bintang kelas malah menjadi penjaga pintu pasar. Takdir macam apa ini!

Dia tersenyum ketika melihat aku berpikir keras. Kepala Pasar mengetuk pintu, permisi untuk masuk. Temanku bilang, “Mohon tunggu sebentar pak, saya sedang berbincang sebentar dengan sahabat saya zaman sekolah.”

Kepala Pasar membungkuk takzim lalu kemudian menutup pintu. Hari ini kawanku memimpin delegasi parlemen ke pasar, bahkan Kepala Pasar yang biasa garang pun memble di depan Dewan yang terhormat.

“Terus terang aku kasihan padamu Ahmad, kau orang baik dan saleh. Dulu sewaktu kita sekolah kau sering menolong aku. Coba kau pikirkan nasehatku ini, pergilah ke Sang Katalis, niscaya kau akan merasakan perubahan nasibmu.”

Aku masih terdiam. Kemudian ia berkata, “baiklah aku sekarang akan memimpin rapat dengan para pejabat pengelola pasar. Kembalilah bekerja, nanti kalau kau perlu apa-apa jumpai aku saja ya, jangan segan-segan.” Ia tersenyum seraya mengedipkan mata.

Aku beranjak keluar, di luar ternyata para pejabat pengelola pasar sedang menunggu masuk. Orang-orang masuk, tapi Kepala Pasar menarik tanganku lalu mengajakku ke sudut, ia berbisik. “Mulai sekarang, aku sepertinya harus memanggilmu bang Ahmad. Ternyata Bang Ahmad ini berkawan dengan orang besar, oh ya tolong bilang sama kawan abang, dinas kita ini jangan dipersulit ya.” Belum pernah Kepala Pasar berbicara selembut ini denganku, hidungku kembang-kempis karena bangga. Tak lama kemudian aku mengangguk.

XXX

Kata-kata bijak lebih langka adanya dari batu zamrud, namun orang mendengarnya dari mulut hamba perempuan miskin pemutar batu giling, begitulah sebuah pepatah Mesir yang pernah aku baca, tidak ada salahnya mencoba nasehat kawanku itu. Dan disinilah aku berjalan menelusuri malam melaksanakan nasehat kawanku itu. Disaat kaki-kakiku mulai lelah, dan ingin menyerah, tiba-tiba sayup-sayup dari kejauhan aku melihat sebuah bangunan putih di dalam kabut. Mungkinkah ini kediaman Sang Katalis? Aku maju dengan bersemangat. Ternyata bangunan itu sangat besar, menyerupai sebuah puri abad pertengahan. Agak aneh, mengapa mendekati puncak gunung ada sebuah bangunan sebesar ini? Tapi tidak terlalu diketahui orang. Ada perasaan aneh menyelimuti batinku, tapi aku sudah sejauh ini, masa harus menyerah sekarang? Maka kutepiskan rasa gentar itu untuk terus melangkah mendekati kastil itu.

Bertemu Sang Iblis

“Silakan masuk Kisanak!” Sebuah seruan datang dari dalam, aku pun mendorong pintu kastil tersebut dan mendapati selasar megah dengan kolam-kolam air mancur. Aku menuju kearah cahaya temaram. Seorang tua dengan wajah bercahaya duduk seraya membaca buku diatas sofa seraya menyilangkan kaki, ia menutup buku, matanya bercahaya gembira.

“Kebetulan sekali, malam ini aku sedang disini, tak menyangka akan kedatangan tamu.” Ia berdiri menyalami aku, kemudian mempersilahkan duduk. “Siapakah Kisanak? Dan gerangan apa yang membuat Kisanak mendatangi aku disini?” Tanyanya antusias. Tapi aku hanya terdiam.

Kemudian ia mencoba mengingat-ingat, “Oh ya seorang sahabat saya. Latif baru-baru ini memberitahukan bahwa sahabatnya Ahmad akan datang kemari, kaukah itu Kisanak?”

Aku mengangguk.

“Dia mengatakan temannya, yaitu Ahmad yang mana adalah kamu memiliki banyak masalah terutama ekonomi sehingga membutuhkan nasehatku, benarkah begitu?” Ia menyelidik.

Aku mengangguk lagi. Ia tersenyum ramah. “Selama ribuan, eh maksudku puluhan tahun baru kali ini aku menemukan seseorang yang hanya mengangguk ketika ditanya. Ayolah ceritakan maksud hatimu datang kepadaku, niscaya aku akan membantu.” Ia menghirup nafas panjang, seolah ingin menciumi aroma tubuhku. Matanya sedikit kecewa, ada kebijaksanaan dalam tatapan yang teduh itu, tapi entah kenapa aku ketakutan.

Malu-malu aku menciumi ketiak kanan dan kiri tapi memang perjalanan yang panjang membuat aku berkeringat, berbau asem. Aku hendak berbicara, tapi lidahku menjadi kelu dan tak bisa berkata-kata. Aku pikir aku terlalu kelelahan sehingga kram.

Ia menawarkan aku secangkir air, baunya seperti madu muda. Setelah perjalanan panjang aku pikir tak baik meminum madu, lebih baik air putih. Aku menggeleng, dan sekilas wajahnya terlihat tidak senang. Ia pun kehilangan kata-kata sesaat.

“Bagaimana aku bisa memberimu nasehat Ahmad jika kamu tidak mengatakan apa-apa?” Apakah kamu bisu?”

Aku menggelengkan kepala. Ia terlihat sangat heran. Sesungguhnya aku lebih heran lagi kenapa aku tidak bisa berkata-kata. Hubungan antara otak dan lidah macet, tapi bukan sebenarnya aku memang tidak tahu harus berkata apa. Kepalaku dipenuhi rumus-rumus Kimia dan Fisika yang telah lama aku tinggalkan pelajarannya. Sedang hatiku merasa gentar amat sangat.

“Mungkin kamu perlu menghangatkan diri, atau sejenis minuman yang akan menstabilkan aliran darah?” Aku sangat senang jika ada minuman jahe hangat, tapi mana ada di tengah gunung seperti ini.

Ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah botol. “Tidak ada obat yang haram, maka minumlah anggur ini. Niscaya kamu akan lebih segar.” Katanya ramah, aku memandangi wajah bijaksana itu, lalu menggelengkan kepala.

Ia terlihat sangat kecewa, “maka tidak ada yang bisa kita bicarakan. Pulanglah dulu Ahmad, nanti ketika kau sudah mengatasi ketidakmampuanmu berbicara ini, datanglah kembali kemari.”

Aku mengangguk pelan, dan menyalaminya mohon izin. Rasa takut yang luar biasa membuatku melangkah bergegas meninggalkan kastil itu. Ketika aku diluar ku rasakan embun sudah mulai turun, aku menggigil. Disepanjang perjalanan karena dicengkram kalut, mencoba menenangkan diri, aku melafalkan dalam hati Al-Qur’an surat Al-Ikhlas, An-Nas dan Al-Alaq. Jalanan yang menurun membuat hatiku menjadi lapang.

Sang Katalis! Sedari tadi unsur-unsur kimia berkelebatan dikepalaku. Katalis adalah nama proses kimia. Katalis, suatu reaksi kimia yang keberhasilannya tergantung pada suatu jenis zat tertentu, di mana zat itu tidak mengalami perubahan. Zat yang tidak mengalami perubahan itu disebut Katalisator.

Sepanjang sejarah umat manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab suci. Makhluk yang senantiasa mempengaruhi manusia tanpa merubah sifat, karakter dan wujudnya sendiri hanya ada satu. Ia adalah Sang Iblis, yang tak pernah berbuat apa-apa, ia hanya membisikkan godaan kepada dalam hati para manusia. Aku adalah manusia yang lemah, kakiku semakin gemetaran ketakutan. Ia yang begitu berkuasa, nyaris mencengkram aku dalam wajahnya yang penuh kebijaksanaan. Semakin aku pikirkan semakin aku takut, bahwa baru saja aku berjumpa dengan Sang Iblis sendiri.

Udara semakin dingin, akupun semakin mencekam. Didorong naluri ketakutan akupun berlari menuruni Gunung Mata Air, tak peduli ilalang, ranting yang menusuk aku sekuat tenaga berlari. Ya Allah lindungilah hamba.

Seketika aku mendengar suara azan menggema. Shubuh sudah datang, dan aku sudah dekat ternyata dengan Kampung Elang. Terbirit-birit aku berlari mencari perkampungan terdekat, suara azan ini menuntun aku dalam kegelapan.

Keangkuhan Iblis

Keangkuhan Iblis

Ketika jalanan telah datar, aku berhenti dan menarik nafas sejenak. Tiba-tiba punggungku ditepuk seseorang dan aku hampir kena serangan jantung akibat ketakutanku. Aku menoleh dengan suasana horor. Dibelakangku ada seorang kakek, mengenakan kupiah dan kain sarung tersenyum, dalam cahaya bulan terlihat gigi seri bagian atas sudah tanggal ketika ia tersenyum.

“Nak, ayuk kita shalat Shubuh di langgar,” ajaknya. Aku mengangguk kencang sekali. Kami berjalan kearah langgar kampung, tanganku dituntun oleh kakek itu. Perasaanku bagai bertemu dengan malaikat penyelamat, bahkan dapat diumpamakan bertemu malaikat Jibril yang menarikku dari kegelapan.  Shubuh itu adalah shubuh berjamaah paling khuyu’ yang pernah aku lakukan. Setelah Shalat selesai kakek tersebut naik ke mimbar.

“Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon kekekalan (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Surga menyediakan apapun, buah-buahan melimpah dan semuanya boleh dimakan tanpa kekenyangan, dan keinginan buang hajat. Namun ada sebuah pantangan, Allah S.W.T memberi pengecualian kepada Adam dan Hawa untuk mendekati sebuah pohon, apalagi memakannya.

Adam sebagai manusia dilengkapi akal dan nafsu. Iblis mengetahui hal tersebut, maka dia mempengaruhi Adam melalui hawa nafsunya. Hawa nafsu tersebut dipengaruhi terus-menerus oleh Iblis agar Adam keluar dari fitrahnya, yaitu melanggar batas.  Akhirnya tergelincirlah Adam beserta istrinya Hawa memakan buah kekekalan (khuldi) yang terlarang itu, dan mereka menjadi manusia pertama “melanggar perintah Allah.”

Adam menyesali perbuatannya dan mengakui kesalahan yang dilakukan, disitulah perbedaan Adam dengan Iblis. Iblis tidak menurut perintah Allah, dengan sadar dan tahu serta tidak mengakui perbuatannya. Karena itu dia tidak meminta ampun dan taubat, sedang Adam bersedia kembali berbakti dan taat kepada Allah S.W.T.

Setelah itu Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi dan kemudian berketurunan, maka Allah memberikan hidayah atau petunjuk jalan yang benar, supaya manusia dalam ketentraman dan aman.

Seluruh manusia yang hidup di muka bumi hari ini meski bukanlah cetakan murni dari Nabi Adam a.s tapi tetap merupakan keturunannya, tak pelak kita juga menghadapi godaan pohon khuldi juga. Jikalah sebelumnya khuldi itu adalah kekekalan, maka kita manusia akan menghadapi cobaan yang berbagai macam jenisnya.

Godaan Iblis kepada manusia berbagai macam bentuknya, pada dasarnya manusia mengejar pohon kekekalan (khuldi) tersebut dengan bentuk yang berbeda pada tiap individu. Ada yang dianjurkan kikir dan ada yang dianjurkan boros. Ada yang dirayu untuk mengutamakan dunia, tapi ada juga yang dibujuk untuk mengutamakan akhirat saja. Ada yang bisikkan agar riya. Ada yang diuji dengan belum memiliki anak, jodoh, harta serta ada juga yang diuji dengan memiliki anak, harta dan rezeki lain. Paling berbahaya adalah orang-orang yang tidak sadar jika dia sedang diuji oleh bujuk rayu Iblis.

Jika rezeki bisa menjadi cobaan, maka apa rezeki yang paling berharga di dunia ini. Rezeki yang peling berharga bagi manusia adalah pemahaman agama yang benar, jika manusia memahami hal ini maka ia niscaya tidak keluar dari fitrahnya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w

Matahari sudah muncul malu-malu, aku berpamitan dengan jama’ah Shubuh di langgar Kampung Elang, terutama kakek itu sebelum berpisah aku memeluknya dengan kencang, ia terlihat heran sebentar, tapi kemudian ia tersenyum lagi kepadaku.

XXX

Di dunia yang sedih dan tak sempurna, tak semua orang bisa menjadi pemenang. Sebagian akan menderita kekalahan. Tapi mengapa manusia harus memburu-buru kejayaan itu, dan memperebutkannya dengan habis-habisan? Mungkin karena manusia menjadi semakin jelek dan berdosa, jika ia tak mampu mengatasi kecenderungan keji dirinya sendiri.

Seorang yang tafakur yang selalu zikir tahu bersyukur melihat dirinya sendiri. Tapi ia juga seseorang yang harus tahu kerendahan hati bisa pergi. Setiap kita harus memahami hidup adalah teka-teki, dengan jawaban yang berubah-ubah.

Maka pagi itu aku pulang dengan perasaan lapang, Hatiku terasa terang meskipun dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan ini, aku akan berusaha untuk tidak merasa kekurangan lagi. Yang aku inginkan adalah menjalani hidup sesuai dengan fitrahku, tanpa cemburu, iri dan dengki ataupun keserakahan.

Apakah bisa? Semoga Allah S.W.T membimbing aku dan keluargaku, serta kita semua dengan kasih sayang-Nya berupa Taufik dan Hidayah. Amin Ya Rabbal Alamin. Hidup tidak hanya tentang nilai yang bagus, meskipun aku sebenarnya tidak begitu buruk, syukur pada Allah S.W.T.

XXX

Konon setan membenci akhirat, itu sebabnya mereka sangat gembira mencelakakan manusia disini, didunia yang fana ini.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 40 Comments

KISSING THE DEATH AN ELEGY

Sanada Yukimura (真田 幸村?, 1567 – June 3, 1615), actual name: Sanada Nobushige (真田 信繁?), was a Japanese samurai warrior of the Sengoku period. He was especially known as the leading general on the defending side of the Siege of Osaka.

KISSING THE DEATH AN ELEGY

 

without a sound, eyes crying sadly

looked back, and looked again without passion

saw open doors and unattached gates

empty porches with no curtains or covers

where the soldiers who had promised faithful

 

the samurai have been transcribed

how can fight for the last bastion

defending the story of the mighty of ancestors

defend themselves without hawks

the eagles had changed feathers and the tiger had gone

 

I will accept my destiny with my eyes open

despite the torture of torture

will not be begging to the enemy

for the honor of the ancestors

I will kiss the death

 

Lhokseumawe, May 16, 2009

kissing the death, an elegy translate from Mencumbui Kematian Sebuah Elegi

XXX

Describes the feeling of Toyotomi Hideyori, ahead of the fall of Osaka Castle on the Tokugawa Ieyasu army. After hearing the most powerful samurai, Yukimura Sanada fought desperately to pick up death on the front. Alone to keep the honor of his master.

XXX

More article in English

  1. YUKIMURA SANADA, THE LAST GENERAL; 10 April 2017;
  2. THE LAST WITCH; 10 April 2017;
  3. ALI AND MALENA, A LOVE STORY; 11 April 2017;
  4. TOKUGAWA IEYASU, THE ASURA; 19 April 2017;
  5. BHISHMA’S DEATH; 21 April 2017;
  6. BEHIND THE SCENES MACHIAVELLI WROTE THE PRINCE; 23 April 2017;
  7. SPEECH OF THE BIRDS; 25 April 2017;
  8. THE NOBLE VEIL, ODA NOBUNAGA; 13 May 2017;
  9. LETTER TO LISA; 9 June 2017;
  10. THE RIVER MAN; 18 July 2017;
  11. SELF EVALUATION; 5 September 2017;
  12. THE FATE OF THE PAWNS; 4 October 2017;
  13. THE MEANING OF NOSTALGIA; 12 October 2017;
  14. HARLEQUIN AND THE TREE OF HOPE; 13 November 2017;
  15. NOTHING; 18 November 2017;
Posted in History, International, Poetry | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

A WEEK AFTER THE ACEH TSUNAMI (2004)

A Week After the Tsunami we are still looking for Nino Priyanka, our friend who disappeared in the disaster.

A WEEK AFTER THE ACEH TSUNAMI (2004)

 

When the nights can’t sleep the awakened souls

Tired of forged hot sun burning

And the crashing waves had passed

Leave the debris strewn all over

 

Mass Grave of the Tsunami Victims (2007)

Let time answer it

Going hopeless with the cries of the lost

Scrambled at the heart due to the storm

Telling the wounds of the soul that imprint forever

 

Together with strong people with tears

Together with weakness we try to brace ourselves

Looking at the day that will pass keep changing

Since we are not weak, we are mighty humans

 

Banda Aceh, Sunday, January 2, 2005

Translate From: Seminggu Setelah Tsunami Aceh

XXX

Other Poems:

  1. I WANT TO SAY NOT ENDED; 6 November 2010;
  2. THE MOST BEAUTIFUL OF A FLOWER; 22 December 2010;
  3. RUN; 17 October 2015;
  4. A MAN OF FUTURE; 6 January 2017;
  5. HEAVEN; 16 July 2017;
  6. A SUFI SONG; 13 August 2017;
  7. THE POET; 17 August 2017;
  8. FRUITS OF ANGER; 20 August 2017;
  9. POETRY OF KINDERGARTEN; 29 August 2017;
  10. A POEM ABOUT MORNING; 12 September 2017;
  11. HOPE FOR PEACE; 22 September 2017;
  12. IS THIS LOVE; 25 October 2017;
  13. A NOTE FROM A LOSER; 10 November 2017;
  14. NOTHING; 18 November 2017;
  15. MY PRAY, A POEM WRITTEN BY HAMZAH FANSURI; 12 December 2017;
Posted in International, Literature, Poetry, Reportase, Story | Tagged , , , , , , , , , , , | 1 Comment

HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH

Rumah Adat Aceh

HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH

Tulisan dan lisan Hikayat Aceh

Hikayat Aceh merupakan kesusasteraan Aceh dapat kita artikan sebagai semua yang telah dikarang (awalnya) dengan bahasa Aceh. Mengapa disebut dikarang? Karena ada perbedaan antara apa yang diabadikan dengan tulisan maupun tidak. Di masa lalu, hikayat diceritakan berdasarkan cerita mulut ke mulut dari generasi ke generasi.

Dua karya heroik Aceh terkemuka di masa lalu (Malem Dagang dan Pocut Muhammad) membahas tentang fakta sejarah dan legenda Aceh pada masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam bahkan pada masa Belanda menyerang Aceh dikenal dalam bentuk tertulis. Kemudian kisah-kisah perang melawan Belanda sendiri, misalnya Hikayat Perang Kumpeni sangat sedikit ditemukan tertulis, dan bahkan dikarang secara bertahap oleh orang yang tidak bisa baca tulis yaitu Abdulkarim yang dikenal sebagai Dokarem.

Karya kesusateraan Aceh lain, pantun misalnya yang sering ditampilkan dalam rateb dan kenduri hanya disebarluaskan secara lisan, meskipun demikian pantun-pantun lisan ini lebih punya arti dalam kaitan dengan aspek intelektual kehidupan orang Aceh.

Pada masa lalu, karya Aceh yang tertulis lebih terjaga dari kemungkinan perubahan dibanding yang lisan. Karena berupa tulisan tangan, setiap orang yang menyalin karangan boleh merasa berhak mengubah aslinya, tapi jika sang penulis tidak melakukan itu menurut selera dan idenya, maka ia dianggap kurang pintar dan tidak berbakat sastra.

Prosa Aceh digunakan sebagai pengantar tidur bagi anak untuk didendangkan, bagi para dewasa untuk mengatasi rasa bosan dalam pertemuan-pertemuan masyarakat.

Cerita-cerita dari Negeri Aceh

Sehari-hari dikenal dengan istilah Haba (Bahasa Indonesia:Kabar), istilah ini juga digunakan untuk cerita para orang tua mengenai masa lampau, atau tradisi untuk menghormati sejarah masa lampau, secara umum pada semua perkembangan dan peristiwa. Setiap tokoh Aceh yang bijaksana dan arif di masa lalu pasti menyimpan sejumlah haba jameun (kabar purba), yang pada kesempatan tertentu diceritakan kepada para pendengarnya  dengan penuh hormat. Meskipun cerita serius serupa juga diberi nama yang sama dengan dongeng anak-anak, keduanya tetap terpisah secara tegas dalam benak orang-orang Aceh.

Sifat fabel dan dongeng Aceh

Fabel dan dongeng Aceh sangat bernilai, bahasanya mirip percakapan sehari-hari dibandingkan dengan syair-syair berirama yang merupakan bagian terbesar dari sastra tertulis. Isinya juga sangat menarik.

Beberapa Haba tak lebih dari reproduksi syair romansa tertentu dalam bentuk prosa, sejumlah besar satu sama lain juga dapat ditemukan dalam kesusasteraan Aceh maupun kesusasteraan Melayu.

Dalam Haba-haba berbahasa Aceh, orang juga dapat menemukan cerita rakyat pribumi yang memancing orang untuk melakukan perbandingan dengan cerita sejenis di kalangan suku bangsa di Indonesia.

Di samping hikayat-hikayat tentang negeri Aceh sendiri, hikayat-hikayat di negeri Aceh memiliki perbedaan tentang cara penyebarannya dengan wilayah lain di Nusantara, karena orang-orang Aceh baik kanak-kanak maupun dewasa menyukai cerita, siapapun yang mampu berhikayat di kampungnya akan dianggap sebagai seseorang yang terpandang, dan diharapkan kehadirannya dalam acara kemasyarakatan. Sedang mengenai apa yang diceritakan terdapat persamaan yang jelas dalam subjek pokoknya, dalam hal ini walaupun seolah nyaris tidak ada kemungkinan saling pinjam meminjam, paling tidak sejak abad ke-19 ada banyak materi yang sama diperoleh dari berbagai suku di India, tentu dengan menyesuaikan dengan selera pencerita dan kearifan lokal setempat.

Risalah Hikayat Asli Aceh

Adapun puisi-puisi heroik bahasa Aceh yang murni Aceh baik dalam bentuk, subjek maupun asal muasalnya antara lain adalah “Hikayat Perang Sabil” oleh Teungku Chik Di Tiro ataupun “Tadkirat ar-radikin” (Peringatan bagi pemalas) oleh Teungku Chik Kuta Karang dan yang sejenis dapat dipandang sebagai literature agama dan pendidikan.

Syair Hikayat Perang Sabi (Hikayat Perang Sabil) Koleksi Museum Aceh sebagai penyemangat pejuang Aceh dalam melawan agresi Belanda.

Syair Hikayat Perang Sabi Koleksi Museum Aceh

Watak cerita seperti ini adalah asli Aceh. Seruan-seruan termaktub di dalamnya dengan kutipan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang memberikan penjelasan bahwa Perang Sabil mengusir penjajah Belanda merupakan kewajiban dan memperoleh ganjaran berupa surga yang tak ternilai harganya.

Free Download berbagai hikayat dari negeri Aceh

Pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi Tsunami terdahsyat sepanjang catatan sejarah manusia yang menelan korban 200.000 jiwa. Disamping itu berbagai arsip dan naskah kuno yang tersimpan di berbagai museum di Aceh musnah.

Ketika referensi tentang Aceh musnah, generasi Aceh kedepan akan kehilangan pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan tentang negerinya. Beruntung pernah ada situs http://www.acehbooks.org/ yang dibiayai oleh Menteri Pendidikan Belanda, dikelola oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde) di Leiden. KITLV tersebut menyedikan sebagian besar literatur tentang Aceh secara digital untuk diserahkan kepada masyarakat Aceh. Proyek tersebut terutama untuk proses digitalisasi sejumlah literatur tentang Aceh diawasi oleh Perpustakaan Kerajaan di Den Haag.

Karena beberapa dokumen tidak memiliki hak cipta maka akhirnya situs itu akhirnya menutup sebagian akses terhadap sebagian besar buku yang bisa diakses. Kebetulan penulis sempat mengunduh sebagian buku yang ada disitu. Atas dasar panggilan hati maka penulis membagikan beberapa hikayat yang sempat terdokumentasi kepada segenap pembaca.

Berikut hikayat-hikayat dari negeri Aceh yang dapat di download disini:

Kesusasteraan Aceh dapat kita artikan sebagai semua yang telah dikarang (awalnya) dengan bahasa Aceh. Di masa lalu, hikayat Aceh diceritakan berdasarkan cerita mulut ke mulut dari generasi ke generasi.

  1. Hikayat Banun Setia; Cetakan kedua; 1958; Hikajat Banun Setia 1950
  2. Hikajat Soeltan Atjeh Marhoem (Soeltan Iskandar Muda); T. Mohammad Sabil; Balai Poestaka; 1932; Hikajat Seoltan Atjeh Marhoem diMelajoekan -1932- T. Mohammad Sabil
  3. Hikayat Putroe Meulue; Drs. Jauhari Ishak; PT. Meudanghara Putra; Jakarta 1984; Cetakan Pertama; Hikayat – Putroe Meulue
  4. Hikayat Armada Aceh Di Laut Merah; Andy Wasis; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Tahun Anggaran 1987/1988; Hikayat – Armada Aceh Di Laut Merah
  5. Hikayat Nama Manggeng Dan Seorang Pangeran; Muhd. Yacob; Balai Pustaka; 1989; Hikayat – Asal Nama Manggeng
  6. Hikayat Batu Belah Batu Bertangkup; Drs. Y.B. Suparlan; Kanisius; 1994; Hikayat – Batu Belah Batu Betangkup
  7. Hikayat Malahayati Singa Betina Dari Aceh; Adi Pewara; Karya Anda; 1991; Hikayat – Malahayati
  8. Hikayat Merah Silu; Andi Wasis; CV. Sarana Jaya; Cetakan Pertama; 1983; Hikayat – Meurah Silu
  9. Hikayat Putroe Lindong Buleuen; Drs. Jauhari Ishak; Meudanghara Putra; 1984; Hikayat – Putroe Lindong Buleuen
  10. Hikayat Banta Amat Ngon Nahuda Seukeum; Drs. Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1985; Hikayat Banta Amat Ngon Nahuda Seukeuem 1-1985-Ramli Harun
  11. Hikayat Eelia Tujoh; Drs. Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1981; Hikayat Eelia Tujoh -1981- Ramli Harun
  12. Hikayat Harap Binasa; Teungku Abdullah; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Harap Binasa -1982- Teungku Abdullah
  13. Hikayat Sultan Aceh Iskandar Muda; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1985; Hikayat Iskandar Muda -1985- Ramli Harun
  14. Hikayat Nabi Ibrahim; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1985; Hikayat Nabi Ibrahim -1985-Ramli Harun
  15. Hikayat Nabi Jusuf; Ishak Peutua Gam; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1983; Hikayat Nabi Jusuf-1983- Ramli Harun
  16. Hikayat Nabi Musa; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1981; Hikayat Nabi Musa -1981-Ramli Harun
  17. Hikayat Nubeut; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1984; Hikayat Nubuet -1984- Ramli Harun
  18. Hikayat Nun Parisi; Anzib; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1981; Hikayat Nun Parisi -1981- Anzib
  19. Hikayat Perang Aceh; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Perang Aceh-1982- Ramli Harun
  20. Hikayat Peureudan Ali Jilid 1; Teungku Pakeh; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1984; Hikayat Peureudan Ali 1 -1984- Ramli Harun
  21. Hikayat Peureudan Ali Jilid 2; Teungku Pakeh; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1984; Hikayat Peureudan Ali 2 -1984- Ramli Harun
  22. Hikayat Pocut Muhammad; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1981; Hikayat Pocut Muhammad -1981- Ramli Harun
  23. Hikayat Prang Cut Ali; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Prang Cut Ali -1982- Ramli Harun
  24. Hikayat Putroe Hijoe; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1988; Hikayat Putroe Hijoe
  25. Hikayat Raja Bada; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Raja Bada-1982- Ramli Harun
  26. Hikayat Ranto Ngon Hikayat Teungku di Meukek; Leube Isa dan Tengku Malem; Hikayat Ranto Ngon Hikayat Teungku di Meukek -1983- Ramli HarunDepartemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1983;
  27. Hikayat Sariman Budi; Anzib; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1983; Hikayat Sariman Budi -1983- Anzib
  28. Hikayat Tajul Muluk Jilid I; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Tajul Muluk I -1982- Ramli Harun
  29. Hikayat Tajul Muluk Jilid II; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Tajul Muluk II-1982- Ramli Harun
  30. Hikayat Usman Basyah Jilid I; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1983; Hikayat Usman Basyah 1-1983- Ramli Harun
  31. Hikayat Usman Basyah Jilid II; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1983; Hikayat Usman Basyah 2-1983- Ramli Harun

Cara mengunduh e-book:

  1. Klik tautan tersebut kemudian akan terbuka laman baru;
  2. kemudian tautan nama buku;
  3. Lalu dibuka dengan browser;
  4. Setelah selesai terbuka simpan dikomputer/gawai anda;

Apabila ada tautan e-book yang tidak bisa dibuka, kami berharap segera dikabari dan kami akan berupaya agar tautan yang rusak dapat segera diperbaiki, terima kasih dan selamat membaca.

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Download, E-Book, Kisah-Kisah, Opini, Photography, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 126 Comments