LIFE IS A JOURNEY

The Life is a journey of self-control.

LIFE IS A JOURNEY

Is life a journey?

Every birth if thought carefully is just a coincidence. With hundreds of millions of sperm swimming blindly in the dark, it is very unlikely that a person can become what they are. Of all the crowded in the universe, how much is planned? He wonders, feeling floundering because he is exhausted to find himself pondering the coincidences that have made them exist.

Likewise life, perhaps life is a tiring journey, a vast desert, worrying, as the storm came, the sand dunes moved, and wide open in front. In a vast journey, often attacked by thirst and imagine mirage, this could be all fantasy is thirst empty and gone.

And when it comes to the oasis, it is thought that heaven. To enjoy and satisfy in heaven. But it turns out that it is too mortal, and is just a place to stop alone while humans are just a drain, then set off again through the desert, looking for another. No purpose and direction.

Always bedouin or nomadic. It is played by the natural surroundings, by the never-ending fancies in unattainable colors. Sluggish and weary, according to the wings of wishful thinking. Among the world’s seduction, he had to keep his honor. Not just slaves, slaves of all flowers withered quickly. Blessed are those who are not fascinated with the colors of the clouds of clouds, which the wind wanders over the vast sky.

Life is self-control. Those who are erect with two legs, those who see all that surrounds it with The Divine and creates as His vicegerent on earth. Those who built the flower gardens, in the service of The God. Wandering, soul rays with The Divine, obedient, heart-warming, fostering devotion and soul-tranquilizing.

Bait Al-Hikmah, 20 Rabbiul Awwal 1436 H (January 11, 2015)

Translate From: Pengembaraan

Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , | 6 Comments

WAWANCARA DENGAN SANG IBLIS

Konon setan membenci akhirat, itu sebabnya mereka sangat gembira mencelakakan manusia disini.

WAWANCARA DENGAN SANG IBLIS

Alam raya ini, tempat kita hidup selayaknya gelanggang perjuangan yang tak putus-putus. Sekuat apapun aku berusaha, diriku sering mengalami kegagalan. Padahal aku hanya ingin sedikit saja kesenangan di dunia, sedikit kenikmatan ekonomi, dan bisa bersama orang yang kucintai. Tidak harus berlebih, hanya cukup. Huff, padahal aku tak meminta apa-apa yang berlebihan tapi mengapa semua seolah dijauhkan dari aku.

Alkisah aku sudah berusaha semampuku, bekerja siang dan malam namun apa dikata aku kurang berhasil melakukan apa yang seharusnya bisa aku lalukan, aku merasa lelah menggapai apa yang tidak bisa aku gapai. Bimbang, galau aku terpekur dalam diam.

Malam ini, hening tanpa angin, selepas Isya akhirnya aku menuruti petuah seorang teman, sungguh tersiksa aku menaiki lereng Gunung Mata Air, melewati Kampung Elang sudah satu jam lebih.  Entah apa yang aku pikirkan sehingga sejauh ini berjalan, kulitku gatal-gatal digigiti nyamuk, bangke pikirku. Aku mencoba mengusir rasa kantuk yang menyerang.

Dua belas jam sebelumnya.

“Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan rahasia kesuksesanku ini kepada orang lain, tapi karena aku lihat kau masih saja begini-begini saja, maka aku akan membaginya kepadamu, sebuah tips yang akan mengubah hidupmu sahabatku. Di Gunung Mata Air, jalan terus melewati Kampung Elang menuju puncak disana kau akan bertemu Sang Katalis.” Kawanku menggosok cincin bermata batu bacan. Ia tersenyum. “Dia adalah penasehat spiritual bagiku, boleh dikata. Aku yang sekarang ini adalah berkat bantuannya, berkat nasehat-nasehat mujarab darinya.”

Aku terdiam memandangi kawanku itu, lihatlah sekarang dia begitu sukses. Mengenakan setelah jas abu-abu dengan dasi berwarna khaki. Sepatunya import dari Swiss. Sungguh hebat dia bisa sesukses ini. Apa rahasianya? Padahal dulu sewaktu sekolah menengah kerap kali ia nyaris tinggal kelas karena tidak mampu menyerap pelajaran. Hari-hari itu sudah lama berlalu, sekarang dia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sedang lihatlah nasibku seorang bintang kelas malah menjadi penjaga pintu pasar. Takdir macam apa ini!

Dia tersenyum ketika melihat aku berpikir keras. Kepala Pasar mengetuk pintu, permisi untuk masuk. Temanku bilang, “Mohon tunggu sebentar pak, saya sedang berbincang sebentar dengan sahabat saya zaman sekolah.”

Kepala Pasar membungkuk takzim lalu kemudian menutup pintu. Hari ini kawanku memimpin delegasi parlemen ke pasar, bahkan Kepala Pasar yang biasa garang pun memble di depan Dewan yang terhormat.

“Terus terang aku kasihan padamu Ahmad, kau orang baik dan saleh. Dulu sewaktu kita sekolah kau sering menolong aku. Coba kau pikirkan nasehatku ini, pergilah ke Sang Katalis, niscaya kau akan merasakan perubahan nasibmu.”

Aku masih terdiam. Kemudian ia berkata, “baiklah aku sekarang akan memimpin rapat dengan para pejabat pengelola pasar. Kembalilah bekerja, nanti kalau kau perlu apa-apa jumpai aku saja ya, jangan segan-segan.” Ia tersenyum seraya mengedipkan mata.

Aku beranjak keluar, di luar ternyata para pejabat pengelola pasar sedang menunggu masuk. Orang-orang masuk, tapi Kepala Pasar menarik tanganku lalu mengajakku ke sudut, ia berbisik. “Mulai sekarang, aku sepertinya harus memanggilmu bang Ahmad. Ternyata Bang Ahmad ini berkawan dengan orang besar, oh ya tolong bilang sama kawan abang, dinas kita ini jangan dipersulit ya.” Belum pernah Kepala Pasar berbicara selembut ini denganku, hidungku kembang-kempis karena bangga. Tak lama kemudian aku mengangguk.

XXX

Kata-kata bijak lebih langka adanya dari batu zamrud, namun orang mendengarnya dari mulut hamba perempuan miskin pemutar batu giling, begitulah sebuah pepatah Mesir yang pernah aku baca, tidak ada salahnya mencoba nasehat kawanku itu. Dan disinilah aku berjalan menelusuri malam melaksanakan nasehat kawanku itu. Disaat kaki-kakiku mulai lelah, dan ingin menyerah, tiba-tiba sayup-sayup dari kejauhan aku melihat sebuah bangunan putih di dalam kabut. Mungkinkah ini kediaman Sang Katalis? Aku maju dengan bersemangat. Ternyata bangunan itu sangat besar, menyerupai sebuah puri abad pertengahan. Agak aneh, mengapa mendekati puncak gunung ada sebuah bangunan sebesar ini? Tapi tidak terlalu diketahui orang. Ada perasaan aneh menyelimuti batinku, tapi aku sudah sejauh ini, masa harus menyerah sekarang? Maka kutepiskan rasa gentar itu untuk terus melangkah mendekati kastil itu.

Bertemu Sang Iblis

“Silakan masuk Kisanak!” Sebuah seruan datang dari dalam, aku pun mendorong pintu kastil tersebut dan mendapati selasar megah dengan kolam-kolam air mancur. Aku menuju kearah cahaya temaram. Seorang tua dengan wajah bercahaya duduk seraya membaca buku diatas sofa seraya menyilangkan kaki, ia menutup buku, matanya bercahaya gembira.

“Kebetulan sekali, malam ini aku sedang disini, tak menyangka akan kedatangan tamu.” Ia berdiri menyalami aku, kemudian mempersilahkan duduk. “Siapakah Kisanak? Dan gerangan apa yang membuat Kisanak mendatangi aku disini?” Tanyanya antusias. Tapi aku hanya terdiam.

Kemudian ia mencoba mengingat-ingat, “Oh ya seorang sahabat saya. Latif baru-baru ini memberitahukan bahwa sahabatnya Ahmad akan datang kemari, kaukah itu Kisanak?”

Aku mengangguk.

“Dia mengatakan temannya, yaitu Ahmad yang mana adalah kamu memiliki banyak masalah terutama ekonomi sehingga membutuhkan nasehatku, benarkah begitu?” Ia menyelidik.

Aku mengangguk lagi. Ia tersenyum ramah. “Selama ribuan, eh maksudku puluhan tahun baru kali ini aku menemukan seseorang yang hanya mengangguk ketika ditanya. Ayolah ceritakan maksud hatimu datang kepadaku, niscaya aku akan membantu.” Ia menghirup nafas panjang, seolah ingin menciumi aroma tubuhku. Matanya sedikit kecewa, ada kebijaksanaan dalam tatapan yang teduh itu, tapi entah kenapa aku ketakutan.

Malu-malu aku menciumi ketiak kanan dan kiri tapi memang perjalanan yang panjang membuat aku berkeringat, berbau asem. Aku hendak berbicara, tapi lidahku menjadi kelu dan tak bisa berkata-kata. Aku pikir aku terlalu kelelahan sehingga kram.

Ia menawarkan aku secangkir air, baunya seperti madu muda. Setelah perjalanan panjang aku pikir tak baik meminum madu, lebih baik air putih. Aku menggeleng, dan sekilas wajahnya terlihat tidak senang. Ia pun kehilangan kata-kata sesaat.

“Bagaimana aku bisa memberimu nasehat Ahmad jika kamu tidak mengatakan apa-apa?” Apakah kamu bisu?”

Aku menggelengkan kepala. Ia terlihat sangat heran. Sesungguhnya aku lebih heran lagi kenapa aku tidak bisa berkata-kata. Hubungan antara otak dan lidah macet, tapi bukan sebenarnya aku memang tidak tahu harus berkata apa. Kepalaku dipenuhi rumus-rumus Kimia dan Fisika yang telah lama aku tinggalkan pelajarannya. Sedang hatiku merasa gentar amat sangat.

“Mungkin kamu perlu menghangatkan diri, atau sejenis minuman yang akan menstabilkan aliran darah?” Aku sangat senang jika ada minuman jahe hangat, tapi mana ada di tengah gunung seperti ini.

Ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah botol. “Tidak ada obat yang haram, maka minumlah anggur ini. Niscaya kamu akan lebih segar.” Katanya ramah, aku memandangi wajah bijaksana itu, lalu menggelengkan kepala.

Ia terlihat sangat kecewa, “maka tidak ada yang bisa kita bicarakan. Pulanglah dulu Ahmad, nanti ketika kau sudah mengatasi ketidakmampuanmu berbicara ini, datanglah kembali kemari.”

Aku mengangguk pelan, dan menyalaminya mohon izin. Rasa takut yang luar biasa membuatku melangkah bergegas meninggalkan kastil itu. Ketika aku diluar ku rasakan embun sudah mulai turun, aku menggigil. Disepanjang perjalanan karena dicengkram kalut, mencoba menenangkan diri, aku melafalkan dalam hati Al-Qur’an surat Al-Ikhlas, An-Nas dan Al-Alaq. Jalanan yang menurun membuat hatiku menjadi lapang.

Sang Katalis! Sedari tadi unsur-unsur kimia berkelebatan dikepalaku. Katalis adalah nama proses kimia. Katalis, suatu reaksi kimia yang keberhasilannya tergantung pada suatu jenis zat tertentu, di mana zat itu tidak mengalami perubahan. Zat yang tidak mengalami perubahan itu disebut Katalisator.

Sepanjang sejarah umat manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab suci. Makhluk yang senantiasa mempengaruhi manusia tanpa merubah sifat, karakter dan wujudnya sendiri hanya ada satu. Ia adalah Sang Iblis, yang tak pernah berbuat apa-apa, ia hanya membisikkan godaan kepada dalam hati para manusia. Aku adalah manusia yang lemah, kakiku semakin gemetaran ketakutan. Ia yang begitu berkuasa, nyaris mencengkram aku dalam wajahnya yang penuh kebijaksanaan. Semakin aku pikirkan semakin aku takut, bahwa baru saja aku berjumpa dengan Sang Iblis sendiri.

Udara semakin dingin, akupun semakin mencekam. Didorong naluri ketakutan akupun berlari menuruni Gunung Mata Air, tak peduli ilalang, ranting yang menusuk aku sekuat tenaga berlari. Ya Allah lindungilah hamba.

Seketika aku mendengar suara azan menggema. Shubuh sudah datang, dan aku sudah dekat ternyata dengan Kampung Elang. Terbirit-birit aku berlari mencari perkampungan terdekat, suara azan ini menuntun aku dalam kegelapan.

Keangkuhan Iblis

Keangkuhan Iblis

Ketika jalanan telah datar, aku berhenti dan menarik nafas sejenak. Tiba-tiba punggungku ditepuk seseorang dan aku hampir kena serangan jantung akibat ketakutanku. Aku menoleh dengan suasana horor. Dibelakangku ada seorang kakek, mengenakan kupiah dan kain sarung tersenyum, dalam cahaya bulan terlihat gigi seri bagian atas sudah tanggal ketika ia tersenyum.

“Nak, ayuk kita shalat Shubuh di langgar,” ajaknya. Aku mengangguk kencang sekali. Kami berjalan kearah langgar kampung, tanganku dituntun oleh kakek itu. Perasaanku bagai bertemu dengan malaikat penyelamat, bahkan dapat diumpamakan bertemu malaikat Jibril yang menarikku dari kegelapan.  Shubuh itu adalah shubuh berjamaah paling khuyu’ yang pernah aku lakukan. Setelah Shalat selesai kakek tersebut naik ke mimbar.

“Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon kekekalan (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Surga menyediakan apapun, buah-buahan melimpah dan semuanya boleh dimakan tanpa kekenyangan, dan keinginan buang hajat. Namun ada sebuah pantangan, Allah S.W.T memberi pengecualian kepada Adam dan Hawa untuk mendekati sebuah pohon, apalagi memakannya.

Adam sebagai manusia dilengkapi akal dan nafsu. Iblis mengetahui hal tersebut, maka dia mempengaruhi Adam melalui hawa nafsunya. Hawa nafsu tersebut dipengaruhi terus-menerus oleh Iblis agar Adam keluar dari fitrahnya, yaitu melanggar batas.  Akhirnya tergelincirlah Adam beserta istrinya Hawa memakan buah kekekalan (khuldi) yang terlarang itu, dan mereka menjadi manusia pertama “melanggar perintah Allah.”

Adam menyesali perbuatannya dan mengakui kesalahan yang dilakukan, disitulah perbedaan Adam dengan Iblis. Iblis tidak menurut perintah Allah, dengan sadar dan tahu serta tidak mengakui perbuatannya. Karena itu dia tidak meminta ampun dan taubat, sedang Adam bersedia kembali berbakti dan taat kepada Allah S.W.T.

Setelah itu Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi dan kemudian berketurunan, maka Allah memberikan hidayah atau petunjuk jalan yang benar, supaya manusia dalam ketentraman dan aman.

Seluruh manusia yang hidup di muka bumi hari ini meski bukanlah cetakan murni dari Nabi Adam a.s tapi tetap merupakan keturunannya, tak pelak kita juga menghadapi godaan pohon khuldi juga. Jikalah sebelumnya khuldi itu adalah kekekalan, maka kita manusia akan menghadapi cobaan yang berbagai macam jenisnya.

Godaan Iblis kepada manusia berbagai macam bentuknya, pada dasarnya manusia mengejar pohon kekekalan (khuldi) tersebut dengan bentuk yang berbeda pada tiap individu. Ada yang dianjurkan kikir dan ada yang dianjurkan boros. Ada yang dirayu untuk mengutamakan dunia, tapi ada juga yang dibujuk untuk mengutamakan akhirat saja. Ada yang bisikkan agar riya. Ada yang diuji dengan belum memiliki anak, jodoh, harta serta ada juga yang diuji dengan memiliki anak, harta dan rezeki lain. Paling berbahaya adalah orang-orang yang tidak sadar jika dia sedang diuji oleh bujuk rayu Iblis.

Jika rezeki bisa menjadi cobaan, maka apa rezeki yang paling berharga di dunia ini. Rezeki yang peling berharga bagi manusia adalah pemahaman agama yang benar, jika manusia memahami hal ini maka ia niscaya tidak keluar dari fitrahnya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w

Matahari sudah muncul malu-malu, aku berpamitan dengan jama’ah Shubuh di langgar Kampung Elang, terutama kakek itu sebelum berpisah aku memeluknya dengan kencang, ia terlihat heran sebentar, tapi kemudian ia tersenyum lagi kepadaku.

XXX

Di dunia yang sedih dan tak sempurna, tak semua orang bisa menjadi pemenang. Sebagian akan menderita kekalahan. Tapi mengapa manusia harus memburu-buru kejayaan itu, dan memperebutkannya dengan habis-habisan? Mungkin karena manusia menjadi semakin jelek dan berdosa, jika ia tak mampu mengatasi kecenderungan keji dirinya sendiri.

Seorang yang tafakur yang selalu zikir tahu bersyukur melihat dirinya sendiri. Tapi ia juga seseorang yang harus tahu kerendahan hati bisa pergi. Setiap kita harus memahami hidup adalah teka-teki, dengan jawaban yang berubah-ubah.

Maka pagi itu aku pulang dengan perasaan lapang, Hatiku terasa terang meskipun dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan ini, aku akan berusaha untuk tidak merasa kekurangan lagi. Yang aku inginkan adalah menjalani hidup sesuai dengan fitrahku, tanpa cemburu, iri dan dengki ataupun keserakahan.

Apakah bisa? Semoga Allah S.W.T membimbing aku dan keluargaku, serta kita semua dengan kasih sayang-Nya berupa Taufik dan Hidayah. Amin Ya Rabbal Alamin. Hidup tidak hanya tentang nilai yang bagus, meskipun aku sebenarnya tidak begitu buruk, syukur pada Allah S.W.T.

XXX

Konon setan membenci akhirat, itu sebabnya mereka sangat gembira mencelakakan manusia disini, didunia yang fana ini.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 40 Comments

KISSING THE DEATH AN ELEGY

Sanada Yukimura (真田 幸村?, 1567 – June 3, 1615), actual name: Sanada Nobushige (真田 信繁?), was a Japanese samurai warrior of the Sengoku period. He was especially known as the leading general on the defending side of the Siege of Osaka.

KISSING THE DEATH AN ELEGY

 

without a sound, eyes crying sadly

looked back, and looked again without passion

saw open doors and unattached gates

empty porches with no curtains or covers

where the soldiers who had promised faithful

 

the samurai have been transcribed

how can fight for the last bastion

defending the story of the mighty of ancestors

defend themselves without hawks

the eagles had changed feathers and the tiger had gone

 

I will accept my destiny with my eyes open

despite the torture of torture

will not be begging to the enemy

for the honor of the ancestors

I will kiss the death

 

Lhokseumawe, May 16, 2009

kissing the death, an elegy translate from Mencumbui Kematian Sebuah Elegi

XXX

Describes the feeling of Toyotomi Hideyori, ahead of the fall of Osaka Castle on the Tokugawa Ieyasu army. After hearing the most powerful samurai, Yukimura Sanada fought desperately to pick up death on the front. Alone to keep the honor of his master.

XXX

More article in English

  1. YUKIMURA SANADA, THE LAST GENERAL; 10 April 2017;
  2. THE LAST WITCH; 10 April 2017;
  3. ALI AND MALENA, A LOVE STORY; 11 April 2017;
  4. TOKUGAWA IEYASU, THE ASURA; 19 April 2017;
  5. BHISHMA’S DEATH; 21 April 2017;
  6. BEHIND THE SCENES MACHIAVELLI WROTE THE PRINCE; 23 April 2017;
  7. SPEECH OF THE BIRDS; 25 April 2017;
  8. THE NOBLE VEIL, ODA NOBUNAGA; 13 May 2017;
  9. LETTER TO LISA; 9 June 2017;
  10. THE RIVER MAN; 18 July 2017;
  11. SELF EVALUATION; 5 September 2017;
  12. THE FATE OF THE PAWNS; 4 October 2017;
  13. THE MEANING OF NOSTALGIA; 12 October 2017;
  14. HARLEQUIN AND THE TREE OF HOPE; 13 November 2017;
  15. NOTHING; 18 November 2017;
Posted in History, International, Poetry | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

A WEEK AFTER THE ACEH TSUNAMI (2004)

A Week After the Tsunami we are still looking for Nino Priyanka, our friend who disappeared in the disaster.

A WEEK AFTER THE ACEH TSUNAMI (2004)

 

When the nights can’t sleep the awakened souls

Tired of forged hot sun burning

And the crashing waves had passed

Leave the debris strewn all over

 

Mass Grave of the Tsunami Victims (2007)

Let time answer it

Going hopeless with the cries of the lost

Scrambled at the heart due to the storm

Telling the wounds of the soul that imprint forever

 

Together with strong people with tears

Together with weakness we try to brace ourselves

Looking at the day that will pass keep changing

Since we are not weak, we are mighty humans

 

Banda Aceh, Sunday, January 2, 2005

Translate From: Seminggu Setelah Tsunami Aceh

XXX

Other Poems:

  1. I WANT TO SAY NOT ENDED; 6 November 2010;
  2. THE MOST BEAUTIFUL OF A FLOWER; 22 December 2010;
  3. RUN; 17 October 2015;
  4. A MAN OF FUTURE; 6 January 2017;
  5. HEAVEN; 16 July 2017;
  6. A SUFI SONG; 13 August 2017;
  7. THE POET; 17 August 2017;
  8. FRUITS OF ANGER; 20 August 2017;
  9. POETRY OF KINDERGARTEN; 29 August 2017;
  10. A POEM ABOUT MORNING; 12 September 2017;
  11. HOPE FOR PEACE; 22 September 2017;
  12. IS THIS LOVE; 25 October 2017;
  13. A NOTE FROM A LOSER; 10 November 2017;
  14. NOTHING; 18 November 2017;
  15. MY PRAY, A POEM WRITTEN BY HAMZAH FANSURI; 12 December 2017;
Posted in International, Literature, Poetry, Reportase, Story | Tagged , , , , , , , , , , , | 1 Comment

HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH

Rumah Adat Aceh

HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH

Tulisan dan lisan Hikayat Aceh

Hikayat Aceh merupakan kesusasteraan Aceh dapat kita artikan sebagai semua yang telah dikarang (awalnya) dengan bahasa Aceh. Mengapa disebut dikarang? Karena ada perbedaan antara apa yang diabadikan dengan tulisan maupun tidak. Di masa lalu, hikayat diceritakan berdasarkan cerita mulut ke mulut dari generasi ke generasi.

Dua karya heroik Aceh terkemuka di masa lalu (Malem Dagang dan Pocut Muhammad) membahas tentang fakta sejarah dan legenda Aceh pada masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam bahkan pada masa Belanda menyerang Aceh dikenal dalam bentuk tertulis. Kemudian kisah-kisah perang melawan Belanda sendiri, misalnya Hikayat Perang Kumpeni sangat sedikit ditemukan tertulis, dan bahkan dikarang secara bertahap oleh orang yang tidak bisa baca tulis yaitu Abdulkarim yang dikenal sebagai Dokarem.

Karya kesusateraan Aceh lain, pantun misalnya yang sering ditampilkan dalam rateb dan kenduri hanya disebarluaskan secara lisan, meskipun demikian pantun-pantun lisan ini lebih punya arti dalam kaitan dengan aspek intelektual kehidupan orang Aceh.

Pada masa lalu, karya Aceh yang tertulis lebih terjaga dari kemungkinan perubahan dibanding yang lisan. Karena berupa tulisan tangan, setiap orang yang menyalin karangan boleh merasa berhak mengubah aslinya, tapi jika sang penulis tidak melakukan itu menurut selera dan idenya, maka ia dianggap kurang pintar dan tidak berbakat sastra.

Prosa Aceh digunakan sebagai pengantar tidur bagi anak untuk didendangkan, bagi para dewasa untuk mengatasi rasa bosan dalam pertemuan-pertemuan masyarakat.

Cerita-cerita dari Negeri Aceh

Sehari-hari dikenal dengan istilah Haba (Bahasa Indonesia:Kabar), istilah ini juga digunakan untuk cerita para orang tua mengenai masa lampau, atau tradisi untuk menghormati sejarah masa lampau, secara umum pada semua perkembangan dan peristiwa. Setiap tokoh Aceh yang bijaksana dan arif di masa lalu pasti menyimpan sejumlah haba jameun (kabar purba), yang pada kesempatan tertentu diceritakan kepada para pendengarnya  dengan penuh hormat. Meskipun cerita serius serupa juga diberi nama yang sama dengan dongeng anak-anak, keduanya tetap terpisah secara tegas dalam benak orang-orang Aceh.

Sifat fabel dan dongeng Aceh

Fabel dan dongeng Aceh sangat bernilai, bahasanya mirip percakapan sehari-hari dibandingkan dengan syair-syair berirama yang merupakan bagian terbesar dari sastra tertulis. Isinya juga sangat menarik.

Beberapa Haba tak lebih dari reproduksi syair romansa tertentu dalam bentuk prosa, sejumlah besar satu sama lain juga dapat ditemukan dalam kesusasteraan Aceh maupun kesusasteraan Melayu.

Dalam Haba-haba berbahasa Aceh, orang juga dapat menemukan cerita rakyat pribumi yang memancing orang untuk melakukan perbandingan dengan cerita sejenis di kalangan suku bangsa di Indonesia.

Di samping hikayat-hikayat tentang negeri Aceh sendiri, hikayat-hikayat di negeri Aceh memiliki perbedaan tentang cara penyebarannya dengan wilayah lain di Nusantara, karena orang-orang Aceh baik kanak-kanak maupun dewasa menyukai cerita, siapapun yang mampu berhikayat di kampungnya akan dianggap sebagai seseorang yang terpandang, dan diharapkan kehadirannya dalam acara kemasyarakatan. Sedang mengenai apa yang diceritakan terdapat persamaan yang jelas dalam subjek pokoknya, dalam hal ini walaupun seolah nyaris tidak ada kemungkinan saling pinjam meminjam, paling tidak sejak abad ke-19 ada banyak materi yang sama diperoleh dari berbagai suku di India, tentu dengan menyesuaikan dengan selera pencerita dan kearifan lokal setempat.

Risalah Hikayat Asli Aceh

Adapun puisi-puisi heroik bahasa Aceh yang murni Aceh baik dalam bentuk, subjek maupun asal muasalnya antara lain adalah “Hikayat Perang Sabil” oleh Teungku Chik Di Tiro ataupun “Tadkirat ar-radikin” (Peringatan bagi pemalas) oleh Teungku Chik Kuta Karang dan yang sejenis dapat dipandang sebagai literature agama dan pendidikan.

Syair Hikayat Perang Sabi (Hikayat Perang Sabil) Koleksi Museum Aceh sebagai penyemangat pejuang Aceh dalam melawan agresi Belanda.

Syair Hikayat Perang Sabi Koleksi Museum Aceh

Watak cerita seperti ini adalah asli Aceh. Seruan-seruan termaktub di dalamnya dengan kutipan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang memberikan penjelasan bahwa Perang Sabil mengusir penjajah Belanda merupakan kewajiban dan memperoleh ganjaran berupa surga yang tak ternilai harganya.

Free Download berbagai hikayat dari negeri Aceh

Pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi Tsunami terdahsyat sepanjang catatan sejarah manusia yang menelan korban 200.000 jiwa. Disamping itu berbagai arsip dan naskah kuno yang tersimpan di berbagai museum di Aceh musnah.

Ketika referensi tentang Aceh musnah, generasi Aceh kedepan akan kehilangan pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan tentang negerinya. Beruntung pernah ada situs http://www.acehbooks.org/ yang dibiayai oleh Menteri Pendidikan Belanda, dikelola oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde) di Leiden. KITLV tersebut menyedikan sebagian besar literatur tentang Aceh secara digital untuk diserahkan kepada masyarakat Aceh. Proyek tersebut terutama untuk proses digitalisasi sejumlah literatur tentang Aceh diawasi oleh Perpustakaan Kerajaan di Den Haag.

Karena beberapa dokumen tidak memiliki hak cipta maka akhirnya situs itu akhirnya menutup sebagian akses terhadap sebagian besar buku yang bisa diakses. Kebetulan penulis sempat mengunduh sebagian buku yang ada disitu. Atas dasar panggilan hati maka penulis membagikan beberapa hikayat yang sempat terdokumentasi kepada segenap pembaca.

Berikut hikayat-hikayat dari negeri Aceh yang dapat di download disini:

Kesusasteraan Aceh dapat kita artikan sebagai semua yang telah dikarang (awalnya) dengan bahasa Aceh. Di masa lalu, hikayat Aceh diceritakan berdasarkan cerita mulut ke mulut dari generasi ke generasi.

  1. Hikayat Banun Setia; Cetakan kedua; 1958; Hikajat Banun Setia 1950
  2. Hikajat Soeltan Atjeh Marhoem (Soeltan Iskandar Muda); T. Mohammad Sabil; Balai Poestaka; 1932; Hikajat Seoltan Atjeh Marhoem diMelajoekan -1932- T. Mohammad Sabil
  3. Hikayat Putroe Meulue; Drs. Jauhari Ishak; PT. Meudanghara Putra; Jakarta 1984; Cetakan Pertama; Hikayat – Putroe Meulue
  4. Hikayat Armada Aceh Di Laut Merah; Andy Wasis; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Tahun Anggaran 1987/1988; Hikayat – Armada Aceh Di Laut Merah
  5. Hikayat Nama Manggeng Dan Seorang Pangeran; Muhd. Yacob; Balai Pustaka; 1989; Hikayat – Asal Nama Manggeng
  6. Hikayat Batu Belah Batu Bertangkup; Drs. Y.B. Suparlan; Kanisius; 1994; Hikayat – Batu Belah Batu Betangkup
  7. Hikayat Malahayati Singa Betina Dari Aceh; Adi Pewara; Karya Anda; 1991; Hikayat – Malahayati
  8. Hikayat Merah Silu; Andi Wasis; CV. Sarana Jaya; Cetakan Pertama; 1983; Hikayat – Meurah Silu
  9. Hikayat Putroe Lindong Buleuen; Drs. Jauhari Ishak; Meudanghara Putra; 1984; Hikayat – Putroe Lindong Buleuen
  10. Hikayat Banta Amat Ngon Nahuda Seukeum; Drs. Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1985; Hikayat Banta Amat Ngon Nahuda Seukeuem 1-1985-Ramli Harun
  11. Hikayat Eelia Tujoh; Drs. Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1981; Hikayat Eelia Tujoh -1981- Ramli Harun
  12. Hikayat Harap Binasa; Teungku Abdullah; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Harap Binasa -1982- Teungku Abdullah
  13. Hikayat Sultan Aceh Iskandar Muda; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1985; Hikayat Iskandar Muda -1985- Ramli Harun
  14. Hikayat Nabi Ibrahim; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1985; Hikayat Nabi Ibrahim -1985-Ramli Harun
  15. Hikayat Nabi Jusuf; Ishak Peutua Gam; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1983; Hikayat Nabi Jusuf-1983- Ramli Harun
  16. Hikayat Nabi Musa; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1981; Hikayat Nabi Musa -1981-Ramli Harun
  17. Hikayat Nubeut; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1984; Hikayat Nubuet -1984- Ramli Harun
  18. Hikayat Nun Parisi; Anzib; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1981; Hikayat Nun Parisi -1981- Anzib
  19. Hikayat Perang Aceh; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Perang Aceh-1982- Ramli Harun
  20. Hikayat Peureudan Ali Jilid 1; Teungku Pakeh; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1984; Hikayat Peureudan Ali 1 -1984- Ramli Harun
  21. Hikayat Peureudan Ali Jilid 2; Teungku Pakeh; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1984; Hikayat Peureudan Ali 2 -1984- Ramli Harun
  22. Hikayat Pocut Muhammad; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1981; Hikayat Pocut Muhammad -1981- Ramli Harun
  23. Hikayat Prang Cut Ali; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Prang Cut Ali -1982- Ramli Harun
  24. Hikayat Putroe Hijoe; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1988; Hikayat Putroe Hijoe
  25. Hikayat Raja Bada; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Raja Bada-1982- Ramli Harun
  26. Hikayat Ranto Ngon Hikayat Teungku di Meukek; Leube Isa dan Tengku Malem; Hikayat Ranto Ngon Hikayat Teungku di Meukek -1983- Ramli HarunDepartemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1983;
  27. Hikayat Sariman Budi; Anzib; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1983; Hikayat Sariman Budi -1983- Anzib
  28. Hikayat Tajul Muluk Jilid I; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Tajul Muluk I -1982- Ramli Harun
  29. Hikayat Tajul Muluk Jilid II; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1982; Hikayat Tajul Muluk II-1982- Ramli Harun
  30. Hikayat Usman Basyah Jilid I; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1983; Hikayat Usman Basyah 1-1983- Ramli Harun
  31. Hikayat Usman Basyah Jilid II; Ramli Harun; Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; 1983; Hikayat Usman Basyah 2-1983- Ramli Harun

Cara mengunduh e-book:

  1. Klik tautan tersebut kemudian akan terbuka laman baru;
  2. kemudian tautan nama buku;
  3. Lalu dibuka dengan browser;
  4. Setelah selesai terbuka simpan dikomputer/gawai anda;

Apabila ada tautan e-book yang tidak bisa dibuka, kami berharap segera dikabari dan kami akan berupaya agar tautan yang rusak dapat segera diperbaiki, terima kasih dan selamat membaca.

XXX

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  43. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  44. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  45. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  46. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  47. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Download, E-Book, Kisah-Kisah, Opini, Photography, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 127 Comments

SEMINGGU SETELAH TSUNAMI ACEH

Kuburan Massal para korban Tsunami di Ulee Lheu, Banda Aceh (2007)

SEMINGGU SETELAH TSUNAMI ACEH

(KAMI YANG BERTAHAN)

 

Malam-malam tak bisa lelapkan jiwa

Lelah ditempa panasnya matahari membakar

Dan gelombang yang menghempas itu telah berlalu

Tinggalkan puing-puing berserakan di seluruh penjuru

 

Biarlah waktu yang menjawab

Perginya asa bersama tangisan kehilangan

Caruk-maruk hati dihantam badai

Siratkan luka membekas selamanya

Seminggu Setelah Tsunami kami masih mencari sahabat Nino Priyanka yang menghilang pada bencana tersebut (Foto berlatar belakang Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Ulee Lheu di Banda Aceh yang hancur akibat bencana Tsunami Aceh 2004)

Bersama orang-orang tegar bersimbah air mata

Bersama kelemahan kami mencoba menguatkan diri

Menatap hari yang akan berlalu terus berganti

Karena kami tidak lemah, kami orang-orang perkasa

 

Banda Aceh, Minggu, 2 Januari 2005

XXX

Puisi:

  1. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  2. Padamu Perempuanku; 25 September 2008;
  3. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  4. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  5. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  6. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  7. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  8. Selamat Ulang Tahun Mama; 1 Februari 2010;
  9. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  10. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  11. Surga; 17 Juni 2013;
  12. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  13. Buah Amarah; 18 Desember 2016;
  14. Harap Damai; 14 September 2017;
  15. Diatas Puing-Puing; 6 November 2017;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Puisiku, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

MY PRAY, A POEM WRITTEN BY HAMZAH FANSURI

I miss looking at your beauty O God

MY PRAY, A POEM WRITTEN BY HAMZAH FANSURI

 

God whatever your bounty for me in the world

Grant to your enemies

 

And whatever your bounty for me in the afterlife

Dedicate to your best friends

Oh to me, enough of your presence

Oh to me, enough of your presence

 

If I prostrate for you God for fear of hell

Burn me with the fire of hell

When prostration me God because crave heaven

So close the gates of heaven to me

 

But if you prostrate for your sake only

O God, do not turn away from me

I miss looking at your beauty O God

I miss looking at your beauty O God

 

A poem sung by the people of Aceh is believed based on the folklore of this poem written by Hamzah Fansuri.

Posted in International, Literature, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

REFLEKSI 12 TAHUN BERSAMA SHOGUN 125

Ada gembira dan sengsara yang hanya pernah kita nikmati berdua saja, ada banyak orang-orang yang pernah kita temui, ada banyak tempat yang tak terbayangkan pernah kita datangi.

REFLEKSI 12 TAHUN BERSAMA SHOGUN 125

Barang siapa yang pernah hadir dalam hidup Abu selama dua belas tahun terakhir ini, baik itu sekejap, sebentar atau lama. Baik dalam posisi masih bertemu ataupun tidak pernah bertemu lagi pasti mengenali dia. Siapakah dia? Coba ingat-ingat siapakah yang selalu menemani Abu selama dua belas tahun terakhir? Tepat sekali dia adalah Shogun 125 berwarna biru yang selama ini Abu tunggangi. Tunggangi? Emangnya kuda.

Abu merasa tergelitik ketika seorang teman yang sama-sama pernah bertugas di KPP Pratama Lhokseumawe kemudian dimutasi ke KPP Pratama Banda Aceh, kemudian ditempat parkir kami bertemu, dia terkejut melihat Abu masih dengan Shogun 125 ini dan berkata, “Abu, kamu masih menggunakan motor ini? Aku sejak pertama kali bertemu (2008) dengan kamu sudah 3 kali ganti motor kamu masih pakai yang ini?”

Wah teman Abu yang ini tidak tahu, bahwa Abu bersama Kapal Biru, julukan Abu untuk Shogun 125 ini sudah sejak 2005, tepatnya Desember 2005.

Ada banyak komentar perbandingan tentang Kapal Biru dari berbagai sahabat dan handai tolan.

Yang paling senang Abu dengar. “Abu dulu aku ketika bertemu dengan kamu dengan Shogun biru ini masih mengendarai motor, sekarang Alhamdulillah sudah dengan mobil.”

Yang paling sedih Abu dengar. “Abu dulu aku ketemu dijalan raya dengan kamu bersama shogun itu, aku menggunakan mobil tapi nasibku sekarang Kita bertemu sama-sama naik motor.”

Dan yang paling aneh adalah. “Abu dulu aku bertemu denganmu bersama motor ini masih belum menikah, terus menikah, terus punya anak, kemudian cerai lalu menikah lagi, sekarang dari istri kedua mau punya anak lagi, lha kamu begitu-begitu saja je.” Ini komentar paling busyet. Lha, kenapa dibandingkan kenderaan Abu dengan perjodohan kawan tersebut.

Ada banyak perbandingan lain yang diungkapkan oleh teman-teman, handai tolan. Tapi Abu meyakini setiap orang yang bertemu dengan Abu pasti mengeluarkan perbandingan masing-masing, mungkin lebih banyak tidak mengatakan secara langsung. Hanya lewat pikiran saja, disimpan saja takut Abu tersinggung.

Menurut teman-teman secara garis besar, Shogun 125 biru itu menjelaskan keadaan nasib hidup Abu yang biasa-biasa saja, datar-datar saja dan disitu-situ saja. Orang sudah ke bulan dengan Apollo, tapi Abu masih berada di Abad ke-7 M, begitulah bisik seorang teman.

Benarkah begitu? Tidak juga perjalanan Abu bersama Shogun 125 ini sudah menjangkau separuh Aceh. Dari perbatasan Aceh Utara dan Aceh Timur sampai Aceh Selatan. Itu sebuah kebanggaan yang tak terperikan bagi Abu. Ada banyak belantara rimba kami tempuh, gunung-gunung perkasa yang pernah kami taklukkan yang dalam hidup ini, dan dunia yang bergerak ini kami sendiri tidak pernah tahu kapan berakhir.

Atau ada banyak gerimis, hujan bahkan badai yang pernah kami jalani bersama. Dalam gelapnya malam dan teriknya panas, ada perjalanan-perjalanan panjang spiritual yang ada hanya Shogun 125 ini dan Abu, lha siapa yang tahu bahwa kami pernah bercakap-cakap berdua dalam perjalanan gila yang tak terpikirkan oleh siapapun.

Abu bisa mengatakan pada kapal biru secara privat dalam perjalanan bolak-balik kantor sejauh 8 kilometer, “Dua belas tahun aku mengenalmu dan kau mengenalku, waktu aku bersamamu lebih panjang daripada sebagian besar orang-orang yang pernah aku kenal dalam hidupku.”

Orang-orang mengatakan, seseorang (terutama laki-laki) menamai barang miliknya seperti perempuan. Lha, bukankan kromosom laki-laki adalah XY dan perempuan XX, jadi dalam setiap laki-laki pasti ada sifat kewanitaan. Jadi Abu santai saja, mau dibilang apa juga bisa ditangkis kok.

Atau orang-orang mengatakan kalau seseorang berbicara dengan benda, apalagi kenderaannya sendiri adalah ciri-ciri orang gila, maka janganlah lupakan ada orang-orang lain yang berkata pula, kegilaan dan kejeniusan itu beda tipis. Berarti kalau Abu dituduh gila, bisa jadi mereka salah karena kemungkinan Abu ini jenius.

Shogun 125 ini ibarat pusaka Abu. Seperti Arjuna yang memiliki pusaka berupa anak panah Pasopati maka Abu memiliki pusaka berupa kapal biru. Bedanya adalah Arjuna dengan Pasopatinya adalah penakluk wanita sedang Abu dan Kapal Biru bukan penakluk wanita. Ya, terlepas dari segala statistik gemilang diberbagai bidang, Kapal Biru hanya pernah membonceng tiga perempuan saja sepanjang 12 tahun berkarir. Jika Arjuna dengan pusaka Pasopatinya menjadi playboy, Alhamdulillah jika kalian semua memiliki Shogun 125 kalian akan menjadi jomblo, tapi jangan khawatir pemirsa semua, meskikan pun jomblo kalian adalah Jomblo yang fisabilillah. Btw sebagai informasi, untungkah Abu sudah menikah (syukur ada yang mau). Oke, abaikan statistik ngawur ini.

Kapal Biru sebagai kapal tua bisa menjadi penolak bala, misalnya ketika seseorang yang terkenal suka meminjam uang tapi sangat tidak suka mengembalikan, berusaha dengan keras untuk berbincang dengan Abu. Abu orangnya sama teman, meski tidak dekat sungkan menolak sebuah undangan, apalagi jamuan makan.

Hadirlah Abu, ketika dia berjumpa kepada Abu, ia bercerita dengan mendayu-dayu, wajahnya sedih dan penuh air mata maka Abu menangis juga mendengar cerita pendek itu. Kisah teman tersebut lebih mengharukan daripada roman “Tenggelamnya kapal Van der Wijk” sehingga Abu tersentuh. Tapi ketika ia mengutarakan maksudnya, yaitu meminjam uang, yang sudah Abu tebak sedari awal.

Abu menjawab lebih sedih lagi, “wahai sahabatku, engkau mengalami cobaan yang sangat berat dalam hidupmu. Engkau datang padaku memohon pertolongan, aku merasa malu tidak bisa menolongmu. Lihatlah engkau memiliki sebuah mobil, sedang aku yang hina dina ini hanya memiliki sebuah motor tua. Cobalah engkau pikirkan, layakkah aku meludahi langit?”

Dengan segera dia meninggalkan Abu, seraya mengucapkan terima kasih telah mendengarkan curahan hatinya. Alhamdulillah-nya meskipun ia memiliki hubungan buruk dengan sangat banyak teman yang lain, hubungan Abu dengan dia baik-baik saja. Walaupun ada sedikit kekesalan Abu terhadap teman tersebut, dia lupa membayar bill makan-minum kami sejumlah Rp. 36.000,- sempat terpikir kalau diundang semestinya gratis, tapi ya sudahlah Abu bayar saja, ibarat kata meski sudah waspada berjalan kadang ya, terpijak tahi juga.

Banyak orang bertanya-tanya mengapa Abu selama 12 tahun betah dengan si Kapal Biru. Kadang-kadang Abu pun sudah malas menjawab lagi, itu-itu saja pertanyaannya. Ada beberapa sebab antara lain :

  1. Shogun 125 milik Abu ini, yang pada bulan ini genap bertualang selama satu lusin tahun bersama Abu bukanlah motor yang manja. Kehujanan berbulan-bulan tanpa pernah dicuci, servis 3 bulan sekali (kalau ingat), diisi premium, pertalite, pertamax sampai dengan minyak tanah sekalipun dia tidak pernah rewel. Kapal biru benar-benar sebuah motor yang operasionalnya mumpuni. Dia adalah pengejawantahan semboyan V.O.C “Kapal-kapal paling banyak menghasilkan keuntungan adalah kapal-kapal tua!” Akselerasi masih sangat bagus, hanya top speed saja maksimal 90 km/jam, ia tidak mampu lebih daripada itu. Itu sebenarnya sesuai dengan karakter Abu yang tidak suka kebut-kebutan. Cocokkan!
  2. Mesin sampai sekarang sehat wal-afiat, tidak ada oli yang bocor meski sudah melewati batas penghitungan kilometer pada speedometer 99.999 km sejak 3 tahun lalu. Starter sampai sekarang masih hidup, kekurangannya cuma lampu tidak seterang motor-motor terbaru;
  3. Kelistrikan Suzuki memang terkenal lemah, wayer katanya harus diganti setiap 2 tahun sekali. Tapi si Kapal Biru mungkin terlahir special, hanya sekali menganti wayer yaitu tahun 2012. Setelah 7 tahun pemakaian, dan itu sudah 5 tahun yang lalu pemirsa.
  4. Body motornya masih aduhai, meski dia sudah tergolong MILF, eh Cougar malahan. Mungkin karena warnanya tidak terlalu terang. Terus terang Abu mencuci kapal biru sekitar 2 sampai 4 bulan sekali. Jika sudah dicuci maka bodynya bisa kita pakai bercermin. Apa tak elok?
  5. Desain Shogun 125 ini tergolong keren untuk motor bebek sezaman. Kalau dengan motor matic dari model terlama sampai terbaru bukan tandingannya. Desain Shogun 125 ini tergolong klasik, kenapa dikatakan klasik? Karena dia tetap berkelas sepanjang zaman. Kalau mau protes pendapat Abu ini silahkan ke YLKI, masalah keindahan dan estetika itu hak preogatif Abu, camkan itu!
  6. Keamanan Shogun 125 ini juga top, dengan pengaman kunci. Abu pernah berdinas ke Sabang dan meninggalkan dia selama seminggu dipelabuhan, dan bahkan meninggalkan di bandara selama seminggu juga aman. Maka jangan tanyakan ketika dia ditinggalkan di pasar, indomaret dan SPBU dipastikan aman. Beberapa orang sirik ketika Abu mengatakan hal seperti ini mungkin mengatakan, maling mana yang tertarik dengan motor jadul. Abu rasa mereka yang berkata itu tidak meresapi kata-kata Bang Napi. “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat, tapi juga karena kesempatan maka waspadalah!”
  7. Ada banyak kehebatan-kehebatan kecil lain yang tak mampu Abu uraikan dengan kata-kata, tapi yakinlah Abu yang merasakan kehebatan Kapal biru ini merasa puas, bahkan sangat puas dengan performanya.

Beberapa orang pernah berusaha membeli motor Abu ini, mereka senang dengan kapal biru ini. Umumnya hendak dijadikan becak, atau akan digunakan berkebun. Tugas-tugas berat yang mungkin tidak mampu dilaksanakan oleh motor-motor terbaru. Atas tawaran itu Abu merasa terpuji, terus terang Abu tidak enak juga menolak selalu. Terakhir biasanya Abu katakan, “Kapal Biru ini tidak akan Abu jual, bahkan tidak akan Abu tukar dengan Mobil Hummer sekalipun!” Entah iya ada Hummer mau ditukar dengan Shogun, tapi begitulah kira-kira.

Berziarah ke makam Laksamana Malahayati bersama Suzuki Shogun 125

Abu meyakini tidak ada yang selamanya, suatu hari kami (Abu dan Kapal Biru) mungkin pasti akan berpisah, mungkin karena maut atau hal lain. Namun sekali lagi, di ulang tahun dia yang kedua belas ini, Abu berharap minimal kebersamaan kami masih bersisa 8 tahun lagi, biar genap 2 dekade-lah.

Akhirulkalam, Abu menciptakan sebuah syair untuk memperingati kebersamaan kami selama 12 tahun ini, perkenankan Abu mempersembahkan ini hanya padamu. Seorang kawan dalam susah dan senang.

Dua belas tahun ketika pertama kita bertemu, kita saling jatuh cinta ya, serasa waktu berhenti dan aku masih mengingat saat-saat itu. Kita masih sangat muda saat itu, ku pikir perjalanan kita tak akan sejauh ini, waktu itu aku pikir kita akan segera berakhir 4-5 tahun. Tapi ternyata aku tak bisa tanpamu.

Mengingat belantara rimba yang pernah kita tempuh, tentang gunung-gunung yang pernah kita taklukkan bersama. Dalam dunia yang bergerak ini, kita tak pernah tahun kapan kita akan berakhir.

Dua belas tahun, aku mengenalmu dan dikenali olehmu lebih lama dari sebahagian besar orang-orang yang pernah aku kenal.

Ada berapa banyak gerimis yang pernah kita jalani bersama, siapa yang pernah tahu kisah yang pernah kita bagi bersama. Dalam gelapnya malam, dalam panjangnya perjalanan yang hanya ada aku dan kamu.

Ada banyak gembira dan sengsara yang hanya pernah kita nikmati berdua saja, ada banyak orang-orang yang pernah kita temui, ada banyak tempat yang tak terbayangkan pernah kita datangi.

Love you and wassalam.

XXX

Klik disini untuk Kisah-kisah petualangan Abu yang lain

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

RINDU KAMI PADAMU YA RASUL

Kaligrafi Muhammad Rasul Allah

RINDU KAMI PADAMU YA RASUL

Muhammad adalah nama yang paling banyak diberikan kepada setiap anak manusia yang lahir di dunia saat ini. Dan Muhammad adalah nama seorang manusia yang paling banyak dipuja dan puji oleh manusia di dunia. Dan yang paling penting, Muhammad adalah manusia yang paling dirindukan.

XXX

Tahun 1991

“Kakek tolong ceritakan kisah Nabi Muhammad S.A.W dari beliau lahir sampai wafat. Semua kejadian dalam hidup beliau, jangan ada yang ketinggalan!”

Kakek tertawa. “Tidak bisa!”

“Kenapa tidak bisa kek, bukankah kakek memiliki banyak buku yang menjelaskan tentang beliau?”

Masih tertawa kakek berkata, “Nabi Muhammad S.A.W hidup selama 63 tahun, kalau kakek menceritakan maka akan menghabiskan waktu selama 63 tahun.”

Abu berpikir sejenak kemudian mengiyakan, waktu itu Abu berumur 7 tahun sedang kakek berumur 62 tahun. Sewaktu kecil Abu sangat dekat dengan kakek, setiap pulang kampung Abu selalu berlari ke kamar kakek yang penuh dengan kitab-kitab. Sedari kecil Abu tumbuh dengan kisah-kisah para nabi dan rasul yang diceritakan kakek. Tahun depannya, dibulan Syawwal bertepatan 4 April 1992 di usia ke-63 kakek meninggal dunia sama dengan usia Rasulullah S.A.W ketika beliau wafat.

XXX

Tahun 1997

Abu sedang berjalan menelusuri rel kereta api yang sudah tak digunakan lagi, sesuatu berkecamuk dalam batin Abu yang tak tahu diungkapkan, entah kenapa kaki ini seraya berjalan menendang kerikil-kerikil tajam terhampar disepanjang rel itu, kadang-kadang seperti David Beckham, dan kadang-kadang seperti Demetrio Albertini.

Suasana sejuk, rel kereta api itu berada ditengah hutan perawan yang berembun pagi. Tiba-tiba Abu terkejut dari lamunan ketika melihat di depan seorang perempuan sedang diganggu beberapa orang laki-laki. Maka, Abu berlari menghampiri dan berteriak sekuat tenaga, “Woy, bangsat kalian!”

Perempuan itu kemudian berlari kebalik punggung Abu, wajah gerombolan itu kesal, mereka sekitar 4 orang. Abu berbisik pelan kepada perempuan tersebut, “dik silahkan lari, mereka akan aku tangani.” Ia pun berlari menjauh kearah tadi Abu datang.

“Sebaiknya kau tidak usah ikut campur kisanak!” Kata salah seorang diantara mereka, mungkin bosnya. Abu tidak pernah ingin mencampuri segala urusan orang lain, namun Abu tidak dapat melihat seseorang atau sekelompok orang menginjak-injak perasaan orang lain, siapapun itu. Tidak pernah bisa, begitu kata batin Abu.

“Oh, tidak bisa!” Kata Abu.

“Dia pikir dia seorang pendekar dari dunia persilatan. Kita hajar saja dia!” Seorang lain memberi kode kemudian melompat meninju kearah Abu. Mereka maju satu persatu, memukul dan menendang. Abu menangkis dan membalas pukul dan menendang juga. Perkelahian pun terjadi, awalnya Abu mampu mengimbangi mereka, tapi lama kelamaan Abu kelelahan. Perkelahian telah terjadi beberapa waktu, Abu tak tahu berapa lama tapi udara sudah terasa hangat. Situasi semakin tidak seimbang, maka Abu memutuskan melarikan diri kearah depan, berlawanan dari arah Abu datang.

Merasa kesal dengan Abu mereka pun mengejar seraya meneriakkan cacian. “Pengecut! Banci!” dan berbagai serapah yang tak terperikan. Peduli setan dengan mereka, Abu terus berlari dengan top speed. Entah karena takut atau kenapa, Abu mulai menjauhi mereka.

Abu pun berlari menyelusuri rel kereta api tersebut, sehingga dari kejauhan Abu melihat seorang lelaki berjubah putih berjalan membelakangi Abu. Ia berjalan pelan, maka Abu yang masih waspada terhadap orang-orang yang mengejar dibelakang memutuskan bergabung dengan orang tersebut. Kelihatannya bapak itu orang baik, dan berdua lebih baik daripada sendiri menghadapi para begundal tadi jika mereka berhasil menyusul.

Dengan terengah-engah Abu menyusul orang tersebut. Dia lebih tinggi dari Abu yang hanya sebahunya. Kemudian ia bertanya apa penyebab Abu berlari sampai terengah-engah. Abu tidak berani menatap wajahnya, ada aura yang mempesona pada orang ini, menatap rel dan kerikil sambil terus berjalan Abu bercerita tentang kejadian yang barusan terjadi.

Abu mendengar dia tertawa, kemudian orang tersebut menasehati Abu tentang banyak hal, Abu pun hanya mendengar dengan takzim. Kejadian itu telah berlangsung lebih dari dua puluh tahun lalu, sehingga Abu tidak dapat mengingat detil apa yang dia katakan. Abu hanya mampu mengingat perasaaan itu, perasaan seseorang dinasehati tentang kelemahan-kelemahan yang hanya dia ketahui sendiri benar adanya.

Hari ini, ketika Abu berusaha memanggil kembali ingatan pada hari itu. Sayup-sayup sedikit Abu mengingat ia mengatakan, “Abu, kamu adalah berusaha berjalan pada jalan yang lurus, dan itu bagus. Tapi ada satu karaktermu yang harus diperbaiki yaitu rasa marah. Kemarahan itu bukan hal yang sepenuhnya jelek, kita harus marah terhadap ketidakbenaran. Tapi itu akan menjadi kelemahan pada dirimu ketika kamu tidak mampu mengendalikannya.”

Ia menambahkan, seingat Abu hari ini. “Sejatinya kamu Abu adalah seorang pemberontak yang liar, tidak suka dikekang. Hanya orang-orang tertentu dalam hidupmu yang kelak akan bisa mengendalikan rasa marahmu, dan memahaminya. Kamu menyukai tantangan, dan petualangan disatu sisi.”

Kemudian ia tertawa, “Kamu juga keras kepala memegang prinsip terhadap apa yang kau yakini kebenarannya. Lebihnya (faedah) dari keras kepala itu membuat kamu mampu bertahan menghadapi tekanan.”

Ia menepuk bahu Abu, “tapi jangan takut, kamu adalah orang yang pintar dan mudah memahami pengetahuan, baik itu yang tersirat dan tersurat.”

Abu terpana akan kebijaksanaan orang ini, jelas ia bukan orang biasa. Didorong rasa penasaran Abu bertanya siapakah dia? Sampai hari ini jawaban beliau masih membekas erat di otak Abu, ketika ia menjawab siapa dia. “Namaku adalah Muhammad bin Abdullah.”

Muhammad bin Abdullah adalah nama dari Rasulullah S.A.W sebagaimana tertera pada perjanjian Hudaibiyah. Saat itu kaum kafir Quraisy menolak nama Rasulullah dalam draff perjanjian sehingga meminta beliau menandatangani dengan nama Muhammad bin Abdullah. “Jika kami mengakui engkau Rasulullah (utusan Allah) maka tidak mungkin kami memerangi engkau!” Kata mereka.

Maka, jangan-jangan, beliau adalah Sang Nabi. Seketika Abu yang tadi menunduk menatap wajah beliau. Wajahnya adalah wajah terindah yang pernah Abu saksikan. Dibalik kepalanya keluar seberkas cahaya perak yang kemudian menjadi emas. Disitulah saat Abu tersadar bahwa saat itu Abu sedang bermimpi.

Seraya bertahan untuk tetap berada dalam mimpi Abu berkata, “Ya Nabi, hamba ini adalah seseorang yang memiliki dosa, dan mungkin dalam kehidupan ke depan mungkin Abu merasa sulit jika tidak berbuat kesalahan lagi, pasti Abu akan berbuat dosa.”

Abu menangis dalam mimpi, “Saya takut bila nanti di akhirat tidak bisa bertemu denganmu lagi, karena dosa-dosa hamba ini. Maka ya Nabi dengan karamahmu, hamba meminta agar…”

Abu panik, apa yang hendak diminta. Bayang-bayang kesadaran sudah mendekat sesaat lagi Abu akan terjaga. Maka buru-buru Abu menambahkan, “Doakan supaya hamba, salah seorang umatmu yang hina dina ini, bisa mati dalam keadaan syahid!

Yang Abu ingat, ia tersenyum dan menegadahkan tangan ke langit. Ia tersenyum dan mengangguk pelan seketika Abu pun terjaga dari tidur Abu.

Abu terkejut, teman-teman Abu tertawa terbahak. Mereka mengelilingi Abu seraya memegang spidol, barusan mereka melukis wajah Abu. Dengan marah Abu merebut spidol itu dan melemparkan kearah mereka yang berlari berhamburan.

Malam itu Ramadhan, kami beberapa pemuda kampung bertadarus. Kalau ada yang mengantuk akan menepi dan tidur sekejap, dan itu adalah bencana bagi yang tidak siaga. Wajah yang tertidur akan dilukis oleh yang terjaga, bisa motif kucing, panda atau anjing. Sialnya malam itu Abu terkena. Kampret!!!

Abu mencuci muka dan berwudhu melanjutkan tadarus. Menjelang sahur, kami menutup Al-Qur’an dan Abu bercerita tentang mimpi tadi. Beberapa tertawa seolah tak percaya, tapi seorang teman yang paling saleh datang dan menghampiri seraya berkata. “Sesungguhnya Iblis mampu datang ke dalam mimpi kita dengan menyerupakan dirinya dengan orang yang kita paling hormati, bisa guru, orang tua atau orang yang paling kita kagumi sekalipun. Tapi Iblis tidak mampu dan tidak akan bisa menyerupakan dirinya dengan Nabi Muhammad S.A.W. Jadi jika kau bermimpi bertemu dengan Nabi maka mimpimu adalah kebenaran yang tidak dapat tertolak lagi.”

Teman-teman lain yang tadi menertawakan Abu terdiam, terlebih ketika ia menambahkan. “Aku rela menukarkan apapun yang aku miliki di dunia ini dengan mimpi yang barusan kamu dapatkan Abu.”

Hidung Abu kembang kempis karena bangga, tapi Abu kemudian memeluk sahabat Abu tadi. “Insya Allah, sahabat. Insya Allah kamu akan mendapatkan rahmat yang sama.”

Waktu itu Abu masih berumur 13 tahun dan waktu berjalan terus, kejadian itu bertahun-tahun yang lalu.

XXX

Kakek dan ayah Abu meninggal ditanggal yang sama 4 April serta tahun yang berbeda 1992 dan 2004. Sebagaimana seorang anak ataupun cucu manapun beruntung memperoleh warisan. Ada yang memperolah warisan berupa harta maupun ilmu. Abu merasa beruntung memperoleh warisan berupa kenangan.

Lembar-lembar ingatan Abu yang sepotong demi sepotong berkait erat dengan cerita-cerita Sirah Nabawiyah yang mereka ceritakan kepada Abu. Maka kerinduan Abu terhadap mereka yang telah tiada itu bertaut dengan kerinduan kepada Rasulullah S.A.W. Itu merasuk dalam karakter Abu secara sadar maupun tidak, mengalami keadaan juga mengalami perasaan. Seolah-olah apa yang pernah mereka ceritakan itu memberi pesan kepada Abu, bahwa nanti ketika kami sudah tidak ada lagi di dunia, ketika kamu menghadapi suatu masalah yang tidak mampu kamu pecahkan. Maka ada satu orang manusia yang layak kisahnya dijadikan pegangan bagi hidup Abu. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Nabi Muhammad S.A.W.

Warisan kenangan ini pula yang menyebabkan Abu tak pernah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Nabi Muhammad S.A.W. Ada masanya ketika aliran kiri begitu deras, ketika menjadi progresif itu adalah kiri dan agnostic, tapi kapal Abu tak pernah berganti haluan. Jika Rasulullah adalah tauladan, maka manusia mana lagi bisa menyuntikkan paham-paham baru.

Atau ketika baru-baru ini, ada beberapa tokoh Islam seolah dinabikan, menjadi manusia “seolah” paling benar dan tanpa cela maka Abu tak pernah merasa inferior dan membebek. Bisa jadi mungkin mereka benar, tapi kalaupun mereka salah ya salah. Kita-kita ini sebagai muslim hanya memiliki satu guru besar dalam kehidupan kita, Nabi Muhammad S.A.W.

Maka pada momen maulid (maupun tidak), ada baiknya kita semua, kaum muslimin bersama-sama, ataupun bersendiri-sendiri berdoa kepada Allah S.W.T, “Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu agar keimanan hamba kepada-Mu selalu terjaga, hamba memohon juga agar nikmat iman dan islam tidak pernah terputus dari hamba-Mu. Ya Allah perkenankan agar hamba menjadi pendamping Nabi Muhammad kelak di alam surga bersama pula orang-orang yang saleh.”

XXX

Klik disini untuk Kisah-kisah petualangan Abu yang lain

Kisah-Kisah Hikmah:

  1. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  2. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  3. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  4. Nun; 3 Desember 2014;
  5. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  6. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  7. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  8. Momentum; 18 Mei 2015;
  9. Khusyuk; 14 Juli 2015;
  10. Ibrahim; 20 September 2015;
  11. Hijrah; 14 Oktober 2015;
  12. Ismail; 9 September 2016;
  13. Pohon Kekekalan; 4 November 2017;
  14. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  15. Bagaimana Cara Cemburu Yang Baik dan Benar; 28 November 2017;

 

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

KORPS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA

Pada tanggal 6 Agustus 1897, sebuah unit Korps Marechaussee menyerang bentang kota Soekoen (dekat Sigli) dan membunuh lebih dari 57 orang Aceh. Hanya beberapa menit kemudian setelah aksi mereka berpose seraya menginjak mayat para syuhada Aceh untuk fotografer Christiaan Benjamin Nieuwenhuis. Berita kemenangan segera dikirim ke Batavia dan Belanda.

KORPS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA

Korps Marechaussee te Voet, di Indonesia dikenal sebagai Marsose, adalah satuan militer yang dibentuk pada masa kolonial Hindia Belanda oleh KNIL (tentara kolonial) sebagai tanggapan taktis terhadap perlawanan gerilya di Aceh. Korps ini tidak ada ikatan dengan Koninklijke Marechaussee di Belanda.

Marsose ditugaskan di Hindia Belanda, antara lain dalam pertempuran melawan Sisingamangaraja XII di Sumatera Utara, yang pada tahun 1907 berhasil mengalahkan dan menewaskan Sisingamangaraja XII. Pada Perang Aceh, Marsose dapat menguasai pegunungan dan hutan rimba raya di Aceh untuk mencari dan mengejar gerilyawan Aceh.

Latar Belakang Perang Aceh yang sangat merugikan Belanda.

Perang di Jalan Allah Perang Aceh 1873-1912; oleh Ibrahim Alfian

Pada tahun 1873 dimulailah perang dasyat rakyat Aceh melawan pendudukan Belanda. Seperti yang diceritakan Ibrahim dalam bukunya yang berjudul “Perang di Jalan Allah, Perang Aceh 1873-1912”, perang Aceh menghasilkan begitu banyak korban jiwa kepada kedua belah pihak. Bukan cuma sekadar pasukan vs pasukan, tapi juga terjadi pembantaian demi pembantaian penduduk sipil oleh tentara Kolonial Belanda.

Di pihak penjajah Belanda sendiri juga, jumlah korban yang membengkak akibat banyak pasukan yang berperang, tak memiliki kecakapan untuk berperang. Atau bisa dikatakan, angka mati sia-sia juga tinggi terjadi di perang Aceh. Salah satu alasan mengapa begitu banyak korban jiwa dan begitu dasyatnya perang, karena di perang ini, teknik gerilya digunakan begitu sempurna oleh pasukan Aceh kala menghadapi pasukan Belanda.

Ianah Wulandari, Sejarawan dari Universitas Negeri Surabaya dalam tulisannya berjudul “Satuan Korps Mareschausse di Aceh tahun 1890-1930”, membenarkan serangkaian serangan gerilya tersebut. Sampai-sampai, dalam perang Aceh, Belanda tak begitu banyak memberikan perlawanan berarti. Pasukan Belanda bagaikan dikepung prajurit-prajurit gerilyawan Aceh yang sukar untuk dilacak. Belum lagi ditambah keadaan geografis Aceh yang berbukit, banyak sungai, dan banyak pegunungan serta hutan membuat pasukan gerilyawan Aceh makin sulit dilacak pasukan Belanda. Akibatnya, Belanda hanya bisa mempertahankan wilayahnya saja.

Lubang Pertahanan dalam kubu pertahanan para pejuang Aceh yang dibangun dibawah pimpinan Tuanku Hasyim Bangtamuda – Untuk dapat maju ke mesjid raya pasukan Van Swieten merebutnya dengan susah payah.

Pada mulanya, Belanda menganggap akan mudah menaklukan Kesultanan Aceh. Kenyataannya, dari tahun 1873 hingga awal tahun 1880, Belanda memperoleh begitu banyak kerugian, nilainya mencapai 115 juta florin. Biaya yang begitu besar dibanding hasil yang didapat. Belanda dalam kurun waktu tersebut, hanya sanggup menguasai Aceh dalam luas wilayah sebesar 74 Km2. Artinya, Belanda hanya mampu menguasai koetaradja (Keraton) dan Masjid Raya Aceh saja. Di luar itu, Belanda tak memiliki kuasa apapun. Belanda dikepung pasukan gerilyawan Aceh, dan hal ini pula yang justru menguntungkan pasukan Aceh. Musuh mereka, yakni Belanda bagaikan digiring di satu titik pertempuran saja. Sehingga memudahkan para gerilyawan Aceh untuk melakukan serangan taktis yang menghasilkan efek yang besar. Pada awal peperangan Belanda menggunakan strategi “Gecocentreerde Linie” atau pola bertahan yang sangat konvensional. Dari serangkaian kegagalan yang dialami Belanda, mereka memutuskan untuk menggunakan cara penaklukkan berbeda daripada yang pernah mereka

Christiaan Snouck Hurgronje. Occupation Professor, author, spy, colonial advisor.

Belanda akhirnya mempekerjakan seorang Antropolog untuk meneliti perihal masyarakat Aceh. Ditunjuklah seorang bernama Snouck Hurgronje seorang Antropolog untuk “memata-matai” dan memetakan masyarakat Aceh yang sukar dikalahkan dalam peperangan. Salah satu tugas Hurgronje adalah menyelidiki lebih dalam kondisi sosial budaya masyarakat Aceh agar Belanda dapat masuk dan menguasai masyarakat Aceh. Hasil penelitian Snouck Hurgronje terkait Perang Aceh dan Islam di Indonesia yang telah dibukukan antara lain:

  1. The Achehnese yang diterjemahkan dengan judul Aceh Di Mata Kolonialis;
  2. Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936.

Usulan strategi Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda Joannes Benedictus van Heutsz adalah, supaya golongan Keumala (yaitu Sultan yang berkedudukan di Keumala) dengan pengikutnya dikesampingkan dahulu. Tetap menyerang terus dan menghantam terus kaum ulama. Jangan mau berunding dengan pimpinan-pimpinan gerilya. Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Besar. Menunjukkan (pura-pura) berniat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan cara mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh. Ternyata siasat Dr Snouck Hurgronje diterima oleh Van Heutz yang menjadi Gubernur militer dan sipil di Aceh (1898-1904). Kemudian Dr Snouck Hurgronje diangkat sebagai penasihatnya.

Latar Belakang Pembentukan Pasukan Marsose

Mohammad Syarif atau Arif – Pencetus Pembentukan Korps Marsose

Selanjutnya dalam serangkaian cara untuk menguasai Aceh, atas usul dari seorang Minangkabau bernama Mohammad Syarif atau Mohammad Arif seorang kepala kejaksaan di Koetaradja (Banda Aceh sekarang). Putra minang ini mencetuskan pembentukan korps pasukan khusus yang dibentuk untuk menghadapi gerilyawan Aceh. Syarif sendiri merupakan seorang pribumi yang pro terhadap Belanda. Ia memberikan usulannya tersebut pada Gubernur Militer Belanda di Aceh, Jenderal van Teijn dan juga kepada Kepala Staf Militer J.B. van Heutsz untuk membentuk sebuah unit-unit tempur kecil infanteri yang memiliki mobilitas tinggi. Pasukan ini tentunya pasukan anti gerilya. Pada tahun 1889, Komando Tentara Belanda di Aceh sudah menyusun dua detasemen pengawalan mobil yang memiliki kemampuan antigerilya.

Renjaan Seorang Marsose – Profil Marsose

Dari usulan tersebut, Konsep pasukan itu lalu dimatangkan lagi hingga akhirnya dibentuk sebuah pasukan elit bernama pasukan Marsose atau dikenal pula dengan sebutan Korps Mareschausse yang didirikan pada tanggal 2 April 1890 dan tercatat dalam sebuah surat keputusan yang ditandatangani Ratu Belanda yang berjudul “Staatsblad Van Nederlandsch Indie”. Korps ini bukan sembarang korps, marsose adalah pasukan pilihan dari berbagai kesatuan KNIL.

Mereka tak lain adalah pasukan tentara bayaran berdarah dingin yang anggotanya merupakan pribumi. Hanya pimpinannya saja yang berdarah Belanda. Pasukan Marsose yang akhirnya membuktikan diri sebagai pasukan elit karena beberapa tugas berat yang sulit dilakukan serdadu KNIL biasa berhasil mereka selesaikan.

Ciri Khas Serdadu Marsose

Marsose adalah pasukan gerak cepat dengan seragam hijau dengan tanda garis bengkok warna merah pada lengan dan leher terdapat garis merah. Setiap unit Marsose terdiri dari 20 orang dengan dipimpin seorang sersan Belanda yang dibantu seorang kopral pribumi. Setiap pasukan biasanya terdiri dari satu peleton yang terdiri dari 40 orang dan dipimpin seorang Letnan Belanda.

Mereka yang berbahaya, pasukan Marsose yang berasal dari Jawa berpose setelah operasi ke pedalaman Aceh. Serdadu Marsose adalah Kebanggaan Belanda, mereka adalah bawahan yang mumpuni (H.C. Zentgraaff dalam The Atjeher).

Para Marsose yang berasal dari Ambon dan Manado sedang berpose bersama

Secara keseluruhan, korps Marsose terdiri dari 1.200 orang dari berbagai bangsa, terdiri orang-orang Belanda, Perancis, Swiss, Belgia, Afrika, Ambon, Ambon, Menado, Jawa, juga beberapa orang Nias dan Timor. Pasukan ini, selain dipersenjatai karaben, juga dipersenjatai dengan senjata tradisional seperti klewang, rencong dan sebagainya. Mereka tidak tergantung pada angkutan militer dan biasa berjalan kaki. Mereka tidak bergantung pada jalur suplai logistik.

Hal ini sangat berguna dalam perang jarak dekat, man to man, seperti yang dilakukan para gerilyawan pribumi. Marsose berusaha mengikuti gaya berperang ini karena gerilya kaum gerilyawan begitu efektif menggempur KNIL yang biasa menang dalam front besar namun repot ketika diserang mendadak. Pasukan ini tentunya terlatih dalam peperangan di hutan menghadapi serangan gerilyawan

Bendera Korps Marsose sumber Dutch Document

Bendera Korps Marsose sumber Dutch Document

Keunggulan yang ditawarkan oleh pasukan ini adalah karena mereka pribumi yang dilatih khusus, mereka akan lebih mengenal musuh mereka yakni sesama pribumi. Artinya, bisa dikatakan, korps Marsose ini ditugaskan untuk membunuh saudara sebangsa mereka sendiri. Dengan peralatan canggih di zamannya dan gaji besar, pasukan Marsose dikenal sebagai pasukan elit berdarah dingin.

Marsose, dalam banyak catatan, lebih banyak melakukan tugasnya sebagai pasukan kontra-gerilya di Aceh dan Tanah Batak. Dua daerah itu sangatlah sulit dikuasai pemerintah kolonial hingga awal abad XX. Marsose dalam jumlah besar dibutuhkan disana untuk waktu tugas yang lama. Bahkan setelah perang melawan orang-orang Batak di Pedalaman Sumatra dan Aceh itu berakhir, perlawanan kecil kadang masih terjadi. Seperti dialami bekas komandan Marsose, Letnan Kolonel W.B.J.A Scheepens, yang tertusuk rencong orang Aceh.

Marsose sebenarnya tidak hanya ditugaskan di dua daerah itu, tapi juga dibeberapa tempat seperti di kepulauan Nusa Tenggara juga Sulawesi, walau dengan personil yang tidak terlalu banyak. Cerita kekejamanan pasukan Marsose lebih banyak terjadi di Aceh saja dan tanah Gayo saja.

Pasukan Khusus Marsose itu bernama Kolone Macan

Kehadiran Marsose sebagai pasukan khusus yang sedemikian handal itu, rupanya masih dirasa belum cukup oleh petinggi militer Belanda. Perwira-perwira Belanda itu membentuk lagi sebuah unit didalam pasukan Marsose bernama Kolone Macan. Seperti halnya MarsoseKolone Macan juga dipimpin oleh perwira-perwira dari orang-orang Eropa. Salah satunya adalah perwira asal Swiss bernama Hans Christofell. Dia sangat tersohor karena berjasa kepada pemerintah kolonial dalam peperangan di Sumatra bagian utara itu. Dia membentuk pasukan khusus baru lagi, dimana anggotanya adalah anggota-anggota Marsoseyang terpilih.

Ada perwira Marsose yang lebih tinggi pangkatnya dibanding Christoffel, Kapten (kelak Letnan Kolonel) Scheepens. Setelah lewati berbagai pertimbangan, pembuat kebijakan militer Belanda sampai pada kesimpulan, pekerjaan algojo yang sadistis tidaklah cocok bagi Scheepens, walaupun Scheepens tergolong orang bersedia mengerjakan tugas militer yang berat sekalipun seperti bertempur berhari-hari dalam hutan. Dimata pembuat kebijakan itu, Christoffel dianggap lebih cocok untuk memimpin sekelompok algojo. Akhirnya Christoffel diberangkatkan ke Cimahi, dimana berdiri sebuah garnisun pasukan Belanda disana. Disini Christoffel berttemu dengan banyak Marsose kawakan dan memiliki pengalaman bertempur di Aceh. Keberadaan mereka di Cimahi adalah dalam rangka istirahat setelah peperangan berat di Aceh selama berbulan-bulan.

Dia menghimpun anggota Marsose yang beringas, jago berkelahi. Pasukan ini dinamakan Kolone Macan. Pasukan ini dilatih oleh Christoffel di Garnisun Cimahi. Pakaian mereka berwarna hijau kelabu yang kerah bajunya terdapat dua lambing jari berdarah. Tentu saja ikat leher warna merah agar nampak lebih lebih menyeramkan. Mereka dikenal sebagai pasukan yang menyeramkan dengan julukan ‘pembunuh berdarah dingin’.

Ekspedisi Pasukan Marsose ke Lam Meulo-Tangse-Geumpang

Setelah beristirahat dalam waktu yang lama, para Marsose itu merasa ingin kembali berperang di Aceh lagi. Dunia Marsose jelas bukan dunia tangsi yang damai, dunia mereka adalah peperangan dalam hutan, seperti di Aceh. Selama di tangsi Cimahi yang damai itu, para Marsose itu juga diberikan teori peperangan, namun hal itu kurang direspon oleh marsose yang berpendidikan rendah. Mereka tidak butuh teori dalam peperangan, melainkan pertempuran. Wajar bila teori perang itu tidak sekalipun dicerna prajurit Marsose. Mereka lebih tahu dan senang bertempur. Rutinitas lain yang mereka benci di tangsi adalah beberapa kali dalam sehari harus apel. Latihan marsose bukanlah menembakan senapan, melainkan memainkan klewang.

Di Cimahi, Christoffel mengamboil beberapa komandan brigade yang biasanya berpangkat sersan terbaik Marsose. Mereka yang bosan hidup di garnisun jelas menjadi prioritasnya. Pasukan ini terdari dari 12 brigade marsose yang sudah dilatih lagi di Cimahi. Betapa terlatihnya mereka sekarang. Barisan depan pasukan Kolene Macan adalah para Marsose jejaka. Jelas mereka bisa lebih leluasa bertempur karena tidak akan memikirkan anak istrinya.

Cara kerja pasukan ini lebih kejam dari Marsose sebelumnya. Mereka melakukan eksekusi ditempat. Hal ini tergolong gila, seperti yang dirasakan salah seorang komandan Marsose Schriwanek. Walau dia tergolong kasar, namun dia melihat cara kerja Kolone Macan, dirasa oleh perwira itu, benar-benar keterlaluan ketika melakukan Sweeping. Mereka membersihkan gerakan gerilyawan perlawanan rakyat dengan kejam sejak dari dataran rendah. Mereka lakukan kerja mereka dengan singkat dan tuntas.

Reaksi keras atas cara kerja Kolone Macan muncul juga dari kalangan militer Belanda sendiri. Peperangan yang mereka jalankan di Aceh terbilang keterlaluan. Reaksi ini datang dari perwira Belanda yang bukan berlatar belakang dari tentara bayaran.Akhirnya komando atas daerah Aceh diganti dari van Daalen kepada Swart. Karena hal pergantian komando itu, cara kejam Kolone Macan perlahan dihilangkan. Pasukan yang pernah dilatih dan dipimpin oleh Christoffel itu kemudian beralih komando pada van der Vlerk. Komandan baru ini, seperti tuntutan sebagian perwira Belanda yang benci kebengisan Van Daalen dan Christoffel, mulai merubah sifat pasukan Kolone Macan. Pasukan ini lama-lama menghilang dan hanya menjadi Marsose biasa.

Kolone Macan adalah bagian terkejam dari korps bernama Marsose dan hanya terjun di front Aceh saja. Pemerintah Kolonial rupanya tidak menginginkan adalah sepasukan algojo terorganisir, bagi pemerintah kolonal, cukup hanya marsose saja pasukan terkejam yang mereka miliki. Bagaimanapun perlawanan terhadap kebijakan kolonial tidak bisa ditebak kapan terjadinya dan inilah alasan mengapa Marsose terus dipertahankan walaupun perannya semakin meredup sinarnya. Marsose tidak terdengar kehebatannya lagi ketika Jepang mendarat di Indonesia.

Foto-foto kekejaman Long March Pasukan Marsose ke Gayo dibawah pimpinan Jenderal C.G.E van Daalen

Penaklukkan Benteng Koeta Reh, sebuah operasi dibawah pimpinan Van Daalen di Tanah Gayo. Foto diambil 14 Juni 1904. Bagian dari Perang Aceh (1873-1904)

Kekejaman Belanda di Kampong Likat Tanah Gayo, anak-anak dan perempuan juga di bantai oleh tentara Belanda pimpinan Van Daalen. Perang Aceh (1873-1904)

Seluruh penghuni benteng Koeta Reh di bantai oleh pasukan Belanda pimpinan Van Daalen (Perang Aceh 1873-1904)

Letnan Jenderal G.C,E. van Daaleen salah satu pemimpin Marsose yang paling kejam – Selama memimpin Long March selama 163 hari – Ia memerintahkan membakar kampung – Membunuh wanita dan anak-anak.

Akhir Korps Marsose

Tugu kehormatan yang dibangun oleh tuan-tuan pemilik kebun Planters di Sumatera Timur dahulu untuk menghormati Ulang Tahun korps Marsose ke-40 tahun (1930) di Aceh. Pada tahun 1930 pula pasukan Marsose di Indonesia dibubarkan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda

Akibat kekejaman diluar batas kemanusiaan, Korps Marsose akhirnya di bubarkan oleh Belanda sendiri. Kisah Marsose sejarahnya setelah perang Aceh berlalu hilang. Pada tahun 1930 pasukan Marsose di Indonesia resmi dibubarkan. Akibatnya pasukan Belanda taringnya yang tajam seperti pada saat Perang Aceh, dengan mudah ditaklukkan oleh Jepang pada Perang Dunia Kedua.

Warisan Sejarah Marsose

Tradisi pasukan khusus Belanda di Indonesia dihidupkan kembali oleh putra Letkol W.B.J.A Scheepens yakni Kapten W.J. Scheepens ketika tentara Belanda mendarat pada tahun 1945. Kapten Scheepens mengembangkan gagasannya untuk membentuk Pasukan Khusus (Speciale Troepens) sehingga pimpinan KNIL menyetujuinya dengan mendirikan Depot Speciale Troepens (DST) pada 15 Juli 1946.

Pasukan DST yang berciri khas berbaret hijau ini dikomandoi oleh Kapten W.J Scheepens personelnya juga direkrut dari berbagai suku dan bangsa. Pasukan ini diberi pelatihan strategi dan taktik pasukan komando di berbagai tempat mulai dari Polonia, Kalibata hingga akhirnya di Batujajar, Bandung.

Lalu pada 20 Juli 1946 Komandan DST diserahterimakan kepada Westerling. Sekarang tempat latihan pasukan DST di Batujajar digunakan untuk melatih anggota Kopassus, pasukan elite TNI AD.

XXX

Artikel-artikel lain tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  40. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  41. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  42. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  43. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  44. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  45. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  46. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  47. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  48. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  49. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  50. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  51. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  52. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  53. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  54. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  55. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  56. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  57. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  58. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  59. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;

 

Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 109 Comments