MENYERAHKAN NASIB PADA TAKDIR

Hidup adalah perjalanan ruang dan waktu.

MENYERAHKAN NASIB PADA TAKDIR

Hari ini, kupasrahkan diriku pada takdir. Ya, pada takdir. Hidup adalah perjalanan ruang dan waktu. Seperti aliran sungai pelan mengarah pada lautan luas. Aku yang selalu berupaya dan percaya bahwa manusia mampu mengubah aliran takdir. dihari ini mengakui bahwa segenap daya dan upaya tak akan berguna tanpa restu-MU.

Aku telah menunggu, semua orang menunggu jua waktunya. Pada sebuah masa depan, pada sesuatu yang telah tertulis dilangit. Akan perjalanan hidup, maupun akan akhir hidup. Dan sungguh jalan berkelok serta jurang menjadi sangat menakutkan jika harapan akan kehidupan semakin membesar. Memiliki harapan berakibat memiliki ketakutan pada kegagalan. Pada kecerobohan yang kelak disesali. Pada kemungkinan untuk gagal. Tiba-tiba segala kecerdikanku lenyap dan tak tahu berbuat apa.

Tuhan, dini hari ini ketika aku terjaga. Pada-MU kubersandar. Segala simpuh menjura pada-MU. Hamba yang hina ini memohon, dengan penuh harap. Tuhan, apapun yang terjadi nanti. Mohon lindungi dia, jangan biarkan ia tersakiti oleh cintaku. Cintaku yang segarang singa. Sebegitu menakutkan sehingga kupasrah. Dan menyerahkan nasib pada takdir-MU.

Lhokseumawe, dini hari 3 September 2009.

Kisah-kisah Hidup:

  1. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  2. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  3. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  4. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  5. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  6. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  7. Pahit; 8 Maret 2012;
  8. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  9. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  10. Khusyuk; 14 Juli 2015;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Pengembangan diri, Puisiku and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to MENYERAHKAN NASIB PADA TAKDIR

  1. subhanallah, betapa kedhaifan manusia seringkali melupakan hakikat takdir. semoga dengan menyerahkan diri pada takdir dan kehendak Allah, kita akan terbimbing menuju jalan-Nya yang lurus dan mencerahkan. salam hangat dari kendal, mas tengku.

  2. tengkuputeh says:

    Dengan petunjuk dan kasih sayang-Nya, kita tak akan tersesat…

  3. Pingback: RINDU KAMI PADAMU YA RASUL | Tengkuputeh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.