ISMAIL

Domba Kurban

Domba Kurban

ISMAIL

Kita mencintai Ismail, ia berkata kepada sang ayah, Ibrahim. “Bila ayah baringkan aku untuk menjadi kurban, telungkupkan wajahku, jangan ayah letakkan miring ke samping, sebab aku khawatir, bila ayah melihat wajahku, rasa belas kasihan akan merasuki ayah, dan ayah akan batal melaksanakan perintah Allah.”

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sesembelihan yang besar (QS Ash Shaaffaat 106-107)

Kita mengingat Ismail, di saat itulah ketika wajah seseorang yang nyaris menjadi kurban, kembali menjadi wajah seorang bocah, seorang manusia. Seorang Ismail adalah jawaban doa dari Ibrahim.

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh (QS Ash Shaaffaat 100)

Doa adalah bentuk dari syair, bahkan dalam pernyataannya yang tersuram, adalah rasa hampa sekaligus bersyukur. Bahwa di gurun pasir yang tak sepenuhnya dikalahkan, tabir hidup selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan iman selalu hidup, ketika tuhan memberikan hidup tak terang benderang.

Tiap doa mengandung harapan juga rasa takut, di situ ada ketegangan. Doa bergerak antara ekspresi berlimpah dan sikap diam, antara hasrat ingin dimengerti dan juga rasa takjub yang takzim, di hadapan ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, sujud atau tidak lidah tak bisa bertingkah.

Di jalan hidup yang rancu, dari sana kita bisa mengakui kekalahan tapi tanpa patah harap.

Iman lebih kaya daripada kemurnian, merupakan pemandangan lanskap sesak. Manusia bukan cetakan tunggal murni dari sang Adam, yang lahir tanpa sejarah serta langsung di anugerahi oleh Allah ilmu pengetahuan.

Manusia dalam pencarian harus bergulat dalam syukur atau cemas, di bawah sinar terang pagi hari atau kelamnya malam. Meskipun ia sering tak berani.

Maka kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (QS Ash Shaaffaat 101)

KATALOG HIKMAH

  1. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  2. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  3. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  4. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  5. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  6. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  7. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  8. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  9. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  10. Momentum; 18 Mei 2015;
  11. Ramadhan Dan Relativitas; 27 Juni 2015;
  12. Khusyuk; 14 Juli 2015;
  13. Ibrahim; 20 September 2015;
  14. Hijrah; 14 Oktober 2015;
  15. Tsunami; 26 Desember 2015;

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Pengembangan diri dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke ISMAIL

  1. Leon berkata:

    Kita semua rindu akan Ismail

  2. Ping balik: BAGAIMANA CARA CEMBURU YANG BENAR | Tengkuputeh

  3. Ping balik: RINDU KAMI PADAMU YA RASUL | Tengkuputeh

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.