Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Kita tak pernah tahu sampai batas kapan hasrat itu akan terpuaskan, jika yang berlaku adalah fatwa “serakah itu baik.”
Kita tak pernah tahu sampai batas kapan hasrat itu akan terpuaskan, jika yang berlaku adalah fatwa keserakahan itu baik

SERAKAH

Kini banyak orang membela keserakahan. “Keserakahan itu baik,” kata Gekko, tokoh dalam filem Wall Street, di depan sebuah rapat pemegang saham di hotel Roosevelt yang tua di Manhattan. Dan bila ditanya kenapa serakah itu baik, orang serakah macam Gekko akan pandai memasang kalimat. Ia, misalnya, akan bisa mengutip Giambattista Vico dari abad ke-18 Italia. Justru dari kebengisan, kebakhilan, dan ambisi manusia, telah lahir banyak hal baik di dunia. Keserakahan  jugalah yang telah mendorong orang membuat perkakas. Dari sana lahir teknologi, untuk memperoleh hasil yang kian lama kian besar.

Keserakahan jugalah yang menyebabkan manusia mengarungi lautan, dan Columbus menemukan benua Amerika. Keserakahan bahkan bisa membuat manusia taat beribadah, menghitung pahala, setelah hidup di dunia demi sebanyak-banyaknya kenikmatan di akhirat.

Tak mengherankan bila orang tak malu-malu memamerkan kekayaan. Dengan ranggi memasang baju terbagus, memilih mobil mentereng, mengunjungi restoran terlezat, dan melupakan bahwa hanya beberapa tahun silam mereka sebenarnya anak muda yang pernah berseru indahnya hidup bersahaja.

Kita tak pernah tahu sampai batas kapan hasrat itu akan terpuaskan, jika yang berlaku adalah fatwa “keserakahan itu baik.”

Inilah zaman ketika sinetron bercerita tentang gaya hidup “orang kaya dan termasyur” dengan menampilkan mobil mahal dan gadget yang canggih. Itu menjadi contoh bagaimana seharusnya menikmati hidup, pengusaha dan pejabat dengan segera menirunya. Mobil-mobil mewah bersilewan di jalan raya, barang-barang mahal melekat di badan, apa boleh buat. Tamak itu tampan.

Ada juga yang berhasil mengakumulasi kekayaan mereka dan memperpanjang daftar milik mereka, masih ingin bersembunyi dari mata umum. Mungkin mereka tahu bahwa disekeliling mereka yang luas terhampar peta orang-orang miskin. Mungkin merasa bahwa nasib mereka belum tentu langgeng.

Tapi tabiat menyimpan dengan terlalu juga memiliki sisi lain, dengan segera mereka kehilangan hubungan pertemanan. Kehilangan hubungan sosial, ketika ada yang merasa terbebani oleh pengeluaran-pengeluaran mereka, orang kaya kok disubsidi? Sisi lain, Bakhil itu buruk rupa.

Jika ia sadar. Seperti haknya kisah Qarun, dalam hasratnya memiliki segantang emas, kemudian ingin memperoleh segantang emas lainnya. Ia akan kehilangan nasihat yang baik dan peringatan yang jujur, karena ia bahkan merasa karena kekayaannya (kekuasaan) ialah yang seharusnya memberi nasehat dan bukan menerima nasehat.

Tidak kata para ulama, dan berjuta-juta orang lain. Ketika kita melihat kemanfaatan umum tersedot oleh mereka. Proyek tak perlu diadakan. Barang-barang tak berkualitas dijual ke pemerintah dengan harga mahal, jalan-jalan buruk tak kunjung dibangun, malah jalan yang sudah bagus ditimpa terus menerus. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin banyak. Tapi adakah kita tahu cara menghentikannya, sementara mereka yang tamak itu sendiri tak bisa diharapkan akan bisa menghentikan hasrat mereka?

Tentu saja dalam filem karya Oliver Stone dan kisah Qarun itu, pada dasarnya adalah sebuah cerita tentang moralitas lama. Si Gekko jatuh. Yang menang bukanlah tokoh yang tamak. Yang menang adalah mereka yang berjuang bersama orang-orang lemah yang setia.

Dalam kisah Qarun, ia bersama hartanya tenggelam. Dalam filem Wall Street, hukum ada dan dijalankan. Gekko akhirnya bisa distop. Tapi setelah itu, cerita pun selesai, seperti baru siuman kita terjaga. Apa boleh buat, kita menghadapi kenyataan.

Advertisements
Advertisements

2 thoughts on “SERAKAH

Leave a Reply

%d bloggers like this: