PAHIT

Segala puji bagi-MU yang menciptakan rasa pahit. Rasa pahit pada tetumbuhan beracun, rasa pahit mencegah makhluk memamah segala racun terkejam.

PAHIT

Segala puji bagi-MU yang menciptakan rasa pahit. Rasa pahit pada tetumbuhan beracun, rasa pahit mencegah makhluk memamah segala racun terkejam. Pahit, begitupun obat-obatan yang menimbulkan tegang diwajah. Menghindari pahit bagai menampik kehidupan.

Pahit yang tak mesti selalu hitam, kadang ia hijau, merah, kuning maupun biru. Dalam banyak warna pahit menjelma. Dan sungguh pahit yang jernih menyegarkan. Meski kenangan membuat kita selalu mengingat bahwa pahit itu hitam, mungkin segelas kopi.

Bahwa sang pengecap mendapati pahit terbelakang, bagai rasa mengingatkan akan segalanya. Bahwa rasa pahit melindungi, bagai berbicara akan sesuatu ketidakmampuan tubuh mengasup racun.

Dan walau lidah yang merasakan, alangkah pahit sebuah sastra. Ketika ia berkata, bahwa yang terkuat adalah ia yang berdiri sendirian. Padahal ada yang menangis karena seseorang menangis. Maka wajiblah lidah memilah-milah, mana yang baik mana yang buruk.

Pahit itu pribadi, bila ia menghindari. Dan sungguh bila ia mengundang cemooh. Maka itu lebih baik dari pada dengki. Ia yang berbeda, dan tiada lagi keinginan memperjuangkan dunia, dimana bau busuk menyebar. Dan hanya membawa kedalam maka tersenyumlah dalam pahit, tunjukkan lidahmu karena sungguh ia tersembunyi. Mengucaplah terpujilah nama-MU yang menyembunyikan pahit di mata manusia.

XXX

Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to PAHIT

  1. Pingback: MANUSIA | Tengkuputeh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.