Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Sejarah itu berjalan bersama kehidupan. Tak peduli jalan apa yang telah ditempuh maju kedepan jangan takut, jangan mundur, jangan bersembunyi. 

SEJARAH KEHIDUPAN

Sejarah itu berjalan bersama kehidupan. Tak peduli jalan apa yang telah ditempuh maju kedepan jangan takut, jangan mundur, jangan bersembunyi. Ketika suatu hari nanti tersadar, kita akan melihat jalan terbaik telah dilalui.

Waktu berjalan seperti singa, ia melumat segalanya. Dua belas tahun sudah meunasah Al-Munawarah berdiri. Ini adalah Ramadhan kali keduabelas. Sejak Meunasah ini didirikan Abu sudah menjadi bagian dari sejarahnya namun sudah tiga tahun Abu absen tadarusan disini, sudah lama juga sehingga kerinduan itu merasuk dan akhirnya membezuk.

Zaman sekolah sudah berlalu, dan ketika manusia semakin tua. Ia disibukkan dengan hal yang bersifat dunia dan menuntut untuk meninggalkan kampung halaman. Tidak ada yang berubah dari dekorasi meunasah ini, kecuali arah kiblat yang sudah dimiringkan disesuaikan dengan ketentuan baru yang ditemukan dikemudian hari. Abu datang pada kepulangan sesaat dikampung halaman.

Seperti ada yang hilang, dimana kaum muda. Tinggallah para orang tua, padahal dulu ramadhan disini selalu semarak oleh para pemuda. Dulu ada acara bakar jagung, ada acara memasak ayam ditengah malam menyelingi tadarusan. Sekarang sepi, dan Abu merasa asing.

“Abu kapan pulang?” Suara yang familiar menyapa ketika berwudhu. Bang Regar rupanya, diantara sejawat hanya dia yang masih bertahan. “Abu sudah tiga hari di Banda bang, mana teman yang lain?” Abu balas bertanya. Bang Regar tersenyum lalu mengangkat bahu.

Selesai wudhu, kami duduk di balai samping meunasah. “Orang-orang bertambah banyak, bagai bermunculan dari perut bumi. Tapi mengapa meunasah kita semakin sepi?” Bang Regar menatap wajah Abu datar. Sebuah pertanyaan yang Abu rasakan tidak untuk dijawab, hanya didengarkan. Membesarkan hati bang Regar, Abu berkata. “Tapi abang masih ada disinikan?”

“Tahun depan aku berencana menikah, mungkin aku nantinya tidak tinggal dikampung ini lagi.” Abu hanya tersenyum mendengar pernyataan bang Regar. Sesaat kemudian kami berbicara tentang masa lalu, tentang hari-hari yang telah kami lalui setelah beberapa lama tak bertemu. Ada banyak cerita yang kami bagi dalam waktu singkat. Dalam tawa dan senda persahabatan.

“Ayo bang kita tadarus sekarang, besok malam Abu harus kembali ke Lhokseumawe. Tugas Abu disini sudah berakhir.” Ajak Abu. “Tapi kamu akan kembalikan? Menjelang hari raya nanti.” Tanya bang Regar. “Pasti bang, ini kan kampung Abu. Kita nikmati malam ini dulu dengan bertadarus, besok adalah urusan nanti.” Ajak Abu sekali lagi. Bang Regar masih belum puas, “Besokkan hari Sabtu mengapa kamu terlalu cepat kembali ke Lhokseumawe, masih ada satu hari lagi? Abu hanya tersenyum. Kening bang Regar berkerut lalu tertawa, “Sudah lama waktu berlalu, tapi kamu masih saja begitu. Menjawab pertanyaan yang tidak mau dijawab dengan senyuman.”

“Ini karena bentuk bibir Abu yang selalu terlihat tersenyum bang. Ayo kita masuk.” Abu menarik bang Regar masuk ke meunasah dengan mengandeng. “Norak kamu Abu! Masih juga suka mengandeng.” Bang Regar menepis tangan Abu, kemudian tertawa. Kami pun masuk ke dalam meunasah, merajut malam dengan menggajikan kitab suci dengan nyanyian yang sama, sama seperti dulu.

Meunasah (bahasa Aceh) = Surau, Langgar, Mushalla.

XXX

Advertisements
Advertisements

13 thoughts on “SEJARAH KEHIDUPAN

  1. zulham => setiap orang menulis sendiri sejarah hidupnya…

    mas surya => benar sangat mas…

    mamah aline => dimana kita dapat mengambil hikmah daripadanya…

    Mas Sawaly => di negeri yang tak jauh mas, semoga kebahagian abu semakin hari semakin bertambah…

Leave a Reply

%d bloggers like this: