Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Yukimura Sanada, Jenderal terkuat dari Toyotomi Hideyori, dalam pertempuran Osaka melawan pasukan Ieyasu Tokugawa

MENCUMBUI KEMATIAN, SEBUAH ELEGI

 

tanpa suara mata menangis pilu

menoleh kebelakang, melihat lagi tanpa gairah

melihat pintu-pintu terbuka dan gerbang-gerbang tanpa perikatan

serambi-serambi kosong tanpa tirai atau penutup

mana para prajurit yang berjanji setia

 

para ksatria tlah bersalin rupa

bagaimana bisa memperjuangkan benteng terakhir

menjaga kisah keperkasaan leluhur

mempertahankan sendiri tanpa elang-elang

elang-elang tlah berganti bulu dan sang harimau moksa

 

takdir akan kuterima dengan mata terbuka

meski dera siksa menimpa

takkan menghiba

demi kehormatan para indatu

akan kucumbui kematian

Menggambarkan perasaan Toyotomi Hideyori, menjelang kejatuhan benteng Osaka pada pasukan Ieyasu Tokugawa. Setelah mendengar samurai paling perwira, Yukimura Sanada bertempur matian-matian menjemput maut di front terdepan. Sendirian untuk menjaga kehormatan tuannya.

Lhokseumawe, 16 Mei 2009

mencumbui kematian, sebuah elegi

Kisah-kisah dari negeri Jepang:

  1. The Last Gentleman; 4 Desember 2009; Yukimura Sanada sendirian menembus kepungan pasukan Tokugawa, dengan tubuh penuh panah pasukan lawan. Hari menjelang senja ketika Yukimura Sanada mencapai kemah Tokugawa. Dan ketika ia sudah berhadapan dengan Ieyasu, maut menjemputnya. Tubuh itu pucat, setiap tetes darah sudah tidak menghuni tubuh itu lagi. Ia mati dengan senyuman.
  2. Ashura; 13 Februari 2013; Perdamaian ini akan  kujaga sekuat tenaga, pantang mengeluarkan air mata dan menjadi “Ashura” yang tak berperasaan. Itu adalah satu cara seorang lelaki menyatakan kebaikan hati, aku tak berharap seluruh negeri tahu.
  3. Istana Kosong; 4 Juni 2013; Ieyasu keluar, para komandan walaupun dengan suara bernada tegang berusaha menenangkan Ieyasu dan membesarkan hatinya. Ia memahami dan mengangguk-anguk penuh semangat. Tapi ketika hendak bergegas kembali ke pos masing-masing, ia memanggil mereka, “biarlah semua pintu mulai dari gerbang utama sampai ruang duduk dalam keadaan terbuka.”
  4. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013; Saito Dosan menganggap remeh Nobunaga. “Tak ada alasan bagiku untuk pergi menyambutnya.” Ia menganggap Nobunaga semata-mata sebagai menantu. Takkan ada masalah jika itu satu-satunya pertimbangan. Namun Nobunaga merupakan penguasa sebuah provinsi, sama halnya dengan Dosan, dan para pengikutnya tentu berasumsi bahwa pertemuan itu akan diadakan antara dua orang sederajat.
Advertisements
Advertisements

6 thoughts on “MENCUMBUI KEMATIAN, SEBUAH ELEGI

  1. Perang sia-sia,
    Kemanusiaan menangis,
    Anak-istri menderita,
    Menanti suami tercinta,
    Berjuang menyambung nyawa.

    Harimau membunuh karena lapar,
    Demi menyambung hidup,
    Hanya manusia….,
    Mampu membunuh tanpa alasan.

  2. jAWAB

    Tikno ==> Perang dan manusia memiliki sejarah panjang, itulah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya…

    Jaya ==> Wah mengenai pasukan berani mati Gus Dur, malah Abu tak punya referensinya 🙂

    Mahadewa ==> Cerita kehidupan, lebih menarik daripada fiksi to…

    Bocah Cilik ==> Benar saudaraku…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: