DRAGON DIALOG

Dialog Dragon

Kalau diterapkan dengan benar, logika bisa mengatasi kurangnya kebijakan, yang hanya bisa diperoleh melalui usia dan pengalaman.

DRAGON DIALOG

Mereka membisu sejenak, lalu guru bertanya, “Bisakah kau katakan, alat mental paling penting apa yang bisa dimiliki seseorang?”

Pertanyaan serius, dan murid cukup lama sebelum berkata, “Kebulatan tekad.”

Guru mencabik roti menjadi dua dengan jemarinya. “Aku bisa memahami kenapa kau mendapat kesimpulan itu. Kebulatan tekad terbukti berguna dalam petualanganmu kelak. Tapi bukan. Maksudku alat yang diperlukan untuk memilih tindakan terbaik dalam situasi apapun. Kebulatan tekad umum dimiliki di antara orang-orang bodoh dan lambat, juga di antara mereka yang cerdas dan cemerlang. Jadi, bukan, kebulatan tekad bukanlah yang kita cari.”

Kali ini murid memperlakukan pertanyaan itu sebagai teka-teki, menghitung jumlah katanya, membisikkan keras-keras untuk mencari tahu apakah ada arti tersembunyi. Masalahnya, ia tak lebih daripada pemecah teka-teki kelas menengah. Pikirannya terlalu harfiah untuk memecahkan teka-teki yang belum pernah didengarnya, warisan dari cara ayah yang praktis membesarkannya.

“Kebijaksanaan,” katanya pada akhirnya. “Kebijaksanaan adalah alat yang paling penting yang bisa dimiliki seseorang.”

“Tebakkan yang cukup bagus, tapi, sekali lagi, bukan. Jawabannya adalah logika. Atau, dengan kata lain, kemampuan berpendapat secara analisis. Kalau diterapkan dengan benar, logika bisa mengatasi kurangnya kebijakan, yang hanya bisa diperoleh melalui usia dan pengalaman.”

Murid mengerutkan kening, “Ya, tapi guru bukankah memiliki hati yang baik lebih penting daripada logika? Logika murni bisa menyebabkan saya bisa mendapatkan kesimpulan yang secara moral salah, sedang jika saya bermoral jujur, dipastikan saya tidak mengambil tindakan memalukan.”

Senyum tipis muncul di bibir guru. “Kau salah memahami permasalahannya. Yang ingin aku ketahui adalah alat yang paling berguna yang bisa dimiliki seseorang, terlepas dia baik atau jahat. Aku setuju memiliki sifat baik sangat penting, tapi aku yakin jika kau harus memilih antara memberi penawaran mulia pada seseorang atau mengajari berpikir jernih. Maka kau akan lebih memilih mengajarinya berpikir jernih. Terlalu banyak masalah di dunia ini disebabkan orang-orang yang memiliki tujuan baik tapi dari benak yang salah.”

“Sejarah memberi kita puluhan contoh orang-orang yakin mereka benar dan melakukan kejahatan mengerikan karenanya. Ingatlah, muridku, bahwa tidak ada yang menganggap dirinya penjahat, dan hanya yang sedikit orang yang mengambil keputusan yang menurut mereka salah. Seseorang mungkin tidak menyukai pilihannya, tapi ia akan mempertahankannya karena, bahkan dalam kondisi terburuk, ia percaya itulah pilihan terbaik yang tersedia baginya waktu itu.”

“Kalau dianalisis secara terpisah, menjadi orang yang lebih baik bukanlah jaminan kau akan bertindak dengan baik, yang mengembalikan kita pada perlindungan yang kita miliki terhadap para penipu, siasat licik bahkan kesintingan orang banyak, dan pembimbing kita menjalani kehidupan yang tidak pasti, pikiran jelas dan beralasan. Logika tidak pernah mengecewakan dirimu, kecuali kau tidak menyadari, atau sengaja mengabaikan konsekuensi tindakamu.”

“Kalau semua guru logis itu,” kata murid, “maka kalian semua pasti menyetujui tindakan yang harus diambil.”

“Jarang,” kata guru. “Seperti setiap kelompok orang, kami mengikuti banyak sekali aturan yang bermacam-macam dan, akibatnya, kami sering mencapai kesimpulan yang bertentangan, bahkan dalam situasi yang sama. Kesimpulan, kalau boleh kutambahkan, yang masuk akal dari sudut pandang semua orang. Dan sekalipun aku menginginkan yang sebaliknya, tidak semua guru melatih pikirannya dengan benar.”

“Bagaimana guru mengajarkan logika ini padaku?”

Senyum guru melebar. “Dengan metode paling tua dan efektif, berdebat. Aku akan bertanya kepadamu, lalu kau akan mempertahankan jawabanmu.” Ia menunggu sementara murid mengisi gelas dengan air. “Misalnya, bagaimana dengan bentuk bumi?”

Murid tidak siap menghadapi perubahan topik yang tiba-tiba ini. Tadinya guru hanya akan membicarakan hal-hal santai di sore ini, “semua orang tahu kalau bumi itu bulat.”

“Lalu kau mempercayai kata-kata mereka?”

“Maksud guru?”

“Bahwa kau mempercayai kata orang-orang tanpa pernah berusaha membuktikannya?”

“Tepat sekali,” kata murid.

“Ah, tapi coba jawab ini, buktikan!”

“Kalau ada kapal yang berangkat meninggalkan lautan, lamat laun ia menghilang karena menuju sisi bumu yang lain, itu membuktikan bumi itu bulat.” Murid tersenyum puas.

“Tidakkah itu terjadi karena bumi terlalu luas, sehingga jarak pandang berkurang?”

Murid ternganga, tertegun karena guru bisa membalikkan jawabannya. Bumi jelas bulat, dan tertegun karena tidak ada jawaban mudah yang ditemukannya. Ia tahu dirinya benar, tapi bagaimana membuktikannya? “Apa anda berpendapat bumi itu tidak bulat?”

“Bukan itu pertanyaannya?”

“Tapi guru pasti berpendapat begitu,” Kata murid, berkeras.

Dengan janggut tercelup teh, guru melanjutkan minum, membiarkan murid mendidih dalam kebisuan. Sesudah selesai, guru melipat tangan di pangkuan dan bertanya, “Apakah aku membuatmu gusar?”

“Ya, benar.”

“Baiklah, kalau begitu, pertimbangkan terus masalah ini hingga kau menemukan jawaban. Kuharap jawaban yang meyakinkan.”

Keesokan harinya murid datang dengan wajah muram, ia mencari guru diruangannya. “Saya yakin bumi bulat, kitab-kitab yang saya baca semalam berkata begitu, terserah guru percaya atau tidak. Saya belum mampu membuktikan sekarang, tapi kelak akan.”

Murid meletakkan berbagai kitab yang diperoleh, dan membuka berhalaman-halaman serta menunjukkan dengan bersemangat, sang guru memperhatikan lingkaran hitam di sekitar mata si murid, ia tersenyum. “Terserah guru percaya atau tidak, bumi ini bulat!”

“Benar muridku, bumi ini bulat. Tapi bukan itu pesan yang ingin aku katakan kepadamu. Jika kamu meyakini sesuatu buktikan!”

Murid tersenyum.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 61 Comments

VIRTUE ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Butir-butir waktu tidak bisa dihentikan. Tahun-tahun berlalu entah kita menginginkan atau tidak. Tapi kita bisa mengingat. Apa yang hilang mungkin hidup dalam kenangan.

Butir-butir waktu tidak bisa dihentikan. Tahun-tahun berlalu entah kita menginginkan atau tidak. Tapi kita bisa mengingat. Apa yang hilang mungkin hidup dalam kenangan.

VIRTUE ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Virtue is moral excellence. A virtue is a positive trait or quality deemed to be morally good and thus is valued as a foundation of principle and good moral being.

Azas berjalan pada tapak pertama, telur harus ditetaskan, kepak sayap harus direntangkan, dimulai belajar terbang, mungkin untuk mengangkasa, semua adalah sebuah imaji bersahaja. Kita semua tahu bahwa kisah mempunyai kehidupannya sendiri. Ada cara tumbuh, ada cara membumbuinya. Terlepas dari apakah rinciannya itu tepat atau tidak, namun harus ada suatu inti kebenaran untuk kaidah seperti itu sama dengan pertama kali dahulu.

Barbarossa like Tyrion Lanister

Barbarossa like Tyrion Lanister

Pertanyaannya siapa dia? Mengapa dia bukan tokoh sejarah yang muncul kepermukaan? Apa hebatnya dia sehingga harus dituliskan? Pasti muncul pertanyaan itu ketika tulisan ini menjadi sangat panjang dan membosankan, terutama bagi mereka yang tidak mengenal dia.

Mungkin dia memang biasa saja, tidak memiliki kelebihan jika dibandingkan orang besar, semangat juang kurang, merantau tak pernah, akademisi kurang, harta biasa saja, satu hal yang mungkin kelebihannya adalah kemampuan menikmati hidup. Menikmati hidup apa adanya, Mister Alhamdulillah. Nyaman dengan hidup, dan selalu menyempatkan diri bersantai, tertawa, makan dan tidur. Sederhana. Dia adalah Barbarossa.

I

Laksamana Chen like Lord Varys

Laksamana Chen like Lord Varys

Kenapa aku harus bicara? Woy, aku malas tau. Kenapa pula maksa-maksa? Jiaaah. Bukanya Tabib Pong lebih tahu. Mengapa aku yang ditanyai? Dasar.

Oke, oke baiklah. Aku akan bicara, Barbarossa itu tidak ada hebatnya, dia pelupa, licik. Kalau berbuat salah selalu mengatakan “kita yang berbuat” tapi giliran bersama-mana berhasil, pasti bilang “itu semua karena aku!”

Apalagi ya? Oh iya, dia kalau bicara sangat bijak, padahal kelakuan tidak begitu. Banyak juga dia berbuat salah, cuma karena dia pintar membolak-balik kata, semua kecuali aku terbodohi sama dia.

Betul! Aku apa tidak kenal dia, di antara kalian semua aku yang pertama kenal dia. Kalian lihat dia hebat? Kalian tidak pernah lihat dia galau, apa yang dia bilang sekarang tahi kucing semua. Sekarang nampak hebat, percaya sama aku dulu tidak ada apa-apanya dia.

Terus satu lagi, dia pandai bicara. Kalau bicara sama dia, mantap. Abusyik dan Wali aja segan sama dia. Entah dari mana dia baca seolah-olah semua pengetahuan dia kuasai. Oh ya, mungkin karena banyak duduk di lepau nasi, banyak dengar orang bicara. Pengalaman orang seolah-olah pengalaman dia, padahal dia cuma putar-putar omongan orang aja. Hebatlah dia, preeeet!!!

Tapi, dia tidak mungkin gak ada lebih. Iya ada. Segala kekurangan dia itu, mungkin kita semua sedikit-sedikit tahu, itu semua seolah biasa-biasa saja. Malah, sebagian besar anggota mengangkat dia sebagai pemimpin kita (Kecuali Tuan Takur dan Amish Khan). Iya, itu aja ya. Aku tidak pandai bercerita.

(Laksamana Chen)

|Status : Kawin|

II

Professor Gahul like Robb Stark

Professor Gahul like Robb Stark

Maka menjelaskan Barbarossa itulah yang paling sulit. Karena memang karakter dia unik di ABL. Pandangannya tentang banyak hal sering berbeda dengan orang lain pada umumnya, ide-ide brilyan yang ia keluarkan menginspirasi orang lain. Jika kalian sering berbicara dengannya, kalian akan memahami prinsip dua telinga satu mulut. Aku benar-benar merenung dalam-dalam, lalu berpikir lebih panjang lagi.

Dia adalah raja lepau nasi, disamping itu dia adalah filsuf, mampu menganalisa situasi apalagi ketika mendengarkan curahan hati orang lain. Kepala gudang kerajaan yang baik, visioner namun bukan seorang executor. Terbukti ketika ia berbisnis bebek, membuat koperasi semuanya gagal. Aku pikir walau pun secara ide dia kuat, namun ia kesulitan untuk mengkreasikan ide di luar ABL.

Barbarossa adalah wajah ABL itu sendiri. Dia memiliki kualitas kenyiyiran Laksamana Chen, kepustakaan Penyair, keflamboyanan Tabib Pong, ketanguhan Mister Big, Kedegilan Santiago, Kelugasan Tuan Takur, keterangonan Amish Khan, dan Keintelektualan aku. Hahaha.

Satu lagi, Barbarossa adalah Jockey cinta, ia cukup banyak ia berhasil menjodohkan orang lain. Agak aneh memang jika dia termasuk salah satu yang terakhir menikah, tapi dunia memang memiliki anomali dan Barbarossa adalah salah satunya.

(Profesor Gahul)

|Status : Kawin|

III

Amish Khan like Oberyn Martell

Amish Khan like Oberyn Martell

Ngok..Ngok..Ngok.. Dia itu Babi!!!

(Amish Khan)

|Status : Kawin|

IV

Tabib Pong like Jamie Lanister

Tabib Pong like Jamie Lanister

Salah satu sifat sahabatku, Barbarossa, terbilang unik. Di balik cara cara berpikirnya yang teratur dan pakaiannya yang rapi, ia kerap menjadi sosok yang penganggu bagiku, orang yang dekat denganku. Meski profesiku tabib, aku sesungguhnya juga bukan sosok yang kaku. Aku suka gaya hidup melayu. Aku juga tidak begitu disiplin layaknya kebanyakan tabib, terutama setelah aku mengalami pengalaman kerja yang keras lagi kacau di pulau Selatan dahulu. Aku bahkan merasa, kadang lebih menyenangkan bagiku bertemu dengan orang slebor. Namun, menghadapi sifat kemalasan Barbarossa, kadang tetap juga membuatku terganggu.

Apa itu?

Mister Yes. Kalian pernah berbicara dengan Barbarossa? Kalau belum aku bilang ke kalian, dia adalah tipe orang yang mengiyakan apapun yang kalian ceritakan. Bagus untuk sekedar mencurahkan segala isi hati. Tapi untuk solusi? Tidak ada, dia akan mendukung apapun keputusanmu. Sifat Bunglon, beradaptasi dengan siapapun dia berbicara. Dia juga bukan seorang Mastermind, isi otaknya tak melahirkan ide-ide orisinal, dia hanya memancing orang mengemukakan pendapat, kemudian memilih yang terbaik. Aku pikir itu terjadi karena hasrat ingin tahu yang tinggi membuat dia tak pernah tertinggal dari siapapun.

Dia juga, partner in crime yang baik, banyak kenakalan yang kami lakukan. Akh, sudah itu masa lalu. Dia juga mudah dipengaruhi, walau kadang-kadang terlihat bijak.

Seperti,.

Suatu malam yang dingin, angin berhembus kencang kami duduk di lepau nasi dekat pelabuhan. Hari itu dimulai dengan Mas Jaim yang bercerita bahwa ia sekarang memiliki standar lebih tinggi dalam memilih pendamping, ia tidak menyukai beberapa perempuan pilihan orang tuanya, yang menurutnya berada dibawah level dirinya, tak luput dengan bahasa bertele-tele, dan menjengkelkan.

“Jangan lupa bercermin!” Aku memasang wajah tenang, seperti biasa.

“Bukan begitu Tabib Pong? Tidakkah kau merasa bahwa memilih pasangan itu, kemudian menikah itu menjadi terasa sangat rumit?” Mas Jaim balik bertanya, aku sedang pun diam.

Barbarossa yang sedari tadi terdiam tiba-tiba bertanya, “Kalian berdua, kalau aku akan segera menikah, apa kalian ikhlas?”

Aku hanya diam, tapi Mas Jaim langsung menggeleng. Aku terkejut sedikit, lalu langsung menyadari bahwa jika Barbarossa menikah, akhirnya yang mewakili unsur Budjang dalam ABL hanya tinggal kami berdua.

“Jodoh itu jangan dipikirkan. Insya Allah dia akan datang dengan sendirinya.” Bahasa Barbarossa mengingatkan aku akan seseorang laki-laki yang sudah memiliki empat orang anak yang sedang menasehati anak-anaknya yang beranjak dewasa.

Sahabatku ini adalah seseorang yang amat mudah dibaca, gampang ditebak. Aku yakin, saat itu dia akan segera menikah. Dan waktu berjalan cepat menuju hari-hari itu.

(Tabib Pong)

|Status : Tidak Kawin|

V

Mister Big like Jhon Snow

Mister Big like Jhon Snow

Dia sebenarnya galau, aku tahu ketika ia bertanya, “Mister Big, kamu menikah usia berapa?” Aku menjawab dua puluh sembilan tahun. Terus dia bilang, dia juga harus kawin pada umur segitu juga, akhirnya kesampaian. Aku merasa dia sedikit tertekan, waktu itu dia dua puluh delapan.

Seperti yang kalian tahu, kami berdua adalah penjaga gudang beras kerajaan. Awal tahun lalu Barbarossa diangkat menjadi kepala gudang beras nomor 261, tempat kami bekerja. Otomatis aku memanggil dia “Pak Bos,” bercanda. Dan dia sangat kesal dengan panggilan itu. Kami sudah delapan tahun bekerja bersama di gudang beras ini, jadi aku adalah orang yang sehari-hari bersama dia, sangking terbiasanya bersama, aku lupa menjabarkan bagaimana keseharian sahabatku ini, secara umum biasa saja. Tidak ada yang luar biasa.

Oh ya, pernah satu kali aku mencicipi kopi dari gelasnya, “bedebah pahit sekali kopimu!”

Barbarossa menjawab, “ini namanya diet gula, bagus untuk mengontrol emosi apalagi menjelang pernikahan, pasti sarat emosi.”

Itu satu-satunya pengakuan yang dia lakukan, selebihnya dia berkata siap menjalani pernikahan. Itu pengakuan dia, padahal? Menjelang pernikahan Barbarossa lebih sering mencari cerita-cerita stensilan yang cenderung “panas” kemudian emosinya berubah dengan mencari tulisan-tulisan tentang khasiat puasa terutama puasa Senin-Kamis, aku merasa ada perubahan emosi yang simpang siur sahabatku ini menjelang hari pernikahan, melihat hal itu aku hanya tertawa kecil dalam hati. Katanya stabil, rupanya labil juga dia.

Hal ini tambah meyakinkan ketika Bunda Barbarossa, ketika bertemu aku dengan wajah riang gembira berkata anaknya menjelang pernikahan menjadi semakin sulit tidur dan makan sedikit saja. Barbarossa satu lagi, disamping kelakuan tidak jelas itu sangat dekat dengan orang tua, kelebihan itu membawa satu kegalauan lagi, ketika ia bertanya padaku. “Mister, bagusnya setelah menikah aku sewa rumah sendiri atau tinggal bersama orang tua?

Aku hanya tertawa, ada-ada saja sahabatku ini. Mungkin akibat terlambat kawin sih.

(Mister Big)

|Status : Kawin|

VI

Tuan Takur like Stannis Baratheon

Tuan Takur like Stannis Baratheon

Barbarossa itu laki-laki tidak jelas, dibalut dengan bahasa penjelasan. Ini bukan, itu juga bukan. Sekarang pun bukan seperti yang dia bilang dulu, tidak jelas dia. Aku heran dia bisa menjadi “Top Dog” di ABL. Seharusnya mereka memilih pemimpin yang lebih baik, contohnya aku!

Tapi, mungkin Barbarossa memiliki jari-jari imut yang membuat siapapun merasa nyaman dengan dirinya. Hahahahaha.

Sekian

 

(Tuan Takur)

|Status : Kawin|

VII

Mas Jaim like Hodor

Mas Jaim like Hodor

Dia terburu-buru menikah, dia panik. Apalagi setelah Penyair menikah, dia merasa terpotong oleh seseorang yang dia pikir tidak mungkin mendahuluinya. Aku pikir dia terburu-buru.

(Mas Jaim)

|Status : Tidak Kawin|

VIII

Penyair like Eddard Stark

Penyair like Eddard Stark

Pemimpin adalah orang yang menarik organisasi karena memiliki tugas penting, pemimpin harus selalu di atas dan melihat jauh ke depan. Ia mampu mengumpulkan anggota yang handal dan membentuk organisasi yang kuat. Ia harus menguasai masa lalu, melihat trend masa kini untuk terbang tinggi ke langit. Pemimpin harus aktif (virtue) dalam meraih keberuntungan, karena orang yang bersemangat dalam mencapai tujuan lebih disenangi keberuntungan (Fortuna).

Dalam hal mengenali kami semua, Barbarossa jelas memiliki keunggulan. Dapat dikatakan ia adalah tipe pemimpin yang baik, mungkin secara ide memang dia lemah, namun ia memiliki kelebihan dalam memanfaatkan ide orang lain dan memilih di antara ide-ide tersebut. Ia selalu mengasah kemampuan dengan terus belajar.

Barbarossa memiliki sifat menghargai pendapat orang lain. Membuka diri terhadap perubahan sekaligus mempertahankan nilai-nilai organisasi. Menerima kritik dengan lapang dada, serta mengajukan pendapat sesuai bahasa yang diinginkan oleh orang lain. Itu membuat dirinya tidak dibenci orang dan tidak membuat musuh baru.

Barbarossa si jenius? Kata cerdik lebih cocok disematkan kepadanya.

(Penyair)

|Status : Kawin|

IX

Langit bersih namun gelap, angin sepoi-sepoi berembus di udara. Awan keperakan melayang di atas pegunungan yang mengelilingi dirinya, tepi-tepinya kemilau akibat cahaya bulan yang bertengger di sela. Kabut suram merayap disepanjang kota, nyaris cukup tebal untuk menyembunyikan kaki-kakinya. Pagi pun datang, beberapa hari belakangan hujan deras mengguyur Bandar. Hari datang bersama mendung menggantung, selama setengah hari berikutnya cuaca berangsur cerah. Dan di hari itu Barbarossa menikah.

Hari itu istimewa, seharusnya. Acara diawali dengan sedikit kekacauan ketika Tabib Pong yang bertindak sebagai pendamping terlambat datang, sehingga digantikan sementara oleh Amish Khan yang pemberani. Ya, sangat pemberani sampai ketika Tuan Kadi berceramah ia ber-dadah dengan anggota ABL lain di sudut kanan. Syukur, tak lama kemudian Tabib Pong sampai dan maju kedepan mendampingi Barbarossa. Sampai ijab qabul selesai. Aman.

Musim hujan, namun hari itu menjadi cerah, semakin memanas ketika Tabib Pong ketahuan emosi dengan Tuan Takur yang berpakaian tidak layak, menurutnya seperti hendak ke lepau nasi. Tapi, akh Tuan Takur tidak peduli.

Pernikahan Barbarossa berlangsung sepi untuk seorang ketua Assosiasi Budjang Lapok yang namanya termasyur ke seluruh Bandar, menyisakan sebuah ironi. Penyair bersungut-sungut dan bertanya kemana sejawat lain di luar ABL, hampir tidak ada.

Tabib Pong berbisik pelan, “Barbarossa itu disukai semua orang, dia orang yang selalu ada untuk siapapun. Dia terkenal, tidak memiliki musuh. Kalau dipikir kurang apa coba? Sayangnya, dia tidak memiliki sahabat militan selain kita.”

Penyair terdiam.

Selanjutnya, hari berlangsung biasa seperti bukan sebuah hari istimewa kecuali bagi Barbarossa. Pagi di geser siang. Siang digusur sore. Dan, sore dengan cepat dilengserkan malam.

X

Malam itu. Semua anggota ABL menunggu Barbarossa di lepau nasi. Ia datang terlambat setelah membungkuk dan bergumam, “Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk segala kontribusi kalian dalam menyukseskan ijab Kabul dan acara pernikahan, aku cinta kalian semua.”

Professor Gahul berdiri menyalami. “Mengatakan cinta segala, tampaknya teman kita ini bahagia sekali.”

“Kalau tidak ada kalian semua, mana ada cinta itukan?” Kata Barbarossa, sambil tersenyum girang.

“Itu semua terjadi karena yang diatas, bukan? Bukan karena ABL. Takdir yang mempertemukan kau dengan Mas Jaim.” Olok Amish Khan.

Jiah, kok Mas Jaim dibawa-bawa. Aku mau cabut dulu ne bentar, mau menjemput pengantin.” Kata Barbarossa, sambil beranjak bangkit. Ia mengucapkan selamat berpisah dan meninggalkan lepau nasi.

“Eaaa! Ahai! Asyik!” Laksamana Chen bertepuk tangan.

“Spartaacuuuus!!!” Teriak Tabib Pong kepada sosok Barbarossa yang menghilang dikegelapan malam.

Mas Jaim dan Penyair hanya diam.

“RIP Perlepauan.” Kemudian Tabib Pong bersuara pelan.

Dan benarlah kata-kata Tabib Pong tersebut, sejak Barbarossa menikah ia merasakan terputuslah rantai dunia Assosiasi. Kehilangan tokoh pemersatu yang mengenal mereka dengan baik, mengakhiri sebuah era. Hukum alam memang tak pernah basa-basi, dengan jujur dan tanpa kompromi, menunjukkan terkadang kita berakhir demi melanjutkan perjuangan dengan sebuah tujuan yang lebih besar.

XI

Abuyan Like Theon Greyjon

Abuyan Like Theon Greyjon

Salut dengan Barbarossa, saya pikir tipikal seperti dia akan lama menikah (tertawa), setahu saya dia pernah sangat mencintai seorang wanita dahulu dan hampir menikah. Tapi terkendala teknis dan segala tetek bengek dari pihak perempuan. Sehingga ia berani mengatakan, TIDAK. Untuk itu bisa dikatakan ia pernah patah hati.

Saya juga terkejut ketika dia punya niat menikah disaat saya pikir dia masih mengilai hedonisme dan anti kerumitan dan keseriusan. Tapi saya salut sebelum berumur tiga puluh dia menikah.

Dia suka memiliki pandangan yang agak keduniawian sedikit, atau pun sesuatu yang tabu dalam pandangan negeri Syariah seperti Bandar. Saya memang selalu menjadi komparasi dalam debat dia, pandangan politik saya jarang seiring dengan dia. Tapi dia bukanlah seorang pendendam.

Bagaimana pun, meski jarang bertemu kami selalu bersahabat. Karena punya dasar kawan lama sedari kecil, saya salut dengan dia. Meski punya konsep sekuler atau agak kiri sedikit. Kami sering sharing masalah agama (tertawa). Saat masa-masa sekolah kalau hujan lebat itu, maka orang yang saya jumpai di masjid kampung ya Barbarossa. Mungkin karena kami sama-sama menyukai tembakau, kenangan merokok ditempat wudhu masjid saat menunggu adzan Maghrib sesekali terjadi percakapan olahraga, agama sampai politik. Sebatang rokok saat itu sangat berarti (menerawang).

Dalam hal komunikasi tidak ada masalah meski kadang-kadang tensi naik karena perbedaan sedikit, tapi karena punya latar belakang sama sedari kecil tidak merusak persahabatan lama. Apalagi menjelang pemilihan pemimpin negeri kemarin. Itulah perbedaan paling besar dalam pandangan politik saya dengan dia. Kelebihan Barbarossa, dia sangat toleran dalam pergaulan, jago explorasi pendapat orang lain kemudian menterjemahkan kembali menjadi seolah sesuatu yang baru. Menghargai temannya dengan segala rutinitas keluarga masing-masing. Punya wawasan yang mumpuni.

Kekurangannya, suka mengolok-olok kadang-kadang di luar batas terhadap kawan yang lugu/unik seperti Mas Jaim saat ini. Pernah saya dengar dia pernah melakukan hal itu ketika sekolah, terhadap kawan-kawan lugu/unik disana, salah satunya Penyair. Dan pernah menyiksa kawan-kawan lugu/unik di sekolah. Begitulah kelakuan dia, ini bukan asumsi karena Barbarossa yang bercerita.

Terus dia malas belajar di sekolah, apalagi kalau di dalam ruangan. Padahal pintar (tertawa terbahak), cocoknya dia belajar di taman. Suka mengomentari dengan menjatuhkan sesuatu pendapat yang berbeda dengan dia, saya selama ini merasakan seperti itu.

Oh iya, dulu pernah kami bersama mempelajari bahasa asing, kami berdua berbeda dalam pandangan politik. Kalau dalam dunia perlepauan, persekolahan dan pergaulan seringlah kami bersama-sama. Ada banyak hal, dan itu kurang lebih menyenangkan. Ada banyak cerita, payah mengingat semua, terlalu banyak kenangan. (tersenyum lebar).

(Abuyan) (Tokoh Pendidikan di pedalaman Bandar, sahabat sekaligus lawan politik Barbarossa)

|Status : Kawin|

XII

Para anggota Assosiasi Budjang Lapok. Kebanyakan diantara mereka awalnya oleh sebahagian besar orang dianggap memiliki “Gejala stress yang gawat” membentuk sebuah perkumpulan gila. Pada tahun-tahun tersebut mereka telah memberikan apa yang mereka anggap sebagai tahun-tahun terbaik dari kehidupannya. Mereka memiliki kata-kata yang tajam, pembunuh kata yang terlatih, serta memiliki reaksi yang cepat dan keras. Segera, setelah itu sebagian besar dari mereka mulai membangun keluarga, mereka mulai membangun suatu kehidupan untuk diri mereka sendiri. Kita berharap mereka akan berhasil, terutama karena tekad, ambisi dan kerja keras, serta mengambil pelajaran dari apa yang telah mereka lalui.

Mereka adalah indvidu biasa, sehingga kelak seorang cucu akan bertanya kepada salah satu di antara mereka, “Kakek, apakah kakek tokoh utama dalam cerita ini?”

“Tidak,” jawab kakek, “namun saya berada didalam kesatuan yang terdiri dari mereka.”

Akhirnya kakek tersebut membiarkan air matanya tumpah, ia menangis terharu mengingat segala hal yang pernah dikenalnya. Namun seiring waktu, detak jantungnya melambat, dan matanya mongering, lalu kedamaian menyelubungi saat ia menatap ke depan. Ia mengenang hal-hal lucu, dan luar biasa yang pernah di alami bersama sahabat-sahabat terdekatnya, beragam hal campur aduk ia merenungkan kehidupan yang dimilikinya.

“Aku tak pernah sendirian,” katanya. Senyum merekah diwajahnya.

Butir-butir waktu tidak bisa dihentikan. Tahun-tahun berlalu entah kita menginginkan atau tidak. Tapi kita bisa mengingat. Apa yang hilang mungkin hidup dalam kenangan. Dan hidup pun berlayar, meluncur megah menelusuri sungai waktu bermandikan cahaya bulan menuju tempat nun jauh disana.

XIII

Saya menciptakan ASSOSIASI BUDJANG LAPOK, tapi keberhasilannya merupakan hasil usaha-usaha antusias teman-teman semua. Kalian mengetahui siapa kalian, dan saya berterima kasih!

Akhirnya, terima kasih khusus untuk tokoh dalam cerita ini, yang berani menghadapi apapun yang saya paksakan untuk mereka hadapi, dan tanpa kalian saya tidak akan memiliki cerita.

Semoga jiwa kalian tetap muda!

Salam

Tengkuputeh

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 24 Comments

BUKU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Kehidupan adalah paradoks. Sebuah buku (mungkin) tak meyakinkan sejarah. tentu, tapi setidaknya buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak pernah selesai.

Kehidupan adalah paradoks. Sebuah buku (mungkin) tak meyakinkan sejarah. tentu, tapi setidaknya buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak pernah selesai.

BUKU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Sebuah buku (mungkin) tak meyakinkan sejarah. tentu, tapi setidaknya buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak pernah selesai, tapi membuat kita tahu : kita hanyalah penafsir tanda-tanda, di mana kebenaran menerakan jejaknya. Itulah sebabnya kata pertama yang menakjubkan itu, adalah “Bacalah!”

X

Assosiasi Budjang Lapok adalah sebuah “Organisasi Tanpa Bentuk” bisa dikatakan tanpa pakem sama sekali, menggabungkan unsur-unsur yang sebenarnya dalam teoritis tidak bisa bersatu, sebegitu plural sehingga masing-masing anggotanya tidak bisa di-sterotip-kan kepada golongan manapun. Adalah sebuah keajaiban, ABL dapat bertahan selama bertahun-tahun, tanpa Anggaran Dasar maupun Anggaran Rumah Tangga yang jamak ditemui pada setiap organisasi canggih manapun saat ini.

Satu anggota Assosiasi yang unik itu adalah Penyair, ia adalah salah satu anggota yang memiliki kegemaran membaca, dan walaupun kecil ia adalah satu-satunya anggota ABL yang memiliki perpustakaan pribadi, ada banyak kitab yang tak disangka ia kumpulkan, mungkin sekitar seribuan.

Dibalik itu, ada satu keunikan dari perpustakaan yang dibangun oleh Penyair. Yaitu ia tidak pernah mau meminjamkan koleksinya kepada Barbarossa, yang diketahui adalah satu-satunya anggota ABL yang memiliki kegemaran membaca kurang lebih sama dengan Penyair, padahal Sang Pemimpin berulang kali membujuk Penyair meminjamkan koleksi kitab tersebut, dengan berbagai cara namun tidak pernah berhasil.

Mungkin karena takut tersaingi? Itu pula yang terpikirkan oleh Tabib Pong. Ia adalah pengamat terkritis, terbaik dan tertajam yang dimiliki ABL. Tabib Pong berpikir, jika Barbarossa tidak diizinkan meminjam koleksi kitab Penyair, maka jangan harap yang lain akan meminjamkan pada yang lain. Hal ini menyebabkan perpustakaan Penyair selamat dari jamahan ABL. Bukan Tabib Pong jika ia tidak bertanya.

“Jadi Penyair, kenapa kamu tidak mau meminjamkan koleksi kitabmu kepada Barbarossa?”

“Aib”

“Apa ini? Kenapa aib.” Tabib Pong mengeluarkan jurus “tatapan membuat tidak enak” yang selalu membuat setiap orang jengah.

“Malas”

“Apa pula aib? Kemudian malas? Jawaban macam apa itu? Ini Barbarossa ada disini, kamu tinggal bilang.”

Barbarossa terbahak.

“Pasti dia pernah tidak mengembalikan kitab Penyair!” Tembak Amish Khan.

Penyair tersenyum.

“Ayolah Penyair beri jawaban, tidak mungkin kami menebak-nebak.”

“Mungkin Barbarossa bersedia menjawab?” Penyair mengalihkan.

Sekali lagi Barbarossa terbahak, kemudian mencoba mengingat, “sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa kamu tidak pernah meminjamkan kitab kepadaku. Kalau diingat-ingat padahal dulu ketika sekolah dulu kamu pernah meminjamkan kitab-kitab kepadaku.”

“Kau tidak ingat? Baiklah beta cerita. Beta sudah berteman dengan Barbarossa selama 18 tahun. Dalam berteman ada banyak suka dan duka, jadi benar kata Barbarossa di zaman sekolah beta sering meminjamkan kitab kepada dia. Itu berlangsung sampai dengan sepuluh tahun yang lalu.”

“Ada kejadian apa memangnya sepuluh tahun lalu?” Tanya Tabib Pong.

“Sepuluh tahun lalu Barbarossa meminjam dua buku dan sampai sekarang belum dikembalikan.”

“Yang betul? Aku tidak ingat lagi.” Barbarossa mencoba mengingat-ingat.

“Beta masih mengingat judul bukunya satu : Mengapa Babi Diharamkan dan dua : Bahaya Onani Bagi Generasi Muda.” Penyair menjawab dengan cemberut.

“Hah, Babi! Onani!” Amish Khan ketumpahan air tersedak. Yang lain tertawa terbahak.

“Tenang Penyair, nanti aku cari dirumah.” Barbarossa.

Percakapan ini terjadi dua tahun yang lalu, dan sampai sekarang Barbarossa belum menemukan (lagi) kitab Penyair yang dihilangkan. Pelajaran Moral : “Jangan pernah menghilangkan barang milik Penyair, selamanya dia mengingat.”

XX

Buku, di mana percakapan berkembang, memang memiliki sampul penutup, tapi buku yang sempurna tak akan pernah selesai ditulis.

XXX

Pesan Penyair : Mungkin Nyonya Barbarossa berkenan untuk membantu mencari kitab beta?

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 21 Comments

YANG TERCINTA MALAHAYATI

Yang tercinta, Malahayati. Wahai angin, kutitipkan salam untuknya, kuharap disana ia baik-baik saja.

YANG TERCINTA MALAHAYATI

Dunia penuh warna-warna berbeda. Musim berganti. Air sungai yang sama masih mengalir. Terkadang tenang, terkadang menggelegak marah. Terkadang lebar bak tak terbatas, terkadang mengkerut diisap dinginnya musim dingin. Tapi ia terus mengalir. Bersama itulah cinta itu tumbuh, berkembang, mekar dan mewangi. Cinta adalah sesuatu yang maha akbar di alam semesta ini, namun tak mampu kita mengungkapkannya.

Mungkin, sedikit banyak aku bisa memahami, kala membayangkan deburan ombak yang memisahkan kita. Ketika takdir menjalin kita dalam sebuah ikatan, sepeti magnet yang diuji kekuatannya ketika berjauhan. Ada ketakutan, ada kekhawatiran, ada perhatian disana.

Cinta telah terpadu kepada pucuk puncak segala keindahan. Senantiasa bergerak dalam sanubari, namun terasa bekasnya di alam semesta.

Cinta telah terpadu kepada pucuk puncak segala keindahan. Senantiasa bergerak dalam sanubari, namun terasa bekasnya di alam semesta. Dengan cintaku telah ku hapuskan alat percintaan yang sebelum. Terasa olehku bahwa engkau jauh, tetapi engkau dekat. Kian lama jarak yang jauh itu, dipisahkan oleh lautan, dekatlah kamu. Sampai tiada lagi perantara di antara kita.

Sungguh, banyak kesulitan yang akan kita hadapi dalam hidup. Itulah keindahan mutlak, puncaknya segala kehidupan, dengan segenap hatiku menerima. Dalam mencari dan menuju kecintaan itu, sampai tercapai rasa bersatu paduan itu. Itu bukan ilmu, bukan filsafat, melainkan dari rasa di atas rasa.

Disanalah misteri cinta, bukan? Ketika hati dapat menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata. Kita, aku dan engkau adalah fana. Kelak akan mati, bersamaan atau satu demi satu. Jika itu telah terjadi, disana, tak peduli segenap bidadari, cukuplah engkau bagiku. Malahayatiku.

Beberapa puisi lainnya:

  1. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  2. Berakhir Disini; 16 Juli 2009;
  3. Cerita Sebuah Gudang; 14 Januari 2010;
  4. Selamat Ulang Tahun Mama; 1 Februari 2010;
  5. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  6. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  7. Kenangan Akan Gerimis; 11 Februari 2012;
  8. Ada Setelah Tiada; 26 Februari 2012;
  9. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  10. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  11. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  12. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  13. Surga; 17 Juni 2013;
  14. Direbut Kabut Kelam; 10 Agustus 2013;
  15. Musim Hujan; 11 September 2013;
  16. Untukku; 17 November 2013;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

LALAI

Cerita ringkas yang (pasti) tak seindah dongeng. Tapi mungkin masih kebih manis ketimbang kenyataan.

LALAI

Diantara tubir-tubir perbukitan, atau jalan basah hujan badai tak kunjung selesai, atau bahkan curam ngarai pegunungan besi. Perjalanan panjang yang sedih, hampir tampak sia-sia, dengan, pengorbanan sampai dasar, tiada hendak mencapai apa yang begitu berharga, merasa tiada pilihan lain. Aku pikir aku sudah memahami semuanya.

Padahal azas berjalan pada tapak pertama, bambu harus diretakkan, istana pikiran dibuka, dimulai, mungkin, sebuah imaji bersahaja, segera akan pergi keluar (melihat), untuk membentuk hari esok yang bernyanyi kembali.

Mungkin aku lupa, akan cara berkreasi, padahal Tuhan sendiri ialah IA yang tak menyesali apa yang ia ciptakan sendiri. Tiap hari, tiap kali. Berbuat merupakan sebuah petualangan baru, ada berbagai kemungkinan langkah ke depan yang tak diduga.

Bisa jadi, aku terkena penyakit terbesar manusia, kian gemuk, bahkan kian bengkak. Berhenti dan berpuas diri, karena tentunya hidup berarti bukan karena (hanya) mencapai, Hidup menjadi berarti karena mencari.

Aku lalai. Harapanku hanya pada Tuhan, yang setahuku IA tak pernah menolak mereka yang mengaku, menyesal pada-Nya.

Lagi-lagi, aku merasa memahami, aih, alangkah tololnya.

Koetaradja, 10 Syawwal 1435 H. (bertepatan 6 Agustus 2014)

Beberapa pemikiran:

  1. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  2. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  3. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  4. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  5. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  6. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  7. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  8. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  9. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  10. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  11. Pahit; 8 Maret 2012;
  12. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  13. Nun; 3 Desember 2014;
  14. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  15. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
Posted in Kisah-Kisah, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

ANAK-ANAK

Untuk apa kita mengorbankan kebahagiaan? Hidup kita bukan milik kita.

ANAK-ANAK

Cerita tentang anak-anak terkadang bisa menyebabkan kita merenung. Anak-anak mengandung hal-hal yang mempesona. Jika ada kebebasan, yang tidak terikat pada tujuan, pamrih, target, itulah kebebasan sejati yang terdapat pada anak-anak.

 anak-anak bermain bola dalam rintik hujan

dalam nikmatnya kebersamaan

anak-anak bermain bola tanpa beban kesengsaraan

tanpa dibayangi ketakutan

anak-anak bermain bola dalam luasnya jagad raya

tanpa tabir kemunafikan

andai dunia seperti realita ini

alangkah indahnya

anak-anak pun bermain dan terus bermain

mari kita jadikan dunia ini damai seperti hati mereka

Tapi tak semua anak beruntung.

Pernahkah kita bertanya, seberdosakan apakah kita? Ketika memilih tidak berbuat.

Ada yang terbongkok-bongkok memikul kaleng minyak sepanjang jalan. Atau membujuk tamu dari lantai warung yang kotor agar suka mengupahnya untuk menyemir sepatu. Pantai dunia mereka sangat terbatas.

Anehnya mereka tak sendiri. Di seberang lain, di rumah-rumah bagus itu, tertimbun dalam kecermelangan plastik, elektronik, ada anak yang dikongkongi nenek, orang tua atau pesawat televisi.

Mereka tak lagi bisa bermain dalam arti sebenarnya. Waktu mereka telah direbut. Mereka tak lagi menciptakan mainan, dan nyanyian sendiri di bawah bulan. Mereka di-karbit oleh lagu, dan dunia orang dewasa.

Malam harinya kepayahan bekerja, atau pasif di depan televisi. Mereka harus menelan dunia orang dewasa, yang sebetulnya tak ingin anak-anak menyukai dunia mereka sendiri.

Pertanyaannya adalah, untuk apa mereka mengorbankan kebahagiaan? Padahal hidup mereka bukan milik kita.

Beberapa pemikiran lain:

  1. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  2. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  3. Hantu; 20 Februari 2009;
  4. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  5. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  6. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  7. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  8. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  9. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
  10. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  11. Batas; 22 Februari 2010;
  12. Manusia; 18 Maret 2010;
  13. Teori Kemungkinan; 14 Februari 2011;
  14. Generasi Yang Hilang; 17 April 2011;
  15. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

EVOLUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Sebuah pernikahan juga bermakna perubahan, ketika dua manusia dipersatukan menjadi satu ikatan. Ia mengubah seseorang menjadi sesorang baru, ia mengubah susunan anggota keluarga, ia mengubah hukum waris, ia membelokkan cerita. Sebagaimana yang kita ketahui, sebuah perubahan belum tentu membawa perbaikan, namun tidak ada perbaikan tanpa perubahan.

EVOLUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Alam pun mengalami evolusi panjang yang menjungkarbalikkan kenyataan. Gunung, lembah, sungai, gurun, semua tiada abadi. Semua dalam perjalanan. Makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah, yang tertinggal hanyalah mereka yang beradaptasi dengan lingkungan.

X

Barbarossa sudah duduk selama berjam-jam dalam keheningan dengan punggungnya melengkung di atas kursi lepau nasi, sendirian. Saat ini dia sedang memegang pena dan kertas kusut terpilin. Kepalanya tergantung di depan dadanya, dan dia terlihat seperti burung hantu yang diam, dengan bulu-bulu kusam dan puncak kepala hitam. Dia berputar di atas bangkunya, dengan tembakau berasap di bibir dan kerlip jenaka di matanya ia menulis.

Hari pernikahan! Penyair akan menikah. Dua orang akan datang menghadap tuan Kadi, di damping wali dan saksi. Mengadakan kenduri, berehat sejenak kemudian melanjutkan hidup bersama. Apa yang besar tentang hal itu? Itu membuat orang berubah, pernikahan.

Tidak Penyair. Kamu tidak akan mengerti, karena kau selalu hidup sendiri. Kau tidak ahli untuk masalah hubungan. Pernikahan mengubahmu menjadi pribadi dengan cara yang kau tidak bisa bayangkan.

Aku mengaku pada awalnya aku tidak menyadari Penyair meminta aku menulis sedikit kata-kata. Ketika akhirnya aku mengerti, aku menyatakan padanya bahwa aku tersanjung dan terkejut. Aku jelaskan kepadanya bahwa aku tak pernah menyangka permintaan ini dan aku sedikit takut menghadapinya. Tugas yang paling menuntut dan sulit yang pernah aku hadapi.

Hal ini kemudian terungkap bahwa aku akan mengatakan semua ini dengan suara keras. Jadi, sebenarnya. Sayangnya, Penyair aku tidak bisa mengucapkan selamat kepadamu. Semua emosi, dan khususnya cinta, bertentangan dengan alasan murni dan dingin yang menjadi prinsipku.

Sebuah pernikahan adalah, menurut pendapatku, tak lebih dari sebuah perayaan yang palsu dan bermuka dua dan irasional dan sentimental dalam dunia yang sudah tak bermoral ini, penuh dengan kemunafikan.

Hari ini kita menghormati kesekaratan yang merupakan azab masyarakat kita, dan dalam waktunya, dengan yakin, seluruh manusia di muka bumi. Tapi bagaimanapun, mari kita bicara tentang Penyair. Jika aku membebani diri dengan seorang yang membantu dalam petualanganku, ini bukan karena sentimen atau tanpa sebab, tapi karena ia memiliki banyak sifat baik, yang mana ia telah diabaikan dalam obsesi orang-orang dengan aku.

Memang, reputasiku tentang ketajaman, dan kelegendarisanku, sesungguhnya datang dari sisi luar biasa yang tanpa pamrih Penyair berikan. Orang brengsek serta menjengkelkan, meremehkan budi luhur, tak menyadari keindahan, dan tak mengerti wajah bahagia.

Jadi jika aku tidak mengerti kenapa aku diminta menjadi pendamping pria ini, itu karena aku tidak berharap untuk mejadi teman terbaik siapapun. Dan tentu saja bukan sahabat terbaik dari manusia paling baik dan paling berani dan paling bijaksana, yang beruntung aku kenal.

Penyair, aku orang yang konyol. Diselamatkan oleh kehangatan dan keteguhan persahabatanmu. Aku tidak bisa mengucapkan selamat kepadamu atas yang kau pilih sebagai sahabat. Sebenarnya, sekarang aku bisa. Nyonya, ketika aku katakan kau layak mendapatkan pria ini, itu adalah pujian tertinggi yang aku punya. Ombak tak selamanya tenang, namun kapal selalu punya kendali.

Menurutku, kamu telah berevolusi, makhluk yang paling berubah di Assosiasi, dengan menyingkirkan berbagai sifat jelek di karaktermu.

Jika aku mencoba memeluk, hentikan aku.

Selamat berlayar sahabat, senyum sekutumu ini telah digantikan dengan indahnya masa depanmu.

XX

Sesungguhnya aku telah berniat tidak menceritakannya dan akan kusimpan hanya untuk diriku. Laki-laki itu, Penyair, menurutku adalah mesin pengamatan yang paling sempurna yang pernah ada di dunia ini. Namun, sebagai pencinta, dia cenderung menempatkan dirinya di posisi yang salah. Dia tidak pernah membicarakan hasrat-hasrat romantis, kecuali dengan ejekan dan cemooh.

Suatu malam, aku baru kembali dari mengunjungi seorang kerabat, ketika jalanan menuntunku menyusuri Bandar. Selagi aku melewati lepau nasi yang kuingat betul, aku melihat Penyair sedang melamun di dalam, aku menghampiri.

“Mari, Mister,” katanya. “Ada sesuatu yang tidak terucap.”

“Kenapa sendirian Penyair?”

“Tiada mengapa Mister Big, tim sepak raga kegemaran beta kalah lagi.”

“Kamu terlalu mencintai sepak raga. Tidakkah pernah terpikir untuk mengalihkan untuk seorang perempuan?”

“Belum terpikir oleh beta.”

“Bukankah cinta itu bisa dialihkan?”

“Tidak bisa. Jangan disamakan Mister, perempuan datang dan pergi. Sedang sepak raga, menang atau kalau kalah dia tetap ada.”

“Bisa! Kamu saja yang tidak mau!”

“Kau terlalu memaksa. Jangan disamakan!” Muka Penyair memerah marah.

“Baiklah.” Aku mengalah.

Sambil tersenyum, Penyair mengalihkan dirinya dari tatapan penuh rasa ingin tahu itu. “Beta juga memiliki rahasia diplomatik sendiri.”

“Tentang apa?”

Dia terdiam, “tentang mengelola perasaan.” Katanya dan setelah mengambil kupiah dia berjalan menuju pintu. Aku merasa akrab dengan orang ini, tapi tidak memahami pikirannya, aku kesal. Dan itu dulu, sekitar dua tahun lalu.

XXX

Manusia adalah makhluk yang paling evolutif

Manusia adalah makhluk yang paling evolutif

Dalam merekam dari waktu ke waktu, beberapa dari pengalaman ganjil dan koleksi menarik. Orang ini, si Penyair dapat digambarkan sebagai sebuah mesin, efektif dan efiesien. Seorang dengan sisiran rambut dari abad terdahulu, mengenakan baju yang sama sejak dekade lalu. Seseorang yang tidak terperhatikan di antara keramaian, namun jangan tertipu! Ia adalah tipe orang menikmati keadaan disepelekan, ia yang tampak naïf ternyata adalah seorang pemikir, sangat kreatif. Di dunia yang kejam itu ia ada. Seseorang yang memiliki pandangan subjektif total, ia memiliki semua hal yang kau inginkan dari seorang laki-laki sekaligus semua hal yang tidak pernah kau inginkan. Seseorang yang memilih pergi dan kehilangan kamu sebagai teman daripada harus tenggelam oleh drama yang kau ciptakan. Menyukai pujian.

Seorang pemalas yang keras kepala, ia menciptakan mekanisme tersebut untuk melindungi diri dari mereka yang gemar memanfaatkan kelemahan hati. Ia berbeda, sejenis orang gila yang tidak memikirkan reputasi, memiliki sangat sedikit ketakutan di hatinya, rela kehilangan apapun demi apa yang ia yakini, dilengkapi oleh ingatan yang sangat kuat sehingga tak pernah menjadi pribadi pemaaf. Seseorang yang mampu menduga gerak-gerik dari jarak ribuan kilometer, sehingga engkau merasa gentar berbohong kepadanya. Ia adalah orang terakhir yang akan kau pilih untuk menjadi musuhmu, ia sang Penyair.

Dan tidak ada yang menyangka, segera ia menikah. Seseorang yang keras hati, yang tak pernah merasakan kelembutan hati, ketika kerasnya dinding hati runtuh, sang angkuh menemukan pelabuhan terakhir. Ia seorang lelaki yang tak pernah mau mendengarkan pendapat orang lain tentang dirinya, hanya meyakini nurani sendiri. Seorang yang keras hati, memiliki standar etika yang tinggi, serta sangat baik dalam memilih kata dalam menyakiti orang lain. Ia tak pernah memiliki banyak teman. Sikapnya juga membuat ia hampir tidak mungkin terlibat percintaan. Ia seorang robot.

XXXX

Tabib Pong dapat melihat apapun dengan jelas dan tajam, namun ia memiliki kekurangan dalam penyampaian, jadi ia hanya mondar-mandir dengan langkah ringan di sekeliling ruangan. Dia duduk diberbagai kursi, menarik dan merekonstruksi kejadian-kejadian dalam Assosiasi, dia mencoba mengingat berapa banyak teman yang terlibat dalam apa yang hendak ia tulis, ia melihat dirinya di cermin. Ia terlihat lebih kurus akhir-akhir ini, ia merasa kurang tidur. Tiba-tiba di matanya mengencang, bibirnya seolah memberitahu bahwa ia melihat secercah cahaya dalam kegelapan, dan akhirnya menulis.

Dengan keengganan dan berat hati, aku ambil penaku untuk menuturkan kisah terakhir yang kuanggap sebagai hadiah dari temanku, Tuan Penyair yang mengagumkan. Dengan semua keterbatasanku, karena sesungguhnya semua aku rasakan jauh lebih dalam daripada yang bisa aku tuturkan, tetapi aku akan mencoba semampuku untuk mengungkapkan kata-kata ini, walau aku tahu akan ada banyak kekurangan dalam setiap fragmennya. Sejak kami dipertemukan kembali dalam Assosiasi Budjang Lapok, sampai ketika ia merajok, satu demi satu kisah yang terangkum dalam ABL telah memberikan pengaruh yang sangat luar biasa bagi kami semua.

Kalian, atau siapapun. Harus tahu betapa menjengkelkan ia. Sebagai orang yang paling banyak membaca kitab, ia merasa tahu segalanya. Ada kejadian ini, lalu ia mencontohkan solusinya di buku ini. Apabila ada kejadian itu, ia mencontohkan buku itu. Semua ada teori, semua ada contoh. Kalau semua dapat di jawab dengan teori, untuk apa setiap tabib harus belajar praktek? Menurutku awalnya, ia konyol!

Penyair itu orang yang banyak belajar. Bagusnya ceritanya intisari dari Assosiasi. Dari cerita pertama, kedua, ketiga dapat diambil kesimpulan. Dulunya Penyair memandang dunia bagaikan buku, kaku.

Tidak pernah tertawa bila kami bercanda, ia tidak mengerti. Pelan-pelan ia mengerti bagaimana cara bercanda. Jadi, di setiap waktu ia menjadi lebih dewasa dan matang. Bukan begitu? Robot menjadi manusia.

XXXXX

Perilaku adalah hal kecil yang membuat sebuah perbedaan besar, Mas Jaim menyadari itu sebelum berkata.

“Ia adalah salah satu tokoh idolaku. Istilahnya kecerdasan, kejujuran serta kecemerlangan orang ini begitu membuat siapapun terpana.”

“Tapi, ia sedikit menakutkan. Pemilihan kata-kata Penyair terkadang menyakitkan hati. Ia, nyaris tidak pernah berbuat salah, atau dia pikir begitu. Terlepas dari segala kelebihan yang ia miliki, ia bukan orang tepat untuk diajak berbicara tentang kesalahan yang kau buat.”

“Istilahnya, ia menghakimi! Jauh lebih baik bercerita dengan Barbarossa atau Tabib Pong. Mereka akan mendukung dan menguatkanmu. Penyair tidak, ia akan menghancurkanmu, meremukkanmu. Untuk kemudian diberikan pemahaman yang benar, menurut yang ia ketahui.”

“Aku masih ingat, ketika aku bercerita ketika aku merasa terlalu baik dan dimanfaatkan orang lain. Ia membantah, ia berkata aku bukan terlalu baik, tapi terlalu bodoh. Menyakitkan, namun sejak hari itu aku belajar menjadi singa. Lebih baik menjadi singa sehari, daripada domba seribu hari.”

“Terima kasih Penyair, demikian pendapatku. Jika aku salah menggunakan istilah, aku mohon maaf. Kamu adalah idolaku, dan Mas Jaim hari ini menjadi orang yang lebih tangguh, salah satu sebabnya karena kamu.”

XXXXXX

Risalah ini adalah kisah sekumpulan anak manusia, dan terus terang petualangan konyol mereka. Tapi mulai sekarang, ada cerita baru. Sebuah petualangan yang lebih besar. Tuan dan nyonya, mari berdoa. Hari ini dimulai petualangan.

XXXXXXX

Sehari menjelang pernikahan, Penyair mengunjungi gudang beras. Hampir semua anggota Assosiasi ada.

“Bagaimana perasaanmu?” Tanya Mister Big.

“Hmm.” Penyair menggumam.

“Setelah menikah seperti dulu saja, Kau kembali ke sini. Aku pikir kami akan memesan makanan favoritmu, untuk terakhir kalinya.” Potong Barbarossa.

“Oh. Jangan terdengar seperti akan berakhir, beta akan berkunjung, engkau tahu. Ooh, beta belum pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya! Pada kawan lain yang menikah, mengapa beta dibedakan?”

“Tidak, sekarang berbeda, kamu yang merangkum segala petualangan kita, meskipun demikian, bukan?” Amish Khan balik bertanya.

“Berbeda ketika kami berpikir kami kehilangan kau.” Tabib Pong berkata.

“Pernikahan mengubah segalanya, Penyair.” Barbarossa menambahkan.

“Benarkah kamu tidak sadar Penyair? Ya, kamu mungkin tidak berpikir itu, tapi begitulah.” Laksamana Chen juga bertutur.

“Kamu bertemu orang-orang baru, karena kamu punya pasangan sekarang, dan kemudian kamu membiarkan teman-teman lamamu pergi.” Mas Jaim, sedih.

“Tidak akan seperti itu. Jika kau telah menemukan orang yang tepat. Orang yang cocok denganmu, itu adalah hal terbaik di dunia.” Bantah Penyair.

“Sudahlah Penyair. Aku tahu itu. Aku yakin akan begitu.” Tabib Pong berkata keras.

“Dia cantik” Celutuk Barbarossa.

“Ya, beta pikir begitu. Bagaimana dengan engkau?” Tanya Penyair.

“Aku?” Barbarossa menunjuk hidungnya.

Penyair mengangguk, Barbarossa terdiam. Serempak yang lain melihat kearah ketua ABL, dan jawaban tak kunjung datang.

XXXXXXXX

Pernikahan telah berlangsung, Penyair pun menghilang tanpa kabar, suasana lepau nasi begitu lenggang tanpa si “orang aneh”, sepi tanpa orang yang selalu ada.

“Penyair apa kabarnya? Jangan-jangan ia sedang berbulan madu? Kemana ia pergi tidak ada kabar.” Tanya Professor Gahul.

“Penyair sedang berbulan madu, sedang asyik.” Jawab Laksamana Chen.

“Barbarossa, kira-kira Penyair masih suka ke lepau nasi tidak?” Tanya Professor Gahul lagi.

Diam, tanpa jawaban.

“Aku harap, ia sesekali masih akan muncul.” Tabib Pong menggumam.

XXXXXXXXX

Sebuah pernikahan juga bermakna perubahan, ketika dua manusia dipersatukan menjadi satu ikatan. Ia mengubah seseorang menjadi sesorang baru, ia mengubah susunan anggota keluarga, ia mengubah hukum waris, ia membelokkan cerita. Sebagaimana yang kita ketahui, sebuah perubahan belum tentu membawa perbaikan, namun tidak ada perbaikan tanpa perubahan.

Assosiasi Budjang Lapok mau tidak mau limbung, ketika corong suara mereka telah menikah, meninggalkan peran yang tidak bisa digantikan oleh yang lain, namun selayaknya makhluk apapun harus beradaptasi kalau ingin bertahan hidup, jika itu tidak terjadi lama kelamaan akan punah.

XXXXXXXXXX

“Jodoh itu ditangan tuhan. Penyair, kau tidak sadar, kau telah berubah. Sebagai seseorang yang dulunya memiliki banyak waktu untuk teman-teman, sekarang sudah berbeda. Prioritasmu sudah berubah.” –Tuan Takur

XXXXXXXXXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 22 Comments

MENIKAHI PUTRI ANDA

Aku ingin, dia adalah satu-satunya yang aku cintai seumur hidupku, aku akan berusaha memberikan yang terbaik dari diriku untuknya, sampai hari dimana aku akan meninggalkan dunia ini.

Aku ingin, dia adalah satu-satunya yang aku cintai seumur hidupku, aku akan berusaha memberikan yang terbaik dari diriku untuknya, sampai hari dimana aku akan meninggalkan dunia ini.

MENIKAHI PUTRI ANDA

Tuan, sedikit banyak aku tidak menyangka, akan berada pada titik ini. Jika ada yang bertanya akankah ini terjadi enam belas tahun lalu, tahun dimana aku pertama mengenal puteri anda. Aku akan tertawa, menertawakan seraya menggelengkan kepala, tidak mungkin.

Iya Tuan, kami sudah lama saling mengenal. Enam belas tahun lalu, di Sekolah Menengah Pertama kami pernah sekelas. Tapi Tuan, seingatku, ketika aku mencoba menggali dalam ingatan kebelakang, hanya sekali berbicara. Hanya sekali, dalam tahun itu. Dua kali aku mengingat, dia menertawakan aku, pertama ketika menabrak papan tulis dan kedua ketika aku gugup karena dipaksa guru menyanyi di depan kelas, pelajaran kesenian. Hanya itu, yang dapat aku ingat Tuan.

Puteri anda tuan, adalah bintang bersinar. Di kelas itu, dan aku yakin begitu pula keadaan seandainya, dimana pun ia berada. Ia adalah salah satu perempuan tercantik, terbijaksana yang aku kenal, berada dijajaran terbaik.

Tahun-tahun itu Tuan, bukan tahun terbaikku. Cukup, aku mengingat, dan tidak bercerita banyak, bahwa saat itu sebagai saat aku tidak menjadi protagonis. Kelak, ketika aku merasa lebih baik, mendapati kenyamanan hidup. Aku berharap tidak lupa. Aku berharap tidak amnesia. Aku (pernah) bukan siapa-siapa.

Aku pikir, jalan Tuhan sering kali ajaib, tapi tetap sangat alami. Hal-hal paling ajaib terjadi akibat hukum alam dan kejadian sehari-hari yang meliputinya sungguh sangat menakjubkan. Semakin banyak hal yang telah kita perbuat, kita (manusia) semakin kuat.

Jadi Tuan, sedikit banyak aku merasa gugup. Berada disini, hari ini. Masih mencoba mengira-gira apa yang sesungguhnya ingin aku katakan, untuk menyakinkan Tuan. Besok, ketika kita berjabat tangan, mengucapkan janji, akad, ijab qabul, dari puteri tertuamu, Tuan.

Dia adalah segalanya, menikahi putri anda, menjadikan dia sebagai istri. Aku ingin, dia adalah satu-satunya yang aku cintai seumur hidupku, aku akan berusaha memberikan yang terbaik dari diriku untuknya, sampai hari dimana aku akan meninggalkan dunia ini.

Tuan, jangan khawatir aku akan memperlakukan ia dengan buruk. Meski di saat paling marah sekalipun, aku akan berusaha bersikap yang terbaik, berusaha untuk menjadikan keadaan menjadi lebih baik, sampai maut memisahkan kami.

Ini adalah waktunya, saya sudah mempersiapkan diri, aku berjanji padamu Tuan dengan seluruh hati akan aku berikan. Di mulai besok, pada hari saya menikahi putrimu.

Koetaradja, 14 Mei 2014

 

Posted in Asal Usil, Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , | 5 Comments

CINTA SEBESAR CINTA

Bisakah kamu bayangkan, sebesar apa hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini?

Bisakah kamu bayangkan, sebesar apa hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini?

CINTA SEBESAR CINTA

Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang ada hanyalah ada. Terus bergerak, berubah bentuk, bersalin rupa, berpindah tempat. Maka sia-sialah usaha menjadi batu pada arus ini,  tidak mungkin mengharapkan kepastian ataupun ramalan masa depan karena manusia sesungguhnya dalam ketidakpastian dapat berjaya, menggunakan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk berkreasi. Bertanya, berpikir, berkeputusan, dan berkreasi dalam kebingungan dalam hal yang sungguh tak ia tahu.

“Aku masih tidak mengerti”

Disanalah misteri cinta, bukan? Ketika hati dapat menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata.

“Tapi apa itu cinta? Apakah benar cinta itu ruang dan waktu? Datang dan menghilang?”

Bicara tentang waktu, waktu adalah konsep hasil terjemahan dari ingatan, otak melakukannya di bawah sadar karena kita tidak mengerti kosmos yang sebenarnya.

“Yaitu?”

Kekekalan. Kekekalan adalah chaos, ingatan menerjemahkannya menjadi masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Agar kita (manusia) memahami rasanya tumbuh, berkembang. Berevolusi. Mati dan hidup tak lebih dari gerbang pengalaman.

Tapi, lucunya, konsep waktu dimunculkan manusia di level pikiran. Bukan fisik. Sel tidak mengenal konsep waktu, sebenarnya. Ia hanya memperbaharui diri, terus-menerus, tanpa ada sangkut paut dengan hitungan sekon. Manusia sendiri yang mengadakan waktu linear dan setuju mengikutinya.

“Bagaimana dengan ruang?”

Manusia melihat dunia terbentang untuknya. Dan, apa yang ia lihat bergantung dari respon mana yang ia pergunakan. Kita di beri otak, adalah alat yang disediakan bagi kita untuk bermain dalam hidup. Permainannya sendiri? Terserah anda bermain. Di ruang yang anda pilih.

Pertanyaannya adalah. Jika  mati dan hidup hanya pengalaman, berarti di manakah kita waktu tidak menjalani keduanya? Iya, bersama yang tak pernah hidup dan tak pernah mati.

“Apakah itu cinta?”

Kita baru bisa membahas cinta kalau mentransendensikan ruang dan waktu. Jadi, sebaiknya kita juga tidak terpancing, berkubang dalam romantisme berkepanjangan. Romantisme adalah aspek penting dari cinta, akan tetapi romantisme hanya metafora, dan metafora adalah selaput yang melapisi inti kebenaran.

Cinta adalah energi dasar. Tunggal. Kebencian pun berasal dari energi yang sama, ia mengalami proses pengaburan, dan semua pemilahan kategori cinta sesungguhnya adalah zat sama dengan kadar polusi berbeda-beda. Polusi itu tercipta di pikiran kita. Ketika pemilahan-pemilahan terebut lenyap, yang ada hanyalah mengalami.

Cinta adalah mengalami. Inti semuanya. Mengapa ada hidup, mengapa ada mati, mengapa kita jatuh cinta, berkeluarga, beranak pinak, mengapa ada ini dan itu? Semuanya adalah pengalaman. Ingin mengalami adalah hasrat yang paling dasar. Sesuatu yang agung dan substabsial ingin mengalami, dan jadilah ini semua. Ia mengalami melalui kita semua.

Karena cinta, cinta yang sampai titik tertentu akan mengaburkan segala ego. Ketika kebahagiaan orang lain berarti kebahagiaannya. Begitu pun dengan kesengsaraan. Karena cinta, manusia mengambil tanggungjawab di sana.

Cinta adalah sesuatu yang akbar. Bisakah kamu bayangkan, sebesar apa hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini? Iya, cinta sebesar cinta itu sendiri.

Beberapa renungan:

  1. Sebuah Kota Beragam Cerita; 26 Februari 2013;
  2. Sang Penyair; 1 April 2013;
  3. Busuk; 8 Mei 2013;
  4. Keguncangan Filosofis; 23 Juni 2013;
  5. Mencari Belerang Merah; 25 Agustus 2013;
  6. 1998; 24 Oktober 2013;
  7. Untukku; 17 November 2013;
  8. Nisbi; 13 Desember 2013;
  9. Selubung Impressi; 21 Desember 2013;
  10. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  11. Fana; 14 Januari 2014;
  12. Taman Kanak-Kanak; 24 Februari 2014;
  13. Lelaki Tua Yang Miskin; 1 Maret 2014;
  14. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  15. Nostagia; 19 April 2014;
Posted in Cerita, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | 6 Comments

MAKNA NOSTAGIA

Masa lalu tak pernah berdiri sendiri. Andai ia berdiri sendiri, ia tak akan pernah ada.

Masa lalu tak pernah berdiri sendiri. Andai ia berdiri sendiri, ia tak akan pernah ada.

MAKNA NOSTAGIA

Masa lalu tak pernah berdiri sendiri. Andai ia berdiri sendiri, ia tak akan pernah ada. Kita mengingat, dan itu sebenarnya mengaitkan apa yang kita ingat sesuatu yang muncul kembali dalam kepala kita dengan isi kepala yang ada di tubuh kita hari ini. Sebab itulah orang tak mengingat semua hal secara komplet. Masa lampau hadir kembali dalam bentuk yang telah di raut masa kini. Mengingat sebenarnya berjalan di sebuah jalur yang putus. Lupa adalah sebuah kesalahan. Sebaliknya, mengingat dianggap jalan raya yang tepat, itu arah yang sepatutnya. Saya tak percaya bahwa pernah ada jalan yang bersih itu. Di dunia kesadaran, tidak ada jalan yang tepat arah. Mengingat adalah menafsirkan masa lalu, tapi sudah tentu kita tidak bisa pergi untuk mencocokkan tafsir kita dengan masa lalu itu sendiri. Kita tak akan pernah bisa melangkah, biarpun sejenak, keluar dari waktu. Waktu bukan kereta api yang bisa sesekali berhenti dan masinisnya turun untuk menengok apa yang terjadi di gerbong belakang.

Di lain pihak, mengingat juga berarti membaca masa lalu dengan kecenderungan masa depan. Mereka yang memandang masa silam dengan nostagia, seperti sebagian orang yang kini menyambut kenangan dan memasang senyum lebar masa lalu. Sebenarnya sedang menemukan alasan baru untuk menyatakan kritik kepada masa sekarang. Dalam kritik itu tersirat hasrat untuk sesuatu di masa yang akan datang.

Masa lalu tak pernah berdiri sendiri. Andai ia berdiri sendiri, ia tak akan pernah ada. Kita mengingat, dan itu sebenarnya mengaitkan apa yang kita ingat sesuatu yang muncul kembali dalam kepala kita dengan isi kepala yang ada di tubuh kita hari ini.

Sebab itu, nostagia bukanlah kerinduan akan masa lalu. Nostagia justru menginginkan masa depan. Merangkul harapan hidupnya akan menjadi lebih bahagia, dan bisa jadi ia keliru. Kita hidup dengan yang disebut “kipas ingatan”. Siapa saja yang membuka lipatan “kipas ingatan” itu selalu menemukan hal-hal baru, bagian baru, bacaan baru. Tapi bila yang “lama” (yang diingat-ingat) akhirnya sama dengan yang “baru” (yang saat itu ditemukan), yang terjadi sebenarnya semacam paralelisme antara ingatan dan lupa.

Apalagi lupa bisa punya peran yang diinginkan. Seperti nostagia, lupa juga bisa merupakan protes terhadap hari ini yang tak menyenangkan.

Ada suatu masa ketika orang melihat masa lalu sebagai peninggalan yang penuh dongeng, ada lagi masa lain ketika orang menatapnya sebagai perintang. Bahkan batu tak pernah mandek dan berdiri sendiri. Sebagaimana masa lalu yang murni tak pernah ada, begitu juga masa kini dan masa depan. Manusia tak bisa lupa sama sekali, manusia tak bisa ingat secara lengkap, juga manusia tak bisa tanpa diam-diam berharap.

KATALOG OASE

  1. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  2. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  3. Hantu; 20 Februari 2009;
  4. Memoar Romantik; 15 Juni 2010;
  5. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  6. Bermain Dengan Waktu; 21 Mei 2011;
  7. Tentang Aku, Kamu Dan Kita; 10 Februari 2012;
  8. Pada Akhirnya Kita (Juga) Tak Paham; 19 Februari 2012;
  9. Pahit; 8 Maret 2012;
  10. Cerita (Belum) Selesai; 29 Maret 2012;
  11. Sebuah Perjalanan Sebuah Cerita; 28 April 2012;
  12. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  13. Titik Tiada Kembali; 7 Juli 2012;
  14. Repetisi; 2 Agustus 2012;
  15. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
Posted in Cerita, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments