ADA SETELAH TIADA

Segala yang ada bermulai dari tiada

ADA SETELAH TIADA

Segala yang ada bermulai dari tiada

ada masa bahkan waktu pun tak ada

maka dahululah malam sebelum siang

hingga semua terhampar sempurna

 

ketika setitik air membawa hidup

sulitkah membina atau membinasa

pada pepohonan yang tumbuh

memancangkan gunung-gunung tertinggi

 

hewan ataukah manusia

yang pertama membinasa

yang kedua membina

serupa namun tak sama

 

dan diantara segala yang tercipta

tiada sama satupun jua

bahkan bila seolah serupa

meski dalam beda sama pun jua

 

apa yang ada setelah tiada

maka jangan bertanya

tentang yang ada sebelum tiada

cerita ada mula ada akhir

 

Koetaradja, 26 Pebruari 2012.

Puisi Religi:

  1. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  2. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  3. Kalah Perang; 5 November 2008;
  4. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  5. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  6. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  7. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  8. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  9. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  10. Mencumbui Kematian Sebuah Elegi; 16 Mei 2009;
  11. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  12. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  13. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  14. Kenangan Akan Gerimis; 11 Februari 2012;
  15. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  16. Surga; 17 Juni 2013;
  17. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  18. Setitik Noktah Di Dalam Noktah; 25 Februari 2015;
  19. Hujan; 12 November 2015;
  20. Oda Sebatang Pohon; 29 Maret 2016;
  21. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  22. Buah Amarah; 18 Desember 2016;
  23. Harap Damai; 14 September 2017;
  24. Hidup; 16 September 2017;
  25. Renungan Malam; 19 November 2017;
Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Puisiku and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.