FATE

Honor your past, you never know how the past affects you.

Honor your past, you never know how the past affects you.

FATE

Memories give so many details of life, which is present in every scenes journey of life. Sensation met with imagination becomes magical. Despite their smiles and memories wrapped ironic unspoken longing. Memories such as shadows, difficult to handle. When he was expelled, he appeared elsewhere, dancing.

People can forgive heinous and the most evil enemy. However, they are difficult to forgive themselves. Because the deepest regret, not a failure, but do not do anything. Leaving something (the) best in life without effort go defend it. In life people cursing the present as the past is flawed, because some things in life (was) irreplaceable matter how hard people try.

Honor your past, you never know how the past affects you.

Maybe humans grow up, when he was able to overcome himself. That life is an answer, which would later give rise to a new question, it will never run out.

That he always had the desire, but the stem with common sense. When choosing, do not know what will happen in the rest of life. Undaunted and indecisive, but ready. A confession, the uncertainty of life occurred, which he did not know the direction, absurd.

Koetaradja, 15 April 2014

Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Puisiku, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

COSMOLOGY UNIVERSE

Millions of galaxies mapped in their relative positions to each other show the large-scale structure of the Universe

Millions of galaxies mapped in their relative positions to each other show the large-scale structure of the Universe

COSMOLOGY UNIVERSE

Humans evolved along with the running time, some sped away leaving the others, some leisurely walking, and limping.

Could not the same in every person, because each of the events in a different form, depends on the scene in force.

Humans are creatures of history, what it absorbs everything in its path, in truth it is always changing

Always life is an ironic.

Humans see themselves as victims or perpetrators. I hope she realizes that she was grounded in the all-relative universe.

And a story always has a function, a message and mandate. As with life, that’s what makes it meaningful.

Koetaradja, 2 April 2014

Posted in International, Literature, Poetry, Puisiku, Story | Tagged , , , , , , , , | 10 Comments

PANTON HANA UTAK

Ta peugah hana utak, tangkurak ubee raya

Ta peugah hana utak, tangkurak ubee raya

PANTON HANA UTAK

Peugah haba cet lenget

Padahai ulee ka singet

Mandum jih ka get

Padahai buet cilet-cilet

 

Urueng bangai peugah droe carong

Urueng carong ka bingong

Tanyoe pih hana meuho teumanyong

Terbangai-bangai sira duek ngon dong

 

Hana lagee generasi yah nek nyan perkasa

Tanyoe ka meukota

Masalah ubeut jet keu ubee raya

Peng bacut ka mendawa

 

Ta peugah hana utak

Tangkurak ubee raya

Bacut laen maen tak

Kaedah ka cukop gaya

 

Hom hai kiban jeut

Leh teungeut

Leh keunong pengeut

Mandum hana keu beut

 

Bait Al Hikmah 1 Jummadil Akhe 1435 Hijriah (Meusigoe 1 April 2014 Masehi)

Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 12 Comments

KENANGAN AYAHANDA

Aku tak bisa menemani di sepanjang hidupmu, selalu. Ada masa, ketika (mungkin) aku hanya memandang dirimu dari sehelai potret buram belaka. Jika itu terjadi, di saat engkau akan melangkahkan kaki di dunia, atau akan melangkah menuju tahap kehidupan berikutnya, resapilah kenang-kenangan ini, sebuah nasehat (syair) kepada ananda.

Aku tak bisa menemani di sepanjang hidupmu, selalu. Ada masa, ketika (mungkin) aku hanya memandang dirimu dari sehelai potret buram belaka. Jika itu terjadi, di saat engkau akan melangkahkan kaki di dunia, atau akan melangkah menuju tahap kehidupan berikutnya, resapilah kenang-kenangan ini, sebuah nasehat (syair) kepada ananda.

KENANGAN AYAHANDA

Anakku, bilamana engkau dapat menjaga ketenangan pikiranmu ketika semua orang lain disekitarmu telah kehilangan ketenangan atas pikiran mereka, dan disaat mereka semua menyalahkanmu atas segala hal.

Bilamana engkau (selalu) percaya pada dirimu sendiri, bahkan ketika semua orang telah merasa ragu terhadapmu. Tetapi engkau juga memperhatikan (mempelajari) keragu-raguan mereka.

Bilamana engkau mampu menunggu dan tidak merasa lelah menunggu. Atau ketika orang berbohong kepadamu dan engkau tidak pernah ingin melakukan kebohongan, atau berdamai dengan kebohongan.

Atau ketika engkau dibenci orang dan engkau tidak membalas dengan kebencian. Kendati pun begitu engkau tidak terlalu baik dalam berbicara (terlalu jujur) dan juga tidak berbicara terlalu bijaksana (lembut).

Bilamana engkau dapat bermimpi – tetapi mimpi itu tidak menguasaimu (tuanmu). Bilamana engkau dapat berpikir tetapi pemikiran itu bukan menjadi tujuanmu satu-satunya.

Bilamana engkau mendapat kemenangan atau kekalahan, dan memberikan perlakuan penghormatan yang sama kepada kedua lawanmu itu.

Bilamana engkau dapat menahan diri mendengarkan kebenaran yang telah engkau ucapkan diputar-balikkan oleh orang-orang jahat, supaya kata-katamu tadi dapat menjadi perangkap bagi orang-orang yang bodoh dalam prasangka.

Atau melihat hal-hal yang seluruh umurmu telah engkau gunakan untuk membangun, dihancurkan dan direndahkan, dan engkau membangunnya kembali dengan alat-alat yang rapuh sekalipun.

Bilamana engkau menumpukkan semua kemenangan yang telah engkau capai dalam hidupmu dan mempertaruhkan semuanya dalam perjuangan baru yang lebih besar.

Dan engkau kalah, dan engkau memulai usahamu kembali dari permulaan, dan engkau tidak mengucapkan sepatah kata (mengeluh) pun tentang kekalahan yang engkau derita.

Bilamana engkau telah memaksa hati, saraf dan ototmu untuk memberikan segala daya upaya untuk berjuang, walaupun sebenarnya semua kekuatan itu telah tiada.

Ketika itu engkau terus berusaha sampai tidak ada apa-apa lagi dalam dirimu, selain dari kemauan yang berkata pada diri sendiri, teruslah berjuang!

Bilamana engkau dapat berbicara kepada orang ramai dan engkau dapat memelihara sifat-sifat kemuliaanmu. Atau engkau berjalan dengan Raja-Raja, dan engkau tidak kehilangan perasaan dengan orang-orang biasa.

Bilamana musuh maupun teman yang mencintai dan dicintai tidak dapat terlalu menyakitimu lagi. Karena engkau menyadari semua orang dalam pandanganmu memiliki kelebihan, kekurangan dan kepentingan masing-masing.

Bilamana engkau dapat mengisi waktu yang tidak memberi ampun, dalam (perjalanan) hal-hal bersifat kebaikan. Maka saat itu anakku, dunia dan seluruh isinya menjadi milikmu. Dan yang lebih penting lagi, engkau akan menjadi manusia sejati.

Disadur dari “kenang-kenangan orang tua” oleh Rudyard Kipling

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | 14 Comments

JANGAN GOLPUT

Apakah dengan ikut pemilu akan terjadi perubahan?

Apakah dengan ikut pemilu akan terjadi perubahan?

JANGAN GOLPUT

Politik dapat diibaratkan sebuah kebusukan yang disajikan indah dalam talam bunga-bunga harum mewangi. Disajikan dalam nyanyian dan puja dan puji namun itu semua tak lebih dari, tak lebih dari sebuah kebusukan yang tersaji indah. Tetap saja busuk.

Mengapa? Karena semua negara, semua bentuk kekuasaan, yang pernah memegang dan tengah memegang kekuasaan atas nasib orang banyak sampai sekarang ini baik berbentuk demokrasi atau keturunan adalah sama. Jangan berharap terlalu, ada budi di dalamnya.

Karena tiada budi, maka janganlah terlalu berharap. Siapapun yang memenangkan pertarungan politik akan memikirkan kamanfaatan organisasi (Negara), mengesampingkan kepentingan pribadi. (Diduga kuat) serakah, dengan tipu dan korupsi adalah tujuan utama. Mungkin, ia akan memikirkan namun apabila tidak bersinggungan dengan kepentingan pribadi atau golongan.

Sekiranya politik ini tidak akan menguntungkan agama kita, kita tinggalkan ini semua.

Pemilu 1955

Pemilu 1955

Pada pemilihan umum 2014 ini. Saya menganjurkan, jangan Golput! Golput, adalah golongan putih dikenal sebagai sebutan untuk warga negara yang sengaja menolak memilih dalam pemilu. Pemilihan umum merupakan bentuk terkecil pertisipasi bagi warga negara dalam perubahan negeri.

Tidak memilih berarti membutakan diri dari politik, dan buta politik dijelaskan dengan sangat baik oleh seorang Penyair Jerman, Bertolt Brencht.

“Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisapasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua bergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga dia bangga dan memnusungkan dadanya mengatakan bahwa dia membenci politik. Si dungu yang tidak tahu bahwa dari kebodohan politik tersebut melahirkan pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional”

Sekiranya politik ini tidak akan menguntungkan agama kita, kita tinggalkan ini semua.

Sekiranya politik ini tidak akan menguntungkan agama kita, kita tinggalkan ini semua.

Maka (mungkin) sungguh keajaiban jika dalam pemilihan umum ini terpilih ia yang adil, sehingga tak pernah berlaku zalim, sehingga ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum, sehingga ia tak pernah khilaf dalam menimbang buruk baik. Dan kapasitas yang seperti ini sangan jarang, apalagi dalam politik (Jika ada orang seperti ini, maka dapat dipastikan ia adalah pilihan Tuhan, yaitu Rasul. Ia bukan manusia biasa) Saat ini, di Indonesia bahkan bisa dikatakan tidak ada (Bahkan mungkin tidak pernah ada!)

Tulisan ini bukan ditulis berdasarkan nafsu melanggengkan bentuk dan sistem kekuasaan yang ada. Ini hanyalah anjuran untuk berbuat, karena penyesalan terbesar bukan ketika kita memilih berbuat, dan gagal. Namun, saat kita memilih tidak berbuat apa-apa, dan meratapi kemudian. Tidak ada salahnya, memilih berbuat dan berharap Indonesia menjadi Negara yang lebih baik. Sebuah harapan, Negara ini, milik kita semua yang hidup di sini.

Beberapa opini lain:

  1. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  2. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  3. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  4. Hantu; 20 Februari 2009;
  5. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  6. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  7. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  8. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  9. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  10. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
  11. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  12. Batas; 22 Februari 2010;
  13. Manusia; 18 Maret 2010;
  14. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  15. Teori Kemungkinan; 14 Februari 2011;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

CINCIN

Disanalah misteri cinta, bukan? Ketika hati dapat menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata.

Disanalah misteri cinta, bukan? Ketika hati dapat menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata.

CINCIN

Syair ini diperbuat dengan jiwa, bukan dengan tangan. Apa yang bergelora di dalam sanubari ini, aku tumpahkan. Dan bagi kamu yang membaca, aku berharap jiwamu akan merasa.

Tahukah kamu? Aku yang engkau ketahui tak terkalahkan ini, adalah seorang ksatria yang tak pernah benar-benar bertempur. Sebenarnya, aku hanya menatap dunia melalui perpustakaan, tempat menakjubkan. Kadang-kadang aku merasa di bawah kenopi sebuah stasiun kereta api, dan jika aku sedang membaca buku tentang perjalanan ke pulau-pulau jauh, aku merasakan berada disana.

Tak ada niatku meninggalkan ini semua, tak pernah terlintas di kepalaku. Ternyata hidup tidak membiarkan satu orang pun lolos untuk cuma menjadi penonton. Semua harus mencicipi ombak. Hadirlah kamu. Orang yang langsung menduduki peringkat nol dalam hidupku. Dibutuhkan waktu dua puluh sembilan tahun untuk menemukanmu. Dan aku menyadari jatuh cinta. Bukan lagi jatuh. Aku terjun bebas. Tanpa tali pengaman. Tanpa peduli apa yang menyambutku di dasar sana, kalau memang ada dasarnya.

Sebesar apa  hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini? Sebesar cinta itu sendiri. Saat perasaan menggelegak memenuhi rongga dada, hanya ingin melihat kamu. Tak akan merasa akan bertemu orang lain yang lebih berarti dibandingkan kamu. Mungkin pendapatku ini berlebihan, tapi saat ini aku bahagia (bila) kau merasakan hal yang sama kepadaku.

Aku menyadari kekuranganku, tak pernah basa-basi. Dengan jujur dan tanpa kompromi, aku menunjukkan bahwa terkadang aku memperlihatkan kekerasan hati kepadamu. Kadangkala aku bertanya kepada diriku sendiri? Apakah bola mata hitam kekasihku itu menatapku dengan perasaan bagaimana? Aku tidak tahu apakah kamu sedang sedih, atau tersenyum, atau tersenyum sedih. Aku bagai kuda bodoh ini tidak bisa merasakan isi hatimu.

Segala kitab yang aku baca mengajarkan segalanya, hampir semuanya. Kecuali dirimu. Kamu bukan tokoh di dalam buku, kamu terlalu kompleks untuk digambarkan di dalam kertas, kamu nyata. Aku tak terbiasa mengelola perasaan, aku terlalu banyak membaca, aku belum memahami dirimu sebaik kamu memahami aku. Ajari aku mempelajari isi hatimu, menghargai buah pikirmu. Aku ingin kamu berbahagia, karena kamu adalah orang yang akan kupilih mendampingi aku di sisa hidupku, dan menjadi ibu anak-anak kita. Engkau sangat berarti.

Ini adalah awal segalanya, yakinlah. Setiap pertemuan pasti memiliki maksud yang sempurna. Untuk kamu, saya ada. Dan untuk saya, kamu ada. Kita hadir untuk menyempurnakan satu sama lain. Terima kasih untuk segala cinta yang engkau berikan. Ketahuilah, aku cinta akan engkau, dan kalau aku mati adalah kematianku di dalam mengenang engkau.

Bait Al Hikmah, 14 Jumadil Awwal 1415 Hijriah (bertepatan 15 Maret 2014)

Beberapa Syair Romantis:

  1. Berakhir Disini; 16 Juli 2009;
  2. Cerita Sebuah Gudang; 14 Januari 2010;
  3. Selamat Ulang Tahun Mama; 1 Februari 2010;
  4. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  5. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  6. Kenangan Akan Gerimis; 11 Februari 2012;
  7. Ada Setelah Tiada; 26 Februari 2012;
  8. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  9. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  10. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  11. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  12. Surga; 17 Juni 2013;
  13. Direbut Kabut Kelam; 10 Agustus 2013;
  14. Musim Hujan; 11 September 2013;
  15. Untukku; 17 November 2013;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

LELAKI TUA YANG MISKIN

When life gives you rain, morning always comes too late

LELAKI TUA YANG MISKIN

Siapa menyana aku akan sampai disini? Tiga puluh. Banyak sekali yang kita alami kalau kita menenggok ke belakang. Di belakang kita berdiri satu tugu yang bernama nasib, di sana telah tertulis rol yang akan kita jalani. Meskipun bagaimana kita mengelak dari ketentuan yang tersebut dalam nasib itu, tiadalah dapat, tetapi harus patuh kepada perintahnya.

Manusia seperti apapun pasti akan selalu berpijak pada tanah, dia tidak akan dapat menghindar dari daya tarik bumi. Aku pun pernah merasakan kehilangan sesuatu yang berharga karena ketidakmampuan diri sendiri. Mustahil kita menjalani hidup tanpa terluka. Atau menolak terluka. Luka-luka yang kita kumpulkan menandai kesalahan sekaligus keberhasilan kita.

Aku berhutang banyak pemaafan dari setiap orang yang telah aku sakiti. Atas tajam perkataan, atas dingin hati, atas keras tindakan. Untuk setiap apa yang telah aku lakukan dibiarkan pengampunan datang. Aku beruntung mendapatkan persahabatan yang hangat dari setiap orang. Atas apa-apa yang kadang aku merasa, tidak pantas mendapatkan itu semua. Seseorang yang berhati dingin tak pernah membayangkan mendapatkan ketulusan sebanyak ini.

Siapakah aku? Adakah ia seseorang yang mengenakan satu wajah yang sama bertahun-tahun, ataukah ia seseorang yang bisa berganti muka dengan cepat? Ataukah ia seseorang yang sudah sampai pada parasnya yang penghabisan, yang kini sudah lungset, berlobang-lobang, dengan lapisan yang telah tersingkap, hingga yang tampak sebenarnya yang-bukan-wajah

Hidup adalah serangkaian kebetulan, kebetulan adalah takdir yang menyamar.

Tapi memang aku sudah banyak berubah, dalam waktu.

Konsep waktu dimunculkan manusia di level pikirannya. Bukan fisik. Sel tidak mengenal konsep waktu. Ia cuma memperbaharui diri, terus menerus tanpa ada sangkut paut dengan hitungan detik. Kita (manusia) sendiri yang mengadakan konsep waktu linear dan setuju mengikutinya. Konsep waktu lahir dari keinginan fundamental manusia untuk memiliki kendali atas hidup, termasuk diri. Masa sekarang, masa depan dan sekarang hanya satu gerakan tunggal. Sekarang, lebih penting dari masa lalu dan masa depan. Karena saat ini adalah momen dimana potensi termanifestasi. Hanya sekarang, kita mampu merasakan masa lalu dan mewujudkan masa depan. Momen saat ini mampu memperbaharui diri tanpa batas, manusia bisa menjadi apa saja.

Waktu bukan Cuma bisa dipahami lewat detik jam. Memangnya apa itu detik? Apa itu hari? Sekedar istilah buat dikotomi langit terang dan langit gelap, kan? Hanya tidak ada satuan. Waktu itu sendiri, apa itu waktu? 24 jam, 365 hari, itu cuma satuan. Bagian dari sistem kalender yang bukan cuma satu di dunia. Tapi, coba kita lebih akrab dengan waktu. Waktu itu seperti karet, elastis. Waktu itu seperti air, cair. Waktu memiliki dua sifat ; pertama, mekanis seperti jam dan ; kedua, waktu yang relatif. Tapi ada sifat ketiga, waktu ilusif. Bertolak dari premis bahwa sesungguhnya waktu tidak ada.

Aku tidak pernah merasa sendirian. Aku memiliki banyak sahabat. Merekalah yang mengubahku. Rupanya aku harus melampaui mereka lebih dulu. Bukan hanya “kuat” saja, tapi semua hal dari kekuatan itu. Aku akan melakukannya, apalagi aku masih banyak kekurangan! Jadi harus terus melangkah untuk mengejarnya! Selamat tinggal diriku yang dibelakang. Aku akan maju sedikit demi sedikit dengan demikian akan bisa mengejar. Terus berlari dan menjajari para lelaki hebat ini.

Aku hanya seorang pria tua yang miskin. Berkeinginan untuk kaya, dan kekayaan yang sebenarnya adalah menerima berbagai sisi tanpa gentar. Segalanya mungkin.

Beberapa renungan lain:

  1. Mari Bicara Tentang Cinta; 9 Desember 2012;
  2. Kisah Perjuangan Tak Sampai; 13 Desember 2012;
  3. Sebuah Kota Beragam Cerita; 26 Februari 2013;
  4. 29; 1 Maret 2013;
  5. Sang Penyair; 1 April 2013;
  6. Busuk; 8 Mei 2013;
  7. Keguncangan Filosofis; 23 Juni 2013;
  8. Mencari Belerang Merah; 25 Agustus 2013;
  9. 1998; 24 Oktober 2013;
  10. Untukku; 17 November 2013;
  11. Nisbi; 13 Desember 2013;
  12. Selubung Impressi; 21 Desember 2013;
  13. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  14. Fana; 14 Januari 2014;
  15. Taman Kanak-Kanak; 24 Februari 2014;
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

TAMAN KANAK-KANAK

A knight in shinning armor is a man who has never had his metal truly tested

A knight in shinning armor is a man who has never had his metal truly tested

TAMAN KANAK-KANAK

Cinta adalah energi dasar. Tunggal. Kebencian pun berasal dari energi yang sama, hanya ia mengalami proses saturisasi, dan semua pemilihan katagori cinta sesungguhnya adalah satu zat sama dengan kadar polusi berbeda-beda. Polusi itu tercipta di pikiran kita, jadi apabila pemilahan-pemilahan tadi lenyap, yang ada hanyalah mengalami. Cinta adalah mengalami. Bukankah itu inti semuanya? Mengapa ada hidup, mengapa kita mati, mengapa kita jatuh cinta, berkeluarga, beranak pinak, mengapa ada ini dan itu? Semua adalah pengalaman. Ingin mengalami adalah hasrat yang paling dasar. Sesuatu yang agung dan substansial ingin mengalami, dan jadilah ini semua. Ia mengalami melalui kita semua.

(Ternyata) kita bersemangat kepada sesuatu yang justru tidak kita tahu.

Konon, kita memang tidak pernah tahu akan bertemu dengan siapa hari ini atau esok lusa. Dan, ia menemukan seseorang yang memaksanya kembali ke masa lalu. Hidup memang aneh. Banyak penjelasan dalam ketidakjelasannya. Di dunia ini, bersifat kebetulan, tapi konsekuen dan terkadang tak realistis. Setiap hari memilih diri sendiri tanpa merasa bosan demi menuju besok.

Aku mengalami semacam rasa malu ketika duduk disini untuk menulis seakan aku akan menelanjangi jiwaku, atas perintah – tidak, Tuhan! Hanya hidup, ternyata hidup bukan cuma terbatas yang kita alami sekarang ini saja. Ini hanya sekelumit dari berbagai kehidupan lain.

Aku merasa seakan pikiranku berada dalam sebuah mendung yang sambung menyambung yang mencegahku menoleh ke belakang. Pikiranku kosong, seakan tahu ada sesuatu yang harus kuingat, tetapi tidak bisa, maksudku, sesuatu yang merupakan bagian ingatan seseorang yang lain. Akan tetapi, mengapa aku berfilsafat dan tidak merangkai peristiwa-peristiwa? Mungkin karena aku ingin tahu tidak hanya apa yang aku lakukan kemarin, tetapi juga seperti apa aku di dalam – yakni, andaikan ada sesuatu di dalam diriku. Mereka bilang bahwa jiwa adalah sekedar apa yang dilakukan seseorang.

Semua bermula dari kertas kosong, seperti taman kanak-kanak. Sekumpulan anak-anak, anak-anak ini mungkin akan menjadi gembrot pada usia tujuh belas, tingginya akan mandek pada usia lima belas. Dia yang paling cantik hari itu mungkin berubah, dan menjadi peneliti LIPI. Anak yang diklaim paling jelek mungkin akan menjadi model top pada usia dua puluhan. Segala probabilitas dan ketidakpastian hidup tak memberikan sedikitpun alasan menjadi pemenang disitu. Menang untuk apa?

Mungkin, aku tak berharap layak mendapatkan pe-maaf-an. Mungkin aku hanya ingin mengatakan pada diri sendiri, seseorang bisa menunjukkan bahwa syukur dan sabar bisa datang dalam sunyi yang mendengarkan. Nyanyian kecil yang manis kepada hidup. Bahwa ada muncul setelah tiada. Maka sungguh hidup ini sebenarnya mengapung diatas ketiadaan. Manisku, aku akan jalan terus. Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru. Aku tidak lagi berlari. Cuma mencari. Dulu, keduanya bercampur. Sekarang, tidak lagi.

Tak disangka hari ini akan tiba. Hari dimana aku tidak ingin berlari (lagi). Dan sesunguhnya banyak liku dan lorong dalam masa lalu, terkadang manusia tak mau mengakui, bahwa ingatan tergantung dari kemarahan kita di suatu waktu. Maka selesailah sudah kemarahan dalam hening. Dalam salam hangat. Agar tiada yang tersakiti (lagi) karena aku pengecut.

Sekarang (sudah) saatnya membuat bocah itu mengerti pria macam apa yang diinginkan ayahnya (dulu).

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , | 4 Comments

ILUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Jika tuhan selalu memberikan apa yang kita inginkan. Bagaimana bisa kita belajar bersyukur?

ILUSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Manusia berkembang seiring dengan berjalan waktu, beberapa melesat jauh meninggalkan yang lain, beberapa berjalan santai, dan beberapa tertatih. Tidak bisa sama pada setiap orang, karena masing-masing kejadian dalam waktu berbeda-beda penjelmaannya, bergantung pada tempat kejadian berlaku. Syarat untuk peristiwa adalah urutan waktu, tapi itu belum cukup, untuk menjadikan peristiwa itu “ada”. Karena apabila tapi tidak terjalin hubungan dan penjalin tersebut adalah sebab-akibat. Hukum Kausalitas. Manusia adalah makhluk sejarah, ia menyerap segala apa yang dilaluinya, sejatinya ia selalu berubah.

Tapi, menjadi tua tak ada urusannya dengan kondisi tua fisik. Itulah fatwa yang dilontarkan Barbarossa. Menjadi tua, katanya, adalah sebuah imajinasi tentang rasa tua. Begitu anda, katanya lagi merasa menjadi tua, berarti anda telah berproses menjadi tua. Sebaliknya, bila anda merasa terus muda berarti anda akan terus awet muda. Apakah fatwa itu benar? Yaitu “menjadi tua” adalah masalah persepsi, masalah imajinasi. Seorang seperti Tabib Pong mungkin akan mengamini, akan tetapi seseorang (lain) yang seperti Penyair agak bimbang menghadapi fatwa seperti ini.

X

Assosiasi Budjang Lapok menikmati imaji “kemudaan” itu menerima kenyataan akan kondisi riil tubuh mereka sudah menurun. Begitulah, dalam kunjungan Amish Khan bertemu dengan kawan-kawan. Kami saling berjabatan tangan dengan akrab, saling memukul pelan-pelan bahu kami, dan saling bertegur sapa dengan hangatnya. Suasananya itu berjalan mulus sampai sekarang setidaknya begitu.

Selalu hidup adalah sebuah ironi. Masing-masing anggota ABL memiliki cerita tersendiri, ada yang unik disitu. Sebuah grup yang menolak di-stereotip-kan dan larut dalam keragamanan. Ada yang berhasil, ada yang gagal, ada yang berusaha, ada yang berlari kecil. Ada yang sedang rapuh dan ada yang sendiri. Mereka semua adalah manusia, makhluk mikrokosmos yang sedang mewarnai bumi, sang makrokosmos. Bukan sesuatu yang akbar, namun berarti. Bukankankah alam semesta bergetar karena butir-butir di dalamnya bertukar tempat.

XX

Sebuah lepau nasi, rembang petang sudah menyongsong dengan senja biru gelap.

“Aku pikir kamu sudah meninggal?” Tembak Amish Khan kepada Mas Jaim yang sudah lama tak muncul di lepau nasi. Mas Jaim hanya bersungut-sungut gelisah mendapat penyambutan seperti itu.

Amish Khan memang memiliki kata-kata yang keras, sebelumnya Tabib Pong menjadi tumbal ketika mulai jarang berkumpul, “Apa ndak perlu kami antar menikah nanti? Ndak pernah kelihatan lagi?” Meski memiliki kata-kata yang tajam, yakinlah pria ini adalah yang memiliki hati paling lembut diantara seluruh Assosiasi, meski ia hampir selalu tidak bisa mengkomunikasikan hal tersebut.

Tabib Pong menggerutu, “Mentang-mentang sudah menikah ancamannya ngeri! Dan itu tidak adil karena yang tersisa diantara kita hanya empat!” Ia selalu kesal dengan ketidakadilan, terutama bila dirinya yang menjadi korban.

Mas Jaim tidak memiliki mekanisme pertahanan udara sebaik Tabib Pong hanya terdiam menerima “pengeboman” Amish Khan, dan bukan rahasia lagi bahwa sebenarnya ia sangat dongkol dengan Amish Khan.

“Aku tidak jadi menikah.” Mas Jaim mengaku. Suasana lepau nasi menjadi hening, sejak tahun lalu Mas Jaim sudah berancang mengakhiri masa bujang, semua anggota Assosiasi menyadari itu. Setiap pukulan yang menyertai salah seorang anggota merupakan pukulan keseluruh assosiasi, mereka terpekur.

“Jadi kapan kamu diputuskan?” Tanya Mister Big tanpa tendeng aling-aling. Lugas dan padat, penuh makna. Sekaligus lancang dalam mengambil kesimpulan.

Barbarossa tertawa terbahak, “Kok tahu Mister? Jangan-jangan kamu sudah lama tahu?” Maka jangan ragukan kemampuan sang maestro dalam memprovokasi, mengarahkan tanpa ada yang tahu bahwa ia sedang menyampaikan pikiran melalui orang lain. He is the best about that.

Wajah Mas Jaim memerah, akan tetapi wajah Mister Big lebih merah lagi. Tabib Pong geram melihat kelakuan dua temannya tersebut yang seolah mempermainkan perasaan Mas Jaim.

Laksamana Chen menyambar, “belum tentu Mas Jaim yang diputuskan, bisa jadi ia yang memutuskan. Teman kita ini sesuatu.” Kata-kata Laksamana Chen selalu bermakna ambigu ibarat belati. Menusuk atau menguatkan, tergantung sisi mana yang kau rasakan.

Senyum sumrigah di wajah Mas Jaim.

“Beta yakin, pasti Mas Jaim yang diputuskan.” Penyair keceplosan.

Barbarossa tertawa dan menunjuk Penyair, “Ini dia orang paling kejam di kelompok kita, tidak punya perasaan, dia merendahkan kamu Mas Jaim.” Pernahkah kalian mendengar? Bahwa orang yang memiliki kekejaman setengah mati adalah mereka yang berwajah tanpa dosa? Jika belum, syukurlah.

Mas Jaim menatap Penyair dengan penuh kebencian, dan Penyair menunduk malu.

“Jadi bagaimana ceritanya Mas Jaim?” Tanya Barbarossa antusias.

“Begini ceritanya, akh sudahlah.” Suara Mas Jaim terputus.

“Berarti benar dugaan kami?” Amish Khan meng-konfirmasi-kan suara hati teman-teman semua. Mas Jaim hanya menunduk pelan. Adalah Barbarossa yang pertama memeluk Mas Jaim hangat, memberikan simpati terdalam untuk sahabatnya tersebut.

Kemudian Barbarossa berkata, “kejadian ini, kasus ini membenarkan teroriku. Bahwa laki-laki bisa saja menjadi korban dalam sebuah hubungan, bahwa sasaran kekerasan tidak hanya monopoli kaum perempuan. Laki-laki bisa menjadi korban!” Ia menggetuk meja dengan geram.

“Buang segala drama itu! Mari kita dirikan Komisi Perlindungan Hak Laki-Laki.” Tambah sang Patriach. Amish Khan mencibir, Tabib Pong melonggo sedang Mister Big geleng-geleng kepala.

Ditengah suara tepuk tangan Laksamana Chen, Penyair mencoba menyela, “ide yang sangat konyol.”

“Yang sudah punya tanggal diam!” Tunjuk Barbarossa ke Penyair, bagaimanapun Barbarossa memiliki masalahnya sendiri. Ketika setiap anggota di Assosiasi berubah, ia tidak merasakan hal yang sama. Belakangan emosinya meledak-ledak, entah apa yang terjadi di alam pikir sang ketua yang biasanya memiliki emotional balance terbaik diantara mereka itu.

Menurut analisa Amish Khan yang merupakan musuh tradisional Barbarossa dalam organisasi, ini semua diakibatkan oleh tak lama lagi sang Penyair menikah (sebuah tanggal sudah dibisikkan). Memang secara kedekatan karakter ia lebih dekat ke Tabib Pong, secara waktu lebih banyak dihabiskan dengan Mister Big, dan secara geografis lebih dekat ke Laksamana Chen. Akan tetapi secara kultur ia lebih dekat ke Penyair. Secara sikap Penyair adalah Anti-Barbarossa, begitupun sebaliknya Barbarossa adalah Anti-Penyair. Akan tetapi dua kutub yang berlawanan sejatinya akan saling tarik menarik dan itulah yang diduga membuat sang ketua merasa kehilangan amat sangat. Sekali lagi ini hanya dugaan, di dasar hati seseorang who know?

Penyair serba salah dan terdiam.

Mas Jaim terharu, ia memuja Barbarossa akibat pembelaan terhadap dirinya. “Bolehkah aku ikut kamu malam ini Barbarossa?” Hari menjelang Maghrib, sesaat lagi para Assosiasi akan bubar dan menjalankan aktifitas masing-masing dan Mas Jaim tidak ingin menangis sendirian di rumah.

Barbarossa menatap Mas Jaim dengan pandangan penuh kasih sayang, ia berdiri dan melemparkan koin. “Tidak Mas Jaim, malam ini aku ingin sendirian. Sendirian bersama angin.” Ia pun pergi bergegas.

Mas Jaim memandangi sekeliling, semuanya memasang wajah tidak tahu dan beberapa mengangkat bahu.

Kala Adzan Maghrib mengalun syahdu. Matahari sedang terbenam di belakang lengan panjang sisi barat pegunungan. Matahari masih menyisakan mega di langit, tapi bayang-bayang panjang telah menjulur ke Bandar, puing-puing kelabu yang jatuh dalam kegelapan. Dan Bandar berdiri sendirian di sana.

XXX

Jika tuhan selalu memberikan apa yang kita inginkan. Bagaimana bisa kita belajar bersyukur? Semua peristiwa hanyalah semata-mata peristiwa, tapi cara kita menyikapinyalah yang memberi label, kan? Entah itu diberi judul tragedi atau keberuntungan. Semesta adalah ilusi.

Manusia melihat dirinya sebagai korban atau sebaliknya. Semoga saja dia sadar kalau dia sedang berpijak di semesta yang serba-relatif. Dan sebuah cerita selalu memiliki fungsi, pesan dan amanah. Seperti hidup, itulah yang membuat ia berarti.

XXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 27 Comments

BATAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Kebahagiaan dan kesedihan kejar-mengejar bagai dua hantu penasaran. Sedangkan mereka berdua adalah lintasan yang letih dilewati, tetapi tak bergerak ke mana-mana. Dan, waktu adalah pak tua yang Cuma diam mengamati, angkuh mengamati bandul detiknya yang tak berkompromi.

Kebahagiaan dan kesedihan kejar-mengejar bagai dua hantu penasaran. Sedangkan mereka adalah lintasan yang letih dilewati, tetapi tak bergerak ke mana-mana. Dan, waktu adalah pak tua yang Cuma diam mengamati, angkuh mengamati bandul detiknya yang tak berkompromi.

BATAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Garis batas adalah pergulatan panjang antara benturan jati diri, dan titik-titik batas yang menurutnya semu. Baginya, ilusi garis yang memisahkan manusia. Terkadang garis batas adalah sebuah garis imajinier yang sangat dinamis. Garis batas tidak hanya mencerminkan kedinamisan manusia itu sendiri, tetapi juga melukiskan kondisi yang mengubah seluruh sendi kehidupan.

Sejujurnya, tidak ada satu pun Anggota Assosiasi Budjang Lapok yang benar-benar mengenal orang ini. Bisa jadi ia dinilai sebagai seseorang dengan egosentris besar yang menganggap tidak ada orang yang lebih pintar dari dirinya, serta tidak tertarik membicarakan sesuatu diluar dirinya. Seorang penurut di antara kawanan pemberontak, itulah ia sang Professor Gahul. Tak heran, cap kurang dewasa, kurang bertanggungjawab dan setengah robot melekat padanya. Menyaingi Barbarossa, Professor Gahul adalah orang yang memiliki jaringan perkawanan terbanyak. Sayangnya, memiliki banyak teman sama dengan tidak memiliki apa-apa, tidak ada satu pun yang benar-benar dekat dengannya. Professor Gahul, adalah yang terkuat. Karena ia mampu berdiri sendiri, tanpa dukungan Anggota Assosiasi Budjang Lapok lain.

Dia adalah seseorang manusia, manusia (siapapun) yang secara penuh mewakili area abu-abu. Teori relativitas berjalan. Manusia yang penuh paradoks. Bukan tokoh antagonis, bukan pula protoganis. Penuh kebajikan dan juga kekurangan, tapi siapa yang tidak?

Disisi lain ia adalah seseorang yang paling banyak menghirup ilmu pengetahuan, namun selalu menahan diri mengungkapkannya. Seorang petualang dari Barat yang telah pulang, membawa cerita-cerita mencengangkan dari negeri nunjauh disana, dibalik kata-kata serampangan yang ia letupkan ada sesuatu yang dalam antara kebenaran, keyakinan dan cita-cita. Ditambah lagi, merupakan anggota ABL yang paling cerewet. Dialah, sang Professor Gahul.

Seseorang yang telah mencapai segalanya, dibidang akademik. Seseorang yang telah berada di puncak. Maka setelah puncak itu apa? Ketika telah mencapai segalanya, maka yang tersisa adalah kekosongan. Agar kekosongan itu tidak bermetamorfosis menjadi kehampaan, ia harus menemukan tujuan lain. Dan itulah sebabnya (mungkin), ia menikah.

X

Mata yang sama, manusia yang sama, tapi pandangan yang sama sekali lain.

Di tempat yang apik itu, di tengah keriuhan ramai itu. Segala sesuatu berlangsung lugas, cepat dan tangkas. Tiada waktu untuk berleha-leha, semua diatur tepat waktu. Ada perasaan aneh yang hadir ketika Anggota Assosiasi Budjang Lapok datang ke acara pesta pernikahan Professor Gahul. Di dalam gedung megah yang tercipta bagi orang-orang besar itu, di tengah keriuhan manusia dari segala penjuru Bandar berdatangan, sekumpulan ABL seperti titik-titik di tengah pergumulan alam semesta yang sebenarnya tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ada mekanisme teknis yang bergerak, perintah dan komando. “Reseved Order Mechamism” tanpa ruang “Chaos” sesuatu yang bukan karakter Assosiasi Budjang Lapok, wajar mereka mengkerutkan kening.

Disaat sesuatu yang seharusnya membahagiakan itu, disaat orang-orang penuh sukacita, yang jelas mereka membutuhkan doa, banyak doa. Mereka datang berdoa untuk seorang sahabat yang selalu hadir di antara mereka, seseorang yang berada di tataran etik dalam bergaul, memiliki hubungan yang paling tidak terlalu dalam di antara mereka, paling tidak dikenali diantara sesama mereka. Tidak pernah menunjukkan wajah asli karakter, dan (seolah) tidak punya kelemahan.

Benarkah?

XX

Setiap kali matahari menyusuri jalan dari cakrawala ke cakrawala, dan setiap kali bulan mengikutinya, dan setiap kali bulan mengikutinya, dan terus saja hari bergulir akan kehidupan yang mereka ukir di belakang, satu demi satu.

Di lepau nasi, di kota Bandar. Barbarossa masih duduk di kursi yang sama, Penyair masih bergulat dengan taburan kitab yang makin hari semakin banyak, Tabib Pong masih berkutat dengan ransel obat-obatan yang selalu ia bawa, Amish Khan tetap berdendang riang serta Laksamana Chen yang tak pernah absen memilin kumis tipis.

“Adakah kalian mengenal Professor Gahul?” Tanya Barbarossa.

“Lucu. Aku juga sedang memikirkannya.” Jawab Tabib Pong.

“Dialah meteor di langit setiap orang. Penuh kesan, tapi dengan cepat melesat hilang.” Analogi Penyair.

“Aku pun bingung, sebentar lagi, aku pikir-pikir dulu.” Laksamana Chen sedang kumat penyakit malas berpikir.

“Suka sekali mengurusi urusan orang lain!” Amish Khan sewot, teman-teman bergosip.

“Sulit menceritakan tentang dia. Beta tidak terlalu mengenal dia.” Penyair pertama kali mengaku. Ia adalah seseorang pujangga, berpikir dengan perasaan wajar ia merasa asing dan tidak mengenali seseorang yang berpikir logis setiap saat.

“Tidak ada di antara kita yang betul-betul mengenal dia, mungkin kamu Barbarossa yang sering berbicara dengan dia?” Secara garis keturunan Tabib Pong dan Professor Gahul memiliki kesamaan gen, dilahirkan dalam darah kebangsawanan. Bedanya adalah, Sang Tabib adalah seorang pemberontak anti kemapanan, sedang Sang Professor adalah orang yang menjalani jalan etik kebangsawanan. Itu yang membedakan mereka, secara nilai.

“Sebenarnya aku juga tidak mengenal dia secara dalam.” Barbarossa mengangkat bahu.

“Saya mengecam kalian! Dia itu adalah seseorang yang sangat sabar dalam menjalankan pendidikannya, dan juga dalam hubungan!” Tiba-tiba Tuan Takur menyeruak dari belakang.

“Sehat Tuan Takur?” Tanya Amish Khan, Laksamana Chen menenangkan Tuan Takur yang terkenal cepat panas dengan menggosok pungungnya.

“Sebenarnya tidak ada manusia yang sepenuhnya baik dan jelek.” Jelas Tabib Pong.

“Kita mengingat dia sebagai seseorang yang paling awal datang ke pesta pernikahan kalian-kalian yang sudah menikah. Serta jangan lupa, dialah orang yang punya inisiatif mengabungkan kita dalam wadah Assosiasi ini. Sekedar mengingatkan Tuan Takur, ini semua awalnya dibentuk untuk mengingatkan kamu yang selalu ingkar janji?” Diantara semua Tabib Pong adalah yang paling tajam analisanya, sekaligus yang paling pedas perkataannya.

Tuan Takur kembang kempis hidung, tersenyum malu-malu.

“Aku setuju dengan Tabib Pong.” Karakter Barbarossa, setuju dengan semua hal. Sangat situasional.

“Ia mengenal kita dengan baik.” Tambah Amish Khan.

Laksamana Chen melirik ke samping. Ia hendak berbicara, namun akhirnya memilih diam saja.

“Hanya saja ia memiliki batas?” Tanya Penyair.

“Iya.” Barbarossa memukul meja. “Ia membangun garis batas ketika bergaul dengan kita, sehingga kita hanya mengenal dia hanya pada tataran kulit luar saja.”

“Wajarkan?” Tanya Amish Khan.

“Suka-suka dialah!” Tuan Takur membenarkan.

“Bagi orang seseorang yang berjalan etik dan kewajaran itu sangat lumrah.” Penyair berpikir.

“Jangan-jangan isinya kosong? Karena jalannya selalu sudah ditentukan?” Tabib Pong tersenyum usil.

“Bukan seperti itu juga, adalah hak seseorang untuk membangun sekat-sekat pembatas dalam pergaulan antara sesama.” Barbarossa mencoba menjadi Patriach, seperti biasa. Dia yang melemparkan pertanyaan di awal, dan ia pula mencoba menyimpulkan.

“Bisa jadi, bisa jadi.” Jawab Amish Khan.

“Mungkin karena itu, kita tidak merasa terlalu kehilangan dia? Seperti kita merasa kehilangan Mister Big yang tidak bergabung malam ini?” Tanya Penyair.

“Mungkin.” Jawab Tabib Pong.

“Aku kehilangan.” Jawab Amish Khan.

“Aku juga!” Tambah Tuan Takur.

“Sama.” Barbarossa selalu mengikuti suara terbanyak, situasional (lagi).

“Sebagai sebuah Assosiasi, kita memiliki fungsi masing-masing. Tidak ada yang namanya tidak kehilangan, hanya kadarnya berbeda.” Tabib Pong mengeluarkan analisanya lagi.

“Itu maksud kami. Bukan tidak sama sekali.” Bela Penyair.

Mereka terdiam, meninggalkan sebuah tanda tanya besar. Siapakah sahabat mereka ini yang tadi menikah tadi? Akan tetapi sebenarnya manusia pun ketika ditanya, jangan orang lain melainkan dirinya sendiri. Anda Siapa? Tidak akan mampu menjelaskan secara penuh. Dan tanda tanya yang sama itu mengantungi setiap atom di alam semesta, bukan ekslusif milik manusia saja. Hanya ekspresinya saja yang berbeda-beda. Perubahan cuaca, gempa bumi, kemunculan spesies baru, kepunahan, sampai matahari terbit dan tenggelam, mereka digulirkan oleh tanda tanya. (Mungkin) tanda tanya itulah substansi dasar yang mempersatukan kita semua. Seluruh alam semesta ini. Sebab kita tahu ada yang tetap tersembunyi, ada misteri yang tak mungkin dianggap sebagai problem untuk kecerdasan kita. Manusia menjadi bersyukur justru dengan berendah hati.

XXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments