CINTA SEBESAR CINTA

Bisakah kamu bayangkan, sebesar apa hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini?

Bisakah kamu bayangkan, sebesar apa hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini?

CINTA SEBESAR CINTA

Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang ada hanyalah ada. Terus bergerak, berubah bentuk, bersalin rupa, berpindah tempat. Maka sia-sialah usaha menjadi batu pada arus ini,  tidak mungkin mengharapkan kepastian ataupun ramalan masa depan karena manusia sesungguhnya dalam ketidakpastian dapat berjaya, menggunakan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk berkreasi. Bertanya, berpikir, berkeputusan, dan berkreasi dalam kebingungan dalam hal yang sungguh tak ia tahu.

“Aku masih tidak mengerti”

Disanalah misteri cinta, bukan? Ketika hati dapat menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata.

“Tapi apa itu cinta? Apakah benar cinta itu ruang dan waktu? Datang dan menghilang?”

Bicara tentang waktu, waktu adalah konsep hasil terjemahan dari ingatan, otak melakukannya di bawah sadar karena kita tidak mengerti kosmos yang sebenarnya.

“Yaitu?”

Kekekalan. Kekekalan adalah chaos, ingatan menerjemahkannya menjadi masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Agar kita (manusia) memahami rasanya tumbuh, berkembang. Berevolusi. Mati dan hidup tak lebih dari gerbang pengalaman.

Tapi, lucunya, konsep waktu dimunculkan manusia di level pikiran. Bukan fisik. Sel tidak mengenal konsep waktu, sebenarnya. Ia hanya memperbaharui diri, terus-menerus, tanpa ada sangkut paut dengan hitungan sekon. Manusia sendiri yang mengadakan waktu linear dan setuju mengikutinya.

“Bagaimana dengan ruang?”

Manusia melihat dunia terbentang untuknya. Dan, apa yang ia lihat bergantung dari respon mana yang ia pergunakan. Kita di beri otak, adalah alat yang disediakan bagi kita untuk bermain dalam hidup. Permainannya sendiri? Terserah anda bermain. Di ruang yang anda pilih.

Pertanyaannya adalah. Jika  mati dan hidup hanya pengalaman, berarti di manakah kita waktu tidak menjalani keduanya? Iya, bersama yang tak pernah hidup dan tak pernah mati.

“Apakah itu cinta?”

Kita baru bisa membahas cinta kalau mentransendensikan ruang dan waktu. Jadi, sebaiknya kita juga tidak terpancing, berkubang dalam romantisme berkepanjangan. Romantisme adalah aspek penting dari cinta, akan tetapi romantisme hanya metafora, dan metafora adalah selaput yang melapisi inti kebenaran.

Cinta adalah energi dasar. Tunggal. Kebencian pun berasal dari energi yang sama, ia mengalami proses pengaburan, dan semua pemilahan kategori cinta sesungguhnya adalah zat sama dengan kadar polusi berbeda-beda. Polusi itu tercipta di pikiran kita. Ketika pemilahan-pemilahan terebut lenyap, yang ada hanyalah mengalami.

Cinta adalah mengalami. Inti semuanya. Mengapa ada hidup, mengapa ada mati, mengapa kita jatuh cinta, berkeluarga, beranak pinak, mengapa ada ini dan itu? Semuanya adalah pengalaman. Ingin mengalami adalah hasrat yang paling dasar. Sesuatu yang agung dan substabsial ingin mengalami, dan jadilah ini semua. Ia mengalami melalui kita semua.

Karena cinta, cinta yang sampai titik tertentu akan mengaburkan segala ego. Ketika kebahagiaan orang lain berarti kebahagiaannya. Begitu pun dengan kesengsaraan. Karena cinta, manusia mengambil tanggungjawab di sana.

Cinta adalah sesuatu yang akbar. Bisakah kamu bayangkan, sebesar apa hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini? Iya, cinta sebesar cinta itu sendiri.

Beberapa renungan:

  1. Sebuah Kota Beragam Cerita; 26 Februari 2013;
  2. Sang Penyair; 1 April 2013;
  3. Busuk; 8 Mei 2013;
  4. Keguncangan Filosofis; 23 Juni 2013;
  5. Mencari Belerang Merah; 25 Agustus 2013;
  6. 1998; 24 Oktober 2013;
  7. Untukku; 17 November 2013;
  8. Nisbi; 13 Desember 2013;
  9. Selubung Impressi; 21 Desember 2013;
  10. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  11. Fana; 14 Januari 2014;
  12. Taman Kanak-Kanak; 24 Februari 2014;
  13. Lelaki Tua Yang Miskin; 1 Maret 2014;
  14. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  15. Nostagia; 19 April 2014;
Posted in Cerita, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | 6 Comments

MAKNA NOSTAGIA

Masa lalu tak pernah berdiri sendiri. Andai ia berdiri sendiri, ia tak akan pernah ada.

Masa lalu tak pernah berdiri sendiri. Andai ia berdiri sendiri, ia tak akan pernah ada.

MAKNA NOSTAGIA

Masa lalu tak pernah berdiri sendiri. Andai ia berdiri sendiri, ia tak akan pernah ada. Kita mengingat, dan itu sebenarnya mengaitkan apa yang kita ingat sesuatu yang muncul kembali dalam kepala kita dengan isi kepala yang ada di tubuh kita hari ini. Sebab itulah orang tak mengingat semua hal secara komplet. Masa lampau hadir kembali dalam bentuk yang telah di raut masa kini. Mengingat sebenarnya berjalan di sebuah jalur yang putus. Lupa adalah sebuah kesalahan. Sebaliknya, mengingat dianggap jalan raya yang tepat, itu arah yang sepatutnya. Saya tak percaya bahwa pernah ada jalan yang bersih itu. Di dunia kesadaran, tidak ada jalan yang tepat arah. Mengingat adalah menafsirkan masa lalu, tapi sudah tentu kita tidak bisa pergi untuk mencocokkan tafsir kita dengan masa lalu itu sendiri. Kita tak akan pernah bisa melangkah, biarpun sejenak, keluar dari waktu. Waktu bukan kereta api yang bisa sesekali berhenti dan masinisnya turun untuk menengok apa yang terjadi di gerbong belakang.

Di lain pihak, mengingat juga berarti membaca masa lalu dengan kecenderungan masa depan. Mereka yang memandang masa silam dengan nostagia, seperti sebagian orang yang kini menyambut kenangan dan memasang senyum lebar masa lalu. Sebenarnya sedang menemukan alasan baru untuk menyatakan kritik kepada masa sekarang. Dalam kritik itu tersirat hasrat untuk sesuatu di masa yang akan datang.

Masa lalu tak pernah berdiri sendiri. Andai ia berdiri sendiri, ia tak akan pernah ada. Kita mengingat, dan itu sebenarnya mengaitkan apa yang kita ingat sesuatu yang muncul kembali dalam kepala kita dengan isi kepala yang ada di tubuh kita hari ini.

Sebab itu, nostagia bukanlah kerinduan akan masa lalu. Nostagia justru menginginkan masa depan. Merangkul harapan hidupnya akan menjadi lebih bahagia, dan bisa jadi ia keliru. Kita hidup dengan yang disebut “kipas ingatan”. Siapa saja yang membuka lipatan “kipas ingatan” itu selalu menemukan hal-hal baru, bagian baru, bacaan baru. Tapi bila yang “lama” (yang diingat-ingat) akhirnya sama dengan yang “baru” (yang saat itu ditemukan), yang terjadi sebenarnya semacam paralelisme antara ingatan dan lupa.

Apalagi lupa bisa punya peran yang diinginkan. Seperti nostagia, lupa juga bisa merupakan protes terhadap hari ini yang tak menyenangkan.

Ada suatu masa ketika orang melihat masa lalu sebagai peninggalan yang penuh dongeng, ada lagi masa lain ketika orang menatapnya sebagai perintang. Bahkan batu tak pernah mandek dan berdiri sendiri. Sebagaimana masa lalu yang murni tak pernah ada, begitu juga masa kini dan masa depan. Manusia tak bisa lupa sama sekali, manusia tak bisa ingat secara lengkap, juga manusia tak bisa tanpa diam-diam berharap.

KATALOG OASE

  1. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  2. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  3. Hantu; 20 Februari 2009;
  4. Memoar Romantik; 15 Juni 2010;
  5. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  6. Bermain Dengan Waktu; 21 Mei 2011;
  7. Tentang Aku, Kamu Dan Kita; 10 Februari 2012;
  8. Pada Akhirnya Kita (Juga) Tak Paham; 19 Februari 2012;
  9. Pahit; 8 Maret 2012;
  10. Cerita (Belum) Selesai; 29 Maret 2012;
  11. Sebuah Perjalanan Sebuah Cerita; 28 April 2012;
  12. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  13. Titik Tiada Kembali; 7 Juli 2012;
  14. Repetisi; 2 Agustus 2012;
  15. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
Posted in Cerita, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

FATE

Honor your past, you never know how the past affects you.

Honor your past, you never know how the past affects you.

FATE

Memories give so many details of life, which is present in every scenes journey of life. Sensation met with imagination becomes magical. Despite their smiles and memories wrapped ironic unspoken longing. Memories such as shadows, difficult to handle. When he was expelled, he appeared elsewhere, dancing.

People can forgive heinous and the most evil enemy. However, they are difficult to forgive themselves. Because the deepest regret, not a failure, but do not do anything. Leaving something (the) best in life without effort go defend it. In life people cursing the present as the past is flawed, because some things in life (was) irreplaceable matter how hard people try.

Honor your past, you never know how the past affects you.

Maybe humans grow up, when he was able to overcome himself. That life is an answer, which would later give rise to a new question, it will never run out.

That he always had the desire, but the stem with common sense. When choosing, do not know what will happen in the rest of life. Undaunted and indecisive, but ready. A confession, the uncertainty of life occurred, which he did not know the direction, absurd.

Koetaradja, 15 April 2014

Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Puisiku, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

COSMOLOGY UNIVERSE

Millions of galaxies mapped in their relative positions to each other show the large-scale structure of the Universe

Millions of galaxies mapped in their relative positions to each other show the large-scale structure of the Universe

COSMOLOGY UNIVERSE

Humans evolved along with the running time, some sped away leaving the others, some leisurely walking, and limping.

Could not the same in every person, because each of the events in a different form, depends on the scene in force.

Humans are creatures of history, what it absorbs everything in its path, in truth it is always changing

Always life is an ironic.

Humans see themselves as victims or perpetrators. I hope she realizes that she was grounded in the all-relative universe.

And a story always has a function, a message and mandate. As with life, that’s what makes it meaningful.

Koetaradja, 2 April 2014

Posted in International, Literature, Poetry, Puisiku, Story | Tagged , , , , , , , , | 10 Comments

PANTON HANA UTAK

Ta peugah hana utak, tangkurak ubee raya

Ta peugah hana utak, tangkurak ubee raya

PANTON HANA UTAK

Peugah haba cet lenget

Padahai ulee ka singet

Mandum jih ka get

Padahai buet cilet-cilet

 

Urueng bangai peugah droe carong

Urueng carong ka bingong

Tanyoe pih hana meuho teumanyong

Terbangai-bangai sira duek ngon dong

 

Hana lagee generasi yah nek nyan perkasa

Tanyoe ka meukota

Masalah ubeut jet keu ubee raya

Peng bacut ka mendawa

 

Ta peugah hana utak

Tangkurak ubee raya

Bacut laen maen tak

Kaedah ka cukop gaya

 

Hom hai kiban jeut

Leh teungeut

Leh keunong pengeut

Mandum hana keu beut

 

Bait Al Hikmah 1 Jummadil Akhe 1435 Hijriah (Meusigoe 1 April 2014 Masehi)

Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 12 Comments

KENANGAN AYAHANDA

Aku tak bisa menemani di sepanjang hidupmu, selalu. Ada masa, ketika (mungkin) aku hanya memandang dirimu dari sehelai potret buram belaka. Jika itu terjadi, di saat engkau akan melangkahkan kaki di dunia, atau akan melangkah menuju tahap kehidupan berikutnya, resapilah kenang-kenangan ini, sebuah nasehat (syair) kepada ananda.

Aku tak bisa menemani di sepanjang hidupmu, selalu. Ada masa, ketika (mungkin) aku hanya memandang dirimu dari sehelai potret buram belaka. Jika itu terjadi, di saat engkau akan melangkahkan kaki di dunia, atau akan melangkah menuju tahap kehidupan berikutnya, resapilah kenang-kenangan ini, sebuah nasehat (syair) kepada ananda.

KENANGAN AYAHANDA

Anakku, bilamana engkau dapat menjaga ketenangan pikiranmu ketika semua orang lain disekitarmu telah kehilangan ketenangan atas pikiran mereka, dan disaat mereka semua menyalahkanmu atas segala hal.

Bilamana engkau (selalu) percaya pada dirimu sendiri, bahkan ketika semua orang telah merasa ragu terhadapmu. Tetapi engkau juga memperhatikan (mempelajari) keragu-raguan mereka.

Bilamana engkau mampu menunggu dan tidak merasa lelah menunggu. Atau ketika orang berbohong kepadamu dan engkau tidak pernah ingin melakukan kebohongan, atau berdamai dengan kebohongan.

Atau ketika engkau dibenci orang dan engkau tidak membalas dengan kebencian. Kendati pun begitu engkau tidak terlalu baik dalam berbicara (terlalu jujur) dan juga tidak berbicara terlalu bijaksana (lembut).

Bilamana engkau dapat bermimpi – tetapi mimpi itu tidak menguasaimu (tuanmu). Bilamana engkau dapat berpikir tetapi pemikiran itu bukan menjadi tujuanmu satu-satunya.

Bilamana engkau mendapat kemenangan atau kekalahan, dan memberikan perlakuan penghormatan yang sama kepada kedua lawanmu itu.

Bilamana engkau dapat menahan diri mendengarkan kebenaran yang telah engkau ucapkan diputar-balikkan oleh orang-orang jahat, supaya kata-katamu tadi dapat menjadi perangkap bagi orang-orang yang bodoh dalam prasangka.

Atau melihat hal-hal yang seluruh umurmu telah engkau gunakan untuk membangun, dihancurkan dan direndahkan, dan engkau membangunnya kembali dengan alat-alat yang rapuh sekalipun.

Bilamana engkau menumpukkan semua kemenangan yang telah engkau capai dalam hidupmu dan mempertaruhkan semuanya dalam perjuangan baru yang lebih besar.

Dan engkau kalah, dan engkau memulai usahamu kembali dari permulaan, dan engkau tidak mengucapkan sepatah kata (mengeluh) pun tentang kekalahan yang engkau derita.

Bilamana engkau telah memaksa hati, saraf dan ototmu untuk memberikan segala daya upaya untuk berjuang, walaupun sebenarnya semua kekuatan itu telah tiada.

Ketika itu engkau terus berusaha sampai tidak ada apa-apa lagi dalam dirimu, selain dari kemauan yang berkata pada diri sendiri, teruslah berjuang!

Bilamana engkau dapat berbicara kepada orang ramai dan engkau dapat memelihara sifat-sifat kemuliaanmu. Atau engkau berjalan dengan Raja-Raja, dan engkau tidak kehilangan perasaan dengan orang-orang biasa.

Bilamana musuh maupun teman yang mencintai dan dicintai tidak dapat terlalu menyakitimu lagi. Karena engkau menyadari semua orang dalam pandanganmu memiliki kelebihan, kekurangan dan kepentingan masing-masing.

Bilamana engkau dapat mengisi waktu yang tidak memberi ampun, dalam (perjalanan) hal-hal bersifat kebaikan. Maka saat itu anakku, dunia dan seluruh isinya menjadi milikmu. Dan yang lebih penting lagi, engkau akan menjadi manusia sejati.

Disadur dari “kenang-kenangan orang tua” oleh Rudyard Kipling

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | 14 Comments

JANGAN GOLPUT

Apakah dengan ikut pemilu akan terjadi perubahan?

Apakah dengan ikut pemilu akan terjadi perubahan?

JANGAN GOLPUT

Politik dapat diibaratkan sebuah kebusukan yang disajikan indah dalam talam bunga-bunga harum mewangi. Disajikan dalam nyanyian dan puja dan puji namun itu semua tak lebih dari, tak lebih dari sebuah kebusukan yang tersaji indah. Tetap saja busuk.

Mengapa? Karena semua negara, semua bentuk kekuasaan, yang pernah memegang dan tengah memegang kekuasaan atas nasib orang banyak sampai sekarang ini baik berbentuk demokrasi atau keturunan adalah sama. Jangan berharap terlalu, ada budi di dalamnya.

Karena tiada budi, maka janganlah terlalu berharap. Siapapun yang memenangkan pertarungan politik akan memikirkan kamanfaatan organisasi (Negara), mengesampingkan kepentingan pribadi. (Diduga kuat) serakah, dengan tipu dan korupsi adalah tujuan utama. Mungkin, ia akan memikirkan namun apabila tidak bersinggungan dengan kepentingan pribadi atau golongan.

Sekiranya politik ini tidak akan menguntungkan agama kita, kita tinggalkan ini semua.

Pemilu 1955

Pemilu 1955

Pada pemilihan umum 2014 ini. Saya menganjurkan, jangan Golput! Golput, adalah golongan putih dikenal sebagai sebutan untuk warga negara yang sengaja menolak memilih dalam pemilu. Pemilihan umum merupakan bentuk terkecil pertisipasi bagi warga negara dalam perubahan negeri.

Tidak memilih berarti membutakan diri dari politik, dan buta politik dijelaskan dengan sangat baik oleh seorang Penyair Jerman, Bertolt Brencht.

“Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisapasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua bergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga dia bangga dan memnusungkan dadanya mengatakan bahwa dia membenci politik. Si dungu yang tidak tahu bahwa dari kebodohan politik tersebut melahirkan pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional”

Sekiranya politik ini tidak akan menguntungkan agama kita, kita tinggalkan ini semua.

Sekiranya politik ini tidak akan menguntungkan agama kita, kita tinggalkan ini semua.

Maka (mungkin) sungguh keajaiban jika dalam pemilihan umum ini terpilih ia yang adil, sehingga tak pernah berlaku zalim, sehingga ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum, sehingga ia tak pernah khilaf dalam menimbang buruk baik. Dan kapasitas yang seperti ini sangan jarang, apalagi dalam politik (Jika ada orang seperti ini, maka dapat dipastikan ia adalah pilihan Tuhan, yaitu Rasul. Ia bukan manusia biasa) Saat ini, di Indonesia bahkan bisa dikatakan tidak ada (Bahkan mungkin tidak pernah ada!)

Tulisan ini bukan ditulis berdasarkan nafsu melanggengkan bentuk dan sistem kekuasaan yang ada. Ini hanyalah anjuran untuk berbuat, karena penyesalan terbesar bukan ketika kita memilih berbuat, dan gagal. Namun, saat kita memilih tidak berbuat apa-apa, dan meratapi kemudian. Tidak ada salahnya, memilih berbuat dan berharap Indonesia menjadi Negara yang lebih baik. Sebuah harapan, Negara ini, milik kita semua yang hidup di sini.

Beberapa opini lain:

  1. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  2. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  3. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  4. Hantu; 20 Februari 2009;
  5. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  6. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  7. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  8. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  9. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  10. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
  11. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  12. Batas; 22 Februari 2010;
  13. Manusia; 18 Maret 2010;
  14. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  15. Teori Kemungkinan; 14 Februari 2011;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

CINCIN

Disanalah misteri cinta, bukan? Ketika hati dapat menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata.

Disanalah misteri cinta, bukan? Ketika hati dapat menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata.

CINCIN

Syair ini diperbuat dengan jiwa, bukan dengan tangan. Apa yang bergelora di dalam sanubari ini, aku tumpahkan. Dan bagi kamu yang membaca, aku berharap jiwamu akan merasa.

Tahukah kamu? Aku yang engkau ketahui tak terkalahkan ini, adalah seorang ksatria yang tak pernah benar-benar bertempur. Sebenarnya, aku hanya menatap dunia melalui perpustakaan, tempat menakjubkan. Kadang-kadang aku merasa di bawah kenopi sebuah stasiun kereta api, dan jika aku sedang membaca buku tentang perjalanan ke pulau-pulau jauh, aku merasakan berada disana.

Tak ada niatku meninggalkan ini semua, tak pernah terlintas di kepalaku. Ternyata hidup tidak membiarkan satu orang pun lolos untuk cuma menjadi penonton. Semua harus mencicipi ombak. Hadirlah kamu. Orang yang langsung menduduki peringkat nol dalam hidupku. Dibutuhkan waktu dua puluh sembilan tahun untuk menemukanmu. Dan aku menyadari jatuh cinta. Bukan lagi jatuh. Aku terjun bebas. Tanpa tali pengaman. Tanpa peduli apa yang menyambutku di dasar sana, kalau memang ada dasarnya.

Sebesar apa  hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini? Sebesar cinta itu sendiri. Saat perasaan menggelegak memenuhi rongga dada, hanya ingin melihat kamu. Tak akan merasa akan bertemu orang lain yang lebih berarti dibandingkan kamu. Mungkin pendapatku ini berlebihan, tapi saat ini aku bahagia (bila) kau merasakan hal yang sama kepadaku.

Aku menyadari kekuranganku, tak pernah basa-basi. Dengan jujur dan tanpa kompromi, aku menunjukkan bahwa terkadang aku memperlihatkan kekerasan hati kepadamu. Kadangkala aku bertanya kepada diriku sendiri? Apakah bola mata hitam kekasihku itu menatapku dengan perasaan bagaimana? Aku tidak tahu apakah kamu sedang sedih, atau tersenyum, atau tersenyum sedih. Aku bagai kuda bodoh ini tidak bisa merasakan isi hatimu.

Segala kitab yang aku baca mengajarkan segalanya, hampir semuanya. Kecuali dirimu. Kamu bukan tokoh di dalam buku, kamu terlalu kompleks untuk digambarkan di dalam kertas, kamu nyata. Aku tak terbiasa mengelola perasaan, aku terlalu banyak membaca, aku belum memahami dirimu sebaik kamu memahami aku. Ajari aku mempelajari isi hatimu, menghargai buah pikirmu. Aku ingin kamu berbahagia, karena kamu adalah orang yang akan kupilih mendampingi aku di sisa hidupku, dan menjadi ibu anak-anak kita. Engkau sangat berarti.

Ini adalah awal segalanya, yakinlah. Setiap pertemuan pasti memiliki maksud yang sempurna. Untuk kamu, saya ada. Dan untuk saya, kamu ada. Kita hadir untuk menyempurnakan satu sama lain. Terima kasih untuk segala cinta yang engkau berikan. Ketahuilah, aku cinta akan engkau, dan kalau aku mati adalah kematianku di dalam mengenang engkau.

Bait Al Hikmah, 14 Jumadil Awwal 1415 Hijriah (bertepatan 15 Maret 2014)

Beberapa Syair Romantis:

  1. Berakhir Disini; 16 Juli 2009;
  2. Cerita Sebuah Gudang; 14 Januari 2010;
  3. Selamat Ulang Tahun Mama; 1 Februari 2010;
  4. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  5. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  6. Kenangan Akan Gerimis; 11 Februari 2012;
  7. Ada Setelah Tiada; 26 Februari 2012;
  8. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  9. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  10. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  11. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  12. Surga; 17 Juni 2013;
  13. Direbut Kabut Kelam; 10 Agustus 2013;
  14. Musim Hujan; 11 September 2013;
  15. Untukku; 17 November 2013;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

LELAKI TUA YANG MISKIN

When life gives you rain, morning always comes too late

LELAKI TUA YANG MISKIN

Siapa menyana aku akan sampai disini? Tiga puluh. Banyak sekali yang kita alami kalau kita menenggok ke belakang. Di belakang kita berdiri satu tugu yang bernama nasib, di sana telah tertulis rol yang akan kita jalani. Meskipun bagaimana kita mengelak dari ketentuan yang tersebut dalam nasib itu, tiadalah dapat, tetapi harus patuh kepada perintahnya.

Manusia seperti apapun pasti akan selalu berpijak pada tanah, dia tidak akan dapat menghindar dari daya tarik bumi. Aku pun pernah merasakan kehilangan sesuatu yang berharga karena ketidakmampuan diri sendiri. Mustahil kita menjalani hidup tanpa terluka. Atau menolak terluka. Luka-luka yang kita kumpulkan menandai kesalahan sekaligus keberhasilan kita.

Aku berhutang banyak pemaafan dari setiap orang yang telah aku sakiti. Atas tajam perkataan, atas dingin hati, atas keras tindakan. Untuk setiap apa yang telah aku lakukan dibiarkan pengampunan datang. Aku beruntung mendapatkan persahabatan yang hangat dari setiap orang. Atas apa-apa yang kadang aku merasa, tidak pantas mendapatkan itu semua. Seseorang yang berhati dingin tak pernah membayangkan mendapatkan ketulusan sebanyak ini.

Siapakah aku? Adakah ia seseorang yang mengenakan satu wajah yang sama bertahun-tahun, ataukah ia seseorang yang bisa berganti muka dengan cepat? Ataukah ia seseorang yang sudah sampai pada parasnya yang penghabisan, yang kini sudah lungset, berlobang-lobang, dengan lapisan yang telah tersingkap, hingga yang tampak sebenarnya yang-bukan-wajah

Hidup adalah serangkaian kebetulan, kebetulan adalah takdir yang menyamar.

Tapi memang aku sudah banyak berubah, dalam waktu.

Konsep waktu dimunculkan manusia di level pikirannya. Bukan fisik. Sel tidak mengenal konsep waktu. Ia cuma memperbaharui diri, terus menerus tanpa ada sangkut paut dengan hitungan detik. Kita (manusia) sendiri yang mengadakan konsep waktu linear dan setuju mengikutinya. Konsep waktu lahir dari keinginan fundamental manusia untuk memiliki kendali atas hidup, termasuk diri. Masa sekarang, masa depan dan sekarang hanya satu gerakan tunggal. Sekarang, lebih penting dari masa lalu dan masa depan. Karena saat ini adalah momen dimana potensi termanifestasi. Hanya sekarang, kita mampu merasakan masa lalu dan mewujudkan masa depan. Momen saat ini mampu memperbaharui diri tanpa batas, manusia bisa menjadi apa saja.

Waktu bukan Cuma bisa dipahami lewat detik jam. Memangnya apa itu detik? Apa itu hari? Sekedar istilah buat dikotomi langit terang dan langit gelap, kan? Hanya tidak ada satuan. Waktu itu sendiri, apa itu waktu? 24 jam, 365 hari, itu cuma satuan. Bagian dari sistem kalender yang bukan cuma satu di dunia. Tapi, coba kita lebih akrab dengan waktu. Waktu itu seperti karet, elastis. Waktu itu seperti air, cair. Waktu memiliki dua sifat ; pertama, mekanis seperti jam dan ; kedua, waktu yang relatif. Tapi ada sifat ketiga, waktu ilusif. Bertolak dari premis bahwa sesungguhnya waktu tidak ada.

Aku tidak pernah merasa sendirian. Aku memiliki banyak sahabat. Merekalah yang mengubahku. Rupanya aku harus melampaui mereka lebih dulu. Bukan hanya “kuat” saja, tapi semua hal dari kekuatan itu. Aku akan melakukannya, apalagi aku masih banyak kekurangan! Jadi harus terus melangkah untuk mengejarnya! Selamat tinggal diriku yang dibelakang. Aku akan maju sedikit demi sedikit dengan demikian akan bisa mengejar. Terus berlari dan menjajari para lelaki hebat ini.

Aku hanya seorang pria tua yang miskin. Berkeinginan untuk kaya, dan kekayaan yang sebenarnya adalah menerima berbagai sisi tanpa gentar. Segalanya mungkin.

Beberapa renungan lain:

  1. Mari Bicara Tentang Cinta; 9 Desember 2012;
  2. Kisah Perjuangan Tak Sampai; 13 Desember 2012;
  3. Sebuah Kota Beragam Cerita; 26 Februari 2013;
  4. 29; 1 Maret 2013;
  5. Sang Penyair; 1 April 2013;
  6. Busuk; 8 Mei 2013;
  7. Keguncangan Filosofis; 23 Juni 2013;
  8. Mencari Belerang Merah; 25 Agustus 2013;
  9. 1998; 24 Oktober 2013;
  10. Untukku; 17 November 2013;
  11. Nisbi; 13 Desember 2013;
  12. Selubung Impressi; 21 Desember 2013;
  13. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  14. Fana; 14 Januari 2014;
  15. Taman Kanak-Kanak; 24 Februari 2014;
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

TAMAN KANAK-KANAK

A knight in shinning armor is a man who has never had his metal truly tested

A knight in shinning armor is a man who has never had his metal truly tested

TAMAN KANAK-KANAK

Cinta adalah energi dasar. Tunggal. Kebencian pun berasal dari energi yang sama, hanya ia mengalami proses saturisasi, dan semua pemilihan katagori cinta sesungguhnya adalah satu zat sama dengan kadar polusi berbeda-beda. Polusi itu tercipta di pikiran kita, jadi apabila pemilahan-pemilahan tadi lenyap, yang ada hanyalah mengalami. Cinta adalah mengalami. Bukankah itu inti semuanya? Mengapa ada hidup, mengapa kita mati, mengapa kita jatuh cinta, berkeluarga, beranak pinak, mengapa ada ini dan itu? Semua adalah pengalaman. Ingin mengalami adalah hasrat yang paling dasar. Sesuatu yang agung dan substansial ingin mengalami, dan jadilah ini semua. Ia mengalami melalui kita semua.

(Ternyata) kita bersemangat kepada sesuatu yang justru tidak kita tahu.

Konon, kita memang tidak pernah tahu akan bertemu dengan siapa hari ini atau esok lusa. Dan, ia menemukan seseorang yang memaksanya kembali ke masa lalu. Hidup memang aneh. Banyak penjelasan dalam ketidakjelasannya. Di dunia ini, bersifat kebetulan, tapi konsekuen dan terkadang tak realistis. Setiap hari memilih diri sendiri tanpa merasa bosan demi menuju besok.

Aku mengalami semacam rasa malu ketika duduk disini untuk menulis seakan aku akan menelanjangi jiwaku, atas perintah – tidak, Tuhan! Hanya hidup, ternyata hidup bukan cuma terbatas yang kita alami sekarang ini saja. Ini hanya sekelumit dari berbagai kehidupan lain.

Aku merasa seakan pikiranku berada dalam sebuah mendung yang sambung menyambung yang mencegahku menoleh ke belakang. Pikiranku kosong, seakan tahu ada sesuatu yang harus kuingat, tetapi tidak bisa, maksudku, sesuatu yang merupakan bagian ingatan seseorang yang lain. Akan tetapi, mengapa aku berfilsafat dan tidak merangkai peristiwa-peristiwa? Mungkin karena aku ingin tahu tidak hanya apa yang aku lakukan kemarin, tetapi juga seperti apa aku di dalam – yakni, andaikan ada sesuatu di dalam diriku. Mereka bilang bahwa jiwa adalah sekedar apa yang dilakukan seseorang.

Semua bermula dari kertas kosong, seperti taman kanak-kanak. Sekumpulan anak-anak, anak-anak ini mungkin akan menjadi gembrot pada usia tujuh belas, tingginya akan mandek pada usia lima belas. Dia yang paling cantik hari itu mungkin berubah, dan menjadi peneliti LIPI. Anak yang diklaim paling jelek mungkin akan menjadi model top pada usia dua puluhan. Segala probabilitas dan ketidakpastian hidup tak memberikan sedikitpun alasan menjadi pemenang disitu. Menang untuk apa?

Mungkin, aku tak berharap layak mendapatkan pe-maaf-an. Mungkin aku hanya ingin mengatakan pada diri sendiri, seseorang bisa menunjukkan bahwa syukur dan sabar bisa datang dalam sunyi yang mendengarkan. Nyanyian kecil yang manis kepada hidup. Bahwa ada muncul setelah tiada. Maka sungguh hidup ini sebenarnya mengapung diatas ketiadaan. Manisku, aku akan jalan terus. Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru. Aku tidak lagi berlari. Cuma mencari. Dulu, keduanya bercampur. Sekarang, tidak lagi.

Tak disangka hari ini akan tiba. Hari dimana aku tidak ingin berlari (lagi). Dan sesunguhnya banyak liku dan lorong dalam masa lalu, terkadang manusia tak mau mengakui, bahwa ingatan tergantung dari kemarahan kita di suatu waktu. Maka selesailah sudah kemarahan dalam hening. Dalam salam hangat. Agar tiada yang tersakiti (lagi) karena aku pengecut.

Sekarang (sudah) saatnya membuat bocah itu mengerti pria macam apa yang diinginkan ayahnya (dulu).

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , | 4 Comments