Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Mungkin sekarang zaman etik dan bajik seperti merangkai ilusi, adakala menjadi ia menjadi delusi kotor yang menuntut kemurnian sejati, padahal dunia ini fana, tiada sempurna.

TITIK TIADA KEMBALI

Itu terjadi begitu saja, di sebuah malam ketika api membakar pegununungan hijau di Barat. Bulan setengah tertutup kabut bersama angin malam layaknya membawa kesejukan. Akan tetapi api, api nun jauh disana seolah membakar. Sebuah drama sebuah kisah, akan segala dialog yang menyempilkan fragmen-fragmen kehidupan satu demi satu. Kilasan itu muncul sekilas mengingatkan yang tak ingin diakhiri.

Bertarung untuk menang adalah etika, menghormati sejarah adalah bajik. Itu mengajarkan kebanggaan atas apa yang kita kenakan. Mungkin sekarang zaman etik dan bajik seperti merangkai ilusi, adakala menjadi ia menjadi delusi kotor yang menuntut kemurnian sejati, padahal dunia ini fana, tiada sempurna.

Setelah apa yang terjadi tak mungkin aku kembali, mungkin bukan demi yang bajik atau etik. Bukan pula untuk apa yang penting maupun logis. Mungkin ini lebih kepada sebuah kebrutalan dengan gaya yang anggun, sebuah keyakinan yang berapi-api yang justru membekukan hati, sebuah penampilan harga diri yang menakutkan.

Dan ini adalah titik tiada akan kembali, adalah hidup sebuah pilihan untuk terus melangkah. Ketika bertemu kembali, diruang dan waktu yang lain lebih baik tanpa kata. Bebaskanlah tanggungjawab akan kata. Biarkan udara melingkupi jagad tanpa sepatah kalimat. Apapun itu ketika kaki melangkah, tiada guna menoleh kebelakang. Sungguh aku mengetahui bahwa akhir itu sudah dekat dan telah selesai menangisi hilangnya yang mutlak.

Ketika lampu padam, ada yang tak menjadi bekas. Setiap pementasan adalah peristiwa yang lahir dari ketiadaan.

XXXXXXXXX

 

Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: