TO KILL A MOCKINGBIRD

 

To Kill A Mockingbird

TO KILL A MOCKINGBIRD

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya. Hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka, Atticus membela seorang kulit hitam, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota.  Dikisahkan dari sudut pandang gadis delapan tahun dari Maycomb, Alabama. Harper Lee telah berhasil menyuguhkan sebuah Novel yang amat berkesan dan tak lekang zaman.

Hukum ditegakkan demi keadilan, bukan demi sebuah pembenaran. Ketika hukum dijadikan alat pembenaran maka terjadilah kebusukan tersaji indah. To Kill a Mockingbird menjadi kian menarik setiap kali dibaca lagi, setiap kali jalanan Kota Maycomb terasa semakin nyata, Scout menjadi semakin menyentuh, Atticus semakin heroik, dan Boo Radley semakin tragis.

Bahwa sekumpulan orang baik mampu beringas dalam berkelompok, bahwa segerombolan orang mampu mengendalikan lembaga hukum bagi kepentingannya. Sangat berkaitan erat dengan kondisi kebangsaan saat ini. Sebuah humor, keharuan dan keindahan luar biasa tentang realita yang sebenarnya ada di depan mata kita, hanya kadang kepentingan sesaat telah membutakan mata kita.

Dan selalu ada orang-orang yang mampu menjaga kehormatannya dalam berbagai keadaan, dimanapun dan oleh siapapun. Dan kelak waktulah yang akan memberikan penjelasan akan segalanya, kadang mereka terkalahkan namun nilai yang mereka bawa menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Seorang Pahlawan tidak berarti harus selalu seorang anak muda dengan semangat berapi-api. Ia bisa saja berwujud seorang paruh baya atau anak yang belum menginjak belasan tahun. Yang memiliki keberanian dan harga diri. Maka bersyukurlah bagi setiap orang yang memiliki jiwa kanak-kanak dalam raganya.

“Dan mereka memburunya, tetapi tak pernah menangkapnya, karena mereka tak tahu seperti apa rupanya, lalu ketika akhirnya melihatnya, ternyata dia tak pernah melakukan hal-hal tersebut. Begitulah sebagian besar manusia, ketika engkau mengerti mereka.”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Posted in Buku, Cerita, Mari Berpikir, Opini, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

AN INTERVIEW WITH BUNG HATTA

Wawancara imajinier dengan Bung Hatta

AN INTERVIEW WITH BUNG HATTA

“Saya tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.” Adalah sumpahnya dan ditepati. Seorang Gentleman yang belum ada tanding dalam sejarah Indonesia. Dan akhirnya diusia 43 tahun pada tanggal 18 Nopember 1945 Mohammad Hatta menikah dengan Rahmi Rahim di Megamendung, Bandung. Dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukit Tinggi dengan nama Mohammad ‘Athar. Ayahnya bernama H.Mohammad Jamil, ibunya bernama Soleha. Adalah tokoh yang mengajarkan tentang kesederhanan dan kesetiaan dalam prinsip. Bahkan seorang Iwan Fals menciptakan sebuah lagu khusus untuk beliau.

Setiap malam kita disajikan berita betapa Negara kita berada dalam titik demoralisasi yang luar biasa, dimana semangat kita sebagai bangsa telah tergerus oleh masalah tak berujung pangkal. Yang berteriak tentang nasionalisme hari ini besoknya terbukti penjahat. Benar dan salah sebenarnya sudah jelas namun kelihaian memanipulasi adalah kegemaran pemimpin kita, dan rakyat pun seolah menikmati dan bergabung didalam bagian konspirasi besar.

Abu mencintai tidur, oleh karena itu lebih baik tidur dibanding melihat media menyajikan berita yang membuat kecewa. Mungkin Abu mengharapkan seorang panutan bagi masalah negeri dan malam ini Abu bermimpi bertemu dengan seorang Mohammad Hatta. Beliau mengunakan baju dan celana khaki putih, sepatu Bally suatu hal yang tak terbeli ketika beliau hidup karena kesederhanaannya. Mengenakan kaca mata model lama dan topi bulat layaknya seorang tuan meneer. Wajah beliau bulat berisi dan pipi kemerah-merahan. Di sebuah beranda menghadap laut kami duduk, Pulau Banda. Tempat dimana beliau dan Perdana Menteri pertama Indonesia Sutan Syahrir pernah dibuang oleh Belanda.

(Abu) Apa kabar pak? Siapa saja teman-teman bapak disini?

(Bung Hatta) Jangan terlalu formal, panggil saja Bung atau Bung Hatta. Saya disini bersama Natsir, Syarifuddin Prawiranegara, Soedirman dan Hamka. Kadang-kadang Syahrir dan Tan Malaka berkunjung.

(Abu) Apakah ini surga bung?

(Bung Hatta) Pulau Banda adalah salah satu surga dunia, alam yang indah. Saya bersyukur Belanda pernah membuang saya mungkin kemari. Surga atau bukan saya tidak tahu, yang pasti saya menemukan kedamaian disini.

(Abu) Bagaimana dengan sahabat anda Sukarno atau lawan politik anda seperti Aidit dan Ali Satroamidjoyo. Atau Amir Syafifuddin?

(Bung Hatta) Terdiam sejenak. Saya belum pernah bertemu dengan mereka sejak disini.

(Abu) Apakah mereka di neraka?

(Bung Hatta) Tersenyum. Secara logis saya tidak bisa menyimpulkan karena tidak ada bukti empiris yang membuktikan hal itu, mungkin mereka berada di tempat lain. Indonesia begitu luas, apalagi dunia bawah.

(Abu) Kembali kemasa lalu, apakah anda merasa bersalah telah menyebabkan Indonesia gagal menjadi Negara Islam, dimana usul anda pada sidang PPKI yang mungusulkan Negara kebangsaan?

(Bung Hatta) Saya menyakini apa yang saya usulkan adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia menurut pemikiran saya, jika kita sudah mengusahakan yang terbaik insya Allah tak akan ada penyesalan.

(Abu) Menurut Bung Hatta apa yang menyatukan beribu pulau, beratus kerajaan di Nusantara menjadi sebuah bangsa yang bernama Indonesia?

(Bung Hatta) Menarik nafas. Indonesia dibentuk atas dasar perasaan senasib, senasib karena merasakan kesengsaraan akibat dijajah Belanda.

(Abu) Itukan yang menyebabkan bung pada sidang PPKI tidak menyetujui Semenanjung Melayu, Kalimantan Utara dan Timor Portugis untuk digabung kedalam Indonesia sebagaimana usul Sukarno?

(Bung Hatta) Benar

(Abu) Apakah bung mengikuti sejarah Indonesia kontemporer?

(Bung Hatta) Saya tetap mengikuti, Indonesia adalah kecintaaan saya. Yang pernah kami perjuangkan dengan air mata dan darah.

(Abu) Menurut bung bagaimana Indonesia saat ini?

(Bung Hatta) Sukarno pernah mengutip Stalin, Revolusi bahkan akan memakan anak-anaknya sendiri. Tapi saya mempunyai pendapat berbeda, Revolusi akan memanggil jiwa-jiwa romantik namun setelahnya para oppurtunislah yang berkuasa.

(Abu) Apakah mungkin suatu hari akan muncul seseorang seperti anda?

(Bung Hatta) Dengan sistem politik, sosial dan tata Negara seperti sekarang akan sulit. Bung Hatta membuka topinya dan terlihat rambut belah tengah yang tersisir rapi. Dulu, saya dan Syahrir berteori bahwa bangsa Indonesia akan siap merdeka apabila sudah memiliki kecerdasan Intelektual oleh karena itu kami membentuk Pendidikan Nasional Indonesia guna membentuk pemimpin yang cerdas dan bermoral. Berlawanan dengan kami, Sukarno berteori bahwa Indonesia harus memiliki organisasi massa dan pemimpin kharismatik dan bergabung dengan Partindo. Dan sejarah memihak Sukarno bukan saya dan Syahrir.

(Abu) Apakah memang tidak ada lagi harapan?

(Bung Hatta) Harapan adalah doa, saya dari sini selalu berharap dan berdoa yang terbaik untuk Indonesia. Bung Hatta melipat kakinya, dan teringat sesuatu. Pernah, pemilu 2004 saya berharap pada seseorang yang menjanjikan harapan, namun sayang dia kalah. Dan itu membuktikan teori Sukarno.

(Abu) Megawati, Wiranto, Amien Rais atau Hamzah Haz?

(Bung Hatta) Tersenyum. Sejarah saya sudah selesai, tidak patut saya ikut campur lagi. Siapakah yang bung pilih saat itu?

(Abu) Amien Rais pada putaran pertama, sedang putaran kedua saya tidak ikut karena ayah saya meninggal dunia pada malam menjelang pemilu.

(Bung Hatta) Beliau menjabat tangan Abu. Saya turut berduka cita.

(Abu) Adakah pesan bung kepada kami bangsa Indonesia?

(Bung Hatta) Cintailah Negara ini, dan jangan berputus asa atas keadaan sulit yang mendera. Saya tetap berkeinginan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berbudi dan cerdas. Pilihlah pemimpin yang beritikad baik membangun bangsa, jangan mudah terpedaya oleh teriakan utopia dan jangan pernah bisa dibeli. Jadilah bangsa yang memiliki harga diri.

(Abu) Kata-kata bung Hatta menyiratkan kesedihan, apa yang menyebabkan anda sebagai tokoh yang terkenal sangat rasional menjadi sangat melankolis?

(Bung Hatta) Saya memiliki jiwa romantik, namun saya kurang menunjukkannya didepan umum. Satu hal yang merisaukan saya, sebuah pertanda sistem yang kacau adalah semakin berkembangnya orang jahat dan semakin sulitnya orang baik untuk muncul. Sayangnya saya melihat hal ini di Republik yang kami perjuangkan ini. Bung Hatta membuka kaca mata dan membersihkan kacanya dengan sapu tangan.

(Abu) Terima kasih bung, sepertinya hari akan menjelang pagi. Sudah saatnya saya bangun.

(Bung Hatta) Tertawa dan menjabat tangan saya. Terima kasih dan tolong sampaikan pesan saya kepada seluruh rakyat Indonesia.

(Abu) Tersenyum miris. Apakah mungkin bung?

(Bung Hatta) Dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Abu pun terbangun. Pagi pun menjelang bersama azan shubuh datang. Sudah lama sekali rasanya.

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Posted in Asal Usil, Kisah-Kisah, Opini, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

APA YANG MACHIAVELLI LAKUKAN

Cetakan Pertama “Sang Pangeran” karya Niccolo Machiavelli terjemahan dalam Bahasa Inggris

APA YANG MACHIAVELLI LAKUKAN

Penderitaan satu orang adalah sebuah drama; penderitaan sejuta orang adalah sejarah. Satu orang mati adalah tragedi; satu juta orang mati adalah statistik.”

Jika anda hidup disebuah bangsa dimana ada banyak raja-raja yang berkuasa, buas dangan mata lapar akan kekuasaan dan masalah yang tak berujung pangkal? Dengan ada banyak lembaga yang sakit, dengan integritas yang memalukan? Dan anda sebegitu malunya sehingga tak kuasa mengarahkan telunjuk pada mereka semua dan menyadari anda adalah bagian dari sistem yang ada. Maka buang jauh-jauh perasaan itu, yang anda butuhkan adalah seorang Machiavelli.

“Mengapa bisa manusia seperti ini sekarang?” Anda akan mendengar pertanyaan ini dalam hati ketika membaca headline surat kabar. “Sudah hilangkah moralitas?” Maka sadarlah siapa saja yang berbicara tentang moralitas adalah orang yang munafik. Akuilah itu mungkin saja anda bahkan saya.

Di dunia penuh tipu daya maka tak ada yang bisa dipercaya. Hanya diri andalah yang dapat dipercaya. Namun jika anda seorang Machiavelli maka anda harus mendelegasikan semua tugas kotor, kecuali tugas yang disukai.

Ia akan membina sejumlah musuh termasuk dalam lingkungannya, mengapa? Karena saat ini sangat sulit membedakan mana kawan atau lawan. Ciptakan lawan maka akan jelas siapa kawanmu. Sahabat akan keluar disaat sulit, dan sebaiknya anda tahu. Jangan pernah bergerak tanpa teman.

Machiavelli akan melakukan apa yang ia ingin lakukan. Titik. Dan ia secara terang-terangan mengatakan apa yang ia inginkan. Namun akan sangat pengertian kepada orang-orang yang bisa melaksanakan perintahnya. Jangan percaya pemimpin yang membuang tangan kanannya, karena berarti ia hanya punya tangan kiri.

Dan ia tak pernah menyesal. Pangeran tidak pernah salah jadi tak perlu minta maaf. Kebaikan barangkali merupakan imbalan bagi kebaikan, di dunia yang jahat dan tidak adil ini, dimana aspek-aspek  watak manusia tidak simpatik itu perlu diganjar dengan ganjaran-ganjaran dasyat. Tetapi kejahatan mempunyai batas-batas tersendiri, yang harus dicamkan oleh Machiavelli terbesar dan terjahat sekalipun.

Jika anda hidup di Negara penuh kekacauan, seperti Italia di abad ke 15 di mana sang Begawan lahir. Maka pilihlah seorang Machivelli maka segala urusan akan terselesaikan. Namun sama sekali tidak perlu jika hidup dinegara aman sentausa, atau setengah sentausa. Hanya negara chaos. Ingat peringatan saya!!!

“Baik lembaga-lembaga fisik maupun politis selalu berada dalam proses transformasi, yang satu analog terhadap analog yang lain. Karena adalah mungkin untuk merumuskan dalil-dalil yang menggambarkan proses-proses dalam masing-masing bidang.”

-MACHIAVELLI,THE PRINCE-

Posted in Buku, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Mari Berpikir, Opini, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 16 Comments

BERMAIN DENGAN WAKTU

Happy Memori

BERMAIN DENGAN WAKTU

Aliran kehidupan seperti sungai. Detak waktu telah membuat sadar bahwa diri tak lagi merupakan kanak-kanak. Hari ini kumengingat diri sebagai seorang bocah berumur tujuh tahun. Seperti pertama kali melihat matahari tenggelam, sudah banyak yang terlewati.

Dan hari ini ku mendapati tak akan ada yang mengerti, dan tak ada yang peduli dan tak akan pulang kembali. Bersama impian dan keyakinan tak akan menyerah. Mengingat sumpah setia bersama teman-teman yang telah pergi.

Berpikir bagaimana kehidupanku kembali setelah menjalani jalan ini tanpa berpikir lari dari takdir hingga pertolongan tiba. Mimpi dan cita belum terlaksana semuanya. Betapa sulit melaksanakan impian seorang bocah dunia dewasa, betapa kesempurnaan ide terbentur dengan realita.

Dan kumerasa sudah saatnya ku kembali, tanpa harus menahan satu malam lagi. Jika engkau mendapati mataku terpejam maka semua sudah tak ada. Aku pulang, dan jika pun semua cita-cita lama tak tercapai. Maka, aku bisa bergembira dalam kepulangan ini. Pulang sebagai manusia merdeka.

XXXXXXXX

Beberapa tulisan lain:

  1. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  2. Hantu; 20 Februari 2009;
  3. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  4. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  5. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  6. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  7. Duhai Diriku Mengapa Engkau Bersedih; 13 Mei 2009;
  8. Selamat Kembali Pulang Sahabat; 25 Mei 2009;
  9. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  10. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  11. Cerita Tentang Masa Lalu; 1 Juli 2009;
  12. Salam Rindu Selalu; 9 Juli 2009;
  13. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  14. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  15. Angin; 19 Februari 2010;
  16. Manusia; 18 Maret 2010;
  17. Kekuatan Hati; 27 Maret 2010;
  18. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  19. Memoar Romantik; 15 Juni 2010;
  20. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;

 

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments

GENERASI YANG HILANG

Bung Hatta (Berdiri nomor dua dari kanan) dalam pose bersama pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda

Bung Hatta (Berdiri nomor dua dari kanan) dalam pose bersama pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda

GENERASI YANG HILANG

Apa jadinya sebuah bangsa apabila generasi terdahulu lebih baik dibanding generasi sekarang? Maka masa lalu akan penuh sanjung puji dan masa kini yang dijalani akan penuh kegeraman paling baik, atau caci maki bagi kekesalan yang melebihi batas. Namun generasi yang paling buruk nasibnya adalah sebuah generasi yang tidak memiliki sosok yang diteladani.

Kematian akan memutus sejarah seorang manusia. Mencapai limit akhir. Dan sejarah menulis apa yang “patut” dituliskan. Memahami sejarah bagai memegang sebuah tafsir. Dimana ia tidak menempatkan seorang pemenang menjadi legenda tanpa cela dan merendahkan pihak yang kalah secara semena-mena tidak pada tempatnya.

Adalah seorang Rosihan Anwar, seorang anak manusia yang mengakui kekurangannya bercerita. Tentang suatu masa dimana ia pernah hidup dan menjadi saat-saat paling genting dalam sejarah negeri ini, Revolusi Indonesia. Sejarah negeri yang selalu kita cintai namun sering kali mengecewakan kita. Ya kita mungkin pernah memaki dan kecewa, namun itu bukan karena tak cinta. Karena lawan cinta itu bukan benci, lawan cinta yang sesungguhnya adalah ketidakpedulian. Apa jadinya negeri ini bila generasinya tak peduli dengan negerinya, bangsanya dan tumpah darahnya.

Rosihan Anwar sebagai Habib Meulaboh dalam film Tjoet Nja Dhien tahun 1988

Rosihan Anwar sebagai Habib Meulaboh dalam film Tjoet Nja Dhien tahun 1988

Rosihan Anwar bercerita dengan gayanya, sinis tapi hati-hati. Dalam bahasanya ia menceritakan bahwa negeri ini diperjuangkan oleh para manusia-manusia idealis untuk kemudian diserahkan secara ironis kepada para opurtunis.

Dia bertemu semuanya. Hatta, Syahrir, Sudirman, Tan Malaka, Natsir, Aidit sampai Suharto. Semuanya Presiden Republik Indonesia dan Wakilnya, dari pertama hingga yang terakhir. Namun jelas di mata yang tua renta itu ada raut kecewa, kecewa yang amat sangat yang harus ia bawa ke peristirahatannya yang terakhir.

Jelas ia kecewa, karena ia melihat lahirnya sebuah generasi baru. Generasi yang tak peduli pada negerinya. Salah siapa? Tidak bisa ia mengacungkan telunjuk pada siapa-siapa. Ia bersedih karena tokoh-tokoh yang patut ditiru telah dibungkam oleh sejarah, dan tokoh penuh nista telah diagungkan oleh sejarah. Generasi ini tidak bersalah, di otak mereka sudah ditanamkan sebuah pemahaman yang salah. Tahun demi tahun berlalu dan ia pun menerima pembungkaman itu dengan pasrah. Ia melawan, melawan dengan lemah namun ia juga semakin menua.

Dan ketika ia meninggal 14 April 2011, kita tersadar bahwa seorang legenda telah pergi. Ia tetap legenda dengan segala kekurangannya, tak sedikitpun mengurangi nilai dirinya bahkan memperkuat kematangan dirinya.

Selamat jalan Rosihan Anwar, sudah saatnya dirimu berkumpul dengan tokoh-tokoh kemerdekaan yang memiliki dedikasi tulus. Bersama Hatta, Syahrir, Natsir, Syarifuddin Prawiranegera, Sudirman. Mereka, generasi yang hilang dalam sejarah Indonesia. Tabik kami untukmu. Sampaikan salam kami untuk mereka.

Artikel Sejarah Indonesia:

  1. Bersatulah Bangsaku; 1 Agustus 2008;
  2. Berpikir Dan Bertindak; 3 Agustus 2008;
  3. Yang Muda Yang Berguna; 22 Agustus 2008;
  4. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  5. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  6. Teuku Umar Pahlawan; 11 Februari 2011;
  7. Sejarah Syahdu Sebuah Negeri; 16 Agustus 2011;
  8. Kebenaran Yang Samar; 28 Februari 2013;
  9. Mengenang Bung Hatta Seorang Pemimpin Teladan; 16 Agustus 2013;
  10. Fatwa MUI Tentang Perayaan Natal Bersama Tahun 1981; 18 Desember 2014;
  11. Peradaban Tanpa Tulisan; 25 Februari 2016;
  12. Kesaksian Hatta Tentang Berubahnya Piagam Jakarta Menjadi Pancasila; 9 November 2016;
  13. Para Penyebar Kebohongan; 13 November 2016;
  14. Nasihat Sam Ratulangie Kepada Pemerintah Kolonial Belanda Terkait Serikat Islam; 16 November 2016;
  15. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
Posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

ADA BANYAK CINTA

Ada banyak cinta kawan, oh seandainya kita bisa tahu dengan siapa kita akan berjumpa lalu jatuh cinta.

Ada banyak cinta kawan, oh seandainya kita bisa tahu dengan siapa kita akan berjumpa lalu jatuh cinta.

ADA BANYAK CINTA

Juli 1990,

Seorang bocah laki-laki berusia 6 Tahun diantar ibunya memasuki kelas sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Setelah mengantar sang anak masuk kelas, ibunya pun keluar. Begitu sadar ibunya tidak ada lagi anak tersebut menangis keras hingga seluruh kelas melihat.

Tak lama berselang, ibu anak tersebut muncul dengan membawa es krim. Mungkin karena takut Anak itu minta kepada ibunya untuk duduk disamping untuk menemaninya belajar. Dan akhirnya anak tersebut belajar seraya disuapi es krim oleh ibunya.

Ketika ibu guru bertanya “Siapa yang mau jadi ketua kelas?” Seluruh kelas hening, tiba-tiba anak tersebut dengan percaya diri mengacungkan tangannya, setelah melihat kesekeliling kelas bahwa tidak ada anak yang lain yang berani mengacungkan tangan. Maka ibu guru menghampiri anak tersebut dan bertanya ”Nama abang siapa?” seraya mengelus rambut anak tersebut.

”Nama saya Baja!” Jawabnya lantang.

“Nak, kalau kamu mau menjadi ketua kelas maka kamu harus berani.”

“Saya anak yang berani bu.” Anak itu cepat menjawab.

Sambil tersenyum ibu melihat kepada ibu sang anak.

“Kalau berani, berarti kamu tidak usah mama temani dong.” Ibu anak tersebut menanggapi.

Anak tersebut terdiam seperti menahan tangis, namun tak lama ia berkata “Tapi, tapi nanti pulangnya mama jemput ya?”

Ibu anak tersebut menarik nafas lega, dan ibu guru pun tersenyum dan berkata kepada seluruh kelas “Anak-anak, mulai hari ini ketua kelas kita adalah ”Baja Elrumi!”

Juli 1991,

“Dikelas inti ini hanya ada 5 orang anak laki-laki dan ada 33 anak perempuan. Tenyata zaman sekarang perempuan sudah lebih pandai dari laki-laki.”  Bapak Wali kelas II/A sambil tersenyum.

“Bagaimana ini ya? Anak laki-laki cuma ada 5 orang, Kalau didudukkan bersama pasti ada yang tersingkir satu orang” Lanjut beliau.

”Begini saja, bapak putuskan kalau kelimanya harus duduk dengan anak perempuan.”

”Dan biar adil dan tempat duduknya akan bapak undi” Bapak guru berkata seperti mandapatkan ide cemerlang.

“Begini, bapak akan mengulung kertas sebanyak 33 lembar diantaranya 5 lembar berisi nama kelima anak laki-laki tersebut, dan masing-masing anak perempuan memilih satu persatu dan yang mendapat kertas yang berisi maka ia harus duduk dengan yang ada namanya tersebut.”

Maka satu persatu anak perempuan dikelas II/A mengambil gulungan kertas tersebut, sedang anak laki-laki yang dijadikan undian menunggu dengan wajah-wajah cemas.

Setelah semua anak perempuan dikelas tersebut mencabut undian maka pak guru menginspeksi dan mengatakan peraturan ini dimulai besok.

Keesokan harinya,…..

“ketua kelas duduk sama anak ingusan.” Ledek teman-teman yang lain bersahut-sahutan

“Turut berduka cita ya, masak kamu duduk dengan anak ingusan seperti itu.” Teman yang lain menyambung.

“Kecian deh lu.” Anak-anak perempuan turut bersorak.

Tak lama kemudian lonceng sekolah pun berbunyi, anak-anak duduk di bangku yang telah ditentukan kemarin dan pelajaran pun dimulai.

“Nama saya Fatimah Azzahra.” anak perempuan itu menjulurkan tangan ketika lonceng istrirahat baru berbunyi.

“Iya saya tahu, kitakan sudah sekelas dari setahun yang lalu.” Anak laki-laki itu menjawab seraya menjulurkan tangan sambil tersenyum

“Ternyata kamu kenal saya.” Katanya malu-malu.

“Iyalah kenal, tapi bukan terkenalnya karena menangis di hari pertama sekolah seperti sayakan?” Sambung anak laki-laki tersebut Mereka pun tertawa dan suasanapun mencair.

“Oh, ya perkenalkan ini Wimpy.” Anak perempuan tersebut menunjuk tas punggung boneka Beruangnya.

“Ayo salaman Wimpy.” Dengan mengerakkan tangan boneka tersebut ke tangan anak laki-laki tersebut.

Melihat keseriusan anak perempuan tersebut anak laki-laki itu tidak tega dan menjulurkan tangan. “Halo Wimpy, nama saya Baja Elrumi.” Dengan ramah.

“Hore, akhirnya ada yang mau berteman dengan Wimpy.” Lompatnya kegirangan. Anak laki-laki tersebut, hanya bisa menarik nafas panjang.

Keesokan harinya,………

“kamu kok pendiam hari ini?” Anak lelaki itu bertanya melihat anak perempuan yang biasanya ceria menjadi pendiam.

“Gak ada apa-apa kok.” Kelihatan banget bohongnya

“Kalau tidak mau bilang, ya udah gak apa-apa kok.” Sambil tersenyum.

“Kamu sayang tidak sama wimpy?” Tanya anak perempuan itu penuh harap.

Tanpa banyak berpikir anak laki-laki itu menjawab dengan tenang. “Sayang kok, kenapa? Ada yang mengolok kamu atau dia ya?” Sambil melihat sekeliling kelas.

“Bukan!” Katanya sambil menggelengkan kepala

“Kamu mau tidak jadi ayahnya Wimpy?” Sambungnya

“Ayahnya Wimpy?” Anak laki-laki itu terkejut.

“Kamu tidak mau ya? Kasihan Wimpy tidak punya ayah sama seperti saya” Anak perempuan itu seolah menyesal.

“Bapak yang mengantar kamu sekolah tiap pagi itu bukan ayah kamu?” Anak laki-laki mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Bukan, itu ayah kedua. Ayah Zahra sudah meninggal lama sekali?” Anak perempuan itu menunduk sedih. Dibangku itu, suasana menjadi hening.

“Baiklah Zahra, saya mau, tapi ada syaratnya.” Anak laki-laki bersuara.

“Apa syaratnya?” Anak perempuan itu tersenyum.

“Kata mama, kalau kita dibilang anak ingusan berarti kita anak kecil. Kalau kamu masih beringus-ingus begitu mana bisa jadi ibunya Wimpy, jadi ibu kok kucel begitu?

Sesekali kalau pergi sekolah pakai bedak sedikit kenapa? Kamu besok masih seperti ini. Jangan harap, kalau kamu berubah bolehlah akan saya pertimbangkan.” Anak laki-laki itu mencoba untuk tegas.

“Syaratnya hanya itu? kamu memang paling baik sedunia.” Anak perempuan itu tersenyum.

“Bukannya saya sok baik.” Sambung anak laki-laki itu.

“Wimpy cium papa.” Sambil menjulurkan wajah boneka beruang ke wajah anak laki-laki itu.

Anak laki-laki itu pun pasrah, dan wajah mereka berduapun memerah.

Dalam tahun itu juga,……..

“Papa, papa! Ini Wimpy sakit?” seorang anak perempuan menghampiri seorang anak lelaki yang sedang bercakap dengan temannya. Anak lelaki yang dipanggil menoleh dan tersenyum.

Dan teman dari anak lelaki itu hanya mengenyitkan dahi kemudian berkata “Ayolah Ketua, ini lebih penting dari pada permainan rumah-rumahan kalian! Anak kelas II SD sebelah mengajak Madrasah kita bertanding sepak bola, dan kamu sebagai ketua Kelas II/A yang harus mengorganisasikan anak kelas B,C dan D untuk pertandingan itu, ini menyangkut gengsi sekolah.”

“Begini saja teman, kamu menjumpai si Dimas ketua kelas B!”

”Biar dia yang mengatur, lagian kami kelas A anak laki-laki cuma 5 orang jadi bisa apa.” Sambil mengangkat bahu.

“Baiklah kalau begitu.” Kata teman dari anak laki-laki itu dan pergi dengan wajah kesal. Dan anak laki-laki itu pun mendatangi anak perempuan yang tadi berteriak.

“Ada apa mama Wimpy?” Tanyanya

“Ini papa, Wimpynya sakit.” Sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Coba papa lihat, oh ini mungkin karena mama banyak bawa buku didalam tubuh Wmpy kali?” Anak lelaki itu mencoba bercanda.

“Ih, papa curang. Sudah dibilang tidak boleh bicarain kalau Wimpy itu tas boneka, gimana sih.” Katanya merajuk.

“Iya deh memang papa yang salah” Memasang wajah yang lugu

“Gitu dong, itu baru papa Wimpy.” Sambungnya tersenyum, dan kemudian mereka tertawa bersama.

Bagi keduanya sekolah tak pernah seindah hari ini.

Awal Tahun 1992,

“Wimpy kalau sudah besar mau jadi apa?” Tanya seorang anak perempuan kepada tasnya yang berbentuk boneka perempuan.

“Jadi anak-anak aja” Anak perempuan itu membuat suara seolah-olah boneka tersebut yang berbicara. Dan anak lelaki yang duduk disebelahnya tersenyum.

“Kalau mama nanti kalau suda besar mau jadi guru aja, nanti biar Wimpy mama ajarin supaya pintar seperti papa, kemudian biar Wimpy tulisannya cantik seperti papa.” Sambil melirik kesebelah.

”Kalau papa nanti kalau sudah besar harus jadi dokter.” sambungnya optimis.

”Enak aja atur-atur, siapa lagi yang mau jadi dokter.” Suara dari sebelah kesal.

”Idih, tidak bisa diajak bercanda, namanya juga cita-cita mama kok.” Sambil memainkan tangan boneka tersebut.

”Kalau papa tidak mau jadi dokter, biar Wimpy aja yang jadi dokter, iyakan sayang?” Sambil melihat.

”Mama.” Suara dari sebelah.

”Apa?” Jawabnya kesal.

”Pernah tidak papa bilang, kalau mama cantik?” Tanyanya.

”Belum, tidak pernah tuh” Masih dengan kesal.

”Mama cantik.” Terdengar suara pelan sekali.

”Apa? Tidak dengar tuh.” Baliknya keras hingga terdengar keseluruh kelas.

”Mama cantik.” Anak laki-laki itu mantap.

”Pacaran niyeeeeeeeeee.” Seluruh kelas bersorak. Ternyata hari ini lebih indah daripada kemaren, bagi keduanya.

Menjelang ujian kenaikan Kelas Mei 1992,

”Bagaimana kalau kita berjanji.” Kata anak laki-laki itu .

”Janji apa?” Anak perempuan itu balik bertanya.

”Ini kan sudah mau ujian kenaikan kelas, bagaimana kalau kita berjanji belajar dengan keras agar nanti di kelas III bisa masuk ke III/A, bagaimana setuju?”

Anak perempuan itu tampak berpikir dan berkata ”Untuk apa?”

”Ya untuk kita, supaya kita bisa duduk dibangku yang sama dikelas tiga.” Terangnya.

”Kalau begitu demi Wimpy” Katanya mantap.

”Baik, kalau begitu sekarang kita berjanji dengan menyilangkan jari.” Anak lelaki itu memberikan jari kelingkingnya.

”Iya, jari kita silangkan.” Sambil menyilangkan jarinya

”Baik sekarang mulai.”

”Kami berjanji……………………………..”

Liburan kenaikan kelas 1992,

”Pokoknya adik mau bunga abadi!” Renggek seorang adik perempuan kepada abangnya.

”Untuk apa sayang? Lalu untuk apa?” Tanya sang abang.

”Adikkan sudah tamat dari TK, sebentar lagi masuk Madrasah.

”Mana mungkin seorang murid madrasah tidak tahu bunga abadi?” Katanya sambil memainkan matanya yang belok.

”Teman-teman adik di TK sudah tahu dan paling kurang pernah lihat, masak adik tidak punya dan tahu.” Katanya polos.

”Abang saja yang mau naik kelas III tidak tahu, lalu carinya dimana?” Abang dari adik tersebut bingung.

”Kata teman-teman adik, digunung itu ada.” Sambil menunjuk gunung yang tampak dari halaman rumah mereka.

”Itukan jauh sekali dik, kelihatannya saja dekat padahal sangat jauh dari rumah kita.” Abangnya mencoba memberi penjelasan.

”Terserah! Kalau abang tidak mau mengantar kesana, biar adik pergi sendiri naik sepeda!” Ancamnya.

Dan nanti kalau adik tersesat atau jatuh dari gunung itu semua salah abang yang tidak mau mengantar kesana.” Katanya merajuk.

”Iya deh, abang antarin tapi jangan cemberut gitu.” Goda sang abang.

”Abang memang abang paling baik didunia.” Sang adik senang permintaannya dikabulkan.

”Idih, kalau ada maunya baru muji.” Seraya menjitak  kepala adiknya dengan lembut tentunya.

Setelah keduanya mandi abang tersebut pun menuju kegunung membonceng adiknya dengan sepeda. Dan Sesampainya disana merekapun mencari dimana letaknya bunga abadi. Tiba-tiba sang adik menunjuk sesuatu di tebing gunung.

”Itu bang, yang namanya bunga abadi.” Sambil menunjuk dengan penuh semangat.

”Katanya belum pernah lihat bunga abadi, itu kok tahu?”

”Eh, itukan tebingnya curam sayang, coba lihat dibawahnya ada pagar rumah orang. Berbahayakan? Kita cari tempat lain aja yuk.” Sang abang mencoba membujuk adiknya.

”Tidak mau! Adik capek tahu! Kalau abang tidak mau mengambil biar adik ambil sendiri.” Adik mengancam abangnya.

”Capek? padahal yang bawa sepedakan abang, adik cuma duduk dibelakang aja kok capek?” Godanya.

”Adikkan masih kecil tahu, lagian adikkan perempuan.” Lagi-lagi merajuk.

”Iyalah kalau alasan adik begitu, tapi adik tunggu disini aja ya, biar abang aja yang kesana.” Mencoba menenangkan adiknya.

Hore.” Adiknya kegirangan.

Maka sang abangpun naik pelan-pelan keatas tebing curam dengan sangat hati-hati, dan ketika tangannya hendak meraih bunga tersebut tiba-tiba kakinya terpeleset dan tubuhnya itupun berguling kebawah menuju kebawah.

”Abang!!!!!!!!!!” Teriak adiknya.

”Tolong!!!!!!!!!!, abang saya jatuh.” Sambungnya.

Pada saat itu pandangan mata dari abang adik tersebut pun gelap.

Beberapa jam setelah saat itu,………..

Anak laki-laki itu membuka matanya, betapa terkejut ia menyaksikan dirinya berada di rumah sakit dengan dibalut dengan perban. Takkala menoleh ia melihat seorang dokter sedang berbicara dengan ibunya.

”Luka anak ibu cukup parah, beruntung ia selamat. Tapi tangan kananya tersangkut dipagar rumah orang sehingga harus dijahit dengan 25 jahitan, saran saya untuk sementara dia harus beristrirahat dirumah.” Dokter memberi penjelasan.

”Dok, apakah tangan kanan dari anak saya akan cacat?” Ibu dari anak tersebut tampak cemas.

”Saya belum dapat memastikan bu, kita lihat perkembangan selanjutnya. Oh. Iya anak ibu sekarang sudah bisa pulang tapi tiga hari lagi anak tersebut ibu bawa kemari untuk kita buka jahitannya.” Dokter mencoba menenangkan ibu dari anak tersebut.

”Abang tidak apa-apakan?” Tiba-tiba adik dari anak laki-laki tersebut yang baru tiba masuk kedalam ruangan sambil menangis.

”Iya, abang tidak apa-apa kok, lihat ini masih kuat. Jatuh dari situ bukanlah masalah.” Anak laki-laki tersebut mencoba tersenyum.

”Adik menyesal bang, adik tidak akan lagi minta macam-macam sama abang” Sambil memeluk abangnya.

”Jangan menyesal dik, karena abang sama sekali tidak menyesal.” Abang dari adik tersebut mencoba menghibur sambil membelai kepala adiknya dengan tangan kirinya.

Ayah dan ibu dari kedua anak tersebut dan dokter Rumah Sakit hanya bisa terdiam.

Agustus 1992,

Hari ini adalah hari pertama dari anak laki-laki itu kembali bersekolah setelah lama tidak masuk karena sakit, tepatnya sebulan. Betapa suasananya telah jauh berbeda.

Banyak teman-temannya dikelas dulu dikelas II/A sudah tidak ada lagi, Kebanyakan dari mereka telah pindah ke kelas B atau C. Tahun ini banyak murid baru pindahan dari luar kota yang dengan kemampuan diatas rata-rata menggeser orang-orang lama.

”Sekolah ini memang terkenal dengan kompetisi tingkat tingginya, masih beruntung saya dapat bertahan dikelas inti selama tiga tahun berturut-turut.” Pikirnya.

Wali kelas yang mengantar anak itu masuk dalam kelas bertanya. ”Nak, apakah kamu masih dapat menulis?” Dengan lembut.

”Saya bisa bu.” Katanya yakin. Anak laki-laki itupun duduk dibangku kosong yang masih tersedia dikelas itu.

”Nama saya Andri, kamu anak baru ya?” Teman disebelahnya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangan.

”Nama saya Baja, saya orang lama cuma sudah lama tidak masuk karena sakit.” Katanya menjelaskan menyambut uluran tangan dari sebelah.

”Oh, kalau saya murid baru pindahan dari kota Medan, senang rasanya berkenalan dengan kamu.” Anak yang disebelahnya sambil tersenyum.

”Sama-sama.” Anak laki-laki membalas.

”Eh, tangan kamu kenapa?” Anak disebelahnya penasaran melihat luka berjahit ditangan kanan anak lelaki tersebut.

”Oh, ini tato.” Jawab anak laki-laki itu santai, sambil melihat sekeliling kelas III/A. Takkala ia mencari teman perempuan yang sebangku dengannya dikelas II/A. Betapa ia terkejut karena anak perempuan itu sekarang sudah mengenakan jilbab, namun paling tidak ia masih membawa Wimpy pikirnya.

Keesokan harinya.

Hari ini anak laki-laki itu sengaja datang lebih awal, maksudnya supaya bisa berbicara dengan anak perempuan itu. Dan ketika hendak masuk ke kelas III/A seorang teman laki-laki dari kelas II/A dulunya memanggil.

”Baja, apa kabar? Kamu sudah sembuh?” Sapanya ramah.

”Alhamdulillah.” Jawabnya diplomatis.

”Syukurlah kalau begitu. Eh, sekarang kelas A sudah banyak berubah ya?” Tanyanya.

”Kamu sih, sakitnya kelamaan. Jadi banyak ketinggalan berita.” Tambahnya sambil menepuk punggung anak laki-laki itu.  Anak laki-laki itu tidak menjawab, dan hanya diam saja.

”Banyak orang-orang lama yang sudah pindah, kamu sekarang bukan lagi ketua kelas lagi.” Cerocosnya. ”Dan sekarang anak laki-lakinya sudah banyak sehingga tidak udah diundi lagi seperti kita dulu.” Teman dari anak laki-laki itu menyambung bicara.

Ketika mereka sedang berbicara didepan pintu kelas III/A, tiba-tiba seorang anak perempuan masuk. Ya, anak perempuan yang dulu duduk sebangku dengan anak laki-laki itu.

Tanpa menegur anak tersebut masuk terus kedalam kelas, dan anak laki-laki itu hanya bisa memandangi dengan seksama, alangkah terkejutnya ia ketika melihat bahwa anak perempuan tersebut tidak lagi mengenakan tas boneka beruang yang mereka panggil Wimpy, dulunya.

Tanpa sadar, mulut anak laki-laki itupun berujar, ”Iya, sekarang semua telah berubah.” tanpa ekspresi.

”Memang tidak enak, 2 tahun jadi ketua kelas akhirnya menjadi murid biasa.” sambil tertawa.

”Jabatan tidak pernah menjadi masalah bagiku.” Anak laki-laki itu masih memandangi anak perempuan itu bercakap-cakap dengan teaman sebangkunya yang baru.

Melihat ekspresi wajah anak laki-laki itu, teman yang sewaktu kelas II/A sekelas dengan anak laki-laki itupun terdiam, dan mohon pamit kembali kekelasnya.

Dan lonceng tanda masuk pun berbunyi.

Nopember 1993,

Tak terasa waktu berlalu dan kini mereka telah kelas IV sekarang. Tahun ini Madrasah Ibtidaiyah Unggul menjadi tuan rumah MTQ Tingkat Sekolah Dasar Se-Provinsi Daerah Istimewa Aceh, bertempat di Masjid Madrasah tersebut lomba diadakan.

Seorang anak laki-laki meminta izin keluar dari gurunya untuk melihat perlombaan tersebut, walau gurunya tidak mengizinkan, anak itu tetap berkeras dan memohon. Akhirnya karena mempertimbangkan karena anak itu memiliki prestasi yang baik, akhirnya guru tersebut memberikan izin dengan banyak catatan.

Hari ini, yang tampil adalah wakil dari Madrasah tersebut. Wajar bila banyak murid dari sekolah itu ingin melihatnya. Paling tidak, agar wakil dari Madrasah kita tidak grogi dengan juri karena banyak yang mendukung, itulah alasannya kita-kira.

Ketika anak laki-laki tersebut masuk kedalam masjid, wakil dari Madrasah mereka sudah berada dimimbar dan sudah membaca lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Anak laki-laki itupun duduk dan menyaksikan dengan seksama wakil sekolahnya, yang juga teman sekelasnya semenjak kelas I, Fatimah Azzahrah tampil.

Oleh karena, hari ini adalah hari terakhir perlombaan. Maka pengumuman juara dilakukan pada hari itu juga. Selepas Dhuhur maka pengumuman dilakukan oleh juri, banyak murid dan guru berkumpul di Masjid Madrasah tersebut.

”Juara Pertama MTQ tingkat sekolah dasar Se-Provinsi Daerah Istimewa Aceh tahun 1993 adalah Fatimah Azzahrah!” Ketua Dewan Juri mengumumkan.

Seluruh kelas bersorak, Madrasah mereka meraih Juara Pertama. Piala pun dibagikan kepada masing-masing juara. Seorang anak laki-laki yang duduk diantara murid-murid tersenyum lebar, dan tanpa sadar berujar. ”Sungguh jauh kemajuan yang telah engkau capai sekarang.”

”Hebat teman kita sekarang ya? Eh, kamukan dulu dikelas II duduk sebangku dengan dia kan? Kenapa sekarang kalian tidak pernah bicara lagi sekarang?” Tanya teman disebelahnya.

”Karena sekarang saya tidak tahu berbicara apa?” Anak laki-laki itu masih memandang anak perempuan itu dipeluk oleh ibu guru wali kelas IV/A yang bangga dengan keberhasilan anak didiknya.

Oktober 1994,

Hari ini adalah hari yang mengembirakan bagi seorang anak laki-laki, sebagai wakil dari Madrasah Ibtidaiyah Unggul berhasil memenangkan lomba Cerdas Cermat tingkat sekolah dasar di kota Banda Aceh. Teman-teman dan guru-guru memberi selamat kepada tim Cerdas Cermat, mereka sangat bangga akan prestasi sekolah mereka yang akhir-akhir ini semakin baik.

Dalam perjalanan pulang dari tempat perlombaan, yaitu disebuah Stasiun TV Daerah kembali ke sekolah, anak laki-laki itu bergabung dengan teman-teman sekelasnya.

”Hebat kamu padahal masih kelas V sudah jadi juru bicara, juara lagi.” Teman dari anak laki-laki itu memberi selamat.

”Saya tidak hebat, ini semua kerjasama tim. Kakak dan Abang dari Kelas VI juga banyak membantu, saya jadi juru bicarakan untuk persiapan tahun depan ketika nanti mereka lulus.” Anak laki-laki itu mencoba merendah.

Wuuuuu, sok merendah.” Olok-olok teman yang lain.

Sepulang sekolah, setibanya dirumah. ”Abang hebat, juara ya?” Disambut oleh adiknya.

”Darimana adik tahu? Atau tadi ikut pergi juga ke stasiun TV, memangnya anak kelas III boleh ikut?” Tanya abang.

”Boleh dong, adik minta izin sama ibu guru. Karena abang yang bertanding adik minta ikut, dan tadi adik bergabung dengan teman-teman sekelas abang yang perempuan makanya tadi kita tadi tidak bertemu.” Jelas adiknya.

”Bang, tadi adik duduk dekat kak Zahra, itu yang menang juara satu MTQ.” Adiknya penuh semangat.

”Lalu?” Anak laki-laki itu memandang dengan sorot mata meminta penjelasan.

”Kakak itu baik, adik dikasih kue lagi. Terus kakak itu tanya, abang kok bisa pandai selaki ya?” Ceritanya penuh semangat.

”Adik bilang apa?” Anak laki-laki itu meminta penjelasan.

”Adik bilang karena abang suka membaca, oh ya terus adik mendengar ada teman kakak itu yang bertanya dengan kak Zahra” Adiknya tersenyum.

”Bertanya apaan?” tambah penasaran.

”Temannya berkata untuk apa bertanya tentang abang, memang kakak itu suka dengan abang ya?” Adiknya menjelaskan dengan semangat.

”Terus kakak itu jawabnya apa?” Anak laki-laki itu menanti jawaban, dengan penuh harap tentunya.

”Kak Zahra itu bilang apa salahnya suka dengan orang pandai.” Sambil tersenyum.

”Betul, kakak itu ngomongnya begitu.” Anak laki-laki itu mencoba memastikan.

”Untuk apa lagi adik berbohong?” Adiknya mempertanyakan.

”Abang percaya kok, sama adik” Sambil tersenyum lebar sekali.

Januari 1995,

Seorang guru masuk kedalam kelas dan mengumumkan sesuatu. ”Anak-anak hari ini ada berita duka cita, bapak teman kita Fatimah Azzahra tadi malam meninggal dunia untuk itu mari kita mengumpulkan sumbangan seikhlasnya.”

Seorang anak laki-laki diantara para murid terkejut.

”Bukankan itu ayah kedua dari Zahra, betapa malangnya nasibmu temanku dua kali menjadi yatim.” Pikirnya.

”Pantas hari ini dia tidak datang, dia kan duduk didepan sana kalau belajar aku agak susah melihat papan tulis, karena tertutup jilbabnya.” Teman disebelah anak itu nyengir.

”Tidak sepatutnya kita bergembira atas penderitaan orang lain.” tanpa sadar anak laki-laki itu berujar.

Takkala kotak sumbangan datang ke meja mereka, anak laki-laki itu menyerahkan seluruh uang yang ada dikantongnya tanpa pikir panjang.

”Hanya inilah kemampuan saya membantu saat ini.” Pikirnya, tanpa terasa mata anak laki-laki itu panas.

”Bu, saya permisi ke kamar kecil.” Anak laki-laki itu meminta izin kepada guru.

”Silahkan nak.” ibu guru mempersilahkan anak tersebut untuk permisi.

Tak pernah terbayangkan, dalam keriangannya ternyata Zahra menyimpan luka, dan hari ini bertambah dalam. Pantas saja, terkadang ia terlihat lebih dewasa dari umurnya. Inilah hidup dimana usia tak mampu membatasi kedewasaan seorang anak manusia. Setelah berada didalam kamar kecil, anak laki-laki itu pun menangis dan itu merupakan air mata yang diam. Hari ini tanpa disadari ia bertambah dewasa.

Pembagian Ijazah Juni 1996,……………..

Akhirnya anak laki-laki itu memiliki keberanian, ia pun mendatangi anak perempuan itu. Walau sudah lama mereka tidak berbicara, tapi ia yakin itu semua bukan masalah karena berdua saling mengerti.

Saling tertangkap basah beradu pandang adalah salah satu ritual yang bertahun-tahun mereka jalani, tanpa saling berbicara. Dan mungkin besok akan berakhir ketika mereka tiada bersekolah ditempat yang sama.

Anak laki-laki itu memulai pembicaraan ”…………, kamu setamat dari Madrasah ini akan melanjutkan sekolah kemana?”

”Kalau saya akan melanjutkan ke Tsanawiyah, kalau kamu kemana?” Anak perempuan itu balas bertanya.

”Kalau saya akan melanjutkan ke SMP 1.” Anak laki-laki itu dengan wajah kecewa.

”Wajar kalau kamu melanjutkan ke SMP itu, soalnya nilai NEM kamukan tinggi” Nada suaranya melunak mengiris. ”Sedang saya cukup di Tsanawiyah, kebetulan disana saya mendapat beasiswa.” jelas anak perempuan itu.

Anak laki-laki itu hanya bisa memandang, dari tatapan matanya seolah ia mengerti mengapa anak perempuan itu mengambil pilihan tersebut.

”Saya masuk SMP 1 sebenarnya karena dipaksa oleh mama karena yang menganggap mutunya bagus, padahalkan belum tentu?” Bagaimanapun ia tidak bisa meninggikan diri dihadapan perempuan yang disukainya.

”Walaupun orang menganggap lulusan disana banyak yang menjadi orang hebat sebenarnya saya tidak terlalu suka masuk kesana, biasalah tuntutannya terlalu tinggi.” Anak laki-laki  keceplosan, agak.

Dan wajah anak perempuan itu adalah tanpa ekspresi, dingin.

”Kalau begitu, sampai jumpa di lain waktu.” Anak laki-laki itu menjulurkan tangannya.

Anak perempuan itu hanya mengangkat dan mengatupkan kedua tangannya kedepan tanpa menyambut tangan anak laki-laki itu, dan wajah anak laki-laki itu pun memerah.

”Sampai jumpa.” Katanya sambil berbalik.

Seraya menatap jalan panjang yang masih terbentang, ia merobek sebuah kertas yang bertuliskan kata-kata indah yang sebenarnya akan ia berikan ketika mereka bersalaman.

Yang ia buat dengan dengan pengetahuan berbahasa Inggris pas-pasan, akan tetapi ia telah berusaha semalaman. Sebuah kertas yang bertuliskan ”Many womens in the world only you the choosen one. Thank to  you have been giving the best time in my live, and would you became my soulmate until end of my live.”

Anak laki-laki itu tidak pernah tahu, apakah tulisan itu benar atau salah karena ia tidak pernah memperlihatkan kepada orang lain. Biarlah itu semua menjadi sebuah rahasia.

”Betapapun hancur hati seorang lelaki tidak sepatutnya ia menampakkannya.” Kata hatinya  sambil berjalan gontai, sehingga anak laki-laki itu berpikir.

”Mulai dari sekarang, aku harus bersiap-siap kehilangan dirinya.”

Juli 1996,

Hari ini adalah hari pertama seorang anak laki-laki masuk dalam sebuah lingkungan baru, lingkungan Sekolah Menengah Pertama. Anak tersebut berkeras tidak usah diantar oleh orang tuanya, ia ingin membuktikan bahwa ia telah menjadi manusia mandiri.

Ketika pertama sekali ia menginjakkan kaki di halaman sekolah ia berjumpa dengan seorang teman satu almamater dari Madrasahnya dulu.

”Tidak diantar oleh orang tua.” tanya temannya.

”Tidak dong.” Katanya mantap.

Mereka semua pun berkumpul dilapangan upacara untuk mengikuti pengarahan dari Kepala sekolah, dan disana juga pembagian kelas diatur. Ternyata anak laki-laki tersebut berada dalam satu kelas yang sama.

Teman dari anak laki-laki mencoba menggoda.

”Ingat tidak, waktu pertama kali masuk Madrasah dulu? Kamukan nangis-nangis di hari pertama?” Tanya temannya.

”Ingat.” Sambung anak laki-laki tersebut.

”Kamu tidak malu?” Tanya temannya.

”Tidak, karena saya akhirnya tahu bahwa mama saya sangat menyayangi saya.” Ujarnya.

”Kenapa bisa begitu.” Tanya temannya.

”Karena cuma mama yang masuk menemani anaknya belajar didalam kelas sedang orang tua yang lain meninggalkan anaknya ketika sudah masuk kelas.” Katanya mantap.

”Dasar anak manja, bisanya ngeles terus.” Temannya tidak mau mengalah.

Dan anak laki-laki itupun hanya diam.

Desember 1997,

”Baja, ada teman kita di Tsanawiyah kirim salam untuk kamu” Seorang anak perempuan dari lain kelas masuk dan memberi kabar.

”Yang mana? Teman kita yang sekolah di Tsanawiyahkan banyak?” Tanya anak laki-laki tersebut.

”Alah, kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Itu yang selalu kamu titip salam sama aku itu lho, masak tidak tahu.” Anak perempuan itu memberi penjelasan.

”Iya, tapi kamu jangan nyerocos macam mercon cabe begitu.” Sambil tersenyum.

”Sekarang sudah bisa ya bilang aku kayak mercon cabe, Awas !!! Nanti tidak aku sampaikan lagi salamnya, mentang-mentang dulu satu Madrasah mau menjajah lagi, sekarang sudah zaman SMP tahu.” Anak perempuan itu mendelik.

”Ampun deh, putri duyung eh putri salju pokoknya putri tercantik di dunia jangan marah dong kepada hamba.” Anak laki-laki itu mencoba menggoda.

”Rayuan dodol tahu, itu rayuan tahun berapa? Sekarang tidak laku lagi. Sekarang itu rayuan pake bakwan, donat atau makanan lainnya.” Benar-benar seperti mercon cabe.

”Iya deh, kalau begitu ayo ke kantin tapi jangan banyak-banyak soalnya krisis moneter neh.”

”Ayo ke kantin, baru dengar heboh krisis moneter di TV tadi malam di dunia dalam berita, langsung praktek sama aku lagi. Tidak banyak-banyak kok akukan juga punya perasaan.” Belanya.

Setelah tiba dikantin, sambil makan bakwan anak perempuan itu berujar ”Aku heran dengan kalian berdua, selalu kirim salam jumpa tidak pernah lagi, bagaimana sih kalian ini?” Dengan wajah penasaran.

”Mungkin inilah yang terbaik bagi kami berdua.” Dengan tatapan mata yang kosong.

Januari 1999

”Kamu tahu tidak? Ibu dari teman kita Zahra yang bersekolah si Tsanawiyah meninggal dunia, kasihan sekali dia sekarang menjadi yatim piatu.” Seorang teman berbicara kepada seorang anak laki-laki.

”Yang benar? Maksudmu si Fatimah Azzahra, jangan main-main.” seorang anak laki-laki bereaksi dengan cepat.

”Ya, iyalah. Kalau tidak salah dia pernah duduk sebangku dengan kamu sewaktu kelas II Madrasah kan?” Jelasnya.

”Sudah lama? Sekarang dia tinggal dimana?” Tanyanya penasaran.

”Sudah 3 bulan yang lalu, sekarang dia tinggal dirumah saudaranya didaerah pinggir kota.” Lanjutnya.

”Aku kok tidak dikasih tahu?” Anak laki-laki itu penasaran.

”Aku juga baru tahu, yang bilang teman sekelas dia di Tsanawiyah kebetulan dia tetangga aku. Lagian kalau dia yang kasih tahu sendiri kan tidak mungkin, mentalnya kan sedang down.” Penjelasan dari temannya.

Laki-laki itu seolah-olah mengerti dengan alasan yang diberikan oleh temannya. Setibanya dirumah, anak laki-laki kembali meneteskankan air mata. Ditengah kegundahan hati ia menuliskan kata-kata disecarik kertas. Setelah selesai ia membacanya ”Mencintai itu, merasa lebih bahagia dari pada kebahagiaan  yang ia rasakan. Mencintai itu bisa pula merasa sakit lebih dari kesakitan yang ia rasakan, mencintai terkadang membahagiakan terkadang menyakitkan.”

”Begitu banyak cobaan yang menimpa, semoga engkau tabah menjalaninya, aku hanya dapat membantu doa.” ujarnya sambil memasukkan kertas tersebut dalam dompetnya.

September 2000,

Suatu siang, seorang anak laki-laki dengan mengenakan seragam SMU turun dari mobil angkutan disebuah terminal. Tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya dan ia pun menoleh, ternyata yang memanggil adalah seorang anak laki-laki dengan seragam Madrasah Aliyah.

”Baja apa kabar? Sudah lama kita tidak berjumpa.” Sapa anak dengan seragam Madrasah Aliyah. ”Bagaimana rasanya sekolah di SMU favorit.” Sambungnya.

”Satu-satu dong nanyanya.” Anak SMU itu tersenyum.

”Kamu ini, masih saja serius macam yang dulu. Tidak pernah berubah sedikitpun.” Anak berseragam Aliyah menepuk punggung temannya tersebut.

”Baiklah, SMU tempat aku bersekolah itu biasa saja cuma namanya saja yang favorit, kamu sendiri bagaimana di sekolah kamu dan kalau tidak salah sekolah kaliankan Madrasah Aliyah terbaik di kota kita ini kan?” Anak berseragam SMU itu balik bertanya.

”Sama juga, tapi jelek-jelek begini sekarang aku anggota OSIS sekarang.” Sambil menepuk dada, dengan maksud bercanda tentunya.

”Hebat dong, kamu sekarang.” Sambil menyalami temannya tersebut.

”Kalau begitu, bagaimana kabar teman kita yang lain? Yang lepasan Madrasah Ibtidaiyah Unggul?” Sambung anak berseragam SMU tersebut.

”Kamu, tahu tidak? Teman kita ada juga yang menjadi Sekretaris OSIS di Aliyah kami, tapi kamu pasti terkejut kalau tahu siapa orangnya.” Anak berseragam Madrasah Aliyah mencoba membuat teka-teki.

”Siapa orangnya? Kalau kamu tidak memberitahu ya otomatis aku tidak tahu.” Anak SMU itu bertanya.

”Kamu itu, pake kata-kata otomatis biar seperti Bombom dalam sinetron Bidadari ya?” Anak berseragam Aliyah tersebut.

”kamu ini kalau ditanya malah lari ke sinetron, jadi siapa orangnya jangan berbicara berputar-putar seperti itu.” Anak SMU itu mengoyang-goyangkan tangan temannya.

”Oke, yang jadi sekretaris OSIS Aliyah kami itu anak yang kami olok-olok pacaran sama kamu sewaktu kita masih Madrasah ibtidaiyah, itu yang suka main boneka-bonekaan sama kamu itu dulu.” Temannya menyerah juga.

”Maksud kamu Fatimah Azzahra, hebat dia sekarang ya.” Anak berseragam SMU itu tersenyum lebar.

”Iyalah, eh kami dengar-dengar kamu di SMU jadi Playboy ya? Gosip yang beredar seperti itu di tempat kami, bahkan dia pernah menanyakan apa kebenaran gosip itu kepada aku.” Temannya mencolek perut anak laki-laki itu.

”Terus kamu jawab apa?” Bagaimanapun dahulu mereka berteman akrab dan tak mungkin ia bisa salah menilai.

”Aku jawab mungkin saja benar, kita kan sudah lama tak bertemu mana aku tahu.” Anak berseragam Aliyah berbisik.

”Kacau kamu ini merusak nama baik aku, besok kalau kamu berjumpa dia tolong kamu bilang sama dia gosip itu tidak benar! Jangankan jadi Playboy, pacaran saja aku tidak pernah.” Anak SMU itu kesal.

”Yang benar?” Anak berseragam Aliyah mencoba menggoda.

”Kamu tidak percaya sama teman sendiri.” Anak berseragam SMU itu mendelik.

”Iya, aku percaya sama kamu.”

”Gitu dong, eh jangan lupa ya! Tolong kamu bilang sama dia apa yang aku bilang tadi.” Anak berseragam SMU itu seraya tersenyum.

”Beres bos, tapi aku juga punya gosip tentang dia.” Anak berseragam Aliyah sekali lagi memelankan suara.

”Kamu ini sekarang jadi anggota OSIS atau bandar gosip sih?” Anak berseragam SMU sambil tertawa.

”Dengar dulu menurut info yang dapat dipercaya, sekarang dia jadian dengan ketua OSIS kami” Bisik temannya nakal. ”Dan setelah aku lihat sendiri, itu bisa jadi benar karena mereka berdua tampak sangat akrab.” Anak berseragam Aliyah berbisik sambil cekikikan.

Dan ketika mendengar gosip tersebut. Tawa dan senyum hilang dari wajah anak berseragam SMU berganti cemberut.

Pebruari 2001,   

Sekian lama mereka tidak berjumpa, hampir 5 tahun lamanya. Walau tidak pernah bertatap muka sama sekali, mereka saling mengirim salam dan seolah masih tetap saling mengenal.

Akan tetapi ketika harus duduk berhadapan, lidah mereka menjadi kelu dan tiada mampu mengeluarkan suara. Ini terjadi disuatu pagi, didalam sebuah angkutan umum jurusan kampus negeri yang menuju searah sekolah mereka. Pagi itu, ketika mereka hendak pergi sekolah, dan mereka hanya bisa saling menatap tanpa mengeluarkan suara.

”Bagaimana ya, apa yang harus aku katakan.” Anak laki-laki itu mencari akal.

”Kenapa dia tidak menegur, apakah dia sudah lupa dengan saya?” Praduga anak perempuan itu.

”Apakah etis kalau aku bertanya tentang gosip dirinya dengan ketua OSIS sekolahnya? Tidak, itu privacy orang lain” Anak laki-laki menimbang baik-buruk dalam pikirannya.

”Apakah kalau dia menegur, ia takut ketahuan pacarnya? Menurut gosip di sekolahnya dia kan Playboy.” Pikiran anak perempuan tersebut.

”Dia semakin cantik.” Anak laki-laki menilai anak perempuan di depannya.

”Dia semakin dewasa.” Anak perempuan menilai anak laki-laki di depannya.

”Garis-garis wajahnya menunjukkan tipe perempuan tegar yang jelas aku sukai.” Anak laki-laki itu tersenyum sendiri.

”Bentuk dahinya yang lebar menunjukkan bahwa ia orang yang cerdas.” Anak perempuan itu juga tersenyum.

”Siapa yang turun disimpang Jambotape?” Tanya sang kernet.

”Saya bang.” Anak perempuan itu menyahut.

”Dia sudah hampir sampai, kenapa mulutku terasa terkunci.” Anak laki-laki itu menyesali dirinya.

”Saya sudah hampir sampai, kenapa dia tenang saja.” Anak perempuan itu berharap.

”Kiri, kiri, kiri!” Kernet memberi kode.

Dan anak perempuan itu pun turun disimpang Jambotape yang dekat dengan sekolahnya dengan perasaan kecewa, sedangkan anak laki-laki itu tidak pernah membenci dirinya sebenci hari itu

Agustus 2002,

”Selamat kamu lulus.” Seorang laki-laki menjulurkan tangan setelah meletakkan koran lokal disampingnya.

”Selamat pula kamu juga lulus SPMB.” Temannya membalas uluran tangan.

”Mulai hari ini kita adalah seorang mahasiswa, selamat tinggal kehidupan indah di SMU.” Temannya menyambung.

”SMU memang indah, tapi aku pernah merasakan saat yang lebih indah” Mata anak laki-laki itu menerawang.

Alah, kamu memang begitu sok puitis. Kalau aku jelas sedih meninggalkan masa-masa SMU, akan tetapi dunia mahasiswa lebih menantang.” Sambungnya optimistis.

Anak laki-laki itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku temannya tersebut, dan ketika membolak-balik koran ia menemukan sebuah nama yang familiar.

Nama yang dulunya selalu ia sering mengirim salam, dan nama Fatimah Azzahra nomor ujian 11717829 lulus di Institut Agama Islam dikotanya, jurusan Tarbiyah.

”Dia memang cocok disana pikirnya, sesuai dengan cita-citanya dulu menjadi guru.” Dan senyumnya pun semakin melebar.

Desember 2004

 ”Air laut naik, air laut naik.” Teriak orang-orang dari kampung sebelah.

”…………… air laut naik, cepat lari!” Orang-orang pun berlarian.

”Bagaimana ini nak?” Seorang ibu bertanya kepada anaknya.

”Apa mungkin air naik ma? Barusankan terjadi gempa. Yang namanya bencana itu tidak mungkin datang dalam rentang waktu yang berurutan.”

Dan orang-orang pun berlarian dijalan, motor ngebut, suara klakson mobil bersahut-sahutan riuh bercampur aduk pagi itu.

”Begini saja, mama dan adik-adik naik mobil tetangga sebelah sedang rumah biar saya yang menjaga, siapa tahu ini semua ulah provokator.” Sang anak memberi pengertian.

”Tapi, kalau air laut betul-betul naik ke darat bagaimana?” Sang Ibu masih cemas.

Insya Allah saya tidak akan apa-apa, saya akan naik ke tingkat dua. Yang penting mama dan adik-adik berangkat duluan.” Anak tersebut masih tenang.

”Nak, jaga diri ya? Sejak ayah meninggal awal tahun ini, kamulah kepala keluarga di rumah ini.” Sang ibu masih khawatir.

”Iya ma, mama tenang saja.” Sang anak menenangkan ibunya.

Tin….tin…..tin……. Klakson mobil tetangga sebelah memanggil.

”Sudah sekarang mama dan adik-adik berangkat segera!” Perintah anak laki-laki tersebut.

”Ayo dik, cepat!” Sang ibu menarik tangan anak-anaknya yang lain naik kedalam mobil tetangga, setelah masuk mobil itu pun berangkat sedang anak laki-laki itu hanya memandangi.

Lima menit kemudian, anak laki-laki itu melihat dari kejauhan sebuah gelombang raksasa datang dari arah barat meluluhlantakkan segala yang dilaluinya. Dan segera ia naik ke tingkat dua rumahnya menanti datangnya gelombang tersebut.

Manusia boleh memperkira rencana akan tetapi hanyalah Allah SWT yang memiliki kuasa menentukan. Berkat rahmat Allah SWT gelombang itu hancur dan menjadi rembesan air yang membawa sampah tepat diseberang jalan rumah anak laki-laki tersebut.

Sambil menarik nafas, anak tersebut terpaku melihat apa yang terjadi bagaikan baru lolos dari lubang jarum karena diberi kesempatan oleh yang kuasa untuk hidup lebih lama.

Maret 2005,

”Kamu yakin? Bekerja di kota Lhokseumawe nak?” Tanya seorang ibu kepada anak laki-lakinya.

”Saya sudah mantap ma.” Anak laki-laki tersebut mantap.

”Zaman sekarang mencari kerja sangat susah. Kebetulan saat ini saya mendapat kesempatan, rugi rasanya kalau tidak saya ambil.” Jawab anak laki-laki tersebut.

”Walaupun kamu anak laki-laki, di negeri orang kamu tetap harus menjaga diri nak.” Ibunya memberi nasehat.

Insya Allah ma.” Anak laki-laki itu mengiyakan.

”Disana nanti jangan sesekali tinggal shalat nak, itulah bekal kita hidup di dunia.” Tambah sang ibu.

”Segala nasehat mama akan saya ingat sebagai petunjuk jalan hidup saya.” Laki-laki tersebut menyakinkan.

”Mama dan adik di sini juga jaga diri, saya sebenarnya masih khawatir karena sampai tadi malam gempa susulan masih sering terjadi.” Laki-laki itu memandang wajah ibunya dengan wajah khawatir.

”Jangan khawatir nak, kalau kamu sudah mantap maka pergilah! Insya Allah kami disini akan baik-baik saja.” Balik sang ibu menenangkan kegundahan anaknya.

”Saya mohon izin ma, dan juga saya mohon doa restu ma.”laki-laki itu menciumi tangan ibunya.

”Kerja disana jaga diri ya nak.” Ibu anak tersebut mengulangi pesannya sekali lagi sambil membelai kepala anaknya.

”Kalian kenapa bengong? Ayo salaman dengan abang sebelum abang berangkat!” Ibu menyuruh adik dari laki-laki itu untuk menyalami abang mereka.

Maka adiknya pun menciumi tangan abangnya, dan anak laki-laki itu pun membelai rambut adiknya.

”Abang pergi dulu ya.” Anak laki-laki itu mencoba mencairkan suasana dengan melambaikan tangan seraya melangkah meninggalkan halaman rumah mereka.

”Dadah abang.” Adiknya pun melambaikan tangan.

Anak Laki-laki itu pergi dalam langkah-langkah pasti, dengan diiringi pandangan ibu dan adiknya. Di jejak langkah itu, tertanam tekad dihatinya. ”Mulai hari aku adalah seorang laki-laki yang harus berjuang sendiri di negeri orang. ’ Dan ketika bus yang ia tumpangi meninggalkan kota, suara hatinya berteriak.

”Aku harus berhasil!”

Juni 2006,

Tit, tit, tit……… Suara nada dering HP model awal berbunyi.

”Halo, Assalamualaikum.” Lelaki itu menjawab telepon.

”Waalaikumsalam.” Suara dari seberang

”Adi, Hey apa kabar? Kamu nelpon kok malam-malam.” Tanya lelaki itu sambil tersenyum.

”Inikan jam tarif hemat. Akukan masih kuliah, tidak seperti kamu sekarang yang sudah bekerja.” Suara dari seberang membalas candaan.

”Iya deh, terserah kamu saja. Bagaimana keadaan di sana sekarang?” tanya lelaki itu.

”Aku baik, kamu tuh sudah lama tidak pulang kemari, sudah kerasan disana?”

”Atau sudah ada calon?” Goda suara dari seberang.

”Ada aku pulang bulan April kemarin sebentar. Calon? Sepertinya belum rezeki kali ya?.” Lelaki itu sambil tertawa.

”Kamu ini, pulang kemari tidak memberi kabar. ”Aturannya kitakan bisa bertemu, akukan juga rindu sama kamu. Begitu ya kamu dengan teman lama?” Suara diseberang seperti merajuk.

”Aku minta maaf, jadwal aku disana sangat padat itupun hanya sebentar.” Nada penyesalan dalam suara laki-laki tersebut.

”Tapi nanti seandainya aku pulang lagi kamu pasti akan aku kabari, janji.” Lelaki itu akhirnya tertawa melihat tingkah laku temannya.

”Oh, iya aku ada undangan untuk kamu minggu depan.” Suara dari seberang mencoba to the point.

”Undangan? Nikah gitu? Kamu hebat masih mahasiswa sudah berani menikah.” Lelaki itu tertawa senang.

”Bukan! Kalau aku niat memang ada, tapi Surat Izin Menikah belum juga keluar dari orang tua.” Balas suara dari sebelah kesal.

”Oh, jadi undangan sunatan? Kamukan sudah dikhitanan bertahun-tahun yang lalu.” Goda lelaki itu lagi.

”Ya, undangan nikahI Tapi bukan aku, begini kamu masih ingat tidak teman kita yang kuliah di IAIN itu?” Tanya suara dari sebelah. “Nah Sekarang dia sudah lulus, kebetulan aku bertemu dengan dia beberapa hari yang lalu, kemudian dia mengundang ke pernikahannya.” Suara dari seberang panjang lebar.

”Teman kita yang kuliah di IAIN kan banyak? Ada teman rumah, teman ngaji, teman Madrasah, teman SMP, teman SMU, belum lagi teman-teman yang lain. Terlalu luas cakupan yang kamu berikan.” Lelaki itu meminta penjelasan.

”Belum sedikitpun sifat kamu itu berubah, masih seperti dulu kaku.” Teman diseberang memang rajanya bercanda.

”Tanya namanya saja kenapa?” Sambungnya.

”Si Fatimah Azzahra, yang juara MTQ sewaktu kita masih di Madrasah. Masih ingat tidak? Masak kamu lupa dengan obsesi masa lalu?” Suara dari seberang  sambil tertawa.

Seketika wajah lelaki itu berubah.

”Kalau dia mana mungkin saya lupa.” Jawab lelaki itu, sekilas ia teringat bait-bait syair yang baru-baru ia tulis ”Hanya dengan angan-anganku tentang dirimu aku dapat bertahan, dan hanya dengan kenangan kita membuat aku semakin kuat, walau semua telah berlalu, dan berakhir sudah.”

”Hoy, kenapa diam? Sewaktu dia mengundang sengaja tidak pakai undangan karena pestanya sederhana, sekalian juga katanya tolong mengundang teman-teman yang lain.” Tanpa memberi kesempatan kepada laki-laki itu untuk menyela.

”Dia sempat menanyakan keberadaan kamu dan minta tolong mengundang kamu, dia masih ingat sama kamu tapi aku sih tidak heran kalian kan sempat dekat satu bangku lagi sewaktu madrasah, gimana kamu datangkan?” Suara dari seberang menjelaskan sedetail-detailnya yang mampu ia katakan.

”Dia masih ingat?” Pikir laki-laki itu.

”Padahal terakhir kami bertemu sekitar 5 tahun yang lalu itu pun hanya sebentar.” Ujar lelaki itu tanpa sadar. ”Kapan acaranya?” Sambungnya.

”Acaranya tanggal 22 Juli 2006, di Masjid Al-Makmur sudah dulu, pulsa aku sepertinya semakin menipis nih dan sesekali kamu menelpon aku ya?” Suara dari seberang masih bersemangat.

”Insya Allah, kapan-kapan nanti kamu aku hubungi.” Lelaki itu memberi janji.

”Jangan janji-janji kosong, akan aku tagih. Sudah dulu ya. Assalamualaikum.” Suara dari seberang buru-buru.

”Waalaikumsalam, dan terima kasih atas informasinya.” Dan telepon terputus.

”Akhirnya, tiba juga hari ini.” Pikir lelaki itu. Ia pun membuka dompetnya kemudian mengeluarkan secarik kertas yang bertahun-tahun yang lalu ia simpan. Terakhir sebelum merobeknya, ia membaca tulisan pada kertas itu untuk terakhir kalinya Mencintai itu, merasa lebih bahagia dari pada kebahagiaan  yang ia rasakan. Mencintai itu bisa pula merasa sakit lebih dari kesakitan yang ia rasakan, mencintai terkadang membahagiakan terkadang menyakitkan

Tiada yang mengetahui perasaan lelaki itu malam itu, bahkan mungkin lelaki itu sendiri. Akan tetapi malam itu lelaki itu melakukan sujud syukur yang panjang. Dan malam semakin larut.

”Biarlah bait-bait puisi puisiku padamu tersimpan dihatiku yang terdalam, tiada akan pernah aku berikan pada siapapun, tidak pula untuk dirimu. Biarlah ia bersemayam disini, direlung hatiku yang paling dalam”

Juli 2006,

“Saya terima nikahnya Fatimah Azzahra Binti Maimun untuk saya dengan mas kawin 12 mayam emas dibayar tunai!” Mempelai Laki-laki melafalkan akad dengan mantap.

“Bagaimana para saksi?” Tanya Penghulu. “Sah!” Kedua saksi mengangguk.

Mempelai perempuan hanya menunduk, wajahnya tersipu dan bibirnya terukit seulas senyum. Suasana menjadi sumrigah, bias-bias kegembiraan kedua mempelai menjalar membius para hadirin sehingga suasana penuh dengan senyuman.

Dan diantara banyak orang, hanya ada satu orang yang memejamkan mata. Mencoba menahan gejolak didada yang menggelegak, dan disela kantuk yang menyambar ia mencoba mengingat perjalanannya menuju kemari. Tiba tadi Shubuh di kota yang amat dicintainya kemudian shalat dan bersalin pakaian di terminal. Itu semua dilakukannya untuk dapat hadir di acara ini.

“Benar-benar melelahkan.” Pikirnya, dari sudut masjid itu matanya kembali terbuka memandang kearah kedua mempelai.

“Memang kedua mempelai pasangan serasi ya?” Tanya orang disebelah laki-laki itu. Laki-laki itu hanya terdiam sambil mengangguk, kemudian ia mengalihkan pandangan kesamping dan bertanya

“Kalau boleh tahu, bapak siapa?”

“Oh, perkenalkan Saiful, saya paman dari pengantin laki-laki, kalau adik ini?” Bapak tersebut balik bertanya.

“Saya teman pengantin perempuan, kami satu sekolah.” Jawab laki-laki tersebut.

“Coba lihat kesana!” Bapak tersebut menunjuk kearah kedua mempelai. “Mereka benar-benar serasi ya?” Bapak tersebut mengulangi pertanyaannya sebelumnya. “Iya pak.” Laki-laki itu tersenyum melihat kegembiraan bapak tersebut, senyumnya yang pertama di hari ini.

“Keponakan saya calon dokter sedang istrinya calon guru, kurang cocok apalagi?” Bapak tersebut masih larut dalam kegembiraan.

Laki-laki itu kembali tersenyum.

“Adik ini pasti belum menikah?’ Tebak bapak tersebut.

“Kepada hadirin dipersilahkan untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai!” Suara MC dari arah mimbar menarik perhatian keduannya sehingga percakapan tadi terputus.

“Ayo dik, kita kesana memberi ucapan selamat.” Bapak tersebut bangkit dari tempat duduknya mengajak laki-laki itu.

“Silahkan pak, saya sebentar lagi menyusul.” Laki-laki itu mempersilahkan Bapak tersebut. Dan bapak tersebut pun beranjak menuju kerumunan orang-orang yang antri untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Dan laki-laki itupun beranjak meninggalkan Masjid tersebut.

Langit yang cerah bersama mega-meganya memeyungi kepergian laki-laki tersebut. “Sudah sepantasnya aku untuk hadir.” Laki-laki tersebut berbicara pada dirinya sendiri. “Aku turut berbahagia.” Tambahnya dengan senyuman memandang angkasa dengan penuh keyakinan.

Masih di hari yang sama,

“Sepertinya dinda melihat seorang teman lama, kanda.” Pengantin perempuan berbisik kepada pengantin laki-laki seraya menyalami para tamu yang menghampiri.

“Siapa dan dimana dinda?” Pengantin laki-laki berbisik mesra kepada pengantin perampuan.

“Itu, disana ……” Suara pengantin perempuan terputus ketika melihat orang yang ia maksud tidak ada lagi ditempatnya semula. “Mungkin hanya perasaan dinda saja.” Suara pengantin perempuan bernada kecewa.

“Dinda terlalu banyak perasaan atau jangan-jangan mantan pacar dinda yang datang ya?” Pengantin laki-laki menggoda.

“Ah, kanda bisa saja.” Pengantin perempuan mencubit lengan pengantin laki-laki dengan gaya merajuk.

“Aduh, sakit.” Pengantin laki-laki tertawa terbahak melihat gurauannya ditanggapi serius sedang pengantin perempuan pun tersipu malu. Para tamu pun tersenyum menyaksikan adegan tersebut pun tersenyum melihat tingkah laku kedua mempelai.

Hari ini kedua mempelai mulai mengarungi bahtera rumah tangga berdua, hari ini dua insan disatukan dalam tali pernikahan, dan hari ini akan diingat sebagai hari bahagia bagi kedua mempelai hingga akhir hidup mereka.

XXXXX

Disudut lain kota ini.

“Dik, ada tiket bus ke kota Lhokseumawe sekarang?” Seorang laki-laki kepada penjaga loket diterminal.

“Kebetulan bang, pukul 11 ada mobil kesana.” Jawab penjaga loket terminal.

“Saya ambil satu.” Laki-laki itu mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkannya kepada penjaga loket.

“Terima kasih, ini tiketnya bus berangkat sebentar lagi.” Penjaga loket menunjukkan busnya kemudiam melihat jam ditangannya. Laki-laki tersebut mengambil tiket dan menuju bus yang ditunjuk oleh penjaga loket tersebut.

Ketika hendak menaiki bus tersebut, laki-laki tersebut ditegur oleh kernet bus tersebut. “Abangkan yang tadi shubuh naik mobil ini, kok cepat sekali kembalinya.”

“Urusan saya disini sudah selesai dan sudah saatnya saya kembali.” Jawab laki-laki itu tenang.

“Kalau begitu selamat menggunakan bus ini kembali, mungkin bus ini memang berjodoh dengan abang.” Kernet mobil tersebut tersenyum memainkan handuk dilehernya.

“Kamu bisa saja.” Laki-laki itu tertawa terbahak hingga gigi gerahamnya kelihatan. Kernet itu kembali meneruskan pekerjaannya dan laki-laki itu pun naik kedalam bus dan duduk dibangku yang tertulis pada karcis. Sejenak setelah ia duduk di bangku tersebut, ia mengeluarkan segumpal kertas dari dalam kantongnya. Laki-laki tersebut membaca untuk yang terakhir kalinya ”Hanya dengan angan-anganku tentang dirimu aku dapat bertahan, dan hanya dengan kenangan kita membuat aku semakin kuat, walau semua telah berlalu, dan berakhir sudah.” Kemudian ia merobek kertas tersebut menjadi serpihan-serpihan kecil dan ia membuangnya keluar.

”Selamat tinggal masa lalu, kini aku harus menatap masa depan.” Sekali lagi ia berbicara dengan dirinya sendiri. Tak lama kemudian bus itupun berangkat meninggalkan terminal kota itu menuju tujuan layaknya seorang anak manusia yang beranjak dewasa menuju masa depan yang ada dihadapannya.

XXXXX

THE END

adalah mimpiku

untuk melihat pelangi dimatamu

setelah badai hujan menguasai

kilat petir menyambar seolah tiada henti

 

membaui udara kala hujan selesai

menghirup wanginya menggelegak

seandainya hari itu tiba

bahagiaku untuk dirimu

Lhokseumawe, 29 Juli 2006

XXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Ada Banyak Cinta; 15 Maret 2011;
  24. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  25. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  26. Ashura; 13 Februari 2013;
  27. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  28. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  29. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  30. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  31. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  32. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  33. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  34. Perjalanan; 29 November 2013;
  35. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  36. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  37. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  38. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  39. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  40. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  41. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  42. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  43. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  44. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  45. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  46. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  47. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  48. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  49. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  50. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

PENYIHIR TERAKHIR

HUTAN BRIJEG

Hutan tempat Para Penyihir Terakhir terlihat.

PENYIHIR TERAKHIR

Hutan Brijeg di depan mata. Menurut cerita lisan dari suku Bogomil adalah tempat para penyihir bersemayam. Legenda dan mitos seolah memanggilku menuju kesana. Ada jalan memutar untuk menuju Sarajevo namun panggilan hatiku mengalahkan rasa takut yang telah ditanamkan oleh para leluhur.

Aku turun dari kereta kuda. “Goran, berikan aku kuda. Kita lewat hutan ini saja!” Aku tidak terbiasa naik kuda. Bahkan akan menimbulkan ruam-ruam dipaha. Tapi kali ini tak apa.

“Tuan apakah tidak lebih baik kita melewati jalan biasa. Hutan ini adalah sarang penyihir.” Usul Goran, yang terlihat disetujui oleh para pengawal lainnya.

Aku tersenyum. “Perjalanan dari Istambul sudah sangat melelahkan. Tidak adalahnya kita memotong jalan. Lagi pula adakah diantara kalian yang pernah melihat penyihir? Ayo maju!!!”

Dengan enggan mereka mengikuti. Hutan Brijeg mungkin seumur dengan bumi. Rombongan berjalan pelan mengindar menyingung pepohonan yang tumbuh rapat. Setengah hari perjalanan, tidak ada yang istimewa sampai kami tiba di padang yang tak sebegitu luas. Sebuah perkampungan tua yang telihat telah ditinggalkan oleh para penghuninya. Mungkinkah ini dulunya adalah perkampungan para penyihir? Rasa takut dan ingin tahu bercampur di benak kami semua.

Hari menjelang gelap sehingga kami melihat di kejauhan pijar api di sebuah rumah. Nedzad menganjurkan supaya kita segera pergi. Namun panggilan hatiku semakin kuat. “Goran, Nedzad, Ceric ikut aku kesana! Sedang yang lain tinggal disini untuk menyiapkan tempat. Kita bermalam disini!” Aku memacu kudaku tepat kerumah itu.

Sama seperti rumah-rumah yang lain, rumah ini tak terurus. Dindingnya terbuat dari tanah berlumpur yang dikeraskan dengan ranting-ranting kayu sebagai atap.

“Silahkan masuk lord Milovan!” Sebuah suara memanggil, aneh karena suara tersebut mengenali namaku. Kami masuk dengan pelan. Suasana hening, siapa yang menduga seseorang yang tingal di hutan tersembunyi mengetahui siapa tamu yang datang. Dapat diduga dia adalah satu dari sekian penyihir yang menjadi legenda dalam tradisi lisan suku kami.

Seorang nenek tua berjubah hitam duduk dibelakan meja serata memegang bola Kristal bercahaya merah yang berpola urat kayu berwarna merah. Wajahnya bopeng seperti orang terkena penyakit lepra, dia tersenyum pada kami, giginya beberapa sudah tanggal sungguh menyeramkan.

“Mengapa harus terkejut melihatku, jika kalian baru kembali dari Istambul, sebuah dunia yang lain? Sedang aku adalah bagian dari bangsamu Lord White Milovan?” Kami terdiam, jelas si penyihir memberitahukan identitas dirinya.

“Kalian telah memilih mengikut kepada Turki dan meninggalkan kepercayan pagan. Padahal diseantero Eropa hanya tinggal suku kita yang masih memuja Dewa dan Dewi.” Kata-katanya terlihat sedih. Dan kami siap menerima kemarahan darinya. Kaum penyihir adalah penghubung antara dunia dan dewa dalam kepercayaan lama suku Bogomil.

Berempat kami masih berdiri. “Aku harus memilih Indatu. Austria di Utara, Bangsa Slavia mengikut Rusia sedang yang lain telah tunduk ke Roma. Hanya kita yang masih kafir. Dan saat ini adalah zaman Ustmaniyah” Aku berdalih.

“Lord Milovan!” Tatapnya. “Zaman Ustmaniyah akan segera berakhir. Dan kelak kaum kita akan ditinggalkan sendirian.” Lagi-lagi suaranya bersedih. “Tapi aku tak akan ada untuk melihatnya. Karena aku putri Illiya akan mati tak lama lagi. Membawa tradisi ini hilang untuk selama-lamanya.”

Seorang penyihir tidak bisa menangis, begitulah takdirnya namun ia terlihat terisak. Mendapati dirinya sendiri dan terkhianati. Dagunya yang menonjol keluar dan muka kehijauan tersebut terlihat sangat bersedih. “Dan kau!” Tunjuknya ke wajahku. “Sejak kepergianmu menyatakan takluk pada Khalifah di Istanbul, aku telah mengutukmu!” Entah mengapa aku tidak marah dengannya, mungkin aku kasihan kepadanya.

Dia terdiam sesaat menunggu jawabanku, namun kami hanya diam saja. Dia tertawa. “Aku mengutukmu dengan kutukan kuno menggunakan darahku sendiri, kamu! Akan menemukan namamu hilang dari sejarah dan tidak akan dicatat atau diingat oleh siapapun! Dan sukumu! Akan menjadi paling asing, paling ganjil sepanjang sejarah manusia! Dan akan mengalami kekejian yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya!” Bahkan sebelum dia mengutuk, kami kaum Bogomil adalah yang paling berbeda di seantero Eropa.

Bagaimanapun dia telah mengutukku, kaumku yang juga merupakan kaumnya. Akhirnya ia menjulurkan kepalanya seolah-olah menanti untuk dipenggal, “tunggu apalagi? Bukankah agama bangsa Turki menganggapku sebagai jahat dan harus dibunuh!”

“Ibu tua.” Aku menarik nafas. “Mereka juga mengajarkan untuk memaafkan, dan juga kasih sayang.” Jawabku. Ia tertawa, mengerikan seperti tawa gagak. “Kau munafik!! Bukankah kau, Lord Milovan mengharapkan pengampunan dariku? Seorang perempuan tua yang lemah dan kau tinggalkan seorang diri di dunia?”

Sebenarnya bukan itu, tapi entah mengapa kami semua mengangguk. Kasihan pada penyihir terakhir dari suku Bogomil. “Kami mohon maaf telah menganggu ibu, sudah saatnya kami kembali. Perjalanan pulang ke Sarajevo masih sangat jauh.” Kami mohon diri.

“Silahkan kalian pergi! Pergilah tinggalkan aku!” Dia meracau dengan bahasa kuno yang sudah tidak kami mengerti lagi sebahagian besarnya. “tapi aku akan memberikan pengecualian, sebagai pengabdianku yang terakhir mengingat jasa nenek moyangmu.”

Dia bermaksud menahan kami, namun tinggal disini lebih lama akan menambah kepedihannya, juga kami. “Tapi kejadian hari ini akan mencatatkan namamu, dan kamu akan hidup berbahagia sampai akhir hidupmu. Dan kaummu dan juga kaumku akan melahirkan anak-anak paling rupawan sepanjang sejarah manusia.” Suaranya melemah dan hilang dalam isak tangis.

Kami keluar rumah tersebut, kami saling berjanji untuk tidak akan menceritakan kisah ini kepada siapapun. Demi kebaikan kami semua. Malam itu juga kami bersepakat melanjutkan perjalanan. Menjelang fajar kami menemukan sudah berada di tepi hutan. Jalan ke Sarajevo sudah tampak dibalik kabut. Perjalanan ini begitu melelahkan, badanku seolah remuk semua. Sesampai di Sarajevo ingin rasanya aku tidur. Mata-mata kami begitu kelelahan. Entah mengapa, sekeluar dari hutan Brijeg mataku terasa sembab. Mengingat sejarah Bogomil sedari Albarc Agung harus putus ditanganku, mengingat kelak Kepangeranan Bogomil hanya akan menjadi Sanjaq (Provinsi) Ustmaniyah. Mungkinkah ini semua salahku. “Akh, mungkin ini karena kabut tadi!” Gumamku pada diri sendiri. Bagaimanapun rumah semakin dekat.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  47. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  48. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 57 Comments

TEORI KEMUNGKINAN

Paris ville romantique

Paris ville romantique

TEORI KEMUNGKINAN

Mungkin kehidupan ini adalah sekumpulan kemungkinan yang menjalin satu sama lain membentuk sebuah jalan-jalan pilihan bercabang baik yang disengaja maupun tiada. Yang kesemuanya, entah mungkin dirangkum dalam sebuah susunan tertruktur bernama teori kemungkinan.

Pernahkah terpikir ada kemungkinan bahwa kita tidak terlahir sebagai manusia, yang jelas saja tidak memiliki kemampuan membaca tulisan ini? Atau pernah kita menghitung berapa rasio kemungkinan, bahwa kita adalah yang terpilih untuk dilahirkan. Dan bila membaca tulisan ini mungkinkah kita pernah melalui satu, dua, tiga atau bahkan lebih peristiwa yang mungkin saja merenggut nyawa kita lebih cepat dari hari ini.

Kita mungkin saja tidak pernah bisa memilih beberapa kemungkinan seperti dilahirkan dimana, oleh siapa dan kapan waktunya. Namun mungkin juga kita memilih beberapa hal seperti siapa sahabat, cinta, atau bahkan sekalipun musuh kita.

Kedepan, mungkin lebih banyak kemungkinan. Dan bila dibayangkan mungkin akan membuat semua kemungkinan itu menjadi jelas atau mungkin semakin kabur. Seperti mungkin kita tidak dapat memilih dimana dan kapan kita meninggalkan dunia, namun setidaknya kita masih bisa memilih bagaimana kemungkinan-kemungkinan bagaimana menjalaninya.

Mungkin dan mungkin. Mungkin teori kemungkinan sulit terdefenisikan. Teori ini mungkin benar mungkin salah. Tidak mungkin saya mampu memaksakan teori ini, yang mungkin adalah saya memohon anda bersabar membacanya. Bagaimana anda?

T-E-O-R-I K-E-M-U-N-G-K-I-N-A-N

Tulisan lain yang terkait:

  1. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  2. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  3. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  4. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  5. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  6. Memoar Romantik; 15 Juni 2010;
  7. Tentang Aku, Kamu Dan Kita; 10 Februari 2012;
  8. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  9. Mari Bicara Tentang Cinta; 9 Desember 2012;
  10. Selubung Impressi; 21 Desember 2013;
  11. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  12. Robotik; 29 April 2015;
  13. Passion; 8 November 2015;
  14. Elan; 19 September 2016;
  15. Muhasabah; 5 Februari 2017;
Posted in Asal Usil, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

TEUKU UMAR PAHLAWAN

 

Teuku Umar 1896

TEUKU UMAR PAHLAWAN

Malam 11 Pebruari 1899, tubuh Teuku Umar rubuh diterjang peluru emas serdadu Marsose dan darah sang pejuang tumpah dibumi akibat “pengkhianatan” teman seperjuangan yang memberitahu posisi dan kelemahannya kepada Kaphe Belanda di pantai Ujong Kalak, Meulaboh.

Sebelum berangkat menuju medan pertempuran beliau berkata “Besok pagi kita minum kopi dikedai Meulaboh. Atau, kalau bukan pihak musuh yang mati saya yang syahid di bumi ini.”

Secara marathon jenazah beliau dilarikan oleh para pengikut dengan membuat sejumlah kuburan palsu sebagai penghilang jejak sehingga makam beliau baru ditemukan oleh ahli arkeologi Belanda 18 tahun kemudian, di desa Mugo, Mukim Kaway XVI Aceh Barat.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Tak Sampai

Menilik kebelakang, tanggal 30 September 1893 Teuku Umar mengucapkan janji setia kepada pemerintah Kolonial Belanda didepan gubernur militer sipil dan Militer Belanda Kolonel C. Dijkerkoff di makam Teuku Di Anjong di kampong Pelanggahan, Koeta Radja dan oleh Belanda beliau digelari Teuku Umar Johan Pahlawan.

Keris Teuku Umar (Dirampas Belanda) Lokasi: Pameran Objek Etnografi dari Atjèh. Leiden: SC Van Doesburgh, 1907. No. 310 (Museum Etnologi Universitas Leiden belanda)

Keris Teuku Umar (Dirampas Belanda) Lokasi: Pameran Objek Etnografi dari Atjèh. Leiden: SC Van Doesburgh, 1907. No. 310 (Museum Etnologi Universitas Leiden belanda)

Tjut Njak Dhien, istri beliau tak sudi berteman Kaphe Belanda telah menginspirasi Amirul Bahri (Gelar yang diberikan Tuanku Muhammad Daudsyah selaku Sultan Aceh Darussalam terakhir kepada Teuku Umar) berbalik pada tanggal 29 Maret 1896 dengan membawa 800 pucuk senapan panjang, 25.000 butir peluru, 500 kg mesiu, 120.000 sumbu mesiu, 5 ton timah, 180.000 Ringgit Spanyol dan 250 pasukan yang telah terlatih oleh Belanda.

Berziarah ke makam Teuku Umar

11 Pebruari 1899, cucu Raja Meulaboh tersebut wafat diusia 45 tahun.

// Ada lagi yang sangat kusesalkan pahlawan / Walau kami berkabung duro / Masih ado yang bersorak menepuk dado / Mereka adalah penjilat yang bermuka duo / Yang Cuma mendambakan sebungkus keju dari Kaphe Belanda / Mereka adalah kawan seiring menggunting dalam lipatan / Mereka adalah musang berbulu ayam //

Diambil dari (Bait 5 Puisi Teuku Umar Pahlawan tahun 1980)

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  4. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  5. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  6. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  7. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  8. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  9. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  10. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  11. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  12. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  13. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  14. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  17. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 117 Comments

TIADA PESTA TANPA KERIUHAN

Apakah dengan ikut pemilu akan terjadi perubahan?

TIADA PESTA TANPA KERIUHAN

Dunia sekarang tidak dipisahkan lagi oleh sekat dan batas, dimana media seolah telah membangun jejaring laba-laba yang menghubungkan segalanya. Peristiwa yang terjadi di Tunisia ataupun Mesir dengan segera hadir dirumah kita melalui televisi.

Peristiwa seolah terjadi disebelah rumah kita, padahal jaraknya ribuan kilometer nun jauh disana. Malam ini Abu dan Tengku Salek Pungo (TSP) terpekur diam melihat kotak ajaib itu. Dalam dua hari ini berita krisis Mesir pelan-pelan menghilang tergantikan oleh krisis domestik, ya kejadian Ahmadiyah.

Ulasan berita terus berjalan, para pengamat beranalis, Presiden pun tampil.  Semua orang terlihat sangat pintar atau paling tidak merasa paling pintar. Kritik sana kritik sini. Polisi salah, Presiden salah, MUI salah, Ahmadiyah salah. Masing-masing pihak menelaah kebenaran dari sisi mereka, rusuh dan media bergembira. Lucu, seperti kerusuhan dalam pesta.

Sedari tadi Abu dan TSP hanya diam, melihat dan melihat. Sama-sama menunjukkan wajah ingin tahu namun menahan diri untuk berkomentar. Menunggu, salah bicara akan di skak mat! Masalah agama adalah masalah sensitif bagi siapapun jua, masalah kemanusiaan juga berbahaya. Jadi filosofinya adalah carpe diem. Diam itu emas.

Sesaat setelah ulangan gambar Presiden berlalu diselingi komersial break. TSP tak tahan dalam adu diam, “Abu! Seandainya kamu menjadi Presiden. Apa yang kamu lakukan dalam menghadapi krisis ini?”

“Saya tidak berniat jadi Presiden tengku?”

Udara malam panas, Tapi roman wajah TSP lebih panas ketika berkata, “Siapa yang menyuruh kamu jadi Presiden Abu! Hanya apa yang kamu lakukan apabila menjadi Presiden?”

“Ini tidak adil Tengku!” Protes Abu.

TSP menyimak jawaban Abu selanjutnya.

“Oleh karena saya tidak ingin menjadi Presiden, maka tidak selayaknya Tengku menyuruh saya mempertanggungjawabkan sesuatu yang bukan kewajiban saya. Presiden di Jakarta, sedang saya di sini. Saya melihat masalah ini tidak ada hubungannya dengan saya.” Protes Abu.

TSP terkekeh, sampai Abu menyerang balik. “Kalau Tengku sendiri bagaimana?”

TSP tersenyum percaya diri, “Saya bersyukur, di lingkungan kita tidak ada kerusuhan seperti di sana.”

Abu tidak puas. “Bukan itu pertanyaannya Tengku! Bagaimana seandainya jika Tengku menjadi Presiden. Apa yang Tengku lakukan?”

Kening TSP berkerut, ia berpikir keras.

“Sepertinya saya….” Suara TSP Terputus. “Terlalu tua untuk jadi Presiden.” Menyambung seperti Kereta api yang sudah tua dan rusak lagi.

“Tengku lucu sekali malam ini. Seumur hidup baru kali ini Tengku lucu seperti ini. Sulley saja kalah.” Abu tertawa terbahak.

“Rusuh kamu Abu!”

Abu tertawa penuh kemenangan.

“Lebay kamu!”

Dan Abu semakin ngakak.

XXXXXXXXXXXX

 

 

 

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , | 5 Comments