Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Wajah iblis sang malaikat

Sahabat tahukan kamu apa yang kuyakini, sampai dengan hari itu aku tak pernah meragukanmu. Sampai kutemukan semua kata-katamu adalah kebohongan. Sahabat tahukah engkau rasanya ditikam dari belakang? Sakitnya melebihi ditusuk seribu pedang. Lukanya menyengat melebihi panah beracun.

Dan ketika hari ini engkau berkata, “Jika ini masalah harga diri maka lupakan!” Bagaimana bisa? Jika api yang membakar mukaku masih terasa panas. Cerita bisa berakhir namun kenangan tak bisa hilang dan kesedihan itu milik siapa saja.

Engkau tahu, pada persahabatan kita dulu dalam obrolan lalu bahwa aku bukanlah seorang pendendam. Tapi bukankan engkau mengetahui jua bahwa aku bukanlah seorang pemaaf. Maka aku tak akan meminta maaf karena telah menolak menemuimu lagi bertahun sejak kejadian itu.

Hatiku telah terkoyak bersama persahabatan kita berakhir dimana engkau telah membuatku menjadi pejuang bermakam tanpa pedang. Aku tak akan bisa melihatmu seperti dahulu sebagaimana engkau mengetahui jua prinsipku, seseorang sudah dianggap kalah kalau tidak bisa menjaga harga dirinya. Karena itu tidak akan membiarkan orang licik menunggu kelengahanku, apalagi sampai kedua kali.

Ketika itu engkau berkata, “ambisi iblis lebih realistis, karena realita berwajah buruk.” Aku masih mengingat jelas alasanmu. Menunjukkan jelas bahwa kepercayaan dihancurkan oleh ketamakan. Sisi tergelap kita, manusia.

Dan mungkin aku menghadapi hidup penuh penderitaan sebagai seorang pecundang namun sekarang berbeda. Saat ini aku tak akan menengok kebelakang lagi. Aku akan menatap lurus kedepan, hanya kedepan.

Aku tahu engkau menyesal, karena didalam hidupmu tak akan lagi menemui teman sepertiku. Sebaliknya kehidupan telah mengantarkanku mengenal banyak orang yang lebih baik darimu. Jalani hidupmu jangan berkubang penyesalan. Aku terlalu angkuh untuk menghukummu. Jangan pernah rindukan aku, karena tak pernah sekalipunku mengingatmu. Sekian penolakanku dan inilah wajah iblisku yang tak pernah engkau saksikan sebelumnya.

“Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh”

Advertisements
Advertisements

13 thoughts on “WAJAH IBLIS SANG MALAIKAT

  1. “…dan kesedihan itu milik siapa saja.”

    “aku terlalu angkuh untuk menghukummu”

    keren,
    keren banget nih kata-kata, aphoris abis… bravo buat abu.

    – keep on digging the words –

  2. Jawab

    @Bung Karang ==> Dalam menulis Abu memang suka menggunakan gurindam dan seloka ditambah sedikit proverb, 😀

    @Mas Sawaly ==> Masa lalu penting namun masa depan adalah harapan…

    @Omiyan ==> 🙂

    @Edi Psw ==> Hahahahahaha, kelebihan manusia mereka mampu belajar…

    @Bang Jaya Marpaung ==> Abu belum pernah memaafkan org2 yg sdh dianggap sbg musuh 🙁

  3. mempunyai musuh berarti mempunyai sumber energi negatif, dan itu tidak baik bagi perkembangan diri kita. salah satu cara yang efektif adalah dengan menghapus bersih2 orang tersebut dari daftar ingatan kita

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: