TERLARANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Bujang Lapok

TERLARANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Kabar-kabur adakalanya lebih jelas daripada kabar nyata. Dewasa ini kabar nyata terlalu banyak muatan politis tidak ada faedah bagi kehidupan, tersiar kabar bahwa Assosiasi Budjang Lapok akan segera dijadikan atau disahkan oleh pihak kerajaan sebagai organisasi terlarang.

Keberadaan Assosiasi Budjang Lapok telah membawa keresahan kepada para anak dara dan para calon besan sehingga burung menyampaikan dari satu lepau nasi ke lepau nasi bahwa dengan segera Majelis Syura Kerajaan akan mencap organisasi ini sebagai perkumpulan liar. Apa jadinya bangsa bila penyakit tak kawin ini menular kepada para anak muda yang kuat azzamnya untuk menikah.

Pada dasarnya Assosiasi tidak peduli, namun cibiran menjadi-jadi. Barbarossa tak peduli, Amish Khan lebih tidak peduli lagi (lha dia mau kawin), sedang Laksamana Chen hanya memilin-milin kumis Cheng Ho-nya. Penyair juga santai, filosofinya adalah kita saja yang budjang berbahagia mengapa harus orang lain merasa terancam. Masalahnya pada Tuan Takur sebagai generasi kedua tuan tanah. Diuntungkan dengan landreform, dan dalam posisi menanjak. Berencana menambah beristal-istal kuda dan membangun sebuah Kastil. Apa jadinya bila Sultan mengetahui, bisa dicabut gelar kebangsawanan Orang Kaya.

“Gawat, sobat-sobat. Organisasi kita diambang kehancuran!” Tuan Takur datang ke lepau dengan kereta kuda diikuti dengan dayang-dayang. Biasanya Tuan Takur memang dengan kereta kuda namun tidak membawa dayang-dayang. Dayang-dayang ini mengipasi Tuan Takur yang gerah dengan bulu angsa. Laksmana Chen membuka mulut lebar-lebar melihat aksi Tuan Takur, sedang penyair pura-pura membolak-balik catatan. Barbarosa tertawa terbahak sambil memegang gelas teh. Mister Big hanya tersenyum. Amishkan yang duduk disudut garuk-garuk kepala.

“Orang-orang Bandar ini kampungan! Apa ceritanya ABL dijadikan organisasi liar! Mau dibawa kemana muka saya? Sebagai orang terhormat dihinakan layakya sampah masyarakat. Kamu Barbarossa! Sebagai Brain, Evil and High Tech mesti punya solusi!”

Barbarossa tertawa. Laksamana Chen menerima umpan lambung. “Tuan Takur muka kamu tetap dikepala.”

“Lebih cantik lagi andai ditambah pemerah bibir.” Amish Khan menambahkan sedang Mister Big hanya tersenyum.

“Tenang Tuan Takur, tidak mungkin organisasi kita dilarang. Kitakan cuma Assosiasi yang tidak terdafar secara hukum. Bagaimana hendak dibubarkan? Organisasi Duda Keren (ODK) saja kerjanya menceraikan anak dara orang dan sudah terdaftar, tidak ada kabar dibubarkan? Apalagi ABL yang tak pernah menyakiti hati orang kenapa harus dibubarkan?” Penyair mencoba menenangkan Tuan Takur yang panik.

Satu-satunya yang bisa dipengaruhi oleh Tuan Takur adalah Mister Big yang polos. Jika anda membayangkan Mister Big jangan bayangkan badannya yang besar, karena tidak seperti itu. Mister Big memiliki badan kekar proporsional namun lihatlah kakinya yang panjang. Seharusnya karena kakinya yang panjang ia dipanggil Mister Long. Namun Assosiasi tidak peduli dengan badan berotot, wajah Persia miliknya dan menabuhkan gelar Mister Big.

“Tapi kita patut waspada, ODK punya kekuasaan sedang kita punya apa?” Bela Mister Big terhadap Tuan Takur.

“Kita punya Tabib Pong keturunan bangsawan lama yang sekarang sedang study banding ke pulau seberang. Punya Prof Gahul yang sedang sibuk riset, sekarang kita punya segalanya.” Barbarossa tersenyum bukan tertawa lebar.

“Itulah kalian salah! Kalian terlalu mengampangkan masalah! Itu pointnya!” Tunjuk Tuan Takur.

Yang lain tambah tertawa terbahak, tak lama lewat Messy sebagai ex-anggota ABL. Namun tidak pernah keluar dari ABL. Karena ABL adalah organisasi terbuka yang menerima siapa saja. Yang sudah menikah boleh bergabung, yang duda silahkan, yang cacat mental juga tak ditolak. Hanya satu syarat, orang tersebut tidak menyusu pada Assosiasi. Karena bagaimanapun anggota Assosiasi selain Tuan Takur bukanlah orang-orang yang terdaftar pada Majalah Forbes, dengan kata lain ketip pas-pasan. Menghidupi istri saja pikir-pikir apalagi menghidupi teman, ya menyingkirlah sudah.

“Hallo sobat semua, tahun segini masih bersama? Sudah saatnya kalian berpisah membangun kehidupan sendiri. Saya tidak bisa membayangkan kalian di zaman ini masih juga belum kawin-kawin. Cepatlah menikah dunia ini mau kiamat sobat!” Messy memiliki gaya retorika seorang pendidik dengan gaya tangan klasik. Pernah makan dendeng Balado? Kalau sudah maka bayangkan seorang yang memiliki kata-kata yang lebih pedas dari itu. Itulah Messy. Namun ia juga adalah seorang pekerja di Majelis Syura sebagai penelaah rancangan qanun. Maka ia adalah orang yang tepat untuk menggali informasi tentang hal ikhwal perencanaan pencanangan ABL sebagai organisasi liar atau bahkan sebagai organisasi terlarang. Ia menarik kursi dan duduk. “Pesan teh susu satu!” Pada pelayan.

“Messy apa benar akan keluar qanun pencanangan ABL sebagai organisasi terlarang? Isu yang beredar sudah sangat kencang, sampai teman kita yang sedang sibuk dengan sawah-sawah dan ratusan kuda sampai datang kemari untuk mengklarifikasi” Tanya Barbarossa sambil menunjuk Tuan Takur.

Messy tertawa hingga memukul-mukul meja, ada nada ejekan didalamnya. “Siapa kalian hingga dilarang? Apa hebatnya ABL hingga meresahkan masyarakat. Jangan-jangan terlalu lama menjadi bujang membuat otak kalian cacat!” Messy mesti menggunakan jari-jarinya menunjuk anggota ABL.

“Bukan kami tapi Tuan Takur itu!” Lempar Laksmana Chen.

“Cacat ya cacat sendiri Tuan Takur, tidak harus ajak-ajak kami” Amish Khan bagai B-29 membom Hirosima dan Nagasaki sedang yang lain tambah ngakak. Tambo ciek!!!

Bayangkan seorang feodal telah direndahkan. Jika ini terjadi di India, maka segenap yang menertawakan Tuan Takur akan ditarik oleh kereta kuda sampai tewas. “Jika saya salah saya mohon maaf.” Begitu sebut Tuan Takur. Inilah hebatnya ABL sebuah Assosiasi yang egaliter, yang dipersatukan oleh persamaan nasib. Assosiasi telah membuang strata sosial di lepau nasi. Siapapun dia anggota ABL adalah seorang demokrat jiwa dan raga. Tak heran hingga organisasi bertahan ditengah perkembangan zaman. Dan hari itu pun kembali berlanjut di lepau nasi. Forza ABL!!!

XXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 49 Comments

GEMPAR ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok

GEMPAR ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Alkisah ini kisah tentang “Assosiasi Budjang lapok.” Sekumpulan orang-orang tak beruntung atau tak mau mengambil keuntungan dari asmara hingga menjalin  persatuan dan kesatuan pada Assosiasi Budjang Lapok. tersebutlah sebuah perkumpulan legenda yang bergelar “Assosiasi Budjang Lapok” yang kerjaannya setiap hari kongkow di lepau nasi.

Assosiasi Budjang Lapok (ABL) adalah sekumpulan budjang telat kawin atau tak kawin-kawin. Kisah ini terjadi di negeri antah berantah di ujung Barat pulau emas ada sebuah kota yang bernama Bandar. Menurut cerita Bandar dulunya adalah kota besar sempat kecil dan akhirnya menjadi besar sedikit.

Tiada yang istimewa dari kota Bandar selain banyaknya lepau nasi yang sebenarnya bukan terkenalnya akan nasinya. Namun negeri Bandar terkenal akan tehnya. Kualitas tehnya membuat betah pengunjungnya untuk berlama-lama bercengkrama ria di lepau nasi.

Kegemparan terjadi ketika tersiar kabar bahwa ketua Assosiasi Budjang Lapok, Barbarossa hendak menikah. Hal ini sangat menggusarkan sang sektretaris Assosiasi Laksamana Chen. Karena baru-baru ini salah seorang anggota tidak tetap yakni Messy juga sudah mengundurkan diri. Belum lagi Amish Khan yang dalam waktu dekat akan menikah juga. Akan kacau ABL ditinggalkan The Founding Father pula.

Maka dirancanglah sebuah makar, coup de etat untuk menjauhkan Barbarossa yang kian hari kian klimis dari jebakan bernama pernikahan. Sehubungan Tuan Takur sedang sibuk dengan sawahnya yang hektar-hektar, tabib Pong sedang study banding ke pulau seberang dan Mister Big sibuk melihat kebun pinang maka yang tersisa di Bandar hanya Laksamana Chen dan penyair untuk mengambil tindakan, guna menyelamatkan organisasi.

Terlebih lagi tabib Pong sudah menyatakan kekhawatirannya, entah dari mana kabar bisa sampai ke telinga tabib sehingga langsung mengirim kawat dari pulau seberang. Dia sangat takut akan bubarnya Assosiasi Budjang Lapok. Terutama karena dia dan barbarossa adalah partner in bussines dalam mencicipi makanan-makanan Herbal. Tidak semua orang berani mencicipi jamur-jamur ajaib. Ini adalah hal yang langka yang ditemukan oleh orang-orang tertentu. Apabila Barbarossa sudah menikah, maka sang tabib akan sendiri dalam eksotismenya, karena Barbarossa akan menghindari resiko keracunan Jamur.

Lobi-lobi politik kelas atas pun disusun. Maka besepakatlah mereka mengundang Abuyan dari Timur Jauh Bandar guna menceramahi Barbarossa yang beberapa hari lalu membabat janggut merahnya agar tak terburu-buru menikah.

Dan duduklah mereka berempat, dengan komposisi Laksamana Chen-Penyair disebelah Timur lapau nasi berhadapan dengan Abuyan-Barbarossa disisi Barat berhadap-hadapan. Ketika dikemukakan isu tersebut terbahaklah Barbarossa karena itu sangat tidak berdasar. Maka rugilah Abuyan datang dari Timur Jauh. Namun jika dipikir tak rugi juga karena mereka sudah lama tak bertemu.

Untuk sementara selamatlah Assosiasi. Namun akankah selalu begitu. Kita tak tahu. Tunggu saja kelanjutan cerita dari kami. Cerita tentang para bujang berbahagia bernama Assosiasi Budjang Lapok.

XXXXXXXXXXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 69 Comments

KENANGAN AKAN GERIMIS

Adakah engkau mengingat, kala gerimis membasahi bumi. Kita berjalan pelan mengharumi aroma hujan.

KENANGAN AKAN GERIMIS

Adakah engkau masih mengingat

Kala gerimis membasahi bumi

Kita pernah berjalan pelan

Mengharumi aroma hujan berdua

 

Ketika gerimis turun

Segala keindahan turun ke bumi

Sebagai tanda rahmat dari sang Pencipta

Bahkan pada insan yang durhaka

 

Ketika itu kita masih muda

Penuh cita dan cinta

Menantang kejam dunia dengan rasa

Dan sekejap saja kita telah menua

 

Tahun demi tahun telah berlalu

Dengarlah suara kematian yang semakin dekat di setiap detiknya

Titik-titik hujan itu jatuh pelan

Aku berpulang dengan perasaan enggan

 

Tahun ini apa yang telah aku lakukan

Tetesan hujan dipunggungku semua tertelan gemuruh dilangit

Sebenarnya aku tak tahu apa yang aku inginkan sekarang

Hanya satu malam saja akan berakhir

 

Pernah merasa jalannya waktu terlalu pelan

Pernah merasa jalannya waktu terlalu cepat

Pernah rasanya ingin mengulang ke belakang

Tapi akhirnya aku tak kembali

 

15 Puisi terakhir

  1. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  2. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  3. Anak-Anak Bermain Bola; 26 Februari 2009;
  4. Dua Puluh Lima Tahun Seperempat Abad Sudah; 2 Maret 2009;
  5. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  6. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  7. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  8. Mencumbui Kematian Sebuah Elegi; 16 Mei 2009;
  9. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  10. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  11. Berakhir Disini; 16 Juli 2009;
  12. Cerita Sebuah Gudang; 14 Januari 2010;
  13. Selamat Ulang Tahun Mama; 1 Februari 2010;
  14. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  15. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;

Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

TENTANG AKU, KAMU DAN KITA

Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh.

Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh.

TENTANG AKU, KAMU DAN KITA

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya. Hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Sebagai makhluk manusia sangat likuid. Perubahan emosi mampu dengan sekejab memecah “kita” menjadi “kami” bahkan menjadi “aku”. “Aku” dalam bahasa latin berarti “ego”. Maka penyakit “keakuan” diberi nama egoisme.Pada dasarnya manusia adalah “zoon politicon” yang berarti makhluk sosial. Dalam arti manusia tak dapat hidup sendiri. Manusia memerlukan orang lain karena pada dasarnya manusia tidak tahan bila menghadapi kesepian.

Dan “aku” pun bukanlah hal yang statis. “Aku” yang berusia setahun tentu berbeda dengan “aku” yang berusia lima tahun dan begitu seterusnya. “Aku” bahkan tergantung ruang dan waktu, suasana hati dan lingkungan. Manusia dalam sekejap mampu berubah menjadi serigala kapan saja. Dan malaikat disaat tak terduga.

Filsafat adalah ilmu tentang fantasi. Fantasi manusia tentang dirinya, atau lingkungan sekitar. Dalam fantasi terdapat kesempurnaan. Namun kehidupan bukanlah merupakan fantasi karena ia adalah realita. Maka janganlah mengharapkan kesempurnaan pada diri manusia, karena akan kecewa. Fitrah manusia adalah lupa dan lalai. Untuk itulah selama ini nabi turun dikalangan manusia untuk mengingatkan kealphaannya.

Terkadang meski telah dewasa, “aku” pun harus belajar mengenal dirinya lagi. Agar “kamu” tak tersakiti. Agar “kami” menjadi “kita”. Agar kita hidup dalam dunia yang toleran. Agar tak ada yang tersakiti. Sekali lagi karena manusia ketika ia merasa terancam maka ia tak ragu menjadi serigala kepada manusia lainnya. Siapapun lawannya.

Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh

 

XXXXXXXXXX


Posted in Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

MENGAPA HARUS BERKATA

bahwa kita akan menjalani kehidupan yang kotor dan berdebu, meski ada kotoran dan debu di jalan. Kita harus hidup dengan melintasi jalan-jalan itu. Kita harus belajar untuk memilah mana deru dan mana debu.

MENGAPA HARUS BERKATA

Terpujilah para penyair, mereka yang memiliki kebebasan merangkai kata. Mereka yang memiliki kualitas melebihi para ilmuan terbaik disepanjang masa. Kata-kata berusia sama dengan manusia. Mengawali segala ilmu pengetahuan lainnya

Segengam pasir berhamburan

Menjadi saksi terbenamnya sebuah harapan

Langit merah yang berkobar-kobar

Mengiringi lagu amarah bergema

Kala laut lelah menyapu pantai

Terpaku ditiup angin meninggalkan kewajiban

Diantara celah kesempurnaan beku

Coba untuk teriakan getir yang menyala

Diantara bayang-bayang terbakar

Mencari tempat direlung jiwa

Temukan jawaban tuk hati yang terluka

Masih adakah sayang yang tersisa

Dalam kata manusia mencurakan rasa, menertawakan kepedihan dan menangisi kejayaan. Dengan kata manusia memberitahukan apa yang ia rasakan. Kata melahirkan kalimat yang akhirnya menyusun kebudayaan.

Posted in Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , | 6 Comments

POKER FACE

Poker Face

POKER FACE

Tidak semua pertanyaan menjadikan kita lebih pintar. Ketika semua seolah semakin menjauhi rencana. Pernahkan menyadari bahwa apa yang terjadi hari ini adalah dari rangkaian kejadian yang pernah dialami.

Sering, apa yang direncanakan berbeda dengan kenyataan. Hal-hal seperti apa dan akan jadi apa. Samar sebelum hal itu terjadi namun akan jelas apabila berlalu. Jalan kebaikan yang panjang dan melelahkan akan dihancurkan oleh kegagalan sesaat. Dengan jatuh kita memahami makna makna bangkit, dan hanya mereka yang tangguh mampu menghadapinya.

Pernahkah kita menyadari betapa rapuhnya sebuah kehidupan? Satu hantaman akan mengakhirinya. Apabila dibayangkan betapa sulitnya menjaganya bertahun-tahun hingga hari ini. Mungkin takdir, bahwa manusia hari ini menguasai bumi. Sosok makhluk yang tak sekuat ciptaan lainnya mampu menyingkirkan segenap hewan terbuas.

Paradoks, bertentangan dengan apa yang ada. Betapa semakin berkuasa maka manusia menjadi makin lemah. Tahun berganti dengan tahun, ada banyak pertanyaan dalam hidup. Hanya keikhlasan yang mampu mengalahkan segalanya. Ikhlas menjalani setiap kekalahan dan kemenangan. Ikhlas mendapati ada banyak pertanyaan yang belum terjawab meski usia terus bertambah.

Dan ketika merasa tak berdaya ternyata sekali lagi kita harus menyerahkan segalanya pada waktu. Ya aktu akan menyembuhkan luka dan mendewasakan kita, namun sayangnya waktu tak akan pernah kembali. Ia terus melaju dan kadang mengilasmu.

Perlu waktu lama untuk menjadi muda, perlu jiwa yang besar untuk menikmati hidup. Dan mereka yang memiliki Poker Face-lah yang biasanya beruntung. Atau setidaknya kita anggap begitu.

XXXXXXXXXXXXX

Posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , | 9 Comments

MAKNA PUISI YANG HILANG

Syair Hikayat Perang Sabi Koleksi Museum Aceh

Syair Hikayat Perang Sabi Koleksi Museum Aceh

MAKNA PUISI YANG HILANG

Puisi adalah seni tertulis dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya sebagai tambahan, atau selain sisi semantiknya. Puisi tidak sebagai jenis literature tapi perwujudan imajinasi manusia yang menjadi sumber segala kreativitas. Puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang akan membawa orang lain ke dalam hatinya. Puisi juga terkadang disebut syair berasal dari bahasa Arab Syu’ur yang bermakna perasaan.

Puisi hanya bertumpu akan kata tanpa alat bantu, disinilah kesulitan seorang penulis atau pembawa puisi untuk menyampaikan perasaan yang terdalam kepada penikmat. Berbeda dengan syair yang diringi oleh musik dan berkompilasi dalam bentuk lagu, menjadikan lagu sangat dinamis. Puisi cenderung statis tapi kita tak akan bisa melupakan bahwa dalam sejarah Indonesia terdapat seorang Chairil Anwar yang mampu mengharubirukan kita akan perasaannya ditahun 1945. Jejak rekam sang maestro tak lekang oleh waktu.

Masyarakat Arab di zaman kuno (jahiliyah) sangat menghormati seseorang jika ia memiliki dua keahlian, pertama bergulat dan kedua bersyair. Dapat dipastikan jika ada seorang yang menjadi jawara dibidang tersebut maka tak pelak ia akan menjadi kebanggaan kabilahnya. Intinya masyarakat di jazirah Arab saat itu menggangumi dua hal yang menjadi paradoks yaitu kekuatan dan kelembutan.

Sesudah agama Islam menyebar di gurun pasir tersebut, kekuatan para penyair pun tenggelam. Para penyair begitu terpesona dengan gaya bahasa Al-Quran sehingga tidak mampu menciptakan sebuah karya syair yang bermutu.

Berabad kemudian ketika Islam sudah menjadi kekuatan yang mapan di Timur dan Barat muncullah banyak sastrawan terkemuka. Formula ilmu Balaghah menjadi jalan perentas munculnya syair-syair bermutu dari zaman itu.

Setiap kebudayaan memiliki tradisi akan puisi, baik itu merupakan tradisi oral maupun tulisan. Dahulu kala semakin berkualitas sebuah kebudayaan semakin baik syair-syair yang dihasilkan. Begitu pula sejarah awal negeri ini memiliki Chairil Anwar, Hamka, H.B Jassin, Sitor Situmorang, Taufik Ismail hingga W.S Rendra. Bahkan seorang Soe Hok Gie berpuisi dieranya.

Berbicara dalam konteks kekinian, dapat dikatakan kita sangat kekurangan empu sastra yang menghasilkan puisi yang berkualitas tinggi. Apakah penyebabnya? Hidup adalah hukum sebab akibat, jika kita melihat dari awal pokok kejadian bisa jadi sistem yang ada menyebabkan seorang brilian muncul kepermukaan. Namun bisa jadi pula masyarakat kita tak mengapresiasi lagi dengan layak sebuah puisi. Di era modern mainset orang telah terkontaminasi dengan materialisme yang membuat jiwa semakin kering, seni menjadi hambar dan sebuah puisi menjadi kering.

Disiplin ilmu pasti telah membuai kita, tak salah memang. Namun apa indahnya Matematika bila sebuah puisi tak melengkapinya. Di zaman semua orang bisa berbicara sebebas-bebasnya bahkan seorang Iwan Fals menolak menciptakan kritik sosial melalui sebuah lagu, seperti dahulu. Terlalu banyak kritikan bising hanya akan membuat sebuah mahakarya menjadi suara sumbang. Kuat kemungkinan bahwa krisis multidimensi yang menimpa bangsa ini dikarenakan kita atau sebagian besar dari kita kehilangan makna akan puisi. Siapa tahu?

Setiap zaman memiliki fenomena, setiap masa memiliki permasalahannya sendiri. Namun ada yang selalu sama layaknya asmara. Asmara adalah sesuatu hal yang tak lekang ditelan zaman. Dari zaman Nabi Adam dan Siti Hawa hingga saat ini ia tak pernah habis menjadi bahan cerita maupun bacaan. Ia menggetarkan kehidupan siapapun yang terbuai oleh pesona kemolekkan daya tarik miliknya. Boleh tanya siapapun, ia adalah sebuah kenikmatan hidup impian setiap anak manusia walau ia diacuhkan, ditangkal atau bahkan diinjak-injak.

Namun apakah sesuatu hal yang lebih menggetarkan dibanding asmara? Mungkin setiap pribadi memiliki jawaban berbeda, tergantung latar belakang dan karakter seseorang. Jika anda bertanya kepada seseorang Muhammad Hatta sebelum tahun 1945 ia akan menjawab kemerdekaan, bisa saja ini merupakan ungkapan hati seseorang yang pernah bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka. jika anda bertanya kepada seorang Tan Malaka, seseorang yang hidupnya lebih dahsyat dibanding fiksi, mungkin ia akan menjawab petualangan! Demi meraih kemerdekaan orang dari Bukittinggi tersebut mengarungi luas cakrawala dunia dengan menjejakkan kaki dari Manila sampai Rusia. Setiap orang boleh berhak untuk berbeda pendapat. Namun apalah artinya semua itu apabila kita tak mampu mengejawantahkan dalam sebuah kisah yang penuh perasaan dalam sebuah syair.

Dalam sebuah puisi terdapat kearifan hidup, filosofi tentang ketabahan dan memahami rasa sakit maupun gembira sekaligus. Syair dan sains adalah dua hal yang berlawanan namun sesungguhnya saling melengkapi. Umar Kayyam seorang astronom ulung dizamannya sekarang ini lebih terkenal sebagai seorang sastrawan karena jejak yang ia tinggalkan.

“Bersyairlah karena ia melembutkan hati.” Dalam syair terdapat kekuatan tersembunyi, ia bisa melenakan namun ia juga memiliki kemampuan untuk membakar semangat. Jangan sampai kita kehilangan maknanya.

XXXXXXXXX

Artikel-artikel lain:

  1. Tafsir Sang Penafsir; 19 September 2008
  2. Selamanya; 14 Desember 2008;
  3. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  4. Memoar Romantik; 15 Juni 2010;
  5. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  6. Bermain Dengan Waktu; 21 Mei 2011;
  7. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  8. Sebuah Pusaka Untukmu Anakku; 2 September 2012;
  9. Mencari Belerang Merah; 25 Agustus 2013;
  10. Cinta Sebesar Cinta; 10 Mei 2014;
  11. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  12. Belajar; 19 November 2015;
  13. Dimana Ada Cinta Disana Tuhan Ada; 7 September 2016;
  14. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  15. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
Posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

YOUNG AND PURE

Young and Pure

YOUNG AND PURE

children playing ball in the rain
the joy of togetherness

the kids play ball without the burden of misery
without a shadow of fear

children playing ball in the vastness of the universe
without the veil of hypocrisy

reality if the world like this
how beautiful

Year after year passed
and during that time has passed

the children were playing and keep playing
let’s make this world peace as their hearts

Stay young and pure in our souls
although we have been getting older

 

Posted in International, Literature, Poetry | Tagged , , , , , , , , , | 6 Comments

ADDIO LHOKSEUMAWE

Sahabat-sahabat di Lhokseumawe

ADDIO LHOKSEUMAWE

Hidup adalah cerita tentang datang dan pergi, seperti halnya seorang bayi yang pertama dilahirkan dimuka bumi, kelak apabila takdir menuntunnya dia akan melewati fase kanak-kanak, remaja, tua dan akhirnya meninggalkan dunia. Apa yang dibawa itulah yang akan dipertanggung jawabkan nanti, di hari akhir.

Hampir tujuh tahun, bukanlah periode yang pendek bagi Abu untuk bertugas di kota ini. Ya, Abu datang sebagai pemuda yang baru menginjak dua puluh satu tahun. Dan sekarang sudah hampir dua puluh delapan tahun. Ada banyak kesan dan pengalaman sudah terlewati disini, suka maupun duka.

Sebagai orang yang telah terhitung lama bertugas di kota ini, Abu telah banyak menghadiri perpisahan dengan orang-orang. Semua dengan cepat datang silih berganti hingga tiba saat kepada Abu untuk pergi. Dan menghadiri perpisahan untuk diri sendiri. Kepindahan Abu ke tempat yang baru adalah sebuah fitrah manusia sebagai makhluk yang senantiasa bergerak.

Lhokseumawe, sungguh Abu sudah merasa merupakan bagian dari kota ini. Disini Abu menemukan cinta, sahabat, dan segalanya. Sehingga sangat berat untuk meninggalkan kota ini. Sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan hanya dapat diungkapkan dari hati ke hati.

Hari ini adalah hari terakhir Abu bekerja di kantor ini. Sebuah Surat Keputusan menempatkan Abu kembali ke kampung halaman, Banda Aceh sekitar 260 km. Tak jauh memang, namun Abu teringat bahwa kota ini selalu meninggalkan kerinduan yang mendalam bahkan ketika Abu belum meninggalkannya.

Kota ini telah mempertemukan Abu dengan orang-orang terbaik, yang mungkin tidak akan pernah Abu kenal atau bahkan temui jikalau tetap berada dikampung halaman. Sebuah hal yang membuka cakrawala berpikir dan meningkatkan kualitas diri.

Di kota ini Abu belajar menulis sepatah dua patah kata, menuntut ilmu, bertemu sahabat-sahabat dan akhirnya menemukan cinta. Di kota ini jua Abu merasa tumbuh sebagai seorang laki-laki dewasa, melewati fase remaja. Tentunya Abu bukanlah seorang tanpa cela, untuk itu dengan penuh kerendahan hati Abu memohon maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat.

Ke depan ditempat yang baru, tentunya tantangan akan semakin berat. Setiap perubahan belum tentu akan membawa perbaikan, namun perlu diingat pula bahwa tidak akan ada perbaikan tanpa perubahan. Apapun yang terjadi ke depannya Abu selalu merasa bahwa diri ini adalah bagian daripada kota ini.

Saat berpisah harus menyapa // Aku tak ingin meneteskan air mata // Aku tak ingin kau berduka // Karena hati kita tetap bersama // Salam hangat // Kita akan bertemu kembali dalam waktu yang lain dengan suasana keakraban yang sama //

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , | 1 Comment

SETIAP ORANG HINGGA KEMATIANNYA

Setiap orang hingga kematian

SETIAP ORANG HINGGA KEMATIANNYA

Setiap orang harus memilih antara kebaikan dan keburukan sepanjang hidupnya, namun kehidupan tidaklah berupa hitam dan putih yang terkadang memaksa kita memilih jalan yang tak selamanya putih ataupun hitam. Hidup adalah kondisi, dimana lingkungan terkadang menempatkan orang baik di sisi jahat dan orang jahat di posisi baik.

Kehidupan bukanlah berupa dongeng yang indah, dimana dalam sebuah pembebasan para tokoh Protagonis tak selamanya berhati murni dan memiliki akhlak mulia, terkadang kita harus melihat dengan mata kepala sosok-sosok oportunis dipuja sebagai pahlawan setelah revolusi selesai.

Abu selalu terpesona akan Idrus yang melalui romannya yang ternama, “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” menjadi tonggak karya pembaharuan prosa Indonesia. Idrus bersama Chairil Anwar menjadi pelopor sastrawan Angkatan ’45. Yang sayangnya terlupakan. Berbeda dengan Chairil Anwar yang berapi-api, Idrus lebih detil menyikapi revolusi Indonesia, ia melihat bahwa potensi bandit-bandit yang menyusup dalam perjuangan, dengan keberingasan khas yang kelak kita tuai akibatnya di era pembangunan. Dikarenakan karakter tulisan Idrus tersebut, mengundang tekanan politik dan sikap permusuhan yang dilancarkan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat, Idrus terpaksa meninggalkan tanah air.

“Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma,” mengingatkan Abu pada sebuah kisah semasa duduk dibangku sekolah menengah pertama, SLTPN 1 Banda Aceh. Ketika itu Kepala Perpustakaan, Nilawati S.pd panik karena inventaris roman “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” berkurang satu buku dari total dua buku. Dan Abu tercatat sebagai peminjam terakhir dari buku tersebut, segera melalui anak beliau yang kebetulan sekelas dengan Abu yaitu kelas 3-8 ditahun 1999, Danil Erlanda. Abu pun dipanggil menghadap untuk beraudiensi tentang hilangnya buku tersebut.

Adalah salah jika para pembaca menganggap Abu berhati suci, sebagai manusia tentunya tersimpan kebusukan dihati, mungkin tidak terlihat oleh siapapun. Namun Abu mengetahui isi hati sendiri. Ketika membaca roman tersebut, Abu sebegitu terpesonanya sehingga berniat mencurinya dengan tidak mengembalikan ke perpustakaan. Dan Abu memang sudah benar-benar berniat untuk itu, namun entah mengapa ditengah malam Abu terjaga. Begitu bagusnya Roman tersebut sehingga Abu tak tega merampas hak-hak generasi selanjutnya untuk membaca mahakarya Idrus tersebut. Dan Abu menyesali niat jahat Abu tersebut.

Dan Abu masih memiliki kejahilan lainnya, sebelum mengembalikan buku tersebut. Di halaman belakang Abu menuliskan sesuatu, sebuah rekomendasi untuk membaca buku tersebut kepada siapapun yang sedang membolak-balikkan buku “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma,” karena panjangnya rentang waktu kebelakang maka Abu kesulitan mengingat kata-kata apa yang tertulis dengan pulpen biru tersebut, yang jelas Abu menuliskan nama dan menandatanganinya.

Akhirnya keisengan tersebut menyelamatkan reputasi Abu, karena dengan jelas dan meyakinkan dapat membuktikan bahwa satu buku yang tersisa di inventaris adalah buku yang Abu pinjam. Tentunya ibu Nilawati S.pd berkerut kening membaca rekomendasi Abu, walau beliau memprotes keras kelakuan Abu yang menodai aset bersejarah tersebut.

Namun akhirnya tak ada yang tersisa, ketika gelombang Tsunami menghancurkan kota Banda Aceh, SLTPN 1 rata dengan tanah. Perpustakaan SLTPN 1 yang termasuk paling lengkap di Provinsi Aceh saat itu lenyap tak berbekas. Di tahun 2005, Abu sempat bertemu dengan Danil Erlanda di sebuah SPBU ketika hendak mengisi bensin motor dan menanyakan keadaan ibu beliau, dalam pertemuan singkat ia menceritakan bahwa ibu Nilawati S.pd adalah salah satu orang yang hilang ditelan ombak besar yang menyapu pesisir barat Sumatera di hari minggu 26 Desember 2004 tersebut. Abu mengingat beliau sebagai seorang Pustakawan yang gigih, cerewet dan detil. Namun beliau membebaskan murid-murid meminjam buku berapapun sekaligus dalam jangka waktu pengembalian seminggu. Tak selayaknya hasrat membaca dihalangi dengan jumlah buku, begitu filosofi beliau. Tak heran biasanya Abu meminjam 5 sampai 12 buku setiap harinya, kemudahan yang tidak pernah Abu jumpai dikemudian hari, di perpustakaan manapun.

Pertengahan Oktober 2011, dalam sebuah perjalanan dinas ke Jakarta. Garis takdir membuat Abu menemukan buku “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” di Thamrin City yang diklaim sebagai pusat buku ex kwitang. Salah satu dari beberapa buku buruan Abu sepanjang masa berhasil dimiliki. Sebuah buku, sebuah cerita dan sebuah obsesi sejarah. Seperti hidup ia begitu rapuh.

Orang bijak berkata, kehidupan seseorang layaknya sebuah buku. Bila ingin mengetahui segalanya kita tidak akan mampu bila hanya membaca satu halaman saja. Dan sebuah buku memiliki akhir, dan manusia tidak seperti makhluk lain yang hidup di muka bumi. Manusia menyadari bahwa suatu hari ia akan bertemu dengan sebuah fase yang dinamakan kematian. Abu juga seorang manusia, dan kelak akan menghadapi kematian sebagai makhluk fana. Dan sebuah kenangan akan menjaga manusia walau dia telah pergi, mungkin karena itu Abu gemar menulis, dulu di buku perpustakaan yang Abu anggap berkualitas, dibuku yang Abu miliki, sekarang dalam bentuk blog. Dan diam-diam dihati kecil Abu berharap suatu hari kelak dapat menghasilkan buku sendiri. Karena seorang manusia ingin diingat, bahkan setelah kematiannya.

“Saya ingin mencintai kematian selayaknya saya mencintai kehidupan”

XXXXXX

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment