RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEPULUH

Risalah Sang Durjana tampak samping

Risalah Sang Durjana tampak samping

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEPULUH

Perang adalah sebuah tema lama, tentu. Variasi berbeda setiap zaman. Dan bila ia seperti selalu berulang mungkin karena manusia tak kunjung memahami sifatnya sendiri. Pada 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kohler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Kohler membawa 3.198 tentara, 168 para perwira.

Beberapa hari kemudian, perang berkecambuk di mana-mana, ada di Peukan Aceh, Lambhuk, Lampoh U, sampai Lambada, Krueng Aceh. Dipimpin Panglima Polim, Jenderal lapangan dan Sultan Mahmud Syah, Pemimpin komando tertinggi.  Dengan dibantu oleh beberapa kelompok pasukan. Ketika bantuan beberapa ribu orang berdatangan dari Teunom, Pidie, Peusangan dan beberapa wilayah lain, merebut sisa puing Masjid Raya Baiturrahman yang telah dibakar Belanda menjadi tujuan marwah para muslimin.

14 April 1873

Ketika seolah sejarah berjalan di istana para raja, dengan kegagahan serdadu bersepatu mengkilap atau pejuang dekil dalam pertempuran satu lawan satu, maka sejarah membantah karena ia juga berjalan di wilayah yang lembab dan lindap, lubang dan sampah, reptil busuk dan rawa yang payau.

“Beta sesak kencing.”

“Lepaskan saja!”

“Beta sesak berak juga!”

“Lepaskan saja terus di celanamu. Ingat target kita adalah sang Naga!”

“Najis kau Durjana!”

“Sejak kapan kau taat aturan agama, Umar!”

“Sial!”

Berhari-hari sejak pertempuran bermula mereka berjalan atau mengendap-endap dari satu titik menuju sasaran. Mereka mengatur posisi dan memastikan terlindungi oleh kawan maupun lawan. Hingga akhirnya mendekati masjid Raya Baiturrahman dengan posisi terbaik. Membaca arah angin, merunduk dalam air payau, menjaga agar sumbu mesiu tetap kering.

“Durjana! Beta tak bisa.”

“Beta sudah dua kali hari ini.”

“Kurang ajar kau Durjana! kau lepaskan hajatmu dalam air payau ini.”

“Cucu Raja, jangan cengeng. Kau mau masuk dalam hikayat tapi tak mau menanggung azab bagaimana itu ceritanya?”

“Baiklah beta lepaskan saja, makan itu.”

Di medan tempur adalah bagai aksi berburu yang paling terakhir. Orang saling memburu dan diburu. Untuk itu diperlukan kekuatan batin untuk menahan lapar dan haus. Terkadang harus membuang rasa jijik dengan membuang hajat dengan posisi tertidur, hanya target dan itu telah dikatakan oleh Durjana kepada Umar anak Meulaboh, sebelum terlibat dalam misi. Misi yang mereka ciptakan berdua, tanpa garis komando dari Panglima Polim. Pasukan partikelir yang belum menembak satu kali pun sejak pertempuran pecah. Merunduk dalam gelap, menahan dingin. Siaga setiap saat. Kadang-kadang bercanda.

Matahari sepengalah, ketika Jenderal Kohler melakukan inspeksi ke Masjid Raya Baiturahman. Kepala naga telah keluar dari bivak. Situasi lenggang ketika Kohler memutuskan istirahat.

“Dum” Suara keras berdentum dari balik reruntuhan masjid, tepat mengenai kepala Kohler. Ia terduduk, dibawah pohon Kulumpang. Seketika si penembak diberondong tembakan oleh tentara Belanda, diantara suara tembakan Belanda itu.

“Jantungnya Umar.”

“Baik”

“Dum!”

Suasana hening, penembak kepala Kohler diketemukan adalah seorang belia belasan tahun. Mayatnya disayat-sayat oleh pedang panjang serdadu Belanda. Sebuah mata nanar menatap kejam ke alang-alang di depan Masjid Raya Baiturrahman. Kejam dan dingin, Kolonel E.C Van Daalen.  Hingga akhirnya ia berbalik dan menendang kepala pejuang Aceh yang diketemukan.

“Kita beruntung.” Di dalam alang-alang wajar Umar kehilangan darah, hitam memucat. Melihat wajah kematian teman dan lawan dalam satu adegan, terlalu ganas. Bahkan bagi jiwa membara sepertinya. Bahwa nyawanya juga dalam ancaman yang sebegitu dekat, wajah maut terlalu mengerikan.

“Kelak akan ada pertentangan tembakan mana yang mengakhiri target kita, Umar. Apakah kepala atau jantung yang mencabut nyawanya? Namun biarlah saudara kita yang syahid tadi menerima kesegala pujian akan keberanian dan kegigihannya.”

Lama, hingga suasana menjadi sepi. Belanda kembali ke Bivak membopong jenazah sang Panglima setelah membakar habis jasad pejuang tak bernama itu. Belanda yang dingin dan keji tak ingin meninggalkan jejak musuhnya dalam catatan sejarah.

“Saatnya kita berpisah Umar!”

Mereka berpisah mengikuti rute penyelamatan diri dan posisi mundur. Umar bergerak lebih dahulu, sedang Durjana mengaburkan jejak, dalam langkah dan sejarah. Baik kawan maupun lawan tak ada yang boleh mengetahui pergerakan mereka.

Cepat atau lambat, kabar terbunuhnya Panglima Tertinggi Ekspedisi Belanda terhadap Kesultanan Aceh tersiar, moral para pejuang naik, sedang Belanda kehilangan motivasi. Kecuali Van Daalen, ia menyimpan dendam yang amat sangat. Bersikeras melanjutkan perang hingga mendapati dirinya sendiri. Pelan tapi pasti kaum muslimin mengepung Belanda, hingga akhirnya mereka memutuskan mundur. Semakin tersuruk menuju pantai Ceuremen.

29 April 1873

Setelah menahan derita dan kerugian besar, dan setelah permintaan mundur dikabulkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Gontai dan kehilangan harga diri kapal itu meninggalkan perairan Aceh, disambut gegap gempita. Namun perang belum selesai, pembasmian dimulai. Segala Uleebalang dan anteknya yang dianggap bekerja sama dengan Belanda dipancung. Kepalanya dipertontonkan dipasar, dipaku pada tombak. Bahkan tanah ini masih menginginkan darah setelah kejayaan gemilang. Umar menikmati pertunjukkan, namun dalam hati ia masih menginginkan pertempuran.

“Durjana kau tidak ikut serta membantai pengkhianat?”

“Beta menangisi mereka yang dibantai, mereka yang sedarah dengan kita. Dalam perjuangan, sebuah tangisan ini adalah pengkhianatan. Adakah kau juga ingin membantaiku Umar?”

“Durjana yang dungu?” Umar tertawa. Tak mengherankan mengapa kekuatan tenung mampu menyihir nurani kita, ketika pembungkaman sesuatu yang berbeda dianggap hal yang hebat. Maka tiada sisa untuk sifat pemaaf, rasa kasih bahwa seorang manusia betapapun tak berartinya, ia bagian dari keluarga, ayah dari anaknya, abang dari adiknya, suami bagi istrinya atau kekasih bagi cintanya. Semua gelap, ditelan kebencian.

“Mungkin, kita memang memerlukan pengkhianat Umar! Bukti bahwa kita ini tidak murni. Bukti bahwa kita semua manusia.”

“Jika engkau berkhianat Durjana, maka akulah yang akan memenggalmu.” Umar masih tertawa. Keberhasilannya mengakhiri nyawa Kohler adalah rahasia mereka berdua, tentunya ia ingin semua orang tahu. Namun ia menikmatinya dari dalam batinnya, paling tidak saat ini. Hubungan antara dua anak manusia yang pernah bersama melewati saat hidup dan mati sangat istimewa. Pertama dan yang paling penting, keduanya saling menggantungkan diri untuk menyelamatkan diri. Bekerja di daerah tak bertuan di antara maupun di depan garis pertempuran. Tanpa dukungan dari siapapun, dan jika misi tidak tercapai, keselamatan satu bangsa menjadi taruhan.

“Bagaimana jika yang berkhianat itu kamu, Umar.”

Seperti ombak dipantai, yang selalu menghempas karang. Sejarah adalah pilihan yang selalu berulang. Akankah ia menghancurkan semua hambatan? Mungkin tidak. Adakah ia adalah harapan yang busuk? Pasti tidak.

XXXXXXXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 45 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEMBILAN

Risalah Sang Durjana tampak depan

Risalah Sang Durjana tampak depan

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEMBILAN

Sejarah itu lebih banyak ditentukan oleh sebagian besar orang kecil dan sedikit oleh orang besar. Kebanyakan orang besar memiliki ide yang besar sehingga melupakan bahwa sesuatu hal yang sederhana mampu mengubah dunia.

Betapa indahnya apabila didunia yang tidak aman ini. Ada seorang pemuda yang hanya menatap keatas langit, dengan kaki menjejak bumi. Sayangnya itu bukan aku. Tubuhku sudah menua, sejujurnya aku merasa apakah diriku berada disini. Bertahun pengembaraan sebagai lanun, penuh petualangan. Dan disini setahun dikampung halaman mendapati diri tak berarti. Terlempar dari pusaran sejarah, terjebak rutinitas di pasar hingga pulang ke rumah ketika petang. Amboy malangnya nasibmu Tuan Durjana.

Selepas Isya, ketika sedang berbolak-balik dipembaringan. Aku mendengar suara kuda datang ke depan rumah. Tertangkap suara menambatkan kuda dibawah rumah panggung. Siapapun yang datang itu adalah seseorang yang amat bersemangat, tak menyembunyikan kedatangannya, ada aura ponggah disana.

“Durjana!”

“Siapa tuan dibawah sana? Masuklah.”

“Umar anak Meulaboh.”

Umar memburu naik, sedang aku menyalakan lampu minyak dan membuka pintu.

“Masuk! Ada kabar apa malam-malam kau kemari?”

“Beta punya kabar buruk, Belanda menyatakan perang dengan kita. Utusan damai telah gagal kini perang benar-benar di depan mata.”

Anak muda ini masih berumur belasan, cucu raja Meulaboh ini sangat serampangan. Berciri pahlawan dan ingin menjadi pahlawan, dan alangkah malangnya sebuah negeri yang membutuhkan pahlawan. Ia duduk dan melinting tembakau.

“Apa urusannya perang dengan beta?”

“Sudah lama beta menantikan perang. Kakekku Raja Meulaboh tak mengizinkan beta berperang karena Raja Teunom ikut serta mengirimkan pasukan untuk mempertahankan ibu kota. Meulaboh dan Teunom masih berperang, beliau takut beta dan Raja Teunom berselisih kembali.”

“Terus.”

“Beta butuh nasehatmu pelaut tua! Apakah beta harus bekerja sama dengan Belanda menggasak Raja Teunom terlebih dahulu untuk nanti melawan Belanda, atau Beta melanggar perintah kakenda?” Anak muda punya semangat dan kenaifan yang menggelikan.

“Anak muda” Aku menggelengkan kepala.

“Pertama, pelaut adalah masa laluku. Kedua beta hanyalah seorang penjahit tua dipasar. Ketiga, pikiranmu sependek sumbu mesiu.”

Umar anak Meulaboh mengetok lantai kayu, bagaimanapun ia adalah keturunan Raja besar wilayah Barat. Tak senang dibantah apalagi diacuhkan.

“Jadi apa yang harus beta lakukan? Beta tak bisa berdiam diri. Beta harus menonjol!”

“Tentunya kau harus melakukan sesuatu, sesuatu yang besar agar dirimu tercatat pada hikayat.” Sebenarnya aku ingin menyuruhnya pulang saja, berdiam di Meulaboh yang jauh dari Koetaradja ketika Belanda menyerbu. Namun ada sesuatu pada dirinya yang menarikku, pada perilaku yang mengingatkan aku pada masa laluku, bukankah kita selaku manusia berkecenderungan menyukai orang yang memiliki rupa kita dimasa muda.

“Kapan Belanda akan datang?”

“Kapal hitam Belanda kemungkinan sebulan lagi tiba.”

“Baik Umar, yang kamu harus lakukan adalah belilah bedil dari saudagar Portugis. Beli sebanyak mungkin pelor yang mungkin kau beli, berlatihlah menembak jarak jauh. Dan jangan sampai satu orang pun yang tahu. Ketika kau dengar kabar Belanda akan tiba benar-benar. Jumpai aku!”

“Itu saja yang harus beta lakukan? Untuk apa?”

“Jika kau menganggap beta sebagai orang yang kau minta pendapat, laksanakan tanpa membantah!”

“Untuk apa?”

Aku menarik nafas panjang. Anak ini, benar-benar keras kepala.

“Beta mempunyai satu putir peluru, pemberian penyihir Scotland. Dia mengatakan bahwa pelor ini akan mengubah jalannya sejarah. Yakinkan kau dengan perkataan beta?”

“Baik.”

Anak itu bergegas pergi, dengan gaya yang tergesa-gesa. Dapat dipastikan ia langsung menuju ke rumah saudagar Portugis saat ini juga. Aku pun hanya tersenyum. Malam semakin dingin, entah apa yang ada dipikiranku tadi. Mungkin ilusi, namun aku juga ingin terlibat dalam sejarah. Apa yang terjadi besok? Semacam rasa ketidakberdayaan di hadapan masa depan, juga semacam kesunyian. Tak berdaya dan sunyi, manusia, juga di Kesultanan Aceh, akan membutuhkan batasnya sendiri.

XXXXXXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 48 Comments

BOIKOT ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok

BOIKOT ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Nama-nama yang muncul dalam Assosiasi Budjang Lapok ada banyak. Tiap nama adalah sebuah anekdot. Tiap nama menampilkan secara utuh apa yang diwakilinya. Merupakan sesuatu yang tidak luas atau besar, dalam kata lain biasa. Peristiwa biasa yang terlewat begitu saja dalam lalu lalang dunia yang begitu cepat.

Ketika sejumlah orang berada bersama di suatu tempat lain hendak mengupayakan hidup yang tanpa penindasan, dan berbicara politik adalah sebuah kemungkinan mengubah dunia. Justru ABL melihat politik sebagai jalan yang musykil. Mereka melibatkan diri pada hal-hal remeh dan sangat kecil bahkan kadang-kadang agak aib, menjengkelkan, dan membosankan. Lepau nasi bagi ABL adalah dimana setiap orang melepaskan rehat dalam sebuah ruang tempat orang bisa asyik berdebat, berembuk, minum-minum, main catur, kalah dengan sebal, dan menang dengan riang, dan asal membayar.

Di dunia yang semakin kekurangan filosof ini. Terdapatlah seorang anak manusia yang di panggil Laksamana Chen. Sebuah nama yang tiada berhubungan dengan kepangkatan militer. Hanya sebuah nama. Mungkin memiliki keterkaitan darah dengan pelaut Tiongkok yang datang ke Bandar ratusan lalu, namun itu semua adalah desas-desus yang mungkin lebih memiliki bukti jika melihat raut wajah Laksamana Chen. Diwaktu remaja Laksamana Chen gemar akan Kungfu dan Wushu dan menguasai banyak jurus padanya, hingga mendapati bahwa dunia ini bukan lagi sebuah dunia persilatan. Laksamana Chen mundur teratur namun dapat dipastikan bahwa dialah yang memiliki ilmu meringankan tubuh tertinggi di Assosisasi Budjang Lapok.

Laksamana Chen yang memiliki wajah timur dengan alis kepak rajawali, pernah Barbarossa mengukur siapa yang memiliki alis paling tebal dan keren di ABL. Pemenangnya tak lain tak bukan adalah adalah Laksamana Chen. Saat ini ia adalah pemilik sebuah kedai obat, setelah tak menekuni lagi dunia Kungfu dan Wushu. Laksamana Chen meracik obat dan berhitung dengan cipoa. Sebuah bidang yang awalnya bukan cita-cita, dan hampir kebanyakan manusia di Bandar tidak bekerja di bidang yang ia inginkan. Menikmati apa yang mampu serta mampu menikmati apa yang ada.

Alkisah di suatu malam yang agak telat di mana hujan deras mengguyur Bandar. Laksamana Chen tergopoh-gopoh menuju lepau nasi. Lepau nasi polong, terkenal dengan kacang polong hijau berbumbu. Merupakan lepau nasi terkemuka di Bandar dan memiliki lima cabang. Dan Polong tiga merupakan nama lepau nasi yang disinggahi oleh Laksamana Chen. Merupakan salah satu lepau nasi yang sering dikunjungi oleh ABL. Sayangnya malam ini Barbarossa sedang bertugas keluar kota untuk membeli persediaan beras kerajaan, sedang Mister Big giliran berjaga, Penyair tidak ada kabar. Yang lain bubar. Maka sendirilah Laksamana Chen di lepau Polong tiga.

Hujan yang deras membuat pelayan malas-malasan, pengunjung tak ramai. Laksamana Chen memesan nasi bebek. Gerimis tiba, cuaca membaik. Laksamana Chen selesai bersantap dan memesan teh susu. Satu persatu pelanggan pulang hingga tinggal Laksamana Chen sendirian. Melinting tembakau, Laksamana Chen mengeluarkan Cipoa. Namun tiba-tiba lepau Polong tiga gelap. Pengusiran paksa dan Laksamana Chen tersinggung berat, membayar dan pergi.

“Apa salahnya mengatakan baik-baik? Seperti kita mengusir pencuri saja!” Barbarossa naik pitam ketika Laksamana Chen menceritakan. Empat besar ABL ada disitu, di lepau depan pelabuhan. Barbarossa, Laksamana Chen, Mister Big dan Penyair. Dengan kesunyian masing-masing.

“Mereka harus kita ultimatum! Mister Big tuliskan kata-kataku ini! Kami, Assosiasi Budjang Lapok dengan ini menyatakan tidak menerima perlakuan pihak lepau polong terhadap anggota kami tersayang Laksamana Chen, maka saya selaku ketua ABL dengan ini menyatakan memboikot lepau polong.” Mister Big mencatat seksama perkataan Barbarossa. Barbarossa merupakan pemimpin cepat dan tangkas, terkadang mengambil keputusan berdasarkan emosi. Dan terukur. Namun ABL terlepas sifat apolitik menerapkan demokrasi centang prenang.

“Untuk apa serius setiap saat Barbarossa? Jika kita hendak memboikot, ya kita boikot. Tak perlu rasanya kita mengirimkan surat segala, lama-lama perilaku kita bagai petugas kerajaan saja, segala macam tetek bengek di bakukan dalam surat menyurat.” Protes si penyair, yang dalam hal ini memiliki antipasti terhadap sikap kelembagaan terlalu.

“Penyair alahai penyair, kesunyian menunjukkan ketidakberdayaan. Dalam hal ini kita harus melawan!” Barbarossa melirik Mister Big, wajahnya menyatakan setuju. Beralih ke Laksamana Chen. Biasanya paling pasif terhadap yang bernama konfrontasi. Alisnya bergerak seolah berkata ikut. Dan sebuah keputusan dimana Laksamana Chen ikut adalah selalu memenangkan pemilihan suara, begitu setidaknya hari ini. Barbarosa melihat sekeliling, ada Azien disitu, tetangga Laksamana Chen sekaligus kerabat. Ia memanggil.

“Azien tolong antarkan surat ini ke warung Polong!” Sebagai belia muda, kalah pamor dan segalanya, Azien menurut saja. ABL pun kembali bercengkarama, tertawa dan bercerita hal lain seolah lupa tentang masalah yang sebelumnya terjadi. Hingga Azien kembali. Langsung menghadap Barbarossa si kepala klan. Kepala Konfederasi Suku ABL. A Patriach.

Sebagai kurir Azien ingin tampil seksama, membetulkan rambut dan melapor, “Jangan ceraikan Polong” Pesan singkat padat dan jelas, menyiratkan kemenangan ABL selaku sekumpulan orang melawan korporasi besar.

“Kemarin kamu boleh bersedih Laksamana Chen, hari ini mari kita bercanda! Rayakan dengan teh susu.” Barbarossa tertawa, entah apa yang terjadi esok. Hari ini biarkan mereka bercanda merayakan kemenangan tak seberapa bagaikan merayakan kemenangan para raja.

XXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 45 Comments

TERIMA KASIH PADA SASTRA

Seorang penafsir tidak lahir dari ruang hampa, ia makhluk sejarah.

TERIMA KASIH PADA SASTRA

Telah tiba waktu seseorang yang bertambah usianya berkata. Terima kasih kepada sastra yang telah membebaskan untuk berkata tentang “apa” tanpa harus menjadi “apa”, sehingga “apa” yang dikatakannya mungkin dirasa “benar” namun yang berkata sendiri, mungkin bukanlah “wajah” kebenaran

Bisa jadi ia adalah seorang pembual besar, pembicara atau penulis biasa dengan sifat cela yang akbar. Atau seorang pencuri lihay, mengutip dari sekitar dan mengaburkan essensi. Seorang durjana ataukah penyair bisa menjadi Abu yang bijak sekaligus debu dalam satu hembusan.

Adakah ia seseorang yang mengenakan satu wajah yang sama bertahun-tahun, ataukah ia seseorang yang bisa berganti muka dengan cepat? Sebuah wajah disetiap kedalamannya mampu menyembunyikan “kebinatangan” atau “kemanusiaan” dalam satu wujud. Dewasakah wajah itu? Atau ia seseorang yang sudah sampai pada parasnya yang penghabisan, yang kini sudah lungset, berlobang-lobang, dengan lapisan yang telah tersingkap, hingga yang tampak sebenarnya yang bukan wajah manusia, mungkin saja iblis.

Ia punya impian, merasa memiliki kemarahan yang benar, tapi ia ternyata juga punya batas. Mungkin awalnya hanya ingin bersyair. Yang tak ingin menginterpresepsikan apalagi mengubah dunia. Bertemu orang pintar yang mencerahkan dalam bentuk Salek Pungo, mungkin ia tak sebijak apa yang ia tuliskan. Padahal ada saat ia naif dan tidak memahami manis, asam, asin bahkan pahit kehidupan.  Mungkin terlalu naif sehingga seingatnya sosok bernama Mister Popo berkata, “jangan terlalu naif!!” Namun naif dan culas sendiri tak merupakan wujud yang terpisah.

Risalah ini mungkin merupakan Risalah Sang Durjana yang tentunya berkelanjutan dalam berbagai petualangan. Di dunia itu ia berjalan, di wilayah yang lebat dan lindap, penuh tikus dan tikungan, lubang dan sampah, reptil busuk dan rawa payau. Terkadang menjadi penyihir terkadang ksatria. Dan itu adalah sebuah topeng, topeng tak sempurna. Seperti ketidaksempurnaan manusia karena manusia bukan cetakan tunggal murni Adam di atas bumi, yang ditaruh dalam gelas, tanpa sejarah, tanpa ketelanjuran kebudayaan. Machiavelli menyadari itu, mungkin karena itulah ia mengagumi filosof tersebut.

Terima kasih pada sastra, yang telah memperkenalkan kepada ruang dan waktu terutama pada orang-orang. Tiap orang yang memiliki menampilkan kembali secara utuh apa yang diwakilinya, yakni sesuatu yang tak bisa berulang di sosok lain, di benda lain. Bahwa Barbarossa tidak simetris kepada Laksamana Chen apalagi Mister Big. Dan jangan bandingkan pula dengan Penyair. Cerita yang memikat, tokoh yang hidup, selalu menggugat dalam kesederhanaan nasib.

Tiap nama dalam menyiratkan sebuah anekdot. Dengan kata lain, sesuatu yang menarik bukan karena keluasan dan kebesarannya, melainkan karena sesuatu yang justru tidak luas dan tidak besar. Sesuatu yang sederhana. Nama adalah sebuah ikhtiar untuk memberi tanda sesuatu yang melintas, lewat, dan tak akan terulangi. Tapi tiap nama adalah sebuah dunia.

Dan ketika fase empat tahunan ini kembali. Mari mengenanglah akan sesuatu yang tak akan kembali, waktu. Bahwa sebuah bilangan berakhir disini, dan tiba saat memulai hitungan baru. Namun jangan biarkan semua tersapu oleh angin. Sebuah harapan agar memahami kemenangan diri adalah kalahnya diri, bahkan sebelum seseorang mengangkat pedang. Gerak adalah bukan gerak, kehadiran adalah bayang-bayang, dan melepas adalah mendapatkan. satu sikap yang melepaskan diri dan mengambil jarak batin dari pamrih, ambisi, kemenangan, dan dunia benda.

Dan bila gagal pun, wajarlah karena seorang manusia. Manusia memiliki bermacam rasa ketidakberdayaan di hadapan masa depan, juga semacam kesunyian. Tak berdaya dan sunyi, manusia, akan membutuhkan batasnya sendiri.

Duhai diriku, bahkan betapa susah sungguh mengingatmu penuh seluruh.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments

ADA SETELAH TIADA

Ada muncul setelah tiada

ADA SETELAH TIADA

Segala yang ada bermulai dari tiada

ada masa bahkan waktu pun tak ada

maka dahululah malam sebelum siang

hingga semua terhampar sempurna

 

ketika setitik air membawa hidup

sulitkah membina atau membinasa

pada pepohonan yang tumbuh

memancangkan gunung-gunung tertinggi

 

hewan ataukah manusia

yang pertama membinasa

yang kedua membina

serupa namun tak sama

 

dan diantara segala yang tercipta

tiada sama satupun jua

bahkan bila seolah serupa

meski dalam beda sama pun jua

 

apa yang ada setelah tiada

maka jangan bertanya

tentang yang ada sebelum tiada

cerita ada mula ada akhir

 

Koetaradja, 26 Pebruari 2012.

Posted in Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

RAGA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok

RAGA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Dunia budjang adalah dunia permainan, dimana semua dibawa dalam canda. Begitu pula Assosiasi Budjang Lapok selalu punya bahan permainan, mungkin dalam diri mereka terdapatlah sisi kanak-kanak yang belum terpuaskan dengan penuh pada waktunya. Sehingga berkelanjutan sehingga dewasa.

Tiada manusia yang sempurna dan itu adalah manusiawi, Assosiasi sangat memahami hal ini. Karena manusia sempurna adalah kebohongan semata. Dan jika ada merasa dirinya sempurna maka itu semua tak lebih merupakan kesempurnaan yang menjijikan. Karena manusia tiada suci lagi menyucikan.

Alkisah si penyair adalah seorang yang mencintai permainan sepak raga. Mencintai dalam arti bukan ahli padanya (setidaknya ia sudah mencoba bergabung namun selalu tak masuk pilihan utama), tapi menikmatinya menggunakan hati. Dan perkumpulan yang menjadi kebanggaan penyair adalah Persekutuan Sepak Raga Seniman (PSRS). Dan bila PSRS bermain maka dipastikan si Penyair akan meninggalkan waktu berbual-bual dengan anggota ABL lain demi menyaksikan tim kesayangannya.

Penyair sendiri bukanlah seorang penyair, dulu ia pernah mencoba hingga mendapati bahwa syairnya bermutu rendah dan tak diterima khalayak ramai. Ia masih mempunyai rencana cadangan karena bercita-cita dari masa kanak-kanak menjadi penjaga pameran barang antik kerajaan, namun sekali lagi ia merasakan kegagalan. Dan anehnya kerajaaan menerima Penyair sebagai pemungut cukai dipasar. Sebuah kedudukan elit di negeri Bandar, sebenarnya penyair tak sebegitu tertarik, namun periuk nasi butuh beras untuk diisi. Penyair pun berpikir daripada menjadi bujang lapok yang memberatkan orang tua, maka jadilah.

Menjadi pemungut cukai dipasar berarti memiliki koin yang baik. Begitulah anggapan awam. Namun walaupun pemungut cukai yang lain sudah memiliki banyak sawah dan kuda si Penyair masih berjalan kaki. Ketika sejawat bertanya kepada Penyair mengapa bisa? Penyair berkata koinnya sedikit. Dan saat mereka mentertawakan bahwa koin tak berbunyi giliran penyair mengkerutkan kening, karena koin dalam bentuk dinar (emas), dirham(perak), ketip (tembaga) bukankah kalau digoyang dari kantongnya tetap berbunyi juga? Tapi penyair walaupun seorang penyair gagal namun tetap memiliki jiwa seni, sehingga tak terlalu terikat materi sehingga tak ambil pusing.

Menjadi pemungut cukai dipasar berarti harus duduk di lapak pasar dari selepas Shubuh hingga sebelum Ashar sesuai jam kerja pasar. Tidak boleh berpindah, kecuali masa istirahat shalat Dhuhur sekaligus makan siang. Menjadi pemungut cukai juga merupakan sasaran kebencian para pedagang. Entah siapa yang culas dalam hubungan ini, penyair tak peduli. Wajar bila si Penyair menjadi pemungut cukai yang paling sering melamun ketika bertugas. Dan si Penyair adalah pemungut cukai dengan prestasi biasa saja. Sangat biasa dan terlewatkan jika anda ke pasar Bandar.

Tiada yang selamanya baik dan selamanya buruk, mereka beriringan dalam kehidupan. Kehidupan bukanlah layar hitam putih. Ia penuh warna sehingga kadang bahkan kelabu bila dengan komposisi sempurna akan terlihat indah. Dan cinta tak dapat dipalsukan bahkan jika seluruh dunia palsu. Oleh karena si Penyair tak pernah melewatkan satu pun pertandingan PSRS Seniman maka ia diangkat sebagai penasehat, yang termuda. Paling murah senyum, paling santun berkata-kata namun paling beringas teriakannya jika PSRS bermain dan tentunya paling syahdu menyanyikan himne PSRS. Sesuatu yang menurut penyair adalah pekerjaan hati yang selayaknya dilakukan dengan sepenuh jiwa.

Dan kisah ini bercerita tentang sebuah masa, masa ketika PSRS memperebutkan kejuaraan Liga Bola Raga Bandar melawan saingannya dimasa lalu, Persekutuan Serikat (PS) yang anggotanya terdiri dari perkumpulan bola raga penjaga istal kuda dan pelayan raja-raja. Dulunya merupakan yang terkuat di negeri Bandar namun pernah terbukti menyuap hakim. Namun itu bertahun yang lalu, sekarang Perserikatan Serikat telah diizinkan bermain kembali. Menunjukkan perilaku baik dan langsung menggebrak meninggalkan tim-tim lain dan hanya tinggal bersaing dengan PSRS dalam menjuarai Liga Raga.

Dan dalam pertandingan bergengsi tersebut penyair hadir satu jam sebelum pertandingan. Dan permainan berlangsung dengan nominasi PSRS. Beberapa kali hakim membuat keputusan menguntungkan Persekutuan Serikat, penyair mengurut dada. “Saya pikir hanya kesalahan manusia semata.” Begitu kata hatinya. Kejar mengejar angka terus berkelanjutan hingga tiba disaat penentuan sebuah angka dimana kedua tim sama. PSRS berhasil memasukkan angka tapi hakim mengatakan keluar. Bahkan para pemain Persekutuan Serikat terkejut karena mereka memenangkannya, seluruh penonton riuh namun hakim tak peduli pemenangnya adalah Persekutuan Serikat.

Penyair seumur hidupnya tak pernah bertaruh, namun dalam sekejap luka lamanya terbuka kembali. Luka dimana ketika Persekutuan Serikat jaya dulunya mereka menggunakan cara-cara kotor, seperti menyuap hakim. Dan yang paling menyakitkan bagi penyair adalah ketika dia masih teramat belia, idolanya Midun dipatahkan kakinya oleh orang-orang suruhan Serikat Pekerja, tiada pernah ada keputusan dari kadi karena mereka dekat dengan orang-orang kerajaan. Kejadian ini mengendap dan Midun pun menghilang ditelan angin.

“Saya pikir mereka sudah berubah, ternyata mereka masih saja culas!” Berkata Penyair kepada ketua PSRS yang berdiri disampingnya, dan tanpa memperhitungkan posisinya sebagai penasehat yang seharusnya menasehati, tanpa memperhitungkan dirinya yang semakin menua, tanpa mempedulikan apa-apa Penyair mendatangi kerubungan massa yang memprotes hakim yang acuh tak peduli. “Mati!!!” Tunjuknya, emosinya telah lama tertahan, rasa sakitnya sudah bergumpal bertahun hingga ia tak peduli. Situasi hening, dan ketika Penyair hendak melepaskan serangan mematikannya, seseorang menariknya kembali. Hampir penyair melayangkan tinju pada yang menariknya hingga ia sadar. Bahwa yang menariknya adalah Ketua PSRS, orang lebih merasakan sakit dari yang ia rasakan. Seseorang yang membangun PSRS dari awal dan tiada. Pastinya akan merasakan kezaliman ini dengan lebih pedih.

“Penyair sudah bukannya lagi zamannya kekerasan, kita sudah dewasa untuk memahami demi kedamaian terkadang harga diri harus dikesampingkan. Apa jadinya bila kamu yang seharusnya menjadi penasehat terbakar, maka akan terjadi keriuhan massal. Tenangkan dirimu. Perbanyak Istighfar, sekarang saya akan meminta mereka bubar. Bagaimanapun kita harus menerima hasil ini.” Setelah menarik Penyair ke tepi ketua PSRS mendatangi massa dan menenangkannya.

Penyair terduduk di rerumputan dan ia tersadar mengapa ia sangat mencintai permainan bola raga terutama PSRS. Karena disini mereka terangkum sebagai keluarga, keluarga besar yang sabar dan tawakkal.  Memiliki persamaan pemikiran bahwa kemenangan harus diraih dengan semangat keadilan, namun tak harus beringas bila dizalimi. Karena permainan ini walaupun ia merupakan kehidupan, ia tak lebih adalah permainan. Kehidupan adalah permainan belaka.

Setelah berpamitan penyair berjalan gontai, ia tak pulang kerumah namun ke lepau nasi. Disana ia dan para anggota ABL telah bersepakat untuk bertemu sebelumnya. Bahwa kehidupan memiliki banyak sisi, dan kita tak boleh patah. Terutama si penyair karena ia adalah jiwa dari Assosiasi Budjang Lapok. Raga boleh terpenjara, namun jiwa harus bebas berkelana.

Dan di lepau nasi itu pun adegan kehidupan berjalan kembali.

XXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 44 Comments

NASIB ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok

NASIB ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok adalah sebuah perkumpulan yang bersatu akibat dari persamaan nasib, tiada muatan politik di dalamnya apalagi kesamaan ideologi. Nasib yang serupa telah menyatukan Assosiasi kedalam persamaan keinginan yang kukuh dan tersembunyi untuk segera memerdekakan diri dari Assosiasi.

Bahwa sesungguhnya dilubuk hati para anggota Assosiasi Budjang Lapok terdapat azzam yang membara untuk melepaskan diri dari organisasi. Tidak ada yang mendeklarasikan secara tersurat, semua tersirat dihati. Karena prinsip ABL adalah lebih baik meninggalkan daripada ditinggalkan. Siapa yang mau jadi budjang seumur hidup.

Alkisah awalnya berkisah tentang Barbarossa dan Mister Big, kebetulan mereka berprofesi sama yaitu petugas penjaga gudang beras kerajaan. Sebuah profesi yang sangat dicemburui oleh para anggota ABL lainnya. Bagaimana tidak? Tugasnya hanyalah bersantai selalu digudang beras kerajaan. Awal bulan tinggal mengambil koin dari Tuan Bendahara. Pekerjaan mereka ibarat surga dunia, nikmat dunia bukanlah dihitung dari jumlah koin namun bagaimana menikmati waktu bagai seorang Sultan. Dalam hal ini sang penyair yang paling keras menyatakan kecemburuannya.

Ada pepatah yang mengatakan “ayam mati dilumbung padi” maka itu cocok dengan Mister Big yang naïf. Seorang yang tawakkal menjaga gudang beras dengan sepenuh jiwa raga. Namun tidak berlaku bagi Barbarossa yang selalu santai bagai di pantai, terkadang diam-diam menyeludupkan beras. Namun Barbarossa tidak seculas itu, terkadang ia membagi hasilnya dengan Mister Big tanpa memberitahukan sumbernya. Mister Big yang sering menggantikan tugas Barbarossa menerima dengan takzim bagi hasil tersebut dengan prasangka adalah hasil kerja sejawat diluar tugas resminya. Prinsipnya adalah jangan menolak rezeki.

Pada suatu hari Barbarossa dan Mister Big ingin melakukan makar terhadap assosiasi, yaitu bermain solo mencari anak dara. Sebenarnya bukanlah tindakan keji, karena anggota ABL lain pun diam-diam melakukan aksi yang sama. Assosiasi adalah perkumpulan yang terbuka untuk dikhianati oleh anggota dan tak pernah mempermasalahkan itu sama sekali. Itulah keunggulan Assosiasi nasib.

Untuk menyusun sebuah rencana maka Barbarossa adalah ahlinya, maka mereka berdua berencana bertemu dengan dua anak dara sepulang mengaji. Barbarossa menyembunyikan nama target (belakangan baru diketahui bahwa dia juga tidak tahu) dan merencanakan pertemuan sesudah pengajian Ashar ditepian sungai, supaya romantis begitu direncanakan. Dan terjadilah affair itu.

Bandar adalah negeri yang disusun berdasarkan hukum adat. Menyiasati hukum adat yang ketat maka kedua anak dara tersebut membawa seorang teman laki-laki (Barbarossa dan Mister Big tidak mampu mendeskripsikan hubungan laki-laki tersebut dengan kedua anak dara tersebut). Laki-laki tersebut bernama Aleng. (Sungguh dasyat bila Barbarossa dan Mister Big tidak mengingat nama kedua anak dara tersebut namun mampu mengingat nama pengiringnya).

Untuk urusan setting tak dapat dipungkiri Barbarossa adalah master, terjadilah perkengkramaan khas Melayu dengan diringi aliran sungai antara sepasang muda-mudi dan seorang pengamat. Tak lama menjelang Maghrib kedua anak dara tersebut pulang. Namun si Aleng masih berbicara dengan Barbarossa dan Mister Big.

Ketika azan Maghrib memanggil Barbarossa sedang tidak mood, Mister Big seperti biasa mengikuti Barbarossa dan anehnya Aleng pun tetap bertahan. Diawali dengan canda dan berlanjut terus. Hingga Barbarossa sadar kaleng tembakaunya kosong, tak seperti biasa ia minta izin untuk ke kedai mengisi kaleng tembakaunya sebagai penikmat bicara.

Disaat Barbarossa pergi disitulah kejadian terjadi, Aleng yang laki-laki tulen menyatakan kesukaannya pada Mister Big, ya Mister Big yang naïf. Memiliki badan berotot dan paling proporsional diantara ABL lainnya. Berhidung semitik dan bermata Persia, tak heran Penyair terkadang menjulukinya Nizam Al-Mulk. Dan naifnya, Mister Big menolak secara halus, dan Aleng semakin terbuka menyatakan ia sangat menyukai Mister Big yang sedari tadi berharap Barbarossa segera kembali. Ia meningkatkan penolakannya menjadi sedikit naik dari lembut dengan menyatakan ia sebagai laki-laki yang menyukai anak dara dan tidak berperilaku menyimpang.

Namun Aleng semakin menggebu, beruntunglah bagi Mister Big karena Barbarossa telah kembali dengan kaleng tembakau yang penuh. Jika kita telah lama bersama maka akan terciptalah hubungan batin, begitulah antara Barbarossa dan Mister Big. Ketidaknyamanan Mister Big dirasakan oleh Barbarossa. Langsung ia menyodok layaknya begundal pasar menarik kerah Aleng dari belakang. Aleng terkejut dan menyatakan kepada Barbarossa bahwa urusan cinta ia siap bersaing dengan siapa saja.

Suasana hening sekejap, aura hitam menyelimuti mereka. Akhirnya Barbarossa memutuskan melarikan diri, dan segara Mister Big mengikuti. Mereka berlari sangat cepat menuju lepau nasi. Tiada melihat lagi kebelakang. Tergopoh-gopoh bagai maling ayam dikejar warga.

Dan sampailah mereka dilepau nasi, ternyata ada penyair dan Laksamana Chen sedang menikmati nasi bebek. “Seperti baru berjumpa setan kalian lari seperti itu.” Tukas Laksamana chen memainkan alisnya.

Buru-buru mereka duduk didekat Laksamana Chen dan Penyair, setidaknya empat lawan satu lebih baik daripada dua lawan satu. Setelah memastikan Aleng tidak mengikuti ke lepau nasi, Mister Big bercerita ihwal cerita. Laksamana Chen tertawa terbahak seraya menujuk dengan gaya mengejek. Namun tidak sang penyair yang segera mengeluarkan kelewangnya. Wajar diantara anggota ABL si Penyair adalah yang paling puritan. “Mana Aleng itu, nak ku sembelih dia!”

“Sabar penyair, ambil saja hikmahnya.” Barbarossa yang sudah tenang melinting tembakaunya. “Setidaknya dengan kejadian ini bahwa Mister Big memiliki wajah tampan yang tidak hanya anak dara namun juga bujang.” Barbarossa tertawa seolah ia tadi tak ketakutan jua.

“Mana bisa sabar Barbarossa! ini Aleng manusia pembawa kiamat. Halal darahnya ditumpahkan.” Penyair masih menenteng kelewang, dengan tangan masih penuh nasi.

“Alah macam kuat kali kau penyair, belum-belum kau yang disikat Aleng. Mau tidak kau melawan dia satu lawan satu? Mister Big yang kekar saja melarikan diri apalagi kau.” Laksamana Chen masih terlalu menikmati saat wajah Mister Big ketakutan. “Tapi aku kasihan.” Tambahnya.

“Kasihan apa?” Penyair masih dongkol.

“Kasihan dengan para anak dara, untuk mendapatkan seorang bujang mereka tak hanya harus bersaing sesama dara, tapi juga dengan bujang berperilaku menyimpang.” Laksamana Chen suka pusing kalau ABL berbicara serius, hidupnya adalah canda. Namun analisisnya selalu detil dan tak dapat ditolak oleh anggota ABL lainnya, wajar dia adalah yang paling disegani di ABL dalam hal silat lidah.

“Bahwa selapok-lapoknya kita, ada orang lain yang lebih tragis nasibnya dibandingkan kita.” Tambah Barbarossa seraya mengepulkan asap tembakau dari mulutnya.

“Yang jelas aku tak mau menemui dua anak dara itu lagi Barbarossa, daripada bertemu setan Aleng lagi. Lapar, pesan nasi bebek juga ah.” Mister Big sudah agak pulih dari pengalaman traumatis tadi.

“Pok, Lapok. Nasib si bujang lapok. Sudah bertemu anak dara masih saja budjang Lapok.” Barbarossa bernyanyi dan yang lain pun tertawa melepaskan ketegangan yang ada.

“Mengapa kalian ketika bertemu anak dara tadi tak mengajak kami?”

Barbarossa dan Mister Big kehilangan kata

XXXX

Kabar-kabur adakalanya lebih jelas daripada kabar nyata. Dewasa ini kabar nyata terlalu banyak muatan politis tidak ada faedah bagi kehidupan, tersiar kabar bahwa Assosiasi Budjang Lapok akan segera dijadikan atau disahkan oleh pihak kerajaan sebagai organisasi terlarang.

Keberadaan Assosiasi Budjang Lapok telah membawa keresahan kepada para anak dara dan para calon besan sehingga burung menyampaikan dari satu lepau nasi ke lepau nasi bahwa dengan segera Majelis Syura Kerajaan akan mencap organisasi ini sebagai perkumpulan liar. Apa jadinya bangsa bila penyakit tak kawin ini menular kepada para anak muda yang kuat azzamnya untuk menikah.

Pada dasarnya Assosiasi tidak peduli, namun cibiran menjadi-jadi. Barbarossa tak peduli, Amish Khan lebih tidak peduli lagi (lha dia mau kawin), sedang Laksamana Chen hanya memilin-milin kumis Cheng Ho-nya. Penyair juga santai, filosofinya adalah kita saja yang budjang berbahagia mengapa harus orang lain merasa terancam. Masalahnya pada Tuan Takur sebagai generasi kedua tuan tanah. Diuntungkan dengan landreform, dan dalam posisi menanjak. Berencana menambah beristal-istal kuda dan membangun sebuah Kastil. Apa jadinya bila Sultan mengetahui, bisa dicabut gelar kebangsawanan Orang Kaya.

“Gawat, sobat-sobat. Organisasi kita diambang kehancuran!” Tuan Takur datang ke lepau dengan kereta kuda diikuti dengan dayang-dayang. Biasanya Tuan Takur memang dengan kereta kuda namun tidak membawa dayang-dayang. Dayang-dayang ini mengipasi Tuan Takur yang gerah dengan bulu angsa. Laksmana Chen membuka mulut lebar-lebar melihat aksi Tuan Takur, sedang penyair pura-pura membolak-balik catatan. Barbarosa tertawa terbahak sambil memegang gelas teh. Mister Big hanya tersenyum. Amishkan yang duduk disudut garuk-garuk kepala.

“Orang-orang Bandar ini kampungan! Apa ceritanya ABL dijadikan organisasi liar! Mau dibawa kemana muka saya? Sebagai orang terhormat dihinakan layakya sampah masyarakat. Kamu Barbarossa! Sebagai BrainEvil and High Tech mesti punya solusi!”

Barbarossa tertawa. Laksamana Chen menerima umpan lambung. “Tuan Takur muka kamu tetap dikepala.”

“Lebih cantik lagi andai ditambah pemerah bibir.” Amish Khan menambahkan sedang Mister Big hanya tersenyum.

“Tenang Tuan Takur, tidak mungkin organisasi kita dilarang. Kitakan cuma Assosiasi yang tidak terdafar secara hukum. Bagaimana hendak dibubarkan? Organisasi Duda Keren (ODK) saja kerjanya menceraikan anak dara orang dan sudah terdaftar, tidak ada kabar dibubarkan? Apalagi ABL yang tak pernah menyakiti hati orang kenapa harus dibubarkan?” Penyair mencoba menenangkan Tuan Takur yang panik.

Satu-satunya yang bisa dipengaruhi oleh Tuan Takur adalah Mister Big yang polos. Jika anda membayangkan Mister Big jangan bayangkan badannya yang besar, karena tidak seperti itu. Mister Big memiliki badan kekar proporsional namun lihatlah kakinya yang panjang. Seharusnya karena kakinya yang panjang ia dipanggil Mister Long. Namun Assosiasi tidak peduli dengan badan berotot, wajah Persia miliknya dan menabuhkan gelar Mister Big.

“Tapi kita patut waspada, ODK punya kekuasaan sedang kita punya apa?” Bela Mister Big terhadap Tuan Takur.

“Kita punya Tabib Pong keturunan bangsawan lama yang sekarang sedang study banding ke pulau seberang. Punya Prof Gahul yang sedang sibuk riset, sekarang kita punya segalanya.” Barbarossa tersenyum bukan tertawa lebar.

“Itulah kalian salah! Kalian terlalu mengampangkan masalah! Itu pointnya!” Tunjuk Tuan Takur.

Yang lain tambah tertawa terbahak, tak lama lewat Messy sebagai ex-anggota ABL. Namun tidak pernah keluar dari ABL. Karena ABL adalah organisasi terbuka yang menerima siapa saja. Yang sudah menikah boleh bergabung, yang duda silahkan, yang cacat mental juga tak ditolak. Hanya satu syarat, orang tersebut tidak menyusu pada Assosiasi. Karena bagaimanapun anggota Assosiasi selain Tuan Takur bukanlah orang-orang yang terdaftar pada Majalah Forbes, dengan kata lain ketip pas-pasan. Menghidupi istri saja pikir-pikir apalagi menghidupi teman, ya menyingkirlah sudah.

“Hallo sobat semua, tahun segini masih bersama? Sudah saatnya kalian berpisah membangun kehidupan sendiri. Saya tidak bisa membayangkan kalian di zaman ini masih juga belum kawin-kawin. Cepatlah menikah dunia ini mau kiamat sobat!” Messy memiliki gaya retorika seorang pendidik dengan gaya tangan klasik. Pernah makan dendeng Balado? Kalau sudah maka bayangkan seorang yang memiliki kata-kata yang lebih pedas dari itu. Itulah Messy. Namun ia juga adalah seorang pekerja di Majelis Syura sebagai penelaah rancangan qanun. Maka ia adalah orang yang tepat untuk menggali informasi tentang hal ikhwal perencanaan pencanangan ABL sebagai organisasi liar atau bahkan sebagai organisasi terlarang. Ia menarik kursi dan duduk. “Pesan teh susu satu!” Pada pelayan.

“Messy apa benar akan keluar qanun pencanangan ABL sebagai organisasi terlarang? Isu yang beredar sudah sangat kencang, sampai teman kita yang sedang sibuk dengan sawah-sawah dan ratusan kuda sampai datang kemari untuk mengklarifikasi” Tanya Barbarossa sambil menunjuk Tuan Takur.

Messy tertawa hingga memukul-mukul meja, ada nada ejekan didalamnya. “Siapa kalian hingga dilarang? Apa hebatnya ABL hingga meresahkan masyarakat. Jangan-jangan terlalu lama menjadi bujang membuat otak kalian cacat!” Messy mesti menggunakan jari-jarinya menunjuk anggota ABL.

“Bukan kami tapi Tuan Takur itu!” Lempar Laksmana Chen.

“Cacat ya cacat sendiri Tuan Takur, tidak harus ajak-ajak kami” Amish Khan bagai B-29 membom Hirosima dan Nagasaki sedang yang lain tambah ngakak. Tambo ciek!!!

Bayangkan seorang feodal telah direndahkan. Jika ini terjadi di India, maka segenap yang menertawakan Tuan Takur akan ditarik oleh kereta kuda sampai tewas. “Jika saya salah saya mohon maaf.” Begitu sebut Tuan Takur. Inilah hebatnya ABL sebuah Assosiasi yang egaliter, yang dipersatukan oleh persamaan nasib. Assosiasi telah membuang strata sosial di lepau nasi. Siapapun dia anggota ABL adalah seorang demokrat jiwa dan raga. Tak heran hingga organisasi bertahan ditengah perkembangan zaman. Dan hari itu pun kembali berlanjut di lepau nasi. Forza ABL!!!

XX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 56 Comments

ANGIN DINGIN MENEPATI JANJI

Angin dingin menepati janji

ANGIN DINGIN MENEPATI JANJI

Angin dingin menepati janji bulan purnama tiada batas, rasa rindu membuatku melewati sehari bagaikan setahun, walaupun aku tidak tampan namun aku memiliki dada yang lapang dan tangan yang kuaaaat.”

Sebuah sajak yang terlupakan, dahulu sekitar sepuluh tahun yang lalu. Kata-kata ini bagai mantra dimulut Abu. Yah, terkadang kita lupa dan itu manusiawi. Sajak ini bukanlah orisinal, Abu mengutipnya dari serial TV Pangeran Menjangan. Entah mengapa, Abu terpesona dengan liriknya yang kata teman-teman Abu norak. Kisah Pangeran Menjangan sendiri menceritakan tentang seseorang naïf yang dinaungi keberuntungan-keberuntungan alami yang membuatnya menjadi legenda di negeri China pada zaman dinasti Ching.

Waktu itu Abu masih baru masuk kuliah di tahun 2002. Mungkin, rasa optimis seorang mahasiswa yang bukan apa-apa membuat Abu melafalkan berulang-ulang sajak ini dibangku kuliah. Waktu membuat Abu melupakan sajak ini. Namun di malam ini seorang sahabat teman kuliah mengirimkan Abu sms dengan isi sajak ini, dan ini sangat menggugah.

Sebagai sahabat kami sudah tidak berjumpa sekitar sembilan tahun, di tahun 2003 Abu mengambil pilihan tidak melanjutkan kuliah di Akuntansi Unsyiah. Tahun 2004 terjadilah Tsunami dan di tahun 2006 sang sahabat juga meninggalkan bangku perkuliahan. Atas dasar pertimbangan yang nurani ia memutuskan untuk masuk ke Dayah (Pesantren).

Dan Abu bertualang kemana-mana hingga di tahun 2011 kembali ke kampung halaman. Sahabat Abu juga tidak pernah meninggalkan dayah selama masuk dan menimba ilmu disana. Beberapa malam yang lalu kami mengadakan reuni kecil-kecilan. Baik yang lulus maupun yang tidak lulus dari perkuliahan. Tentunya tidak semua yang ikut hanya beberapa dan itupun hanya yang laki-laki saja. Sahabat Abu yang selama masuk Dayah tersebut yang belum pernah tidur dirumah seharipun kecuali sekali sejak tahun 2006 datang. Dan kami mengobrol sampai menjelang pagi.

Kami semua sudah berubah, namun dialah yang paling berubah dengan tampilan khas pesantrennya. Sekarang dia sudah menjadi seorang Tengku, atau guru. Kami bercerita tentang banyak hal dari cerita masa kuliah hingga masalah agama (terutama bab bersuci). Dan diantara pembicaraan serius tersebut sempat-sempatnya beliau berbisik kepada Abu, “Abu, saya masih mengingat puisi kamu dulu, Angin dingin menepati janji bulan purnama tiada batas, rasa rindu membuatku melewati sehari bagaikan setahun, walaupun aku tidak tampan namun aku memiliki dada yang lapang dan tangan yang kuaaaat.”

Terus terang Abu terkejut, seorang sahabat yang telah memilih zuhud terhadap dunia masih mengingat sajak kekanak-kanakan itu. Abu tertawa sedikit malu akan bagaimana tingkah laku dulu. Tapi bagaimanapun nostalgia adalah hal yang indah. Ada yang mengatakan, nostalgia menyenangkan karena masa lalu adalah sesuatu yang aman. Ia bisa kita atur bagaimana ia tampil di dunia kita saat ini.

Dan ketika beliau yang pada malam itu juga meng-sms Abu dengan siraman rohani, namun tidak Abu membalas.  Malam ini ia mengirimkan sms berisi sajak lama Abu tersebut. Abu sekali lagi terkejut dan merenung, betapa bila Abu mengingat bahwa sajak tersebut. Dulunya Abu bacakan keras-keras di ruang kelas demi mengikis rasa kekurang percayaan diri demi menghadapi terjangan zaman yang semakin keras. Dan Abu terharu.

Terharu bahwa Abu sebenarnya sudah melupakan sajak tersebut, terharu juga bahwa teman-teman Abu yang lain juga tidak mengingat akan sajak tersebut lagi. Terharu bahwa selama sembilan tahun beliau masih mengingat lafal sajak tersebut dengan benar. Mungkin itu adalah sebuah hal lucu, namun sangat berarti.

Mungkin, jiwa Abu tak semurni dulu lagi. Penuh dengan polusi sehingga terkadang cemas dan gelisah pada hal-hal yang dulunya malah Abu anggap sepele. Dan mungkin bisa dikatakan bahwa Abu yang dahulu lebih baik daripada yang sekarang. Sobat, terima kasih sudah mengingatkan. Semoga Abu dikemudian hari menjadi orang yang lebih baik, tidak hanya ilmu namun juga jiwa. Betapa sebuah sajak sangat berarti, sajak yang berbunyi, “Angin dingin menepati janji bulan purnama tiada batas, rasa rindu membuatku melewati sehari bagaikan setahun, walaupun aku tidak tampan namun aku memiliki dada yang lapang dan tangan yang kuaaaat.”

Kisah-kisah Abu yang lain:

  1. DINGIN SEPERTI ES KRIM 27 OKTOBER 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. MIMPI BERTEMU NABI 20 JANUARI 2009
  4. AROMA PEREMPUAN HIJAU 9 FEBRUARI 2009
  5. LEGENDA KAKI DEWA 1 JUNI 2009
  6. KEKUASAAN PLUIT 12 NOVEMBER 2009
  7. KAKI GAJAH 12 NOVEMBER 2016
  8. KAKI GAJAH BAGIAN DUA 8 JANUARI 2017
  9. JELAS AKU PANCASILA KARENA AKU BER-KTP MERAH-PUTIH 3 JUNI 2017
  10. NOMOR 48 26 OKTOBER 2017
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

ROTTEN

Teuku Umar 1896

ROTTEN

A bunch of rotten would never talk about the purity of ideas, where he was like gold. A foul is a thief who carefully and lovingly smiles on the mask. And if my words sweet believe me this is all a mask of self-centered.

What do I give will never become a reality all that crap just to make you fall for it, and believe me if you still believe that I could to her experts? If it seemed good in my words behind the sheer rottenness.

If only you knew me, then you find someone who is an expert contemptible word, unfortunately, no one in the world who know me best of me. And I’m free to mess things up, blowing all the guile to anyone.

And when I have spoken with humility, then it is a scam going very, very proud of myself, that I will breath breathed on the fictional eyes and ears. It will blind your eyes and ignore what I said, I’m sure of cunning. And I would really arrogant of this nature.

If you insist deny my words then I am satisfied lust. Fruitfully noose attached to him. And if you do not understand these words mean then I will laugh my skill to outwit. I am the rot! are among the most rotten.

Posted in International, Literature, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

PADA AKHIRNYA KITA (JUGA) TAK PAHAM

Keserakahan mampu membinasakan manusia dalam jumlah besar dengan hitungan bernama statistik.

PADA AKHIRNYA KITA (JUGA) TAK PAHAM

Pada akhirnya kita (manusia) yang sedang berada di jalan dan atau pasar yang ramai, tak akan banyak tahu. Di balik kekuasasaan itu ada apa, ada siapa. Pernahkah di dalam sebuah keriuhan mengamati manusia-manusia yang terlibat di dalamnya, di balik gemerlap maupun kumalnya manusia ada cerita di sana, cerita manusia tentang dirinya sendiri. Pada harapan pada kesedihan yang mungkin tak tampak pada kulit luarnya.

Maka yang menjadi pertanyaannya bila manusia sebagai makhluk tersendiri mampu penuh serakah? Serakah akan hanya berarti hasrat memperbesar milik semata melainkan juga keinginan memperluas rasa jeri di hati lawan yang tak sebanding dengan ancaman musuh.

Keserakahan mampu membinasakan manusia dalam jumlah besar dengan hitungan bernama statistik. Pada sikap manusia keserakahan menyusup, mungkin tak bisa dikatakan rakus, yang lahir atas ketakutan akan kelangkaan, adalah sifat paling dasar manusia. Ia dibentuk oleh sejarah.

Bahwa sifat serakah adalah sesuatu berbahaya, dia melingkupi segala cela. Kesombongan dan kekejian. Tidak mesti harta namun segalanya, bahkan sidrom langka yang begitu kuat sehingga masuk ke wilayah cemas dan akut. Bahwa rahmat tuhan tak dilihat sebagai sesuatu yang terpancar namun sebagai sesuatu yang harus diperebutkan.

Bahwa dalam keramaian maupun kesendirian kita mendapati, bahwa manusia bukanlah sesuatu yang kebajikan tanpa cacat. Bahkan mungkin tak ada yang seperti itu tak akan ada, dan jika pun ada maka kebajikan itu adalah sebuah kebohongan. Karena manusia yang mengenal dirinya akan mendapati dirinya penuh cela.

Mungkin sunyi adalah bentuk mulia, dalam kesunyiannya masing-masing ia menyadari bahwa ternyata ia tak mampu mengklaim mengubah dunia apalagi menginterprentasikannya. Dan walaupun dunia itu adalah dirinya sendiri. Bahwa manusia dan keserakahan adalah tema lama, tentunya. Dengan variasi-variasi terbaru. Selalu berulang sepanjang sejarah mungkin karena manusia tak kunjung mengerti sifatnya sendiri.

XXXXXXXXX

Beberapa renungan lalu:

  1. Cerita Tentang Masa Lalu; 1 Juli 2009;
  2. Salam Rindu Selalu; 9 Juli 2009;
  3. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  4. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  5. Angin; 19 Februari 2010;
  6. Manusia; 18 Maret 2010;
  7. Kekuatan Hati; 27 Maret 2010;
  8. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  9. Memoar Romantik; 15 Juni 2010;
  10. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  11. Bermain Dengan Waktu; 21 Mei 2011;
  12. To Kill A Mocking Bird; 19 Juli 2011;
  13. Poker Face; 13 Januari 2012;
  14. Mengapa Harus Berkata; 3 Februari 2012;
  15. Tentang Aku, Kamu Dan Kita; 10 Februari 2012;
Posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments