CERITA (BELUM) SELESAI

Karena cinta, tubuh lelah siaga berdiri. Ketika medan juang harusnya tak memberi tempat lagi, menolak menyikapi zaman dengan tragis.

CERITA (BELUM) SELESAI

Ada waktunya, ketika kaki-kaki ini lelah berlari, ketika otot-otot berserabut mengkeriput. Maka jangan bertanya tentang masa muda duhai orang muda. Ketika tenaga itu tiada sudah, sungguh dari jerih payah ini, cerita menjadi kekuatan tersendiri.

Ketika orang bijak berkata bahwa cintamu tak berbalas maka percayalah, bahwa yang dikatakan renta ini berjuang bersama semangat yang dititipkan, dalam harap. Percayalah, disebuah hari yang keras telah tertumpah keringat, tak pernah berhenti bertahan. Percayalah, masa lalu tak akan pernah mati. Niscaya yang terlihat adalah keabadian.

Semua memiliki batas, tekad kukuh menghasilkan tindakan nyata, namun pada akhirnya tiap jihad akan berhenti. Mungkin, tiap pejuang yang telah pergi akan menjadi pengingat betapa bernilai seseorang baik. Karena di dunia ini, di luar surga, manusia harus siap kecewa, juga mensyukuri yang fana. Bahwa seseorang bisa menghilang, dilupakan namun pengabdian abadi.

Karena cinta, tubuh lelah siaga berdiri. Ketika medan juang harusnya tak memberi tempat lagi, menolak menyikapi zaman dengan tragis. Seorang lelaki dengan sebenarnya mampu membuang segalanya kecuali rasa cinta. Tentu ia bukan luar biasa pemberani, namun tetap berdiri tegar menghadapi segenap hantaman dengan mata terbuka.

Perjuangan, mungkin menyelamatkan. Bukanlah sebuah keajaiban, melainkan sebuah keganjilan, sikap acuh pada ketakutan. Bahwa waktu bersama usia yang akan menambahkannya ke tubuh renta, menjadi legenda kepada generasi selanjutnya.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Posted in Kisah-Kisah, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MANIFESTO POLITIK

Since love and fear can hardly together, if we must choose between them, it is far safer to be feared than loved. Niccolo Machiavelli – The Prince.

MANIFESTO POLITIK

Seseorang  dari masa kini, yang mana namanya tak baik untuk disebut, tidak pernah berkhotbah apapun selain tentang damai dan keimanan yang baik, dan atas kedua hal itu dia paling dimusuhi, atau, jikalau dia mempertahankannya, akan bisa membuat dirinya tercabut dari reputasi dan kekuasaannya terus menenerus.

Bahwasanya politik dapat diibaratkan sebuah kebusukan yang disajikan indah dalam talam bunga-bunga harum mewangi. Disajikan dalam nyanyian dan puja dan puji namun itu sebuah tak lebih dari, tak lebih dari sebuah kebusukan yang tersaji indah. Tetap saja busuk.

Ketika orang bijak berkata, “Ini zaman besar!!! Dibopong oleh orang-orang kerdil!!!” Dalam politik selalu saja begitu, zaman boleh berganti akan tetapi akan selalu begitu, apa yang salah? Tidak ada yang salah bukan.

Politik, disajikan dalam nyanyian dan puja dan puji namun itu sebuah tak lebih dari, tak lebih dari sebuah kebusukan yang tersaji indah. Tetap saja busuk.

Politik, disajikan dalam nyanyian dan puja dan puji namun itu sebuah tak lebih dari, tak lebih dari sebuah kebusukan yang tersaji indah. Tetap saja busuk.

Semua Negara, semua bentuk kekuasaan, yang pernah memegang dan tengah memegang kekuasaan atas nasib orang banyak dan sampai sekarang ini baik berbentuk demokrasi atau keturunan adalah sama. Jangan berharap terlalu, ada budi didalamnya.

Ketika tiada budi, maka janganlah terlalu berharap. Siapapun yang memenangkan pertarungan politik akan memikirkan kemanfaatan organisasi, mengesampingkan kepentingan pribadi. Serakah, dengan tipu dan korupsi adalah tujuan utama. Mungkin, ia akan memikirkan namun apabila bersinggungan dengan kepentingan pribadi. Luhur tiada dalam politik.

Maka bukan salah jika acuh pada politik, rasa dingin terhadap omong kosong politik. Karena tujuan politik sebagus apapun dibungkus adalah sebuah kekuasaan. Dan kekuasaan sebagaimana apa adanya adalah sebuah kekejian.

Maka sungguh beruntung ia yang adil, sehingga tak pernah berlaku zalim. Ia begitu pandai menguasai dirinya, sehingga ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum. Ia demikian cerdiknya, sehingga ia tak pernah khilaf dalam menimbang buruk baik. Dan kapasitas yang seperti ini sangat jarang, jarang dalam politik. Disaat ini bahkan bisa dikatakan tidak ada.

XXXX

Posted in Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , | 10 Comments

SANTIAGO SANG PELAUT

hinakelana

Aku yang menghilang dari hadapanmu, seberapa lama aku mampu.

SANTIAGO SANG PELAUT

Percayalah bahwa dunia ini, dunia yang tak memberi tempat lagi kepada semua harum kembang pemenuh dahaga rohani adalah sebuah nihil yang indah. Ketika pelita padam, ada yang tak menjadi bekas. Sebuah cerita akan kembali, sebuah lakon dari masa terdahulu bisa hadir hari ini. Setiap adegan kehidupan adalah peristiwa yang hadir dari ketiadaan.

Bahwa melakukan apa yang harus dilakukan, maka tiada akan ada sebuah sesal. Sebuah tubuh bisa membuat getar, tapi juga gentar, seperti lautan. Bukanlah sebuah kesialan, ini berkah. Ada rindu yang menggebu, ketika tak lama bertemu. Maka lupakanlah, dan biarkan waktu memberikan kekuatan mengepakkan sayap-sayap kecilnya lagi.

Mungkin aku telah jauh, maka biarkanlah aku mengembara jauh menghapus luka dan siksa. Jangan sesali kenyataan ini, tak ada senyum palsu. Bahkan ketika seluruh dunia palsu. Sesal tak akan arti karena semua telah berganti. Mungkin salahku melewatkanmu, tak memperjuangkanmu, maka celalah aku. Namun, tiada sesal.

Karenalah aku itu, Santiago sang pelaut. Memaklumatkan menafikan segala gahar dunia, membuang jauh rasa benci dan iri pada dunia. Tiada ingin lagi terlibat dalam dunia, di mana yang luhur katanya diperjuangkan, ketika yang busuk tersebar. Karena aku, Santiago sang pelaut. Yang terbusuk dari yang paling busuk. Tanpa harapan dan juga rasa takut. Akan mengasingkan diri. Disana, tak ada tahun baru, waktu tak hadir, juga perbuatan. Bahwa disana, tafakur adalah bersyukur.

XXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  47. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  48. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 63 Comments

TRAGEDI KEMATIAN JULIUS CEASAR

Ia yang meminta musuh menangis dan menghiba, jatuh ketika mengetahui sang terpercaya Brutus ikut serta. The 1798 painting The Assassination of Julius Caesar is by Vincenzo Camuccini

TRAGEDI KEMATIAN JULIUS CEASAR

Sering ia yang dicinta dengan terlalu, sering salah langkah. Sering ia yang dicinta dengan terlalu, tak paham akan kebusukan dunia sekeliling sehingga jatuh mempercayai orang yang salah. Maka, berhati-hatilah berjalan di dunia yang penuh onak dan darah.

Heil Ceasar!!!

Dan ketika ia menyeberangi sungai Rubicon, disebuah zaman yang gemilang, namun dipikul oleh orang-orang kerdil. Bahwa masa itu politik tak lagi mengesankan, penuh intrik dan kepentingan sesaat.

Ia melawan tradisi, membantah pertanda takdir. Dialah Julius, penakluk Gaul. Jagoan bangsa Roma, penakluk barbar. Maka ia, seorang Tiran yang dicinta sekaligus aib bagi segala musuh.

Shakespiere mengabadikan adegan itu, pembunuhan oleh orang-orang terhormat. Senat yang mulia. Dua puluh tiga tusukan, diakhiri oleh Brutus. Sang terpercaya, sejarah kerap menampikan ironi ketika yang terpercaya justru berkhianat. Bahkan sejarah butuh drama.

Dalam hidup yang tak selamanya putih, tak selamanya hitam. Julius dari Ceasar adalah seorang pemimpin yang tak terkalahkan dalam perang, yakin dan percaya akan kekuatan diri. 44 SM dibunuh di kourum senat.

Terkadang ia pemaaf, terkadang ia kejam. Zaman, itu adalah zaman pilih-pilih. Mungkin bagi mereka pencinta demokrasi, wajahnya adalah seorang Tiran. Mungkin bagi pencinta kejayaan, wajahnya adalah seorang bapak. Sebuah karakter multi-kompleks. Ia yang meminta musuh menangis dan menghiba, jatuh ketika mengetahui sang terpercaya Brutus ikut serta. Dimana tiada lagi harapan, ketika yang terpercaya “juga” berkhianat. Tak termaafkan.

Tragedi Julius. Adalah  cerita tentang pengkhianatan. Bahwa siapapun ia, memiliki batas. Siapkah kita?

XXX

Artikel Sejarah Dunia:

  1. Melanjutkan Perjuangan; 4 Agustus 2008;
  2. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  3. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  4. Perjalanan Ini; 18 Agustus 2009;
  5. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  6. Kisah Sebelum Sang Pangeran Selesai; 5 Juli 2010;
  7. Manifesto Politik; 27 Maret 2012;
  8. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  9. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  10. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  11. Mereka Yang Bangkit (Kembali); 18 Desember 2013;
  12. Bajak Laut Pemberontak Atau Perompak; 17 Maret 2016;
  13. Membakar Buku Membunuh Intelektual; 6 Juni 2016;
  14. Menentang Tradisi Memang Tradisi; 5 April 2017;
  15. Kopi Dalam Lintasan Sejarah Dunia; 1 Mei 2017;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

CONTOH PUISI CINTA BAHASA PERANCIS (A TOI MA FEMME)

Poignarder un désir passionné

A TOI MA FEMME

Lèvres rouges sourire
Comme une rose au milieu du silence
En attendant l’amour du voyageur passé
Bidonville et minable arraché
Regarde les yeux tristes
Bleu comme un arc-en-ciel
Répandez le charme du péché au crochet
Poignarder un désir passionné
Sous le clair de lune et les ombres
Un millier de rêves volent
Avec des pensées coquines qui fleurissent
Inviter un sourire significatif

Banda Aceh, vendredi 27 juillet 2001

traduit de la poésie “Padamu Perempuanku”

Posted in Poetry | Tagged , , , | 4 Comments

POETRY OF THEBES

Oedipus never understand the will of the gods. Acting alone, to face and cope with the temporal power. Commemorate the passion and death.

POETRY OF THEBES

Let the eye is not looking. I see the past because I see a future. Do not want to see again saw the victim fall again in the future. When life does not give the place again. Here, in Thebes, I stopped walking.

I am Oedipus, the accursed. And a city can be so surprising. In this Thebes. Oedipus never understand the will of the gods. Acting alone, to face and cope with the temporal power. Commemorate the passion and death.

And my daughter Antigone. Forgive your father’s Oedipus. That he was not a brave man, much less remarkable. Let yourself be dragged into the story of extreme suffering, and not your fault. For me, you are the brave hearts.

Then told the story to Homer, a father’s life story, later. Oedipus in power or not will always meet the limit. Excitement but also trepidation. My blessing for you, live bravely and died bravely.

I told you, O Homer, indeed of human life deserves its time, not always spectacular views. When a hero, record, insult throwing them choose. Because silence is better, and freely pursue truth is not supported forever.

But sorry is not a gift. Bitter, but ironic. Resignation, but also keeps the passion. That I felt the presence of Hades has been close, may they, who have I hurt forgave me. After that, let me burned in Tartarus. There is a sense of longing for the quiet, which are expected to attend it, holy.

XXXXX

Posted in International, Literature, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

RISAU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok

RISAU ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Parodi adalah hal sehat bukan? Ia adalah suara sumbang dalam nada harmoni. Ia membiarkan dunia dilihatnya ditengah tanpa bingkai yang tegar, ia membiarkan dunia terlihat menari seakan-akan berbeda tiap kali. Tiada melihat sesuatu yang luar biasa dengan ketakjuban, melainkan hal sederhana, mengundang takjub. Penuh kebijaksanaan dan ternyata belum terlihat secara utuh menyeluruh.

Ketika seorang pelaut pulang, ia akan membawa banyak cerita. Ketika seorang sahabat lama membezuk, ia akan disambut gegap gempita. Ketika para bajingan bercengkrama maka mereka akan tertawa. Alkisah pulanglah Santiago sang pelaut. Berpakansi ke Bandar, menghadiri beberapa kenduri, sebelum kembali melaut.

Santiago adalah sejenis Titan, Dewa lama, dalam Assosiasi Budjang Lapok. Seseorang dengan kualitas brutal dengan gaya anggun, terlihat layaknya pandir, pemikiran pandita dilengkapi lidah berandalan. Dalam kedalaman kata, mungkin hanya Barbarossa yang disegani. Seumpama mereka Dewa yang tua. Dalam Olympus, Assosiasi Budjang Lapok Kota Bandar.

“Barbarossa! Ahli cuci tangan!”

“Laksamana Chen! Naga tidur!”

“Mister Big! Pencitraan!”

“Penyair, Sensitif dan Idealistik!”

“Professor Gahul! Serakah!”

“Amish Khan! Dangkal!”

Hanya dalam sengsara dan mengenal sengsara, kebesaran jiwa bukanlah kesombongan. Dalam sebuah lepau nasi yang tak jauh dari lepau nasi lainnya. Beberapa orang berkumpul, tertawa dan menertawakan nasib. Siapapun yang berada disini, tentunya memiliki masalah dan masalah itu menjadi sebuah tawa bukan cela ketika seorang sahabat lama menghantam kesana kemari, kadang dibantu yang lain. Kadang mengeroyok, kadang terpojok. Santigo adalah ahli membantai, mungkin karena ia banya mengalami pembantaian.

Maka satu persatu ABL bertumbangan dalam keriasauan. Tersirat makna dalam kata-kata Santiago, dengan budi bahasa yang halus. Bahwa apapun cerita mereka adalah subjek korban, yang mungkin menderita, tapi tabah. Karena tiada bersendiri.

Santiago membawa sebuah suara, suara yang menganggu perasaaan, seperti sembilu yang lentur, halus, tajam, khas pasar. Ia menjangkau khayalak, tanpa menjadi sumbang.

XXXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 43 Comments

KETIKA IBLIS MEMBUNUH SEJARAH

Lingkaran kebencian adalah api yang membakar diri sendiri dan orang lain

KETIKA IBLIS MEMBUNUH SEJARAH

Maka dengan mata nanar, tangan penuh darah ini aku membunuh sejarah, dengan tiada permohonan maaf. Maka telah kukunyah semua dalam amarah. Mata merah ini menyaksikan perjalanan zaman hingga muak akan segalanya. Dan tibalah saat untuk membunuh sejarah.

Maka rasakanlah tusukan tombak ini langsung ke ulu hatimu, duhai sejarah. Sejarah yang malang dan tanpa bersalah. Dan setiap pembalasan membutuhkan tumbal, maka merupakan aibmu yang terkoyak-koyak taringku. Sejarah aku akan hadir dalam pemakamanmu, sebagai tanda kebuasanku. Sebagai prasasti akan kegemilangan seorang durjana.

Sesungguhnya aku yang dikutuk dengan lantang, dipuja segala dengan malu-malu diseluruh belahan bumi, dikecam oleh segala kitab suci. Tiada hati ini akan peduli, hati ini berkitab suci yang lain. Lain daripada yang lain.

Dalam kematianmu sejarah, adalah sebuah pilihan mudah bagiku, duhai sejarah. Ketika aku memilih menjadi roh terkutuk yang berada disampingmu, ketimbang memasuki surga tanpamu.

 

“Sesungguh ketika raga terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri asing. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan para kaisar, menunggangi kuda dipadang stepa Mongol, membelah rimba raksasa Afrika, dan memandangi selat Bophorus, atau bercengkrama ditaman kota Sevilla”

XX

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Puisiku | Tagged , , , , , , , | 4 Comments

PAHIT

Segala puji bagi-MU yang menciptakan rasa pahit.

PAHIT

Segala puji bagi-MU yang menciptakan rasa pahit. Rasa pahit pada tetumbuhan beracun, rasa pahit mencegah makhluk memamah segala racun terkejam. Pahit, begitupun obat-obatan yang menimbulkan tegang diwajah. Menghindari pahit bagai menampik kehidupan.

Pahit yang tak mesti selalu hitam, kadang ia hijau, merah, kuning maupun biru. Dalam banyak warna pahit menjelma. Dan sungguh pahit yang jernih menyegarkan. Meski kenangan membuat kita selalu mengingat bahwa pahit itu hitam, mungkin segelas kopi.

Bahwa sang pengecap mendapati pahit terbelakang, bagai rasa mengingatkan akan segalanya. Bahwa rasa pahit melindungi, bagai berbicara akan sesuatu ketidakmampuan tubuh mengasup racun.

Dan walau lidah yang merasakan, alangkah pahit sebuah sastra. Ketika ia berkata, bahwa yang terkuat adalah ia yang berdiri sendirian. Padahal ada yang menangis karena seseorang menangis. Maka wajiblah lidah memilah-milah, mana yang baik mana yang buruk.

Pahit itu pribadi, bila ia menghindari. Dan sungguh bila ia mengundang cemooh. Maka itu lebih baik dari pada dengki. Ia yang berbeda, dan tiada lagi keinginan memperjuangkan dunia, dimana bau busuk menyebar. Dan hanya membawa kedalam maka tersenyumlah dalam pahit, tunjukkan lidahmu karena sungguh ia tersembunyi. Mengucaplah terpujilah nama-MU yang menyembunyikan pahit di mata manusia.

XXX

Posted in Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

CELA SEMPURNA

Jangan takut tak memahami kawan, karena paham juga tak sempurna. Biarkan ia mengalir dalam cerita yang tersembuyi.

Jangan takut tak memahami kawan, karena paham juga tak sempurna. Biarkan ia mengalir dalam cerita yang tersembuyi.

CELA SEMPURNA

Kawan, bahwasanya tak ada cela dan sempurna yang utuh menyeluruh. Cela dan sempurna tiada berkemampuan berdiri dengan sendirinya. Apa yang ada disekitar akan mempengaruhi, hidup adalah aksi dan reaksi kawan.

Jangan takut tak memahami kawan, karena paham juga tak sempurna. Biarkan ia mengalir dalam cerita yang tersembuyi. Bahwa hidup ini mampu menembus ketidakmurnian dan keruntuhan yang lain, ketika kita sanggup menyambut apa yang asyik, dengan cara yang bersahaja, tanpa dibebani apapun jua. Mungkin itu sebabnya manusia dibelakai kemampuan khayali, berimaji.

Kawan dan lawan bukanlah musuh dan kita manusia. Tiada usah selalu sungkan untuk tak senantiasa selalu bersungguh-sungguh. Walau kadang kesungguhan tak menjauhi yang asyik, nakal, tak terduga-duga, tapi tak serakah untuk diri sendiri.

Dan celalah dunia ini kawan, bahwa ini zaman yang besar yang dibopong oleh orang-orang kerdil. Dalam secangkir gelas kita tertawa dan saling menertawakan akan nasib kita. Bahwa disitulah sebuah dunia tak pernah hilang, dunia yang telah menjadi ilusi, dikemas diteriakkan sebagai sesuatu yang baru, justu tak diciptakan kembali.

Yakinlah kawan, terkadang sepi itu baik. Tapi terkadang ramai itu lebih baik. Bahwasanya tiada hanya seorang yang merasa tersuruk, bahwa dunia pernah lebih buruk. Lepaskanlah segala topeng dan kita menari bersama, mengacuhkan dunia. Membuang segalanya.

Apapun yang terjadi kawan, yakinkan bahwa segala tindakan yang telah terjadi adalah yang terbaik. Tiada penyesalan, dan katakanlah, “Tiada pernah aku menyesali apapun jua.”  Dan sesunguhnya banyak liku dan lorong dalam masa lalu, terkadang manusia tak mau mengakui, bahwa ingatan tergantung dari kemarahan kita di suatu waktu. Maka lepaskan segala kemarahan dalam hening. Kemudian kembalilah dalam salam hangat. Agar tiada yang berkata, ada yang tersakiti berkali dalam satu hati karena kita pengecut.

XXXXXXXXXXXXXX

Beberapa syair yang lalu:

  1. Benci diatas Cinta; 13 September 2008;
  2. Indah Bunga; 20 September 2008;
  3. Padamu Perempuanku; 25 September 2008;
  4. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  5. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  6. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  7. Kalah Perang; 5 November 2008;
  8. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  9. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 34 November 2008;
  10. Mengejar Bayang-Bayang; 4 Desember 2008;
  11. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  12. Selamanya; 14 Desember 2008;
  13. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  14. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  15. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  16. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  17. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  18. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  19. Anak-Anak Bermain Bola; 26 Februari 2009;
  20. Dua Puluh Lima Tahun Seperempat Abad Sudah; 2 Maret 2009;
Posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment