POLITIK ABU NAWAS

Abu Nawas versi tahun 1920-an

POLITIK ABU NAWAS

Sebuah lelucon akan lebih terasa dekat, ia memanggil rasa haru, bangga dan bahagia secara akrab disaat waktu terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Mungkin, karena itulah Abu Nawas terasa begitu akrab. Tiap kali seorang tokoh ditampilkan dengan perkasa, tercipta jarak. Jarak untuk kagum dari jauh, berusaha paham dengan arif. Dan untuk itu Abu Nawas hadir menampilkan ironi, membuka pintu menuju arif. Tak heran ia menjangkau siapa saja.

Dalam kisahnya kita belajar kebijaksanaan dengan riang, bahwa hati dengan ringan kita mengetahui bahwa yang suci tak sebegitu menggetarkan, bahwa yang berkuasa perlu mendengarkan si pandir. Lelucon menemukan sesuatu yang luhur bukan sekedar kotoran yang terserak, setidaknya ia memberi arti.

Abu Nawas lahir dari sejarah bukan dari ketiadaan. Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang). Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Khalifah Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Hidup dimasa gemilang pemerintahan Harun Al-Rasyid, dengan cara kacau balau mampu menolong atau sekaligus mengalahkan Khalifah dalam setiap masalah.

Saat itu zaman keemasan dimana emas diucapkan lebih banyak dibandingkan gandum, membongkar kebiasaan lama memandang kekayaan dan milik, melimpahnya emas juga merupakan sesuatu yang salah, ketika demand dan supply tidak berjalan dengan semestinya, pada akhirnya disebuah kota besar, dalam pasar yang ramai, tak banyak yang tahu. Di balik kekuasaan seorang Sultan itu ada apa? Dan ada siapa? Mengingatkan bahwa seorang Khalifah paling gemilang sekalipun membutuhkan masukan dari seorang pandir yang nakal.

Alangkah malang jika sebuah negeri dipimpin oleh mereka yang suka berpura-pura, lain dimulut lain dihati. Namun kemalangan yang melebihi hal itu adalah kesediaan masyarakatnya menerima penipuan itu dengan ikhlas. Maka kemalangan apa yang mampu melebihi hal ini.

Karena itu sosok Abu Nawas akan selalu kita kenang, ketika kita lelah dengan omong kosong politik. Ketika cerdik pandai duduk, diam, terhenyak, melihat masa kini bagai masa kini, melainkan masa silam yang cacat. Bersama Abu Nawas kita mengetahui bahwa pemegang kuasa tak lebih manusia biasa yang bisa salah, dan kekuasaan itu ternyata tidak terlalu membuat gentar asal kita menanggapi dengan humor, karena manusia siapapun ia sanggup menerima yang asyik, dengan bersahaja karena hampir tak ada satu pun menjauhi yang asyik, lucu, nakal dan tak terduga.

Politik Abu Nawas bukanlah hal yang luar biasa akbar, ia memberi nasehat bukanlah fatwa hukum, disitulah lahir kedalaman kearifan. Sebuah politik kehidupan berupa repetisi yang berulang tiap kali di seluruh hari, menunjukkan hidup ini bagai sebuah kebetulan yang tak jelas arahnya dan seolah absurd. Namun didalamnya tersimpan sesuatu yang arif, bahwa politik, sebagai panggilan, sebenarnya adalah panggilan yang muram, sedih dan dalam kesedihan itu seharusnya kita bertugas. Dalam lelucon dan senyuman, paradoks. Karena tertawa adalah hal yang paling terindah di dunia, jika kita paham akan estetika.

Mungkin, Ketika itu yang agung sebenarnya tak teramat menggetarkan dan tak teramat berarti lagi. Humor dan ironi lebih menyelamatkan dibanding impian akan kekuasaan dan kejayaan semata. Di mana manusia menemukan luhur dalam hidup, membebaskan akal praktis dari untung-rugi semata.

XXXXX

Berbagai Opini Lain Yang Terserak:

  1. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  2. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  3. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013;
  4. Jangan Golput; 22 Maret 2014;
  5. Misi Mencari Abu Nawas; 7 Maret 2016;
  6. Bajak Laut : Pemberontak Atau Perompak; 17 Maret 2016;
  7. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  8. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  9. Tragedi Barbastro; 3 April 2017;
  10. Menentang Tradisi Memang Tradisi; 5 April 2017;
  11. Pengulangan Sejarah; 23 Mei 2017;
  12. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  13. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  14. Asal Muasal Budaya Kopi Di Aceh; 1 Agustus 2017;
  15. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments

BERAI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Poster Pilem Assosiasi Budjang Lapok

BERAI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Hanya mereka yang kuatlah mampu berdiri sendiri, akan tetapi ada sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan sendirian di bawah langit yang luas ini. Takdir bahwa ditempat yang dinaungi cahaya juga memiliki tempat yang curam, dan terbuka kemungkinan akan rasa pahit. Akan tetapi hidup ini adalah parodi, dimana segala sesuatu yang asik meskipun menyedihkan akan membawa banyak tawa dibandingkan air mata.

Belakangan ini, Assosiasi Budjang Lapok sudah jarang berbual-bual dalam lepau nasi. Jarang sudah berassosiasi. Dalam keanggotaan penuh, mungkin sulit. setidaknya mencapai kourum pun tidak mampu, hanya Barbarossa dan Mister Big saja yang ada, pastinya sangat sepi. Walaupun sesekali Amish Khan dan Tuan Takur datang namun terasa kurang jika Laksamana Chen dan Penyair tidak berhadir. Seperti sayur tanpa garam. Top Five ABL sedang dalam keadaan berai !!!

Isu yang beredar Laksamana Chen dan Penyair setelah lebaran haji akan menikah, dan ini tentunya membuat ketua Assosiasi kebakaran jenggot. Bersama Mister Big, ia merencanakan sesuatu, mulai dengan menyurati dan mengecam, sampai menyebut Laksamana Chen dan Penyair sudah menua, dan memerintahkan keduanya untuk tidak menuakan diri. Apa jadinya ABL bila ditinggalkan dirigen (Laksamana Chen) dan Wiracarita (Penyair). Cerai berailah ABL.

Jumat malam, Barbarossa, Mister Big, Amish Khan dan Tuan Takur menikmati hidangan nasi di Lepau dekat pelabuhan sambil mencicipi teh tarik hangat. Kelihatan muka mereka cemberut, ini adalah malam libur mengapa Laksamana Chen dan Penyair tidak datang. Mister Big adalah yang paling runyam wajahnya, kecewa berat dengan kelakuan para sahabat yang dianggap mbalelo.

“Apa kau harap Mister Big, mereka sudah tua! Sudah tidak main lagi.” Barbarossa paling mengerti hati sejawat penjaga gudang beras kerajaan yang terkenal akan kegalauan itu

“Tua itu pasti, yang jelas beta kecewa mereka menuakan diri. Harusnya selamanya muda.” Mister Big lebih kecewa kepada Penyair dibandingkan Laksamana Chen, kalau Laksamana memang terkadang kumat kemalasannya, namun penyair biasanya bersemangat. Namun belakangan ini sering absen dengan alasan sakit. Malam tidak pernah keluar, mengapa bisa sakit. Sepertinya ada yang mencurigakan disini.

“Tidak baik memikirkan mereka, lebih baik kita bersenandung saja.” Potong Tuan Takur, ia tidak pernah tahu atau mau tahu essensi. Nikmati hari ini, peduli apa masa lalu dan masa depan. Sayangnya pilihan jalan pikiranya sering tidak dipedulikan anggota ABL lainnya.

“Sik, asikk. Sik, asikk. Sik, asikk.” Amish Khan menggoyang-goyangkan kepala.

“Kamu itu Inlander yang senang melihat kehancuran ABL. Dan kamu itu Inlander yang suka bergembira setiap saat.” Tunjuk Barbarossa kepada Tuan Takur dan Amish Khan. “Penyair pun satu, sudah aku minta untuk meneruskan serial ABL tapi malah sibuk bersyair tidak jelas, kemudian sakit pula. Sama seperti Laksamana Chen yang tua! Apa jadinya kalau nanti kita hanya makan nasi berdua Mister Big!” ABL terkesima. Tak sari-sarinya Top Leader ABL jadi begitu sewot dan berkobar semangat kebujangannya.

“Sebelum ABL berai, malam besok undang mereka. Aku mau bicara, penting!”

“Ada apa? Mau menikah ya Barbarossa?” Amish Khan mencoba mendinginkan suasana.

“Besok malam pukul sepuluh disini! di lepau nasi depan pelabuhan, aku bilang!” Barbarosa pergi dengan raut wajah kesal. Berbeda dengan anggota ABL lainnya, Barbarossa, Laksamana Chen dan Penyair adalah teman sedari kanak-kanak. Wajar jika Barbarossa gusar, ketika mereka tiba-tiba berai. Teman masa kecil tak terbeli oleh waktu.

XXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 44 Comments

TITIK TIADA KEMBALI

South Vietnamese National Police Chief Brig Gen. Nguyen Ngoc Loan executes a Viet Cong prisoner with a single pistol shot in the head in Saigon Feb. 1, 1968. Nguyen died Wednesday, July 15, 1998, at his home in Burke, a suburb of Washington, D.C., after a battle with cancer, said his daughter, Nguyen Anh. He was 67. This photo of Nguyen aiming a pistol point-blank at the grimacing prisoner’s head became a memorable image of the Vietnam War. The photograph, by Eddie Adams, won a Pulitzer prize for The Associated Press.

TITIK TIADA KEMBALI

Itu terjadi begitu saja, di sebuah malam ketika api membakar pegununungan hijau di Barat. Bulan setengah tertutup kabut bersama angin malam layaknya membawa kesejukan. Akan tetapi api, api nun jauh disana seolah membakar. Sebuah drama sebuah kisah, akan segala dialog yang menyempilkan fragmen-fragmen kehidupan satu demi satu. Kilasan itu muncul sekilas mengingatkan yang tak ingin diakhiri.

Bertarung untuk menang adalah etika, menghormati sejarah adalah bajik. Itu mengajarkan kebanggaan atas apa yang kita kenakan. Mungkin sekarang zaman etik dan bajik seperti merangkai ilusi, adakala menjadi ia menjadi delusi kotor yang menuntut kemurnian sejati, padahal dunia ini fana, tiada sempurna.

Setelah apa yang terjadi tak mungkin aku kembali, mungkin bukan demi yang bajik atau etik. Bukan pula untuk apa yang penting maupun logis. Mungkin ini lebih kepada sebuah kebrutalan dengan gaya yang anggun, sebuah keyakinan yang berapi-api yang justru membekukan hati, sebuah penampilan harga diri yang menakutkan.

Dan ini adalah titik tiada akan kembali, adalah hidup sebuah pilihan untuk terus melangkah. Ketika bertemu kembali, diruang dan waktu yang lain lebih baik tanpa kata. Bebaskanlah tanggungjawab akan kata. Biarkan udara melingkupi jagad tanpa sepatah kalimat. Apapun itu ketika kaki melangkah, tiada guna menoleh kebelakang. Sungguh aku mengetahui bahwa akhir itu sudah dekat dan telah selesai menangisi hilangnya yang mutlak.

Ketika lampu padam, ada yang tak menjadi bekas. Setiap pementasan adalah peristiwa yang lahir dari ketiadaan.

XXXXXXXXX

 

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , | 1 Comment

MONOLOG BULAN

Mungkin rindu tak pernah mati. Rindu tak dibiarkan mati. Tiap kali rindu yang luar biasa dimakamkan, ia dipanggil lagi, digosok kembali, dan berubah, berkali-kali berubah.

MONOLOG BULAN

Mungkin ada sebuah alasan untuk segala sesuatu. Ia bertaut dengan semai nangka, perdu mangga, jambu jatuh, angin gunung dan warna langit: hal-hal yang tak muluk, tak kekal tapi indah. Ia memberi mereka makna. Kita tak ingin ia mati.

Mungkin kata-kata tak akan mampu menjelaskan hidup secara utuh. Bahwa bahasa tak mungkin terwakilkan penuh hanya kalimat, di tiap saat, yang diam, yang bisu, selalu menunggu. Mimik peristiwa demi peristiwa diam dan tak mau pergi sebegitu saja.

Mungkin sampai saat ini tak pernah terpikirkan, sewangi apapun sebuah hasrat akan memisahkan bajik. Bahwa akal, nurani, bajik dan rasa pernah berjibaku. Dengan segala hormat tak akan pernah disesali, meski ruang dan waktu seolah sia-sia.

Mungkin rindu tak pernah mati. Rindu tak dibiarkan mati. Tiap kali rindu yang luar biasa dimakamkan, ia dipanggil lagi, digosok kembali, dan berubah, berkali-kali berubah. Mungkin ia tak perlu punya raut muka yang asli. Ada yang menyentuh, mengejutkan dan mempesona disana.

Mungkin hidup akan mati berkali dalam intuisi. Bahwa selalu ada yang menggetarkan dalam nostagia. Selalu ada yang menggetarkan dalam kisah perjuangan yang tak sampai, tapi berharga. Sebuah cerita yang tersembunyi dan tak akan mungkin dikisahkan, karena ia kalah. Terbuang, batil ditangan pemenang, para juara.

Mungkin, aku tak berharap layak engkau maafkan. Mungkin aku hanya ingin mengatakan pada diri sendiri, seseorang bisa menunjukkan bahwa syukur dan sabar bisa datang dalam sunyi yang mendengarkan. Nyanyian kecil yang manis kepada hidup. Bahwa ada muncul setelah tiada. Maka sungguh hidup ini sebenarnya mengapung diatas ketiadaan. 

XXXXXX

Beberapa puisi terdahulu:

  1. Dua Puluh Lima Tahun Seperempat Abad Sudah; 2 Maret 2009;
  2. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  3. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  4. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  5. Mencumbui Kematian Sebuah Elegi; 16 Mei 2009;
  6. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  7. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  8. Berakhir Disini; 16 Juli 2009;
  9. Cerita Sebuah Gudang; 14 Januari 2010;
  10. Selamat Ulang Tahun Mama; 1 Februari 2010;
  11. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  12. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  13. Kenangan Akan Gerimis; 11 Februari 2012;
  14. Ada Setelah Tiada; 26 Februari 2012;
  15. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

KETIKA SEKOLAH USAI

Sekolah dapat di-imaji-kan sebagai diorama serupa. Dimana saja dan kapan saja, sekolah seolah sama. Ia bertaut dengan ruang kelas, bangku dan meja kayu, papan tulis.

KETIKA SEKOLAH USAI

Sekolah dapat di-imaji-kan sebagai diorama serupa. Dimana saja dan kapan saja, sekolah seolah sama. Ia bertaut dengan ruang kelas, bangku dan meja kayu, papan tulis. Tidak muluk, tidak kekal namun memberi arti pada sejarah hidup anak manusia, sebelum bertemu sejarah yang lain. Dan ketika sekolah selesai, maka semua tak akan sama kembali, seseorang mungkin akan menghadapi medan tempur seperti neraka yang menyakitkan. Atau mungkin sebuah surga dengan kebun-kebun mengoda ataukah mungkin menjadi biasa, datar dan mengalir.

Keegaliteran dunia persekolahan adalah hal yang paling unik di dunia, ketika manusia dengan latar belakang sosial berbeda, berkumpul dengan tujuan meraup ilmu pengetahuan. Menghasilkan tiap kreasi, imajinasi mendambakan sebuah masa depan, sekolah adalah peristiwa yang tak terduga. Menghasilkan sebuah nostagia. Sebuah kotak dari masa lalu yang dapat dibuka kapan saja, aman dan mampu menghasilkan pandangan berbeda akan kejadian yang sama.

Tentunya dunia riil lebih kejam dibandingkan dengan lingkungan akademisi, dimana mereka yang berlabel protelar memiliki opsi lebih sedikit terhadap masa depan dibanding dengan mereka yang dilahirkan dalam keluarga patria. Maka alangkah sia-sia jika dibangku sekolah, kita asyik menertawakan kemalangan orang lain menuju kemalangan sendiri di masa depan.

Mungkin, disebuah Negeri yang tak adil. Diketahui fakta yang diterima luas bahwa pendidikan bukanlah suatu hal yang utama. Mungkin, kita melihat dengan mata terbuka, bagaimana orang-orang licik mengusung dunia yang besar ini. Padahal, yang dibutuhkan oleh zaman ini adalah mereka yang naïf dengan mimpi-mimpi besar untuk membawa marwah bangsa menuju arah yang lebih baik.

Meski begitu, pendidikan adalah jalan kebaikan untuk mengubah nasib. Mohon tidak disia-siakan, betapapun hidup ini kejam, betapapun dunia ini tak adil.

XXXXXXXXXX

Posted in Mari Berpikir | Tagged , , , | 5 Comments

SEBUAH PERJALANAN SEBUAH CERITA

Mungkin, setiap pertapa, maupun setiap pengembara memiliki cela. Sebuah kekurangan dimana hikayat tak mampu bercerita.

SEBUAH PERJALANAN SEBUAH CERITA

Mungkin, zaman romantik telah lama berakhir, zaman para pertapa berkhalwat menepiskan gahar dunia. Dimasa-masa dunia sungguh membuat gentar dan memilih menghindar. Dan cerita tentang Tuan yang menghindar, bertapa, mengalahkan naga, menyelamatkan anak manusia. Ia menghilang, meninggalkan jejak. Tapi akhirnya sejarah tak menceritakan apakah kealimannya menang.

Mungkin, setiap pertapa, maupun setiap pengembara memiliki cela. Sebuah kekurangan dimana hikayat tak mampu bercerita. Bahwa pengalaman itu tidak menyenangkan untuk dituturkan, menjalani jalan neraka sampai berulang kali, sendirian. Mungkin, jalan ksatria (sering) adalah kesunyian.

Dermaga Balohan Sabang, 6 April 2012

Dermaga Balohan Sabang, 6 April 2012

Bahwa, sunguh hidup terus berjalan. Bahkan di wilayah yang lindap dan basah, penuh tikus dan tikungan. Reptil busuk, dan rawa payau. Lubang dan sampah. Di dalam kehidupan, di luar surga. Bahwa manusia harus siap kecewa, tapi mensyukuri yang fana. Bahwa di kesunyian masing-masing, kita boleh bersedih. Besok kita akan kembali bercanda.

Mungkin, tak perlu luar biasa pemberani. Ketika seseorang diuji oleh berbagai kejadian, petualangan, penyesalan bahkan kejatuhan. Maka berbahagialah, karena tiada yang sia-sia dalam setiap perjalanan, ketika rasa dan indera mampu bekerja dengan sempurna. Mungkin, di hari esok nanti, yang masih menjadi misteri. Akhirnya menjadi sesuatu.

Dan ketika perjalanan usai, ada yang tak menjadi bekas. Bahwa bukan hanya usia saja yang bertambah. Sungguh awal dari semua yang ada adalah ketiadaan. Disitulah apa yang berhenti tak akan hilang, dan manusia diteriakkan menjadi sesuatu yang baru. Lebih siap, lebih mampu menghadapi kondisi yang baru. Tanpa penyesalan, tanpa kutuk mengancam. Hanya ikhlas semata, semoga.

XXXXX

Beberapa Artikel bertema OASE

  1. Raja Hati Vs Perdana Menteri Otak; 3 Agustus 2008
  2. Hari yang Indah; 4 Agustus 2008
  3. Bidadari Fakta atau Fiksi; 12 September 2008
  4. Tafsir Sang Penafsir; 19 September 2008
  5. Pahamilah Apakah Hidup Dalam Diri Manusia; 22 September 2008
  6. Topeng; 9 Oktober 2008
  7. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  8. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
  9. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  10. Malam Yang Tertaklukkan; 10 Desember 2008;
  11. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  12. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  13. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  14. Hantu; 20 Februari 2009;
  15. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

HUJJAH SENJA

Terkadang aku merasa telah kehilangan, segalanya. Mungkin, kita berpergian seperti orang lain, tapi pulang ke sebuah tempat yang tak ada.

HUJJAH SENJA

Sungguh ketika aku memandang pegunungan hijau disana, secara tak sadar menikmati sentuhan tanah yang keras di telapak kakiku, menghirup bau bukit dan pohon-pohon nun jauh disana. Aku tak sengaja memandangi sepucuk pohon, dan di depan mataku ia seakan-akan berubah menjadi perlambang kefanaan, perjuangan kami, kehilangan kami. Dan pada saat itu juga, aku merasa direnggutkan dari pohon itu, dan sebagai gantinya terlihat tanah kosong ke mana amarah dan rasa mengalir, masuk ketika merasa terlalu banyak harapan membebani. Membebani pundak ini, yang bahkan tak mampu tegak.

Terkadang aku merasa telah kehilangan, segalanya. Mungkin, kita berpergian seperti orang lain, tapi pulang ke sebuah tempat yang tak ada. Di situ seperti terungkap rasa sedih yang ditelan. Tempat yang tak ada itu justru begitu berarti, tempat yang tak hadir tapi dibentangkan tiap hari, bahkan dalam mimpi.

Terkadang ketika matahari tenggelam dibalik gunung, ketika cahayanya hilang perlahan. Merasakan gelap datang. Terlintas kutuk akan rindu, rindu yang teramat sangat akan sebuah hati, yang disakiti berkali. Tanpa permaafan, tanpa penyesalan, tanpa pilihan untuk kembali. Bahwa semua harapan yang pernah ada, tiada tersisa.

Selalu hidup sebagai hasrat, atau menghimbau seperti cakrawala. Setiap didekati ia menjauh, namun disanalah arah ditetapkan. Matahari terbit dan tenggelam dan terbit lagi, akan tetapi repetisi itu tak terasa rutin pada tiap harinya. Antara cita-cita, kemungkinan, ketergusuran, nostalgia dan sulitnya harapan.

XXXXXX

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

BAHAGIA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Poster Pilem Assosiasi Budjang Lapok

BAHAGIA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Suatu hari dimasa yang akan datang, siapakah yang tahu akan pasti, apa yang terjadi. Kini adalah sekarang. Maka sekarang, sebelum dikuasai oleh istri cerewet atau enggan meninggalkan istri cantik dirumah. Sekarang, sebelum semua kebebasan itu pergi. Sebelum menjadi lelaki paruh baya, yang mungkin panik dan takut mengambil resiko. Bertualanglah, membuka cakrawala panorama pemikiran. Merasakan apa yang patut dirasakan, melihat dunia dari sisi berbeda. Untuk apa? Demi batin yang kaya, wawasan yang berpijak akan keluasan jiwa.

Dimasa bujang, sesuatu yang pasti akan dirindukan, betapapun bahagia nanti. Nanti ketika telah berkeluarga. Bahagia untuk apa? Bahagia untuk sebuah harga diri. Bahwa di masa bujang bahagia, jangan sampai ketika menikah menderita. Bahagia, berarti berkemampuan untuk berbahagia, dan untuk membahagiakan. Bahwa batin mungkin tak terukur, namun setiap orang punya ukuran masing-masing.

Masa Muda yang bahagia dari Assosiasi Budjang Lapok.

Masa Muda yang bahagia dari Assosiasi Budjang Lapok.

Ini bukan cerita untuk menunda-nunda, namun lebih kepada keadaan. Keadaaan dimana satu ketidakberuntungan bertemu secara acak dengan ketidakberuntungan lain. Satu hal yang mungkin dapat dikatakan negatif. Lucunya, semua lupa bahwa perkalian antar negatif menghasilkan bilangan positif. Hidup layaknya sebuah permainan, kadang menang dan kalah. Namun tetap harus berlanjut. Disanalah lahir sebuah syair, tentang para pangeran yang tak pernah takluk, ia dibentuk oleh rasa penuh, hasrat bahkan meluap-luap dalam kekosongan.

Ada masa-masa gairah itu seakan tak ada, ketika Assosiasi tak bermarkas dilanda sepi. Dimana para sahabat, rekan, sejawat senasib entah kemana, atau dimana. Tak seorang pun bersendiri, layaknya sebuah pulau berdiri sendiri. Tapi Santiago, berjuang sendiri ditengah lautan. Tabib Pong kembali dari seberang lautan ke Bandar, namun pergi lagi. Menunaikan amal bakti menuju Selatan. Tuan Takur nan jujur namun meringis, pergi mengurusi berekar-ekar sawahnya di Negeri Seribu Sawah. Professor Gahul, ehem. Meningkatkan kecerdasannya yang cerdas kepulau seberang. Menangguk ilmu dari para cendikia di negeri hujan bunga. Mister Big pulang ke sebelah gunung hanya untuk bercukur. Sekaligus memastikan kebun pinang aman. Amish Khan jatuh dari kuda, dan tinggal dirumah saja. Tinggallah Barbarossa, Laksamana Chen dan Penyair. Makan di lepau nasi bertiga, hambar. Beramai-ramai lebih baik, setiap karakter memiliki karakternya sendiri, unik dan menarik sehingga ada rasa kehilangan. Mungkin ikatan persahabatan itu tak sekuat rasa cinta, namun ia menguatkan ketika cinta terpuruk.

Adakala Penyair kehilangan kata, seolah inspirasinya mengawang-awang. Laksamana Chen kumat malasnya dan Barbarossa tertawa sendirian. Cuaca mendukung, dengan lalat-lalat berterbangan. Uap naik menuju langit, teh menjadi dingin. Hening dan tak tahu hendak berbuat apa.

“Belum pernah sejak Assosiasi berdiri saya sebosan ini? Gejala apa ini?” Penyair buka suara.

“Itulah, akupun malas.” Laksamana Chen memainkan alis, bermuka masam melihat Barbarossa yang tertawa-tawa sendiri.

Barbarossa tersenyum mengejek, mulutnya dimiringkan ke atas. Gaya khas kalau sedang meremehkan. Meremehkan Penyair sekaligus Laksamana Chen.

“Kalian berdua terkena gejala mau kawin, ada banyak kejadian serupa pada kawan-kawan lain. Apalagi kau Laksamana Chen, tua dan malas sudah saatnya mencari istri untuk mengurusi.”

Penyair tertawa terbahak.

“Tak mungkin, kawin dari Hongkong! Saraf si Barbarossa ini. Aku tidak terima!”

Penyair bengong melihat Laksamana Chen emosian, Barbarossa mengambil posisi Patriach, siap berkhotbah. Ia tidak hanya terampil dan berwibawa. Namun juga mencari masalah, masalah untuk menghidupkan hari yang membosankan.

“Kau pikir masalahmu besar Chen, masalah yang lain juga besar! Bayangkan Santiago yang diseberang pulau, bosan ya sendirian. Atau bayangkan Tabib Pong, ke negeri Naga. Pasti lebih bosan dari kau! Penyair juga, bayangkan Amish Khan yang baru jatuh dari kuda! Ini, kalian berdua, sudah duduk bersama mengaku bosan. Kelakuan kalian macam perempuan saja!”

Penyair adalah tipe dengar kata Barbarossa, menyambut dengan bergembira. Dengan mata merek-melek, pura-pura tafakur. Tapi tidak Laksamana Chen.

“Ternyata Barbarossa punya bakat jadi dosen ilmu agama, sejak kapan penjaga gudang beras bicara moral. Macam paling betul aja.”

Barbarossa, khatib gadungan keringatan sekujur tubuh menjadi penuh peluh.

“Intinya nikmati hari ini Laksamana Chen.” Suaranya mengecil, dan mengeluarkan kaleng tembakau.

“Walau kelakuanku tidak terlalu baik, bukan berarti apa yang aku katakan salah. Siapa yang tidak merasakan kehilangan teman-teman kita yang berpencar entah kemana. Memang, Assosiasi belum lama berdiri, tapi kita semua seolah-olah sudah kenal lama. Cuma, ya terkadang hidup terasa sulit sebelum mudah, kesulitan itu bukan untuk dikeluhkan. Namun dimudahkan dengan keikhlasan.”

Penyair tepuk tangan.

“Tambah khotbah, ku lempar kau dengan kaleng tembakauku.”

Barbarossa dan Penyair tertawa, dan akhirnya Laksamana Chen tertawa juga. Entah bagaimana nasib anggota yang lain. Memang akhirnya tak ada tafsir dari kata bahagia, namun apa yang ada hari ini di Assosiasi. Bahwa persamaan derajat itu lebih dirindukan, lebih membahagiakan dibandingkan dengan sekelompok orang-orang yang meneriakkan jargon-jargon surga, namun mengincar neraka. Seperti yang belakangan ini terjadi.

Amish Khan, Mister Big, Profesor Gahul, Tabib Pong, Tuan Takur dan Santiago cepatlah kembali dari petualangan ke pangkuan Assosiasi, kami merindukan kalian semua. Karena kehadiran kalian membawa kebahagiaan, dan kebahagian itu ternyata sederhana.

XXXXXXXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 43 Comments

IBLIS NAMEC VS MANUSIA SAIYA

hinakelana

Aku yang menghilang dari hadapanmu, seberapa lama aku mampu.

IBLIS NAMEC VS MANUSIA SAIYA

Ini bukan hanya pertarungan hidup dan mati. Ini adalah pertarungan akan kehidupan, meski aku enggan mengatakan ini pertarungan. Ini hanyalah ilusi. Aku yang berkali mati mampu bangkit kembali. Asalkan kepalaku utuh, maka ragaku mampu membentuk kembali tanpa harus bola naga. Merasakan lelah akan permainan ini, tiada lagi hasrat akan kemenangan. Untuk itu aku pergi.

Manusia Saiya, mungkin kau kecewa akan kepergianku ini. Menyampahkan kutuk untukku, sebegitu angkuhku, hingga tiada butuh senjata yang piawai, tak butuh pula cinta yang terpenuhi dan kemenangan yang telak. Mungkin ini angkuh, tapi, sekali lagi ini adalah satu sikap yang melepaskan diri dan mengambil jarak batin.

Orang Saiya ketahuilah, kekuatan terbesar yang engkau miliki adalah kemampuan menahan penderitaan amat sangat, untuk menjadi lebih kuat disetiap kesembuhanmu. Pukulanku, yang menghabiskan nyaris semua kekuatan yang kumiliki, akan membuatmu sekarat. Namun yakinlah, bahwa itu akan membuatmu semakin kuat. Engkau yang mampu untuk mati dan membutuhkan bola naga, tak lama lagi akan menjadi Manusia Saiya Super.

Engkau akan sembuh orang Saiya, semakin digdaya. Kelak, engkau akan menghadapi lawan yang lebih kuat dariku. Dan engkau akan merasakan bahwa kekuatanmu semakin tak terjangkau lagi. Aku pun mungkin akan sembuh, namun ketahuilah bahwa kemampuanku. Sekeras apapun aku berlatih tidak akan berkembang lebih jauh lagi.

Aku yang menghilang dari hadapanmu, seberapa lama aku mampu. Layaklah engkau membenciku. Ada saat kita berlatih bersama, menghadapi lawan yang sama. Harus meninggalkanmu. Dengan khianat, dengan culas. Melupakan perjuangan kita melawan pangeran Saiya. Menafikanmu.

Sudah seharusnya engkau lepas dari bayang-bayangku. Menjadi dirimu sendiri yang utuh dan menyeluruh. Kelak, engkau akan menyadari maksud tindakanku. Tak perlu terlalu segera, waktu akan mengajarkan semua yang engkau butuhkan. Mungkin akan sangat lama, mungkin bahkan setelah engkau mengakhiri hidupku. Mengakhiri segala ilusi kehidupanku, meskipun sekalipun. Aku akan sabar menanti.

XXXXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 59 Comments

SAHABAT

Kau selalu menjadi orang pertama mengingatkan aku ketika berpikir tidak jernih.

SAHABAT

Sahabat, adalah kenyataan bahwa kita tak selamanya kita sepaham. Mungkin, karena kita adalah dua orang anak manusia yang dibesarkan dalam kultur yang berbeda, oleh orang tua  yang berbeda pula. Jalan hidup setiap orang berbeda dan itu jamak adanya. Sahabat, dalam banyak hal kita saling menyetujui. Cita-cita kita bermiripan, ada banyak hal yang kupelajari darimu.

Sahabat, tiada guna segala nikmat dunia tanpa adanya persahabatan. Dalam persahabatan, aku selaku manusia memahami bahwa segala yang membawa bahagia itu bukanlah hal-hal yang luar biasa, melainkan sesuatu yang sangat biasa, terlewat oleh pandangan mata, menyegarkan. Bahwa setiap detik, kejadian menjadi arti. Tiada yang sia-sia.

Tujuh tahun bukanlah selamanya, akan terjadi nantinya tahun-tahun datang. Sebuah kisah bisa terhenti oleh jarak dan waktu, tapi hubungan hati itu abadi. Pernah kita tertawa, menyesali, marah dan menggerutu pada dunia. Akan tetapi, kita selalu berusaha untuk saling mengecewakan satu sama lain, meskipun kita pernah gagal dengan teruk.

Sekarang, ketika jarak ruang semakin menjauh. Dan ketika aku semakin acuh dengan duniaku sendiri. Betapa sungguh aku merasa bersedih akan kemalangan yang menimpamu. Engkau, sahabat. Yang kuyakini memiliki ketangguhan seperti karang, bukan kaca sepertiku. Ternyata, engkau tetaplah seorang manusia yang mungkin tersuruk, itu pasti. Hanya akulah yang lupa.

Dalam doa dan harapan, sungguh aku menginginkan dengan sangat engkau bangkit dan menertawakan kejatuhan sesaat ini. Sebagai lelucon dimasa yang akan datang, cerita penghias komedi pertemuan kita kembali. Sahabat, takdir sekarang memang tak mendekatkan kita. Aku tak akan menyesali, karena inilah jalan terbaik yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Sahabat, engkau adalah yang terbaik. Dan selalu dikelilingi oleh mereka yang baik. Maka berjuanglah, karena kami gentar bahwa tiada seorang pun yang akan menggantikanmu. Betapa engkau menjadi pengingat, betapa bernilainya orang baik.

Sahabatmu selalu, Milvan Murtadha.

 

XXXXXXX

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment