JELAS AKU PANCASILA KARENA AKU BER-KTP MERAH-PUTIH

“Setiap pemilik KTP Merah-Putih adalah orang-orang yang terbukti Pancasila.”

JELAS AKU PANCASILA KARENA AKU BER-KTP MERAH-PUTIH

Garuda Pancasila

Akulah pendukungmu

Patriot Proklamasi

Sedia berkorban untukmu

Pancasila dasar Negara

Rakyat adil makmur sentosa

Pribadi bangsaku

Ayo maju maju

Ayo maju maju

Ayo maju maju

XXX

Ketika TVRI masih memopoli siaran berita, lagu Garuda Pancasila wajib ditayangkan selepas Berita Malam (23 April 1992 s.d 25 Desember 1997) pukul 19:00-20:00 WIB. Ketika itu belum ada stasiun televisi swasta yang masuk kota Banda Aceh, namun memang siaran ini juga wajib disiarkan oleh stasiun televisi swasta dengan merelai langsung dari TVRI. Biasanya Abu bersama adik kedua berjoget-joget dan bersemangat sekali dengan lagu ini. Oleh karena itu Abu sangat hafal lagu karangan Sudharnoto ini.

Kenapa? Karena lagu ini adalah penutup kebebasan kami dalam dunia “wonderland” anak-anak yang penuh permainan. Setelah lagu ini selesai ayah akan mematikan TV14 Inchi Hitam-Putih bermerk National milik keluarga kami untuk melanjutkan mengaji. Ya, ayah adalah guru pertama kami mengaji sebelum diserahkan ke tengku (guru mengaji) kampung. Beliau adalah guru mengaji yang keras, tepat waktu dan tekun. Abu dan adik sangat takut kepada ayah dalam urusan mengaji, beliau tak segan mencubit dan tak pernah absen seharipun mengajar kami. Bahkan kalau Abu dan adik berlebihan bercanda sewaktu beliau mengajar, ayah tak segan “melibas” kami dengan sapu lidi.

Waktu itu Kak Seto dengan psikologi anaknya belum berjaya seperti sekarang, setiap anak harus ikut dengan metode pengajaran orang tua titik. Walaupun waktu itu mengaji bersama ayah Abu lakukan secara terpaksa. Ketegasan beliau masalah ajaran agama malah Abu rindukan setelah beliau tiada. Satu lagi kebanggaan Abu terhadap ayah, sebagai anak salah seorang ulama terkemuka PUSA di Aneuk Galong Baroe, beliau selalu mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaan Abu tentang hukum-hukum Fiqih, mantiq, tauhid, sejarah atau apapun tentang lekuk-lekuk agama Islam.

XXX

Kita tak akan pernah tahu, kebaikan apa yang pernah kita lakukan di masa lalu tanpa sengaja menyelamatkan masa depan kita.

Waktu berlalu dan Abu tumbuh dewasa. Menjelang millennium kedua berakhir konflik Aceh meletus. Betapa kenangan akan lagu tersebut menyelamatkan Abu. Tahun 2001 terjadi kontak senjata di Jalan Soedirman depan rumah Wakil Polres, tak lama kemudian diadakan sweeping untuk menjaga keamanan. Siang itu, Abu membonceng Matleh pulang sekolah dengan Astrea Grand ’93 yang Abu namai “Si Raja Hijau” (Peduli setan dengan kaum laki-laki yang mencemooh lelaki lain yang menamai barangnya, Abu hanya seorang romantis). Maka Abu melenggang melewati pos jaga, dan jalanan zig-zag yang diberi kawat-kawat berduri itu dengan tanpa dosa. Tokh, Abu mengikuti amaran yang tertulis “Pelan-pelan 15 km/jam saja!”

Ketika diminta berhenti, Abu masih santai. Abu pikir orang lain yang dipanggil, lha Abu berbaju sekolah. Ketika ditodong senjata Abu baru sadar, seketika itu juga berhenti!

“Selamat siang adik-adik!” Kata Pak Polisi ramah.

“Selamat siang Bapak Polisi.” Jawab Abu dan Matleh ramah.

“Adik-adik dari mana kalau boleh kami tahu?” Pak Polisi tersenyum ramah.

“Pulang sekolah pak.” Jawab Abu dan Matleh lebih ramah lagi.

“Kompak sekali adik-adik ini. Adik-adik tahu tidak ada kejadian apa barusan?” Tanya Pak Polisi.

“Tidak tahu pak!” Jawab Abu dan Matleh dengan kompak.

Segera wajah Pak Polisi menjadi kurang senang. Ada konvensi dalam masa konflik Aceh yang Abu dan Matleh lupakan, apabila ditanya oleh aparat Negara tidak boleh menjawab “tidak tahu”, jawaban itu mengindikasikan ketidakjelasan si penjawab. Lebih baik menjawab “belum tahu”,  “tidak lihat” dan sejenisnya. Lha, kami cuma anak sekolah tidak punya pikiran macam-macam.

“Barusan ada kontak tembak disini!” Pak Polisi mulai kesal.

“Kamu!” Pak Polisi menunjuk Matleh. “Sekarang nyanyikan Indonesia Raya!” Perintahnya.

Saudara-saudara, lagu Indonesia Raya itu panjang. Matleh mencoba menyanyikan juga dibawah tekanan. Sepertinya Matleh terbalik ketika mengatakan “Bangunlah badannya” terlebih dahulu sebelum “Bangunlah jiwanya” dan Pak Polisi Murka, dan Matleh diseret kebawah pohon asam diminta push-up 100 kali. Abu pikir wajar Matleh salah, dia bernyanyi dengan kaki gemetar dan sepertinya akan kencing di celana sangking takutnya.

Lha, Abu terlalu banyak komentar terhadap orang lain. Matleh bagaimanapun berbadan kekar, dia pasti sanggup push-up 100 kali. Abu ini lembek, disuruh push-up pasti jadi kerupuk. Abu panik mencoba mengingat yang mana duluan “Bangunlah jiwanya” atau “Bangunlah badannya”, kalau salah mampus Abu.

“Sekarang kamu!” Pak Polisi mendatangi Abu yang gemetar ketakutan. Tiba-tiba muncul lampu di otak Abu sepersekian detik sebelum detik-detik menentukan itu.

“Begini Pak Polisi, Lagu Indonesia Raya itu biasa. Untuk membuktikan saya adalah seorang nasionalis sejati maka untuk Bapak saya akan menyanyikan lagu Garuda Pancasila.” Untuk melagukan lagu Garuda Pancasila Abu percaya diri, bertahun-tahun lagu tersebut merupakan ritual Abu sebelum mengaji.

“Oh ya, boleh!” Pak Polisi tertarik dan senang.

Garuda Pancasila

Akulah pendukungmu

Patriot Proklamasi

Sedia berkorban untukmu

Pancasila dasar Negara

Rakyat adil makmur sentosa

Pribadi bangsaku

Ayo maju maju

Ayo maju maju

Ayo maju maju

Abu tidak pernah percaya diri untuk berlagu, kecuali hari itu. Boleh tanya semua teman Abu. Semua mengatakan kemampuan bernyanyi Abu adalah yang terburuk dari yang paling terburuk. Dikeluarkan dari paduan suara sekolah karena fals, kelak di kantor pun demikian, Abu adalah suara sumbang yang menganggu. Tapi hari itu Abu berjaya, Pak Polisi terkesima dan sangat senang. Kepada Abu diberikan Aqua menunggu Matleh selesai Push-up. Setelah disalami Pak Polisi, Abu dan Matleh pun pulang dengan tenang.

“Mat ada sakit badan push-up 100 kali?” Tanya Abu dalam perjalanan pulang.

Akh, jangankan 100 kali, 500 kali pun aku sanggup! Asal, dibawah todongan senjata kayak tadi.” Matleh dan Abu pun tertawa.

Dan tertawa bersama sahabat, terutama selepas hari yang buruk adalah kepingan surga yang dikirimkan oleh tuhan kepada manusia di bumi.

XXX

Ketika keadaaan di Aceh menjadi tak menentu, Presiden Megawati Soekarno Putri selepas tengah malam 18 Mei 2003 menerapkan darurat militer di Aceh selama enam bulan. Sekitar 30.000 tentara dan 12.000 polisi ditempatkan di Aceh. Pada bulan Juni, pemerintah mengumumkan akan mencetak KTP baru yang harus dibawa semua penduduk sipil untuk membedakan pemberontak dan warga sipil. Ini adalah KTP khusus. Di bagian terluar, berwarna Merah-Putih dengan logo burung garuda lengkap dan bubuhan isi Pancasila dibawahnya, besarnya seperempat kertas kwarto, sehingga untuk memudahkan harus dilipat dua ketika dimasukkan ke dalam dompet.

Maka selaku seorang warga sipil yang waktu itu berusia 19 tahun Abu harus melewati beragam hal dan institusi yang telah ditunjuk oleh penguasa Darurat Militer (Darmil). Pertama mengambil blangko yang telah diisi oleh Keuchik (Kepala Desa), lalu membawa blangko tersebut ke Polsek, disana harus tertib karena semua warga pada waktu bersamaan secara massal mengurusi KTP Merah Putih. Abu berhadapan dengan Kapolsek dan staff untuk ditanyai keterangan ini dan itu (Abu bisa membayangkan betapa lelahnya bapak Kapolsek dan staff melayani masyarakat). Karena jawaban Abu berikan tegas dan tak berbelit-belit dan nama Abu tidak tercantum dalam DPO Polsek urusannya sangat mudah. Kemudian blangko tersebut Abu bawa ke institusi militer yaitu, Koramil. Prosesnya sama, yang membedakan hanyalah bentuk tandatangan. Danramil dengan senang hati menandatangani KTP Merah-Putih Abu karena proses screening terlewati dengan mulus. Akan tetapi ada satu lagi yang harus dilakukan, membawa KTP Merah-Putih ke Kantor Kecamatan untuk distempel pihak kecamatan. Setelah Pak Camat menandatanganinya, dan memberi cap kecamatan, maka sahlah Abu sebagai warga yang “bersih lingkungan” dari segala kegiatan makar terhadap NKRI.

Untuk mendapatkan KTP Merah-Putih beberapa orang tidak semulus Abu, katanya beberapa orang kena tendang karena lupa urutan Pancasila, katanya juga ada yang di-dor-kan karena memang tidak lulus tes. Mendapatkan KTP Merah-Putih bagi sebagian orang yang tidak pernah belajar PMP atau PPkn adalah ujian tersulit di dunia. Untung bagi Abu, ujian mendapatkan KTP Merah Putih bukan berupa Matematika, dimana Abu tak terlalu bisa. Jika iya, jelas ketika ditanyai Pak Kapolsek, Pak Karamil Abu akan kencing dicelana. Untung yang ditanyakan adalah pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), PPkn (Pendidikan Kewarganegaraan) dan PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa) yang mana Abu sangat paham karena tekun mempelajarinya selama MIN, SMP dan SMA. Berbagai pertanyaan yang keren-keren itu dilakukan untuk memastikan orang-orang Aceh sudah menjadi manusia Pancasila seutuhnya. Berdasarkan pengalaman Abu, maka bolehlah jika Abu berfatwa : “Setiap pemilik KTP Merah-Putih adalah orang-orang yang terbukti Pancasila.”

KTP Merah-Putih sangat istimewa, tidak pernah ada warga provinsi lain yang memegangnya, ini adalah kehormatan dari Republik Indonesia kepada masyarakat Aceh. KTP Merah-Putih ini juga sangat penting, sebagai nyawa kedua yang akan membackup nyawa pertama. Dengan KTP Merah-Putih ini Abu akan bebas melangkah jika ada sweeping yang dilakukan pihak militer. Akan tetapi KTP Merah-Putih juga bisa menjadi simalakama jika terkena sweeping dari pihak yang berlawanan dengan pemerintah, bisa menjadi bencana bagi pemiliknya. Jalan paling aman jika berpergian jauh adalah menyimpannya dalam “segitiga pengaman” tercinta, apalagi kalau melewati hutan-hutan luas dengan kenderaan umum. Akan tetapi juga harus sigap mengeluarkan KTP Merah-Putih dari underwear ketika mendekati pos militer.

Sumbangan KTP Merah-Putih sangat besar bagi nasionalisme, ia memberikan isyarat bahwa Republik Indonesia tidak tenggelam dan karam dalam samudera pertikaian di Aceh, membuktikan kepada dunia Internasional tidak padam dalam konflik yang buram. Sungguh besar jasa KTP Merah-Putih bagi hidup Abu. Sebagai benda yang Abu sayang dan pandang serta ciumi, KTP Merah-Putih yang didalamnya tertera Pancasila, Abu baca-baca setiap hari sehingga Pancasila merasuk ke dalam jiwa Abu, sebuah laku yang secara otomatis menjadi bagian karakter Abu tanpa harus diucapkan lagi.

Maka hari ini, ketika hari Pancasila tiba. Abu hanya ingin mengatakan : “Jelaslah Aku Pancasila karena aku ber-KTP Merah-Putih. Itu tak perlu tanya lagi.”

XXX

Simak juga Petualangan Abu lainnya

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Asal Usil, Kisah-Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s