MAGHRIBI DAN EAST

Perbedaan Kebudayaan Timur dan Barat

MAGHRIBI DAN EAST

Timur dan Barat//

di Barat bergelombang sepi dan di timur tenang ramai //
pada Barat membesarkan pada Timur mendewasakan //
oh Barat sunyi oh Timur asing //
Barat gelap, Timur gemerlap //
Barat telah berlalu dan bersama Timur kini adanya //
Barat adalah nostagia dan Timur adalah realita //
bersama Barat Jiwa bersama Timur raga //

pernah Barat berjaya, pernah Timur berkuasa //
Barat Timur paradoks //
hubungan tarik menarik //
ketika tengah menepi //
tengah menjauh membebaskan diri //
dan berteriak tentang perbedaan //
Barat maupun Timur //
Disatukan oleh bahasa //
Sekaligus dipisahkan oleh pengucapannya //

Maghribi dan East
West wa Timur

(dalam ragam bahasa)

Opini-opini nan lincah:

  1. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  2. Orang Sakit Dari Timur; 26 Mei 2013;
  3. Peradaban Tanpa Tulisan; 25 Februari 2016;
  4. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  5. Para Penyebar Kebohongan; 13 November 2016;
  6. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  7. Menentang Tradisi Memang Tradisi; 5 April 2017;
  8. Mencari Jurus Penangkal Fitnah Sebuah Jurnal Ilmiah; 11 Mei 2017;
  9. Pengulangan Sejarah; 23 Mei 2017;
  10. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  11. Syariat Islam Siapa Takut; 9 Juni 2017;
  12. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  13. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  14. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  15. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
Advertisements
Advertisements
Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

THE DIPLOMAT

Diplomasi sang diplomat

THE DIPLOMAT

Akibat masalah yang pelik dengan sang kekasih beserta keluarganya, seorang teman meminta Abu sebagai pihak mediasi atau diplomat untuk mengatasi masalahnya, istilah kerennya sebagai pihak juru runding sebagai wakil dari pihak teman Abu ini yaitu Samba untuk berdiplomasi. Sebenarnya Abu tidak ingin ikut campur dalam permasalahan ini, karena Abu sangat menyadari bahwa samba sendiri tidak berada pada posisi yang sepenuhnya benar. Namun sebagai seorang sahabat siapa yang bisa menolak ketika ia berkata, “Di negeri tempat saya tidak berkaum, kepada siapa lagi saya meminta bantuan?”

“Apalagi disamping saya apalagi ada seseorang Amr bin Ash.” sambungnya memuji, begitulah sulitnya Abu memiliki seorang sahabat bermental Muawiyah bin Abu Sufyan. Amr bin Ash adalah juru runding pihak Muawiyah bin Abu Sufyan menghadapi Abu Musa Al-Asyari dari pihak Khalifah yaitu Ali bin Abi Thalib, yang dengan kelicinan diplomasinya berhasil memperdaya pihak yang benar yaitu Abu Musa sebagai wakil Ali. Padahal pada perang Shiffin pihak Muawiyah jelas-jelas terdesak tapi bisa membalikkan keadaan melalui perundingan.

Menjadi juru runding antara dua keluarga adalah hampir sama juga dengan menjalani diplomasi antara dua negara, dimana Abu harus mewakili sekelompok orang. Otomatis harus mempersiapkan diri, maka segera Abu mencari referensi di Perpustakaan Aceh Utara untuk mempelajari detail-detail perjanjian dan perundingan yang tercatat, ini semua bukan berarti Abu “membesarkan masalah” namun lebih kepada mempersiapkan diri. Apalagi kami mengetahui bahwa juru runding dari pihak yang bersebrangan dengan teman Abu tersebut lebih matang dari segi usia dan memiliki pengalaman jauh lebih banyak. Temannya Abu tidak berani vis-a-vis menghadapi orang tersebut seperti perilaku Muawiyah yang tidak berani menghadapi Ali dalam pertarungan satu lawan satu. Ia sangat mengharapkan keunggulan Abu berbahasa (sebuah pujian berbisa tentunya) sehingga dapat menemukan solusi terbaik baginya, alasan Abu mau membantunya selain juga karena ia merupakan salah sahabat yang terdekat juga sebagai pembelajaran bagi Abu terhadap problema baru. Kedua hal ini yang membuat Abu berani menafikan nasehat Tengku Salek Pungo untuk tidak terlibat sama sekali, karena menurut beliau secara ekstrem mengatakan bahwa teman Abu tersebut berada diposisi yang salah.

Sebagai bahan percontohan Abu mencari buku-buku sejarah perundingan/diplomasi era kemerdekaan Indonesia. Dimana tercatat ada 4 perundingan antara pihak RI dengan Belanda yaitu Linggarjati, Renville, Roem-Royen dan Konfrensi Meja Bundar. Diantara 4 perundingan tersebut Abu melihat ada dua perjanjian yang menguntungkan RI yaitu Roem-Royen dan Konfrensi Meja Bundar (KMB).

Tidak usah Abu jelaskan detail perundingan dimana akan membuat teman-teman bosan dengan isinya. Setelah membaca Abu menarik kesimpulan menang-kalah sebuah diplomasi tergantung kekuatan karakter perundingnya. Muhammad Roem yang berasal dari partai Masyumi mampu “menjinakkan” Van Royen dalam perjanjian Roem-Royen. Namun wakil Indonesia yang paling berhasil adalah ketua Delegasi Indonesia pada KMB yaitu Muhammad Hatta. Dalam memoar MR. Hamid Algadri salah seorang anggota delegasi KMB menceritakan “Salah satu kunci keberhasilan delegasi Indonesia adalah keteguhan iman ketua delegasi yaitu Muhammad Hatta yang menolak segala “service” kerajaan Belanda dan segala kemudahan fasilitas lainnya. Kami sebagai anggota delegasi lainnya merasa malu dan akhirnya menolak juga”. Kekuatan karakter beliau semakin terlihat ketika wakil kerajaan Belanda berkata, “dengan ini kerajaan Belanda memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.” Namun langsung dipotong oleh beliau, “Kemerdekaan adalah hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri dan bukan pemberian bangsa lain.” Sebuah statement yang membuat wakil kerajaan Belanda terdiam.

Kembali kepada perundingan antara Samba dan pihak yang bersengketa dengannya tersebut, yang seperti Abu katakan sebelumnya bukan berada dipihak yang sepenuhnya benar. Abu jadi teringat perkataan Amr bin Ash di ujung usianya bahwa ia tidak yakin bisa masuk surga setelah diplomasinya membuat pihak Ali yang benar berada diposisi kalah. Beliau yang notabene seorang sahabat saja bisa dicekam ketakutan seperti itu apalah lagi seorang Abu yang berjarak 14 Abad dari Rasulullah. “Bukan kekalahan yang menakutkan tapi sebuah kemenangan tanpa keadilan yang membuat Abu gundah.” Namun demi sebuah perdamaian, mau tidak mau Abu harus terjun kedalamnya. Dan Abu ingin memulainya dengan Bismillahirahmanirrahim.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , | 1 Comment

PUISI TERINDAH

Apa guna semua orang tersenyum bila wajahmu cemberut.

PUISI TERINDAH

Apakah wajahku layaknya izrail
Sehingga engkau berpaling
Apakah lakuku sedingin es
Sehingga engkau membuang muka

Apa guna seluruh dunia memuji
Bila mulutmu mencibir
Apa guna semua orang tersenyum
Bila wajahmu cemberut

Seluruh puisi yang kutulis
Hanya untukmu
Walau sengaja engkau merobek
Tepat didepan hidungku

Engkau menyebutku kepala batu
Tak gentar dipermalukan
Didepan khalayak ramai
Atau civitas akademika sekalipun

kau harus tahu
Tak ingin kumenyesal
Nanti usia tua tiada mendapati
Dirimu disisiku

Lhokseumawe, kemarin.

Puisi-puisi tentang perasaan:

  1. Inikah Cinta; 1 Agustus 2008;
  2. Catatan Seorang Pecundang; 1 Agustus 2008;
  3. Dinda Dimanakah Engkau Berada; 1 Agustus 2008;
  4. Surat Kepada Sepotong Masa Lalu; 3 Agustus 2008;
  5. Tahukah Engkau Cinta; 4 Agustus 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  8. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  11. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  12. Mencumbui Kematian Sebuah Elegi; 16 Mei 2009;
  13. Berakhir Disini; 16 Juli 2009;
  14. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  15. Kenangan Akan Gerimis; 11 Februari 2012;
  16. Untukku; 17 November 2013;
  17. Cincin; 15 Maret 2013;
  18. Buah Amarah; 18 Desember 2016;
  19. Rindu; 4 Agustus 2017;
  20. Penantian; 21 Februari 2018;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | 1 Comment

DITOLAK KOMPAS

Ditolak Kompas

DITOLAK KOMPAS

Disertai salam dan hormat,

Kami memberitahukan bahwa pada tanggal 04 Januari 2008 Redaksi Kompas telah menerima artikel Anda berjudul “Sebentuk Harta”. Terima kasih atas partisipasi dan kepercayaan yang Anda berikan kepada Kompas. Setelah membaca dan mempelajari substansi yang diuraikan di dalamnya, akhirnya kami menilai artikel tersebut tidak dapat dimuat di harian Kompas. Pertimbangan kami, uraiannya tidak mengarah ke pemaknaan masalah atau membuka pencerahan baru. Harapan kami, Anda masih bersedia menulis lagi untuk melayani masyarakat melalui Kompas, dengan topik atau tema tulisan yang aktual dan relevan dengan persoalan dalam masyarakat, disajikan secara lebih menarik.

Hormat kami,

Sekretariat Desk Opini

C A T A T A N

Kriteria umum untuk artikel Kompas :
1. Asli, bukan plagiasi, bukan saduran, bukan terjemahan, bukan sekadar kompilasi, bukan rangkuman pendapat/buku orang lain.
2. Belum pernah dimuat di media atau penerbitan lain, dan juga tidak dikirim bersamaan ke media atau penerbitan lain.
3. Topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang actual, relevan, dan menjadi persoalan dalam masyarakat.
4. Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan komuninas tertentu, karena Kompas adalah media umum dan bukan majalah vak atau jurnal dari disiplin tertentu.
5. Artikel mengandung hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain, baik informasinya, pandangan, pencerahan, pendekatan, saran,  maupun solusinya.
6. Uraiannya bisa membuka pemahaman atau pemaknaan baru maupun inspirasi atas suatu masalah atau fenomena.
7. Penyajian tidak berkepanjangan, dan menggunakan bahasa populer/luwes yang mudah ditangkap oleh pembaca yang awam sekalipun. Panjang tulisan 3,5 halaman kuarto  spasi ganda atau 700 kata atau 5000 karakter (dengan spasi) ditulis dengan program Words.
8. Artikel tidak boleh ditulis berdua atau lebih.

Posted in Asal Usil, Opini | Tagged , , , , | 1 Comment

DIKEJAR-KEJAR WANITA

Diincar untuk dijadikan pendamping hidup atau mungkin hanya untuk dijadikan sekedar pacar!

DIKEJAR-KEJAR WANITA

Bagi teman-teman yang masih bujangan, muda, berpenghasilan dan bermasa depan. Maka anda harus bersiap-siap untuk dikejar-kejar wanita. Dikejar ini bukan berarti untuk ditagih hutang atau masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) pihak yang berwajib tapi diincar untuk dijadikan pendamping hidup atau mungkin hanya untuk dijadikan sekedar pacar.

Mungkin anda semua tidak mempercayai hipotesis Abu, tapi itulah pengalaman teman Abu yang bernama Samba dan Jojo. Samba ini adalah pemuda Mandailing Tapanuli Selatan dan Jojo adalah campuran Melayu dan Pujakesuma (Pemuda Jawa Keturunan Sumatera). Mereka teman satu Direktorat yang sama namun berbeda Kantor dengan Abu di Lhokseumawe. Kebetulan kami bertiga mengontrak rumah yang sama sehingga saling sharing ide dan pendapat.

Awalnya ini tidak menjadi kendala malah mereka menikmati, sms perhatian dan telfon malam (tarif murah tentunya) asyik-asyik saja mereka jalani.

“Sekedar berteman sah-sah saja bukan?” Alasan mereka.

“Jangan bermain api” itulah kata-kata Abu selalu, tapi siapa sih yang tidak ingin diperhatikan, apalagi orang tua dan keluarga nun jauh disana. Namun akhir-akhir ini sms dan miscall tengah malam terasa sangat mengganggu (HP harus selalu aktif karena secara Geografis keluarga yang jauh sehingga sewaktu-waktu bisa memberi kabar mendadak) apalagi mengingat aktifitas kerja yang semakin meningkat seiring persiapan modernisasi DJP di Kanwil NAD.

Menghadapi masalah ini mereka meminta saran Abu The Patriach rumah kontrakan kami. Menghadapi situasi klasik seperti ini Abu hanya menyarankan solusi kuno pula. Pertama segera menikah dan yang kedua perbanyak berpuasa. Gampangkan?

Namun masalahnya tak semudah itu, karena sang Patriach yaitu Abu juga tidak memberi contoh yang baik (dengarlah ini wahai para pemimpin). Berhubung Abu juga belum menikah dan amat sangat jarang berpuasa sunnah. Maka sudah amat sangat jelas segala saran Abu tersebut ditolak. Padahal kebenaran itu bisa datang dari siapa saja.

“Abu sendiri yang tidak melakukan apa disaran itu kok juga tidak dikejar-kejar wanita?” Lha, ini diberi saran kok membalik pertanyaan.

Ini mah beda kasusnya karena Abu mah Special One” Elak Abu.

“Bagi-bagi dong rahasianya” Pinta Samba dan Jojo.

“Baik, tapi ini ilmu yang sangat rahasia dan tidak semua orang bisa menjalankannya”. Kali ini Abu serius.

“Ngomong saja masalah sejarah, pasti mereka mundur teratur. Samba coba pelajari sejarah Tanah Batak dan jojo coba pelajari sejarah Mataram”. Terpaksa juga Abu mengajarkan jurus pamungkas.

“Caranya ketika mereka mengajak bicara potong saja dengan kata-kata, Mataram itu raja yang paling hebat adalah Sultan Agung Hadinigrat dan sebagainya. Jurus ini ditanggung mujarab.” Kata Abu sambil mengacungkan jempol.

“Benar-benar jurus yang sulit.” Kata mereka serentak.

Bagi teman-teman yang ingin mempraktekkan ajian Abu ini silahkan, namun ini seperti kata Samba dan Jojo adalah hal yang sulit. Namun kalau sudah dicoba awas ketagihan lho. Dan Abu tidak bertanggung jawab atas segala konsekuensinya.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

DIPERSIMPANG JALAN

Hari ini dipersimpangan jalan. Aku harus memilih jalan mana harus dilalui.

DIPERSIMPANG JALAN

Terlalu banyak kebimbangan merajam sukma
Akan masa depan yang tak pernah pasti
Satu persatu cita-cita berguguran
Bersama angin laut menusuk

Mana kejayaan ketika tiada keberanian
Mengapa harus malu-malu
Mengakui bahwa jiwa telah menggelembung
Membusuk dalam prasangka

Kebimbangan tersirat lebur
Dalam ketenangan bersama senyuman
Hari ini dipersimpangan jalan
Kuharus memilih jalan mana harus dilalui

Lhokseumawe, 5 April 2008

Puisi:

  1. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  2. Maghribi dan East; 3 Agustus 2008;
  3. Dua Puluh Empat Setengah Tahun; 6 Agustus 2008;
  4. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  5. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  6. Mengejar Bayang-Bayang; 4 Desember 2008;
  7. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  8. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  9. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  10. Anak-Anak Bermain Bola; 26 Februari 2009;
  11. Dua Puluh Lima Tahun Seperempat Abad Sudah; 2 Maret 2009;
  12. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  13. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  14. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  15. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  16. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  17. Cerita Sebuah Gudang; 14 Januari 2010;
  18. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  19. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  20. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  21. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  22. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  23. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  24. Surga; 17 Juni 2013;
  25. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  26. Setitik Noktah Di Dalam Noktah; 25 Februari 2015;
  27. Oda Sebatang Pohon; 29 Maret 2016;
  28. Senang Bagi Mereka Yang Berpunya; 30 November 2016;
  29. Supaya Aku, Kamu Dan Kita (Lebih) Saleh; 9 Desember 2016;
  30. Yang Menggelandang; 27 Agustus 2017;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

HANYA TIGA LIMA

Ke Jakarta aku pergi

HANYA TIGA LIMA

“Kali ini anda mendapat nilai 35!” Dosen Mata Kuliah Makro menyerahkan hasil ujian mid-test kepada Abu. Aduh! Abu menepuk jidat sendiri, memang sebelumnya sudah memprediksi hasil ujian akan buruk tapi tak pernah terbayang akan sehancur ini.

Selalu ada konsekuensi yang harus kita tempuh apabila mengejar sesuatu. Hidup pada dasarnya adalah kumpulan banyak pilihan dan kini Abu harus menelan pil pahit dari keputusan yang telah Abu buat. Mengikuti diklat OC selama tiga minggu, selesai hari Jumat tanggal 2 Mei, naik pesawat Lion Air dari Jakarta menuju ibu kota provinsi Sumatera Utara pukul 13.45 hari sabtunya, tiba di Medan pukul lima sore dan melanjutkan perjalanan menuju Lhokseumawe dengan bus selama hampir delapan jam.

Ketika tiba di Kota Lhokseumawe minggu pukul dua dini hari rasanya badan Abu remuk, namun apapun ceritanya tetap memaksakan masuk kuliah di Unimal pagi harinya. Siapa sangka ketika Abu masuk langsung ujian mid-test! Ibarat maju ke medan tanpa senjata, habislah Abu. Ketinggalan materi selama empat pertemuan dan persiapan nol persen membuat perjuangan Abu berbuah hasil 35 dalam range 0 sampai 100.

Nilai terburuk selama Abu berkuliah di Unimal sepanjang masa! Bukan hanya Mata Kuliah Makro tapi hampir disemua Mata Kuliah Abu harus mengikuti ujian susulan dikarenakan meninggalkan bangku kuliah selama tiga minggu. Di sebuah Universitas negeri, mana mereka mau tahu kepergian Abu dalam rangka dinas. Demi nama baik Unimal tertutup sudah pintu dispensasi kepada Abu.

“Itu adalah konsekuensi yang harus diterima,” dalam hal ini tak ada niat bagi diri Abu untuk mengeluh. Namun semester ini mau tak mau harus melepas julukan mister perfecto yang pernah melekat didiri Abu karena di awal debut berkuliah di Unimal berada dititik zenith dengan IP 4. Rasional saja, bagaimanapun usaha Abu di final nanti tidak akan mampu merebut IP 4 lagi, Maaf nilai 35 terlalu sulit untuk didongkrak menjadi A, meskipun di final nanti mendapat nilai 100 sekalipun.

“Apabila kita mengejar sesuatu, maka disuatu sisi harus ada hal lain yang harus dikorbankan.” Begitu hibur Tengku Salek Pungo sore harinya. Abu hanya tersenyum, ya kalau dipikir-pikir sehancur apapun nilai di Unimal paling tidak Abu masih memiliki beliau di sisi Abu, mendapat banyak teman baru sewaktu mengikuti diklat dan memperoleh sekitar dua puluh buku baru guna melengkapi perpustakaan pribadi yang Abu borong di kwitang.

Tidak semua orang mampu meraih segalanya. Hanya Dinasti Ummayyah saja yang pernah mencatat sejarah bertempur disepuluh front dan memenangkan kesemuanya, setelah itu tidak ada yang bisa bahkan Turki Ustmani dimasa kejayaannya saja tidak. “Mengapai sesuatu dan kehilangan sesuatu,” itulah hidup.

Walau memalukan Abu mengakui dengan jujur, “Hari ini saya memperoleh tiga lima.”

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , | 1 Comment

LOVE AT FIRST SIGHT

 

Her face was as calm as the lake of unexpected depth for anyone.

LOVE AT FIRST SIGHT

“In love, there is half wisdom and half madness.” I have written a lot of Love words. Love … Love … Love … To exceed a thousand in number. But I assure you never said it to any woman on earth, but when she saw herself this fluid tongue was familiar. Where is my soul tiger? Why languishing hiding in a cave.

She is the embodiment of indifferent, indifferent nature. Her face was as calm as the lake of unexpected depth for anyone. She is the proof why the statue of the Venus goddess is always adored in her silence, perhaps she is not the most beautiful creation of God but she is the most mysterious at least to me.

Behind her red lips broke like an Australian apple stuck tongue as sharp as an armored soldier who is ready to slice a buffering ear. Words are just a game to make a beautiful sound. Not rough, not soft, not hard, not crunchy just curt and bitter. The defense as tough as the fortress of Constantinople actually adds to her appeal.

I never thought before that I fell down like this, right at first sight !!! As a result, the whole body feels different, the heart feels rock on roll with just remember the name. Feeling the body becomes strange, the memory in the head always remember her face, seemed to have left if not yet met her. Behind the iron mask and armor, I wore felt this chest vibrate greatly.

Is this the name Love? I do not know because it’s been a whole new life now experiencing this. Where’s the steel mentality I’ve been proud of? Why melt when you meet him. What a mess! It feels and feels overlapped. I want but also shy, I’m brave but also afraid.

Where should I look for answers? All the books I’ve read do not explain it. Nil experience, ask too embarrassed. Then I tell you.

“When love calls you, follow him. Though you know behind the wings are hidden a sword ready to slash you.”

 

LHOKSEUMAWE, DAY 00:15 EARLY DAY
MONDAY, 19 MEI 2008

Posted in Fiction, International, Literature, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , | 6 Comments

KENAIKKAN BBM, SIKAPI DENGAN HARGA DIRI

Pemerintah berencana menaikkan harga BBM

KENAIKKAN BBM, SIKAPI DENGAN HARGA DIRI

Harga minyak dunia meroket, pemerintah berencana menaikkan harga BBM guna memperkecil beban subsidi yang memberatkan APBN. Begitulah berita yang akhir-akhir ini hangat beredar dimasyarakat. Harga barang belum-belum merangkat naik dan dengan segara menjadi bahan pembicaraan hangat di media. Dalam hitungan hari demostrasi melanda Indonesia.

Indonesia negara yang pernah berjaya sebagai pengekspor minyak sekarang merana menjadi negara pengimpor. Blok Cepu yang seyogyanya mampu menjadi cadangan minyak negara ini telah dikangkangi sang kapitalis, Exxon Mobil.

Penulis dalam hal ini bukan bermaksud memprotes kebijakan pemerintah, namun mengajak kita berpikir sisi baiknya dari kenaikan harga minyak tersebut. Pertama, kita harus menyadari bahwa tidak ada jalan lain bagi pemerintah untuk keluar dari krisis ini selain menaikkan harga minyak.

Pajak yang menjadi penyumbang terbesar anggaran pembelanjaan pemerintah tidak mampu mengimbangi laju harga minyak, Dengan hanya mengandalkan pajak sebagai unsur utama pemasukan negara adalah tidak sehat. Negara yang kuat perekonomian sebaiknya membebankan neraca pembayaran pada surplus ekspor-impor.

Marilah kita melihat sisi positif dari kenaikan minyak dunia ini, setidaknya para brooker yang menjual minyak bersubsidi keluar negeri akan kolaps. Kita harus melihat begiu banyak kasus penyeludupan yang hanya menguntungkan oknum tertentu. Jujur saja, Singapura itu akan tetap selamanya kaya oknum-oknum tidak tahu malu dari negara kita masih beredar disana.

Menjual minyak bersubsidi ke negara asing sama halnya dengan menjual negara, apa pasal hak rakyat banyak hanya dinikmati oleh segelintir oknum yang tidak memiliki harga diri sebagai bagian dari bangsa ini.

Kenaikan harga BBM disuatu sisi akan membuat rupiah menguat, mengapa? Kita dapat melihat selama ini betapa negara kita menjadi sasaran pemasaran raksasa industri otomotif dunia. BMW, Marcedez, Jaguar, Honda, Toyota, Kia bahkan Proton menjamuri jalan-jalan negeri ini. Efek negatifnya; devisa kita tersedot, jalanan macet, polusi bertambah, kesenjangan sosial meningkat.

Seluruh negara di dunia terkena dampak kenaikan harga minyak dunia, dari Amerika hingga vatikan sekalipun. Jadi mengapa kita menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk meributkannya jika banyak negara yang lebih miskin dari kita di Afrika sana menerimanya sebagai kelaziman.

Maaf saja, terlalu banyak orang yang manja di negeri. Orang-orang yang secara sistematis diuntungkan dengan subsidi bahan bakar minyak, dan jika telisik secara ekonomi mereka adalah orang-orang yang sebenarnya kaya. Mereka yang bermental kerdil akan cepat panas dengan hembusan yang ditiupkan oleh media, yang jelas tugasnya mencari sensasi dalam berita.

Ini bukan propaganda, namun marilah kita melihat ini semua dengan kepala dingin bukan dengan emosional. Tidak ada pernah pemerintah Republik Indonesia berkeinginan berlaku zalim kepada rakyatnya, yang terjadi sebenarnya adalah oknum-oknum yang menjual kepentingan rakyat dengan harga yang murah.

Sebagai bangsa, sudah selazimnya kita menghadapi ini semua dengan penuh harga diri bukannya dengan caci maki apalagi sumpah serapah.

Posted in Asal Usil, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , | Leave a comment

BERPIKIR DAN BERTINDAK

Sutan Syahrir Perdana Menteri Pertama Indonesia

BERPIKIR DAN BERTINDAK

Sutan Syahrir pernah berkata yang kira-kira bunyinya seperti ini “Kalau persoalan sudah ada kesimpulannya tetapi tidak dilaksanakan, maka yang ada adalah perasaan rendah diri. Suatu rasa tidak sanggup mengatasi masalah.” Mantan Perdana Menteri pertama Indonesia yang berasal dari Partai Sosialis ini jelas bukan merupakan tokoh populer dalam sejarah Indonesia, namun kata-katanya jelas mengandung kebenaran. Intinya Jika segala sesuatunya hanya dibicarakan tanpa dilaksanakan maka yang terjadi adalah rasa rendah diri kolektif.

Lihatlah seminar-seminar dengan berbagai kesimpulan yang hebat dan megah, namun nihil dalam pelaksanaan. Semuanya mengapurkan pikiran dan akhirnya mengapurkan sebuah generasi, dan terakhirnya mengapurkan bangsa.

Lihatlah Indonesia, negeri yang bahkan lebih luas dari Eropa, Andaikata kita hitung dalam Kilometer jarak antara Sabang dengan Marauke kira-kira sama dengan jarak antara London sampai Moskow. Dalam ruang yang sama di Eropa, luas satu negara Indonesia sama dengan luas sekitar 60 negara Eropa dan menghimpun 400 kebudayaan.

Apa yang salah? Dengan segala sumber daya yang tersedia. Dengan segala potensi yang kita miliki, hanyakah kita menjadi The Sick Man From Asia? Pahit, tapi bukan untuk disesali.

Dalam sejarah bangsa-bangsa didunia, termasuk sejarah bangsa Indonesia kaum pemuda mengambil peranan terdepan. Lihatlah revolusi di Kuba, revolusi kebudayaan di China, revolusi Perancis. Di Indonesia lihatlah Sumpah Pemuda, Proklamasi, Malari, Refomasi. Apa jadinya suatu bangsa jika kaum mudanya apatis dan konsumtif.

Seperti yang dikatakan oleh Syahrir, apa gunanya kita berbicara kalau tanpa tindakan, membaca tulisan ini setidaknya marilah kita berpikir untuk menghindari pelapukan pikiran. Tahukah anda mengapa Penjajah Kolonial Belanda mengajarkan bangsa Indonesia menulis indah? Karena Penjajah Kolonial Belanda berkeinginan supaya bangsa kita hanya berkosentrasi untuk menulis namun lamban dalam berpikir. Oleh karena itu mari bertindak.

Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , | 1 Comment