MENANTIKAN BAYANG-BAYANG

Bayang-bayang

MENANTIKAN BAYANG-BAYANG

Dari dulu hingga sekarang

Dalam hati terus mengenang

Mimpi-mimpi yang menggelandang

Tak lepas tak menghilang

 

Sebagian rasa masih terbayang

Terpasung kuat didalam dada

Sebagian rasa seakan melayang

Tiada membekas direlung jiwa

 

Kemana semua keberanian terbang

Semakin lama semakin terbuang

Didiriku yang pasrah sekarang

Hanya duduk terpaku mengenang

 

Dimanakah kiranya terpatri namamu

Duhai bayanganku yang menghilang

Kunantikan kembalinya dirimu

Hingga akhir hayat menjelang

 

                                                                           Banda Aceh, Minggu 17 Nopember 2002

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | 2 Comments

NOMOR 48

Ayah adalah pilihan terbaik yang diberikan Allah S.W.T.

NOMOR 48

Tahun 1994 rumah kami selesai diplester keseluruhan, saat itu Abu berumur 10 tahun. Di samping pintu ayah mengecat nomor rumah, nomor 48. Setelah sekitar 5 tahun tinggal disini, rumah kami tidak berbentuk batu bata lagi. Tentu bukan sebuah rumah paripurna, plafon belum ada, halaman masih berupa timbunan batu-batu bekas cor dan pagar masih menggunakan kawat bekas yang berkarat, dan bekas papan mor digunakan sebagai pagar.

Ada kebanggaan di matanya, sesuatu yang tak pernah lekang dari ingatan Abu. Tahun-tahun itu adalah sebuah romansa yang tak akan pernah terulang, setelah kami pindah dari Meulaboh dan sempat menumpang di rumah nenek di Seutui, lalu kami pindah ke rumah sendiri yang masih berlantai pasir hitam, tanpa listrik. Antara tahun 1990-1991 bahkan belum ada listrik, Abu belajar dengan lampu teplok, akibatnya bulu hidung sering hangus. Tokh, tapi itu bukan masa-masa pahit yang patut disesali melainkan sebuah nostalgia penuh dengan canda tawa.

Ayah juga adalah guru mengaji pertama kali Abu, setiap pukul 19.00 WIB kami wajib mematikan televisi 14 inchi hitam putih merk National untuk bersila belajar alif-ba-ta bersama beliau setiap hari. Tak peduli betapa populernya film-film serial di TVRI ketika itu, seperti Highwayman, Street Hawk atau Friday the 13th kami sangat jarang bisa menontonnya, hanya bisa ketika beliau bertugas keluar kota. Sampai dengan tahun 1995 ketika Abu diserahkan ke tengku untuk belajar mengaji lebih lanjut.

Ayah memiliki karakter yang sangat unik, beliau tidak pernah menonton TV kecuali acara berita. Berita Malam, mengajar kami mengaji dan diakhiri dengan Dunia Dalam Berita adalah ritual abadinya setiap malam.

Nomor 48 adalah pilihan beliau untuk rumah kami, tak peduli bahwa kawasan tempat kami tinggal cuma ada sekitar 20 rumah. Dan kampung kami ternyata tidak urut, rumah disamping bernomor 8, sedang didepan rumah kami malah bernomor 17. Kampung kami tidak dibangun oleh pengembang jadi setiap orang menentukan sendiri nomor rumah masing-masing. Ini adalah semacam kemerdekaan, silahkan pilih nomor yang belum dipilih, diperlukan waktu bertahun-tahun bagi kampung kami untuk memiliki rumah bernomor 10 misalnya. Tapi kekacauan ini tidak pernah membingungkan pak pos, setiap surat diantar tepat ke alamat. Menurut Abu, sistem pos di Indonesia adalah sebuah keajaiban di dunia. Kelak, ketika TIKI, JNE dan banyak jasa ekspedisi lain muncul belakangan, kesetiaan Abu terhadap segala jenis pengiriman surat atau barang tetap milik PT. Pos Indonesia.

Waktu itu kami hidup sangat sederhana, sebuah televisi hitam putih dan sebuah vespa biru adalah dua barang paling berharga di rumah. Kami hampir tidak pernah jajan di luar, segala macam jenis jajanan seperti KFC, Es Teler 77 dan sebagainya akan dibuatkan tiruannya oleh mama. Kalaupun ada jajanan yang dibeli adalah mie rebus, alasannya sederhana yaitu isinya banyak jika dibeli bungkus. Atau martabak telur, bersama 4 adik-adik kami biasa berbagi, sebungkus untuk dua-tiga orang, agar kenyang dicampur dengan nasi.

Ayah tak pernah berniat menjadi kaya, bahkan bercerita kepada Abu bahwa ketika kecil pernah berdoa dengan sungguh-sungguh agar tidak diberi cobaan kekayaan. Itu karena ketika kecil dikampungnya ayah melihat betapa anak-anak orang kaya tidak bahagia, berkelakuan buruk, arogan dan manja, malah ketika orang tuanya meninggal berebut harta.

Abu protes, “bagaimana jika orang yang sudah miskin dan tidak bahagia!”

“Kita tidak kaya, apa kamu tidak bahagia?” Tanyanya.

“Bahagia ayah!”

Ia tersenyum, merasakan bahwa telah mencapai keinginannya. Sebenarnya dalam hati kecil Abu ada rasa malu, ketika diantar ke sekolah dengan vespa birunya. Sedang anak-anak lain diantar dengan mobil atau minimal dengan astrea grand. Atau kadang-kadang Abu merasa betapa kumuhnya baju dengan kerah yang koyak akibat terlalu kuat disikat dakinya, atau lengan baju sekolah berumbai-umbai dibandingkan dengan teman-teman yang bajunya setiap hari satu baju. Abu satu baju untuk seminggu. Tapi melihat ayah tersenyum, Abu merasa bahagia dan sejak hari itu berjanji dalam hati tidak akan pernah merasa inferior terhadap siapapun, seterbatas apapun keadaan ekonomi kami.

Tahun 2003 pagar rumah kami selesai, ayah mengecat nomor 48 didindingnya. Abu masih belum mengerti mengapa angka 48? Tapi ternyata setiap angka adalah pertanda, layaknya Al-Quran yang dapat dijelaskan keajaibannya melalui angka-angka di dalamnya. 48 adalah angka yang tak pernah dicapai ayah, pada tanggal 4 April 2004 di usia 47 tahun ayah meninggal dunia.

Waktu itu Abu berusia 20 tahun sedang bersekolah di Medan, kaget dan tak percaya ketika menerima telepon itu. Padahal seminggu sebelumnya Abu pulang ke Banda Aceh untuk membezuk beliau yang sedang sakit, bahkan ketika Abu akan berangkat ke terminal terlihat beliau semakin segar wajahnya dan menampakkan tanda-tanda kesembuhan.

Ayah perkasa yang pada suatu hari mengeluarkan selembar uang lima ribuan, waktu itu bergambar Teuku Umar ia berkata: “Tahukah kamu, ketika uang pertama ditempa iblis sangat bergembira. Ia menciumi koin pertama seraya bersumpah, bahwasanya aku (iblis) telah ridha jika engkau (uang) lebih dipertuhankan dibandingkan aku. Itu semua aku lakukan agar kita dapat melawan penghambaan manusia kepada Tuhan semesta alam yang sesungguhnya yaitu Allah azza wa jalla.”

Dan kini ayah telah tiada.

Abu mengetahui sejak hari itu bahwa seumur hidupnya ayah telah menahan diri terhadap sekutu iblis tersebut. Hal yang coba dipertahankan sampai ia menghembuskan nafas terakhir. Ayah adalah seorang pejuang hebat, menjadi pilihan terbaik yang diberikan Allah S.W.T kepada Abu.

Dalam hidup adakala Abu merasa lemah dan kalah, ada saat dimana kekuatan hati manusia tak terlalu tangguh menghadapi dunia. Abu berusaha memejamkan mata, mengingat masa lalu, masa-masa ketika Abu memeluk erat-erat ayah dari belakang ketika diantar kesekolah dengan vespa biru butut itu. Mencoba meresapi kebijaksanaan yang belum utuh menyeluruh Abu serap.

Nomor 48 mungkin tidak berarti apa-apa bagi sebahagiaan besar orang. Tapi angka tersebut adalah sebuah pengingat, sebuah warisan semangat. Salah satu harta yang berharga yang diwariskan ayah. Entah anakmu akan tangguh seperti engkau, namun jika Abu terus berusaha berjuang untuk melawan godaan itu, itu semua karenamu ayah tercinta.

Petualangan Abu lainnya

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , | 2 Comments

IS THIS LOVE

When her smiles it will look beautiful sparkle dazzling, more beautiful than diamond de beers.

IS THIS LOVE

She is an embodiment of different, indifferent nature. Her face was as calm as the lake of unexpected depth for anyone. Her is the proof why the statue of the Venus goddess is always adored in her silence, perhaps she is not the most beautiful creation of god but she is the most mysterious at least to me.

Behind her red lips are like an Australian apple stuck to the tongue like a bayonet army ready to slice off the ears. Words are just a game for her beautiful voice. Not rough, not soft, not hard, not crunchy only short and bitter. The defense as strong as the fortress of Constantinople actually adds to her appeal.

When her smiles it will look beautiful sparkle dazzling, more beautiful than diamond de beers. But because of the preciousness that so rarely does it, for me, the period is even longer than the cycle passing Halley’s comet through the earth. I do not want to miss a single chance to see it.

Originally ordinary, which man likes women with sharp eyes? It’s possible, but a strange man of course. So why? It’s all because of a dream. Somehow I could dream of her in a deep night of silence.

Feeling jerks, because according to Fritz Paris “Dreams … It is a message from and for yourself.” O woman of Venus manifestation, please go back to Greece, why do you tease me from this tropical country, how can I not stand it?

As a result, the whole body feels different, the heart feels “rock on roll” by just remembering her name. Feeling the body becomes strange, memory in the head always remember her face, seemed to have left if not yet met her. Behind the iron mask and the armor I wore felt this chest vibrate greatly.

Is this the name Love? I do not know because it’s been a whole new life now experiencing this. Where’s the mental steel I have been proud of? Why melt when you meet her. What a mess! It feels and feels overlapped. I want but also shy, I am brave but also afraid.

Where should I look for answers? All the books that have been read do not explain it. Experience nil, ask also embarrassed. Then I tell you.

When her smiles it will look beautiful sparkle dazzling, more beautiful than diamond de beers.

Translate From: Inikah Cinta

Posted in Fiction, International, Poetry, Story | Tagged , , , , , , | 7 Comments

SEJARAH JONG ISLAMIETEN BOND

Foto Para Tokoh Jong Islamieten Bond pada Museum Sumpah Pemuda

SEJARAH JONG ISLAMIETEN BOND

Latar belakang kehidupan dan pendidikan zaman Kolonial Belanda

Pada tahun 1920-an pandangan kaum terpelajar bangsa Indonesia terhadap agama Islam sangat negatif, kurang perhatian dan kurang perhargaan. Golongan terpelajar yang mendapatkan pendidikan dan pelajaran pada lembaga-lembaga Barat. Waktu itu, sejak dulu sudah ada lembaga-lembaga tradisional seperti pesantren, pengajian dan madrasah terbawa oleh zamannya. Maka tidak saja pandangan, tapi juga karena keadaan bahwa seseorang akan dianggap maju apabila mendapatkan pendidikan dari lembaga-lembaga pemerintahan kolonial Belanda atau yang serupa.

Sekolah yang harus ditempuh adalah (HIS) Hollands Inlandsche School, sebagai sekolah terendah sekitar 7 tahun. Lulusan sekolah ini sudah dapat bekerja sebagai klerk pos dengan gaji f 60 perbulan. Kemudian dapat disambung ke sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), setingkat SMP sekitar 3 tahun, kemudian dapat diteruskan ke (AMS) Algemene Midddelbare School, setingkat SMA juga 3 tahun lamanya.

Kemungkinan sekolah tidak terbuka luas kepada pribumi, disebuah kabupaten hanya ada satu HIS dengan jumlah murid 250 orang, semakin keatas semakin kurang, sekolah MULO diseluruh Hindia Belanda tidak sampai 100 sekolah, sedang ALS hanya ada beberapa. Perguruan Tinggi pada tahun 1920 hanya ada satu, Sekolah Teknik Tinggi (Technische Hoge School) di Bandung (Kelak ketika Indonesia merdeka menjadi ITB). Kemudian Sekolah Hukum Tinggi (Rechts Hoge School) berdiri di Jakarta tahun 1924 yang waktu itu belum menjadi Universitas, baru tahun 1927 berdiri Sekolah Kedokteran Tinggi disamping Sekolah Hukum Tinggi (Keduanya kelak menjadi cikal bakal Universitas Indonesia). Di samping itu ada sekolah kejuruan teknik, guru, pamong praja, dokter hewan, pertanian yang menerima lulusan MULO.

Angka-angka tersebut mengambarkan betapa kecilnya jumlah bangsa Indonesia yang mendapat pelajaran menurut sistem Barat yang kemudian memberikan kesempatan mendapatkan penghidupan yang layak dalam masyarakat jajahan. Angka-angka tersebut mengalami kenaikan pada tahun 1930-an antara lain dengan upaya bangsa sendiri dengan mendirikan sekolah-sekolah swasta dengan mencontoh model pendidikan Barat.

Pada umumnya ketika seseorang menamatkan HIS kemudian meneruskan sekolah ia harus tinggal jauh dari orang tua, sebab sekolah lanjutan seperti MULO dan ALS hanya ada di kota-kota tertentu. Sedang perguruan tinggi hanya ada di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Jika seorang pelajar tinggal di rumah sendiri ia tentu mendapat pendidikan agama dari orang tua sedang di tempat baru tidak. Mulai dari sekolah rendah para pelajar menggunakan bahasa pegantar yaitu bahasa Belanda yang merupakan bahasa pokok untuk menuntut ilmu. Bahasa Belanda menjadi ukuran seseorang dalam mencari pekerjaan atau berkedudukan dalam masyarakat. Mereka yang mahir berbahasa Belanda akan berkedudukan baik dan dihormati terutama oleh golongan tuan, yaitu Belanda.

Ketika itu tidak penting memelihara agama, kesempatannya sedikit sekali. Para orang tua yang merasa anaknya lebih pandai tidak mampu menentukan lagi nasib anak-anaknya. Hal ini tentu bukan tanpa pengecualian, tapi secara umum begitulah mental orang tua dan pelajar zaman itu. Pelajaran bahasa Belanda memiliki pengaruh juga, di sekolah diajarkan sastra Belanda dan asing seperti Jerman, Perancis dan Inggris serta sejarah Negara-negara Eropa. Kalau ada sesuatu yang menyebutkan Islam, baik masa itu atau lampau menurut pandangan Barat tidak dipandang baik, agama Islam mendapat cap yang buruk.

Antara lain mereka (orang-orang Barat) mengatakan: Islam membolehkan orang beristeri banyak. Perempuan memiliki kedudukan rendah, pergundikan dan perbudakan masih ada dalam Islam. Orang Islam tidak memiliki inisiatif sendiri, semua sudah ditentukan Allah. Nabi Muhammad dihinggapi penyakit epilepsy (ayan). Jika ia berbicara ketika diserang penyakit itu maka akan dicatat dan dijadikan wahyu. Agama Islam meniru agama Yahudi dan Kristen. Dikarenakan Arab miskin maka Nabi Muhammad memerintahkan haji agar Negara Arab memiliki penghasilan.

Semua itu tercatat dalam berbagai pelajaran dari HIS sampai perguruan tinggi. Maka tak mengherankan jika golongan terpelajar Indonesia sedikit demi sedikit terpengaruh oleh pandangan tersebut, sekalipun tidak ada yang segera beralih agama. Tapi mereka dipupuk sejak muda untuk tidak mencintai agama Islam yang banyak sekali cacadnya, sedang mereka belum berkesempatan untuk meneliti apa yang dibaca dan didengar. Ketika ujian dilaksanakan maka jawaban yang benar adalah sebagaimana tertulis dalam buku pelajaran.

Organisasi pemuda terpelajar zaman Kolonial Belanda

Di zaman itu pula telah hidup organisasi-organisasi pemuda seperti Jong Java berdiri 1915, Jong Sumatranen Bond (1918). Pemuda-pemuda yang menuntut ilmu ke Jawa juga mendirikan Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes dan sebagainya. Organisasi-organisasi tersebut memupuk kebangkitan yang dikemudian hari melahirkan banyak pemimpin politik. Dalam hal ini, nasib Islam tidak berubah. Mereka tidak memperhatikan agama Islam dan memang tidak mencantumkan hal itu dalam azas dan tujuannya.

Organisasi-organisasi Islam diluar kepemudaan pada masa Kolonial Belanda

Ketika itu telah berdiri Serikat Islam, Muhammadiyah, Al Irsyad, Persatuan Islam dan lain-lain. Mereka tidak hanya mengajarkan Islam tapi juga berdakwah, serta berjuanga membebaskan agama Islam dari pandangan keliru dan menyesatkan. Kesulitannya adalah soal bahasa sehingga siaran atau terbitan organisasi itu dalam bahasa Melayu atau sebatas daerah sehingga tidak menjangkau pemuda terpelajar yang sebagian besar beragama Islam.

Berdirinya Jong Islamieten Bond

Sam seorang anak penghulu Karanganyar adalah seorang pemuda Jawa yang berpikiran maju, ia juga anggota Jong Java yang menjadi pelajar pada Rechtsschool (Sekolah Tinggi Hukum). Pada tahun 1924 ia menjadi Ketua Umum Jong Java melalui pemilihan yang demokratis, ia memiliki pemikiran tentang tugas yang ia kerjakan dalam masyarakat bagi kepentingan bangsa. Pada umumnya azas dan tujuan organisasi pemuda terpelajar disusun dengan kalimat singkat. Menyiapkan para anggotanya menjadi pemimpin rakyat. Tentang hal ini, Sam memiliki gagasan yang berbeda yaitu : Sebagian besar bangsa Indonesia beragama Islam, setidaknya menjadi jiwa dari rakyat. Terlepas apapun agama sang pemimpin maka ia patut mengetahui agama rakyat yang dipimpin.

Sebagai Ketua Umum Sam mengajukan usul yang sederhana : Agar dikalangan Jong Java dibuka kesempatan mempelajari agama Islam. Andaikata usul itu ditambah dengan agama-agama lain, Sam tidak akan keberatan. Ia mengusulkan agama Islam karena merupakan mayoritas. Usul ini tidak diterima bahkan ditolak mentah-mentah dengan tuduhan Sam bermain politik.

Sam tetap merasa bahwa mempelajari agama Islam bagi pemuda Islam terpelajar adalah sangat penting. Ia menghubungi Kiai Ahmad Dahlan dan Haji Agus Salim yang kemudian merestui. Maka pada akhir tahun 1924 disebuah Sekolah Muhammadiyah di Yogyakarta berbekal dengan lampu tempel, organisasi-organisasi pemuda mengadakan kongres membentuk sebuah organisasi, Jong Islamieten Bond. Meskipun secara resmi didirikan di Jakarta pada tanggal 1 Januari 1925.

Asas dan tujuan Jong Islamieten Bond

  1. Bestudering van de Islam en bevordering van de naleving van zijn voorschriften. (Mempelajari agama Islam dan menganjurkan agar diamalkan).
  2. Het opwekken van sympathie voor de Islam en zijn belijaers, naast positieve verdraagzaamheild voor andersdenkenden. (Menumbuhkan simpati terhadap Islam dan pengikutnya, disampin toleransi positif terhadap orang-orang yang berlainan agama).

Azas dan tujuan itu diupayakan dengan jalan :

  1. Menerbitkan majalah, brosur-brosur dan lain-lain penerbitan;
  2. Mengadakan kursus, pertemuan-pertemuan dan lain-lain sebagainya;
  3. Mengadakan exkursi dan lain kunjungan ke tempat-tempat yang berarti.

Kebangkitan Jong Islamieten Bond

Jong Islamieten Bond (JIB) didirikan oleh para pelajar yang duduk di bangku sekolah, terlepas dari umurnya. Disamping itu ada juga yang masih muda tapi tidak bersekolah. Mereka dapat digolongkan dalam arti pemuda terpelajar sehingga boleh menjadi anggota. Keanggotaan JIB tidak dibatasi oleh sekolah tapi usia, dari 14 sampai 29 tahun yang kemudian hari diperpanjang menjadi 35 tahun.

Anggota Jong Islamieten Bond di Kota Medan

Anggota beragama Islam tidak dibatasi suku atau kedaerahan, pada tahun 1925 JIB mendahului penghapusan kedaerahan yang baru terlaksana secara penuh pada Sumpah Pemuda tahun 1928. JIB juga mendirikan kepanduan dengan nama Natipij (National Indonesche Padvinery).

Sambutan berdirinya Jong Islamieten Bond dari golongan pemuda terpelajar

Tentu ada yang menyambut berdirinya JIB dengan perasaan tidak senang, bahkan ada yang menentang dengan mengatakan: “Alles wat rietk naar Indonesich nationalism, moet worden besteden met hand en tand.” (Apa saja yang berbau nasionalisme Indonesia harus diberantas dengan tangan dan gigi)

Tapi pada umumnya sambutannya sangat baik. Dalam waktu singkat di kota-kota besar seperti; Bandung, Semarang, Yogyakarta, Sala, Surabaya, Malang, Bogor dan Medan, Padang serta Makassar berdiri cabang-cabang JIB. Pada akhir tahun 1925 JIB sudah mengadakan kongres pertama di Yogyakarta dipimpin Sam yang kemudian digantikan Wiwoho. Pengurus JIB tahun pertama antara lain; Sam (Samsurijal), Wiwoho, Kasman, Sudewo, H. Hasjim dan lain-lain.

Jong Islamieten Bond dan gerakan kebangsaan Indonesia

Ada yang menanyakan , bagaimana sikap JIB terhadap rasa kebangsaan yang pada masa itu sedang bangkit di kalangan pemuda terpelajar? Apakah JIB cukup memberikan bimbingan agar pemuda Islam tetap menjadi nasionalis yang nanti akan memimpin rakyat dan bangsa menuju kemerdekaan tanah air?

Islam adalah agama Internasional, dapatkah JIB memberikan pendidikan nasionalisme? Dikhawatirkan JIB akan kurang nasionalis sehingga berkurang cita-cita bangsa kearah kemerdekaan. Ada yang bertanya dengan iktikad baik dan ada pula yang mendiskreditkan JIB. Para anggota JIB sendiri merasa tidak kurang sedikitpun cintanya kepada tanah air malah Islam mengajarkan untuk berjuanag memberantas kebatilan dan menegakkan keadilan dengan segala pengorbanan. Berjuang untuk kemerdekaan bangsa termasuk dalam memberantas kebatilan dan menegakkan keadilan.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menghilang ketika kongres pemuda, dimana JIB sebagai salah satu peserta yang ikut. Meski berazas Islam JIB tidak dapat melepaskan pada tempatnya sebagai bagian dari Indonesia.

Majalah An-Nur

Het Licht (Majalah An-Nur) yang diterbitkan oleh Jong Islamieten Bond edisi 7-10 September – Desember 1933

Pada bulan Maret 1925 JIB berhasil menerbitkan pertama kali majalah An-Nur (Het Licht) meski tidak selalu lancar namun dapat bertahan hidup. Pada halama muka tercantum surat At-Taubat ayat 32 : “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulutnya, tapi Allah tidak mengizinkan kemauan mereka, melainkan lebih mencernerlangkan cahaya-Nya, walaupun orang kafir tidak menyukainya.”

Kursus-kursus agama oleh Jong Islamieten Bond

Haji Agus Salim pergerakan nasional Indonesia yang menjadi mentor bagi para anggota Jong Islamieten Bond

Selain menerbitkan majalah, serta tulisan-tulisan tentang Islam, cabang-cabang JIB mengadakan kursus agama dengan menggunakan bahasa Belanda yang menjadi ciri dan keharusan dalam gerakan pemuda. JIB beruntung memiliki Haji Agus Salim yang sejak berdiri JIB menjadi penasehat, ia seorang yang mahir bahasa Belanda dan ahli dalam agama Islam.

Kursus-kursus yang diberikan Haji Agus Salim itu ditujukan untuk menghilangkan kesalahpahaman tentang Islam. Mula-mula bersifat Apologetis (membela diri terhadap serangan-serangan dari luar), untuk menghindarkan para pemuda  dari perasaan rendah diri sebagai orang Islam, karena pemeluknya ketika itu diukur dalam dunia modern masih dalam kekurangan. Lambat-laun para pemuda terpelajar tidak malu-malu lagi menjadi orang Islam dan kepercayaan diri datang kembali.

Kesimpulan dan penilaian

JIB bergerak dibidang dakwah bagi anggotanya sendiri, para anggota bebas memilih partai politik menurut keinginan masing-masing. Dalam hal ini tujuan semula tetap dipegang teguh.

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada awal tahun 1942, semua organisasi, apapun bentuk dan coraknya dibubarkan. Hanya organisasi yang bekerjasama dengan Jepang yang dibolehkan hidup, JIB termasuk yang dibubarkan, serta tidak pernah didirikan kembali walaupun Indonesia telah merdeka.

Menteri Luar Negeri Agus Salim mendampingi Perdana Menteri Indonesia Sutan Sjahrir (tengah) di Sidang PBB

Meskipun begitu kelak para tokoh intelektual muslim Indonesia seperti M. Natsir, Mohammad Roem, Kasman Singgodimedjo, Jusuf Wibisono adalah hasil bentukan JIB. Mereka belajar kepada “The Grand Old Man of Indonesia” yaitu Haji Agus Salim. Kecuali kemampuan berbahasa Arab (yang hanya dimiliki M. Natsir) mereka telah mewarisi kehebatan sang guru berupa kejujuran, Intelektualisme Islam, percaya pada diri sendiri, kecakapan mengurus Negara, kesetiaan pada perjuangan, kesederhanaan dan rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan Negara.

Mungkin sebagai manusia mereka memiliki kekurangan, namun sejarah telah membuktikan bahwa hasil dari JIB telah melahirkan tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang terbukti tangguh pada zamannya. Demikianlah selayang pandang sejarah Jong Islamieten Bond.

Sejarah Indonesia:

  1. Bersatulah Bangsaku; 1 Agustus 2008;
  2. Berpikir Dan Bertindak; 3 Agustus 2008;
  3. Yang Muda Yang Berguna; 22 Agustus 2008;
  4. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  5. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  6. Generasi Yang Hilang; 17 April 2011;
  7. Sejarah Syahdu Sebuah Negeri; 16 Agustus 2011;
  8. Fatwa MUI Tentang Perayaan Natal Bersama Tahun 1981; 18 Desember 2014;
  9. Kesaksian Hatta Tentang Berubahnya Piagam Jakarta Menjadi Pancasila; 9 November 2016;
  10. Nasihat Sam Ratulangie Kepada Pemerintah Kolonial Belanda Terkait Serikat Islam; 16 November 2016;
  11. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  12. Samudera Pasai Sebagai Titik Tolak Islam Di Asia Tenggara, Sebuah Upaya Melawan Pseudo Sejarah; 24 April 2017;
  13. Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda (1889-1936); 14 Agustus 2017;
  14. Pemberontakan Kaum Republik Kasus Darul Islam Aceh; 17 November 2017;
  15. Korps Marsose Serdadu Pribumi Pelayan Ratu Belanda; 8 Desember 2017;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

MENGAJAR SEKALIGUS BELAJAR

Kemenkeu Mengajar Jilid 2 Tahun 2017 Kelas II A SDN 12 Banda Aceh

MENGAJAR SEKALIGUS BELAJAR

Ketika menyaksikan Bocah-bocah sekolah berbaris di depan gerbang, berteriak gembira mengekspresikan keriangan hati terdalam, kepolosan ekspresi bocah-bocah sungguh menggetarkan hati. Abu terbayang ketika sekolah dulu, ketika seusia mereka membayangkan masa-masa persekolahan.

Sekolah dalam bayangan Abu adalah sebuah ruang yang serupa, dimana dan kapan saja, sekolah seolah sama. Ia bertaut dengan ruangan kelas, bangku dan meja kayu, papan tulis. Tidak muluk, tidak kekal namun telah memberi arti pada perjalanan hidup anak manusia. Sekolah adalah sebuah dunia yang lain, yang tidak akan ditemui ketika selesai. Mungkin setelah seseorang menyelesaikan sekolah akan menghadapi medan tempur yang menyakitkan, atau mungkin sebuah surga dengan kebun-kebun menggoda ataukah biasa saja, datar dan mengalir.

Dalam rangka memperingati Hari Oeang ke-71 pada tanggal 30 oktober 2017, Kementerian Keuangan mengadakan Gerakan Kemenkeu Mengajar jilid II. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari senin (23/10) secara serentak diseluruh Indonesia, Salah satunya di SD Negeri 12 Banda Aceh.

Melalui gerakan ini, para relawan yang merupakan pegawai aktif Kemenkeu memperkenalkan peran Kemenkeu, berbagai profesi yang ada di dalamnya, dan bercerita tentang peran negara dalam mengelola perekonomian. Selain itu, dalam kegiatan ini, para relawan juga mengajarkan nilai-nilai dan semangat yang dimiliki oleh Kemenkeu di hadapan siswa-siswi SD Negeri 12 Banda Aceh.

Kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan kegiatan yang tidak menggunakan APBN karena dilaksanakan secara sukarela oleh pegawai kementerian keuangan dengan melibatkan relawan yang terdiri dari relawan pengajar dan dokumentasi .

Hari itu, Senin 23 Oktober 2017. Abu menjadi seorang relawan mengajar pada kegiatan Kementerian Keuangan Mengajar Jilid 2. Abu membayangkan sekolah bagai imaji diorama serupa dengan masa lalu, dengan segera Abu terkejut.

“Anak-anak apa yang menjadi cita-cita kalian?” Tanya Abu.

Youtuber!”

“Menjual hijab online!”

“Dokter Hewan!”

“Koki!”

Anak-anak SD Negeri 12 Banda Aceh mengisi pohon harapan yang berisi nama dan harapan (cita-cita) mereka di masa depan pada acara Kementerian Keuangan Mengajar Jilid 2 Tahun 2017

Tahun lalu, Abu mengajar juga pada Kementerian Keuangan Mengajar Jilid 1, dan ternyata betapa dalam hitungan bulan dunia sudah berubah. Jawaban polisi, guru semakin jarang dijumpai sedang pilot dan presiden sudah tidak ada lagi. Jawaban koki dan dokter hewan masih dapat Abu maklumi. Tapi Youtuber? Menjual hijab online?

Di depan kelas Abu terdiam sesaat, bingung. Kemudian Abu menyadari akan keterbatasan itu sebagai manusia Abu mengakui sifat baharu anak-anak ini. Abu tertawa, ketika menyadari bahwa mereka telah siap menjadi manusia zamannya, lebih taktis dan realistis.

Anak-anak itu tumbuh sangat cepat, mereka tumbuh besar setiap hari. Setiap menit dan setiap detik. Sebuah generasi sudah berlalu, dan tidak lama lagi giliran kami yang melihat mereka berpeluh ke ladang bakti bernama Indonesia, untuk melakukan tugas yang perlu mereka lakukan.

Abu memandang anak-anak tersebut, yang walaupun masih bersekolah dasar telah melampaui Abu, misalkan dari tinggi badan dengan wajah takjub.

Kemenkeu Mengajar Jilid 2 Tahun 2017 Kelas IV A SDN 12 Banda Aceh

Kemenkeu Mengajar Jilid 2 Tahun 2017 Kelas VI A SDN 12 Banda Aceh

Kemenkeu Mengajar Jilid 2 Tahun 2017 Kelas VI A SDN 12 Banda Aceh Foto Kedua

Anak-anak SD Negeri 12 Banda Aceh, ini mungkin akan jadi gembrot pada usia tujuh belas, tingginya mandek pada usia lima belas. Pemenang hari ini mungkin berubah pikiran, dan jadi peneliti LIPI. Anak yang diklaim paling jelek hari ini mungkin akan menjadi seorang model top pada usia dua puluh. Anak-anak berkembang menjadi dewasa dengan menyadari banyak hal. Dalam hati Abu berdoa,  jadilah dewasa dengan perlahan-lahan. Itu yang terbaik untuk saat ini.

Kegiatan Kementerian Keuangan Mengajar Jilid 2 ini bukan hanya sebatas mengajar kepada murid-murid sekolah dasar semata, akan tetapi juga belajar. Bahwa kita bertahan hidup dengan berlandaskan mimpi yang sama, senyum polos antara Abu (serta para relawan lain) dan anak-anak yang selalu bersama bagai cermin, mengajar sekaligus belajar. Ketika kami (dan kita) masih saling percaya, bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik di masa depan.

Maka ketika ada sindiran kepada kegiatan Kementerian Keuangan Jilid 2 ini, “Kegiatan ini hanya untuk memeberitahukan kepada anak-anak ini bahwa Negara Republik Indonesia telah mewariskan kepada mereka hutang sebesar 3.000 Trilyun Rupiah untuk kelak mereka bayar.” Abu memilih tidak menanggapinya dengan serius.

 

Ketika kita hidup di zaman yang berat sekalipun, kita tidak boleh menyerah atau saling menghancurkan karena putus asa. Dari sini, kita bisa merayakan apa yang mungkin tragis tapi indah. Ketika tujuan, juga hasil bisa tak relevan. Tapi bagaimana niat kita mengubah Indonesia menjadi tempat yang lebih baik bagi mereka, jika kita begitu pesimis menafsirkannya? Bukankah dengan berbuat, kita menyambut apa yang tak tentu tapi pada tiap detiknya memberi alasan, untuk menjadi hidup kita menjadi berarti.

XXX

Posted in Asal Usil, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase | Tagged , , , , , , , , | 3 Comments

MENGECOH SANG RAJA

Rajawali ; Raja yang terkecoh oleh si pembisik

MENGECOH SANG RAJA

Alkisah, Sang Rajawali terjaga dari tidurnya yang panjang untuk kemudian dikecoh oleh Cempala Kuneng1.

“Mengapa telat Ampon2 bangun? Tadi pagi ada meuesuraya3, berkumpul semua isi rimba.”

“Siapa yang buat kenduri itu? Kenapa kepada aku tiada berita?” Tanya sang Rajawali

Burung Cempala begini berkata, “Yang kenduri Tengku4 Klueung5 awalnya tiada rencana.”

Rajawali cemberut.

“Bagaimana baiknya saja Ampon Raja.” Sela Burung Cempala.

Rajawali marah kemudian terbang keluar masuk hutan mencari Klueung untuk menaikkan perkara. Sementara Rajawali terbang keluar mencari Tengku Klueung, Cempala Kuneng mengajarkan syair kepada burung-burung lain di miduen6 sebagai puja-puji bagi sang raja,

“Bulu kuduk berdiri, masak nasi kemudian kita makan bersama, semua karena Sang Raja. Siapa yang dizikirkan dalam hati? Siapa yang menopang bumi? Rajawali!”

Rajawali masih keluar masuk rimba mencari Klueung.

“Bulu kuduk berdiri, masak nasi kemudian kita makan bersama, semua karena Sang Raja. Siapa yang dizikirkan dalam hati? Siapa yang menopang bumi? Rajawali!”

Keluar masuk lagi dan, Rajawali kembali terbang keluar masuk rimba mencari Klueung, setiap melihat Rajawali mendekati miduen Cempala Kuneng kembali mengulang-ulang syair untuk diikuti para burung sebagai puja-puji bagi sang raja,

“Bulu kuduk berdiri, masak nasi kemudian kita makan bersama, semua karena Sang Raja. Siapa yang dizikirkan dalam hati? Siapa yang menopang bumi? Rajawali!”

Masih marah pada Klueung, Rajawali kemudian lagi-lagi terbang keluar masuk rimba mencari lawannya.

“Bulu kuduk berdiri, masak nasi kemudian kita makan bersama, semua karena Sang Raja. Siapa yang dizikirkan dalam hati? Siapa yang menopang bumi? Rajawali!”

Mendengar nyanyian syair para burung yang bersemangat. Rajawali terus terbang keluar masuk rimba mencari Klueung. Tak henti-henti, begitulah sepanjang masa, dan kampung para burung bebas dari sang raja.

Baca juga : Permufakatan Para Burung

Sejarah sering kali mencatat bahwa perubahan terjadi tindakan-tindakan dari sedikit orang-orang besar, padahal sebenarnya sejarah lebih ditentukan oleh detil-detil yang dilakukan oleh orang-orang kecil. Ada banyak yang tak terlihat, terabaikan serta terlupakan. Pembisik Sang Raja misalnya.

Catatan Kaki:

  1. Cempala Kuneng adalah Burung Kucica Ekor Kuning (Trichixos Pyrropygus);
  2. Ampon adalah gelar orang-orang terkemuka di Aceh pada masa dahulu, gelar orang terpandang yang sedang memerintah;
  3. Meuseuraya adalah sebuah kegiatan berkumpul bersama-sama;
  4. Tengku adalah gelar yang diberikan kepada orang yang memiliki pengetahuan di Aceh;
  5. Klueung adalah Burung Elang;
  6. Miduen adalah perkampungan.

Kisah dibuat berdasarkan lagu Apache 13 berjudul; “Rajawali”

Cerita pendek lainnya :

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Sang Katalis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 51 Comments

AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH

Hari Museum Indonesia

Hari Museum Indonesia di Aceh

AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH

Pada hari Museum Nasional Indonesia. Museum Aceh bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengadakan pameran temporer bertajuk “Aroma Memikat Dari Dapur Aceh” pada tanggal 12-18 Oktober 2017.

Dapur Tradisional Aceh

Dapur Tradisional Aceh

Berbagai jenis alat memasak tradisional ada di dapur Aceh. Pada ruangan ini juga para perempuan menghabiskan sebahagian waktu dengan berbagai kegiatan. Dapur, tak hanya tentang makanan yang tersaji, namun juga bercerita tentang proses kegiatan, mulai dari mencari bahan yang dimasak, pengolahan, semangat, kerjasama, keikhlasan, dan kebahagiaan telah menyajikan makanan untuk seluruh anggota keluarga dengan cara yang sederhana namun memberikan kesan kebersamaan yang mungkin tak akan berulang.

Berbagai Makanan Tradisional Aceh

Berbagai Jenis Rempah Khas Pada Dapur Aceh

  1. Kayu Manis (Kulet Maneh; Aceh) (Cinnamomum Zeylanicium; Latin) Memperkaya cita rasa pada makanan, sangat beraroma, manis dan pedas. Merupakan bahan campuran aroma kue dan minuman ringan. Selain itu berkhasiat sebagai bahan aroma terapi, supplement yang baik untuk kesehatan dan pewangi ruangan.
  2. Jintan (Jara Engkot; Aceh) (Trahyspermum Roxburghianum Syn; Latin) Rempah beraroma harum dan agak manis digunakan sebagai bumbu pada masakan daging, ikan dan unggas serta obat-obatan.
  3. Cabe Kering (Camplie Kleng; Aceh)
  4. Lada Hitam / Merica (Piper Nigruml; Latin) Rempah pemberi cita rasa pedas dan harum pada makanan. Manfaat lainnya dapat menghangatkan badan dan menghilangkan masuk angina. Lada Hitam beraoma lebih tajam dan bercita rasa lebih pedas. Lada dijuluki raja dapur karena dipakai di seluruh dapur dunia.
  5. Cengkeh (Bungong Lawang; Aceh) (Syzygium Aromaticum; Latin) Memberikan aroma kuat dan hangat pada makanan. Mengandung minyak esensial, berfungsi sebagai anestetik dan antimikrobiotik. Berkhasiat menyembuhkan alergi pada musim dingin, menyegarkan pernafasan, mengobati sakit gigi, sebagai bahan campuran aromatic pembuat kue dan bahan rokok kretek.
  6. Bunga Lawang (Bungong Lawang Kleeng; Aceh) (Star Anise; Latin)
  7. Kemiri (Boh Kiro; Aceh) (Aleurites Molluccana; Latin)
  8. Adas (Jara Maneh; Aceh) (Pimpinella Anisum; Latin)

Jalur Rempah

Jalur Rempah Sebuah Kisah Tentang Aroma

Cita rasa rempah-rempah telah melayarkan ribuan kapal, harganya bak mas permata. Aromanya mengundang pelaut-pelaut dunia untuk terjun dalam perburuan rempah ke pulau-pulau Nusantara beberapa abad silam. Bersaing untuk berlabuh pertama kali di tanah tujuan. Tak hanya sekedar penjelajahan, namun juga kisah yang suram, tentang penjajahan.

Kini, rasa yang tak pernah lekang oleh zaman tetap bertahan karena kebutuhan.

Simak reportase tengkuputeh melalui video berikut ini :

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Asal Usil, Data dan Fakta, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 122 Comments

EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

Peta Aceh Sumatera dan Semenajung Melayu Arsip Kekhalifahan Turki Usmani

EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH

Haruskah Aceh yang sejak tahun 1200 Masehi sudah menjadi pusat perdagangan dunia menjadi teronggok di sudut Nusantara. Zaman berganti, kota-kota yang dulunya adalah pusat peradaban tempat berkumpulnya segala bangsa, kini terlupakan, terkurung di dalam garis batas-batas baru yang tenggelam dalam warna-warni peta dunia.

Pedagang Utsmaniah berteriak ke galangan kapal, saat pedagang Aceh bergegas bolak-balik menyusuri pelabuhan, menjual barang mereka. Sejumlah kapal dagang dari Perusahaan Hindia Belanda duduk di dermaga, dipenuhi dengan rempah-rempah mahal dan eksotis untuk dibawa mengelilingi Eropa. Ini adalah Kesultanan Aceh, yang dulunya adalah salah satu kerajaan paling kuat di Asia Tenggara.

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

Ratusan tahun yang lalu, Nusantara belum menjadi satu negara tunggal, Indonesia masih belum berdiri, namun saat itu merupakan wilayah perang dari banyak kerajaan yang terpisah-pisah. Kekuatan kolonial besar Eropa melihat kerajaan-kerajaan ini sebagai sebuah kesempatan untuk memperluas kekayaan mereka yang terus meningkat, dan banyak di antara mereka menciptakan hubungan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan. Kesultanan Aceh terletak di posisi yang strategis, di ujung barat Indonesia. Banyak perdagangan di Asia Tenggara masa lampau melewati Aceh, dan pedagang menyebarkan budaya mereka ke Aceh lebih dulu. Kekaisaran Turki Ustmaniyah memiliki hubungan perdagangan dan pertahanan yang kuat dengan Aceh, dan menyebarkan ajaran Islam ke Aceh, yang akhirnya menyebar ke wilayah lain di Indonesia.

Aceh memiliki sejarah melawan pengaruh asing, dari memenangkan perang melawan Belanda, untuk melawan dan melawan pendudukan Jepang pada awal Perang Dunia Kedua. Pada tahun 1953, segera setelah Perang Dunia Kedua selesai dan pembentukan Indonesia merdeka yang bersatu, Aceh memberontak lagi dalam bentuk DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Presiden pertama Indonesia, Soekarno, telah berjanji pada orang Aceh bahwa dia akan menjadikan Aceh sebagai sebuah provinsi, sebagai daerah khusus yang akan menjalankan Syariat Islam. Dia kemudian mengabaikan janjinya dan mengabungkan Aceh serta beberapa daerah lainnya ke dalam satu provinsi, Sumatera Utara yang memicu pemberontakan selama 9 tahun (1953-1962).

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) diciptakan pada 4 Desember 1976 oleh Hasan Tiro ketika banyak perkebunan minyak dan gas Amerika mulai mengeksploitasi sumber daya alam di Aceh. Explorasi sumber daya alam ini dibuat dengan persetujuan pemerintah pusat Indonesia, yang orang Aceh rasakan tidak mewakili mereka. Mereka meminta infrastruktur baru di Aceh, dan Aceh merdeka. Pada tahun 1989 serangkaian insiden keamanan mendorong pemerintah Indonesia untuk mengirim pasukan ke wilayah Aceh, yang dikenal dengan Operasi Jaring Merah atau Daerah Operasi Militer (DOM) berhasil membuat aktivitas GAM mengecil dan membuat aktivis AM terpaksa melanjutkan perjuangannya ke luar negeri tapi di sisi lain mengakibatkan sejumlah besar pelanggaran hak asasi manusia di Aceh.

Ketika Orde Baru runtuh dan Presiden kedua Indonesia Suharto mengundurkan diri (1998) akibat reformasi di Indonesia, ketegangan di Aceh meningkat kembali. Pemerintah menanggapi meningkatnya keresahan masyarakat dengan mengirimkan ribuan tentara Indonesia. Peperangan dan revolusi telah menciptakan lingkungan yang sangat berbahaya bagi orang-orang di Aceh, dengan korban ribuan nyawa dan melukai puluhan ribu orang. Disisi lain selama masa perselisihan ini, perusahaan asing yang mencari sumber daya alam untuk dieksploitasi telah mengabaikan Aceh, karena pertempuran sengit. Ekosistem Leuser, yang sepenuhnya unik di Sumatera, secara tidak langsung terlindungi dari ancaman sumber daya asing karena konflik di Aceh.

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Konflik antara pemerintah Republik Indonesia dengan GAM terus berlangsung sehingga pemerintahan Megawati Soekarno Putri (Presiden keempat) menerapkan status Darurat Militer di Aceh pada tahun 2003, dan mengirimkan 12.000 pasukan ke Aceh. Pada tahun 2004, perang di Aceh masih hidup dan sehat, dan hal yang sama dapat dikatakan untuk hutannya. Meskipun ada sesuatu yang hebat di Samudra Hindia, sesuatu yang akan mengubah seluruh wilayah selamanya. Sebuah gempa 8,9 pada skala richter di tengah laut menciptakan gelombang tsunami yang menewaskan lebih dari 170.000 orang Aceh, dan menyebabkan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani sebuah kesepakatan damai dengan pemerintah Indonesia pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

Sekarang Aceh merupakan target utama eksploitasi, dengan perkiraan 500.000 orang kehilangan tempat tinggal dari gelombang pembukaan perkebunan sawit, perkebunan karet, pembukaan pabrik semen sampai penambangan emas dan penambangan batu bara, warga Aceh berada dalam kesulitan serius. Menjual tanah keluarga ke perusahaan perkebunan asing untuk bisa memperoleh uang agar anak-anak mereka bisa berkuliah di universitas, untuk membayar tempat tinggal, atau untuk melunasi hutang yang meningkat.

Tentu saja, akhir perang adalah hasil yang dinanti-nantikan bagi masyarakat di wilayah ini. Perang Aceh (1976-2005) telah menewaskan 15.000 jiwa, dan pada dasarnya menghentikan semua pembangunan ekonomi regional selama 30 tahun. Dengan sumbangan 7 miliar dolar untuk sumbangan yang dikumpulkan dari pemerintah Indonesia dan juga donor di seluruh dunia, Aceh saat ini sangat berbeda dari Aceh sebelum tahun 2005. Tsunami mungkin telah menghancurkan ratusan ribu nyawa, namun memberikan peluang untuk membangun Aceh baru. Sistem transportasi secara besar-besaran meningkat di seluruh wilayah, memungkinkan evakuasi yang lebih cepat dan aman dalam kasus bencana lain seperti ini.

Dengan peperangan selesai, dan provinsi ini berubah, wilayah Aceh mengalami pergerakan kerusakan hutan besar-besaran akibat eksploitasi. Ratusan orang menjual tanah keluarga mereka di hutan hujan dengan cepat membutuhkan uang, dan tsunami kedua datang, yang menebas dan membakar hutan. Tsunami baru yang tidak terlalu legal dan ekspansif serta merusak melanda ekosistem Leuser, dan lebih banyak penebangan hutan daripada sebelumnya. Yang dilakukan atas nama dalih investasi dilakukan oleh perusahaan nasional maupun internasional. Konflik di Aceh telah melindungi hutan, tapi sekarang dengan orang-orang terlalu lemah untuk melawan perang mereka ekonomi global, ekosistem Leuser menanggung beban hukuman yang dialami orang Aceh yang tangguh selama puluhan tahun.

Selamatkan Hutan, Selamatkan Alam

Eksploitasi alam besar-besaran tidak pernah menguntungkan bagi alam dan masyarakat sekitar, yang meraih untung besar adalah para pemodal besar serta aparat pemerintah yang memperoleh uang cepat. Pengundulan kawasan Cagar Alam di Kuala Tripa oleh perusahaan pertambangan batubara bukan hanya membuat penduduk tersingkir tapi juga memusnahkan kawasan harimau sumatera purba yang mencari makan kepiting turun dari hutan Leuser melalui hutan bakau ketepi pantai.

Sebagaimana eksploitasi gas di Arun, Aceh Utara yang tidak memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar sejak tahun 1970-an begitu pula rencana pembangunan pabrik semen di Laweung cenderung membawa kerusakan moral bagi masyarakat disekitarnya. Bukan rahasia di Aceh jika masyarakat di sekitar penambangan cenderung menjadi pengemis dan peminta-pinta yang kelak berkelana ke seluruh penjuru Aceh dengan membawa ayat-ayat suci Al-Quran, itu memalukan!

Apakah Aceh harus tidak ramah Investor? Jika pemimpin Aceh hari ini mau belajar sejarah sedikit saja. Maka seharusnya mereka memahami bahwa kemajuan Aceh di masa lalu adalah bukan dengan merusak alam, bukan dengan menjual sejengkal tanah demi perkebunan kelapa sawit misalnya. Tapi dengan memanfaatkan alam, lokasi geografis yang strategis untuk turut andil dalam perdagangan dunia.

Sejarah Aceh yang telah berlangsung lebih dari 800 tahun, kita dapat belajar bahwa sesungguhnya kedatangan bangsa-bangsa Asing ke sebuah wilayah adalah untuk mengeksploitasi daerah tersebut. Dahulu dengan misi Gold, Gospel dan Glory sedang sekarang lebih halus lagi dengan misi ekonomi. Masalahnya adalah sanggupkah kita melihat anak cucu menjadi babu di negeri sendiri? Jika yang menjadi suri tauladan bagi kita adalah para leluhur, maka pilihannya adalah LAWAN!!!

Aceh merupakan lorong buntu di Indonesia, posisi ujung Barat menempatkan Aceh jika ingin menjual sesuatu ke Jakarta mendapatkan keuntungan paling sedikit, dan apabila membeli mendapatkan harga dengan biaya tertinggi. Solusinya adalah membuka akses global, memberdayakan pelabuhan Sabang. Sayangnya tidak pernah ada upaya serius untuk itu, entah lupa atau menutup mata.

Jalur Sutera (laut dan Dararatan) sebagai alur perdagangan kuno antarbangsa

Haruskah Banda Aceh yang sejak tahun 1200 Masehi sudah menjadi pusat perdagangan dunia menjadi teronggok di sudut Nusantara. Bahwa Bandar Aceh Darussalam pernah menjadi sebuah kota “Kosmopolitan” baginya adalah tempat bercampurnya ras yang menghuni dunia, kita kini, mendengar kata “Kosmolitan” yang terbayang adalah Hongkong, New York, Singgapura, Tokyo, London, Paris, sama sekali bukan Samarkand, Bukhara, Damascus, Merv, Esfahan, Baghdad, atau Banda Aceh. Zaman berganti, kota-kota yang dulunya adalah pusat peradaban tempat berkumpulnya segala bangsa, kini terlupakan, terkurung di dalam garis batas-batas baru yang tenggelam dalam warna-warni peta dunia.

Wahai para pemimpin Aceh bangunlah! Sebuah kesadaran bahwa mereka mungkin terjerat dalam suatu bahaya yaitu sekedar hanyut dalam hidup, terlena dalam status ekonomi khusus dan tidak memberikan bekas-bekas gemilang dalam hamparan sejarah dunia.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  38. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  39. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  40. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 105 Comments

WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN

Meanwhile in Banda Aceh, Indonesia. A banner flutter: “Welcome Generation “Gold” Students should only learn CRITICS THAT IS PROHIBITED! pass quickly then immediately work #SaveStudent.”

WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN

Meanwhile in Banda Aceh, a banner flutter: “Welcome Generation “Gold” Students should only learn CRITICS THAT IS PROHIBITED! pass quickly then immediately work #SaveStudent.” The first question to read the banner is whether to find work today is easy? Seeking work is to do with the economy, and if the economy becomes the first choice we all justify Karl Marx’s thesis that Economic Factor is a major substructure. Economically everything, here we see quite a lot of similarities between Communism and Capitalism. Equally cruel.

But of course, the banner has good intentions, which we do not know for sure. It could be a satire of resistance or it could be directing a student into an efficient and effective machine. In order not to become a political robot that can be controlled by elements outside (or in) campus for economic and political interests. Economics is a weapon, while politics is the trigger. In college is a means of finding a diploma to then be used as a tool to find work, to then get married and have children. Science? Can be found anywhere, on the coffee table or association. Perhaps, there are concerns when students recognize that the name “political coffee”, “political gathering” or “political money” is not the essence of the economy as well? There is a project that is pursued, will first finish the new lecture chase material. It is not like that?

But robots that move effectively and efficiently do not really deserve to be called students. This means that if the students intend or can be directed to such a banner that happens is they are only labeled students but do not apply like a student.

When critical thinking becomes “forbidden” then throughout the history we have been through we have been people who have not learned anything. In every age, every imbalance in Indonesia then always appears balancing, ie Student or youth. Sumpah Pemuda 1928, Peristiwa Renggasdengklok 1945, Kesatuan Aksi Mahasiswa 1966, Malari 1974 until Reformasi 1998. Being a witness of the journey of a nation called the Republic of Indonesia. That was for now but for what is critical thinking of this age?

Economics

Since the beginning of 2000, the Indonesian government launched the State University of Legal Entity (PTH BH) indeed until 2016 there are only 11 PTH BH. But what happens is that in almost all universities there has been a massive tuition fee hike ever since. For example If in 2002 the cost of Unsyiah only Rp. 360.000, – then in 2016 can reach Rp. 5.000.000, – in the next semester with the growth of 1378.89%. So who wants to go to college for a long time with such expensive cost? How to think critically if parents in the village put great hopes on their sons and daughters to immediately complete the lecture. This has not been added to the rent, photocopy and all the trivialities that each year feels strangled.

Critically it needs mental, maybe the seniors say that students are not smart, dandy and mentally weak. But there is actually one additional cost. Most dangerous if any business interests “they” disturbed due to student’s critical attitude. Everything costs!

Global Competition

Indonesia should see that other countries (especially Malaysia) are getting the better quality of education. They are getting ahead in the global competition. Finally felt the need to adopt various systems from some established countries.

The campus now opens great opportunities for students to develop themselves, things like international classes and various scholarships are present. But it is only available to the chosen and capable people. TOEFL tests, courses, papers, journals are given to test the quality of student IQ. Of course, the students must be ready to keep up with the times. So there is no time to follow the examples of students of the past, the movement, the art, the nature lovers for what?

There are three things that make up the personality; genetics, learning, and intake. These three things are best utilized to complete the lectures. It’s up to be a pansy and not pro-struggle. It is up to not being progressive because it does not find the right process. Facing global competition (especially CPNS test) the most important is being able to answer CAT is not educated and experienced process. The system on campus has changed from time immemorial and the students are also different and the most important faced by students today is the fewer job vacancies. So for what is critical?

But Critical Thinking Is Necessary

When the restraint has occurred, when the right to argue has begun to try to eliminate, or when students begin to be considered “disturbing” their business. Then actually do not give up.

When things get more complicated and to the point of being unable to think again then that’s where you should think that the function of every schooling is to produce people with the ability to think rather than limited to robots who are only able to complete the task.

When collective idealism dies and only a few individuals survive what we should do? Every human being should teach themselves to think and critically with what they are learning, to be a happy human being with respect for others and self. We grow as human beings with all the problems in life, because there are many future possibilities that must be lived after college, and it is difficult to solve if unable to think critically. Humans are not machines that can only accept instructions alone. And if you think critically is forbidden is a truth then you have ceased to be a human being.

Translate From: Ketika Kritis Itu Haram

About Aceh:

  1. CUMBOK WAR, A SOCIAL REVOLUTION IN ACEH (1946-1947); 8 April 2017;
  2. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  3. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  4. VISITING THE EXHIBITION ACEH TOMBSTONE AS AN ISLAMIC CULTURAL HERITAGE IN SOUTH-EAST ASIA; 16 May 2017;
  5. DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910); 20 May 2017;
  6. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  7. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  8. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  9. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  10. GOLD, INFIDELS, AND DEATH; 10 July 2017;
  11. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  12. HOW TO TELL HISTORY; 14 August 2017;
  13. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  14. THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE; 28 September 2017;
  15. WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN; 14 October 2017;
  16. EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH; 5 November 2017;
  17. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  18. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  19. ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO; 25 February 2018;
Posted in International, Opinion, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 26 Comments

THE MEANING OF NOSTALGIA

The past never stands alone. If the past stands alone, it will never exist.

THE MEANING OF NOSTALGIA

The past never stands alone. If the past stands alone, it will never exist. We remember, and that actually links what we remember something that reappears in our heads with the heads that are present in our bodies today. That’s why people do not remember everything completely. The past is present again in the form that has been in the present day. Memory actually runs in a broken path. Forgetting is a mistake. Conversely, considering it is considered the right highway, that’s the right direction. I can not believe that there ever was a clear path. In the realm of consciousness, there is no right path. Remembering is interpreting the past, but surely we can not go to match our interpretation with the past itself. We can never move, even for a moment, out of time. Time is not a train that can stop occasionally and the machinist comes down to see what’s going on in the rear carriage.

On the other hand, remembering also means reading the past with future trends. Those who viewed the past with nostalgia, like some who now greet the memories and put on a big smile of the past. It is actually finding new reasons to express criticism to the present. In the criticism, it implied a passion for something in the future.

Therefore, nostalgia is not a longing for the past. Nostalgia just wants the future. Embracing life expectancy will be happier, and he may be mistaken. We live in what is called a “memory fan”. Anyone who unfolds the “memory fan” always finds new things, new sections, new readings. But if the “old” (recalled) ends up similar to the “new” one (which was then discovered), what actually happens is a kind of parallelism between memory and forgetfulness.

Especially forgot to have the desired role. Like nostalgia, forgetting can also be a protest against an unpleasant day.

There was a time when people saw the past as a fairy-tale relic, another time when people looked at the past as a barrier. Even the stone never stagnates and stands alone. As the pure past never existed, so does the present and the future. Humans cannot forget at all, Humans cannot remember completely, also humans cannot without secretly hoping.

Translate From: Nostagia

Posted in International, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments