Aku yang menghilang dari hadapanmu, seberapa lama aku mampu.
SANTIAGO SANG PELAUT
Percayalah bahwa dunia ini, dunia yang tak memberi tempat lagi kepada semua harum kembang pemenuh dahaga rohani adalah sebuah nihil yang indah. Ketika pelita padam, ada yang tak menjadi bekas. Sebuah cerita akan kembali, sebuah lakon dari masa terdahulu bisa hadir hari ini. Setiap adegan kehidupan adalah peristiwa yang hadir dari ketiadaan.
Bahwa melakukan apa yang harus dilakukan, maka tiada akan ada sebuah sesal. Sebuah tubuh bisa membuat getar, tapi juga gentar, seperti lautan. Bukanlah sebuah kesialan, ini berkah. Ada rindu yang menggebu, ketika tak lama bertemu. Maka lupakanlah, dan biarkan waktu memberikan kekuatan mengepakkan sayap-sayap kecilnya lagi.
Mungkin aku telah jauh, maka biarkanlah aku mengembara jauh menghapus luka dan siksa. Jangan sesali kenyataan ini, tak ada senyum palsu. Bahkan ketika seluruh dunia palsu. Sesal tak akan arti karena semua telah berganti. Mungkin salahku melewatkanmu, tak memperjuangkanmu, maka celalah aku. Namun, tiada sesal.
Karenalah aku itu, Santiago sang pelaut. Memaklumatkan menafikan segala gahar dunia, membuang jauh rasa benci dan iri pada dunia. Tiada ingin lagi terlibat dalam dunia, di mana yang luhur katanya diperjuangkan, ketika yang busuk tersebar. Karena aku, Santiago sang pelaut. Yang terbusuk dari yang paling busuk. Tanpa harapan dan juga rasa takut. Akan mengasingkan diri. Disana, tak ada tahun baru, waktu tak hadir, juga perbuatan. Bahwa disana, tafakur adalah bersyukur.
Ia yang meminta musuh menangis dan menghiba, jatuh ketika mengetahui sang terpercaya Brutus ikut serta. The 1798 painting The Assassination of Julius Caesar is by Vincenzo Camuccini
TRAGEDI KEMATIAN JULIUS CEASAR
Sering ia yang dicinta dengan terlalu, sering salah langkah. Sering ia yang dicinta dengan terlalu, tak paham akan kebusukan dunia sekeliling sehingga jatuh mempercayai orang yang salah. Maka, berhati-hatilah berjalan di dunia yang penuh onak dan darah.
Heil Ceasar!!!
Dan ketika ia menyeberangi sungai Rubicon, disebuah zaman yang gemilang, namun dipikul oleh orang-orang kerdil. Bahwa masa itu politik tak lagi mengesankan, penuh intrik dan kepentingan sesaat.
Ia melawan tradisi, membantah pertanda takdir. Dialah Julius, penakluk Gaul. Jagoan bangsa Roma, penakluk barbar. Maka ia, seorang Tiran yang dicinta sekaligus aib bagi segala musuh.
Shakespiere mengabadikan adegan itu, pembunuhan oleh orang-orang terhormat. Senat yang mulia. Dua puluh tiga tusukan, diakhiri oleh Brutus. Sang terpercaya, sejarah kerap menampikan ironi ketika yang terpercaya justru berkhianat. Bahkan sejarah butuh drama.
Dalam hidup yang tak selamanya putih, tak selamanya hitam. Julius dari Ceasar adalah seorang pemimpin yang tak terkalahkan dalam perang, yakin dan percaya akan kekuatan diri. 44 SM dibunuh di kourum senat.
Terkadang ia pemaaf, terkadang ia kejam. Zaman, itu adalah zaman pilih-pilih. Mungkin bagi mereka pencinta demokrasi, wajahnya adalah seorang Tiran. Mungkin bagi pencinta kejayaan, wajahnya adalah seorang bapak. Sebuah karakter multi-kompleks. Ia yang meminta musuh menangis dan menghiba, jatuh ketika mengetahui sang terpercaya Brutus ikut serta. Dimana tiada lagi harapan, ketika yang terpercaya “juga” berkhianat. Tak termaafkan.
Tragedi Julius. Adalah cerita tentang pengkhianatan. Bahwa siapapun ia, memiliki batas. Siapkah kita?
Lèvres rouges sourire
Comme une rose au milieu du silence
En attendant l’amour du voyageur passé
Bidonville et minable arraché
Regarde les yeux tristes
Bleu comme un arc-en-ciel
Répandez le charme du péché au crochet
Poignarder un désir passionné
Sous le clair de lune et les ombres
Un millier de rêves volent
Avec des pensées coquines qui fleurissent
Inviter un sourire significatif
Oedipus never understand the will of the gods. Acting alone, to face and cope with the temporal power. Commemorate the passion and death.
POETRY OF THEBES
Let the eye is not looking. I see the past because I see a future. Do not want to see again saw the victim fall again in the future. When life does not give the place again. Here, in Thebes, I stopped walking.
I am Oedipus, the accursed. And a city can be so surprising. In this Thebes. Oedipus never understand the will of the gods. Acting alone, to face and cope with the temporal power. Commemorate the passion and death.
And my daughter Antigone. Forgive your father’s Oedipus. That he was not a brave man, much less remarkable. Let yourself be dragged into the story of extreme suffering, and not your fault. For me, you are the brave hearts.
Then told the story to Homer, a father’s life story, later. Oedipus in power or not will always meet the limit. Excitement but also trepidation. My blessing for you, live bravely and died bravely.
I told you, O Homer, indeed of human life deserves its time, not always spectacular views. When a hero, record, insult throwing them choose. Because silence is better, and freely pursue truth is not supported forever.
But sorry is not a gift. Bitter, but ironic. Resignation, but also keeps the passion. That I felt the presence of Hades has been close, may they, who have I hurt forgave me. After that, let me burned in Tartarus. There is a sense of longing for the quiet, which are expected to attend it, holy.
Parodi adalah hal sehat bukan? Ia adalah suara sumbang dalam nada harmoni. Ia membiarkan dunia dilihatnya ditengah tanpa bingkai yang tegar, ia membiarkan dunia terlihat menari seakan-akan berbeda tiap kali. Tiada melihat sesuatu yang luar biasa dengan ketakjuban, melainkan hal sederhana, mengundang takjub. Penuh kebijaksanaan dan ternyata belum terlihat secara utuh menyeluruh.
Ketika seorang pelaut pulang, ia akan membawa banyak cerita. Ketika seorang sahabat lama membezuk, ia akan disambut gegap gempita. Ketika para bajingan bercengkrama maka mereka akan tertawa. Alkisah pulanglah Santiago sang pelaut. Berpakansi ke Bandar, menghadiri beberapa kenduri, sebelum kembali melaut.
Santiago adalah sejenis Titan, Dewa lama, dalam Assosiasi Budjang Lapok. Seseorang dengan kualitas brutal dengan gaya anggun, terlihat layaknya pandir, pemikiran pandita dilengkapi lidah berandalan. Dalam kedalaman kata, mungkin hanya Barbarossa yang disegani. Seumpama mereka Dewa yang tua. Dalam Olympus, Assosiasi Budjang Lapok Kota Bandar.
“Barbarossa! Ahli cuci tangan!”
“Laksamana Chen! Naga tidur!”
“Mister Big! Pencitraan!”
“Penyair, Sensitif dan Idealistik!”
“Professor Gahul! Serakah!”
“Amish Khan! Dangkal!”
Hanya dalam sengsara dan mengenal sengsara, kebesaran jiwa bukanlah kesombongan. Dalam sebuah lepau nasi yang tak jauh dari lepau nasi lainnya. Beberapa orang berkumpul, tertawa dan menertawakan nasib. Siapapun yang berada disini, tentunya memiliki masalah dan masalah itu menjadi sebuah tawa bukan cela ketika seorang sahabat lama menghantam kesana kemari, kadang dibantu yang lain. Kadang mengeroyok, kadang terpojok. Santigo adalah ahli membantai, mungkin karena ia banya mengalami pembantaian.
Maka satu persatu ABL bertumbangan dalam keriasauan. Tersirat makna dalam kata-kata Santiago, dengan budi bahasa yang halus. Bahwa apapun cerita mereka adalah subjek korban, yang mungkin menderita, tapi tabah. Karena tiada bersendiri.
Santiago membawa sebuah suara, suara yang menganggu perasaaan, seperti sembilu yang lentur, halus, tajam, khas pasar. Ia menjangkau khayalak, tanpa menjadi sumbang.
Lingkaran kebencian adalah api yang membakar diri sendiri dan orang lain
KETIKA IBLIS MEMBUNUH SEJARAH
Maka dengan mata nanar, tangan penuh darah ini aku membunuh sejarah, dengan tiada permohonan maaf. Maka telah kukunyah semua dalam amarah. Mata merah ini menyaksikan perjalanan zaman hingga muak akan segalanya. Dan tibalah saat untuk membunuh sejarah.
Maka rasakanlah tusukan tombak ini langsung ke ulu hatimu, duhai sejarah. Sejarah yang malang dan tanpa bersalah. Dan setiap pembalasan membutuhkan tumbal, maka merupakan aibmu yang terkoyak-koyak taringku. Sejarah aku akan hadir dalam pemakamanmu, sebagai tanda kebuasanku. Sebagai prasasti akan kegemilangan seorang durjana.
Sesungguhnya aku yang dikutuk dengan lantang, dipuja segala dengan malu-malu diseluruh belahan bumi, dikecam oleh segala kitab suci. Tiada hati ini akan peduli, hati ini berkitab suci yang lain. Lain daripada yang lain.
Dalam kematianmu sejarah, adalah sebuah pilihan mudah bagiku, duhai sejarah. Ketika aku memilih menjadi roh terkutuk yang berada disampingmu, ketimbang memasuki surga tanpamu.
“Sesungguh ketika raga terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri asing. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan para kaisar, menunggangi kuda dipadang stepa Mongol, membelah rimba raksasa Afrika, dan memandangi selat Bophorus, atau bercengkrama ditaman kota Sevilla”
Segala puji bagi-MU yang menciptakan rasa pahit. Rasa pahit pada tetumbuhan beracun, rasa pahit mencegah makhluk memamah segala racun terkejam. Pahit, begitupun obat-obatan yang menimbulkan tegang diwajah. Menghindari pahit bagai menampik kehidupan.
Pahit yang tak mesti selalu hitam, kadang ia hijau, merah, kuning maupun biru. Dalam banyak warna pahit menjelma. Dan sungguh pahit yang jernih menyegarkan. Meski kenangan membuat kita selalu mengingat bahwa pahit itu hitam, mungkin segelas kopi.
Bahwa sang pengecap mendapati pahit terbelakang, bagai rasa mengingatkan akan segalanya. Bahwa rasa pahit melindungi, bagai berbicara akan sesuatu ketidakmampuan tubuh mengasup racun.
Dan walau lidah yang merasakan, alangkah pahit sebuah sastra. Ketika ia berkata, bahwa yang terkuat adalah ia yang berdiri sendirian. Padahal ada yang menangis karena seseorang menangis. Maka wajiblah lidah memilah-milah, mana yang baik mana yang buruk.
Pahit itu pribadi, bila ia menghindari. Dan sungguh bila ia mengundang cemooh. Maka itu lebih baik dari pada dengki. Ia yang berbeda, dan tiada lagi keinginan memperjuangkan dunia, dimana bau busuk menyebar. Dan hanya membawa kedalam maka tersenyumlah dalam pahit, tunjukkan lidahmu karena sungguh ia tersembunyi. Mengucaplah terpujilah nama-MU yang menyembunyikan pahit di mata manusia.
Jangan takut tak memahami kawan, karena paham juga tak sempurna. Biarkan ia mengalir dalam cerita yang tersembuyi.
CELA SEMPURNA
Kawan, bahwasanya tak ada cela dan sempurna yang utuh menyeluruh. Cela dan sempurna tiada berkemampuan berdiri dengan sendirinya. Apa yang ada disekitar akan mempengaruhi, hidup adalah aksi dan reaksi kawan.
Jangan takut tak memahami kawan, karena paham juga tak sempurna. Biarkan ia mengalir dalam cerita yang tersembuyi. Bahwa hidup ini mampu menembus ketidakmurnian dan keruntuhan yang lain, ketika kita sanggup menyambut apa yang asyik, dengan cara yang bersahaja, tanpa dibebani apapun jua. Mungkin itu sebabnya manusia dibelakai kemampuan khayali, berimaji.
Kawan dan lawan bukanlah musuh dan kita manusia. Tiada usah selalu sungkan untuk tak senantiasa selalu bersungguh-sungguh. Walau kadang kesungguhan tak menjauhi yang asyik, nakal, tak terduga-duga, tapi tak serakah untuk diri sendiri.
Dan celalah dunia ini kawan, bahwa ini zaman yang besar yang dibopong oleh orang-orang kerdil. Dalam secangkir gelas kita tertawa dan saling menertawakan akan nasib kita. Bahwa disitulah sebuah dunia tak pernah hilang, dunia yang telah menjadi ilusi, dikemas diteriakkan sebagai sesuatu yang baru, justu tak diciptakan kembali.
Yakinlah kawan, terkadang sepi itu baik. Tapi terkadang ramai itu lebih baik. Bahwasanya tiada hanya seorang yang merasa tersuruk, bahwa dunia pernah lebih buruk. Lepaskanlah segala topeng dan kita menari bersama, mengacuhkan dunia. Membuang segalanya.
Apapun yang terjadi kawan, yakinkan bahwa segala tindakan yang telah terjadi adalah yang terbaik. Tiada penyesalan, dan katakanlah, “Tiada pernah aku menyesali apapun jua.” Dan sesunguhnya banyak liku dan lorong dalam masa lalu, terkadang manusia tak mau mengakui, bahwa ingatan tergantung dari kemarahan kita di suatu waktu. Maka lepaskan segala kemarahan dalam hening. Kemudian kembalilah dalam salam hangat. Agar tiada yang berkata, ada yang tersakiti berkali dalam satu hati karena kita pengecut.
Perang adalah sebuah tema lama, tentu. Variasi berbeda setiap zaman. Dan bila ia seperti selalu berulang mungkin karena manusia tak kunjung memahami sifatnya sendiri. Pada 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kohler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Kohler membawa 3.198 tentara, 168 para perwira.
Beberapa hari kemudian, perang berkecambuk di mana-mana, ada di Peukan Aceh, Lambhuk, Lampoh U, sampai Lambada, Krueng Aceh. Dipimpin Panglima Polim, Jenderal lapangan dan Sultan Mahmud Syah, Pemimpin komando tertinggi. Dengan dibantu oleh beberapa kelompok pasukan. Ketika bantuan beberapa ribu orang berdatangan dari Teunom, Pidie, Peusangan dan beberapa wilayah lain, merebut sisa puing Masjid Raya Baiturrahman yang telah dibakar Belanda menjadi tujuan marwah para muslimin.
14 April 1873
Ketika seolah sejarah berjalan di istana para raja, dengan kegagahan serdadu bersepatu mengkilap atau pejuang dekil dalam pertempuran satu lawan satu, maka sejarah membantah karena ia juga berjalan di wilayah yang lembab dan lindap, lubang dan sampah, reptil busuk dan rawa yang payau.
“Beta sesak kencing.”
“Lepaskan saja!”
“Beta sesak berak juga!”
“Lepaskan saja terus di celanamu. Ingat target kita adalah sang Naga!”
“Najis kau Durjana!”
“Sejak kapan kau taat aturan agama, Umar!”
“Sial!”
Berhari-hari sejak pertempuran bermula mereka berjalan atau mengendap-endap dari satu titik menuju sasaran. Mereka mengatur posisi dan memastikan terlindungi oleh kawan maupun lawan. Hingga akhirnya mendekati masjid Raya Baiturrahman dengan posisi terbaik. Membaca arah angin, merunduk dalam air payau, menjaga agar sumbu mesiu tetap kering.
“Kurang ajar kau Durjana! kau lepaskan hajatmu dalam air payau ini.”
“Cucu Raja, jangan cengeng. Kau mau masuk dalam hikayat tapi tak mau menanggung azab bagaimana itu ceritanya?”
“Baiklah beta lepaskan saja, makan itu.”
Di medan tempur adalah bagai aksi berburu yang paling terakhir. Orang saling memburu dan diburu. Untuk itu diperlukan kekuatan batin untuk menahan lapar dan haus. Terkadang harus membuang rasa jijik dengan membuang hajat dengan posisi tertidur, hanya target dan itu telah dikatakan oleh Durjana kepada Umar anak Meulaboh, sebelum terlibat dalam misi. Misi yang mereka ciptakan berdua, tanpa garis komando dari Panglima Polim. Pasukan partikelir yang belum menembak satu kali pun sejak pertempuran pecah. Merunduk dalam gelap, menahan dingin. Siaga setiap saat. Kadang-kadang bercanda.
Matahari sepengalah, ketika Jenderal Kohler melakukan inspeksi ke Masjid Raya Baiturahman. Kepala naga telah keluar dari bivak. Situasi lenggang ketika Kohler memutuskan istirahat.
“Dum” Suara keras berdentum dari balik reruntuhan masjid, tepat mengenai kepala Kohler. Ia terduduk, dibawah pohon Kulumpang. Seketika si penembak diberondong tembakan oleh tentara Belanda, diantara suara tembakan Belanda itu.
“Jantungnya Umar.”
“Baik”
“Dum!”
Suasana hening, penembak kepala Kohler diketemukan adalah seorang belia belasan tahun. Mayatnya disayat-sayat oleh pedang panjang serdadu Belanda. Sebuah mata nanar menatap kejam ke alang-alang di depan Masjid Raya Baiturrahman. Kejam dan dingin, Kolonel E.C Van Daalen. Hingga akhirnya ia berbalik dan menendang kepala pejuang Aceh yang diketemukan.
“Kita beruntung.” Di dalam alang-alang wajar Umar kehilangan darah, hitam memucat. Melihat wajah kematian teman dan lawan dalam satu adegan, terlalu ganas. Bahkan bagi jiwa membara sepertinya. Bahwa nyawanya juga dalam ancaman yang sebegitu dekat, wajah maut terlalu mengerikan.
“Kelak akan ada pertentangan tembakan mana yang mengakhiri target kita, Umar. Apakah kepala atau jantung yang mencabut nyawanya? Namun biarlah saudara kita yang syahid tadi menerima kesegala pujian akan keberanian dan kegigihannya.”
Lama, hingga suasana menjadi sepi. Belanda kembali ke Bivak membopong jenazah sang Panglima setelah membakar habis jasad pejuang tak bernama itu. Belanda yang dingin dan keji tak ingin meninggalkan jejak musuhnya dalam catatan sejarah.
“Saatnya kita berpisah Umar!”
Mereka berpisah mengikuti rute penyelamatan diri dan posisi mundur. Umar bergerak lebih dahulu, sedang Durjana mengaburkan jejak, dalam langkah dan sejarah. Baik kawan maupun lawan tak ada yang boleh mengetahui pergerakan mereka.
Cepat atau lambat, kabar terbunuhnya Panglima Tertinggi Ekspedisi Belanda terhadap Kesultanan Aceh tersiar, moral para pejuang naik, sedang Belanda kehilangan motivasi. Kecuali Van Daalen, ia menyimpan dendam yang amat sangat. Bersikeras melanjutkan perang hingga mendapati dirinya sendiri. Pelan tapi pasti kaum muslimin mengepung Belanda, hingga akhirnya mereka memutuskan mundur. Semakin tersuruk menuju pantai Ceuremen.
29 April 1873
Setelah menahan derita dan kerugian besar, dan setelah permintaan mundur dikabulkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Gontai dan kehilangan harga diri kapal itu meninggalkan perairan Aceh, disambut gegap gempita. Namun perang belum selesai, pembasmian dimulai. Segala Uleebalang dan anteknya yang dianggap bekerja sama dengan Belanda dipancung. Kepalanya dipertontonkan dipasar, dipaku pada tombak. Bahkan tanah ini masih menginginkan darah setelah kejayaan gemilang. Umar menikmati pertunjukkan, namun dalam hati ia masih menginginkan pertempuran.
“Durjana kau tidak ikut serta membantai pengkhianat?”
“Beta menangisi mereka yang dibantai, mereka yang sedarah dengan kita. Dalam perjuangan, sebuah tangisan ini adalah pengkhianatan. Adakah kau juga ingin membantaiku Umar?”
“Durjana yang dungu?” Umar tertawa. Tak mengherankan mengapa kekuatan tenung mampu menyihir nurani kita, ketika pembungkaman sesuatu yang berbeda dianggap hal yang hebat. Maka tiada sisa untuk sifat pemaaf, rasa kasih bahwa seorang manusia betapapun tak berartinya, ia bagian dari keluarga, ayah dari anaknya, abang dari adiknya, suami bagi istrinya atau kekasih bagi cintanya. Semua gelap, ditelan kebencian.
“Mungkin, kita memang memerlukan pengkhianat Umar! Bukti bahwa kita ini tidak murni. Bukti bahwa kita semua manusia.”
“Jika engkau berkhianat Durjana, maka akulah yang akan memenggalmu.” Umar masih tertawa. Keberhasilannya mengakhiri nyawa Kohler adalah rahasia mereka berdua, tentunya ia ingin semua orang tahu. Namun ia menikmatinya dari dalam batinnya, paling tidak saat ini. Hubungan antara dua anak manusia yang pernah bersama melewati saat hidup dan mati sangat istimewa. Pertama dan yang paling penting, keduanya saling menggantungkan diri untuk menyelamatkan diri. Bekerja di daerah tak bertuan di antara maupun di depan garis pertempuran. Tanpa dukungan dari siapapun, dan jika misi tidak tercapai, keselamatan satu bangsa menjadi taruhan.
“Bagaimana jika yang berkhianat itu kamu, Umar.”
Seperti ombak dipantai, yang selalu menghempas karang. Sejarah adalah pilihan yang selalu berulang. Akankah ia menghancurkan semua hambatan? Mungkin tidak. Adakah ia adalah harapan yang busuk? Pasti tidak.
Sejarah itu lebih banyak ditentukan oleh sebagian besar orang kecil dan sedikit oleh orang besar. Kebanyakan orang besar memiliki ide yang besar sehingga melupakan bahwa sesuatu hal yang sederhana mampu mengubah dunia.
Betapa indahnya apabila didunia yang tidak aman ini. Ada seorang pemuda yang hanya menatap keatas langit, dengan kaki menjejak bumi. Sayangnya itu bukan aku. Tubuhku sudah menua, sejujurnya aku merasa apakah diriku berada disini. Bertahun pengembaraan sebagai lanun, penuh petualangan. Dan disini setahun dikampung halaman mendapati diri tak berarti. Terlempar dari pusaran sejarah, terjebak rutinitas di pasar hingga pulang ke rumah ketika petang. Amboy malangnya nasibmu Tuan Durjana.
Selepas Isya, ketika sedang berbolak-balik dipembaringan. Aku mendengar suara kuda datang ke depan rumah. Tertangkap suara menambatkan kuda dibawah rumah panggung. Siapapun yang datang itu adalah seseorang yang amat bersemangat, tak menyembunyikan kedatangannya, ada aura ponggah disana.
Umar memburu naik, sedang aku menyalakan lampu minyak dan membuka pintu.
“Masuk! Ada kabar apa malam-malam kau kemari?”
“Beta punya kabar buruk, Belanda menyatakan perang dengan kita. Utusan damai telah gagal kini perang benar-benar di depan mata.”
Anak muda ini masih berumur belasan, cucu raja Meulaboh ini sangat serampangan. Berciri pahlawan dan ingin menjadi pahlawan, dan alangkah malangnya sebuah negeri yang membutuhkan pahlawan. Ia duduk dan melinting tembakau.
“Apa urusannya perang dengan beta?”
“Sudah lama beta menantikan perang. Kakekku Raja Meulaboh tak mengizinkan beta berperang karena Raja Teunom ikut serta mengirimkan pasukan untuk mempertahankan ibu kota. Meulaboh dan Teunom masih berperang, beliau takut beta dan Raja Teunom berselisih kembali.”
“Terus.”
“Beta butuh nasehatmu pelaut tua! Apakah beta harus bekerja sama dengan Belanda menggasak Raja Teunom terlebih dahulu untuk nanti melawan Belanda, atau Beta melanggar perintah kakenda?” Anak muda punya semangat dan kenaifan yang menggelikan.
“Anak muda” Aku menggelengkan kepala.
“Pertama, pelaut adalah masa laluku. Kedua beta hanyalah seorang penjahit tua dipasar. Ketiga, pikiranmu sependek sumbu mesiu.”
Umar anak Meulaboh mengetok lantai kayu, bagaimanapun ia adalah keturunan Raja besar wilayah Barat. Tak senang dibantah apalagi diacuhkan.
“Jadi apa yang harus beta lakukan? Beta tak bisa berdiam diri. Beta harus menonjol!”
“Tentunya kau harus melakukan sesuatu, sesuatu yang besar agar dirimu tercatat pada hikayat.” Sebenarnya aku ingin menyuruhnya pulang saja, berdiam di Meulaboh yang jauh dari Koetaradja ketika Belanda menyerbu. Namun ada sesuatu pada dirinya yang menarikku, pada perilaku yang mengingatkan aku pada masa laluku, bukankah kita selaku manusia berkecenderungan menyukai orang yang memiliki rupa kita dimasa muda.
“Kapan Belanda akan datang?”
“Kapal hitam Belanda kemungkinan sebulan lagi tiba.”
“Baik Umar, yang kamu harus lakukan adalah belilah bedil dari saudagar Portugis. Beli sebanyak mungkin pelor yang mungkin kau beli, berlatihlah menembak jarak jauh. Dan jangan sampai satu orang pun yang tahu. Ketika kau dengar kabar Belanda akan tiba benar-benar. Jumpai aku!”
“Itu saja yang harus beta lakukan? Untuk apa?”
“Jika kau menganggap beta sebagai orang yang kau minta pendapat, laksanakan tanpa membantah!”
“Untuk apa?”
Aku menarik nafas panjang. Anak ini, benar-benar keras kepala.
“Beta mempunyai satu putir peluru, pemberian penyihir Scotland. Dia mengatakan bahwa pelor ini akan mengubah jalannya sejarah. Yakinkan kau dengan perkataan beta?”
“Baik.”
Anak itu bergegas pergi, dengan gaya yang tergesa-gesa. Dapat dipastikan ia langsung menuju ke rumah saudagar Portugis saat ini juga. Aku pun hanya tersenyum. Malam semakin dingin, entah apa yang ada dipikiranku tadi. Mungkin ilusi, namun aku juga ingin terlibat dalam sejarah. Apa yang terjadi besok? Semacam rasa ketidakberdayaan di hadapan masa depan, juga semacam kesunyian. Tak berdaya dan sunyi, manusia, juga di Kesultanan Aceh, akan membutuhkan batasnya sendiri.