Setiap kata, setiap kalimat yang kalian baca ini adalah bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan. Telah diprediksikan pada akhir abad ini hampir semua bahasa daerah di Indonesia yang berjumlah 600 bahasa saat ini akan tidak lagi diucapkan oleh para penuturnya diakibatkan perkembangan bahasa Indonesia (nasional).
Membuat kita kembali kepada pertanyaan awal mengapa harus mempelajari bahasa daerah? Ada banyak alasan. Salah satunya, bahasa daerah adalah kunci untuk ikut serta dalam budaya orang-orang terdahulu atau yang masih bertutur, bahasa adalah nilai dari sebuah fakta yang merupakan kode yang hanya dipahami mereka yang berpikir dengan bahasa tersebut.
Alasan kedua, ketika seseorang mampu bertutur lebih dari satu bahasa maka orang tersebut akan cenderung terhindar dari penyakit demensia (pikun), dan membuat orang itu mampu mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam tindakan dan pikiran. Bilingual itu menyehatkan.
Alasan ketiga, bahasa memiliki banyak keasyikan padanya. Lebih daripada dari yang diceritakan orang-orang. Sebagai contoh kata “boh” dalam bahasa Aceh bisa bermakna: buah, buang, alat kelamin, meletakkan. Semua memiliki kesamaan huruf/kata. Bagaimana membedakannya? Dari pengucapannya dimana si penutur menggulungkan lidah sehingga menghasilkan bunyi yang mirip tapi tidak sama bagi si pendengar.
Bisa dikatakan tiap-tiap bahasa memiliki pengucapan yang berbeda-beda, tiap-tiap bahasa daerah memiliki keunikan masing-masing. Mempelajari bagaimana mengucapkan seperti mengemudi dengan berbagai jenis kenderaan atau sistem operasi. Bahasa adalah pola pikir, berganti bahasa juga sejenis menyesuaikan diri dengan pemahaman yang berbeda.
Tiap-tiap bahasa adalah keajaiban, bahasa menunjukkan bangsa. Hal-hal lucu dalam satu kebudayaan hanya bisa diceritakan oleh bahasa budaya tersebut. Mempelajari bahasa daerah akan sangat menyenangkan, menguasai bahasa baru tidak akan mengubah pikiran kita tapi pasti akan membuka pemahaman baru dalam pikiranmu.
Bahasa adalah jembatan awal menuju pemahaman kebudayaan.
Sepasukan patroli tentara Belanda dengan bantuan Panglima Laot yang menunjukkan jalan telah berhasil menangkap Cut Nyak Din. Foto bertahun 1905 itu tersimpan di KITLV, Leiden, Belanda. Foto itu diambil oleh komandan marsose, atau pasukan khusus Belanda, Letnan van Vuren.
RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN
“..Aceh hari ini, Tuanku, sudah terlalu beda rupanya sejak Tuanku meninggalkannya menghadap Rabbul Alamin. Andaikata Tuanku dapat bangkit kembali dan datang kemari, sungguh Tuanku tidak (akan) mengenalnya lagi. Kami, hari ini bukan lagi penguasa yang disebut-sebut dengan penuh penghormatan dan I’tiraf bil jamil (pengakuan atas keindahan budi). Kemi telah jatuh. Berkali jatuh, dan kini berada di dasar jurang yang dalam.
Terakhir kami bangkit untuk berdiri tegak namun kemudian kami jatuh pula lagi, dan kini tidak ada apa-apa lagi yang dapat kami banggakan dari kami. Kami telah mengubah negeri yang Tuanku pegang perintahnya di bawah petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Kami telah melupakan Tuanku. Kami juga tidak mencari jejak-jejak yang Tuanku dan para pendahulu Tuanku tinggalkan. Bagi kami itu sudah tidak penting lagi. Itu sekedar masa lalu…”
Petikan surat dari Sultan Mansyur Syah kepada Khalifah di Instanbul, Sultan Abdul Majid Khan berisikan Permohonan Bantuan Kesultanan Aceh kepada Khalifah Turki Ustmani untuk menyerang pusat pemerintahan Hindia Belanda Batavia di tahun 1848 Masehi. Naskah surat dipublikasi dalam tulisan: “Islam, Trade and Politics Across The Indian Ocean”.
XXX
Rimba antara Sungai Woyla dan Sungai Meulaboh, Agustus 1905.
Setiap teguk air, setiap gigitan makanan mestinya memperpanjang kehidupan namun ia pula membawa racun ke dalam tubuh, sama selayaknya setiap helaan nafas pada satu sisi menambah durasi hidup sekaligus mengurangi jatah usia. Ibarat rasa sakit yang teramat awalnya, pada akhirnya menyatu ke dalam raga sehingga semakin lama menjadi hal biasa, lupa bahwa rasa sakit itu adalah anasir asing yang masuk ke dalam badan.
Terperanjatlah aku melihat segala perubahan yang terjadi kepadanya. Seorang tua yang kurus kering, keriput kulit di seluruh tubuhnya, buta dan tak berdaya. Benarkah di depan aku ini adalah puteri Tuanku Nanta Setia, isteri dari Ibrahim Lamga, sesudah itu isteri Teuku Umar yang termasyur akan kecantikannya? Apakah orang tua bungkuk itu adalah sungguh-sungguh pahlawan betina Aceh yang diakui dahulu adalah sekuntum bunga yang molek di dunia wanita Aceh.
Enam tahun lamanya setelah Teuku Umar gugur dia melakukan gerilya melawan tentara Belanda, dari persembunyiannya jauh di dalam rimba wolya memimpin perang sabil mengusir kumpeni dari tanah Aceh. Segala daya dan upaya telah dilakukannya untuk menyusun peperangan besar-besaran di seluruh Aceh. Ia mengirimkan utusan ke segala tempat, buat mengumpulkan sekalian rekan yang pantang tunduk dan menambahkan kawan-kawan berjuang buat melawan Belanda. Sampai ke tanah Minangkabau ia mengirimkan orang buat meminta bantuan di padang sabilullah! Segala barang-barang berharga yang masih ada padanya dikeluarkannya untuk mengisi kas peperangan dan menyusun barisan-barisan pengempur. Segala emas dan intan pusaka yang masih ada dikorbankannya. Pastinya kehidupan Din sangat sengsara. Padanya tiada lagi apa-apa selain tekad berpantang tunduk, tidak ada sesuatu lagi yang menjadi miliknya.
“Saleum teuka Durjana! Senang bertemu kawan lama.” Bola hitam di matanya telah berubah manjadi abu-abu, penyakit ayahnya telah turun pula kepadanya, dia telah buta. Dalam kehidupan yang serba sengsara, kesehatan tubuhnya telah menurun, penyakit encok telah melemahkan tubuhnya.
Aku menangis.
Dia tertawa, “cengeng seperti perempuan. Aku dengar-dengar kau sudah menyerah bersama Polim menyusul Sultan sebagaimana para pemimpin dari daerah timur karena tak kuat lagi dikejar-kejar dan di kepung oleh pasukan Van Heutsz.” Dialah Din, sifatnya tidak perlu dijelaskan dengan narasi panjang, cukup hanya menyebut namanya saja Cut Nyak Din itu sudah menjelaskan segalanya.
“Din! Lihatlah beta ini! Apa lagi yang beta miliki di dunia yang fana ini? Semua telah dirampas oleh Belanda. Satu-satunya keinginanku saat ini hanyalah syahid.”
Din tertawa, “aku sudah buta jadi aku tidak akan bisa memandang wajahmu. Suaramu masih sama dengan dahulu, banyak kawan kita yang telah syahid pada akhirnya tinggal kita yang masih hidup. Andai kau piawai memimpin pasukan, maka akan kuserahkan pimpinan perang padamu. Dan lagi percaya penuh kepada manusia aku belum dapat! Aku hanya percaya penuh kepada Allah Subhana Wataala!”
Sedikitpun tidak ada tersinggung mendengarkan kata Din yang terakhir tadi. Aku cukup tahu diri bahwa dalam hal kepemimpinan Din adalah Jenderal terbaik yang dimiliki Aceh semasa perang dengan Belanda melebihi Panglima Polem, bahkan suaminya Teuku Umar sekalipun. Aku bergurau, berharap dia tertawa. “Sudah tentu aku tidak punya niatan menjadi saingan Allah Subhana Wataala.”
Tetapi persangkaan itu ternyata salah. Din tenang saja, “Kata-kata itu tidak pernah keluar dari seorang ulama, melainkan seorang satria. Aku harap kau bisa dipercaya, sekarang sangat sedikit orang yang mau berjuang.”
Di dalam rimba ini aku perhatikan hanya diperbuat beberapa buah dangau-dangau yang sederhana, hanya menahan hujan dan panas matahari saja. Pasukan Aceh yang menyertai Cut Nyak Din, pakaian mereka sudah sangat buruk, persenjataannya pun amat sederhana.
“Ketika aku kecil, ayah bercerita kita (Aceh) meminta bantuan Turki menyerang Batavia (1848 M), waktu itu aku merasa Aceh telah sebegitu lemahnya sampai harus minta bantuan. Tak pernah di sangka di kemudian hari Ketika aku muda belia perang belum terjadi kita mengirim lagi surat ke Turki (1873M) untuk memohon bantuan mempertahankan kemerdekaan, lagi-lagi aku merasa kita telah sangat lemah waktu itu. Turki pada akhirnya tidak menolong, malah kita membeli senjata dari musuh lama kita Portugis. Hari ini (1905) bisa kau lihat betapa lemahnya kita? Jikalah kafir itu berkuasa lama, dan aku telah mati nanti bisa kau bayangkan betapa lemah orang Aceh di masa depan? Seratus atau dua ratus tahun lagi masihkah ada orang mengaku orang Aceh?”
Di bawah pukulan palu godam Van Heutsz yang bertubi-tubi, Aceh tak dapat bergerak lagi, lemas, remuk tapi perempuan ini dalam hal mempertahankan pendirian tak kalah bahkan lebih unggul dari kaum laki-laki.
“Apa yang bisa beta bantu?”
“Di Tungkop, di daerah Woyla Hulu yang merupakan bagian federasi Kawai XVI, terletak di pusat pegunungan ada seorang perempuan yang namanya masyur di kalangan rakyat menjadi lawan bagi Belanda, namanya Pocut Baren. Kau jumpai dia antarkan sebuah surat kepadanya.”
Seorang perempuan muda keluar dari balik pohon, ia berseluar dan berbaju hitam. Ia menampakkan wajah gagah berani menatapku tajam seraya menyerahkan surat kepadaku.
“Gambang, andaikata terjadi apa-apa padaku paman ini adalah seseorang yang dapat kau percayai, ingatlah wajahnya. Dia adalah sahabat ayahmu, juga kawan baik dari kakekmu.” Perempuan itu ternyata Cut Gambang, puteri dari Teuku Umar, sikapnya yang gagah berani menjelaskan darah keturunannya.
Pocut Baren seorang Uleebalang (Raja Kecil) Tungkop. Merupakan bagian dari federasi Kawai XVI terletak di pedalaman Woyla hulu. Memimpin perjuangan melawan pemerintah Kolonial Belanda periode 1903-1910. Sumber : Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.
Telah muncul seorang pejuang perempuan lagi yaitu Pocut Baren, aku merasa Belanda telah di depan gerbang kemenangan pada perang panjang yang melelahkan ini. Ketika para lelaki telah meletakkan senjata dan perempuan yang memimpin perjuangan padahal mereka kaum perempuan adalah yang paling banyak menanggung penderitaan akibat perang ini.
Itulah para perempuan Aceh sejati! Ia menuju ke ranjang pengantin dengan api berahi yang panas melebihi bangsa-bangsa lain, dan dengan nafsu yang sedemikian hebat pula ia menuju medan perang. Ia tak gentar mengikuti suami dan pasukannya dalam pertempuran dan perjalanan mengarungi rimba raya dengan segala kekurangan dan bahaya intaian pasukan marsose Belanda. Ia menerima kandungannya dalam peperangan dan di situ melahirkannya, semua itu penuh ketengangan. Mereka berjuang bersama suaminya, di tangannya senjata mungil berupa kelewang atau rencong menjadi sangat dahsyat. Perempuan Aceh berjuang atas dasar “Sabilullah” menampik segala kompromi. Ia tidak akan mengkhianati wataknya sebagai wanita dan hanya mengenal alternatif membunuh atau dibunuh!
Ada perasaan tidak enak ketika harus meninggalkan tempat ini. Cut Nyak Din sudah sangat tua, buta dan timpang pula, hampir-hampir tak dapat melangkah. Kehidupannya sangat sengsara, tapi tidak ada sama sekali keinginan untuk tunduk.
XXX
Rimba antara Sungai Woyla dan Sungai Meulaboh, 6 November 1905.
Sepasukan patroli tentara Belanda dengan bantuan Panglima Laot yang menunjukkan jalan telah berhasil menangkap Cut Nyak Din. Khawatir dengan pengaruh Cut Nyak Din kepada masyarakat Aceh, Belanda memutuskan untuk membuang ke Pulau Jawa. Hukuman buang itu berarti menceraikan orang dari tanah airnya, bagi orang Aceh adalah sebuah hukuman yang seberat-beratnya.
XXX
Wahai orang-orang Aceh! Seandainya kita dapat sejenak memindahkan sukma kita ke dalam kalbu perempuan itu (Cut Nyak Din), di tempat pembuangannya di Sumedang. Betapapun indah tanah priangan yang permai dengan segala keindahannya, sungguhpun serupa. Tapi tanah yang dipijak bukanlah tanah Aceh! Bukan pegunungan Aceh! Udara sejuk yang dihirup sehari-hari bukan pula udara Aceh!
Nisan Cut Nyak Dien. “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.
Betapa sakit membayangkan sawah-sawah Lampadang, jalan setapak Lampisang yang bertaut di hatinya tapi tak didekatnya. Jauh melintasi puncak-puncak gunung sampai ke tepi langit. Bayangkan ketika kita menghidu sukmanya. Rumah dan halamannya telah hancur, Ibrahim Lamnga yang gugur di glee tarom, makam Teuku Umar di rimba raya. Tak ada harapan untuk berziarah kesana. Ia telah kehilangan segala-galanya yang dicintainya. Ia seorang pejuang yang tak pernah menyerah sampai detak jantungnya yang terakhir. Hanya ada satu orang yang mampu menahan derita seperti itu, dialah Cut Nyak Din. Karena itulah kita menghormatinya, kita mengenangnya.
Kenegerian Idi secara resmi adalah wilayah Aceh yang pertama “berkhianat” hal ini ditandai dengan naiknya bendera Belanda di benteng Idi pada 7 Mei 1873.
RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH DELAPAN
Menjelang akhir abad XIX, Perairan Selat Malaka.
Matahari turun pelan-pelan, semburat merahnya berganti kuning keemasan. Lalu kelabu menyusup dan gelap menjelajah.
“Matahari segera tenggelam segera pakai penutup kepala kalian!” Perintah nahkoda kepada seluruh awak dan penumpang. Melalui senja tanpa menutup kepala adalah sebuah pantangan bagi setiap orang Aceh yang berada di dalam kapal. Aku tidak tahu sejak kapan tradisi ini dimulai? Apakah sejak masa Sultan Iskandar Muda ataukah telah lebih awal ada. Sejak menjelang senja kapal yang kutumpangi diterpa gelombang keras dari sisi kanan dan kiri. Aku memandang sekeliling, orang-orang Aceh yang telah melaut sejak dahulu kala. Ketabahan mereka menghadapi ombak lautan pernah membuat kesultanan ini menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka. Sayang zaman itu sudah berlalu berpuluh tahun yang lalu, kupikir aku cukup beruntung melihat sisa-sisa kejayaan yang masih tampak.
“Tuan yakin turun di Kuala Idi?” Nahkoda bertanya kepadaku, kemudian melanjutkan. “Raja Idi telah berkhianat memihak kompeni sejak awal. Kesultanan Langkat, Deli, Serdang dan Asahan juga sudah takluk. Keadaan semakin sulit sejak pulau kampai jatuh.”
Aku menarik nafas panjang, misi sang nahkoda ke pulau pinang untuk membeli senjata dari para saudagar cina di sana juga belum tentu mulus. Pihak Belanda pasti meminta tolong Inggris yang menguasai Semenanjung Melayu untuk menghambat penambahan pasokan arsenal pasukan Aceh.
“Beta ditugaskan untuk membantu panglima Mudabbirusyarqiah1) oleh sultan sendiri.” Hatiku bergejolak ketika mengatakan itu, jika boleh memilih medan juang maka aku lebih memilih tetap berada di Aceh Besar tempat pertempuran sedang berlangsung gencar-gencarnya, tapi sultan justru mengirim aku kesini, medan laga yang tak aku kenali.
“Baik nanti di Kuala Idi akan ada sekoci mengantar. Menurut kabar Panglima Nyak Makam ada di pedalaman Peurelak saat ini.” Kata sang nahkoda.
“Terima kasih tuan.” Ucapku pelan. Suara angin di buritan, desir-desir ombak memenuhi semesta pikanku yang mengawang-awang.
XXX
Pedalaman Peurelak, seminggu kemudian.
Apalah artinya sebuah batas negeri? Tak lebih seperti sebuah garis di atas pasir. Setelah seminggu berada disini kudapati ternyata sebagian pasukan Aceh di pesisir Timur berasal dari Aceh Besar. Hanya perlu mendengarkan mereka mengatakan kata “breuh2)” saja kita sudah tahu. Orang-orang di Aceh Besar memiliki dialek yang agak berbeda dengan orang-orang Aceh lainya, terutama ketika mengucapkan huruf “r” dimana ketika diucapkan lidah digulung ke dalam, berbeda dengan ketentuan umum (berbahasa) di mana ketika huruf “r” diucapkan ujung lidah ditempelkan di langit mulut. Rasa mengenali ini membuat ketidaknyamananku berkurang sedikit.
Panglima Nyak Makam masih melakukan misi penyusupan ke wilayah Seuruway yang dikuasai Belanda dan belum juga kembali. Pimpinan pasukan di wilayah Peureulak sementara dipegang oleh wakilnya Nyak Mamad yang juga berasal dari wilayah Peureulak.
“Durjana nanti siang kita akan masak kuah beulangong3) Aceh Rayeuk (Besar). Makan yang banyak!” Kata Nyak Mamad tersenyum bahagia.
“Alamak kenduri rupanya Pang4), ada hajatan apa?” Tanya aku.
Nyak Mamad hanya tersenyum simpul. Dugaanku sepertinya Panglima Nyak Makam akan segera kembali.
Sejak pagi hari semua orang berkumpul menyiapkan masakan, ada yang merajang buah nangka, pisang dan bawang. Ada pula yang memotong daging sapi kecil-kecil dan yang paling penting adalah menyiapkan bumbu masak. Suasana riuh penuh dengan semangat.
Menjelang siang dari arah sungai muncul belasan perahu, para penghuni markas bersorak menyambut sementara dari arah perahu terlihat wajah yang sangat tegang. Suasana menjadi keruh seperti aliran sungai menuju kuala.
Berpakaian kuning seperti menantang sinar matahari pimpinan pasukan turun dari perahu dengan penuh kharisma, Nyak Mamad selaku wakil panglima menyambut. Dari jauh aku melihat panglima berbisik dan ketengangan menyebar. Apakah Belanda sudah mengetahui lokasi markas ini? Aku hanya menduga-duga.
Kabar pun menyebar, Jenderal Mata Satu (Karel van der Heijden) telah menerobos pedalaman Aceh Besar sampai dengan 30 kilometer yang belum pernah dicapai Jenderal Belanda manapun sampai tahun 1879, sebanyak 500 kampung telah dibumihanguskan, pohon-pohon ditebang, sawah ladang dibakar. Hatiku berdegup kencang bagaimana kabar anak istriku disana? Aku merasa was-was dan menenangkan diri berharap keluargaku melarikan diri ke pegunungan, istriku pasti selamat.
Persiapan Pasukan dalam rangka Operasi Militer Belanda di Aceh
Selepas Isya aku dipanggil ke tenda panglima, ketika aku datang dia sedang membaca surat pengantar yang dibuat oleh Tuanku Hasyim Banta Muda. Dia menatapku dengan tajam seolah-olah kami tidak pernah bertemu sebelumnya, memandang dari ujung kaki ke ujung rambut. Aku lihat pasukan rungkhom5) berjaga.
Sambil menarik asap tembakau dari pipanya Nyak Makam bertanya, “sudah berapa lama kamu ada di pesisir timur?”
“Sebulan kurang dua hari.” Aku tersenyum.
Sketsa Wajah Panglima Teuku Nyak Makam
Kemudian dia menyerahkan pipa tembakaunya untuk aku hisap. Kode etik dalam pertempuran (pasukan Aceh) ketika kau diberikan air atau tembakau artinya kau telah dijamin dalam perlindungan dari yang memberikan. Aku mengambil pipa tembakau dan menarik asapnya kuat-kuat.
“Jenderal mata satu menyerang kampungmu sekitar dua minggu lalu.” Sambungnya. ternyata desas-desus tadi siang benar. Dia menatap mataku dalam-dalam.
“Telah jatuh banyak korban, ketika pasukan Belanda telah pergi. Orang-orang yang kembali ke kampung dan melihat jumlah korban. Ternyata ada banyak penduduk yang dibantai, perempuan dan anak-anak.” Perasaanku menjadi tidak enak.
“Aku mendapat kabar langsung dari orang terpercaya, bahwa istrimu telah tewas dengan memegang tombak di tangan kanannya, serta anakmu di tangan kirinya.” Suasana menjadi hening. Suara jangkrik yang sedari tadi berbunyi hilang.
Rasa-rasanya ini tidak mungkin, istriku adalah petarung yang tangguh. Aku tidak dapat berpikir sama sekali. Aku mundur perlahan-lahan, seluruh mata diruangan menatap aku, keluar dari tenda panglima rasanya ketika aku berjalan di atas tanah, dan secara tak sadar kakiku tak lagi kukuh, bergetar kencang serasa hampir jatuh. Aku bersandar di pohon kelapa, menghidu bau perdu dan pohon-pohon di sekelilingku. Aku memandangi langit yang dipenuhi bintang, dan di mataku bintang nun jauh berubah menjadi lambang-lambang samidin. Aku merasa telah direnggutkan dari bumi ini, terbang melayang jauh. Sebuah rongga yang melompong muncul di dadaku, kesitulah seluruh rasa amarah dan rasa sakitku mengalir masuk. Aku menangis.
Hendrikus “Hendrik” Colijn (1869-1944) menjabat Perdana Menteri Kerajaan Belanda selama 2 periode; 4 Agustus 1925 sampai 8 Maret 1926 dan 26 Mei 1933 sampai 10 Agustus 1939 dari Anti Revolutionary Party (ARP) sekarang menjadi Christian Democratic Appeal (CDA) terlibat Perang Aceh sebagai Letnan Dua.
“Aku melihat seorang ibu yang menggendong anaknya yang berusia sekitar 6 bulan di tangan kirinya, dan membawa tombak panjang di tangan kanannya, berlari ke arah kami. Salah satu peluru kami menewaskan si ibu maupun anaknya. Sejak itu, kami berhenti menunjukkan belas kasihan. Aku mengumpulkan sebuah kelompok yang terdiri atas 9 orang wanita dan 3 anak yang meminta ampun dan mereka semua di tembak. Ini bukan pekerjaan yang menyenangkan, tetapi mustahil melakukan hal lainnya. Para prajurit kami menusuki mereka dengan bayonetnya, ini mengerikan. Aku akan berhenti melapor sekarang.”
Istri Colijn menulis di pinggir surat itu: “Betapa mengerikannya!”
Kebiasaan banyak orang Aceh bertempur sampai mati membuat pasukan Belanda beranggapan bahwa: “orang Aceh yang baik adalah orang Aceh yang mati.” Belanda tidak segan memusnahkan kampung yang dianggap bermusuhan. Sawah, ternak berserta seluruh penduduknya.
XXX
Berhari-hari kemudian semangatku belum juga tumbuh, aku menghabiskan waktu dengan merenung. Terbersit dalam pikiranku untuk mendatangi tangsi pasukan Belanda terdekat dan melemparkan diri dalam peluru-peluru mereka. Jika aku mati maka aku akan berusaha menghabisi sekurang-kurangnya sepuluh orang pasukan mereka. Apakah itu sebuah kegilaan yang telah merasuki pikiranku?
Apakah ada hak menyerang bangsa lain? Sebelum Belanda datang kami hidup aman sentosa. Tiba-tiba Belanda mengerahkan serdadu-serdadu mereka untuk merampas harta benda kami, membakar sawah-sawah dan membunuh ternak-ternak kami. Apa hak mereka? Mengepung kami dengan ketidakadilan, dengan bedil, meriam serta kapal besi mereka? Aku membenci Belanda namun bersamaan dengan itu, aku juga membenci diriku, karena aku tak bisa berbuat apa-apa.
Mudabbirusyarqiah1): Panglima penegak kedaulatan Aceh di pesisir Timur sekaligus panglima mandala Kerajaan Aceh di Sumatera Timur, gelar resmi Teuku Nyak Makam;
breuh2: Beras (Bahasa Aceh);
kuah beulangong3): Kuah Belanga (Bahasa Aceh); Merupakan bumbu kari daging sapi (terkadang kambing) khas Aceh Besar terkenal dengan kelezatannya, bahkan pasukan marsose dan Belanda kerap menyerang kampung yang sedang kenduri masakan ini untuk merampoknya untuk dimakan;
Pang4): Panglima;
Rungkhom5): Sergap (Bahasa Aceh); Pasukan gerak cepat untuk melumpuhkan;
Kita hidup di satu dunia yang sama, tapi pernahkah terpikir persepsi kita terhadap dunia ini dengan semua orang kadang kala memiliki perbedaan.
SATU DUNIA BERBAGAI DIMENSI
Menurut ilmu matematika dunia yang kita kenal memiliki tiga dimensi ruang yaitu: Panjang, lebar dan tinggi. Bila ditambahkan dengan dimensi waktu akan muncul dimensi keempat yaitu waktu kosong. Kita semua pasti memiliki kenangan indah masa kecil, itu adalah pengalaman yang menyenangkan. Apakah mengenangnya adalah merupakan kesia-siaan? Seharusnya tidak karena dalam tiap detiknya perjalanan hidup adalah pelajaran.
XXX
Ayah Abu adalah anak dari seorang ulama di Aceh Besar, kakek mendidik ayah dengan cukup keras sehingga beliau memiliki pemahaman ilmu fiqh (hukum islam) yang baik. Meski (pada) akhirnya ayah tidak memilih mengikuti jejak kakek untuk menjadi seorang ulama dan menjadi seorang PNS, ayah tidak menyukai musik, filem dan bacaan-bacaan populer (fiksi). Ayah hanya menonton berita atau membaca buku-buku agama saja. Bisa dibilang beliau tidak menyukai berbagai jenis hiburan. Segala sesuatu memiliki pengecualian, ayah Abu menyukai humor-humor sufi dan hal-hal yang membuat tertawa bersama dengan agama.
Dinding Madrasah yang telah kehilangan bintang
Sebelum Abu diserahkan untuk mengaji ke tengku meunasah (guru mengaji Al-quran), ayah menjadi guru mengaji pertama Abu sampai berusia 9 tahun (sekitar tahun 1993). Biasanya sebelum mengaji bersama ayah dimulai kami shalat Maghrib berjamaah dahulu di rumah bersama ibu dan 3 orang adik Abu. Kerap kali setelah selesai shalat Maghrib dan setelah membaca doa tiba-tiba ayah kentut dengan suara menggelegar, biasanya ibu Abu menimpali dengan mengatakan ayah “menduduki” kodok, lalu beramai-ramai kami sekeluarga tertawa. Kentut adalah sesuatu hal yang membatalkan wudhu, jika kentut selesai shalat maka ibarat selamat pas ketika waktunya.
Kejadian tersebut adalah momen yang sangat lucu bagi kami sekeluarga, sewaktu Abu sudah mengaji dengan tengku meunasah pun kejadian dan kelucuan itu masih terbayang-bayang di kepala Abu. Suatu hari Abu ditunjuk oleh tengku meunasah untuk menjadi imam shalat Isya di tempat pengajian, tengku meunasah memantau sebagai supervisor. Dengan tenang Abu mengimami shalat Isya murid-murid lainnya. Selesai shalat dan membaca doa, Abu merasa perut berangin, berpikir ini adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan humor ala keluarga ke tempat pengajian, maka Abu lepaskan kentut sekencang-kencangnya. Suara menggelegar dan dari shaf pertama Abu menunggu suara tawa teman-teman, tapi tidak ada suara hanya hening. Abu membalikkan wajah ternyata tengku meunasah sudah berdiri berkacak pinggang di belakang. “Abu berdiri kamu!” Perintahnya.
Abu berdiri sambil senyum-senyum, kemudian bertanya. “Ada lucu tengku?”
“Lucu jidatmu!” Plaak sebuah tamparan mendarat di pipi. Abu terkejut tak menyangka tengku meunasah seserius itu, kemudian terdiam dan tak membantah ketika beliau menceramahi Abu tentang adab.
Pulang Abu bercerita langsung kepada ayah, beliau tertawa terbahak-bahak sampai batuk-batuk di bangku kesayangannya. Ayah mematikan rokok Dji Sam Soe di asbak lalu beliau bilang. “Ayah juga salah karena lupa bilang pada kamu, dunia ini boleh satu tapi cara memandangnya bagi tiap-tiap orang berbeda-beda. Sesuatu yang kita anggap lucu bisa dianggap oleh orang lain menghina. Lain kali pelajari lingkungan dan lihat-lihat ketika bercanda.”
Kalau diingat-ingat lagi sekarang, sebenarnya kisah mencerminkan hidup Abu, kerap kali di kemudian hari mengulang kesalahan yang sama. Seorang teman Abu bergurau dan berkata, “penyebab ayah Abu tidak mau menjadi seorang ulama adalah karena memiliki anak seperti kamu, senantiasa berbuat salah dan sering tak sadar ketika berbuat salah.”
XXX
Berbanding terbalik dengan sifat ayah, ibu memiliki sifat mencintai seni yang luar biasa serta gemar menonton segala jenis pertunjukan. Selain pembawaan yang senantiasa ceria, ibu menyukai cerita fiksi, film dan memiliki suara yang sangat bagus ketika bernyanyi, sayangnya kemampuan musikalitas itu adalah hal yang sama sekali tidak turun ke diri Abu. Perbedaan pola pandang antara ayah dan ibu Abu ini, bisa jadi dikarenakan perbedaan latar belakang keluarga. Ibu Abu berasal dari keluarga petani, yang terpaksa bertani karena kedatangan Belanda. Sebelum Belanda berkuasa menurut cerita kakek Abu dari sebelah ibu dulunya mereka adalah bajak laut (Bahasa mereka ke Abu adalah saudagar) yang merompak negeri dan kapal-kapal kafir di sepanjang pantai Barat Aceh sampai ke Selatan wilayah Aceh. Mereka memiliki selera humor yang tinggi, suka tertawa dan imajinatif, cenderung tidak menganggap segala sesuatu serius, keras kepala dan sifat terbaik adalah selalu ingin tahu tentang berbagai hal terutama yang di luar dirinya.
Ketika Abu masih kecil sangat dekat dengan Nekmi (Nenek Abu dari sebelah ibu). Beliau sering mengajak Abu menemani belanja ke pasar, selain dibelikan lupis kadang-kadang dengan sisa-sisa uang belanja Abu juga dibelikan berbagai majalah bekas seperti bobo dan buku-buku bekas. Sebelum Abu bisa membaca Nekmi biasanya membacakan buku-buku tersebut sebelum tidur oleh beliau. Kadang-kadang Abu merasa curiga ketika cerita tiba-tiba meloncat, sebenarnya Nekmi sudah mengantuk dan ingin tidur sementara hasrat mendengar Abu masih menyala-nyala. Atas dasar itu dengan penuh tekad Abu berusaha untuk belajar membaca sesegera mungkin. Pada tahun 1989 sewaktu Abu bersekolah di Taman Kanak-Kanak sudah bisa membaca, cukup cepat untuk orang-orang yang hidup di masa itu.
Setiap jagoan perlu ironi. Tiap kali seorang tokoh ditampilkan demikian perkasa, penting untuk ambil jarak. Jarak untuk berpikir lagi, dengan sedikit lelucon. Jarak untuk lebih arif. Ironi membuka pintu ke kearifan itu. Ironi
Sebagai kanak-kanak entah mengapa Abu sangat menyukai kisah Mahabharata. Di antara semua Pandawa Abu menyukai Yudhistira, seorang ksatria yang ganjil, menganggap diri pendosa. Ia juga sangat naif sehingga dijebak oleh Sengkuni di meja judi sehingga kehilangan segalanya, ia dengan bodohnya mempertaruhkan tahta, harta, saudara bahkan istrinya. Kelak dia akan menyadari bahwa jalan kekuasaan dan dharma akan selalu bertentangan. Setelah dipenuhi luka dan kesalahan dia sadar bahwa harus memilih, dimana setiap pilihan akan membuka pilihan berikut, dan dia tak pernag berlari dari pilihan tersebut, lagi.
“Nek, Yudhistira itu siapanya Nabi Muhammad?” Tanya Abu kepada Nekmi.
Nekmi terkejut, dia tidak pernah membaca epos Mahabharata. Apa hubungannya dengan Nabi Muhammad? Tapi Nenek Abu adalah seseorang dengan segala kemungkinannya tidak segera mematikan hasrat ingin tahu Abu. Malah bertanya kembali, “siapa Yudhistira itu? Mungkin nenek belum kenal tapi mungkin nenek bisa mencari hubungannya dengan Nabi Muhammad.”
“Yudhistira itu adalah orang bijak yang hidup di masa lampau, mungkin jauh sebelum Nabi Muhammad.” Kemudian Abu mencoba menjelaskan riwayat hidup Yudhistira kepada Nekmi semampu Abu.
Nekmi tersenyum mendengarkan cerita Abu, kemudian dia menjawab. “Nenek baru pertama kali mendengar kisah ini, sebenarnya nenek tidak tahu hubungan dia dengan Nabi Muhammad. Ilmu nenek tidak sampai kesitu.”
Abu merengut. “Apakah ini hanya cerita khalayan nek?”
Nekmi memasang wajah serius. “Setiap legenda biasanya ada nilai kebenarannya Abu. Apalagi jika seperti Abu bilang cerita ini hidup di banyak Negara. Mengingat dia hidup jauh sebelum Nabi Muhammad, bisa jadi dia adalah seorang Nabi yang diturunkan Allah kepada suatu kaum dahulu kala. Jangan lupa sebelum Nabi Muhammad ada 125.000 orang Nabi yang pernah diutus Allah di bumi.”
Abu tersenyum, menemukan hubungan antara Mahabharata dengan Nabi Muhammad. Tidak akan ada orang seberuntung Abu memiliki seorang nenek yang penuh imajinasi ketika menjelaskan sesuatu. Kemampuan menyusun uraian dan imajinasi ternyata berpengaruh kepada kehidupan Abu nantinya, Abu lebih terampil dalam ujian berbentuk essay dan wawancara, tapi cenderung mati kutu ketika menghadapi ujian pilihan berganda (choise) di mana Abu kesulitan menentukan satu jawaban paling tepat dan menyalahkan pilihan yang lain.
XXX
Kita hidup di satu dunia yang sama, tapi pernahkah terpikir persepsi kita terhadap dunia ini dengan semua orang kadang kala memiliki perbedaan.
Pada suatu malam di hari pertama Abu bertugas di Langsa untuk mengenali kota Abu berputar-putar dengan mengendarai Shogun 125 masuk ke dalam lorong-lorong pasar. Abu memasuki ke dalam-dalam sampai masuk ke dalam sebuah gang di mana ada beberapa penjual jeruk. Anehnya kesemua jeruk yang dijual di gang itu terlihat tidak begitu baik kualitasnya, di situ Abu heran bagaimana bisa mereka menjual jeruk dengan sebegitu buruknya, di gang yang jauh dalam pelosok pasar beramai-ramai tapi percaya akan ada pelanggan yang membelinya. Tiba-tiba Abu teringat untuk membeli sedikit untuk konsumsi di kosan dan membelinya. Dalam perjalanan pulang Abu tersadar bahwa rezeki Allah lebih luas daripada dugaan manusia.
Manusia perlu diuji dengan berbagai kehilangan. Untuk menyadari bahwa hal yang terasa biasa saat dia sisi kita namun sangat berarti jika ia tak lagi dalam jangkauan.
Mungkin kita bisa jadi salah karena mengkaitkan sebab dengan akibat. Segala sesuatu sebab akan menimbulkan akibat, padahal mungkin tidak. Allah mungkin sering mengkaitkan sebab dengan akibat, tapi rezeki-Nya bisa melebihi itu semua tanpa perlu hukum sebab akibat.
Mungkin sebenarnya banyaknya buku yang dibaca, atau tingginya tingkat pendidikan, atau jauh dan banyaknya negeri yang dikunjungi tidak akan membuat kita menjadi pribadi yang bijak jika memiliki hati yang busuk. Lamat-lamat kenangan Abu ke masa kecil melintas kembali, mengingat sayup-sayup Nekmi mengaji.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Surat Al-Alaq ayat 1-5).
Abu terhenyak teringat hadist riwayat Bukhari dan Muslim. “Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (hati).”
Pikiran atau dimensi cara pandang seseorang ditentukan oleh hatinya. Orang tua ataupun guru dan siapapun hanya bisa mengajarkan, tapi kita yang memilih menjadi apa dan siapa. Itulah mengapa ada orang yang berpikir dunia adalah tentang dirinya saja, dan kebenaran hanyalah monopolinya saja, tanpa mau tahu bagaimana sudut pandang orang lain. Semoga kita terlindungi dari sikap seperti itu, karena apapun itu kehebatan kita saat ini, pada akhirnya setiap kejadian dan pertemuan (kelak) akan (hanya) menjadi sejarah.
Jejak langkah manusia di dunia ini ibarat tapak-tapak kaki di pasir pantai, kelak akan dihantam gelombang dan menghilang.
JEJAK LANGKAH
Tak perlu puisi mengiriskan hati untuk setiap kepergian, bukankan jejak langkah manusia di dunia ini ibarat tapak-tapak kaki di pasir pantai, kelak akan dihantam gelombang dan menghilang.
Kesunyian mengambang di atas daratan menyembunyikan gemuruh di balik kerak-kerak bumi di bawah lapisan pasir. Sementara itu, bayangan sang maut melayang-layang di langit dalam sekawanan burung pemakan bangkai.
Hidup ini adalah perjalanan yang berliku, kita tahu keburukan adalah serupa buih kotor yang meninggalkan jejaknya di atas pasir atau batu-batu di tepi pantai, serupa dengan ampas kopi yang tertinggal di dasar gelas. Pada akhirnya mereka pun akan dihantam gelombang dan menghilang jua. Maka tiadalah apapun yang fana menjadi abadi, kecuali dalam cerita fantasi.
Hidup adalah kemisteriusan yang tak kita duga-duga kedalamannya. Salah satu misteri adalah pertemuan. Beberapa orang pergi, dan beberapa menjadi bagian dari hidup. Beberapa orang bertahan selamanya, dan lainnya berlalu dengan cepat. Tidak setiap pertemuan dimaksudkan untuk bertahan seumur hidup.
Maka ingatlah bahwa hidup ini adalah (hanya) menunda perpisahan.
Banda Aceh, 26 Desember 2020
Kita manusia di bumi ini, pada satu titik dari hidup (pasti) memiliki hal-hal yang besar yang berhubungan dengan perasaan. Ada hari di mana hati menjadi terlalu kecil untuk menangani besarnya perasaan. Hari ini salah satunya, ketika aku memikirkan perasaan sendiri sebentuk emosi sebagai sebuah fenomena yang unik dan bersifat pribadi, di mana orang lain tak merasakan apa yang aku rasakan.
Ini adalah sebuah kota yang menjanjikan kenangan. Banda Aceh sungguh indah, jalan lurus dengan barisan rapi gedung-gedung mungil dan pepohonan angsana yang rindang. Aromanya khas dan kuat selalu memberikan kesan kepada mereka yang datang dan pergi.
Angin menderai aroma angsana terasa hari menjelang maghrib. Ada beberapa dahan memberi celah sang senja memerah menyeruak, dihajar udara yang kian dingin. Begitulah hidup sudah beberapa waktu berjalan.
Banda Aceh yang teronggok di sudut Nusantara sekarang dahulu sebuah kota cosmopolitan, menjadi tempat bercampurnya berbagai ras yang menghuni dunia. Kini mendengar kota “Kosmopolitan” yang terbayang adalah Hongkong, New York, Singapura, Tokyo, London, Paris, (atau) Jakarta. Sama sekali bukan Samarkand, Bukhara, Damaskus, Merv, Eshafan, Baghdad, (atau) Banda Aceh. Zaman berganti, kota-kota yang dulunya pusat peradaban yang menjadi tempat berkumpulnya segala bangsa, kini terlupakan, terkurung dalam garis batas-batas Negara baru dan tenggelam dalam warna-warni peta dunia.
Lapangan Blang Padang bagian dari Banda Aceh, Kota Kenangan
Terkadang, bila aku melalui jalan-jalan kota ini, dan secara tak sadar menghidu aroma bunga angsana yang mekar di sekelilingku. Aku tak sengaja memandangi pokok itu, di depan mataku ia seakan-akan berubah menjadi lambang perjuangan kami, kehilangan kami. Dan pada saat itu juga aku merasa direnggutkan dimana rasa sakitku mengalir masuk.
Setiap tempat, setiap orang, semua kejadian dan detil-detil waktu tak akan (pernah) terulang sama persis. Kita mengingat ketika kita (sudah) sendirian, atau bahkan kita (telah) melupakan yang ada hanyalah (rasa) hilang ketika tiada di sisinya.
Senja semakin larut, kabut menggantung di belakang mereka di atas pepohonan di bawah dan melayang di atas tepi-tepi sungai keruh oleh hujan semalam.
Teukoe Nja Hamsa (paling kiri), Teukoe Lampasei (kiri di sofa), Teukoe Nek Radja Meuraksa (kanan di atas sofa) dan Teukoe Nja Mohammad (ke-2 dari kanan) bersama para pengikut. Mereka adalah para uleebalang paling awal yang berkerja sama dengan Belanda (Ketika awal Perang Aceh). Foto diambil tahun 1874 di wilayah Meuraksa (Bagian dari Banda Aceh sekarang). Sumber KITLV.
PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946)
Siapa dan apa Uleebalang?
Uleebalang adalah yang dipertuan di negerinya masing-masing dan merupakan kepala wilayah par excellence. Mereka disebut raja di negerinya masing-masing. Uleebalang dalam teorinya berperan sebagai perpanjangan tangan atau pejabat dari Sultan Aceh yang memimpin berbagai negeri yang berada dalam naungan Kesultanan Aceh Darussalam.
Uleebalang dalam bahasa Aceh memiliki arti yang sama dengan Hulubalang dalam bahasa Indonesia yang berarti kepala laskar atau pemimpin pasukan. Pada masa dahulu di Aceh bermakna panglima tentara yang diberikan kepada syahbandar paling berkuasa, dimaksudkan untuk membawahi rakyat dan memimpin prajurit di bawahnya.
Peran pemimpin pasukan ini bergeser seiring dengan melemahnya kesultanan Aceh terutama kekuatan armada laut, sehingga pada masa-masa kemunduran hanya menjadi penguasa teritorial. Selanjutnya para Uleebalang diserahi tugas mengepalai nanggroe (negeri/kerajaan kecil) oleh Sultan Aceh. Dalam adat Meukuta Alam disebutkan bahwa seorang Uleebalang diangkat berdasarkan pertimbangan mewarisi kedudukan leluhurnya, meski begitu mereka juga mendapat surat pengangkatan sebagai raja dari Sultan Aceh sebagai penghargaan atas kedudukan mereka.
Peran Uleebalang pada masa Kesultanan Aceh.
Uleebalang disebut sebagai penguasa lokal setelah abad ke-17 Masehi ketika Kesultanan Aceh mengalami kemunduran, banyak urusan pemerintahan diserahkan kepada Uleebalang sehingga bertindak sebagai penguasa merdeka sehingga kekuasaan Sultan Aceh hanya bersifat formalitas.
Uleebalang pada awalnya merupakan pimpinan kemiliteran di wilayahnya. Sultan Aceh mendapat bagian dari pajak (wasee) yang dikumpulkan oleh Uleebalang berdasarkan surat pengakuan pengangkatan, uleebalang diberi stempel sultan atau cap sikureung (cap Sembilan). Seiring melemahnya kekuasaan Sultan Aceh maka pajak ini dikorup oleh Uleebalang untuk kepentingan pribadi dan kaumnya.
Perubahan peran Uleebalang pada masa Belanda.
Ketika Belanda berkuasa, mereka menyebut “negeri” sebagai “landschap”. Para Uleebalang memimpin rakyat di wilayah masing-masing. Dalam prakteknya mereka semacam sultan atau raja kecil. Di pemerintahan mukim (Kumpulan beberapa kampung) mereka di Uleebalang, sedangkan di Sagoe (Sagi/setingkat kampung) disebut Peutua.
Pada rentang tahun 1874-1942 tercatat ada lebih seratus nanggroe atau landschappen yang dipimpin oleh Uleebalang yang disebut oleh Belanda dengan nama zelfbestuurder (Pemerintahan sendiri) di Aceh. Khusus untuk wilayah Aceh Besar disebut sagoe dan para uleebalang yang memerintah disebut sagihoofd.
Asal usul gelar Teuku dan Cut di Aceh.
Ada dua pendapat mengenai asal usul gelar Teuku dan Cut yang menjadi ciri khas kaum Uleebalang dan keturunannya yaitu:
Seorang uleebalang (Teuku) Nja Gadang dan istrinya (seorang Cut) ditangkap di pedalaman Aceh dalam keadaan dirantai karena melawan penjajahan kolonial Belanda diturunkan dari kapal uap Pegu di Kutaradja (Banda Aceh sekarang) sebelum dikirim ke pengasingan Foto diambil pada tahun 1897. Sumber KITLV.
Pertama gelar ini dibuat pada masa Pemerintah Kolonial Belanda, para Uleebalang diberi gelar Teuku (laki-laki) dan Cut (perempuan), sebelumnya para pemimpin mukim lazim disebut Imuem atau Panglima bahkan Datok di pesisir barat Aceh. Selanjutnya gelar Teuku dan Cut diperuntukkan untuk keluarga raja atau Uleebalang di wilayah otonom dan berlaku turun-temurun meskipun mereka (sudah) tidak menjabat. Sebelumnya pada dokumen-dokumen lama baik catatan asing maupun manuskrip lokal (awal) tidak ditemukan gelar Teuku dan Cut, (diduga) sengaja diciptakan oleh Belanda untuk menjadi lawan tanding ulama yang bergelar Tengku, sedangkan gelar Tuanku, Tuwanku dan Pocut adalah gelar untuk keluarga Sultan Aceh.
Gelar ini telah dahulu ada sebelum Belanda datang (kuno). Asal kata “Teu” berasal dari kata “tu” (ada pada kata nektu yang dalam bahasa Indonesia berarti nenek buyut), “tuha” yang berarti (tua atau orang tua) sedang “ku” berasal dari kata aku (subjek orang pertama). Teuku bisa diartikan “Orang tuaku” atau dalam kata lain orang yang dianggap mengayomi. Cut sendiri berarti kata “cut” yang artinya kecil, mungil atau cantik. Adalah wajar bagi masyarakat menganggap pemimpin mereka sebagai orang tua yang dihormati. Meskipun sebutan Teuku dan Cut sudah dahulu ada (sebagai sebutan hormat) namun diduga yang memformalkan dalam bentuk jabatan atau gelar kebangsawanan adalah pemerintah kolonial Belanda ketika berkuasa di Aceh.
Keadaan Aceh pada awal abad ke-20 Masehi.
Menghadapi perang Aceh yang panjang dan melelahkan, akhirnya Belanda menangkap sultan Aceh terakhir Tuanku Mohammad Daudsyah pada akhir tahun 1903 dan gelar Sultan Aceh dihapuskan. Belanda menganggap Kesultanan Aceh sebagai ancaman, dan sultan adalah simbol perlawanan rakyat. Perhitungan Belanda tidak sepenuhnya benar.
Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah (nomor ketiga dari kanan membelangi kamera) selaku Sultan Aceh terakhir (Masa memerintah 1873-1903) setelah ditangkap dihadapkan pada Gubernur Militer Sipil Aceh, Johannes Van Heutsz (nomor satu dari kanan menghadap kamera) menjabat 1898-1903. kelak Van Heutsz menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Menjabat 1904-1909), foto diambil pada pendopo Gubernur Kutaradja (Banda Aceh sekarang). Untuk menghinakan Sultan Aceh dia tidak diizinkan mengenakan sepatu dan Belanda menyebutnya sebagai “Sultan pura-pura” dalam uraian foto. Sumber KITLV.
Perang kemudian dilanjutkan oleh para ulama beserta beberapa uleebalang yang menjadi pendukung setia Sultan Aceh. Kaum ulama memberi corak agama dengan menyebut sebagai Prang Sabi (Perang Sabil). Mereka terus bergerilya ke pedalaman sampai kira-kira sepuluh tahun sejak Sultan Aceh ditangkap, sementara itu kebanyakan uleebalang bersedia bekerjasama dengan Belanda.
Sebenarnya sejak awal Perang Aceh meletus, beberapa Uleebalang telah menandatangani perjanjian dengan Belanda. Pada awal abad ke-20 tercatat 82 dari 100 uleebalang telah menandatangani Korte Velklaring (Perjanjian Pendek) yang berisi 3 pasal:
Setia kepada Ratu Belanda;
Menjadikan musuh Belanda sebagaimana musuhnya dan sebaliknya;
Menjalankan perintah Ratu Belanda maupun wakilnya.
Para Uleebalang tadinya berperang dengan Belanda, pada akhirnya memihak Belanda. Sikap oportunis beberapa Uleebalang sebanding dengan kepentingan Belanda sehingga mereka diangkat sebagai raja di daerahnya masing-masing.
Uleebalang sebagai alat kolonial Belanda di Aceh.
Belanda sangat berkepentingan berkuasa dengan aman di Aceh, untuk itu mereka menerapkan politik devide et impera dengan membenturkan Uleebalang dengan ulama. Pengangkatan uleebalang sebagai zelfbestuurder menempatkan mereka sebagai birokrasi kolonial yang bertugas memungut pajak serta sebagai hakim pada kejahatan kecil.
Pengalaman pahit Perang Aceh membuat Belanda sangat berhati-hati di Aceh, untuk itulah Belanda menugaskan Uleebalang mengurusi pemerintahan di tingkat bawah. Belanda memberikan gaji, jaminan masa jabatan, dan garis-garis wilayah yang jelas. Gaji berkisar 240 – 10.200 Gulden diukur berdasarkan besar kecilnya wilayah dan posisi strategis berdasarkan kepentingan Belanda.
Kekuasaan yang diberikan Belanda memberi legitimasi kuat, seperti penguasaan tanah, pungutan 10% dan pelaksanaan hukum waris, pengalihan kepemilikan tanah yang ditinggalkan pemiliknya untuk mereka, monopoli, penyitaan tanah, hak pengerahan kerja rodi dan pajak atas irigasi. Beberapa uleebalang bahkan secara melawan hukum menggelapkan pajak.
Beberapa gelintir Uleebalang secara terang-terangan melanggar syariat Islam dengan berjudi dan madat sehingga meresahkan masyarakat. Kekuasaan mereka yang hampir tak terbatas membuat mereka mampu melaksanakan segala kehendaknya.
Memasuki tahun 1920-an, Belanda mengambil kontrol langsung atas seluruh Aceh, sedikit demi sedikit mengurangi kekuasaan Uleebalang karena Belanda merasa posisi mereka di Aceh sudah cukup kuat, meskipun perlawanan rakyat masih ada tapi hanya bersifat sporadis dan individual. Pada masa ini bisa dikatakan sebagai masa puncak kejayaan Pemerintah Kolonial Belanda.
Hubungan Uleebalang dan Ulama pada masa kolonial Belanda.
Pada masa Kesultanan Aceh, posisi ulama dan uleebalang setara, di mana Sultan Aceh sebagai penyeimbang, masing-masing berperilaku sesuai perannya. Uleebalang mengurus ketatanegaraan, ulama mengurus keagamaan, namun dinamika berubah ketika Belanda berkuasa.
Belanda menjalankan politik devide et impera, mendekati uleebalang sebagai kaki tangan dan menjauhi ulama. Posisi uleebalang yang didekati Belanda membuat kelompok ini tergantung kepada mereka, sebaliknya ulama menunjukkan sikap melawan. Tapi bukan berarti setiap uleebalang menerima kehadiran Belanda, (meski) banyak juga dari kaum feodal yang berjuang bersama Ulama melawan Belanda.
Bentuk perlawanan yang dilakukan oleh para ulama adalah mendirikan sekolah-sekolah agama sebagai bentuk perlawanan terhadap sekolah-sekolah sekuler milik pemerintah. Menjadi semakin nyata dengan berdirinya PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) dengan tujuan mempererat ikatan para ulama. Organisasi ini dibiarkan oleh Belanda karena hanya terbatas di Aceh sehingga dianggap tidak membahayakan seperti Serikat Islam dan Muhammadiyah yang memperkenalkan nasionalisme dan memperjuangkan Negara merdeka. Belanda pun menganggap politik Islam yang digariskan oleh Snouck Hurgronje tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman, kekuasaan Belanda sudah terlalu kuat untuk digoyangkan. Sebaliknya sejak tahun 1930-an Belanda merasa bahwa ketergantungan uleebalang kepada mereka semakin membesar dan menjadi beban.
Perkembangan terbaru di Aceh pada tahun 1930-an membuat Belanda membuka sedikit ruang bagi masyarakat di Aceh untuk menyampaikan ketidakpuasan kepada golongan Uleebalang, sepanjang tidak menyinggung kepentingan mereka. Hal ini dilakukan karena Belanda mendapat imbas negatif dari tindakan sewenang-wenang Uleebalang kepada masyarakat. Serangkaian peristiwa Aceh Pungo (Pembunuhan sporadis kepada orang Belanda) sesungguhnya adalah kejengkelan masyarakat Aceh kepada perlakuan sewenang-wenang para uleebalang.
Pada awal 1939 muncul isu restorasi Kesultanan Aceh oleh Belanda. Berita ini merupakan pukulan kepada golongan uleebalang, posisi mereka akan terancam tidak memiliki hak-hak istimewa karena akan diberikan kepada sultan Aceh kelak. Pendukung pro-Kesultanan datang dari berbagai lapisan masyarakat seperti pedagang kecil dan ulama di luar PUSA yang gencar melakukan petisi. PUSA sendiri tidak mempunyai kepentingan dengan restorasi Kesultanan yang menyinggung (akan) kekuasaan Uleebalang itu kecuali tuntutan agar pendidikan agama tidak lagi berada dalam kekuasaan Uleebalang.
Kondisi berubah ketika bulan September 1939 pengurus PUSA berkunjung ke Aceh Barat dalam rangka mencari dukungan agar pendidikan agama dilepaskan dari kekuasaan uleebalang. Dalam kunjungan itu pengurus PUSA bertemu Teuku Sabi yang merupakan satu-satunya uleebalang yang mendukung pendirian kembali Kesultanan Aceh. Karena pertemuan itu pendukung Kesultanan menggabungkan diri dengan PUSA sehingga pertama kalinya PUSA dan Uleebalang berhadapan langsung.
Uleebalang pada masa pendudukan Jepang.
Masa pendudukan Jepang membawa perubahan baru, baik ekonomi, politik, sumber daya alam maupun manusia. Jepang sebagaimana Belanda memanfaatkan uleebalang sebagai birokrat pemerintahannya, bahkan wedana pun dijabat uleebalang. Hal ini mengecewakan pihak ulama terutama golongan PUSA yang sejak awal membantu Jepang masuk ke Aceh dengan menjadi anggota Fujiwara Kikan. Jepang malah menangkapi pimpinan PUSA seperti Tengku Muhammad Daud Beureueh dan Amir Husin al Mujahid, mereka juga menyingkirkan barisan F yang awalnya merupakan kontak Jepang agar dapat masuk ke Aceh dan menggantikannya dengan uleebalang.
Uleebalang berhasil mendekati Jepang, namun Jepang tidak membubarkan PUSA karena membutuhkan organisasi yang memiliki basis masa besar di Aceh. Belajar dari Belanda, Jepang berusaha menyeimbangkan antara uleebalang dan ulama. Setelah berkuasa dan membentuk pemerintahan militer, Jepang mengangkat Uleebalang mengisi jabatan seperti sonco (camat), dan gunco (wedana) untuk mengantikan controleur (kepala distrik) dalam sistem pemerintahan Belanda. Tapi mencabut hak istimewa dalam bidang kehakiman dan kepolisian, justru memakai pemuda PUSA meski terdapat unsur uleebalang di sana.
Pada Januari 1943, Jepang merasa perlu membentuk sebuah lembaga yang khusus mengurus bidang keagamaan. Majelis Agama Islam Kebaktian Asia Timur Raya (MAIBKATRA) bermaksud merangkul ulama dan menarik simpati rakyat Aceh mengingat Jepang mulai mengalami kekalahan dalam perang Asia Timur Raya. Pada awal tahun 1944 Jepang membentuk peradilan khusus Islam untuk urusan perkawinan, perceraian, pewarisan, zakat fitrah, perwalian, dan status anak yatim.
Perubahan sikap Jepang disebabkan faktor ekternal yaitu menghadapi perang, di lain pihak adalah ketidakmampuan uleebalang menarik dukungan masyarakat Aceh kepada Jepang. Hal ini diperburuk oleh sikap sebagian uleebalang yang terang-terangan menyebarkan sentiment anti-Jepang.
Keadaan Perang Asia Timur Raya semakin memburuk bagi Jepang, keadaan memaksa mereka bertindak defensif. Membutuhkan tenaga dan jumlah orang yang besar untuk menyokong kepentingan militer maka puluhan ribu orang dipekerjakan sebagai Romusha. Usaha memperkuat pertahanan Jepang ini tidak menguntungkan uleebalang yang bertindak sebagai administrator atau penanggungjawab lapangan. Segala tindakan tidak manusiawi yang didapat rakyat melahirkan sentimen kebencian yang tertuju kepada uleebalang.
Perang Cumbok dan Revolusi Sosial mengakhiri kekuasaan Uleebalang selamanya.
Ketika proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 telah sampai beritanya ke Aceh melalui kawat yang dikirim A.K. Gani, Komisaris Pemerintah Pusat untuk Sumatera di Palembang, seluruh pemuda menyambut gembira sedangkan pihak uleebalang masih ragu-ragu serta dianggap menghambat usaha penegakkan kemerdekaan Indonesia.
Pada pertengahan November 1945 situasi sudah memanas. Ketika penyerahan senjata oleh tentara Jepang di kota Sigli pada 4 Desember 1945 terjadi pertempuran antara ulama PUSA dan uleebalang. Pemerintah Daerah Aceh pada 6 Desember 1945 mendamaikan kedua belah pihak, akan tetapi itu merupakan permulaan pertempuran dahsyat di beberapa daerah di Pidie yang kemudian di kenal dengan Perang Cumbok.
Peristiwa Perang Cumbok dan revolusi sosial sangat menyedihkan dalam sejarah Aceh seharusnya dapat dihindari kalau saja para ulama PUSA menunggu upaya legal dari pemerintah pusat. Kaum ulama PUSA menegaskan harus cepat menghancurkan golongan Cumbok, jika tidak Belanda pasti mendarat di Aceh sehingga menyulitkan perjuangan Republik Indonesia karena posisi strategis Aceh yang merupakan pintu gerbang memasuki pulau-pulau di sebelah timur.
Perang Cumbok berlanjut menjadi revolusi sosial di Aceh. Pada tanggal 30 Januari 1946, Teuku Muhammad Daud Cumbok ditangkap di Padang Tiji, Pidie kemudian dieksekusi mati. Sejak tanggal 16 Maret 1946 kelompok PUSA dan Pesindo Aceh menangkapi para uleebalang yang dianggap mengkhianati kemerdekaan, hampir semuanya dieksekusi mati tanpa peradilan. Sebuah sejarah kelam di Aceh, pertama kalinya sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam berdiri, orang Aceh membunuhi orang Aceh.
Panorama hamparan pegunungan di depan, terlihat di antara pepohonan kelapa di seberang persawahan serta hangatnya udara yang menandakan musim panas. Di sana juga ada sungai kecil yang mengalir, bentang alam yang tak akan melupakan dinginnya musim hujan. Dunia ini adalah tempat manusia menjadi tamu asing, seharusnya kita tahu diri dan tak gegabah.
MELALUI (KEMUDIAN) MENGALAMI
Seiring dengan bertambahnya umur semakin Abu menyadari bahwa telah banyak melalui dan mengalami banyak hal. Segala sesuatu hal yang telah terjadi sepuluh atau dua puluh tahun lalu adalah nostalgia. Pengalaman itu adalah hal yang telah Abu lalui sendiri, jika ditambah untuk ditarik ke generasi di atas yang telah mengalami kejadian lima puluh atau seratus tahun (lalu) maka itu itu sejarah. Zuriat diteruskan oleh para leluhur telah membentuk rantai DNA Abu hari ini. Waktu adalah sesuatu yang abstrak, sekaligus terukur. Dalam rentang itu, matahari terbit dan tenggelam untuk terbit lagi. Tapi repetisi itu tak terasa rutin, sebab setiap menit, tiap jam, dan tiap hari selalu berisi peristiwa yang berbeda.
Abu adalah manusia yang hidup di abad ke-21, dilahirkan pada abad ke-20. Meskipun begitu Abu merasa beruntung pernah bertemu dengan orang-orang dari abad ke-19. Sosok-sosok yang mungkin tak akan kita kenali (lagi) sekarang. Mereka memiliki pemikiran sekaligus cerita yang tak terbayangkan oleh kita sekarang, pertemuan dan percakapan itu kadang-kadang muncul seketika dalam samar-samar kenangan masa kecil Abu.
Nek Nyang (ibu dari nenek Abu) punya konsep yang waktu berbeda. Waktu kecil Abu pernah bertanya berapa usia beliau. Sambil tersenyum beliau mengatakan tidak tahu.
“Bukankah setiap orang perlu tahu kapan dia dilahirkan nek?” Tanya Abu kecil.
“Apa perlunya?” Beliau balik bertanya.
“Untuk merayakan ulang tahun misalnya?” Abu kecil mencari contoh yang paling sederhana.
“Ulang tahun itu penting hanya untuk orang Belanda.” Ia tertawa terkekeh, sedikit mengejek, dan Abu memilih diam saja meski tidak setuju sambil menatap Nek Nyang menanak nasi dengan kayu bakar.
Nek Nyang menurut taksiran Abu memiliki umur lebih seratus tahun, meski ia menyangkal dan tidak ingat. Beliau sendiri berpulang ke rahmatullah ketika bencana tsunami menghantam kampung kami Kabong, Aceh Jaya pada Desember 2004. Di hari itu ratusan keluarga Abu dari sebelah ibu musnah, menurut salah seorang keluarga yang selamat ketika gelombang hitam itu datang, beliau digendong oleh seorang sepupu ibu berlari ke timur. Jasad mereka tidak ditemukan dan ditelan oleh laut.
Di tahun 2000 beliau sudah tidak bisa melihat lagi, beberapa kali ketika Abu pulang kampung beliau menangis apabila tak bisa ke sawah. Dia pernah berkata kepada Abu, dia sangat ingin bekerja di sawah meski hanya mengusir burung-burung memakan padi. Beliau berkata, “bekerja itu adalah kebahagiaan kepada manusia, sebuah kehormatan (harkat) menjadi manusia yang berguna dan tidak berharap pemberian manusia lainnya.”
Awal 2000-an konflik Aceh sedang dipuncak, jangankan seorang buta berada di sawah, orang normal pun merasa was-was. Setiap saat nyawa bisa tumpas, mayat-mayat di lemparkan di jalan raya hitam adalah hal biasa. Apalagi kampung Abu masuk zona hitam.
“Abu, antarkan nenek ke sawah!” Sebagai remaja, anak kota Banda Aceh, Abu merasa gentar sekaligus gemetar. Jalan menuju sawah harus melalui pepohonan besar yang gelap karena terlalu rimbun, kemudian ladang-ladang pohon kelapa yang setiap saat bisa terjadi kontak senjata. Baru kemudian hamparan sawah yang luas sampai ke pegunungan nun jauh di sana.
Abu tidak tahan melihat beliau menangis, mata basah karena iba, tapi sebisa mungkin ditahan agar suara tidak menjadi sengau. Maka Abu menuntun beliau pergi ke sawah. Situasi saat itu sangat tidak menguntungkan sebenarnya, ibarat burung merak yang datang ke kawanan bebek sebagai anak kota tentu penampilan, postur serta gaya bahasa Abu berbeda dengan orang-orang kampung, sangat menarik perhatian kepada pihak bertikai untuk dihampiri, belum lagi nyamuknya sangat tidak bersahabat pada Abu ketika harus melewati daerah hutan rimba sebelum masuk kebun kelapa.
Segala risau luruh ketika sampai di sawah, dalam pondok kecil di tengah sawah beliau sangat bahagia. Sambil menarik kaleng-kaleng susu kental manis yang diikat pada tali untuk mengusir burung beliau bernyanyi dengan riang gembira. Lagu Aceh, mungkin kuno karena Abu tidak mengenal liriknya.
“Nek kenapa menyanyi?” Tanya Abu.
“Nenek menghibur padi kita Abu.” Ia menjawab seraya tersenyum.
“Memang padi bisa mendengar nek?” Alis Abu naik, merasa tidak masuk akal.
“Setiap makhluk apakah itu berupa manusia, hewan, tumbuhan bahkan batu pun peka terhadap kasih sayang. Ketika kita menyayangi dia, mengasihinya maka dia akan membalas dengan memberikan yang terbaik dari dirinya.” Nek Nyang menceramahi Abu si anak kota.
“Siapa yang bilang Nek? Sepertinya belum ada penelitian seperti ini.” Bantah Abu sambil tertawa.
“Inilah anak muda, baru membaca beberapa buku sudah merasa pintar melangit. Ini petuah dari mamak nenek yang di dapat mamaknya dan mamaknya dari mamaknya lagi.” Gaya Nek Nyang membantah Abu sungguh kocak sehingga Abu tertawa.
“Ini serius Abu, kamu harus menceritakan kepada anakmu. Sebenarnya tradisi ini menurut adat kita (Aceh) diturunkan dari perempuan ke perempuan. Bukan laki-laki, kebanyakan lelaki tidak terlalu senang mendengar. Tapi mungkin nenek merasa kamu berbeda sedikit, jadi nenek ceritakan saja.” Ia tertawa sampai terlihat gigi depan yang tinggal dua.
“Maksud nenek saya ini agak bencong gitu?” Abu menggoda beliau.
“Nauzubillahiminzalik.Fushoh!” Nek Nyang meniup-meniup tangannya. “Ya bukan begitulah. Mungkin waktu nenek juga tinggal sedikit, ada banyak hal yang belum Nek Nyang ajarkan kepada nenekmu atau bahkan ibumu. Mereka terlalu cepat merantau dan meninggalkan kampung.” Nek Nyang menambahkan.
“Nek Nyang jangan cepat meninggal, jangan bicara seperti itu nek.”
“Nenek hanya mengatakan bahwa waktu tinggal sedikit. Masalah mati Abu, siapa tahu kita ini memang sudah mati?” Kata beliau.
“Maksud Nek Nyang?” Abu dan Nek Nyang sudah mati? Konsep pemikiran yang aneh, belum pernah Abu dengar dan baca dimanapun.
Kita (mungkin) sudah mati, di hari penghakiman, di sana, kita sedang menonton kembali segala perbuatan di dunia.
“Coba kamu lihat Surat Yasin, pada hari penghakiman nanti, mulut terkunci. Mata, kaki dan tangan bercerita. Bisa jadi kita memang sudah di sana saat ini, menonton kembali apa-apa yang pernah kita lakukan selama hidup sebagai pertanggungjawaban kepada Sang Khalik.” Mata beliau menerawang meski tidak bisa melihat lagi.
Abu tersentak dan terkejut. “Nek kalau begitu sejarah atau bahkan waktu bisa berubah?”
Nek Nyang tertawa senang mendengar keterkejutan Abu. “Kamu menilai waktu terlalu tinggi Abu, kamu lupa bahwa waktu hanyalah makhluk. Kaidah setiap makhluk selalu akan turut kepada pencipta-Nya. Itulah kenapa hanya Iblis dan manusia akan di adili nanti, karena kita diberi kebebasan di dunia ini untuk tunduk atau tidak.”
Nek Nyang bicara seperti sufi atau aulia, dalam sekali menohok dada Abu.
“Setiap butir nasi, atau air yang diminum. Perkataan, pendengaran, perbuatan serta peristiwa di dunia ini masuk ke dalam jiwa setiap anak manusia. Jadi di Yaumil Masyar nanti, Allah S.W.T tidak perlu bertanya satu-satu kepada kita. Tubuh kita sendiri yang bercerita, siapa diri kita.” Sebuah pembicaraan dan pengajaran yang dalam, sepanjang hidup Abu di kemudian hari, sangat sulit Abu menemukan teman bicara selevel Nek Nyang.
Kelak Abu baru mengetahui bahwa ada penelitan bahwa setiap manusia memiliki DNA yang berbeda. Terbentuk dari apa yang dibawa oleh orang tua, makanan dan minuman yang disantap, seluruh pengetahuan, pengalaman, kejadian, pikiran, perasaan membuat kerumitan tubuh manusia menyamai alam semesta ini sendiri. Sungguh luar biasa kekuasaan Tuhan. Kesimpulan bodoh Abu, di akhirat nanti yang dihitung baik buruk adalah DNA kita. Ketika mengetahui itu Abu teringat Nek Nyang, mungkin di alam sana jika ia melihat Abu saat ini ia tersenyum, seraya berkata sudah nenek bilang dahulu.
“Betul kita sudah mati nek?” Tanya Abu sekali lagi.
“Belum tentu betul, seperti nenek bilang kita makhluk tetap harus tunduk kepada kaidah Sang Pencipta. Tapi merasa telah mati itu baik, agar kita menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya. Terutama ketika menjalani masa-masa sulit kehidupan atau sebaliknya sedang merasa sangat senang-senangnya. Sebagai pedoman hidup mulia.” Kata-kata bijak beliau bagi Abu lebih berharga dari pada batu zamrud paling besar di dunia sekalipun.
Abu memandangi hamparan pegunungan di depan, terlihat di antara pepohonan kelapa di seberang persawahan serta hangatnya udara yang menandakan musim panas. Di sana juga ada sungai kecil yang mengalir, bentang alam yang tak akan melupakan dinginnya musim hujan. Abu merasa, dunia ini adalah tempat manusia menjadi tamu asing, seharusnya kita tahu diri dan tak gegabah.
Hari menjelang siang, kami kembali ke rumah. Ada perasaan hangat menjalari dada Abu, dalam perjalanan pulang Abu berseloroh. “Nek Nyang, Abu merasa bersyukur bisa mengantar nenek ke sawah hari ini.”
“Bagus, sangat bagus.” Ia menepuk-nepuk bahu Abu seraya menambahkan. “Mereka yang paling tidak bersyukur adalah yang paling mudah dikendalikan oleh hawa nafsunya.”
Hari disusul bulan melintasi tahun berjalan. Bahwa ingatan Abu memiliki batas dan melupakan kisah ini. Sampai pada suatu hari COVID-19 ditahun 2020 menyerang dan menjangkiti Abu. Diantara bayang-bayang kesepian yang membuat putus asa, pada suatu malam Abu merasa beliau datang (dalam mimpi) seraya berbisik mesra,”Berusahalah untuk antusias kepada setiap hal baru, serta tidak memilih kecewa pada kemungkinan pada setiap hal yang baru.”
Sesuatu yang membangkitkan kenangan. Kenapa bisa melupakan hal yang sebegitu penting? Tidak boleh menyerah. Pada hal-hal yang telah dipelajari, cara dan semangat. Kita tidak akan menang kalau berpikir tidak akan menang. Hidup dan mati bukan kita yang menentukan, tapi jika seseorang memiliki keinginan hidup yang kuat, maka harapan hidupnya akan tinggi.
Nah, jadi sekarang kalian tahu dari mana (dasar) sifat keras kepala Abu, tapi ya sudahlah.
Tengku Muhammad Daud Beureueh bersama para ulama Aceh.
SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH)
Pendidikan di Aceh menurun pada periode peperangan dengan Belanda (Perang Aceh 1873-1904). Banyak ulama yang memimpin atau mengajar di dayah (tingkat tertinggi dalam sistem sekolah Islam di Aceh pada saat itu) gugur dalam peperangan melawan Belanda selama perang Aceh. Perang juga menghancurkan sebagian besar dayah (pesantren) tradisional terutama karena ulama begitu terlibat dalam perjuangan rakyat Aceh. Bertahun-tahun kemudian setelah perang selesai masyarakat Aceh terus merasakan dampak dari kehilangan para ulama tersebut.
Perang Aceh (1873-1904) juga menghancurkan sebagian besar dayah (pesantren) tradisional terutama karena ulama begitu terlibat dalam perjuangan rakyat Aceh.
Pada awal tahun 1920-an beberapa ulama muda mendirikan beberapa madrasah (sekolah agama Islam), yang sebagai institusi, berbeda dengan dayah, dalam madrasah kurikulumnya mencakup mata pelajaran sekuler (umum) bersama dengan agama. Di antara ulama terkemuka tersebut adalah Tengku Muhammad Daud Beureueh, pimpinan organisasi Jamiyatul Diniyah, yang mendirikan Madrasah Sa’adah Abidiyah di Pidie. Tengku Abdul Rahman Meunasah Meucap yang mendirikan Madrasah Al-Muslim di Peusangan, dan Tengku Abdul Wahab Seulimeum yang mendirikan Madrasah Perguruan Islam di Aceh Besar. Banyak madrasah lain juga didirikan oleh banyak ulama lainnya. Pada periode ini terlihat begitu banyak aktivitas di bidang pendidikan sehingga secara umum disebut sebagai masa kesadaran atau zaman kemajuan. Menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup madrasah yang masih muda ini adalah dukungan dari para uleebalang (Raja-raja kecil yang memerintah di wilayah Aceh) dan para ulama yang lebih tua.
Ketika jumlah madrasah bertambah, ulama tertentu termasuk Tengku Muhammad Daud Beureueh, Tengku Ismail Yakub dan Tengku Abdul Rahman menyadari bahwa tidak ada kerjasama di antara para ulama yang memimpin berbagai madrasah. Mereka merasa perlu adanya persatuan organisasional di antara para ulama, agar mereka bisa bekerja sama dalam mengkoordinasikan madrasah dan tidak mudah terpengaruh oleh intrik atau kekacauan.
Tengku Muhammad Daud Beureueh
Oleh karena itu, pada tanggal 5 Mei 1939 Masehi atau 12 Rabbiul Awal 1358 Hijriah, dalam sebuah konferensi yang diorganisir dengan cermat oleh Tengku Abdul Rahman di Matang Geulumpang Dua, didirikanlah PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), dan Tengku Muhammad Daud Beureueh terpilih sebagai ketua organisasi yang pertama secara aklamasi. Inilah puncak kesuksesan ulama di bawah kekuasaan Belanda.
Proyek serius pertama yang dilakukan oleh ulama PUSA terdiri dari merancang kurikulum standar untuk semua madrasah di seluruh Aceh dan mendirikan sekolah pelatihan guru yang disebut “Institut Islam Normal” untuk menyediakan staf yang dibutuhkan di Madrasah. Kurikulum baru dengan tambahan 30 persen mata pelajaran sekuler (umum) dimaksudkan untuk melawan sistem pendidikan Belanda yang ada, dan menampung konsep pendidikan baru yang diusulkan oleh Muhamadiyah di sisi lain. Aspek lain dari program reformasi PUSA adalah diadakannya pertemuan publik di seluruh Aceh.
Meskipun PUSA menurut namanya adalah perkumpulan ulama, namun keanggotaannya tidak terbatas kepada ulama saja. Siapapun yang dapat mengidentifikasi tujuan-tujuannya sama dapat bergabung dengan PUSA. Kebanyakan orang Aceh menganggapnya sebagai organisasi mereka sendiri. Seribu orang menghadiri kongres pertama yang diadakan pada bulan April 1940. Guna menampung dukungan rakyat yang luar biasa ini, para pimpinan PUSA membentuk sejumlah ormas, di antaranya: Pemuda PUSA (Pemuda PUSA), PUSA Muslimat (PUSA Wanita) dan Kasyfatul Islam PUSA (Kepanduan PUSA). Anggota Pemuda PUSA dan kepaduan PUSA sebagian besar adalah mereka yang pernah bersekolah di madrasah dan yang berada di bawah bimbingan “ulama”. Orang-orang inilah yang menjadi motor penggerak perjuangan rakyat Aceh pada masa pendudukan Jepang, maupun pada masa gerakan kemerdekaan Indonesia.
Sampai saat ini, penelitian sejarah yang dilakukan terhadap subjek PUSA hanya memperhatikan peran politik yang dimainkan oleh PUSA. Di antara mereka yang telah melakukan pekerjaan penting dalam hal ini adalah: Nazaruddin Syamsuddin; C. Van Dijk dan Anthony Reid. Tetapi belum banyak penelitian yang dilakukan atas kontribusi PUSA untuk reformasi pendidikan di Aceh, salah satunya dilakukan oleh Hamdiah A. Latif.
Namun, aspek terakhir ini yaitu pendidikan sangat penting untuk memahami peran PUSA pada periode awal perkembangannya. Perlu ditekankan secara khusus, bahwa para pemimpin PUSA sangat sadar akan keunggulan pendidikan modern dan potensinya untuk memperkenalkan ide-ide baru, karena sistem pendidikan di masa lalu hanya bertumpu pada ide-ide lama yang menolak pemikiran dan informasi modern. PUSA ingin mendorong modernisasi sekolah Islam.
XXX
DAFTAR PUSTAKA:
Hamdiah A. Latif; Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA); Its Contributions to Educational Reforms in Aceh; (Canada: Institute of Islamic Studies McGill University, 1992);
Nazaruddin Syamsuddin; The Republican Revolt: A Study of the Acehnese Rebellion; (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1985);
C. Van Dijk; Rebellion Under the Banner of Islam; (The Hague: Martinus Nijhoff, 1981);
Anthony Reid; The Blood of People; (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1979);
Sebuah pikiran (bisa) terpenjara, tapi bukankah tiap-tiap manusia itu adalah merdeka menentukan dalam kalbu sanubarinya sendiri.
PENJARA PIKIRAN
Kita mengingat, tapi ingatan tak pernah satu dan stabil. Ingatan juga mudah hilang oleh sapuan-sapuan warna yang muncul kemudian. Seperti sebuah lukisan ketika ia muncul di hadapan kita, sebenarnya dia dalam proses berubah. Lukisan itu sendiri mungkin tidak terlihat lagi, becek, lembab atau bahkan berlumut. Atau sebaliknya lukisan bisa jadi telah dipercantik oleh warna-warna yang muncul kemudian, relief-relief baru telah terpahat dan kaligrafi indah telah menjadi bagian dari sebuah lanskap.
Kita (tentu) tak bisa menilai masa kini dengan standar masa lalu. Apapun yang hidup (fana) punya kecenderungan berubah, entah sedikit atau pun banyak. Meninggalkan atau ditinggalkan. Maka bayangkan pada suatu masa ketika semua teman sudah tiada, apa-apa yang membuat tertawa bahagia sirna. Masihkah engkau bisa tertawa dengan lepasnya.
Karena itulah kita butuh teman. Sepanjang sejarah manusia butuh orang lain, manusia tak tahan jika harus sendiri, (sebagaimana) manusia (juga) tak tahan dalam penjara. Dan seburuk-buruknya penjara adalah penjara pemikiran.
Pada era atau masa yang belum lama berlalu, kita mengingat bahwa buku pernah menjadi pemecah kebuntuan. Karena buku seorang penjahit mampu memiliki kearifan melebihi seorang raja. Kata-kata bijak lebih langka adanya dari batu zamrud, namun orang-orang (bisa) mendengarnya dari mulut hamba perempuan miskin pemutar batu giling.
Ini adalah era sebelum Jack Ma kata-kata yang sangat sarkatik, “Ketika kamu miskin, belum sukses, semua kata-kata bijakmu terdengar seperti kentut. Tapi ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak dan menginspirasi.” Tidak salah kata-kata Jack Ma, hanya mengingatkan dia hidup dengan mengalami banyak penolakan dan lahir pada kebudayaan yang sangat mencintai uang. Hari raya tahun baru Cina itu kita biasa mendengar kalimat “Gong Xi Fatchai” yang artinya bukan selamat tahun baru tapi semoga kamu bertambah kaya.
Pemikiran menjadi jumud dan terpenjara ketika hanya mendengar kata-kata mereka yang kaya dan berkuasa saja. Di puncak kekuasaan, persahabatan ibarat tali yang getas, (sering) palsu. Teman selalu bisa menjadi musuh, atau penghambat. Di sekitar sering berkerumun penjilat. Jika kekuasaan tidak menghargai persahabatan dan kebaikan hati manusia. Apakah di sana kita berharap kebijaksanaan? Sebab kekuasaan selain memberi (banyak) kemampuan, ternyata (juga) memberi ketidakmampuan. Kalau orang sedang menjabat (berkuasa), harta melimpah, sukar menilai dirinya sendiri. (Sangat) sukar.
Manusia bisa dibungkam, atau dijauhkan dari khalayak. Akan tetapi barang siapa yang pernah sendiri akan tahu bahwa ia tak pernah sendiri. Bahkan dalam sebuah sel pengap adalah sebuah dunia, selalu ada rumput yang tumbuh (di luar) dan laba-laba yang datang. Waktu yang mengubah sejarah di jalan-jalan raya, selalu menyeruak ke dalam.
Sebuah pikiran (bisa) terpenjara, tapi bukankah tiap-tiap manusia itu adalah merdeka menentukan dalam kalbu sanubarinya sendiri. Ketika ada yang salah maka tak ada hati yang tak marah.