PERADABAN TANPA TULISAN

Kita semua adalah budak sejarah. Ia adalah sungai yang tak bisa diganggu siapapun. Kita juga tak bisa berenang melawan kekuatannya. Bahkan kita akan tenggelam ke dalam arusnya.

PERADABAN TANPA TULISAN

Ribuan tahun yang lalu berbagai kelompok pemburu dan pengumpul mengembara di seluruh Asia dan Eropa sambil mengikuti kawanan mamot yang memakan rumput liar, lambat laun es mulai mencair, pola pertumbuhan rumput pun berubah, kawanan-kawanan bergerak ke utara dan menjadi berkurang. Menyusullah beberapa pemburu, lainnya, karena kekurangan daging yang merupakan inti makanan pokok mereka, menuai rumput-rumput liar itu dan pada saat tertentu mulai menanam sendiri beberapa jenis rumput itu, barangkali.

Walaupun buku-buku sejarah dunia biasanya mulai dengan masa pra-sejarah, namun apakah masa pra-sejarah itu? Apakah hanya sekedar masa dimana manusia belum menemukan tulisan semata? Spesialis lain, Antropolog misalnya memiliki perlengkapan yang jauh lebih baik untuk menyelami kekelaman masa lalu lebih jauh, sehingga dapat berspekulasi tentang perilaku manusia, tentang pola-pola menetap, tentang motivasi sebagai suatu masa tanpa diffrensiasi. Namun tentunya sulit menemukan kehidupan orang-orang tertentu yang memberikan daging dan nyawa kepada pertanyaan-pertanyaan abstrak tentang perilaku manusia.

Manusia akhirnya menemukan tulisan, namun tradisi oral masih hidup selama berabad-abad kemudian. Sebagai contoh Snouck Hurgronye dalam buku Aceh Di Mata Kolonial Jilid II, menyebutkan dalam bab kesusasteraan menyebutkan “Dengan kesusasteraan Aceh kita artikan semua yang telah dikarang dalam bahasa Aceh. Saya sengaja menyebut “dikarang” dan bukan “ditulis”, karena pembedaan yang tegas antara apa yang diabadikan dan apa yang tidak diabadikan dalam bentuk tulisan, tidak dapat diterapkan secara konsisten terhadap karya-karya pengarang Aceh baik pada masa lampau maupun sekarang.”

Dongeng-dongeng lisan yang tak kalah popular di Indonesia adalah “Si Kancil” suatu tokoh yang menujukkan adanya perkaitan dengan “Eulenspiegel” dari Jerman. “Juha” dari Arabia dan “Nasruddin Hoja” dari Turki. Ini merupakan benang merah yang tersambung melalui tradisi oral.

Tulisan menang, Van Heutsz menaklukkan benteng Batee Iliek yang tidak pernah jatuh selama nyaris 30 tahun perang Aceh dengan meniru strategi sebagaimana ditulis oleh Homerus, epik Perang Troya, memasukkan Abu Pang ke dalam guci, panglima perang Hindia Belanda tersebut menyerbu benteng terkuat Kesultanan Aceh Darussalam, pimpinan Said Muhammad lewat jalan belakang.

Tahun 1901 benteng Batee Iliek jatuh, jarak yang tak begitu jauh dengan sejarah modern karena baru 4 tahun kemudian Einstein menemukan teori relativitas. Saya membayangkan, andai benteng Batee Iliek tetap bertahan sampai Perang Dunia I dimulai tahun 1914 maka sejarah akan berbeda, sayang sejarah tidak dimulai dengan kata, seandainya.

Van Dalen mengiris tanah Gayo lewat ekspedisi berdarah ditahun 1904. Ia meminjam strategi brutal Julius Ceasar. Menghadapi konfederasi suku-suku di Tanah Gayo sebagai kekuatan merdeka terakhir di Aceh, ia meniru gaya Julius melawan persekutuan suku-suku Galia pimpinan Vercingatorix. Tanah Gayo jatuh, dan secara resmi Hindia Belanda menyatakan perang Aceh secara resmi berakhir.

Kita pernah hidup, di masa tulisan belum begitu berkuasa. Sebelum millennium ini dimulai ketika era digital masih malu-malu muncul, kita masih merasakan betapa kuat perasaan kita, sebagai contoh ketika saya tidak menemukan satu pun teman sekampung pada sore hari, maka saya akan menduga mereka pasti sedang mandi di sungai, dan ketika menyusul kesana, hampir selalu saya menemukan mereka disana. Sekarang dengan era telekomunikasi, jangkauan permainan memang semakin jauh akan tetapi sebelum keluar rumah saya harus memastikan melalui sms, atau perangkat pesan lain dimana mereka berada.

Dengan tulisan sejarah dituliskan, buku-buku dicetak, ilmu semakin mudah didapat. Jangan lupa Belanda menaklukkan kita dengan dokumen-dokumen yang akurat, dan terverifikasi sahih. Namun apa yang terjadi jika saat ini yang kita dapatkan hanyalah polusi tulisan? Zaman ini adalah zaman media sosial, seluruh informasi bertebaran dimana-mana, setiap orang bisa menjadi corong berita. Tak pelak hoax pun bertebaran, kita mengunyah dan memamah dan mengangap itu kebenaran.

Para mastershared  bertebaran, maaf adakalanya mereka adalah sahabat, guru, orang berpengaruh dan kita anggap lebih pintar dari kita, dan sedihnya tanpa sadar mereka menjadi agen dari portal-portal hoax. Portal tersebut memperoleh keuntungan berupa iklan, sedang teman-teman kita tersebut tersuruk pada reputasi “otak berkarat”

Membaca itu baik, sebagaimana hasrat kita ingin tahu kita terhadap ilmu manapun pasti akan berguna. Seumpama makanan, makan itu baik. Namun apa yang terjadi ketika kita memasukkan sampah dalam perut kita? Maka apa beda kita dengan babi? Yang memakan kotorannya sendiri?

Einstein pernah berkata. “Manusia yang hanya banyak membaca dan hanya menggunakan otaknya begitu sedikit akan menjadi malas”. Mengapa? Kita hanya membaca saja dan tidak menimbang terlebih dahulu maka kita akan terjebak pada cerita yang menyentuh hati, sehingga setiap pembacanya akan tersentuh dan tak ketinggalan untuk menyebarkannya. Salah satu pola hoax adalah memanfaatkan sisi hati manusia yang sangat sensitif hingga akalnya akan ditinggalkan sejenak. Padahal “hati” dan “akal” harus berjalan berdampingan, adalah sangat naïf jika mereka dibiarkan berjalan sendiri-sendiri tanpa pendamping.

Otak manusia pada awalnya adalah sebuah rumah kosong, mereka mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan kebutuhannya. Si pandir mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit ditengah-tengah atau tercampur dengan hal lain. Si Bijak sebaliknya, dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukkan ke dalam rumah. Ia tidak memasukkan apapun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaan, sebab apa yang diperlukan saja sudah cukup banyak. Semuanya itu diatur rapi dalam rumah-otaknya sehingga ketika diperlukan, ia dengan mudah menemukannya.

Keliru jika kita pikir kalau rumah-otak kita memiliki dinding-dinding yang membesar, terutama setelah masa pertumbuhan berakhir. Rangka rumah/otak hanya akan segitu saja, maka untuk setiap pengetahuan yang telah dimasukkan, ada yang diketahui dan ada yang dilupakan. Oleh karena itu, sebenarnya penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta berguna.

Saya tidak ingin menyelamatkan dunia dari polusi tulisan, sederhana saja, saya hanya ingin membersihkan wall facebook saya dari kotoran-kotoran hoax dengan menyampaikan hal ini, atau sebisa mungkin menyadarkan teman-teman terdekat dari profesi mastershared, tak lebih. Tolong hentikan!

Peradaban tanpa tulisan? Tidak mungkin. Kita semua adalah budak sejarah. Ia adalah sungai yang tak bisa diganggu siapapun. Kita juga tak bisa berenang melawan kekuatannya. Bahkan kita akan tenggelam ke dalam arusnya. Seperti pesan ini tidak akan tersampaikan jika tidak melalui tulisan, tapi sebisa mungkin mulailah menjangkau dengan hal-hal sederhana, seperti menceritakan hikayat/dongeng kepada anak-anak kita secara oral, itu lebih berarti daripada membelikan buku dongeng, sejatinya pengetahuan itu tidak akan mampu mengalahkan pengalaman, yang kita bagi bersama melalui dialog-dialog kecil nan sederhana.

XXX

Beberapa opini terdahulu:

  1. Kebenaran Yang Samar; 28 Februari 2013;
  2. Gam Cantoi Tiada; 30 Maret 2013;
  3. Orang Sakit Dari Timur; 26 Mei 2013;
  4. Mengenang Bung Hatta Seorang Pemimpin Teladan; 16 Agustus 2013;
  5. Mengapa Menulis; 11 Oktober 2013;
  6. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013;
  7. Seorang Pangeran; 4 November 2013;
  8. Penyakit Pembawa Kematian; 15 November 2013;
  9. Mereka Yang Bangkit (Kembali); 18 Desember 2013;
  10. Jangan Golput; 22 Maret 2014;
  11. Momentum; 18 Mei 2015;
  12. Gaya Abadi; 23 Mei 2015;
  13. Ramadhan Dan Relativitas; 27 Juni 2015;
  14. Khusyuk; 14 Juli 2015;
  15. Tua; 22 Oktober 2015;
  16. Renovasi; 31 Oktober 2015;
  17. Serakah; 7 November 2015;
  18. Passion; 8 November 2015;
  19. Penuai; 14 November 2015;
  20. Tsunami; 26 Desember 2015;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 127 Comments

TSUNAMI

Pembersihan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh setelah tsunami 2004

Pembersihan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh setelah tsunami 2004

TSUNAMI

26 Desember 2004, antara pukul delapan dan lewat lima belas menit, perantah gemetar, keramik berjatuhan. Ia berjalan keluar rumah dan melihat orang bertakbir di jalan dan gang-gang kecil, tak lama terbunyi suara ledakan. Dalam tempo hitungan menit. “Laut datang!” terdengar orang-orang memekik.

Gulungan gelombang setinggi lima belas meter menggodam kota tepi pantai itu dengan ganas, gempa melontarkan tsunami ke daratan. Kemudian air datang kembali ke laut, ribuan bangkai terapung, terangkut, lenyap atau tersangkut di bumi.

Ketika berpuluh ribu orang tewas dan beratus ribu kehilangan, ketika gempa dan gelombang pasang menghancurkan mendadak kehidupan, kita pun bertanya : kenapa? Ada berpuluh-puluh “kenapa”, sebab kata itu mempunyai endapan, berasal dari bermacam-macam zaman, tiap kali bergeser. Sebab ia sudah diucapkan oleh para nenek moyang kita yang masih hidup dengan rasa ngeri, terkesima, dan bingung mendengar petir yang menyambar pohon tinggi, membakar hutan, dan membinasakan manusia. Syahdan, mereka lari bersembunyi ke gua-gua. Tapi tetap gentar.

Ketika tsunami Aceh datang, saya masih akan menuju usia 21 tahun. Dengan rasa ingin tahu menuju mendekati pusat bencana, setengah jam setelah itu. Saya pernah mendengar tsunami, sebuah bencana khas Jepang yang tidak diketahui bagaimana bentuknya, dan masih tak paham hari itu adalah tsunami. Bersama seorang teman kami melintasi jalan Teuku Umar, penuh reruntuhan tiga puluh menit setelah gelombang, bus-bus kurnia bagai mainan terlempar, tersangkut di pohon. Motor kami beberapa kali harus diangkat melewati puing dan tiang listrik yang berjatuhan. Mayit-mayit tertahan di lorong-lorong terhalang oleh deretan toko. Sampai di ujung jalan, simpang jam. Saya melihat momen yang tak terlupakan, mayit-mayit segar yang ditutup Koran, jika ditutup kepala terlihat kakinya. Saya menangis ketika melihat di kaki itu ada rumput segar, persis seperti sehabis bermain sepakbola, ada sehelai rumput menempel di situ. Di tubuh seseorang yang sejam lalu masih bernyawa.

Tak lama kemudian, ada yang berteriak dari arah Ulee Lheu, “Air datang!” Kami pun panik, teman saya ingin menuju Masjid Raya, saya katakan jangan, arah ke taman sari terlalu banyak puing dan tak aman, lebih baik ke Peuniti yang jalannya kering. Menyusuri Neusu kami sampai di rumah. Kejadian itu membekas, karena kami melihat dalam proses melarikan diri tersebut kami melihat wajah manusia. Ketika terjepit, ada beberapa tabrakan.

Kami tidak pernah tahu, apakah memang air datang kembali. Atau hanya isu belaka, tapi momen nyaris mati itu membuat teman saya marah, karena saya yang mengajaknya melihat kota, mengapa tak di rumah saja? Karena kampung kami hanya terkena hempasan terakhir sisa-sisa gelombang tersebut.

Waktu tsunami berlalu bilangan hari, saya melihat ke jalanan. Mobil-mobil bercat putih dengan tulisan UN datang, mobil pickup dengan logo sebuah organisasi dari Republik Czek, Helikopter Inggris, Jeep aneh petak-petak desain Rusia, sampai Jietai Jepang. Orang lain berdatangan dari segala penjuru, apa arti orang lain itu, apa gerangan Aceh bagi mereka? Apa arti geografi dan sejarah, juga makna tapal batas, suatu rekaan yang begitu sering diperebutkan dan dibanggakan?

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Dunia datang, dunia menolong. Ada terima kasih yang tak akan habis kepada siapapun yang pernah tergugah oleh kesengsaraan manusia dan tahu ada hal yang tak terjelaskan oleh sebab besar.

Diakui atau tidak, dibalik kata “kenapa”, setelah tsunami Aceh di akhir tahun 2004, tersembunyi endapan “kenapa” yang purba, ketika saya hampir setahun kemudian di sebuah angkot di kota Medan, mendengar dua orang ibu-ibu bercakap-cakap tentang tsunami Aceh, ketika seseorang di antara mereka mengatakan bahwa bencana alam itu adalah hukuman Tuhan, saya hanya terdiam seraya berkata dalam hati, kurang ajar. Jika saja mereka tahu, bahwa berkata seperti itu di depan seseorang yang nyaris musnah keturunan dari pihak ibu. Tapi sudahlah, kesedihan mengalahkan kemarahan pada hari itu.

Tentang tsunami, mungkin kita cukup puas dengan penjelasan sejumlah pakar geologi. Tentang kenapa anak-anak itu yang harus cacat dan mati, bukan para koruptor yang membangun istana dengan kejahatan, bukan pula para pengkhotbah yang mengutuk “Azab!” di atas mereka yang sengsara, kita tak mungkin tak bisa lain. Kita harus lebih adil dan pengasih ketimbang mereka, dan Tuhan yang mereka bela.

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013
  6. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947)  18 JUNI 2013
  7. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013
  8. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016
  9. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016
  10. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016
  11. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017
  12. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017
  13. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017
  14. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017
  17. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017
  37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 118 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DELAPAN BELAS

Sangat sedikit manusia yang tahu betapa terbatas dirinya untuk memelihara hati nurani dan menahan godaan.

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DELAPAN BELAS

Dalam perdamaian, anak memakamkan bapak-bapak mereka, dalam peperangan, para bapak memakamkan anak-anak mereka.

X

Aceh, akhir abad XIX

Siapa pun itu berhak menyendiri, tanpa ingin dirisaukan oleh ini dan itu. Seperti siapapun itu berhak untuk takut. Aku sedang tak ingin ditemui siapapun, aku kalah, aku takut menghadapi hari kemarin, sebab masa lampauku bukanlah sebuah panorama damai yang terbentang di belakangku, negeri ini bisa kutempuh bila ku ingin, yang menunjukkan kepadaku, berangsur-angsur, bukit dan lembah-lembahnya yang rahasia. Sewaktu aku bergerak ke depan, masa lampau itu pun runtuh. Sebagian besar reruntuhannya, masih dapat terlihat, tak punya warna, mencong bentuknya, dan beku. Maknanya terlepas dariku.

“Dik, bisakah kita bertemu?” Berkali-kali surat berdatangan dari Tengku Tiro. Ia ingin bertemu, dan tidak suka bertemu dengannya. Aku tidak sreg bertemu dia, karena sebagai seorang fuqaha dia senang berceramah, dalam pertemuan sebelumnya ia memprotes kegemaranku menghisap tembakau. Aku bukan orang yang memilih hidup suci seperti dia, jalan hidup yang ia pilih begitu keras. Aku tak sanggup.

Dan setelah nyawaku nyaris melayang sebelumnya, dan memang aku benar-benar tak ingin bertemu siapa-siapa. Saat ini adalah saat dimana aku ingin menyendiri, mengharapkan yang suci hadir, seperti di gua Hira’.

Aku juga bukan seorang pahlawan seperti yang ia pikir, persetan dengan Belanda yang telah menguasai ibukota. Aku takut, Belanda memiliki segalanya, kapal hitam, senjata mutakhir sampai perwira-perwira gagah. Jujur saja, sejak perang bermula, tiap 1 serdadu Belanda yang tewas, berbanding 7 orang Aceh. Mengapa kita tak menyerah saja? Belanda begitu majal, dan hanya keangkuhan kepala kita yang membuat Aceh masih melawan. Mataram yang 10 kali lebih banyak tentara saja realistis, mengapa kita tidak?

Mereka mengirimkan ribuan serdadu siap perang, sedang kita? Hanya kesatuan yang berai. Mereka memiliki segala keuntungan taktis dalam perang ini, kecuali satu dan itupun segera direduksi dengan banyaknya mata-mata di kubu Aceh. Kami mengenali negeri ini.

Itulah mengapa aku masih bisa bersembunyi dibelantara, di dalam gubuk. Aku menarik nafas setiap harinya mensyukuri bahwa aku masih hidup.

Siapapun yang sendirian, atau pernah merasakan kesepian pasti tahu bahwa ia tak pernah benar-benar sendirian. Ada yang hidup disekeliling kita. Jaring laba-laba yang makin bertambah setiap harinya, suara angin, serta hal-hal terkecil seperti semut-semut berjalan di lantai. Aku mencoba menikmati suara burung bernyanyi di pagi hari, menjalani hidup yang tak tentu pasti.

Satu sergapan serdadu Belanda saat ini pasti mengakhiri hidupku yang rapuh. Kesehatanku tidak begitu baik, pinggang mulai sering sakit, kerap kali aku terbangun dalam tidur karena kedinginan di malam hari, bahkan yang paling memalukan adalah kalau aku kentut kadang ampasnya terbawa.

Dan utusan-utusan Tengku Tiro dalam bulan-bulan terakhir terus berdatangan. Aku kesal! Kutuliskan sebuah surat, “Beta tak ingin bertemu Tengku. Beta kesal terlalu banyak dinasehati, biarkan beta menyendiri, dan silahkan Tengku lanjutkan perang.” Aku tak suka diatur dan kasar? Ya aku disebut Durjana bukan karena kesopanan.

Aku tenang-tenang saja, sampai suatu hari Mat Amin datang, Mat Amin anak kandung Tengku Tiro. Ia membawa surat, “Kakanda menjadi sedih, kalau adinda marah. Atau tersinggung karena kakanda mengatakan sesuatu di hari itu. Iya, kakanda maklum. Kita bersaudara, Insya Allah sampai akhirat. Kakanda akan selalu menjaga adinda, dengan segala kekurangan. Kakanda hanya ingin berkata, dalam waktu dekat kami akan mengempur ibu kota dengan  kekuatan penuh, besar harapan kakanda, adinda turut serta. Bila tidak kakanda mohon doa.”

“Hati-hati dalam penyerangan, semoga peperangan dimenangkan.” Aku berkata begitu saja kepada Mat Amin. Ia tersenyum, sepertinya ia memang lebih senang kalau aku tak ikut perang. Ia putra yang paling utama, dan pimpinan perang, samar-samar aku merasakan ketersinggungannya, karena harus mengirimkan surat untukku, sebagai tanda keseriusan ayahnya.

“Aku tak tahu apa kehebatanmu, sampai-sampai ayah menilaimu tinggi.” Ia merendahkan aku, tapi aku tak ingin berkelahi. Aku diam saja, ketika ia menambahkan, “dalam perang ini, bukan saja yang memihak musuh adalah pengkhianat. Tapi penakut berhati perempuan sepertimu juga pengkhianat.” Ia pergi.

Mungkin seperti yang ia bilang, aku berhati perempuan. Apalagi ketika aku rindu istriku, ia yang berada di Kutaraja, tidak bisa keluar dari lini konsentrasi. Bila mengingat ia, bila mengingat perjuangan ini, negeri ini, dan mereka yang terbunuh setiap harinya, teman atau bukan teman dekat. Aku menangis, sulit menahan tangis. Memang dalam setiap perjuangan, tangisan ini seperti sebuah pengkhianatan. Tapi bisakah aku tak berkhianat di momen ini, tiap saat aku bisa saja terbunuh oleh satu pelor sahaja.

Selang tak lama utusan Tengku Kutakarang pun datang, saingan Tengku Tiro. ia berceramah bahwa panjang. Bahwa dunia ini telah kotor, oleh perilaku Belanda dan pengkhianat di kubu Aceh. Mereka terlalu mencintai dunia, seharusnya dunia itu bukanlah dambaan, akhirat tempatnya. Maka mereka harus dilenyapkan, dan meminta aku bergabung.

Aku mengerutkan kening, seorang yang menafikan dunia seharusnya seseorang yang membiarkan dunia dalam cacatnya. Bumi, dunia ini telah diabaikan. Maka, ganjil bila orang itu ingin meluluhlantakkan apa yang buruk sekarang, seakan dengan itu ia diperbaiki. Ganjil bila ia percaya kepada tuhan yang mengatakan bahwa membunuh seseorang sama artinya dengan membinasakan seluruh umat manusia. Sebab tuhan itu adalah tuhan yang tak menyesali apa yang IA ciptakan sendiri.

Ia kesal ketika itu kukatakan kepadanya, ia mengumpat dan pergi.

Akhirnya aku menemukan ketenangan, sampai seorang utusan datang lagi. Siapa lagi? Tak bisakah aku tenang. Sudah kukatakan aku tidak berniat menjadi pahlawan, utusan ini hanya menyampaikan sebuah surat dan kemudian pergi.

Aku membuka, “Apa itu Aceh? Aceh bukanlah sebuah wilayah, bukanlah sekumpulan orang-orang dari etnis itu pun. Aceh itu adalah kesedihan, menghadapi kekuasaan yang bertaut dengan pengetahuan, menghadapi senjata, harta yang begitu kuat dan menaklukkan. Mengapa kita harus membebaskan? Karena kita sedih, karena hati kita adalah Aceh, pernah merasakan bagaimana diringkus, diringkas, dan dibungkam di dunia.” –Cut Nyak Dien.

Aku terdiam. Setiap perang membawa penderitaan pribadi kepada para perempuan, sehingga diperlukan paling sedikit suatu kekuatan yang sama besarnya untuk menanggulangi bagian pasifnya, yakni menanggung, menyerahkan dan menjalani, seperti bagian aktifnya peperangan itu sendiri yang dapat memberikan kebahagiaan dalam menjalankan suatu peperangan, berhasil atau tidak.

Aku merenung, kaum perempuan mereka itu tinggal dan menunggu di rumah dan melalui “pintu gerbang penanggungan” yang untuk kebanyakan mereka selalu terbuka lebar, telah membiarkan seseorang tamu masuk ke dalam rumahnya, yakni perasaan cemas yang selalu timbul terhadap seseorang atau mereka yang pergi melakukan tugas peperangan. Aku adalah seorang suami, yang mana berada dalam pusat kehidupan di rumah dan bayangannya bergelantungan di atas semua serta seluruhnya bagi istriku, di atas seluruh gerak dan pikirannya serta yang tertinggal kebelakang.

Hal ini terjadi dalam sebuah peperangan, dimanapun ia berkecamuk di atas bumi, dan lebih dekat disini. Jiwa perempuan mengikuti suami atau setiap anak pada perjalanan-perjalanan sampai yang sekecil-kecilnya. Dalam keadaan bingung setiap saat berita kematian bisa datang.

Dari dasar hati yang paling dalam sangat berat melepas suami pergi ke medan pertempuran, perempuan mana yang sanggup melihat belahan jiwanya pergi bertempur, terluka atau tidak tahu kejelasan kabar.  Aku memikirkan perasaan istriku, apakah sebaiknya aku menyerah saja kepada Belanda? Untuk dapat bersama kembali dengan keluarga, menyerah bukanlah pilihan yang terlalu memalukan.

Di kepala berkecamuk berbagai ide, harapan dan cita-cita. Maju mandur, sampai kepala rasanya mau pecah, memikirkan antara hasrat dan kebajikan.  Aku membuka sebuah gulungan kecil dalam saku, sebuah azimat yang selalu aku bawa kemanapun kakiku melangkah, sebuah surat dari istriku.  “Suami jikalau nanti kamu hilang arah dalam perang, yakinlah pada nuranimu dan lakukan yang terbaik.” Aku menarik nafas panjang, rasanya tak ada penulis roman manapun yang sanggup dan berhasil mengungkapkan daya khayalnya yang segila-gilanya seperti yang telah dibuktikan oleh perempuan Aceh dalam kenyataannya.

Istriku, tahukah kamu betapa sedikit yang tahu betapa terbatas dirinya untuk memelihara hati nurani dan menahan godaan.

Aku memanggul kelewang, bergerak. Maju dengan kemungkinan maut, dengan kalkulasi kemenangan mendekati nyaris nol maka biarlah. Barangkali aku orang yang dungu, dalam arti orang yang tidak memikirkan akibatnya bagi nasibnya sendiri ketika ia harus mendengarkan nurani yang berdegup keras-keras.

Sejarah tampaknya bergerak karena kita punya harapan, yang mustahil dan perlu. Seakan-akan tiap harapan yang berharga dalam hidup akan selamanya terpendam, menunggu, dan tak mungkin terpenuhi. Meskipun karena itu, manusia jadi berharga karenanya.

XX

Setiap manusia punya luka, saya sendiri mempunyainya

Ia hidup terus, ia di sana, luka yang lama ini,

Ia di situ, dalam surat berwarna kuning pucat

Yang masih terlibat air mata dan darah

(Roxano dalam “Cyrano”)

XXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 31 Comments

KETIKA IKARUS JATUH

Kita ingat sayap Ikarus yang mencoba menggapai matahari. Ia tak (akan) sampai.

KETIKA IKARUS JATUH

Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu burung Garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang sayap pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang, tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin pun meleleh oleh panas surya, dan sayap pun tanggal. Ikarus jatuh ke bumi, ke laut Aegea. Ia tenggelam dan mati.

Mitologi Yunani tak memaparkan sebuah kecelakaan yang menyedihkan ataupun sebuah peristiwa yang dramatis. Justru sebaliknya, komedi. Hidup yang normal tampaknya tak terguncang oleh nasib seseorang yang tengah dan direnggut maut. Bahwa yang terjadi bukanlah sebuah tragedi, melainkan sesuatu yang lucu, seperti tergelincir kulit pisang? Tak berhargakah jiwa anak itu, apa kesalahannya? Pertanyaan itu memang mengusik. Sebuah tragedi yang dibiarkan berlalu tanpa arti.

Adakah kalah segala-galanya? Tidak, semoga tidak.

Adakah kalah segala-galanya? Tidak, semoga tidak.

Barangkali nasib malang Ikarus, kisah seorang anak muda yang terbang dan tak sampai, adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, ada petani yang bekerja dan kapal berniaga, tapi ada pula orang yang berikhtiar tapi gawal. Atau mungkin Ikarus sebuah contoh kesia-siaan menusia yang takabur dan lupa berhati-hati. Maka jika ia terjerembab dan mati biarlah. Mungkin, hidup lebih baik dijalani dengan menerima kenikmatan yang ada, seperti pengembala yang mensyukuri musim yang jernih. Atau lebih baik hidup ditempuh dengan cara yang jujur, dengan membajak bumi dengan mengarungi laut. Kenapa Ikarus tak meniru pengaru yang tekun, pengembala yang sabar, dan saudagar yang makmur di kapal itu? Kenapa ia harus melanggar kodrat manusia yang sudah ditetapkan, yakni ia bukan burung?

Jika semudah itu kita menentukan arti kodrat, kita akan terkecoh dengan merumuskan “kodrat” atau “hakikat”, kita tak akan pernah menduga suatu ketika manusia akan mampu menembus rumus itu. Ikarus memang gagal, tapi seandainya tak ada orang yang berani mencoba terbang, memerdekakan diri dan jadi “ganjil” dunia akan tetap seperti abad pertengahan. Tak ada Wright bersaudara, dua orang Amerika yang pada tahun 1903 dengan sebuah mesin bisa terbang selama 10 menit di sebuah lapangan di North Carolina dan dengan itu membuka jalan manusia untuk menjelajah udara, seperti burung, bahkan melebihi burung, hingga langit tak menakutkan lagi.

Ketika kita gagal. Seperti, ketika kita sebagai murid berhadapan dengan guru yang semakin puas dengan semakin banyak membuat muridnya tinggal kelas. Kita bersyukur, kita bukan Ikarus. Kita hidup, ia mati. Hidup menakjubkan karena kita, di suatu hari yang sedih, ternyata bisa memetik buah jeruk yang ranum, dan mencicipinya, dan membaginya.

Adakah kalah segala-galanya? Tidak, semoga tidak.

Kita akan selalu mendapatkan hangat dan cahayanya,  kita senantiasa berikhtiar kesana. Tapi mungkinkah mencapai langit itu, dengan laku, darah, doa, dan besi sekalipun? Mungkin tidak, tapi hidup berarti bukan karena mencapai. Hidup berarti karena mencari.

Kita ingat sayap Ikarus yang mencoba menggapai matahari. Ia tak (akan) sampai.

XXX

Katalog Hikmah:

  1. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  2. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  3. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  4. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  5. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  6. Pahit; 8 Maret 2012;
  7. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  8. Nun; 3 Desember 2014;
  9. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  10. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  11. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  12. Momentum; 18 Mei 2015;
  13. Khusyuk; 14 Juli 2015;
  14. Ibrahim; 20 September 2015;
  15. Hijrah; 14 Oktober 2015;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

BELAJAR

Untuk apa belajar Matematika?

Untuk apa belajar Matematika?

BELAJAR

Tahun 2000, awal millennium ini. Pak Mamunar Rasyid mengajar Sejarah untuk SMA Negeri 3 Banda Aceh. Ia adalah seorang guru yang akan dikenang para muridnya seumur hidup. Sebab pada suatu hari ia tiba-tiba bertanya : “Untuk apa kamu belajar sejarah?” Adapun yang ditanyainya adalah murid-murid kelas dua yang berkeringat selepas pelajaran olahraga yang mengasyikkan.

Hari itu terik, dan tiap hari terik di kota yang panas itu. Dan pak Mamunar  dengan mata berwibawa, yang tak segan mencubit, tampak kian angker dengan pertanyaan yang mustahil dijawab.

Untuk apa belajar sejarah? Masa lalu tak enak bila diusik-usik.

Tapi Pak Mamunar itu rupanya tahu bahwa anak-anak akan diam. Maka suaranya pun bergumam, ketika ia menyelesaikan sendiri pertanyaan yang tadi ia lontarkan tadi : “Kamu belajar sejarah bukan untuk bisa menghafal nama, tahun atau kejadian namun untuk belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain di masa lalu.”

Tapi beliau menjelaskan, sejarah juga bisa ilmiah. Melalui prosedur yang mencakup penalaran berupa pikiran yang disertai tindakan.  Sejarah adalah pengamatan, berdasarkan bukti-bukti terbatas.

Ketika Tsunami menerjang, tahun 2004 terdengar kabar beliau meninggal. Seandainya dia masih hidup, dan bertemu dengan bekas muridnya, yang lintang pukang belajar menyiapkan diri dalam menghadapi ujian kenaikan pangkat, barangkali dia akan bertanya : “Untuk apa semua itu?”

Tokh, tak perlu waktu lama untuk menyontek, seorang murid yang kelelahan mempelajari Matematika pun bertanya kepada guru lain. Untuk apa belajar Matematika? Limit, Logaritma, Trigonometri dan semua yang dijejalkan dalam otak saya, semuanya untuk apa?

Tapi guru Matematika disekolah yang sama, tak sepeka Pak Mamunar Rasyid. “Untuk menjadi insinyur.” Katanya. “Tapi pak saya tidak berniat menjadi insinyur.” Jawab si murid.

“Kamu mempertanyakan apa yang sudah jelas, lebih pintarkah kamu dari pemerintah? Para ahli menyusun buku ini, kurikulum ini tentu untuk alasan yang penting. Jadi kamu merasa lebih pintar dari mereka?” Guru Matematika tersebut menang, tak mungkin murid tersebut lebih pintar dari para ahli yang menyusun buku. Selesai?

Tapi ada hasrat ingin tahu yang dibunuh disitu. Ada pertanyaan halus yang dijawab dengan beringas, dan melahirkan ketidaksukaan. Ya, murid itu adalah saya. Saya menjadi tidak menyukai Matematika, dan bisa dibilang membencinya (saat itu).

Untuk apa belajar Matematika?

Hidup tak berhenti ketika kita sekolah, ada hari-hari lain kelak kita hadapi. Dan saya terus bertanya-tanya kepada setiap orang yang saya anggap menguasainya. Tak ada yang bisa menjelaskan.

Sampai saya bertemu dengan seorang mahasiswa arsitek (sayangnya Drop Out), tetangga saya. Bang Iwan Wahyudi. Ia menyelesaikan pertanyaan tadi, “Kamu belajar semua ilmu ukur bukan untuk menjadi insinyur. Tapi supaya terlatih berpikir logis, yaitu teratur.”

Lalu, dengan antusias mengajar yang khas padanya, ia pun menjelaskan. Satu soal misalnya menyebutkan hal-hal yang sudah diketahui dari sebuah bangunan Geometri. Ada rumus-rumus yang menyimpulkan pelbagai hubungan dalam bangunan seperti itu. Nah, jika anak-anak diminta membuktikan suatu hal dari dalam soal itu, mereka harus berpikir secara teratur, dari hal yang sudah diketahui sampai kesimpulan yang bisa ditarik.

Yang menakjubkan bukan saja ia bisa menjelaskan proses berpikir logis itu dengan gamblang kepada seseorang. Yang juga mengagumkan ialah bahwa ia, mengingatkan saya kepada Pak Mamunar Rasyid, ternyata bisa menanamkan sesuatu yang sangat dalam, apa sebenarnya tujuan pendidikan.

Yang paling penting itu adalah untuk apa. Ya, untuk apa?

Jika anda masuk sebuah perguruan tinggi, karena bercita-cita menjadi “sarjana”, itulah samalah kira-kira jika anda melangkah karena ingin berjalan. Sudah semestinya.

Kekaburan itu terjadi agaknya bukan karena cuma karena kacaunya pengertian “sarjana”. Tapi karena sejumlah ilusi. Ilusi yang terpokok ialah ilusi tentang tujuan pendidikan sekolah serta tujuannya. Sudah salah bahwa tujuan bersekolah di universitas adalah untuk mendapatkan gelar, tapi tak kurang salahnya bahwa jika di Universitas orang akan menemukan pusat ilmu, atau puncak pendidikan ketrampilan.

Sebab, Rasulullah S.A.W bersabda, orang harus menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. Dewasa ini para pemikir pendidikan juga berbicara tentang “pendidikan seumur hidup”. Dan dalam  proses itu, universitas hanyalah sepotong kecil, seorang Sarjana Ekonomi, Sarjana Hukum, Sarjana Tekhnik, Sarjana Pendidikan atau bahkan seorang PhD, barulah mengambil bekal untuk perjalanan panjang yang sebenarnya. Mereka belum selesai, juga belum selesai bodohnya.

Karena itu, seandainya Pak Mamunar Rasyid masih hidup ditahun 2015, ketika saya kepayahan belajar Matematika hari ini, ketika saya hanya mampu menjawab satu soal dari sepuluh soal Try Out, dan putus asa dengan pembagian pecahan dan persamaan kuadrat. Mungkin ia menjawab, “kamu harus semangat belajar, bukan untuk lulus ujian semata, tapi supaya bisa terlatih berpikir ilmiah.” Itu saja, kalau dapat.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , | 4 Comments

ALIM

Alim. bahwa kita akan menjalani kehidupan yang kotor dan berdebu, meski ada kotoran dan debu di jalan. Kita harus hidup dengan melintasi jalan-jalan itu. Kita harus belajar untuk memilah mana deru dan mana debu.

ALIM

Kita patut menangis, zaman ini sebegitu banyak orang mengenakan topeng kealiman. Alim berasal dari bahasa Arab, ilmu. Sehingga alim sesungguhnya berarti orang yang berilmu. Bukankah tugas alim bukan saja mengingatkan harga diri manusia, tapi juga ingin menangkis kesewenangan terhadap sesama, ia tak bisa diam.

Alim mengabdikan hidupnya bukan untuk tujuan duniawi. Ia mengolah terus-menerus pikiran dan rohani. Ia seorang pemikir tanpa pamrih, orang yang mengikuti jiwanya tanpa terikat kepada tendensi sosial dan ekonomi. Mereka mengingatkan kita, dalam mencapai tujuan praktis dan darurat sekalipun, manusia harus ingat kepada hal yang paling mendasar dalam diri, nurani. Sayangnya, dewasa ini pengkhianatan terjadi.

Mengapa? Karena alim atau keilmuan tak berdiri sendiri. Sebenarnya, ada elemen tersembunyi yang jika tak jeli akan terlewat. Akhlaqul Karimah, tanpa akhlak,  kealiman bagai mesin tanpa jiwa. Keilmuan bisa melayani nafsu belaka, nafsu rasial, nafsu ekonomi, nafsu sektarian bahkan nafsu kebangsaan. Dengan kata lain ia hanya menjadi alat untuk memberi dalil intelektual terhadap apa yang mencolok belakangan ini, kebencian.

Ada satu kejadian sekitar tahun 2008. Dengan malas saya hendak menonton konser Peter Pan dan Nidji di stadium Tunas Bangsa Lhokseumawe. Seorang teman kuliah di Universitas Malikussaleh, Fadli memaksa saya untuk ikut, dia tanpa sepertujuan membelikan saya tiket, setelah sebelumnya saya berkilah bahwa harga tiket Rp. 25.000 hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka, tokh saya bukanlah seseorang yang paham dengan musik, sedari kecil saya dekat dengan nenek dan beliau dengan semangat puritan, tidak menyukai segala bentuk dendang. Lebih baik kamu mengaji! Tak pelak, saya mencoba menjadi layaknya seorang Arab kuno, menyelami keindahan kata-kata melalui syair, dan untuk itu saya berhasil, setidaknya menikmatinya.

Tapi waktu itu saya sudah berumur 24 tahun, bertugas di Lhokseumawe dan nenek jauh di Krueng Sabee. Saya pikir tidak ada salahnya, dan ketika tiba di stadiun Tunas Bangsa, kami terkejut. Telah berkumpul puluhan orang berjubah, mereka mengaku berniat akan membubarkan konser tersebut karena tidak sesuai dengan syariat Islam. Si Pemimpin meneriakkan “Allahu Akbar” dengan lantang dan berulang, saya melihat dia, kemudian melihat diri sendiri. Saya dihinggapi perasaan rendah, saya merasa berdosa.

Tapi konser tetap berlanjut, dua truk orang berjubah memantau berjalannya konser tersebut dari tribun stadiun. Penonton tetap dapat menyaksikan bagaimana gantengnya Ariel dan aktraktifnya Giring di stage. Meskipun kami di lapangan menyaksikan konser dengan palang besi yang memisahkan laki-laki dan perempuan. Saya tidak bergabung dengan Fadli di depan, di lapangan paling belakang, dengan magsyul, saya mencoba memilah apakah ini (menonton konser) merupakan kebaikan atau keburukan?

Seminggu kemudian, saya dan Fadli belajar kelompok di rumah seorang teman kuliah, di Kampung Uteun Kot masih di kota Lhokseumawe. Tiba-tiba kami melihat pemimpin demo lewat dengan Vespa, tanpa jubah, tanpa massa. Ya, kami memberhentikan ia, dan bertanya apa maksud dia melakukan aksi di stadiun tempo hari. (Mungkin) ia ketakutan, dan berkata (jujur?) bahwa sebenarnya ia dan teman-temannya hanya bermaksud mendapatkan tiket gratis dan makanan dalam aksi mereka tersebut.

Tak pelak Fadli marah (Ia jarang marah), ia mengancam menampar orang tersebut, karena telah menjual nama agama dengan harga yang murah. Orang tersebut meminta ampun, akhirnya Fadli melihat saya. Saya pemarah (tanya istri saya jika tak percaya), tapi saya hari itu bersedih. Saya meminta Fadli melepaskan orang tersebut. Hari itu saya tak bisa membayangkan bagaimana harus melihat mereka yang berteriak, berorasi dengan mengatasnamakan tuhan. Tuluskah mereka? Atau ada kepentingan di belakang itu?

Dan dalam masa-masa kelam sejarah Aceh, masa remaja saya 1999-2003, selain masa-masa rigid penuh buku (orang-orang yang mengenal saya hanya sekarang, tak akan percaya itu), saya suka ber-avontoir masuk kebeberapa organisasi keagamaan. Saya mengakui, waktu itu saya militan. Tapi memang saya tak ditakdirkan betah berlama-lama. Saya terlalu mencintai rumah, daripada harus berorganisasi. Dan bukankah jalan terbaik adalah ditengah, seperti yang dikatakan Nabi. Dan saya berusaha moderat.

Dalam perenungan yang mendalam di kemudian hari setelah kejadian di Lhoseumawe, saya merasa beruntung. Karena dalam hidup ini, bukan orang yang nyaris ditampar Fadli tersebut yang menjadi patokan dalam memahami Islam. Sewaktu kecil ada ayah, Tengku Syamsudin, serta guru-guru lain, yang mengingatkan akan harga manusia, yang mengajarkan akhlak.

Ini adalah fenomena kecil dari sebuah gelombang besar. Umat Islam saat ini menghadapi keadaan dimana para alim yang mengenakan topeng. Ada banyak pengemis di Banda Aceh padahal menerapkan Syariat Islam, Islamic State (IS) punya hobi mengebom sana dan sini, seperti kejadian di Perancis seperti beberapa hari yang lalu. Dan (Ustad) Maulana, entah apa lagi yang dibuat.

Waktu berjalan, dan akhir tahun 2011 saya dimutasikan ke Banda Aceh, pulang kampung. Setelah kejadian di Lhokseumawe, saya tidak pernah lagi menonton konser musik. Tapi saya tidak fanatik, ketika teman serumah saya di Lhokseumawe, Joko khusus datang ke Banda Aceh untuk menonton konser Iwan Fals (2013) saya menemaninya. Syukurlah ketika itu di Blang Padang Banda Aceh (mungkin karena hujan deras?), kejadian di Lhokseumawe tidak berulang. Dan itulah dua konser yang pernah saya tonton seumur hidup sampai sekarang.

Saya heran, ada orang membawa nama Allah tapi tidak mencerminkan kasih dan sayang-Nya. Manusia merasa punya kekuasan seperti Allah S.W.T yang berhak menghukum, mengazab. Atau sekedar mencuri seraya mengenakan peci. Jadi apa bedanya mereka dengan Fir’aun yang menuhankan dirinya sendiri? Mereka mengikuti pragmatisme, yang mengatakan bahwa moral atau tindaknya ditentukan oleh memadai atau tidaknya tujuan tindakan itu, akhirnya “tujuan menghalalkan segala cara.”

Manusia bukan cuma membutuhkan opsir penjaga disiplin (yang hanya tahu menghukum). Manusia membutuhkan manusia jenis lain. Orang alim yang mengajarkan kita, melalui dosa untuk menjadi dewasa. “Melalui” adalah kata kunci, karena dengan melalui kita tak terperosok disana. Itulah benih harapan, rasa bersalah yang menyebabkan kerendahan hati, tanah subur di mana akan tumbuh nilai yang kuat tentang apa yang baik dan buruk. Tanpa itu kita hidup dalam keliaran yang buas.

Sewaktu akan lulus dari Madrasah Ibtidaiyah (1996), kami diwajibkan menghafalkan 36 hadist penting dalam kehidupan. Saya hampir lupa semuanya, kecuali yang nomor satu. Rasullullah bersabda, “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”.

Mungkin ayah, Tengku Syamsudin dan guru-guru saya yang dahulu sudah tiada. Mungkin saya tak terlalu memahami untuk mampu menjelaskan kebijaksanaan mereka secara sederhana.  Ilmu dan akhlak adalah petunjuk jalan, bahwa kita akan menjalani kehidupan yang kotor dan berdebu, meski ada kotoran dan debu di jalan. Kita harus hidup dengan melintasi jalan-jalan itu. Kita harus belajar untuk memilah mana deru dan mana debu.

Dan bila kita (berusaha), siapa yang bisa mengatakan umat Islam bukan umat yang tangguh dihadapan kebenaran?

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

PENUAI PAJAK DAN PERADABAN

Karena seseorang (profesi) yang menganggap dirinya paling penting, paling bisa mengubah dunia, paling hebat adalah orang-orang yang paling sombong, dan paling munafik.

Karena seseorang (profesi) yang menganggap dirinya paling penting, paling bisa mengubah dunia, paling hebat adalah orang-orang yang paling sombong, dan paling munafik.

PENUAI PAJAK DAN PERADABAN

Pajak adalah ongkos peradaban. Kita keluar dari sebuah museum, berjalan dengan siul yang aman, dan tahu tidak banyak hal di dunia ini yang gratis, dan kian lama yang gratis itu kian mahal. Museum itu tidak akan berdiri sendiri, rasa aman itu tidak akan timbul, dan kita mungkin tidak akan senang pergi ke sana bila tidak ada hal-hal yang diurus secara publik, penelitian benda-benda kuno, perawatan peninggalan sejarah, jalan ke tempat museum itu, dan mahkamah yang bekerja menjaga tertib hukum semua adalah anasir peradaban manusia, yang perlu diteruskan, dan perlu biaya. Dan biaya itu semua hanya bisa ditutup dengan perpajakan.

Tapi pajak juga (bisa) menjadi sumber kebrengsekan, tiba-tiba kita merasa bisa dan perlu membantah. Pajak juga bisa menyebabkan kesewenang-wenangan. Dengan pajak warga Negara membiayai para legislator di parlemen, para politikus itu. Dan dengan pajak pula warga Negara membayar gaji pejabat, para birokrat, mereka yang disebut penguasa. Dan apa hasilnya?

Dan ternyata pajak juga mampu memicu revolusi. Dalam sejarah Revolusi Perancis, nama paling atas dari urutan paling dibenci adalah financiers. Sebelum Revolusi Perancis, Negara Perancis melakukan “debirokrasi” atau tepatnya “swastanisasi” penarikan pajak. Negara ini, berbeda dengan Inggris, tak punya aparat pemerintahan untuk urusan fiskal. Setiap enam tahun sekali, istana menawarkan kepada sejumlah orang kesempatan “menuai” beberapa jenis pajak tak langsung dari masyarakat. Syaratnya, mereka, yang bekerja dalam satu sindikat, harus menyerahkan sejumlah uang kepada kerajaan.

Orang menyebut mereka sebagai “para penghisap darah” dan mereka menyangka, diri mereka pembantu terbaik kerajaan. Keduanya (bisa) jadi benar.

Mengapa? Dengan efisiensi yang keras, sindikat para “penuai” ini menarik cukai, terutama cukai garam dan tembakau. Dan para financiers ini juga punya kekuasaan lain, dalam komoditi penting seperti tembakau dan garam, mereka sekaligus produsen, pabrikan, pengolah, penjaga gudang, pedagang besar, dan pengecer. Perjalanan garam dari awal sampai ke konsumen merupakan cerita yang ruwet. Di tiap tahap barang di periksa, dicek, dicatat, dikawal, dicek lagi, dicatat lagi, dan tentu dipajak. Harga di kontrol, penggudangan diawasi. Dan itu semua mengkibatkan penyakit bernama “ekonomi biaya tinggi”.

Dalam sistem seperti ini, yang kaya adalah para financiers. Rumah mereka mentereng, gadis-gadis mereka menjadi incaran bangsawan untuk dinikahi, yang ingin mendapatkan cipratan harta yang bisa ditukar dengan sedikit gelar ningrat.

Tapi rakyat, membenci mereka dengan sengit. Sebagaimana tiap profesi, apapun itu, apakah ia dokter atau penjaga gudang beras, apabila mereka mengambil jarak dari sekeliling, kehilangan kepekaaan, dan menganggap yang paling penting adalah profesi mereka sendiri, tanpa kemauan berempati. Maka, orang kebanyakan akan sulit menahan hati ketika berhadapan dengan mereka.

Tak mengherankan ketika revolusi Perancis meletus, kaum “penuai” inilah yang dideretkan dibawah pisau guillotine terlebih dahulu. Seandainya, mereka memiliki kesempatan, seandainya keadaan lain, kepala mereka tak harus terlontar ke keranjang jerami. Tetapi memang (saat itu) Perancis telah gagal diselamatkan.

Beberapa sejarawan menulis, seandainya Perancis seperti Inggris, yang mengandalkan birokrasi yang relatif bersih, dalam hal memungut pajak, dan bukan para “penuai” fiskal yang swasta dan serakah itu. Dinasti Bourbon mungkin akan punya akhir yang lebih enak. Tapi kita tak pernah tahu, sebab sejarah tak bisa ditulis dengan kata “seandainya”.

Hampir 20 tahun sebelum Louis XVI dipenggal oleh kaum Revolusioner. Menteri Turgot mencoba mengadakan “deregulasi”. Ia gagal. Mengapa? Ada yang mengatakan ia terlalu terburu-buru, dan ada yang mengatakan deregulasinya menciptakan banyak musuh yang kepentingannya terancam. Uniknya, tantangan itu hadir malah dari golongan bangsawan (birokrat) yang menikmati hasil yang dituai (dengan foya-foya tentunya). Dan dalam berhadapan dengan masyarakat, mereka memiliki tameng kebencian, para financiers.

Akhirnya di Perancis saat itu, korupsi itu tak lagi tertanggulangi. Ia ibarat kanker yang akhirnya menjerumuskan harapan dan kepercayaan. Ia menyudahi kemungkinan bahwa di sekitar masih ada orang bersih.

Ketika di hari ini muncul pertanyaan. Lihatlah pajak telah dibayar, akan tetapi kemiskinan tetap tak teratasi. Uang akhirnya terhisap oleh para birokrat yang seharusnya menolong orang-orang miskin, malah mereka, si miskin mendapat tetesan terakhir. Pembenaran ini tidak semata-mata lahir dari ruang hampa belaka, masyarakat bukan tikus got yang tak bisa berpikir.

Bersama Membangun Negeri

Akan tetapi sebuah bangsa, sulit berjalan tanpa pajak. Perpustakaan rakyat, taman-taman kota, rumah jompo, pemadam kebakaran, sekolah negeri, bantuan sosial jika tanpa pajak, semua itu dengan sendirinya terancam kekurangan anggaran.

Itu tentu bukan soal besar bagi mereka yang kaya. Ia masih bisa menikmati buku diperpustakaannya sendiri, atau terbang ke suatu tempat di Singgapura untuk membeli keramik dinasti Ming. Ia memiliki mobilitas dan alternatif, sedang si miskin tidak. Perpajakan sejatinya adalah manajemen dana-dana dari masyarakat.

Tentu mustahil mengharapkan semua masalah bangsa itu dapat diselesaikan oleh hanya aparat pajak belaka, Negara terdiri dari banyak lapisan birokrat, masyarakat dan bahkan kelompok sosial. Semua orang berhak membantu dan mengawasi, bahkan dari ucapan paling menyakitkan sekalipun. Karena seseorang (profesi) yang menganggap dirinya paling penting, paling bisa mengubah dunia, paling hebat adalah orang-orang yang paling sombong, dan paling munafik. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa manusia lain.

Oleh karena itu kita mempelajari sejarah. Sebab sejarah adalah kisah-kisah ketidaksempurnaan. Hanya dengan sangka baik kepada dunia, kita tak akan putus asa kepada rahmat-Nya.

Beberapa Opini Pilihan:

  1. Khusyuk; 14 Juli 2015;
  2. Tua; 22 Oktober 2015;
  3. Renovasi; 31 Oktober 2015;
  4. Serakah; 7 November 2015;
  5. Passion; 8 November 2015;
  6. Penuai; 14 November 2015;
  7. Tsunami; 26 Desember 2015;
  8. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  9. Mencoba Menafsir Makna Mimpi Buruk; 30 September 2016;
  10. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  11. Menentang Tradisi Memang Tradisi; 5 April 2017;
  12. Mencari Jurus Penangkal Fitnah Sebuah Jurnal Ilmiah; 11 Mei 2017;
  13. Memahami Makna Penista; 11 Mei 2017;
  14. Pengulangan Sejarah; 23 Mei 2017;
  15. Kesadaran Literasi; 8 Juni 2017;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

HUJAN

Karena di langit malam yang luas Kamulah satu-satunya bintang yang terlihat

Karena di langit malam yang luas
Kamulah satu-satunya bintang yang terlihat

HUJAN

Ada yang tetap tak terucap

Pada hujan di bulan November

Harum tanah di basahi hujan

Aroma pepohonan hijau tersenyum

 

Aku hanya memandang langit

Nan jauh disana

Terkadang tak harus ada alasan sama sekali

Mengingat hujan di bulan November

 

Ketika kita baru bisa bilang kita

Beberapa tahun silam

Ada masa depan yang belum terjangkau

Aku merindukan kemampuanmu tersenyum

 

Hidup ternyata bisa bertahan melalui kesedihan

Ada suatu hal sukar dan kuno tapi kukuh

Sesuatu yang disebut kenaifan

Mungkin naluri, mungkin cinta

 

Sebuah gelora yang menggetarkan, juga mempesonakan

Sesuatu yang tak punya defenisi persis

Karena di langit malam yang luas

Kamulah satu-satunya bintang yang terlihat

 

Bait Al Hikmah, 30 Muharram 1437 Hijriah (bertepatan 12 November 2015)

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , | 2 Comments

PASSION

Orang tua itu, tak pernah berhenti belajar. Jadi mengapa kita harus malu? Selalu ada ilmu lama dan baru, tapi bukankah ilmu itu harus diraih dengan kerendahan hati?

Orang tua itu, tak pernah berhenti belajar. Jadi mengapa kita harus malu? Selalu ada ilmu lama dan baru, tapi bukankah ilmu itu harus diraih dengan kerendahan hati?

PASSION

Hidup adalah teka-teki dengan jawaban berubah-ubah.

Tidak seperti banyak dugaan sebelumnya, tidak ada drama spesial dalam balapan MotoGP Valencia. Tak ada penghalang buat Jorge Lorenzo, tidak ada mukjizat untuk Valentino Rossi.

Mengawali race dari posisi 26 akibat dianggap menendang Marc Marques di Sirkuit Sepang, Rossi perlu 12 lap untuk mencapai 4 besar. Lawan Rossi yang paling sulit adalah Aleix Espargaro. Sebab, ia disalip lagi oleh rivalnya di lap 11 sebelum ia berhasil melepaskan diri dari pembalap Suzuki itu di lap berikutnya. Hanya saja, berikutnya terbilang berat, karena jaraknya dengan Dani Pedrosa (urutan 3) sudah 11 detik.

Balapan mulai “sepi” sejak lap ke-15. Tak ada aksi lagi seru-seruan di lintasan. Lorenzo dan Marquez “berduaan” diposisi 1-2. Pedrosa sempat menipiskan jarak menjelang akhir lomba, namun ia gagal. Dan Lorenzo tak tertahankan menjadi pemenang 30 lap MotoGP Valencia, sekaligus juara dunia MotoGP 2015. Jorge Lorenzo (Spain) Yamaha 330 poin, Valentino Rossi (Italia) 325 poin.

Terjadi polemik disini, pendukung Valentino Rossi menuding Marc Marques yang berada di posisi 2, secara sengaja melindungi Jorge Lorenzo. Bahkan ia dianggap menghalangi Dani Pedrosa yang coba merangsek ke depan menjelang akhir balapan. Tak mau kalah, pendukung Jorge Lorenzo dan Marc Marques juga menduga bahwa Valentino Rossi membalap seperti Ambulance, di mana semua pembalap memberi jalan kepada sang legenda, bagaimanapun memulai balapan dari posisi 26 sampai akhirnya berada di tempat ke 4, agak mustahil.

Tapi sebagaimana teori konspirasi lain, ia tidak bisa dibuktikan. Ibarat kentut, ia berbau tapi tak berwujud. Tapi ada satu fenomena menarik di MotoGP Valencia yang notabene adalah Negara Spanyol, rumah bagi Jorge Lorenzo dan Marc Marques, tapi setiap Valentino Rossi melewati pembalap lain, para penonton bersorak. Publik lebih menyukai Italiano.

Dalam hal tidak terlibat kepentingan sama sekali (posisi netral), Niccolo Machiavelli dalam The Prince berkata, “kebenaran cenderung bersama orang banyak.”

Jika ada konspirasi dalam olah raga seperti yang (diduga) terjadi di MotoGP maka kita patut khawatir. Nilai sejati dari sebuah olah raga adalah sportivitas. Berjuang untuk menang dengan kejujuran dan sikap satria. Oleh karena itu anak-anak sangat baik jika senang berolahraga, mereka belajar untuk meraih kemenangan dan menerima kekalahan. Dan sportivitas bagi pembalap adalah berusaha untuk menang, bukan memberi jalan kepada orang lain atau membantu orang lain dalam sebuah kompetisi.

Mungkin, Valentino Rossi memang sebaiknya kalah. Ada pelajaran yang bisa diambil dari MotoGP 2015. Meski berat menjadi juara, tapi berjuang adalah wajib hukumnya. Dan kita tidak bisa memastikan bahwa Jorge Lorenzo dan Marc Marques bekerja sama. Tapi kita bisa memastikan bahwa mereka tidak sebesar Valentino Rossi.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa seorang Valentino Rossi sempurna, sebagaimana seharusnya ia tidak terprovokasi oleh Marc Marques di sirkuit Sepang. Secara karakter ada banyak kekurangan yang ia miliki, dan kita mungkin (banyak) tak sepaham dengannya. Seperti misalnya, pemilihan klub sepakbola favorit.

Tapi kita bisa melihat, di usia yang sudah tidak muda lagi di lintasan balapan. Di mana para rekan satu angkatan, dan bahkan beberapa angkatan sesudahnya telah menyerah. Terhadap perubahan regulasi, teknologi, waktu dan lain-lain. Ia terus belajar, itulah salah satu penyebab ia selalu mampu bersaing dalam kondisi terburuk sekalipun.

Orang tua itu, tak pernah berhenti belajar. Jadi mengapa kita harus malu? Selalu ada ilmu lama dan baru, tapi bukankah ilmu itu harus diraih dengan kerendahan hati?

Passion. Hegel pernah menulis, “tidak ada hal besar di dunia telah tercapai tanpa passion” Teknik, perencanaan, ketertiban memang menjanjikan hasil yang diperhitungkan. Seperti halnya MotoGP hari ini. Tanpa orang banyak, tanpa fan, yang gandrung dan tergila-gila, permainan di sana itu akan kehilangan makna.

Dan di MotoGP, passion bernama Valentino.

Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

SERAKAH

Kita tak pernah tahu sampai batas kapan hasrat itu akan terpuaskan, jika yang berlaku adalah fatwa “serakah itu baik.”

Kita tak pernah tahu sampai batas kapan hasrat itu akan terpuaskan, jika yang berlaku adalah fatwa “serakah itu baik.”

APAKAH ITU SERAKAH BAIK

Kini banyak orang membela keserakahan. “Serakah itu baik,” kata Gekko, tokoh dalam filem Wall Street, di depan sebuah rapat pemegang saham di hotel Roosevelt yang tua di Manhattan. Dan bila ditanya kenapa serakah itu baik, orang serakah macam Gekko akan pandai memasang kalimat. Ia, misalnya, akan bisa mengutip Giambattista Vico dari abad ke-18 Italia. Justru dari kebengisan, kebakhilan, dan ambisi manusia, telah lahir banyak hal baik di dunia. Keserakahan  jugalah yang telah mendorong orang membuat perkakas. Dari sana lahir teknologi, untuk memperoleh hasil yang kian lama kian besar.

Keserakahan jugalah yang menyebabkan manusia mengarungi lautan, dan Columbus menemukan benua Amerika. Keserakahan bahkan bisa membuat manusia taat beribadah, menghitung pahala, setelah hidup di dunia demi sebanyak-banyaknya kenikmatan di akhirat.

Tak mengherankan bila orang tak malu-malu memamerkan kekayaan. Dengan ranggi memasang baju terbagus, memilih mobil mentereng, mengunjungi restoran terlezat, dan melupakan bahwa hanya beberapa tahun silam mereka sebenarnya anak muda yang pernah berseru indahnya hidup bersahaja.

Kita tak pernah tahu sampai batas kapan hasrat itu akan terpuaskan, jika yang berlaku adalah fatwa “serakah itu baik.”

Inilah zaman ketika sinetron bercerita tentang gaya hidup “orang kaya dan termasyur” dengan menampilkan mobil mahal dan gadget yang canggih. Itu menjadi contoh bagaimana seharusnya menikmati hidup, pengusaha dan pejabat dengan segera menirunya. Mobil-mobil mewah bersilewan di jalan raya, barang-barang mahal melekat di badan, apa boleh buat. Tamak itu tampan.

Ada juga yang berhasil mengakumulasi kekayaan mereka dan memperpanjang daftar milik mereka, masih ingin bersembunyi dari mata umum. Mungkin mereka tahu bahwa disekeliling mereka yang luas terhampar peta orang-orang miskin. Mungkin merasa bahwa nasib mereka belum tentu langgeng.

Tapi tabiat menyimpan dengan terlalu juga memiliki sisi lain, dengan segera mereka kehilangan hubungan pertemanan. Kehilangan hubungan sosial, ketika ada yang merasa terbebani oleh pengeluaran-pengeluaran mereka, orang kaya kok disubsidi? Sisi lain, Bakhil itu buruk rupa.

Jika ia sadar. Seperti haknya kisah Qarun, dalam hasratnya memiliki segantang emas, kemudian ingin memperoleh segantang emas lainnya. Ia akan kehilangan nasihat yang baik dan peringatan yang jujur, karena ia bahkan merasa karena kekayaannya (kekuasaan) ialah yang seharusnya memberi nasehat dan bukan menerima nasehat.

Tidak kata para ulama, dan berjuta-juta orang lain. Ketika kita melihat kemanfaatan umum tersedot oleh mereka. Proyek tak perlu diadakan. Barang-barang tak berkualitas dijual ke pemerintah dengan harga mahal, jalan-jalan buruk tak kunjung dibangun, malah jalan yang sudah bagus ditimpa terus menerus. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin banyak. Tapi adakah kita tahu cara menghentikannya, sementara mereka yang tamak itu sendiri tak bisa diharapkan akan bisa menghentikan hasrat mereka?

Tentu saja dalam filem karya Oliver Stone dan kisah Qarun itu, pada dasarnya adalah sebuah cerita tentang moralitas lama. Si Gekko jatuh. Yang menang bukanlah tokoh yang tamak. Yang menang adalah mereka yang berjuang bersama orang-orang lemah yang setia.

Dalam kisah Qarun, ia bersama hartanya tenggelam. Dalam filem Wall Street, hukum ada dan dijalankan. Gekko akhirnya bisa distop. Tapi setelah itu, cerita pun selesai, seperti baru siuman kita terjaga. Apa boleh buat, kita menghadapi kenyataan.

Beberapa kisah hikmah lain:

  1. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  2. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  3. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  4. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  5. Pahit; 8 Maret 2012;
  6. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  7. Nun; 3 Desember 2014;
  8. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  9. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  10. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  11. Momentum; 18 Mei 2015;
  12. Ramadhan Dan Relativitas; 27 Juni 2015;
  13. Khusyuk; 14 Juli 2015;
  14. Ibrahim; 20 September 2015;
  15. Hijrah; 14 Oktober 2015;

 

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments